CARA RADEN SYAHID MENCARI GURU SEJATI


Di antara para wali yang lain, Kanjeng Sunan Kalijaga bisa dikatakan satu-satunya wali yang menggunakan pendekatan yang pas yaitu budaya Jawa. Dia sadar, tidak mungkin menggunakan budaya lain untuk menyampaikan ajaran sangkan paraning dumadi secara tepat. Budaya arab tidak cocok diterapkan di Jawa karena manusia Jawa sudah hidup sekian ratus tahun dengan budayanya yang sudah mendarah daging. Bahkan, setelah “dilantik” menjadi wali, dia mengganti jubahnya dengan pakaian Jawa memakai blangkon atau udeng.

Nama mudanya Raden Syahid, putra adipati Tuban yaitu Tumenggung Wilatikta dan Dewi Nawangrum. Kadpiaten Tuban sebagaimana Kadipaten yang lain harus tunduk di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Nama lain Tumenggung Wilatikta adalah Ario Tejo IV, keturunan Ario Tejo III, II dan I. Arti Tejo I adalah putra Ario Adikoro atau Ronggolawe, salah seorang pendiri Kerajaan Majapahit. Jadi bila ditarik dari silsilah ini, Raden Syahid sebenarnya adalah anak turun pendiri kerajaan Majapahit.

Raden Syahid lahir di Tuban saat Majapahit mengalami kemunduran karena kebijakan yang salah kaprah, pajak dan upeti dari masing-masing kadipaten yang harus disetor ke Kerajaan Majapahit sangat besar sehingga membuat miskin rakyat jelata. Suatu ketika, Tuban dilanda kemarau panjang, rakyat hidup semakin sengsara hingga suatu hari Raden Syahid bertanya ke ayahnya: “Bapa, kenapa rakyat kadipaten Tuban semakin sengsara ini dibuat lebih menderita oleh Majapahit?”. Sang ayah tentu saja diam sambil membenarkan pertanyaan anaknya yang kritis ini.

Raden Syahid yang melihat nasib rakyatnya merana, terpanggil untuk berjuang dengan caranya sendiri. Cara yang khas anak muda yang penuh semangat juang namun belum diakui eksistensinya; menjadi “Maling Cluring”, yaitu pencuri yang baik karena hasil curiannya dibagi-bagikan kepada orang-orang miskin yang menderita. Tidak hanya mencuri, melainkan juga merampok orang-orang kaya dan kaum bangsawan yang hidupnya berkecukupan.

Suatu ketika, perbuatan mulia namun tidak lazim itu diketahui oleh sang ayah dan sang ayah tanpa ampun mengusir Raden Syahid karena dianggap mencoreng moreng kehormatan keluarga adipati. Pengusiran tidak hanya dilakukan sekali namun beberapa kali. Saat diusir Raden Syahid kembali melakukan perampokan namun sialnya dia tertangkap pengawal kadipaten hingga sang ayah kehabisan akal sehat. “Syahid anakku, kini sudah waktunya kamu memilih, kau yang suka merampok itu pergi dari wilayah Tuban atau kau harus tewas di tangan anak buahku”. Syahid tahu dia saat itu harus benar-benar pergi dari wilayah Tuban dan akhirnya, dia pun dengan hati gundah pergi tanpa arah tujuan yang jelas. Suatu hari dalam perjalanannya di hutan Jati Wangi, dia bertemu lelaki tua yang kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Sunan Bonang. Sunan Bonang adalah putra dan murid Sunan Ampel yang berkedudukan di Bonang, dekat Tuban.

Syahid yang ingin merampok Sunan Bonang akhirnya harus bertekuk lutut dan Syahid akhirnya berguru pada Sunan Bonang. Oleh Bonang yang saat itu sudah jadi guru spiritual ini, Syahid diminta duduk diam bersila di pinggir sungai. Posisi duduk diam meneng ini di kalangan para yogi dikenal dengan posisi meditasi. Syahid saat itu telah bertekad untuk mengubah orientasi hidupnya secara total seratus delapan puluh derajat. Yang awalnya dia berjuang dalam bentuk fisik, menjadi perjuangan dalam bentuk batin (metafisik). Dia telah meninggalkan syariat masuk ke ruang hakekat untuk mereguk nikmatnya makrifat. Namun syarat yang diajarkan Sunan Bonang cuma satu: duduk, diam, meneng, mengalahkan diri/ego dan patuh pada sang guru sejati (kesadaran ruh). Untuk menghidupkan kesadaran guru sejati (ruh) yang sekian lama terkubur dan tertimbun nafsu dan ego ini, Bonang menguji tekad Raden Syahid dengan menyuruhnya untuk diam di pinggir kali.

Ya, perintahnya hanya diminta untuk diam tok, tidak diminta untuk dzikir atau ritual apapun. Cukup diam atau meneng di tempat. Dia tidak diminta memikirkan tentang Tuhan, atau Dzat Yang Adikodrati yang menguasai alam semesta. Tidak, Sunan Bonang hanya meminta agar sang murid untuk patuh, yaitu DIAM, MENENG, HENING, PASRAH, SUMARAH, SUMELEH. Awalnya, orang diam pikirannya kemana-mana. Namun sekian waktu diam di tempat, akal dan keinginannya akhirnya melemas dan akhirnya benar-benar tidak memiliki daya lagi untuk berpikir, energi keinginan duniawinya lepas landas dan lenyap. Raden Syahir mengalami suwung total, fana total karena telah hilang sang diri/ego.

“BADANKU BADAN ROKHANI, KANG SIFAT LANGGENG WASESA, KANG SUKSMA PURBA WASESA, KUMEBUL TANPA GENI, WANGI TANPA GANDA, AKU SAJATINE ROH SAKALIR, TEKA NEMBAH, LUNGO NEMBAH, WONG SAKETI PADA MATI, WONG SALEKSA PADA WUTA, WONG SEWU PADA TURU, AMONG AKU ORA TURU, PINANGERAN YITNA KABEH….”

Demikian gambaran kesadaran ruh Raden Syahid kala itu. Berapa lama Raden Syahid diam di pinggir sungai? Tidak ada catatan sejarah yang pasti. Namun dalam salah satu hikayat dipaparkan bahwa sang sunan bertapa hingga rerumputan menutupi tubuhnya selama lima tahu. Setelah dianggap selesai mengalami penyucian diri dengan bangunnya kesadaran ruh, Sunan Bonang menggembleng muridnya dengan kawruh ilmu-ilmu agama. Dianjurkan juga oleh Bonang agar Raden Syahid berguru ke para wali yang sepuh yaitu Sunan Ampel di Surabaya dan Sunan Giri di Gresik. Raden Syahid yang kemudian disebut Sunan Kalijaga ini menggantikan Syekh Subakir gigih berdakwah hingga Semenanjung Malaya hingga Thailand sehingga dia juga diberi gelar Syekh Malaya.

Malaya berasal dari kata ma-laya yang artinya mematikan diri. Jadi orang yang telah mengalami “mati sajroning urip” atau orang yang telah berhasil mematikan diri/ego hingga mampu menghidupkan diri-sejati yang merupakan guru sejati-NYA. Sebab tanpa berhasil mematikan diri, manusia hanya hidup di dunia fatamorgana, dunia apus-apus, dunia kulit. Dia tidak mampu untuk masuk ke dunia isi, dan menyelam di lautan hakikat dan sampai di palung makrifatullah.

Salah satu ajaran Sunan Kalijaga yang didapat dari guru spiritualnya, Sunan Bonang, adalah ajaran hakikat shalat sebagaimana yang ada di dalam SULUK WUJIL: UTAMANING SARIRA PUNIKI, ANGRAWUHANA JATINING SALAT, SEMBAH LAWAN PUJINE, JATINING SALAT IKU, DUDU NGISA TUWIN MAGERIB, SEMBAH ARANEKA, WENANGE PUNIKU, LAMUN ARANANA SALAT, PAN MINANGKA KEKEMBANGING SALAM DAIM, INGARAN TATA KRAMA. (Unggulnya diri itu mengetahui HAKIKAT SALAT, sembah dan pujian. Salat yang sesungguhnya bukanlah mengerjakan salat Isya atau maghrib. Itu namanya sembahyang. Apabila disebut salat, maka itu hanya hiasan dari SALAT DAIM, hanya tata krama).

Di sini, kita tahu bahwa salat sejati adalah tidak hanya mengerjakan sembah raga atau tataran syariat mengerjakan sholat lima waktu. Salat sejati adalah SALAT DAIM, yaitu bersatunya semua indera dan tubuh kita untuk selalu memuji-Nya dengan kalimat penyaksian bahwa yang suci di dunia ini hanya Tuhan: HU-ALLAH, DIA ALLAH. Hu saat menarik nafas dan Allah saat mengeluarkan nafas. Sebagaimana yang ada di dalam Suluk Wujil: PANGABEKTINE INGKANG UTAMI, NORA LAN WAKTU SASOLAHIRA, PUNIKA MANGKA SEMBAHE MENENG MUNI PUNIKU, SASOLAHE RAGANIREKI, TAN SIMPANG DADI SEMBAH, TEKENG WULUNIPUN, TINJA TURAS DADI SEMBAH, IKU INGKANG NIYAT KANG SEJATI, PUJI TAN PAPEGETAN. (Berbakti yang utama tidak mengenal waktu. Semua tingkah lakunya itulah menyembah. Diam, bicara, dan semua gerakan tubuh merupakan kegiatan menyembah. Wudhu, berak dan kencing pun juga kegiatan menyembah. Itulah niat sejati. Pujian yang tidak pernah berakhir)

Jadi hakikat yang disebut Sholat Daim nafas kehidupan yang telah manunggaling kawulo lan gusti, yang manifestasinya adalah semua tingkah laku dan perilaku manusia yang diniatkan untuk menyembah-Nya. Selalu awas, eling dan waspada bahwa apapun yang kita pikirkan, apapun yang kita kehendaki, apapun yang kita lakukan ini adalah bentuk yang dintuntun oleh AKU SEJATI, GURU SEJATI YANG SELALU MENYUARAKAN KESADARAN HOLISTIK BAHWA DIRI KITA INI ADALAH DIRI-NYA, ADA KITA INI ADALAH ADA-NYA, KITA TIDAK ADA, HANYA DIA YANG ADA.

Sholat daim ini juga disebut dalam SULUK LING LUNG karya Sunan Kalijaga: SALAT DAIM TAN KALAWAN, MET TOYA WULU KADASI, SALAT BATIN SEBENERE, MANGAN TURU SAHWAT NGISING. (Jadi sholat daim itu tanpa menggunakan syariat wudhu untuk menghilangkan hadats atau kotoran. Sebab kotoran yang sebenarnya tidak hanya kotoran badan melainkan kotoran batin. Salat daim boleh dilakukan saat apapun, misalnya makan, tidur, bersenggama maupun saat membuang kotoran.)

Ajaran makrifat lain Sunan Kalijaga adalah IBADAH HAJI. Tertera dalam Suluk Linglung suatu ketika Sunan Kalijaga bertekad pergi ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji. Di tengah perjalanan dia dihentikan oleh Nabi Khidir. Sunan dinasehati agar tidak pergi sebelum tahu hakikat ibadah haji agar tidak tersesat dan tidak mendapatkan apa-apa selain capek. Mekah yang ada di Saudi Arabia itu hanya simbol dan MEKAH YANG SEJATI ADA DI DALAM DIRI. Dalam suluk wujil disebutkan sebagai berikut:
NORANA WERUH ING MEKAH IKI, ALIT MILA TEKA ING AWAYAH, MANG TEKAENG PRANE YEN ANA SANGUNIPUN, TEKENG MEKAH TUR DADI WALI, SANGUNIPUN ALARANG, DAHAT DENING EWUH, DUDU SREPI DUDU DINAR, SANGUNIPUN KANG SURA LEGAWENG PATI, SABAR LILA ING DUNYA.

MESJID ING MEKAH TULYA NGIDERI, KABATOLLAH PINIKANENG TENGAH, GUMANTUNG TAN PACACANTHEL, DINULU SAKING LUHUR, LANGIT KATON ING NGANDHAP IKI, DINULU SAKING NGANDHAP, BUMI ANENG LUHUR, TINON KULON KATON WETAN, TINON WETAN KATON KULON IKU SINGGIH TINGALNYA AWELASAN.

(Tidak tahu Mekah yang sesugguhnya. Sejak muda hingga tua, seseorang tidak akan mencapai tujuannya. Saat ada orang yang membawa bekal sampai di Mekah dan menjadi wali, maka sungguh mahal bekalnya dan sulit dicapai. Padahal, bekal sesungguhnya bukan uang melainkan KESABARAN DAN KESANGGUPAN UNTUK MATI. SESABARAN DAN KERELAAN HIDUP DI DUNIA. Masjid di Mekah itu melingkar dengan Kabah berada di tengahnya. Bergantung tanpa pengait, maka dilihat dari atas tampak langit di bawah, dilihat dari bawah tampak bumi di atas. Melihat yang barat terlihat timur dan sebalinya. Itu pengelihatan yang terbalik).

Maksudnya, bahwa ibadah haji yang hakiki adalah bukanlah pergi ke Mekah saja. Namun lebih mendalam dari penghayatan yang seperti itu. Ibadah yang sejati adalah pergi ke KIBLAT YANG ADA DI DALAM DIRI SEJATI. Yang tidak bisa terlaksana dengan bekal harta, benda, kedudukan, tahta apapun juga. Namun sebaliknya, harus meletakkan semua itu untuk kemudian meneng, diam, dan mematikan seluruh ego/aku dan berkeliling ke kiblat AKU SEJATI. Inilah Mekah yang metafisik dan batiniah. Memang pemahaman ini seperti terbalik, JAGAD WALIKAN. Sebab apa yang selama ini kita anggap sebagai KEBENARAN DAN KEBAIKAN MASIHLAH PEMAHAMAN YANG DANGKAL. APA YANG KITA ANGGAP TERBAIK, TERTINGGI SEPERTI LANGIT DAN PALING BERHARGA DI DUNIA TERNYATA TIDAK ADA APA-APANYA DAN SANGAT RENDAH NILAINYA.

Apa bekal agar sukses menempuh ibadah haji makrifat untuk menziarahi diri sejati? Bekalnya adalah kesabaran dan keikhlasan. Sabar berjuang dan memiliki iman yang teguh dalam memilih jalan yang barangkali dianggap orang lain sebagai jalan yang sesat. Ibadah haji metafisik ini akan mengajarkan kepada kita bahwa episentrum atau pusat spiritual manusia adalah BERTAWAF. Berkeliling ke RUMAH TUHAN, berkeliling bahkan masuk ke AKU SEJATI dengan kondisi yang paling suci dan bersimpuh di KAKI-NYA YANG MULIA. Tujuan haji terakhir adalah untuk mencapai INSAN KAMIL, yaitu manusia sempurna yang merupakan kaca benggala kesempurnaan-Nya.

Sunan Kalijaga adalah manusia yang telah mencapai tahap perjalanan spiritual tertinggi yang juga telah didaki oleh Syekh Siti Jenar. Berbeda dengan Syekh Siti Jenar yang berjuang di tengah rakyat jelata, Sunan Kalijaga karena dilahirkan dari kerabat bangsawan maka dia berjuang di dekat wilayah kekuasaan. Di bidang politik, jasanya terlihat saat akan mendirikan kerajaan Demak, Pajang dan Mataram. Sunan Kalijaga berperan menasehati Raden Patah (penguasa Demak) agar tidak menyerang Brawijaya V (ayahnya) karena beliau tidak pernah berlawanan dengan ajaran akidah. Sunan Kalijaga juga mendukung Jaka Tingkir menjadi Adipati Pajang dan menyarankan agar ibukota dipindah dari Demak ke Pajang (karena Demak dianggap telah kehilangan kultur Jawa.

Pajang yang terletak di pedalaman cocok untuk memahami Islam secara lebih mendalam dengan jalur Tasawuf. Sementara kota pelabuhan jalurnya syariat. Jasa lain Sunan Kalijaga adalah mendorong Jaka Tingkir (Pajang) agar memenuhi janjinya memberikan tanah Mataram kepada Pemanahan serta menasehati anak Pemanahan, yaitu Panembahan Senopati agar tidak hanya mengandalkan kekuatan batin melalui tapa brata, tapi juga menggalang kekuatan fisik dengan membangun tembok istana dan menggalang dukungan dari wilayah sekeliling. Bahkan Sunan Kalijaga juga mewariskan pada Panembahan Senopati baju rompi Antakusuma atau Kyai Gondhil yang bila dipakai akan kebal senjata apapun.

@wongalus,2010

About these ads
Categories: SUNAN KALIJAGA MENCARI GURU SEJATI | 42 Komentar

Post navigation

42 thoughts on “CARA RADEN SYAHID MENCARI GURU SEJATI

  1. orang awam

    maturnuwn ki wong alus
    membuka lembar terang sebuah perjalanan panjang
    salam rahayu

  2. Bagaimana kesiapan kita menghadapi serangan Jengis Khan ini Mas?

    http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/12/11/05053524/januari.2010.china.serbu.indonesia

  3. anas

    Kalau orang seperti saya ini blm ngerti apa2 gimana cari guru sejatinya,? Matur nuwun WONG ALUS ,mohon maaf jika kurang sopan

  4. tiang nem

    Asss…
    ki nderek tangklet ngapunten sakderenge… kulo tumot kempalan ngudi kawruh, ananging saking keluaraga terutama derek2 kulo ngeklem bilih dalan engkang kulo tempuh meniko keluar dari kaidah islam. kulo sanget mangertosi menawi derek2 kulo meniko amargi saking trisnanipun dateng kulo sahinggo ngeman menawi kulo salah dalan. nanging pripun ki… sakjanipun secara syariat kulo nggih tetep kados padatan, ananging amargi wonten hal2 yang diluar kebiasaan engkang kulo lampahi, sahinggo derek2 kulo ngawatiraken kulo. pripun ki…saranipun kersane derek2 kulo saget mangertosi nopo sejatining engkang kul sejo meniko. memang ki…keluarga kulo backgrounipun saking syariat kuat, kulo kempal ngudi kaweruh kados meniko kersane saget mangertosi nopo sejatining tujuan gesang meniko leripun mangertosi sangkan paraning dumadi.
    pripun anggen kulo saget menjembatani perkawis puniko ?
    matur nuwon ki…sak derenge..

    wassslam
    Rahayu…

  5. Beberapa sahabat saya juga mengeluhkan masalah yang persis ingkang panjenengan paparkan. Yaitu kita dianggap melanggar syariat saat berkreasi memasuki fase pencarian hakikat. Ada juga yang akhirnya harus pergi dari rumah dan keluar dari lingkungan keluarganya sesaat dan mohon ijin untuk melakukan perjalanan ruhani keliling jawa, sumatra dll. kisah salah satu teman itu sudah saya tulis di blog ini, namanya he men. Ada juga yang dengan santainya menanggapi kekhawatiran keluarga dengan tetap berkreasi dan berinovasi untuk membebaskan diri dari syariat untuk sementara waktu. Baginya, tidak jadi soal apa anggapan orang yang penting tetap meneruskan lakunya yang dianggap bertentangan dengan syariat. Kalau saya pribadi, sampai sekarang masih menjalankan syariat (sembah raga) namun batin saya tetap berinovasi di alam metafisik (sembah jiwa, sembah rasa….) agar selalu manunggal dengan Dzat-Nya. Inilah dunia mas, kita harus mampu menyesuaikan diri dengan arus , namun tidak perlu terjebak untuk mengikutinya karena arah arus itu adalah arus yang kotor dan dangkal. Nuwun pamuji rahayu.

  6. pekik benowo

    sebetulnya guru sejati itu siapa?…

  7. ferry

    ikutan nambah ki,
    dan sebetulnya sejatinya guru itu juga siapa ?
    wassalam

  8. rifky

    Assalammualaikum..salam kenal semua. ijin membaca tulisan2nya ki. merdeka!

  9. Lelono Ing Jagad

    matur suwun sanget kangge Kanjeng Wong Alus……emang sih…jika kita mendalami atau mempelajari ilmu Dzatnya…terkadang di jaman sekarang malah dianggap nyeleneh….tapi itulah Dunia…mending Kita menjadi Orang Gila dalam artian….orang gila tidak pernah mendengarkan apapun yang diucapkan atau celaan kepada mereka ….mereka asyik…dalam kegilaannya….sama dengan kita…kita gak perlu mendengar apa yg mereka katakan…namun kita jalani saja apa yg kita lakoni….yg penting terarah dan benar…wassalam…

  10. kopo

    assalamualaikum
    salam kenal dari..saya telah membaca bagaimana tatacara ngerogosukmo
    terima kasih atas informasinya..saya pengen sekali bisa ngrogosukmo.
    mohon masukan dan nasehat..

  11. Iman

    Saya kebetulan mempunyai buku-buku yang menceritakan tentang “siapa dan apa itu guru sejati, bagaimana kita mengenalinya dan membedakannya dengan yang palsu.”
    Saya akan mewariskan buku-buku pengetahuan kuno ini bagi yang berminat.
    Silahkan sms permintaan ke saya di 08176893113.
    Akan saya kirimkan Gratis 100%.
    Salam.

  12. Kawulo alèt

    Assalamualaikum ki wong alus…derek tanglèt ki…orang islam yg sempurna itu yg bgmana? Matur sembah nuwun.

  13. reksodipo

    Sugeng dalu mas2 semua.
    mhn maaf kulo nderek nimbrung menawi dipun parengaken. sedikit meneruskan tulisan diatas. saya hanya kasih masukan agar lebih hati2 utk menceritakan sebuah sejarah. tolong ya mas.. jangan sampai terjadi kesalah pahaman. makrifat sejati dapat penjenengan temukan dari dasar samudera Al-Quran. saya sudah merasakan itu dan sebenarnya islam dan kejawen itu tidak berseberangan. klo diluar itu, jelas lain.

  14. Nasrudin

    Assalamulaikum Ki, setelah mmbaca nya Alhamdulillah saya mendapat sesutu pengtahuan baru, tentang inti patinya satu amalan2 itu (isinya), dengan tidak meninggalkan kulitnya, namun yg pasti isinya yg penting (ikhlas), (Lillah) terima kasih .

  15. Hendro subakti

    maaf kang saya mau nanya tentang jenis tasbi yang digunakan oleh sunan kali jaga tuh apa dan arti dari semar itu apa yach….

  16. Rozak

    kulo nuwun,
    Mohon petunjuk bagaimana caranya, sya ingin berguru kepada Gusti Sunan Kali Jaga

  17. salam untuk semua pembaca
    saya mohon informasi dimana saya bisa bergabung kelompok pencari guru sejati disekitar blitar, malang, wlingi. ada pembaca yang beraalamat ini. saya tinggal di jambewangi selopuro blitar. atau Ki ini bisa menjembatani saya. matursuwun dan salam hangat untuk semua

  18. aden

    asslmalkm ki, krang lbh sjak 5 th yg lalu sya ingin mpljarinya, tp sya tdk thu hrs bgymna. Mhon pncerahanya ki.
    Trmksh…

  19. Maturnuwun Wong Alus, semoga manusia lebih pada jalannya.

  20. minta izin nyimak lan ngamlkan mbah…
    matursembahnuwun ingkang sedoyo ilmu

  21. sumantri

    dri mana kamu dpat crua ini ap mamppu km memperkuat critamu n tak ad rekayasa drimu wahai sahbat se iman

  22. Nderek nyimak lenggah paling ngajeng.

  23. djanoko

    assalamualaikum wr.wb alhamdulillah…Klo boleh request,sjarah ttg sunan kalijogo di perbanyak,hehe…karena saya salah 1 org yg mengagumi beliau..makasih sblumnya

  24. samber nyowo

    maaf ki Wong Alus..saya hanya sekedar ikut nimbrung barangkali berguna…
    sareat ibarat orang naik perahu ketengah laut,tarekat ibarat orang menyelam untuk mencari intan didasar laut,hakekat ibarat menggenggam intan didasar laut,makrifat ibarat orang yang sudah mendapat kan intan dan kembali kedaratan,kata kata ini aku ambil dari guru saya, kyai imam iskandar yang mempunyai silsilah keilmuan langsung dari sunan kalijaga

  25. samber nyowo

    @sumantri….
    memang ada benarnya yang dituliskan saudara kita Wong Alus…

  26. Suwon..

  27. diyan

    syariat sarine bumi kang dadi kulite manungsa, tarekat sarine geni kang dadi cahyane manungsa, hakikat sarine angin kang dadi napase manungsa, makrifat sarine banyu kang dadi uripe manunsa..

  28. diyan

    syariat sarine bumi kang dadi kulite manungsa, tarekat sarine geni kang dadi cahyane manungsa, hakikat sarine angin kang dadi napase manungsa, makrifat sarine banyu kang dadi uripe manungsa..

  29. Aguh

    Dian@I agree with your opinion, ….Bahwa sesungguhnya sap2 alam ghoib koyo dene kapas kalebu banyu : nasrut,laut,jabarut, & alam Malakut itu memang benar ada nya..ketika orang awam meninggal/lepas dari bungus wadagnya, ruh masih ada di bumi..kadag2 suka ngaton/ada juga yg blm sadar dia sdh pindah alam..disitu buminya blm lepas..lama dan tidaknya tergantung amalanya ketika msh hidup,..terus.,mungah yg lebih halus dan lebih halus lagi….kalau belum cukup kesucianya atau amalanya..???? maaf tdk bs di share untuk penjelasan lbh lanjut..Nyuwun agungge pangapunten engkang katah…kalau ada pihak yg kurang sependapat nek kulo kleru sepindah maleh nyuwun aggunge pangapunten…Lunyu2 penekno kanggo mbasuh dododiro mumpung jembar karangane mumpung padang rembulane…..wassalam

  30. arif_awaludin

    assalamu’alaikum…
    saya mo nanya nie… ada gak keterangan dalam al-qur’an mengenai salat DAIM?

  31. wow…..
    kajian yng menrik

  32. allto bat

    pun derek kersaning gusti kanti iklas mawon sinarengan eleng tan kenaning lali

  33. Dhega Bima Pratama

    Samporasun,semua yang ada di kampus wongalus,kpn2 klau liburan akn datang ke kampus wongalus,untuk minta bantuan mendapatkan guru sejati,bisa kan.

  34. Norwira bin Samat

    cerita sunan kalijaga ini sbgi sandaran penyuluh prjalanan hdup ku ke “central illahi”…

  35. wawan ridwan

    subhanallah…

  36. di alquran bunyinya gini alazinahum an sholatihim daimun (yaitu orang orang yang selalu dalam keadaan sholat)

  37. Semoga saya bisa mengambil hikmahnya.

  38. klo boleh tau siapa yg menulis di atas???

  39. bkia

    mantap murid sj yg satu ini

  40. EDI KELANA

    ASSALAMUALAIKUM , MOHON PETUNJUKNYA JIKALAU TIDAK KEBERATAN UNTUK MENGARAHKAN AGAR KITA SEMUA DAPAT MENJADI MANUSAI YANG SEMPURNA , SEPERTI YANG CAPAI KANJENG SUNAN KALI JAGA, ABDURAHMAN WAHID DAN USTAD JEFRY AL BUKHORI .AMIIN.

  41. virgo

    inggih leres niku pun ajarane kanjeng sunan

  42. assalamualaikum rahayu kagem kadang sedoyo nyuwon sewu tumut nyimak

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

%d blogger menyukai ini: