MENJADI GUSTI ALLAH

Menuju derajat “takwa” yang hakiki perlu perjuangan yang berat. Nglakoni tahap demi tahap dengan sabar, awas, eling dan waspada agar “ngelmu” kita semakin sempurna.

Adalah sebuah keharusan bila kita ingin peningkatan kualitas spiritual kita, maka kita dianjurkan untuk mengarahkan orientasi dari “luar” menuju ke “dalam”, kemudian mengarah lagi ke “luar” dan terakhir ke “dalam” lagi. Berikut keempat tahap itu:

I.

Sebagaimana perjalanan para nabi dalam sejarah, Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad SAW dan seterusnya…atau nabi Budha. Lahir, anak-anak dan beranjak remaja dia mengamati lingkungan sekitarnya. Tarafnya adalah olah indera dan raga, latihan kepekaan dan penajaman indera mata, telinga, perabaan kulit, menyerap dan menghembuskan nafas dan mulut untuk merasakan sesuatu. Berbagai pengalaman luar dirasakan oleh indera. Mata melihat bagaimana perjalanan kehidupan manusia: Lahir, remaja, dewasa, sakit, tua, mati…. Ini adalah tahap pemusatan ke luar… ke benda-benda / obyek-obyek khusus  SAMANTA BHAVANA.

II.

Tahap selanjutnya, mengarahkan pemusatan perhatian atau orientasi hidup ke “dalam”. Mulailah kita merenungkan hubungan sebab akibat, kenapa ada orang hidup..kenapa ada orang mati.. kenapa manusia dihidupkan, apa hakikat hidup… Apa penyebab semua yang hidup? Bila ada Sang Pencipta, kenapa dia menciptakan kita? …. Konsentrasi diarahkan ke pergerakan akal yang diliputi oleh batin/rasa pangrasa. Akal menemukan hakikat, rasa melanjutkan dengan penghayatan. Tuhan ditemukan melalui logika, dilanjutkan dengan mengakui dan mengimani keberadaannya. Terjadi evolusi pada setiap fase.

Ruhani manusia terus bermetamorfosis; dari orientasi jasad fisik, kemudian beralih konsentrasi ke batin. Dia mengolah batinnya, kejadian demi kejadian yang dialami dalam pengalaman nyata berhasil diambil kesimpulan bahwa SEMUA YANG ADA INI ADA HIKMAHNYA. Hikmah apa? Hikmah untuk memaknai perjalanan hidup ini dengan benar, lurus dan terbukanya pintu kebenaran. Shiratal mustaqim yakni jalan yang lurus. Jalan apa? Jalan kehendak, akal, nafsu menuju iradat Gusti. Jalan yang mengarah lurus itulah yang benar. Tanda-tanda orang yang sudah mencapai tahap benar ini adalah terbuka terhadap semua pandangan yang berbeda. Mampu meresapi semua keyakinan yang dianggap benar oleh setiap orang, dan kemudian mampu mengambil sari kebenaran tersebut. Dia telah mendapatkan PANDANGAN TERANG… VIPASSANA BHAVANA.

Inilah tahap IQRA sang Muhammad SAW, atau saat nabi Budha mendapatkan Pencerahan di bawah Pohon Bodhi. Mereka ditemui Ruhul Quddus, Malaikat Jibril. Gerak batin kita padu, serasi dan selaras dengan gerak batin-Nya. Mampu membaca keinginan Tuhan dalam hidupnya setiap hari. Batin kita tidak hanya mengingat-Nya dalam setiap tarikan/hembusan nafas dan detak nadi. Namun juga batin kita berkomunikasi intensif berbicara, berbincang-bincang, berdiskusi dengan batin-Nya. Seperti orang berkasih-kasihan. Keduanya saling menakar, mempertimbangkan dan menilai masing-masing.

III.

Tahap selanjutnya perjalanan spiritual yang lebih tinggi lagi adalah meditasi ke semua titik. Mengarahkan konsentrasi indera, batin dalam perbuatan nyata. Tapa ngrame. Beramal sosial. Menyempurnakan penciptaan Tuhan. Memayu hayuning bawono untuk Memayu Hayuningrat. Pada tahap ini, semua sudah terang benderang di depan semua inderanya, di dalam batinnya. Ibadah sosial ini dilakukan tanpa pamrih apa-apa, kecuali netepi titahing Gusti. Apa saja titah gusti pada kawolo/hamba akan dilaksanakan tanpa malas. Bila tidak dilaksanakan, dia akan terkena hukuman. Pengajaran Tuhan disampaikan secara langsung tanpa utusan gaib lagi. Ini tahap saat Nabi berjuang untuk memberi kabar Tuhan, berdakwah terang-terangan ke segenap sedulur papat/semua arah penjuru bumi. Menyebarkan kasih sayang-Nya. Tuhan mewartakan apa saja, sang hamba berkewajiban melanjutkan sabda-Nya.

Dia sudah berderajat para nabi dengan pencapaian ruhani yang sangat tinggi. Namun dia sadar tetap manusia biasa yang masih punya jasad. Kesadaran bahwa kita tetap manusia harus dimiliki. Syariat agama tidak boleh ditinggalkan. Semua nabi telah mencapai derajat ketiga ini. Dia sudah ada di langit ketujuh, langit diri pribadi tertinggi…

IV.

Tahap selanjutnya meditasi adalah mengarahkan diri ke “dalam” lagi. Manusia sudah tinggal aku sejati/ruhnya saja. Ngracut, mencair dan menguap bersama Gusti. Ia sudah mukso. Menjadi cahaya bersama-Nya. Hidupnya abadi. Tidak mengenal kematian. Kematian sudah bisa ditentukan kapan dan dimana. Manusia bisa melihat apa yang akan terjadi. Rentangan kejadian yang ada di alam semesta dilihatnya dengan diam. Semua gerakan batin yang menggelora ada di kekuasaannya. Sang diri pribadi mampu membaca buku “agenda” yang dibuat bersama antara ruh kawulo dengan Gustinya lagi.

Bila selama ini dia hanya bisa meraba-raba, sekarang dia sudah dengan sangat gamblang membaca agenda tersebut. Komunikasi dengan Gusti sudah tidak ada. Kenapa? Bukankah komunikasi butuh dua kehendak yang berbeda? Sementara di tahap akhir ini, dua kehendak itu sudah menjadi satu kehendak saja. Pada tahap ini, Kawulo sudah manunggal/jumbuh dengan Gustinya. Manunggal apanya? Semuanya. Ya iradatnya, ya sifat-sifat-Nya, ya asma-Nya, ya af’Alnya/perbuatannya.

Dia adalah Sumber dari Segala Sumber Cahaya Kebenaran itu sendiri. Apapun yang diinginkannya, adalah Kun Fayakun. Dia mengalami suwung… fana…..dalam kesatuan-Nya…. inilah hakikat takwa: yaitu “benar-benar” menjadi Gusti Allah… Ini hanya dicapai oleh pribadi yang telah tersinari oleh Nur Muhammad, diri pribadi yang memancarkan nilai-nilai terpuji. Sudah tidak ada langit lagi yang harus didaki, bahkan langit dan bumi sudah manunggal dalam satu titik lagi.

@2009. wongalus

6 Comments

  1. Salam karaharjan Mas Wong Alus sekeluarga
    Terima kasih atas pembabaran kawruhnya, Gusti Allah menurut simbah dulu adalah jarwadhosok atau keratabasa dari baGUSing aTI myang sepadha-padha.
    Perkenankan saya mencoba memakai istilah lain untuk UJUDULLAH dan NUR MUHAMMAD menjadi SAMPURNANING APNGAL *AF’AL* dan NUR WUJUD
    Ujudullah, wujud Sang Gusti adalah sempurnanya tingkah laku kita yang memayu hayuningrat sehingga tercapailah seperti yang telah Kangmas babar yaitu menjadi cahaya bersamaNya sebagai Nur Wujud manunggaling kawula gusti hingga mampu berkata seperti Syeh Siti Jenar
    “Sabda sukma, adhep idhep Allah, kang anembah Allah, kang sinembah
    Allah, kang murba amisesa.”….
    kesejatian dirinya beradu-adu (adhep idhep), “aku ini kau, tapi kau aku”.
    Maka jadilah dia yg menyembah sekaligus yg disembah, sehingga dirinya sebagai kawula-Gusti memiliki wewenang murba amisesa, memberi keputusan apapun tentang dirinya, menyatu iradah dan kodrat kawula-Gusti.
    Mohon maaf kalau ada kesesatan dalam pemahaman bodoh saya ini, mohon petunjuk selanjutnya

  2. pamuji rahayu…,

    Kidimas Wongalus dan Kidimas Tomy… matur sembah nuwun babaran bab kaweruh sejatining gesang…, mugya saged mrenani gesang kita sedaya…, kula namung saged urun rembug mbok bilih sageda migunani tumrap sasami. amargi kita sedaya ujudipun kangge lumantaraning Gusti, hanetepi titah Gusti.., semua kehendak ada dalam diri.., kehendak yang disetir oleh diri manakala kita sudah mendapati manunggaling cahya sejati, kados bab nginggil meniko ingkang dipun serat Kidimas Wongalus…, matur sembah nuwun .. saya banyak belajar dan mendapati semua hal tentang menuju kesempurnaan hidup dari Ki kadang semua disini. matur sembah nuwun
    salam sihkatresnan
    rahayu..,

  3. Yth Kimas Tomy, Salam karahardjan ugi ki.. lha meniko sami-sami cubluknya meniko. Kita hanya meraba-raba, namun panjelasan pangenengan benar-benar memperjelas posisi kawulo-gusti dengan bahasa yang lain. Nuwun ki. Pembabaran panjenengan mugoi ndadosaken warna-warni petunjuk kagem nglampahi samudra makrifat sinten kemawon.
    Yth kangmas Hadi Wirojati, sami-sami kangmas. Kulo injih kepengen meguru kalihan panjenengan ingkang langkung tresno nguri-uri budaya olah rasa ingkang adiluhung meniko.Nuwun ki, dilanjut…

  4. yth wongalus…salam kenal

    benar kata anda jadi pada intinya”yang di sembah ada pada yg menyembah” ingsun anakseni ing dzat ingsun dewe,bila tidak dapat menemukan dirinya….diri yg sebenar bukan pinjaman,maka sulit untuk melakukan persembahan itu sendiri….terimakasih atas pelajaranya….mantep.

    salam kasih

  5. Ass…
    Lebih tepat kalau dikatakan yang bersaksi, menyaksikan dan disaksikan hakekatnya Allah,bukan yang menyembah dan disembah Allah. Karena dalam alam “suwung” sudah tidak ada penyembahan, yang ada hanya musyahadah (penyaksikan). Bukankah dalam alam “alastu” ruh itu hanyalah bersaksi? bersaksi akan apa? bersaksi bahwa tidak ada yang wujud selain Allah. Tidak ada hayah kecuali hayah Allah, tidak ada ilmu kecuali ilmu Allah, tidak ada kalam kecuali kalam Allah, Tidak ada qudrah-iradah kecuali qudrah-iradah Allah.
    Wassalam…

  6. pangapunten ka sadayana, langka Ingsun kalian Ingsun dewe’…

    ’segala yg kasar didalam halus, segala yg halus didalam halus, yg maha halus bukanlah halus, yg ada dan yg diadakan itu tentu berbeda, wujud dan perwujudan jelas tidak sama.. ‘lenyaplah dulu keberadaanmu jadilah hanya Aku yg Ada’ ning bahasa arabe ‘muttu qobl’ iki bahasane ‘Nur Muhammad’

    matur nuwun sanget… salam


Comments RSS

Leave a comment