Monthly Archives: Agustus 2009

DALAM HENING DI MALAM SEPI


Nangis rasanya membaca puisi ini. Kita sekarang bisa hidup enak merdeka, karena Tuhan memerintahkan para pejuang kemerdekaan kita dulu mengangkat senjata. Hingga tewas menggelepar ditembus peluru musuh!!!

Duh Gusti, ampuni mereka dan angkat mereka ke tempat tertinggi di sisi-Mu dan berilah kami semua semangat yang sama untuk membela ibu pertiwi yang sekarang sekarat dibalut penyakit jiwa.

chai

KARAWANG-BEKASI ~
CHAIRIL ANWAR

KAMI YANG KINI TERBARING ANTARA KRAWANG-BEKASI
TIDAK BISA TERIAK “MERDEKA” DAN ANGKAT SENJATA LAGI.
TAPI SIAPAKAH YANG TIDAK LAGI MENDENGAR DERU KAMI,
TERBAYANG KAMI MAJU DAN MENDEGAP HATI ?

KAMI BICARA PADAMU DALAM HENING DI MALAM SEPI
JIKA DADA RASA HAMPA DAN JAM DINDING YANG BERDETAK
KAMI MATI MUDA. YANG TINGGAL TULANG DILIPUTI DEBU.
KENANG, KENANGLAH KAMI.

KAMI SUDAH COBA APA YANG KAMI BISA
TAPI KERJA BELUM SELESAI,
BELUM BISA MEMPERHITUNGKAN ARTI 4-5 RIBU NYAWA

KAMI CUMA TULANG-TULANG BERSERAKAN
TAPI ADALAH KEPUNYAANMU
KAULAH LAGI YANG TENTUKAN NILAI TULANG-TULANG BERSERAKAN

ATAU JIWA KAMI MELAYANG UNTUK KEMERDEKAAN
KEMENANGAN DAN HARAPAN
ATAU TIDAK UNTUK APA-APA,
KAMI TIDAK TAHU, KAMI TIDAK LAGI BISA BERKATA
KAULAH SEKARANG YANG BERKATA

KAMI BICARA PADAMU DALAM HENING DI MALAM SEPI
JIKA ADA RASA HAMPA DAN JAM DINDING YANG BERDETAK

KENANG, KENANGLAH KAMI
TERUSKAN, TERUSKAN JIWA KAMI
MENJAGA BUNG KARNO
MENJAGA BUNG HATTA
MENJAGA BUNG SJAHRIR

KAMI SEKARANG MAYAT
BERIKAN KAMI ARTI
BERJAGALAH TERUS DI GARIS BATAS PERNYATAAN DAN IMPIAN

KENANG, KENANGLAH KAMI
YANG TINGGAL TULANG-TULANG DILIPUTI DEBU
BERIBU KAMI TERBARING ANTARA KRAWANG-BEKASI

Chairil Anwar (1948)
Brawidjaja, Jilid 7, No 16, 1957

Categories: PUISI & PROSA | 11 Komentar

Diproteksi: GANJANG MALAYSIA


Konten ini diproteksi dengan kata sandi. Untuk melihatnya cukup masukkan kata sandi Anda di bawah ini:

Categories: GANJANG MALAYSIA | Masukkan kata sandi Anda untuk melihat komentar.

Diproteksi: SURAT TERBUKA KEPADA MALAYSIA (2)


Konten ini diproteksi dengan kata sandi. Untuk melihatnya cukup masukkan kata sandi Anda di bawah ini:

Categories: SURAT KEPADA MALAYSIA | Masukkan kata sandi Anda untuk melihat komentar.

KESAKSIAN DALAM DIAM


“Jangan bertanya, Jangan memuja nabi dan wali-wali, Jangan mengaku Tuhan, Jangan mengira tidak ada padahal ada, Sebaiknya diam, Jangan sampai digoncang oleh kebingungan…”

Kenapa kita disarankan oleh Sunan Bonang untuk diam khususnya saat membicarakan soal-soal makrifatullah sebagaimana yang tertera dalam suluk Jebeng? Sebab, daripada sesat karena bila belum mengalami sendiri keadaan makrifat, maka yang biasa terjadi adalah saling beradu argumentasi untuk nggolek benere dhewe, nggolek menange dhewe padahal kasunyatannya tidak seperti yang digambarkan masing-masing orang…

Maka, kita diminta untuk diam dan suatu saat semoga kita mampu untuk menyaksikan sendiri dan membuat kesaksian terhadap eksistensi-Nya yang maha tidak terhingga atau diistilahkan oleh Sunan Bonang sebagai SYAHADAT DACIM QACIM. Syahadat ini adalah pemberian Tuhan kepada seseorang yang diistimewakannya sehingga ia mampu menyaksikan dirinya bersatu dengan kehendak Tuhan. Marilah kita mencebur lebih dalam hal ini….

Agama dari langit sudah sangat lengkap memadukan aspek lahiriah (syariat/aturan/hukum/fiqih yang mengikat tubuhnya) dan juga aspek perjalanan batin manusia menuju kebersatuan dengan Tuhan Semesta Alam. Memahami dari aspek lahir saja, tidak akan mampu memberikan kedalaman pengalaman batin manusia. Sebaliknya, agama yang dipahami dari sisi batin saja, biasanya cenderung mengabaikan aturan dan hukum kemasyarakatan sehingga bisa jadi dianggap sesat oleh masyarakat.

Yang ideal memang memahami agama sebagai jalan yang lapang menuju Tuhan secara sempurna dengan tidak mengabaikan salah satu aspek, apakah itu aspek lahir maupun aspek batin. Bila aspek lahir dipelajari dalam disiplin ilmu syariat/fiqih/hukum serta ilmu logika/mantiq dan lainnya. Maka aspek batiniah digeluti dengan pendekatan ilmu tasawuf. Bila kita belajar ilmu tasawuf, maka tidak bisa tidak kita akan mempelajari sejarah tasawuf dari masa ke masa, riwayat hidup para sufi dan istilah-istilah ruhaniah manusia.

Tidak mudah untuk belajar tasawuf. Berbeda dengan belajar syariat/fiqih/hukum maupun filsafat yang dasarnya adalah olah pikir atau logika, maka tasawuf dasarnya adalah olah rasa untuk menyelami sesuatu yang metafisis dan abstrak. Kita tidak mampu menggali kedalaman samudera tasawuf jika tidak menyelami sendiri dimensi-dimensi batiniah manusia.

Tasawuf bukanlah ilmu yang teoritis, melainkan praktek (ngelmu)…. Bisa dengan dzikir sejuta kali di mulut, bisa juga dengan dzikir semilyar kali di batin siang malam tanpa henti…. Ini tidak lain untuk menghancurkan kerak-kerak hati yang lalai dan kemudian digelontor dengan puji-pujian kepada-Nya dan seterusnya…. Ini hanya satu latihan ruhani yang harus dilakoni pejalan mistik saja, substansinya justru bukan dzikir atau mengingat-Nya saja. Melainkan bagaimana setelah mengingat-Nya, dan mendapatkan kesaksian akan kebenaran absolut-Nya, seseorang itu kemudian mampu berbuat sesuatu sesuai dengan iradat-Nya!!!

Dimensi batiniah manusia bisa diketahui dari bagaimana seseorang itu menempuh jalan spiritual yang melewati melalui berbagai tahapan (maqom). Dalam setiap tahapan, seseorang akan mengalami keadaan ruhani tertentu, sebelum akhirnya penglihatan batinnya terbuka terang benderang yang dalam khasanah tasawuf disebut disebut makrifat secara mendalam tanpa keraguan.

RASA BATIN yang sering disebut dalam tasawuf yang ialah: • tahap pertama WAJD (EKSTASE seperti Musa AS), selanjutnya • DZAUQ (RASA MENDALAM terhadap kehadiran-Nya), • kemudian SUKUR (KEGAIRAHAN MISTIS untuk bermesraan dengan-Nya), • berlanjut ke perasaan FANA atau menghilangnya diri yang benda lahir, • BAKA (kekekalan di dalam Dzat-Nya  kemudian • FAKIR.

Apa itu FAKIR? yaitu adalah keadaan ruhani  dimana pejalan spiritual menyadari bahwa manusia sebenarnya tidak memiliki apa-apa, kecuali dimiliki-Nya. Seorang fakir tidak memiliki kemelekatan lagi kepada segala sesuatu kecuali Tuhan. Ia bebas dari kungkungan diri jasmani dan kebendaan. Namun demikian, dia tetap tidak melepaskan tanggung jawabnya sebagai khalifah di muka bumi. Inilah esensi Tauhid: Yaitu Tiada Tuhan Selain Allah…

Kita bisa memahami bagaimana hakikat kefakiran itu dari apa yang disampaikan para pejalan spiritual. Sekarang, marilah kita sedikit membuka berbagai karya para pejalan spiritual yang disebut Suluk yaitu satu jenis hasil olah rasa berbentuk prosa atau puisi yang dibuat kaum mistikus Jawa, yang berisi pengalaman perjalanan ruhani saat bercinta dengan Dzat-nya.

Karya Sunan Bonang yang penting untuk menggali bagaimana keadaan atau suasana kesadaran tertinggi kaum sufi yaitu SULUK GENTUR. Gentur berarti teguh dan giat, yaitu sebuah bentuk aktivitas ruhanian yang paling sempurna. Di suluk itu digambarkan bahwa seorang penempuh jalan tasawuf harus melaksanakan SYAHADAT DACIM QACIM. Syahadat ini berupa KESAKSIAN DALAM DIAM, TANPA BICARA. NAMUN BATINNYA MEMBERIKAN KESAKSIAN BAHWA EKSISTENSI DIRINYA ADA KARENA ADA-NYA.

Permisalan yang mudah adalah persenyawaan antara dua dzat. Salah satu dzat tidak akan otomatis hilang, namun masing-masing berdiri sendiri. sebagaimana Kawulo tetap kawulo dan Gusti tetap Gusti. Yang lenyap dalam persenyawaan dua dzat itu hanyalah kesadaran sang kawulo akan keberadaannya yang TIDAK ADA.

Dalam suluknya ini Sunan Bonang juga mengatakan bahwa pencapaian tertinggi seseorang ialah ‘keadaan dapat MERASAKAN DALAM BATINNYA kebenaran hakiki sebagaimana dalam kitab suci: “SEGALA SESUATU BINASA KECUALI WAJAH-NYA”.

Bonang dalam suluknya ini berpesan bahwa, bahwa Hati yang merupakan “RUMAH/DALEM/AKU-NYA TUHAN”. Kehadiran-Nya bisa dirasakan bila hati itu ikhlas, nrimo dan sumarah. Di dalam hati yang seperti itu, antara Kawulo dan Gusti lenyap. Yang terasa adalah kesadaran bahwa sejatinya manusia (obyek) selalu diawasi oleh Tuhan (subyek), yang menyebabkan dia tidak lalai sedetikpun kepada Nya.

Dan terakhir, ….Bonang berpesan:  “Pencapaian sempurna bagaikan orang yang sedang tidur dengan seorang perempuan, kala bercinta… Mereka karam dalam asyik, terlena hanyut dalam berahi… Anakku, terimalah dan pahami dengan baik. Ilmu ini memang sukar dicerna…”

Wong Alus

Categories: AJARAN BONANG | Tags: , , , | 57 Komentar

Diproteksi: SURAT TERBUKA KEPADA KANCIL MALAYSIA


Konten ini diproteksi dengan kata sandi. Untuk melihatnya cukup masukkan kata sandi Anda di bawah ini:

Categories: MEMBELA TANAH AIR | Masukkan kata sandi Anda untuk melihat komentar.

KEADILAN TUHAN: SEBUAH DISKUSI


“Hanya saja, kenapa ada orang yg memiliki talenta lebih dari yang lainnya ? Dan ada pendapat maqom tiap org berbeda ? Sejauh yg saya tahu, hal ini sudah menyangkut derivasi hukum sebab akibat. Artinya, bukan standar kekamilan manusia dari Tuhan, melainkan ada unsur kreatifitas dan tekad manusia dalam menggapai kesempurnaan hidup. Ibarat menanam pohon mangga, buahnya tidak hanya dinikmati sendiri oleh yg menanam saja, namun bisa LUMUNTUR dipanen oleh anak cucu, atau anak turunnya…” (Ki Sabda Langit)

Matur nuwun ki sabda yang telah turut serta mbeber keruwetan hakikat manusia ideal yaitu manusia yang jadi diri sejatinya sendiri — yang dalam terminologi agama sering disebut insan kamil itu. Sehingga semakin jelas arah perjuangan hidup manusia yaitu perlu disesuaikan dengan potensi-potensi awal yang dimilikinya untuk menyelesaikan misi hidup berdasarkan atas visi yang telah dituliskan-Nya untuk kita.

Yang saya maksud dengan potensi awal adalah bakat bawaan lahir dan karakter/sifat tetap pada diri manusia yang tidak akan berubah-ubah. Potensi awal yang berupa hardware dan software ini juga menjadi modal manusia yang memiliki ukuran maksimal meskipun sudah dioptimalkan seoptimal-optimalnya. Misalnya, sak hebat-hebatnya saya dalam olah matematika pasti masih lebih bodoh daripada Albert Instein. Sak hebat-hebatnya ilmu kebatinan yang saya miliki, masih kalah hebat dengan para pembaca dan seterusnya.

Yang bisa mengukur seberapa jauh seseorang itu mampu mengoptimalkan potensi terselubung kemanusiaan adalah melalui PERCOBAAN. Kalau belum dicoba… kita tidak akan bisa mengukurnya. Misalnya, tukang becak seperti saya mungkin hanya mampu sangat kreatif dalam bidang perbecakan, misalnya cara mengayuh dengana paling sedikit tenaga… ada batas kemampuan yang tidak bisa saya lampaui lagi meskipun otak, tenaga, dan kreativitas saya sudah pol…

Kecuali bila saya sejak awal sudah dibisiki oleh malaikat atau mungkin malah Tuhan sendiri untuk mengerti seberapa hebat saya nanti mampu mengoptimalkan diri… Orang yang sudah dibisiki BERARTI NGERTI SAKDURUNGE WINARAH, mengerti takdir sebelum terjadi berarti manusia yang hebat karena atas perkenaan-Nya dia diperbolehkan membuka kitab GBHN, Garis Besar Haluan Ngauripe Jalma Manungso.

Namun bila pengetahuan saya dan pembaca pas-pasan saja.. ya logikanya mungkin sebagai berikut; Ibaratnya saya diciptakan Tuhan menjadi sepeda motor yang kapasitas mesinnya hanya 100 CC, maka mustahil saya bisa menyalip saudara-saudara yang diciptakan menjadi motor yang mesinnya 200 CC. Meskipun sudah habis-habisan saya mengoptimalkan mesin, menguprek karburator dan mengupgrade tongkrongan motor hingga aerodinamisnya hebat.. tentu saja masih kalah dengan sepeda motor yang mesinnya 200 CC, apalagi bila ikut-ikutan diuprek… dan seterusnya.

Untunglah Tuhan Maha Adil dan Bijaksana. Sehingga tidak mungkin memperlombakan motor 100 CC dengan 200 CC dalam satu arena balap motor. Bila dikatakan maqom-nya berbeda, ya mungkin saja benar. Maqom adalah kategori CC mesin sepeda motor. Namun saya kurang sepakat bila maqom yang lebih tinggi pasti lebih nyaman, aman dan selamat. Bisa jadi malah sebaliknya.

Kita juga tidak perlu menggugat kenapa Tuhan menciptakan saya yang hanya bermaqom/bermesin 100 CC, sebab Tuhan akan mengukur baik-nya kualitas motor bukan dari kecepatannya di arena balap (dimensi dunia), namun berdasarkan atas bagaimana seseorang pengendara (ruh/jiwa manusia) itu mengelola motor (badan-nya) sebaik mungkin (dimensi akhirat).

Bagaimana motor itu dicat, dimodifikasi sedemikian rupa hingga terlihat indah dan apik sehingga lebih enak dinikmati dan disewa oleh tukang ojek. Dan juga yang tidak kalah penting adalah aspek kemanfaatan manusia.. oleh karenanya adalah bagaimana dia bermanfaat sebagai alat angkut peradaban ke arah yang lebih baik. Belum tentu yang maqom-nya tinggi lebih bermanfaat dibandingkan dengan kita yang maqomnya hanya 100 CC.

Apalagi bila kita mengingat bahwa dimensi pragmatis/Kemanfaatan seseorang itu adalah amal sholeh kita di dunia. Semakin seseorang itu mampu mendatangkan manfaat untuk perbaikan peradaban dan semakin memuliakan kemanusiaan (hak-hak/kewajiban-kewajiban asasinya), membangun negara agar gemah ripah loh jinawi tata tentrem karto raharjo, hingga yang amal yang terkecil misalnya menyingkirkan duri di jalan umum maka di situlah derajat kita akan melambung dan meninggi.

Kalau diperdalam lagi dengan pertanyaan, KENAPA TUHAN MENCIPTAKAN MAQOM/TINGKAT-TINGKAT/DERAJAT manusia secara berbeda-beda, kok tidak satu saja sehingga lebih mencerminkan aspek keadilan? Terus terang saya tidak mampu mengetahui secara pasti iradat-Nya yang seperti ini. Mungkin sah-sah saja bila kita katakan bahwa Gusti adalah MAHA SAK KAREPE DHEWE… Logika saya tidak mampu lagi menjangkau keinginan-Nya secara utuh dan lengkap. Mungkin juga karena jawaban ini berasal dari saya yang belum mampu untuk MANUNGGALING KAWULO LAN GUSTI…

Kalau logika ini diibaratkan pada sepeda motor, maka jawabannya mudah. Namun pasti tidak tepat. Misalnya, Kenapa bangsa Jepang menciptakan beragam sepeda motor dengan besarnya isi silinder/ CC dan model yang beragam? Jawabannya mudah, yaitu memenuhi selera pasar yang beragam sehingga pundit-pundi masuk ke bangsa mereka. Namun bila analogi ini diterapkan pada kenapa Tuhan menciptakan manusia yang beragam maqom/tingkat/derajat, kesadaran yang bertingkat dst… Waduh amat tidak terpujinya saya bila menjawab bahwa ini untuk memenuli selera pasar keduniawian hehehe…. Mungkin Ki Sabda Sendiri yang harus menjelaskan kepada kita, kenapa Tuhan berperilaku SAK KAREPE DHEWE?

Jadi ya, pada akhirnya saya hanya bisa pasrah total, sumeleh dan sumarah saja terhadap kehendak Sang Maha Penilai. Mau diberi mesin 100 CC, 125 CC atau 250 CC atau malah 1000 CC, semuanya adalah anugerah pemberian-Nya yang perlu disyukuri. Apalagi kita diberi gratis tanpa membayar. Kecuali kalau mesin kita rusak, maka kita bertanggungjawab untuk memasukkannya ke bengkel dengan biaya kita sendiri. Pemberian adalah cobaan kita, apakah kita mampu dinilai menjadi yang terbaik berdasarkan atas ukuran-ukuran-Nya sendiri.

Dalam kitab suci dikatakan bahwa ukuran kemanusiaan yang sempurna adalah KETAKWAANNYA, MANUTNYA KITA PADA KAREP/IRADAT/KEHENDAK YANG MAHA KUASA. Begitu sederhananya ukuran kemuliaan maqom seseorang itu. Sehingga dengan begitu saya dan panjenengan semua bisa menyalip derajat ketakwaan mereka yang maqomnya lebih tinggi, misalnya Adam, Nuh, Isa, Musa bahkan Muhammad SAW.

Mungkin di sinilah letak keadilan Tuhan. Dia tidak membedakan apakah saya hanya bermesin 100 CC atau 1000 CC. Semuanya sama di hadapan-Nya sehingga pastilah terbuka kemungkinan kelak saya dan Anda lebih bertakwa daripada para Nabi/Rasul dan lebih mulia derajat/maqom-nya. Maka kita tidak perlu heran bila suatu ketika surga (mungkin hanya simbolisasi dari “tempat yang indah” setelah adanya pengadilan akhir setelah jagad raya ini digulung habis) itu dipenuhi oleh orang-orang yang mengakui bahwa dirinya daif/lemah/bodoh kemudian bergegas untuk membuka buku alam semesta dan belajar untuk menjadi arif bijaksana seperti panjenengan semua … insya allah.

Para nabi dikatakan sebagai manusia yang sempurna, namun kenapa tidak bisa merumuskan hukum alam dan mengolahnya untuk kemanfaatan hidup sebagaimana para penemu alat-alat/insinyur mesin/arsitek dan seterusnya?

Menurut saya, justeru dari kebodohan/ketololan kognitif para nabi inilah tampak kepolosan budi pekerti mereka. Pengetahuan yang para nabi dapatkan oleh karenanya bukanlah berasal dari olah pikir dalam paradigma ilmu pengetahuan sebagaimana para filsuf yang sudah ada sebelum para nabi dilahirkan. Ini membuktikan sesungguhnya yang bisa diteladani dari seseorang bukan karena kemampuannya mengolah akal pikirannya semata-mata melainkan karena seseorang itu telah ditunjuk-Nya menjadi utusan untuk menyampaikan risalah Tuhan. Salah satu caranya adalah BERBUDI PEKERTI YANG LUHUR…

Jelas tidak mungkin bila hanya seorang Muhammad SAW dan para nabi sebelumnya bisa merekayasa peradaban sedemikian hebatnya hingga mampu mempengaruhi bumi yang diisi oleh milyaran manusia ini bila tanpa campur tangan DIA YANG SERBA SAK KAREPE DHEWE. Satu kepala/satu otak secerdas apapun tidak mampu membuat milyaran manusia bisa tunduk patuh sujud menghadap kiblat untuk menundukkan keakuannya masing-masing dan mengakui Dia Yang Maha Akbar.

Apalagi ketundukan individual tersebut tidak hanya berada di aras kognitif saja (sebagaimana pengakuan kita pada kehebatan para pemikir) tapi juga keasyikan batiniah untuk berkomunikasi dan bermesraan dengan sesuatu yang adikodrati dan Maha Superpower.

Pada titik tertentu, menurut saya, para Rasul/Nabi itu hanyalah berfungsi sebagai SANG PENYAMPAI saja. Dia adalah kurir pembawa surat-surat Tuhan yang kemudian dibukukan menjadi KITAB SUCI oleh manusia yang hidup di dunia pada masa itu. Jelaslah, SANG PENYAMPAI dibutuhkan sifat-sifat yang terpuji, sifat tidak bisa berbohong, lugu dan bisa dipercaya.
Para Nabi dan Rasul tidak perlu menjadi pintar dan bisa ngakali orang lain. Kemampuan ngakali orang lain dengan kehebatan argumentasi dan keahlian bernegosiasi biarlah dimiliki oleh kaum politikus dan kaum intelektual kampus yang sibuk berteori namun belepotan untuk ngelakoni teori tersebut. Hehehe… Para Nabi dan Rasul yang tidak bisa goroh dan lugulah yang bisa dipercaya.. Dan ini disebut manusia yang sempurna. Yang ukuran kesempurnaannya bukan pada bagaimana dia menghasilkan sesuatu dan mampu merumuskan hukum alam, namun mampu menggunakan hukum alam itu demi kemanfaatan kemanusiaan melintasi ruang dan waktu.

Dari sisi tertentu, para rasul itu terbukti juga sudah mengeluarkan energi potensi kemanusiaan (hardware dan software) habis-habisan juga sesuai dengan yang mereka miliki. Pertolongan Tuhan datang setelah dia kehabisan energi akal, nafsu dan kehendak untuk berjuang. Ini berarti perjuangan mereka sudah habis-habisan, entek entekan… Dan Tuhan Yang Maha Terpuji akhirnya mengulurkan tangan-Nya dengan kasih sayang dan pengharapan.

Berbeda dengan para penemu/orang brilian dan jenius yang diakui sejarah. Mereka menemukan sesuatu alat, yang belum tentu terbukti kemanfaatannya untuk kemajuan lahir dan batinnya peradaban ini. Banyak penemuan alat-alat baru yang terbukti malah membuat peradaban ini terseok-seok dan hampir memusnahkan manusia sendiri. Penemuan alat komunikasi misalnya Handphone.. mungkin membuat kemudahan kita berkomunikasi, namun pada akhirnya bisa jadi menumpulkan kemampuan manusia untuk berkomunikasi batin dengan orang lain. Bukankah dulu manusia berkomunikasi dengan telepati dan hasilnya tidak mengeluarkan ongkos mahal? Kemampuan manusia untuk berkomunikasi lintas dimensi ini yang sekarang semakin tumpul seiring dengan kemudahan-kemudahan yang kita terima…

Penemuan mobil atau kendaraan seakan mempermudah pergerakan manusia antar ruang dan waktu. Bumi dianggap semakin sempit. Namun belum tentu membawa manusia pada jalur kemanusiaan yang lebih lengkap. Justeru tanpa mobil dan kendaraan manusia bisa jadi semakin mampu menghayati hidupnya secara lebih baik karena kendaraan fisik justeru memiskinkan kendaraan batin untuk mengakui bahwa bumi ini luas dan alam semesta ini misterius.

Mungkin begitu ki sabda, alur logika saya yang awur awuran dan kurang trapsila ini. Monggo dikoreksi bersama kesalahannya dan Semoga kita semua selalu berada dalam angan-angan-Nya setiap saat. Nuwun dan ngapunten bila ada kata yang kurang berkenan.

Salam sih katresnan.

Wongalus

Yth Kagem Mas Tomy, matur nuwun tambahan pencerahannya. Semoga kita bisa terbebas dari kungkungan  segera…

Categories: KEADILAN TUHAN | 14 Komentar

JATI DIRI MANUSIA IDEAL


Apa yang akan terjadi bila manusia sudah sesuai dengan iradat atau kehendak-Nya? Ya, dia akan menjadi insan sempurna atau disebut Insan Kamil. Lantas apa dan bagaimana potret manusia ideal yang tersebut? Apakah sesuai dengan jati dirinya sendiri atau diri yang mencontoh para Nabi/Rasul sehingga jati diri kita hilang?

Artikel ini dimaksudkan sebagai upaya (meski kecil) untuk memperteguh keimanan kita, bahwa sesungguhnya keyakinan kita adanya manusia sempurna yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa itu bukanlah utopia atau angan-angan kosong. Sehingga upaya kita untuk berproses dan bermetamorfosis untuk menjadi insan kamil sebagai tujuan hidup itu tidaklah sia-sia belaka.

Kami ingin agar Pembaca yang budiman mengkritik dan memberi sanggahan atas alur berpikir saya yang dinilai salah, sehingga tidak terjadi dominasi alur berpikir. Sebab saya yakin, rumusan kebenaran bersama yang dipikirkan oleh banyak kepala derajatnya akan lebih sempurna dan lebih lengkap dibandingkan dengan berpikir sendiri atau dengan hanya sekelompok kecil keyakinan yang tidak disanggah melalui argumentasiyang matang dan masuk akal.

Ada sebuah tesis bahwa sebuah upaya perjalanan spiritual pasti memiliki titik henti. Titik henti itu merupakan tujuan proses perjalanan spiritual yaitu menjadi manusia sempurna/insan kamil di dunia ini. Tanpa adanya insan kamil atau manusia sempurna di dunia ini berarti proses perjalanan spiritual kita bisa dikatakan tidak masuk akal. Ibarat kita sedang mencari dan ingin menjadi sosok idola sementara sosok idola itu tidak ada dalam kenyataan. Bukankah hal ini merupakan kekonyolan?

Bila kita yakin bahwa tujuan pencarian kita adalah menjadi manusia sempurna, insan kamil, atau manusia yang sudah bertakwa, atau manusia yang sudah mampu manunggal dengan kehendak dan iradatnya itu ada. Lantas seperti apa adanya itu? Sifat-sifatnya? Dan siapa contoh manusia sempurna itu?

Ya benar, bahwa para nabi/rasul yang tersebut dalam kitab suci adalah manusia yang sempurna. Sehingga kita diminta untuk mencontoh/mensuritauladani sepak terjang mereka di dunia. Lantas pertanyaan kita, bagaimana dengan perilaku mereka bisa diterapkan oleh kita yang sangat tidak ideal ini?

Nanti bila kita sudah ditiadakan di dunia ini, atau meninggal dunia dan ditanya oleh malaikat; maka pertanyaannya mungkin sebagai berikut: Apakah kamu sudah berperan sebagai Karto, Karso, Karno yang ideal sesuai dengan jati dirimu sendiri? Pasti kita tidak ditanya, apakah kamu (Karto, Karso, dan Karno) sudah berperilaku dan bersifat seperti Para Nabi/Rasul yang hidup ratusan atau ribuan tahun lalu?

Inilah yang perlu digarisbawahi, bahwa kita diharapkan untuk menjadi DIRI SENDIRI dengan sifat, watak, karakter yang asli diri kita. Diri yang mampu mengolah seluruh potensi kemanusiaan kita yang paling baik, berperilaku yang terbaik dan berkarya sesuai dengan apa yang sudah kita miliki sekarang ini. Tidak mungkin kita berkarya dengan potensi-potensi yang bukan diri kita. Misalnya, kita diharapkan berkarya menciptakan pesawat terbang bila kita tidak memiliki potensi keilmuan yang mendukung terciptanya pesawat terbang.

Jadi manusia yang sempurna dan ideal sesungguhnya adalah manusia sesuai dengan JATI DIRI Karto, Karso, Karno, …. atau sesuai dengan titah Anda diciptakan-Nya. Sehingga sangat masuk akal bila kita bertanya dalam rangka untuk menjadi manusia sempurna sebagai berikut: Apakah saya sudah menjadi sebagaimana yang Tuhan kehendaki, apakah kaki saya sudah melangkah sesuai dengan karep atau kehendak sang Pencipta kaki? Apakah akal sudah untuk berpikir sesuai dengan Sang Pemrakarsa? Apakah tangan saya sudah memegang dan menyentuh sebagaimana yang dikehendaki Sang Maha Penyentuh?

Ini berarti yang dikehendaki Tuhan adalah: Jadilah diri Anda sendiri, sebab inilah yang dicontohkan oleh para Rasul dan Nabi kita dulu. Sebagaimana Muhammad SAW juga tidak mencontoh Nuh, Isa, Musa, Ibrahim maupun Adam. Isa juga tidak mencontoh Ibrahim, Ibrahim juga tidak mencontoh Nuh, dan seterusnya… Mereka tidak mencontoh siapa-siapa, dan mereka yakin bahwa Tuhan sudah menciptakan diri mereka sendiri sangat sempurna. Tinggal bagaimana SESEORANG ITU MEMUNCULKAN POTENSI KEMANUSIAAN YANG PALING SEMPURNA YANG ADA PADA DIRINYA.

Keyakinan ini sangat ideal, saya kira, karena lebih menghargai prinsip keadilan Tuhan. Karena Tuhan Maha Adil pula dia tidak membeda-bedakan manusia kecuali ketakwaannya, kecuali perilakunya, kecuali amal perbuatannya. Amal perbuatan juga pasti disesuaikan dengan potensi kemanusiaan yang sudah diberikan Tuhan kepada kita.

Tidak mungkin saya stau mungkin Anda dituntut untuk memimpin sebuah umat misalnya, sebab kita dilahirkan dengan sifat-sifat introvet, tidak mampu berbicara di depan umum, tidak memiliki sumber daya yang mendukung untuk diyakini oleh banyak orang. Bukankah sekarang ini jamannya bahwa pemimpin umat adalah mereka yang memiliki segudang kelebihan? Wajar para Nabi dan Rasul dipercaya oleh banyak orang sebab mereka dibekali dengan mukjizat-mukjizat untuk meneguhkan kepercayaan orang terhadap eksistensi kenabian/kerasulan. Para nabi dan rasul itu juga memiliki tanda-tanda kenabian/kerasulan yang bisa dilihat secara obyektif dan meyakinkan.

Sementara kita?

Jangankan mukjizat, wahyu dan Jibril juga tidak pernah dan mungkin pula hingga akhir hayat tidak mungkin akan mendatangi kita… Duh, gimana ini?

Jangan putus asa dari rahmat dan hidayah Allah SWT. Sebab dia telah memberikan kita kemudahan-kemudahan yang luar biasa banyak. Semua telah diberikan gratis pada kita. Boleh dikatakan kita ini manusia gratisan. Tubuh gratis, nyawa gratis, otak, batin, udara gratis pula… Nah, kenapa pula kita masih mengeluh bahwa kita manusia yang tidak sempurna dan gudang kebodohan?

Yakinlah sekarang, bahwa sesungguhnya kita adalah manusia yang serba sempurna. Manusia sempurna bukan manusia yang memiliki mobil, rumah, pekarangan, sawah, gunung, lautan, kaal pesiar, hotel, penjara, kekuasaan, uang beratus juta, tabungan, kartu kredit, isteri cantik, dan sebagainya… Manusia sempurna adalah manusia yang menyadari kesempurnaan wujudnya sebagai pemberian lengkap dari Tuhan untuk disyukuri sekaligus dimanfaatkan untuk tujuan yang sesuai dengan kehendak-Nya. Berbuat sebaik-baiknya sesuai dengan JATI DIRI-nya masing-masing.

Oleh sebab itu, manusia sempurna bisa datang mana saja… Bisa datang dari Gang Buntu di ujung RT becek sana, bisa datang orang yang tinggal di sepetak tanah di tengah area persampahan, bisa datang dari bawah kolong jembatan yang berdindingkan kardus dan tidur dengan kertas koran, namun bisa juga datang dari sebuah kamar hotel mewah berbintang tujuh.

Ada sebuah kata yang bijaksana yang dilontarkan oleh Socrates dan di dalam kitab Suci juga ada: KENALILAH DIRIMU SENDIRI, MAKA KAU AKAN MENGENAL TUHANMU. Ya, kita tidak diminta mengenal Para Nabi/Rasul/Para Sahabat/Para Ulama/Para Pemimpin Sekte dan seterusnya untuk mengenal Tuhan. Tapi justeru mengenal DIRI SENDIRI YANG SEJATI. Ada apa sesungguhnya dengan diri ini? Apakah kita sudah mengenal benar-benar siapa diri kita? Jangan-jangan apa yang telah kita anggap diri sendiri selama ini ternyata belum diri sejati kita? Pantaslah bila akhirnya kita belum mengenal Tuhan… Lha wong mengenal diri sendiri saja belum, gitu kok mau mengenal Tuhan…

Parahnya, bila kita tidak mengenal diri sendiri, maka kita tidak akan mengenal Tuhan. Namun kita akan mengenal antitesis dari Tuhan yaitu setan. Kalau ini terjadi, pasti yang kita kenal bukan diri sendiri tapi diri orang lain atau malah diri setan itu sendiri. Ya, ampun deh…

Monggo kita diskusikan bersama, jangan sampai kita terjebak dalam anggapan bahwa diri kita sudah menjadi diri sejati kita. Bila kita yakin bahwa diri kita sudah menjadi diri sejati kita, ini berarti diri kita sudah dibisiki oleh setan. Diri sejati lah yang hanya bisa mengenal Tuhan Yang Sejati yang digambarkan oleh para ahli kebatinan sebagai TAN KENA KINAYA NGAPA… Yang tidak bisa digambar oleh pikiran dan kata-kata. Bila Anda kebetulan pada suatu ketika merasa sudah mengenali Tuhan, yakinlah itu bukan Tuhan yang sesungguhnya…sebab Dia tidak bisa digambar oleh otak, qalbu dan mulut Anda.

Ini sedikit tips sholat khusyuk: Jangan menggambar Tuhan dengan kekuatan pikiran. Seberapa kuat pikiran Anda menggambar Tuhan dalam angan-angan? Menggambar benda yang ada di depan mata saja saya yakin tidak sempurna kok, mana mungkin mampu menggambarkan Tuhan dengan kekuatan fokus pikiran dan fokus batin kita.. Bukankah Tuhan juga tidak berwujud sebagaimana yang ada dalam gudang data/memori di otak? TUHAN MEMILIKI SIFAT BERBEDA DENGAN SEMUA HAL YANG PERNAH DIKETAHUI DAN DIANGANKAN OLEH MANUSIA. Sehingga sholat khusyuk justeru tidak perlu konsentrasi macam-macam. Pikiran dan batin kita hanya sumarah, pasrah total, sumeleh saja…

Salam sih katresnan

wongalus

Categories: JATIDIRI MANUSIA IDEAL | 15 Komentar

GELANDANGAN FAKIR HE-MEN


gelandanganku

Orang-orang memangilnya He-Men. Dia adalah salah satu pejalan spiritual yang mendapatkan perintah guru spiritual untuk menjadi gelandangan. Inilah sekelumit kisah perjalanan mereka yang tangguh dan teguh menjalani laku suluk. Jadi gelandangan fakir di jalan Allah.

Melanjutkan posting terdahulu KENAPA GURU SPIRITUAL MENYURUH MURID JADI GELANDANGAN? Saya ingin berbagi kisah nyata saudara-saudara saya yang alhamdulillah, saya kenal dan saksikan apa dan bagaimana mereka mendapatkan perintah dari para guru spiritual untuk menjadi “gelandangan” tersebut.

Pertama, guru mistik yang saya maksud dalam postingan pertama tidak selalu berbentuk manusia nyata, yang bisa dipegang, diraba dan dilihat. Guru spiritual ini bisa berwujud makhluk Tuhan yang sudah meninggal dunia, apakah itu malaikat atau mungkin juga roh leluhur yang ditugaskan Tuhan untuk membimbing manusia agar saleh, bertakwa dan baik.

Kedua, kehadiran guru mistik ini biasanya tanpa dinyana dan tanpa direkayasa. Tiba-tiba saja mereka hadir menjadi teman perjalanan spiritual seseorang yang telah bertobat dan bertekad untuk menjalani jalan suluk yang panjang dan mengerikan.

Ketiga, guru mistik ini datang atas perintah Tuhan. Bila Tuhan menghendaki seseorang itu katakanlah X menjadi beriman dan beramal saleh, bertakwa pada-Nya sekaligus biasanya ditunjuk untuk menyebarkan kebenaran maka Tuhan mengutus sesuatu hal: apakah itu seonggok batu, serangga, malaikat, jin, setan, roh leluhur atau makhluk lain yang namanya tidak kita ketahui untuk menjadi guru spiritual dan penyadar X yang telah ditunjuk-Nya. Tuhan Maha berkekendak, dan kehendaknya melampaui logika normal manusia seperti kita. Jadi, ya terserah Dia saja.

Yang unik, bahasa guru spiritual untuk berkomunikasi dengan si X juga bermacam-macam sarananya, Bisa jadi dengan telepon genggam dan memerintahkan secara langsung seperti kita menyuruh siapa untuk melakukan sesuatu. Bisa jadi melewati mimpi saat kita tertidur, bisa jadi guru spiritual ini masuk ke raga seseorang untuk sementara dipinjamnya dan berkomunikasi dengan X.

Pernah suatu ketika ada seseorang pejalan spiritual (salah seorang sahabat saya, pemilik blog sebelah) diuji guru spiritualnya dan bercerita kepada saya (wongalus): “Saat itu saya sudah janjian dengan kakek (sebutannya untuk guru spiritual) di sebuah taman yang sepi. Saya tunggu di sana kok tidak ada yang datang dan saya sudah gelisah. Tiba-tiba saya didatangi seorang wanita cantik dan eh,.. saya digoda. Dasar pria, keimanan saya terus terang sedikit goyah dengan godaannya untuk mengajak kencan… Entah kenapa, feeling saya akhirnya mengatakan jangan turuti dan saya diam saja dengan ulah nakalnya. Ternyata benar, sang wanita cantik yang sudah menggerayangi bagian-bagian tubuh saya itu lantas tertawa dan mengatakan bahwa dia adalah kakek, guru spiritual saya… Saya benar-benar malu, ternyata kakek sudah masuk ke jasad wanita tersebut.”

Kejadian seperti ini berulang berkali-kali hingga kemudian si murid spiritual ini hapal benar karakter sang guru spiritual ini suka dengan selera humor anak muda dan suka menggoda sang murid dengan masuk ke jasad manusia yang karakter dan wataknya berlainan.

Nah, di awal artikel saya telah menyebut seorang yang bernama samaran He-Men. Siapa dia? Dia adalah salah seorang keturunan pewaris sebuah pondok pesantren Siwalan Panji di kawasan Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur. Bila orang paham silsilah atau nasab, ini adalah pondok pesantren yang sepuh dari sisi ilmu. Di pondok pesantren ini pula, KH Hasyim Asyari, pendiri NU pernah berguru dan memperisteri salah satu anak kyai di sana. Itu sebabnya, bila Gus Dur ke Sidoarjo maka dia menyempatkan untuk mengunjungi Ponpes ini dan menyapa kerabatnya yang tinggal segelintir hidup di sana dengan sebutan: “Kangmas” sebutan untuk menghormati saudara Gus Dur yang lebih tua.

Yang terkenal ustad pengasuh ponpes yang saat ini masih hidup adalah Gus Hasyim Mudjib dan seseorang yang namanya saya sebut tadi, He-Men. Beda dengan Gus Mujib, bila dia berada di jalur formal dan juga memasuki kancah politik dengan pernah menjadi anggota DPRD, namun He Men ini mengikuti jalur nyeleneh. Sejak kecil dia ditempa tidak dilingkungan Pondok. Dia malas belajar kitab-kitab kuning sebagaimana para santri-santri lain. Dia malah menjadi mahasiswa umum di sebuah perguruan tinnggi namun entah karena apa, bangku kuliah ini juga tidak dituntaskannya.

Kesukaan He-Men adalah mengkritik, memprotes, demonstrasi di jalanan mengkritik pemerintah. Menentang ketidakadilan, kekotoran dan kebusukan politikus-politikus dan penguasa yang dianggapnya lalim dan dzalim. Pakaiannya pasti unik, nyeleneh dan gayanya eksentrik. Coba bayangkan, saat yang lain berpakaian jeans dan berkaos oblong sebagaimana kesukaan anak muda; tiba-tiba dia datang mengenakan baju resmi berwarna merah, bercelana pantalon, bersepatu hitam mengkilap, berdasi kupu-kupu warna kuning, rambut dicat seperti anak muda kota, bahkan alisnya dihitamkan…. Menyaksikan keanehan penampilan si He-Men yang usianya sekitar tujuh tahun di bawah saya, biasanya saya dan beberapa teman hanya mbatin: Kok bisa ya…. tapi juga enggan untuk melontarkan secara langsung khawatir yang bersangkutan tersinggung.

Tiba-tiba He Men yang selama ini menemani kami menghilang….. kami pun melupakannya. Kejadian ini terjadi awal tahun 2001 yang lalu. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh tahun eh… si nyeleneh He Men datang lagi dengan penampilan yang sudah berubah. Serba hitam. Pakaian muslim hitam, kopyah hitam, celana panjang hitam. Bicaranya pun sudah berubah total. Saya yakin, Nur… cahaya Allah sudah menerangi dia. Setiap butir kata yang meluncur dari mulutnya mencerminkan hikmah dan kebenaran ayat-ayat ilahi yang diperolehnya dari nglakoni menjadi gelandangan, sang fakir yang hanya berserah diri kepada Allah SWT.

Kisahnya selama melakoni jadi sang fakir alias gelandangan ini sangat panjang. Sering kami bertemu hanya untuk bersilaturahim antar sesama muslim. Kadang dia beranjangsana ke rumah pada tengah malam hingga subuh untuk berbagi cerita. Dan kebetulan saya menyukai kisah-kisahnya yang luar biasa. Rasa-rasanya setiap jengkal pengalaman yang dikisahkannya kepada saya menjadi sangat berarti dan semuanya terang benderang oleh cahaya Tuhan. Sayang saya sepertinya tidak mampu menuliskannya lagi karena keterbatasan energi memori saya yang sangat kecil ini.

Secara garis besar, perjalanan si gelandangan He Men dimulai dari Sidoarjo, Jawa Timur…. menuju Kudus, lantas ke selatan singgah di Solo dan kemudian jalan kaki dilanjut ke barat Klaten bertemu Mbah Lim Imam Puro pengasuh Ponpes terkenal di sana, dan menuju ke Jogja terus ke barat… hingga ke ibukota negara Jakarta. Di sana dia menetap untuk beberapa tahun. Selanjutnya perjalanan dimulai lagi di Sumatra. Mulai Lampung hingga Aceh.. kembali lagi melewati jalan yang sama… balik ke Jakarta, kemudian ngubek-ubek kota-kota di Kalimantan…. Dengan berjalan kaki dan tanpa uang sepersenpun. Hanya memiliki harta berupa pakaian yang menempel di badan dan sepatu. Singgah di masjid, surau dan langgar… kadang menjadi imam sholat, kadang menjadi makmum, kadang tiba-tiba ikut jadi tukang bersih-bersih masjid. Tidak ada jadwal waktu dan hari kapan dia akan bergerak lagi memulai perjalanan ….

Kata He Men: “Rezeki Allah luar biasa banyak. Kita kadang lupa untuk bersyukur ya.. Udara gratis, tubuh gratis, nyawa gratis… eh nasi gratis. Dalam perjalanan, saya tidak boleh meminta makanan dan minuman dari siapapun juga. Kecuali kalau saya dikasih, maka akan saya terima…” “Setiap butir nasi bungkus pemberian Gusti Allah melalui tangan orang lain saya rasakan sangat berarti. Bahkan bila sudah saking laparnya, saya diperintahkan Gusti Allah untuk mengambil makanan sisa orang di sampah… saya nikmati…. dan luar biasa… saya hidup pasrah karena Dia Maha Pemberi Rezeki…” ungkap He Men.

Tidak terhitung mengalaman mistik supranatural yang dijumpai si He Men ini. Barangkali jin dan hantu-hantu sudah pada malas menggoda si manusia fakir pilih tanding ini. Olah rasa dan olah batinnya ditempa sekian lama oleh penderitaan dan kepasrahan kepada Tuhan satu-satunya pencipta Semesta Alam. Setiap titik yang disinggahi, apakah itu di surau, masjid, langgar, gang kumuh di kota, lokalisasi, atau di dekat istana negara…selalu saja dia menjadi bahan tertawaan bahkan menuduhnya kurang waras. Itu konon, pikiran dan alur logikanya memang sudah dianggap ketinggalan jaman padahal menyuarakan kebenaran.

Misalnya: saat bertemu dengan seorang serdadu/tentara yang bergerombol menjaga istana negara suatu malam. He Men: Pak apa yang Anda jaga… presiden atau istara presiden?” Serdadu: Presiden!!! He Men: Presiden kan tidak tidur di sana? Serdadu: Kok tahu… sok tahu kamu!!! He Men: Ya tahu aja, nggak mungkin dia tidur di istana lha wong ini cuma gedung simbol negara… Serdadu: diam, mungkin mikir ini anak gelandangan agak gila tapi benar juga omongannya. He Men: Daripada jaga gedung dan mikir masalah duniaaaa terus… mending dzikir pak… Ingat Tuhan, Ingat yang menciptakan Anda, pasti ada manfaatnya. Dia akan ingat juga sama sampean… dan sampean bisa meminta apapun karena dia Maha Pemberi….. Serdadu: Terima kasih. Tapi tolong Anda pergi dari sini… He Men: Ya sudah… assalamualaikum….

Saat di Jakarta itulah, kata He Men, dia sehari-hari tidur di kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Hingga suatu ketika ada seseorang yang mengenalinya sebagai cucu seorang ulama sepuh di Jawa Timur dan dianggap anak angkat seorang anggota DPR/MPR. Si gelandangan He Men juga memiliki bejibun kisah mistis. Banyak kisah mistik supranatural yang kadang enggan diceriterakan He Men ke orang lain dengan alasan kalau nanti justeru dianggap sombong dan takabur. Namun karena berbagai hal juga, dia bisa menceriterakan dengan gamblang sebagaimana dituturkan kepada saya (wongalus) bagaimana dia dia mempersunting seorang gadis desa.

“Saat itu perjalanan saya melewati sebuah desa malam hari sunyi. Sudah di atas jam duabelas malam. Tidak ada satupun orang terlihat melintas. Tiba-tiba ada ikan menggelepar di depan saya…. Karena lapar sudah sehari nggak ada yang ngasih makan, saya ambil ikan itu siapa tahu bisa saya makan… Saat akan saya ambil, eh tiba-tiba dia bisa ngomong… Saya bukan jatahmu, saya hanya memberitahu suatu saat kalau kamu lewat di jalan ini lagi, maka itulah saatnya kamu menikah disini… Ikan kemudian tidak jadi saya ambil. Dua tahun kemudian, saat suatu malam saya melewati jalan itu lagi… eh, ikan itu muncul lagi di tempat yang sama dan saya ditagih untuk menikah. Akhirnya, saya duduk di pinggir jalan untuk bertanya ke sana kemari apa ada seorang perempuan yang ingin menikah… Ternyata ada seorang perempuan guru ngaji yang belum menikah dan membutuhkan suami. Berdasarkan informasi dari orang tersebut, Saya datangi rumahnya dan saya tembung orang tuanya… anaknya pun suka dengan saya… ya akhirnya saya menikah…” kisah He Men.

Kisah mistik lain adalah perjumpaannya dengan seorang tokoh kyai Mbah Lim Imam Puro. Mbah Lim adalah kyai yang misterius dan tidak setiap saat mau ditemui para tamu. Konon, Mbah Lim yang dikenal sebagai seorang kyai “khos” ini kadang entah kenapa melempar para tamu dengan benda apa saja untuk menunjukkan keengganannya ditemui para tamu yang datang ke rumahnya. Bahkan tidak jarang dia mengambil sapu dan dipukuli para tamu itu… Iki kakean (kebanyakan) dosa… hayo tobat!!! Namun uniknya, dengan mudah dia mendatangi He Men yang nunggu di depan rumah pada suatu malam… dia tidak ngamuk apapun dan meminta agar He Men secepatnya pulang ke rumah. “Perintah Mbah Lim itu kemudian saya laksanakan.. saya nggandol pulang naik kereta api…., tiba di pondok (Ponpes Siwalan Panji), ternyata ibu saya sakit dan setelah bertemu saya, dia dipanggil Allah. Ibu berwasiat agar saya meneruskan menjadi ustad mengasuh pondok,” ujar He-Men.

Inilah sedikit kisah yang bisa saya sampaikan kepada para Pembaca budiman yang sempat mampir di blog ini. Masih banyak kisah mistik yang dialami He Men. Namun karena keterbatasan saya, tidak sempat saya tuliskan. Alhamdulillah dan insyaallah He Men diberi rahmat Gusti Allah untuk jujur dan mampu membedakan dari mana kata yang mengandung kebenaran dan mana kata yang menyesatkan. Apakah itu sumbernya dari membaca buku, dari sekolah, dari katanya teman, atau langsung dari Nur Allah…. Dan kata-kata He Men, saya yakin benar-benar dari Nur Allah…. Alhamdulillah, Tuhan sudah memberikan pengajaran yang begitu kaya kepada saudara kita yang satu ini.

Sayangnya, saya kembali merasa kehilangan jejak kemana si He-Men sekarang berada. Dia jarang terdengar di peredaran dan ternyata informasi dari beberapa teman dekatnya mengatakan bahwa sekarang dia mengembara lagi ke Kalimantan, Sulawesi dan entah kemana lagi.

Untuk saudaraku He Men… selamat jalan, kepasrahanmu kepada-Nya menjadi inspirasi kami semua. Bila Tuhan satu-satunya yang jadi perisai pelindungmu, siapa lagi yang dikhawatirkan dan ditakutkan??? Terima kasih dan selamat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan,… dan bila ada kata yang dirasa kurang pas dan kurang berkenan, ini semata-mata karena kebodohan saya pribadi untuk “meringkas” dan memaknai kasunyatan ini dengan pemilihan kata-kata yang pas.

wongalus

Catatan: naskah ini sudah mengalami penyuntingan dari naskah awalnya. Terima kasih sedalam-dalamnya kepada Saudara saya Ki M4stono (www.kanktono.blogspot) yang berkenan melakukan koreksi sebagaimana yang ada di saran. Kesalahan itu semata-mata karena kekuranghatian saya dan Matur  Nuwun Ki. Gusti Allah yang membalas kebaikan Anda.

Categories: SI GELANDANGAN FAKIR HE MEN | 20 Komentar

KENAPA GURU SPIRITUAL MENYURUH MURID JADI GELANDANGAN?


Salah satu yang dianjurkan dalam meniti jalan spiritual adalah menghilangkan keakuan/ego/diri. Proses ini harus dilalui agar diri yang masih diliputi hasrat kebendaan sedikit demi sedikit terangkat menemukan DIRI SEJATI-NYA.

Dalam tradisi tasawuf atau mistik Islam, kita mengenali tahap ini sebagai tahap pembersihan diri dari berbagai hawa nafsu yang masih melekat kuat pada diri seseorang. Tanpa dilakukan pembersihan, diri kita tidak akan mampu membuka mata terhadap petunjuk/rambu-rambu hidup yang diberikan-Nya. Bila kita sudah mampu membaca rambu-rambu/petunjuk-Nya, otomatis kita pun mampu terus berjalan di jalan yang telah digelar untuk kita.

Cara kaum sufi –sebutan bagi mereka yang menempuh jalan tasawuf sebagai pilihan hidup untuk pendakian spiritual— untuk proses penghilangan diri ini bermacam-macam. Semua sufi besar sepanjang masa, melakoni tidak dengan cara yang sama. Masing-masing disesuaikan dengan kadar ego/keakuan yang dimiliki masing-masing individu. Siapa yang mampu melihat berat ringan melekat dan tidak melekatnya diri pada dunia benda, hasrat egoistik, dan keinginan hawa nafsu?

Disinilah orang terkadang mengharuskan para penempuh jalan suluk untuk berguru kepada seorang guru yang diyakini ilmunya lebih tinggi. Hubungan guru dan murid, adalah hubungan antar teman konsultasi berbagi pencapaian tahap spiritual termasuk keluhan-keluhan apa yang dihadapi selama menjalani olah batin. Murid akan diarahkan untuk tetap tegar dan tenang sekaligus akan disembuhkan secara batiniah oleh sang guru bila terjadi kegagalan fokus dan gangguan-gangguan oleh pihak luar apakah itu manusia, jin maupun hal lain.

Guru lebih mengerti daripada murid karena mereka sudah terlebih dulu memiliki pengalaman menempuh jalan spiritual tertentu. Ibarat sang guru akan memberikan pengertian bagaimana cara naik sepeda karena dia pernah dan sering naik sepeda. Dalam konteks perjalanan spiritual mistik, guru tidak hanya memberi pengertian teoritis saja sebagaimana guru sekolah-sekolah formal, melainkan ikut menceburkan diri dalam laku sang murid.

Guru atau pembimbing spiritual kemudian menyarankan agar sang murid menjalani proses penghilangan diri ini. Ini adalah proses kedua setelah seorang murid benar-benar berniat untuk tobat kembali ke jalan Tuhan. Atau sang murid sudah benar-benar mau dan bertekad sangat kuat untuk menjalani proses laku yang panjang. Tobat oleh sebab itu merupakan tahap awal.

Nah asal muasal seseorang itu tobat dan benar-benar sadar semuanya hak istimewa Tuhan. Tidab bisa diganggu gugat dan tidak bisa direspon oleh siapapun untuk bertobat. Maka, bila kita sudah ada kesadaran untuk bertobat maka harusnya disyukuri dan lekas-lekas untuk berterima kasih pada-Nya. Jangan sampai hidayah pemberian tobat ini ditarik lagi gara-gara kita tidak bersyukur.

Wujud syukur adalah menerima dengan ikhlas dan kemudian melaksanakan perubahan diri itu. Apabila Tuhan menghendaki, maka Dia kan memberi guru spiritual yang sesuai. Guru tiba-tiba akan datang membimbing kita dan hendaknya kita menyambut dengan kuat untuk menjalani pengajaran-pengajaran Tuhan Yang Maha Memberi Petunjuk tersebut.

Masih ingat bagaimana proses yang dijalani oleh Sunan Kalijaga sewaktu belum menjadi wali? Sang guru spiritual Sunan Bonang atas “dawuh” atau petunjuk-Nya menyuruh agar Sunan Kalijaga meditasi/tapa duduk bersila di pinggir sungai untuk sekian waktu dengan fokus pikiran pada sebuah tongkat yang ditancapkan Sunan Bonang. Apabila nanti Sunan Bonang sudah mencabut tongkat tersebut, maka itu tanda bahwa Sunan Kalijaga sudah selesai menjalani laku penghilangan diri ini.

Ada pengalaman beberapa sufi yang diperintahkan seorang gurunya untuk hidup menjadi pengemis dan menggelandang bertahun-tahun. Mereka harus hidup dalam kesengsaraan dan kemiskinan, dengan pakaian seadanya, tidak boleh melanggar wewarah misalnya dilarang meminta makanan. Boleh makan asalkan diberi oleh siapapun juga.

Sang pelaku atau murid ini diminta untuk tidak mengaku nama, alamat, asal usul-nya bila ditanya oleh orang lain. Tidak melanggar semua aturan yang telah disampaikan guru. Semua ini pada hakikatnya agar sang diri murid yang penuh kekotoran dan kemunafikan dihilangkan, dan diganti dengan diri yang sama sekali baru. Diri yang sepenuhnya mendapatkan tuntunan Tuhan.

Sesungguhnya, perintah puasa Ramadhan dan melaksanakan semua tata cara beribadah dalam agama Islam selama sebulan penuh itu pada hakikatnya sama dengan laku penghilangan diri. Pelaku puasa ditatar, didril, dibersihkan dari kekotoran dan kerak yang menyebabkan batin menjadi buram. Sang aku dan diri dihilangkan kemudian diganti dengan Diri yang sama sekali dipenuhi oleh sinar pencerahan. Namun sayangnya, puasa yang kebanyakan dilaksanakan oleh kaum muslimin masih belum sepenuhnya dihayati secara mendalam dan dilaksanakan sepenuh jiwa. Inilah yang menjadi kritik bersama, semoga puasa Ramadhan tahun ini menjadi pemicu kita untuk menjadikannya sarana penyucian diri.

Saya juga menemukan beberapa orang yang diharuskan oleh guru spiritualnya untuk menjalani laku jadab seperti ini. Berjalan keliling Jawa, Sumatra, Kalimantan tanpa bekal apapun kecuali PASRAH KEPADA TUHAN. Setelah mereka pulang dari pengembaraan, mereka pasti akan berubah total. Diri mereka tersucikan, mulut, tubuh dan perilaku mereka tidak seperti sebelumnya yang sak karepe dhewe. Melainkan sebaliknya, tertuntun oleh sebuah kekuatan ghaib dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Bisa disimpulkan penghilangan diri adalah sebuah proses kepasrahan yang kaya dengan pengalaman mistik. Sebab setelah diri/keakuan hilang maka Tuhan Gusti Allah akan mengisi keakuan kita yang sudah hilang tersebut dengan DIRI SEJATI-NYA. Ini adalah pengalaman kebersatuan dan kemanunggalan dengan iradat Gusti Allah. Oleh sebab itu pengalaman yang demikian ini pasti akan kaya dengan certia yang bagi kalangan awam dianggap tidak masuk akal dan sangat supranatural. Siapa yang berniat menetapkan tujuan hidup untuk berjumpa dengan Tuhan, pasti akan melalui proses yang berat ini.

wongalus

Categories: GURU SPIRITUAL | 29 Komentar

SATU UNTUK SEMUA


PANGESTU-2

Bangsa ini didirikan di atas beragam agama dan ratusan

bahkan mungkin ribuan aliran kepercayaan/kebatinan

yang berserak di seantero penjuru tanah air.

Aliran kepercayaan dan kebatinan tersebut

telah berakar urat di dalam nadi bangsa kita

bahkan jauh sebelum negeri kita medeka..

Mereka adalah saudara kita,

yang ikut serta gigih berjuang agar bangsa kita merdeka

Tidak terhitung berapa nyawa harus dikorbankan

Demi meraih Kemerdekaan

Itu sebabnya,

para founding fathers merumuskan

bahwa pandangan hidup bangsa Indonesia adalah Pancasila

Pancasila mengakui keragaman agama dan

kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa

Prinsip kita adalah BHINNEKA TUNGGAL IKA

Luar biasa bijaksana…

Semua penganut agama,

apakah itu Islam, Kristen, Hindu, Budha,

serta aliran kepercayaan/kebatinan

diakui menjadi bagian dari anak bangsa

yang gigih berjuang demi tegaknya merah putih

Kita semua hidup berdampingan

guyub rukun penuh toleransi

Wahai para saudaraku semua

Hiduplah terus dengan ragam corak

keyakinanmu pada Tuhan Yang Maha Esa

Kami mendukungmu

menjalankan ibadah dan keyakinan yang kau anut

menjalankan kewajiban dan hak-hakmu

Kami berpendapat

Meskipun kepercayaan dan keyakinan kita berbeda

Namun semuanya bersumber dari

Tuhan Yang satu

Tuhan Yang Menaungi Kita

Tuhan yang memberikan pencerahan

Tuhanlah yang menganugerahi banyaknya

jalan dan cara menuju Dia yang Maha Segalanya…

SEMUA UNTUK SATU –

SATU UNTUK SEMUA


(wongalus, 2009)

Categories: SEMUA UNTUK SATU | Tags: , , , | 8 Komentar

AJARAN KEROKHANIAN SAPTA DARMA


SAPTAsapta2

Di tembok rumah sang pendirinya, tiba-tiba muncul gambar-gambar dan tulisan yang kelak menjadi lambang, nama, serta ajaran-ajaran pokok Sapta Darma…

Bagi kalagan umum disebut aliran kebatinan, bagi penganut Sapta Darma disebut ajaran kerokhanian. Diantara berbagai aliran kebatinan lain yang ada di tanah air, umur Sapta Darma tergolong muda dan modern. Meskipun sudah diakui pemerintah, namun hingga kini masih saja ada saja yang masih mempermasalahkannya dengan berbagai tuduhan yang miring.

Apa yang salah dengan aliran Sapta Darma? Bukankah negeri ini dasarnya adalah Pancasila dimana dalam sila pertamanya tercantum Ketuhanan Yang Maha Esa dan aliran ini bahkan mewajibkan warganya menyembah Tuhan yang satu, Allah Yang Maha Kuasa dan penganutnya berkewajiban menjalankan hidupnya berdasarkan tujuh kewajiban suci (darma), agar selamat hidup dunia dan akhirat.

Sapta Dharma bukanlah aliran sesat yang menyembah berhala dan meminum darah musuh demi mendapatkan kesaktian, Sapta Darma adalah aliran yang ingin agar penganutnya menjadi manusia yang berbudi luhur dan Pancasilais.

Tapi, lihatlah banyak fakta yang terjadi dimana masyarakat yang mengaku beragama tertentu menyerang para penganut aliran kebatinan tersebut dengan berbagai dalih. Kenapa hingga kini berbagai aliran kepercayaan/ aliran kebatinan itu masih dipandang sebelah mata? Bukankah mereka tumbuh berkembang sebagai hasil interaksi manusia asli Indonesia dengan alam dan Tuhan?

Sejarah adalah bukti bagaimana pemerintah kita mengakui eksistensi berbagai aliran kebatinan di nusantara. Dimulai pada tanggal 19 dan 20 Agustus 1955 di Semarang diadakan kongres dari berpuluh-puluh aliran kebatinan yang ada di berbagai daerah dilanjut dengan Kongres berikutnya pada tanggal 7 Agustus 1956 di Surakarta dan dua kongres serta seminar mengenai masalah kebatinan dalam tahun 1959, 1961 dan 1962.

Aliran kepercayaan/ kebatinan merupakan budaya lokal dengan anggota yang jumlahnya berkisar antara 200 orang hingga ribuan orang. Yang termasuk aliran kecil adalah berjumlah 200 orang misalnya PANCASILA HANDAYANINGRATAN dari Surakarta; ILMU KEBATINAN KASUNYATAN dari Yogyakarta; ILMU SEJATI dari Madiun; dan TRIMURTI NALURI MAJAPAHIT dari Mojokerto, PENUNGGALAN, PERUKUNAN KAWULA MANEMBAH GUSTI, JIWA AYU dan dan lain-lain.

Ada pula aliran kebatinan yang tergolong besar yang beranggotakan lebih dari 1000 orang yang tersebar di berbagai daerah. Yang termasuk aliran dengan banyak pengikut di antaranya HARDOPUSORO dari Purworejo, Susila Budi Darma (SUBUD) yang asalnya berkembang di Semarang, Paguyuban Ngesti Tunggal (PANGESTU) dari Surakarta, Paguyuban SUMARAH dan SAPTA DHARMA dari yogyakarta.

HARDOPUSORO adalah yang tertua diantara kelima gerakan yang terbesar itu, didirikan oleh Kyai KUSUMOWIDJITRO, seorang kepala desa di desa Kemanukan, Purworejo pada tahun 1895. Ia menerima wahyu yang semula disebut KAWRUH KASUNYATAN GAIB. Ajaran-ajarannya termaktub dalam dua buah buku ynag oleh para pengikutnya sudah hampir dianggap keramat, yaitu Buku KAWULA GUSTI dan WIGATI.

Susila budi (SUBUD) didirikan pada tahun 1925 di semarang, pusatnya sekarang berada di jakarta. Mereka tidak menyebut diri sebagai aliran kebatinan, melainkan “pusat latihan kejiwaan”. Anggota-anggotanya yang berjumlah beberapa ribu itu tersebar di berbagai kota diseluruh indonesia dan mempunyai sebanyak 87 cabang di luar negeri. Banyak dari para pengikutnya adalah orang Asia, Eropa, Australia dan Amerika. Doktrin ajaran organisasi itu dimuat dalam buku berjudul SUSILA BUDHI DHARMA.

PAGGUYUBAN NGESTI TUNGGAL, atau lebih terkenal dengan nama PANGESTU adalah sebuah budaya kebatinan lain yang luas jangkauannya. Gerakan ini didirikan oleh Soenarto, yang di antara tahun 1932 dan 1933 menerima wangsit yang oleh kedua orang pengikutnya dicatat dan kemudian diterbitkan menjadi buku Serat Sasangka Jati.

Pangestu didirikan di surakarta pada bulan mei 1949, dan anggota-anggotanya berkisar antara 50.000 orang tersebar di banyak kota di Indonesia. Anggota yang berasal dari daerah pedesaan banyak yang tinggal di pemukiman transmigrasi di Sumatera dan Kalimantan. Majalah yang dikeluarkan organisasi itu DWIJAWARA merupakan tali pengikat persaudaraan Pangestu.

PAGUYUBAN SUMARAH diprakarsai oleh R. Ng. Sukirno Hartono dari Yogyakarta. Ia mengaku menerima wahyu pada tahun 1935. Pada akhir tahun 1940 mengalami kemunduran, namun berkembang kembali tahun 1950 di yogyakarta. Jumlah anggotanya kini sudah mencapai 115.000 orang baik yang berasal dari golongan priyayi maupun dari kelas-kelas masyarakat lain.

SAPTA DARMA adalah yang termuda dari kelima gerakan kebatinan yang terbesar di jawa yang didirikan pada 27 Desember tahun 1952 oleh Hardjosapuro yang kemudian mengganti namanya menjadi Panuntun Sri Gutomo. Beliau berasal dari desa Keplakan, Pare, Kediri. Berbeda dengan keempat organisasi yang lain, SAPTA DARMA beranggotakan orang-orang dari daerah pedesaan dan orang-orang pekerja kasar yang tinggal di kota-kota. Walaupun demikian para pemimpinnya hampir semua priyayi. Buku yang berisi ajarannya adalah KITAB PEWARAH SAPTA DARMA.

AJARAN SAPTA DARMA

Pemeluk SAPTA DARMA mendasarkan apa saja yang dilakukan sebagai suatu ibadah, baik makan, tidur, dan sebagainya. Tetapi ibadah utama yang wajib dilakukan adalah SUJUD, RACUT, ENING dan ULAH RASA. SUJUD, adalah ibadah menyembah Tuhan; sekurang-kurangnya dilakukan sekali sehari.

RACUT, adalah ibadah menghadapnya Hyang Maha Suci/Roh Suci manusia ke Hyang Maha Kuwasa. Dalam ibadah ini, Roh Suci terlepas dari raga manusia untuk menghadap di alam langgeng/surga. Ibadah ini sebagai bekal perjalanan Roh setelah kematian. ENING, adalah semadi, atau mengosongkan pikiran dengan berpasrah atau mengikhlaskan diri kepada Sang Pencipta. ULAH RASA, adalah proses relaksasi untuk mendapatkan kesegaran jasmani setelah bekerja keras/olah raga.

Warga Sapta Darma tidak membicarakan surga dan neraka, tetapi mempersilahkan warga Sapta Darma untuk melihat sendiri adanya surga dan neraka tersebut dengan cara racut. Kejahatan, kesemena-menaan, dan sebagainya mencerminkan neraka dengan segenap reaksi yang ditimbulkannya. Begitu juga dengan kebaikan seperti bersedekah, mengajarkan ilmu, menolong sesama mencerminkan surga.

SAPTA DARMA lebih fokus pada pengembangan budi pekerti yang saat ini semakin terdegradasi di negeri kita. Seperti tawuran pelajar ada di mana-mana, pemerkosaan terhadap anak-anak dan perempuan, perdagangan manusia, semua terjadi hampir tiap hari. Semua catatan segala penyimpangan akan terus bertambah dan barangkali bisa menjadi daftar panjang tidak berkesudahan. Belum lagi apabila ditambah dengan korupsi yang dilakukan para politikus dan pejabat negeri ini.

Salah satu upaya untuk memperbaiki situasi adalah dengan terus menumbuhkembangkan budi pekerti sebagaimana yang dilakukan oleh aliran kerohanian Sapta Dharma. Inti dari ajaran aliran yang asal-muasalnya dari tanah Jawa itu adalah menyelaraskan kehidupan manusia dengan alam, sesama, dan Sang Maha Pencipta.

Ketua Badan Pengurus Yayasan Srati Dharma Pusat Yogyakarta Subiyantoro mengungkapkan, aliran yang intinya pada penggalian budi pakarti luhur itu diterima kali pertama oleh Hardjosapuro yang setelah menerima wahyu bergelar rohani Sri Gutomo pada Desember 1952 di Pare, Kediri.

Dikisahkan saat proses awal Hardjosapuro menerima wahyu. Sewaktu dia Waktu itu, dia merasa tidak enak badan, lantas mengambil tikar dan berusaha tidur di lantai. Tiba-tiba dia merasakan suatu getaran hebat dan tergerak untuk menghadap ke timur. Di tengah-tengah situasi menggetarkan itu, dia beberapa kali merasa meneriakkan sesuatu. Setelah mengalami peristiwa aneh, dia kemudian menceritakan kepada teman-temannya.

Semula tidak ada yang percaya tetapi setelah semua ikut mengalami akhirnya percaya bahwa ada kekuatan yang mendorong mereka untuk menumbuhkembangkan budi pekerti luhur. Bukan sebatas itu, yang fenomenal adalah di tembok rumah Harjosapuro muncul gambar-gambar dan tulisan yang kelak menjadi lambang, nama, serta ajaran-ajaran pokok Sapta Dharma.

Semenjak itulah, berkembang aliran kerohanian yang bernama Sapta Dharma hingga kini sudah tersebar di seluruh propinsi di Indonesia.

Menurut Subiyantoro ajaran SAPTA DARMA terbuka bagi siapa saja dengan latar belakang berbeda-beda. Tidak ada diskriminasi dalam ajaran kerokhanian tersebut. Dijelaskan Subiyantoro, Ritual SAPTA DARMA adalah Ritual Sujud seperti layaknya orang berdoa untuk melakukan penggalian rohani. Dalam sujud tersebut, para penganut meluhurkan Allah yang Mahakuasa, mengakui kesalahan dan bertobat tidak melakukan kesalahan lagi.

SETIAP KALI SUJUD, SESEORANG BISA MEMAKAN WAKTU 1,5 JAM BAHKAN LEBIH. WAKTU TIDAK BISA MEMBATASI SESEORANG HARUS SELESAI SUJUD, TERGANTUNG PADA GETARAN YANG MEREKA RASAKAN. PADA TAHAPAN TERTENTU, SESEORANG BISA BERUBAH POSISI DARI SEMULA DUDUK BERSILA PERLAHAN-LAHAN TERTUNDUK SAMPAI KEPALA MENYENTUH LANTAI. “Ajaran Sapta Darma yang pada intinya budi pekerti luhur memang untuk menumbuhkan pikiran, sikap, dan perilaku berbudi pekerti luhur setiap insan,” tuturnya.

Sujud dan Dua Belas Saudara

Dalam sujud manembah yang telah diuraikan
Turunnya getaran dari kepala benar dirasakan
Terutama sewaktu melintasi jalur di dada
Tempat adanya bentuk tiga belah ketupat
Satu di atas, satu di tengah, dan satu di bawah
Yaitu yang disebut dengan istilah radar

Maka pada tiap belah ketupat itu
Terdapat getaran-getaran perwujudan
Dari sifat khusus kedua-belas saudara
Getaran berwarna hitam adalah aluwamah
Yang merah amarah, kuning suwiyah, putih mutmainah

Adapun letak dan sifat dua belas saudara itu demikian:
Hyang Maha Suci di ubun-ubun, sarana untuk menghadap
Hyang Maha Kuwasa dalam sujud dan dalam hening
Premana di dahi di antara kedua mata, untuk melihat
Segala hal yang tak tampak oleh mata biasa

Jatingarang atau Suksmajati di bahu kiri tempatnya
Gandarwaraja di bahu kanan dan bersifat kejam
Sering bertengkar serta tamak
Brama di tengah, senang marah sifatnya
Bayu di dada kanan, cirinya adalah keteguhan

Endra di dada kiri dan berpembawaan malas
Mayangkara di pusar, seperti kera suka mencuri
Merampas, mengejek, dan menghina
Suksmarasa di pinggang kiri dan kanan
Memiliki sifat halus perasaan

Suksmakencana di tulang tungging
Pengaruhnya pada gairah kebirahian
Nagatahun atau Suksmanaga di tulang belakang
Seperti ular sifatnya berbelit-belit dan berbisa
Baginda Kilir atau Nur Rasa bergerak sifatnya
Letaknya di ujung jari dan dapat digunakan
Oleh warga untuk menyembuhkan penyakit

Maka dalam sujud Sapta darma
Segala sifat saudara yang baik itu
Dikembangkan kepada kesempurnaan
Dan sifat saudara yang buruk
Diruwat agar menjadi tawar

Demikianlah ajaran Sapta Darma
Yang datang dari Panuntun Agung Sri Gutomo
Baik untuk didengar, dipahami, dan dijalankan
Supaya dapat seseorang menjadi satria berbudi
Yang berpegang pada Wewarah Tujuh dan Sesanti:

Ing ngendi bae Warga Sapta Darma
Kudu sumunar pinda baskara!

Dengan demikian para warga itu
Sesungguhnya juga mengikut pada petuah:
Sepi ing pamrih rame ing gawe!

@@@

wongalus

Categories: SAPTA DHARMA | 121 Komentar

PAGUYUBAN KEJAWEN HARDOPUSORO


Paguyuban ilmu mistik kebatinan berlatar belakang budaya dan filsafat Jawa (Kejawen) ini tergolong tua usianya. Paguyuban ini banyak melahirkan kaum waskita dan paling berpengaruh pada masa akhir Kolonialisme di Indonesia.

Lebih mudah menelusuri aliran kebatinan dari riwayat hidup para pendirinya. Sebab dari para pendiri paguyuban, kita bisa mengetahui apa dan bagaimana awalnya mereka mendapatkan WAHYU (saya menggunakan pendekatan internal dengan menggunakan bahasa kalangan kebatinan. Dalam khasanah agama Islam, Wahyu hanya diturunkan kepada para Nabi, sedangkan sesuatu yang turun kepada manusia biasa yang khusus diberikan oleh Tuhan karena sebab-sebab tertentu biasa disebut dengan Ilham atau intuisi yang sangat jelas dari Tuhan. wongalus). Dan dari turunnya WAHYU kepada seseorang tokoh pendiri kebatinan itulah, kita bisa mengetahui latarbelakang sosiologis dan filosofisnya.

HARDOPUSORO didirikan oleh KUSUMOWIDJITRO. Siapa Kusumowidjitro? Dia adalah salah seorang Kepala Desa di daerah Purworejo, Jawa Tengah. Purworejo adalah kota arah barat yang berbatasan dengan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kisahnya, pada tahun 1880 Kusumowidjitro tidak tahan dengan perlakuan kolonial yang menindas rakyat. Ia tinggalkan jabatannya dan pergi meninggalkan desanya karena melaksanakan aksi menolak membayar pajak.

Selama berpuluh-puluh tahun, dia mengembara ke berbagai hutan di Jawa Timur. Pengembaraan dihabiskan untuk berpuasa dan bertapa di dalam belantara yang penuh tantangan. Tidak ada guru spiritual khusus yang dipercayai menuntun perjalanan spiritualnya. Pada suatu hari, WAHYU turun setelah dia mencapai situasi PASRAH TOTAL pada Tuhan. Wahyu juga berbunyi agar dia menyebarkan kebaikan sekaligus ajaran-ajaran kebaikan kepada sesama manusia.

Hadirnya wahyu yang merupakan DAWUH dari GUSTI KANG AKARYO JAGAD ini jelas merupakan hal menandai berakhirnya satu era perjalanan spiritual untuk memasuki era baru yang lebih kompleks. Kusumowidjitro merasa itulah saat dia hidup kembali sebagai manusia yang sesungguhnya dititahkan mengemban tugas mulia: sebagai hamba-Nya. Dan dia pun mulai muncul di berbagai kota.

Pada tahun 1907, dia sudah diikuti oleh banyak pengikut di Banyuwangi. Namun sayangnya di tahun itu pula dia diusir oleh Pemerintah Kolonial Belanda karena khawatir melihat tanda-tanda gerakan kebatinan ini berbahaya dan bisa merongrong kewibawaan pemerintah kolonial. Untuk sementara waktu Kusumowidjitro mengasingkan diri ke hutan di wilayah pegunungan antara Malang, Blitar dan Kediri. Kharisma dan aura spiritual Kusumowidjitro tetap berbinar sehingga dia mendapatkan pengikut di era pengasingan diri ini.

Pada tahun 1913, Kusumowidjitro tercatat sudah muncul lagi di berbagai kesempatan. Salah satunya adalah hadir dalam forum paguyuban Masyarakat Teosofi –salah satu aliran kebatinan juga— dan dia berkhutbah di sana tentang praktik spiritual yang dijalaninya.

Hampir semua bagian ajarannya diakui masih misterius dan cukup sulit untuk dipaparkan. Sumber-sumber di paguyuban ini enggan memberikan keterangan. Bisa jadi ini dikarenakan sikap waspada para penganut paguyuban HARDOPUSORO karena saat itu pengawasan Belanda terhadap berbagai penganut aliran kepercayaan semakin ketat.

Penganut aliran kebatinan yang ada di paguyuban HARDOPUSORO melakukan kegiatan spiritual secara sembunyi-sembunyi dan menutupi aktivitas spiritual mereka dengan dalih acara SLAMETAN. Secara internal, ajarannya termasuk sulit sebagaimana paguyubannya yang tidak mudah dijumpai. Ajaran spiritual (wiridan) HARDOPUSORO pun dilarang untuk diamalkan bagi yang belum menjadi anggota. Segala pertanyaan menyangkut paguyuban ini juga dilarang untuk dijawab.

Biasanya Kusumowidjitro menyampaikan ajaran-ajaran mistik kebatinan pada tengah malam dengan memakai jubah putih. Pada setiap pertemuan, biasanya dilaksanakan tujuh tingkatan inisiasi atau pembaiatan. Setelah merampungkan pembacaan masing-masing jenjang wiridan tadi, hanya para anggota yang telah dibaiat pada level itu yang diijinkan keluar. Dalam satu sesi, hanya mereka yang telah menerima tujuh kali baiatan yang diijinkan tetap di tempat sampai akhir acara. Kemajuan melalui tingkat baiatan tergantung pada hafalan wirid dan pengamalan beberapa teknik tertentu yang berhubungan dengan tiap level.

Ajaran mistik HARDOPUSORO memang rumit. Dipenuhi dengan paradoks, dijejali dengan simbol-simbol dan mengatasi segala macam tataran akal. Berbagai macam teknik pada masing-masing baiatan itu diarahkan untuk membangkitkan kesaktian yang bersemayam di dalam tubuh.

TEKNIK UTAMA PEMBANGKITAN KESAKTIAN dilalui dengan cara KUNGKUM atau semedi dengan mengucap mantra, sambil duduk merendam diri sampai leher di sumber air yang dianggap memiliki daya keramat atau pertemuan antara dua aliran sungai yang oleh masyarakat biasa disebut dengan “tempuran”.

Pelahan-lahan latihan yang keras itu mengendur hingga akhirnya hanya cukup dengan SEMEDI atau MEDITASI dengan KAKI YANG DICELUPKAN DI DALAM SEMANGKUK AIR saja. Meskipun kekuatan magis atau KASEKTEN merupakan elemen pencapaian pada setiap jenjang baiatan, sesungguhnya TUJUAN AKHIR PERJALANAN SPIRITUAL PAGUYUBAN HARDOPUSORO adalah MELEBURNYA ANASIR FISIK DAN JIWA dari DIRI atau yang dikenal dengan MOKSA alias SUWUNG

Belum diketahui secara pasti, apakah paguyuban aliran kebatinan HARDOPUSORO ini masih ada di negeri kita atau tidak. Semoga masih ada sehingga kita tidak kepaten obor eksistensi saudara-saudara kita yang gigih berjuang untuk menemukan DIRI SEJATI ini.

wongalus

Categories: HARDOPUSORO | 70 Komentar

SUSILA BUDHI DHARMA


Salah satu aliran kepercayaan asli Indonesia bernafaskan Kejawen Islam ini sudah menyebar ke seluruh penjuru dunia. Jauh sebelum era globalisasi dan pasar bebas, SUSILA BUDHI DHARMA telah tersebar di 80 negara dengan anggota 20 ribu orang.

subuh

Nama Indonesia sebenarnya tidak jelek di dunia internasional. Negeri yang gemah ripah loh jinawi tata tentrem karta raharja dan kini sedang sedih karena berbagai aksi radikalisme, anarkisme dan nasionalisme yang memudar ini, sebenarnya menyimpan kekuatan spiritual yang justeru diakui di dunia internasional. Kekuatan spiritual ini bisa jadi cara olah batin untuk mengubah dunia. Salah satu bukti statemen itu adalah diterimanya salah satu aliran kebatinan Jawa (Kejawen) di dunia internasional sejak puluhan tahun yang lalu.

Subud didirikan oleh almarhum R. M. Muhammad Subuh Sumohadiwijoyo. Bapak (panggilan akrabnya di kalangan Subud) menerima latihan secara spontan (dalam khasanah internal Kebatinan dikatakan telah menerima WAHYU. Sebutan ini dari kacamata Agama Islam dinilai agak kurang PAS karena yang menerima wahyu hanya para nabi. Lebih tepatnya menerima ilham) pada tahun 1925, saat berumur 24 tahun. Subuh bercerita saat dia menerima wahyu: “Saat itu Bapak (Subuh menyebut dirinya sendiri dengan sebutan Bapak bukan “saya” atau “Kami” seperti kebanyakan orang) bekerja di kantor melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Tahu-tahu semua itu berhenti, berakhir. Akal tidak bekerja lagi. Kemudian Bapak menerima seperti yang akan Saudara terima di dalam latihan. Bapak tidak mencari ilmu, karena tidak mempunyai guru atau pengajar. Bapak hanya sekadar menerima, dan itu disebut Mukjizat Allah, Anugerah Tuhan. Itu hanya diberikan kepada orang kalau orang itu tidak mencarinya, sepi ing pamrih. Kalau seseorang menyerah dan pasrah dalam menerima Anugerah Tuhan, maka Tuhan akan memberi Anugerah-Nya…”

Inilah awal sejarah Subud yaitu ketika almarhum R. M. Muhammad Subuh Sumohadiwijoyo mendapatkan pengajaran langsung dari Tuhan. Kontak ini disusul dengan masa tiga tahun yang ditandai gejolak luar biasa di dalam jiwanya. Pada akhir masa itu, doanya terkabul dengan diperolehnya petunjuk bahwa karunia yang telah diterima beliau tidak hanya untuk dirinya sendiri dan dapat dibagi-bagikan kepada siapa saja yang berminat. Hanya disyaratkan bahwa anggota tidak boleh dicari-cari. Delapan tahun kemudian sejak diterimanya wahyu pertama tersebut, pada tahun 1933 Muhammad Subuh menamakan apa yang diterimanya ini sebagai LATIHAN KEJIWAAN. Subud sebagai organisasi kemudian dibentuk dan resmi berdiri tanggal 1 Pebruari tahun 1947 di Yogyakarta. Pada tanggal 23 Juni 1987, Muhammad Subuh dipanggil Sang Khalik di Jakarta dalam usia 86 tahun.

Muhammad Subuh dikenal para pengikutnya sebagai orang yang winasis, sakti dan waskita. Salah satu hal yang penting sebagai tonggak yang membesarkan organisasi ke dunia Internasional yang dipimpin Subuh ini adalah peristiwa sembuhnya Eva Bartok, artis Inggris setelah sakit bertahun tahun. Secara pribadi Subuh dikenal pula bertangan dingin dan mampu mengobati berbagai macam penyakit hanya dengan memasrahkan segala penyakit ke Tuhan. Apa komentar Subuh saat bisa menyembuhkan Eva Bartok? “Itu bukan Bapak yang menolong atau menyembuhkannya. Bapak hanya menunjukkan cara berbakti kepada Tuhan Allah, dan dia sembuh. Eva menjadi sehat, dan segala-galanya berakhir dengan baik. Bapak hanya menunjukkan cara berbakti. Kesehatan seseorang adalah perkara antara orang itu dan Tuhan Allah. Orang lain tidak dapat turut campur tangan…”

Bagi pengagumnya, figur Subuh tak hanya pribadi yang mempesona auranya, tapi lebih-lebih pesona spiritualnya. Maklum, Subuh bisa di-artikan sebagai Subud, nama kondang di peta spiritualitas. Subud adalah sejenis latihan spiritual yang diperoleh Subuh melalui sebuah pengalaman gaib pada 1925. Jalan spiritual itu kemudian disebut latihan kejiwaan Subud, kependekan dari Susila Budhi Dharma. Inti latihan kejiwaan itu berupa pasrah kepada Tuhan.

Manusia, menurut Subud, memiliki akses langsung dan cara yang unik untuk berhubungan dengan Tuhan. Subud, menurut Suryadi Haryono, penasihat Yayasan Susila Dharma Indonesia, bukan agama, ajaran, atau sejenis meditasi. Sebagian kalangan muslim memandang Subud, seperti aliran kebatinan umumnya, mengabaikan syariat. Benarkah? “Subud tidak bermaksud memisahkan manusia dari agamanya. Justru melalui proses pembersihan diri ala Subud, orang semakin mengamalkan ajaran agama,” kata Suryadi.

Idries Shah (1926-1996), penulis tasawuf kelahiran India, pernah menyatakan bahwa Subud adalah bentuk popularisasi dari tasawuf dan latihan kejiwaan. Subud tak ubahnya olah batin cara sufi. Muhammad Subuh memang pernah berguru kepada Kiai Abdurrahman, guru tarekat Naqsabandiyah di Kota Semarang. Namun, Subuh menolak penilaian keterkaitan antara Subud dan tasawuf. Dalam otobiografinya, Subuh menyatakan bahwa latihan kejiwaan tak diperoleh dari manusia. Sebagai organisasi, Subud berdiri secara

resmi pada 1947 di Kota Yogya. Pada 1957, markas Subud berpindah ke kawasan Cilandak, Jakarta. Pengikut Subud hingga 1950-an masih terbatas di Pulau Jawa. Pada 1995, jumlah mereka secara nasional sekitar 15 ribu orang, demikian menurut esai ilmiah Robert J. Kyle dari Jurusan Arkeologi dan Antropologi Universitas Nasional Australia. Mereka tak hanya datang dari berbagai kelas sosial, tapi juga dari penganut agama resmi di Indonesia: Islam, Katolik, Protestan, Buddha, dan Hindu.

Sejak 1957, ratusan orang di Amerika Serikat, Eropa, dan Australia mulai masuk Subud. Penyebaran ini berkat artikel-artikel di koran dan jurnal Eropa tulisan Husein Rofe, ahli bahasa asal Inggris yang pernah berguru kepada Subuh. Juga buku-buku lain. Kini jumlah anggota Subud diperkirakan 20 ribu orang, yang tersebar di 80 negara. Mereka membentuk organisasi nasional di negara masing-masing dan secara internasional mendirikan World Subud Association. Lalu, ada juga organisasi Susila Dharma Internasional, yaitu lembaga swadaya masyarakat yang berafiliasi pada organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Di Indonesia, pengikut Subud ber-organisasi di bawah Yayasan Susila Dharma Indonesia. Dan kini pelatih spiritual tertingginya adalah Siti Rahayu Wiryohudoyo, anak tertua Subuh.

Subud adalah bagian dari pertumbuhan mistisisme atau sebut saja gerakan kebatinan di Jawa pasca kemerdekaan. Mereka yang terdaftar di meja birokrasi pemerintah pada 1970-an berjumlah 350 kelompok. Nama kelompok itu antara lain Sumarah, Sapta Darma, dan Pangestu. Hanya Subud yang mendunia. Fenomena itu, menurut studi Robert J. Kyle, adalah bagian dari pencarian identitas budaya menghadapi gemuruh modernitas yang mulai menyentuh Indonesia. Ada berbagai pandangan dari beberapa pengamat, misalnya Koentjaraningrat, tentang faktor kemunculan gerakan kebatinan di Jawa. Ada yang memandang gerakan itu sebagai pelarian psikologis masyarakat dalam menghadapi kerasnya kondisi sosial ekonomi, pe-perangan, kerawanan sosial, dan cepatnya perubahan sosial. Pengamat lain berpendapat itu merupakan bentuk ketidakpuasan terhadap kurangnya toleransi dan kecenderungan ritualistik dari kaum beragama. Kegagalan agama-agama untuk menjadi sumber moralitas juga dituding sebagai biang keladi. “Semua pandangan itu ada benarnya,” kata Robert dalam esai ilmiahnya. Apa pun latar sosiologis kelahirannya, kehadiran Subud terbukti memenuhi dahaga spiritual zaman, terutama di Barat.

***

SUBUD merupakan singkatan SUSILA BUDHI DHARMA. SUSILA menunjukkan sifat insan yang memiliki tabiat manusia yang sempurna sesuai dengan kodrat Tuhan. BUDHI berarti bahwa di dalam diri manusia terdapat suatu daya luhur yang dapat membimbingnya bila ia mampu menginsyafi kehadiran daya tersebut. DHARMA melambangkan penyerahan manusia kepada Kebesaran Tuhan Yang Mahakuasa. Latihan kejiwaan Subud adalah praktek rohani yang merupakan inti eksistensi Persaudaraan Subud. Dalam latihan kejiwaan Subud, si pelatih menyerah sepenuhnya kepada, membuka rasa dirinya kepada, dan mengalami kontak langsung dengan Kekuasaan Tuhan. Selama latihan berlangsung, si pelatih hanya mengikuti apa saja yang timbul dalam rasa dirinya dari saat ke saat. Pengalaman ini bersifat sangat pribadi, sehingga masing-masing pelatih akan mengalami hal-hal yang berbeda-beda. Karena apa yang diterima dalam latihan kejiwaan Subud bersifat sangat khas dan dalam, maka pengalaman-pengalaman para pelatih tidak mungkin digambarkan secara memuaskan dengan kata-kata. Dijelaskan bahwa tujuan utama latihan kejiwaan Subud adalah memberdayakan kita, dengan menyerah kepada Kekuasaan Tuhan serta mengikuti petunjuk-Nya, agar lambat laun dapat mencapai keadaan kodrati kita yang sebenarnya sebagai manusia sempurna, atau insan kamil. Siapa saja boleh masuk persaudaraan Subud asalkan calon anggota sudah mencapai umur 17 tahun, telah menjalankan masa percobaan selama tiga bulan guna mengerti asas dan tujuan Subud, dan tidak ada halangan apa-apa, maka barang siapa akan diterima sebagai anggota Subud.

Subud bukanlah organisasi atau sekte yang eksklusif, karena menerima anggota dari segala macam agama, maupun mereka yang belum beragama. Oleh karena esensi Subud adalah kebaktian kepada Tuhan Yang Mahakuasa, maka tidak ada alasan untuk terjadinya konflik dengan agama yang diyakini. Malah sebaliknya, banyak anggota Subud yang mengaku setelah mengikuti latihan kejiwaan mulai menghayati agamanya sendiri dan menghormati agama-agama orang lain. Latihan kejiwaan Subud dimulai dengan PEMBUKAAN. Selama beberapa bulan setelah dibuka, seseorang yang baru menjadi anggota dianjurkan melakukan latihan dua kali seminggu selama setengah jam. Bila sudah cukup terbiasa menerima latihan, dia akan dibenarkan berlatih tiga kali seminggu.

Latihan kejiwaan Subud dapat dilakukan baik dalam kelompok maupun sendirian. Bila keadaan memungkinkan, idealnya ialah berlatih dua kali seminggu dalam grup dan sekali seminggu seorang diri. Kini, di berbagai komunitas di seluruh dunia terdapat sebanyak 385 grup Subud. Komite-komite setempat mengusahakan sarana latihan. Di sebagian besar negeri tempat Subud berakar ada organisasi nasional yang mengadakan kongres berkala agar para anggota dapat baik bersilatulrahmi maupun berbakti bersama kepada Tuhan Yang Mahaesa. Semua organisasi nasional mengambil bagian dalam Asosiasi Subud Sedunia (World Subud Association, WSA) dan memilih direktur dan pejabatnya. WSA mensponsori kongres internasional yang diselenggarakan tiap empat tahun sekali. Pada tahun 1997 kongres tersebut akan diadakan di kota Spokane, Washington, Amerika Serikat. Kongres-kongres sebelumnya diadakan di Kolombia, Australia, Inggris, Kanada, Jerman, Indonesia, Jepang, dan Amerika Serikat.

Dalam salah satu transkrip ceramahnya kepada para calon anggota Subud di Singapura, pada 16 April 1960 Muhammad Subuh mengatakan bahwa Subud bukanlah agama baru, juga bukan sebagian agama yang sudah ada, apalagi suatu ilmu. Subud hanya merupakan lambang cara hidup manusia sempurna. Susila Budhi Dharma oleh sebab itu merupakan lambang tindak-tanduk manusia di dalam latihan kejiwaan Subud, artinya apa saja yang terjadi di dalam latihan kejiwaan Subud sungguh-sungguh merupakan Kehendak Tuhan dan terjadi karena memang demikianlah Kehendak Tuhan atas diri kita. Itu amat cocok dengan kitab bahwa Tuhan selalu dekat pada manusia, atau bahwa manusia sangat dekat pada Tuhan, bahwa Tuhan memberikan apa saja yang dibutuhkan manusia, dan bahwa manusia dapat menerima apa saja yang diberi oleh Tuhan. Apa yang harus kita serahkan kepada Tuhan? “Bukan harta benda kita, bukan apa yang kita cintai, apalagi apa yang kita miliki, karena Tuhan tidak membutuhkan semua itu. Yang harus kita serahkan ialah akal-pikiran, hati, dan nafsu, karena itu semua merupakan alat-alat yang selalu menghalang-halangi kita kalau mau dekat pada Tuhan..” kata Muhmmad Subuh.

Menurut Subuh, Tuhan memerintah tanpa perkakas atau bahan, sedangkan manusia, kalau mau membuat suatu barang, membutuhkan, misalnya, meja, kayu, paku, martil, dan alat-alat lainnya. Untuk bisa membuat bom atom, manusia membutuhkan alat-alat yang lebih banyak lagi untuk mengubah bahan baku menjadi bom atom. Tetapi semua itu tadi tidak diperlukan Tuhan. Tuhan Allah mencipta tanpa perkakas dan bahan. Di sini terang sekali bahwa untuk dapat mengerti Kehendak Tuhan tidak ada jalan lain buat manusia kecuali betul-betul menyerah, karena hati dan akal pikirannya tidak mungkin akan dapat bertemu dengan Tuhan. “Itulah yang kita lakukan dalam latihan kejiwaan. Kita hanya menyerah saja tanpa menggunakan akal-pikiran, hati, dan nafsu, karena tugas kita ialah hanya sekadar menerima jatah yang Tuhan catukan kepada kita. Demikianlah dapat dimengerti bahwa Subud itu hanya merupakan lambang kehidupan manusia yang wajib menurut Kehendak Tuhan melulu serta melaksanakan Perintah-Nya di dunia, dan demikian pula di akhirat.” Ujar Subuh.

Itulah karenanya maka dalam mengikuti latihan kejiwaan Subud kita tidak mempunyai ajaran, tidak ada yang perlu kita pelajari, karena yang dihendaki tidak lain kecuali sungguh-sungguh menyerah. Siapa saja yang mengatakan bahwa ia tahu di mana jalan menuju ke Tuhan sebenarnya mendahului pemberian Tuhan sebelum ia dapat menerimanya. Tidak ada yang perlu kita lakukan kecuali menerima apa yang diberi-Nya, atau apa yang menjadi Kehendak Tuhan atas diri kita. Itulah sabda sejati para nabi, “Asal engkau pasrah kepada Tuhan dengan ikhlas dan jujur, Tuhan akan memayungi dan menuntun dirimu.”

Di dalam latihan kejiwaan kita tidak mempunyai kemauan satu pun. Menurut Subuh, kita tidak mempunyai permohonan satu pun. Kita hanya sekadar menerima apa saja yang Tuhan berikan. Tidak patut kalau kita meniru atau mencontoh orang lain. Kita masing-masing harus menemukan dan menempuh jalan sendiri ke Tuhan. Biasanya, kalau berguru, seorang murid banyak diajari untuk melakukan persis apa yang dilakukan oleh gurunya, agar ia dapat menggayuh apa yang telah tercapai oleh sang guru. Sebenarnya itu keliru, sebab jangankan di antara guru dan murid-muridnya, di antara saudara kandung saja sudah banyak perbedaannya. Dengan demikian tentunya kita dapat mengerti bahwa jalan yang cocok untuk seorang guru dalam hal menemukan Tuhan, belum tentu cocok untuk murid-muridnya. Subuh menjelaskan kalau kita sungguh-sungguh sudah benar-benar dapat mengenal aspek halus kita, maka di dalam segala hal kita akan dituntun oleh Kekuasaan Tuhan, sebab Kekuasaan Tuhanlah yang bekerja di dalam dan di luar kita, sehingga di mana saja, di kantor atau sedang menyetir mobil, atau melakukan apa saja, kita akan selalu dituntun oleh Kekuasaan Tuhan. Sungguh jelas apa yang tersabda di dalam Alquran, “Sebelum bertindak, ucapkanlah bismillaahir rahmaanir rahiim.

Itu, kata Subuh, mengandung arti bahwa kita mengikuti Tuntunan Tuhan dan hanya akan melakukan apa yang dititahkan-Nya. Saudara tidak akan tergesa-gesa bertindak dan baru setelah itu ingat Tuhan, sehingga menyesal, merasa kecewa dengan apa yang telah Saudara lakukan. Kalau sebelum kita mulai bekerja Tuhan Allah selalu ada di dalam kesadaran kita, maka segala apa yang kita kerjakan nanti akan benar. “Itu juga mengandung arti bahwa kita tidak boleh bertindak tanpa Tuntunan Tuhan, karena jika Tuhan Allah kita lupakan, kita tidak akan mendapat Pertolongan-Nya kalau ternyata tindakan kita salah. Kekuasaan yang kita saksikan, hanya untuk meyakinkan bahwa Kekuasaan Tuhan Yang Mahakuasa bekerja di dalam kita, tidak ada hanya di dalam diri kita, melainkan juga ada di dalam tiap-tiap ciptaan. Itulah sebabnya, maka di dalam latihan kejiwaan kita tidak akan merugikan agama kita masing-masing. Apa yang kita alami dan lakukan akan berasal dari Kehendak Tuhan, dan kita hanya membuka apa yang sudah ada di dalam kita,” ujar Subuh.

Oke deh, salam damai di alam kelanggengan buat Pak Subuh.

wongalus

Categories: SUSILA BUDHI DHARMA | 17 Komentar

SHOLAT DAIM HADAPI 17 RIBU BOM TAUHID


Masih ingat kisah nyata seseorang pahlawan tauhid. Perempuan pula. Namun berani menceburkan diri ke dalam tungku api gara-gara menggenggam keyakinan bahwa Tuhan itu adalah Allah SWT dan bukan yang lain? Ya..Namanya Masyitoh, seorang budak tukang sisir keluarga Firaun di Mesir.

Suatu ketika, Firaun geram dengan meluasnya pengaruh Musa A.S di masyarakat Mesir. Hingga di dalam kerajaan Mesir juga sudah mulai bertebaran pengikut Musa namun mereka masih diam-diam karena ancaman nyawa dari Firaun bila mengingkari bahwa dirinya adalah Tuhan. Sementara ajaran Musa berbunyi Tuhan hanya satu yaitu Allah SWT.

Terkuaknya keimanan Siti Masyitoh ini bermula ketika suatu hari budak perempuan ini menyisir rambut putri Fir’aun. Tiba-tiba sisir itu terjatuh, dan seketika Siti Masyitoh mengucap “Astaghfirullah…” Sehingga terbongkarlah keimanan Siti Masyitoh yang disembunyikannya. Mendengar ceritera putri Firaun bernama Hamman bahwa sang pelayan berani memeluk keyakinan yang dibawa Musa, Fir’aun naik pitam. “Panggil Masyitoh kemari”, perintah Fir’aun kepada pengawalnya. Masyitoh datang menghadap Fir’aun dengan tenang. Tidak ada secuil pun perasaan takut di hatinya. Ia yakin Allah senantiasa menyertainya.

“Masyitoh, apakah benar kamu telah memeluk agama yang dibawa Musa?”. Tanya Fir’aun. “Benar”, jawab Masyitoh mantap. “Kamu tahu akibatnya ? Kamu sekeluarga akan saya bunuh”, bentak Fir’aun. “Saya memutuskan untuk memeluk agama Allah, karena saya telah siap pula menanggung segala akibatnya” “Masyitoh, apa kamu sudah gila…Kamu tidak sayang dengan nyawamu, suamimu dan anak-anakmu” Masyitoh menjawab: “Lebih baik mati daripada hidup dalam kemusyrikan.“

Melihat sikap Masyitoh yang tetap teguh memegang keimanannya, Fir’aun memerintahkan kepada para pengawalnya agar menghadapkan semua keluarga Masyitoh kepadanya. “Siapkan sebuah belanga besar, isi dengan air dan masak hingga mendidih” perintah Fir’aun lagi. Ketika semua keluarga Siti Masyitoh telah diseret di depannya, Fir’aun memulai pengadilan..

“Masyitoh, kamu lihat belanga besar di depanmu itu. Kamu dan keluargamu akan saya rebus. Saya berikan kesempatan sekali lagi, tinggalkan agama yang dibawa Musa dan kembalilah untuk menyembahku. Kalaulkah kamu tidak sayang dengan nyawamu, paling tidak pikirkan keselamatan bayimu. Apakah kamu tidak kasihan padanya” Mendengar kalimat terakhir Fir’aun, Siti Masyitoh sempat bimbang. Tidak ada yang dikhawatirkannya dengan dirinya, suaminya, dan anak-anaknya yang lain, selain anak bungsunya yang masih bayi.

Naluri keibuannya muncul. Ditatapnya bayi mungil dalam gendongannya. “Yakinlah Masyitoh, Allah pasti menyertaimu”, kata sisi batinnya yang lain. Ketika itu terjadilah suatu keajaiban. Bayi yang masih menyusu itu berbicara kepada ibunya, “Ibu, janganlah engkau bimbang. Yakinlah dengan janji Allah” melihat bayinya dapat berkata-kata dengan fasih, menjadi teguhlah iman Siti Masyitoh. Ia yakin hal ini merupakan tanda bahwa Allah tidak meninggalkannya.

Gusti Allahpun membuktikan janji-Nya pada hamba-hamba-Nya yang memegang teguh keimanannya. Ketika Siti Masyitoh dan keluarganya dilemparkan satu persatu pada belanga itu, Allah telah terlebih dahulu mencabut nyawa mereka, sehingga mereka tidak merasakan panasnya air dalam belanga itu.

Ketika Nabi Muhammad SAW ber-Isra dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Palestina, beliau mencium aroma wangi yang berasal dari sebuah kuburan. “Kuburan siapa itu Jibril?” tanya Nabi. “Itu adalah kuburan seorang wanita shalihah yang bernama Siti Masyitoh,” jawab Jibril.

Itulah sedikit kisah nyata yang menggambarkan betapa berat menggenggam keyakinan akan kebenaran ayat-ayat-Nya/rumus-rumus-Nya dan akhirnya mengakui bahwa semua yang ada ini ciptaan-Nya. Ganjarannya adalah kemuliaan hidup abadi yang aromanya menebar di seluruh penjuru langit seperti Siti Masyitoh tersebut. Lain dulu lain pula tantangan di jaman sekarang….

Kini, kita dihadapkan pada berbagai hal yang menggoyahkan keyakinan. Kita ditantang oleh TUJUH BELAS RIBU BOM SIAP MELEDAK, BOM ITU yang sesungguhnya menjadi PENGHANCUR akidah ketauhidan kita bahwa TIADA TUHAN SELAIN ALLAH dan MUHAMMAD ADALAH RASUL-NYA.

PENGHANCUR akidah itu amat banyak dan siap untuk menjerumuskan kita hingga ke taraf binatang. Misalnya mulai yang sederhana: yakin bahwa dokter atau dukun yang menyembuhkan penyakit, uang adalah sumber kebahagiaan, tidak bisa senang tanpa kau disisiku, kedudukan pangkat derajat, harta benda dan wanita cantik mulus aduhai dan seterusnya…

PENGHANCUR akidah yang berat seperti: pengetahuan adalah alat pencerahan, akal budi adalah segala-galanya, agama saya adalah satu-satunya yang paling benar, tidak bisa hidup tanpa kepercayaan A, B, atau C, dan seterusnya…

Perlulah diketahui bahwa BERTAUHID MURNI adalah HANYA MENGAKUI BAHWA ALLAH SWT ADALAH SATU-SATUNYA TUHAN PENGUASA ABSOLUT ALAM SEMESTA. IMPLEMENTASINYA PENGAKUAN TERSEBUT BERPERILAKU YANG MENCERMINKAN KEYAKINAN DIA ADALAH SUMBER SEGALA-GALANYA. BAHWA DIA ADALAH SUMBER KEPERCAYAAN DAN ILMU PENGETAHUAN, SUMBER ENERGI ALAM SEMESTA, SUMBER KEBAHAGIAAN, SUMBER CINTA KASIH, SUMBER KEBERADAAN SEGALA SESUATU, dan seterusnya.

ALLAH SWT adalah SATU-SATUNYA GURU SEJATINYA MANUSIA DAN HANYA KEPADA-NYA BATIN MANUSIA HARUS DIFOKUSKAN, DIARAHKAN, DIKOMUNIKASIKAN, DAN DIPASRAHKAN DETIK DEMI DETIK… TIDAK ADA YANG LAIN. APAKAH ITU DALAM POSISI DUDUK, BERDIRI, BERJALAN, DAN BERBARING. BATIN YANG SELALU MEMANGGIL HU ALLAH…HU ALLAH…. Inilah yang dinamakan SHOLAT DAIM.

Semoga saya, Anda, dan Kita semua kuat untuk memegang ketauhidan yang sangat berat ini dengan perlindungan Gusti Allah. Dan hati kitapun tanpa ragu siap untuk memegang bom di tangan yang pasti meledak seperti Siti Masyitoh.

@@@

wongalus

Categories: SHOLAT DAIM | 27 Komentar

PENGAJARAN-PENGAJARAN TUHAN


Jangan khawatir bila jarak hidup kita dengan para Rasul teramat jauh hingga ratusan bahkan mungkin ribuan tahun. Sebab Tuhan sendirilah yang akan mengajari kita secara langsung tanpa perantara.

Tuhan Maha Adil dan Bijaksana. Tidak ada satu pun ciptaan yang muncul, lahir, dan bermetamorfosa tanpa iradat/kehendak-Nya. Apakah itu sebutir pasir di bawah batu besar di ujung planet di sisi paling timur di ujung galaksi yang ada di jagad raya ini, ataukah Anda dan saya yang kini sedang membaca ataukah menulis kalimat-kalimat ini, semuanya ada karena kehendak-Nya.

Dari kehendaknyalah kita ada, kita muncul dan kita lenyap. Dia pun memiliki rancangan kapan, dimana, dan mengapa sesuatu hal itu harus diadakan dan dilenyapkan. Atau kenapa sesuatu hal itu tidak diadakan dan dilenyapkan. Ibarat robot yang di dalamnya ada tenaga potensial pegas, kapan pegas itu mulai diputar dan kapan akhirnya berhenti bergerak.

Demikian jugalah manusia. Manusia juga memiliki energi potensial yang sudah dirancang oleh Tuhan Yang Maha Mengatur seluruh tatanan ini. Dia akan memulai menghidupkan seorang manusia karena alasan tertentu di satu kurun waktu tertentu, dan kemudian menjalankan hidup manusia tersebut hingga akhirnya Tuhan memanggilnya kembali ke sisi-Nya.

Seyogyanyalah kita mengetahui kenapa Tuhan menciptakan, menggerakkan, merancang, menghidupkan, mematikan manusia. Manusia pada hakekatnya telah dikaruniai kemampuan khusus untuk mengenali sebab dirinya diadakan ini.

Riwayat kerasulan sepanjang masa, mulai dari Adam A.S. hingga Muhammad, S.A.W, sesungguhnya menggarisbawahi satu kesimpulan yang sama membenarkan/menjustifikasikan pesan; BAHWA ADA SATU SANG MAHA PENCIPTA YAITU ALLAH SWT.

Bagaimana dengan kita sekarang yang hidup ratusan bahkan mungkin ribuan tahun jaraknya dengan para Rasul? Kita tidak perlu khawatir kehabisan petunjuk Tuhan.

Petunjuk Tuhan tidak datang dari langit di saat khusus, misalnya bila kita sedang sholat, sedang zakat, sedang puasa atau sedang haji dan seterusnya. Sebab PETUNJUK TUHAN ITU TELAH ADA DISEKELILING KITA, DI DEPAN KITA, DI BELAKANG KITA BAHKAN DI DALAM DIRI KITA.

Hakekat Ibadah sesungguhnya manusia adalah hidup manusia itu sendiri. Seluruh aktivitas hidup manusia detik demi detik sejatinya adalah ibadah yaitu aktivitas yang dipersembahkan kepada Tuhan melalui kesadaran akal budi dan rasa sejatinya.

PETUNJUK TUHAN BISA DIKENALI sejak manusia menyadari bahwa dia memiliki kesadaran. Kesadaran bahwa SEGALA SESUATU ADA YANG MENGATUR, entah itu nafas, gerakan sadar dan bawah sadar, kedipan mata, memanjangnya rambut, dan yang lain.

SIAPA YANG MENGATUR? Yang jelas, YA YANG MEMILIKI KEMAMPUAN MENGATUR SELURUH PERGELARAN ALAM SEMESTA INI, YAITU TUHAN SEMESTA ALAM, GUSTI ALLAH SWT.

Berbahagialah dan bersyukurlah bila Anda hidup di jaman sekarang. Sebagaimana hendaknya manusia bersyukur hidup bersama para Rasul. Kapanpun manusia dihidupkan, dia harus bersyukur.

Bagi saya, Anda, dan semua manusia tidak ada alasan untuk tidak mensyukuri semua pemberian-Nya yang Maha Pemberi Kasih dan Sayang. ANDA, SAYA DAN KITA SEMUA PASTI DIBERIKAN PENGAJARAN OLEH TUHAN SECARA LANGSUNG. TANPA PERANTARA (RASUL) LAGI KARENA DIA TELAH PERCAYA BAHWA KITA MEMANG TELAH MAMPU UNTUK BELAJAR TANPA PERANTARA.

Pengajaran Tuhan dalam hidup kita sangat beragam bentuknya. Ada yang melalui sakit di tubuh, kesedihan, penderitaan, duka nestapa, rasa iba, rasa jengkel, rasa kasih sayang, rasa sehat, rasa sombong congkak, rasa iri dengki, rasa takabur, rasa adigang-adigung adiguna, rasa kalah, rasa menang, rasa dengki… dll. Pendeknya bila biasanya kita mengatakan kita sedang diuji dengan kesenangan dan kesusahan itu hakekatnya adalah pengajaran-pengajaran Tuhan.

Bisa disimpulkan:

Pertama, PETUNJUK TUHAN itu semacam rambu-rambu lalu lintas yang pasif yang sudah teronggok di sekeliling kita.

Kedua, PENGAJARAN TUHAN adalah aktivitas hidup TUHAN UNTUK MENUNTUN KITA AGAR SESUAI DENGAN IRADAT/KEHENDAK-NYA.

Ketiga: HANYA TUHANLAH SATU-SATUNYA PENCIPTA RAMBU-RAMBU LALU LINTAS KEHIDUPAN DAN HANYA TUHANLAH SATU-SATUNYA GURU SEJATI HIDUP MANUSIA.

Wongalus

Categories: PENGAJARAN PENGAJARAN TUHAN | 7 Komentar

KEPADA PARA PENDAKWAH ISLAM


Strategi dakwah haruslah yang komunikatif menghargai universalitas dan pluralitas budaya. Tidak boleh dengan agitasi dan teror.

Di kampung halaman saya, ada beberapa alumnus Ponpes Ngruki, Solo yang terkenal dengan kehebatannya berdakwah. Ponpes yang diketuai Ustad Abu Bakar Baasyir ini di mata para penegak hukum (Polisi) konon dianggap ponpes tempat bersemainya bibit Islam garis keras yang kemudian dicap sebagai penyebar gerakan terorisme di Indonesia.

Selain alumnus Ponpes Ngruki, ada juga alumnus Al-Fatah, Desa Temboro, Kecamatan Keras, Magetan yang juga terkenal dengan para pendakwahnya. Konon, para alumnus ponpes ini terbiasa menggunakan metode dakwah dengan berjalan-jalan dari kampung ke kampung menyebarkan agama Islam. Konon, mereka hidup bergerombol seperti kaum nomaden. Membekali diri dengan kompor dan bahan makanan seadanya untuk diolah dan dikonsumsi di sela kesibukan berdakwah di masjid-masjid kampung.

Dari dua alumnus ponpes di kampung saya tersebut, saya ingin berbagi pengamatan. Setidaknya ada kemiripan kedua alumnus tersebut yaitu PENAMPILAN. Bila sebelum masuk ke Ponpes Ngruki dan Al Fatah hanya mengenakan sarung dan berpeci, maka usai lulus di kedua pondok tersebut penampilan mereka langsung berubah. Memakai jubah putih panjang, memelihara jenggot dan menggunakan penutup kepala putih. Apakah ini pertanda mereka sudah memasuki Islam secara penuh (kaffah), saya tidak berani untuk menjawab.

Yang jelas, secara pribadi saya mencatat hal-hal yang mencolok dari kedua alumnus ini. Setelah lulus dari Pondok, mereka rata-rata MERASA terpanggil dan berkewajiban untuk menyebarkan “agama Islam” kepada orang lain. Biasanya “agama Islam” dipahami dan dihayati hanya sebagai sekte aliran kepercayaan. Bukan sebagai keseluruhan manifestasi bangunan hidup alam semesta dan kemanusiaan.

Saya mencatat beberapa kelemahan mereka:

Pertama, rata-rata alumnusnya merasa lebih benar dan lebih takwa dibanding dengan orang lain. EGO/KEAKUAN-nya lebih tinggi sehingga orang lain dianggap sebagai obyek yang harus diIslamkan. Padahal, bila spiritualitas manusia sudah sedemikian tinggi maka EGO/KEAKUAN ini justeru harus dihilangkan sama sekali hingga sampai di taraf ORA DUWE RASA DUWE.

Kedua, mereka kurang EMPAN PAPAN dan KURANG TOLERAN. Biasanya tanpa mengenal lawan bicara, mereka langsung mengeluarkan jurus-jurus ayat-ayat suci dan mendakwa apa yang ada di luar ayat suci sebagai kafir, bid’ah dan takhayul. Harusnya mereka belajar secara mendalam berbagai “ilmu dunia” untuk mendukung dakwah, misalnya ilmu sosiologi, ilmu komunikasi dan psikologi. Mengeluarkan jurus persamaan dengan kitab suci secara langsung dan secara leterluks/teksbook bisa membawa pada AGITASI dan TEROR.

Ketiga, kurang menghargai UNIVERSALITAS DAN PLURALITAS budaya, adat istiadat masyarakat di sebuah wilayah/perkampungan. Hal ini nampak dari keinginan mereka untuk merubah budaya, adat istiadat lokal setempat yang dinilai belum Islam. Menurut mereka, hanya budaya tertentu saja (misalnya budaya Arab) saja yang dinilai sebagai budaya Islam.

Saya mencatat kelemahan-kelemahan mereka dengan harapan agar mereka memahaminya. Lantas kemudian melakukan koreksi untuk memperbaiki diri. Salah satu saran saya adalah: bila Anda sudah lulus ponpes terkenal tersebut, perbanyaklah terus menuntut ilmu. Hargai perbedaan budaya/adat istiadat dan hargai pula perbedaan sifat karakter masing-masing individu.

Islam diturunkan dengan damai, perlahan, santun dan mengedepankan cinta kasih, memahami prinsip universalitas dengan strategi yang cerdas. Harus menyatu, bersenyawa dan melebur dengan budaya masyarakat setempat. Bukan dengan dakwah yang keras, primordial dan radikal.

Mohon maaf bila pernyataan saya ini menyinggung Anda. Anggap ini sebagai kritik yang membangun dan keinginan saya untuk berbagi rasa welas dan asih karena sangat disayangkan bila niat suci yang ada di dada Anda harus pupus oleh tuduhan yang negatif.

Semoga kita semua selalu diberi-Nya keluasan nalar budi dan kebijaksanaan perilaku sehingga bisa bersenyawa dengan hati orang lain. Terima kasih dan mohon maaf bila ada yang kurang berkenan. Wass…

wongalus

Categories: STRATEGI DAKWAH | 11 Komentar

MAKNA PENGABDIAN PADA NUSA BANGSA


bendera

Yogyanira kang para prajurit Lamun bias sira anulada Duk inguni caritane Andenira Sang Prabu Sasrabhu ing Maespati Aran Patih Suwanda Lelabuhanipun Kang ginelung tri pakara Guna kaya purun ingkang den antepi Nuhoni trah utama Lire lelabuhan tri prakawis Guna bias saniskareng karya Budi dadya nanggule Kaya sayektinipun Du Bantu prang Magada Nagri Amboyong putrid dhomas Katur ratunipun Purune sampun tetela Aprang tandhing lan ditya Ngalengka nagri Suwanda mati ngrana

Terjemahan:

Seyogyanya wahai prajurit Tirulah sebisa-bisanya Cerita di zaman dulu, Yakni tangan kanan Sang Prabu Sasrabahu di Maespati Yang bernama Patih Suwanda Bekal pengabdiannya Meliputi tiga hal Guna, kaya dan purun yang selalu dipegang Sebagai seorang manusia utama Adapun ketiga bekal pengabdian itu GUNA berarti serba bisa Berusaha untuk selalu berhasil (memenangkan Negara/menjunjung tinggi negara) KAYA sesungguhnya Ketika menjadi panglima perang Melawan Negeri Magada Ia sukses memboyong putri domas (kejayaan bangsa) Kemudian dihaturkan kepada rajanya PURUN, ketika bertempur melawan raksasa Alengka Suwanda (berani mempertaruhkan nyawa) gugur di medan laga

Serat Tripama karya
Sri Mangkunegara  IV

Categories: PENGABDIAN NUSA BANGSA | 9 Komentar

Blog di WordPress.com. The Adventure Journal Theme.