JENIS-JENIS HOMO


Merenung tentang manusia, sungguh mengasyikkan. Polahnya lucu, menggemaskan, taat, usil, menjengkelkan, nakal, khusyuk, iseng, dan terkadang susah dipahami alias absurd: tidak masuk akal. Ada tetangga saya yang sehari-hari hanya disibukkan untuk duduk-duduk di pos ronda, bermain domino hingga waktu melayang.

depressionGLain lagi dengan sebagian kalangan yang sibuk. Menurut mereka waktu adalah uang. Menghargai waktu karena di dalam waktu terjadi transaksi-transaksi dan akhirnya mendapatkan uang. Bagi kalangan pengangguran seperti tetangga saya ini waktu juga wajib dihabiskan. Caranya ya itu tadi, bermain domino, ngobrol ngalur ngidul hingga waktu habis. Hari pun habis. Usia habis.

Siapakah manusia sehingga mereka bisa dengan ringan bermain main di dalam sang waktu? Benarkah hanya manusia yang sadar dan mempertanyakan tentang makna sebuah aktivitas di dalam waktu?

Binatang, tumbuhan, dan sebutir pasir tetap hidup di dalam waktu dan berubah seiring dengan waktu. Binatang mengalami dengan instingnya, kapan musim kawin tiba. Tumbuhan juga begitu, dia akan berubah seiring dengan pergantian musim. Kapan saatnya dia harus menghijaukan daunnya, kapan pula menggantinya dengan warna kuning dan menggugurkannya. Namun binatang dan tumbuhan tidak MENGERTI. Mereka hanya MENGALAMI berdasarkan naluri, kebiasaan dan kodrat-nya.

Hanya manusia yang diberi kesadaran, berpikir, merasa dan merenungkan kejadian-kejadian dalam waktu. Hanya manusia yang mampu mengambil jarak terhadap dirinya sendiri. Namun siapakah manusia sesungguhnya sehingga memiliki kehebatan untuk mentransendensi dirinya, menata nilai-nilai, memiliki keyakinan tertentu, membangun peradaban dan menata kebudayaannya?

Menurut filsafat manusia, ada banyak tesis tentang manusia, bahwa manusia itu HOMO MECHANICUS, HOMO ERECTUS, HOMO LUDENS. Kesemuanya itu terutama mengenai susunan kodrat kejasmaniannya. Tesis lanjutannya adalah HOMO FABER, HOMO SAPIENS, ANIMAL RATIONALE, ANIMAL SYMBOLICUM yaitu manusia yang memiliki daya cipta yang merupakan susunan kodrat kejiwaan. Selanjutnya, manusia sebagai HOMO RECENTIS dan HOMO VOLENS yaitu manusia yang memiliki aspek rasa dan karsa. Tesis-tesis KEJIWAAN itu menyatu sebagai HOMO MENSURA: Makhluk penilai. HOMO MENSURA dan HOMO FABER menyatu sebagai HOMO EDUCANDUM.

Selain susunan kodrat KEJASMANIAN dan KEJIWAAN, manusia juga sebagai makhluk sosial. Tesis mengenai hal itu adalah HOMO ECONOMICUS dan HOMO SOCIUS.

Akhirnya masih ada beberapa konsep lainnya yaitu HOMO VIATOR dan HOMO RELIGIOSUS yang berhubungan dengan kedudukan kodrat manusia sebagai MAKHLUK TUHAN dan pribadi yang mandiri. Kesemua tesis yang homo-homo tersebut menyatu sebagai HOMO CONCORS yaitu manusia yang siap untuk mengubah diri/TRANSFORMASI DIRI dan adaptif terhadap perubahan.

Singkat perenungan, berpikir tentang HOMO CONCORS saya ingat tetangga saya yang setiap hari nongkrong di pos ronda untuk menghabiskan detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari untuk bermain domino tadi. Dia adalah HOMO CONCORS, manusia yang siap untuk mengubah diri, tentu saja menjadi lebih baik.

Semoga doa ini didengar Tuhannya manusia.

By
Wong Alus

About these ads
Categories: FILSAFAT MANUSIA | Tags: , , , , , , , , , , , , , , , | 5 Komentar

Navigasi pos

5 thoughts on “JENIS-JENIS HOMO

  1. Annie Soehardjo

    Mas, tulisanmu memang selalu alus, menyentuh hati. Saya kok jadi agak trenyuh gitu ya, dan bersyukur

  2. wongalus

    Nggak ada niatan untuk mengaluskan tulisan, lho mbak. tapi saya percaya untuk menyampaikan sesuatu kita perlu menggunakan bahasa verbal dan non verbal (bahasa tubuh) yang sehalus-halusnya agar bisa diserap dengan perasaan yang sesungguhnya halus pula. Siapa yang memancarkan dari hati yang terdalam, akan sampai ke hati yang paling dalam juga.
    Mungkin begitu. Terima kasih dan mohon maaf bila ada yang kurang berkenan… Salam kasih dari dasar hati buat Mbak Annie sekeluarga, Tuhan memberkati. Om Swastiastu. Semoga semua makhluk berbahagia. Wass wr wb…

  3. hasil bumi melimpah ruah

    aku puas mengais sampah
    yang enak dan yang nikmat kuberikan untukmu sobat
    geli aku tertawa melihat banyaknya orang gila
    kesetanan dikejar waktu
    jalani hidup bagai ikan mendatangi bubu
    andai mereka mau melihat indahnya mawar saat bunga mengembang
    atau seekor burung ternyata memiliki banyak kicauan?
    embun berkilauan bunga memamerkan kemewahan
    aku puas hanya bertelanjang
    yang baru dan yang indah kuberikan untukmu sobat
    karena aku buang hajat gunung tinggi menjulang
    karena aku kencing sungai-sungai mengalir
    bangga dengan lantang aku pekikkan

    “MERDEKA!!!!”

  4. andi laut

    hebat tulisan kakang, itu sebetul nasehat paling bagus artinya jangan menyia-nyiakan hidup, nyesel didunia rasanya udah pahit apalagi disana abadi, sungguh ……………….

  5. black jack

    tulisannya menarik…tp sumber kutipannya dong bos biar ikut ngelacak jg kemana arahnya, misalnya aspek kejasmanian (homo mechanicus dll), kodrat kejiwaan (animale rationale dll) itu bukannya konsep versi prof damardjati supadjar? atau beliau ngutip dari ente neh? CMIIW…

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

%d blogger menyukai ini: