Arsip Bulanan: Juni 2009

KEARIFAN PAMALI CARA URANG NAGA


Urang Naga –begitu mereka menyebut dirinya — adalah orang-orang yang sederhana, ramah, menjunjung adat, dan punya semangat gotong royong yang tinggi. Kearifan lokal komunitas ini bisa menjadi contoh, cara menjaga KELESTARIAN ALAM dengan tradisi.

20090518163354

Angin sejuk semilir berhembus di Kampung Naga. Kampung kecil yang terletak jauh dari hiruk pikuk kota ini berselimutkan nuansa alam yang masih perawan. Masyarakatnya hidup dengan rukun, damai dan sejahtera. Hidup berkecukupan dengan kekayaan adat istiadat tradisional yang dijunjung tinggi.

Dalam sejarah Sunda, memegang teguh adat adalah hal yang utama. Jejak kental memegang teguh adat ini masih dapat ditemukan di beberapa kampung adat di daerah Sunda, diantaranya adalah Kampung Naga di Tasikmalaya, Kampung Kuta di Ciamis dan Kampung Kanekes Baduy di Banten. Mereka telah membuktikan bahwa tradisi tradisional Sunda yang dipegang teguh memiliki kekuatan yang sakral dan unik dalam melangengkan kehidupan harmonis dengan alam semesta.

Pesona alamnya masih terpelihara dengan natural, jauh dari polusi dan pencemaran lingkungan. Masyarakat adat Kampung Naga hidup damai dan memiliki banyak kearifan yang patut kita pelajari untuk menciptakan keseimbangan hidup dengan ekosistem alam.

Namun, tiba-tiba saja komunitas yang kebanyakan bekerja sebagai petani ini unjuk sikap pada Bulan Mei 2009 ini. Setelah sekian lama hidup dalam ketenangan, mereka menyatakan memboikot para pengunjung atau wisatawan yang akan berkunjung ke kampungnya. Inilah sikap warga Kampung Naga, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat yang akhirnya diakui bisa mengancam dunia pariwisata di Jabar. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan kemudian menawarkan bantuan suryakanta –pembangkit listrik tenaga matahari– kepada warga Kampung Naga agar menghentikan aksi boikotnya.

Aksi boikot wisatawan ini dilakukan warga Kampung Naga itu merupakan bentuk protes terhadap pemerintah dan PT Pertamina karena hingga kini warga Kampung Naga kesulitan memperoleh minyak tanah setelah suplainya dikurangi. Padahal, warga Kampung Naga menjadikan minyak tanah sebagai bahwa untuk masak dan penerangan.

Menurut PT Pertamina, tidak mungkin menyuplai minyak tanah bersubsidi hanya ke Kampung Naga. Pasalnya, akan memicu kecemburuan bagi daerah lain. Untuk menutupi kebutuhan bahan penerangan, Dinas Pariwisata Jabar yang selama ini mengandalkan Kampung naga sebagai daerah tujuan wisata mengusulkan warga Kampung Naga menggunakan suryakanta.

Penggunaan suryakanta ini konon tidak akan mengikis nilai kultural Kampung Naga. Lain halnya dengan listrik yang akan mengubah wajah keaslian Kampung Naga. Untuk itu, wajar bila warga Kampung Naga menolak listrik di kampungnya.

Kampung Naga merupakan suatu perkampungan yang dihuni oleh sekolompok masyarakat yang kuat memegang adat istiadat peninggalan leleuhurnya. Hal ini akan terlihat jelas perbedaannya bila dibandingkan dengan masyarakat lain di luar Kampung Naga. Masyarakat Kampung Naga hidup pada suatu tatanan yang dikondisikan dalam suasana kebersahajaan dan lingkungan kearifan tradisional yang lekat.

Kampung eksotis ini berada di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Propinsi Jawa Barat tidak jauh dari jalan raya yang menghubungkan kota Garut dengan kota Tasikmalaya. Kampung ini berada di lembah yang subur, di sebelah baratnya hutan yang dikeramatkan karena terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga. Di sebelah selatan dibatasi oleh sawah-sawah penduduk, dan disebelah utara dan timur dibatasi oleh sungai Ciwulan yang sumber iarnya berasal dari Gunung Cikuray di daerah Garut.

Untuk menuju Kampung Naga dari arah jalan raya Garut – Tasikmalaya harus menuruni tangga yang sudah di tembok (Sunda sengked) sampai ketepi sungai Ciwulan dengan kemiringan sekitar 45 derajat dengan jarak kira-kira 500 meter. Kemudian melaluai jalan setapak menyusuri sungai Ciwulan.

Perkampungan tradisional dengan luas areal kurang lebih empat hektar ini memiliki kehidupan komunitas yang unik. Kehidupan mereka dapat berbaur dengan masyarakat modern, beragama Islam, tetapi masih kuat memelihara Adat Istiadat leluhurnya. Seperti berbagai upacara adat, upacara hari-hari besar Islam misalnya Upacara bulan Mulud atau Alif dengan melaksanakan Pedaran (pembacaan Sejarah Nenek Moyang) Proses ini dimulai dengan mandi di Sungai Ciwulan.

0612ha26

Upacara Adat masyarakat Kampung Naga yang sering selenggarakan di antaranya: MENYEPI. Upacara menyepi dilakukan pada hari Selasa, Rabu, dan Sabtu. Upacara ini sangat penting dan wajib dilaksanakan, tanpa kecuali baik pria maupun wanita. Pelaksanaan upacara menyepi diserahkan pada masing-masing orang, karena pada dasarnya merupakan usaha menghindari pembicaraan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan adat istiadat. Melihat kepatuhan warga Naga terhadap aturan adat, selain karena penghormatan kepada leluhurnya juga untuk menjaga amanat dan wasiat yang bila dilanggar dikuatirkan akan menimbulkan malapetaka.

HAJAT SASIH. Upacara Hajat Sasih dilaksanakan oleh seluruh warga adat Sa-Naga, baik yang bertempat tinggal di Kampung Naga Dalam maupun di Kampung Naga Luar. Upacara Hajat Sasih merupakan upacara ziarah dan membersihkan makam leluhur. Maksud dan tujuan dari upacara ini adalah untuk memohon berkah dan keselamatan kepada leluhur Kampung Naga, Eyang Singaparna serta menyatakan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat yang telah diberikan kepada seluruh warga. Pemilihan tanggal dan bulan untuk pelaksanaan upacara Hajat Sasih dilakukan bertepatan dengan hari-hari besar agama Islam.

KAWINAN. Upacara perkawinan bagi masyarakat Kampung Naga adalah upacara yang dilakukan setelah selesainya akad nikah. Upacara ini dilaksanakan dengan sangat sakral mulai dari penentuan tanggal baik untuk perayaan sampai dengan resepsi berakhir. Adapun tahap-tahap dalam upacara perkawinan tersebut adalah sebagai berikut: upacara sawer, nincak endog (menginjak telur), buka pintu, ngariung (berkumpul), ngampar (berhamparan), dan diakhiri dengan munjungan (sungkeman).

Bentuk bangunan di Kampung Naga sama baik rumah, mesjid, patemon (balai pertemuan) dan lumbung padi. Atapnya terbuat dari daun rumbia, daun kelapa, atau injuk sebagi penutup bumbungan. Dinding rumah dan bangunan lainnya, terbuat dari anyaman bambu (bilik). Sementara itu pintu bangunan terbuat dari serat rotan dan semua bangunan menghadap Utara atau Selatan. Selain itu tumpukan batu yang tersusun rapi dengan tata letak dan bahan alami merupakan ciri khas gara arsitektur dan ornamen Perkampungan Naga.

Rumah yang berada di Kampung Naga jumlahnya tidak boleh lebih ataupun kurang dari 108 bangunan secara turun temurun, dan sisanya adalah Masjid, lei (Lumbung Padi) dan patemon (Balai Pertemuan). Apabila terjadi perkawinan dan ingin memiliki rumah tangga sendiri, maka telah tersedia areal untuk membangun rumah di luar perkampungan Kampung Naga Dalam yang biasa disebut Kampung Naga Luar.

Semua peralatan rumah tangga yang digunakan oleh penduduk Kampung Naga pun masih sangat tradisional dan umumnya terbuat dari bahan anyaman. Dan tidak ada perabotan seperti meja atau kursi di dalam rumah. Hal ini tidak mencerminkan bahwa Kampung Naga merupakan kampung yang terbelakang atau tertinggal, akan tetapi mereka memang membatasi budaya modern yang masuk dan selalu menjaga keutuhan adat tradisional agar tidak terkontaminasi dengan kebudayaan luar.

Kampung ini menolak aliran listrik dari pemerintah, karena semua bangunan penduduk menggunakan bahan kayu dan injuk yang mudah terbakar dan mereka khawatir akan terjadi kebakaran. Pemangku adat pun memandang apabila aliran listrik masuk maka akan terjadi kesenjangan sosial diantara warganya yang berlomba-lomba membeli alat elektronik dan dapat menimbulkan iri hati.

Letak daerahnya yang berada pada hamparan tanah yang menyerupai lembah, dicirikan dengan bentuk bangunannya yang seragam. Atap rumahnya yang berwarna hitam terbuat dari bahan ijuk, tampak berjejer teratur menghadap utara-selatan, dibatasi Sungai Ciwulan. Tempat permukiman tersebut tampak seperti diapit dua buah hutan.

Hutan pertama yang terletak di sisi Sungai Ciwulan disebut Leuweung Biuk. Hutan lainnya yang letaknya pada daerah yang lebih tinggi disebut Leuweung Larangan. Leuweung dalam bahasa Sunda artinya hutan. Seperti tempat-tempat lainnya yang dinamakan hutan, seluruh arealnya ditumbuhi tanaman keras yang entah sudah berapa puluh atau ratus tahun umurnya.

Namun, yang membedakan kawasan hutan di daerah itu dengan daerah lainnya di luar Kampung Naga adalah, keadaan tumbuhan Leuweung Biuk dan apalagi tumbuhan di Leuweung Larangan tetap terjaga utuh. Kawasan itu tampak hijau dengan berbagai jenis tumbuhan yang secara sengaja dibiarkan tumbuh secara alami. Terhadap tumbuhan tersebut, tak seorang pun anggota masyarakat Suku Naga berani merusaknya karena kedua areal hutan itu dikeramatkan.

LEUWEUNG LARANGAN YANG LUASNYA KURANG LEBIH TIGA HEKTAR, DIKERAMATKAN KARENA DI SANA DIMAKAMKAN LELUHUR MASYARAKAT SUKU NAGA, SEMBAH DALEM EYANG SINGAPARANA. Di sebelahnya masih terdapat tiga makam lainnya, namun tidak diketahui makam siapa. Kunjungan ke makam tersebut biasanya hanya dilakukan dalam waktu-waktu tertentu, terutama pada saat diselenggarakan upacara hajat sasih setiap dua bulan sekali. Upacara ritual itu hanya diikuti oleh kaum laki-laki dewasa yang sebelumnya mengikuti ketentuan khusus. Misalnya, sudah melakukan beberesih, yakni mandi bersama di Sungai Ciwulan.

Upacara itu dipimpin kuncen yang bertindak sebagai kepala pemangku adat. Para peserta biasanya menggunakan pakaian yang menyerupai jubah warna putih, kepala diikat totopong, yakni sejenis ikat kepala khas Suku Naga. Selain itu mereka tidak boleh menggunakan alas kaki, baik berupa sandal apalagi sepatu. Sementara areal hutan lainnya yang disebut Leuweung Biuk-karena letaknya dekat Saluran Biuk-berada pada kaki bukit curam yang sekaligus menjadi bibir Sungai Ciwulan. Di areal tersebut tumbuh berbagai jenis tanaman keras yang berumur lebih dari 50 tahun lebih.

Berbeda dengan Leuweung Larangan, LEUWEUNG BIUK TERMASUK TABU DIKUNJUNGI. ANGGOTA MASYARAKATNYA TAK SEORANG PUN YANG BERANI MENGINJAKKAN KAKINYA KE AREAL HUTAN TERSEBUT. APALAGI, SAMPAI MENEBANG POHON YANG TUMBUH DI ATASNYA. HAL TERSEBUT KARENA PAMALI.

Pamali sama artinya dengan tabu. Ketentuan yang tidak tertulis itu merupakan dogma yang harus dipatuhi tanpa dijelaskan lagi alasan-alasannya, apalagi sampai diperdebatkan. Sesuatu yang dikatakan pamali merupakan ketentuan dari leluhurnya yang harus dipatuhi. Jika tidak, mereka akan menanggung akibatnya, baik secara individu maupun kelompok.

Peristiwa-peristiwa seperti banjir, kekeringan, serangan hama dan penyakit tanaman padi yang mengakibatkan panen gagal atau berkurang produksinya misalnya, dianggap sebagai peristiwa yang tidak lepas dari HUKUM SEBAB AKIBAT. Karena itu, ketika terjadi perambahan tanah adat yang kemudian dijadikan hutan industri dan perkebunan, masyarakat adat Suku Naga sudah memperkirakan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tanah adat Suku Naga sebenarnya cukup luas yang mencakup wilayah Gunung Sunda, Gunung Satria, Gunung Panoongan, Gunung Raja, Pasir Halang sampai batas jalan raya yang menghubungkan Tasikmalaya-Garut. Daerah itu sekaligus merupakan sub Daerah Aliran Sungai Ciwulan yang harus dijaga kelestariannya.

KEARIFAN LOKAL
Pandangan hidup masyarakat adat Suku Naga yang berkaitan dengan lingkungannya tersebut sebenarnya mengandung kearifan lokal. Misalnya, hanya dengan PAMALI, MASYARAKAT ADAT SUKU NAGA MAMPU MENAHAN DIRI, sehingga tidak terjadi perambahan kawasan hutan. Padahal jika dilihat dari tuntutan kebutuhan dan keterbatasan sumber daya alam yang dimiliki, desakan tuntutan tersebut jauh lebih kuat dibanding masyarakat sekitarnya.

Masyarakat adat Suku Naga tabu membangun rumah dengan menggunakan bahan bangunan industri, kecuali paku. Atap rumahnya terbuat dari ijuk dan dinding-dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Seluruh tiang penyangga menggunakan balok kayu. Bahan-bahan lokal tersebut berusaha dipenuhi sendiri tanpa harus merusak kawasan hutannya.

Sayang, nilai-nilai lokal yang mengandung kearifan tersebut, dalam masyarakat sekarang ini kurang diperhatikan lagi. Kegiatan penebangan hutan malah terjadi disekeliling kampung. Ironisnya, perambahan itu dilakukan bukan oleh masyarakat Suku Naga, melainkan oleh masyarakat luar yang selama ini menganggap dirinya memiliki latar belakang pengetahuan lebih maju. Sebaliknya masyarakat adat Suku Naga sendiri tidak seorang pun yang berani memasuki areal kawasan hutan tersebut. Mereka berusaha menjaga kelestariannya. Perusakan hutan lindung Gunung Raja dianggap telah melindas nilai-nilai lokal yang selama ini dianutnya sebab di daerah itu terdapat situs yang memiliki kaitan erat dengan asal-usul masyarakat adat Suku Naga. Selain itu, kawasan hutan tersebut patut dipertahankan mengingat salah satu peran pentingnya sebagai sumber air masyarakat adat Suku Naga.

Masyarakat adat Suku Naga yang menempati wilayah yang disebut Kampung Naga itu, selama ini diakui memiliki potensi budaya yang besar merupakan bagian tidak terpisahkan dari budaya Sunda. Mereka hidup mengelompok tanpa mengisolasi diri dengan lingkungan dan kehidupan daerah sekitarnya, akan tetapi tetap mempertahankan pandangan hidup dan tradisinya di tengah gelombang modernisasi.

TV dengan gempuran sinetron dan acara gosip, serta fasilitas komunikasi yang canggih, ditambah kedatangan turis-turis asing dengan kebiasaan berpakaian mereka yang berbeda, dan kedatangan wisatawan dalam negeri sering kurang ajar dan seenaknya, tidak membuat mereka berubah. adat tetap jadi yang utama. “DA KIEU CARA URANG NAGA MAH…”

URANG NAGA MENYADARI PERUBAHAN DI SEKITAR MEREKA, TAPI MEMILIH UNTUK TIDAK BERUBAH….

wong alus

Categories: SUKU NAGA | Tags: , , , , | 12 Komentar

KOMUNITAS SAMIN, PERINTIS SIASAT PERLAWANAN TANPA KEKERASAN ORISINIL KHAS INDONESIA


Mereka lebih suka disebut Sedulur Sikep. Masyarakat mengenalnya dengan penganut ajaran Samin. Yang luar biasa Logika Pemaknaan Bahasa dijadikan alat perjuangan tanpa kekerasan.

SAMIN

PT Semen Gresik berencana berekspansi modal (sekitar 40% saham asing) ke Kabupaten Pati Jawa Tengah sekitar pertengahan 2008. Pabrik besar akan didirikan tepatnya di Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah yang merupakan kawasan pertanian.

Tidak seperti warga lain yang biasanya menyukai bila tanah miliknya dibeli pemodal besar karena akan dihargai mahal, warga setempat anehnya menolak. Konon, penolakan warga ini dilatarbelakangi oleh sebuah pandangan hidup yang kita kenal dengan AJARAN SAMIN. Penolakan warga ini berbuntut panjang hingga sampai ke meja para wakil rakyat di Komisi VII DPR.

Untuk menjaring aspirasi warga dan mengetahui latar belakang penolakan tersebut Wakil Ketua Komisi VII DPR Sonny Keraf mengadakan dialog dengan Komunitas Samin atau dikenal sebagai para Sedulur Sikep dan perwakilan dari tujuh desa yang bakal terkena dampak langsung pembangunan pabrik semen. Desa-desa itu diantaranya Desa Kedumulyo, Gadudero, Sukolilo, Baturejo, Sumbersoko, dan Tompe Gunung.

Singkatnya, pertemuan digelar di rumah sesepuh Sedulur Sikep, Mbah Tarno yang usianya sudah mencapai 100 tahun, di Desa Baturejo, Kecamatan Sukolilo, 27 kilometer selatan pusat pemerintahan Kabupaten Pati, Minggu, 7 September 2008 lalu.

Hasil pertemuan itu adalah: Sonny Keraf meminta kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral serta Menteri Negara Lingkungan Hidup menurunkan tim ke Sukolilo bersama-sama lembaga riset untuk mengetahui serta menyelami inspirasi warga setempat.

Kenapa warga menolak pembangunan pabrik semen? Ini berkaitan dengan keinginan warga Sedulur Sikep agar apa yang ada selama ini tidak berubah termasuk pola hidup sederhana yang sudah turun temurun termasuk keseimbangan ekologis yang sudah terjaga.

Sesepuh Sedulur Sikep, Mbah Tarno saat diwawancarai harian Kompas (9/7), mengungkapkan alasan penolakan warga bahwa selama ini bidang pertanian merupakan sumber penghasilan dan kehidupan mereka. ”Dadi opo anak putuku kabeh setuju yen ono pembangunan pabrik semen (Jadi apa keturunanku semua setuju kalau ada pembangunan pabrik semen)?” kata Mbah Tarno. ”Mboten setuju banget (Sangat tidak setuju),” teriak warga yang memenuhi rumahnya.

Itulah gambaran singkat bagaimana warga Sedulur Sikep. Masih banyak keunikan lain apabila kita menyelami pola pikir dan pandangan hidup mereka. Dulu, jaman kolonial, para Sedulur Sikep dicap sebagai SUBVERSIF oleh Pemerintah Kolonial karena menolak membayar pajak dan sistem pendidikan Belanda. Mereka mengembangkan siasat linguistik yang khas untuk melawan sehingga diolok-olok dengan julukan “Wong Samin”. Kini oleh para PEMODAL SEMEN GRESIK para Sedulur Sikep ini difitnah dan dicap sebagai PROVOKATOR karena menolak pembangunan pabrik semen. Padahal, para Sedulur Sikep Komunitas Samin ini adalah perintis siasat perlawanan ACTIVE NON VIOLENCE orisinil yang khas indonesia melawan PENJAJAHAN.

Bagi warga Sedulur Sikep apabila nanti Pabrik Semen Gresik jadi didirikan di wilayahnya, maka akan muncul dampak lingkungan yang mengancam kawasan Gunung Kendeng yang selama ini menjadi sumber ekologi (air, gua, hewan, tanaman) serta mengancam mata pencaharian bertani. Selain itu pegunungan kapur tersebut juga memiliki MAKNA BUDAYA DAN SEJARAH BAGI MASYARAKAT SEDULUR SIKEP YANG MEMILIKI EKOLOGI KULTURAL NYA SANGAT BERELASI DENGAN LINGKUNGAN (GUNUNG).

Peran pegunungan secara kultural bagi masyarakat Sedulur Sikep dan masyarakat lokal lainnya di wilayah Sukolilo, Pati, memiliki ikatan kesadaran simbolis yang terdapat dalam situs-situs kebudayaan yang banyak terdapat di pegunungan Kendeng. Kesadaran masyarakat lokal di wilayah Sukolilo yang mengikat dengan pegunungan Kendengan diantaranya WATU PAYUNG yang merupakan simbolisasi dari sejarah pewayangan Dewi Kunti, dimana beberapa situs narasi pewayangan tersebut terartikulasikan dalam beberapa relief alam yang terdapat di pegunungan Kendeng.

Di sekitar situs watu payung juga terdapat banyak narasi yang berhubungan dengan kisah pewangan seperti kisah tentang cakar kuku bima, dan lain sebainya. Kemudian di sekitar Watu Payung di pegunungan Kendeng juga terdapat WATU KEMBAR yang berisikan tentang kisah Hanoman yang sedang menaiki puncak gunung sambil bermain bintang dilangit, kemudian dewa marah lalu pindahkannya puncak gunung dan kemudian runtuhannya jatuh menjadi Watu Kembar.

Selain kisah pewayangan juga terdapat situs yang memiliki kaitannya dengan ANGLING DHARMA di sekitar lereng pegunungan Kendeng Sukolilo, kemudian ada GUA JOLOTUNDO yang memiliki korelasi dengan kisah Laut Selatan Jawa. Kemudian ke arah Kayen juga terdapat makam SYEH JANGKUNG yang dianggap sebagai salah satu tokoh lokal dalam mitologi masyarakat lokal di wilayah Pati.

Beberapa situs yang ada di pegunungan Kendeng saat ini, masih diyakini oleh para penduduk sebagai bagian dari kesadaran simbolisnya, hal ini terlihat masih banyak peziarah atau para pengunjung yang datang sebagai bagian dari bentuk kesadaran kultural dan spiritualitas. Kekuatan simbolik situs-situs kebudayaan yang ada di wilayah pegunungan Kendeng memiliki ikatan kultural tidak hanya seputar Sukolilo Pati, hal ini terlihat banyaknya peziarah dan para pengunjungan yang hadir di beberapa situs Watu Payung dan lain sebagianya berasal dari wilayah Demak, Jepara, dan sekitarnya.

Kesemua kisah mitologi lokal diatas sangat memiliki basis material pada wilayah pegunungan Kendeng di wilayah Sukolilo Pati. Sebagai proses antara yang natural dengan yang kultural, mitologi lokal ini memang berasal dari tradisi tutur (lisan) yang memiliki kekuatan identitas bagi banyak entitas masyarakat. Dalam prespektif ekologi sosial, MITOLOGI LOKAL TERSEBUT MEREDUKSI ALAM MENJADI BAHASA MASYARAKAT (KEBUDAYAAN) YANG BERBASIS LOKALITAS. SEHINGGA MENJADIKAN LINGKUNGAN (PEGUNUNGAN) BUKAN SAJA MEMILIKI KEKUATAN EKOLOGI PERTANIAN (MATA PENCAHARIAN), NAMUN JUGA TERDAPAT KEKUATAN BUDAYA YANG MENYATU DENGAN KEHIDUPAN MASYARAKAT.

Sedulur Sikep dari bahasa Jawa berarti “Sahabat Sikep” adalah kelompok masyarakat yang berusaha menjalankan kehidupan sehari-hari sesuai dengan ajaran Samin. Komunitas masyarakat yang disebut Sedulur Sikep ini terbanyak ditemukan di daerah daerah dan kota antara Jawa Tengah dan Jawa Timur.

@@@@@

SAMIN SUROSENTIKO adalah pencetus gerakan sosial ini. Dia lahir pada 1859 dengan nama Raden Kohar di Desa Ploso Kedhiren, Randublatung Kabupaten Blora Jawa Tengah. Ayahnya bernama Raden Surowijaya atau Samin Sepuh. Ia mengubah namanya menjadi Samin Surosentiko sebab Samin adalah sebuah nama yang bernafaskan wong cilik. Samin Surosentiko masih mempunyai pertalian darah dengan Kyai Keti di Rajegwesi, Bojonegoro dan Pangeran Kusumoningayu yang berkuasa di Kabupaten Sumoroto (kini menjadi daerah kecil di Kabupaten Tulungagung) pada 1802-1826. Samin wafat dalam pengasingan (ia diasingkan oleh Belanda) di kota Padang, Sumatra Barat pada tahun 1914.

Kyai Samin sejak dini gemar bertapa brata, prihatin, suka mengalah dan mencintai keadilan. Beranjak dewasa, dia terpukul melihat realitas banyaknya nasib rakyat yang sengsara akibat kebijakan Belanda melakukan privatisasi hutan jati dan mewajibkan rakyat untuk membayar pajak. Kyai keturunan bangsawan ini dikenal oleh masyarakat kecil dengan sebutan Kyai Samin yang berasal dari kata “SAMI-SAMI AMIN” yang artinya rakyat sama-sama setuju ketika dia melakukan langkah yang berani untuk membiayai masyarakat miskin dengan caranya sendiri.

Bisa disimpulkan, gerakan sosial ini muncul sebagai akibat atau reaksi dari pemerintah kolonial Belanda yang sewenang-wenang. Perlawanan dilakukan tidak secara fisik tetapi berwujud penentangan terhadap segala peraturan dan kewajiban yang harus dilakukan rakyat terhadap Belanda misalnya dengan tidak membayar pajak. Terbawa oleh sikapnya yang menentang tersebut mereka membuat tatanan, adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan tersendiri.

Komunitas Sedulur Sikep memiliki tiga unsur gerakan; PERTAMA, gerakan mirip organisasi proletariat kuno yang menentang sistem feodalisme dan kolonial dengan kekuatan agraris terselubung; Kedua, gerakan tanpa perlawanan fisik yang mencolok; dan KETIGA, gerakan yang berdiam diri dengan cara tidak membayar pajak, tidak menyumbangkan tenaganya untuk negeri, menjegal peraturan agraria dan pengejawantahan diri sendiri sebagai dewa suci.

Menurut Sejarahwan Sartono Kartodirjo, Gerakan Samin adalah sebuah epos perjuangan rakyat yang berbentuk “kraman brandalan” sebagai suatu babak sejarah nasional, yaitu sebagai gerakan ratu adil yang menentang kekuasaan kulit putih.

Pengikut gerakan sosial Samin awalnya memegang lima prinsip perjuangan untuk meneguhkan identitas melawan kolonial: TIDAK BERSEKOLAH (sekolah kolonial), TIDAK MEMAKAI PECI, TAPI MEMAKAI “IKET”, YAITU SEMACAM KAIN YANG DIIKATKAN DI KEPALA MIRIP ORANG JAWA DAHULU, TIDAK BERPOLIGAMI, TIDAK MEMAKAI CELANA PANJANG, DAN HANYA PAKAI CELANA SELUTUT, TIDAK BERDAGANG DAN PENOLAKAN TERHADAP KAPITALISME. Seiring dengan perubahan jaman, lima prinsip ini mengalami penyesuaian, seperti saat ini warga memiliki kesadaran untuk menuntut ilmu dengan sekolah yang setinggi-tingginya.

Pandangan hidup Samin bersumber dari berbagai keyakinan seperti Hidhu-Dharma dan Syiwa-Budha. Juga dipengaruhi oleh ajaran Islam yang berasal dari ajaran Syeh Siti Jenar yang dibawa yaitu Ki Ageng Pengging sehingga mereka merupakan bagian masyarakat yang berbudaya tinggi dan religius.

Daerah persebaran ajaran Komunitas Samin diantaranya di Tapelan (bojonegara), Nginggil dan Klopoduwur (Blora), Kutuk (Kudus), Gunngsegara (Brebes), Kandangan (Pati), dan Tlaga Anyar (Lamongan) dan lainnya. Ajaran di beberapa daerah ini merupakan sebuah GERAKAN MEDITASI DAN MENGERAHKAN KEKUATAN BATINIAH GUNA MENGUASAI HAWA NAFSU.

Pandangan Sedulur Sikep terhadap para leluhur yaitu Kyai Samin moksa ke kaswargan. Pada momentum perayaan upacara mauludan juga ajang untuk mengenang kepahlawanan Kyai Samin. Setiap pemuka masyarakat berpegangan sejenis primbon (kepek) yang mengatur kehidupan luas, kebijaksanaan, petunjuk dasar ketuhanan, tata pergaulan muda-mudi, remaja, dewasa dan antarwarga.

Bahasa yang digunakan oleh para Sedulur Sikep yaitu bahasa kawi yang ditambah dengan dialek setempat, yaitu bahasa Jawi Ngoko. Mereka memiliki kepribadian yang polos dan jujur, selalu menyuguhkan makanan dan tidak pernah minyimpan makanan yang dimilikinya. Pengatahuan mereka terhadap ritus perkawinan sangat unik. Para Sedulur Sikep menganggap bahwa dengan melalui ritus perkawinan, mereka dapat belajar ILMU KASUNYATAN yang selalu menekankan pada dalih KEMANUSIAAN, RASA SOSIAL DAN KEKELUARGAAN DAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL.

Ritus perkawinan itu merupakan alat untuk meraih keluhuran budi yang seterusnya untuk menciptakan “Atmaja (U)Tama” atau anak yang mulia. Pengantin pria mengucapkan kalimat: “Sejak Nabi Adam pekerjaan saya memang kawin. (Kali ini) mengawini seorang perempuan bernama…… Saya berjanji setia kepadanya. Hidup bersama telah kami jalani berdua.”

Demikian beberapa hal yang diajarkan Samin Surosentiko pada pengikutnya yang sampai sekarang masih dipatuhi. Perkawinan sudah dianggap sah walaupun yang menikahkan hanya orang tua pengantin. Ajaran perihal Perkawinan dalam tembang Pangkur orang Samin adalah sebagai berikut (dalam Bahasa Jawa):

“SAHA MALIH DADYA GARAN, (Maka yang dijadikan pedoman), ANGGEGULANG GELUNGANING PEMBUDI, (untuk melatih budi yang ditata), PALAKRAMA NGUWOH MANGUN, (pernikahan yang berhasilkan bentuk), MEMANGUN TRAPING WIDYA (membangun penerapan ilmu), KASAMPAR KASANDHUNG DUGI PRAYOGÂNTUK, (terserempet, tersandung sampai kebajikan yang dicapai), AMBUDYA ATMAJA ‘TAMA (bercita-cita menjadi anak yang mulia), MUGI-MUGI DADI KANTHI (mudah-mudahan menjadi tuntunan).

Kemajuan harus berorientasi pada PROSES yang memakan waktu, tidak serta merta berorientasi pada HASIL. Hal ini dapat dilihat dengan perilaku menolak mesin seperti traktor, huller dan lain-lain. Pakaian yang digunakan adalah kain dengan dominasi warna hitam dengan bahan yang terbuat dari kain kasar.

Kepercayaan dan tata cara hidup juga mengalami perkembangan. Kawasan daerah Pati dan Brebes, terdapat sempalan gerakan sosial yang disebut Samin Jaba dan Samin Anyar yang telah meninggalkan tata cara hidup Samin dahulu. Selain itu, di Klapa Duwur (Blora) Purwosari (Cepu), dan Mentora (Tuban) dikenal wong sikep, mereka ini dulunya fanatik, tapi kini meninggalkan arahan dasar dan memilih agama formal, yakni Budha-Dharma.

Beberapa pandangan hidup Komunitas Samin diantaranya; menguasai adanya kekuasaan tertinggi (sang Hyang Adi budha), ramah dan belas kasih terhadap sesama mahluk, tidak terikat kepada barang-barang dunia-kegembiraan-dan kesejahteraan, serta memelihara keseimbangan batin dikalangan antar warga. Gerakan sosial Samin dengan jelas mencita-citakan membangun negara asli pribumi, yang bebas dari campur tangan kolonialisme, tiada dominasi dunia barat. Ajaran politiknya yaitu cinta dan setia kepada amanat leluhur, kearifan tua, cinta dan hormat akan pemerintahan yang dianggap sebagai orang tua dan sesepuh rohani, hormat dan setia pada dunia intelektual.

Referensi gerakan sosial Samin yang menjadi panduan perilaku adalah SERAT JAMUS KALIMASADA yang terdiri atas beberapa buku, antara lain SERAT PUNJER KAWITAN, SERAT PIKUKUH KASAJATEN, SERAT URI-URI PAMBUDI, SERAT JATI SAWIT, SERAT LAMPAHING URIP, dan merupakan nama-nama serat yang diugemi.

Dengan mempedomani kitab itulah, gerakan sosial/sikap Samin hendak membangun sebuah negara batin yang jauh dari sikap DRENGKI SREI, TUKAR PADU, DAHPEN KEMEREN. Sebaliknya, mereka hendak mewujudkan perintah “LAKONANA SABAR TROKAL. SABARE DIELING-ELING. TROKALI DILAKONI.”

@@@@

Menurut Harry J. Benda dan Lance Castles dalam bukunya THE SAMIN MOVEMENT (1960), ajaran Samin tumbuh tahun 1890-an dan berakar di Randublatung, sebuah kota kecamatan kecil yang dikelilingi lebat hutan jati 25 kilometer sebelah tenggara kota Blora. Pengikut Samin meyakini bahwa jauh sebelum kedatangan orang-orang asing, dari Cina, India, Arab dan Eropa, dengan membawa ajaran agama masing-masing, di Jawa sudah terdapat agama tersendiri. “Ya agama Jawa itu. Agama Adam,” ujar Mbah Karmidi menerangkan.

Keyakinan ini menekankan perlunya dua nilai utama dalam kehidupan, yakni kejujuran dan kebenaran. Inti ajaran Samin yang mengatur tata laku keseharian diabstraksikan dalam konsep Pandom Urip (Petunjuk Hidup) yang mencakup “ANGGER-ANGGER PRATIKEL” (hukum tindak tanduk), “ANGGER-ANGGER PENGUCAP“ (hukum berbicara), serta “ANGGER-ANGGER LAKONANA” (hukum perihal apa saja yang perlu dijalankan). Hukum yang pertama berbunyi “AJA DENGKI SREI, TUKAR PADU, DAHPEN KEMEREN, AJA KUTIL JUMPUT, MBEDOG COLONG.” Maksudnya, warga dilarang berhati jahat, berperang mulut, iri hati pada orang lain, dan dilarang mengambil milik orang.

Hukum ke dua berbunyi “PANGUCAP SAKA LIMA BUNDHELANE ANA PITU LAN PENGUCAP SAKA SANGA BUNDHELANE ANA PITU.” Maknanya, orang harus meletakkan pembicaraannya diantara angka lima, tujuh dan sembilan. Angka-angka tersebut hanyalah simbolik belaka. Jelasnya, kita harus memelihara mulut kita dari segala kata-kata yang tidak senonoh atau kata-kata yang menyakitkan orang lain yang mengakibatkan hidup manusia ini tidak sempurna. Hukum yang paling akhir berbunyi “LAKONANA SABAR TROKAL. SABARE DIELING-ELING. TROKALE DILAKONI.” Warga senantiasa diharap ingat pada kesabaran dan berbuat “ bagaikan orang mati dalam hidup”.

Adapun yang menarik ialah logika berpikir yang bisa terlihat dari pemaknaan bahasanya. Misalnya pengikut gerakan Samin ditanya “umur kakek berapa?” Ia akan menjawab “Satu untuk selamanya”. Artinya umur manusia itu satu. Umur adalah hidup dan hidup adalah nyawa. Manusia hanya punya satu umur dan nyawa. Juga dalam tradisi bertamu, mereka tidak mengenal kata MONGGO (kata yang mempersilahkan tamu untuk duduk atau masuk), karena menurutnya mereka jika SESEORANG INGIN DUDUK, YAH DUDUK SAJA. Juga tidak tak perlu menyatakan terimakasih (matur nuwun dalam bahasa Jawanya) karena pihak pemberi memberikan sesuatu berdasarkan kemauannya sendiri, bukan berdasarkan permintaan dari seseorang lainnya.

LOGIKA PEMAKNAAN BAHASA YANG LUGAS INILAH YANG MEMBAWA GERAKAN SOSIAL INI MENJADI SEBENTUK PERLAWANAN PADA KESEWANG-WENANGAN. Sebagai contoh seorang aparat desa di masa tahun 1900-an meminta agar warga membayar pajak sewa tanah yang digarapnya. Lalu warga menggali tanahnya serta memasukkan uang ke lubang dan menutupnya. “mengapa kamu menguburkan uang di dalam tanah?” tanya aparat desa itu. Para pengikut Samin itu menjawab “tanah itu milik bumi, jadi saya harus bayar sewa tanah pada bumi, bukan pada penjajah”.

Seorang wartawan yang berkunjung ke Rembang pada Desember 1914 (dalam Harry J. Benda dan Lance Castles dalam bukunya THE SAMIN MOVEMENT), mencatat peristiwa seorang patih yang sedang memeriksa seorang Samin di pengadilan karena dirinya tak mau membayar pajak.

+ “Kamu masih hutang 90 sen kepada negara”
- saya tak hutang kepada negara”
+ “Tapi kamu mesti bayar pajak.”
- “Wong Sikep (warga pengikut Samin) tak kenal pajak
+ “Apa kamu gila atau pura-pura gila? “
- “Saya tidak gila dan juga tidak pura-pura gila”
+ “Kamu biasanya bayar pajak, kenapa sekarang tidak?”
- Dulu itu dulu, sekarang itu sekarang. Kenapa negara tak habis-habis minta uang?”
+ Negara mengeluarkan uang juga untuk penduduk pribumi. Kalau negara tak cukup uang, tak mungkin merawat jalan-jalan dengan baik.”
- “Kalau menurut kami keadaan jalan-jalan itu menganggu kami, kami akan membetulkannya sendiri.”
+ Jadi kamu tak mau bayar pajak?”
- Wong Sikep tak kenal pajak.”

Mencermati sejarah gerakan para Sedulur Sikep Komunitas Samin ini, rakyat Indonesia harusnya berguru kepada mereka. Ternyata BAHASA mampu menjadi alat untuk melakukan sebuah perubahan sosial ke arah yang lebih baik. CARA-CARA YANG SANTUN TANPA KEKERASAN dalam berjuang ini mengingatkan kita pada gerakan sosial Mahatma Gandhi di India yang fenomenal itu. SEMOGA SAUDARA SEDULUR SIKEP SELALU DIBERIKAN KEKUATAN OLEH TUHAN UNTUK TETAP MENGEMBANGKAN MODEL PERJUANGAN YANG SANTUN, SALING ASAH ASIH DAN ASUH YANG TELAH DICONTOHKAN PARA PENDAHULU MEREKA YANG KINI TELAH MOKSA.

Wong Alus

–Artikel ini hasil interpretasi yang bersumber dari literatur-literatur skunder. Monggo dikoreksi bersama bila salah dan mohon maaf bila kurang berkenan.

Categories: SEDULUR SIKEP SAMIN | Tags: , , , , , , , | 16 Komentar

MESU BUDI MANUSIA DAYAK


Suku ini memegang teguh kehormatan leluhur, setia kawan, jujur dan tenggang rasa. Kebersatuan mereka terhadap alam sekitar adalah hasil dari kepercayaan terhadap dunia magis.

dayak1

Siapapun tak bisa menyangkal kemampuan batin manusia Dayak sangat kuat. Ini adalah hasil dari keakraban manusia Dayak dengan dirinya sendiri dan lingkungannya dan diolah dengan laku perbuatan yang nyata: membela harkat dan martabat kemanusiaan serta alam sekitarnya dengan cara diam dan simbolik.

Salah satu ketua adat dari Etnis Dayak pedalaman menceriterakan bagaimana dia mendapatkan ilmu kesaktian sehingga dia memiliki sejumlah kelebihan yang tidak dimiliki oleh manusia lain. Salah satu pesan penting dan begitu mendalam adalah apa yang biasa didengar oleh para spiritualis di Jawa yaitu etos yang disebut mesu budi, — dari Serat Wedatama. Yaitu bermakna mengandalkan kekuatan batin dan tidak bertumpu pada kemegahan dunia. Bahwa NILAI SESEMANUSIA TIDAK PERNAH DILIHAT DARI HARTA YANG DIA MILIKI, TETAPI DARI APA YANG TELAH DIA PERBUAT UNTUK MANUSIA DAN ALAM SEKITARNYA.

“Di zaman yang semakin bobrok seperti sekarang ini, seharusnya jangan hanya mengejar dunia. Lihat saja semua tokoh besar yang meninggal, tidak terkenal karena kendaraan mewah yang dia miliki, rumah yang dia punya, tetapi karena karya yang telah dia buat selama hidupnya,” katanya.

ok1

Salah satu adat yang diyakini manusia Dayak adalah menganggap tabu untuk menebang pohon di sekitar daerah itu, sehingga timbul berbagai istilah hutan adat atau hutan keramat yang dikenal sejak zaman nenek moyang mereka. Sayangnya, masih banyak oknum-oknum yang secara membabi buta melakukan penebangan hanya untuk kepentingan pribadi tanpa memikirkan akibat yang timbul dari perbuatannya tersebut.

Tidak sedikit dari wilayah hutan yang diklaim masyarakat Dayak setempat sebagai hutan adat, dijadikan areal penebangan hutan secara liar. Lagi-lagi sangat disayangkan, masyarakat Dayak setempat harus gigit jari terhadap para penebang yang sebenarnya telah melakukan pantangan adat dan pantas menerima hukuman, baik hukum positif maupun adat. Mereka tidak dapat berbuat banyak melihat hal itu. Selain menjadi penonton yang baik mereka lebih banyak diam, karena keterbatasan pengetahuan. Sementara aparat yang seharusnya menjadi pelindung bagi justeru ikut-ikutan menjarah hasil penebangan liar tersebut. Padahal selama ini, jika manusia Dayak memang harus melakukan penebangan kayu untuk membuka lahan atau dijadikan bahan baku membuat rumah, sebelumnya melakukan suatu upacara adat dengan berbagai sesaji.

Itu sebabnya saat terjadi kerusakan hutan yang parah di Kalimantan, manusia Dayak sangat gelisah dan tiada henti memprotes. Salah satu protes itu berbentuk pernyataan bersama menolak perusakan hutan. Misalnya protes yang dilancarkan Forum Kampung Dayak Punan Hulu Kelay yang terdiri dari Kampung Long Suluy, Long Lamcin, Long Lamjan, Long Keluh, Long Duhung, dan Kampung Long Beliu Kabupaten Berau. Mereka memberikan pernyataan:

Bahwa; hutan, air, sungai, pohon buah, pohon madu, tanaman obat, binatang buruan, rotan, emas dan sumber-sumber alam lainnya adalah tempat hidup dan sumber kehidupan kami dan kami harus menjaganya untuk memastikan sumber-sumber alam tersebut, akan
terus ada dan tersedia sebagai amanah pendahulu kami dan untuk kehidupan kami sekarang dan kehidupan generasi penerus kami pada masa yang akan datang, dengan ini kami sampaikan pernyataan kami untuk semua pihak:

1. Menolak penambangan sumberdaya alam, terutama tambang emas dengan menggunakan alat-alat mesin dan zat-zat yang membahayakan, kecuali dilakukan secara tradisional (dulang) seperti yang diajarkan oleh manusia tua kami secara turun-temurun.
2. Tidak menerima segala bentuk perkebunan besar, yang membuka hutan secara luas dan dapat menghabiskan sumberdaya alam sebagai tempat kami menggantungkan hidup dan kehidupan.
3. Menolak segala bentuk kegiatan penebangan liar yang dilakukan oleh siapapun dan dalam bentuk apapun.
4. Menolak segala bentuk perburuan binatang yang dilindungi baik yang dilindungi hukum adat maupun dilindungi hukum positif, kecuali perburuan bintang yang tidak dilindungi untuk kebutuhan hidup kami secara terbatas
5. Meminta pada semua pihak untuk mengakui dan menghargai hak-hak masyarakat secara adat dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam
6. Meminta kepada semua masyarakat yang tinggal dikampung-kampung hulu sungai kelay, untuk secara bersama-sama menjaga dan mempertahankan seluruh sumber-sumber kehidupan kita.

ok3

Pernyataan ini adalah pesan serius dari kalangan komunitas Dayak yang selama ini dipandang rendah, hina, dibodoh-bodohkan dan dianggap sebagai “suku terasing” atau “primitif.” Jika kita memahami budaya Dayak, maka kebangkitan untuk tidak diam melihat kerusakan lingkungan ini bisa digambarkan bahwa naga yang tinggal di lubuk sungai telah muncul ke permukaan dan menghempas-hempaskan ekor raksasa perkasanya.

Dalam khasanah Budaya Dayak, manusia harus meyakini adanya konsep hidup-mati: “RENGAN TINGANG NYANAK JATA” (anak enggang, putera-puteri naga), yang dilambangkan oleh enggang dan naga (jata) di seluruh pulau Kalimantan, bukanlah manusia agresif. Tapi jika berkali-kali diagresi dalam berbagai bentuk, mereka akan melakukan perlawanan “ISEN MULANG” yang artinya “takkan pulang kalau tak menang”. Secara fisik terbaca pada “lahap” (pekikan perang) atau “lawung bahandang” (ikat kepala merah) dan “mangkok merah”.

Aksi Dayak ini hanya dilakukan jika mereka sampai pada batas kesabaran, apabila bumi dan mereka terus dirusak, apabila “sumpah potong rotan” dan upacara sejenis sudah dilakukan dan terus-menerus dilanggar. Padahal sejatinya, manusia Dayak termasuk manusia pendiam dan banyak bicara dengan bahasa isyarat, tatapan mata dan pengamatan serta mencermati kata oleh adanya tradisi mantera yang kuat di kalangan komunitas mereka. Mantera adalah satunya kata dan tindakan, keyakinan pada makna kata.

Manusia Dayak mengenal zat tertinggi yang menciptakan dunia dan segala isinya. Itu tersirat dalam adat, mitos-mitos tentang kejadian alam semesta dan manusia yang memperlihatkan keterkaitan-keterkaitan antara manusia dengan makhluk-makhluk lain serta alam lingkungan sekitarnya. Keyakinan terhadap zat tertinggi atau Tuhan itu tersurat dalam keyakinan mereka terhadap adanya dunia batin (inner world) yang memiliki kekuatan magis yang mengendalikan alam semesta. Berbagai nama-nama pengetahuan batin manusia Dayak tersebut diantaranya: Parang-maya, Pipit Berunai, Tumbak Gahan, Awoh, Kiwang, Kibang, Pakihang, Panikam Jantung, dan Petak Malai, dan Pantak.

Dalam mitologinya, manusia Dayak mengenal empat tingkatan dewa-dewa sebagai kekuatan alam yang tinggi. Mereka adalah:

(1) NEK PANITAH. Nek Panitah adalah dewa tertinggi. Ia hidup bersama istrinya yang bernama Nek Duniang. Anak Nek Panitah dengan Ne’ Duniang bernama Baruakng Kulub. Panitah = perintah.

(2) JUBATA. Jubata adalah roh-roh yang baik. Jumlah mereka banyak. Tiap sungai, gunung, hutan, bukit mempunyai jubata. Yang terpenting adalah jubata dari bukit bawakng. Apa’ Manto Ari adalah raja dari bukit bawakng.

(3) KAMANG. Kamang adalah roh-roh leluhur dari orang dayak. Ia berpakaian cawat dan kain kepala warna merah dan putih diputar bersama ( tangkulas ). Ini juga pakaian dari pengayau kalau mereka pulang dengan membawa hasil. Kamang pandai melihat, mencium bau dan makanannya darah. Ini terlihat dari upacara-upacara adat. Darah untuk kamang dan beras kuning untuk jubata. Kamang tariu dan kamang 7 bersaudara. Kamang tariu adalah adalah Kamang Nyado dan Kamang Lejak. Sedangkan kamang 7 bersaudara adalah Bujakng Nyangko ( yang tertua ) tinggal dibukit samabue, Bujakng Pabaras, Saikng Sampit, Sasak Barinas, Gagar Buluh, Buluh Layu’ dan Kamang Bungsu ( dari Santulangan ). Bujakng Nyangko adalah kamang yang baik. Sedangkan yang lain terkadang baik dan terkadang jahat. Saikng sampit, Sasak Barinas, Gagar Buluh dan Buluh Layu’ adalah kamang yang sering tidak senang dan menyebabkan pada waktu itu penyakit dan kematian. Kamang Tariu dengan 7 bersaudara itu adalah pelindung dari para pengayau.

(4) ANTU. Jumlah antu ( hantu ) banyak sekali. Dalam arti tertentu, mereka kurang lebih jiwa orang mati. Antu selalu menyebabkan penyakit pada manusia, binatang maupun tumbuhan. Antu cacar menyebabkan penyakit pada manusia. Antu apat menyebabkan penyakit padi dan antu serah menyebabkan banyak tikus makan padi diladang.

Kepercayaan pada 4 tingkat makhluk supranatural inilah yang melahirkan asas-asas kehidupan mereka, yakni:

(1) PAMA. Pama artinya kekuatan yang membawa keuntungan. Pama hanya dimiliki oleh orang besar dan juga pengayau yang berhasil. Mereka mempunyai pama karena dianggap mereka mempunyai hubungan keatas, dengan jubata. Kalau orang yang mempunyai pama meninggal, pama pindah kepantak yang pada akhirnya ditempatkan dipadagi. Kata pama sendiri berasal dari bahasa sanskrit = umpama, berarti gambaran. Pantak adalah gambaran seseorang yang mempunyai pama pada waktu dia hidup.

(2) JIWA. Orang Dayak mengenal ada 7 jiwa. Yaitu :

ok5

NYAWA. Hanya manusia dan binatang yang mempunyai nyawa. Nyawa hilang waktu meninggal.

SUMANGAT. Bukan hanya manusia mempunyai sumangat, tetapi juga binatang, tanaman dan benda-benda. Ini dapat dilihat dari doa-doa persembahan yang selalu diakhir dengan memanggil kembali sumangat manusia, padi, babi, ayam, beras, emas, perak dan semua milik rumah. Sumangat dengan mudah keluar dari tempatnya. Kalau terkejut, sesudah suatu perbuatan yang berbahaya yang didampingi oleh ketakutan, sesudah memandikan anak kecil ( bahaya sumangat anak hilang bersama dengan air ). Sesudah melahirkan juga diadakan upacara nyaru’ sumangat. Cara sederhana untuk memanggil sumangat kembali : kurrr….a’ sumangat. Mimpi disebabkan oleh sumangat, karena itu sumangat berjalan. Kalau kita sebut nama seseorang, sumangatnya pasti datang dengan kita dan kita akan bertemu dengan semangat orang itu dalam mimpi. Tempat sumangat ada dalam badan. Sumangat dikembalikan dalam badan oleh dukun baliatn lewat telinga kiri. Sesudah manusia meninggal, sumangatnya tidak menjadi pidara, tetapi pergi ke subayatn. Sumangat dari orang yang dibuatkan pantak pergi ketempat pantak itu dan bergabung dengan kamang.

AYU. Tempat ayu ada dibelakang badan. Kalau ayu pergi, ayu dikembalikan dipermulaan punggung ( ka’ pungka’ balikakng ), dibawah leher. Ayu melindungi manusia dari belakang. Penyakit yang disebabkan oleh kehilangan/kepergian ayu jauh lebih parah daripada penyakit yang disebebkan oleh kepergian sumangat. Dikatakan “ lapas ayu “ atau rongko’ (sakit ayu ). Sesudah orang meninggal, ayu menjadi pidara dan tetap tinggal bersama dengan badan. Ada hubungan erat antara ayu dengan hantu. Ayu juga disebut hantu.

SUKAT. Dalam doa selalu dikatakan “ sukat nang panyakng satingi diri’ “ artinya sukat yang panjang setinggi kami sendiri. Pertama sukat menunjuk kepada satu bagian dari badan manusia, mulai dari atas kepala lewat otak ke sumsum belakang. Penyakit bisa disebabkan oleh kekurangan sukat.

BOHOL. Bohol bersifat anatomis yakni garis perut dari tulang dada ke pusat atau lebih khusus tempat dibawah tulang dada yang berdenyut. Kurang bohol atau bohol yang tidak lurus adalah sala satu sebab penyakit. “ kakurangan sukat nang manyak, kakurangan bohol nang jarakng “ demikian dukun menyebutkan sebab penyakit pasiennya. Penyakit karena kekurangan bohol terutama dialami oleh anak kecil. Dari wnaita yang sulit beranak dikatakan “ mereng bohol anak “ artinya bohol anak bayi miring. Dukun baliatn pandai mencari bohol yang hilang.

LEO BANGKULE. Leo Bangkule berarti jantung, hati, paru-paru atau semua organ dalam perut manusia. Dalam doa, leo bangkule sering diundang kembali. Bersama dengan leo bangkule selalu dikatakan : tali nyawa atau tali danatn atau tali dane. Untuk manusia, tali nyawa berarti saluran pencernaan.

NENET SANJADI. Nenet Sanjadi disebut juga saluran pernafasan ( tali sengat ), permulaan dari tali mulai dari karukok (kerongkongan ).

Manusia dayak memegang 5 prinsip kehidupan yang ditetapkan berdasarkan adat, yaitu: HIDUP HARUS TOLONG MENOLONG, HARUS HIDUP MEMPERTAHANKAN KEAMANAN RAKYAT DAN DESA, TIDAK BOLEH HIDUP TIPU-MENIPU, HARUS JUJUR DAN ADIL, DAN HARUS HIDUP SETALI SEDARAH. Bagi pelanggar 5 sumpah adat ini, maka akan diberlakukan Hukuman adat bagi manusia

Secara ringkas, Manusia Dayak yakin bahwa ada dua ruang lingkup alam kehidupan, yaitu kehidupan alam nyata dan kehidupan alam maya. Yang berada di alam kehidupan nyata ialah makhluk tak hidup, tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia. Sedangkan yang berada di alam kehidupan maya antara lain: Ibalis, bunyi’an, antu, sumangat urang mati, dan Jubata (Tuhan).

Kedua alam kehidupan ini dapat saling pengaruh-mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Kekuatan supranatural yang dimiliki oleh manusia adalah salah satu contoh dari akibat tersebut di atas. Untuk menjaga keseimbangan antara kehidupan alam nyata dan kehidupan alam maya, serta untuk menata seluruh aspek kehidupan warganya, hubungan timbal-balik sesama warganya, hubungan warganya dengan alam lingkungannya, serta penciptanya/Jubata agar tetap serasi dan harmonis, nenek moyang para leluhur mereka telah menyusun secara arif dan bijaksana ketentuan-ketentuan, aturan-aturan yang harus ditaati dan dijadikan pengangan hidup bagi seluruh warganya dan warga keturunannya dari generasi ke generasi sampai kini.

Manusia Dayak dalam menjalani rutinitas kehidupannya tidak lepas dari praktek religius tradisionalnya yang diwarisi oleh para leluhurnya, terutama dalam interaksinya dengan alam lingkungannya. mereka percaya bahwa dalam usaha mendapatkan rejeki, kesehatan dan keselamatan dalam kehidupan ini tidak hanya bertumpu pada usaha kerja keras saja, tetapi juga pada harapan adanya campur tangan dari “apa” yang mereka yakini.

Hal ini dapat dilihat dari doa dalam setiap acara ritual yang disampaikan oleh penyangohotn (imam):

“BUKOTNNYO UNANG I-MANTABOK I-MAROMPOKNG ADAT ATURAN ANYIAN, IO INURUNAN AMPET I NE’ UNTE’ I KAIMANTOTN, NE’ ANCINO I TANYUKNG BUNGO, NE’ SARUKNG I SAMPURO, NE’ RAPEK I SAMPERO’, NE’ SAI I SABAKO’, NE’ RAMOTN I SAA’U, NE’ RANYOH I GANTEKNG SIOKNG. ANGKOWOLAH ANGKENYO KAMI ANAK PARUCU’E MAKE IO DAH TINGOR-KAMANINGOR, DAH PAHIYAK DAH GOEHOTN KAMI IHANE.”

Bukanlah adat dan aturan ini hasil rekayasa semata-mata, namun dia diturunkan oleh mereka (para leluhur) yang bernama Nek Unte’ yang tingggal di kaimantotn, Nek Bancino (leluhur dari etnis cina) di Tanyukng Bungo, Nek Sarukng di bukit sampuro, Nek Rapek di sungai Sapero’, Nek Sai di bukit Sabako’, Nek Ramotn di bukit saba’u Nek Ranyoh di Gantekng Siokng. Karena itu generasinya menggunakannya yang diwarisi dari generasi yang menjadi tuntutan kehidupan kami.

Dalam adat terkandung segala aturan, norma dan etika yang mengatur korelasi manusia dengan manusia, manusia dengan unsur-unsur yang non-manusia dalam sistem kehidupan ini. Ajaran tentang adat (etika) lingkungan hidup yang mengatur korelasi antara manusia dengan alam ini didasarkan pada pandangan dunia yang termuat dalam mitos-mitosnya.

Manusia Dayak memahami alam semesta (kosmos) ini sebagai suatu bentuk kehidupan bersama antara manusia dan yang non-manusia, diluar alam para Jubato (dewa) dan Awo Pamo (arwah para leluhur) yang berada di Subayotn. Bentuk kehidupan itu merupakan suatu sistem yang unsur-unsurnya terdiri dari unsur alam manusia dan alam non-manusia yang saling berkolerasi. Sistem kehidupan itu sendiri merupakan lingkungan hidup manusia dimana manusia hidup dan berkolerasi secara harmonis dan seimbang dengan unsur-unsur lain yang bukan manusia. Hubungan yang harmonis dan seimbang dalam sistem kehidupan dibangun oleh manusia melalui praktik-praktik religi.

Manusia sebagai bagian dari alam memiliki unsur-unsur alam, misalnya, udara, air, dan zat lainnya dalam dirinya. Manusia merupakan mikrokosmos (bagian dari dalam sistem alam semesta (kosmos) ini dan setiap unsur dalam sistem itu masing-masing memiliki nilai dan fungsinya yang saling mendukung dalam satu kesatuan yang harmonis dan seimbang.

Alam berkomunikasi dengan manusia antara lain melalui tanda-tanda yang diberikan. Sebaliknya bentuk komunikasi manusia dengan alam melalui praksis (tindakan nyata dan disadari) dan praktik religiusnya. Beberapa contoh bentuk pemahaman manusia sebagai bagian dari alam yang berkolerasi dalam misalnya, kematian dipahami sebagai peristiwa kembalinya dan menyatunya jasad manusia dengan alam dunia (taino) serta sengat atau ayu (jiwa) dengan Subayotn.

Saat manusia akan meninggalkan dunia, alam mengkomunikasikannya pada mnusia berupa tanda dalam bentuk suara dari sejenis mahluk alam yang disebut Tirantokng. Suara itu menyerupai bunyi sebuah parang besar beradu dengan alas kayu terjadi pada malam hari antara pukul 10.00 hingga 12.00. Tanda ini diartikan bahwa hantu telah memotong-motong badan orang itu hingga meninggal. Orang segera tahu bahwa dalam beberapa hari akan ada yang meninggal dunia di desanya atau desa sekitarnya.

Saat orang itu akan menghembuskan nafasnya yang terakhir (NGOOH), pada malam sebelumnya suara riuh rendah dari mahluk malam di rimba terdengar tidak seperti biasanya. Peristiwa ini bisa dialami oleh mereka yang menunggu durian atau berburu pada malam hari (NERENG). Orang menafsirkannya bahwa alam bersorak-sorai menyambut kedatangan manusia yang akan menyatu kembali dengannya. Tidak ada kebiasaan membersihkan dan menyembahyangi dalam kehidupanmasyarakat Dayak. Pohon-pohon dan semak dibiarkan tumbuh lebat disekitar kuburan. Masyarakat takut untuk membersihkannya karena arwah manusia yang dikubur itu akan marah dan menyakitinya.

Jenasah itu dikubur tanpa nisan. Rangkaian peristiwa kematian yang dialami dalam kehidupannya membuat masyarakat Dayak berkesimpulan bahwa MANUSIA ITU BETUL-BETUL TELAH KEMBALI DAN MENYATU DENGAN ALAM KARENA DIA SESUNGGUHNYA BERASAL DARI ALAM. MANUSIA YANG SUDAH MOMO’ (MENINGGAL DUNIA) ITU SESUNGGUHNYA TELAH KEMBALI KE BINUO (TEMPAT) ASALNYA.

Selain menjalin keakraban kepada makhluk lain yang tidak terlihat, Manusia juga perlu menjalin kerjasama erat dengan binatang sebagai sesama adalah mahluk ciptaan Tuhan. Oleh karena itu ada salah satu suku dayak yaitu Suku Dayak Ngaju menempatkan binatang pada tempat yang istimewa, antara lain:
a. Burung Tingang merupakan lambang kemasyuran dan keagungan.
b. Burung Antang (Elang) merupakan lambang keberanian, kecerdikan serta kemampuan memberikan petunjuk peruntungan baik buruk. Dalam acara ritual “menenung” atau acara “menajah antang” untuk mengetahui “Dahiang-Baya”, maka burung Antang digunakan sebagai mediator.
c. Burung Bakaka diyakini memberikan petunjuk bagi pencari ikan apakah memperoleh banyak ikan atau tidak. Demikian juga burung perintis.
d. Burung Kalajajau/ Kajajau (Murai) dianggap sebagai burung milik dewa. Memperlakukan burung Kalajajau/ Kajajau (Murai) dengan semena-mena dapat membawa malapetaka.
e. Burung Tabalului, Kangkamiak dan kulang-kulit sebagai kelompok burung hantu diyakini sebagai burung iblis.
f. Burung Bubut mampu memberikan informasi bahwa tidak alam lagi permukaan air sungai akan meluap atau terjadi banjir.
g. Tambun (ular besar / ular naga) melambangkan kearifan, kebijakan sarana, dan kekuatan.
h. Buaya sering dianggap sebagai penjelma mahluk alam bawah (jata).
i. Angui (Bunglon) diyakini sebagai perwujudan saudara Ranying Hatala Langit yang bungsu.

Meskipun binatang adalah mahluk ciptaan Tuhan dengan derajad yang lebih rendah dari pada manusia, namun manusia harus tetap menjaga keseimbangan populasinya agar supaya keseimbangan alam tetap terpelihara. Dalam kehidupan Masyarakat Dayak, adat melarang siapapun menganiaya binatang. Sebaliknya adat juga melarang manusia mempunyai hubungan yang lebih dengan binatang atau disetubuhi oleh binatang. Apabila hal itu terjadi maka orang tersebut merupakan manusia terkutuk.

Demikian sedikit uraian tentang dunia mistik Budaya Dayak. Tulisan ini hanya sebagai pintu masuk yang perlu ditindaklanjuti dengan berbagai penelitian mengingat suku Dayak tersebar di hampir seluruh Pulau Kalimantan yang luas. Kekayaan budaya spiritual dan mistik di tanah air kita memang luar biasa dan perlu terus dilestarikan, dilindungi dan  dikembangkan.

Wong Alus

Categories: DAYAK | Tags: , , , , , | 35 Komentar

PARMALIM YANG TERSINGKIR


Ini sepenggal fakta tentang perjuangan sekelompok kaum minoritas agar diakui kepercayaannya. Jauh sebelum sebelum masuknya agama monoteis, mereka telah bereksistensi.

Indonesia Religion

Penganut Parmalim jumlahnya relatif kecil. Saat ini di Kota Medan, ada sekitar 600 orang. Mereka terus gigih berjuang agar eksistensinya tidak hilang. Ironi memang, 63 tahun lamanya Indonesia merdeka dan sudah selama itu pula Undang-Undang Dasar menjamin kebebasan beragama; tapi sampai kini mereka belum bisa menikmati kemerdekaan berkeyakinan.

Tapi, semangat penganut Parmalim tidak padam. Berjuang bagi penganut Parmalim bukan hal baru. Tercatat tokoh besar yang juga menjadi penganut Parmalim adalah pahlawan nasional Raja Sisingamangaraja XII pejuang yang gigih menentang agresi Kolonial.

Sebenarnya, Undang-undang No 23 Tahun 2006 telah memberikan kesempatan kepada Parmalim untuk dicatatkan sebagai warga Negara melalui kantor catatan sipil, namun sayangnya mereka tidak diberi kesempatan menuliskan identitas sebagai Parmalim di Kartu Tanda Penduduk sehingga harus memilih beragama A, B, C, D atau E.

Nasib penganut Parmalim juga semakin tersingkir. Masyarakat khususnya Batak masih menganggap Parmalim aliran sesat. Bahkan, lembaga formal agama masih memberikan stigma buruk kepada Parmalim seperti tidak sesuai dengan jalan kebenaran Tuhan, menyembah berhala (paganisme) dan sebagainya.

Parmalim adalah kepercayaan pertama orang Batak sebelum masuknya agama lain ke kawasan Tapanuli. Pimpinan Parmalim saat ini adalah RAJA MARNANGKOK NAIPOSPOS. Mereka tak punya rumah ibadah, atau disebut dengan RUMAH PARSAKTIAN. Persembahyangan masih dilakukan di rumah salah pimpinan Parmalim.

Pada 2005 lalu, sebetulnya pengangut Parmalim berencana membangun Ruma Parsaktian di Jalan Air Bersih, Ujung Medan. Tapi rumah itu gagal dibangun karena ada penolakan dari warga sekitar.

Pembangunan Ruma Parsaktian tak ayal terbengkalai. Rumah seluas dua kali lapangan bulu tangkis itu dikotori alang-alang, di dalam dan luarnya. Tembok yang sempat dibangun sebagian rubuh. Bahkan pembangunan gedung yang sebetulnya sudah 70 persen selesai itu, sebagian atapnya sudah terlihat copot.

AJARAN-AJARAN PARMALIM.
Budaya Batak sejak dulu sudah memiliki penanggalan istimewa. Hari dihitung setiap bulan sebanyak 29 dan 30 hari yang dihitung atas dasar pengamatan terhadap “parlangitan” siklus bulan dan bintang.

Masing-masing hari beda sebutannya. Dimulai hari pertama yaitu… 1. Artia 2. Suma 3. Anggara 4. Muda 5. Boraspati 6. Singkora 7. Samisara 8. Artia ni Aek 9. Suma ni Mangadop 10.Anggara Sampulu 11. Muda ni mangadop dan seterusnya.

Bulan terakhir setiap tahun dinamai HURUNG (KURUNG) dan hari ke 29 setiap bulan juga disebut Hurung. Setiap hari “hurung” setiap bulannya biasanya dihindari kegiatan yang diharapkan akan berkembang, misalnya menjemput ternak untuk peliharaan, tabur benih, melakukan acara pengesahan perkawinan dan sebagainya.

Mereka biasanya melakukan pendekatan terhadap TUHAN atau disebut DEBATA MULAJADI NABOLON yang artinya pencipta Manusia, Langit, Bumi dan segala isi alam semesta.

Pendekatan terhadap Tuhan biasanya memuncak pada akhir bulan saat dilaksanakan pensucian diri. Setiap bulannya pada hari “hurung” ini manusia akan “ringkar” artinya keluar dari keterkungkungan.

Pada setiap akhir tahun mendapat perhatian yang lebih khusus. Umumnya kegiatan secara total dihentikan. Tidak melakukan tanam benih, tidak melakukan transaksi dagang, tidak saling memberi dan menerima sesuatu barang untuk usaha pengembangan. Tidak melakukan “parhataan” pembahasan atas semua aspek kehidupan bersama. Mereka melakukan kegiatan sendiri, menyendiri dalam kegiatan satu keluarga. Mereka membatasi diri dari hubungan duniawi. Hal ini disebut “MARSOLAM DIRI”, membatasi diri dari hal keduniaan.

Tujuan hidup manusia adalah menuju kepada TUHAN, “SUNDUNG NI HANGOLUAN” adalah ujung dari tujuan kehidupan. Arti kehidupan digambarkan dengan “HARIARA SUNDUNG DILANGIT” yang biasa diukirkan pada sisi rumah Batak, yang mengartikan pohon kehidupan yang tajuknya semakin mengerucut kearah “atas” sebagai simbol keberadaan.

Sejak tahun 1910, penganut Parmalim memperingati “NAPAET”. Napaet arti harafiahnya adalah gabungan dari tumbuhan yang mengandung pahit, asam, pedas, kelat dan asin.

Napaet adalah simbol penderitaan para pengikut Parmalim. Napaet juga merupakan upaya mereka menegakkan hukum kebenaran. Dua bagian pengertian khusus Napaet.

Pertama , karena kesetiaannya mengikuti ajaran Parmalim sehingga sering mengalami penindasan oleh orang-orang disekitarnya, terfitnah dan dituding “sesat”. Kedua, adalah akibat dari kesalahannya sendiri terhadap hukum yang telah ditegakkan parmalim, yang melakukan tindakan yang dapat merusak keutuhan alam semesta dan tatanan kemanusiaan. Ini disebut “dosa”.

Dosa harus dimohonkan pengampunan kepada Tuhan pada akhir tahun, bulan dan hari hurung. Napaet dijalani dengan berpuasa. Tidak mengkonsumsi makanan 24 jam sehingga perilaku ini disebut “MARSOLAM DIRI”, atau membatasi diri dari tuntutan duniawi.

Setelah puasa, hari berikutnya adalah melaksanakan “RINGKAR” menerima anugerah Tuhan berupa ampunan. Pada hari itu penganut Parmalim mengkonsumsi “MANGAN NATONGGI”. Yaitu makanan makanan yang manis-manis secara bersama-sama untuk mengekspresikan kebahagiaan.

Hari Raya Batak adalah PAMELEON BOLON. Yang artinya mengucap syukur Kepada MULAJADI NABOLON atas anugrah sepenjang tahun yang diberikan. Yaitu pada bulan “SIPAHAOPAT” saat penduduk sudah selesai memetik hasil panen. Persembahan akbar disiapkan. Raja lah yang menetapkan hari raya tersebut. Makanan yang dihidangkan di antaranya: Kerbau pilihan yang memiliki empat pusar dan tanduk melingkar, gemuk dan tegar.

Pada saat itu, tokoh agama menghaturkan rasa terima kasih kepada MULAJADI NABOLON menghaturkan sembah, mengucap syukur atas anugrah sepenjang tahun. Kaum parmalim menghantar sajian yang ditata diatas “LANGGATAN” altar persembahan. Diiringi tarian berirama musik tradisi.

KESIMPULAN
Parmalim adalah kepercayaan asli etnis Batak yang hingga kini masih eksis. Kepercayaan asli etnis Batak itu, sangat dekat hubungannya dengan tradisi dan simbol-simbol agama. Parmalim bisa jadi merupakan ajaran yang usianya sudah ribuan tahun dan mengalami asimilasi dan difusi dengan agama-agama lain.

Tercatat saat ini penganut kepercayaan Parmalim memiliki 360 orang dukun yang berfungsi sebagai pembawa upacara keagamaan. Dari 360 dukun itu, separuh di antaranya (180 orang) menggunakan bacaan pembuka dan penutup mantra (tabas). Pembukaan mantra di antaranya; “BINSUMILLAH DIRAKOMAN DIRAKOMIN” dan penutupnya “YASA YASU YAUSA.”

Dalam sejarah disebutkan Raja pertama beretnis Batak bernama Raja Makoeta atau Raja Manghuttal bergelar Sisingamangaraja I yang berkuasa sekira tahun 1550 M. Kekuasaannya hingga ke Aceh dan Minangkabau. Sisingamangaraja I merupakan kemenakan Raja Uti, penguasa Barus. Raja Makoeta merupakan panglima Raja Uti ketika melawan Portugis yang hendak menguasai Barus.

Sisingamangaraja I itu mendirikan kerajaan baru berpusat di Bakkara. Antara Barus dan Bakkara terjadi hubungan persahabatan yang erat. Itu ditandai dengan dibuatnya jalan menghubungkan kedua kerajaan itu.

Dalam menjalankan pemerintahannya Sisingamangaraja I berpedoman pada sejumlah pegangan spiritual bernuansa monotheistis. Misalnya, menyucikan diri, tidak memakan darah dan daging yang tidak disembelih (mate garam). Tidak menenggak minuman yang memabukkan.

Ada beberapa alasan kenapa Parmalim harus menghadapi tekanan keras yang membuat kepercayaan asli itu kian meredup. Pertama, keyakinan monotheisme Parmalim sangat bertolak belakang dengan keyakinan mayoritas etnis Batak modern.
Kedua, kebijakan pemerintah dan agama-agama yang mendominasi di tanah air tidak memberi ruang bagi eksistensi berbagai aliran kepercayaan yang ada, menyebabkan Parmalim dan kepercayaan lainnya terpinggirkan.

Sebagai sebuah warisan budaya spiritual masa lalu di negeri ini, Parmalim seharusnya dipandang sama dengan aliran-aliran kepercayaan yang ada. Berilah ruang lebih terbuka kepada penganut Parmalim menunjukkan eksistensinya di tengah pergaulan antar pemeluk agama. Semestinya toleransi beragama diberikan kepada semua keyakinan, agar tidak muncul prasangka toleransi beragama digunakan untuk kepentingan sempit agama tertentu saja.

Wong Alus

Categories: PARMALIM | Tags: , , , | 10 Komentar

BALI, MOKSALAH KEMBALI


OM, OM OM BHUR BHUWAH SWAH,
TAT SAWITUR WARENYAM,
BHARGO DEWASYA DHIMAHI,
DHIYO YO NAH PRACHODAYAT

Ya Hyang Widhi yang menguasai ketiga dunia ini,
Yang Maha Suci dan Sumber Segala Kehidupan, Sumber Segala Cahaya, Limpahkan pada Budi Nurani kami Penerangan Sinar Cahaya-Mu Yang Maha Suci.

bedugul

Damai dan hening, bebas dari hiruk pikuk polusi duniawi saat meditasi di Pulau Dewata kali ini. Perjalanan melintasi lautan yang membiru, yang kadang tenang membisu kadang pula berdebur sangar memekik garang menghempaskan karang-karang ego sampai luluh dalam tangis penuh kesadaran: Betapa kecilnya kita di tengah alam dan sesama ciptaan Sang Hyang Widi.

Betapa rindu kita akan belai kasih mesra Tuhan. Betapa banyak kasih-Nya yang terlewatkan sia-sia dalam pergumulan hidup kita sehari-hari, sebanyak riak gelombang yang tiada pernah berhenti detik demi detik, dalam ada maupun ketiadaan yang kita alami. Terus mengalir dalam irama pandangan maupun di luar pandangan kita.

Berhentilah sesaat di pura. Pura adalah penanda arah para perjalan spiritual. Terletak di hampir semua pelosok pulau yang dipangku alam yang hijau asri dalam masa penghujan, dan kering menyengat di musim kemarau. Namun demikian, tidaklah sedemikian terasa bedanya dalam naungan kesejukan yang kita rasakan dalam pelukan wibawa dari waktu ke waktu.

Bersujudlah memuja Sang Hyang Widi dan mintalah ampunan. Dia akan memberi petunjuk nyata berupa cermin hidup: tentang kegalauan ambisi, nafsu, emosi, dan hiruk-pikuknya keinginan hidup kita. Perhatikan tingkah yang diperagakan oleh monyet yang kita temui. Tepat seperti itulah ulah kita dalam pandangan Yang Maha Penimbang. Semakin banyak tingkah monyet yang menyesakkan dada, berarti semakin banyak pula yang harus kita sadari, dan kita benahi dalam hidup kita ini. Betapa marahnya murka Tuhan melihat ulah kita, seandainya beliau tidak lagi Maha Pengampun. Berserah dirilah ke hadapan Tuhan, hai manusia sombong!

Pohon-pohon yang rindang dengan akar-akar menjulur, burung-burung yang bersarang nyaman, klarap, bajing berloncatan, kera yang menyusui anaknya adalah fakta. Manusia yang masih percaya bahwa di sebuah pohon itu ada penunggu dan penjaga menjadi sebab kenapa di sana orang tidak gampang menebang dan memangkasnya. Setiap pojok ruang dan wilayah ada makhluk halus yang tidak perlu dimusuhi namun dijadikan teman akrab. Manusia tidak semena-mena melanggar karma, menginjak bumi dengan serakah akan menjadikan bumi tetap hijau dan hutan terjaga, menjadi paru-paru dunia. Seandainya Seluruh Indonesia seperti Bali, alangkah indahnya.

Benar, tidak seluruh petak di Bali ideal. Ada banyak titik yang kini sudah tidak lagi memegang prinsip-prinsip yin-yang tersebut. Meskipun masih ditutupi oleh kain hitam dan putih, namun aroma komersialisasi dan kapitalisasi budaya, adat dan eksotisme alamnya, gaya hidup hedonistik yang serta materialistik tidak terelakkan. Kehadiran mall, ruang-ruang wisata yang tidak berakar dari jati diri Bali akan mengganggu harmoni alam bali yang religius dan magis. Bali, oleh karenanya harus berjuang agar bisa mengembalikan ruh leluhur serta nenek moyang aslinya.

Kenapa manusia Bali bisa harmoni dengan alam, sementara di belahan tanah perdikan nusantara yang lain tidak? Marilah kita berkontemplasi sejenak. Inilah manusia yang sentral sebab sumber kerusakan alam. Manusia yang memahami, menghayati, meresapi dan melaksanakan ajaran Sangkan Paran pasti menjadi sumber kemakmuran. Bukan sebaliknya, menjadi sumber bencana.

Manusia Bali percaya bahwa ada tiga keyakinan yang perlu dihayati untuk mencapai tujuan hidup yang disebut JAGADHITA dan MOKSA. Tiga keyakinan tersebut adalah: TATTWA (FILSAFAT), SUSILA (ETIKA), dan UPACARA-YADNYA

Tattwa bermula dari pencarian kebenaran yang hakiki perjalanan hidup manusia. Tattwa diserap sepenuhnya oleh pikiran manusia melalui beberapa cara dan pendekatan yang disebut PRAMANA. Ada tiga cara pokok yang disebut TRI PRAMANA. Tri Pramana ini, menyebabkan akal budi dan pengertian manusia dapat menerima kebenaran hakiki sehingga berkembang menjadi keyakinan dan kepercayaan baik nyata maupun abstrak yang meliputi:

AGAMA PRAMANA adalah suatu ukuran atau cara yang dipakai untuk mengetahui dan meyakini sesuatu dengan mempercayai ucapan-ucapan kitab suci, karena sering mendengar petuah- petuah dan ceritera para guru, Resi atau orang- orang suci lainnya.

Ceritera- ceritera itu dipercayai dan diyakini karena kesucian batin dan keluhuran budi dari para Maha Resi itu. Apa yang diucapkan atau diceriterakannya menjadi pengetahuan bagi pendengarnya. Misalnya: Guru ilmu pengetahuan alam berceritera bahwa di angkasa luar banyak planet- planet, sebagaimana juga bumi berbentuk bulat dan berputar. Setiap murid percaya kepada apa yang diceriterakan gurunya, oleh karena itu tentang planet dan bumi bulat serta berputar menjadi pengetahuan yang diyakini kebenarannya, walaupun murid- murid tidak pernah membuktikannya.

Demikianlah manusia Bali meyakini Sang Hyang Widhi Wasa berdasarkan kepercayaan kepada ajaran Weda, melalui penjelasan- penjelasan dari para Maha Resi atau guru- guru agama, karena sebagai kitab suci manusia Bali memang mengajarkan tentang Tuhan itu demikian.

ANUMANA PRAMANA
Anumana Pramana adalah cara atau ukuran untuk mengetahui dan meyakini sesuatu dengan menggunakan perhitungan logis berdasarkan tanda- tanda atau gejala- gejala yang dapat diamati. Dari tanda- tanda atau gejala- gejala itu ditarik suatu kesimpulan tentang obyek yang diamati tadi. Cara menarik kesimpulan adalah dengan dalil sebagai berikut: YATRA YATRA DHUMAH, TATRA TATRA WAHNIH: Di mana ada asap di sana pasti ada api.

Contoh lain: Apabila kita memperhatikan sistem tata surya yang harmonis, di mana bumi yang berputar pada sumbunya mengedari matahari, begitu pula bulan beredar mengelilingi matahari pada garis edarnya, tidak pernah bertabrakan, begitu teratur abadi. Kita lalu menjadi kagum dan berpikir bahwa keteraturan itu tentu ada yang mengatur, the force of nature yaitu Sang Hyang Widhi Wasa.

PRATYAKSA PRAMANA
Pratyaksa Pramana adalah cara untuk mengetahui dan meyakini sesuatu dengan cara mengamati langsung terhadap sesuatu obyek, sehingga tidak ada yang perlu diragukan tentang sesuatu itu selain hanya harus meyakini. Misalnya menyaksikan atau melihat dengan mata kepala sendiri, kita jadi tahu dan yakin terhadap suatu benda atau kejadian yang kita amati. Untuk dapat mengetahui serta merasakan adanya Sang Hyang Widhi Wasa dengan pengamatan langsung haruslah didasarkan atas kesucian batin yang tinggi dan kepekaan intuisi yang mekar dengan pelaksanaan yoga samadhi yang sempurna.

Pandangan hidup masyarakat Bali mendidik umatnya untuk yakin akan adanya kemahaagungan Sang Hyang Widhi Wasa. Tuhan merupakan sumber segala yang ada di alam ini baik yang tampak nyata maupun yang abstrak (sekala – niskala). Tuhan berada di mana-mana dan mengatasi segala keadaan, ada tanpa diadakan atau ada karena mengadakan dirinya sendiri (Wibhu Sakti), Maha Pencipta (Krya Sakti), dan maha mengetahui segala- galanya (Jnana Sakti). Brahman adalah Maha Esa, oleh karena itu manusia Bali berkeyakinan Monotheisme.

Dalam menguasai alam semesta Tuhan Yang Maha Esa dikenal dalam berbagai manifestasi sesuai fungsi dan kemahakuasaan- Nya yang disebut DEWA. Dewa berasal dari kata Sanskerta DIW yang artinya Sinar). Di dalam Reg Weda termaktub sbb: EKAM SAT WIPRA BAHUDA WADANTI, AGNIM YAMAM MATARISWANAM yang artinya Tuhan itu hanya satu adanya, namun disebut para Resi dengan berbagai nama seperti: AGNI, YAMA, MATARISWAN.

Di dalam Upanishad disebutkan EKAM EWA ADWITYAM BRAHMAN Tuhan itu hanya satu tidak ada duanya. Narayana Upanishad. NARAYANAD NA DWITYO ‘ASTI KASCIT. Narayana tidak ada dua- Nya yang hamba hormati.

Banyak gelar yang biasa dipakai manusia Bali kepada Tuhan Yang Maha Esa, misalnya: SANG HYANG PARAMESWARA (RAJA TERMULIA), PARAMA WISESA (MAHA KUASA), JAGAD KARANA (PENCIPTA ALAM) dan lain- lainnya. SEBAGAI PENCIPTA Ia bergelar BRAHMA, sebagai PEMELIHARA dan PELINDUNG disebut WISNU dan dalam fungsi atau kekuasaan- Nya MENGEMBALIKAN SEGALA ISI ALAM INI KEPADA SUMBER ASALNYA (PRALINA) Ia bergelar SIWA.

Dalam ketiga perwujudan inilah TUHAN YANG SATU disebut TRI MURTI.

SIFAT – SIFAT TUHAN
sifat- sifat Tuhan disebut Asta Sakti atau Astaiswarya yang artinya delapan sifat kemahakuasaan Tuhan.
1. HANA ANIMA NGARANYA/ Kesaktian Tuhan yang disebut Anima. “Anu” yang berarti “atom”. Anima dari Astaiswarya, ialah sifat yang halus bagaikan kehalusan atom yang dimiliki oleh Sang Hyang Widhi Wasa.
2. HANA LAGHIMA NGARANYA/Kesaktian Tuhan yang disebut Laghima. Laghima berasal dari kata “Laghu” yang artinya ringan. Laghima berarti sifat- Nya yang amat ringan lebih ringan dari ether.
3. HANA MAHIMA NGARANYA/Kesaktian Tuhan yang disebut Mahima. Mahima berasal dari kata “Maha” yang berarti Maha Besar, di sini berarti Sang Hyang Widhi Wasa meliputi semua tempat. Tidak ada tempat yang kosong (hampa) bagi- Nya, semua ruang angkasa dipenuhi.
4. HANA PRAPTI NGARANYA/Kesaktian Tuhan yang disebut Prapti. Prapti berasal dari “Prapta” yang artinya tercapai. Prapti berarti segala tempat tercapai oleh- Nya, ke mana Ia hendak pergi di sana Ia telah ada.
5. HANA PRAKAMYA NGARANYA/Kesaktian Tuhan yang disebut Prakamya/ Prakamya berasal dari kata “Pra Kama” berarti segala kehendak- Nya selalu terlaksana atau terjadi.
6. HANA ISITWA NGARANYA/Kesaktian Tuhan yang disebut Isitwa/ Isitwa berasal dari kata “Isa” yang berarti raja, Isitwa berarti merajai segala- galanya, dalam segala hal paling utama.
7. HANA WASITWA NGARANYA/Kesaktian Tuhan yang disebut Wasitwa. Wasitwa berasal dari kata “Wasa” yang berarti menguasai dan mengatasi. Wasitwa artinya paling berkuasa.
8. HANA YATRAKAMAWASAYITWA NGARANYA/ Kesaktian Tuhan yang disebut Yatrakamawasayitwa Yatrakamawasayitwa berarti tidak ada yang dapat menentang kehendak dan kodrat- Nya.

Kedelapan sifat keagungan Sang Hyang Widhi Wasa ini, disimbulkan dengan singgasana teratai (padmasana) yang berdaun bunga delapan helai (astadala). Singgasana teratai adalah lambang kemahakuasaan- Nya dan daun bunga teratai sejumlah delapan helai itu adalah lambang delapan sifat agung/ kemahakuasaan (Astaiswarya) yang menguasai dan mengatur alam semesta dan makhluk semua.

ATMAN
ATMAN adalah merupakan percikan- percikan kecil (halus) dari BRAHMAN/ Sang Hyang Widhi Wasa yang berada di dalam setiap makhluk hidup. Atman di dalam badan manusia disebut: JIWATMAN yaitu yang menghidupkan manusia. Hubungan atman dengan badan ini ibarat bola lampu dengan listrik. Bola lampu tidak akan menyala tanpa listrik, demikian pula badan jasmani takkan hidup tanpa atman.

ATMAN itu menghidupkan sarwa prani (makhluk di alam semesta ini). Indra manusia tak dapat bekerja bila tak ada atman. Misalnya telinga tak dapat mendengar bila tak ada atman, mata tak dapat melihat bila tak ada atman, kulit tak dapat merasakan bila tak ada atman. Atman itu berasal dari Sang Hyang Widhi Wasa, bagaikan matahari dengan sinarnya. Sang Hyang Widhi Wasa sebagai matahari dan atma- atma sebagai sinar- Nya yang terpencar memasuki dalam hidup semua makhluk.

Di dalam kitab Bhagavad-Gita terdapat penjelasan tentang sifat- sifat atma. Secara singkat sifat- sifat atma itu sebagai berikut:

Achedya=tak terlukai oleh senjata
Adahya=tak terbakar oleh api
Akledya=tak terkeringkan oleh angin
Acesyah=tak terbasahkan oleh air
Nitya=abadi
Sarwagatah=di mana- mana ada
Sthanu=tak berpindah- pindah
Acala= tak bergerak
Sanatana=selalu sama
Awyakta=tak dilahirkan
Acintya=tak terpikirkan
Awikara=tak berubah dan sempurna tidak laki- laki ataupun perempuan.

Atma itu mengatasi segala elemen materi, kekal abadi, dan tidak terpikirkan. Oleh karenanya atma itu tidak dapat menjadi subyek maupun obyek dan tindakan atau pekerjaan. Dengan perkataan lain atma itu tidak terkena oleh akibat perubahan- perubahan yang dialami pikiran, hidup, dan badan jasmani. Semua bentuk ini bisa berubah, datang, dan pergi, tetapi atma itu tetap langgeng untuk selamanya.

KARMAPHALA
Karmaphala terdiri dari dua kata yaitu KARMA dan PHALA, berasal dari bahasa Sanskerta. “Karma” artinya perbuatan dan “Phala” artinya buah, hasil, atau pahala. Jadi Karmaphala artinya hasil dari perbuatan seseorang.

Kita percaya bahwa perbuatan yang baik (subha karma) membawa hasil yang baik dan perbuatan yang buruk (asubha karma) membawa hasil yang buruk. Jadi seseorang yang berbuat baik pasti baik pula yang akan diterimanya, demikian pula sebaliknya yang berbuat buruk, buruk pula yang akan diterimanya. Karmaphala memberi keyakinan kepada kita untuk mengarahkan segala tingkah laku kita agar selalu berdasarkan etika dan cara yang baik guna mencapai cita- cita yang luhur dan selalu menghindari jalan dan tujuan yang buruk.

Phala dari karma itu ada tiga macam yaitu:
1. SANCITA KARMAPHALA/Phala dari perbuatan dalam kehidupan terdahulu yang belum habis dinikmati dan masih merupakan benih yang menentukan kehidupan kita sekarang.
2. PRARABDA KARMAPHALA/Phala dari perbuatan kita pada kehidupan ini tanpa ada sisanya lagi.
3. KRIYAMANA KARMAPHALA/Phala perbuatan yang tidak dapat dinikmati pada saat berbuat sehingga harus diterima pada kehidupan yang akan datang.

Dengan pengertian tiga macam Karmaphala itu maka jelaslah, cepat atau lambat, dalam kehidupan sekarang atau nanti, segala pahala dari perbuatan itu pasti diterima karena sudah merupakan hukum. Karmaphala mengantarkan roh (atma) masuk Surga atau masuk neraka. Bila dalam hidupnya selalu berkarma baik maka pahala yang didapat adalah Surga, sebaliknya bila hidupnya itu selalu berkarma buruk maka hukuman nerakalah yang diterimanya. Dalam pustaka- pustaka dan ceritera- ceritera keagamaan dijelaskan bahwa Surga artinya alam atas, alam suksma, alam kebahagiaan, alam yang serba indah dan serba mengenakkan. Neraka adalah alam hukuman, tempat roh atau atma mendapat siksaan sebagai hasil dan perbuatan buruk selama masa hidupnya. Selesai menikmati Surga atau neraka, roh atau atma akan mendapatkan kesempatan mengalami penjelmaan kembali sebagai karya penebusan dalam usaha menuju Moksa.

SURGA DAN NERAKA.
Segala baik buruk kegiatan (SUBHA KARMA ATAU ASUBHA KARMA) akan membawa akibat tidak saja di dalam hidup sekarang ini tetapi juga di akhirat (Surga dan neraka). Setelah ATMA (roh) dengan SUKSMA SARIRA (badan astral) terpisah dari STULA SARIRA (badan wadag) dan membawa akibat pula dalam penjelmaan yang akan datang (PUNARBHAWA), maka atma bersama dengan suksma sariranya bersenyawa lagi dengan stula sarira. Sang Hyang Widhi Wasa menghukumnya dengan hukum yang bersendikan Dharma. Dan Dia akan merahmati atma seseorang yang berjasa dan yang melakukan amal kebajikan yang suci (subha karma) dan Diapun akan mengampuni atma seseorang yang pernah berbuat dosa, bila ia tobat dan tawakal serta tidak akan melakukan dosa lagi.

Tuhan Yang Maha Tahu bergelar YAMADIPATI (PELINDUNG AGUNG HUKUM KEADILAN) yang selalu menjatuhi hukuman kepada atma yang tiada henti- hentinya melakukan kejahatan atau dosa dan memasukkannya ke dalam neraka. Di sini atma itu menerima hasil perbuatannya berupa neraka. Adapun penjelmaan atma semacam ini adalah sangat nista dan derajatnya pun semakin merosot, jika ia selalu berbuat jahat.

PUNARBHAWA / SAMSARA
Kata punarbhawa terdiri dari dua kata Sanskerta yaitu punar (lagi) dan bhawa (menjelma). Jadi Punarbhawa ialah keyakinan terhadap kelahiran yang berulang-ulang yang disebut juga penitisan atau samsara. Dalam Pustaka suci Weda tersebut dinyatakan bahwa penjelmaan jiwatman berulang- ulang di dunia ini atau di dunia yang lebih tinggi disebut samsara. Kelahirannya yang berulang- ulang ini membawa akibat suka dan duka. Punarbhawa atau samsara terjadi oleh karena jiwatman masih dipengaruhi oleh WISAYA dan AWIDYA sehingga kematiannya akan diikuti oleh kelahiran kembali.

Dalam Bhagavad-Gita Sang Krisna berkata: Wahai Arjuna, kamu dan Aku telah lahir berulang- ulang sebelum ini, hanya Aku yang tahu sedangkan kamu tidak, kelahiran sudah tentu akan diikuti oleh kematian dan kematian akan diikuti oleh kelahiran. Segala perbuatan ini menyebabkan adanya bekas (wasana) pada jiwatma. Bekas- bekas perbuatan (karma wasana) itu ada bermacam- macam, jika yang melekat bekas- bekas keduniawian maka jiwatman akan lebih cenderung dan gampang ditarik oleh hal- hal keduniawian sehingga jiwatman itu lahir kembali.

MOKSA
Tujuan hidup manusia Bali, ialah mendapatkan kebahagiaan lahir dan batin (moksartham jagadhita). KEBAHAGIAAN BATIN YANG TERTINGGI IALAH BERSATUNYA ATMAN DENGAN BRAHMAN YANG DISEBUT MOKSA. Moksa atau mukti atau nirwana berarti kebebasan, kemerdekaan atau terlepas dari ikatan karma, kelahiran, kematian, dan belenggu maya/ penderitaan hidup keduniawian. Moksa adalah tujuan terakhir bagi manusia Bali.

Dengan menghayati dan mengamalkan ajaran hidup dalam kehidupan sehari- hari secara baik dan benar, misalnya dengan menjalankan sembahyang batin dengan menetapkan CIPTA (DHARANA), memusatkan CIPTA (DHYANA) dan mengheningkan CIPTA (SEMADHI), manusia berangsur- angsur akan dapat mencapai tujuan hidupnya yang tertinggi ialah bebas dari segala ikatan keduniawian, untuk mencapai bersatunya Atman dengan Brahman.

Kebebasan yang sulit dicapai bila banyak makhluk akan lahir dan mati serta hidup kembali tanpa kemauannya sendiri. Akan tetapi masih ada satu yang tak tampak dan kekal, tiada binasa dikala semua makhluk binasa. Nah, yang tak tampak dan kekal itulah harus menjadi tujuan utama supaya tidak lagi mengalami penjelmaan ke dunia, tetapi mencapai tempat Brahman yang tertinggi.

Jika kita selalu ingat kepada Brahman, berbuat demi Brahman maka tak usah disangsikan lagi kita akan kembali kepada Brahman. Untuk mencapai ini orang harus selalu berusaha, berbuat baik sesuai dengan pandangan hidupnya yang menjelaskan bagaimana caranya orang melaksanakan pelepasan dirinya dari ikatan maya agar akhirnya Atman dapat bersatu dengan Brahman. Penderitaan dapat dihilangkan dan dunia ini tidak dianggap sebagai hukuman, tetapi sebaliknya sebagai penolong sesama manusia sebagai AWATARA atau AVATAR.

OM SANTI, SANTI, SANTI OM
Semoga damai dihati, damai didunia, damai selalu.

wong alus

Categories: MOKSA | Tags: , , , | 17 Komentar

HAKIKAT SUWUNG


Suatu ketika, saya ingin membuat blog yang isinya tentang puncak-puncak pengetahuan metafisis tertinggi, ilmu-ilmu ketuhanan yang abstrak hasil kontemplasi (perenungan) dan juga hasil meditasi. Blog pun sudah jadi yaitu www.suwung.wordpress.com. Namun, anehnya untuk mengisi blog tersebut, jari tangan ini sangat berat untuk digerakkan. Otak pun terasa malas berpikir. Sampai akhirnya, saya memutuskan untuk menutup saja domain blog tersebut karena hingga akhir hidupnya, blog itu tidak ada isinya sama sekali alias benar-benar SUWUNG.

96714main_DiskPreBurst_lg_web

Hingga suatu ketika, ada salah seorang pengunjung blog wongalus, Ibu/Mbak Annie Soebardjo meminta untuk menulis tentang wacana SUWUNG ini. Saya pun menduga, pasti apa yang dialami oleh Ibu Annie sangat luar biasa sehingga memerlukan sebuah penjelasan yang gamblang. Sebab kondisi SUWUNG susah diungkapkan dengan kalimat-kalimat sederhana.

Biasanya banyak para ahli hidup yang sudah sampai ke tahap SUWUNG ini hanya menuliskan puncak pengalaman mistis spiritual ini dalam bentuk puisi. Kalau disampaikan dalam kalimat-kalimat, sebagaimana yang saya sampaikan kali ini pasti akan mengelami reduksi makna. Padahal, SUWUNG tidak bisa dibahasakan secara sederhana dalam beberapa larik kalimat. Tapi, apakah SUWUNG itu dengan begitu tidak bisa dikomunikasikan?

Hampir semua wacana tentang dunia mistik termasuk sulit dicerna. Kadar keilmiahannya pun terkadang terabaikan lantaran sudah berada ditaraf yang lebih tinggi daripada akal. MISTIK dalam pengertian ini bermakna sebuah perjalanan ruhaniah untuk menggapai kebenaran final total dan eternal. Itu sebabnya, pengalaman mistik seseorang yang sampai menerobos kebenaran mutlak hampir pasti akan melewati tahapan syariat, hukum atau aturan-aturan agama manapun. Para pejalan ruhani akan bertemu dalam satu titik meskipun di awal-awal perjalanan mereka menggunakan “jubah” Islam, Kristen, Protestan, Budha, Hindu, Kong Hu Cu, Taosime, kepercayaan lain-lain.

Mereka yang berjalan terus dalam perjalanan ruhani akan mengalami hal-hal yang mistis dan tidak terduga. Pasti masing-masing orang akan berbeda pengalaman mistisnya sesuai dengan sosio kultural tempat dia mengolah hidup. Pengalaman mistis Jalaluddin Rumi akan berbeda dengan Ronggowarsito, akan berbeda pula pengalaman mistis Al Ghazali dengan Paus Yohanes Paulus. Itu sudah menjadi hukum sejarah kemanusiaan, bahwa setiap manusia ditakdirkan untuk unik, eksistensial dan pasti tidak sama antara satu dengan yang lain.

Salah satu karya mistis yang sangat populer dalam budaya Jawa adalah SERAT DEWA RUCI. Di serat itu, kita bisa menemukan sebuah proses perjalanan ruhani setinggi-tingginya. Pertemuan EKSISTENSI dengan ESENSI, yang juga dikenal sebagai NGLURUH SARIRA atau RACUT, yaitu MENCAIR dan MELAUT.

Transformasi BIMA ke BIMA SUCI , atau pertemuan BIMA dengan jati dirinya (DEWA RUCI), dalam khasanah agama hal ini sama dengan pertemuan MUSA A.S dengan KHIDIR A.S. Hasilnya adalah KESADARAN KOSMIS, KESATUAN LAHIR-BATIN, AWAL-AKHIR.

Tokoh yang menurut saya berhasil membuat anyaman mistik luar biasa di dalam sejarah Jawa adalah Panembahan Senopati. Dia adalah personifikasi tahapan pemahaman tertinggi yaitu MANGGALIH artinya mengenai SOAL-SOAL ESENSIAL, setelah MANAH artinya membidik anak panah mengenai soal-soal problematis di Jantung Kehidupan, Pusat Lingkaran yang dikenal sebagai JANGKA.

Tingkat ini dipersonifikasikan oleh KI AGENG PEMANAHAN. Adapun tingkat sebelumnya mengenai JANGKAH yang masih di aras NALAR dipersonifikasikan dengan KI AGENG GIRING.

Panembahan Senopati adalah pakarnya SUWUNG, setelah mampu mengolah ILMU-ILMU KETUHANAN sedemikian hingga dia mampu MENCAIRKAN DIRINYA DALAM SUWUNG YANG SEJATI. Jimat andalan Panembahan Senopati adalah ILMU MELAUT KE LAUTAN ILMUNYA YANG TIADA BERHINGGA.

Saben mendra saking wisma,
Lelana laladan sepi,
Ngisep sepuhing sopana,
Mrih pana pranaweng kapti

Setiap kali keluar rumah
wisata ke wilayah sunyi sepi (SUWUNG)
menghirup nafas kerokhanian
agar arif kebulatan awal akhir

Bagaimana kita menjelenterehkan makna SUWUNG? Jelaslah yang dimaksud dengan KELUAR RUMAH di situ adalah OUT OF BODY: Keluar dari wilayah jasmani, masuk ke alam misal, menggapai sadar ruhani—SESUNGGUHNYA HANYA RUH- MANUSIALAH YANG MEMAHAMI RUH-NYA.

Nah, inilah sebabnya kenapa akal kita tidak mampu untuk menjangkau apalagi menceriterakan pesona SUWUNG yang memang sangat luar biasa. Begitu luar biasanya sehingga akal kita tidak akan mampu menuliskannya. Hal ini sepadan dengan apa yang dipikirkan oleh MUSA saat melihat pertanda TAJALLI ILAHI di Bukit Sinai? MUSA jatuh tersungkur tidak sadarkan diri. Itulah momentum EKSTASE seorang hamba Tuhan dalam mengarungi pengalaman spiritual.

SUWUNG adalah sebuah pengalaman mistis, spiritual yang berada pada puncak intuisi yang efektif dan transendental. Ini hanya bisa dialami apabila seseorang itu menggeser SEMESTA KESADARANNYA DARI YANG INDERAWI MENUJU KE ATASNYA. Dalam SUWUNG itulah, dunia inderawi ditinggalkan dan digantikan oleh SEMESTA yang lain, sehingga SAMPAI PADA SATU TITIK KESEIMBANGAN SEMUA DIMENSI DI JAGAD RAYA.

Fariuddin at Tar, sufi agung, menjelaskan tahapan agar sampai di SUWUNG tadi dalam tujuh lembah yaitu: LEMBAH PENCARIAN, LEMBAH CINTA, LEMBAH KEINSYAFAN, LEMBAH PEMEBEBASAN, LEMBAH EKSTASE, LEMBAH TAKJUB dan terakhir LEMBAH FANA FI ILAH.

LEMBAH PENCARIAN adalah saat seseoran mencari unsur-unsur ketuhanan dalam dirinnya, gelombang getar khusus akhirnya ditemukan dan dia pun mengaku sebagai HAMBA TUHAN/KAWULA GUSTI. LEMBAH CINTA yaitu Yang Dicari sudah ketemu dan bersenyawa diri dengan SANG KEKASIH sehingga dia masuk ke LEMBAH KEINSYAFAN. Berikutnya adalah LEMBAH PEMBEBASAN yaitu berada di “TANAH SUCI” dan sudah tanpa diri yang beralaskan kaki apapun. Berikutnya adalah EKSTASE atau JATUH TERSUNGKUR, SUJUD PENUH SYUKUR. Lembah berikutnya adalah LEMBAH KETAKJUBAN yaitu kemana pun wajah kita tertuju, di sana yang tampak dalah WAJAH-NYA. Akhirnya orang pun akan sampai ke LEMBAH TERAKHIR yaitu FANA FI IL-LAH.

Demikian tentang SUWUNG. Keterbatasan akal saya yang membuat penjelasan di sini begitu sederhana. Salam Suwung.

Wong Alus.

Categories: SUWUNG | Tags: , , | 45 Komentar

JAUHI SIHIR DAN SANTET!


Pengetahuan yang baik dan benar apalagi disertai dengan kebijaksanaan akan memancarkan kedamaian dan mendatangkan manfaat. Sebaliknya, mempraktekkan pengetahuan yang diperoleh secara sepotong-sepotong apalagi dilakukan ceroboh dan tidak disinari dengan cahaya kebijaksanaan pasti akan menjerumuskan diri sendiri, dan bisa jadi melukai orang lain.

DSCN7391

Pernyataan di atas terasa penting karena pada kesempatan kali ini akan dibahas tentang praktek SIHIR atau tenung. Kita akan memaparkan sesuatu yang berbahaya agar pengetahuan kita tidak sepotong-sepotong yang justeru membuat penasaran dan malah mempraktikkannya. Padahal kita tahu, mempraktikkan SIHIR ada resiko yang sangat berat. Selain siksa di neraka, juga siksa di dunia akibat bermain-main dengan makhluk jahat.

Praktek SIHIR sudah dikenal luas oleh masyarakat dan peradaban manapun di dunia. Sejarah praktek SIHIR yang paling terkenal konon telah dikenal sejak era Nabi Musa empat ribu tahun sebelum Masehi, bahkan saat Nabi Sulaiman. Di era Musa A.S., SIHIR menjadi bagian tidak terpisahkan dari kekuasaan. Untuk menguatkan legitimasinya di masyarakat Mesir, Fir’aun yang mengaku Raja di Raja di Bumi ini memiliki komunitas ahli SIHIR.

Konon, sebelumnya ilmu SIHIR juga telah dipraktekkan semasa Nabi Sulaiman. Setidaknya ada dua ayat di kitab suci yang menguas tentang bagaimana kesaktian IFRIT, jin yang mampu untuk memindahkan istana dalam waktu sangat cepat sehingga Ratu Balqis mengakui kehebatan Sulaiman (King Solomon). Sebagaimana yang tertera dalam kitab Suci: “Berkata IFRIT (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu (Sulaiman) dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya” (QS An Naml 39).

Namun tawaran IFRIT ini ditandingi oleh seseorang yang lebih tinggi kesaktiannya yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. (QSAn Naml 40)

IFRIT adalah jenis jin yang memiliki kesaktian tinggi, suka menggoda dan jahil. Bahkan seorang nabi terakhir pun, Muhammad Rasulullah SAW pernah diganggu jin ini. Sebagaimana sabdanya: “Kemarin jin IFRIT menggoda dalam salatku supaya aku lalai. Akan tetapi Allah berkenan membantuku berlindung darinya sehingga aku dapat mencekiknya. Aku ingin mengikatnya di sebuah dinding mesjid hingga kalian dapat melihatnya, kemudian aku ingat doa saudaraku, nabi Sulaiman as.: Tuhanku, ampunilah aku. Berikanlah aku suatu kekuasaan yang tidak layak bagi seorang pun sesudahku. Sehingga Allah mengusirnya dalam keadaan rugi.” (Shahih Muslim No.842)

Bagaimana asal muasal SIHIR dalam peradaban dunia? Marilah kita telusuri dalam Kitab Suci. Dalam Surat Al Baqarah ayat 102, telah tertera di sana: ….”Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan SIHIR), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan SIHIR), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan SIHIR).

Mereka mengajarkan SIHIR kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu HARUT DAN MARUT, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”.

MAKA MEREKA MEMPELAJARI DARI KEDUA MALAIKAT ITU APA YANG DENGAN SIHIR ITU, MEREKA DAPAT MENCERAIKAN ANTARA SEORANG (SUAMI) DENGAN ISTRINYA. Dan mereka itu (ahli SIHIR) tidak memberi mudarat dengan SIHIRnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudarat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan SIHIR itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan SIHIR, kalau mereka mengetahui.

Jelaslah awal muasalnya, bahwa ada sekelompok manusia yang mempelajari SIHIR dari kedua malaikat di negeri Babil yaitu HARUT DAN MARUT. Padahal, dua malaikat ini memiliki SIHIR untuk tujuan baik yang disertai dengan kebijaksanaan.

Sekarang bagaimana praktek SIHIR dalam peradaban modern? Tidak bisa dipungkiri bahwa sekarang masih banyak kaum yang memiliki, menyimpan dan mempraktekkan SIHIR untuk berbagai keperluan. SIHIR memiliki banyak bentuk variasi dan nama. Jenis yang paling ganas ada tiga yaitu TENUNG, JENGGES dan SANTET.

Untuk melakukan SIHIR tenung, seorang dukun sebelumnya harus melakukan sebuah RITUAL yang merupakan slametan bohong-bohongan. Dukun duduk mengucapkan matra di tengah sajen-sajen yang membentuk setengah lingkaran. Sajen ini untuk makanan makhluk halus yang jahat—disertai permohonan untuk menghancurkan korban.

Sajen terdiri dari sebongkah kemenyan yang utuh dan candu, disertakan cermin (benda kesukaan makluk halus). Kalau orang bermaksud membunuh korban dan tidak sekedar membuatnya sakit, maka kemenyan itu diremukkan menjadi butiran-butiran kecil yang lalu dibungkus dengan kain mori putih, diikat di tiga tempat seolah-olah itu adalah mayat. Dukun membacakan doa-doa ritual yang biasanya dilakukan saat upacara pemakaman mayat.

Dalam JENGGES dan SANTET upacaya seperti itu dilakukan juga. Tetapi dalam upacara harus disertakan juga paku, rambut, pecahan kaca, kawat panjang, potongan-potongan besi, serta jarum di tengah sajen tadi. Dukum mengucapkan mantra dan memusatkan perhatian pada maksud jahatnya. Membujuk makhluk halus agar memasukkan benda-benda berbahaya itu ke perut korban. Korban maupun orang sekeliling korban akan menengar suara letusan mendadak dan kemudian si korban jatuh sakit parah.

Namun, spesifik untuk SANTET dukun itu sendiri yang harus mendatangi korban secara sembunyi-sembunyi dan melakukan praktek dengan meraba biji-bijian di tangannya sambil berkali kali membaca mantra dalam hati tanpa bersuara. Si Korban akan terkena sakit yang tidak bisa diobati.

TENUNG, JENGGES dan SANTET intinya adalah mengubah energi menjadi benda serta benda menjadi energi, energi inilah yang dipakai untuk melukai korban dengan keterlibatan makhluk halus.

Ada berbagai macam proses atau teknik untuk melancarkan tiga jenis SIHIR ini namun semuanya memilki tujuan yang sama yaitu membuat lawan takluk atau sakit. Seorang dukun pernah berceritera saat dia ingin menyantet korban: “Carilah photo, atau pakaian bekas korban, atau pernah dipakainya. Buat upacara slametan untuk makhluk halus dengan meletakkan foto dan pakaian itu. Upacara dilakukan pada malam hari……. tepat di hari weton korban. Janga lupa bakarlah kemenyan agar para mahluk jahat datang membantu, setelah itu bacalah mantra santet dan setelah selesai tulisilah rajah gaib di photo atau pakain korban dengan darah ayam dan bakarlah ke api.

Sambil membakar sampaikan keinginan kepada mahluk halus. Apabila makhluk halus mau membantu maka dalam beberapa hari akan kelihatan hasilnya, korban akan jatuh sakit, atau apabila guna-guna pelet agar di cintai maka sasaran akan takluk dan tergila-gila.

Pada saat itu juga dicurahkan kekuatan batin dengan kekuatan VISUALISASI (pembayangan) yang kuat dari pelaku. Misalnya santet dengan menggunakan media bambu apus yang ketika hendak digunakan terlebih dahulu dibacakan mantera-mantera tertentu, setelah itu PELAKU SANTET MEMUSATKAN KONSENTRASI, VISUALISASI DAN BERNIAT MENYAKITI SI KORBAN.

Ada lagi jenis SANTET yang sangat dikenal di masyarakat sekitar Banyuwangi, Jawa Timur tepatnya di wilayah yang dihuni subkultur Osing. Yaitu santet jenis SABUK MANGIR DAN JARAN GOYANG. Kedua jenis santet ini yang paling disukai dan sering diinternalisasikan masyarakat suku ini dalam aktivitas sehari-hari.

Kedua jenis Santet ini, sama-sama memiliki daya kekuatan untuk mempengaruhi objek yang disantet, tetapi dalam proses dan hasil keduanya berbeda. SABUK MANGIR terkesan halus, pelan dan membutuhkan beberapa hari untuk menuai tujuan penyantet. Dari sifatnya yang lambat nan pasti itu, resiko terdeteksinya penyantet oleh keluarga korban Santet, lebih kecil dan memerlukan waktu yang cukup lama untuk membongkar sindikat intervensi terselubung tersebut.

Berbeda dengan JARAN GOYANG, hasil dan tujuan penyantet terhadap korban santet lebih cepat bereaksi tanpa membutuhkan waktu yang cukup lama hingga berhari-hari. Tetapi, jenis ini yang tergolong kasar, sehingga lebih besar kemungkinan penyantet dapat segera terdeteksi. Pasalnya, selain para keluarga korban santet cenderung cepat menaruh kecurigaan terhadap tingkah laku korban yang tiba-tiba berubah dari kebiasaannya sehari-hari, korban penyantetan berkemauan kuat untuk segera mencari dan ingin bersanding selamanya dengan penyantet.

Apabila korban tidak sanggup mencari atau menemukan penyantet dirinya, korban akan selalu terlihat murung dan menyebut-nyebut nama penyantet, bahkan dalam kondisi yang paling parah korban tidak segan-segan mencari dan menanyakan nama penyantet diiringi pernyataan cinta, menyesal dengan suara-suara yang keras dan teriak-teriak.

Dari perbedaan efek yang ditimbulkan kedua jenis mantra SABUK MANGIR DAN JARAN GOYANG tersebut, dipengaruhi oleh potensi kekuatan magi yang berbeda-beda pula. Magi adalah sesuatu yang diyakini dapat menimbulkan kekuatan gaib dan dapat menguasai alam sekitar, termasuk alam pikiran dan tingkah laku manusia.

Yang perlu diketahui dalam khasanah SIHIR ini adalah soal MANTRA. Mantra sesungguhnya adalah untaian doa yang ditujukan kepada Tuhan Semesta Alam. Namun dalam praktik dunia hitam, kata ini mengalami penyempitan makna menjadi : “perkataan atau ucapan yang dapat mendatangkan daya ghaib, atau susunan kata berunsurkan puisi yang dianggap mengandung kekuatan ghaib yang biasanya diucapkan oleh dukun atau pawang.” Untuk mempraktekkan SIHIR, diperlukan mantra yang tepat sehingga mampu membujuk makhluk halus untuk bergotong royong membunuh atau menyakiti korban.

REFLEKSI
Ada beragam saran untuk mengobati santet, yaitu pergi ke ahlinya (kyai, pendeta, paranormal, dukun, dll) bila kita belum mampu menyembuhkan sendiri. Banyak-banyaklah mengingat Tuhan dalam waktu apapun baik saat posisi duduk, berdiri maupun berbaring. Hanya Tuhan sumber segala sumber kekuatan. Bukankah setiap saat kita memang diwajibkan untuk memohon pertolonganNya dalam segala situasi?

Bagi yang sudah mampu untuk menyembuhkan diri atau menolak santet dengan kekuatan spiritual sendiri diperlukan sifat andap asor dan OJO DUMEH, kita perlu menetapkan kesabaran dan tidak perlu untuk membalas perlakuan yang sama. Sebab membalas dendam adalah LOGIKA SETAN. Ini yang membedakan kita dengan makhluk jahat yaitu memiliki KESADARAN, AKAL BUDI DAN KEBIJAKSANAAN.

Niat jahat apalagi bila disertai dengan perilaku jahat hasilnya juga sebuah kejahatan. SIHIR dengan berbagai variannya sudah sejak lama berakar urat dalam peradaban manusia, tidak terkecuali Indonesia. Di satu sisi penggunaan SIHIR jenis santet, tenung, jengges adalah juga salah satu kekayaan tradisi spiritual di nusantara. Namun, apakah membunuh dan menyakiti korban dengan cara dari dunia hitam seperti ini dibenarkan? Kembali ke HATI NURANI MASING-MASING.

Dunia ini terlalu sempit dan buruk bila diisi dengan NAFSU, KESERAKAHAN, KEDURJANAAN, KEANGKARAMURKAAN. Dunia akan terasa luas indah bila kita semua hidup dengan SALING KASIH SAYANG, TOLONG MENOLONG dan TANPA PAMRIH.

Selain itu, ada pesan khusus bagi umat Muslim sebagaimana disabdakan Rasulullah saw dalam hadits: Jauhilah TUJUH HAL yang merusak. Yaitu: MENYEKUTUKAN ALLAH, SIHIR, MEMBUNUH MANUSIA, MAKAN HARTA ANAK YATIM, MAKAN RIBA, LARI DARI MEDAN PERTEMPURAN DAN MENUDUH BERZINA KAUM WANITA.

wong alus

Categories: santet | Tags: , , , , , , , , | 19 Komentar

SANTET POLITIK


DSC05038Dunia politik adalah dunia kepentingan. Siapa ingin mengalahkan siapa. Siapa ingin mengangkat dan menjatuhkan siapa. Saya ingin berkuasa dan mengalahkan pihak lain dengan berbagai cara. Fitnah dan menghembuskan isu negatif kepada pihak lawan menjadi sesuatu yang halal dan diperbolehkan. Intinya, TUJUAN MENANG itu menjadi TUHAN YANG HARUS DIUTAMAKAN, sementara CARA adalah STRATEGI APA SAJA YANG BISA DITEMPUH TANPA BOLEH MENYIMPANG DARI TUJUAN. POKOKNYA HARUS MENANG!!!

Itulah logika politik yang tanpa etika.

Beberapa saat yang lalu saat menjelang pemilihan legislatif, paranormal juga kebanjiran order dari para calon legislatif dan partai . Sayangnya tidak semua calon legislatif dan partai itu menang . Padahal, jutaan rupiah melayang ke tangan para paranormal tersebut. Ongkos mistik haruskah dibayar mahal?

Santet adalah cara yang biasa dilakukan oleh paranormal untuk melumpuhkan kekuatan. Tidak hanya kekuatan personal melainkan juga kekuatan sosial. Tidak percaya? Inilah yang terjadi di Kabupaten Sidoarjo. Sebuah partai politik yang sudah sekian lama mendominasi kota lumpur ini disantet. Entah apakah karena santet itu akhirnya partai politik tersebut kalah telak oleh partai lain. Ataukah sebaliknya, isu santet itu justeru dijadikan ajang untuk membunuh karakter partai yang menang.

Pada suatu pagi, seorang petugas keamanan di DPRD Kab Sidoarjo menemukan bungkusan santet yang isinya seonggok benda yang dibentuk sedemikian rupa seperti salib yang dibungkus dengan kain putih. Di dalamnya ada tulisan: Partai XXX

Dari kasus yang ditemukan ini, setidaknya kita bisa menggartisbawahi bahwa fenomena mistik masih berakar urat di dalam benak psikologi massa di Indonesia. Entah untuk tujuan apa…. Semoga kita tidak terbawa untuk mengartikan dan mengolah tata cara mistik dalam arti yang sempit dan kriminal untuk tujuan kepentingan jangka pendek.

Wong Alus

DSC05028

DSC05032

Categories: SANTET PARPOL | Tags: , , | 1 Komentar

PUISI KEMATIAN


images

IBU ITU

Seorang tetangga mati sore kemarin
Pagi tadi dikuburkan
Dia ibu beranak satu
Anaknya itu teman anakku

Ibu itu buruh pabrik PT MMUJ
dibunuh karena tidak mampu membayar hutang
Jumlahnya hanya 500 ribu

Dia tewas di tangan teman kerjanya:
–Dipukul besi, dimasukkan tong sampah
Di pabrik tempat kerjanya—
anaknya menangis,
bapaknya menangis

Akal sehat, kau nyungsep dimana?
Nurani, melenyap kemana kau?

Bumi, kekasihku..
Angkasa, sahabatku..
Angin, jiwaku
Duh Gusti, segalaku!

Perih rasaku, malam ini

Gebang, 17 Juni 2009

WONG ALUS

Categories: PUISI & PROSA | 15 Komentar

RAGAM JENIS PARANORMAL


Berdasarkan temuan ilmiah dibidang parapsikologi, ternyata gelombang-gelombang otak tertentu berperan melakukan berbagai kegiatan metafisis yang biasa dimiliki kaum paranormal. Jadi, sekarang untuk sakti tidak perlu puasa mutih, ngalong, ngrowot dan lain-lain. Ini jenis paranormal modern. Wah, dasar orang modern maunya yang serba instan dan serba malas berjuang!

psychic

Suatu ketika saya pergi ke seorang perempuan tua di pelosok Kabupaten Bantul dan mewawancarainya untuk Tabloid Mistik, media metafisika yang terbitan Jakarta sekitar tahun 1998. Perempuan yang dipanggil “Yu Yah” ini berprofesi sebagai paranormal.

Cara Yu Yah matek aji sangat sederhana; MEDITASI di dalam kamar sesaat dan membawa sedikit syarat seperti paku, uyah (garam) dan beberapa benda kecil lain. Benda ini diyakini Yu Yah mampu membawa kekuatannya dan diberikan ke pasien untuk berbagai keperluan.

Rata-rata kaum paranormal di negeri ini juga harus bermeditasi meskipun dengan BENTUK dan GAYA yang bermacam-macam. Ada yang sekedar ngobrol saja dengan pasien, ada yang harus trance dulu untuk berhubungan dengan roh makhluk halus, ada pula yang cukup dengan diam memejamkan mata dan menyuruh pasiennya pulang.

Berdasarkan gaya dan cara kaum paranormal melakukan semedi, menangani pasien, dan mengambil energi/kekuatan alam saya menggolongkan mereka menjadi dua jenis. Pertama, paranormal yang memakai bantuan makhluk halus, perewangan, khodam dll. Kedua, paranormal yang menggunakan murni energi alam yang sudah diolah sedemikian rupa dengan OLAH BATINNYA sehingga akhirnya bersenyawa kuat pada diri seorang paranormal.

Apapun energi yang diambil, seorang paranormal selalu menggunakan teknik meditasi. Yaitu menyesuaikan gelombang otaknya sehingga akan muncul intuisi tertentu untuk memasuki sebuah dimensi gaib.

Dari banyaknya kaum paranormal yang saya wawancarai umumnya memperoleh ilmu dengan berbagai macam cara yang tidak terduga. Ada yang datang begitu saja saat dia tertidur lalu tiba-tiba bermimpi didatangi leluhurnya dan mengirimkan benda tertentu untuk dipergunakan sebagai medium. Ada yang harus berpuasa dan berguru ke seseorang yang linuwih sehingga suatu ketika mendapatkan ilmu yang diharapkan (ini jumlahnya paling banyak) dan ada pula paranormal yang sejak lahir sudah dikaruniai bakat alam (jumlahnya paling sedikit).

Dan ini yang perlu diketahui, bahwa paranormal itu bukan manusia yang tahu segalanya. Paranormal juga manusia biasa seperti kita yang memiliki kelebihan di bidang tertentu saja. Bisa jadi di bidang lain dia tidak tahu apa-apa. Seperti kemampuan meramal, kemampuan menyembuhkan sakit, kemampuan melakukan santet, kemampuan melakukan pembersihan energi negatif di suatu tempat, kemampuan menyembuhkan orang pingsan, kemampuan untuk mengambil benda-benda bertuah, kemampuan mentransfer ilmu kebal, kemampuan untuk memanggil khodam dan lain-lain.

Maka, sangat berlebihan kiranya bila seorang paranormal mengaku menguasai segala jenis ilmu. Paranormal harusnya justeru perlu rendah hati dan tidak mengklaim dirinya paling sakti di alam semesta. Paranormal harusnya memegang KODE ETIK PARANORMAL yaitu ingin membantu mereka yang kesulitan dan membutuhkan bantuan dengan MEMPERCAYAI bahwa kekuatan yang dimilikinya berasal dari Tuhan Yang Maha Esa.

Sepengetahuan saya, paranormal yang sudah dikaruniai bakat alam sejak awal, biasanya memiliki kekuatan yang lebih kuat dari paranormal yang harus melalui proses belajar untuk memperoleh kesaktian. Namun ada juga yang sudah dari sononya memiliki bakat alam namun tidak malas terus mengasah dengan proses belajar dan laku prihatin. Untuk jenis paranormal terakhir ini, jumlahnya sedikit.

PARANORMAL MODERN MEMAKAI METODA ILMIAH

Lain dulu lain sekarang. Kini, perkembangan ilmu pengetahuan khususnya parapsikologi sampai para pertanyaan kenapa seseorang memiliki kemampuan linuwih yang membedakan dengan orang kebanyakan?

Berdasarkan temuan ilmiah dibidang parapsikologi, ternyata gelombang-gelombang otak tertentu berperan melakukan berbagai kegiatan metafisis yang biasa dimiliki kaum paranormal. Jadi, sekarang untuk sakti tidak perlu puasa mutih, ngalong, nrowot dan lain-lain. Ini jenis paranormal modern.

Dasarnya adalah bagaimana menstimulasi otak dengan gelombang suara yang unik. Sebagaimana yang pernah diungkap oleh lembaga sains dan penelitian tentang otak, suara memiliki pengaruh besar terhadap kinerja otak. Contohnya efek musik Klasik berbeda pengaruhnya ke tingkat keriangan seseorang dibanding musik Jazz. Berdasarkan pada konsep frekwensi suara inilah, para pakar menemukan alat stimulasi otak yang mampu menghasilkan frekwensi suara khusus. Alat itu dikenal dengan nama Binaural Beat Frequency.

Alat ini akan mengeluarkan suara dengan frekwensi tertentu yang dihasilkan melalui perhitungan matematika yang kompleks sehingga mampu menginterferensi dan menstimulasi gelombang otak untuk memasuki kondisi “trance” (frekwensi theta). Alat ini konon diklaim memiliki pengaruh yang kuat dalam menstimulasi gelombang otak manusia memasuki frekwensi tertentu, seperti alpha, theta & delta.

Entah apakah alat tersebut benar-benar hebat sehingga bisa segera mengantar penggunanya untuk mampu memunculkan energi tertentu yang tersimpan dari bawah sadar kita atau tidak jelas, masih perlu pembuktian. Saya sendiri belum pernah mencoba alat tersebut.

Namun teorinya, dengan menyelaraskan gelombang otak pada frekwensi tertentu maka kita mampu atau bisa memiliki kekuatan metafisika yang sangat berguna bagi kehidupan kita sehari-hari. Pendapat ini ditemukan sudah sejak tahun 1960 yang dilakukan oleh berbagai ilmuwan neurosains yang menyimpulkan bahwa frekwensi suara tertentu dapat menpengaruhi keadaan seseorang.

Seseorang yang gelombang otak pada frekwensi beta (12 – 25 cps) melakukan kegiatan berpikir, berinteraksi, dan menjalani kehidupan sehari. Gelombang otak pada frekwensi alfa (8 12 cps) menyadari keberadaan mimpi dan keadaan meditasi dalam karena gelombang alfa adalah jembatan penghubung antara pikiran sadar dan bawah sadar. Sedangkan gelombang otak pada frekwensi theta (4 – 8 cps) memasuki alam bawah sadar yang mengalami kondisi meditasi sangat mendalam.

Seseorang yang berprofesi sebagai paranormal dan penyembuh gelombang otaknya lebih banyak mengandung frekwensi delta (0,1 – 4 cps). Frekwensi delta bertindak sebagai “radar” yang mendasari kerja intuisi, empati dan tidakan yang bersifat instink sehingga membangkitkan energi tubuh (kundalini/cakra/aura/chi), mata bathin, terawangan, psikometri ESP (Extra Sensory Perception), telepathy, telekinetis, psychokinetis, lepas sukma, peningkat daya seksual, peningkat metabolisme tubuh dan bahkan membantu mencapai tingkat kesadaran dan kebijakan tertinggi.

HIPNOSIS

Satu lagi kemampuan yang kerap dihubung-hubungkan dengan paranormal adalah kemampuan hipnosis. Konsep hipnosis telah ada sejak awal peradaban manusia, hipnosis selalu dihubungkan dengan berbagai ritual keagamaan dan kepercayaaan, kekuatan magis dan supranatural.

Hipnosis secara konvensional adalah salah satu kondisi kesadaran (state of consciousness), dimana dalam kondisi ini manusia lebih mudah menerima saran (informasi). Konsep hipnosis terus berkembang seiring dengan perkembangan jaman. Hipnosis secara modern adalah teknik untuk membypass atau mempekecil ’critical factor’ dari conscious, sehingga RAS (Reticular Activating System) terbuka, dan informasi dapat memasuki sub-conscious.

Sinyal beta merupakan sinyal paling dominan di antara sinyal yang tertangkap Elektro Encepalograph –sebuah alat pendeteksi gelombang otak—sehingga ini menjelaskan bahwa pada saat kondisi hipnosis 1 dan hipnosis 2, pikiran tetap terjaga atau sadar. Sinyal alpha meningkat pada kondisi hipnosis 1 dimana pikiran akan terasa rileks dan santai namun terfokus, Sinyal theta meningkat pada kondisi hipnosis 2 setelah pikiran dibimbing untuk berimajinasi melakukan suatu kegiatan atau berada di suatu tempat yang mudah dirasakan oleh pikiran. Sinyal delta relatif kecil pada semua kondisi karena sinyal delta meningkat pada keadaan tidur lelap.

Setiap hari manusia pasti masuk ke kondisi hipnosis. Misalnya, saat kita sedang nonton TV, kita fokus pada 1 hal yaitu film yang sedang kita tonton. Pada saat membaca buku, mengetik komputer, kita pun fokus pada hal yang sedang kita kerjakan. Oleh karena itu bila kita ukur gelombang otak kita, kita sedang berada dalam kondisi Alfa, kita sedang dalam kondisi hypnosis. Pada saat kita meditasi, jika pikiran kita sudah tidak kesana kemari dan kita mulai konsentrasi pada 1 fokus maka gelombang otak kita berada dalam kondisi Alfa atau Teta. Bahkan setiap kita tidur kita harus melewati kondisi hipnosis sebelum tertidur pulas, yaitu dari gelombang Beta ke Alfa – Teta akhirnya Delta.

Lalu mengapa kita perlu mencapai gelombang Alfa atau Teta ? Karena bila kita berada dalam gelombang Beta (fokus yang terpecah) kita tidak akan bisa belajar atau menerima apapun. Bayangkan seperti ini, bila anda sedang berada di ruangan mesin yang ribut, anda tidak akan bisa mendengar suara teman anda, anda harus menurunkan suara mesin itu lalu fokus pada suara teman anda baru bisa mengerti apa yang ia katakan.

Sama seperti itu, hipnotis adalah metode untuk menurunkan gelombang sibuk anda (Beta) supaya mencapai Alfa atau Teta agar kita bisa lebih fokus. Bahkan kita sangat perlu berada di gelombang Alfa atau Teta untuk bisa belajar misal pada saat kuliah, mendengar ceramah, membaca buku, dan sebagainya.

Ada sebuah pengalaman unik yang terjadi pada anak saya. Suatu ketika dia ditakut-takuti oleh tetangga akan ditabrak sepeda motor. Sehingga dia menjadi trauma terhadap raungan suara motor yang melintas. Kenapa hal ini terjadi? Karena pada saat ia mendengar suara tersebut, otaknya berada di kondisi Alfa atau Teta sehingga ia menjadi reseptif terhadap suara. Lalu bagaimana yang terjadi di acara-acara hiburan di TV yang menampilkan orang terhipnotis lalu diubah namanya atau berperilaku aneh? Apakah kesadarannya dilemahkan dengan hipnotis? Prosesnya sama, yang dilakukan oleh para hipnotis adalah dengan menggunakan metode hipnosis menurunkan gelombang otak orang itu menjadi Alfa atau Teta sehingga ia menjadi reseptif pada sugesti sang hipnotis.

Lalu kemanakah kesadarannya ? Apakah hilang ? Tidak hilang! Kesadarannya tetap ada bahkan ia sangat sadar. Misalnya, seorang lelaki bernama Eko diubah namanya menjadi Ria. Eko masih sangat sadar bahkan pada saat ia bilang namanya adalah Ria tetapi kesadarannya tidak cukup kuat untuk menolak sugesti sang hipnotis. Lalu apakah kesadaran Eko sedang dilemahkan melalui hipnotis? TIDAK! Memang kesadarannya sudah lemah dari awalnya dan melalui hipnosis jadi terlihat.

Jika begitu apa bedanya kita semua dengan yang terhipnotis di televisi itu? Ketika kemarahan menguasai kita, kita menjadi terfokus pada hal yang menyebabkan kita marah, lalu kita bereaksi galak dan mengomeli orang lain. Bukankah kita saat itu terhipnotis oleh kemarahan kita? Bukankah saat itu kesadaran kita pun lemah sehingga tidak bisa menyadari kemarahan yang muncul?

Jika demikian mengapa kita bisa menyimpulkan bahwa hipnosis membuat kesadaran kita melemah jika setiap harinya kesadaran kitapun lemah dan terlarut dalam kemarahan, keserakahan, kebencian, irihati? Lalu kemanakah kesadaran kita saat itu? Jika memang hipnosis bisa melemahkan kesadaran maka sesungguhnya kita sedang melemahkan kesadaran kita dengan menonton TV, dan kesibukan-kesibukan otak lainnya. Bukankah berdoa juga berada dalam kondisi hipnotis?

Hipnosis sesungguhnya sangat bermanfaat karena ini adalah metode komunikasi untuk mencapai gelombang otak Alfa atau Teta. Melalui relaksasi dalam, kita bisa mensugestikan sebuah kebijaksanaan hidup.

Hipnosis hanyalah suatu metode, yang jika kita bisa mengolahnya dapat kita gunakan untuk meningkatkan kebijaksanaan kita. Jadi semuanya itu menjadi pilihan anda, mau menggunakan hipnosis untuk melihat kehidupan lalu dan mengambil kebijaksanaannya atau mau tidak menggunakannya.

Seperti sebilah pisau, ia bisa digunakan untuk kejahatan tetapi juga bisa kita pakai untuk membantu untuk membantu kegiatan masak untuk menghasilkan berbagai makanan bergizi. Tetapi pisau hanyalah pisau, ia tidak termasuk barang baik atau buruk. Sama seperti hipnosis, ia bisa digunakan untuk hal negatif tapi bisa juga digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup.

Seorang rekan saya bereksperimen dengan hipnoterapi terhadap anaknya yang masih SD. Ketika sang anak sedang dibuai untuk tidur maka dia menyampaikan pesan-pesan baru ke alam bawah sadar anaknya dengan mengatakan bahwa sang anak adalah anak yang rajin, pintar, baik hati, selalu bisa dalam belajar, dan hal-hal baik lainnya. Sekitar dua minggu kemudian mendadak prestasi belajar anaknya meningkat drastis. Rekan saya pun terkejut dengan hasil yang tidak disangkanya tersebut.

Semacam dengan hal tersebut adalah efek dongeng sebelum tidur bagi anak. Dongeng-dongeng dengan pesan moral biasanya sangat membekas dalam ingatan anak bahkan hingga dewasa. Karena itu sangat penting untuk menyempatkan diri mendongeng kepada anak dengan pilihan dongeng-dongeng yang bermoral baik, karena secara langsung dongeng tersebut akan masuk ke dalam alam bawah sadar anak. Sebaliknya sangatlah buruk memberi pengantar tidur dengan memarahi anak, memberi tontonan seram, dan perlakuan kasar, karena hal itu akan membekas saat anak hampir tidur.

Yang juga penting dilakukan adalah self hipnoterapi, yaitu dengan menyatakan kalimat-kalimat positif kepada diri sendiri. Salah satu cara adalah dengan tiduran, atau duduk rileks memejamkan mata, kemudian menenangkan diri tidur-tiduran, lalu menyatakan kalimat positif , “Wong Alus (ganti nama Anda) kamu sukses, kamu sehat, kamu luar biasa…”

Ikutilah dengan membuat ANCHOR/TRIGGER/PEMICU/ sebuah peristiwa kesuksesan yang pendah Anda buat. Misalnya sambil menepuk dada atas kiri, bahu belakang kanan, atau paha kanan. Mengapa di daerah itu? Itu adalah daerah yang hanya orang terdekat yang menyentuhnya, seperti ibu, sahabat, dan keluarga yang pernah menyentuh kita saat kita berada di puncak sukses.

Pada saat daerah tersebut disentuh maka alam bawah sadar akan mengatakan ‘ini pesan dari orang yang dekat denganku’ dan dia menjadi terbuka untuk menerima pesan tersebut. Dengan demikian apapun yang disampaikan tadi menjadi bagian alam bawah sadar dan diingat olehnya.

wong alus

Categories: RAGAM JENIS PARANORMAL | 19 Komentar

DHAMPAR KENCANA


Anggaplah dirimu sebagai buku yang terbuka, bisa dibaca, dikritik dan sekaligus dicerca. Siapa yang menganggap dirinya buku yang tertutup, bersiap-siaplah untuk ditutupi debu dan dimakan kutu. Inilah sejarah sebuah kursi.

Semasa kuliah tahun 1990-1996, saya memiliki sebuah kursi yang saya gunakan sekaligus untuk tempat tidur. Kursi itu terbuat dari kayu bersandar, panjangnya tanggung muat untuk dua setengah orang. Saya menambahkan empat batang kayu berdiri memanjang ke atas dan atasnya dibentuk menyerupai rangka atap rumah. Di atas rangka “atap” kursi kayu tersebut, saya letakkan begitu saja kardus-kardus bekas. Saya namakan singgasana saya itu dengan DHAMPAR KENCANA.

Saya tinggal di sebuah gubuk. Gubuk itu berdinding setengah bata, setengahnya lagi dari anyaman bambu. Gubuk itu terletak di sebidang tanah di belakang sebuah bengkel di kawasan Pasar Telo, Bantul, Yogyakarta. Nama bengkel itu BENGKEL LAS MBAH LANGUT.

Yang unik dari gubuk kenangan tersebut, di satu dindingnya ada pohon asem yang masih hidup menjulang ke atas. Tingginya sekitar sepuluh meter. Jadi, gubuk saya itu menempel di pohon asem. Lebar gubuk sekitar 2 kali 2,5 meter. Isi gubuk sebagai berikut: Satu kursi/tempat tidur DHAMPAR KENCANA tadi, meja besi, sedikit buku, mesin ketik manual karatan. Di DHAMPAR KENCANA tadi saya letakkan bantal, kloso, dan sebuah radio kecil AM.

Gubuk itu terlihat kotor. Bukan karena kemalasan saya membersihkannya, tapi karena hembusan debu setiap saat dari sebidang tanah di depan gubuk tersebut. Debu dengan leluasa masuk melalui rongga-rongga anyaman bambu dinding kemudian menempel di mana-mana. Di meja, di lantai, dan juga di baju-baju yang saya gantung di sebuah paku. Ada satu tempat yang volume debunya paling minim yaitu di dalam DHAMPAR KENCANA tadi.

Itu karena kursi/tempat tidur itu saya bungkus dengan kain lurik ditambah dengan jas hujan yang sudah tidak terpakai. Kenapa harus direkayasa sedemikian rupa sehingga bagian dalamnya tidak terlihat konon ada “sejarahnya.” Suatu malam saat nyenyak tidur, tiba-tiba sebuah tikus jatuh dari atap dan mendarat persis di kepala. Tentu saja kaget campur jengkel menjadi satu. Keesokan harinya, ide muncul untuk membungkus kursi kesayangan tersebut.

Setiap hari, usai kuliah saya bekerja di bengkel las tersebut. Menggergaji, mengebor, membengkokkan, meluruskan lonjoran besi-besi dan mengelasnya untuk dibentuk sedemikian rupa sesuai pesanan: teralis, pagar, dan lainnya. Selain itu, terkadang saya juga diminta untuk menagih piutang ke para pelanggan. Dari hasil bekerja, uang saya gunakan untuk menambah biaya kuliah yang saat itu SPP per semester mencapai Rp 105.000,-.

Itulah ruang hidup ”LIEBENSRAUM” saat berjuang di Jogja sekitar sepuluh tahun. Liku-liku hidup terlalu padat saya alami di kota Gudeg yang penuh kenangan tersebut. Itu adalah satu kurun waktu dimana proses pencarian jati diri mencapai tahap penemuan batu pijakan (milestone) untuk melangkah.

Melangkah kemana? Saya jawab melangkah kemana-mana, sebab setelah masa kuliah itu saya terus berpetualang –istilah ini lebih tepat daripada bekerja— hingga sekarang ini.

DHAMPAR KENCANA milik saya yang ada atap dari kardus-kardus bekas yang dibungkus dengan jas hujan yang sudah robek-robek serta kain lurik yang sudah amoh itu memiliki makna simbolik: SIMBOL MASIH BANYAKNYA RAKYAT MISKIN YANG HARUS SEGERA DIUBAH NASIBNYA.

SEMOGA INDONESIA MENJADI BANGSA YANG LEBIH ADIL, MAKMUR, SEJAHTERA SECEPATNYA.

Wong alus

Categories: DHAMPAR KENCANA

Blog pada WordPress.com. The Adventure Journal Theme.