WIRID LENGKAP NURBUWAT


Agenda says: bacaan wirid arahman arahim nya gmn ya… saya baru tahu kalo doa nurbuat bisa ambil barang bertuah sebab yg saya tahu …

Yth Sdr Agenda: Berikut akan dijelaskan wirid lengkap doa tersebut beserta faedahnya untuk kehidupan kita.

Doa dimulai dengan bacaan BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIIM. Diteruskan dengan ALLAAHUMMA DZIS SULTHAANIL ‘AZHIM, WA DZIL MANNIL QADIIM, WA DZIL WAJHIL KARIIM, WA WALIY YIL KALIMAATI TAAMMAATI WAD DA’AWAATIL MUSTA JAABAH, ‘AAQILIL HASANI WAL HUSAINI MIN ANFUSIL HAQQI ‘AINIL QUDRATI WAN NAAZHIRIINA WA’AINIL INSI WAL JINN, WA IN YAKAADUL LADZIINA KAFARUU LI YUZLIQUUNAKA BI ABSHAARIHIM LAMMAA SAMI’UDZ DZHIKRA, WAYAQUULUUNA INNAHUU LAMAJNUUN, WA MAA HUWA ILLAA DZIKRUL LIL ‘AALAMIIN. WA MUSTAJAABU LUQMAANIL HAKIIM. WA WARITSU SULAIMAANABNI DAAWUDA ‘ALAIHI WAS SALAAM.

AL-WADUUD (tujuh kali AL WADUUD) …………………….(Sebutkan keinginan dalam hati kepada Allah s.w.t.)

Lanjutkan dengan membaca…. DZUL’ARSYIL MAJIID. THAWWIL ‘UMRII WA SHAHHIH AJSAADII WAQDHI HAAJATII WAKTSIR AMWAALII WA AULAADII WAJ ALNI HABBIBAN LIN NAASI AJMA’J IN. WA TABBA’ADIL’ADAAWATA KULLA MIMBANII AADAMA ‘ALAIHIS SALAAM. MAN KAANA HAYYAUW WA YAHIQQAL QAULU ‘ALAL KAAFIRIIN. WA QUL JAA AL HAQQU WA ZAHAQAL BAATHIL, INNA BAATHILA KAANA ZAHUUQAA. WA NUNAZZI LU MINAL QUR’AANI MAA HUWA SYIFAAUW WARAHMATUL LIL MUKMINIIN. WA LAA YAZIIDUZH ZHAALIMIINA ILLAA KHASAARAA. SUBHAANA RABBIKA RABBIL ‘IZZATI ‘AMMAA YASHIFUUN, WA SALAAMUN ‘ALAL MURSALIIN, WAL HAMDU LIL LAAHI RABIIL ‘AALAMIIN”.

“Ya Allah, Zat Yang memiliki kekuasaan yang agung, yang memiliki anugerah yang terdahulu, memiliki wajah yang mulia, menguasai kalimat-kalimat yang sempurna, dan doa-doa yang mustajab, penanggung Hasan dan Husain dari jiwa-jiwa yang haq, dari pandangan mata yang memandang, dari pandangan mata manusia dan jin. Dan sesungguhnya orang-orang kafir benar-benar akan menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, ketika mereka mendengar Al-Quran dan mereka berkata: “Sesungguhnya (Muhammad) benar-benar orang yang gila, dan al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat. Dan yang mengijabahi Luqmanul hakim, dan Sulaiman telah mewarisi Daud a.s. Alwadud (Allah adalah Zat Yang Maha Pengasih) (tujuh kali Alwadud)………………(sebutkan hajat di hati kepada Allah) yang memiliki singgasana yang Maha Mulia, panjangkanlah umurku, sihatlah jasad tubuhku , kabulkan hajatku, perbanyakkanlah harta bendaku dan anakku (pengikutku), cintakanlah semua manusia dan jauhkanlah permusuhan dari anak cucu Nabi Adam a.s., orang-orang yang masih hidup (dihatinya) dan semoga tetap ancaman siksa bagi orang-orang kafir. Dan katakanlah : “Yang haq telah datang dan yang batil telah musnah, sesungguhnya perkara yang batil itu pasti musnah”. Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan Al-Quran tidak akan menambah kepada orang-orang yang berbuat aniaya melainkan hanya kerugian. Maha Suci Allah Tuhanmu Tuhan Yang Maha Mulia dari sifat-sifat yang di berikan oleh orang-orang kafir. Dan semoga keselamatan bagi para Rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam.”

Doa ini disampaikan kepada Nabi oleh Malaikat Jibril pada suatu pagi ketika Nabi sedang duduk bersama para sahabat selepas solat subuh. Doa Nurbuwat atau disebut juga doa Nurun Nubuwwah ini banyak sekali faedahnya bila dibaca dan diamalkan. Dan apabila tidak dapat membaca atau tidak hafal, maka cukuplah ditulis, kemudian tulisan tersebut disimpan dalam rumah, maka Allah akan senantiasa memberikan perlindungan kepada penghuni rumah itu.

Ini bisa disebut doa multifungsi karena memiliki khasiat yang sangat banyak. Manfaat lainnya adalah:

1. Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa yang ingin berjumpa dengan para nabi, bacakan 100 kali doa ini, kemudian tidur, insya-Allah akan bermimpi berjumpa dengan para nabi dan siapa yang rajin mengamalkan doa ini, maka orang yang memandangnya akan timbul kasih dan sayang. Jika kamu ingin di muliakan orang lain, bacalah doa ini.”

2. Jika dibaca pada malam hari, seluruh malaikat akan turun dari langit memohonkan ampun untuk orang yang membacanya. Sehingga doa ini akan menjadi penyelamat siksa neraka, selamat dunia akhirat dan terhindar dari godaan syaitan.

3. Doa memohon kekayaan. Kepada orang yang ingin banyak kekayaan, doa ini hendaklah baca 100 kali pada malam Jumat. Tanamkan kunyit dalam tanah di suatu tempat yang tersembunyi dan sepi yang Anda sendiri yang mengetahuinya.

4. Doa untuk memohon kenaikan level atau tingkatan spiritual. Misalnya, seseorang awam yang ingin jadi waskita dalam soal agama bahkan yang ingin menjadi wali Allah. Dengan membaca doa ini insya-Allah mendapatnya. Dan jika ada jin yang ingin menjadi manusia, dengan berkat doa ini insya-Allah jadilah dia manusia.

5. Jika ada binatang piaraan yang liar, dengan dibacakan padanya, insya-Allah binatang itu akan menjadi jinak dan sempurna sifatnya. Jika dibaca pada binatang buas, insya-Allah ia akan tunduk.

6. Siapa membaca sekali ketika matahari hampir terbenam, Allah akan mengampuni segala dosanya dan melindunginya dari tenung dan sihir.

7. Jika anda ada musuh, bacakan doa ini, insya-Allah musuh akan berubah menjadi teman yang menyayangi kita. Jika akan berangkat ke medan perang, bacakan doa ini, insya-Allah tidak di kejar musuh, sebaliknya musuh akan bercerai-berai.

8. Jika ada orang yang diganggu hantu, syaitan, jin, kerasukan makluk halus, pingsan “semaput” atau gila, bacakan doa ini pada minyak dan sapukan pada orang tersebut. Bilamana doa Nurun Nubuwwah ini ditulis pada kertas lalu tulisan tersebut di letakkan pada tanaman, Insya Allah tanaman tersebut akan selamat dari hama, apabila di letakkan pada tempat-tempat yang menakutkan atau pada tempat-tempat yang ditempati syaitan atau iblis, jin atau hantu dan segala macam jenis makhluk halus, maka dalam waktu singkat mereka akan bubar dan minggat tanpa kembali lagi.

9. Bilamana anda ingin mendatangkan raja jin, maka bacalah doa ini sebanyak seratus kali dalam keadaan tidak berhadas (suci), baik suci badan dan tempat, kemudian masuk ditempat yang sepi pada malam Jumaat. Insya’ Allah anda akan dijumpai oleh si raja jin itu.

10. Untuk menyembuhkan orang sakit, baca doa ini pada minyak (minyak kelapa / sawit wijen), kemudian sapukan pada tempat yang sakit, Insya’ Allah akan lekas sembuh. Jika ada wanita yang sukar bersalin, bacakan doa ini pada dalam mangkuk putih, minumkan itu, insya-Allah bayinya akan cepat lahir. Jika ada orang sakit mata, bacakan doa ini dan hembuskan pada matanya, insya- Allah lekas sembuh. Apabila ada orang digigit ular, kena bisa, racun atau penyakit lain, bacakan doa ini pada tempat yang luka atau tempat yang sakit, insya-Allah lekas sembuh.

11. Andainya anda ingin mendekati pembesar negara/orang berkedudukan tinggi baca doa ini, insya-Allah semua keperluan anda akan dikabulkan.

12. Jika ingin kuat berjalan, bacakan pada daun sirih, kemudian usapkan daun itu dari kepala sampai ke ujung kaki, insya-Allah anda akan kuat berjalan.

13. Jika anda dalam perjalanan dan ada tanda akan hujan, bacakan doa ini, insya- Allah tidak jadi hujan.

14. Jika anda hendak melamar seseorang wanita, berpuasalah sehari dan jangan tidur pada malamnya. Bacakan doa ini terus-menerus di tempat sunyi. Insya-Allah lamaran anda diterima.

15. Air asin menjadi tawar. Bilamana pergi belayar naik perahu, kemudian disitu anda kehabisan minum, maka bacalah doa ini pada laut, Insya’Allah laut yang asin itu berubah menjadi tawar dan bisa diminum.

16. Terhindar dari kekufuran. Bilamana anda membaca doa ini pada malam Jumat sebanyak lima puluh kali, Insya’Allah akan terhindar dari kekufuran, bid’ah dan dijauhkan dari perbuatan buruk.

17. Bila dibacakan 100 kali pada malam Sabtu, anda akan diperlihatkan keajaiban. Apabila dibaca pada malam minggu, insya-Allah akan awet muda. Apabila dibaca pada malam Senin, Allah akan memberikan keselamatan. Bila dibaca pada malam Selasa, akan menjadi kuat. Kalau dibaca pada malam Rabu, gigi menjadi teguh. Apabila dibaca pada malam Kamis akan mempercantik wajah.

@wongalus,2010

About these ads
Categories: WIRID NURBUWAT | 236 Komentar

Navigasi tulisan

236 gagasan untuk “WIRID LENGKAP NURBUWAT

  1. Dirja krisma huda

    Assalamualaikumwr.Wb. izin ngamalin ki.

  2. @sdr Dirja: Wass wr wb Silahkan mas. Juga buat para sedulur semuanya, monggo kita amalkan doa yang sangat dahsyat ini. Semoga semua hajat kita akan terkabul atas ijin-NYA. Nuwun.

  3. sang dahaga

    assalamua’alaikum ki,,

    wah sueer tambah keren bgetts

  4. rony fiter

    ass wr wb
    saya juga tertarik ki , saya juga mau belajar ngamalkan ,mohon doa restunya ki semoga apa yang saya inginkan bisa tercapai. amin
    nuwun. salam saduluran

  5. rony fiter

    ass wr wb
    mau nanya ki sayakan nda bisa baca al quran klo wirid diatas ngamalkannya sambil dibaca gimana ki? nuwun
    salam damai fullll ki

  6. rony fiter

    karena nda semua doa apal ki, jadi berdoa sambil baca itu hukumnya gimana ki? mohon pencerahannya
    nuwun

  7. @sdr rony fiter: Silahkan mengamalkan atas ijin-NYA. Tuhan Maha Melihat dan Maha Tahu tentang diri kita. Kalau belum hapal, ya dibaca saja ndak apa-apa. Tuhan tidak mempersulit hambanya yang berharap, berdoa dan berusaha dengan sungguh-sungguh. “Dekati AKU satu langkah, AKU akan mendekatimu sejuta langkah” begitu kira-kira Sabda Tuhan. Jadi? Jangan khawatir amalan kita ditolak. Orang jahat yang berbuat dosa saja amalannya diterima dan masih diijinkan-NYA koq, apalagi kita yang berusaha untuk menjadi baik? Terima kasih.

  8. sang dahaga

    assalamu’alaikum ki,,

    bisa gak saya call dan bicara langsung kpd ki wongalus,,

    itupun jika ki berkenan,,

    maaf kalau saya lancang,,

  9. sang dahaga

    ” Dan jika ada jin yang ingin menjadi manusia, dengan berkat doa ini insya-Allah jadilah dia manusia. ”

    wow..
    ada penjelasan yang lebih detil gak ki,,

    maaf kalau saya banyak bertanya,,

  10. wah, matur nuwun sampun posting, dados ngelingaken amalane kula ingkang Lali.
    Lama sekali aku tak mengamalkan doa Nur Buwat ini.

    Kang Wong Alus, mo tanya bagaimana cara berlatih agar bisa lebih cepat dalam berkonstentrasi ??? terus posisi yang baik itu bagaimana ?

    Q dah agak Lali lama ndak meditasi, untuk mengembalikannya seperti dulu itu susah banget.

    matur nuwusn.

    mari bersama berbagi ilmu,
    bersama menuju kejayaan nusantara di ERA ini.

    salam hormat, kimangli

  11. rony fiter

    ass wr wb
    trima kasih ki jawaban2nya yang sudah merelakan meluangkan waktu untuk membalas keluhan hati

    semoga blok kampus wong alus semakin banyak peminatnya dan semakin berkarya,pokoke sukseslah kangge panjenengan
    nuwun, as wr wb

  12. ki suwun ngih ki… mpun ngertos kulo mpun sering mboco sampe 100 x namun mboten woten perubahan. ki…. wektu kulo moco 100x mboten ketemu ratu jin namun kulo mimpi nyekel/ngawa/bawa GUCI besar ukuran 1 m lebih. niku artinipun apa ya ki….

  13. wongalus

    @sang dahaga: Silahkan call langsung. Banyak para sahabat juga yang call, ngobrol lgs dgn saya kok. Nwn.

  14. Ass..
    ada bhs arabnya ngga dek?..,saya coba ngamalkan yach, syukron.

  15. Assalamu’alaikum Ki,saya punya toko kelontong,dulunya lumayan laris,sudah satu tahun ini kok macet Ki,amalan atau doa apa yang bisa memulihkan toko saya Ki,terima kasih
    wassalamu’alaikum w w

  16. wongalus

    @ sdr Kumaidi: Wiridkan selalu YA ROZAQ (pemberi rezeki) di dalam hati sebanyak-banyaknya. Doa silahkan berdoa dan bahasa apa saja, pakai amalan apa saja yang penting memanjatkan doa itu kepada-NYA, Allah SWT. Salam.

  17. matur nuwun atas penjelasannya ki… nyuwun pangapurane sing akeh ngih ki…
    DZUL’ARSYIL MAJIID. THAWWIL ‘UMRII WA SHAHHIH AJSAADII
    ingkang tulisan niku sanes Ajsaadii namung sajaadi… bener mboten ngih ki… matur nuwun sanget

  18. wongalus

    @mas Agenda: Matur nuwun mas koreksinya. Salam.

  19. ass.wr.wb

    sugeng tetepangan poro sederek,
    hanya ingin curhat saja,bahwasanya saya pernah mengamalkan amalan di atas,namun jujur saja saya belum merasakan manfaatnya.
    mungkin cara saya salah,karena saya dapet amalan tersebut dari buku.Jadi menurut saya ilmu harus di gurukan kepada orang yang mumpuni.Maaf itu pendapat pribadi saya.

  20. Anto

    Assalamualaikum. Ki izin untuk diamalkan

  21. Along

    assalamu’alaikum wr wb..
    salam kenal buat ki wongalus dan semua.. penjelasan doa ini sungguh luar biasa ki.. buat semua jadikanlah doa ini sebagai amalan yg ikhlas lillahi ta’ala. jgn sekali2 mengamal karena manfaat yg diterangkan diatas dan begitu dirasa gak ada reaksi dari doa yg diamalin tadi lalu mengeluh, saya udah wiridkan 100x tapi gak datang ratu jinnya ato apapun.. setau saya mang bisa doa ini buat mendatangkan seperti itu tapi ada kuncinya dan tawassulnya.
    Maaf!! saya gak bermaksud menggurui semua saudaraku disini,cuma saya ingin memperingatkan agar gak salah tujuan kita dalam mengamal suatu doa.
    wassalam

  22. ririn

    Ki, saya ijin mengamalkannya, mohon ijinnya, saya mohon ijazahnya ki.. mengenai maharnya gimana ki? Semoga hajat saya cepat terkabul, agar dimudahkan jodohnya, dibukakan pintu hikmah amiin..

  23. nadi

    salam..ki mohon diijinkan amal doanya…

  24. Suliatyabudi

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Mohon ijin mengamalkan wirid nurbuat, mohon doanya semoga berhasil, intiqomah dan dibukakan pintu hikmah amiin..

  25. kembaran_raden_wiro_suryo

    Assalamualaikum…Numpang nanya ki,bisa ga doa nurbuwat dgunain tuk manggil khodam pendamping saya yg sudah lama g komunikasi lagi dgn saya.n kalo bs gmana caranya?makash sblumnya.

  26. nadi

    salam…ki..saya juga mohon ijin untuk mengamalkannya..semoga diberkati selalu

  27. Darliansyah

    Saya mengamalkan Do’a Nurbuwat sudah beberapa tahun terkahir yg saya wiwirdkan selesai shalat magrib atau shalat sunat malam hari, tapi berdasarkan Penelusuran saya ke Lampung waktu beberapa tahun silam ada sebuah perguruan yg Guru besarnya menguasai Karomah supranatural do’a nurbuawat ini. Saya sempat berkomunikasi dengan beberapa anggota perguruan karomah tersebut. Salah satu dari sesepuh diperguruan tersebut menerangkan bahwa sebenarnya do’a nurbuwat tersebut memiliki keistimewaan dan karomah yg lebih dari yg kita ketahui saat ini, baik itu dari pembicaraan dari mulut ke mulut hingga beberapa khasiat yg di tuliskan di buku-buku mujarobat. Do’a Nurbuwat memiliki kekuatan yg dingin yg berpotensi untuk pangasihan, kesaktian, Pelarisan kejadugan, kekutan bathin yg luar biasa, menambah kewibawaan hingga kalangan binatang dan mahluk halus menambahj power ilmu serta untuk kemuliaan hidup di Dunia dan akherat.

  28. akik

    Salim @ki alus dan @ki wong cilik
    nderek ijin namalaken nuwun..

  29. yg terhormat wongalus, saya pun mohon izazahkan ke saya, makash

  30. ki sy mhn ijasah scr sempurna & ijan ngamalinny..

  31. Abdul Rasek

    salam…ki..saya juga mohon ijin untuk mengamalkannya..semoga diberkati selalu

  32. Berembi Berahim

    assalamualikum….pak..
    Saya dr Malaysia…mohon izin dari bapak utk ijazahi saya mengamalkan wirid Nurbuwat tsbt. Mudah2an bapak dirahmati Allah S.W.T.

  33. ayok

    assalamualaikum…ki
    salam kenal, ki, saya tahu doa nurbuat ini stlh membaca buku sunan kalijaga, yg slalu mengamalkan doa ini. makanya saya ingin mengetahui secara detail ttg doa ini, dan baru saya dptkan dgn jelas stlh membuka website kampus wong alus. nyuwun pinaringan pangestu ndamel ngamalaken dongo meniko, mugi2 kyai sekluargo tansah pinaringan hidayah saking Gusti Allah Ingkang Makaryo Jagad, amiin.

  34. Agung K

    Ijin copas nggih Ki, matur nuwun.

  35. hardi

    izin mengamalkan ya ki… terimaksih,

    ki saya sangat ingin belajar ilmu ghaib mohon bantuannya…

  36. a.a.hakam

    izin mengamalkan ya ki… terimaksih

  37. izin mengamalkan ya ki… terimaksih

  38. asep rodiana

    Ass. mohon izin untuk meng copy dan ijasahnya ngamalin amalan ini.

  39. santri

    Qobiltu saya terima ijazah nya doa nurbuat dri ki wong alus secara lengkap dan sempurna.moga bermanfaat dunia akherat.amin

  40. izin mengamalkan, trimkash

  41. very avianto

    aku pengen ijasah suge rajeh

  42. satrio ilang

    bismillah.. qobiltu..
    nderek pembenahan: yang benar bukan WASHOHIH AJSADI ATO WASHOHIH SAJAADI… tp yg benar adalah WASHOHHIH JASADI artinya benahilah jasadku….

  43. alfarisy

    doa ini prnh jd andalan sy. sngt manjur utk pngobtn lahir-batin dg media air putih & mnyk klpa, srta utk mredakan hujan

  44. anwar

    alhamdulillah dgn rahmat allah,kami siap membantu poro sedulur yg mempunyai masalah penyakit yg belum sembuh antara lain
    1)sakit yg di sebabkan karena guna guna atau santet
    2)memisahkan pil atau wil
    3)usaha bangkrut karena ulah yg gak bertanggung jawab
    4)pelet,wibawa dll
    moga bermanfaat badi para sedulur,mksh
    silahkan konsultasi di
    anwarmuhamad93@yahoo.co.id
    wslm

  45. wongsabarsentosa

    MANTABS DOA NURBUAT..bagi yg brtampang jelek/ berjerawat/kusam…coba deh amal kan setiap mlem KAMIS 100X..Saya sendiri dah membuktikannya..! dengan khusyu’ belum genap 8x amalan, wajah sudah kinclong..! bagi yang dah pernah amalin do’a ini..monggo sama2 di share di e-mail sy.. suprapto24@yahoo.com …sy tunggu keajaibn saudara stlh mngamlknnya..

  46. sugi sawunggaling

    qobiltu ki wong alus…semoga bernfaat buat seluruh alam…………..

  47. sang dahaga

    Ass

    Alhamdullilah saya yg bodoh ini di inggatkan, dulu sewaktu saya masih nyantri saya mendapat ijazah doa ini lewat mimpi, begitu bngun saya lasung hafal sebagian dari doa ini, dan oleh ustad saya di sempurnakan.
    saya baru tahu yg datang ke mimpi saya itu adalah salah satu Ulama pendiri Nahdlatul Ulama dari poto yg tersimpan di museum NU surabaya
    100% beliau, dari segi postur dan wajah dan busana yg di kenakan mirip dgn yg datang ke mimpi. entah godam beliau atau roh beliau, yg penting terimakasih telah mengingatkan doa ini lagi, sudah 5 thun tak saya amalkan lagi, jadi akan saya amalkan lagi.

    Ilal Ruh wal jasadti al fatihah buat yg mengigatkan doa ini

  48. raja ryzalkelayang

    subhanallah….doa ini benar2 dashyat berkat karomah yg telah ALLAH letakkn dlm doa ini yg ane amalin istiqomah sejak thn 2006 alhamdulillah ane dgn mudahnya berada pd posisi2 penting di pemerintahan,dan wa syukurillah skrng ane udah jadi wakil bupati termuda di salah satu kabupaten di ********…..hnya bermodal ngamalin doa ini dgn istiqomah tanpa hrus nipu omongn ke masyarakat bahkn ane ngk pake kampanye cukup mlm hari baca se ********* beserta kuncinya,siang hari jalan2 ke masyarakat pake sepeda hnya utk menampakkn wajah aja…..pernah ane tidur di gerombolan harimau sumatra di sebuah hutan paginya bangun tu harimau cuma jilat2 wajah ane mlmnya ane wirid nurbuat..dn alhamdulillah pernah 1 x mimpi datang ke makam rasullallah saking seringnya ngamalin ni doa tp ketua kita rasullah belum pernah ane mimpiin mungkin belum sudi sm ane kali yee msih kurang cintanya kita ke beliau…ngk apa2lah yg penting kn udah di mimpiin makam beliau aja udh syukur ke ubun2 rasanya..alhamdulillah…..o iya doa ini di ijazahkan oleh saudara IDRIS NAWAWI salah satu paranormal majalah mistery ke ane thn 2006 waktu ane bawa salah satu pejabat tinggi lan penting riau bertemu dia di hotel kartika chandra jakarta,terima kasih bung idris krn tlh ada guru yg bertanggung jwb mengijazahkn doa ini….walau kmren2 ane kurang sreg dikit sm antum gara ksih batu2 harimau tsb….heee..maaf tp alfateha slalu terkirim kok utk bung idris……..bagi yg mau mengamalkn doa ini usahakan dpt dr seseorang yg mengijazahkn biar ada yg bertanggung jwb dn cepat makhbulnya,biasanya kalau dpt dr buku mujarobat atau google….agak lama terasa khasiatnya walau pahala membacanya tetap gede bgt…..ok wslm

  49. fuad

    Assalammualaikum..

    Mmohon izin untuk amalin do’a ini.. terimakasih..

  50. abil grubil

    ass.mohon ijasahnya ki,matur nuwun

  51. guspur

    PENGIJAZAHAN AKBAR ilmu haq mujizah ilahiyah un tuk berbagai keperluan.hubungi 085310145625

  52. vio

    ki sy vio,saya mau ngamalin doa ni ya ki,..smoga aki slalu di limpahkan rahmat oleh allah,…

  53. prima

    Asalam,..qobiltu ki,..nuwun

  54. Ahmad Zahar

    Assalamualaikum. Mohon izin di ijazzahkan. Terima kasih

  55. khapip

    Asslkm,,,,mbah,,,kulo nderek ijin ngamalaken bolehhh,,,,nuwun

  56. lucky

    ki mau naya,apa ngamalinnya dengan cara gitu aja?

  57. mazlan

    aku memang lagi senang2 ngamalin doa ini, yang penting keiklasan dan kekusukan dlm berdoa.hati2 jauhkan hati dan pikiran tentang khodam, jgn sampai kita memperbudak ataupun mempertuan khodam.

  58. Salam…

    Ki Raja Ryzal Keyalang…boleh ki raja ryzal ijazahkan doa Nurbuwat ke saya ki?

    Kalau tak boleh tak apa ki…tak berani saya amalkannya tanpa ada ijazah doanya…

  59. ike

    ass wr.wb
    Ki mohon izin untuk mengamalkannya dan ijazahnya. hatur nuhun

  60. sipz..

  61. riyoko

    do@ nurbuat tdak smudah memblikan tangan untuk mncpai yg qta ingnkan…
    bca dg lisan dan amalkan dg perbuatan..
    prlu pondasi iman yg kuat untk mengamalkan do’a ini agar mujarab..
    dengan s ijin ALLAH …
    hnya ALLAH lah yang hak..
    bca lah do’a ini styap hari spya merasuk k dlm dri qta..
    khodam dri do’a ini adlah malaikat..

    kuncinya adalah..
    syari’at,tarekat,hakekat,ma’rifat..
    insya allah..bhagia dunia,akherat

  62. PHM

    Do’a Nurbuat ini adalah salah satu juga Do’a yang termuat didalam Kitab Amalan Majmu Syarif. Memang dari dahulu tersusun dalam kitab tersebut.

    Alhamdulillah sudah ada yang mau share kaedah pengamalannya. Semoga berkah. Amin.

  63. berth wijaya

    Assalamualaikum. Mohon izin di ijazzahkan. Terima kasih

  64. Didit

    mohon izin mengamalkan…
    al-fatehah…
    Smoga pemberi amalan,dan pengamal selalu mendapat berkah,barokah,serta selalu dalam jalan ridho ALLAH SWT…Amin.!

  65. salam damai

    SEMOGA MENJADI ILMU YANG MANFAAT DAN BAROKAH

  66. benny

    KI mohon izin / ijasahnya untuk mengamalkan doa nurbuat. Amiin

  67. a.e

    assalamualaikum
    ki mohon izin mengamalkan wirid nurbuwat.

  68. Gembel Gerbang Kampus

    salim Ta’zim penuh cinta para sesepuh dan Brotherhood KWA-EEEENNN

    subhanalllah doa Nurbuwah adalah Doa Favorite yang menyenangkan hatiku, @OOm ki wong Alus…makasih terus dibabar berbagai macam khasanah dan cara pemberdayaan doanya…agar semakin mantab dan yakin hati ini semoga setiap Doa mendapat tempat yg bisa di”approval” disisi Rabb inda dzil arsy makin..

    Oh ya Untuk para sedulur,
    Saya mengimbau agar berhati2 dengan Lafadz doa Nurbuwat (tulisan latinnya) yang ada dijual dlm format cetakan2 buku tipis yg biasanya ada dipasaran atau dijual dlm bis2/kendaraan (biasanya satu paket 3 jenis dengan doa wirid tata sholat lengkap)…karena ada beberapa buku tsbt yg tidak sesuai cara membacanya yg nantinya menyebabkan salah dalam pengucapannya…

    @ Bang Guru Raja Ryzal yg xxxxxx enttuuh apaaan ya baaaaanggg???? kalo ane taunye xixixixixi…..bisakah di ganti xxxxxx nya jadi angka2 ehmm…ehmmmmmm,,,…………….
    :)

    Barakallah….

    biasaaaaa…

    Muaacccchh..muaccchhh..muaaccchhh…

    CUiiiittttttttttttt..cuiittttttttttttttt!!!!!!!!!!!!!!

    :)

    Pisss..Peace..PEACE… PIPIIIIIIIISSSSSSSSSSSSSSSSSS DULU AAHHH!!!

  69. Deddy Ferdiansyah

    Asswrwb…izin menyimak ki. mudah2an smua brd dlm ridho Allah………wassalam

  70. @ wong alus amal jahat dan baik kedua-duanya pasti diterima ,jika tidak diterima bagaimana dengan pertanggungjawabannya…..
    enak dong ,berbuat jahat saja terus….kan gak diterima jadi bebas deh tanggung jawab….dan tidak ada neraka…………ataupun pengadilan yang penghabisan…
    hik 999x monggo…..

  71. agungxxx21

    ^^

  72. bayu alam nasrullah

    mohon ijin mengamalkan ki,semoga rahmat dan hidayah Allah selalu tercurah kpd kta semua amin….

  73. AB

    Izin mengamalkan kiyai….al fatihah sent

  74. Rudy

    Assalamualaikum
    ,,ki wong alus,saya ragu setiap ngamalin doa nur buat,takutnya ada yg slah,dan saya minta penjelasan dan cara mengamalkanya.dan sya mhon izin mengamalkanya,smg kita semua rahmat & hidayahnya allah tercurah pada kita semua,buat ki wong alus saya minta maaf sdh lancng….walaikum salam

  75. Mang Hasan

    Ijin ngamalkan ki alus..moga bermanfaat untuk saya amiin

  76. M Nur Fauzi

    Asslamualaikum Wr. Wb. Pa ustd , saya mohon izin untuk mngamalkan do’a nur buat, dan saya mohon doanya. Waslam..

  77. qobiltu,

  78. mohom izin ki. Untuk mengamalkannya sekali lagi mohom izim.dan restunya

  79. ijin mengamalin dan doa restunya ki alus.smga iklas ridho dunia akhirat

  80. klowor

    akupun wa”

  81. dahri muhammad

    Assalamualaikum. saya yakin, pengijazah ridlo bener terhadap ilmu yang diturunkan kepada saudara yang lain. Smoga keyakinan saya bener. kalo bener, mohon izin mengamalkan. QOBILTU …..!

  82. ary

    ass……….
    mohon Ijin untuk mengamalkan doa nur nubuat ini ki ..
    moga bermanfaat untuk saya di dunia dan akhirat
    amin………

  83. Faisal wae

    ass.wr.wb.
    Qobiltu.izinkan saya untuk mengamalkan.smoga barokah..

  84. Jeriko

    MOHON IJIN MENGAMALKAN

  85. ahmad jaenuri

    assalamu alaikum,saya ingin belajar ilmu dr KWA! Kalau anda berkenan saya ingin menjadi murid KWA ?

  86. aiprana

    salam ki wong alus

  87. ugan surya

    Assalamualaikum wr wb.
    aduuh ketinggalan jauhnya.qobiltu ki doa nurbuwatnya moga berkah manfaat dunia akherat.alfatehah kanggo ki wongalus…

  88. muhit

    ijin ngamalin ki,,thank^s

  89. erix

    assalamualaikum wr.wb.
    maaf bisa gak saya di ijasahkan untuk amalan ini/diijinkan.

  90. liyafadliyyah

    ass… izin ngamalinki…trima kasih

  91. destian

    mohon ki untuk ijazah amalan ini……….

  92. destian

    ki saya mempunyai banyak keperluan mohon izin buat ngamalin doa nurbuat ini….

  93. nuwun sewu, nderek ngamalaken nggih

  94. Babeqiu

    Assalammu’alaikum Ki Wongalus..
    mohon ijin untuk mengamalkannya do’a nurbuat,
    mugi berkah manfaat dunia akherat

  95. Babeqiu

    Ki Wongalus..dan Poro Sedulur Kinasih KWA, saya baca semua komen dari atas sampai bawah berulangkali, saya bingung yang benar mana ya?
    WASHOHIH AJSADI
    WASHOHIH SAJAADI… atau WASHOHHIH JASADI
    Nyuwun pangapunten agar saya tidak salah saat mengamalkannya
    Maturnuwun Ki..

  96. Panji hitam Ufuk timur

    Bismillah hirrohmaa nirrohiim…….
    Assalamuailaikum wbt, nama saya mohd Jefri b Zakaria…

    Kepada pemberi Ijazah Doa Nurbuwwat

    Qobiltu…Dgn rendah diri, saya minta izin utk diamalkan,halal dunia dan akhirat …
    saya terima ijazahanya dgn sempurna, semoga dgn Izin dan berkatNYA menguatkan lagi keimanan saya kpd ALLAH SWT.
    email saya : mohdjefriz@yahoo.com

  97. omar

    boleh minta ijazah doa nurbuatnya, sya sedang membutuhkanya masalah nya terima kasih

  98. ABG-Ketuaan

    MANTAP

  99. Irvan10

    Askum Mohon ijin mengamalkan dan minta doanhya wasalam

  100. yatna

    assalamu’alaiku ki, salam knal….
    mohon izin mengamalkan do’a nurbuwat ki.
    dan mohon do’a i hdan bimbingannya.
    terima kasih ki.
    wassalamu’alaikum….

  101. Grace

    Mhon izin ngamalin doa nurbuat ini ya ki… trima kasih… :)

  102. kusdinar

    qobiltu..

  103. muslim

    ass..izin mengamalkan ki.mudah2an hajat cpat terkabul

  104. mohon ijajah ya ki agar manfaat dunia akhirat amin

  105. ade AN

    qobiltu ,,,mohon izin mengamalkan,,,!! terkirim alfatihah 100x,,,amin,,,100x

  106. qobiltu ,,,mohon izin mengamalkan agar manfaat dunia akhirat amin

  107. ARI prabowo

    ingat,doa ini sangat keras,kekuatanya sangat dahsyat,apabila di gunakan untuk suatu amalan tanpa di ijasahi oleh guru yg mampu untuk mengijasahkan,maka anda akan merasa panas yg dhsyat,bisa mnjadi gila,maka dr itu sblm di amalakn,di harap minta petunjuk ama guru yg mampu untuk mengijasahkan doa ini,supaya dlm mengamalkan tidak terjadi apa”…ini bukan main”

  108. ARI prabowo

    pesan ane,jngn di buat amalan klo sebelum di ijashin sama guru yg mampu mengijasahkan amalan ini,karan amalan doa nur buat sngat dahsyat n keras,di tebus ama puasa,tergantung guru yg mengijasahkan…
    Salam,

  109. imam mahdi

    laa tussrik billahi ahada…. sesat ini sesat…. andai Rosulullah saat ini msh hidup, dia akan meluruskan dng lisannya atau bahkan dng pedangnya…… pd mu.

  110. daeng sija

    qubiltu ijin mengamalkan ki…..

  111. mudah2an pengamal doa ini mendapat keberkahan dari Allah, amin.

  112. Asslmu’alaikum wr wb….
    Klo pnglman sy dg mmbca n mewiridkn doa nurbuat.sy d lhtkn sosok ayah sy sdng brdri ngliatin sy.itu dri bathin sy yg mlhtnya.

  113. cute

    mohon izin copy dan mengamalkn ya..

  114. anterman

    mohon ijin mengamalkan ….qobiltu…..

  115. Pencari ridho

    Qolbitu ki saya akan amalkan doa nurbuat untk menambah cinta saya kepda allah dan rasullawlah

  116. mohon ijin mengamalkanya ki do’a nurbuat dan caranya gimana ? agar gak keliru

  117. yus

    Assalamu’alaikum, mohon izin mengamalkan, wassalam

  118. Putra SF

    Ass… Alhamdulillah qobiltu dgn sempurna wirid doa nurbuwah dr ki wong alus, smg barokah dunia akherat amin…trimksh send Al Fatehah.

  119. Sahadatlangitan

    Qobiltu ki…

  120. wawan

    kuncinya bagemana? tolong di share dong! soalnya sampai saat ini saya belum nemu 3 kunci utamanya tuk ngamalin nurbuat ini. tolong ya bagi yang tau he he he he.

  121. Iwan

    Assalamu alaikum….
    Minta izin utk mengamalkanya ki…,mudah2 an berkah..
    Amin..

  122. hari

    ijin mengamalkan ya ki

  123. guz san

    Bismillah Qobiltu..mhn ijin mengamalkan dan izin pula buat keluarga dan orang lan sekiranya d butuhkan
    Baarokallah alaik..

  124. Bagusatrio

    Qobiltu ki alus untuk do’a nurbuwatnya…mohon ijazahnya untuk sy mengamalkan nya,
    nuwun…

  125. hendra

    mohon ijin mengamalkan ya Ki..alfatehah sent

  126. Yusuf Anabbahaneiy

    Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh..Saya minta ijin dan restu untuk mengamalkan,..Saya punya usaha tenun atbm ki tapi banyak sekali kendalanya,.Mohon diberi petunjuk apa amalan dan doa agar usaha bisa sukses dan barokah fi dunya wal akhiroh..Trims sebelumnya.

  127. anof

    assalammualaikum…
    Ki mohon ijazah n izin ny, to d amalkn..
    Makasih,,

  128. ijin mengamalkan nya! Ki mdah2n apa yg kta khendaki di kbulkan oleh allah swt.

  129. danang jimboeng

    saya pernah mengamalkan ini pada malam hari sebanyak 100x terus di tiupkan pada segelas air putih lalu saya minum tubuh mjd panas beserta ruangannya,knp ya ki mohon di jawab sblmnya terimakasih banyak.

  130. danang jimboeng

    saya pernah mengamalkan ini pada malam hari sebanyak 100x terus di tiupkan pada segelas air putih lalu saya minum tubuh mjd panas beserta ruangannya,knp ya ki mohon di jawab sblmnya terimakasih banyak.(085642636835)

  131. gilang

    asalam mualaikum pa sya pingin doa yg cepet kya da gak yah??

  132. HENDRA

    QOBILTU

  133. jalu abang

    qobiltu saya terima ijasah doa nurbuat dg sempurna..ya ALLAH jika ilmu ini hak untukku..maka satukanlah dg tubuhku dg sempurna…jika tidak maka janganlah doa ini menjadi penghalang hidupku..cukuplah ia menjadi sarana berdzikir untukMU

  134. aki

    mohon ijazah…

  135. hafiz

    qobiltu mohon ijazahnya tok d amalkan… terima kasih

  136. arif

    assalamualaikum. salim tak’zdim dumateng ki wong alus. nuwun pmet izin mengmlkan do’a in.mhon di ijazahkan

  137. udin

    mohon ijazahnya ki

  138. Rejeb

    Qobiltu. mohon ijin mengamalkan. terima kasih

  139. Astokinaryojopo

    Assalamualaikum..wr..wb.
    Bismillah…mohon di ijazahi utk ngamalin Ki…
    Smoga bermanfaat utk dunia & akurasi…
    Wassalamualaikum..wr..wb

  140. Nanda

    Assalaamualaikum wrwb.
    Mohon ijin dan ijasahnya dari semua guru KWA untuk saya dan semua keluarga saya untuk mengamalkan semua ilmu yang ada di blog KWA ini
    Terimakasih,Wassalaam.

  141. Astokinaryojopo

    Assalamu’alaikum..wr..wb
    Buat sesepuh pinisepuh KWA…..jk berkenan minta doa pembukanya & tawassulnya buat siapa….?..maaf bila ada kesalahan ucap & tulis …wassalamu’alaikum..wr …wb

  142. Irhas

    qobiltu, mohon untuk mengamalkan do’a ini Ki,, semoga bisa bermanfaat bagi saya amin

  143. ibnu Roji

    aslkm..qobiltu ki ijin mengamalkn smg bermanfaat dunia akhiroh..dn dpt mengamalkn kelg dn orng bnyk

  144. Andis.Zanz

    Saya punya buku doa di dalamnya ad doa nurbuat ini tapi kenapa yah di dalam buku saya dengan doa di atas ad sdikit kalimat yang berdeda tpi smoga tpi ngda opo”yg penting niatnya sama berdoa kpada pangeran gusty allah makasih

  145. ki aku ingin bertanya tentang banyak hal boleh….

  146. Bkue

    Qobiltu

  147. ENO SUGIONO

    Assalamu’alaikum Ki,,, mohon izin untuk mengamalkan,,,,,,,,,,,, trima kasih

  148. Munji

    Qobiltu mohon ijin mengamalkan & pengijazahannya Ki…

  149. wiwin es

    assalmaualaikum
    saling temu yang nyantai agaknya

  150. wiwin es

    Bismillahirohmanirrohim
    Assalamu’alaikum wr wb
    Blog Kampus Wong Alus ini, semoga kali ini, seperti yang sudah pernah saya alami—terbuka menerima tulisan komentar/ opini/ tanggapan/ ulasan apapun, serta membiarkan masing-masing orang untuk menilainya.

  151. wiwin es

    Saya mempunyai ulasan tentang doa Nurbuwat ini, yang berjudul “Komentar Nimbrung Doa Nurbuwat”. Ulasan saya itu sebenarnya merupakan tanggapan kepada tulisan “Hakikat Kesesatan Doa Nurbuat”, di forum yang beralamat: http://metafisis.wordpress.com/2011/11/25/hakikat-kesesatan-doa-nurbuat/, yang ulasan/ tanggapan telah saya kirim dua kali (10 dan 18 Juni 2012) tampaknya memang tidak dimuat, entah karena apa. Saya kirim kesana, untuk mengiringi banyaknya saling hujatannya kepada diskusi. Eh, ternyata ulasan tidak dapat masuk ke forum tersebut, sehingga saya meresa perlu “pindah rumah dikusi”.

    Oleh karena pengalaman saya dulu pernah bikin komentar/ ulasan panjang di blog KWA ini (Diskusi tentang Aji Tunggeng Mogok) tidak ditolak, maka saya akan bawa ulasan saya tentang doa Nurbawat di forum lain itu ke forum KWA ini. Ulasan berjudul “Komentar Nimbrung Doa Nurbuwat” itu sebagai berikut:

  152. wiwin es

    maaf, teksnya tidak saya edit atau ubah lagi, masih dalam versi awalnya, sebagaimana untuk “forum tentangga” itu, yang masih sebagai berikut

  153. wiwin es

    Komentar Nimbrung Doa Nurbuwat
    Bismillahirohmanirrohim
    Assalamu’alaikum wr wb
    Hmmm, di forum ini, asyik juga nyimak komentar-komentarnya. Lucuuu juga, walau ini bukan soal Srimulat, tapi soal doa Nurbuwat. Ada perdebatan, bahkan, sudah ada yang menjadi sedikit pertengkaran. Yach, yaa, yach, yaa, begitulah. Mula-mula, saya ingin netral baca saja, nggak perlu ikut komentar, karena kalau ikut komentar, berarti, saya akan condong kepada salah satu pihak tertentu sebagai konsekwensinya; begitu pula kalau berkomentar dan tidak condong berpihak pun, itu naif juga jadinya. Yah, namun begitu, silahkan garisbawahi, itu hanya condong atau cenderung saja, tidak mutlak juga sifat berpihaknya. Akhirnya saya ikut berkomentar dan berbicara mengenai doa Nurbuwat, nanti saya akan coba ‘kupas’ doa itu semampunya saya. Namun sebelum ke situ, saya ingin berkomentar terhadap komentar ke forum ini sebagai pembuka.

    Kalau tidak meleset, forum ini ibarat ada 2 kutub, yakni ibarat selisih antara polisi dan warga, dalam hal bermotor. Ibarat atau mirip seorang polisi negara bertemu seorang ayah warga biasa. Motor itu adalah doa Nurbuwat. Ada seorang ayah naik motor, oleh karena terdesak keadaan (misal anaknya sekarat di rumah sakit, atau istrinya darurat mau melahirkan, atau bahkan rumah keluarganya terjerat hutang hingga terancam sita oleh “Bank”, atau seterusnya), sang ayah itu langsung naik motor saja, tanpa periksa kelengkapan berkendaraan, dan tanpa berhitung kecepatan di jalan raya, menuju ke tempat istri atau si anaknya. Sementara itu, si polisi melihat ada seorang pria, si ayah tadi, bermotor dengan kencang di jalan raya, lalu polisi segera menyergap, tidak terlalu perduli hakikat persoalan si ayah, kecuali, memang si ayah terlihat dan tertangkap naik motor dengan ngebut. Malangnya juga, motor yang dipakai si ayah tidak bersurat lengkap dan ada komponen modifikasi pada motor yang dianggap juga melanggar ketentuan hukum ‘syariat’. Polisi tidak mau tahu persoalan apa dibalik prilaku kebut si ayah tadi—‘hakikat’nya, kecuali, polisi tahu sebatas pelanggaran si ayah saja. Polisi nyaris tidak mau repot membedakan antara bagaimana wajah si ayah ngebut naik motor ‘reot’ sebagai wajah orang yang panik dan lagi susah, dengan wajah si orang mapan naik motor ‘indah’ ngebut sebagai wajah orang kaya yang habis pakai sabu-sabu renyah. Pokoknya di mata polisi, si ayah tadi bermotor dengan ngebut, dan bermotor dengan tidak jelas asesorisnya.

    Logika dari 2 kutub tadi terkadang atau memang harus berbeda: polisi lebih banyak melihat-memburu secara yuridis normatif, sedangkan “si ayah” warga biasa tadi melesat-melaju secara praktis substantif. Kira-kira begitulah. Lalu, “polisi Negara” menegakkan hukum demi tata tertib, “warga biasa” mendapatkan hukum demi tata patuh. Keduanya sama-sama perlu, dan tidak perlu pecah pisah dengan “gergaji-palu”. Warga tidak mungkin bisa hidup tanpa polisi, sebagai jaminan ketertiban sipil; sedangkan polisi juga tidak mungkin bisa kerja tanpa warga, sebagai jaminan keteradaan konstitusi. Memang ada ironi, meski tidak secara keseluruhannya, bahwa polisi lebih terlihat sibuk mencari-cari kesalahan warga demi keuntungan diri sendiri.

    Nah, kembali ke soal doa Nurbuwat dengan segala kritik dan tanggapannya. Kritik tentang doa Nurbuwat itu perlu; tetapi hormat terhadap pengguna doa Nurbuwat, itu juga sama perlunya. Terhadap apapun: “Koreksi” itu mengkiritisi, yang memang berbeda dengan mencari-cari kesalahan; sedangkan “Reaksi” itu menanggapi, yang memang berbeda dengan mencaci-maki demi ke-aku-an. Di satu pihak, kita perlu kritik progresif, tapi di lain pihak, kita tidak perlu reaksi konservatif. Kalaupun forum ini ada perdebatan agamis berubah menjadi pertengkaran teologis, yah terpaksa, “tak apalah….”, asalkan jangan menjadi perkelahian fisik-anarkis. Sekali lagi, bagi saya tak masalahlah dengan pertengkaran itu. Segala sesuatu memang tidaklah mudah untuk memuaskan semua pihak, jika itu berdasar motif “keinginan”, bukan “kebutuhan”. Jangankan niat jahat, niat baik pun sering juga disalah-tanggapi. Kalau memang doa Nurbuwat ada yang keliru, katakan saja ada yang keliru. Kalau itu adalah contoh sebuah motor ‘si ayah’ yang jelek, ya kalau bisa berikanlah atau tunjukanlah motor yang baik itu mana. Kalau koreksi, ya selayaknya koreksi. Memang idealnya, sebagaimana Al Quran telah menginstruksikan kepada kita-kita sebagai berikut:
    فَبِمَا رَحٛمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنٛتَ لَهُمٛۚ وَلَوٛكُنٛتَ فَظًّا غَلِيٛظَ الٛقَلٛبِ لَا نٛفَضُّوٛا مِنٛ حَوٛلِكَۖ فَاعٛفُ عَنٛهُمٛ وَاسٛتَغٛفِرٛ لَهُمٛ وَشَاوِرٛهُمٛ فِى الٛاَمٛرِۚ فَاِذَا عَزَمٛتَ فَتَوَكَّلٛ عَلَى اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الٛمُتَوَ كِّلِيٛنَ.
    (ال عمرن: ١٥٩)
    Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilinganmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertakwakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS Ali Imran 3: 159)

    Sebuah ayat indah tentang berdoa, berdialog, bergaul, dan bermusyawarah. Kepentingan saya disini adalah, bahwa dahulu, terus terang, waktu saya masih SMP, pada akhir tahun 1990-an, saya pernah mengamalkan doa Nurbuwat itu. Meski tidak rutin, tetapi pernah, gitulah. Memang, saya dapatkan doa itu dari buku Mujarobat milik orangtua saya, yang mungkin dibelinya memang di emperan toko “kelas orang pinggiran”. Bapak saya berpendidikan rendah dan juga berekonomi rendah, dan sanggupnya hanya beli buku yang kelas emperan toko. Lagipula, bapak saya juga bukan orang yang gemar membaca, jadi beli buku ya asal beli, mau baca, ya syukur, nggak juga nggak dengkur. Mungkin begitu.

    Di rumah saya sewaktu kecil itu tidak ada buku agama yang terhitung berkualitas “akademis”, tapi yang ada adalah buku yang bersifat “praktis”, bahkan dalam hal Mujarobat itu, memang berkualitas “mistis”. Kalaupun ada buku agama, yang saya ingat, bahwa bapak saya pernah beli buku karya Moh. Rifa’i yang berjudul: “Risalah Tuntunan Shalat Lengkap”. Hanya buku itu. Dan itu pun jarang dibaca oleh bapak saya, yang sebagai orang Jawa, malas sholat dan mulas syariat—waktu itu. Kelak tahun 2007-nya, semua buku itu hilang terbakar api saat rumah orangtua saya kebakaran hingga cukup habis-habisan harta yang tak seberapa.

    Oh ya, saya pernah punya buku agama, yang saya beli dengan tabungan duit jajan saya sendiri. Buku itu masih ada hingga sekarang, tidak terbakar, karena sempat saya bawa di kos-kos tempat saya kuliah dulu. Bukunya adalah karya Ustad Maftuh Ahnan berjudul “Mutiara Hadist Shohih Bukhori” Surabaya: Karya Ilmu, 1992, dengan harga Rp.1500, yang menurut ukuran waktu itu, mahal juga, karena duit jajan sekolah saya sehari hanya 100 perak. Tapi, buku Mujarobatnya lebih dahulu saya baca daripada buku hadist yang secara “populer” itu. Sekali lagi, bapak saya orang yang tidak gemar membaca. Seingat saya, “ajaran” bapak saya ada pada pernyataan2nya yang kelewat lugu. Begini, waktu SD itu, saya pernah ikut pengajian di sekitar rumah saya, ikut baca “Alif-alifan” di sebuah mesjid di Sumatera. Saya pernah tanya ke bapak saya, mengapa dia tidak mau sholat ke mesjid dan kenapa juga jarang baca buku-buku agama? Untuk pertanyaan pertama, dia jawab bahwa pulang kerja itu lepas magrib, jadi bapak saya yang “kuli” perusahaan swasta itu merasa capek kok harus pergi ke mesjid, serta dia jawab kira-kira begini: ”Kalau bapak ke mesjid, dan nonggok di sana sampai malam, ntar bapak lupa kerja, siang ngantuk, kamu lapar, siapa yang cari makan?!”. Lalu, untuk pertanyaan mengapa jarang baca buku agama, dia menjawab kira-kira redaksinya begini: “Lebih baik jangan banyak tahu hukum agama, daripada tahu banyak tapi malah banyak melanggar. Contohnya banyak, tuh, lihat tetangga kita. Ngajinya saja yang fasih, tapi perangainya kayak orang nggak tahu ngaji! Orang yang tidak banyak tahu hukum, kalau melanggar, dosanya kecil. Orang yang tahu hukum, lalu melanggar, itu dosanya besar…” Kurang lebih begitu ucapan bapak saya sewaktu masih kecil dan masih SD.

    Mengapa saya bertanya seperti itu kepada bapak saya? Karena, salah satunya, saya pernah hampir berkelahi dengan seorang kawan sepengajian, yang berbilangnya bapak-ibu saya itu “kafir”. Ceritanya begini. Sewaktu masih anak kecil itu, di mesjid dekat rumah saya, ada seorang teman yang mempermalukan saya dihadapan teman2 yang lain. Dia bilang bapak ibu saya itu orang “kafir”, dengan alasan bahwa bapak ibu saya tidak pernah ke mesjid. Mungkin, rasa malu saya jadi semakin meningkat, ketika, anak sepengajian itu, rupanya juga sedang ingin mendekati seorang gadis manis, yang sama-sama juga saya taksir. Disitulah, dia bebas mengatakan dan mempromosikan istilah “kafir” yang dimaksudkan kepada ibu bapak saya. Tentu saja saya marah, dan saya biarkan dia berkata seperti itu, sampai akhirnya waktu isya datang dan pengajian selesai. Lalu pada waktu pulang pengajian, dia saya cegat di tempat yang biasa dia lewat pulang mengajinya. Saya sudah bersiap dan berencana akan menonjok mukanya. Ketika dia lewat, dan telah dekat, saya bilang kepadanya: “Tadi di dalam mesjid kau bilang bapak ibuku kafir, sekarang, coba ulangi sekali lagi”. Waktu itu rupanya dia diam seribu bahasa, tidak ada tanggapan, hanya wajahnya berubah menjadi panik, lalu saya tidak bisa memulai suatu eksekusi’, karena tiba-tiba dia menangis tersedu-sedu. “Oh cengeng! Mulut besar rupanya kau!” Begitu oceh saya, dan dia saya bebaskan lewat, dan tidak jadilah eksekusinya. Setelah agak jauh, sambil terisak-isak, dia malah mengancam, “Awas kau ya, aku bilangin sama bapak aku” Begitulah singkat ceritanya. Bapak saya memang enggan ke mesjid, tapi saya tidak terima bapak saya dibilang “kafir”. Begitulah sewaktu saya masih kecil, dan pernah marah dengan cara anak kecil tentunya.

    Kemudian kembali ke soal di forum ini. Waktu SMP itulah, saya pernah baca buku Mujarobat milik bapak, dan sempat saya hafal dan sempat saya amal doa Nurbuwat. Seingat diri, saya hanya sering mengamalkannya sampai SMP kelas tiga. Setelah itu tidak pernah lagi, meski saya tetap rajin sholat 5 waktu. Namun, setelah dewasa, tepatnya waktu kuliah di Yogya, dari tahun 2007 hingga akhir 2011 ini, boro-boro amal doa Nurbuwat, sholat lima waktu atau sholat jumat pun—saya lewat. Itu terjadi oleh karena satu dan dua sebab, yang sulit saya jelaskan di sini. Namun begini, tadi diatas saya sempat kutip perintah ayat 159 Ali Imran yang berbunyi “… kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilinganmu…”, maka perlulah pula dijelaskan kemana praktek kelembutan itu sendiri. Konkritnya, tidak seorangpun yang senang disebut kafir, syirik, musyrik—walaupun itu memang benar-benar begitu. Bahkan, hal ini seakan sudah menjadi suatu aksioma, bahwa orang kafirpun tidak mau disebut kafir, sama seperti orang alim yang tidak mau disebut dirinya suci. Begitu pula, nyaris tidak ada orang musyrik yang mau disebut musyrik, nyaris sama seperti orang berilmu yang tidak mau disebut sudah banyak ilmu. Ringkasnya, orang itu lebih rela diperlakukan lemah lembut agar tidak kian menjauh dan sudi mendekat kebenaran dari suatu kritik, jika memang berniat mengkritik secara baik-baik. Lagipula, terhadap rakyat lemah (umat-mustad’afin), jika mereka keliru sekalipun ya harus dikritisi dengan cara yang lemah lembut pula. Pilihlah disksi yang lunak dalam berucap dan kata yang sedap agar dipahami umat. Segala sesuatu memang tergantung keadaannya. Jangan terbalik-balik, dengan penguasa keliru tapi kuat kita bersikap lemah lembut; sementara terhadap rakyat keliru tapi lemah itu kita bersikap keras. Petani miskin atau buruh melarat, misalnya, jika keliru dalam IBADAH, itu tetap harus didekat dengan lemah lembut. Sebaliknya, terhadap penguasa atau majikan, jika keliru dalam MUAMALAH, itu boleh saja atau harus dikritik dengan lebih lugas. Garisbawahi, orang lemah, bahkan orang kafir yang lemah, itu lebih diutamakan untuk didekat dengan lemah lembut. Bahkan Tuhan pun, menurut sebuah hadist, akan mendengarkan dan mengabulkan doa orang teraniaya meski dia seorang kafir. Bisa saja terjadi, petani ‘kafir’ dan miskin oleh penguasa zalim, kemudian berdoa, dengan doa Nurbuwat pula, akan lebih didengar Tuhan daripada doa ulama mapan yang cenderung dekat dengan penguasa sebagai patron ‘main-stream’ politik-ekonominya itu. Sekali lagi, konkritnya, tidak seorangpun yang senang disebut kafir, syirik, ataupun musyrik. Kalaupun ada pihak yang pernah “senang” disebut begitu, yach mungkin itu adalah saya di suatu ketikanya di Yogyakarta, yang itu pun oleh karena diucapkan oleh orang yang lemah lembut. Ini memang berbeda dengan sewaktu masih kecil dulu di Sumatera.

    Di Yogyakarta, dulu, saya punya seorang teman yang terkenal berwatak dan bersikap lemah lembut, seorang santri dari keluarga asli NU Tuban dan berpendidikan Muhamadiyah Yogyakarta, namanya Ahmad Nashih Luthfi, yang sering dipanggil Luthfi saja. (Saya memang tidak pernah mendengar cerita tentangnya berkaitan dengan suatu kekerasan, tetapi saya menduga kini, bahwa dia memang tidak pernah berkelahi secara fisik sejak kecil.) Begini: oleh karena saya sudah cukup lama, yakni tahun 2007 itu, tidak pernah sholat jumat, maka saya pun pernah bertanya kepada Luthfi tadi tentang semacam hukum fiqh. Saya bilang kepadanya, bahwa saya pernah baca suatu tulisan entah kapan dan entah di mana, yang mengatakan bahwa seseorang pria muslim yang tidak sholat jumat lebih dari 3x berturut-turut, maka ia disebut KAFIR. Saya tanya, bahwa saya sudah lebih dari 3x berturut-turut tidak sholat jumat, dengan begitu, tetapkah saya juga disebut KAFIR sedangkan saya masih beriman kepada Allah, Nabi, Kitab, Malaikat, dsb? Apakah saya hanya Kafir secara fiqh saja ataukah tidak kafir secara hakikat? Ataukah ada istilah lain KAFIR yang khusus bagi orang yang masih beriman kepada rukun Iman tapi tidak sholat jumat? Kawan saya sejenak kelihatan seperti berfikir agak payah. Tampaknya, dia ingin tetap tidak terlihat bersikap keras atau kasar, baik itu pada nada bicara maupun pilihan kata, namun juga tetap berusaha ingin jujur. Akhirnya, sambil bernada canda dia bilang begini: “Ah, sudahlah, nggak usah repot-repot berfikir bagaimana hukumnya secara fiqh ataupun tidak. Anggaplah, dirimu memang sudah KAFIR, gitu” Lucu sekali nada dan pilihan katanya, dan waktu itu saya segera menimpal kecil saja “Oh, jadi aku ini sudah Kafir toh?”, dan dia hanya tertawa kecil saja. Sekali lagi, itulah dimana saya tidak marah disebut Kafir, karena mungkin selain diksi “Anggaplah dirimu memang Kafir”—yah sekadar “anggaplah..” tadi, juga karena hal tersebut disampaikan dengan nada yang tidak menghujat. ”Anggap’ dan tidak “menghujat”. Tidak ada suatu ‘rasa’ bahwa saya akan dipermalukan di situ, meski tetap dipersalahkan. Oleh karena ‘rasa’ atau ‘hati’ saya tidak dipermalukan, maka ‘otak’ saya pun jadi sering bertanya-tanya sendiri: “Benarkah saya seorang kafir?”

    Lain waktu dan lain orang, bukan saya saja yang pernah menjadi orang yang suka bertanya, atau sekadar berkomentar. Seorang kawan yang lainpun, yang masih satu kampus juga, dan yang bernama MH—pernah bertanya atau tepatnya berceloteh tentang kepengecutan kawannya pada mahluk gaib. Dia waktu itu, yang sedang KKN di daerah Bantul-Yogyakarta, pernah mengadu soal kawannya yang takut pada “demit dan hantu”. Ceritanya begini. Si MH punya teman-teman satu unit KKN-nya, yang temannya itu berkunjung ke sebuah rumah warga, yang ternyata itu adalah rumah kosong. Nah rumah kosong itu, yang ketika diketuk pintunya, ada suara manusia yang menjawab, tetapi tidak dibuka pintu. Oleh warga yang lain, dijelaskan bahwa itu adalah rumah kosong. Baru mereka sadar, siapa yang jawab panggilan mereka waktu itu kalau bukan mahluk ghaib atau semacam jin ataupun hantu? Begitu pikir mereka. Oleh karenanya, mereka menjadi ketakutan dan melapor kepada kawan saya itu, yang bernama MH tadi, tentang hal ‘suara gaib’ itu. Justru kawan saya si MH ini sama sekali tidak percaya. Dengan sendirian saja, si MH ini mendatangi rumah kosong itu dan mengundangi isi rumah itu berkali-kali, dari pintu depan, jendela samping, dan pintu belakangnya. Tak ada sahutan dan tak ada kejadian. Akhirnya dia berkesimpulan, tidak ada setan dan tidak ada hantu, kecuali fantasi-ilusi anggota unit KKN-nya saja. Dia menjadi heran, kenapa orang gampang menjadi penakut dan tidak rasional begitu.
    Si MH ini juga pernah berceloteh lagi kepada saya, tentang suatu malam, dia berjalan bersama teman KKNnya, di tempat yang dianggap warga—angker. Menurut temannya, mereka melihat rombongannya ditatapi oleh mahluk besar-gelap yang bermata merah. Padahal, si MH tidak melihat ada apa-apa. Lagi-lagi, si MH ini berprotes kepada saya, mengapa banyak orang yang berhalusinasi tentang sesuatu yang disebut jin dan hantu, dan kenapa orang menjadi sedemikian penakutnya, meski mereka itu sholat lima waktu segala. Nah, saya pun menimpalinya dengan berkata santai: “Oh, aku pikir bukan begitu persoalannya. Menurutku, mereka mungkin memang ditemui oleh mahluk ghaib itu. Soal dirimu yang tidak ditemui oleh atau tidak berhalusinasi seperti mereka, bukan begitu. Masalahnya, tidak akan ada satupun jin atau setan, dhemit atau lelembut yang berani menemuimu dirimu. Semua mahluk itu pada takut kepadamu. Disitu letaknya mengapa kamu tak bertemu dengan mahluk itu dan bukan mereka kawan KKNmu terlalu berhalusinasi. Yang jelas, semua jin dan setan takut alias ‘ewuh pakewuh’ denganmu!” Dia heran, dan saya bilang sekali lagi: ”Semua iblis itu pada takut kalau ketemu kamu!” Dia bertanya, “Maksudnya?” Nah, saya jawab dengan mengungkit ucapan dia sendiri beberapa waktu lalunya begini: “Lho, dulu ‘kan kau pernah bilang nggak percaya adanya Tuhan?! Ya kan?!” Dia seperti mengingat-ingat dan tidak membantah, maka saya sambar lagi dengan berkata: “Yang aku tahu, kalau menurut Al Quran, raja setan atau mbah iblis itu sejak zaman Adam pernah bertemu Tuhan. Pasti, setan percaya Tuhan itu ada, karena dia pernah bertemu dengan Tuhan. Hanya saja, setan bertemu dengan Tuhan itu untuk bertengkar dengan Tuhan soal Nabi Adam. Dan pasti, sampai sekarang setan tetap percaya adanya Tuhan, hanya saja, dia pembangkang Tuhan. Lha dirimu bagaimana? Dirimu itu kan tidak percaya adanya Tuhan, sedangkan Iblis percaya adanya Tuhan. Otomatis, kamu lebih hebat daripada iblis. Akibatnya, iblis sungkan dan enggan ketemu kamu, karena semua jenis setan itu masih akui adanya Tuhan. He he he, semua iblis itu sadar diri, bahwa kamu itu lebih hebat darinya. Kata iblis, ‘bayangkan, orang ini nggak percaya ada Tuhan, apalagi terhadap eksistensi kita, entah malah dianggap apa kita-kita ini?’ Makanya, tak satupun iblis mau bertemu dan bertampak wajah dengan kamu. Mereka minder semua sama kamu. Jadi, kalau hanya jin kelas rumah kosong atau hantu penunggu pohon besar, ya jelas nggak akan berani ketemu sama kamu, gitu…” Saya beri keterangan seperti itu, dia malah tersenyum-senyum yang kecut saja. Memang, MH pun pernah berpendapat, bahwa setan itu tidak ada kecuali itu hanyalah sebuah konsep tentang kebodohan, kepicikan, kemalasan, dan ketakutan. Separuhnya, saya pun juga ada setujunya dengan pendapat dia seperti itu. Selesailah di situ dan fokusnya apa di sini? Dia tidak mau marah dengan argument saya tadi, dan saya pun tak perlu resah dengan argumen dia. Semua punya pikiran masing-masing. Saya pun bersyukur untuk satu hal, bahwa banyak teman sekampus itu berusaha tidak pernah berbicara kasar, melainkan bersikap lembut. Waktu itu kita sama-sama sadar sebagai orang terpelajar, berbicara itu adalah kasar bila tidak ada sifat benar, minimal benar di tingkat logika atau nalar. Bernalar itu bagian berdialog, yang tentu anti-kasar. Saya tidak akan menilai apakah benar-salah isi dialog semacam itu sekarang, kecuali dialog dengan teman-teman itu benar-benar terjadi dulunya. Kira-kira begitulah keadaan tahun 2007-2008, dan saya memang ada di situ. Masa-masa dimana saya sudah lupa apa itu doa Nurbuwat! Eh, kini kembali teringat.

    Baiklah, sekarang saya coba meneluri (atau menanggapi) kembali doa Nurbuwat itu, semampu saya. Lalu, untuk mempermudah fokusnya, maka saya bahas berdasarkan kalimat perkalimatnya, yang dibuat secara terpecah kira-kira sebanyak 17 kalimat.

    KALIMAT ke-1 dari doa Nurbuwat, yakni:
    اَللّٰهُمَّ ذِيٛ السُّلٛطَانِ الٛعَظِيٛمِ
    Artinya: “Ya Allah, Dzat Yang memiliki kekuasaan Agung,”
    Ustadz Ammi Nur Baits mengatakan bahwa doa Nurbawat itu ‘banyak kejanggalan’, yang berarti kejanggalan itu ada lebih dari satu, yang dapat saja terdiri dua, tiga, empat dan seterusnya; karena disebutkannya ‘banyak’, begitu. Lalu, nah ini, Ustadz Ammi Nur Baits pula yang menyatakan, bahwa kalimat ke-1 doa tadi terdapat kekeliruan dari segi tata bahasa Arabnya, sehingga harus dirubah menjadi:
    اَللّٰهُمَّ ذَا السُّلٛطَانِ الٛعَظِيٛمِ
    Itulah perubahannya. Baiklah, oleh karena saya tidak tahu tata bahasa Arab, maka koreksi Ustadz Ammi Nur Baits ini saya terima saja. Dengan demikian, berarti waktu masih SMP itu dulu, saya pernah mengamalkan doa Nurbuwat dengan teks yang salah. Saya pikir koreksi semacam ini bagus juga. Bagi penerbit buku-buku Mujarobat, bolehlah pertimbangkan teks Arab koreksi tadi. Hal itu dengan syarat: jika setuju. Sementara itu, saya masih perlu bertanya: apakah kesalahan secara tata bahasa itu juga berakibat mengubah arti? Kalau tidak, ya syukurlah. Baiklah, begini saja, yang saya ketahui, suatu teks Arab itu yang sama sekali tidak boleh berubah, bahkan satu huruf sekalipun hanyalah ayat-ayat Al Quran. Mungkin Ustadz Ammi Nur Baits dapat membantu kita-kita yang keliru ini, dapatkah ditunjukan dokument awal dari teks doa Nurbuwat, sehingga apakah itu keliru sejak awal ataukah keliru baru belakangan ini? Maksud saya pada teks Arabnya. Walaupun saya cemas, apakah mungkin pencipta doa ini termasuk orang yang buta tata bahasa Arab? Mohon maaf, itu pertanyaan yang mungkin tidak perlu dijawab dengan segera, karena butuh penelitian yang cukup serius. Selain itu juga Pak Ustadz Ammi Nur Baits, apakah teks koreksi dalam bahasa Arab yang Ustad buatkan tersebut, masih berarti secara bahasa Indonesia (Melayu)-nya: “Ya Allah, Dzat Yang memiliki kekuasaan Agung”?

    Kalau arti bahasa (bangsa) kitanya masih begitu, walau teks bahasa (bangsa) Arabnya sempat keliru, maka saya ini dulu-dulunya tidak terlalu keliru, atau keliru yang tidak keterlaluan waktu dulu. Insya Allah, pasti, saya aman untuk tidak syirik ataupun tidak musyrik. Karena yang syirik itu bila saya berdoa dengan kalimat yang mengandung arti, misalnya:
    “Ya Al Latta, zat yang memiliki kekuasaan di tanah Arab”, atau
    “Ya Al Uzza, zat yang memiliki kekuasaan,” atau “Ya Manah, oh anak perempuannya Tuhan”, (Nama-nama ‘penguasa’ ini dari Surah An Najm 53:19-20) atau
    “Ya ratu laut selatan, yang kekuasaannya begitu seksi”, atau “Ya raja ghaib laut utara, yang kekuasaannya begitu ‘jantan’ di laut Jawa,”.
    Selain itu, saya ini juga Insya Allah, pasti juga tidak musyrik, karena saya tidak berdoa dengan kalimat: “Ya Baal, zat yang memiliki kekuasaan yang menyuburkan tanah pertanian bangsa Phunicia,” (nama penguasa ini di surah Ash Shaffaat 37: 125), atau
    “Ya bintang Sirius, zat yang memancarkan kuasa cahaya begitu indah bagi bangsa Ad” (Surah An Najm 53: 49-50), atau
    “Ya dewi Sri, zat titisan tuhan yang menguasai tanah pertanian bangsa Jawa”, atau “Ya Sang Hyang Kamajaya, zat yang menguasai raja asmara”, atau
    “Ya Marduk, zat yang menguasai negara Babilonia”, atau
    “Ya dollar dan rupiah, zat yang memiliki kekuasaan agung di sebagian jiwa bangsa Indonesia”. Dengan demikian, mungkin Pak Ustadz Ammi Nur Baits akan setuju dengan pendapat saya, bahwa saya ini tidak termasuk orang yang syirik, karena pernah mengamalkan doa Nurbuwat. Karena saya yakin, bahwa kalimat ke-1 dari doa Nurbuwat tadi memang mengandung nama ALLAH yang sesungguhnya, yakni “asmaul husna” untuk Tuhan YME, dan berdamping dengan nama “AL ‘AZHIIMU” (Dzat yang Maha Agung). Nama Allah, bukanlah nama-nama tuhan atau dewa-dewa yang lain. “Ya Allah, Dzat Yang memiliki kekuasaan Agung,” itulah yang arti teks bahasa kita.

    KALIMAT ke-2, dari doa Nurbuwat adalah:
    وَذِى الٛمَنِّ الٛقَدِيٛمِ وَذِى الٛوَجٛهِ الٛكَرِيٛمِ
    Artinya: “Yang memiliki anugerah yang terdahulu dan memiliki wajah yang mulia,”
    Menurut Ustadz Ammi Nur Baits, kalimat ini termasuk janggal dari segi tata bahasa Arab. Saya akui, saya tidak paham dengan istilah teknis bahasa Arab itu, karena saya bukan santri. Beginilah resikonya bagi saya yang hanya berilmu mengaji sebatas “alif-alifan” alias buku “Qaa’idah Baghdaadiyah” tanpa pendalaman, sehingga saya “harus” patuh pada Ustadz Ammi Nur Baits tadi. Menurut beliau, kalimat ke-2 doa Nurbuwat tadi “seharusnya”—bukan “sebaiknya” ataupun “selayaknya”—berganti menjadi:
    وَذَا الٛمَنِّ الٛقَدِيٛمِ وَذَا الٛوَجٛهِ الٛكَرِيٛمِ
    Semoga arti bahasa Indonesianya masih tetap “Yang memiliki anugerah yang terdahulu dan memiliki wajah yang mulia” begitu, karena Ustadz Ammi Nur Baits tidak membicarakan masalah arti ataupun maknanya, setidaknya sampai pada kalimat ke-2 doa Nurbuwat ini. Dalam bagian ini, saya hanya ikut dan hanya bisa mencatatkan suatu hal yang tidak kalah penting, yakni nama “AL QADIIM” itu sama dengan”AL MUQADDIM” yang artinya “Yang Mendahului” sebagai nama lain dari “ALLAH”, bersama-sama dengan nama “AL KARIIM” yang artinya “Yang Maha Mulia”. Dengan demikian, semangat kalimat ke-2 ini telah cukup sesuai dengan anjuran Surah Al A’raaf Ayat 180 yang berbunyi: “Allah mempunyai asmaa-ul husna, maka mohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul-husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya…” Cukup tepat demikian?! Tepat maksud pengutipan bahwa doa panggil ‘asma ul husna’-nya dengan dalil Quran ini?

    KALIMAT ke-3, doa Nurbuwat adalah:
    وَوَلِيِّ الٛكَلِمَاتِ التَّا مَّاتِ وَالدَّعَوَاتِ الٛمُسٛتَجَابَةِ
    Artinya: “yang menguasai kalimat-kalimat yang sempurna, dan doa-doa yang mustajab”
    Menurut Ustadz Ammi Nur Baits, kalimat ini juga “seharusnya” berganti, yang kasroh menjadi harakat fathah, pada “wawaliyyi” dengan:
    وَوَلِيَّ الٛكَلِمَاتِ التَّا مَّاتِ وَالدَّعَوَاتِ الٛمُسٛتَجَابَةِ
    Begitulah. Tidak ada keterangan lebih lanjut dari Ustadz Ammi Nur Baits mengenai hal ini, kecuali beliau segera meloncat saja kepada kalimat ke-7 doa Nurbuwat. Apakah saya juga akan meloncat ke kalimat ke-7 doa Nurbuwat ini? Tidak begitu, saya belum mau segera kesana, sebelum melihat-lihat dulu kalimat yang ke-3 ini dengan sedikit lebih seksama. Misalnya, “wawaliyyal kalimaatit tammaati” yang artinya Allah “yang menguasai kalimat-kalimat sempurna” itu. Untuk “Kalimat-kalimat sempurna” dalam kalimat ke-3 doa Nurbuwat ini jelas mengacu mutlak “kalimat Allah”, bukan kalimat yang lain, semisal “kalimat-kalimat” dari para penyair gurun padang pasir, ‘kalimat wangsit’ dukun gua-gua negeri Arab, atau kalimat penyihir dari istana Kinda raja-raja Arab kuno. Di sini, “Kalimat sempurna” adalah kalimat Allah dalam bentuk teks wahyu mutakhirnya: Al Quran, dan bukan teks sebagaimana tuduhan penyair gurun pasir kepada para Nabi sebagai KALIMAT sihir. Tuduhan itu jelas seperti maling teriak maling. Tentang KALIMAT SEMPURNA Allah itu, saya tidak mempunyai rujukan utamanya, kecuali mungkin dari Surah Al Baqarah Ayat 37 yang berbunyi: “Kemudian Adam menerima beberapa KALIMAT dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” Para ahli tafsir mengatakan bahwa “KALIMAT” untuk Nabi Adam as itu adalah doa-doa taubat. [Saya kutip dari Al Qur’an dan Terjemahnya. Semarang: CV. Toha Putra dan Departemen Agama Republik Indonesia, 1989.hlm. 15] Dengan demikian, doa Nurbuwat kalimat ke-3 ini tentang Allah sebagai penguasa “doa-doa yang mustajab”, tetap terasa menyambung dengan maksud frasa “kalimat sempurna” sebelumnya: Allah “yang menguasai kalimat-kalimat yang sempurna,”. Sekali lagi, secara maknawiyah, “kalimat sempurna” ini bukanlah kalimat dari “permainan kata-kata kosmis (cosmic pun)” yang diciptakan oleh para penyair/ pujangga istana demi kekuasaan politis raja-raja klasik, misal demi mengatakan “raja itu adalah dewa” demi proyek legitimasi politik raja berkuasa mutlak-mutlakan. [Istilah ini dikutip dari Lorraine Gesick, “Pengantar: Pusat, Simbol, dan Hirarki Kekuasaan. Esai-esai tentang Negara-negara Klasik Indonesia” (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1989).hlm.xxii, dan soal para penyihir-penyair di situs Qaryat al-Faw di Arab Saudi kuno dalam bukunya David Nicolle, “Atlas Sejarah Dunia Islam”. Terj, Rosida. Jakarta: Aksara Qalbu, 2009.hlm.15 boleh disimaklah]. Jadi, “Kalimat sempurna” adalah kalimat Allah yang seperti juga pernah diterima oleh Nabi Musa, bukan kalimat penyihir oleh kehendak raja Fir’aun. Apalagi kalimat ke-3 doa Nurbuwat, bukan pula kalimat-kalimat ‘sakti’ para raja Jawa sekalipun, yang lebih banyak digunakan untuk mendikte rakyatnya. Kalimat sakti itu sering berupa “syair sejarah” yang dibuat oleh para pujangga istana (saya suka menyebutnya “penyihir resmi” negara), entah dalam bentuk ‘babad’, ‘serat’, ataupun ‘hikayat’. Kalimat sakti yang memuji-muji raja. Akhirnya, saya juga ingin bertanya, kepada siapapun, apakah “kalimat sempurna” dalam doa Nurbuwat itu memiliki potensi bukan sebagai KALIMAT milik Allah?

    KALIMAT ke-4 dari doa Nurbuwat adalah:
    وَعَا قِلِ الٛحَسَنِ وَالٛحُسَيٛنِ مِنٛ اَنٛفُسِى الٛحَقِّ
    Artinya: “penjaga Hasan dan Husain dari jiwa-jiwa yang haq”
    Tidak ada ulasan ataupun koreksi dari Ustadz Ammi Nur Baits. Dengan begitu, secara tata bahasa Arab, kalimat ke-4 dari doa Nurbuwat ini tidak ada masalah?

    KALIMAT ke-5, yakni
    وَعَيٛنِ الٛقُدٛرَةِ وَالنَّا ظِرِيٛنَ
    Artinya: “dari pandangan mata yang memandang”
    Secara tata bahasa Arab, kalimat ke-5 dari doa Nurbuwat ini juga tidak ada masalah? Yach, sepertinya akan begitu, ah akan seperti begitu?! Nanti kita selidiki, “… pandangan mata yang memandang” penuh selidik semacam apa itu.

    KALIMAT ke-6, yakni
    وَعَيٛنِ الٛاِ نٛسِى وَالٛجِنِّ وَالشَّيَا طِيٛنِ,
    Artinya: “dari pandangan mata manusia dan jin.”
    Demikian pula Ustadz Ammi Nur Baits juga tidak memberikan koreksi apapun.

    KALIMAT ke-7, ini yang menarik, karena kalimat ke-7 ini adalah ayat Al Quran yakni:
    وَاِنٛ يَّكَا دُالَّذِيٛنَ كَفَرُوٛا لَيُزٛ لِقُوٛ نَكَ بِاَبٛصَارِهِمٛ لَمَّا سَمِعُوا الذِّ كٛرَ وَيَقُوٛ لُوٛنَ اِنَّهٗ لَمَجٛنُوٛنٌ.
    (القلم: ٥١)
    Artinya:
    Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, takala mereka mendengar Al Quran dan mereka berkata: “Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila”. (QS Al Qalam 68: 51)

    Kalimat ke-7 inilah yang langsung saja dibahas oleh Ustadz Ammi Nur Baits, dengan meloncati kalimat ke-4 hingga kelimat ke-6 dari doa Nurbuwat di sini. Baiklah, lalu, Ustadz Ammi Nur Baits memang menyebutkan kalimat ke-7 ini sebagai suatu ayat, tetapi tidak secara lugas disebut sebagai Surah Al Qalam Ayat 51 begitu. Oleh karena itu, sayalah yang coba untuk menggarisbawahinya, bahwa ini memang ayat Quran. Ini penting, karena begini: ketika Ustadz Ammi Nur Baits membahas kalimat doa Nurbuwat dari kalimat ke-1 hingga ke-3 doa Nurbuwat, beliau membongkar teks kalimat itu secara kritis terdapatnya cacat kalimat dari aspek tata bahasa Arabnya. Sementara untuk kalimat ke-7 ini, kritik secara tata bahasa seperti itu sudah tidak dilakukan lagi oleh Ustadz Ammi Nur Baits. Mungkin, Ustadz Ammi Nur Baits ingin mengakui secara positif bahwa kalimat ke-7 ini memang sudah benar, bahwa ini betul-betul teks langsung dari Al Quran, dan siapa sih yang sanggup merubah-rubah teks ayat Quran?! Pencipta dan pengamal doa Nurbuwat tidak melakukannya bukan?!

    Namun agak mengejutkan, Ustadz Ammi Nur Baits mengupas kalimat ke-7 ini dalam kritik yang lain lagi, yakni kritik dari aspek “Susunan kalimat yang tidak sistematis dan tidak memiliki kaitan” begitu. Ustad menyatakan ayat atau kalimat ke-7 ini dikutip secara tiba-tiba saja dalam doa Nurbuwat ini. Menurutnya, semula bagian awal doa Nurbuwat penuh dengan pujian kepada Allah, tiba-tiba saja doa beralih kepada ayat [51 Surah Al Qalam] yang kisahan tentang Nabi Muhammad SAW, yang hendak diserang orang kafir melalui penyakit TATAPAN MATA yang hasad (dengki). Sekali lagi, benarkah doa Nurbuwat “tiba-tiba nggak nyambung” begitu? Menurut saya, tidaklah demikian. Mohon maaf, ustad-lah yang secara tiba-tiba membahas kalimat ke-7 ini, tanpa menyambung atau mengurai dahulu kalimat ke-4 dan ke-6 doa Nurbuwat, yang berisi doa pujian nama Allah sang “penjaga Hasan dan Husain dari jiwa-jiwa yang haq, dari pandangan mata yang memandang, dari pandangan mata manusia dan jin.” Jika saja mengurai kalimat ke-4 dan ke-6 dahulu, tentu tidaklah ada kesan tiba-tiba tersebut, karena kata kuncinya ada pada TATAPAN MATA atau PANDANGAN.

    Marilah kita kunjungi kembali kalimat ke-4 doa Nurbuwat tentang Allah sang “penjaga Hasan dan Husain dari jiwa-jiwa yang haq” tadi, yang sangat mungkin berkaitan dengan doa Nabi Muhammad SAW untuk kedua putranya itu—Hasan dan Husein. Apa doa Nabi Muhammad saw itu? Inilah doanya Nabi: “Aku melindungi kamu dengan KALIMAT-KALIMAT ALLAH yang sangat sempurna dari setiap setan dan mahluk-mahluk beracun, serta dari setiap PANDANGAN MATA yang menimpanya (yang dapat menyebabkan celaka)” [Doa ini dari HR Bukhari melalui buku Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani, Doa Dzikir dan Wirid Sehari-hari Menurut Al Quran dan As-Sunnah. Terj. Abdullah. (Solo: Insal Kamil, 2006).hlm. 160-161] Perlu diketahui, ini sebuah doa Nabi Muhammad SAW yang sebelumnya merupakan doa Nabi Ibrahim as untuk putranya si Ismail dan Ishaq. Labib MZ menerjemahkan doa Nabi ini juga ke Bahasa Indonesia dengan redaksinya: “Aku lindungkan kamu berdua dengan menyebut KALIMAT ALLAH yang sempurna, dari tiap-tiap setan dan binatang berbisa dan dari tiap-tiap MATA yang MEMANDANG SINIS”. [Teks Indonesia dikutip dari Labib MZ, Bimbingan Doa dan Dzikir Mujarob. (Jombang: Lintas Media, tth).hlm. 140, dan teks doa berbahasa Arabnya via hadist itu juga ada di situ, saya tidak menyalinnya di sini,kecuali kelak ada yang memintanya]. Semoga pembaca bisa bersabar, bahwa saya ingin memperlihatkan adanya pola: “KALIMAT SEMPURNA” vs “TATAPAN SADIS”, eh “TATAPAN SINIS” Dengan begitu, saya berani katakan bahwa kalimat ke-7 atau Quran Surah Al Qalam 68: 51 ini tetap—sekali lagi—tetap nyambung dengan tema pujian nama Allah (sang penguasa “KALIMAT SEMPURNA”) pada kalimat ke 4 hingga 6 doa Nurbuwat tersebut.

    Terus terang, saya sangat suka dengan catatan Al Qalam 68: 51 (sebagai kalimat ke-7 doa Nurbuwat) ini yang dibuat Departemen Agama Islam Indonesia. Ayat 51 ini bertutur: “Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan PANDANGAN mereka, …” Menurut tafsir ulama berjamaah di Indonesia, ayat 51 Al Qalam menggambarkan suatu kebiasaan di tanah Arab, seseorang ada yang dapat saja membinasakan binatang atau manusia dengan PANDANGAN [mata] yang tajam. Teknik pencelakaan via mata tersebut juga disasarkan mereka kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi Allah memeliharanya, sehingga terhindar dari bahaya PANDANGAN itu. Masih menurut penafsir Indonesia, kekuatan PANDANGAN mata itu pada masa sekarang [tahun 1980-an] dikenal sebagai HIPNOTISME. [Dikutip lagi dari dari Al Qur’an dan Terjemahnya. Semarang: CV. Toha Putra dan Departemen Agama Republik Indonesia, 1989.hlm. 965] Jika tafsirnya demikian, coba perhatikan lagi berita Ayat 51 “Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu [Muhammad] dengan PANDANGAN mereka, …” tadi, ini jelas bahwa Nabi Muhammad SAW pun hampir dapat digelincirkan oleh kekuatan mata Hipnotis “kaum” padang pasir tersebut, apalagi umat-umatnya yang selevel manusia biasa itu?

    Hipnotis memang sejenis kekuatan mistis (dan logis) via PANDANGAN mata, yang secara teoritis, memang pernah saya pelajari dari beberapa buku, baik kelas emperan toko maupun non-emperan, yang ternyata belum satupun yang menganggap tunggal dalam hal metode maupun alirannya. (Misalnya, Rommy Rafael di Metro TV, yang dipandu oleh Ralf Tampubolon, pernah mengatakan bahwa ilmu hipnotis, gendam, dan sihir—itu tidaklah sama dan bukan barang yang sama. Maaf, saya lupa rincian penjelasan dan kapan dia berbicara itu. Kalau jelasnya, ya tanya saja sama Romy) Kekuatan hipnotis memang dapat dipelajari oleh siapapun. Namun begini saja. Terus terang. Menurut dugaan saya, metode hipnotis yang paling “sempurna” dan lebih “kuat” adalah apa yang dimiliki oleh penyihir Fir’aun. (Pendapat lain bilang metode hipnotis yang ‘paling sempurna’ itu di Babilonia. Satu yang sulit diketahui, apakah metode hipnotis Babilonianya juga diambil oleh bangsa Yunani bercampur dengan ilmu astronomi ‘negeri Babil’?? Entahlah, tapi yang saya tahu sedikit, Hipnotis itu dari kata “hipnos”/ “dewa tidur”) Mengapa metode hipnotis dari penyihir era Fir’aun itu saya anggap lebih kuat, bahkan lebih kuat daripada kaum penghipnotisnya bangsa Quraisyi di era Nabi Muhammad saw, karena berdasarkan afirmasi dari dua ayat sekaligus, yakni:
    “Dan berapa banyaknya negeri-negeri yang (penduduknya) lebih kuat dari (penduduk) negerimu (Muhammad) yang telah mengusirmu itu….” (Surah Muhammad 47: 13)

    dan juga ayat:
    “Dan berapa banyaknya umat-umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka [bangsa Muhammad] itu lebih besar kekuatannya daripada mereka ini, maka mereka (yang telah dibinasakan itu) telah pernah menjelajah di beberapa negeri. [Biar begitu] adakah (mereka) mendapat tempat lari (dari kebinasaan)?” (Surah Qaaf 50: 36),

    dan memang, mereka, penduduk di kota Mekah pun ingin membinasakan nabi Muhammad dengan hipnotis atau TATAPAN MATA yang mistis sadis itu? Tidak berdaya guna apa terhadap sang Nabi. Nah, ayat tadi dengan jelas mengabarkan bangsa-bangsa maju dan besar jaman kuno pun, yang penuh pertualangan ‘hipnotis’ politik ekonomi pun dibinasakan juga oleh Tuhan: “Adakah (mereka) mendapat tempat lari (dari kebinasaan)?” Sekali lagi, meski belum dibuat penelitian yang lebih akurat, bahwa kalimat sugesti ‘sihir’ Tatapan Mata mistis atau hipnotis era Nabi Musa itu begitu ‘sempurna’ dan ‘canggih’, karena syair transedentalnya sudah mengkombinasikan daya kekuatan retorika-astronomika-fisika-metafisika, dll. Halusinasi ular yang diciptakan oleh tukang sihir Fir’aun, misalnya, melalui kalimat ‘segesti’ retorika dan metafisikanya sudah hampir-hampir membuat Nabi Musa ketakutan. Tetapi, lagi-lagi, seperti yang kelak akan terjadi pada zaman Nabi Muhammad saw, hipnotis itu juga tidak berguna. Saya menduga, boleh kan menduga, bahwa hipnotis tertinggi itu ada pada penyihir Fir’aun tadi, yang telah mengkombinasikan seluruh jenis kekuatan, mulai dari RETORIKA, MATA, FISIKA, METAFISIKA, dan teknik manipulatif lainnya. (Saya berbeda dengan Quraisy Hab. Dia menolak ada ulama yang berpendapat bahwa tali-tali yang disihir menjadi ular oleh tukang sihir fir’aun itu menggunakan bahan kimia sebagai sikap anti mukjizat, namun cukup sayang Quraisy Hab tidak menyebut ulama mana yang berpendapat tidak percaya sihir gaib begitu, kecuali sihir kimia saja. Ceklah dulu di buku M. Quraish Shihab berjudul “Tafsîr Al-Misbâh. Pesan, Kesan, dan Keserasian Al Quran. Volume 7” Jakarta: Lentera Hati, 2002.hlm.621; sementara saya berbendapat bahwa penyihir itu komplit ilmunya: sihir gaib mistis dan sihir al-kemis. Baiklah, saya tahu ini perdebatan dari suatu kisah ayat yang bukan muhkamaat [jelas lugas], melainkan mutasyabihat [samar], saya juga jadi tidak ingin ngotot-ngototan yang tidak perlu.) Teknik manipulatif yang disampaikan oleh Tatapan Mata Hipnotis, itu fokus kita.

    Hal demikanlah yang mungkin diharapkan oleh pemakai doa Nurbuwat ini, keselamatan yang pernah diberikan Allah kepada Nabi juga diharapkan dapat berlaku kepada umatnya, yah umat yang mendoa dengan doa Nurbuwat. Jadi, ayat 51 Al Qalam yang berbunyi “Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu [Muhammad] dengan PANDANGAN mereka, …” tadi telah menyambung sekali dengan doa Nurbuwah sebelumnya, yakni: pujian “Kalimat Allah” yang mampu melindungi Hasan dan Husein dari PANDANGAN/tatapan sadis. Baiklah, saya ringkaskan doa Nurbuwat ini berurutan secara logis: dari kisah anak-anaknya Nabi si Hasan dan Husein yang diberi doa kalimat perlindungan, sampai kisah Nabi Muhammad yang diberi kalimat perlindungan Allah dari para penyihir bertatapan sadis.

    KALIMAT ke-8, doa Nurbuwat juga ayat dari Al Quran yakni:
    وَمَا هُوَ اِلَّا ذِكٛرٌ لِّلٛعٰلَمِيٛنَ.
    (القلم: ٥٢)
    Artinya:
    Dan Al Quran itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat. (QS Al Qalam 68: 52)
    Dari segi teks Arab tidak ada perubahan. Tetapi dari segi maksud, sulit diketahui. Al Quran memang peringatan dan pelajaran bagi semua manusia di bumi ini. Mungkin juga, pendoa Nurbuwat dapat berasa dalam doa dengan Ayat 52 itu bahwa Al Quran memberi peringatan: “Waspadalah terhadap aneka sihir”, dengan dirasa seperti pesan Bang Napi RCTI: “Waspadalah!”

    KALIMAT ke-9, yakni
    وَمُسٛتَجَابُ لُقٛمَانِ الٛحَكِيٛمِ
    Artinya: “dan mengijabahi Lukmanul Hakim”
    Memang, kalimat doa Nurbuwat ini bukan ayat Al Quran. Mungkin begitu, karena saya belum berhasil melacaknya, yang secara redaksi sama atau beda secara mutlaknya. Namun bukan berarti saya tidak mau mengomentari doa, khusus pada kalimat ke-9 barusan ini.

    “Mustajab” atau mumpuni yang dimaksud dalam kalimat ke-9 ini, tampaknya merujuk kepada kehikmatannya doa-doa Luqman, atau kebijaksanaan petuah-petuah hidupnya. Apa pastinya begitu? Tiap muslim memang diberitahu, bahwa Luqman adalah sosok dan nama manusia yang betul-betul istimewa. Dia bukan Nabi dan bukan pula Rasul, tapi kebijaksanaan (‘hakim’) hidupnya membuat Allah memperhatikan dia dengan mencatatkannya, kedalam Quran yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw.

    Mungkin pula, maksud kalimat ke-9 dari doa Nurbuwat barusan, dapat dikaitkan dengan surah Luqman Ayat 12 terkait ilmu hikmah-nya si Lukman Hakim. Perhatikanlah bunyi ayat 12 Surah Luqman berikut:
    “Dan sesungguhnya telah Kami berikan HIKMAT kepada LUQMAN, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”

    Hikmat itu menjadi nikmat bagi diri Luqman. Nama dan doanya itu sengaja disenggol dalam doa Nurbuwat dengan harapan-harapan hikmat yang sama nikmat mustajabnya. Itu penjelasan yang bersifat praktis. Namun penjelasan filosofis, nah, para pemakai dan penghayat doa Nurbuwat mayoritas adalah golongan tarekat, merekalah yang mungkin bisa menjelaskannya, bukan saya. Kalau saya hanya bisa mengatakan secara terbatas—ini seandainya benar, bahwa orang Jawa itu paling mudah didekati dengan penjelasan filosofis ilmu hikmat daripada penerangan ilmu syariat. Ada penjelasan nyaris tanpa penjelasan. Maksudnya, penjelasan ilmu hikmah itu tanpa penjelasan teoritis dan yuridis, yang demikian itulah menjadi kesenangan orang Jawa. Bagi saya, itu adalah kelebihan sekaligus kelemahan orang Jawa, terutama pengamal doa Nurbuwat yang didapatkannya dari primbon doa Jawa tersebut, (dari primbon yang dipopulerkan lagi di emper-emper toko pasar rakyat). Mereka ini, golongan penghayat, senang betul menghayati segala hal lebih kepada mistis-filosofis ketimbang repot memahami hal yuridis teknis keagamaan, dalam hal ini: Islam. Baiklah, daripada melebar kemana-mana, saya rangkum saja, bahwa ‘Hikmat’ seorang Luqman sebagai nama dan kerja ‘doa’ syukurnya terhadap nikmat menjadi semangat moral dan spiritual yang diharapkan dari doa Nurbuwat. Itulah letak pentingnya nama Luqmanul Hakim, yang di dalam Surah Luqman Ayat 19, si Luqman menutup nasihat bijak kepada anaknya sebagai berikut: “Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” Suara saya, jiwa Anda, hati Saudara, Rasa kita, bukanlah sura keledai? Setuju begitu? Semoga. (Meskipun saya agak cemas, penjelasan saya ini nanti malah dianggap pula ‘tidak sistematis dan tidak nyambung’ begitu. Hanya cemas saja, boleh ‘kan?!)

    KALIMAT ke-10, nah ini ada kaitan jelas dengan ayat Quran secara tekstual. Perhatikan dulu kalimatnya:
    وَوَرِثَ سُلَيٛمَانُ دَاوٗدَ عَلَيٛهِمَا السَّلَامُ
    Artinya: “dan Sulaiman telah mewarisi Daud ‘alaihis salaamu”

    Nah, tadi Luqman, sekarang Sulaiman. Luqman, lalu Sulaiman. Berkata Luqman, bersuara Sulaiman. Ah, Luqman dan Sulaiman. Pas, untuk orang beriman. Yah, petuah ilmu hikmah Luqman kepada anaknya yang bijak, kini petuah ilmu pemerintah Sulaiman sebagai anak terwarisi dari Daud as yang kuat. Begitulah cerita yang saya tangkap, dari Al Quran sebagai niat doa Nurbuwat. Yah, agaknya begitu. Daud as—Ayah yang kuat; sekarang Sulaiman as—anak yang hikmat. Nyambung bukan?
    Namun begini, kalimat ke-10 dari doa Nurbuwat itu tidak utuh mengambil dari Quran secara teks Arabnya. Kalau dalam Al quran secara lengkap berbunyi:
    وَوَرِثَ سُلَيٛمٰنُ دَاوٗدَ وَقَالَ يٰٓاَيُّهَاالنَّاسُ عُلِّمٛنَا مَنٛطِقَ الطَّيٛرِ وَاُوٛتِيٛنَا مِنٛ كُلِّ شَيٛءٍۗ اِنَّ هٰذَالَهُوَ الٛفَضٛلُ الٛمُبِيٛنُ.
    (النّمل: ١٦)
    Artinya:
    Dan Sulaiman telah mewarisi Daud dan dia berkata: “Hai manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar satu karunia yang nyata.” (QS An Naml 27: 16)

    Dengan demikian, doa Nurbuwat mengambil yang frasa awalnya Surah An Naml Ayat 16 saja (“wawaritsa Sulaimaanu Daawuuda…”). Nah, kali ini saya berurai agak teknis ketimbang mistis yang sulit diurai dan diintip itu. Apakah boleh awalnya surah An Naml Ayat 16 saja yang dipotong eh dikutip secara pendek untuk doa, dalam hal ini kalimat ke-10 Nurbuwat? Kalau saya boleh jawab, ya boleh-boleh saja. Memang dalil saya punya bukan dalil naqli, tapi dalil adat saja. Yah, dalil dari kebiasaan. Teknis memang, dan nyata praktis. Saya ambil kasus Surah Ali Imran Ayat 19 dalam zikir, yang ternyata biasa sekali diambil oleh umat Islam di Indonesia untuk berzikir, cukup dengan:
    اِنَّاالدِّ يٛنَ عِنٛدَ اللّٰهِ الٛاِسٛلَامُۗ …
    (الٓ عمران:١٩)
    Artinya:
    Sesungguhnya agama yang (diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam… (QS Ali Imraan: 19)

    Nah, ini sepotong kalimat Ayat 19 Ali Imran yang diambil depannya saja, boleh bukan? Padahal, kalau Ayat 19 Ali Imran dipakai lengkap teksnya, itu juga akan relevan dengan perdebatan di forum ini, yang bunyi lengkapnya saya catat lagi: “Sesungguhnya agama yang (diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang PENGETAHUAN kepada mereka, karena KEDENGKIAN (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (QS Ali Imraan: 19)

    Nah, ini sepotong kalimat An Naml Ayat 16 (“wawaritsa Sulaimaanu Daawuuda…”) untuk doa Nurbuwat mirip dengan kasus Ali Imraan: 19 (“Innaddii na ‘indallahil islaamu”), itulah yang saya dalilkan secara adatnya.

    Nah kembali pada kalimat ke-10 doa Nurbuwat, setelah An Naml Ayat 16 itu diambil sebagian pada awalnya saja, namun secara teknis pun masih disambung lagi dengan ucapan salam untuk Sulaiman dan Daud as, yakni “alaihis salam”/ “semoga kesejahteraan senantiasa terlimpah atasnya”. Ini adalah kewajiban setiap mukmin menghormati para nabi Allah, walaupun mereka (Daud dan Sulaiman) adalah keturunan dan penguasa Bani Israel. Makanya dalam teks tertulis sebagai berikut ini:
    وَوَرِثَ سُلَيٛمَانُ دَاوٗدَ عَلَيٛهِمَا السَّلَامُ

    Sekali lagi, frasa “semoga kesejahteraan senantiasa terlimpah atasnya”adalah ucapan teknis yang penting. Menurut Jerald F. Dirk, kaum Kristiani Barat merasa gelisah dengan frasa kebiasaan muslim itu, ketika salah satunya menyebut Nabi Isa, misal, dengan tambahan “‘alaihissalam” juga. [Saya kutip dari bukunya Jerald F. Dirk berjudul “Salib di Bulan Sabit”. Terj. Ruslani. Jakarta: Serambi, 2003. hlm.8], dan memang, frasa teknisnya, khusus pada nama Muhammad, selain salam juga harus ditambah shalawat terlebih dahulu. Itu juga saya baca dari bukunya Imam Nawawi berjudul “Al-Adzkar Shahih Doa dan Dzikir. Kitab Induk dan Pedoman Lengkap doa dan Dzikir yang Diajarkan oleh Nabi Muhammad saw” terj. Zenal Mutaqin. Bandung: Jabal, 2011.hlm.171. Mengucap “alaihis salam” setelah sebut nama Nabi Daud—suatu yang biasa-biasa saja, tapi ini penting. Nah, hal yang biasa saja ini juga tersedia pada kalimat ke-10 doa Nurbuwat. Ini teks bukan sekedar cocok saja dengan kaidah bahasa Arab, tetapi teks juga nyaris sudah cocok dengan kaidah doa, ya bukan demikian? Baiklah, saya akui memang ada yang masih mengganjal di situ, “alaihis salam” kepada Nabi Daud di kalimat ke-10 menjadi “alaihimassalam”, apakah itu syah menurut kaidah? Wah, memang saya buta tata bahasa Arab.

    KALIMAT ke-11, doa Nurbuwat adalah:
    يَاوَدُوٛدُ يَااللّٰهُ يَاذَالٛعَرٛشِ الٛمَجِيٛدِ يَافَعَّالٌ لِمَايُرِيٛدُ طَوِّلٛ عُمٛرِيٛ
    Artinya: “Ya Dzat Maha Mencintai, Ya Allah yang memiliki singgasana dan yang Maha Mulia, Ya Dzat yang Maha Berkuasa atas apa saja, panjangkanlah umurku,”

    Kalimat ke-11 ini termasuk unik, setidaknya menurut saya. Dibilang dia ayat-ayat Al Quran, ya ada juga benar begitu; dibilang bukan ayat Quran lagi, ya bisa keliru begitu. Baiklah. Kalimat ke-11 Nurbuwat ini mengambil dan mentrampil ayat 14 sampai 16 Surah Al Buruuj. Mari kita rinci lagi dengan simak ayat-ayatnya sebagai berikut:
    وَهُوَ الٛغَفُوٛرُ الٛوَدُوٛدُۙ.
    (البروج: ١٤)
    Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, (QS Al Buruuj 85: 14)

    Nah dalam kalimat ke-11 doa Nurbuwat diambil bagian ujung akhirannya saja, “al Wadududu” menjadi “Ya Waduudu”. Titik dulu! Lalu, ayat berikutnya,

    ذُوالٛعَرٛشِ الٛمَجِيٛدُۙ
    (البروج: ١٥)
    yang mempunyai singgasana lagi Maha Mulia, (QS Al Buruuj 85: 15)

    Nah, dalam kalimat ke-11 doa Nurbuat, ayat “dzul ‘arsyil majiidu” menjadi “Ya dzal ‘arsyil majiidu”, sampai disini saya agak bingung sedikit. Apakah ini menyalahi kaidah tata bahasa Arab? ‘dzul’ berubah menjadi ‘dzal’ begitu? Stop, kita lanjut dulu ke ayat berikutnya, yakni:
    فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيٛدُۗ
    (البروج: ١٦)
    Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki, (QS Al Buruuj 85: 16)

    Dalam kalimat ke-11 doa Nurbuwat, ayat ini menjadi tervariasi dari “Ya fa ‘alul lima yurii du”/ “Ya Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki” dengan doa susulannya “towiil ‘umrii”/ “panjangkanlah umurku,” begitu. Pak Ustadz Ammi Nur Baits tidak mempersoalkan perubahan teks ini, tapi mempersoalkan lafal di ujung permintaan doa kalimat ke-11 ini, yang nanti dilihat juga kejadiannya.

    Kalau seandainya ada yang bertanya: apakah sah-sah saja ayat Quran ditambah-tambah begitu? Saya sementara jawab, jika tidak mengubah, hanya mengkreasi “asmaul usna”nya saja, saya jawab: mungkin boleh-boleh saja. Lagi-lagi, saya tidak punya dalil teoritisnya kecuali dalil dari kaum praktisinya. Saya anggap hal ini mirip kejadian ayat ‘basmalah’. Agar terpercaya, marilah perhatikan ayat ‘basmalah” di bawah ini barang sejenaaak saja, yakni:
    بِسٛمِ اللّٰهِ الرَّ حٛمٰنِ الرَّحِيٛمِ.
    (الفاتحة: ١)
    Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (QS Al Fatihah 1: 1)

    Dalam tradisinya praktisi, yang juga kini saya pakai dan yakini, Al Fatihah Ayat 1 ini bisa divariasikan sebagai pembuka kalimat doa penutup doa sholat, maksud variasinya adalah:
    اٰمِيٛنَ يَااَللّٰهُ, اٰمِيٛنَ يَارَحٛمٰنُ, اٰمِيٛنَ يَارَحِيٛمُ, اٰمِيٛنَ يَامُجِيٛبَ السَّٓاىِٔلِيٛنَ.
    Artinya:
    Perkenankanlah wahai Allah, perkenankanlah wahai Dzat yang Maha Pemurah, perkenankanlah wahai Dzat Yang Maha Pengasih, perkenankanlah wahai Dzat Yang Memperkenankan para peminta.

    Lihatlah proses kejadiannya, ayat pertama dari Surah pertama Al Quran tertambah “Amiin-amin”, lalu ujungnya masih dikasih pula “amiin ya mujiibas saaa iliina”, yang ini agak mirip susulan ujung Surah Al Buruuj Ayat 15 tadi dengan doa: “towiil ‘umrii”/ “panjangkanlah umurku,” Dengan begitu, apakah ada masalah? Tidak ada. Yang penting ayat basmalah tidak berubah atau bercantum nama dewa serakah, seperti:
    يَااللّٰتَ يَاالعُزّٰى يَااِبٛلِيٛسَ…
    Artinya: “Ya Latta ya Uzza ya Iblis”

    Nah, Ustadz Ammi Nur Baits tidak mempermasalahkan lagi BENTUK teks, tetapi ISI teks doa yang berbunyi “panjangkanlah umurku,” tersebut.

    Dalam tema ‘hakekat’ doa Nurbuwat yang dianggap penuh kejanggalan itu, dibuat ada kategori “Isi permintaan yang tidak tepat”, ya oleh ustad, dengan mempersoalkan doa “[Ya Allah] panjangkanlah umurku” ini. Menurut Ustadz Ammi Nur Baits, doa meminta panjang umur apalagi secara eksplisit begitu bukanlah doa yang terpuji. Saya mengerti sekali apa yang diuraikannya. Tetapi, yang tidak terpuji bukanlah ketika meminta panjang umur, tetapi doa-doa yang sebaliknya: meminta kebinasaan diri dan meminta dipendekkan umurnya. Misalnya, seorang manula sakit menahun berdoa: “Ya Allah, aku sakit ini begitu lama, kenapa nggak Engkau ambil saja nyawaku dengan segera”, atau doanya anak muda sakit asmara: “Ya Allah, cintaku kandas digilas orang kaya yang culas, maka daripada aku tanggung derita mememelas, matikan saja aku segera pun aku ikhlas”, atau doa orang taat ibadah tapi melarat: “Ya Allah, hidup sebagai orang Indonesia serasa jadi orang laknat, yah aku melarat, takut menjilat koruptor seperti GayusTambunan dari orang pejabat Pajak, kenapa tidak kau segerakan padaku alam akhirat yang penuh nikmat bagi rakyat?” Seluruh doa barusan ini mengandung unsur bunuh diri, dan tidak terpuji. Kalau bedoa meminta panjang umur apakah sesuatu yang tidak terpuji? Yah, tergantung si pendoanya saja? Saya garisbawahi, tidak terpuji, jika doa mengandung unsur bunuh diri. [Saya meminjam ulasan Imam Nawawi dalam bukunya berjudul “Al-Adzkar Shahih Doa dan Dzikir. Ibid.hlm.504, yang mengutip hadis (HR Abu Dawud)]

    Dalam hal ini, saya lebih memilih untuk menjelaskan daripada memvoniskan ’doa panjang umur’ itu sebagai suatu terpuji atau agak terpuji, atau malah sama sekali tidak terpuji. Kesadaran tentang hakikat umur panjang itu sendiri, yang perlu dijelaskan. Penjelasan saya begini. Memang benar, bahwa umur seseorang itu sudah ada ukurannya, dan tidak mungkin ditambah atau dikurang, sebagaimana yang tertuang dalam Surah Faathir Ayat 11: “… Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seseorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam kitab (Lauh Mahfudz). ….” Jadi, betul memang umur itu suatu yang ukurannya telah ditentukan oleh Tuhan. Masalahnya, jika ingin menekankan pentingnya berumur panjang secara kualitatif, yah diterangkan saja. Tidak perlu pula terlalu meniadakan “doa minta umur panjang” sebagai sesuatu yang tidak terpuji. Toh secara kuantitatif, terkait soal permintaan panjang umur tersebut, Quran juga mengakomodasikannya secara kritis dan logis, yakni: “… dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. …” (QS Al Hajj 22: 5) Jadi, kalau siapa pun mau berdoa minta panjang umur dengan kalimat doa tadi yakni:
    يَافَعَّالٌ لِمَايُرِيٛدُ طَوِّلٛ عُمٛرِيٛ
    “Ya Dzat yang Maha Berkuasa atas apa saja, panjangkanlah umurku,” ya biarkan saja. Tidak perlu ada istilah tak terpuji. Kalau ada waktu, dan mau, serta berilmu, ya silahkan, penikmat doa Nurbuwat diberitahukan saja bahwa keadaan berumur panjang beresiko alamiahnya, penyakit pikun. Itu saja kalau dari saya, yang saya ini waktu kecil termasuk anak orang kota yang biasa-biasa saja, yang paling senang kalau diundang oleh anak agak gedongan untuk ikut bernyanyi: “panjang umurnya, panjang umurnya. Panjang umurnya serta mulia, sertaaa muuuliaaa, sertaaa muuulia. Tiup lilinnya, tiiiup lilinnya WUUSS…..DOR! (bunyi balon)”.

    KALIMAT ke-12, dari doa Nurbuwat adalah:
    وَصَحِّحٛ جَسَدِيٛ وَاَوٛلَادِيٛ وَحَبِّبٛ لِلنَّاسِ اَجٛمَعِيٛنَ
    Artinya: “sehatkanlah jasad tubuhku, kabulkan hajatku, perbanyakanlah harta bendaku dan anakku (pengikutku), cintakanlah semua manusia”

    Seutuhnya, kalimat ke-12 ini tidak terpisah dengan doa Nurbuwat kalimat ke-11 (minta panjang umur) tadi. Hanya saja demi kemudahan dari pembahasan, terpaksa, ya kalimat “sehatkanlah badan tubuhku, kabulkan hajatku, perbanyakanlah harta dan anakku” dianggap sebagai kalimat ke-12, yah serius, demi kalimat ke-12 untuk dibahas.

    Ustad ini mengkritik doa ini dengan hadist yang shahih, bahwa doa minta anak dan harta banyak jika tanpa minta berkahnya adalah salah. Saya kira ini tetap suatu masukan. Tentu suatu masukan. Waktu saya masih SD pun saya sudah diajarkan suatu doktrin Orde Baru waktu kampanye Keluarga Berencana (KB): “Banyak anak Banyak Rejeki, itu suatu pandangan yang penuh kekeliruan”. Dan untuk lancarkan proyek itu, pemerintah mencari dukungan ulama-ulama, dan seperti biasa, ulama pun saling bertengkar, dan saya waktu itu sebagai rakyat anak SD yang kecil, tidak tahu dan tidak ikut-ikutan bertengkar. Sekarang saya bertemu diskusi tentang argument bahwa berdoa minta banyak anak dan harta sebagai sesuatu yang keliru, jika tanpa meminta kriterianya, yakni berkah.

    Baiklah, saya balik lagi ke doa Nurbuwat saja. Sebenarnya kalimat ke-12 doa Nurbuwat ada juga nilai kebenarannya. Saya ingin fokus pada doa “minta harta dan anak banyak”nya saja. Begini, apakah salah orang berdoa minta harta dan anak yang melimpah? Dalam kasus tertentu, hal demikian tidaklah terlalu bermasalah. Banyak harta dan anak, ada pula sifat positifnya. Meski itu tidak mutlak sifat positifnya dalam kasus zaman tertentu. Toh Al Quran pun secara realistis mengakui hal tersebut dengan Surah Al Israa 17: 6 yang berbunyi “Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan HARTA KEKAKAYAAN dan ANAK-ANAK dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar.” Jadi, orang berdoa minta supaya menjadi kelompok yang besar dan menang, dengan harta dan anak yang banyak, ya juga tidak salah. Hanya saja, dalam berdoa itu, jangan main mutlak-mutlakan dengan Tuhan, itu juga suatu peringatan. Misalnya Tuhan berkata, “Maka apakah kamu telah melihat orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami dan ia mengatakan: ‘Pasti aku akan diberi harta dan anak!’”(QS Maryam 19: 77) Dengan begitu, apakah aktivis doa Nurbuwat termasuk “kaum kafir ayat-ayat” ketika bermunajat minta anak dan harta yang banyak? Kalau hanya berdoa saja, asal tidak berkata dan bermaksa “Pasti aku akan diberi harta dan anak”, ya buat saya, itu tidak menjadi persoalan, dan bukan “kafir”. Ini pendapat saya, bukan fatwa, tapi logika, dari al Quran yang terbaca.

    Selain butuh berdoa, manusia memang perlu berwaspada. Tidak mutlak, banyak anak dan harta hidup itu aman dan berkah. Kadangkala keadaan ‘banyak’ itu menjadi pencobaan, bahkan pengazaban. Di tempat lain dan kasus lain pula, Al Quran juga mengingatkan hal tersebut dengan: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS At Taghaabun 64: 14). Jadi, bukan mutlak istri dan anak akan menjadi musuh atau mutlak menjadi sekutu, ini suatu peringatan sekaligus pelajaran saja. Ayat 14 tadi masih dilugaskan lagi oleh Ayat berikutnya “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS At Taghaabun 64: 15) Al Quran memang memberi banyak kisah tentang hidup yang sudah-sudah sebelum era nabi Muhammad, bahwa harta dan anak itu dekat dengan kemegahan dan kemewahan yang diimpikan semua manusia bahkan negara. Pada kasus tertentu, banyak anak itu memang bermakna banyak pengikut. Kemegahan bisa menjadi kehancuran. Tetapi, memang ada kasus, para Nabi pun kadang dilecehkan dengan sedikitnya anak atau pengikut oleh orang megah dan kaum ‘gagah’, sebagaimana ayat berikut ini berbilang:
    Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya” Dan mereka berkata: “Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab,” (QS Surah Saba’ 34: 34-35)

    Selain itu, ada ciri orang munafik dan musyrik berlawanan dengan ciri Nabi dan para pengikutnya, yang diberitahukan oleh Quran kepada Muhammad saw sebagai berikut: “(keadaan kamu hai orang-orang munafik dan musyrikin adalah) seperti keadaan orang-orang yang sebelum kamu, mereka lebih kuat daripada kamu, dan lebih banyak harta benda dan anak-anaknya daripada kamu…” (QS At Taubah: 69). Apakah para pengamal doa Nurbuwat itu orang kaya dan orang kuat sehingga pantas disebut musyrik dan munafik? Apakah para pendoa Nurbuwat orang yang sudah benar-benar kaya? Di desa-desa, aktifis doa ini rata-rata orang melarat yang sedang berdoa ingin punya anak dan harta yang banyak. Itu saja. Justru orang munafik dan syirik adalah orang kuat, baik segi harta maupun anak; dan biasanya ulama konservatif yang senang poligami dan anti doa Nurbuwat juga termasuk orang kuat dibandingkan pengamal doa Nurbuwat, maka apakah, … apakaaaah? Ah, cukup! (Astarghfirullah al’adzim, saya mau sholat magrib dulu… )

    Begini, agar jelas maksud saya. Al Quran pun mengakui bahwa banyak anak dan harta sebagai salah satu tanda kekuatan individu atau suatu kelompok. Jadi kalau Al Quran mengakui, mengapa kita cenderung mengelabui? Baru berdoa minta ingin jadi orang kaya saja orang sudah dipersalahkan, khusus jika dengan doa Nurbuwat ini. Padahal, di luar sana, ada orang yang sudah kaya harta dan anak berbuat salah tapi tidak dipersalahkan. Waktu Soeharto jaya, anda kita dimana? Oh, rakyat Lapindo oh oh oh, orang miskin berdoapun dipersalahkan, oh jangan begitulah. Jadi, saya tidak perlu banyak berkomentar, kalau Al Quran sudah bertatar, sehingga saya hanya berkomentar bagi yang berdoa dengan kalimat ke-12 Nurbuwat “sehatkanlah jasad tubuhku, kabulkan hajatku, perbanyakanlah harta bendaku dan anakku (pengikutku), cintakanlah semua manusia”, ini tidak terlalu soal!

    Sekali lagi, orang berdoa itu selalu dengan kalimat doa yang bernada ideal, meski realitasnya dunia tidak bercerita ideal seperti dalam doa. Perhatikanlah ujung doa Nurbuwat barusan tadi, yang kira-kira “[Ya Allah…] cintakanlah semua manusia [kepada sesama manusia],” Apa yang salah dengan doa seperti ini? Tidak. Doa ini cukup bagus, karena mulia harapannya. Yah, tidak ada yang terlalu salah bukan? Yang salah jika kita berdoa semisal: “bencikanlah semua manusia terhadap sesama manu

  154. wiwin es

    Yang salah jika kita berdoa semisal: “bencikanlah semua manusia terhadap sesama manusia”, nah ini baru doa yang keliru, karena tanpa didoakan seperti itu pun manusia cenderung membenci orang yang bukan sehati dan segolongannya. Saya meyakini hati dan pikiran sendiri, bahwa frasa ujung dari kalimat ke-12 doa Nurbuwat “wa habbib linnaasi ajma’iina”/ “[Ya Allah…] cintakanlah semua manusia [kepada sesama manusia]” merupakan sesuatu imaji harapan akan kedamaian dan kecintaan (mahabbah) yang ideal antar sesama manusia. Inilah ideal, idealisme yang altruis tercetus dalam berdoa, yang kenyataannya bagaimana? Kenyataan atau realitas? Nah, Al Quran bukan kitab munafiq, realitasnya itu dikatakan oleh sebuah ayat adalah sulit, dan dunia penuh cinta damai itu hanya ada di surga di akhirat, bukan di bumi yang rumit. Tetapi perintah Quran itu untuk cinta dan mau cinta sesama itu ada dan itu sebuah keharusan, walaupun Al Quran memberitakan suatu kenyataan bagi seluruh anak-cucu Adam as:
    Allah berfirman: “Turunlah kamu sekalian, SEBAGIAN KAMU MENJADI MUSUH BAGI SEBAGIAN YANG LAIN. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan.” (Surah Al A’raaf 7: 24)

    Walaupun Surah Al A’raaf 7: 24 berkata bahwa sebagian manusia itu potensial selalu bermusuhan, kita tetap harus berjuang jangan sampai selalu bermusuhan, minimal berdamaian melalui doa, misalnya “cintakanlah semua manusia [dalam kedamaian]”, sebagaimana salah satunya ada di doa Nurbuwat ini. Yah, doa itu secara umum boleh sebagai suatu cita-cita ideal, ketika bumi bukanlah alam akhirat yang damai dan adil. Oh ya, jangan keliru pula membaca Surah Al A’raaf 7: 24 bahwa “SEBAGIAN KAMU MENJADI MUSUH BAGI SEBAGIAN YANG LAIN…” tadi, terus dianjurkan praktek saling bermusuhan. Keliru itu, misalnya, “Yuk kita saling bacok-bacokan. Kamu Ahmadiyah, aku anti Ahmadiyah”, atau misal yang lain pada tahun 1965-66, “Ah biarpun dia petani beragama Islam, tapi dia adalah anggota BTI, ya tetap PKI, maka SIKAT!” atau “Biarpun dia hanya guru SD yang beragama Islam, tapi dia anggota PKI, ya tetap ateis makar Soekarno, BUNUH!” (Dua dialog ini saya buat berdasarkan penelitian Hermawan Sulistiyo), atau pada tahun pasca reformasi misal “Ah, biarpun dia beragama Islam dan pandai baca Al Quran, dia itu anggota Jaringan Islam Liberal, BABAT!”, dan misal kekeliruan seterusnya.

    Ini gara-gara saya berkomentar tentang kalimat ke-12 Nurbuwat “sehatkanlah jasad tubuhku, kabulkan hajatku, perbanyakanlah harta bendaku dan anakku (pengikutku), cintakanlah semua manusia”, lumayan panjangnya, saya kok belum bisa selesai juga.

    KALIMAT ke-13, yakni
    وَتَبَاعَدِ الٛعَدَا وَةَكُلَّهَا مِنٛ بَنِ اٰدَمَ عَلَيٛهِ السَّلَامُ
    Artinya: “dan jauhkanlah permusuhan dari anak cucu Adam ‘alaihis salaamu”

    Nah terjemahan ini masih dari bahasa Melayu-an, dan ini juga kalimat yang tidak langsung terambil dari Al Quran. Mungkin Ayat 31 Surah Al Baqarah dapat membantu memahami kalimat ke-13 ini, karena berbicara tentang kehidupan yang dinamis dari anak cucu Adam as. Silahkan cek sendiri sana Ayat 31 Al Baqarahnya. Sementara itu, untuk komentarnya kalimat ke-13 sini, rasanya sudah cukup dibahas di kalimat ke-12 doa Nurbuwat barusan.

    KALIMAT ke-14, yakni
    مَنٛ كَانَ حَيَّا وَيَحِقَّ الٛقَوٛلُ عَلَى الٛكَافِرِيٛنَ.
    Artinya: “orang-orang yang masih hidup (di hatinya) dan semoga tetap ancaman siksa bagi orang-orang kafir.”

    Nah, ini terjemahannya, seperti yang sudah-sudah, memang saya pakai bahasa Melayu. Kecuali bahasa Indonesianya bagaimana? Nah, oleh karena ini ayat Al Quran, maka saya pakai terjemahan bahasa Indonesianya. Tetapi, perhatikanlah, bahwa kalimat ke-14 doa Nurbuwat mengambil ayat Quran dengan teks Arabnya sebagai berikut:
    لِّيُنٛذِرَ مَنٛ كَانَ حَيًّا وَّيَحِقَّ الٛقَوٛلُ عَلَى الٛكٰفِرِيٛنَ.
    (يسٓ: ٣٦)
    supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir. (QS Yaa Siin 36: 70)

    Inilah teks lengkap Surah Yasin Ayat 70; namun begitu, beberapa huruf awal ayat 70 Yasinnya dipotong, demi penyesuaian kalimat doa dengan kalimat sebelum-sebelumnya. Dalam bahasa Indonesianya menjadi : ”…kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir”, kira-kira begitulah. Apakah ini termasuk kaidah tata bahasa dalam berdoa? Hmm..

    KALIMAT ke-15, nah, doa ini juga dari Al Quran, yakni
    وَقُلٛ جَآءَ الٛحَقُّ وَزَهَقَ الٛبَاطِلُۖ اِنَّ اٛلبَاطِلَ كَانَ زَهُوٛقًا.
    (الاسٓراء: ٨١)
    Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah suatu yang pasti lenyap. (QS Al Israa 17: 81)

    Redaksi bahasa Arab dari Al Qurannya tidak ada yang berubah. Lalu? Saya tidak bisa menyederhanakan ayat yang luas makna ini; begitu juga saya tidak bisa meluaskan makna ayat yang padat begini. Apa maksud dan kaitan doa Nurbuwat mencantumkan surah Al Israa 17: 81-nya? Saya merasa sulit. Spiritualitas: yang salah lenyap, yang jahat minggat; yang benar datang, yang tenar jelang; yang sihir minggir, yang munir mahir; yang kikir singkir; yang zikir zahir; dalam hal apa? Sekali lagi, ini hanya pendoa saja yang bisa merasakan, saya tak mau merasakan itu jika sedang banyak memikirkannya dengan cara-cara berdebat seperti di forum ini. Dua hal yang saya ketahui dari Al Israa 17: 81 ini adalah: pertama, ayat ini berlatar kisah penaklukan mutlak Nabi Muhammad Saw ke Mekah tanpa pertumpahan darah, sungguh indah dan megah [Setidaknya, menurut bukunya Philip K. Hitti]. Kedua, ayat ini pernah dikutip oleh ‘ulama’ Partai Persatuan Pembangunan si Ismail Hasan Metareum, ketika menggambarkan Soekarno yang ‘batil’ (karena pro marxis) dikalahkan oleh Soeharto yang ‘benar’ (pro kapitalis)—dengan pertumpahan darah. Yah, pertumpahan darah, tanpa pernyataan perang dari Soekarno selaku presiden, kecuali dengan Supersemar yang samar-samar, yang kini masih saja dianggap-dipuja benar! [saya tidak mau asal bicara, kalau ada waktu, cobalah simak makalah Ismail Hasan Metareum, ”Menuju Kehidupan Politik yang Demokratis, Jujur, dan Adil”, dalam Dawam Rahardjo. (ed), Reformasi Politik: Dinamika Politik Rasional dalam Arus Politik Global. Jakarta: PT. Intermasa, 1997) hlm.260]

    KALIMAT ke-16, dari doa Nurbuwat adalah:
    وَنُنَزِّلُ مِنَ الٛقُرٛاٰنِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَّرَحٛمَةٌ لِّلٛمُؤٛ مِنِيٛنَۙ وَلَاَيَزِيٛدُ الظّٰلِمِيٛنَ اِلَّا خَسَارًا.
    (الاسٓراء: ٨٢)
    Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (QS Al Israa 17: 82)

    Nah secara tekstual, ayat 82 Al Israa ini dalam doa Nurbuwat juga tidak mengalami perubahan apapun. Dengan ayat 82 ini, membuat doa menjadi serasa sangat bertenaga menjelang tuntasnya berdoa. Apakah sadar pengamal doa Nurbuwat bahwa ayat 82 itu memang bisa menjadi penawar hati yang kalut? Semoga begitu. Dan apakah sadar sebagian pengkritik (atau penghujat) bahwa Al Quran bukan rahmat bagi yang zalim? Mohon maaf, lagi-lagi, pertanyaan mungkin agak kasar. Rahmat itu bukan barang murah, tetapi orang susah bisa mendapatkannya dari ‘rasa’ ayat 82 ini. Rahmat bukan bagi dan dari yang zalim, baik zalim tindakan maupun zalim ucapan. Saya punya contoh kezaliman dalam ucapan yang jauh dari rahmat, setidaknya menurut ‘rasa’ dan ‘akal’ saya. Begini, di era Soeharto jaya, secara antusias yang condong buas, Bismar Siregar mengatakan bahwa PKI (Partai Komunis Indonesia) itu SETAN di jaman Orde Lama-nya Soekarno, sedangkan LSM HAM bersama PRD (Partai Rakyat Demokratik) juga SETAN di era Orde Pembangunan Soeharto. [Saya kutip dari Bismar Siregar, ”Moralitas dan Upaya Penegakan Hukum di Indonesia: Tantangan dan Peluang”, dalam Dawam Rahardjo. (ed), Reformasi Politik: Dinamika Politik Rasional dalam Arus Politik Global. (Jakarta: PT. Intermasa, 1997).hlm.192-194] Apakah benar orang PKI yang juga ada yang beragama Islam seperti Sudjadi Krido Mardi itu SETAN? Apakah benar LSM HAM tempat Munir dkk dan PRD tempat Budiman Sudjatmiko juga sebagai SETAN? Lantas, Soeharto dan Bismar sebagai apa? Yah, sebagai malaikat bagi rakyat? Hmm.. Kata hujatan memang jauh dari rahmat, itulah zalim melalui ucapan. Sayang, di era pasa Reformasi pun muncul hujatan, misalnya melalui singkatan JIL (Jaringan Islam Liberal) yang saya baca di internetan [??] berubah menjadi “Jaringan Iblis Laknat”. Subhanallah! Darimana kreatifitas yang tidak rahmat seperti ini datang? Menurut saya, ya dari penyakit warisan anti rahmat-nya Orde Baru. Saya khawatir, para aktifis doa Nurbuwat juga gilirannya akan disebut SETAN, atau minimal pengikut SETAN? Waduh, akibatnya, saya pun termasuk SETAN, karena pernah mengamalkannya? Padahal, dalam doa Nurbuwat yang dulu pernah saya baca itu, salah satu doanya berbunyi dari ayat Quran: “Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” Tidak ada untungnya menyebut orang lain SETAN, bukan? Jauh berbeda bukan nilai ‘rasa’-nya, antara laknat dengan rahmat semaksud Ayat 82 Al Israa’ tadi?

    KALIMAT ke-17, yakni
    سُبٛحٰنَ رَ بِّكَ رَبِّ الٛعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوٛنَۚ وَسَلٰمٌ عَلَى الٛمُرٛسَلِيٛنَۚ وَالٛحَمٛدُ اللّٰهِ رَبِّ الٛعٰلَمِيٛنَ.
    (الصّٓفّت: ١٨٠-١٨٢)
    Maha Suci Tuhanmu yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejehteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. (QS Ash Shaffat 37: 180-182)

    Kalimat ke-17 ini mengambil 3 ayat sekaligus dari Surah Ash Shaffat, dan memang 3 ayat ini selalu digunakan sebagai penutup dari doa sholat atau doa-doa yang lain. Dengan sampai pada kalimat ke-17 ini, berarti masing-masing isi doa Nurbuwat sudah tersaji ‘tuntas’.

    Memang masih ada ‘hakikat kesesatan doa Nurbuwat’ yang terakhir menurut Ustadz Ammi Nur Baits, yakni dari segi “Keutamaan yang berlebihan”, sampai Ustad berkesimpulan bahwa doa ini bukan dari Nabi Muhammad Saw dan berekomendasi untuk siapapun tidak usah mengamalkannya. Baiklah, itu kritik, yang jika ada istilah dari segi “Keutamaan yang berlebihan”, berarti ada lawannya yang juga berlaku, “kekurangan yang berlebihan”. Maksud saya begini, kita rentan untuk serba main mutlak-mutlakan begitu, karena hal mutlakan itu dapat berlaku juga pada kita sendiri, “terpecik ke muka sendiri”. Tidak mungkin mutlak manusia itu akan selalu jahat sebagaimana Iblis, tetapi juga tidak mutlak manusia itu akan baik seperti Malaikat. Kalau misalnya saya mengecap orang itu SETAN secara mutlak-mutlakan, maka resikonya jika dia terbukti tidak setan atau semiripnya, maka sayalah yang setan itu. Kira-kira begitulah maksudnya dari serba dua arah berlebihan tadi.

    Kembali lagi, mengenai “keutamaan yang berlebihan” itu, pada dasarnya saya pun setuju-setuju saja, bahwa hal itu memang ada benarnya. Sesuatu yang berlebihan dalam menggambarkan manfaat doa Nurbuwat tidak akan pernah saya pungkiri itu. Sportif saya katakan: ya memang ada begitu. Bahkan, sejak baca buku Mujarobat milik bapak saya sewaktu masih SD dan SMP dahulu kala, hal berlebihan yang aneh itu juga sudah saya rasakan. Contohnya, ada manfaat “Jika ingin harta dunia, maka bacalah doa [Nurbuwat] ini pada kunir, kemudian ditanam di tanah. Insya Allah jadi emas, tetapi janganlah bicara kepada orang lain” [Manfaat ini saya dapat lagi, seperti buku Mujarobat bapak saya dulu, melalui buku seharga Rp 1000, karya Moh. Saleh berjudul: “Tuntunan Shalat-shalat Tahajjud Dhuha Istikharah Taubah Hajat dan Do’a Nurbuwat.” Jakarta: Hidayat, tth. hlm.18] Nah, waktu SD itupun, saya sudah ragu dan skeptis dengan manfaat bahwa kunyit itu bisa jadi emas. Makanya, saya tahu itu, tapi saya abai saja hal berlebihan itu. Hal yang tidak berlebihanlah yang jadi perhatian, bahwa doa Nurbuwat itu dapat mengusir jin dan setan. Waktu SD itu saya memang takut lewat ke tempat gelap dan sepi, sehingga hafal Ayat Kursi dan amal Doa Nurbuwat, secara psikologis saya merasa aman dari jin dan ‘hantu’. Sekali lagi, saya akui memang ada yang berlebih-lebihan dalam mempromosikan doa Nurbuwat tersebut. Namun, lain waktu lain cerita, sekarang saya punya penilaian tersendiri mengenai hal tersebut, dengan analisis ilmu komunikasi.

    Kita, eh, baiklah, saya, bahwa idealnya mengukur bahasa komunikasi masyarakat tertentu “harus” menurut konteks zamannya sendiri. Mungkin, waktu Islam baru saja masuk ke pulau Jawa dan ke pedesaan, atau Islam baru saja hendak berkembang dan bersebar, maka para pendakwah yang notabene berhaluan tarekat mempromosikan, misalnya melalui karya Mujarobat, seperti doa Nurbuwat tadi, dengan bahasa “iklan” yang cukup provokatif untuk [keperluan] masyarakat waktu itu. Iklan manfaat doa Nurbuwat itu bak obat sosial—sengaja atau tidak—memang dibuat semenarik mungkin agar segera diminati oleh masyarakat, dan itu pula yang sekarang oleh ustad forum ini sebagai promosi “keutamaan yang berlebihan”. Kalau kita mau jeli, dengan ilmu komunikasi, bahwa cara promosi dengan mengatakan “keutamaan yang berlebihan” itu bukan hal yang asing lagi, yang sekarang pun masih terjadi pada banyak kepentingan, yang ada dalam kehidupan sekitar kita. Kalau tidak percaya, mari kita uji.

    Ada sebuah iklan rokok “asyiknya rame-rame” di televisi, kalau tidak salah jingle-nya begitu, yang secara visual menggambarkan adegan terjun dari pesawat ramai-ramai, terus bermain catur di atas udara. Itulah iklan rokok, dengan teknik visual bukan lagi sebatas verbal, dan itu jelas menggambarkan dan mempromosikan rokok dari segi “Keutamaan yang berlebihan”, bahkan sangat berlebihan. Tetapi apa ini? Hanya lucu saja, dan buat saya memang lucu. Inilah adalah satu contoh nyata adanya ilmu komunikasi (dalam bisnis) yang diterapkan kepada era kita, “berlebihan” bukan? Iklan yang “lebai” bukan? Kapan itu, ya ada di era kekinian. Kebetulan, saya suka iklan itu. (Secara teoritis, “asyiknya rame-rame” itu contoh iklan ‘majas visual’. Untuk lebih lanjut, kalau ada waktu dan mau, baca dulu bukunya Werner J. Severin dan James W. Tankard berjudul “Teori Komunikasi. Sejarah, Metode, dan Terapan di Dalam Media Massa” Cet. Ke-4. Jakarta: Kencana, 2009. Hlm.99, tidak ada yang melarang kok]
    Ada juga sebuah iklan minuman penyegar. Secara visual, disajikan seorang gadis minum produk itu seakan diri di bawah dekat air terjun yang begitu segar, penuh dengan tiupan angin sepoy-sepoy air terjun, diiringi tanaman hijau yang semerbak. Nah, itu bahasa komunikasi iklan, termasuk ilmu komunikasi terapan. Saya bilang, itu termasuk promosi produk dengan “Keutamaan yang berlebihan”, ya tentu saja. Padahal, saya minum produk itu, yah biasa-biasa saja. Saya kalut ada hutang misalnya, saya minum produk itu ya tetap saja hutang yang terbayang, bukan air terjun indah yang melayang. Dengan begitu, hanya iklannya saja yang berlebihan.

    Dalam praktek ilmu komunikasi, iklan-iklan komersial tadi terasa lucu buat saya, tetapi tidak dengan iklan politik yang terasa bikin mulas karena begitu culas. Contoh mutakhir, ada figur yang dulunya tidak pernah berjuang dalam gerakan politik menentang korupsi Soeharto, kemudian tidak pernah pula ikut dalam gerakan politik menurunkan Soeharto, eh dalam iklan politik kok mengaku sebagai seorang reformis dan anti korupsi. Ada figur yang dulunya pernah jadi bagian rezim kekerasan Soeharto, eh dalam iklan politiknya ingin menjadi orang paling sopan dan santun dalam berpolitik di negara Indonesia. Ada figur yang dulunya diduga kuat mematai-matai mahasiswa sampai mahasiswa demo tahun 1998 Soeharto tumbang, eh dalam iklan politik mengatakan akan melanjutkan reformasi mahasiswa. Ibarat mantan perwira Fir’aun yang “selamat” dari laut, umpamanya, lalu mengatakan “Wahai, pengikut Musa, aku akan melanjutkan perjuangan Musa dalam membebaskan kamu dari pemiskinan dan perbudakan Fir’uan yang terkutuk itu”, buat saya iklan politik yang sangat membodohkan dan melebih-lebihkan figur, apalagi dengan tawaran: “BLT mau dilanjutkan apa tidak?”. Figur inilah yang dalam iklan berbual: “Katakan Tidak! Pada Korupsi” dan ingin paling terlihat penuh gebrakan perubahan, padahal dulu tidak pernah ikut perubahan, muncul sebagai pemimpin Indonesia sekarang, misalnya, namanya Soesilo Bambang Yudhoyono. Contoh yang nyata, dengan menggunakan teknik ilmu komunikasi, dijualah segala kelebihan-kelebihan yang berlebih-lebihan begitu. “Kalau rakyat memilih SBY, maka kesejahteraan akan meningkat dan keamanan rakyat akan memikat”, itu adalah semacam bahasa iklan yang sangat berlebih-lebihan, dan prakteknya adalah bukan bahasa yang sebenarnya. Seandainya iklan doa Nurbuwat dikatakan berlebih-lebihan karena mengatakan, misal kira-kiranya “Barangsiapa rakyat yang mau memilih doa ini sebagai amalan, maka dia akan terbebas dari kemiskinan dan kekufuran,” lalu dianggap menyesatkan umat; maka iklan figur politik SBY itu dapat dikatakan lebih sangat berlebih-lebihan karena misalnya, “Barangsiapa rakyat memilih saya, maka dia akan terbebas dari kemiskinan dan kebodohan warisan Soeharto”, sehingga inilah yang jauh menyesatkan rakyat. Tetapi terbukti bukan, bahwa ilmu komunikasi “lebai” itu ada dan dipakai juga sekarang? Jadi, kalau mau mempersalahkan iklan doa Nurbuwat berlebih-lebihan, dan itu bikin sesat umat, mengapa tidak sekalian katakan iklan politik Presiden SBY dan seluruh iklan tokoh seangkatannya juga dianggap berlebih-lebihan, padahal terbukti sering bikin sesat rakyat, bukan demikian?

    Begini, kembali ke iklan berlebihan doa Nurbuwat, kalau memang itu dianggap berlebihan, maka saya ingin membacanya dengan cara yang lain, agar sedikit lebih adil, bahwa rakyat susah salah, perlu lebih banyak beri maaf sambil terus beri risalah. Jaman dahulu, ada Keris Sisik Sewu yang dapat menambah derajat seseorang, nah rakyat kecil tidak mungkin mengkoleksi keris langka itu, akhirnya koleksi doa Nurbuwat—apa salah iklannya? Dulu ada Keris Sekar Susun dan keris Sumsum Buron yang dapat mendatangkan rezeki, menurut kepercayaan, nah ketika Mujarobat beriklan bahwa doa Nurbuwat dapat mendatangkan rejeki bagi rakyat miskin—apa salahnya? Daripada berburu keris yang langka dan mahal, kenapa tidak tertarik dengan doa Nurbuwat yang tidak mahal? Ada keris Carito Kanowo yang dapat menimbulkan rasa tenang seorang pejabat atau siapapun, nah, rakyat kalau pingin tenang terus tahu iklan doa Nurbuwat juga bikin tenang jiwa—apa salahnya iklan itu? Kalau benar iklan itu begitu, maka rakyat buru-buru mengamal doa Nurbuwat lebih saya setujui daripada rakyat sibuk buru memburu keris-keris keramat yang amat jimat itu. Demikianlah konteks masyarakat waktu itu, sehingga iklan Mujarobat sebenarnya mewakili jiwa resah “jaman” itu. Yah, iklannya “lebai” begitu.

    Dalam forum ini, ada komentator bernama Susuhunan yang mengutip hadist shahih Muslim bahwa mengajarkan 2 ayat Quran sama seperti memberi 2 unta kepada orang miskin, namun kemudian dia berkomentar: “nah, doa yang tertera di Al-Quran lebih bernilai dari harta termahal, jadi gak perlu lagi qt dengan doa nubuat itu,,” Inilah contoh komentar yang berkata, tapi belum berselidik. Yah, manusia memang cenderung tergesa-gesa. Nah, dalam doa Nurbuwat itu paling tidak terdapat 11 Ayat Al Quran yang utuh. Dengan begitu, sekali membaca doa Nurbuwat orang sudah mendapat 11 unta? Bagaimana bung Susuhunan? Mohon maaf Bung, itu ayat Quran lho, bukan ayat setan?

    [Ada buku tentang doa Nurbuwat yang dengan iklan yang datar-datar saja, misalnya, pada buku mistiknya si Zaenuri Al Yusak, berjudul: Ilmu Besar Ketabiban Disarikan Dari Kitab Al-Aufaq Karya Ulama Besar Imam Ghozali. Cet. Ke-7. (Semarang: CV. Bahagia, 1995)hlm.109-110]

    Baiklah, sekarang saya ingin menelisik lagi doa Nurbuwat, juga berdasarkan hadist. Rasul SAW pernah bersabda: “Barangsiapa yang membaca 1 huruf dari kitab Allah (Al Quran), maka ia akan mendapat 1 kebaikan dan tiap 1 kebaikan akan dilipatkan menjadi 10 kali kebaikan. Aku tidak mengatakan Alif Laam Miim adalah 1 huruf, namun Alif [sebagai] 1 huruf, Laam 1 huruf dan Miim [itu] juga 1 huruf” [HR At-Tirmidzi, saya kutip via bukunya Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani, Doa Dzikir dan Wirid Sehari-hari Menurut Al Quran dan As-Sunnah. Terj. Abdullah. (Solo: Insal Kamil, 2006).hlm.24] Saya ingin berhitung-hitung sekarang, agak matematis memang, tetapi tidak rumit nyinyis.

    Secara hitung kilas-cepat, Doa Nurbuwat ini total huruf Arabnya ada 546 buah. Dari total itu, sebanyak 290 huruf berasal ayat Al Quran, sehingga sisanya ada 256 memang bukan huruf Al Quran. Dengan demikian, doa Nurbuwat itu lebih dari separuhnya adalah huruf yang didominasi oleh ayat Al Quran, yakni sebanyak 290 huruf tadi. Kalau saya hitung berdasarkan hadist At-Tirmidzi tadi, maka orang sekali membaca doa Nurbuwat itu sudah dapat mengantongi 2900 KEBAIKAN. Saya tidak tahu, 1 kebaikan itu seperti apa bentuknya. Ada yang tahu dan mau tahu? Selain itu, saya juga bertanya, jika doa Nurbuwat itu tidak berguna, apakah seluruhnya dianggap tidak berguna atau sebagiannya saja? Mutlak atau tidak mutlak? Bagaimana dengan nasib 290 huruf Al Qurannya?

    Baiklah, selain itu, sisa dari doa Nurbuwat yang bukan ayat Quran adalah sebanyak 256 huruf. Itu terdiri “asma ul husna” sebanyak 23 huruf, lalu shalawat pendek 22 huruf, dan 27 huruf nama orang istimewa yang biasa disebut dalam Al Quran. Memang tidak ada dalil untuk menghitungnya secara bagaimana, untuk huruf yang bukan dari ayat Quran ini. Namun sebagai kalimat doa, apakah ini juga tidak ada 1 Kebaikan pun dalam sekali baca doa Nurbuwat?

    Oh ya, ada yang lupa, bahwa setiap kali membaca doa Nurbuwat, dan teks Arab yang pernah saya dapat, selalu diawali dengan kalimat “Basmalah” alias Surah Al Fatihah Ayat 1 dari Al Quran, yang sebanyak 19 huruf itu. Kalau begitu, total huruf Al Quran dalam doa Nurbuwat adalah 309 buah? Yah, begitulah. Saya tidak menganggap enteng kalimat basmalah tersebut, karena sebuah hadist “dari Abu Hurairah r.a. dari nabi saw, bahwasannya beliau bersabda: ‘Setiap amal perbuatan yang dianggap baik, tetapi tidak dibacakan Basmallah ketika dimulainya, maka perbuatan itu pincang (tidak sempurna, terputus dari rahmat Allah)” [HR Abu Dawud, Nasa’I, Ibnu Majah] Saya tidak tahu apakah tulisan berjudul “Hakikat Kesesatan Doa Nurbuat” oleh Ustad Ustadz Ammi Nur Baits itu ditulis dengan kalimat “Basmalah”, sehingga saya juga tidak tahu apakah tulisan tersebut mungkin pula menjadi rahmat?! Satu hal yang pasti, dahulu, waktu saya masih amalkan doa Nurbuwat, selalu diawali dengan membaca Basmallah. Lantas, apakah 309 huruf yang menjadi 3090 KEBAIKAN itu juga tidak ada satupun yang nyantol kepada saya waktu itu? Nah, pertanyaan ini memang hanya Tuhan yang lebih tahu jawabannya dan yang punya kuasa penghisaban seperti itu. Saya tidak ingin melangkahi Tuhan dalam hitung-hitungan tadi secara mutlak, kecuali relatif-reatifan saja. Saya juga tidak ingin melangkahi Tuhan dalam vonis-vonisan tanpa pengadilan yang rahmat [???]. Tetapi sungguh, dengan doa Nurbuwat itu, sungguh, saya dulu berdoa kepada Tuhan, bukan kepada setan atau apapun. Insya Allah, Subhanallah, Laa illahaillallah! (Perlu diakui, saya rasa-rasa orangnya plintat plintut juga dalam hidup. Saya dulu pernah 3 tahun tidak sholat itu—nauzubillah, tetapi waktu yang sama ketika mengerjakan apa saja yang berbahaya, saya selalu membaca “Bismillah”. Misalnya, ketika memasang baliho atau papan reklame dekat dengan tiang listrik, walau saya nggak pernah sholat, karena itu resiko kerja yang berbahaya, saya baca Bismillah. Jadi, saya hanya ingat Tuhan, kalau sedang berbahaya, dan itu saya akui. Tapi, itulah doa, yah doa kalau lagi susah dan bahaya. Biasanya, yah biasanya, Tuhan tidak saya sebut dalam dua keadaan: 1. Kalau lagi SENAAAANG sekali; atau 2. Kalau lagi MARAAAAAH sekali. Dua keadaan yang ekstrim dan berlebih-lebihan memang. Oh ya, ini lagi-lagi sharing saja, saya pernah kenal seorang pencuri motor, yang dia mengakunya tidak ingat Tuhan kalau lagi mencuri motor. Berarti dia tidak baca Bismillah? Oh ya tentu saja. Yah, dimana-mana sepanjang yang saya tahu, pencuri dan perampok, termasuk pengedar ganja, tidak ada yang baca “Bismillah” kalau sedang beraksi. Kini baru benar-benar saya garisbawahi, ada pencuri dan perampok yang baca Bismilah dan itu sulit saya memaafkannya sebelum diadili, yakni: Koruptor pejabat Negara!! Kalau pencuri swasta kecil maupun besar, mereka itu tidak mencuri/ merampok dengan baca Bismillah, jadi agak berbeda. Tetapi, pejabat negara, kalau jadi perampok uang rakyat, itu ‘kan dulunya pernah disumpah pakai kitab Suci dan baca “Bismillah”?! Makanya dan misalnya, Ustad Anton Medan, yang dulu dia seorang perampok besar kelas swasta, kemudian dia pernah dipenjara vonis bersalah, dan tidak baca Bismillah sewaktu merampok, maka saya maafkan dan saya lupakan perampokannya di masa lalu. Tetapi yang sulit saya maafkan adalah mereka yang menjabat sebagai pejabat Negara, eh merampok duit rakyat, dengan baca “Basmilllah” dalam sumpah, dan belum diadili pula. Termasuk orang yang mendiamkan atau membiarkan Koruptor menjadi tidak diadili atau sulit diadili, itu juga kawannya koruptor/ maling, yang juga sulit saya tolerir, sebelum mereka juga ikut diadili. Wahai Ulama, kemana anda sewaktu alm. Suharto harus diadili? Sekarang yang tinggal adalah kroni-kroninya, harus diadili? Jangan-jangan ulamanya, ah, ulamanya Soeharto? [Astaghfirullah al ‘adzim, saya mau sholat ashar dulu….] Saya mudah memaafkan perampok biasa seperti Ustad Anton Medan atau maling-maling biasa yang sudah pernah diadili secara adil versi bumi, tapi tidak bagi yang sebaliknya—perampok negara? Kalau ada rakyat pernah baca doa Nurbuwat, pakai baca Bismillah, kalau ternyata bid’ah, ah itu ‘mah perkara keciiiil, saya beri maaf! Tapi, siapa saya ini kok mau memberi maaf kepada rakyat sempat bid’ah karena doa Nurbuwah? Wahai Gesip Apriyanto, kawan KKN-q dulu di Bantul yang soleh nan baik itu, apakah aku ini masih seorang yang ujub seperti katamu waktu itu? Hmmm…)

    Lantas di forum ini ada yang komen tentang defenisi Bid’ah: ”…apabila suatu amalan yang diperbuat tidak berlandaskan hukum qur’an dan asunnah maka amalan itu dinilai bid’ah/ sesat/ syirik, dan jelas hukumnya HARAM dan tempatnya di NERAKA.” Memang tidak eksplisit disebutkan, apakah pengamal doa Nurbuwah itu bid’ah ataukah tidak, namun aroma vonisnya begitu terasa. Saya akui bahwa hadist yang menganjurkan doa Nurbuwat ini tidak ada yang shohih, artinya lemah dalil fiqh-nya, kalau istilah saya ini tepat. Lantas, apakah doa Nurbuwat ini ibarat suatu produk makanan kripik pisang rakyat Jember, yang dijual di pasar-pasar tradisional, oleh karena belum dapat cap stempel halal dari MUI apa lalu disebut haram? Maaf, pertanyaan terakhir ini malah bikin tambah runyam, setidaknya bagi saya. Sebenarnya begini, soal Bid’ah tadi, Defenisinya memang begitu, tetapi segitu saja belum cukup, kalau belum disebut Jenisnya. Perlu dicatat juga, Bid’ah itu ada 2 jenis, yakni Bid’ah Dhalalah (yang sesat) dan Bid’ah Hasanah (yang baik). Nah ini saya kutip saja dari mantan Ketua MUI Pusat, Prof. KH Ali Yafie dalam “Konsultasi Fikih: Zikir Berjamaah” majalah Hidayah, Edisi 118 Juni 2011.hlm.171-172, yang ketika ditanya soal: Rasul SAW tidak pernah berzikir berjamaah sehabis shalat dan bagaimana orang yang zikir berjamaah sekarang ini, KH Ali Yafie bilang zikir itu termasuk bid’ah hasanah (yang baik). KH Ali Yafie masih menambahkan contoh, bahwa Al Quran yang sekarang dibaca orang zaman kita berbeda dengan Al Quran yang dibaca oleh Rasul dan para sahabat dalam soal tanda bacanya. Artinya kita bid’ah karena Al Qurannya ‘beda’? Yah, bid’ah, tapi itu bid’ah hasanah. Saya dulu pernah baca tulisan Emha Ainun Nadjib di buku entah yang mana, yang dia beri contoh bid’ah hasanah juga. Kata Emha kira-kiranya, jikalau kita berpatok secara mutlak-mutlakan bahwa segala sesuatu yang tidak dilakukan Rasul lalu kita lakukan adalah bid’ah, maka ketika kita naik motor atau naik kereta api itu juga bid’ah, sebab Rasul kemana-mana naik onta atau kuda. Kata Emha naik motor itu adalah bid’ah hasanah, kalau tujuannya baik. Jaman Rasul orang azan tidak pakai mikrofone, maka apakah bid’ah sekarang ketika kita azan pakai mikrofone buatan Jepang ataupun Cina? Ya tentu bid’ah, tetapi itu bid’ah hasanah, kalau tujuan mengundang orang sholat.

    Baiklah, saya baca hadis shahih Bukhari bahwa lukisan/ gambar orang hidup itu dilarang oleh Rasul saw, dengan bunyi: “…’Hai Aisyah, sesungguhnya manusia paling berat siksaannya pada hari kiamat nanti adalah orang-orang yang meniru ciptaan Allah”, itu yang saya baca dari buku Ustad Maftuh Ahnan berjudul “Mutiara Hadist Shohih Bukhori” Surabaya: Karya Ilmu, 1992.hlm.183-184. Lantas, bagaimana dengan lukisan anak kecil sedang mengambil wudhu atau mengerjakan sholat yang dijual di toko-toko? Ya jelas lukisan itu termasuk bid’ah, tapi itu bid’ah hasanah kalau tujuannya untuk mengajarkan sholat kepada anak kecil, sebagai media lukisan edukatif. Ada juga hadist dari ibnu Abbas, bahwa Rasulullah sholat pernah sambil menoleh ke kiri dan ke kanan, meski tidak sampai memutar leher ke belakang [HR Ahmad, saya kutip dari bukunya Imam Jalaluddin as-Suyuthi, Doa dan Amalan Sehari-hari. Hidup Penuh Berkah di Setiap Langkah. Terj. Muhammad Misbah. (Solo: Ziyad Visi Media, 2011).hlm. 49] Mengapa Rasul sholat tolah-toleh? Karena mungkin jamannya penuh dengan keadaan darurat perang. Namun oleh kesepakatan ulama belakangan, bahwa sholat kita kalau menoleh kiri-kanan yang tidak ada perlunya hukumnya menjadi makruh tanzih, karena dapat menghilangkan kekhusyukan shalat. Nah, Rasul sholat pernah tolah-toleh, kok kita dikatakan makruh sholat kalau tolah-toleh oleh ulama, apakah kita bid’ah karena sholatnya berbeda dengan Rasul? Ya ulama menyuruh kita bid’ah, tapi bid’ah yang hasanah. Waw, ulama menyuruh kita bid’ah hasanah?! Masih ada contoh lagi. Rasul saw berdakwah kebanyakan secara “face to face” dengan umat, nah kalau kita saling berdakwah kebanyakan secara “on line”, apakah itu bid’ah? Yah bisa saja disebut bid’ah, tapi itu bid’ah hasanah, jika benar-benar dakwah yang hikmat, bukan menghujat. Jadi, apa yang ingin saya nyatakan lagi? Tidak semua yang bukan disunnahkan Rasul itu bid’ah dhalalah (bid’ah sesat) kalau kita kerjakan; tetapi ada kemungkinan bid’ah hasanah (bid’ah yang baik) juga. Memang sesuatu yang “Baik itu belum tentu benar, tetapi benar pasti baik”. Kalau saya ditanya lagi: apakah doa Nurbuwat itu bid’ah? Boleh saja dibilang bid’ah, tetapi ada dua bid’ah di situ. Pertama, “bid’ah dhalalah”, alias sesat, kalau berdoa Nurbuwat minta bantuan “setan koruptor” agar didatangkan uang dengan cepat, atau minta bantuan “jin mafia hukum” agar diselamatkan dari intaian KPK dan rakyat. Kedua, bid’ah hasanah, bid’ah yang baik, kalau ada rakyat miskin berdoa Nurbuwat minta bantuan Tuhan agar dilancarkan rezekinya, daripada memelihara pesugihan, atau memelihara pemimpin berpartai dan berjiwa korup. (Ah, ‘lebai’?)

    Selain itu, dalam ilmu hukum syariat, kita tidak dipatok sebatas perkara Haram dan Wajib semata, tetapi juga ada 3 hal hukum yang lainnya lagi: Sunah, Mubah, dan Makruh. Menurut hemat saya, doa Nurbuwat itu ya “tidak wajib”, dan “tidak haram”, serta “tidak sunnah”. Namun begitu, masih tinggal dua status hukum lagi bagi doa Nurbuwat, yah kalau tidak Mubah ya mungkin Makruh. Jadi, jika mau juga dipaksa-naikkan statusnya menjadi HARAM, biar adil, saya hanya menunggu seluruh ulama dari seluruh mazhab dan dari berbagai ‘negara ulama’ sepakat mengatakan doa Nurbuwat itu HARAM, maka saya akan ikut katakan juga itu HARAM dan MUSYRIK. Untuk sementara ini bagaimana? Ya statusnya di-mubah-kan saja orang yang berdoa dengan Nurbuwat. Sebenarnya saya ingin agar tidak ada kesan rakyat terus menerus disalah-salahkan. Jaman kolonial Belanda dulu, kira-kira pertengahan tahun 1920-an, mayoritas ulama, terutama dari kota-kota seperti Muhammadiyah, sibuk saja mengkritik rakyat miskin yang terkena penyakit TBC (Takhayul-Bid’ah-Churafat), sementara Haji Muhammad Misbach nyaris sendirian mengkritik Pemerintah Kolonial Belanda yang tidak adil bikin pribumi miskin. Kalau ulama-ulama kota dan ulama Kolonial Belanda beraninya menyalahi rakyat bodoh yang miskin dan selalu dimiskinkan, maka Haji Misbach berani menyerang penguasa Kolonial pintar dan besar yang didukung oleh beberapa ulama munafik (istilah haji Misbach) tadi. Saya meloncat saja ke era pasca Reformasi, masih saja ada rakyat disalahi walau hidupnya sudah dikhianati. Misalnya, ada fatwa HARAM kepada rakyat kalau GOLPUT. Padahal, kalau ulama fatwa itu berpihak pada rakyat, kenapa tidak kritik dan bikin fatwa kepada partai yang korup dan berkhianat itu masuk neraka. Itu kalau berani. Beraninya cari-cari salah rakyat, oh rakyat, oh rakyat. Saya pernah dengar curhat seorang penjual tekwan yang omsetnya kecilnya, walau begitu dia tetap bertahan untuk tidak pergi ke dukun agar dapat pelarisan. Tapi begitulah, nyatanya, banyak rakyat pergi ke dukun-dukun kampung, yang mungkin sama seperti partai politik kalau sedang mau kampanye. Begini saja, cari mencari salah dapat terasa pada, misalnya, rakyat pergi ke dukun lalu amalkan jimat—dikatakan: salah; rakyat beli ke toko emperan buku Mujarobat amalkan doa Nurbuwat—dinyatakan: salah. Nasibmu rakyat, beragama dan bernegara saja kok dipersulit oleh orang yang berwawasan sempit? Atau nasibmu rakyat, bergaul dengan orang yang berniat baik tapi caranya salah dan kasar? (Lihat lagi QS Ali Imran 3: 159 di atas)

    Baiklah, kata sebuah ayat di Surah Hujuraat: “sebagian prasangka itu berdosa”, maka boleh jadi memang ada “sebagian prasangka itu berpahala” juga. Prasangka berpahala misalnya, ketika kritik dengan ilmu social dapat dilakukan sebagai kajian memetaan persoalan masyarakat Islam. Misal kecilnya, saya berprasangka: bahwa ribut-ribut di forum ini, jangan-jangan wujud suatu pola lama dari perseteruan kaum syariat yang kaku dengan kaum hakekat yang sembrono. Mungkin. Atau pertengkaran antara kaum penjual doa Nurbuwah ala pedesaan dengan kaum penjaja doa rukyah ala perkotaan. Doa Nurbuwah vs doa Rukyah? Makanya, sekali prasangka itu mungkin ada sebagian berpahala, jika itu tujuan dan caranya untuk mencari tahu dengan prinsip: “… periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” (QS Al Hujuraat 49: 6) Teliti terhadap suatu hal agar tidak menimbulkan musibah kepada suatu kaum, atau minimal agar tidak menjadi suatu fitnah yang terselubung (cap syirik dan bid’ah kepada pendoa Nurbuwah)—itu suatu sikap berfikir sangat penting sekali. Kita harus belajar pahami keadaan suatu kaum tersebut. Dalam hal ini, kaum pengamal doa Nurbuwat, misalnya orang Jawa pedesaan dan pedalaman, memang terdiri kaum rakyat dengan ilmu agamanya yang pas-pasan sebagaimana ekonominya yang juga pas-pasan. Kurang lebih sama dengan cerita saya di awal-awal ini, mereka seperti ayah yang ngebut naik motor, eh, tahu-tahu dicegat polisi yang sok atau memang normatif tanya soal asal dan kelengkapan kendaraan. Padahal rakyat memang hidup serba pas-pasan, ya bertindak dan berdoapun dengan cara yang pas-pasan pula. Saya kutip sajalah sebuah cerita tentang polosnya Arab Badui (Arab udik) beribadah dan berdoa, dengan ribetnya Khalifah Ali yang (orang kota) itu, yang berjudul “Shalat yang Mana yang Lebih Baik?” sebagai berikut:
    “Seorang Arab Badui memasuki mesjid lalu shalat. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ra. memandanginya dengan penuh perhatian. Seusai orang itu shalat, sambil memegang cambuk, Ali ra. mendekatinya dan menyuruhnya mengulangi shalatnya. Sang Badui lalu memperbagus shalatnya dengan kesempurnaan, khusyu, dan tumakninah. Seusai shalat [itu], Ali Bin Abi Thalib ra. bertanya, ‘Shalat yang mana yang lebih baik, yang pertama ataukah yang kedua?’ Orang Badui itu menjawab dengan polos, ‘Tentu saja yang pertama, sebab aku melakukannya untuk Allah, sedangkan shalat yang kedua karena aku takut kena cambuk Amirul-Mukminin’ ”.

    Begitulah cerita khalifah Ali yang saya kutip dari bukunya A. Aziz Salim Basyarahil [berjudul “Hikmah dalam Humor Kisah dan Pepatah Jilid 1-6”. Jakarta: Gema Insani Pers, 1998.hlm.337] Dengan begitu, cara orang membaca Al Quran sekalipun, seperti dengan Nurbuwat, mungkin saja ada mirip-mirip kelirunya dengan Orang Arab Badui itu dalam bersholat, tetapi jangan diabaikan, bahwa dia “yang udik” melakukan ibadah serasa langsung terhadap Tuhan sejak dari hatinya. Oleh karena itu, saya condong tidak sepakat dengan pernyataan ustad Perdana Akhmad S.Psi di forum ini: “…hati-hati salah amalan malah akan mengundang jin walaupun menggunakan ayat suci Al-Quran sekalipun sebab niat dan tata caranya menyimpang”. Mohon maaf ustad…, hanya condong kok..

    Menganggap doa Nurbuwat itu ‘benar seluruhnya’, atau menilai ‘salah seluruhnya’—bagi hemat saya itu sebuah kekeliruan. Saya tidak anti Sunnah, ataupun anti syariat dalam beribadah, tetapi saya tidak mau main mutlak-mutlakan sebagaimana rawannya “hukum besi” atau inklusifitas pada ilmu fiqh. [Istilah ‘hukum besi’ fiqh itu saya kutip dari Djazuli, “Ilmu Fiqh. Penggalian, Perkembangan, dan Penerapan Hukum Islam, Edisi Revisi”. Cet. Ke-7. Jakarta: Kencana, 2010.hlm.113] Saya berusaha untuk menghindar Argumentum ad Ignoratiam begitu. Argumentum ad Ignoratiam adalah semacam kesesatan berfikir atau berpendapat, ketika terlalu bernafsu “mutlak mengganggap SALAH terhadap sesuatu, hanya karena tidak ada yang membuktikan bahwa sesuatu itu BENAR”; atau “menilai mutlak sesuatu itu BENAR, hanya karena tidak ada yang membuktikan bahwa sesuatu itu SALAH”. Berkali-kali mungkin saya akui, tidak ada hadist shahih yang mengajarkan doa Nurbuwat, namun bukan berarti doa itu salah mutlak, hanya karena tidak ada hadist yang membenarkannya. (Mungkin ada orang akan mencurigai bahwa saya ini tidak suka bermain mutlak-mutlakan [anti logika valensi ala fiqh, A atau B saja], atau mungkin menuduh saya senang berfikir abu-abuan [pro logika multivalensi ala sufi, bisa A bisa B, bisa C bisa D] semata—itu saya terima sebagai pengawasan diri saya sendiri) Mari kita hindari semampu mungkin komentar “argumentum ad Ignoratiam”, suatu argument yang ‘bebal’ (ignore; ‘tak mau tahu’, ‘ngotot’) mengatakan, semisal: “doa nurbuwat itu pasti salah dan sesat, kalau tidak mana bukti hadisnya?”, yang mirip ‘bebal’ dengan, misal: pernyataan OC Kaligis kepada Hermawan Sulistiyo: ”Mana bukti hukumnya Pak Soeharto korupsi dan mana bukti kalau Pak Harto pelanggar HAM?” sehingga Soeharto dinyatakan Kaligis tidak bersalah hanya karena tidak ada bukti di pengadilan bahwa Soeharto bersalah, padahal bukti adanya pernyataan ‘salah’-pun belum tentu ‘salah’. Contoh, Sokrates dituduh bersalah menurut pengadilan Yunani, bukti dia bersalah di pengadilan ada dan diadakan, lalu apa terbukti pula dia bersalah mutlak? Contoh lagi, Soekarno di Pengadilan landraad Bandung tahun 1930, yang ia dinyatakan bersalah karena bikin kerusuhan politik di Hindia Belanda, apakah Soekarno ‘salah’ hanya karena pengadilan berhasil membuktikan dia bersalah? Contoh lagi, apakah Antasari Azhar bersalah membunuh Nazaruddin hanya karena tidak ada bukti bahwa itu tidak benar? Atau contoh lagi, SBY tidak salah, tidak melanggar HAM dan Korupsi, karena tidak ada bukti pengadilan yang menyatakan bersalah? Inilah segudang ‘bebal’ argumentasi “yang berlebih-lebihan”. Bebal itu tidak baik dipelihara dalam hati dan otak kita, sehingga jangan sampai benarlah apa dikatakan oleh Al Quran: “atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, …” (QS Al Furqaan 25: 44)

    Saya tidak anti hukum (fiqh) atau syariat dalam beribadat. Waspada dalam ibadah itu memang perlu. Berdoa memang ada aturan. Aturan itulah yang tampaknya ingin begitu ditonjolkan oleh ustad Perdana Akhmad S.Psi dan Ustadz Ammi Nur Baits di forum ini. Hanya saja perlu dicatat, ilmu fiqh itu ada sifat rawannya juga, yakni buta rasa; dan mungkin itulah yang pernah disinyalkan oleh Imam Al Ghazali “Sesungguhnya masalah hati berada di luar wilayah fiqh. Jika fiqh mencampuri urusan hati, tidak lagi dapat disebut fiqh. …” [Dikutip dari A. Aziz Salim Basyarahil, “Hikmah dalam Humor Kisah dan Pepatah Jilid 1-6”. Jakarta: Gema Insani Pers, 1998.hlm. 223] Makanya, orang gampang tergoda menjadi tanpa perasaan kalau terlalu “letterlek by the law” atau berpatok pada hukum, misal tadi, cap bid’ah jika tak ada dalil hukum berdoa Nurbuwat. Padahal dalil di forum ini juga sering terlihat lemah dan condong mengada-ngada. Misalnya, dalil “Susunan kalimat yang tidak sistematis dan tidak memiliki kaitan” dijadikan alasan SALAH-nya Doa Nurbuwat. Tentu saja, saya pun sempat tergoda dalam hati untuk berkata: “Memangnya berdoa itu kita sedang mau menulis skripsi atau tesis ya, ejaan dan kesinambungan kalimatnya harus jelas dan ada EYD-nya?! Atau sedang menulis lagu, susunan kalimatnya harus indah?” Nah, itu godaan hati saya, cukup subyektif memang. Tetapi baiklah, menurut ustad Labib M Labib MZ dalam bukunya Bimbingan Doa dan Dzikir Mujarob. (Jombang: Lintas Media, tth).hlm. 21, adab berdoa itu antara lain: “Hendaknya susunan kalimat doanya tidak bersajak, cukup dengan susunan kata yang sederhana, tidak perlu dilagukan. Karena itu dianjurkan memakai susunan kalimat doa yang berasal dari Rasululloh saw, terutama doa-doa yang terdapat dalam Al Quran”. Perhatikan, Labib MZ tidak menggunakan kata “diharuskan”, tetapi “dianjurkan” begitu. Demikian pula, Imam Ghazali memberi etika berdoa, yang salah satunya, agar siapa pun tidak memaksakan diri dengan menguntai sajak dalam redaksi berdoanya, karena hal itu identik dengan sikap berlebih-lebihan. [Dikutip dari Imam Nawawi “Al-Adzkar Shahih Doa dan Dzikir. Kitab Induk dan Pedoman Lengkap doa dan Dzikir yang Diajarkan oleh Nabi Muhammad saw” terj. Zenal Mutaqin. Bandung: Jabal, 2011.hlm. 498.] Saya kira begitu saja sudah cukup menjadi dalil seumumnya.

    Dalam doa yang “dianjurkan”, misalnya doa dari Rasululloh pun terkadang juga ada yang secara ‘letterlek’ sepintas tampak berseberangan. Coba perhatikan doa ini: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari sikap bakhil kebodohan, USIA SANGAT TUA dan fitnah dunia (yaitu finah Dajjal) serta azab kubur” [HR Bukhari]. Doa yang terjemahannya saya kutip dari buku Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani, Doa Dzikir dan Wirid Sehari-hari Menurut Al Quran dan As-Sunnah. Terj. Abdullah. (Solo: Insal Kamil, 2006).hlm. 77 ini meminta, agar jangan hidup menjadi ber-USIA SANGAT TUA begitu. Di lain pihak, juga ada doa yang berbunyi begini: “Ya Allah, dengan Ilmu-Mu yang ghaib dan kekuasaan-Mu atas seluruh mahluk, PANJANGKANLAH UMURKU jika memang kehidupan lebih baik bagiku, dan matikanlah aku jika memang kematian lebih baik untukku. …” [HR An-Nasa’i, Ahmad] Doa dari buku Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani, Ibid.hlm. 81 ini juga doa “yang dianjurkan” karena dari Rasulluloh. Sepintas doanya memang ada meminta “Panjangkanlah Umur”, yang sedikit beda dengan “jangan hidup berusia sangat tua”, karena biasanya penyakit banyak—memang betul-betul minta panjang umur. Memang, dibanding doa Nurbuwat, kriteria panjang umur yang diminta di dalam doa ‘dianjurkan’ ini lebih terang. Jika Ustadz Ammi Nur Baits masih mengatakan doa minta panjang umur dalam doa Nurbuwat sesuatu yang kalimatnya “kurang terpuji”, atau serta mendalilkan doa Nurbuwat ini SALAH karenanya; maka itu adalah hak usdad dan hak saya untuk mengatakan secara sebaliknya.
    Orang berdoa itu pada dasarnya baik. Sekali lagi, memang dalam berdoa, lafal-teks doa “sebaiknya” pakai yang pernah diajarkan oleh Rasululloh melalui hadist shahih atau hasan, tetapi itu bukan “seharusnya”. Umat Islam baru diminta “seharusnya”, berusaha tidak seperti Fir’aun yang sudah memiliki segala sesuatu, lalu tidak pernah mau berdoa. Jadi, berdoalah, dan berdoalah, jangan bertengkar, karena apa?
    وَقَالَ رَبُّكُمُ ادٛعُوٛ نِيٛٓ اَسٛتَجِبٛ لَكُمٛۗ اِنَّ الَّذِ يٛنَ يَسٛتَكٛبِرُوٛنَ عَنٛ عِبَادَ تِيٛ سَيَدٛ خُلُوٛنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيٛنَ.
    (المؤمن: ٦٠)
    Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina”. (QS Al Mu’min 40: 60)
    قَا لَ اِنَّمَآ اَشٛكُوٛا بَثِّيٛ وَحُزٛ نِيٛٓ اِلَى اللّٰهِ وَاَعٛلَمُ مِنَ اللّٰهِ مَا لَا تَعٛلَمُوٛنَ.
    (يوسف: ٨٦)
    Ya’qub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya”. (QS Yusuf 12: 86)

    Banyak bicara, biasanya banyak salahnya. Banyak membaca, biasanya banyak lupanya. Kalau tidak ingin salah bicara, ya jangan bicara. Begitu pula kalau tidak ingin lupa, ya tidak usah banyak membaca. Oleh karena saya sudah begitu banyak bicara, maka saya hanya bisa berkata: Mohon maaf kalau ada salah dan lupa. Terimakasih kepada ustad Perdana Akhmad S.Psi dan Ustadz Ammi Nur Baits yang bikin saya berkomentar sepanjang ini sebagai tanggapan seorang mantan pengamal doa Nurbuwat. Perlu tetap dicatat dan juga mohon maaf, bahwa saya berhenti berdoa Nurbuwat bukan karena Ustadz; dan bahwa saya menulis sepanjang ini, memang karena kedua ustad ini. Mungkin saja. Makanya saya ucapkan, terimakasih, termasuk juga kepada seluruh komentator yang lain sebelum saya.

    Wassalam wrb

    Jmb, 25 April 2012

    Wiwin ES

  155. wiwin es

    Oleh karena ulasan berjudul “Komentar Nimbrung Doa Nurbuwat”dari saya telah masuk ke forum Kampus Wong Alus, maka saya sudah lepas rasa; selebihnya, lepas kepada penilaian pengunjung yang lain. Terimakasih banyak. Wassalam wrb lagi, 24 Juni 2012 Wiwin ES

  156. hary

    trimakasih atas ulasanya.

  157. DIdong

    Bukan main penjelasannya…… Semakin mantabbbb saya mengamalkan doa ini
    terima kasih byk kawan…. Sy jg baca ulasan ‘ustad’ yg tanpa basa basi mendakwa orang dgn kata2 “engga pernah ngaji atau ngajinya ga bener” sekasar ini seorang ustad? gmn muridnya ya?

  158. satrio

    Assalamualaikum..
    Para sesepuh KWA sya minta izin mengalalkan dan ijazahnya.. Sudah sya catat trimakasih sbelumnya…

  159. Hasaniy

    qobiltu ki ijazahnya…

  160. eka sakti

    Qobiltu,.ijin copas dan mengamalkan nanti…

  161. Iman sa

    Qobiltu mohon ijasahnya alfatihah

  162. mohon zul menyemak amalan ini

  163. yazhied.zhied

    minta izin ijazahnya untuk sy.

  164. gadis01

    sangat bermanfaat* insya allah

  165. fajar

    mohon izin tuk mengamalkannya ki. InsyaAllah. Jazakumullahu wa ahsanal jaza’

  166. ade suherman

    assalaamu ‘alaikum wr.wb.
    Betul sekali apa yg telah tercantum di dalam khasia do’a nurbuwah itu. Pengalaman sy dulu pernah mengamalkan do’a nurbuwwah ini pada malam jum’at sebanyak 100 x. Subhanallaah… Ternyata apa yg aku harapkan malam itu juga di kabulkan tentunya kita dalam mengamalkan suatu kalimah itu harus dengan keyakinan yg mantap dan berharap kita mendapat ridho-nya. Terus ada kejadian yg di luar dugaan, suatu hari tiba” ada seorang perempuan datang dgn hati penuh kepasrahan, dia mengharapkan agar sy bisa membantu apa yg sedang dialami dlm hidupnya. Ternyata masalahnya itu suami kena santet / guna”.
    Dan yg paling sy tdk mengerti ‘knp didalam mimpi istrinya itu, bhw yg bisa menyembuhkan penyakit suaminya itu adalah saya. Pdhl klu di lihat dr segi kehidupan bhw aku ini hanya seorang yg berpropesi tukang ojeg. Tdk punya pengalaman di bidang praktisi.
    Akhirnya sy juga dgn penuh kepasrahan kpd allah swt menemui suaminya yg lg sakit. Sesampainya d rumah d hadapan s sakit ku dawamkan do’a nurbuwah trs”an. SUBHANALLAAH.. ternyata apa yg di ceritakan istrinya itu benar, bhw suaminya sakitnya itu tdk wajar.
    Krn wkt di depan org yg sakit itu ada satu makluk tinggi besar yg lg mengotak ngatik seluruh organya. Berkat izin-NYA dgn perantara do’a nurbuwah 2hr kemudian org tsb sembuh total. Itulah sekelumit ttg pengalaman sy mengamalkan do’a nurbuwah ini.
    Wassalam,.

  167. salam kenal sedulur , saya pendatang baru di KWA minta tolong siapa aja para guru yang udah bisa mengizasahkan amalan doa nurbuwat ini tolong di kirimkan tata cara dan amalan yang lengkap serta ijin mengamalkannya. karena terus terang selama ini saya masih belum dapat tuntunan tentang zikir doa nurbuwat secara lengkap. jika ada sedulur yang bisa mohon di emailkan ke : zuhada37@gmail.com

    terima kasih. ridho Alloh
    mudah2an bersama kita,, aamiiin.

  168. Heru

    Saya mohon izin mengamalkan Guru, semoga diridhoi Allah SWT, amiin.
    AlFatihah sent

  169. hakiki

    qobiltu dngan ikhlas dan smpurna,,,atas izin allah

  170. radithya 86

    Assalamualaikum..wr..wb.
    Bismillah…mohon di ijazahi
    utk ngamalin Ki…
    Smoga bermanfaat utk dunia
    & akhirat…
    Wassalamualaikum..wr..wb

  171. Zhurel

    Mohon di Ijazahi ? apa langsung di Ijazahi ini bisa dipakai ? Terima kasih

  172. PUTRABANTARANGIN

    ASSALAMU’ALAIKUM WR. WB.
    QOBILTU KI, INSYA ALLAH SUATU SAAT MENGAMALKAN
    WASSALAMU’ALAIKUM WR.WB.

  173. ShonHaji

    Qobiltu Ijazataha ki,
    Ila hadhroti man ajazani ilalmuntah Al-fatihah ……

  174. fahmi

    Ngamalinnya pake puasa ga ya???

  175. Fitri Susah ntik

    Wah…sampai ngantuk saya membacanya…tapi tk apa apa, saya juga akan mempelajarinya

  176. subani

    mohon do’anya juga ki utk kesembuhan anak saya.
    badanya panas tinggi sdh 4 hari ini.
    matur sembah nuwun..!!

  177. MAS RIDHO

    assalamu’alaikum..
    Sugeng ndalu..
    Qobiltu Ki do’a nurun nubuwahhnya..

  178. mohon izin ki saya ingin mengamalkan doa ini semata2 mengharap ridhonya ALLAH.mohon di izasahkan kpd saya ki…trmksh

  179. hafiz

    assalammualaikum, qobiltu.. Semoga bermanfaat dunia akhirat..amin

  180. asep muhammad yamin

    mbah kyai kulo pengin dadi wong taqwa,,sa benerE,,koyok para waliyullah meniko,piyE carane?

  181. Sang-Murid

    qobiltu ki… izin mengamalkannya..

  182. Agus setiadi

    assalamualaikum wr.wb KWA saya mohon ijin ki untuk IJASAHNYA mengamalkan amalan tesebut , semoga keinginan saya bisa dikabulkan sm gusti ALLAH S.W.T . Aamiin
    Terima kasih KWA .
    Wassalamualaikum wr.wb

  183. ahmed

    Qobiltu ki alus untuk do’a nurbuwatnya…mohon ijazahnya untuk saya mengamalkan nya,
    nuwun…

  184. haris gunawan

    assalamualaikum wr.wb saya mohon ijin ki untuk IJASAHNYA mengamalkan amalan tesebut , semoga keinginan saya bisa dikabulkan sm gusti ALLAH S.W.T . Aamiin Terima kasih KWA . Wassalamualaikum wr.wb

  185. nasaktion

    mhn ijin ijasah nya untuk saya amalkan ki…terimakasih.

  186. wahib mubarak

    mohon restunya, untk ikut mengamalkanya

  187. Taufan

    Ass wr. wb. Mohon izin Ki, Insyaallah mau mengamalkannya. Wassalam

  188. assalamualaikum.wr.wb,ki sya mau dlu sya prnh mngamalkan doa nurbwh ttpi sya tdk hafal2,kdang lupa krn pnjang bgt shngga susah untk dhafalkan ,dbuku yg saja puya juga da rjah2ya ki sbuah buku mujarobat pnerbit apolo srbaya,mhon doa rstuya ki untk sya di ijnkan hafal dlm mngamalkanya agr tgas2 dn apa yg mnjd hajat sya trkbul,amien,wsalamualaikum.wr.wb

  189. Willy

    Mohon izin ijazah dan mengamalkan nya ,alfatehah..

  190. guruh

    Qobiltu ki, ijin mengamalkan…
    Al Fateha…. sent

  191. khaerul umam

    Assalamu alaikum,
    Qobiltu. mudah”n bermanfaat untuk saya dan orang lain yg membutuhkan amin. Untuk ki wong alus al-fatihah sent

  192. fauzi

    Qobiltu ki, ijin mengamalkan…
    Al Fateha…. sent

  193. Mohon ijin & do’a untuk mengamalkannya

  194. Bismillaahirrohmaanirrohiim..
    Saya terima ijazah do’a nur nubuwah ini dari ki wong alus dengan sempurna ,
    Alhamdulillaahirobbil’aalamiin..

  195. ahmad fadholi

    Assalaamu’alaikum wr wb,,,Mohon ijin mengamalkan Ki,,mudah”an berkah Dunia ilal akhiroh,,Al faikhah,,,

  196. Nyimak ki,,

  197. Alhamdulillah…
    Qobiltu Ki..Saya terima ijazah Doa NurBuat ini dengan sempurna,
    Saya mohon Izin untuk mengamalkannya Ki..
    Moga Ki Wong Alus, selalu dalam Lindungan Allah dan diberi rahmat Nya.
    Alfatehah teriring untuk Ki.
    Mohon izin Ki, Wassalam

  198. gaung uburubur

    allohu akbar………’**

  199. gus darma

    mohon ijin untuk mengamalkannya ki

  200. mohon ijazanya dan berkanya untuk saya amalkan

  201. Assalamu’alaikum Wr.Wb.
    Saya adalah salah satu yang hobi mengamalkan do’a ini, dari anak sakit, saudara sakit saya baca pembuka doanya dulu : Istigfar 3 X, Kirim alfatehah ke Rosul, sahabat, para malaikat, Guru,dan Orang tua, dilanjutkan baca Qulhu 3 X, Alfalaq 1X, Annas 1X, Sholawat 11 X, Mulai baca doa Nurbuat 7 X bagusnya 100 X.
    Insya Alloh hajat apa saja dapat diijabah oleh Alloh SWT.
    Begini pengalaman saya yang paling berkesan ……
    Suatu hari keluarga lagi butuh uang.
    Salah satu jalan adalah mengaharap arisan di lingkungan RT keluar.
    Saya bilang kalau mamah mau arisan keluar mari kita berdoa dan munajat sama Alloh, insya Alloh arisan keluar.
    Pada waktu malam sebelum pengocokan saya munajat seperti diatas dengan memohon hajat agar arisan istri saya keluar.
    Dan setelah esok pagi setelah saya berangkat ke kantor, istri saya telp. Pah arisan keluar. Hanya satu yang terucap dari mulut saya :” Alhamdulillah, terima kasih ya Alloh”. Begitu jadi kalau kita hendak munajat kepada Alloh mintalah dengan sungguh-sungguh, jangan ragu-ragu, ambil air wudhu, sholat hajat 2 rokaat, baca kunci doa, zikir Nurbuat, pasrah tunggu hasilnya. Demikian sekelumit pengalaman, masih banyak bukti yang lain. Sekian. Wasalamualaikum Wr.Wb. Semoga bermanfaat. Amin !!!

  202. Selamat menggamalkan

  203. Badawi

    alhamdulil,lah””
    allah maha kaya akan ilmunya””setetes ilmu allah bila di tumpahkan ke bumi ke langit tidak akan cukup membendungnya”” maha suci allah””

  204. djodi herijanto

    Ass..Wr..Wb,
    Ki Wong Alus..saya terima ijazahan doa Nur Buwat ini, untuk
    saya amalkan.
    semoga amal baik Aki mendapat balasan dari Allah swt, amin…

  205. aman

    assalamualikum ki,,
    Qobiltu,, ijin mengamalkan..
    wassalam

  206. aslkm..ki..perlu di puasa in nggak? untuk izazah mengamal kannya..klo perlu puasa berapa hari puasanya..mksh ki..jazakumullah.

  207. Assalamu’alikum,wr wb, ki minta izinnya untuk mengamalkan doa ini

  208. Alhamdulillah qobiltu dgn
    sempurna wirid doa nurbuwah
    dr ki wong alus, smg barokah
    dunia akherat amin…trimksh
    send Al Fatehah.

  209. mantap…

  210. ragatoya

    Assalamu’alikum,wr wb, ki mohon izin ya untuk mengamalkan doa ini, trm ksh.

  211. anas

    qobiltu nyuwun ijazah doanipun.. alfatihah untuk KI WONG ALUS

  212. SANGKELAT 13

    Kpd. sdr,wiwin es . komentar anda mirip dengan paham wahabi. khalifah tanah arab yg kaya raya sangat berbeda dng kehidupan Rasullullah dan para Sahabatnya. sedikit sejarah di zaman Khalifah Umar yg sedang di landa musim kemarau . Para sahabat berdoa dan sholat minta hujan. tapi kemarau tetap berlangsung. suatu ketika ada seseorang jamaah yg berpakaian lusuh dan buruk dan berdoa di dekat mereka dan hujan pun langsung turun. setelah merasa cukup beliau pun berdoa minta hujan di hentikan dan hujan langsung berhenti . ( dari kitab ihya Ullumudin imam Al ghazali ). doa itu adalah hati dng keyakinan yg paling dalam kepada Allah . jng menghujah sebelum menguasai beberapa cabang ilmu dari ISLAM Dari ABU Hurairarah : bila aku memberitahukan kepada mereka ( orang awam ) apa yg ku ketahui ( perkara hal ghaib) maka mereka akan membunuhku .

  213. Suryati sulaiman

    Aslmkm w.w dgn mebaca alfateah memohon izin dan restu kepada pak kyai utk mengamalkn mudah-mudahan pak selalu dilindung Allah swt amin…3 x

  214. ahmad ridho

    Qobiltu, mohon ijin mengamalkan ki wong alus, semoga Alloh sll meridhoi setiap niat baik aki,
    Al fatihah

  215. Assalamualikum…,
    Mohon izin mengamalkan dan ijazahnya ki…

  216. السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ. Pak kyai
    Perkenalkan saya иυяυℓ нι∂αуαт
    Saat saya SMA saya sudah mengamalkan doa ini
    Secara tidak langsung banyak faedah yang saya dapat
    Sebelum’y matur suwun pak kyai
    Saya mohon di ijazahkan doa ini kedapa saya agar saya bisa lebih kyusuk dalam mengamalkan nya pak kyai
    Jujur bnyak hajat dan nazar yang belum saya penuhi pak kyai
    Dengan ini saya memohon agar pak kyai dengan iklas mengijazahkan doa ini kepada saya
    Nurul hidayat bin Makmun bin Ahmad
    Semoga pak kyai berkenan
    Terimakasih pak kyai atas waktu nya
    Jazakumulloh khoirot katsir
    وَعَلَيْكُمُ السَّلاَم وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ. Pak kyai

  217. ijin tuk ngamalkannya dan ijazahnya ya ki.

  218. Aslamualaikum .. Mohon ijazahe mbah .. Matur suwun

  219. Hendra aza

    Assalamualaikum,
    mohon Izin dan keikhlasannya untuk mengamalkan
    syukron.

  220. Abdul Haris

    qobiltu ki

  221. Luin Diyah

    Assalamu’alaikummazz saya mau cerita dikit nie mazz..
    Beberapa minggu ini kan saya wiritan pakai wirit nurbuat ini,,tpy anehnya kalo habiz wiritan saya kog ngrasa mual y maz..lhaa truz kn sekarang ini ibu saya kan lagi sakit parah sampek gak bs jln tu maz tapi anehnya tiap ibu saya denger saya wiritan ibu saya kog juga ikutan mual y maz???nahh,,,truz beberapa hari ini kan saya nyoba ibu’ saya,saya suruh mndi sama air yg saya do’ain sama wirit nurbuat itu,,tpy lebih anehnya kmren itu pas mndi ibu saya ngrasa menggigil kyk mndi air es n ibu sya ngrasa ada sesuatu yg jln kekepala n ibu saya yg ngrasa kepalanya itu berat n pusing bgt truz hbis itu ibu’ saya ngrasa ada sesuatu yg kluat dri ubun” kepalanya mazz..
    nah saya mau nanyanya..kira” knp y kog saya=ibu saaya bs mual kloo hbiz wiritan truz knp hbiz mndi kmrin ibu’ saya kog ngrasa gitu???
    Tolong d jwb y mazz…sukkroonn 

  222. acef

    mohon ijin untuk mengamalkanya,moga barokah untuk kita semua,amin

  223. MENCARI KETENANGAN

    assalamu’alaikum org bodoh dan telumur noda qobiltu minta ijazahya

  224. hadifunk

    qobiltu mohon ijin mengamalkannya…

  225. Assalamu’alaikum ki,.
    saya memhonon izin untuk mengamalkan do’a nurbuat ini ki,..
    qobiltu,.saya terima dengan sempurna ijazahnya,..
    semoga berkah,.
    Amin,..

  226. Dina

    Assalammu’alaikum wr.wb…
    Ki Wongalus mohon ijin & ijasahnya untuk
    mengamalkannya do’a nurbuat,
    mugi berkah manfaat dunia
    akherat…
    terima kasih

  227. manghokilzd

    mohon ijin tuk mengamalkan doa nurbuat namaku suparman,bru tau hari ini kalimah doa nurbuat,salam hormat

  228. MOHON IJAZAH NYA KI SAYA PEBGEN NGAMALIN

  229. salam…. qobiltu, saya terima dengan sempurna doa nurubuwah untuk bekal dakwah, insyaAllah manfaat dunia akherat…Amiin

  230. Slamet Wilujeng

    assalamualaikum ki, mohon izin mengamalkan doa nurbuwat.

  231. sunni

    sy mohon ijin utk mengcopy dan mengamalkannya

  232. andriansyah

    assalamu alaikum, izin copy dan mengamalkannya ki

  233. Assalamu alaikum…….
    Mohon ijin ki untuk sy amalkan
    Wassalam

  234. Menurut hadis nabi doa nurbuat bila diamalkan bs bertemu dg nabi dalam mimpi.?? Banarkah hadis itu shahih atau hadis palsu..? Perlu dicari sumber kebenarannya.. Mohon hati2 saudara2ku agar jg sampe kita mengamalkan sesuatu yg blom jelas tuntunannya..

  235. Assalammu alaikum …..abah ustad
    Mohon ijin untuk mengamalkanya ya
    wassalam

  236. tania

    assalamualaikum wr wb…… mohon izin krna telah membaca blog ini , trima ksih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

%d bloggers like this: