AJI TUNGGENG MOGOK


Aji Tunggeng Mogok ini hampir sama tujuannya dengan Aji Tunggeng Balik. Ajian juga untuk melindungi harta benda dan usaha kita dari aksi pencurian. Namun bila pencuri ternyata sudah melaksanakan aksinya, maka si pencuri secara otomatis diam terpaku di tempatnya mencuri tidak bisa bergerak seperti orang linglung Dengan memiliki ajian ini kita tidak perlu khawatir dan pusing menjaga rumah, barang, menjaga sawah ladang atau perikanan yang sering jadi incaran pencuri. Lakunya puasa sunah biasa 7 hari mulai hari Selasa atau Kamis. Selama puasa setiap sholah ashar membaca doa di bawah ini 221 kali.

Doanya sebagai berikut:

KULLU NAFSIN DZAA IQATULMAUT. WAINNAMA TUWAFFAWNA UJUURAKUM YAWMAL QIYAAMAH. FAMAN ZUHZIHA ANINNAARI WA UDZKHILAL JANNATA FAQAD FAAZ.

Selesai puasa kita berjalan mengelilingi rumah, sawah, ladang atau tempat usaha yang ingin dipagari. Kaki diangkat sambil membaca ayat tersebut dan kaki diturunkan membaca ayat tersebut hingga selesai. Pencuri yang tertangkap basah tidak akan mampu menggerakkan badannya hingga Anda datang dan sama dengan aji tunggeng balik, maka untuk memulihkan kondisi pencuri seperti sedia kala, baca:

WAMAL HAYAATUDDUNYAA ILLA MATA’UL GHURUUR. WALAA TALUUMUNNA ILLA MIN ANFUSIKUM MIN AZMIL UMUUR.

@wongalus,2010

About these ads
Categories: AJI TUNGGENG MOGOK | 36 Komentar

Navigasi pos

36 thoughts on “AJI TUNGGENG MOGOK

  1. aKU TERKESAN, APA INI BISA DIJALANKAN MOHON IJAZAH KITAB SAIFUL MU’MIN KARANGAN KYAI MA’FUD SYA’RONI, PUNGGUH MAGELANG

  2. Wiryo

    Aji tonggeng mogok & tonggeng balik memang heboh, d daerah T.galek prnah trjdi org nyuri klpa g bsa keluar dr pkarangn, nyuri padi balik k tmpatnya lgi, yg HEBOH da org nyuri cengkeh d kbun eee… bknya d jual k psr malah d anter k rmh yg punya kbun.

  3. suhardi

    mohon izin dan ijazahnya mengamalkanya

  4. edkus

    hebat tu ajian ,mohon jelasin ki kok biosa ya .apa ada bantuan jin.trim ki

  5. feri

    ass,apakah ajian tunggeng mogok ini bisa kita gunakan unt pagar milik org laen,dan apakah setiap kali kita pager sebuah toko,trus mau mager toko yg lain apa kita harus puasa lagi KI

  6. feri

    ass,apakah ajian tunggeng mogok ini bisa kita gunakan unt pagar milik org laen,dan apakah setiap kali kita pager sebuah toko,trus mau mager toko yg lain apa kita harus puasa lagi mohon pencerahannya KI

  7. askar

    ass.mohon mengamalkan nya ki.

  8. don ditto

    assalamualaikum wr wb
    mohon izin dan mengamalkanya,
    maturnuwun

  9. bismillah qobiltu

  10. assalamualaikum…
    pak ustad,klo aq ingin mengamalkan ilmu2 yg di blog Wong Alus tp tnpa pendamping/guru seperti pk ustat,membahayakan jiwaku tdak?

  11. Wong ireng

    Salam tadzim kagem wong alus…

  12. ariratno

    matur nuwun ki…

  13. Qobiltu ilmunya…

  14. Kalo aji kala tunggeng ada yg punya ga ya?

  15. asif

    Assalamualaikum. Saya terima ijazahnya dan izin mengamalkannya. Semoga bermanfaat

  16. Heri S

    qobiltu

  17. Qobiltu…

  18. Qobiltu tukdiamalkan suatu saat,

  19. rosidin

    mohon izin untuk mengamalkan smg mendapat ridho ALLAH amin.

  20. Thian Al Bantam

    Bismillaahirrohmaanirrohiim.

    Ilaahi Anta Maqsudii Waridhooka Mathlubii, A’thinii Mahabbataka Wama’rifataka.

    Insya Alloh…nawaitulillahita’ala, Qobiltu saya terima ijazah AJI TUNGGENG MOGOK dengan lengkap dan sempurna, semata mengharap ridho Alloh swt, aamiin.

    Ilaa hadhoroti shohibul ijazah…lahu alfatihah…..

  21. Hamid

    Mbah afriyanto , sya pengen blajar saya jadi pintar…
    apalagi soal mtematika mendalam sulit tuk dpeljari… mohon bntuannya

  22. QOBILTU ILMU TUNGGENG MOGOK DRI MBAH
    WONG ALUS.. NUHUN KI

  23. gus zan

    Bismillah para guru semua Qobiltu..mhn ijin mengamalkan dan izin pula buat keluarga dan orang lan sekiranya d butuhkan
    Baarokallah alaik..

  24. wiwin es

    Assalamu’alaikum wr wb
    Ikut nimbrung berbicara dan numpang berfikir,
    Nimbrung berkomentar panjang, semoga berterima tanpa malang, atau bersambut tanpa dayang.
    Aji Tunggeng Mogok yang pernah saya peroleh dan yang pernah saya catat dalam buku harian sewaktu masih bersekolah di SMA pada pertengahan akhir tahun 1990-an dulu, ternyata tata cara ritual syarat ajiannya tetap sama, dan mungkin juga dari sumber buku cetakan yang sama, yakni bukunya Pak Kurdi Ismail. Mungkin begitu. Sebab, sayang sekali, buku itu dulu hilang dipinjam oleh seseorang waktu SMA itu juga, dan tidak dicatat pula judul bukunya tahun terbit dan penerbit serta halamannya dalam catatan harian itu.

    Apa yang sempat tercatat dalam buku harian sewaktu kecil itu sebatas lafal dan urutan amalannya saja. Dan lafal atau “mantra”-nya pun tertulis dalam teks Arab, ayat Quran, yakni Surat Ali Imraan 3: 185-186. Tetapi, “sedikit” beda redaksi antara lafal Latin Aji Tunggeng Mogok di forum Kampus Wong Alus (KWA) ini dengan lafal Arab yang pernah saya peroleh, terutama dalam lafal penyembuhan bagi pencuri yang saat pencurinya telah linglung tersebut.
    Baiklah, biar lebih enak, perlu dicantumkan teks Arabnya lebih dahulu di sini, bahwa apa yang dibaca pada bakda sholat Ashar sebanyak 221 x selama memenuhi ritual aji itu sebagai berikut:
    كُلُّ نَفٛسٍ ذَآىِٕقَةُ الٛمَوٛتِۗ وَ اِنَّمَا تُوَفَّوٛنَ اُجُوٛرَكُمٛ يَوٛمَ الٛقِيٰمَةِۗ فَمَنٛ زُحٛزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدٛخِلَ الٛجَنَّةَ فَقَدٛ فَازَۗ…
    Artinya:
    Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan kedalam syurga, maka ia telah beruntung;… (QS Ali Imraan 3: 185)
    Dan lafal atau ayat penyembuhannya adalah:
    وَمَاالٛحَيٰوةُ الدُّنٛيَآ اِلَّا مَتَاعُ الٛغُرُوٛرِ. لَتُبٛلَوُنَّ فِيٛٓ اَمٛوَالِكُمٛ وَاَنٛفُسِكُمٛۗ…
    Artinya:
    Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. … (QS Ali Imraan 3: 185-186)
    Jadi, lafal yang dibaca sebanyak 221x tidak ada bedanya dengan catatan yang saya peroleh, yakni secara Latin memang berbunyi: KULLU NAFSIN DZAA IQATULMAUT. WAINNAMA TUWAFFAWNA UJUURAKUM YAWMAL QIYAAMAH. FAMAN ZUHZIHA ANINNAARI WA UDZKHILAL JANNATA FAQAD FAAZ – sebuah lafal yang mengambil utuh 3 kalimat dari empat kalimat dalam Ayat 185 Ali Imraan tersebut. Sementara itu kalimat ke-4 dari Ayat 185 Ali Imraannya, dipakai untuk lafal penyembuhannya yang bersambung kemudian dengan kalimat ke-1 dari Ayat 186 Ali Imraan.
    Tetapi–nah ini dia, pada lafal penyembuhannya ada yang berbeda. Mari, perhatikanlah pelan-pelan. Apa yang saya peroleh secara teks latinnya berbunyi : WAMAL HAYAATUDDUNYAA ILLA MATA’UL GHURUUR. LATUBLAWUNNA FIII AMWALIKUM WA ANFUSIKUM, sesuai betul dengan teks Arab Ali Imraan Ayat 185 dan Ayat 186 yang tercantum di atas barusan; sedangkan teks latin yang tersedia di forum Kampus Wong Alus (KWA) ini berbunyi: WAMAL HAYAATUDDUNYAA ILLA MATA’UL GHURUUR. WALAA TALUUMUNNA ILLA MIN ANFUSIKUM MIN AZMIL UMUUR. Hal yang sama persis dengan catatan saya, untuk lafal penyembuhan di sini, hanyalah pada kalimat WAMAL HAYAATUDDUNYAA ILLA MATA’UL GHURUUR (”Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”), dan ini memang merupakan kalimat ke-4 dari empat kalimat yang ada dalam Ayat 185 Ali Imran tadi. Perbedaan yang cukup jauh dalam lafal penyembuh terletak pada kalimat berikutnya, yakni: LATUBLAWUNNA FIII AMWALIKUM WA ANFUSIKUM untuk buku catatan saya waktu jaman SMA itu; sedangkan WALAA TALUUMUNNA ILLA MIN ANFUSIKUM MIN AZMIL UMUUR pada tulisan di forum KWA ini. Entah mengapa bisa berbeda seperti ini, namun saya coba sedikit telusuri lebih lanjut.

    Begini, kalau catatan saya di buku harian SMA dahulu itu, kalimat Arab LATUBLAWUNNA FIII AMWALIKUM WA ANFUSIKUM adalah kalimat awal atau kalimat ke-1 dari 3 kalimat yang seutuhnya dari Ayat 186 Ali Imraan, yang terjemahannya Indonesianya: ”Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu”. Tidak ada kata atau huruf pun yang berubah dalam kalimat Arabnya. Sementara, yang di forum KWA ini, kalimat Arab untuk WALAA TALUUMUNNA ILLA MIN ANFUSIKUM MIN AZMIL UMUUR itu adalah kalimat Latin yang masih ‘kabur’ bagi saya. Mungkin, ada kesalahan ketik untuk transfer ke Latin-nya disitu. Jadi, sebaiknya kata-kata WALAA TALUUMUNNA-nya terketik secara Latin—seperti dari catatan saya yang dalam teks Arab—dengan diganti LATUBLAWUNNA saja, tanpa ditambah WA. Jika demikian, maka saya bisa sedikit-sedikit menelusuri perbedaan atau perubahan tersebut, sekaligus bisa juga mengetahui terjemahanya untuk kalimat pada forum KWA ini. Perubahan itu juga adanya penambahan kata WA, cukup ‘aneh’. Mohon maaf kalau ini agak merepotkan. Kata WA dalam teks Arab [وَ] yang artinya “dan” itu tidak ada pada tempat catatan saya, dan jika kalimat WALAA TALUUMUNNA betulnya adalah LATUBLAWUNNA yang di tambah WA, maka arti bahasa Indonesia kalimat bisa saja menjadi “[dan] kamu sungguh-sungguh akan diuji”, yang mengambil juga kata dari kalimat ke-1 dari Surah Ali Imraan Ayat 186-nya. Sementara itu juga, kalimat ILLA MIN ANFUSIKUM MIN AZMIL UMUUR, saya juga tidak tahu persis dari mananya datangnya, kecuali jika kosakata ILLA itu memang terambil dari ILLA yang ada di kalimat ke-4 di Surah Ali Imraan Ayat 185-nya, bukan di Ayat 186. Lalu kata-kata MIN ANFUSIKUM-nya forum ini mengambil atau mengubah WA ANFUSIKUM-nya, yang merupakan kata terakhir dari kalimat ke-1 dari Ayat 186 Ali Imran, sedangkan MIN AZMIL UMUUR adalah kata-kata yang justru melompat dengan mengambil kata-kata yang dari kalimat ke-3 Ayat 186 Ali Imrannya. Cukup buram juga kelihatannya, meski tetap dari Surah dan Ayat yang sama. Kata-kata MIN AZMIL UMUUR itu memang artinya “yang patut diutamakan”, yah mudah-mudahan tidak keliru, begitu. Lalu, tampaknya juga, kalimat ILLA MIN ANFUSIKUM MIN AZMIL UMUUR sebagai lafal penyembuhan forum ini, jika diterjemahkan ke Bahasa Indonesia menjadi “tidak lain hanyalah dirimu yang patut diutamakan”. Dengan kata lain, lafal penyembuhan di forum ini, yang berbeda dengan punya catatan saya itu, secara utuh hendak berbunyi: “Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. Dan kamu sungguh-sungguh akan mendengar yang tidak lain hanyalah dirimu yang patut diutamakan”. Sekali lagi, formulasi lafal penyembuhan bagi orang linglung versi KWA sepertinya hendak begitu. Apakah demikian? Sayangnya, saya juga tidak yakin arti Bahasa Indonesia-nya yang saya telusuri begitu, karena saya tidak paham bahasa Arab sama sekali, hanya berdasarkan Kitab Al Quran dan Terjemahan yang saya punya. Selain itu, harus dikatakan juga, bahwa lafal milik forum ini sudah tidak seasli lagi dengan ayat Al Quran, secara urutannya. Misal, kata AZMIL UMUUR tadi datang dari kalimat ke-3 Ayat 186 Ali Imraan. Padahal, kalimat ke-2 sampai ke-3 dari Ayat 186 Ali Imraan tidak diambil sebagai ‘mantra’ di tempat saya.

    Begini saja. Para pembaca forum KWA dapat mengecek sendiri, terutama pada Ayat 186-nya yang terdiri 3 kalimat itu, yang secara utuh saya tuliskan kembali di bawah ini:
    لَتُبٛلَوُنَّ فِيٛٓ اَمٛوَالِكُمٛ وَاَنٛفُسِكُمٛۗ وَلَتَسٛمَعُنَّ مِنَ الَّذِيٛنَ اُوٛتُوا الٛكِتٰبَ مِنٛ قَبٛلِكُمٛ وَمِنَ الَّذِيٛنَ اَشٛرَكُوٛآ اَذًى كَثِيٛرًاۗ وَاِنٛ تَصٛبِرُوٛا وَتَتَّقُوٛافَاِنَّ ذٰلِكَ مِنٛ عَزٛمِ الٛاُمُوٛرِ. (ال عمران: ١٨٢)
    Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan. (QS Ali Imraan 3: 186)

    Jadi, silahkan diteliti ulang kata-perkatanya, yang telah dipakai oleh forum KWA ini, misalnya soal dari mana kata yang diambil untuk ‘mantra’ penyembuhannya. Selain itu, saya pun tidak yakin teks Arab yang dilatinkan untuk penyembuhannya kok dapat berubah seperti itu. Tetapi tentang lafal penyembuhan ini sendiri, satu hal yang pasti, yah, bahwa saya sangat yakin dengan catatan milik saya sendiri sewaktu SMA dulu, karena tidak ada perubahan apapun dari teks aslinya Al Quran, yang diterjemahkan: “Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. …,” kombinasi yang jelas antara Ali Imran Ayat 185 dengan Ayat 186 saja. Tidak lebih, tidak kurang. Sebab juga begini, setiap muslim diperbolehkan mengutip kalimat-kalimat Al Quran di satu ayat tertentu, baik dikutip kalimat sebagian ataupun seluruhnya, asal tidak mengubah jumlah huruf Arab atau memindah urutan kalimatnya. Pengutipan semacam itu biasa saja dilakukan oleh kaum muslimin (baik santri maupun abangan), misal untuk keperluan dalil berkhotbah atau kebutuhan ‘mantra’ berdoa.
    Pengutipan yang diizinkan itu ada banyak sekali prakteknya. Contohnya, Surah An Anfal Ayat 40 yang terdiri dua kalimat, yakni: “Dan jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwasannya Allah Pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” Ternyata hanya kalimat yang ke-2 boleh saja diambil untuk lafal zikir sehabis sholat atau ‘mantra’ penolak Balak/ penangkal aneka sengkala, yakni:
    … نِعٛمَ الٛمَوٛلٰى وَنِعٛمَ النَّصِيٛرُ. (الانفال: ٤٠)
    … Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. (QS Al Anfal: 40)
    Contoh lain pada Surah An Najm Ayat 32, yang terdiri 6 kalimat dalam satu ayatnya, itu bisa juga diambil kalimat ke-5 dan ke-6 saja, sehingga yang terkutip adalah: “…; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dia-lah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa.” Tidak ada urutan kalimat dan susunan kata dalam teks Arabnya yang berubah. Satu huruf pun juga tidak boleh, dan juga itu tidak mungkin bisa, kecuali terjemahannya yang sebatas redaksi saja, asal tidak mengubah isi. Terkadang memang, ada pula dalam kasus terjemahannya pun, beda redaksi dapat juga ‘sedikit-banyak’ mengubah ‘isi’, misalnya apa yang terjadi pada Surah Al Baqarah Ayat 85 yang terdiri sekitar 5 kalimat saja. Farid Wadjidi misalnya, dalam artikelnya “Bahaya Sekularisme” di Sabili No.5 TH VII 25 Agustus 1999.hlm.41 mengambil kalimat ke-3 hingga ke-4 dari Al Baqarah Ayat 85 itu menjadi: “… Apakah kamu beriman kepada sebagian isi Al Quran dan menolak sebagian isi Al Quran yang lain, tidaklah balasan bagi orang yang melakukan demikian melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia dan pada hari Kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. …” Sementara itu, redaksi dari Al Qur’an dan Terjemahnya. (Semarang: CV. Toha Putra dan Departemen Agama Republik Indonesia, 1989). hlm.24 bertulis: “… Apakah kamu beriman kepada sebagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yag sangat berat. …” Jadi, beda bukan? Yang satu redaksi “Al Kitab” adalah Al Quran, sedangkan yang lain “Al Kitab” adalah Taurat.
    Contoh lagi pada Surah Yusuf Ayat 33, yang terdiri sekitar 5 kalimat: “Yusuf berkata: ‘Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” Nah, boleh saja orang mengutip kalimat yang mana saja pada Surah Yusuf ayat 33 ini, tetapi tidak boleh misalnya mengambil kalimat ke-2 dan dipotong langsung digabung dengan kalimat ke-5, yang bahasa Arabnya nanti sengaja diubah menjadi: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai karena aku termasuk orang-orang yang bodoh”. Kalau ada yang ingin mengubahnya seperti itu, yah silahkan, tetapi pasti tidak akan mampu. Sudah berabad-abad, tiap-tiap ayat dalam Al Quran tak satupun huruf atau posisi kalimat yang pernah berubah atau berkurang atau bertambah. Selalu akan ketahuan. Begini saja, kalau tidak percaya, cobalah cek (secara on line atau on life) “Al Quran dan terjemahan Bahasa Inggris” yang abad ke-19 ataupun yang abad kini dengan “Al Quran dan terjemahannya Bahasa Indonesia”—pasti redaksi bahasa Arab-nya tetap tidak ada yang berbeda satu sama lain bahkan untuk satu hurufpun, kecuali, yang pasti beda pada terjemahannya, apalagi tafsirannya. Atau ceklah “Al Quran dan Terjemahan Bahasa Jawa” dengan “Al Quran dan Terjemaahan Bahasa Cina”, juga akan begitu.
    Kembali ke amalan atau rapalan Aji Tunggeng Mogok pada Surah Ali Imraan Ayat 185-186, bahwa teks Arabnya tidak mungkin bisa berubah, kecuali saya tetap dengan ‘rapalan’ yang terjemahan bahasa Indonesianya: “Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. …” Begitulah yang pernah saya catat waktu SMA teks-teks ‘mantra’-nya. Jadi mohon maaf dan mohon izin, bahwa saya yakin benar teks penyembuhan bagi orang yang linglung di kebun atau di pekarang tempat harta berada ini sudah sesuai dengan teks Al Quran, sebagaimana yang dicatat oleh buku tulis harian saya, sudah sejak waktu dulu.
    Nah sekarang, saya ingin berbagi pikiran hal lain, atau tepatnya ingin bertanya dan banyak berpendapat. Begini: kalau diamat-amati Surah Ali Imraan Ayat 185-186 secara tekstual, jalan cerita ayat dalam terjemahannya, misal utama pada lafal “Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. …” tadi, maka, orang yang dapat linglung oleh harta duniawi itu bukan sang pencurinya saja, tetapi si pemilik harta duniawi itu juga. Maksudnya, kira-kira, ayat ini adalah kritik universal bagi semua orang yang pada dasarnya dapat linglung atau terpedaya oleh harta atau segala hal nafsu duniawi-hewani. Hal tersebut juga dikatakan oleh ayat yang lain, yakni: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. ..” (Surat Ali Imraan 3: 14). Bukankah orang Jawa tahu betul apa itu “klenengan” atau kesenangannya yang terkenal dalam ungkapan ideal hidup kaum priyayi: “wanita, curiga, turangga, wisma dan kukila”? Nah, itu baru satu soal.
    Soal yang lain? Begini. Sampai sekarang, saya masih ingin tahu, siapa sih sebenarnya yang pertama kali menciptakan suatu metode mistis panangkal pencuri, yakni Aji Tunggeng Mogok ini, dengan menggunakan ayat Al Quran Surat Ali Imraan 3:185-186? Itu baru pada pertanyaan “siapa”, belum soal “kapan” dan ‘bagaimana”-nya?
    Baiklah, untuk sementara waktu pula, saya coba berfikir-fikir dan beraba-raba semampunya akal meraba. Mungkin, tata cara mistis ini diciptakan oleh salah seorang wali penyebar Islam di Jawa, mungkin Sunan Kudus mungkin juga Sunan Kalijaga, atau mungkin malah ‘ulama’ kampung dahulu kala. Tampaknya, tatacara mistis penangkal pencuri ini erat kaitannya dengan kultur agraris yang dihadapi oleh penyebar Islam kala itu. Ciri umum masyarakat agraris adalah sangat cinta tanah dan hasil pertaniannya, sehingga perlu menjaga dan merawat tanaman dari hama, termasuk hama pencurian oleh manusia, jadi perlu menjaganya dengan berbagai cara. Dari situ, masyarakat agraris yang sudah punya cara-cara mistis berbau animis atau hinduis tertentu untuk melindungi tanamannya, lalu cara tersebut dikonversikan oleh sang pendakwah islam waktu itu melalui: dari mantra kelam kepada ayat Quran. Dan mungkin pula, ini satu cara jitu atau praktis para pendakwah kala itu untuk mengenalkan ayat Quran, untuk kebutuhan praktis pula, salah satunya dengan penciptaan Aji Tunggeng Mogok ini, terutama kepada kaum agraris di Jawa. Mungkin saja begitu.
    Lalu, agaknya hal ini juga akan merepotkan bagi yang ingin sekedar amat-mengamati, apakah penciptaan Aji Tunggeng Mogok itu termasuk rangkaian besar proyek “islamisasi Jawa” atau malah “jawanisasi Islam”? (seakan mirip pertanyaan soal kosakata “plesir” dan prakteknya dalam budaya priyayi: “jawanisasi Belanda” ataukah “belandanisasi Jawa”?)
    Nah, lantas, tatacara ritual ajian Tunggeng Mogok ini, jika mantranya tadi benar harus dari ayat Quran, mungkin juga akan mudah menjadi sasaran empuk para ahli fiqh atau syariat, bahwa itu termasuk hal yang “menambah-nambahi perkara” alias bid’ah atas cara, atau dari caranya memperlakukan ayat suci tersebut. Memang, antara cara (syariat) dan tujuan (hakikat), terkadang menjadi pertengkaran ketimbang perdebatan. Padahal, mungkin, aji Tunggeng Mogok ini memang harus diterima sebatas: itulah “metode orang Jawa petani” yang mistis. Secara historis, ini juga harus diakui sebagai suatu adat atau cara penangkal pencuri a’la orang Jawa, demi mengamankan hasil dan harta pertaniannya. Cara orang Jawa pedalaman tentunya.
    Sementara cara orang perkotaan bagaimana? Nah, penyampai wahyu Al Quran sendiri, yakni Nabi Muhammad saw yang dari dunia perkotaan Mekah dan Madinah itu, rasanya, bahkan pastinya tidak pernah mengajarkan cara menangkis pencurian yang semirip dengan metode Aji Tunggeng Mogok ini. Apalagi, misalnya, ritual baca ayat Quran di pekarangan atau di perkebunan dengan angkat kaki dan turun kaki seperti orang main cingkling begitu – tentu, ini suatu cara yang tidaklah sopan terhadap pembacaan ayat suci. Jadi, dari nabi tidak ada cara ritual serumit atau sejanggal ini. Cara nabi justru terlihat semudah mungkin bagi rakyat kebanyakan. Contohnya, menurut hadis yang shahih dari Bukhari, jika hendak tidur, cukup dengan membaca Al Baqarah 2: 255 (Ayat Kursyi), maka diri dan barang bisa terjaga dari pencurian, baik pencurian yang dilakukan oleh setan jin maupun setan manusia. Atau cara nabi, yang lain, dalam menangkal pencurian (bahkan kejahatan secara umum), menurut hadist riwayat Muslim dan Abu Dawud, yakni Nabi pernah berpesan: ”Jika telah masuk waktu malam atau petang telah datang, tahanlah anak-anak kecil kalian (di rumah), karena sesungguhnya setan-setan ketika itu sedang berpencar. Dan jika malam telah berlalu sesaat maka lepaskanlah mereka. Dan tutuplah pintu-pintu rumah kalian serta sebutlah nama Allah, karena setan tidak dapat membuka pintu yang tertutup. Ikatlah juga tutup gentong kalian dan sebutlah nama Allah, serta tutuplah bejana-bejana kalian dan sebutlah nama Allah, meskipun hanya [ketika] dengan melintangkan kayu di atasnya (untuk menutup), lalu matikanlah penerangan-penerangan kalian.” [Dikutip dari buku Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani, Doa Dzikir dan Wirid Sehari-hari Menurut Al Quran dan As-Sunnah. Terj. Abdullah. (Solo: Insan Kamil, 2006).hlm. 251-252]. Nah jika boleh dibandingkan dengan Aji Tunggeng Mogok, maka cara Nabi ini terlihat begitu sederhananya, dan pasti, mudah sekali. Hanya cukup dengan menyebut nama Tuhan saja, diharapkan tidak akan terjadi pencurian, baik berupa penculikan anak maupun harta yang ada di rumah atau sekitarnya. Bahkan, nabi pun turut mengajarkan hemat minyak lampu (atau listrik) segala, yang sekarang bukan barang murah juga bagi rakyat kebanyakan. Itulah ajaran Kanjeng Rasul yang bijaksana, dari negeri padang pasir sana, yang tanahnya tidak segembur dan sesubur tanah Jawa.
    (Mungkin cara-cara mistis yang lebih rumit daripada semacam Aji Tunggeng Mogok ini dulunya ada di Timur Tengah, tetapi pada zaman Arab kuno bangsa Semit, yakni Zaman Budaya Agraria di Sumeria, sekitar 5000 tahun yang lalu, sebagai ciri masyarakat pertanian. Malah mistisnya ritual bisa dengan berbagai tumbal. [Sayang dan memang buku Nurcholis Madjid, Tradisi Islam. Peran dan Fungsinya dalam Pembangunan. Jakarta: Paramadina, 1997.hlm. 66] tidak akan membicarakan hal seperti itu)

    Lalu kembali, kalau masih kurang puas juga dengan amalan sebagaimana yang tertuang jelas dalam hadist tadi, ketika masuk ke suatu tempat dimana tanaman atau harta itu berada, serta masih takut harta (nikmat/ klenengan) itu hilang, maka boleh juga ditambahkan dengan bacaan Al Quran (menurut Imam Ja’far Ash Shaadiq[?]) sebagai berikut ini:
    وَلَوٛلَآ اِذٛدَخَلٛتَ جَنَّتَكَ قُلٛتَ مَاشَآءَ اللّٰهُۙ لَاقُوَّةَ اِلَّابِااللّٰهِۚ اِنٛ تَرَنِ اَنَاْ اَقَلَّ مِنٛكَ مَالًاوَّوَلَدًاۚ. (الكهف: ٣٩)
    Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu masyaAllah tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah? Jika kamu anggap aku lebih kurang [atau miskin] daripada kamu dalam hal harta dan anak, (QS Al Kahfi 18: 39)
    [Bacaan “mantra” dari surah Al Kahfi 18: 39 ini dikutip dari buku karya Idrus H. Alkaff, Intisari Sumber Ilmu Kesaktian Pusaka Para Aulia. (Solo: CV. Aneka, 1994).hlm.33, cetak merah dari saya, sekedar mencari fokusnya untuk tujuan pokok di forum ini]

    Sekarang, ini suatu usul saja. Lebih baik, amal untuk ritual Aji Tunggeng Mogok yang ada angkat kaki turun kaki itu ditinggalkan saja, sementara membaca Surat Ali Imraan 3: 185-186 sebanyak 221x setelah shalat asharnya dibiarkan tetap ada. Jadi, diperlakukan selayaknya orang mengaji Al Quran biasa, semacam membaca zikir begitulah. Atau, membaca ayat di kebun atau di pekarangan itu tetap ada tanpa harus angkat kaki turun kaki. (Kecuali, kalau hal itu bisa dijelaskan “mengapa”-nya harus kaki begitu) Sekali lagi, ini hanya usul saja, bahwa betul sudah ayat Al Qurannya adalah Surah Ali Imraan yang begitu, tetapi janganlah ayat suci diperlakukan secara begitu—“ngana ya ngana, ning aja ngana”(Begitu ya begitu, tapi jangan begitu). Lagipula, membaca Al Quran dengan motif duniawi semata, kurang begitu elok juga rasanya. Anggaplah kalau pencuri itu linglung akibat bacaan tersebut, itu merupakan suatu bonus kehidupan. Kalau ternyata masih juga kecurian bagaimana? Ya diikhlaskan saja, karena ikhlas adalah ilmu tertinggi dalam hidup. Ikhlas adalah bagian dari ilmu welas asih “para pandita”, dan bukan ilmu pedas selevel “para satria”. Ikhlas versus buas. Semacam “sepi ing pramrih rame ing gawe”, atau semacam level pencapaian nafsu pada welas asih yang tertinggi dan yang diurutkan dalam ungkapan Jawa: “Lodra sukarda angkara nuraga” (arti harfiahnya: makanan, keindahan, kesaktian, belas kasih). Nabi Ayub as pun pernah kehilangan harta dan anak-anaknya, dan oleh karena ikhlas, ia menjadi manusia istimewa yang penuh welas asih. Bahkan, sebuah sabda kanjeng Rasul, dari HR Muslim berbunyi: “Tidak ada seorang muslim yang menanam pohon, kecuali sesuatu yang dimakan dari tanaman itu akan menjadi sedekah baginya, dan yang dicuri akan menjadi sedekah. Apa saja yang dimakan oleh binatang buas darinya, maka sesuatu (yang dimakan) itu akan menjadi sedekah baginya. Apapun yang dimakan oleh burung darinya, maka hal itu akan menjadi sedekah baginya. Tak ada seorangpun yang mengurangi, kecuali itu akan menjadi sedekah baginya.” (hadis ini dikutip dari Buletin Jumat At-Tauhid edisi 121 Tahun II via http://fadhlihsan.wordpress.com/2010/03/15/pahala-bagi-orang-yang-menanam-pohon-sewaktu-di-dunia/). Terkadang, pencuri tanaman itu adalah pencuri kelas teri juga, yang benar-benar kelaparan. Kasihan ‘kan kalau orang sekelas Nenek Minah yang hanya “mencuri” beberapa buah Kakau, sudah miskin, dipermalukan karena linglung di sekitar tanaman, lalu dibawa pula linglung lebih parah lagi kepada pengadilan di negara yang korup?
    Baiklah, paling tidak, keberadaan Aji Tunggeng Mogok ini, dahulu kala, sudah cukup menenangkan hati pemilik tanah perkebunan atau pertanian, apalagi petani kelas rendahan yang tanah dan hartanya tidak seberapa itu. Secara psikologis, mereka bisa menjadi sedikit lebih tenang. Mungkin, pencipta Aji Tunggeng Mogok ini sengaja ingin memperkenalkan ayat Quran sebagai ‘mantra’-nya, agar mereka–kaum agraris–belajar bahwa: “…Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram” (Surah Ar Ra’ad 13: 28). Mungkin begitu, secara psikologis bagi kaum agrarisnya.
    Namun, apakah Aji Tunggeng Mogok ini dapat menangkal pencurian yang lebih hebat? Kenyataan historisnya, tidak selalu cukup demikian. Bisa diuji, bisa diteliti. Begini, ada pencuri kelas berat, yang tidak mencuri satu tandang pisang, sekeranjang tomat, atau sepetik pepaya; tetapi pencuri dahsyat ini mampu mencuri lebih daripada sekadar itu, yakni mencuri tanahnya (Sumber Daya Alam) sekaligus rakyatnya (Sumber Daya Manusia). Sejak perjanjian Giyanti pada akhir abad 18, misalnya, para raja pun, langsung atau tidak langsung, ikut berperan dalam pencurian tanah rakyat yang dilakukan oleh pemerintah Batavia (dalam seni ketoprak, saya menyukai cerita Pangeran Sambernyawa). Suatu ketika pada masa seterusnya (abad 19), para petani, tanahnya dijarah oleh perkebunan Kolonial dan dirinya pun dijadikan buruh petani murah di situ. Itulah yang pernah dilakukan oleh para pencuri besar di tanah Jawa (Indonesia).
    Sekali lagi, ini hanya pengamatan bersifat nalar. Pencuri jenis “unggul” ini memang ada dan luar biasa hebatnya. Mereka mampu mencuri tidak dalam gelap malam, tapi dalam terang siang benderang sekalipun. Mereka – umpamanya – tidak mencuri timun dengan membawa keranjang, tetapi malah mencuri tanahnya dengan undang-undang. Yah, pencuri kelas biasa pakai keranjang, pencuri kelas luar biasa pakai undang-undang. Setelah Pangeran Diponegoro (seorang santri yang sakti dari Keraton Jogjakarta) ‘tak berhasil’ membela tanahnya dan rakyatnya, dan berapa dekade kemudiannya, diperkenalkanlah undang-undang sakti yakni: Agrarische Wet 1870 oleh pemerintah kolonial, yang mampu mencuri tanah rakyat agraris dan menjarah tenaga manusianya. Terhapuslah tanah-tanah komunal yang luas dan terciptalah tuan-tuan tanah yang buas. Boleh dikatakan, Ajian Tunggeng Mogok tidak mampu menahan jenis pencurian seperti ini, kalau hanya sekedar mantra, bukan cita-cita. Memang betul, pencuri besar itu akhirnya sungguh-sungguh kian menjadi linglung yang nikmat dan buas yang lezat, meski ironisnya, lafal mantra penyembuhannya Aji Tunggeng Mogok ini, yakni: “Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. …” seakan tidak mampu menyadarkan mereka, melainkan justru menyasarkan kritik hakikat lafalnya kepada rakyat petani dan buruh tani itu sendiri, yang tanah sebagai perahu hidupnya sedang limbung. Rakyat benar-benar limbung oleh Agrarische Wet 1870 yang sakti dari bangsa ‘tuan-tuan’ itu.
    Apakah Aji Tunggeng Mogok ini sungguh-sungguh tidak berdaya? Kalau ditinjau atau dibaca pada ‘mantra’ teks Arabnya secara hakikat menjadi cita-cita yang hayat, seharusnya tetap berdaya pikat. Paling tidak, di tingkat individunya, yang percaya untuk terus mengamalkannya. Secara progresif, maksudnya, penghayatan BACAAN harus plus dengan pengetahuan TINDAKAN. Perhatikanlah arti amalan ayat 185 Ali Imran yang dibaca 221 x selama puasa 7 hari itu, “…Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan kedalam syurga, maka ia telah beruntung.” Di situ, surga yang digambarkan sebagai tempat yang beruntung adalah surga di alam akhirat. Jika ditarik ke alam bumi sekarang yang sedang dipijak, maka maksud ayat itu harus dibaca secara berbalik. Imbalan berupa Neraka di akhirat itu sewaktu di bumi adalah surga bagi kaum yang gemar berhias kesenangan dari perampasan harta orang atau penjarahan tanah rakyat, sedangkan surga di akhirat sewaktu di bumi adalah ‘neraka’ (kawah candra dimuka) bagi kaum yang berhias kesabaran akan perjuangan hak rakyat. Tidak ada jalan untuk mendekat ke syurga akhirat kecuali dengan mendekat dan melihat ke derita rakyat sewaktu di bumi yang bulat. Di sinilah diperlukannya TINDAKAN sambung-menyambung dengan BACAAN tadi.
    Semacam apakah TINDAKAN itu? Sebelum ke situ, simaklah ‘kisah’ ini dulu. Akibat tadi tanah komunal dijarah oleh tuan-tuan Kolonial dengan Agrarische Wet 1870-nya, sebagian besar petani pecah menjadi buruh tani dan sebagian lain bubrah menjadi buruh perkotaan. Nah perlu diakui di sini, sampai pada waktu berikutnya, suatu ketika, bahwa tuan kolonial Belanda tidak pernah kenal atau tidak pernah takut dengan nama Aji Tunggeng Mogok, tetapi mereka lebih takut kepada gema aksi gayeng mogok. Mengapa begitu? Karena Aji Tunggeng Mogok itu bacaan mantra, sedangkan Aksi Gayeng Mogok itu tindakan nyata. ‘MANTRA’ butuh keyakinan, ‘AKSI’ butuh kesadaran. Mantra bikin pencuri kelas biasa menjadi tunggeng, sementara AKSI bikin pencuri kelas besar menjadi puyeng.

    Nah pada tahun 1920-anlah contohnya, rakyat mulai diajari apa itu TINDAKAN yang nyata. Alih-alih diperkenalkan dengan aji tunggeng mogok, waktu itu rakyat, yakni pekerja perkebunan dan buruh pabrik, sudah diajarkan untuk aksi mogok kepada pengusaha perkebunan gula. Oleh siapa yang rakyat diajarkan TINDAKAN atau AKSI begitu? Dialah si Raja Mogok, si Soerjapranoto. [Dikutip dari buku Robert van Niel, Munculnya Elit Moderen Indonesia. Trj. Zahara Deliar Noer. (Jakarta: Pustaka Jaya, 1984).hlm.206].
    Soerjapranoto, yang menjadi ketua Personeel Fabriek Bond, sayap perburuhan Sarekat Islam, benar-benar menggayengkan rakyat kepada aksi mogok, dan yang mendidik rakyat agar saatnya mulai bersuara, bukan lagi sekadar ber-“mantra”. Singkatnya, itulah Soerjapranoto, yang Agustus 1918, pernah mendirikan arbeidsleger (tentara buruh) demi melakukan perbaikan ekonomi buruh dan petani. [Dikutip dari Ahmad Nashih Luthfi dkk., Keistimewaan Yogyakarta Yang Diingat dan Yang Dilupakan. (Yogyakarta: Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional, 2009).hlm.69-70]. Memang secara umum, waktu itu si Raja Mogok belum dapat merebut tanah yang pernah dicuri oleh kolonialisme dan kapitalisme, untuk kembali ke pangkuan rakyat agraris. Setidaknya, ketika itu rakyat sudah mulai dibangunkan dari limbungnya. Memang, AKSI dan AJI, sesuatu yang sangat bisa dibedakan.
    Kemudian, masih ada yang penting lagi, bahkan lebih penting. Pada Agustus 1930, seorang pemuda yang dalam pidato pembelaannya di muka Pengadilan (landraad) Bandung, yang bukan sebagai seorang terdakwa koruptor, di depan hakim, sempat mengajarkan rakyat tentang apa dan bagaimana AKSI tersebut. Dialah Soekarno, sang guru orator BANGSA Indonesia kelaknya, yang di ambang penjara politik rekayasa kolonial pun sempat mengajarkan kepada rakyat (MASSA):
    “Tuan-tuan Hakim, … Kami hanya bisa mengalahkan [kelas pengusaha besar] dengan aksi kang Kromo dan kang Marhaen, dengan massa-aksi kebangsaan yang sebesar-besarnya. …Kami mencoba dan kami yakin akan bisa, kami mencoba untuk memberi keinsyafan pada kaum intelektual Indonesia bahwa dalam kalangan massa inilah mereka harus terjun dan berjuang, dalam kalangan massa inilah mereka harus mencari kekuasaan bangsa, jangan lebih dulu hanya menjalankan politik ‘salon-salonan’ saja, menggerutu sendiri-sendiri atau marah-marah di dalam kalangan sendiri saja. Tidak! ‘Dalam massa, dengan massa, untuk massa!’,–itulah harus menjadi semboyan kami dan semboyan tiap-tiap orang Indonesia yang mau berjuang untuk keselamatan tanah air dan bangsa.”
    [Dikutip dari Pidato Sukarno dalam Mubyarto (ed.), Ir. Soekarno. Indonesia Menggugat (Pidato Pembelaan Bung Karno di Muka Hakim Kolonial). (Yogyakarta: Aditya Media & PUSTEP UGM, 2004).hlm.155, dan setiap cetak tebal, itu sengaja dari saya. Harap maklum, agar mata bisa mengulum.]
    Dalam pidato itu juga Soekarno menekankan makna TINDAKAN atau GERAKAN yang bergayut dengan jiwa AKSI-nya, yang ingin merebut kembali tanah-tanah milik bangsanya, dan pantas juga dikutip di forum KWA ini sebagai berikut:
    “Artinya, pergerakan kami adalah pergerakan yang dalam berusaha mengejar kemerdekaan, … Ia adalah suatu pergerakan yang bukan saja menulis di dalam anggaran dasarnya perkataan ‘kemerdekaan Indonesia’, ia adalah yang menuliskan di dalam anggaran dasar itu ‘berkerja untuk Indonesia merdeka’ dan mempunyai daftar usaha yang berisi macam-macam pasal ‘perbaikan hari sekarang’ itu tadi. …sebagai tempat mengolah tenaga dan mengasah hati, suatu schooling, suatu training bagi cita-cita yang lebih tinggi dan lebih sukar lagi yaitu kemerdekaan tanah air dan bangsa. AKSI untuk mendirikan sekolah-sekolah sendiri, AKSI untuk mendirikan rumah sakit sendiri, AKSI memberantas buta huruf dan riba, AKSI membangun koperasi-koperasi, AKSI menuntut hapusnya pasal 153 bis atau pasal-pasal tentang penjabaran benci atau hak pendigulan, AKSI menuntut perluasan hak serikat dan berkumpul dalam umumnya, berserta kemerdekaan surat kabar, –‘AKSI sehari-hari’ itu semuanya mempunyai ‘faedah mendidik’ yakni mempunyai nilai paedagogis yang tinggi sekali bagi rakyat dan bagus sekali untuk memberi rakyat keinsyafan dan kepercayaan akan tenaganya, akan kekuatannya, akan kekuasaannya yang sebenarnya.” [Dikutip dari Pidato Sukarno, tadi.hlm.156-157, cetak tebalnya dari saya lagi]
    Benar saja dengan AJI, eh, AKSI-nya ini, setelah Indonesia merdeka melalui Revolusi Rakyat semesta tahun 1945 (termasuk bersama petani miskin), Soekarno tidak lupa dengan para petani miskin, yang tanahnya pernah dicuri atau dijarah oleh penguasa kolonial melalui Agrarische Wet 1870 itu. Soekarno-lah figur lugas dan ikhlas dalam berjuang, dan tidak pernah ikhlas ketika rakyat–dalam hal ini petani–dibuang dan dibiar ‘telanjang’ tanpa tanah yang cukup lapang untuk bercocok-tanam atau berladang. Untuk itu, Soekarno beserta tokoh pergerakan lainnya mencoba memutus mata rantai pengerdilan kaum agraris ini dari buasnya ‘jimat’ penguasa tanah, yakni Agrarische Wet 1870, dengan menciptakan UU baru buat bangsanya, yakni UUPA (UU No.5 Tahun 1960 tentang Dasar Pokok-pokok Agraria) dan UUPBH (UU NO.2 Tahun 1960 tentang Perjanjian Bagi Hasil). Dengan UU yang baru inilah Soekarno ingin melakukan AKSI “bagi tanah” yang adil kepada para petani. Dengan begitu, ini cukup menjanjikan sebuah ketenangan atau keharapan bagi kaum tani waktu itu. UUPA dan UUPBH inilah yang dapat menangkal pencuri dahsyat semacam tuan tanah kolonial maupun feudal tadi.
    Lalu, dalam pidatonya pada 17 Agustus 1964 yang berjudul “Tahun ‘Vivere Pericoloso’, Soekarno masih menegaskan lagi: “… Kaum tani adalah penghasil pangan kita; beras, polowijo, jagung, sayurmayur, bahkan juga daging, telur, buah-buahan, dan lain-lain. Tetapi, kaum tani itu mengalami penghisapan double: penghisapan dari feodalisme, dan penghisapan dari kapitalisme. Kalau kita mau memperbaharui Indonesia, kalau kita mau memodernisasi Indonesia, tak boleh tidak kita harus memperhatikan nasib kaum petani… Saya peringatkan bahwa UUPA, juga UUPBH itu adalah undang-undang progresif buatan kita sendiri! Saya tidak mau mendengar ejekan seakan-akan ‘undang-undang nasional itu diadakan untuk tidak dilaksanakan’ … Saya berseru kepada kaum tuan tanah dan semua saja yang punya tanah-lebih daripada yang dikerjakannya sendiri, supaya mereka juga mempunyai sedikit perasaan…” Kalau dalam Al Quran Surah Yusuf 12: 76, Nabi Yusuf as yang sangat gagah itu pernah menggunakan Undang-undang Raja Mesir untuk membongkar siapa pencuri piala raja dan penjual dirinya sebagai buruh kota, yang notabene adalah saudara sebangsanya sendiri; maka Soekarno yang ganteng ini juga menggunakan UUPA untuk membongkar siapa penentang petani dan revolusi agraria, yang notabene saudara sebangsanya Soekarno sendiri. Sayang, banyak juga tuan-tuan tanah dari bangsanya Soekarno ini, bahkan berstatus Haji atau Kyai, tetap pelit terhadap petani. Bahkan kyai, yang sebagai kaum semi feudal itu, tulis Manfred Open, “kyai biasanya bertindak menurut prinsip-prinsip dan kepentingan-kepentingannya sendiri, yakni, dia biasanya jarang bertanggungjawab kepada siapapun kecuali Tuhan”. Artinya, tuan tanah jenis ini tidak mau menurut perintah ulil amri-nya, yakni Soekarno, dan hanya Tuhan yang bisa mempersalahkannya. [dikutip dari Manfred Oepen, “Pesantren dan LSM dalam Pembangunan Pedesaan Kerjasama dan Kontroversi”, Terj. Sonhaji Saleh. Jakarta: P3M, 1988.hlm.177]. Dengan begitu, yah tampaknya, memang kyai jenis ini hanya kenal konsep Kedaulatan Tuhan, bukan Kedaulatan Rakyat. Kedaulatan Tuhan hanya dititahkan kepada raja dan feudal dalam alam monarkis, sedangkan Kedaulatan Rakyat diamanatkan oleh rakyat dalam alam demokratis. Kyai ini tidak sadar sedang hidup di alam mana sewaktu Soekarno ber-AKSI dengan UUPA-nya.

    Dalam pidatonya pada 17 Agustus 1964 tadi, Soekarno ingin AKSI yang dicanangkannya itu benar-benar gayeng, alias ingin kompak, dan ia berpidato sebagai manifesto politik-nya: “…Maka kunyatakanlah suara rakyat yang menuntut keadilan dan demokrasi, bahwa partai-partai reaksioner Masyumi dan PSI adalah terlarang…tindakan ini objektif memperkuat dan mempersehat Persatuan Nasional. Dan jangan dikira bahwa manusia Sukarno ini manusia yang ‘weruh sadurunging winarah’. Jangan dikira Sukarno memiliki ilmu gaib yang begini-begitu! Tidak! Manakala aku meramalkan hal ini dan itu, ramalanku itu aku dasarkan pada pemahamanku atas hukum-hukum obyektif sejarah masyarakat. Kalaupun ada ‘ilmu gaib’ yang kumiliki,–itu karena aku kenal Amanat Penderitaan Rakyat, karena aku kenal situasi, dan karena aku kenal ilmu yang kompetent yaitu Marxisme.”
    Tentu, Marxisme sebagai metode beranalisis (denk methode), memang semacam ilmu ‘gaib’ dan amunisi politik ajaib bagi Soekarno. Sebuah ‘ilmu sosial’ (yang sebenarnya dapat terintegrasi dengan ‘ilmu spiritual’ dan) yang mampu menerawang suatu hal ‘gaib’ atau samar, seperti, modus perusakan dan pencurian hak rakyat kecil di banyak tempat. Ilmu ‘gaib’ ini juga, dalam satu hal di Barat, mampu sedikit banyak menerawang dan menerajang borok korupsi yang disamarkan oleh lembaga feodal (raja dan baron), bahkan lembaga gereja (pendeta). Lembaga raja dan lembaga agama memang biasa ditunjukkan sebagai dua ‘pusat’ kuasa penggerus hak rakyat lemah. Dua lembaga yang dalam sejarahnya Eropa banyak berlumur tingkah laku fasis dan rasis–ciri umum dari kaum kanan yang berwatak narsis. Di muka hakim Pengadilan Bandung tahun 1930 pun, Soekarno mengutip ucapan Friedrich Engles (sahabatnya Karl Marx): “Bangsa Inggris selamanya mengatakan Agama Kristen, tapi maksudnya ialah kapas”. Ucapan Engels dari Soekarno ini tidak berlebihan. Setelah kapas, tanah pun bisa. Dalam Museum Aparteid di Johannesburg Afrika Selatan, terdapat foto klasik seorang pribumi tertidur dengan muka tertutup Injil, dan foto itu tertulis kalimat: “Ketika orang-orang Eropa datang, mereka memiliki Injil dan kami memiliki tanah. Sekarang kami memiliki Injil, dan mereka memiliki tanah kami.” (Dikutip dari Koran Kompas, 01 Juli 2010). Dalam keadaan tertentu, agama memang bisa dijadikan alat penghisapan oleh sebagian besar tokoh agama, baik fulgar maupun samar. Karl Marx pun termasuk ‘pembedah’ bagaimana munafiknya tokoh agama menjadikan agama sebagai “candu” untuk membius rakyat yang sedang ditipunya, sebagaimana halnya dalam dunia gereja. Dalam khazanah Jawa, mereka dinyatakan: ”Durniti wiku manik retna adi”(Perbuatan buruk seorang pendeta tidak seperti intan). Dalam Islam, bedahan Karl Marx itu bukan hal yang baru atau bukan sesuatu yang mengejutkan, karena Al Quran pun juga banyak bercerita tentang hal itu. Contohnya? Ceklah dalam Surah At Taubah Ayat 31 dan beberapa tafsir tentangnya. Atau, dalam Surah Ali Imraan Ayat 187, tentang ahli kitab mempermainkan ayat suci, yang kemudian ahli agama ini disebut sebagai sangat terbiasa “…mereka menukarkannya dengan harga yang sedikit.” (Kalau Ali Imran Ayat 187 ini menonjok para pencuri agama, eh Ali Imraan Ayat 185 tadi memogok para pencuri biasa dalam Ajian Tunggeng Mogok?)

    Jadi, tidak ada yang mengejutkan dari ilmu Marxisme atau pandangan Karl Marx terhadap kaum munafik yang ada di kalangan gereja Eropa waktu itu atau masa tertentu. Kalaupun ada yang mengejutkan, itu adalah mengapa kok sebagian besar kaum agama Islam ‘tiba-tiba’ bersolidaritas rasa dengan kaum gereja, dengan ikut merasa kebakaran jenggot?! Apakah koruptor agama berkawan dengan koruptor agama yang lain? Wallahualam bissawab, hanya Allah yang pasti bisa menjawab. Manusia hanya melihat, semoga bukan melaknat. Hidajat Nataatmadja pernah menulis, meski dengan nada sinis: “Anda tidak perlu heran kalau dalam Al Quran Anda melihat ajaran-ajaran Marx dan Freud! Manusia munafik, manusia musyrik, manusia yang tidak beriman, manusia mungkar, itulah tipe manusia yang diungkapkan oleh Marx dan Freud! Aneh, ternyata bukan kaum ulama, ilmuwan beragama yang mampu menerangkan dan mengupgrade isi ayat-ayat suci untuk diterapkan dalam dunia modern! Justru orang-orang atheis seperti Freud dan Marx itulah yang menemukan kembali ayat-ayat suci dituangkan dalam teori ilmiah modern. Apa lacur, justru penemuan-penemuan itu ditolak oleh orang-orang yang beragama!” [Dikutip dari bukunya Hidajat Nataatmdja, Krisis Global Ilmu Pengetahuan dan Penyembuhannya (Al-Furqan). Terbitan Iqra tahun 1982]

    Selain itu, apakah ayat suci Al Quran juga bisa dijadikan sarana penipuan? Sangat mungkin sekali. Paling tidak, menurut Al Hasan bin Ali ra, bahwa dari tiga tipe penghafal Quran salah satu tipenya adalah “yang hafal huruf-hurufnya, tetapi menyia-nyiakan hukumnya dan mencari simpatik penguasa dan mencari citra.” (Dikutip dari buku Hikmah dalam Humor Kisah dan Pepatah Jilid1-6. Jakarta: Gema Insani, 1998]. Saya menangkap, terutama pada tipe orang yang menghafalkan dan membacakan ayat suci itu demi mencari simpatik penguasa, itulah contoh paling dekat tentang adanya penipuan atau ‘pencurian’ dengan menggunakan ayat suci. Astarghfirullah. Suatu watak yang telah di-alarm-kan oleh Surah Al Baqarah Ayat 96: ”Dan sesungguhnya kamu akan mendapati mereka, seloba-loba manusia kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) daripada orang-orang musyrik. …” (Dalil lain dan kasus lain? Kalau Toha Yahya Omar menerangkan Surah Luqman Ayat 6 dengan perumpamaan bahwa: jika saja ada orang yang menggunakan ayat suci untuk menghinakan orang lain, itu hukumnya kafir atas sifat/watak dan laku-nya si pelaku, bukan ayat suci-nya. Ceklah di bukunya Toha Yahya Omar, Hukum Seni Musik Seni Suara dan Seni Tari dalam Islam. Jakarta: Widjaya, 1983.hlm.37; dan kasus mutakhir tentang kelompok yang gemar ber-ayat suci untuk menghinakan secara rasis dan anarkis kepada golongan lain, maka ceklah Tamrin Amal Tamagola, “Negeri Preman”, dalam Kompas, Kamis 1 Maret 2012 ini) Terlepas Marxis atau tidak, di buku Larry Gonnick, Kartun Riwayat Peradaban Modern. Jilid II dari Bastille hingga Baghdad. Jakarta: Gremedia, 2010, ada dialog untuk mengambarkan era abad Pencerahan Eropa, yang dibuat berkata begini: “Pendeta dan Rabi dan Mullah, mereka itu yang mendukung perbudakan!”

    Jadi, kembali ke pidato Agustus 1964-nya, ilmu ‘gaib’ Soekarno adalah ilmu objektif tentang masyarakat, yakni Marxisme. Untuk itu, Soekarno, yang menggairahkan rakyat lapar ini, berkata lagi: ”…maka aku membayangkan bahwa kaum yang progresif-kiri tentu semakin yakin akan kebenaran Manipol, kaum yang berdiri di tengah atau yang oleh orang Inggris disebut ‘middle of the roaders’ bisa melihat kebenaran politikku, sedang kaum yang kanan tentu menjadi tidak berani lagi untuk terang-terangan memusuhi Manipol. Ya, tidak berani terang-terangan memusuhi Manipol, karena takut kepada penjara, atau takut kepada Rakyat. Dari sinilah asalmula munculnya Manipolis bermuka dua; Manipolis-munafik, Manipolis-palsu, –Manipolis-gadungan! Maka …’Salah satu ciri daripada orang yang betul-betul revolusioner ialah satunya kata dengan perbuatan, satunya mulut dengan tindakan.” Pidato ini memang keras dan lugas. Memang, Soekarno tidak takut dengan penjara sehingga menantang pula orang kanan alias kaum feodal dengan penjara pula. Hal ini fakta, Soekarno memang pernah membuktikan pada tahun 1930 berani masuk penjara, seperti Nabi Yusuf yang berani ikhlas masuk penjara, daripada mengingkari prinsip satu kata dengan perbuatannya—membela yang benar, membela rakyat yang nanar. Begitulah AKSI Soekarno. Lalu, sebagai orang Indonesia, dengan negara yang banyak petaninya, Soekarno sadar akan pendaulat alam bangsanya, alam demokrasi, demokrasi petani. Sebagai seorang Muslim, Soekarno juga sadar akan perintah Tuhannya dalam Al Quran Surah BARISAN alias Surah Ash Shaff Ayat 2-3: “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang kamu tidak perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”
    Demi penyatuan antara aksi dan kata, dan demi persatuan antara bangsa dan cinta, Soekarno masih lagi berkata: “..:’Kita tidak boleh menderita penyakit Islamo-phobi, atau Nasionalisto-phobi, atau Komunisto-phobi’, dan ‘saya membanting tulang mempersatuan semua tenaga revolusioner’, membanting tulang mempersatukan semua tenaga NASAKOM!”
    Kelak, Soekarno tidak melihat era awal abad 21 (terutama tahun 2012 ini), takala Indonesia benar-benar dipenuhi orang-orang munafik. Berbilang bela rakyat kecil, tapi malah bela penjilat kerdil. Berucap anti korupsi, tapi bela buasnya korporasi. Berkata bela rakyat yang pusing, eh malah bela modal negeri asing. Berkata bela Islam, ternyata malah bela bikin Negara Islam. Tetapi jangan lupa, dalam pidatonya tanggal 17 Agustus 1964 itulah, Soekarno telah merasa dan meramal tentang manusia munafik Indonesia. Soekarno berpidato tahun itu: “Apakah ramalanku itu salah? Tidakkah kemudian ternyata memang ada kaum yang mulutnya kumat-kamit dengan Manipol tetapi praktek-prakteknya mensabot Manipol? Kaum yang mulutnya kumat-kamit dengan Pancasila tetapi praktek-prakteknya mensabot Pancasila? Kaum yang mulutnya kumat-kamit dengan Nasakom tetapi praktek-prakteknya mensabot Nasakom?… Maka sungguh menggelikan bahwa ada orang-orang yang mengakunya ‘menyebarkan ajaran Soekarno’, tetapi menganjurkan hanya ‘samenbundeling van alle krachten’ saja. Lihatlah!, – bukan ‘samenbundeling van alle revolutionnaire krachten’, tetapi mereka sekadar mengatakan ‘samenbundeling van alle krachten’! Yang dikorup ‘hanya’ perkataan revolusioner, artinya, yang dikorup adalah justru jiwa daripada jiwa ajaran Revolusi! …, [rupanya] kalian takut akan kebangkitannya massa yang tentu saja beraksi atas anjuran-anjuranku untuk ber-massa-aksi! Kalian takut kepada Rakyat, sebab kalau Rakyat tahu bahwa kalian munafik, tentu kalian akan diganyang oleh Rakyat!”
    Begitulah gambaran dan ramalan Soekarno tentang pencuri besar yang berpahaman nyasar. Jadi, ber-mantra Aji atau ber-massa Aksi? Kembali mengulangi satu pendapat saya lagi, bahwa benarlah kaum pencuri tanah dan kaum munafik mungkin tidak takut kepada Aji Tunggeng Mogok sederhana, tetapi pasti takut kepada Aksi Undang-undang Pokok Agraria. Boleh setuju, boleh juga menggerutu, itulah yang saya tahu. AKSI sama dengan TINDAKAN.

    Nah, apakah benar Soekarno hanya mengajarkan AKSI tanpa mengenalkan juga mantra AJI? Ternyata dia juga ada mengajarkan mantra AJI, tetapi bukan mantra sembarang mantra, bukan aji sembarang aji. Mantra aji yang dimiliki oleh Soekarno adalah dari kitab suci, yakni Al Quran Surah Ar Ra’ad ayat 11, yang mengajarkan hidup aksi dan guyup mandiri. Lagi-lagi, simaklah ayat itu dalam petikan pidato Soekarno tanggal 17 Agustus 1964 ini: “…Siapa yang tidak memiliki dinamiknya Revolusi, – sudah, jangan ikut Revolusi, masuk saja di kandang kambing, ngempèng susu saja dari tètèk si kambing itu! Baca Manipol, baca semua pidato-pidato saya yang dulu, dan benang-merah yang ada menjulur semua pidato-pidato saya itu ialah: perjuangan, sekali lagi perjuangan, dan bahwa Revolusi adalah perjuangan. ‘Inallaha la yu ghoyiru ma bikaumin, hatta u ghoyiru ma biamfusihim’. ‘Tuhan tidak mengubah nasibnya suatu bangsa, sebelum bangsa itu mengubah nasibnya sendiri’. Firman Tuhan inilah gitaku, firman Tuhan inilah harus menjadi pula gitamu: Berjuang, berusaha, membanting tulang, memeras keringat, mengulur-ulurkan tenaga, aktif, dinamis, meraung, menggelèdèk, mengguntur, dan selalu sungguh-sungguh, tanpa kemunafikan, ikhlas berkorban untuk cita-cita yang tinggi. Hai Manipolis, – jangan Manipolis munafik!… Kemunafikan adalah sumber dari segala kelemahan. Sumber perpecahan. …Sumber pengkhianatan. Sumber segala kerling-kerlingan main-mata dengan musuh.”
    Nah, begitulah ‘mantra’ aji Soekarno, dengan sebuah ayat revolusi untuk bangsanya, yang diharuskan menjadi amalan hidup dirinya dan ajian bangsanya, yang teks Arab-nya boleh disediakan sebagai berikut:
    … اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوٛمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوٛامَا بِاَنٛفُسِهِمٛۗ… (الرّعد: ١١)
    … Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan suatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. …. (QS Ar Ra’ad 13: 11)
    Ayat inilah sebagai ‘mantra’ atau dalil sakti Soekarno terhadap maksud BERDIKARI-nya, alias “berdiri di atas kaki sendiri”. Soekarno selalu mengajak rakyat, bahwa kemandirian dan kesatuan bangsa adalah sumber mantapnya perjuangan, dan selalu mengecam bahwa kemunafikan bangsa adalah sumber perpecahan dan pengkhianatan. Berjiwa munafik, sumber khianat bagi bangsanya, misal muaranya, bermain mata kepada musuh bangsanya sendiri. Pidato tanggal 17 Agustus 1964 ini mendapat tanggapan sangat serius dari Amerika Serikat, sejenis atau sebangsa musuh, yang pernah disemprot oleh lidah tuah Soekarno dengan kalimat: “Go to Hell with your aid!”/”Masuklah ke dalam neraka (dengan segala bantuan munafikmu)!” Tanggapan serius untuk pidato itu termuat dalam “Memorandum Intelijen Terbaru” Washington, 20 Agustus 1964 nomor 7: “Dia [Soekarno] secara tidak langsung mendukung perebutan tanah oleh Komunis baru-baru ini, mengatakan bahwa ‘aksi unilateral’ para petani dapat dipahami mengingat lambatnya implementasi reformasi tanah (land reform). Dia mengumumkan bahwa pengadilan land reform – sebuah tuntutan Komunis – akan dibentuk. …” [Dikutip dari Edward C. Keefer, Dokumen CIA. Melacak Penggulingan Soekarno dan Konspirasi G30S-1965. Terj. dan editor Joesoef Iskak. (Jakarta: Hasta Mitra, 2002)hlm. 132]. Kemudian, dalam “Memorandum Intelijen” Washington, 2 Desember 1964 nomor 5: “[Adam] Malik mengatakan kepada Duta Besar Jones pada 19 November bahwa gerakannya telah mendapat bantuan dari Nahdlatul Ulama (NU), satu-satunya partai Islam yang besar yang masih legal; sayap kanan Partai Nasional; dan level bawah birokrasi dan partai-partai politik. Elemen pers Sukarnois telah mengorganisir ‘Gerakan Mahasiswa Sukarnois’; dan beberapa federasi pekerja non-Komunis telah bersatu kedalam ‘badan yang menyamar’ seolah-olah mendukung Sukarnoisme. Kelompok buruh merasa mereka harus merahasiakan organisasi mereka untuk menghindari serangan [politik] PKI. [Adam] Malik merasa bahwa selama ini gerakan harus tetap berupa koalisi cair (tidak mengikat)”. Begitu juga selanjutnya, dalam surat rahasia ke Gedung Putih, “Telegram dari Kedubes di Indonesia untuk State Departement” Jakarta, 24 Agustus 1967 Bab Rekomendasi, nomor 7: “Tetap menjaga hubungan dengan NU dan elemen-elemen lain yang menentang kebijakan anti-AS dari Soekarno (… Saya [Galbraith] sedang mempersiapkan penilaian mengenai kontak-kontak ini dan akan mengirimkannya kepada anda secepat mungkin)”.; dan nomor 8-nya: “Tetap berjaga-jaga terhadap perkembangan orang-orang potensial yang tidak sepakat dengan Soekarno, khususnya di pulau luar Jawa dan Jawa Barat, dan bersiaplah bergerak cepat mendukung Angkatan Darat jika Soekarno-PKI menekan pimpinan-pimpinan Angkatan Darat atau jika muncul kejadian yang mempercepat pemberontakan Angkatan Darat melawan Soekarno”. Ada lagi tanggapan serius Amerika Serikat dalam “Catatan Dipersiapkan Robert W. Komer, Staf Dewan Keamanan Nasional” Washington, 19 November 1964 nomor 5: “Pertanyaan kunci adalah apakah kita mampu melakukan perencanaan benar-benar secara tersembunyi tanpa membakar jari kita sendiri. Jika Bung [Karno] atau PKI benar-benar menangkap permainan kita, kita mungkin akan kehilangan lebih banyak dari yang sudah kita dapatkan.” Dan tak luput juga dalam “Telegram dari Kedubes di Indonesia untuk State Departement” Jakarta, 25 November 1964 berbunyi: “… Sampai sekarang Adam Malik, Chaerul Saleh, Jendral Nasution, Jendral Sukendro dan lainnya telah meminta dengan kuat atas bantuan AS menyelamatkan kaum moderat di dalam Indonesia dari hal-hal yang dapat dengan mudah menjadi posisi yang tidak dapat dipertahankan. …” Lalu akan terlihatlah ‘konspirasi’, dalam “Airgram dari Kedubes di Indonesia untuk State Departement” Jakarta, 21 Februari 1968 berbunyi: “Agar program Amerika Serikat berjalan di Indonesia, jalan terbaik adalah masuk melalui ‘kebudayaan ketiga’ yaitu menggunakan orang-orang ternama di Indonesia, yang telah mendapatkan pengetahuan yang luas atas kebudayaan kita. Mereka adalah orang-orang yang menjadi tim penasihat ekonomi Jendral Soeharto. Mereka dapat digunakan sebagai mediator yang sangat berguna. Konsekwensinya setiap permintaan bantuan harus dilihat apakah orang-orang Indonesia yang mengontrol program adalah orang-orang dari ‘kebudayaan ketiga’ ” Beginilah, Soekarno tegas coba ‘merapal’ Ayat 11 Surah Ar Ra’ad Quran demi merobah keadaan yang ada pada diri bangsanya sendiri; sementara ada pihak kontra-Soekarno terus merapal ‘mantra sesat’ demi ingin merobah Indonesia dengan membuka intervensi bangsa lain (bangsa lain semacam ‘bangsa jin koboy’ Washinton?).

    Kembali lagi kepada soal AJI. Kalau ritual Aji Tunggeng Mogok–berdiri angkat satu kaki lalu turun satu kaki–ketika membaca Surah Ali Imraan Ayat 185 di kebun atau di pekarangan, itu tidak jelas apa makna simbolisnya; maka Aji Langgeng Pokok revolusi-nya Soekarno–berdiri di atas kaki sendiri–ketika membaca Surah Ar Ra’ad Ayat 11 di pidatonya, itu sangat jelas apa maksud simbolisnya. Maksud Soekarno terang mengatakan: rakyat bangsanya, termasuk petaninya, janganlah menyerahkan nasib kepada siapapun, kecuali diri sendiri, kalau tidak ingin menjadi orang-orang yang merugi. Sekumpulan cita-cita terkandung di situ: berdiri di atas kaki sendiri, bertanam padi di sawah sendiri, berjuang untuk negeri sendiri. Orang Jawa bilang: “Sadumuk bathuk senyari bumi, ditohi tekan pati” yang artinya kira-kira “Meski selebar sentuhan jari di dahi, selebar permukaan jari di bumi, tanah harus dipertahankan sampai mati”

    Sekali lagi, dalam hal membela petani, Soekarno bukanlah golongan kaum munafik. Jangan lupakan warisan mantra ajinya, Surah Ar Ra’ad Ayat 11 tadi, yang sempat dilugaskannya pada masa Demokrasi Terpimpin.
    Oh ya, ada satu catatan lagi, tentang Demokrasi Terpimpin ini, terkait adanya istilah manusia oportunis pada era Demokrasi Terpimpin, yang bukan dari zaman atau dari Soekarno. Begini, HM. Rasjidi dalam karyanya berjudul Koreksi Terhadap Dr. Harun Nasution tentang ‘Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya’. Jakarta: Bulan Bintang, 1983, pernah mengingatkan kembali tentang adanya kaum oportunis itu. Kata HM. Rasjidi di era Orde Baru, bahwa jangan lupakan Orde Lama itu ada orang yang menulis buku-buku Demokrasi Terpimpin dengan mengutip Quran dan Hadist. Sayang, HM. Rasjidi tidak menyebutkan contohnya siapa penulis oportunis di Era Soekarno itu. Apakah Soekarno yang pernah lantang mengutip Surah Ar Ra’ad Ayat 11 tadi termasuk golongan oportunis itu? Semoga tidak. Tetapi pastinya, orang yang menonjol di Era Demokrasi Terpimpin, ya memang hanya Soekarno. Terutama, orang yang pasti menonjol mengutip sepotong ayat Quran, yakni Surah Ar Ra’ad:11 ya waktu itu, ya Soekarno. Seharusnya, HM. Rasjidi sportif untuk tidak sebut Era Orde Lama semata-mata, yang ada oportunisnya dengan menggunakan Quran dan Hadist sebagai ‘tempelan’ argumen politiknya. Tempelan? Baiklah, itu pendapat HM. Rasjidi yang harus dibaca sebagai pendapat dia dalam konteks Orde Baru. Pada dasarnya, saya setuju juga dengan sebagian kecil pendapatnya. Curiga, atau tepatnya waspada, itu memang perlu, bahkan kalau perlu, ya selalu. Waspada kepada pengutip Quran dan Hadist, baik kepada penulis buku mistik, buku politik, maupun buku akademik, memang perlu. Namun agar sportif dan adil, setiap orang harus diajarkan untuk waspada kepada semua pihak yang pandai mengutip Quran dan Hadist, baik itu misalnya kepada Soekarno pribadi atau Kasman Singodimenjo Masyumi di era Soekarno, ulama MUI atau juga HM. Rasjidi sendiri di era Orde Baru, Amin Rais di awal reformasi, FPI di era Presiden Megawati, maupun Suryadharma Ali di era kini, bahkan kepada penulis “komentar Aji Tunggeng Mogok” yang sedang mengetik ini. Itu akan terasa lebih sportif. Karena apa? Oportunis atau munafik, bisa menjangkit kepada siapa saja. Kapan? Ketika antara Bunyi dan Aksi, tidak Serasi. Sewaktu Kata dan Kerja, hanyalah Citra.

    Terus terang, menurut saya, Soekarno memang bukanlah orang suci, tetapi juga bukan figur oportunis atau munafik. Pendapat subjektif ini kian menjadi kental, karena betapa sulitnya menemukan Presiden atau Pemimpin di kondisi objektif Indonesia akhir-akhir ini, yang berani membela rakyat dan bangsanya setulus Soekarno, yang bukan sekadar membela atas nama negara semata. Dengan begitu, tidak cukup lagi buat saya dengan pernyataan naïf, “Setiap presiden pasti orang terbaik, karena dipilih oleh mayoritas rakyat”, atau “setiap presiden punya karakter, waktu, jaya, zamannya masing-masing”, yang kini semakin berubah menjadi suatu pernyataan hambar atau munafik. Jangan lupakan istilah “jaman kegelapan”, “jaman pencerahan”, “jaman revolusi”, “jaman anti-revolusi”, “jaman edan”, atau “jaman pro-korporasi”, yang memosisikan setiap orang dan setiap zaman itu bisa disifatkan secara bersamaan.
    Soekarno memiliki tiga syarat kepemimpinan secara sekaligus: cerdas, berani, dan tulus. Syarat ini tampak sederhana dalam teori, tapi tidak sesederhana dalam prakteknya. Cerdas, karena Soekarno mengetahui dan menyelami betul keadaan bangsa atau rakyatnya yang sesungguhnya, termasuk mengetahui jelas siapa musuh-musuh bangsa-rakyatnya, serta mengajari rakyat AKSI melawan musuh itu, baik yang nyata maupun yang ‘gaib’. Soekarno menyebut ilmunya adalah Marxisme. Berani, karena ia menghadapi betul siapa musuh bangsa dan rakyatnya itu secara terbuka, meski dengan nalar dan rasa saat itu semisal zaman Kolonial: seakan tak mungkin disanggah atau dirubah. Sepanjang hidupnya, ia berani terus menyerempet bahaya, meskipun ia tidak pernah belajar memakai senjata, sebagaimana Jendral Nasution, Jendral Soeharto, ataupun Jendral Soesilo Bambang Yudoyono. Ia hanya mengenal “Ayo bangkit rakyat!” dan tidak mengenal “Siap Gubernur Jendral!” atau “Siap komandan!” Itulah Soekarno, yang mengenalkan apa sejatinya patriotis-Nasionalis. Tulus, karena dia sama sekali tidak berdagang dengan bangsa atau rakyat, ikhlas memberi waktu dan tenaga untuk itu, tanpa hitung untung rugi dengan diri sendiri. Tidak ada istilah ‘Aji Mumpung’ di situ baginya. Ia berkata kepada rakyat petani misalnya, “apakah kalian ingin menanam padi dan memiliki tanah sendiri?”, bukan semisal kelak “apakah BLT akan dilanjutkan atau tidak?” Itulah Soekarno dengan aksi-aksi yang tulus melalui usaha “bagi tanah”, bukan dengan akal-akal yang bulus melalui “bagi BLT”. Politik riya atau politik citra bukan milik Soekarno yang tulus. Dia ikhlas, itulah hakikat Agamis.
    Semua orang bisa berkata “membela kebenaran”, “membela Islam”, “membela Negara”, “membela Pancasila”, atau “membela rakyat”. Itu baru sebatas perkataan, belum tentu sinkron dengan perbuatan. Jangan lengah, bukan tanah dan harta saja yang bisa dicuri, kata dan makna pun juga bisa dikorupsi. Untungnya, Soekarno pun memberikan semacam rumusan penguji akan demikian ini, dengan pernyataan praktis dan filosofis: “Jangan sekali-kali lupakan sejarah”. Pernyataan ini justru diwariskan tepat saat-saat menjelang dirinya tumbang, dari kursi kepresidenan. Kini, pernyataan tersebut juga boleh digunakan untuk kritis bertanya atau bersimpul, misal, “siapa dia dulu menentukan siapa dia sekarang”, atau “bagaimana mereka sebelumnya menentukan bagaimana mereka sesudahnya”, sehingga tepat menghasilkan kewaspadaan dengan kalimat: “Jangan sekali-kali lupakan sejarah!” Cukup deterministis memang. Agar tidak meleset yang banyak, mari melesat dengan contoh yang sedikit. Begini, Soekarno dan Soeharto dapat sama-sama pada akhir tahun 1966 berkata “selalu membela rakyat, demi bangsa dan Negara.” Ajukanlah pertanyaan: apakah itu akan ditentukan juga oleh “Bagaimana dulunya, bagaimana setelahnya”? Mari dihitung-hitung.
    Simaklah, masa-masa sebelum pemerintah Belanda kalah pada tahun 1942, Soekarno sibuk membela rakyat atas nama bangsa, ketika dirinya sebagai seorang mahasiswa; sementara Soeharto sibuk membela rakyat atas nama negara, ketika dirinya sebagai aparat KNIL (Koninklijk Nederland Indisch Leger-Angkatan Darat Kerajaan Hindia Belanda). “Rakyat” oleh Soekarno dalam makna bangsanya sendiri, sedangkan “rakyat” oleh Soeharto dalam makna negaranya bangsa lain. Soekarno berjuang demi kemerdekaan dan kemandirian rakyat manunggal, Soeharto bertugas demi keamanan dan ketertiban negara kolonial. Sejak pidato di pengadilan Bandung tahun 1930, Soekarno menginsafi rakyat sebagai bagian cita-cita “kekuasaan bangsa”, sedangkan Soeharto meyakini rakyat sebagai bagian lantai-lantai “kekuasaan negara”. Soekarno mengamati ideologi bangsa, sewaktu sebagai aktifis untuk simpatik kepada ‘perjuangan petani”; sementara Soeharto menerima doktrin, sewaktu sebagai aparat KNIL untuk phobia kepada ‘pemberontakan petani’. Nah, dari sini saja, kembalilah bertanya dan bersimpul dengan dalil “Jangan sekali-kali lupakan sejarah”, sehingga dapat diketahui dengan jelas bagaimana makna rakyat itu, ketika pada tahun 1966, Soekarno dan Soeharto sama-sama berkata: “membela rakyat”. [Saya berhutang budi betul dengan Benedict Anderson untuk memperhatikan cara bertanya semacam ini, melalui “Indonesia Statistik: Surat Buat Para Pambaca”, dalam Indonesia, Vol.69, April 2000]
    Rumusan “Jangan sekali-kali lupakan sejarah” milik Soekarno terdahulu ini dapat diujikan kepada sejarah yang terdekat. Begini, semua orang bisa sama-sama mengatakan “reformasi: memberantas korupsi, demi rakyat!” Nah, perlu diingat, meletusnya Reformasi 1998, itu bukan barang sekejab tanpa proses yang panjang. Paling kurang, 10 tahun sebelum itu, mahasiswa telah bergerak dan ber-AKSI melancarkan kritik korupsi kepada pemerintahan Soeharto/ Orde Baru. Dari ‘semua’ orang, yang bisa saja bicara “ayo reformasi, berantas korupsi, demi rakyat”, saya terpaksa mengambil pada sampai ‘beberapa’ orang saja, yakni dua nama sebagai contoh. Dua nama itu, mohon maaf dan dengan berat, saya sebut saja contohnya: Fajroel Rahman dan Soesilo Bambang Yudoyono. Begini, dua orang ini, pada tahun 2004-2009 misalnya, sama-sama berkata “reformasi, berjuang memberantas korupsi”. Tetapi, makna ‘reformasi’ atau ‘anti-korupsi’ pada diri kedua orang ini, dengan dalil “Jangan sekali-kali lupakan sejarah” tadi, sama sekali tidak dapat dikorupsi. Pada waktu Orde Baru bertahta, Fajroel Rahman pernah berani mengkritisi Soeharto, sedangkan Soesilo Bambang Yudoyono hanya berani mengawasi mahasiswa. Dari sini saja sudah dapat dibedakan makna “reformasi” dan “anti korupsi” yang diucapkan oleh kedua orang ini pada tahun 2004-2009, karena berlakunya aturan: “bagaimana mereka sebelumnya menentukan bagaimana mereka sesudahnya”. Nah, salah satu tuntutan reformasi 1998 adalah memberantas korupsi dengan mengadili Soeharto. Jadi, bagaimana mungkin SBY sebelumnya tidak pernah ikut militan meneriakkan korupsi Orde Baru, lantas tahun 2000-an SBY ingin melanjutkan reformasi dan melawan korupsi yang dulu pernah diusung oleh mahasiswa? Hampir sulit disangkal: sebagaimana orang sebelumnya tidak bernyali melawan korupsi menentukan pula sesudahnya juga tidak akan bernyali melawan korupsi. Ini bukan persoalan hak politik, tapi ini persoalan hak sejarah. Ini juga bukan persoalan hak hukum prosedural, tapi persoalan hak sejarah nasional. Berani “demi rakyat”-nya SBY tidak akan pernah sama dengan bernyali “demi rakyat’-nya Fadjroel Rahman dalam hal melawan korupsi. Kalau Fajroel Rahman pernah berani masuk penjara di era Orde Baru karena melawan korupsi, maka apakah SBY pernah akan berani masuk penjara di era Reformasi ini karena melawan korupsi? Tidak ada hubungannya dengan senjata sebagaimana dalam hal seni perang fisik, Soekarno hanya pernah berkata tentang

  25. wiwin es

    Tidak ada hubungannya dengan senjata sebagaimana dalam hal seni perang fisik, Soekarno hanya pernah berkata tentang: serahkanlah 10 pemuda yang berani, maka dunia ini bisa dibikinnya berguncang. (Bagaimana 1000 golongan tuanya? Nanti kita bicarakan.) Sekali lagi, SBY memang mempunyai hak politik untuk menjadi presiden atau apapun di Indonesia, karena dia warga negara Indonesia; tetapi dia tidak punya hak sejarah dalam Reformasi yang sudah sekarat ini untuk berani “Katakan Tidak pada korupsi!” secara ‘sempurna’, karena ia pernah menjadi bagian dari kekuasaan Orde Baru. SBY sering kali berkata “Jangan bersihkan lantai kotor dengan sapu yang kotor”, lantas, bagaimana membersihkan NKRI yang pernah kotor oleh korupsinya Soeharto, dengan menggunakan seorang mantan aparat Soeharto? Lebih indahlah perkataan Presiden Soekarno: “Jangan sekali-kali lupakan sejarah”

    Rumusan Soekarno masih bisa dipakai untuk menguji lagi sejarah pembelaan rakyat (termasuk pembelaan petani). Saya akan mengambil dua nama orang lagi, yang sama-sama datang dari kalangan sipil, sebagai contoh yang paling mudah untuk menguji sejarah pembelaan tersebut. Dua nama itu adalah: Abu Rizal Bakrie dan Budiman Sudjatmiko. Begini, kedua orang ini pada tahun 2010 kemarin, pernah sama-sama di media mampu berkata bebas yang secara intinya: “mensejahterakan rakyat dan bangsa”. Baiklah, kedua-duanya memang sama berkata hal yang baik kepada rakyat. Persoalannya, “rakyat” dan “bangsa” seperti apa yang dipahami oleh Abu Rizal Bakrie maupun Budiman Soejatmiko itu? Kata Tan Malaka di buku MADILOG-nya, bahwa bukan pikiran yang menentukan pergaulan, tetapi pergaulanlah yang menentukan pikiran. Kalau begitu, pergaulan Abu Rizal Bakri dan Budiman Soejatmiko lah yang menentukan pikiran mereka tentang apa itu sebenarnya “rakyat”, bukan sebaliknya. Oleh karena itu, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah”, kata Soekarno, kita pakai kembali. Begini, pada waktu Orde Baru masih berjaya, Budiman Soedjatmiko pernah ‘bergerilya’ dan bergaul dengan petani di beberapa desa di Jawa Tengah, yang teramat sering mendapat pengintaian intel dan polisi-polisi Orde Baru. Sementara itu, pada era yang kurang lebih sama, Abu Rizal Bakrie bergaul erat dengan dunia bisnisnya dan tidak pernah berpolitik kritis kepada Soeharto yang menjadi Presidennya. Lantas, ingin “mensejahterakan rakyat” di era Reformasi, itu rakyat yang mana? Jadi, tidak akan pernah sama antara Budiman Soedjatmiko dengan Abu Rizal Bakrie dalam memaknai ‘rakyat’ dan ‘bangsa’ Indonesia-nya itu. Dulu, Budiman Soedjatmiko pernah bertaruh badan dan nyawa untuk membela petani, bahkan pernah berdekam di penjara politik; maka kini, mungkinkah Abu Rizal Bakrie juga akan berani membela petani-petani yang tanahnya rusak oleh lumpur Lapindo Brantas? Itulah contoh, antara perkataan dan perbuatan, bisa diuji melalui pengalaman dan pergaulan. Budiman Soedjatmiko, yang pernah kuliah di Fakultas Ekonomi UGM, lebih memilih bergaul dengan petani sambil menyerempet bahaya daripada bergaul dengan penguasa/ pengusaha kaya sambil menyerempet ‘dosa’ – itu jelas pemuda yang pemberani. Soekarno pasti lebih senang dengan pemuda yang pemberani seperti ini. Sejarah “kualitas” pembelaan rakyat harus dijelaskan dan diukurkan dengan cara begitu. “Modal politik” seseorang atau golongan atau kaum atau bangsa ditentukan betul oleh “modal sejarah”-nya, semacam track record-nya. Reformasi Mahasiswa 1998 memang mutlak milik pemuda-pemudi yang pemberani, dan merekalah tokoh reformasi sesungguhnya, bukan Adnan Buyung Nasution ataupun Amin Rais yang disebut-sebut sebagai tokoh reformasi itu, apalagi Abu Rizal Bakrie yang dari golongan “mendadak reformasi”. Jangan lupakan sejarah dan jangan korupsikan sejarah, termasuk sejarah perjuangan membela rakyat. Petani–tentu rakyat–sepanjang sejarah Indonesia adalah kaum kecil yang sering dijarah. Kalau menurut perumpamaannya Soekarno, untuk membela petani atau rakyat seumumnya cukup butuh 10 pemuda yang berani saja. Apakah benar cukup segitu secara “syariat”? Atau memang harus begitu secara “hakikat”?
    Sekali lagi, bangsa ini butuh pemuda yang berani, orang yang berani, yang tidak cukup hanya pintar atau sekedar baik saja. Bayangkanlah bila di suatu tempat, ada orang baik tanpa keberanian harus berhadapan dengan orang jahat yang penuh keberanian? Ini jelas tidak akan seimbang, karena tidak ada oposisi terhadap posisi. Bagaimanapun juga harus diakui, orang baik itu sebenarnya masih banyak dan selalu ada pada setiap jaman dan tempat. Apa dikira bahwa pada masa kolonial Belanda di Indonesia tidak ada orang-orang yang baiknya? Juga, apa disangka di era itu tidak ada orang yang kasihan dengan rakyat yang menderita? Pasti ada. Apakah tidak ada pada jaman itu ulama dan intelektual yang iba juga dengan petani dan rakyat seumumnya? Pasti juga ada. Tetapi, bagaimana dengan keberadaan orang yang beraninya? Itu yang tidak banyak! Itu pula yang menjadi soal. Padahal, orang seperti itulah yang sedang dibutuhkan oleh rakyat, baik waktu penjajahan negeri kolonial dulu maupun waktu penjajahan kapital negeri sendiri sekarang ini. Orang berani itu harus melakoni hidup yang tulus, demi menghadapi orang jahat berani yang rakus. Sebab, orang jahat yang pintar itulah yang selama periode tertentu dengan cerdik mencuri tanah rakyat, sehingga Aji Tunggeng Mogok pun tidak pernah mampu melindungi tanah dan melinglungkan mereka secara ajeg.

    Soekarno pernah memberi permintaan atau perumpamaan kepada bangsanya; bahwa berikanlah dia 1000 orang tua yang bijak, maka gunung Semeru bisa dicabutkan dari tempatnya, tetapi berikanlah dia pemuda yang pemberani 10 orang saja, maka dunia ini bisa diguncangkan. Kira-kira begitulah kalimat bebasnya. Lalu, permintaan dan perumpamaan ini juga saya pergunakan ‘sesuka’ saya untuk menjelaskan keadaan sekarang. Begini, anggaplah Adnan Buyung Nasution, Amin Rais, Megawati, Din Syamsuddin, dan Salahuddin Wahid–yang sekarang ini–sebagai golongan atau orang tua yang bijak. Anggap begitu, yah anggaplah memang begitu. Lalu, sudah ada 5 orang bijak ini pun, maka masih saya tambahkan lagi dengan: 100 orang tokoh lintas agama; 5 penceramah agama (baik penceramah cetakan industri kampus ataupun olahan industri televisi); 90 paranormal dari berbagai aliran, entah Permadi SH atau siapapun (dari seluruh propinsi Indonesia); 100 orang ahli Hukum-Tata Negara dari berbagai Universitas; 100 orang profesor Ilmu Politik dan Sosiologi; 100 orang pakar Komunikasi Politik sekelas Tjipta Lesmana, juga pakar Pendidikan, dan Budaya; 100 orang ahli ekonomi entah kapitalis/ neo-liberalis ataupun bukan; 100 orang wartawan senior, entah sekelas Dahlan Iskan ataupun siapa; 100 orang ahli sejarah (termasuk sejarawan ‘menara gading’-nya); 100 orang seniman (baik yang beraliran jenis “seni untuk seni” ataupun “seni untuk industri”), entah sekelas Butet Kartaredjasa ataupun siapa; 10 orang ahli teknologi yang sekelas Habibie; 10 orang sesepuh Golkar-PDI-PPP era Orde Baru yang berbagai rupa; 30 orang tokoh dari partai-partai era Reformasi (baik dari partai yang sekarang hidup sekarat maupun yang mati setengah mendadak); 10 guru SD-SMP-SMA senior yang dari era Orde Baru; 10 orang sesepuh militer Orde Baru yang “mulai insyaf” di era Reformasi; 10 pengamat intelijen dan pelaku intelijen didikan Orde Baru; 10 orang sesepuh polisi (baik seangkatan Pak Hugeng ataupun dekat seangkatannya Timur Pradopo); 9 orang pembicara motivator sekelas Mario Teguh; dan 1 orang sesepuh HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) – nah, total sudah ada 1000 orang tua di Indonesia, dari terutama 5 orang yang awal tadi. Baiklah, apakah yang mereka bisa lakukan? Sebagaimana yang dahulu dikatakan oleh Soekarno, secara metaforis mereka hanya bisa menggoyangkan gunung Semeru, dan secara fisis tidak akan bisa menggoyangkan Istana Presiden, misalnya istana Cikeas sekarang, apalagi juga menggoncangkan dunia. Adnan Buyung Nasution, Amin Rais, Megawati dan tokoh yang lain ini bukanlah orang yang berani, mereka hanyalah tokoh yang bijak saja. Buktinya, ketika Soeharto jaya, mereka secara bijak memilih bertiarap dari kerusakan yang dibuat oleh Soeharto. Hal ini berbeda dengan golongan pemudanya, yang memilih ‘bergerilya’ ke bawah dekat dengan rakyat yang menderita oleh tekanan Soeharto. Pemuda lebih berani dan ikhlas untuk hidup tidak aman dan nyaman ketika berhadapan dengan penguasa–ini jelas bukan pilihan yang bijak, sejenisnya nekad bila istilah “bermodal nekad” dapat dipakai juga. Tetapi apa yang diminta oleh Soekarno adalah benar, pemuda yang pemberani itu cukup 10 orang saja, lebih berguna besar terhadap perubahan yang besar, daripada 1000 orang tadi, meski mereka adalah orang yang baik–kalau bisa dikatakan begitu. (Saya sudah katakan di awal, bahwa orang baik saja tidak cukup). Banyak bukti sejarahnya, keberanian dan ketulusan mendatangkan keajaiban. Bahkan, para Nabi, dalam kitab suci, mendapatkan mukjizat (keajaiban) karena sikap keberanian dan ketulusan itu sejak awal; bukan sebaliknya, mendapatkan mukjizat baru muncul keberanian. Lalu, sampai tahun reformasi 1998 pun, banyak pemuda yang tidak menyangka Soeharto akan tumbang secepat itu, dan ini sebuah keajaiban, suatu rejeki yang tidak disangka-sangkanya. Meski sedikit ironis juga, sesuatu yang tidak disangka-sangka juga terjadi, mantan pengikut Orde Baru masih saja ingin berkuasa dan memang berkuasa juga hingga sekarang dengan segala boroknya, yang sudah menular ke sebagian besar generasi reformis. Namun yang pasti, keberanian untuk melakukan perubahan dan perbaikan, itu kata kuncinya, yang selalu dibuktikan dengan dalil “Jangan sekali-kali lupakan sejarah”. Kisah para Nabi bukan dongeng, kisah reformasi bukan sinetron cengeng, mereka miliki keberanian dulu, baru mendapatkan keajaiban. Selain itu, dari 1000 orang bijak yang saya sebutkan tadi, mungkin lebih dari setengahnya pernah hidup sebagai pemuda di era Soekarno, dan mungkin pernah mendengar pidato Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1964 yang berbunyi: “…Siapa yang tidak memiliki dinamiknya Revolusi, – sudah, jangan ikut Revolusi, masuk saja di kandang kambing, ngempèng susu saja dari tètèk si kambing itu!…” Memang, terbukti hal itu terjadi di era Orde Baru. Siapa yang berani membela petani di desa dan buruh di kota secara sungguh-sungguh?
    Kalau tidak semua, sebagian besar 1000 tokoh tadi pun sering menganggap pemuda eks-‘gerilya’ reformasi 1998 sebagai golongan yang pemberani, tapi tidak berpengalaman untuk mengendalikan pemerintahan. (di Amerika Serikat, dalam kampanye Pilpres kemarin, kubu Republik ‘menyerang’ kandidat lawannya, yakni Barrack Obama, sebagai pemuda yang cerdas tapi tidak berpengalaman – itu tidaklah mempan. Tapi lain di Indonesia, dengan kultur yang masih feodalis, ungkapan seperti itu masih saja dianggap berguna). Hingga sekarang, mereka pun tidak begitu ikhlas betul bila pemuda yang pernah menumbangkan Soeharto mengambil alih roda pemerintahan dan perpolitikan. Seharusnya di era pasca-reformasi 1998 ini, mereka harus lebih bijak lagi, jangan sudah tidak berani dengan Soeharto, eh tidak ikhlas pula dengan pemuda pelaku Reformasi yang dapat diambil 10 orangnya untuk mulai memimpin rakyat dan bangsa ini. Kepada mereka yang dulu bersikap bijak, maka tolonglah sekarang lebih bijak lagi. Pemuda itu sekarang memang “satrio piningit”, yah dipingit, karena tidak punya akses untuk mengiklankan diri melalui media komersial yang riya atau parpol yang foya. Tetapi mereka adalah ‘satrio kinunjara murwa kuncara”, karena dulunya mereka pernah dipenjara oleh Soeharto, baik fisik maupun mental. Mereka para pemuda yang bukan seperti Gayus Tambunan, hasil atau produk generasi Orde Baru yang sedang memerintah, generasi yang sekarang mengaku ingin melanjutkan reformasi 1998 itu. Dulu, seorang “satrio kinunjara murwa kuncara” adalah Soekarno, yang hidup muda pernah terpenjara, dan yang wafat tua terpenjara di rumah ‘tanahan politik’ Wisma Yaso. Terpenjara bukan sebagai koruptor, meski sering dituduh agitator oleh agen kapitalis provokator. Dulu, yah sejak dulu, Soekarno telah membela rakyat segala lapisan, termasuk kelak membela berani mati untuk dan bersama petani. Di pengadilan landraad Bandung tahun 1930 pun ia sudah berkata:
    “Memang tanah air Indonesia, bangsa Indonesia, Ibu Indonesia mengharap dari semua putra-putra dan putri-putrinya pengabdian yang demikian itu, penyerahan jiwa-raga yang tiada batas, pengorbanan diri walau yang sepahit-pahitnya, kalau perlu dengan hati yang suci dan hati yang ikhlas. Putra-putra dan putri-putri Indonesia haruslah merasa sayang bahwa mereka untuk pengabdian ini masing-masing hanya bisa menyerahkan satu badan saja, satu roh saja, satu nyawa dan tidak lebih. Sebab, tiada korban yang hilang terbuang, tiada korban yang sia-sia, ‘no sacrifice is wasted’, begitulah Sir Oliver Lodge berkata. … Memang kami berdiri di hadapan Mahkamah Tuan-tuan hakim ini bukanlah sebagai Soekarno, bukanlah sebagai Gatot Mangkoepradja, bukanlah sebagai Maskoen atau Soepriadinata, kami berdiri di sini ialah sebagai bagian dari rakyat Indonesia yang berkeluh kesah itu, sebagai putra-putra Ibu Indonesia yang setia dan bakti kepadanya. Suara yang kami keluarkan di dalam gedung Mahkamah sekarang ini bukanlah tinggal di antara tembok dan dinding-dinding saja, suara kami didengarkan oleh rakyat yang kami abadikan, …”
    Pada tahun 1965 dan setelahnya, Soekarno wafat, banyak pula petani yang wafat pula, dibantai dimana-mana oleh Soeharto cs. Apakah nyawa mereka sia-sia? Tidak juga, karena itulah pengorbanan. Jelang 1998 pun, pembela petani yang terdiri mahasiswa pergerakan pun juga banyak diculik dan dibunuh. Apakah itu nyawa yang sia-sia? Tidak juga. Nah, sekarang silahkan memilih, siapa yang membela rakyat sebenarnya, Soeharto ataukah Soekarno? Siapa yang pernah tega membunuh rakyatnya, Soekarno ataukah Soeharto? Saya akan mengutip dua hadis saja. Pertama, “Abdullah bin Amru ra, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa yang terbunuh demi mempertahankan hartanya, maka ia mati syahid.” (Shahih Muslim no.202), dan yang kedua: “Hadis riwayat Ma ‘qil bin Yasar ra: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: seorang hamba yang diserahi Allah memimpin rakyatnya mati sebagai penipu rakyatnya pada saat ia mati, maka Allah mengharamkan baginya masuk ke surga-Nya.” (Shahih Muslim no.203)
    Lalu, kitab suci yang diimani baik oleh Soekarno maupun oleh Haji Muhammad Soeharto juga mengingatkan:
    وَ اِذٛ قَتَلٛتُمٛ نَفٛسًافَادّٰ رَءٛتُمٛ فِيٛهَاۗ وَاللّٰهُ مُخٛرِجٌ مَّاكُنٛتُمٛ تَكٛتُمُوٛنَ. (البقرة: ٧٢)
    Artinya:
    Dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling tuduh menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan. (QS Al Baqarah 2: 72)
    Demikian pula dengan ayat suci ini,
    مِنٛ اَجٛلِ ذٰلِكَ كَتَبٛنَاعَلٰى بَنِيٛٓ اِسٛرَآءِيٛلَ اَنَّهٗ مَنٛ قَتَلَ نَفٛسًابِغَيٛرِ نَفٛسٍ اَوٛفَسَادٍ فِى الٛاَرٛضِ فَكَاَ نَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيٛعًاۗ وَمَنٛ اَحٛيَاهَا فَكَاَ نَّمَآ اَحٛيَا النَّاسَ جَمِيٛعًاۗ وَلَقَدٛجَآءَ تٛهُمٛ رُسُلُنَا بِالٛبَيِّنٰتِ ثُمَّ اِنَّ كَثِيٛرًا مِنٛهُمٛ بَعٛدَ ذٰلِكَ فِى الٛاَرٛضِ لَمُسٛرِفُوٛنَ. (المآئدة: ٣٢)
    Artinya:
    Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampai batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi. (QS Al Maidah 5: 32)
    Dengan ayat yuridis filosofis begitu, apakah Soekarno dan rakyat yang dibelanya pantas dibunuh oleh Soeharto cs, dengan sokongan bangsa asing pula? Apakah Soekarno telah melakukan kerusakan di muka bumi Indonesia ketika membela para petani dan seluruh rakyat progresifnya? Siapapun boleh menjawab menurut versinya. Tetapi ada yang sedikit menarik, dua orang yang sama-sama anti Soekarno pun boleh berbeda tanggapan. Kalau Basyaiban menulis: “Ingat, kejahatan Bung Karno bukan hanya melindungi PKI, waktu itu dia juga telah memenjarakan banyak tokoh Islam Masyumi” [Dikutip dari A. Muthalib Basyaiban, “Yang Dibesar-besarkan Kok Hanya Kematian Mahasiswa” dalam Sabili, No.9 TH.VII, 20 Oktober 1999.hlm.69], maka Hidajat Nataatmadja lain lagi dengan menulis: “Lupakah Anda kepada Aidit yang bisa merakit pesan bahwa PKI sejalan dengan Islam dan justru Masyumi yang kurang ajar merusak wajah Islam?!…” [Dikutip dari bukunya Hidajat Nataatmdja, Krisis Global Ilmu Pengetahuan dan Penyembuhannya (Al-Furqan). Terbitan Iqra tahun 1982.hlm.108]
    Pembunuhan terhadap rakyat, termasuk petani dan pembela petani, upaya kudeta terhadap Soekarno–itu semua merupakan pesanan bangsa asing yang ingin merampas tanah dan kekayaan alam Indonesia, yang didukung dan diundang oleh kaum munafiqin bangsa sendiri. Kalau dulu Soekarno memperjuangkan petani melalui UUPA demi patahkan watak kolonial yang tersisa dari saktinya Agrarische Wet 1870, maka sebaliknya Orde Baru Soeharto memunculkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 Tentang Penanaman Modal Asing dan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1969 Tentang Bentuk-Bentuk Usaha Negara demi tancapkan kekuasaan ekonomi asing. Kerusakan alam dan kerusakan posisi petani, serta kehilangan tanahnya, terjadi dengan cepat. Masa Soeharto telah tumbangpun, ternyata tidak juga banyak perubahan. Kecuali, di era Gus Dur yang sempat ada sedikit harapan bagi para petani. Dalam pidatonya di depan Konfrensi Nasional Sumberdaya Alam tanggal 23 Mei 2000, Gus Dur mengatakan: tidak tepat jika rakyat dituduh menjarah, karena “sebenarnya perkebunan yang nyolong tanah rakyat, ngambil kok nggak bilang-bilang”, dan dia juga berkata “kalau kita kaya harus bareng-bareng dan kalau miskin pun harus bareng-bareng.” [Dikutip dari makalah Noer Fauzy, “Pembaruan Agraria: Urusan yang Belum Selesai”, dalam Laporan Acara dan Prosiding Peluncuran Buku ‘Landreform dan Gerakan Protes Petani Klaten 1959-1965 Karya: Dr. Soegijanto Padmo. Yogyakarta: Yayasan Pengembangan Budaya-Media Indonesia-BKMS UGM, Remdec, dan Insist, 2000.hlm.12-13] Pernyataan Gus Dur itu seakan menyambung kembali dengan apa yang dikatakan oleh Presiden Soekarno pada 17 Agustus 1964 dalam pidatonya yang berjudul “Tahun ‘Vivere Pericoloso’: ”… Saya berseru kepada kaum tuan tanah dan semua saja yang punya tanah-lebih daripada yang dikerjakannya sendiri, supaya mereka juga mempunyai sedikit perasaan…” Namun, jangankan dengan banyak perasaan, dengan sedikit perasaan untuk bangsa pun—ternyata mereka juga pelit. Demikianlah, usia kepresiden Gus Dur pun juga tidak lama, karena ulah ‘dongkol-dongkel’ kaum tua seangkatannya Gus Dur yang mengaku tokoh Reformis 1998 itu. Gus Dur memang buta secara fisik, tapi hatinya tidaklah buta. Rakyat petani yang dituduh sebagai perusak atau pencuri tanah oleh orbais—masih dibelanya. Ia pun dulu termasuk yang direncanakan akan dibunuh oleh Soeharto, dan tidak tercapai karena terjadinya Reformasi 1998; meski akhirnya ia digulingkan dari kursi kepresidenannya oleh kaum “tiarap era Orba” dan kaum eks-anak buah Soeharto juga. Setelah itu, tidak ada perbaikan apapun yang berarti. Hingga datang era kekuasaan SBY yang menelurkan sejumlah undang-undang yang menjarah tanah rakyat, karena berwatak eksploitatif dan pro-korporasi dalam negeri dan luar negeri, seperti: UU No.25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, dan UU No. 27 tahun 2007 tentang Pengolahan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, serta UU No.4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara. [Dikutip dari Chalid Muhammad, “Drama Haru SBY”, Kompas, 30 Oktober 2009] Presiden SBY rupanya mengikuti jejak langkahnya Soeharto. Petani semakin tergusur bahkan terkubur. Apa yang aneh dengan kekerasan terhadap petani akhir-akhir ini? Petani disiksa, petani diusir, petani dituduh, bahkan masih petani dibunuh—tidak ada yang aneh, karena pemimpin dan para pemimpin NKRI sekarang ini masih berbau phobi petani, mantan pelaku kekerasan atau agen negara represi, dan pelindung korporasi, serta tidak akan menjauh dari korupsi.

    Hampir terlalu lepas dan luas saya berkupas, meski seakan tidak bertuntas. Dari berbicara Aji Tunggeng Mogok milik petani, yang diharapkan bikin pencuri kelas kecil ‘mogok’ linglung di kebun; sampai Aksi ‘gayeng’ Mogok dan Aksi Agraria Pokok, yang diharapkan bikin pencuri kelas besar ‘kagok’ bingung di tribun. Benarlah, Aji Tunggeng Mogok tidak dapat membantu menyelamatkan tanah petani dari pencurian besar, kalau hanya dibaca sekadar sebagai ‘mantra’. Seharusnya, ‘mantra’ atau ayat 185 Ali Imraan itu dibacakan langsung kemuka penguasa atau perwakilannya: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan kedalam syurga, maka ia telah beruntung.” (Ayat 185 Ali Imraan ini juga biasa dibaca sebagai doa Talqin Mayit) Bila tidak mempan (dan akan mungkin selalu begitu), maka amalkan dan yakinlah apa yang diajarkan oleh Soekarno dari Surah Ar Ra’ad Ayat 11: ” … Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan suatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. ….”. Petani kecil mulai dan harus bangunlah, bahwa nasib mereka di tangan mereka sendiri, maka carilah pemimpin yang mau dan yang pernah tahu menjadi bagian dari kaum mereka sendiri. Pemimpin mereka haruslah orang atau pemuda yang seperti Soekarno minta: ‘Dalam massa, dengan massa, untuk massa!’,–itulah harus menjadi semboyan kami dan semboyan tiap-tiap orang Indonesia yang mau berjuang untuk keselamatan tanah air dan bangsa.” Jangan pedulikan lagi orang atau partai yang mau berjuang demi kenyamanan diri sendiri dan kesenangan bangsa lain. Ciri partai dan mereka yang berjuang demi kenyamanan diri itu terlihat jelas ketika menjelang kampanye, seperti: tahu-tahu memasangi iklan diri di TV bak selebriti, tiba-tiba rajin mengunjungi banyak pesantren, menggelari konser amal, mengunjungi pasar-pasar tradisional, mendatangi para petani di pedesaan, dan tiba-tiba perhatian sekali dengan rakyat miskin perkotaan. Itu tidak lebih politik riya dan strategi citra. Mereka ini seperti atau benar-benar menjadi pengikut anjuran seorang ‘priyayi’ Firenze Italia Abad ke-16, Nicollo Machiavelli, yang pernah bersaran: “Penguasa yang hati-hati tak perlu memegang janjinya sendiri jika itu bertentangan dengan kepentingannya. … Bagus-bagus saja jika kamu tampak welas asih, setia, manusiawi, jujur, beragama atau menjadi seperti demikian itu; tapi pikiranmu harus tetap siaga, sehingga jika diperlukan sebaliknya kamu bisa berubah 180 derajat” [Dikutip dari Larry Gonnick, 2007.hlm.108]
    Baiklah, saya sudahkan sampai di sini saja. Kembali ke soal tadi. Akhirnya, jujur, saya memang sedikit tahu siapa yang pernah mengajarkan aksi ‘gayeng’ mogok, tetapi saya sampai sekarang belum tahu sama sekali siapa yang menciptakan aji Tunggeng Mogok. Sungguh, saya serius bertanya tentang siapa yang pertama kali menciptakan metode anti-pencurian seperti itu, karena ajian itu–dengan segala keanehan dan keunikan serta kesedihannya–termasuk (mungkin) produk budaya-intelektual kaum ‘Islam’ agraris di Jawa. Adakah yang tahu, lantas sudi memberi tahu?
    Saya berterima kasih banyak, dan coba banyak belajar berdoa:
    اللّٰهُمَّ فَأَ يُّمَا مُؤٛ مِنٍ سَبَبٛتُهُ فَا جٛعَلٛ ذَلِكَ لَهُ قُرٛ بَةً اِلَيٛكَ يَوٛ مَ الٛقِيَا مَةِ.
    Wahai Allah, siapa saja di antara orang mukmin yang aku kritik, maka jadikanlah kritikan tersebut sebagai sarana mendekatkan dirinya kepada Engkau pada hari kiamat. (HR Bukhari dan Muslim)
    [Dikutip belum izin dari bukunya Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani, op.cit. hlm. 224-225]
    Utama kepada sesepuh dan rakyat Kampus Wong Alus,
    Wassalam
    Wiwin ES

  26. Abu Yahya

    Panjang nyimaknya….

  27. Abah Soleh

    ijin mengamalkanya. pengalaman pribadi, saat saya melakukan ritual aji tsb, banyak kejadian aneh dan di luar nalar terutama brg2 yg kita senangi. mohon lebih berhati2 dalam pengamalanya, krn khodam2 nya sangat besar, pengalaman saya pribadi. apalagi klo sudah mendekati puasa hari ke 3 dan ke empat. banyak2 lah memohon perlindungan ALLAH SWT. amien…

  28. Abah Soleh

    Mohon Amalan tsb jangan terlalu di publikasikan, karena bagi yg tidak kuat, akan bingung sendiri. krn UJIAN nya sangat berat. Ujian yg saya maksud, lebih mengarah ke Harta benda anda(brg2 yg anda cintai). saya sudah lama mengamalkan ini dan ada beberapa hafalan yg beda tapi intinya sama. Amien…

  29. adam

    Ass Wr Wb …
    Terima kasih atas pembabaran ilmunya.
    Qobiltu.
    Saya terima pengijasahan Aji Tunggeng Mogok ini dgn lengkap dan sempurna.
    Mohon ijin bagi saya dan mungkin juga bagi keluarga dan kerabat saya utk mengamalkannya.
    Semoga Allah SWT meridhoinya. amien.
    Semoga Allah SWT senantiasa melindungi dan memberkahi pengijasah beserta keluarganya. amin.

  30. ass.wr.wb

  31. joyoboyo

    asalamualaikum jangn menafsirkan al quran se enak sendiri atau merubah n menambahkan nya itu akan merusak nya.ingt kitab kitab terdahulu yg di urubah itu semua karena hasutan setan n prasangka prasangka saja.plajari dengn benar n sek sama.berhati hatilah mohon maf jika saya salah dlm berkata dan ber ucap saya hanya sekedar mengingatkan aja,mungkin dlm penulisan bisa jd ada dlm kekeliruan jd kl bner bner ingin mengamalkan pahami dahulu agar tdk salah.

  32. hadi

    Mohon izin mengambil ilmu ini pak , karena kebun kami sering kehilangan hasil taninya

  33. achmad yani

    Ass,mohonijin ngamalke suatu saat nanti, maturnuwun

  34. ad dhoif

    om wiwin… mantaap ulasannya… sungguh sangat menambah wawasan… kwa tetap jaya dan sukses..

  35. wiwin es

    ad dhoif
    maaf baru balas, baru kunjung
    semoga bermanfaat, apa saja
    belajar terus
    salam
    wiwin eko santoso

  36. Mantaffff

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

%d blogger menyukai ini: