PAGUYUBAN NGESTI TUNGGAL


Salah satu saat yang paling saya sukai saat malam hari adalah berkumpul dengan rekan-rekan wong Jowo yang menamakan dirinya Paguyuban Ngesti Tunggal (Pangestu). Jangan bayangkan paguyuban seperti ini semacam sekte tertutup, eksklusif dan wingit tapi sebaliknya. Mereka adalah sama seperti kita yang terbiasa diskusi ngalor ngidul secara ilmiah maupun batiniah.

Seperti Senin malam kemaren. Saya bergabung dengan komunitas ini untuk membahas satu buku induk Paguyuban Ngesti Tunggal yang bernama SERAT SASONGKO JATI. Setelah membaca dan mengartikan kata demi kata buku babon berbahasa Jawa itu, kami terlibat dalam diskusi tentang spiritualitas ketuhanan lintas agama dan kepercayaan.

Mulailah kami membahas tentang tingkatan-tingkatan untuk memahami hakikat sholat, mulai dari SEMBAH RAGA, SEMBAH CIPTA DAN SEMBAH RASA. Sholat diartikan sembah raga, karena di dalam sholat kita melakukan aktivitas fisik tertentu yang sesuai dengan syariat agama. Mulai dari apa arti dari mengangkat tangan saat takbir sampai sujud. Sholat diartikan sembah cipta apabila pikiran kita terfokus pada satu titik yaitu Gusti Allah. Dan yang terakhir adalah sholat sebagai sembah rasa, yaitu sholat adalah sebagai sarana rasa sejati kita untuk bertemu dengan Tuhan Yang Maha Dekat.

Mengartikan sholat semacam ini tentu saja tepat dan mendalam. Sholat tidak hanya aktivitas fisik, melainkan psikis dan juga ruhani kita haruslah madep mantep tanpa mikir ngalor ngidul lagi Semuanya bersatu dalam fokus dalam suasana batiniah yang hening untuk bertemu dan bertamu, menghadap wajah-Nya, berkomunikasi rasa antara aku sejati dengan Engkau Sejati yaitu, Allah.

Intinya, bahwa sholat adalah wahana dan sarana kita untuk manunggaling kawulo Gusti, bersatunya aku dengan AKU-NYA Tuhan. Persenyawaan ini bisa dipahami karena dalam sholat sesungguhnya kita sedang membuka kulit-kulit perasaan manusiawi kita yang kasar sehingga tinggallah dalam diri kita satu perasaan dasar yang murni atau rasa, yang merupakan jati diri seorang individu (aku). Aku Sejati inilah manifestasi Tuhan dalam individu tersebut. “Rasa adalah aku dan aku adalah Gusti”

Dalam sholat juga terungkap adanya tujuan hidup manusia yaitu untuk TAHU dan MERASAKAN. Rasa tertinggi dalam dirinya sendiri. Pengakuan akan rasa tertinggi ini dicapai dengan cara memiliki kehendak yang murni dengan cara memusatkan kehidupan batinnya, mengintensifkan dan memusatkan semua sumber spiritualnya pada satu fokus kecil namun mampu menghasilkan energi terbesar.

Pada tingkat pengalaman sholat yang merupakan kebersatuan dengan eksistensi tertinggi, kita bisa merasakan semua yang ada ini sejatinya SATU DAN SAMA, keakuan kita hilang dalam individualitasnya. Ini disebabkan karena rasa aku itu bersumber dari Gusti Allah, sebuah obyek abadi yang dialami semua subyek manusia.

Pengetahuan tentang rasa tertinggi merupakan tujuan pencarian mistik yang luhur dan harusnya menjadi tujuan keagamaan semua kepercayaan dan semua agama. Tindakan pemahaman ini sering dianggap memiliki dua tahap utama: NING harafiah berarti HENING, diam yang menunjuk kepada emosi yang setenang-tenangnya dan kemundian NING KEJERNIHAN dan PENGETAHUAN yang dalam, GERAK HATI yang mengikuti keheningan dan yang bisa merupakan sesuatu yang sangat emosional. Biasanya hal ini dilukiskan sebagai SUWUNG atau KOSONG atau KABEH KUI SEJATINE ORA ONO, SING ONO KUI DUDU. (Semua itu hakikatnya tidak ada, yang ada itu sesungguhnya tidak ada…)

Untuk mencapai sholat sekhusyuk-khusyuknya, seseorang harus NGESTI TUNGGAL. Ngesti artinya menyatakan semua kekuatan individu dan mengarahkannya langsung kepada sesuatu tujuan tunggal, pemusatan kemampuan fisik, psikologis dan ruhaniah ke ALLAH SWT saja. Hal ini merupakan penggalian mental yang intens pencarian pengertian yang didukung oleh kehendak yang tidak tertahankan dan suatu penggabungan ke dalam suatu kesatuan sederhana dari berbagai kekuatan di dalam individu tersebut. Semua indera, emosi, seluruh proses fisik psikis tubuh dibawa ke satu persenyaraan dan dipusatkan kepada SATU TUJUAN TUNGGAL, GUSTI ALLAH SWT…..

Akhirnya, tanpa kami sadari diskusi sedemikian gayeng. Malam yang dingin berganti pagi. Adzan subuh bergema dan kami bergegas untuk Ngesti Tunggal.

Wong Alus

About these ads
Categories: PAGUYUBAN NGESTI TUNGGAL | 40 Komentar

Navigasi pos

40 thoughts on “PAGUYUBAN NGESTI TUNGGAL

  1. pangestu itu kan yg di jogja yg di jalan melati wetan klo ndak salah ya ki?….
    dulu saya pernah punya anak didik les privat yg neneknya sudah sepuh…si anak itu katholik lha terus si neneknya kan sudah sepuh mau ke gereja jauh ndak kuat mau sholat juga ndak mampu…akhirnya ikut pangestu….saya ikut ketawa juga pada waktu itu karena saya ndak tahu apa2……mohon pembabarannya ki…pangestu itu apa dan kira2 ritualnya yg konon katanya…katanya lho ya….itu mencampur syariat dari semua agama…benar apa ndak….

    o iya kalo yg sejatine ora ono opo2, sing ono kuwi dudu …kalo menurut saya pribadi lebih condong ke pendapat pak damarjati….sejatine ora ono opo2 kejobo sing kondho…kalo yg berkata saja tidak ada bagaimana bisa berkata?….atau sejatinipun mboten wonten menopo menopo kejawi ingkang kajawi…artinya sesungguhnya tidak ada apa2 kecuali yg kecuali… yg kecuali itu adalah yg bersaksi atas kesuwungan yaitu ingkang jumeneng kalawan pribadi…yg jumeneng kalawan pribadi itu bukan Tuhan..karena Tuhan mengatasi jumeneng kalawan pribadi…atau dengan kata lain Allah itu qiyamuhu binafsihi tapi qiyamuhu binafsihi itu bukan Allah……

    nyuwun ngapunten apabila ada salah2 kata….ini cuma pendapat pribadi saya…tidak mengatas namakan apapun

  2. Kalau di Jogja, mungkin lokasi paguyuban ini ya seperti yang panjenengan sampaikan itu ki. Tapi pusat paguyuban itu sepertinya ada di Solo.
    Yang luar biasa dari para anggota Pangestu ini adalah olah rasa-nya yang luar biasa. Hanya duduk diam mereka bisa langsung NING dalam waktu sekejap. Langsung bisa mengalami Out of Body dan koneksitasnya dengan Gusti, luar biasa cepat. Bahkan saat merokok, misalnya, dalam hitungan detik mereka langsung “HILANG” dan sundutan mawa apinya ke tangan tidak membikin mereka bergeming.
    Mereka hebat dalam memprediksi apa yang akan terjadi dalam hitungan jam. Mungkin rasa sejatinya sudah begitu manunggal dengan Iradat Tuhan. Sabda Pandita Ratu, kira-kira kata yang pas buat mereka.
    Paguyuban ini sesungguhnya hanya perkumpulan yang sama-sama ingin ngesti tunggal. Anggotanya dari beragam agama. Persis seperti perkumpulan ahli makrifat. Salut untuk mereka!
    Kata “sejatine ora ono opo2, sing ono kuwi dudu” ada dalam bab terakhir buku babon WIRID HIDAYAT JATI, ki. Pak Damar mungkin mengutip buku karya Ronggowarsito yang hidup antara tahun 1802-1873 itu. Arti filosofis kata ini, sudah panjenengan beberkan di atas.
    Nuwun ki, semoga kita semua mendapat contoh yang nyata dari para saudara kita dari PANGESTU ini.
    salam asah asih dan asuh.

  3. ya inilah indahnya apabila perbedaan itu bisa mempertemukan satu sama lain, tidak hanya asal beda…..jadi selama ini saya salah sangka thd mereka, terimaksih atas pembabaran dan pencerahannya ki……ya mengenai perbedaan sejatine ora ono opo2 itu saya kira maksudnya sama cuma penyusunan katanya yg berbeda……saya ini merasa sebagai orang yang cubluk bila membaca karya2 pujangga yg luar biasa dan bisa njongko ratusan tahun kemudian, biasanya kalo jongkonya sudah terbukti terus saya manthuk manthuk…hehehehe

    nuwun

  4. Yth Ki M4stono, sama-sama ki. Kita semua memang wong cubluk yang ingin menjadi wong paripurna. Semua pasti berproses sedikit demi sedikit. Tidak ada orang yang sudah sempurna, yang ada adalah mereka yang berusaha berbuat yang terbaik sesuai dengan hatinya, rasa sejatinya yang bersuara kemudian perilakunya yang mengikuti. Rasa sejati akan menuntun wong cubluk seperti saya dan mungkin juga semua sanak kadang, untuk nggayuh kasampurnaning urip. Tubuh yang hanya wadah ini akan tertuntun secara alamiah dan tidak direkayasa untuk memperturutkan isi yaitu rasa tadi. Rasa yang sejati akan manunggal dengan Rasa Sejatinya Gusti. Semua akan terang benderang, yang tertutup akan tersingkap pelan-pelan dan kita akhirnya akan menuju pada Yang Maha Satu, Yang Maha Ada, Yang Maha MUtlak.. Salam sih katresnan. Nuwun.

  5. mohon maaf,saya ikutan nimbrung untuk minta penjelasan:
    # kegiatan paguyuban Ngesti tunggal ini,selain diskusi ilmiah dan batiniah apakah juga ada tindakan nyata bersama untuk melakukan penyembuhan bagi seseorang yg mengalami sakit jiwa dan kesurupan misalnya,karena anggotanya kan dari berbagai unsur keyakinan?
    # mungkinkah “seseorang yg sakit” itu digarap ber-sama2 untuk penyembuhan jiwanya hanya lewat doa/mantra/sugesti tertentu ?

    matur nuwun sanget lan nyuwun pangapunten mbokbilih anggen kula nyuwun pirsa kirang trep,awit kula estu2 cubluk ing bab punika.

    salam rahayu.

  6. Yth yang kung, sepengetahuan kami PANGESTU tdk memfokuskan diri pd pengobatan alternatif. Fokusnya pd bgmn agar pribadi bs ngesti ke yang Maha Tunggal. Nuwun. Rahayu

  7. salam kasugengan Ki..
    nyuwun gunging pangaksami… dulu waktu kecil saya disolo tahun 1973 SMP, saya juga pernah diajak pakde saya untuk berkumpul ikut rubuh rubuh gedang di Paguyuban ini didaerah ndanukusuman.. Ki, ingatan saya maaf kurang tajam saat ini.. maklum.. sampun tuek.., setelah baca postingan panjenengan saya seperti diingatkan.. bahwa pakde saya adalah salah satu anggota paguyuban ini.., namun.. saat ini beliau sudah mulang kajati.., ehhmm….., ada rasa menyesal.. belum sempat sungkem pada beliau sudah tiada…, mohon maaf.. Ki, curhat…,
    matur sembah nuwun
    salam sihkatresnan
    rahayu..,

  8. wongalus

    Yth Ki Hadi Wirojati, usia biologis dan fisik boleh tua, tapi semangat mental kita untuk nggayuh kawicaksanan dengan cara ngelmu dan laku harus tetap muda. Hingga kita nanti di ujung usia dan dipanggil menghadap ke hadirat Gusti. Lak mekaten tho ki? Hidup di dunia yang sangat pendek ini adalah ladang untuk mengumpulkan sangu menuju akhirat yang kekal. Semoga kita semua selalu diberi-Nya kekuatan untuk terus bersemangat menjalani waktu yang tinggal sesaat ini. Matur Nuwun ki, ngapunten wonten kata ingkang kirang pas. Salam sihkatresnan ugi. Rahayu.

  9. dipo

    Nyuwun sewu kagem Wong alus
    Kulo puniko sampun dangu boten nderek pakumpulan Pangestu awit tebih saking griyo pandamelan , kaping kalih ipun pancen kulo piyambak sampun dados tiyang katolik naliko th 1975 , punopo ingkang kaserat wonten ing kitab Sasangkojati kathah kamiripan kalian kitab suci katolik/kristen dados gampil nampinipun. ewo semanten taksih kathah ingkang dereng kawulo mangertosi bab : kados pundi lampahipun supados kawulo mangertosi bab AKU (jatidiri Roh ) supados kawulo inggih saget mbikak kesadaran pribadi bab “Tuhan ada dalam aku dan aku dalam Tuhan” matur nuwun , salam Rahayu

  10. wuuzz…salam.. hahahah.. “Aku tidak didalam ataupun diluar segala hal.. Akulah yg meliputi segala sesuatu tanpa terkecuali..” hahahah.. salam..

  11. salam kenal …..

  12. waduh rupane iki ono sing tak temokno anyar ning internetku, aku tertarik marang paguyuban NGESTHI THUNGGAL jarene koncoku soko BALI. wEJANGANE NING NGENDI SING CEDAK KARO OMAHKU? AKU NING SIDOARJO JATIM. MATHUR NUWUN

  13. ariswn

    nuwun sewu
    saya sudah mengikuti 7 pertemuan wajib bagi calon warga pangestu, maaf saya lupa namanya. pada mulanya memang saya kira Pangestu berbau klenik dan kejawen, tapi setelah mengikuti ceramahnya saya terkejut. jauhdari yg saya bayangkan.tidak ada unsur klenik sama sekali.tidak ada ilmu kanuragan dan sebagainya. memang cocok dinamai sebagai “fakultas psikologi”.karena memang bertujuan memperbaiki keadaan jiwa kita, supaya dapat ngesti terhadap Tuhan yg maha esa.Seperti yang tercantum dalam sabda tunggal, Pangestu bukanlah agama ataupun kepercayaan. Dalam pangestu, kita dibimbing utk mengerti arti sebenarnya hidup. cekap semanten atur kulo,nuwun.

  14. wawan praseno

    paguyuban ngesti di lampung dimana ya ki……….
    gimana caranya bisa mempelajari itu…………

  15. Puji Widodo

    Nuwun sewu, bade nyuwun pirso, menawi wonten bandung/jakarta wonten pundi alamatipun PANGESTU. Matur nuwun.

  16. herry warsono

    Panguyuban Ngesti Tunggal (Pangestu) hanya organisasi untuk merekatkan para anggotanya berdasarkan kesupeketan (keakraban).
    untuk penjelasan Panembah, memang secara substansi demikian, tetapi ada yg kurang pas ketika Ki wong alus menjelaskan “dalam sekejab” bisa NING, apalagi disundut rokok tidak terasa apa2..spt kebanyakan juga para sdr2 kita anggota Pangestu juga terkadang sangat sulit untuk mencapai “luyut”dalam setiap panembahnya, salah hambatannya adalah justru bekerjanya angen-angen kita ini. Seperti kalau kita sdg melakukan sholat..kan terkadang masih inget kerjaan, masih inget anak belum bayar kuliah, masih inget utangnya belum disaur..dll. Nah inilah problem kejiwaan dalam keseharian yang selalu dibahas di dalam setiap Olah Rasa itu.
    Olah Rasa adalah mendengarkan pengisian oleh salah satu anggota yg ditugaskan (scr organisasi) untuk mengisi OR tersebut, kemudian dilanjutkan dng tanya jawab, dan pengalaman para anggotanya dalam menekuni ajaran Suksma Sejati itu.
    Ini sepintas info buat sdr2ku yang mungkin ingin mengetahui tentang Pangestu. Tetapi saya yakin mesti kurang puas, untuk itu coba klu kebetulan sdg di Jakarta (pusat organisasi Pangestu berkedudukan di JKT), mampir ke jl Gandaria I/93 Jakarta Selatan, bertemu dengan Bapak Mahendra, klu di Bandung di Jl Haji Wasid no 33 Bdg.
    Tks atas perhatiannya dan atas fasilitas blog ini.

    Salam hormat
    Herry Warsono
    Peneliti Ketransmigrasian
    Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi
    Jl TMP Kalibata 17 Jakarta Selatan.

  17. Asri Soerjadi

    Pak,
    Ibu saya dulu mengikuti Pangestu dengan setia. Setiap 2 minggu sekali beliau tindhak Bowo Raos. Namun sejak 1984 ketika kami pindah rumah, beliau kehilangan jejak perkumpulan ini. Hingga sekarang setiap beliau selesai sholat, selalu berdoa menggunakan cara Pangestu – cara yang paling dikenal beliau untuk berkomunikasi dengan Gusti Allah. Terima kasih kepada Pak Herry Warsono yang memberi info pusat Pangestu di Jakarta Selatan. Apakah ada nomer telpon yang dapat saya hubungi untuk mengetahui jadwal Bowo Raos di jalan Gandaria ?

    Terima kasih
    Asri Soerjadi
    asri.soerjadi@yahoo.com

  18. rudi

    anda punya masalah problem hidup?hutang menumpuk?tiap hari di kejar rentenir?jangan putus asa,kami ada untk anda
    kami siap bantu masalah anda sampai selesai,aman mudah dan tanpa tumbal
    tidak melenceng dari keagamaan,insyaALLAH km menggunakan ilmu wali
    mahar gartissssssssssssss
    karena kmi lebih utamakan persaudaraan dari pada mahar
    hub kami
    sukocorudi@yahoo.co.id

  19. Oval75

    Ass. Ane sepakat dengan penjelasan ki wong alus mengenai sholat. Sholat tidak hanya secara fisik saja ttpi lebih kerasa bathinnya sehingga hati dan pikiran kita fokus ke Yang Maha Kuasa. Ane kurang tahu paguyuban ngesti tunggal secara mendalam, tapi dari keterangan ki wong alus, ane punya sedikit gambaran. Ane sepakat klu latihan dan wejangan agar kita lebih fokus dan konsen dalam beribadah utk masing 2x agama tdk masalah, tapi klu semua anggotanya yg berlainan agama dan mereka beribadah dgn mencampuradukkan semua agama, ane kurang setuju, dan ini salah. Orang menyembah berhala itu tujuan utk menyembah Tuhan ttpi mengapa Allah, SWT mengutus para Nabi untuk membetulkannya. Jadi kesimpulan menurut keyakinan ane bahwa “syari’at dan hakekat” itu harus sejalan dan kalau syari’at saja berbeda pasti hakekat yg ditujunya juga berbeda”.

  20. anwar

    alhamdulillah berkat rahmat rahmat allah,kami siap membantu saudara yg menderita sakit tp belum mendapat kesebuhan,insyaallah kami siap membantu baik masalah medis maupun non medis
    1)guna guna atau santet
    2)masalah rejeki supaya lancar karena allah
    3)memisahkan pil atau wil
    4)pelet atau wibawa
    5)dll
    kami siap melayani saudara yg membutuhkan jasa kami
    silahkan konsultasi
    anwarmuhamad93@yahoo.co.id
    insyaallah kami siap bantu
    wslm

  21. Wah saya jadi minder. Saya menjadi warga Pangestu sejak tahun l968. Sejak th 1976 saya menjadi katolik. Sekarang saya masih biasa-biasa saja. Tidak ada ilmu adikodrati yang saya miliki karena memang saya tidak pernah mendapatkan pelajaran tentang itu. Dari para siswa wreda (senior) saya pernah ditawari untuk menerima sejenis “mantra” yang dapat digunakan untuk memberi pertolongan atau menghindarkan diri dari godaan iblis, tetapi saya tidak mau, karena kata beliau-beliau itu “mantra” ini ibarat pistol yang masih kosong. Untuk menggunakannya harus diisi sendiri dengan peluru kita. Peluru kita adalah hasil penyiswaan kita sendiri yaitu eling, pracaya, mituhu kang didasari watak utama limang prakara: rila, narima, sabar, temen, budiluhur. Karena saya merasa belum apa-apa dalam penyiswaan ini maka saya tidak bersedia menerima, karena saya khawatir saya akan menjadi sombong karena memiliki ilmu adfi kodrati, padahal sesungguhnya ilmu saya tersebut belum dapat digunakan. Tentang kalimat ‘sajatine ora ana apa-apa, kang ana iku dudu’, berdasar pengertian saya membaca ajaran di dalam Pangestu selama ini saya berpendapat bahwa kalimat indah itu sebenarnya bukan permainan kata-kata. Kalimat sabda itu memberitahu kepada kita umat manusia bahwa sesungguhnya apa yang selama ini kita cerap dengan pancaindera ataupun perasaan kita sebagai sesuatu yang “ada” (being), itu sebenarnya adalah “tidak ada” (non being). “Ada” yang sejati itu immateriil (hak), sedang yang selama ini kita lihat, raba, rasakan, itu materiil (batil). Sesuatu “yang ada” hanya dapat dirasakan bukan oleh perasaan (hasil interaksi angen-angen dengan nafsu-nafsu) melainkan olah rahsa jati. Sabda Tuhan tidak diterima melalui telinga atau mata, melainkan langsung ke pusat hati sanubari penerimanya. Atas jasa dari para manusia pilihan yang “diperkenankan menerima sabda” tersebut kita dapat menerima petunjuk Tuhan dalam menjalani hidup ini. Jadi kita ini sebagai orang awam, bukan nabi, bukan rasul, bukan manusia linuwih, hanya menerima sabda dari tangan pertama, mungkin juga tangan kedua, tangan ke seribu, atau bahkan tangan ke satu milyard yang mengajari kita tentang sabda Tuhan. Tidak aneh apabila di antara kita orang awam sering berbeda pendapat tentang ajaran Tuhan. Asal kita pandai-pandai berserah diri saja dan mohon ampuannanNYA karena sering melanggar laranganNYA ; ‘SIRA AJA PADHA KESENGSEM PASULAYAN BAB PIYANDEL KANG SIRA DHEWE SEJATINE IYA DURUNG TUMEKA ING KASUNYATANE’ (Kamu sekalian jangan terlena dengan pertengkaran mengenai keyakinan yang kamu sendiri sejatinya juga belum sampai kepada kenyataannya. – Sasangka Jati Bab Tunggal Sabda)

  22. nyimak

  23. saya suka sama ini artikel

  24. baskoro

    Pangestu bukan agama,bukan klenik,bukan aliran kebatinan,bukan magic ,bukan sihir atau yg sejenisnya.Pangestu adalah kancah pengolahan jiwa semata-mata dengan dasar keTuhanan Yang Maha Esa

  25. Pakde Prasodjo

    Dimas Wong Alus,
    Salam rahayu,
    Sebagai perkenalan awal tentang apa Pangestu itu, artikel anda cukup bagus.
    Silahkan terus menulis, untuk mewakili pakaryan Suksma Sejati menyebarluaskan Pepadang-Nya agar sinar Ajaran dan Petunjuk-Nya memenuhi jagad raya, menebarkan kesejahteraan, ketenteraman dan kebahagiaan bagi seluruh umat manusia.
    Tulisan Dimas tidak perlu terkungkung dengan format dan bentuk serta simbol-simbol duniawi yang sebenarnya hanya rekaan akal dan pikiran manusia, sehingga dapat menimbulkan silang pendapat dan mungkin menumbuhkan apriori dan resistensi bagi mereka yang kurang berkenan.
    Lebih utama menyampaikan substansi Petunjuk dan Tuntunan Illahi, agar setiap orang dalam bahasa yang mudah dimengerti dan difahami oleh siapa saja yang memerlukan, yaitu :
    - Melaksanakan Tiga Kewajiban Suci kepada Tuhan Yang Maha Tunggal, yaitu tetap dan selalu Sadar, Percaya dan Taat kepada sesembahan yang sejati (Allah Ta’ala)
    - Membangun lima watak utama, yaitu Rila, Narima, Temen, Sabar dan Budiluhur agar jiwa (hati dan pikiran) senantiasa tenang dan tenteram serta kuat dan tegar dalam menghadapi berbagai perubahan dan tantangan keadaan, dan
    - Berupaya menghindari lima Larangan-Nya, yaitu (1)Jangan Menyembah selain kepada Allah agar tidak terperangkap jebakan iblis, (2)Jaga dan hati-hati dalam hal sahwat agar harkat dan martabat kita sebagai manusia tidak tergradasi berperilaku hewani yang tidak kenal kesusilaan dan tatanan, (3)Jangan makan makanan dan minum minuman yang merusakkan badan jasmani, (4)Taati dan Patuhi tatanan dan aturan yang berlaku karena sejatinya Pemerintahan Negara di dunia adalah khalifatullah yang dipinjami kekuasaan-Nya untuk mengatur manusia di dunia, dan (5)Jangan Saling Bermusuhan karena semua bentuk permusuhan, perpecahan dan ketidak rukunan itu bukan sifat dan wataknya manusia sejati akan tetapi itu sifat dan watak iblis yang akan membawa kepada kesengsaraan umat manusia.
    Berlatih dan menjalankan 3 Kewajiban Suci dan Membangun 5 Watak Utama disertai Menghindari 5 Larangan-Nya, dari sedikit demi sedikit secara berkelanjutan akan menuntun diri setiap manusia ke jalan benar serta memiliki jiwa yang kuat dan iman yang teguh.

    Silahkan dilanjut Dimas Wong Alus.
    Salam

  26. ki ageng mbaderan

    mohon bantuan saudaraku KWA.
    Saya telah lama membaca Kitab Sasongko Jati dan cukup bisa memahami intisarinya. saya kepingin tahu apa ada anggota Pangestu yang berdomisili di Bontang Kalimantan Timur? kalau ada tolong dapat menghubungi saya di no telp 0811584195 an supriyanto. saya kepingin ngobrol dengan teman Pangestu walaupun saya belum resmi menjadi anggota. terima kasih sebelumnya.

  27. parno

    nderek udu, menawi lepat nyuwun ngapunten, bab sejatine ora ono opo opo sing ono kuwi dudu: ing salebeting hening hening eling ing ngalam ngaluyup inggih piniko alam ingkang gawat kaliwat, awit ing tataran meniko poro cidro saget membo membo lan ngaku ngaku poro wali lan paring wejangan ingkang sasar. milo kedah atos atos lan tansah teteken agami, dados dereng mesti wejangan leres saking pangeran milo sejatine ora ono opo opo sing ono kuwi dudu. saugi poro siswo mboten kabandang wonten alam kadewatan nyimpang ngiwo. semanten rumiyin, mugi poro kadang ingkang langkung paham kersoo paring pitedah. salam kenal mugi tansah pinanggiho rahayu . nuwun.

  28. Rahayu kang sami pinanggih mas parno.. nuwun

  29. ali mahshun

    Ass.War.Wab.
    Saya tertarik dengan artikel2 pangestu, mohon keterangan tentang kepengurusan pangestu yang di pursat dan yang di propinsi jawa tengah. trimakasih

  30. Budi Utomo Saridin

    Assalamu alaikum
    Rahayu…
    Dalem maos artikel meniko kok raosipun asrep.Nuwun pangapunten,kawulo bocah enom dereng mangertos kathah babagan kaluhuran puniko.Keparengo nderek nyimak soho sinau,Mugi Gusti Akaryo Gesang Pejah Janmo kerso paring Nur dumateng poro guru sedoyonipun,Nuwun.Salam Rahayu…

  31. tanto

    Ass.War.Wab.
    Saya tertarik dengan artikel2 pangestu dan ingin bergabung, mohon keterangan tentang kepengurusan pangestu yang di pusat di balikpapan. tolong balas ke e-mail saya, trimakasih

  32. tanto

    Assalamu alaikum
    saya ingin bergabung dengan Panguyuban Ngesti Tunggal (Pangestu) tolong kalau ada cabang yang di balikpapan,tolong di infokan ke e-mail saya……
    tantotri27@yahoo.co.id

    Terima kasih
    tanto

  33. ADI SAPUTRA

    KALO DI DAERAH PEMALANG SAMA PURWOKERTO ALAMATNYA ADA GA, TERUS DIMANA
    NUWUN

  34. Tjahjono K.

    Salam Sejahtera

    Yth Wong Alus.
    Mohon perkenan, saya akan ikut urun rembug.

  35. Tjahjono K.

    Salam Sejahtera,

    Yth Wong Alus.
    Mohon perkenan, saya akan ikut urun rembug.

    Tjahjono K.

  36. Tjahjono K

    Yth. Wong Alus dan Teman-teman, Sahabat-sahabat semua.

    Apabila Bapak, Ibu berkenan ingin mengetahui lebih jauh tentang Paguyuban Ngesti Tunggal, mohon dapat kiranya mengunjungi website: http://www.pangestu.or.id . Semoga Bapak, Ibu memperoleh pemahaman yang memadai.

    Terima kasih,

    Tjahjono K.

  37. soegeng

    Guru saya mengatakan Pancasila adalah SUMBER DARI SEGALA SUMBER HUKUM di Indonesia. Qur’an diturunkan olehNYA untuk dijadikan sumber dari segala sumber kebaikan dunia, kenapa harus memahami (mis) hakekat sholat dari ilmu JOWO, bukankah kita seharusnya memahami dengan “kembali ke sumber dari segala sumber” itu lagi, ini logika saya lho. lebih jauh tanyalah pada para ustad yang cukum mumpuni.

  38. Mas, saya sangat tertarik dg paguyuban ngesti tunggal.. Bisa infokan ke saya ga mengenai lokasi padepokan dr paguyuban ngesti tunggal di solo? Saya ingin penelitian utk skripsi..
    Terima kasih sblmnya..

  39. saya suka membaca komen komen dan pencerahan itu.. ngesti tunggal, pangestu dll, tanpa harus meninggalkan kwajiban sebagai muslim ! Yaa namanya” ajaran baik ” bagus juga diamalkan sebagai bagian perilaku yang SABAR NARIMO MINTUHU LAN ANDAP ASOR serta sopan!

  40. maaf, saya pernah mempelajari pangestu dalam mata kuliah saya. dan itu memang menarik menurut saya. saya jadi pengen tau lebih jauh tentang pangestu. dari info mas mastono di atas, kalau pangestu di jogja itu ada di jalan melati wetan, tp pas saya kesitu dan tanya orang di sekitar, mereka mengatakan tidak pernah mendengar ada pangestu. mohon infonya maz … makasih ..

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

%d blogger menyukai ini: