TASAWUF


Juru Angon

Aqidah Islam merupakan aqidah yang sangat jelas membedakan antara dua hal, yaitu dlahir dan batin. Maksudnya adalah antara syari’at (yang merupakan pintu yang harus dimasuki oleh semua orang) dan hakikat (yang hanya bisa dicapai oleh mereka yang terpilih). Pemisahan kedua hal ini bukanlah pemisahan yang dipaksakan, tetapi lebih merupakan sesuatu yang sudah semestinya, karena kesiapan manusia itu berbeda-beda dan sebagian mereka ada yang lebih siap untuk mengetahui hakikat.

Kami sering menemui banyak orang yang mengumpamakan syari’at dan hakikat dengan kulit dan isinya atau dengan lingkaran dan titik pusatnya. Syari’at mencakup aspek i’tiqadi (keyakinan), hukum dan aspek sosial-kemasyarakatan, yang kesemuanya tidak bisa dipisahkan dari Islam itu sendiri. Syari’at adalah pintu pertama yang harus dimasuki oleh orang yang mau menempuh jalan tasawuf. Sedangkan hakikat pada dasarnya adalah pengetahuan atau ma’rifat semata. Namun demikian, anda harus mengetahui bahwa ma’rifat inilah yang membuat syari’at memiliki maknanya yang lebih mendalam. Hakikat memberi nilai tambah bagi eksistensi syari’at. Sebenarnya, hakikat – meskipun tidak disadari oleh kebanyakan orang mu’min – adalah “titik pusat”, jika kita umpamakan dengan titik tengah lingkaran.

Syari’at memerintahkan untuk melaksanakan ibadah, sedangkan hakikat mengajarkan tentang penyaksian rubbubiyyah. Syari’at tanpa didukung oleh hakikat tidak akan diterima, begitu juga hakikat tanpa syari’at tidak akan berhasil dicapai. Syari’at diturunkan untuk mengatur makhluk, sedangkan hakikat memberitahu tentang “perbuatan” Allah Swt. Dengan syari’at, engkau menyembah-Nya dan dengan hakikat, engkau menyaksikan-Nya. Syari’at adalah melaksanakan apa yang Allah Swt perintahkan, sedangkan hakikat menyaksikan apa yang oleh Allah Swt telah ditentukan, disembunyikan dan dinampakkan. Saya pernah mendengar Syiekh Abu ‘Ali al-Daqaq berkata: “Bahwa perkataan iyyaka na’budu adalah manifestasi dari syari’at, sedangkan perkataan iyyaka nasta’in sebagai perwujudan dari hakikat. Ketahuilah bahwa syari’at juga merupakan hakikat, karena syari’at wajib ditaati oleh hakikat. Hakikat juga merupakan syari’at, karena semua ma’rifat tentang-Nya diwajibkan dalam syari’at. Lihat al-Risalah al-Qusyairiyah.

Namun demikian, “batin” tidak hanya hakikat semata tetapi juga mencakup jalan yang bisa membawa kepada hakikat tersebut, yakni tarekat yang bisa mengantarkan seseorang dari syari’at menuju hakikat. Jika kita kembali pada gambar simbolis yang berupa lingkaran dan titik pusatnya, maka tarekat bisa diumpamakan dengan garis yang menghubungkan tepi lingkaran dan titik pusatnya. Semua titik yang ada pada tepi lingkaran adalah awal permulaan garis. Garis-garis ini, yang tidak terbatas jumlahnya, semuanya berakhir pada satu titik pusat yang sama. Itulah tarekat, yang bisa berbeda-beda sesuai dengan perbedaan manusia, sehingga ada yang mengatakan bahwa “Jalan-jalan menuju Allah Swt itu sebanyak nafas anak Adam”.

Meskipun jalan-jalan itu berbeda satu sama lain, tetapi tujuannya adalah sama, yakni satu titik yang sama, hakikat yang sama. Perbedaan-perbedaan yang ada pada titik permulaannya, satu persatu mulai hilang. Pada saat seorang salik sampai pada tingkatan-tingkatan yang lebih tinggi, maka hilanglah sifat-sifat kehambaannya (eksistensi dirinya) – yang pada dasarnya bagaikan penjara bgi ruhaninya. Dia mengalami fana’ atau kehilangan eksistensi dirinya. Yang ada sekarang adalah sifat-sifat rabbani dalam dirinya.

Tarekat dan hakikat adalah dua hal yang menandai tasawuf. Tidak ada madzhab tertentu dalam tasawuf, karena hakikat itu bersifat mutlak. Begitu juga tidak ada aliran tertentu dalam tarekat, karena semua jalan itu menuju pada satu hakikat mutlak, yakni tauhid yang satu. Perlu dicatat, bahwa seorang sufi tidak mungkin mengaku bahwa dirinya seorang sufi, kecuali dia seorang yang bodoh. Dengan mengaku sebagai seorang sufi justeru semakin jelas bahwa dirinya pada hakikatnya adalah bukan seorang sufi. Ini adalah suatu rahasia antara seorang sufi yang sebenarnya dengan Tuhannya. Seseorang hanya diperbolehkan untuk mengaku sebagai seorang mutashawwif, yang merupakan sebutan umum bagi seorang salik pada tingkatan apapun. Sebutan sufi dalam pengertian yang hakiki tidak bisa dilekatkan pada seseorang kecuali ia telah sampai pada tingkatan yang tertinggi.

Mengenai asal usul kata (الصوفي) telah terjadi berbagai perbedaan pendapat. Masing-masing mengemukakan argumentasinya, tetapi tidak ada yang lebih baik antara yang satu dengan yang lainnya. Semuanya tidak bisa diterima. Sesungguhnya, kata (الصوفى) sebenarnya hanyalah sebutan simbolis saja. Jika kita ingin mengurai maknanya, maka sebaiknya kita berpegang pada “nilai bilangan” dari huruf-huruf penyusun kata tersebut. Yang jelas, bahwa nilai bilangan dari huruf-huruf pembentuk kata (الصوفى) sebanding dengan nilai bilangan dari huruf-huruf pembentuk kata (الحكيم الالهى). Oleh karena itu, seorang sufi sejati adalah seseorang yang telah sampai pada al-hikmah al-Ilahiyah (pengetahuan tertinggi tentang Tuhan). Dia lah yang al-‘arif billah (yang benar-benar mengetahui atau ma’rifat kepada Allah Swt), karena Allah Swt tidak bisa diketahui kecuali dengan al-hikmah al-Ilahiyah tersebut. Itulah pengetahuan tingkat tertinggi, ma’rifat hakiki atau pengetahuan sejati.

Dari uraian di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa tasawuf bukanlah sesuatu yang “ditempelkan” pada agama Islam. Tasawuf bukanlah sesuatu yang berasal dari luar Islam. Sebaliknya, tasawuf adalah bagian paling substantif dari agama Islam. Islam tanpa tasawuf akan menjadi kurang maknanya, yakni kurang dalam hal ketinggiannya, karena tasawuf berbicara tentang “titik pusat”. Oleh karena itu, adalah keliru, jika ada yang mengatakan bahwa tasawuf berasal dari tradisi di luar Islam, seperti Yunani, India maupun Persia. Pendapat-pendapat tersebut bertentangan dengan istilah tasawuf itu sendiri yang memiliki keterkaitan erat dengan bahasa Arab. Jika ada persamaan antara tasawuf dengan sesuatu yang menyerupainya dalam budaya atau tradisi lain, maka itu adalah hal yang wajar, dan tidak perlu dianggap bahwa tasawuf “meminjam” unsur non Islam. Hal ini karena, selama hakikat itu bersifat tunggal, maka substansi semua aqidah adalah satu juga, meskipun berbeda bentuk luarnya.

Kita tidak perlu memberikan perhatian yang lebih untuk mendiskusikan asal-usul kata tasawuf, yang ternyata terus berlanjut di kalangan sejarawan tasawuf, khususnya tentang kapan kepastiannya kata tasawuf itu mulai ada. Kadangkala sesuatu itu telah ada sebelum ia memiliki nama atau sebutan yang khusus untuknya. Adakalanya sesuatu itu telah ada dengan nama yang lain dan adakalanya juga sesuatu itu tidak perlu untuk dinamai. Oleh karena itu, penjelasan yang benar persoalan tersebut adalah sebagai berikut;

Sesungguhnya sunnah telah memberikan petunjuk yang sangat jelas bahwa syari’at dan hakikat bersumber langsung pada ajaran Rasulullah Saw, dan pada kenyataannya, semua tarekat yang benar berpegang teguh pada silsilah (mata rantai) yang terus bersambung sampai kepada Rasulullah Saw. Sesungguhnya tasawuf berasal dari Arab-Islam, sebagaimana dengan al-Qur’an – yang menjadi sumber langsung ajaran tasawuf – juga Arab-Islam. Jika tasawuf melandaskan ajaran-ajarannya pada al-Qur’an, maka bisa dipastikan bahwa tasawuf belum diketemukan sebelum al-Qur’an difahami, ditafsiri dan direnungkan. Dari al-Qur’an lah memancar sumber kebenaran atau hakikat yang pada kenyataannya adalah makna terdalam dri al-Qur’an itu sendiri. Pertama kali, al-Qur’an ditafsirkan dari tinjauan bahasa dan logika. Sedangkan tafsir al-Qur’an yang bersifat sufistik, yang merenungkan makna al-Qur’an secara mendalam dan komprehensip, membutukan waktu yang lama. Jika al-Qur’an adalah sumber syari’at dan hakikat, maka antara syari’at dan hakikat tidak ada pertentangan apapun. Bagaimana mungkin keduanya bisa bertentangan, sedangkan sumbernya adalah satu? Bagaimana terjadi pertentangan, sedangkan hakikat harus berdiri di atas syari’at?

TASAWUF DAN GUGURNYA KEWAJIBAN SYARI’AT

Oleh: Syeikh Abdul Halim Mahmud (Mantan Rektor al-Azhar Mesir)
Alih bahasa: Juru Angon

Kita sering menemukan adanya provokator dalam setiap bidang kehidupan, baik dalam bidang keagamaan, politik, keilmuan bahkan dalam bidang tasawuf itu sendiri. Tujuan para provokator tersebut sangat jelas, yakni memperoleh keuntungan materiil dengan jalan pintas. Agar agama, ilmu pengetahuan maupun tasawuf tidak menjadi suatu yang disalahfahami, maka kita perlu menjelaskan bagaimana para provokator menyembunyikan wajahnya.

Agama dan ilmu pengetahuan memiliki kebenaran dan karakteristiknya sendiri yang sangat jelas, sehingga bisa menjadi “alat ukur” untuk mengungkap berbagai kebohongan dan kebatilan yang telah dilontarkan oleh para pendusta. Begitu juga dengan tasawuf.
Kami kemukakan hal di atas, karena berkaitan dengan apa yang pernah kami dengar berkaitan dengan adanya bid’ah dlalalah (bid’ah yang sesat) yang telah meresap dalam sebagian hati orang-orang yang belum mendalami agama secara khusus dan tasawuf secara umum.

Bid’ah ini memandang bahwa seseorang yang telah sampai pada tingkatan ma’rifat tertentu, ia dibebaskan dari kewajiban syari’at, sehingga ia boleh meninggalkan shalat, zakat, haji dan lain-lain yang telah menjadi kewajiban seorang muslim.
Ironisnya, pandangan tersebut pertama kali dimunculkan oleh mereka yang menggeluti bidang hukum dan syari’at. Mereka mengaku bahwa dirinya telah sampai pada tingkat ma’rifat tasawuf yang tertinggi dan sampai pada satu kondisi yang menurut anggapan mereka sudah tidak diwajibkan lagi menjalankan kewajiban-kewajiban syari’at.

Ketika saya melacak sumber “ma’rifat” mereka, maka anda pasti akan sangat heran, karena sumber pengetahuan mereka tidak lain adalah ruh-ruh yang sengaja mereka hadirkan – yang menurut mereka – melalui perantaraan tubuh seseorang. Ruh-ruh tersebut memberikan informasi kepada mereka mengenai berbagai persoalan ghaib dan lain-lain.

Perbuatan bid’ah yang berupa “menghadirkan ruh” telah bgitu tersebar dan populer di kalangan mereka. Kegiatan tersebut telah menjadi “agama” mereka. Dalam pandangan mereka, informasi yang diberikan ruh tersebut mengalahkan kedudukan al-Qur’an dan Sunnah.

Lebih ironis lagi, mereka justeru mengaku sebagai pengamal ajaran tasawuf. Mereka menganggap diri mereka sebagai tokoh sufi, orang ‘arif dan orang yang memperoleh ilham. Bahkan ada yang sudah keterlaluan karena mengaku sebagai seorang wali. Ada juga yang mengaku sebagai seorang rasul. Bahkan ada yang berani mengaku bahwa dirinya adalah Isa (‘alaihi salam), kemudian ada juga yang mengaku sebagai Nabi Muhammad Saw.

Yang lebih keterlaluan lagi, ada yang bahwa “kemanusiaan” yang ada dalam dirinya telah lenyap dalam sekejap, kemudian mengaku kepada para pengikutnya bahwa “Tuhan telah menyatu dengan dirinya”. Semua pengakuan orang tersebut selalu diperkuat dan didukung oleh ruh yang dihadirkannya. Ruh tersebut selalu membenarkan apa yang dikatakan orang tersebut. Maha benar Allah Swt, karena Dia memberikan perumpamaan tentang orang yang berhubungan dengan jin dan berpaling dari jalan kebenaran.
“Dan ada beberapa orang laki-laki di antara manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan” Qs. Al-Jin; 6).

Mungkin anda akan bertanya: “Apakah ada hubungan antara menghadirkan ruh dengan tasawuf?” Jawaban ahli tasawuf tentang hal itu sangat jelas, bahwa antara menghadirkan ruh dengan tasawuf sama sekali tidak memiliki keterkaitan, justeru sebaliknya, keduanya saling bertentangan. Para ahli tasawuf menganggap bahwa menghadirkan ruh termasuk perbuatan pembodohan, karena hal itu sama saja dengan bekerja sama dengan jin dan syaitan. Allah Swt berfirman tentang hal itu.

“Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa syaitan-syaitan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada syaitan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta” (Qs. Al-Syu’ara; 221-223).

Allah Swt juga berfirman: “Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur’an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk” (Qs. Al-Zuhruf; 36-37).

Tujuan tulisan kami di sini hanyalah untuk menjelaskan pandangan tasawuf tentang “gugurnya kewajiban-kewajiban syari’at”. Persoalan ini sering dianggap bukan sebagai sesuatu yang bid’ah (mengada-ada) oleh mereka yang mengaku sebagai orang sufi di era modern ini. Sesungguhnya, persoalan tersebut merupakan kesesatan yang telah ada sejak lama dan telah muncul di tengah-tengah masyarakat, kemudian dianggap sebagai salah satu dasar ajaran tasawuf. Suatu anggapan yang sangat keliru dan ditentang oleh tokoh-tokoh sufi yang sejati kapanpun dan di manapun mereka berada.

Yang pasti, jika ada beberapa problem atau permasalahan, maka yang menjadi rujukan dalam penyelesaiannya adalah mereka yang benar-benar menguasai bidang permasalahan tersebut. Oleh karena itu, ketika kami merujuk pada tokoh-tokoh tasawuf yang tidak lagi diragukan kredibilitasnya, baik mereka yang hidup di masa lalu maupun di era modern sekarang ini, semuanya sangat mengingkari dan menentang pendapat di atas. Mereka menganggap bahwa gagasan tentang “gugurnya kewajiban syari’at” merupakan gagasan atau pendapat yang menyesatkan, penuh kebohongan dan tidak sejalan dengan ajaran agama secara umum.Kami akan membicarakan tentang pendapat sebagian ahli tasawuf klasik mengenai persoalan tersebut.

Abu Yazid al-Busthami pernah berkata kepada salah seorang temannya: “Marilah kita sama-sama melihat seorang lelaki yang mengaku dirinya sebagai seorang wali” – dan dia memang dikenal ke-zuhud-annya. Kemudian, ketika laki-laki tadi keluar dari rumahnya dan memasuki masjid, dia membuang ludahnya ke arah kiblat. Melihat kejadian tersebut, Abu Yazid langsung bergegas meninggalkannya dan tidak memberi salam kepadanya, lalu beliau berkata: “Laki-laki tadi tidak bisa mengamalkan akhlaq Rasulullah Saw, bagaimana mungkin pengakuannya (sebagai seorang wali) bisa dipercaya?”

Abu Yazid al-Busthami juga pernah berkata: “Kalian jangan tertipu, jika kalian melihat seseorang yang memiliki karamah -meski dia bisa terbang di udara-, sampai kalian melihat bagaimana orang tersebut melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan Allah Swt, menjaga dirinya dari hudud (hukum pidana Allah Swt) dan bagaimana dia melaksanakan syari’at Allah Swt.”

Sahl al-Tusturi mengatakan tentang pinsip-prinsip dasar tasawuf: “Dasar-dasar tasawuf itu adalah tujuh, yaitu berpegang teguh pada al-Qur’an; meneladani Sunnah Nabi Muhammad Saw; memakan makanan yang halal; menahan diri dari menyakiti (orang lain); menjauhi maksiyat; senantiasa bertaubat; dan memenuhi segala yang telah menjadi kewajibannya”.

Al-Junaid, seorang tokoh dan Imam para sufi, berkata – sebagaimana dikutip oleh al-Qusyairi: “Barang siapa yang tidak menghafal al-Qur’an dan tidak menulis hadits, maka janganlah ia mengikuti jalan tasawuf ini, karena ilmu kami ini berasal dari dalil-dalil al-Qur’an dan sunnah.” Beliau menambahkan: “Ilmu kami ini selalu diperkuat dengan hadits Rasulullah Saw”. Beliau juga berkata: “Pada dasarnya jalan tasawuf itu tertutup bagi semua orang, kecuali bagi mereka yang memilih jalan yang ditempuh Rasulullah Saw, mengikuti sunnahnya dan terus tetap berada di jalannya.”

Pernah ada seorang laki-laki yang menuturkan tentang ma’rifat di hadapan al-Junaid dengan berkata: “Ahli ma’rifat kepada Allah Swt akan sampai pada satu kondisi dimana ia bisa meninggalkan perbuatan baik apapun dan ber-taqarrub¬ kepada Allah Swt”. Mendengar perkataan orang tersebut, al-Junaid berkata: “Itulah pendapat sekelompok orang yang menyatakan tentang ‘gugurnya amal perbuatan’, dan hal ini, menurutku, merupakan suatu kesalahan atau dosa yang sangat besar. Bahkan orang yang mencuri dan bezina masih lebih baik keadaannya daripada orang yang mengatakan pendapat tersebut”.

Jika kita menengok pada Imam al-Ghazali, maka kita akan melihat bahwa beliau menyatakan pendapatnya dengan tegas, jelas dan kuat argumentasinya. “Ketahuilah, bahwa orang yang menempuh perjalanan menuju Allah Swt itu sangat sedikit jumlahnya, namun mereka yang mengaku-aku sangat banyak jumlahnya. Kami ingin anda mengetahui seorang salik yang sebenarnya, antara lain; semua amal perbuatannya yang bersifat ikhtiyari selalu selaras dengan aturan-aturan syari’at, baik keinginannya, aktualisasinya maupun performansinya. Karena tidak mungkin bisa menmpuh jalan tasawuf, kecuali setelah ia benar-benar menjalankan syari’at. Tidak ada orang yang akan sampai (pada tujuan tasawuf), kecuali mereka yang selalu mengamalkan amalan-amalan sunah. Oleh karena itu, bagaimana mungkin seseorang yang meremehkan kewajiban-kewajiban syari’at bisa sampai (pada tujuan tasawuf tersebut)?”

Jika anda bertanya: “Apakah kedudukan salik akan sampai pada suatu tingkatan di mana ia boleh meninggalkan sebagian yang menjadi kewajiban syari’atnya dan atau melakukan sebagian perbuatan yang dilarang oleh syari’at, sebagaimana pendapat sebagian syeikh yang menggampangkan persoalan tersebut?”

Jawabanku: “Ketahuilah, bahwa pendapat tersebut merupakan bentuk tipuan dan kebohongan yang nyata, karena orang-orang sufi sejati mengatakan: ‘Jika engkau melihat seseorang yang dapat terbang di atas udara dan berjalan di atas air tetapi dia melakukan satu hal yang bertentangan dengan syari’at, maka ketahuilah bahwa dia adalah syaitan’.”

Selanjutnya, kita sampai pada pendapat Abi Hasan al-Syadzali yang mengatakan: “Jika kasyf-mu bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah, maka berpeganglah kepada al-Qur’an dan Sunnah dan abaikanlah kasyf-mu itu, lalu katakan pada dirimu sendiri; sesungguhnya Allah Swt telah memberikan jaminan tentang kebenaran al-Qur’an dan Sunnah kepadaku, tetapi Allah Swt tidak memberikan jaminan kepadaku tentang kebenaran kasyf, ilham dan musyahadah kecuali setelah dikonfirmasikan dengan al-Qur’an dan Sunnah”.

Orang-orang sufi mengikuti semua petunjuk yang berupa nash al-Qur’an dan Sunnah, baik Sunnah qauliyah (perkataan Nabi) maupun Sunnah ‘amaliyah (perbuatan Nabi). Mereka pasti sangat menyadari akan kebenaran sejarah bahwa Rasulullah Saw adalah contoh ideal dalam segala hal hingga akhir hayatnya.

Itulah beberapa pendapat dari kalangan sufi klasik. Sebagai penutup, kami kutipkan sebuah hadits Nabi Muhammad Saw. Beliau pernah ditanya tentang sekelompok orang yang meninggalkan amal perbuatan atau kewajiban agama, tetapi mereka ber-husnu al-dzan (berprasangka baik) kepada Allah Swt. Rasulullah Saw menjawab: “Mereka itu bohong, kalau mereka itu berprasangka baik, tentu baik pula amal perbuatan mereka”. @@@

About these ads
Categories: ARTIKEL KI JURU ANGON | 139 Komentar

Navigasi pos

139 thoughts on “TASAWUF

  1. Andri al zaburae

    pertamaxxxx

  2. Andri al zaburae

    pertamaxxxx
    selamat malam

  3. Andri al zaburae

    pertamaaaaaaaaaaaaaxxxxxxxxxxxxxxxxx

  4. Ali wafa

    Horeee

  5. Andri al zaburae

    dpaet apa yah ,cendol kah ?????????

  6. Mbahlan_amien/Tmk

    solar…

  7. mas bagus

    mantappp

  8. Ali wafa

    Wah gak th menang

  9. nawiazky

    Absen malam
    Mantap2 nih materi kuliahnya malam ini
    WassAlam

  10. Andri al zaburae

    Ali wafa@ salam persdluran,yg laen pd kemana nih…….

  11. aslm. sedulur smua,,,,,,,

    @ki alus,,,,,,, trimakasih telah tidak mengabaikan sms pesan dari saya,,,,,,!!!!

  12. bintang buana

    hadir

  13. irwan

    assalamualaikum
    absen lan nderek nyimak….

  14. ari.hermana

    10 Besar…

  15. Pea paser

    Maaaalam semua

  16. angon

    @sedulur semua, untuk menghindari salah baca thd huruf kotak-kotak, maka kata itu aslinya ditulis dlm huruf arab yang bunyinya “ash-shufi”…
    Monggo didiskusikan dan dilanjut…
    Nuwun

  17. KiTAKARABAS

    assalamualaikum…

  18. @kimas angon: huruf tersebut biasanya bisa jadi kotak-kotak kalau pakai browser hp. Kalau pakai browser opera di pc atau lapton normal kok ki. Jadi? kembali ke lap top…. Nuwun…
    @mas satria bergitar: sms yang mana yah? saya nggak hapal sms-sms sedulur kwa yang setiap hari nongol yang jumlahnya kadang nggak terhitung… maaf yah mas… bukannya nggak perhatian tapi kapasitas no hp sy terbatas. maklum hp jadul…
    @all sedulur: salam sih katresnan. monggo disimak secara seuoriuss taushiyah ki angon yang lagi medar sabda…

  19. assalmlkm wr wb.izin nyimak sedulur semua

  20. m khozin A

    ‘@andri
    semangat sekali dpt petramax…?
    bagi2 dong..!

  21. @ki alus,,,,,,,,, saran saya adalah memberantas blog2 nakal yg copas dan memperjual belikan keilmuan. mau lihat salah satu contohnya ki,,,,,,,,,,,?????

  22. saya dead man.

  23. OJIBUAKU

    absen nyimak…

  24. angon

    @wongalus… iya soalnya sy pake operamini, sehingga hurufnya kotak-kotak. Kayaknya stok artikel yg dulu sdh habis ya ki…? matur nuwun atas semuanya, sekali lagi kapasitas saya bukan wedar sabda, nanging cuma sekedar “talang aturipun” (penyambung lidah) para ahli di bidangnya…

  25. Pak kyai deadman yang guantenggg se kwa… oalahhh sms itu tho.. nuwun masukannya. Ndak usah diberantas mas…. kasihan…. cukup diberi sedikit pengertian saja sebab mereka juga sedulur sedulur kita yang butuh rezeki. Namun dengan tidak memperjual belikan amalan di kwa ini semoga mereka mendapat ganti mendapatkan rezeki yang berlimpah ruah.. Mending jualan mie ayam, atau batagor atau kopi kapalapi saja lebih barokah daripada jualan amalan. Buktinya Ki Kapalapi sekarang usahanya maju pesat… (mana yah beliau??) oke deh, salam sayang untuk pak yai dan kwa jakarta.

  26. @ki angon: stoknya sudah habis ki. kapan pak doktor kirim bahan kuliah lagi ke kwa???? nuwunnn…

  27. ari.hermana

    @ Ki wongalus : salam salim, ki

  28. @ki alus,,,,,,, hahahahaha ki kapal api sedang sibuk banyak urusan akhir2 ini. dan sprtinya warung kopinya juga laris manis. tetapi menanggapi blog2 nakal itu saya tidak tenang ki. monggo diambil keputusan untuk memberantas blog2 atau oknum2 nakal. saya akan coba perlihatkan salah satu oknum2 dan blog2 nakal.

  29. ki angon sy ingin bertanya.
    sy tidk kenal sufi,tasawuf,hakikat,makrifat,dll.sy dri kluarga orng kurang dngan agama,tpi menyimak tlsn jenengan dri lingkaran hingga titik dari bljr ikhlaspun sy sndri,yang sya tau hnya apapun yng sy lakukan krna semata2 karena allah swt.tnpa meminta pangkat apapun niat sy ikhlas ingin menolong sesama harta sy tdk punya, stlh sy lma sy mencri cra dngan ilmu hikmah it yng bsa sy lakukan,krna kebodohan sy yng tidak mengenal syari’at hakikat makrifat sy sy tau ibadah taubat,dan ngaji hnya itu tok,tolong ki angon apakah jalan sy salah ataukah ada yang terlewatkan ki,trmksh

  30. cipta santosa 321

    @juru angon :

    mangan kripik dicampur kupat
    yen pitutur apik, angkat jempol papat.

  31. dead man

    @ki angon,,,,,,,, hahahahaha om dapet pertanyaan dari ki pengemis….!!!! ayo kita lihat jawabannya.

  32. dead man

    tes,,,,,

  33. angon

    @aku pengemis…., mohon maaf, saya juga tidak begitu faham ttg istilah-istilah yg ada di kalangan sufi. Saya juga belum sanggup menjawab pertanyaan anda dg memuaskan. Namun, seperti ungkapan di atas, bhw jalan menuju Allah itu tak terbatas, sebanyak nafas anak Adam, begitu perumpamaannya. Siapapun yg ingin menempuh jln spiritual menuju Allah, maka Dia “pasti” akan menunjukkan jalanNya. “man jahhada fiinaa lanahdiyannahum subulana” Siapapun yg bersungguh-sungguh menuju kepada Kami, niscaya Kami tunjukkan kpd mereka jalan-jalan Kami.
    Menurut saya, apa yg telah dan sedang anda lakukan adalah bagian dari perjalanan spiritual. Pada mulanya, perjalanan spiritual msh sebatas amaliah pribadi, baru kemudian berkembang menjadi cabang ilmu keislaman yg lebih sistematis. Pada tahap ini, mulai ada sistematisasi teori, pembakuan istilah, organisasi tarekat, dll.
    Oleh karena itu, pada mulanya bertasawuf sebenarnya sangat demokratis, karena tidak ada ikatan-ikatan hirarkis mursyid-murid. Namun, seiring dengan perjalanan dan krn semangat kehati-hatian, maka mulailah ada disiplin yg ketat sesuai dg afiliasi tarekatnya….
    nuwun… nanti dilanjut

  34. HARSA

    DAFTAR PESERTA GELAR GATHERING KWA KORWIL SEMARANG
    18 – 19 DESEMBER 2010 DI CANDI GEDONG SONGO – BANDUNGAN BAGI YG BERKENAN HADIR, SILAHKAN DI COPAS KEBAWAH
    PENTING : U/MEMUDAHKAN KOORDINASI DAN KOMUNIKASI SILAHKAN BAGI YG BLM MENGISI DAERAH ASAL DAN NMR HP DHARAP SEGERA MELENGKAPI. TRMKSH.
    1. Pencari guru sejati semarang 088215003820
    2. Hijrah semarang 081228182273
    3. Laskar lung gading 085740011189
    4. Harsa 02470031795
    5. Bengawan.candhu 085216123458
    6. Prabowo Magelang 08562560237
    7. Khaerul umam (iroel casteller) Pati 081344811993
    8. Sabar Subur 08187886088356
    9. Ferry Wardana kwa mataram 081916031463
    10. Bhasudewo
    11. Puji wiyanto grobogan 08886503995
    12. Yoto wong kudus 085310408282
    13. Tirtha meganthara salatiga 085865037139
    14. Viki
    15. adipatiunus 085641703978
    16. abah hikam
    17. Mbah Jambrong/Bangkrisna 08157736941
    18. aguskentus 08813745438
    19. Ki cipto roso 081575071646
    20. anton (cipto husodo) 085876213806
    21. ki ageng ungaran
    22.yudhi (wong edan) 0856174183
    23. Antok 081392604240
    24. henny.b ( no telp …)
    25. mas agung 081330096523
    26. wongedi 08985550822
    27. rafiq tegal 081902631747/081911658463
    28. bintang buana banjarnegara 081915064404
    29.puji lembah dieng
    30.Mas Karebet
    31.MasPri
    32.Sartono Jenar
    33.M.Khosin
    34. Bonz 081230554585
    35.dimas rh
    36. Ki Ageng JJ…
    37.ahmad dany 085640409065
    38. Agung prasetyo 08122555661
    39. pendekar bodo 088210829243


    43.Rievshard- MGL- 085743336845
    44. R. Wahyu Utomo 085725779679
    45. In Muryani
    46. M. Ridwan Damardjati Widjaya
    47. Muh Ihwan
    48. Umi Komsidah
    49. Ham Oktaf
    50. Jarwo Jeporo (insyaallah nderek)
    51. jayengkaton (insyaallah Hadir) 085729186228
    52. Elank Cakti Yogyakarta 02749167351
    53. Andra Yogyakarta 085225767787
    54. Satrio Mataram
    55. Sugik Sawunggaling jatim 081331096937


    100. wong endonesa
    101. Ahmadrock 087733028866
    102. ilham 082133024891
    1001. deadman, 02132345408 (insya allah).


    1002. triwiyono, 085646394635

  35. cak "ODOB"

    Askum…………..
    Nderek nyimak, ………….

  36. dead man

    @ki angon,,,,,, mantapz,,,,, cukup memuaskan.
    @harsa,,,,,,,, walah dari kmarin copas2 mulu.

  37. Rasyid Syamba

    luar biasa Ki Juru Angon… seakan2 saya baru dengar kalimah ini …Siapapun yg ingin menempuh jln spiritual menuju Allah, maka Dia “pasti” akan menunjukkan jalanNya. “man jahhada fiinaa lanahdiyannahum subulana” Siapapun yg bersungguh-sungguh menuju kepada Kami, niscaya Kami tunjukkan kpd mereka jalan-jalan Kami.

  38. ari.hermana

    gelaran tikar lagi sambil nyimak…

  39. Kanjeng Alam Biru

    IKUTAN MENYIMAK…

  40. mas..manyoel

    artikel pencerahan yg sangat bagus..
    silahkan di lanjut, sy nderek nyimak aja..
    tks semuanya..

  41. asslamu alaikum Ki Wong Alus terimakasih atas semua kebaikanya Jaza kumullah Khairan….send Al Fatihah 3x buat jasad d ruh Ki Alus juga sdulur yg hadir…

  42. HARSA

    @Dean Man he..he…gak sekedar copas koq Mas..Bro.. yg ganteng se KWA ada updatenya lho… yg berkenan dateng…

  43. wong doif, si Pemulung Ilmu

    Alhamdulillah atas pencerahannya Ki?

  44. HARSA

    @Ki Angon…pencerahannya menggemaskan jd penasaran tgguin sambungannya….

  45. Cintanya cinta

    Kok kadang “Aku” trus d saat lain jadi “Kami” y?

  46. @ki angon
    nyimak njih…
    Salam ta’zim kiwongalus and sedulur k.w.a

  47. bintang buana

    materine mumet mumet..

  48. dead man

    @harsa,,,,, format acaranya kayak apa tuh,,,,,???

  49. angon

    maaf, ada kesalahan kutipan ayat yg terdapat dlm surat al-ankabut ayat 69 bunyi lengkapnya adalah
    “walladzina jaahaduu fiinaa lanahdiyannahum subulana, wainnallaha lama’al muhsinin”

    nuwun

  50. dead man

    tjah mumet,,,,,,

  51. HARSA

    @Dead Man ….Monggo Mas.Bro..panjenengan bisa baca di Sub Judul Acara KWA Semarang kalo sy tulis disini kepanjangan atuh Mas Bro…
    cuman pada dasarnya ada 4 : registrasi , perkenalan , acara dari sesepuh , pengobatan,

  52. angon

    Dalam sufi ada dua istilah yg perlu difahami berkaitan dg pejalan spiritual, yaitu “murid” dan “murad”.
    Kata “murid” (isim fa’il) mengandung makna mereka yg memiliki keinginan kuat utk mendapatkan pengetahuan dan bertekad menempuh perjalanan sufi. Inilah tipe orang kebanyakan.

    Kata “murad” (isim maf’ul) mengandung makna mereka yang “dikehendaki Allah” untuk menempuh jalan kepadaNya. Inilah kelompok para nabi, krn Allah sangat-sangat nyata turut campur dalm membimbing para nabiNya. Rasulullah bersabda: Adabani Rabbi, fa ahsana ta’dibii. Allahlah yang secara langsung mendidikku, sehingga baik pula (hasil) pendidikanku..

  53. Cintanya cinta

    Kenapa kadang”AKU”, kadang “KAMI”, kenapa? Kenapa? Kenapa?

  54. ki 212

    @sdr harsa
    kulo tumut hadir kwa semarang injih…hadir7,layamud7,illabiidnilla la….
    salam takzim dulurku semua…

  55. Wisnu

    Assalamu’alaikum
    sugeng ndalu sesepuh lan sederek sedaya, salam ta’zim

  56. Absen malem, ijin nyimak mbah-mbah sekalian, mbah Rektor, mbah Angon, mbah Detmen, mbah Ampel, mbah Harsa… DLL ijin mendeprokkan diri..

  57. Wisnu

    @ki juru angon…. sugeng ndalu ki, salam ta’zim saking murid ingkang paling bocah, pripun pawartosanipun ki?

  58. HARSA

    @Ki 212 …monggo Ki…kami tunggu kehadirannya trimakasih sudah berkenan hadir…..

  59. HARSA

    @ Eyang mas agung$…saya belon punya cucu masih muda pol he3x

  60. Cintanya cinta

    AKU…KAMI…AKU…KAMI…AKU…KAMI..???….????…..???….????….???….????….

  61. angon

    @cintanya cinta…
    Allah memang sering menggunakan kata ganti orang pertama tunggal (Ana=AKU), dan juga kata ganti orang pertama jamak (Nahnu=KAMI). Apa rahasianya….?

    Beberapa orang berpendapat bhw ketika Allah menggunakan kata AKU, maka pelakunya benar-benar Dia, tanpa melibatkan pihak lain.

    Ketika Allah menggunakan kata KAMI, maka aktififitas (af’alNya) melibatkan pihak ketiga, terutama dalam proses. Ambil contoh ayat yg saya kutip di atas. Allah menggunakan kataganti KAMI, karena ketika Dia memberikan petunjukNya kepada kita melalui pihak ketiga yg berperan sbg perantara, seperti para nabi, guru kita, bahkan tukang becak sekalipun

    Hal ini bukan berarti Allah itu lemah, atau membutuhkan pihak ketiga untuk membantuNya, namun inilah sunnatullah. Bukankah Musa tdk sanggup menerima KEHADIRANNYA di bukit sinai?

    nuwun

  62. m khozin A

    @ki angon
    @mas dead man
    yg cakep yg slalu pake tutup kepala dan mudah perkasa..
    salam rahayu slalu…

  63. ki 212

    @ki angon
    @mas dead man
    yg cakep yg slalu pake tutup kepala dan mudah perkasa..
    salam rahayu slalu…injih.

  64. angon

    @cintanya cinta…
    Sebagai tambahan, dlm tata bahasa Arab, kata ganti “ana” (aku) dinamakan “dlamir mutakallim wahdah” the only me
    Sedangkan kata ganti “nahnu” (nahnu) dinamakan “dlamir mutakallim ma’al ghair” kata ganti orang pertama “bersama-sama” dengan pihak lain..
    nuwun

  65. Niky Sinten

    Ass wr wb
    Ki nambah dikit ya.
    Ada kalanya para alimbillah mengatakan bahwasanya orang yang sudah sampai gugur kuajiban sareatnya. Kalimat inilah yang sering orang salah pegertian. Padahal makna tersirat dari kata2 tersebut sanngat indah.
    “Para alimbillah sudah tidak merasa bahwa sareat sebagai kewajiban tapi sareat sebagai suatu kebutuhan/kesenangan karena setiap menjalankan sareat selalu terjadi perjumpaan ” Seorang kekasih akan selalu berusaha menyenangkan kekasihnya” Mereka gak peduli lagi akan pahala. Yang penting dapt bersama selamanya

    Wass wr wb

  66. Waduh, tambah mumet. Tak sambil klekaran mbah angon, monggo dipun lanjut

  67. ki 212

    @sdr harsa
    ini no sy,082115465802..
    @m khozin
    he3 sorry ya..di cop.

  68. OJIBUAKU

    nyimak kaleh mojok

  69. Mas @dead man kok fitur blog sampeyan diganti jd berat konekx ma hp..

  70. Cintanya cinta

    “Dan sesungguhnya kamu datang kepada KAMI(?) sendiri-sendiri, sebagaimana KAMI(?) menjadikan kamu pada mulanya”

  71. aslalamu alaikaum…! buat guru semua yang ada di kampus wongb alus saya mau tanya ilmu pengunci uang….! karna saya sudah di tipu oleh seseorang yang mengaku bernama H.ahmad efendi dan nama kecilnya anik didik grianto….! dia menampak kan uang di dalam kotak tapi uangnya belum bisa dipakai . dia suruh wirid ini dan itu tapi kemudian uangnya itu hilang …! bagi msedulur semua yang punya amalan agar uang yang dia nampakkan tidak hilang lagi tolong ijazah nya wassalam terimakasih..!

  72. angon

    @cintanya cinta…. hmmmmm ya begitulah, kadang perspektif linguistik (bahasa) pun tidak selamanya mampu menyelami maksud sebenarnya dari KalamNya, itulah sebabnya muncul banyak interpretasi atau tafsir yg tetap berada di wilayah qabil linniqash (debatable=ready for discussion).
    Yang paling tahu maksud sejatinya hanya Sang Komunikator itu sendiri… akhirnya Wallahu a’lam bi muradihi
    nuwun

  73. dead man

    mantapz,,,,,,,

  74. angon

    @cintanya cinta…
    Ada lagi pendapat kenapa Allah sering menggunakan kata “KAMI”…? Itu karena sedang menunjukkan sifat “keagungannya” dan “kibriya” nya…! Bukankah hanya Dia yang berhak untuk sombong…?
    maaf dan nuwun

  75. dead man

    WAH SAYA DITUDUH MENGHANCURKAN BLOG SEBELAH,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,?????

  76. trmksh ki angon jawabnya,
    AKU adlah ketegasan yang haq.trmksh

  77. Cintanya cinta

    @ki angon, ah,ternyata bgtu,makasih ki :D

  78. dead man

    WAH SAYA DITUDUH MENGHANCURKAN BLOG SEBELAH,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,???

  79. wakgondrongx

    SEMANGAT TENGAH MALAM………
    sesepuhku semuanya……

    absen pengajiannya mbah yaine angon, sambil bawa sesaji menyan 234, dan menyan djarum super spesial untuk mbahe angon….

    @mbah yaine angon; mak nyosssssss……….
    huwahuhuhuhu…,…………

  80. Agung

    @Ki Juru Angon
    Ki…dengan pertanyaan sy yg semalan bagaimanakah nasibnya….???
    Dilanjut dong Ki….!!!

  81. arek ilank

    semangat malam smua,,,
    Absen tengah malam&ijin nyimak,,,

  82. wakgondrongx

    @ki dead man
    @ki mbahe aku pengemis
    @ki cintanya cinta
    @ki frans
    @ki madid musyawaroh
    @ki 212
    @ki ojibuaku
    @mase agung
    @ki….semuanya…..
    semangat tengah malam juga…..

  83. Laa tansa

    @ki angon……….toyib2…….
    Lanjut gus.
    Salam hrmat @ki alus n all crew kwa

  84. ari.hermana

    wah masih rame aja nih…. lom pada tidur… mantabzzzz

  85. angon

    @agung…. surat an-nahl ayat 14-15 yang kemarin itu ya…., mau dilihat dari perspektif apanya? kalau dilihat dari “khasiyat” nya, saya angkat tangan..,tapi kalo dilihat dari kandungannya, mari bersama2 kita bedah..
    Kedua ayat tsb menunjukkan keagungan Allah dan kehebatanNya yg telah membuat gunung sbg penyeimbang bumi (paku bumi) dan sungai2 sbg sumber air sekaligus penunjuk jalan (map) agar kita tdk tersesat. Pada sisi yang lain, Allah juga menciptakan “alamat” tanda-tanda alam yg mestinya kita baca dengan kejernihan pikiran shg kita dpt petunjukNya.
    Membaca tanda2 alam adalah bagian dari cara utk memperoleh pengetahuan, namun kenapa banyak orang yang menganggap sbg tahayul dan syirik….?
    Coba jawab sendiri ya…

  86. angon

    @mbah gondrong… wah kebetulan mbah djarumku wis entek… monggoo…
    @sedulur kabeh… sugeng ndalu, mugiyo rahmating Gusti tumibo dumateng kita sedoyo…

  87. Sanjaya GuitarHolic

    Ass.Wr.Wb.

    Selamat mlm. Artikel yang menarik dari sedulurku mas angon. Tasawuf merupakan kehalusan rasa ‘isyiq dan mahabbah kepada Allah SWT yang selalu membakar. Suatu keadaan yang tidak bisa dirumuskan dengan kata-kata (al isti’sho’u ala al washfi).
    Syekh Abu Bakar Asy-Syibli pernah berkata “Hiduplah seperti pohon kayu yang lebat buahnya. Orang-orang melemparinya dengan batu, dia membalasnya dengan buah.”

    Terimakasih. Wassalam.Wr.Wb.

  88. oyot mimang

    absen mlm,ikut nyimak lenggah ten blog tercinta..

  89. Sholawat

    Asslkm, Allah ciptakan manusia agar belajar susah, belajar bersyukur, belajar sabar, serta belajar ikhas agar menuju pd yg ESA ALLAH S.W.T, SELAMAT IDUL ADHA, MAAF LAHIR BATHIN, Wassalam

  90. joko tgl

    kiangon ugi sesepuh semua nderek ngaos njih,kagem sedoyo,salam takzim kawulo,suwun,salamm

  91. ari.hermana

    wah udah sepi….

  92. wawan sleman

    @ pak angon, nderek nyimak geh.
    @ all sedulur met malam.

  93. ari.hermana

    @ Ki wawan sleman : sudah pagi Ki …… hehehehe

  94. wawan sleman

    @ ari hermana. met pagi juga ki, menunggu gempa di pagi hari ..hehhehe
    @ ki angon dan @ all sedulur ada yg bisa jelasin ini ngak.
    mohon pencerahannya
    Bismillahirrohmanirrohim Allahumma Inni as aluka bihaqqi Alif Lam Mim, Wa Alif Lam Mim, Wa Alif Lam Mim Shod, Wa Alif Lam Mim Ro’, Wa Alif Lam Ro’ Wa Kaf Ha Ya ‘Ain Shod, Wa Thoo Ha, Wa Thoo Sin Mim, Wa Yaa Siin, Wa Shooood, Wa Ha Mim, Wa Ha mim, Wa Ha Mim, ‘Ain Sin Qof, Wa Ha Mim, Wa Ha mim, Wa Ha Mim, Wa Ha Mimada …….

  95. m khozin A

    sahur3….
    lg pd sahur to…

  96. moga saya dan kita semua bisa seperti apa yang pernah Syekh Abu Bakar Asy-Syibli kata kan“Hiduplah seperti pohon kayu yang lebat buahnya. Orang-orang melemparinya dengan batu, dia membalasnya dengan buah.”amiin

  97. sugeng enjang semangat pagi mohon ijin ikut nyimak

  98. Ojo dumeh

    Absen pagi…….
    Salam hormat sll:
    @ki alus
    @ki angon
    @ki risang
    @ki bib blis
    @ki bc
    @ki jj
    @ki nur jt
    @ SEMUA SSPUH KWA……
    SAMPIT PAGI INI MASIH ‘AROFAH.NGIKUT P MENTRI……..

  99. Cungkring Cerbon

    Ketika Qt merapihkn sisa-sisa sujud..membuka selaras dlm jiwa mentasbihkan genderang keimanan….embun pagi lebih sejuk siraman rohani…inilah yg jiwa cari….Bertedu di esore wit WarihNgin…..(warih=air jernih=elmu Ngin=angin=urip)….Wilujeng enjing sadayana……

  100. Wahyu taqwa

    IJIN MENYIMAX :)

  101. Mr.Zm

    Hdir, ijn nyimak skalian ijin copas ea..
    Slm pgi sdulur smua monggo dipun lanjt kulo ndrek nyimk d shaff tengah..

  102. Agung

    Assalaamu’alaikum Wr.Wb.
    Wilujeng enjing @Ki Wongalus, @Ki Juru Angon

  103. kidang7117

    “Hiduplah seperti pohon kayu yang lebat buahnya. Orang-orang melemparinya dengan batu, dia membalasnya dengan buah.”…..tapi kalau batunya ikut jatuh lagi …bonyok juga kepalanya….maaf bercanda……

    absen pagi…ass….

    nderek nyimak sambil mojok……

  104. UNLUCKYMAN

    @mas wawan di blog sebelah ada ini ih sama gak..??

    Ilmu Huruf Nuranuyyah

    Terdiri dari Huruf Nun, Shad, Ha, Kaf, Ya, Mim, Qof, Alif, Tho’, ‘Ain, Lam, Sin, Ro, dan Ha’

    Huruf ini juga dinamakan huruf Awail Suwar iaitu Huruf pada permulaan Surah. Huruf ini mempunyai Khasiat dan Hikmat yang begitu Hebat!!

    Penjagaan Ilahi itu adalah dengan Huruf-Huruf Nuraniyyah yang terdapat pada awal Surah di dalam Al-Quran

    Kata Saidina Ali Karramallahu Wajhah
    ” Aku ketemu Khidir a.s. pada satu hari sebelum perang Badar, aku bertanya padanya,
    Ajarkan aku sesuatu agar aku dapat kalahkan musuh”

    Kata Saidina Khidir a.s.( bacalah)

    Bismillahirrohmanirrohim
    Allahumma Inni as aluka bihaqqi Alif Lam Mim, Wa Alif Lam Mim, Wa Alif Lam Mim Shod, Wa Alif Lam Mim Ro’, Wa Alif Lam Ro’ Wa Kaf Ha Ya ‘Ain Shod, Wa Thoo Ha, Wa Thoo Sin Mim, Wa Yaa Siin, Wa Shooood, Wa Ha Mim, Wa Ha mim, Wa Ha Mim, ‘Ain Sin Qof, Wa Ha Mim, Wa Ha mim, Wa Ha Mim, Wa Ha Mim, Wa Qoooof, Wa Nuuun, Ya Man Huwa Laailahailla Hua , Ighfirlii, Wansurnii, Innaka ‘Ala Kulli Syai in Qodiir”

  105. Alhamdulillah Muncul Pencerahan mengenai Tasawuf Di Kampus KWA seharus lebih banyak Pencerahan pencerahan seperti ini adem rasanya kalau sudah membaca artikel Tasawuf ketimbang mempelajari / membaca bagian dari keilmuan Kanuragan
    @Ki Angon, @Ki Ageng JJ, @Mas Kumitir, @Ki Sabdolangit, @Ki Nurjati
    @Seluruh Anggota Keluarga Besar Kampus Wongalus

    Ayo Lebih Banyak Lagi Memberikan Kajian Tasauf Didalam Kampus Wong Alus Karena Kajian Tasauf akan Meningkatkan serta menambah Ke-imanan Seseorang
    Kampus Wongalus Sudah dibaca Oleh Negara Tetangga mari sama-sama kita menjaga kredibilitas KWA,

    Matur suwun Ki Angon ,atas Pencerahan Kajian Tasawuf

  106. @ unluckyman, maksih sekali ki.
    fungsinya untuk apa geh

  107. andra

    nuwun,nderek nyemak kang munif……tumut absen,,,

  108. batara pancer buana

    ikut nyimak
    banyak yang mengaku ngaku tasauf tapi ga ikut aliran thorikat manapun hahahaha sungguh aneh yang di dapat cm khowatif/bisikan . hahahaha ngakunya bisikan dari malaikat pdahal dari jin yang menyesatkan ………..
    ga bisa nyampe ma’ripat kl ga menjalani salah satu thorekat itu kenyataan man
    ada jg yang ma’ripat tp ma’ripatnya cm mnurut dalil hehe
    bnyak pula yang ngaku- ngaku ma’ripat padahal cm bisa mlihat berbgai alam dan sring dpt bsikan sungguh teeeeerrrrrrlalu yang di kasih m allah cm mukhasafah goibiyah bukan mukhasafah rububiyah udah ngaku ma’ripat .. hahahahaaa
    ngaku ma’ripat tp syariatnya di tinggalin gmn ini trus ngaku2 udah solat tp solatnya scara goib hahahahaaneh sekali emang ada dari kanjeng nabinya solat di bayangin wekwekwek solat itu ibadah lahir man termasuk hablum minallah dikir jg yng di ingat cm bacaan m khasiyatnya sdangkan hatinya kosong emangnya dikir apaan men !!!!! bukan dikir kali tapi lagi baca amalan aja yang dilakukan berulang ulang hahahahahahah araraneh iyeumah penomena umat ahir zaman

  109. Ki Abduljabbar

    Syariat, tareqot, hakekat dan makrifat ini yg sering diajarkan oleh ustadz-ustadz. tareqot itu artinya jalan, makna dari pemahaman ini sdh sangat gamblang dibabar oleh Ki angon dan Ki Ageng Jembar Jumantoro bahwa kita didalam menjalankan syareat harus melakukan pemahaman makna-makna dari syareat tersebut sehingga bathin ini dapat bersih tidak ada hijab kepada Allah ta’ala. Bagaimana untuk menghilangkan hijab tsb?
    Caranya segala sesuatu perbuatan itu hanya karena Allah. Mohon maaf kalau ada pendapat kita tdk akan dapat makrifat karena tdk ikut suatu tareqot, saya rasa koq kurang tepat.

    Lebih baik kita toleransi dalam bermuamalah dari pada saling menganggap benar. Coba renungkan cerita ketika Syeh Abdul Qodir berkalwat di bawah pohon, ada mega menaungi dirinya. Lantas dihardik
    iblis agar tdk mengganggu. Hhhm…. saya mengaku kalah denganmu, hai Syech Abdul Qodir, padahal sdh 72 Tareqot yg sudah aku sesatkan. Ini artinya kita memasuki sebuah tareqot belum tentu kita dapat makrifat.

    Mohon maaf kalau tidak berkenan.

  110. Sanjaya GuitarHolic

    @kidang7117: betul. Krn pada dasarnya apapun yg dilempar akan jatuh lagi kebawah. Apa yang jatuh menimpa kita? Mudah2an saja yang jatuh itu merupakan “buah manis” yang bermanfaat, bukan “batu” yang mendatangkan ke-mudharatan dan bisa membuat tubuh kita terluka. Hehehe. Maaf bercanda juga, supaya santai dan tdk terkesan terlalu serius. Saya setuju dengan beberapa kalangan yang berpendapat bhw untaian kata2 dari para sufi/ahli tasawuf itu penuh makna, baik yang tersirat maupun tersurat, baik yang bersifat hakiki maupun majazi. Dlm hal ini perspektif org yang menerimanya memang seringkali berlainan. Dan itu hal yang sangat manusiawi. Kita ambil saja esensi yang sesuai dgn tingkat pemahaman kita masing2 dari sekian banyak referensi yang telah didapat. Referensi sangatlah banyak namun esensinya sama. Demikian sedikit penjelasan dari saya yg masih sangat awam ini. Semoga ada manfaatnya. Salam kenal.
    @batara pancer buana: euleuh2 geuningan aya wargi urang sunda oge. Kumaha wartosna, damang? Kawitna timanten & linggih dimanten? Urang silih du’akeun nya.. mugia urang2 sadayana teras dibimbing sareng dipasihan kakiatan supados tiasa panceg dina galur anu diridhoan ku Allah SWT. Amiin, Yaa Robbal ‘Alamiin. Mangga dilajeng.
    @ki abdul jabbar: setuju. Saya sependapat dengan mas abdul jabbar yang dari hari ke hari semakin charming :) Silahkan dilanjut.

  111. angon

    @batara pancer….. hmmmm apa memang begitu ya, seseorang harus mengikuti aliran tarekat terlebih dahulu sehingga ma’rifat yang didapat tdk diragukan…. bener juga sih, karena posisi mursyid sejati bisa memahami maqam spiritual muridnya, namun banyak juga mereka yg mengaku mursyid ttp tidak kualified, karena hanya mengejar ketaatan buta dari sang murid, sehingga terjadilah kultus individu yang berlebihan yang justeru menodai makna sufi itu sendiri.
    Lalu bagaimana dengan tokoh-tokoh sufi generasi tabiin spt Hasan al-Basri yg tdk mempunyai tarekat, al-Ghazali juga tdk ikut tarekat. Apakah mereka juga keliru dalam perjalanan spiritualnya.
    Menurut sejarah, tarekat muncul dan semarak pada sekitar abad 10 masehi sebagai bentuk reaksi dari kehidupan hedonistik yang melanda para elit politik muslim saat itu.

    @Ki Abduljabbar… matur nuwun atas tambahannya.
    @Sanjaya…. waduh sampean memang layak untuk menjadi obor bagi kita semua, terima kasih

  112. gus santri

    Assalamu’alaikum…
    Hormat takdzim kepada Semuanya…
    Ki Angon, saya menambahkan, bahwa dhomir NAHNU tidak hanya Mutakallim Ma’al Ghoir, tetapi bisa juga untuk Mutakallim Wahdah yang Mu’adzim Nafsahu (kata ganti satu orang dg bahasa diperhalus). Bahkan pemakaiannya sangat populer dalam bahasa arab harian. Dari mana kita bisa membedakan diantara keduanya? Ya dengan kontes kalimatnya. Misalnya, seorang presiden berkata: “Setelah kami pertimbangkan, maka kami putuskan demikian..” Kami di sini bisa berarti Presiden seorang diri. Dan bisa Presiden bersama Para Stafnya..
    Menjura dalam kepada Semuanya…

  113. Sanjaya GuitarHolic

    @juru angon: salam takzim. Mohon maaf sblmnya, saya tdklah layak untuk jadi obor, krn saya msh sangat awam dan saya jg hanya org biasa2 saja yg tidak tahu apa2. Justru panjenenganlah yg pantas utk menjadi obor bagi para sedulur di kwa ini. Saya sangat senang untuk bisa berkenalan dgn panjenengan. Dan saya jg sependapat dgn penjelasan2 dari mas angon diatas, salah satunya yang mengatakan bhw “Pada sisi lain Allah SWT juga menciptakan “alamat” tanda-tanda alam yg mestinya kita baca dengan kejernihan pikiran shg kita mendptkan petunjuk-Nya”. Karena banyak sekali firman Allah SWT di Al Qur’an mengenai hal itu (tanda2 alam beserta perumpamaannya), salah satunya ialah 2 ayat dari Surat Ibrahim dibawah ini:
    “Alam taro kaifa dhoroballoohu matsalan kalimatan thoyyibatan ka syajarotin thoyyibatin ashluhaa tsaabituw wa far’uhaa fis samaa’, tu’tii ukulahaa kulla hiinim bi idzni robbihaa, wa yadribulloohul amtsaala lin-naasi la’allahum yattazakkaruun.”
    Lagi2 contoh perumpamaan dari sebuah “pohon” ya mas… Hehehe. Silahkan dilanjut. Matur nuwun.

  114. angon

    @Gus Santri….. ini dia yang saya tunggu-tunggu, matur nuwun Gus atas tambahan ilmunya….semakin lengkaplah pemahaman saya mengenai konsep Ana-Nahnu dalam perspektif lughawi….
    Sekali lagi matur nuwun…

  115. angon

    @Sanjaya…. hmmm… sudahlah anda tdk perlu bersembunyi terus di balik kesederhanaan ucapanmu. Sudah saatnya anda tampil untuk memberikan pencerahan bagi kita semua…. Pengalaman hidupmu yang kaya akan bermanfaat jika dishare di sini. Warga KWA membutuhkan orang bijak seperti anda. Nuwun

  116. naves

    Mohon maaf soal tasawuf sbb kadar cinta kita tdk seperti Al Halaj atau Syaikh Siti Jenar..yg pantas mmebocarakan hal tsb adl org2 yg memiliki kadar kecintaan sbgmn kecintaan Al Halaj kepada Allah SWT.

    jika kita masih berada dlm taraf awam mk sebaiknya yg kita bahas adl soal2 yg berhubungan dgn org awam spt kita..tak usah muluk2..perjalanan ruhaniyah memerlukan proses panjang..sekian dan wassalam.

  117. Mursyid Syubakir

    @Naves
    Tidakkah mencintai sesama umat dengan membelakangkan gelora ego dan Nafsu(keinginan pendapat yang benar….dll) itu lebih baik dari pada selalu mengomentari… dengan Nada yang banyak orang yang tidak suka…. hanya karena ingin dianggap yang benar….

  118. nasrudin

    Salam Selamat Hati Raya maaf zahir batin keluarga KWA

  119. hem….

  120. Wahyu taqwa

    punten anak bawang numpang lewat

  121. UNLUCKYMAN

    @mas wawan sleman…
    ngapunten nggih…masalah ilmu huruf tanglet bopoguru bopo guru mawon. kawulo namung “pados tombo” mas..wawan…nggih. ngapunten nggih…

  122. Semua ada tertipunya… :)

    Salam…

  123. ******%%%%NAVES%%%%********

    KEBENARAN & KTIDAK BENARAN ITUH HANYALAH PENILAYAN” MANUSIA..

    MANUSIA HANYALAH BISA MENILA….!!!!
    DAN TERUS MENILAI…!!!!!
    TIDAK MAU UNTUK DITILAI …..!!!!”
    ITULAH KE EGOISAN KITA SEMUAH …..

  124. abangan

    Mari menegakkan solat dalam praktik kehidupan nyata. Seorang petani yang berangkat pagi-pagi ke sawah, lalu malakukan pekerjaan di sawah dengan benar, tanpa pamrih; itu artinya ia telah melakukan solat secara nyata. Dengan kata lain, orang yang mengerjakan pekerjaannya dengan benar dan lillaahi ta-’alaa, bukan karena egonya, berarti dia telah melaksanakan solat sejati, solat yang sebenarnya. Disebut juga solat daim.
    Pelaksanaan solat lima waktu itu bukan solat yang sebenarnya. Dan, kalau toh tetap disebut solat, maka pelaksanaan solat yang tampak lahiri ini hanyalah hiasan dari solat daim. Solat daim adalah solat yang ditegakkan secara terus-menerus. Tak pernah putus. Baik ketika berjaga maupun ketika tidur. Baik ketika bekerja maupun sedang beristirahat.
    Solat lima waktu hanyalah tata krama. Sedang solat daim, solat yang sebenarnya, adalah menyadari “Keberadaan” Hyang Mahaagung di hadapan dirinya sendiri, dan dia merasa bahwa dirinya sirna. Sehingga semua tingkah lakunya merupakan solatnya. Diam, bicara, dan semua gerak tubuhnya merupakan solatnya. Berwudu, buang air besar dan kecil, semuanya merupakan sembah. Itulah yang disebut niat yang sejati dan pujian yang tak pernah putus

  125. %%%%%NAVES%%%%%

    @.abangan
    sorang patani brangkat pagi” ke sawah bukanlah sebuwah kewajiban ia untuk kesawah bisa ajah ia tidak berangkat karana malas….?
    atau apahlah……,………!!!!!
    ITUH GI MANA…….?????

    TETAPI KALU ENGKAU MENGATAKAN MENYADARI KEBERADAANYA SAYA SETUJUH…..

  126. ass.. ijin daftar … slm buat poro sesepuh & pini sepuh, nick name : suro gentho,mail : budi.novianto@yahoo.com,Bekasi hp: 081385030484

  127. matur suwun …..mugi2 saget gabung dateng KWA…….wass…

  128. SINGA MARANTEE

    NAVES BANGAI..

  129. SINGA MARANTEE

    NAVES HANA PEURELE YO BAHAS TASAWWUF ( naves tidak perlu takut membahas masalah tasawwuf ) semua orang islam berhak tau…

  130. Mursyid Syubakir

    @Naves

    bukankah sampeyan Sudah gede…. ngerti mana yang pantas dan Mana yang enggak Pantas…disampaikan diomongkan

    nah kalo menurut Panjenengan omongan pnjnengan itu sudah pantas baik…bagaimana dengan orang lain apakah baik… apakah sampeyan hanya ngikuti hawa Nafsu….

    Sampeyan itu kudu ngerti mana yang harus diomongkan… di mana tempatnya….

    Jadilah Manusia…. jangan jadi hewan yang hanya ikuti keinginan..

  131. dian

    nyimak malam nih

  132. Raden ajisaka

    @Dian slam knal @all salam rahayu

  133. Mandor turu

    Allahumma sholli ala sayyidina muhammad wa ala ali sayyidina muhammad.

  134. baco puraga

    Assalamu ‘alaikum wr. wb….
    Salam kenal semua buat sedulur2, sesepuh2, guru2 & para tamu di KWA… nama Sy “muhammad rusli”…. org udik tinggal di Moncongloe – Maros….

    moga Allah slalu ijabah ke-Ikhlas-an & ke-Yakin-an kita semua dlm mencari & mencintai Ilahi Rabbi… Amiiin..
    ——
    Maaf.. mohon sy diijinkan nyimak .. nyambi ngerokok diatas tikar dengerin petuah2 yg sgt berguna bagi diri ini yg Kosong Melompong…
    @buat ki Wong Alus… mohon didaftar jdi.. pengagum berat KWA….
    Sy mohon maaf yg sebesar2nya.. krn udah sebulan ini trus nyimak & bc2 tuh ilmu2 yg dipaparkan disini… tanpa seizin Admin KWA… maafin sy yah…

    Makasih….
    Wassalamu ‘alaikum wr. wb…

  135. baco puraga

    Duh… menarik nih kajiannya Ki Angon, Ki Abdul Jabbar…. Ki Sanjaya, Ki Gus Santri, Ki Wawan …. dan bbrp Sesepuh lainnya… mantap tenang… moga sy bisa nangkap maunya….
    @Ijin duduk lgi ah…………. bkr menyan… hik..hik..hik.

  136. baco puraga

    @Naves…. wow gitu ya…. salam kenal…
    Mo nanya.. boleh ya…. Ki Angon & sesepuh KWA lainnya… tabe ye’…
    Gimana ya disatukan “Syariat, tarikat, hakikat, Makrifat” dalam aplikasi sehari2.. baik “hablumminallah” maupun “Hablumminannash”??
    Mohon pencerahnnya…..
    Makasih…. Wassalam

  137. arifin

    kajian yang begitu baik dari ki juru angon & ki sanjaya gitarholik.
    jk boleh usul artikel spt yg ki juru angon tulis ini sehrsnya diperbanyak lagi di kwa,trims.

    salam asah asih asuh. 100% bersaudara.

  138. Pengemis

    Setinggi apapun suatu ilmu,…kalau meninggalkan syareat,….bukanlah ilmu yang bener,….

  139. kebalikannya serendah ilmu apapun kalau meninggalkan hakekat dan menembus aras makrifatullah bukanlah ilmu yang sesungguhnya

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

%d blogger menyukai ini: