Arsip Bulanan: Juli 2011

SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA


MARHABAN YAA RAMADHAN

Perkataan yang indah adalah “ALLAH”
Lagu yang merdu adalah “ADZAN”
Media yang terbaik adalah “AL QUR’AN”
Senam yang sehat adalah “SHALAT”
Diet yang sempurna adalah “PUASA”
Kebersihan yang menyegarkan adalah “WUDHU”
Perjalanan yang indah adalah “HAJI”
Khayalan yang baik adalah ingat akan “DOSA & TAUBAT”

KELUARGA BESAR KAMPUS WONGALUS
MENGUCAPKAN SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA,
MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN.

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA 2 | 102 Komentar

INSYA ALLAH BAGI MAKLUK DAN PASTI KUN FAYAKUN ITU HAK-NYA


By : Gus Noer
satria_lamong77@yahoo.com

0856 2020 397

Assalammu’alaikum WR.WB

Alhadulillah hanya itu yang seharusnya kita ucapkan kehadirat ILLAAHI ROBBI setiap saat karena begitu banyak nikmat yang kita dapatkan Dari-NYA, shololloohu alaa sayyidina Muhammad, sholawat serta salam kahaturkan untuk Kanjeng Rosululloh Muhammad SAW manusia agung yang penuh cinta kasih pada kita semua umatnya.

Salam pamuji rahayu untuk semua sedulur bolo wongalus di manapun berada, salam KWA-ngen pada semua sahabatku. Kali ini saya akan menulis sedikit pemahaman yang masih berkaitan dengan pembelajaran diri dan pendewasaan spiritual. Beberapa waktu yang lalu saya membaca dan mencoba memahami tulisan dari beberapa sahabat seperti bib Pangeran Sekemilung yang begitu bagus mengupas mengenai banyak hal yang intinya sebagai referensi masukan maupun nasehat bijak tentang memaknai akan sebuah ijabah do’a, hakekat amalan-amalan dll, juga tulisan dari habib wongalus dan semua sahabat yang begitu sangat berharga dan dasyattt. Untuk sahabat semua semoga tetap bisa berfikir logis dalam menyikapi semua fenomena yang berkaitan dengan goib. Ratusan orang telah SMS saya menanyakan masalah ingin banyak harta secara instan….silahkan baca postingan saya berjudul “Fenomena Uang Ghoib, Bank Ghoib, Penggandaan Uang dll.

Berkaitan dengan banyaknya SMS maupun Email ke saya yang menanyakan banyak hal berkaitan ilmu hikmah, amalan-amalan, Asma’ dan lainya. Serta ada dari sebagian yang konsultasi dan memohon bantuan dengan mempercayakan sedikit apa yang menjadi rahasia maupun problemnya di share ke saya seakan dengan begitu saya yang hanya manusia biasa ini mampu mengatasi dan menjawab semua. Masya ALLAH katiwasan ini……tapi oke lah saya hanya bisa berdo’a dengan menengadakan tangan semampu saya dengan sedikit ilmu titipan-Nya sambil bilang InsyaALLAH karena hanya itu kemampuan kita sedang KUN FAYAKUN yang pasti itu Hak-NYA mutlak.

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat tugas dari kantor dalam kesibukan rutin saya kebeberapa tempat yaitu klaten, solo, jogja, tuban, lamongan, Bojonegoro, jombang dll dalam waktu senggang seperti kebiasaan saya 3-5 tahun yang lalu ya saya sempatkan silaturohim dan sowan kebeberapa kyai/ulama’ untuk tabarukan ngaji roso dan ngrungokno dawuh sang guru, diantaranya ke beberapa guru untuk sekedar share maupun ingin mencium bau syurga melalui tangan beliau-beliau yang ahli ibadah ini. Seakan dunia ini sudah seperti syurga kalau kita berada dalam Majelis orang2 soleh, hidup makin optimis dan semua masalah seakan lebur bersama dengan turunnya barokah dari Gusti ALLAH SWT melalui beliau-beliau ini SUBHANALLOH.

Dalam pertemuan dengan salah satu kyai saya ini, beliau sedikit membahas masalah orang jaman sekarang yang kebanyakan itu mau enaknya saja, kata beliau dengan nada canda pas pagi-pagi sudah ada orang bertamu dengan menangis tersedu-sedu yang ingin barokah do’anya supaya masalahnya yang berat cepat tuntas,yaitu terlilit hutang sebesar 40 juta, dengan nada guyon beliau ini berhujar waduh ibu ini baru punya utang 40 juta seakan dunia sudah kiamat dan tidak seimbang dengan nangisnya kalau air matanya di tampung dalam satu tempat mungkin sudah dapat 1 mangkuk. Pak yai berujar kalau ibu ini ga usah kemari karena yang kemari itu yang hutangnya 500jt s/d Milyaran…..hehehe akhirnya si ibu ini terbengong dan mulai tertawa dan pulang dengan raut muka optimis. Dalam batin ustd. saya yang lumayan agak preman dan galak, maklum mantan jawara berujar ke saya orang sekarang ini waduh pingin enaknya saja ya, dulu pas dia hutang tidak pernah menyisihkan atau berbagi pada ustd atau kyai. Tapi sekarang disaat terlilit utang kok ustd atau kyai di ajak susah….weleh…weleh. beliau berujar dulu pas cari ilmu apapun ke pak yai itu dengan kesadaran sendiri bapaknya memberikan kambing atau sapi pada pak yai jadi dari situlah barokah ilmu dan do’a itu bisa di rasakan sampai sekarang.

Beliau ustadz ini berpesan “Al ilmu nurron” bahwa ilmu itu ibarat nur yang akan menerangi bagi siapa saja pengamal dan pemilik ilmu tsb. Makanya kalau ada orang yang banyak ilmunya tapi masih semakin bingung melebihi orang yang tidak berilmu maka  perlu di pertanyakan barokah dari ilmunya tsb. Kalau sudah punya ilmu tapi hidup masih tetap lebih sengsara/banyak mengeluh, maka apa bedanya dengan orang tidak berilmu……. Saya biarkan sahabat seperti halnya saya memahami dan mentafakuri ungkapan di atas. Kebenaran Mutlak hanya Milik-NYA.

Saat yang lain saya sowan ke kyai yang satu lagi, beliau hanya menunjukkan dan memberikan support dan bukti bahwa bagi siapa saja yang mau menyisihkan waktu dengan untuk berbuat kebaikan misalnya dengan mengamalkan beberapa amalan dll dengan penuh keikhlasan, tawaduk, sabar dan pasrah penuh keyakinan pada Gusti ALLAH  TA’ALA maka haqqul yakin tidak akan sia-sia. Beliau ini ber-ujar kalau beliau ini mengamalkan Aji Bismillah Pitu dan selama 20 tahun terakhir tidak pernah sakit alias sehat wal’afiat, dan pernah naik Motor sambil baca ayat Kursyi yg di kawal Malaikat Kandayas serta Aji Bismillah pitu maka saat itu juga kendaraan jalan sampai tujuan tidak pernah menginjak rem. Jadi yang lebih di utamakan itu prosesnya dalam menuntut ilmu apapun. Beruntunglah dan berbahagialah semua sobat, rekan dan adik-adik semua yang kebetulan membaca tulisan ini, dengan adanya blog KWA yang bikin kita setiap saat jadi KWA-ngen ini, maupun blog2 lain yang berkaitan dengan mengupas berbagai macam ilmu luhur maka semua kembali pada saudara. Ambil yang sekiranya baik dan sesuai kebutuhan sahabat dan amalkan dengan penuh keyakinan. Jangan banyak bertanya yang aneh-aneh karena kalau banyak pertanyaan biasanya pada akhirnya akan hilang kekuatan ikhlas, yang ada hanya menuntut sesuai keinginan nafsu saja. Belajar ilmu luhur itu harus dengan berbekal sabar, tawaduk, ikhlas penuh pengorbanan dan pasrah serta yakin bahwa KUN FAYAKUN itu pasti bagi yang mengetahuinya.

Dalam nasehat bijak “Manjada wa jadda” bukankah barang siapa yang bersungguh-sungguh maka dia yang akan mendapatkan. Kadang kita ini Cuma bisanya banyak mengeluh, menyela, mendikte Tuhan dengan barometer do’a2 kita, ibadah dan amalan2 kita yang seakan sudah begitu banyak dan dasyat. Terkadang kita kurang sadar dan kurang intropeksi diri, sehingga kita terlena dengan nafsu duniawi kita yang melingkupi, selalu menuntut Gusti ALLAH TA’ALA memenuhi apa yang kita harapkan. Ingat dalam keheningan sunyi malam yang senyap ada terang, dalam sepi dan gelap ada cahaya, dalam kegalauan akan memaknai akan kebesaran Tuhan lewat segala macam amalan2 dan dzikir kadang kita kurang sadar akan dosa2 kita. Kita kadang menyempitkan sendiri apa yang sudah terbentang luas. Kita kurang yakin dengan do’a2 kita, dengan begitu banyak ilmu dan amalan2 kita, seharusnya semua sudah menjadi tajam tapi kita sendiri sering menumpulkan itu semua. Kesadaran kita ber-Tuhan sebatas kita butuh saja tapi tidak pernah paripurna meliputi hakekat hidup ini. Di saat kita merasakan kebesaran dan karunia-Nya begitu Agung di situ haqqul yakin Ijabah do’a “Kun fayakun” itu pasti dan nyata. Insya ALLAH.

Oke sahabat semua sesuai judul tulisan diatas maka saya al fakir hanya bisa mengucapkan Insya ALLAH karena sungguh diri ini lemah tanpa daya, kekuatan dan upaya sedikitpun, semua saya kembalikan pada yang Maha dari segala Maha yang memiliki semuanya, sungguh KUN FAYAKUN itu Hak-NYA yang pasti dan nyata bagi yang tlah di berikan Ma’unah dan Kemulyaan Oleh-Nya :

“ Yaa ALLAH-ku Engkau yang menggenggam setiap jiwa dan alam semesta beserta isinya, Ya Rohman Ya Rohiim….Ampuni segala dosa kami, dosa kedua orang tua kami, sayangi mereka sebagaimana mereka menyayangi kami sedari kecil, ampuni dosa anak keturunan kami, ampuni dosa istri kami serta dosa para guru, ulama, kyai dan ustadz kami, dosa para pemimpin kami yang amanah, dosa saudara kandung kami, dan dosa kaum muslimin muslimat semua, Perbaiki Negeri kami ini dan selamatkan dari para koruptor jangan biarkan orang yg dholim serakah  Berjaya,  Ya ALLAH-ku beri hidayah bagi yang belum mendapat hidayah. Amiin. Beri kami kekuatan iman, islam dan ihsan. Panjangkan umur kami dan sehat wal’afiat untuk kami gunakan beribadah, Beri kami kemudahan dalam hidup ini, beri rizeki yang berlimpah dari segala penjuru untuk bekal beribadah, beri keselamatan dan kebahagiaan dunia sampai akherat, dan masukkan kami dalam surga-MU yg indah. Allohumma astajib lakum, amiin ya robbal  alamiin.”

Mohon maaf sobat apabila ada salah dan terlalu panjang dan lebar serta beda pemahaman dengan kalian, “Marhaban Yaa Ramadhon, Marhaban yaa sahrul siam” Selamat menunaikan puasa bagi saudaraku muslim semua mohon maaf apabila salah dan salam KWA-ngen dari sahabat kalian gus Noer pengampuh Sanggar “Nur Langit”-Bandung, trimakasih atas coment-nya. Wassalam.

@3

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA 2 | 85 Komentar

OLAH MANAH


Mas Kumitir
(KWA 0000)

Senja menggelayut di ufuk barat. Saya, Wong Alus, Camat, Raden Rahmat, Nugraha dan Fadli ditemani dua orang yang baru kami kenal bergegas untuk berangkat memulai perjalanan. Dua orang baru itu adalah: satu orang pendekar suku Badui Banten dan seorang muridnya yang berusia belia. Kami berkemantapan bila malam ini adalah malam melakukan perjalanan olah rasa.

Perjalanan terasa lamban dan dua jam kemudian kami sampai pada sebuah tempat yang asing. Dada terasa sesak di malam yang gelap gulita itu. Langit di atas bertabur bintang tidak mampu menyinari jalan setapak yang sebenarnya hanyalah semak belukar. Jalan tidaklah mendaki, namun menuruni batu-batu tajam yang licin. Tidak sepertu saudara dari Badui yang berjalan lincah tersebut, tapak kami terpeleset-peleset dan mencoba bertahan agar tidak terjatuh.  Energi goib terasa semakin kuat.

Mata kedua sedulur Badui tersebut menyorot tajam ke segala arah. Bak elang yang siaga terhadap semua kejadian, kami tenang berjalan di belakangnya. Hingga sampai ke sebuah sungai kecil berbatu. Air terasa sangat dingin, begitu kaki kami celupkan di dalamnya. Tak kuasa rasanya berlama-lama di tempat itu. Namun panggilan membawa kami pada kesimpulan bahwa kami tetap harus disitu memenuhi niat kami.

Kami terpaku sesaat di sungai. Sesepuh Badui yang kami panggil Abah itu, tiba-tiba mengeluarkan suara adzan dan qomat. Dilanjutkan dengan bertawassul mengirimkan al fatihah ke para penghulu agama dan leluhur-leluhur terdahulu. Kami tercenung karena suara sederhana itu menghentikan jantung kami sesaat.

Setelah pakaian dilepas dan bertelanjang, kami menceburkan diri ke air yang diperkirakan sekitar sepuluh derajat celcius tersebut. Abah mengambil posisi duduk, meramu bunga tujuh warna dan membakar buhur. Satu persatu kami diminta untuk berada di depannya dalam posisi berjongkok. Kepala kami diminta untuk menyelam sejenak dan kemudian kepala kami diguyur air bunga tersebut. Doa-doa kepada Allah SWT dilantunkan dari mulutnya.

Itu adalah pengiajazahan langsung yang baru saja kami terima malam tadi. Abah tidak memberi tahu apapun terkait dengan doa yang baru dilantunkannya, apa faedahnya, bagaimana menggunakannya. Kami dalam hati hanya mengucapkan; “Qobiltu saya terima doa dari abah atas ijin Tuhan Yang Maha Kuasa”.

Abah adalah sosok yang tawadu, meski ilmu kependekarannya sudah sangat mumpuni, sehari-hari dia berpenampilan sangat bersahaja. Hampir semua tingkat ilmu diajarkannya kepada siapapun yang menginginkan mulai ilmu debus, ilmu kanuragan/kejadukan, ilmu-ilmu asihan, ilmu kerezekian dan lain sebagainya. Ilmu-ilmu diajarkannya tanpa pamrih dan hanya ingin bertujuan agar yang diajarinya mau untuk menebarkan kebaikan dan kemanfaatan, amar makruf nahi munkar.

Usianya memang sudah tergolong tua. Namun di Badui, usia seperti Abah masih terbilang belum terlalu tua. Sebab gurunya abah ini masih hidup dan berusia 130 tahun. Hidup dekat dan menyatu dengan alam, hati damai tenang dan tidak banyak keinginan, membuat usia manusia melenggang santai di sana dan tahu-taru berusia seratus tahun bahkan lebih. Abah masih terlihat berusia empat puluhan. Tiada satu keriput pun di kulitnya, giginya masih utuh dan terlihat gagah.

Diijazahi oleh Abah, badan terasa nyaman, sehat dan hati terasa tenang. Ini adalah satu episode perjalanan spiritual yang kami tidak pernah menduga sebelumnya. PANTA RHEI—semua mengalir gemericik sebagaimana aliran sungai menuju ke muara. Kami semua hanya bisa menunggu dengan berkarya sebaik-baiknya sesuai kemampuan dan kapasitas yang diberikan pada kami. Tidak akan kami sia-siakan sisa waktu untuk tidak memaknai apa yang tergelar ini. Hidup adalah tugas untuk meramu arti dan menemukan hakikat.

Dan dari doa-doa yang terlantun dari hati ikhlasnya Abah, kami terasa mendapatkan kekuatan dan semangat baru untuk menyelami hakikat Rasa. Yang empunya rasa ini ialah jasad/jasmani. Yaitu rasa lelah, lemah dan capai. Kalau Rasa lapar dan haus itu bukan milik jasmani melainkan milik nafsu.

Mengapa jasmani memiliki rasa ini?. Karena sesungguhnya dalam jasmani/jasad ada penguasanya/penunggunya. Orang tentu mengenal nama Qodham atau Alif Lam Alif. Itulah sebabnya maka didalam Al Qur’an, Allah memerintahkan agar kita mau merawat jasad/jasmani. Kalau perlu, kita harus menanyakan kepada orang yang ahli/mengerti. Selain merawatnya agar tidak terkena penyakit jasmani, kita pun harus merawatnya agar tidak menjadi korban karena ulah hawa nafsu maka jasad kedinginan, kepanasan ataupun masuk angin.

Bila soal-soal ini kita perhatikan dengan sungguh-sungguh, niscaya jasad kita juga tahu terima kasih. Kalau dia kita perlakukan dengan baik, maka kebaikan kita pun akan dibalas dengan kebaikan pula. Karena sesungguhnya jasad itu pakaian sementara untuk hidup sementara dialam fana ini. Kalau selama hidup jasad kita rawat dengan sungguh-sungguh kita bersihkan dengan mandi, sebelum puasa keramas, sebelum sholat berwudhu dulu agar tidak menjadi korban hawa nafsu, serta kita lindungi dari pengaruh alam, maka dikala hendak mati jasad yang sudah suci itu pasti akan mau diajak bersama-sama kembali keasal, untuk kembali ke sang pencipta.

Seperti halnya kita bersama-sama pada waktu lahir kealam fana ini. Mati yang demikian dinamakan mati tilem (tidur) atau mati sempurna. Pandangan yang kita lakukan malah sebaliknya. Mati dengan meninggalkan jasad. Kalau jasad sampai dikubur, maka Qodham atau Alif Lam Alif, akan mengalami siksa kubur. Dan kelak dihari kiamat akan dibangkitkan.

Dalam mencari nafkah baik lahir maupun batin, jangan mengabaikan jasad. Jangan melupakan waktu istirahat. Sebab itu Allah ciptakan waktu 24 jam (8 jam untuk mencari nafkah, 8 jam untuk beribadah, dan 8 jam untuk beristirahat). Juga dalam hal berpuasa, jangan sampai mengabaikan jasad. Sebab itu Allah tidak suka yang berlebih-lebihan. Karena yang suka berlebih-lebihan itu adalah Dzad (angan-angan). Karena dzad mempunyai sifat selalu tidak merasa puas.

Dari mana rasa itu? Apapun yang datangnya dari luar tubuh dan menimbulkan adanya rasa, maka rasa itu dinamakan sejatinya rasa. Jadi sejatinya rasa adalah milik panca indera yaitu mata: Senang karena mata dapat melihat sesuatu yang indah atau tidak senang bila mata melihat hal-hal yang tidak pada tenpatnya. Telinga: Senang karena mendengar suara yang merdu atau tidak senang mendengar isu atau fitnahan orang. Hidung: Senang mencium bebauan wangi/harum atau tidak senang mencium bebauan yang busuk. Kulit: Senang kalau bersinggungan dengan orang yang disayang atau tidak senang bersunggungan dengan orang yang nerpenyakitan. Lidah : Senang makan atau minum yang enak-enak atau tidak senang memakan makanan yang busuk.

Rasa sejati akan timbul bila terdapat rangsangan dari luar, dan dari tubuh kita akan mengeluarkan sesuatu. Pada waktu keluarnya sesuatu dari tubuh kita itu, maka timbul Rasa Sejati. Untuk jelasnya lagi Rasa Sejati timbul pada waktu klimaks/pada waktu melakukan hubungan seksual.

Sementara, Rasa Tunggal Jati sering diperoleh oleh mereka yang sudah dapat melakukan Meraga Sukma (keluar dari jasad) dan Solat Dha’im. Beda antara Meraga Sukma dan Sholat Dha’im ialah : Kalau Meraga Sukma jasad masih ada.batin keluar dan dapat pergi kemana saja. Sementara bila Sholat Dha’im jasad dan batin kembali keujud Nur dan lalu dapat pergi kemana saja yang dikehendaki. Juga dapat kembali dan bepergian ke Alam Lauhul Makhfuz.

Bila kita Meraga Sukma maupun sholat Dha’im, mula pertama dari ujung kaki akan terasa seperti ada “aliran“ yang menuju ke atas kekepala. Pada Meraga sukma, bila “aliran“ itu setibanya didada akan menimbulkan rasa ragu-ragu/khawatir atau was-was. Bila kita ikhlas, maka kejadian selanjutnya kita dapat keluar dari jasad, dan yang keluar itu ternyata masih memiliki jasad. Memang sesungguhnyalah, bahwa setiap manusia itu memiliki 3 buah wadah lagi, selain jasad yang tampak oleh mata lahir ini. Pada bagian lain bab ini akan kita kupas.

Kalau sholat Dha’im bertepatan dengan adanya “Aliran“ dari arah ujung kaki, maka dengan cepat bagian tubuh kita akan “Menghilang“ dan kita akan berubah menjadi seberkas Nur sebesar biji ketumbar dibelah menjadi tujuh bagian. Bercahaya bagai sebutir berlian yang berkilauan. Nah, rasa keluar dari jasad atau rasa berubah menjadi setitik Nur. Nur inilah yang disebut sebagai Rasa Tunggal Jati. Selain itu, baik dalam Meraga Sukma maupun Sholat Dha’im. Bila hendak bepergian kemana-mana kita tinggal meniatkan saja maka sudah sampai.

Rasa ini juga dapat disebut Rasa Tunggal Jati. Sebab dalam bepergian itu kita sudah tidak merasakan haus, lapar, kehausan, kedinginan dan lain sebagainya. Bagi mereka yang berkeinginan untuk dapat melakukan Meraga Sukma dianjurkan untuk sering Tirakat puasa. Jadikanlah puasa itu sebagai suatu kegemaran. Maka di momen Ramadhan yang akan kita jalani ini kita memulai berlatih agar nanti kita sampai pada tujuan azali kesemua itu yaitu menjadi orang yang bertakwa, Dan yang penting juga jangan dilupakan melakukan Dzikir gabungan Nafi-Isbat dan QOLBU. Dalam sehari-hari sudah pada tahapan lillahi ta’ala.

Hal ini berlaku baik mereka yang menghendaki untuk dapat melakukan Sholat Dha’im. Kalau Meraga Sukma mempergunakan Nur Allah, tapi bila Sholat Dha’im sudah mempergunakan Nur Illahi. Karena ada Rasa Sejati, maka Rasa merupakan asal usul segala sesuatu yang ada. Oleh sebab itu bila hendak mendalami ilmu Ma’rifat dianjurkan untuk selalu bertindak berdasarkan rasa. Sehari-hari kita berlatih olah manah (orah rasa) dengan cara jangan membenci, jangan menaruh dendam, jangan iri, jangan sirik, jangan bertindak sembrono, jangan bertindak kasar terhadap sesama manusia.

Sebab dihadapan Tuhan Yang Maha Kuasa, kita ini semua sama karena masing-masing memiliki rasa. Rasa merupakan lingkaran penghubung antara etika pergaulan antar manusia, juga sebagai lingkaran penghubung pergaulan umat dengan Penciptanya. Rasa Tunggal jati ini mempunyai arti dan makna yang luas. Karena bagai hidup itu sendiri. Apapun yang hidup mempunyai arti. Dan apapun yang mempunyai arti itu hidup. Sama halnya apapun yang hidup mempunyai Rasa. Dan apapun yang mempunyai Rasa itu Hidup.

Dengan penjelasan ini, maka dapat diambil kesimpilan bahwa yang mendiami Rasa itu adalah Hidup. Dan Hidup itu sendiri ialah berasal dari Sang Pencipta. Padahal kita semua ini umat yang hidup. Jadi sama-sama ada Penciptanya. Oleh sebab itu, umat manusia harus saling menghormati, tidak saling merugikan, dan harus saling tolong menolong karena sesungguhnya kita satu kesatuan dalam keberagaman. Semoga kita mampu untuk menjadi manusia yang wajar seperti ini. Amin. @@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 165 Komentar

Diproteksi: DAFTAR ANGGOTA KWA SELURUH DUNIA (13)


Konten ini diproteksi dengan kata sandi. Untuk melihatnya cukup masukkan kata sandi Anda di bawah ini:

Categories: >DAFTAR ANGGOTA K.W.A | Masukkan kata sandi Anda untuk melihat komentar.

MEMBUAT SARANA UANG BIBIT


Assalamu’alaikum kepada para sesepuh kwa yang saya hormati dan bolo kwa semuanya ,pertama tama marilah kita panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Alloh tuhan semesta alam hingga sampai saat ini kita dapat berkumpul bersama untuk dapat belajar di kampus kwa yang kita cintai ini,sholawat serta salam smoga tercurahkan kehadirat Rosululloh saw beserta kluarga sahabat dan waliyulloh baik yang telah wafat atau yang masih hidup,sederet pengalaman saya menemukan jalan hidup untuk mengatasi problem hidup mudah-mudahan postingan ini berguna buat semua:

Berikut ini akan saya babarkan pembuatan uang bibit ,jadi saya tekankan ini bukan uang balik….uang balik itu tidak pernah ada itu hanya tipuan paranormal yang menggunakan trik mafia perdukunan,kalopun ada itu hanya trik sulap….jadi jangan di bikin sesuatu yang paling fenomenal….. Kecuali yang melakukan waliyulloh….lain itu critanya,

Berikut ini tata caranya:

@ siapkan uang kertas yang baru,atau kliatan masih baru tidak lecek terserah mau klipatan 1000,2000,5000,10.000

@  siapkan minyak melati

- langkah pertama  kerjakan habis isyak

-sholat hajat 2 rekaat,yang pasti sedulur sudah tau pengerjaannya
-kemudian uang siapkan dihadapan kita bersama minyak melatinya

- habis sholat hajat baca wirid penetraliasai hawa negatif:

-astaghfirullohal ‘adziim 100 x

-sholallohu ‘ala muhammad sholallohu’alihi wassalam 100x

- ya lathif  300x

kemudian baca tawasul sesuai yang sedulur baca tiap hari

Baca sholwat barokah:

ALLOHUMMA SHOLLI  WASSALIM ‘ALA SAYYIDINA MUKHAMADIN SHOLATAN YUBARIKUU LII MAALI WAYAS TAQIIMU BIHA KHAALI WA’ALA ALIHI WASHOKH BIHI WASSALIIM 100X

KEMUDIAN MEMBACA AT TOLAQ AYAT 3:

WAMAYYATIQILLOHA YAJ’ALUHU MAKHROJA WAYARZUQHU MIN KHAITSU LAYAKH TASIB,WAMAYYATAWAKAL ‘ALALLOHI

FAHUWA KHASBUH,INNALLOHA BALIGHU AMRI QOD JA’ALLOHI LIKULLI SYAI-IN QODRO…….700x /1000X

 KEMUDIAN BACA:

ALLOHUMMA URIIDU   AN -TU ‘ TIYAANI   MAALAN   KATSIRO……300 x

Selesai pembacaan ambil nafas tahan di perut,kemudian hembuskan ke uang yang ada di depan kita…….  lakukan 3 x  kemudian kasih sedikit minyak melati sedikit saja sak…toletan jari manis, oleskan tepat ditengah-tengah uang kertas tsb, setelah selesai simpan uang di dompet dengan rapi ,dan besoknya siap digunakan dengan cara yang sama,uang  bibit tersebut akan maximal bisa digunakan klo dikerjakan selama awal bulan romadhon sampai bulan romadhon selesai, klo sudah uang tersebut anda lapisi plastik bening ato dilaminating biar gak rusak untuk perawatannya cukup di kasih minyak bibit melati. Manfaat dari amalan ini adalah untuk mengatasi masalah finansial buat mencukupi kebutuhan sehari-hari, apalagi mau menghadapi lebaran tentunya butuh fulus banyak,moga bermanfaat……

DEMIKIAN SEDIKIT PEMBABARAN DARI SAYA SELEBIHNYA SAYA KUASAKAN KEPADA ALLOH SWT,   HAK CIPTA HANYA DARI ALLOH SWT SALAM HORMAT –

MBAH ARIFYANTO
85731493248
zano.street99@yahoo.co.id

============================

CATATAN REDAKSI: UNTUK AMALAN-AMALAN KEREJEKIAN/KEKAYAAN DLL HATI-HATI PENIPUAN OKNUM YANG TIDAK BERTANGGUNGJAWAB .

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 304 Komentar

KISAH PARA PAHLAWAN ACEH MENANG PERANG: CERDAS, ULET DAN TANGGUH


SINGA MARANTEE

Assalamu ‘alaikum wr, wb…..

Melalui artikel ini, saya SINGA MARANTEE ingin menguak sejarah yang hilang, menurut sejarah yang ditulis Belanda, Aceh adalah daerah yang tidak pernah di taklukkan, prajurit Aceh masa itu daya tahannya luar biasa, sebenarnya yang menjadi spiritnya adalah kalimah LAA ILAAHAILLALLAH dan hikayat PRANG SABI ( perang sabil / sabilillah ) yang dikarang oleh ABU KRUENG KALEE, setiap prajurit akan berangkat perang dibacakannlah syair hikayat prang sabi yang membuat darah pejuang Aceh mendidih, karena berperang mengahadapi KAPHE BEULANDA ( kafir belanda )., makanya spiritnya menguat krn jihad yang jaminannya SYURGA FIRDAUS.

 Adalah umum pada masa itu mereka memiliki ilmu panglimunan ( ilmu menghilang ) , ilmu itu sudah umum dimiliki prajurit Aceh masa itu, dan prajurit Aceh mempunyai pedang yang bisa memotong musuh dalam jarak 300- 500 Meter, ini dicatat dalam sejarah belanda, melalui Koran lokal pada masa Gubernur Abdullah Puteh menjabat sebelum tsunami, pemerintah Belanda pernah memulangkan sebilah pedang berkunci rantai ( PEUDEUNG MEUGUNCI ) dan sebilah SIWAH emas ( mirip rencong tapi bergagang lurus dan panjang )yang menurut cerita milik pejuang dari dataran tinggi Gayo ( milik panglima kumis tembaga gelarnya oleh belanda ).., beliau berjuang seorang diri, tidak pernah mau bergabung dengan kaum prajurit Aceh umumnya kala itu, pedang terkunci tersebut dalam pembutannya setelah ditempa dalam keadaan panas membara lalu disapukan pada ketiak sebagai sepuhan, bukan dalam air seperti membuat pisau atau parang apada umumnya, demikian salahsatu cerita dari pak Kaman / kamaruzzaman di tanah merah gayo, kab. Aceh utara, Nanggroe Aceh Darussalam…

 Untuk sekedsar melestarikan budaya kita, saya ingin tau apakah masih ada pedang semikian dan ahlinya saat ini…?? Ini sebagai rasa penasaran saya bagaimana cara bertempur orang tempoe doeloe menghadapi musuh dengan trik dan peralatan yang lebih canggih masa itu.

 

Sultan Iskandar Muda (1593-1636)

1. Riwayat Hidup
Snouck Hurgronje pernah menyatakan bahwa kisah tentang Sultan Iskandar Muda hanya dongeng belaka. Sayangnya, Horgronje hanya mendasari penelitiannya pada karya-karya klasik Melayu, seperti Bustan al-Salatin, Hikayat Aceh, dan Adat Aceh. Sejarah Aceh rupanya dipahami Horgronje secara keliru. Sebagai perbandingan, kita bisa membaca penelitian Denys Lombard, Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636) yang di samping menggunakan sumber-sumber Melayu setempat (Bustan al-Salatin, Hikayat aceh, dan Adat Aceh), juga menggunakan sumber-sumber Eropa dan Tionghoa. Di samping kedua sumber itu, Lombard juga menggunakan kesaksian para musafir Eropa yang sempat tinggal di Aceh pada saat itu, seperti Frederik de Houtman, John Davis, dan terutama Augustin de Beaulieu. Penelitian Lombard bisa dikatakan mampu menyajikan fakta sejarah sesuai aslinya, dan itu berarti ia justru membalikkan tesis Horgronje. Lombard membuktikan bahwa masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda merupakan masa kejayaan yang sangat gemilang.

Sultan Iskandar Muda merupakan raja paling berpengaruh pada Kerajaan Aceh. Ia lahir di Aceh pada tahun 1593. Nama kecilnya adalah Perkasa Alamo rang aceh menyebut PO TEUMEURHOM karena menurut orang tua-tua dulu dia adalahseorang pemuda sakti yang jago bela diri yang memenangkan pertarungan melalui sayembara untuk jadi Raja , po = asal kata dari pertanyaan masyarakat waktu itu waktu menyaksikan pertarungan..anak siapa..? atau seupo = siapa..?? TEUMEREUHOM = asal kata dari HOM = entah/ gak tau atau tidak dikenal... karena waktu itu Iskandar muda dating dgn menunggangi gajah putih, Dari pihak ibu, Sultan Iskandar Muda merupakan keturunan dari Raja Darul-Kamal, sedangkan dari pihak ayah ia merupakan keturunan Raja Makota Alam. Ibunya bernama Putri Raja Indra Bangsa, atau nama lainnya Paduka Syah Alam, yang merupakan anak dari Sultan Alauddin Riayat Syah, Sultan Aceh ke-10. Putri Raja Indra Bangsa menikah dengan Sultan Mansyur Syah, putra dari Sultan Abdul Jalil (yang merupakan putra dari Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahhar, Sultan Aceh ke-3). Jadi, sebenarnya ayah dan ibu dari Sultan Iskandar Muda merupakan sama-sama pewaris kerajaan. Sultan Iskandar Muda menikah dengan seorang putri dari Kesultanan Pahang, yang lebih dikenal dengan Putroe Phang. Dari hasil pernikahan ini, Sultan Iskandar Muda dikaruniai dua buah anak, yaitu Meurah Pupok dan Putri Safiah. Perjalanan Sultan Iskandar Muda ke Johor dan Melaka pada 1612 sempat berhenti di sebuah Tajung (pertemuan sungai Asahan dan Silau) untuk bertemu dengan Raja Simargolang. Sultan Iskandar Muda akhirnya menikahi salah seorang puteri Raja Simargolang yang kemudian dikaruniai seorang anak bernama Abdul Jalil (yang dinobatkan sebagai Sultan Asahan 1).

Sultan Iskandar Muda mulai menduduki tahta Kerajaan Aceh pada usia yang terbilang cukup muda (14 tahun). Ia berkuasa di Kerajaan Aceh antara 1607 hingga 1636, atau hanya selama 29 tahun. Kapan ia mulai memangku jabatan raja menjadi perdebatan di kalangan ahli sejarah. Namun, mengacu pada Bustan al-Salatin, ia dinyatakan sebagai sultan pada tanggal 6 Dzulhijah 1015 H atau sekitar awal April 1607. Masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda tersebut ini dikenal sebagai masa paling gemilang dalam sejarah Kerajaan Aceh Darussalam. Ia dikenal sangat piawai dalam membangun Kerajaan Aceh menjadi suatu kerajaan yang kuat, besar, dan tidak saja disegani oleh kerajaan-kerajaan lain di nusantara, namun juga oleh dunia luar. Pada masa kekuasaannya, Kerajaan Aceh termasuk dalam lima kerajaan terbesar di dunia.

Langkah utama yang ditempuh Sultan Iskandar Muda untuk memperkuat kerajaan adalah dengan membangun angkatan perang yang umumnya diisi dengan tentara-tentara muda. Sultan Iskandar Muda pernah menaklukan Deli, Johor, Bintan, Pahang, Kedah, dan Nias sejak tahun 1612 hingga 1625. Sultan Iskandar Muda juga sangat memperhatikan tatanan dan peraturan perekonomian kerajaan. Dalam wilayah kerajaan terdapat bandar transito (Kutaraja, kini lebih dikenal Banda Aceh) yang letaknya sangat strategis sehingga dapat menghubungkan roda perdagangan kerajaan dengan dunia luar, terutama negeri Barat. Dengan demikian, tentu perekonomian kerajaan sangat terbantu dan meningkat tajam.

Dalam bidang ekonomi, Sultan Iskandar Muda menerapakan sistem baitulmal. Ia juga pernah melakukan reformasi perdagangan dengan kebijakan menaikkan cukai eksport untuk memperbaiki nasib rakyatnya. Pada masanya, sempat dibangun juga saluran dari sungai menuju laut yang panjangnya mencapai sebelas kilometer. Pembangunan saluran tersebut dimaksudkan untuk pengairan sawah-sawah penduduk, termasuk juga sebagai pasokan air bagi kehidupan masyarakat dalam kerajaan.

Sultan Iskandar Muda dikenal memiliki hubungan yang sangat baik dengan Eropa. Konon, ia pernah menjalin komunikasi yang baik dengan Inggris, Belanda, Perancis, dan Ustmaniyah Turki. Sebagai contoh, pada abad ke-16 Sultan Iskandar Muda pernah menjalin komunikasi yang harmonis dengan Kerajaan Inggris yang pada saat itu dipegang oleh Ratu Elizabeth 1. Melalui utusannya, Sir James Lancester, Ratu Elizabeth 1 memulai isi surat yang disampaikan kepada Sultan Iskandar Muda dengan kalimat: “Kepada Saudara Hamba, Raja Aceh Darussalam”. Sultan kemudian menjawabnya dengan kalimat berikut: “I am the mighty ruler of the religions below the wind, who holds way over the land of Aceh and over the land of Sumatera and over all the lands tributary to Aceh, which stretch from the sunrise to the sunset (Hambalah sang penguasa perkasa negeri-negeri di bawah angin, yang terhimpun di atas tanah Aceh dan atas tanah Sumatera dan atas seluruh wilayah-wilayah yang tunduk kepada Aceh, yang terbentang dari ufuk matahari terbit hingga matahari terbenam)”.

Pada masa pemerintahannya, terdapat sejumlah ulama besar. Di antaranya adalah Syiah Kuala sebagai mufti besar di Kerajaan Aceh pada masa Sultan Iskandar Muda. Hubungan keduanya adalah sebagai penguasa dan ulama yang saling mengisi proses perjalanan roda pemerintahan. Hubungan tersebut diibaratkan: Adat bak Peutu Mereuhum, syarak bak Syiah di Kuala (adat di bawah kekuasaan Sultan Iskandar Muda, kehidupan beragama di bawah keputusan Tuan Syiah Kuala). Sultan Iskandar Muda juga sangat mempercayai ulama lain yang sangat terkenal pada saat itu, yaitu Syeikh Hamzah Fanshuri dan Syeikh Syamsuddin as-Sumatrani. Kedua ulama ini juga banyak mempengaruhi kebijakan Sultan. Kedua merupakan sastrawan terbesar dalam sejarah nusantara.

Sultan Iskandar Muda meninggal di Aceh pada tanggal 27 Desember 1636, dalam usia yang terbilang masih cukup muda, yaitu 43 tahun. Oleh karena sudah tidak ada anak laki-lakinya yang masih hidup, maka tahta kekuasaanya kemudian dipegang oleh menantunya, Sultan Iskandar Tani (1636-1641). Setelah Sultan Iskandar Tani wafat tahta kerajaan kemudian dipegang janda Iskandar Tani, yaitu Sultanah Tajul Alam Syafiatudin Syah atau Puteri Safiah (1641-1675), yang juga merupakan puteri dari Sultan Iskandar Muda.

2. Pemikiran
Sultan Iskandar Muda merupakan pahlawan nasional yang telah banyak berjasa dalam proses pembentukan karakter yang sangat kuat bagi nusantara dan Indonesia. Selama menjadi raja, Sultan Iskandar Muda menunjukkan sikap anti-kolonialismenya. Ia bahkan sangat tegas terhadap kerajaan-kerajaan yang membangun hubungan atau kerjasama dengan Portugis, sebagai salah satu penjajah pada saat itu. Sultan Iskandar Muda mempunyai karakter yang sangat tegas dalam menghalau segala bentuk dominasi kolonialisme. Sebagai contoh, kurun waktu 1573-1627 Sultan Iskandar Muda pernah melancarkan jihad perang melawan Portugis sebanyak 16 kali, maski semuanya gagal karena kuatnya benteng pertahanan musuh. Kekalahan tersebut menyebabkan jumlah penduduk turun drastis, sehingga Sultan Iskandar Muda mengambil kebijakan untuk menarik seluruh pendudukan di daerah-daerah taklukannya, seperti di Sumatera Barat, Kedah, Pahang, Johor dan Melaka, Perak, serta Deli, untuk migrasi ke daerah Aceh inti.

Pada saat berkuasa, Sultan Iskandar Muda membagi aturan hukum dan tata negara ke dalam empat bidang yang kemudian dijabarkan secara praktis sesuai dengan tatanan kebudayaan masyarakat Aceh. Pertama, bidang hukum yang diserahkan kepada syaikhul Islam atau Qadhi Malikul Adil. Hukum merupakan asas tentang jaminan terciptanya keamanan dan perdamaian. Dengan adanya hukum diharapkan bahwa peraturan formal ini dapat menjamin dan melindungi segala kepentingan rakyat. Kedua, bidang adat-istiadat yang diserahkan kepada kebijaksanaan sultan dan penasehat. Bidang ini merupakan perangkat undang-undang yang berperan besar dalam mengatur tata negara tentang martabat hulu balang dan pembesar kerajaan. Ketiga, bidang resam yang merupakan urusan panglima. Resam adalah peraturan yang telah menjadi adat istiadat (kebiasaan) dan diimpelentasikan melalui perangkat hukum dan adat. Artinya, setiap peraturan yang tidak diketahui kemudian ditentukan melalui resam yang dilakukan secara gotong-royong. Keempat, bidang qanun yang merupakan kebijakan Maharani Putro Phang sebagai permaisuri Sultan Iskandar Muda. Aspek ini telah berlaku sejak berdirinya Kerajaan Aceh.

Sultan Iskandar Muda dikenal sebagai raja yang sangat tegas dalam menerapkan syariat Islam. Ia bahkan pernah melakukan rajam terhadap puteranya sendiri, yang bernama Meurah Pupok karena melakukan perzinaan dengan istri seorang perwira. Sultan Iskandar Muda juga pernah mengeluarkan kebijakan tentang pengharaman riba. Tidak aneh jika kini Nagroe Aceh Darussalam menerapkan syariat Islam karena memang jejak penerapannya sudah ada sejak zaman dahulu kala. Sultan Iskandar Muda juga sangat menyukai tasawuf.

Sultan Iskandar Muda pernah berwasiat agar mengamalkan delapan perkara, di antaranya adalah sebagai berikut. Pertama, ia berwasiat kepada para wazir, hulubalang, pegawai, dan rakyat agar selalu ingat kepada Allah dan memenuhi janji yang telah diucapkan. Kedua, jangan sampai para raja menghina alim ulama dan ahli bijaksana. Ketiga, jangan sampai para raja percaya terhadap apa yang datang dari pihak musuh. Keempat, para raja diharapkan membeli banyak senjata. Pembelian senjata dimaksudkan untuk meningkatkan kekuatan dan pertahanan kerajaan dari kemungkinan serangan musuh setiap saat. Kelima, hendaknya para raja mempunyai sifat pemurah (turun tangan). Para raja dituntut untuk dapat memperhatikan nasib rakyatnya. Keenam, hendaknya para raja menjalankan hukum berdasarkan al-Qur‘an dan sunnah Rasul. Di samping kedua sumber tersebut, sumber hukum lain yang harus dipegang adalah qiyas dan ijma‘, baru kemudian berpegangan pada hukum kerajaan, adat, resam, dan qanun. Wasiat-wasiat tersebut mengindikasikan bahwa Sultan Iskandar Muda merupakan pemimpin yang saleh, bijaksana, serta memperhatikan kepentingan agama, rakyat, dan kerajaan.

Hamka melihat kepribadian Sultan Iskandar Muda sebagai pemimpin yang saleh dan berpegangan teguh pada prinsip dan syariat Islam. Tentang kepribadian kepemimpinannya, Antony Reid melihat bahwa Sultan Iskandar Muda sangat berhasil menjalankan kekuasaan yang otoriter, sentralistis, dan selalu bersifat ekspansionis. Karakter Sultan Iskandar tersebut memang banyak dipengaruhi oleh sifat kakeknya. Kejayaan dan kegemilangan Kerajaan Aceh pada saat itu memang tidak luput dari karakter kekuasaan monarkhi karena model kerajaan berbeda dengan konsep kenegaraan modern yang sudah demokratis.

3. Karya
Surat Sultan Iskandar Muda kepada Raja Inggris King James 1 pada tahun 1615 merupakan salah satu karyanya yang sungguh mengagumkan. Surat (manuskrip) tersebut berbahasa Melayu, dipenuhi dengan hiasan yang sangat indah berupa motif-motif kembang, tingginya mencapai satu meter, dan konon katanya surat itu termasuk surat terbesar sepanjang sejarah. Surat tersebut ditulis sebagai bentuk keinginan kuat untuk menunjukkan kepada dunia internasional betapa pentingnya Kerajaan Aceh sebagai kekuatan utama di dunia.

Masa kejayaan Sultan Iskandar Muda, di samping kebijakan reformatifnya, juga ditandai dengan luasnya cakupan kekuasaannya. Pada masanya, wilayah Kerajaan Aceh telah mencapai pesisir barat Minangkabau dan Perak.

Teuku Umar (1854 – 1899)

1. Riwayat Hidup
Aceh merupakan salah satu wilayah yang memiliki peran sangat besar terhadap perjuangan dan kemerdekaan bangsa Indonesia dari tangan penjajah. Di tanah ini, banyak muncul pahlawan-pahlawan nasional yang sangat berjasa, tidak hanya untuk rakyat Aceh saja tapi juga untuk rakyat Indonesia pada umumnya. Salah satu pahlawan tersebut adalah Teuku Umar. Ia dilahirkan pada tahun 1854 (tanggal dan bulannya tidak tercatat) di Meulaboh, Aceh Barat, Indonesia. Ia merupakan salah seorang pahlawan nasional yang pernah memimpin perang gerilya di Aceh sejak tahun 1873 hingga tahun 1899.

Kakek Teuku Umar adalah keturunan Minangkabau, yaitu Datuk Makdum Sati yang pernah berjasa terhadap Sultan Aceh. Datuk Makdum Sati mempunyai dua orang putra, yaitu Nantan Setia dan Achmad Mahmud. Teuku Achmad Mahmud merupakan bapak Teuku Umar.
Ketika perang aceh meletus pada 1873 Teuku Umar ikut serta berjuang bersama pejuang-pejuang Aceh lainnya, padahal umurnya baru menginjak19 tahun. Mulanya ia berjuang di kampungnya sendiri yang kemudian dilanjukan ke Aceh Barat. Pada umur ini, Teuku Umar juga sudah diangkat sebagai keuchik (kepala desa) di daerah Daya Meulaboh.

Kepribadiaan Teuku Umar sejak kecil dikenal sebagai anak yang cerdas, pemberani, dan kadang suka berkelahi dengan teman-teman sebayanya. Ia juga memiliki sifat yang keras dan pantang menyerah dalam menghadapi segala persoalan. Teuku Umar tidak pernah mendapakan pendidikan formal. Meski demikian, ia mampu menjadi seorang pemimpin yang kuat, cerdas, dan pemberani. Pernikahan Teuku Umar tidak sekali dilakukan. Ketika umurnya sudah menginjak usia 20 tahun, Teuku Umar menikah dengan Nyak Sofiah, anak Uleebalang Glumpang. Untuk meningkatkan derajat dirinya, Teuku Umar kemudian menikah lagi dengan Nyak Malighai, puteri dari Panglima Sagi XXV Mukim. Sejak saat itu, ia mulai menggunakan gelar Teuku. Pada tahun 1880, Teuku Umar menikahi janda Cut Nyak Dien, puteri pamannya. Sebenarnya Cut Nyak Dien sudah mempunyai suami (Teuku Ibrahim Lamnga) tapi telah meninggal dunia pada Juni 1978 dalam peperangan melawan Belanda di Gle Tarun. Setelah itu, Cut Nyak Dien bertemu dan jatuh cinta dengan Teuku Umar. Keduanya kemudian berjuang bersama melancarkan serangan terhadap pos-pos Belanda di Krueng. Hasil perkawinan keduanya adalah anak perempuan bernama Cut Gambang yang lahir di tempat pengungsian karena orang tuanya tengah berjuang dalam medan tempur.

Belanda sempat berdamai dengan pasukan Teuku Umar pada tahun 1883. Satu tahun kemudian (tahun 1884) pecah kembali perang di antara keduanya. Pada tahun 1893, Teuku Umar kemudian mencari strategi bagaimana dirinya dapat memperoleh senjata dari pihak musuh (Belanda). Akhirnya, Teuku Umar berpura-pura menjadi antek (kaki tangan) Belanda. Istrinya, Cut Nyak Dien pernah sempat bingung, malu, dan marah atas keputusan suaminya itu. Gubernur Van Teijn pada saat itu juga bermaksud memanfaatkan Teuku Umar sebagai cara untuk merebut hati rakyat Aceh. Teuku Umar kemudian masuk dinas militer. Atas keterlibatan tersebut, pada 1 Januari 1894, Teuku Umar sempat dianugerahi gelar Johan Pahlawan dan diizinkan untuk membentuk legium pasukan sendiri yang berjumlah 250 tentara dengan senjata lengkap.

Saat bergabung dengan Belanda, Teuku Umar sebenarnya pernah menundukkan pos-pos pertahanan Aceh. Peperangan tersebut dilakukan Teuku Umar secara pura-pura. Sebab, sebelumnya Teuku Umar telah memberitahukan terlebih dahulu kepada para pejuang Aceh. Sebagai kompensasi atas keberhasilannya itu, pemintaan Teuku Umar untuk menambah 17 orang panglima dan 120 orang prajurit, termasuk seorang Pangleot sebagai tangan kanannya akhirnya dikabulkan oleh Gubernur Deykerhorf yang menggantikan Gubernur Ban Teijn.
Pada tanggal 30 Maret 1896, Teuku Umar kemudian keluar dari dinas militer Belanda dengan membawa pasukannya beserta 800 pucuk senjata, 25.000 butir peluru, 500 kg amunisi, dan uang 18.000 dollar. Dengan kekuatan yang semakin bertambah, Teuku Umar bersama 15 orang berbalik kembali membela rakyat Aceh. Siasat dan strategi perang yang amat lihai tersebut dimaksudkan untuk mengelabuhi kekuatan Belanda pada saat itu yang amat kuat dan sangat sukar ditaklukkan. Pada saat itu, perjuangan Teuku Umar mendapat dukungan dari Teuku Panglima Polem Muhammad Daud yang bersama 400 orang ikut menghadapi serangan Belanda. Dalam pertempuran tersebut, sebanyak 25 orang tewas dan 190 orang luka-luka di pihak Belanda.

Gubernur Deykerhorf merasa tersakiti dengan siasat yang dilakukan Teuku Umar. Van Heutsz diperintahkan agar mengerahkan pasukan secara besar-besaran untuk menangkap Teuku Umar. Serangan secara mendadak ke daerah Melaboh menyebabkan Teuku Umar tertembak dan gugur dalam medan perang, yaitu di Kampung Mugo, pedalaman Meulaboh pada tanggal10 Februari 1899.

2. Pemikiran
Sejak kecil, Teuku Umar sebenarnya memiliki pemikiran yang kerap sulit dipahami oleh teman-temannya. Ketika beranjak dewasa pun pemikirannya juga masih sulit dipahami. Sebagaimana telah diulas di atas bahwa taktik Teuku Umar yang berpura-pura menjadi antek Belanda adalah sebagai bentuk “kerumitan” pemikiran dalam dirinya. Beragam tafsir muncul dalam memahami pemikiran Teuku Umar tentang taktik kepura-puraan tersebut. Meski demikian, yang pasti bahwa taktik dan strategi tersebut dinilai sangat jitu dalam menghadapi gempuran kolonial Belanda yang memiliki pasukan serta senjata sangat lengkap. Teuku Umar memandang bahwa “cara yang negatif” boleh-boleh saja dilakukan asalkan untuk mencapai “tujuan yang positif”. Jika dirunut pada konteks pemikiran kontemporer, pemikiran seperti itu kedengarannya lebih dekat dengan komunisme yang juga menghalalkan segala cara. Semangat perjuangan Teuku Umar dalam menghadapi kolonialisme Belanda yang pada akhirnya mendorong pemikiran semacam itu.

3. Karya
Karya Teuku Umar dapat berupa keberhasilan dirinya dalam menghadapi musuh. Sebagai contoh, pada tanggal 14 Juni 1886, Teuku Umar pernah menyerang kapal Hok Centon, milik Belanda. Kapal tersebut berhasil dikuasai pasukan Teuku Umar. Nahkoda kapalnya, Hans (asal Denmark) tewas dan kapal diserahkan kepada Belanda dengan meminta tebusan sebesar 25.000 ringgit. Keberanian tersebut sangat dikagumi oleh rakyat Aceh. Karya yang lain adalah berupa keberhasilan Teuku Umar ketika mendapatkan banyak senjata sebagai hasil dari pengkhianatan dirinya terhadap Belanda.

4. Penghargaan
Berdasarkan SK Presiden No. 087/TK/1973 tanggal 6 November 1973, Teuku Umar dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Nama Teuku Umar juga diabadikan sebagai nama jalan di sejumlah daerah di tanah air, salah satunya yang terkenal adalah terletak di Menteng, Jakarta Pusat. Selain itu, namanya juga diabadikan sebagai nama sebuah lapangan di Meulaboh, Aceh Barat.

Laksamana Keumalahayati (1585-1604)

1. Riwayat Hidup
Laksamana Keumalahayati merupakan wanita pertama di dunia yang pernah menjadi seorang laksamana. Ia lahir pada masa kejayaan Aceh, tepatnya pada akhir abad ke-XV. Berdasarkan bukti sejarah (manuskrip) yang tersimpan di University Kebangsaan Malaysia dan berangka tahun 1254 H atau sekitar tahun 1875 M, Keumalahayati berasal dari keluarga bangsawan Aceh. Belum ditemukan catatan sejarah secara pasti yang menyebutkan kapan tahun kelahiran dan tahun kematiannya. Diperkirakan, masa hidupnya sekitar akhir abad XV dan awal abad XVI.

Laksamana Keumalahayati adalah putri dari Laksamana Mahmud Syah. Kakeknya bernama Laksamana Muhammad Said Syah, putra dari Sultan Salahuddin Syah yang memerintah Kesultanan Aceh Darussalam sekitar tahun 1530-1539 M. Sultan Salahuddin Syah merupakan putra dari Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513-1530 M) yang merupakan pendiri Kesultanan Aceh Darussalam.

Jika dilihat dari silsilah tersebut, maka dapat dikatakan bahwa Laksamana Keumalahayati merupakan keturunan darah biru atau keluarga bangsawan keraton. Ayah dan kakeknya pernah menjadi laksamana angkatan laut. Jiwa bahari yang dimiliki ayah dan kakeknya tersebut kelak berpengaruh besar terhadap kepribadiannya. Meski sebagai seorang wanita, ia tetap ingin menjadi seorang pelaut yang gagah berani seperti ayah dan kakeknya tersebut.

a. Riwayat Pendidikan
Ketika menginjak usia remaja, Laksamana Keumalahayati mendapatkan kebebasan untuk memilih pendidikan yang diinginkannya. Ketika itu Kesultanan Aceh Darussalam memiliki Akademi Militer yang bernama Mahad Baitul Makdis, yang terdiri dari jurusan Angkatan Darat dan Angkatan Laut. Setelah menempuh pendidikan agamanya di Meunasah (surau ), Rangkang ( balai pengajian ), dan Dayah ( zawiyyah / pesantren ), oleh karena ia ingin mengikuti karir ayahnya sebagai laksamana, maka ia mendaftarkan diri dalam penerimaan taruna di Akademi Militer Mahad Baitul Makdis. Ia diterima di akademi ini dan dapat menempuh pendidikan militernya dengan sangat baik. Bahkan, ia berprestasi dengan hasil yang sangat memuaskan.

Sebagai siswa yang berprestasi, Laksamana Keumalahayati berhak memiliki jurusan yang diinginkannya. Ia memilih jurusan Angkatan Laut. Ketika menempuh pendidikan di akademi ini ia pernah berkenalan dengan seorang calon perwira laut yang lebih senior (data tentang namanya belum diketahui). Perkenalan tersebut berlanjut hingga benih-benih kasih sayang terbangun di antara mereka. Mereka berdua akhirnya bersepakat untuk saling memadu kasih dan menyatukan diri ke dalam cinta. Setelah tamat dari Akademi Militer Mahad Baitul Makdis, keduanya melangsungkan pernikahan.

Setelah menamatkan studinya di Akademi Militer Mahad Baitul Makdis, Laksamana Keumalahayati berkonsentrasi pada dunia pergerakan dan perjuangan. Ia diangkat oleh Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil (1589-1604 M) sebagai Komandan Protokol Istana Darud-Dunia di Kesultanan Aceh Darussalam. Jabatan tersebut merupakan kepercayaan sultan terhadap dirinya, sehingga ia perlu menguasai banyak pengetahuan tentang etika dan keprotokolan.

b. Riwayat Perjuangan
Kisah perjuangan Laksamana Keumalahayati dimulai dari sebuah perang di perairan Selat Malaka, yaitu antara armada pasukan Portugis dengan Kesultanan Aceh Darussalam yang dipimpin oleh Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil dan dibantu oleh dua orang laksamana. Pertempuran sengit terjadi di Teluk Haru dan dimenangkan oleh armada Aceh, meski harus kehilangan dua laksamananya dan ribuan prajuritnya yang tewas di medan perang. Salah satu laksamana yang tewas tersebut adalah suami Laksamana Keumalahayati sendiri yang menjabat sebagai Komandan Protokol Istana Darud-Dunia. Setelah suaminya meninggal dunia dalam peperangan tersebut, ia berjanji akan menuntut balas dan bertekad meneruskan perjuangan suaminya meski secara sendirian.

Untuk memenuhi tujuannya tersebut, Laksamana Keumalahayati meminta kepada Sultan al-Mukammil untuk membentuk armada Aceh yang semua prajuritnya adalah wanita-wanita janda karena suami mereka gugur dalam Perang Teluk Haru. Permintaan Keumalahayati akhirnya dikabulkan. Ia diserahi tugas memimpin Armada Inong Balee dan diangkat sebagai laksamananya. Ia merupakan wanita Aceh pertama yang berpangkat laksamana (admiral) di Kesultanan Aceh Darussalam. Armada ini awalnya hanya berkekuatan 1000 orang, namun kemudian diperkuat lagi menjadi 2000 orang. Teluk Lamreh Krueng Raya dijadikan sebagai pangkalan militernya. Di sekitar teluk ini, ia membangun Benteng Inong Balee yang letaknya di perbukitan.

Setelah memangku jabatan sebagai laksamana, Keumlahayati mengkoordinir pasukannya di laut, mengawasi berbagai pelabuhan-pelabuhan yang berada di bawah penguasaan syahbandar, dan mengawasi kapal-kapal jenis galey milik Kesultanan Aceh Darussalam. Seorang nahkoda kapal Belanda yang berkebangsaan Inggris, John Davis, mengungkapkan fakta bahwa pada masa kepemimpinan militer Laksanana Keumalahayati, Kesultanan Aceh Darussalam memiliki perlengkapan armada laut yang di antaranya terdiri dari 100 buah kapal (galey) dengan kapasitas penumpang 400-500 orang.

Kisah perjuangan Laksamana Keumalahayati tidak berhenti di sini. Ia pernah terlibat dalam pertempuran melawan kolonialisme Belanda. Ceritanya, pada tanggal 22 Juni 1586, Cornelis de Houtman memimpin pelayaran pertamanya bersama empat buah kapal Belanda dan berlabuh di Pelabuhan Banten. Setelah kembali ke Belanda, pada pelayaran yang kedua, ia memimpin armada dagang Belanda yang juga dilengkapi dengan kapal perang. Hal itu dilakukan untuk menghadapi kontak senjata dengan Kesultanan Aceh Darussalam pada tanggal 21 Juni 1599. Dua buah kapal Belanda bernama de Leeuw dan de Leeuwin yang dipimpin oleh dua orang bersaudara, Cornelis de Houtman dan Frederick de Houtman, berlabuh di ibukota Kesultanan Aceh Darussalam. Pada awalnya, kedatangan rombongan tersebut mendapat perlakuan yang baik dari pihak kesultanan karena adanya kepentingan hubungan perdagangan.

Namun, dalam perkembangan selanjutnya Sultan al-Mukammil tidak senang dengan kehadiran rombongan tersebut dan memerintahkan untuk menyerang orang-orang Belanda yang masih ada di kapal-kapalnya. Ada dugaan bahwa sikap Sultan tersebut banyak dipengaruhi oleh hasutan seseorang berkebangsaan Portugis yang kebetulan menjadi penerjemahnya. Serangan tersebut dipimpin sendiri oleh Laksamana Keumalahayati. Alhasil, Cornelis de Houtman dan beberapa anak buahnya terbunuh, sedangkan Frederick de Houtman tertangkap dan dimasukkan ke dalam penjara (selama 2 tahun). Keberhasilan Laksamana Keumalahayati merupakan sebuah prestasi yang sungguh luar biasa.

Keumalahayati ternyata bukan hanya sebagai seorang Laksamana dan Panglima Angkatan Laut Kesultanan Aceh Darussalam, namun ia juga pernah menjabat sebagai Komandan Pasukan Wanita Pengawal Istana. Jabatan ini merupakan tugas kesultanan dalam bidang diplomasi dan ia bertindak sebagai juru runding dalam urusan-urusan luar negeri. Ia sendiri telah menunjukkan bakatnya dan menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Ia memiliki sifat dan karakter yang tegas sekaligus berani dalam menghadapi berbagai momen perundingan, baik dengan Belanda maupun Inggris. Meski begitu, sebagai diplomat yang cerdas, ia dapat bersikap ramah dan luwes dalam melakukan berbagai perundingan.

Pada tanggal 21 November 1600, rombongan bangsa Belanda yang dipimpin Paulus van Caerden datang ke Kesultanan Aceh Darussalam. Sebelum memasuki pelabuhan, rombongan ini menenggelamkan sebuah kapal dagang Aceh dengan terlebih dahulu memindahkan segala muatan lada yang ada di dalamnya ke kapal mereka. Setelah itu datang lagi rombongan bangsa Belanda kedua yang dipimpin oleh Laksamana Yacob van Neck. Mereka mendarat di Pelabuhan Aceh pada tanggal 31 Juni 1601. Mereka memperkenalkan diri sebagai bangsa Belanda yang datang ke Aceh untuk membeli lada. Setelah mengetahui bahwa yang datang adalah bangsa Belanda, Laksamana Keumalahayati langsung memerintahkan anak buahnya untuk menahan mereka. Tindakan tersebut mendapat persetujuan Sultan al-Mukammil karena sebagai ganti rugi atas tindakan rombongan Belanda sebelumnya.

Pada tanggal 23 Agustus 1601, tiba rombongan bangsa Belanda ketiga yang dipimpin oleh Komisaris Gerard de Roy dan Laksamana Laurens Bicker dengan empat buah kapal (Zeelandia, Middelborg, Langhe Bracke, dan Sonne) di Pelabuhan Aceh. Kedatangan mereka memang telah disengaja dan atas perintah Pangeran Maurits. Kedua pimpinan rombongan mendapat perintah untuk memberikan sepucuk surat dan beberapa hadiah kepada Sultan al-Mukammil. Sebelum surat diberikan, sebenarnya telah terjadi perundingan antara Laksamana Keumalahayati dengan dua pimpinan rombongan Belanda. Isi perundingan tersebut adalah terwujudnya perdamaian antara Belanda dan Kesultanan Aceh, dibebaskannya Frederick de Houtman, dan sebagai imbalannya Belanda harus membayar segala kerugian atas dibajaknya kapal Aceh oleh Paulus van Caerden (akhirnya Belanda mau membayar kerugian sebesar 50.000 golden).

Setelah itu hubungan antara Belanda dan Kesultanan Aceh berlangsung cukup baik. Kehadiran bangsa Belanda dapat diterima secara baik di istana kesultanan dan mereka diperbolehkan berdagang di Aceh. Sebagai lanjutan dari hubungan baik antara Belanda dan Kesultanan Aceh, maka diutuslah tiga orang untuk menghadap Pangeran Maurits dan Majelis Wakil Rakyat Belanda. Ketiga orang itu adalah Abdoel Hamid, Sri Muhammad (salah seorang perwira armada laut di bawah Laksamana Keumalahayati), dan Mir Hasan (bangsawan kesultanan). Meski sedang dilanda perang melawan kolonialisme Spanyol, pihak Belanda menyambut utusan Aceh tersebut dengan upacara kenegaraan.

Peran diplomatik Laksamana Keumalahayati masih berlanjut. Hal ini bermula dari keinginan Inggris untuk menjalin hubungan dagang dengan Kesultanan Aceh Darussalam. Ratu Elizabeth I (1558-1603 M) mengirim utusan untuk membawa sepucuk suratnya kepada Sultan Aceh al-Mukammil. Rombongan yang dipimpin oleh James Lancaster, seorang perwira dari Angkatan Laut Inggris ini, tiba di Pelabuhan Aceh pada tanggal 6 Juni 1602. Sebelum bertemu dengan Sultan al-Mukammil, Lancaster mengadakan perundingan dengan Laksamana Keumalahayati. Dalam perundingan itu, Lancaster menyampaikan keinginan Inggris untuk menjalin kerjasama dengan Kesultanan Aceh Darussalam. Ia juga berpesan agar Laksamana Keumalahayati memusuhi Portugis dan berbaik hati dengan Inggris. Laksamana Keumalahayati meminta agar keinginan tersebut dibuat secara tertulis dan diatasnamakan Ratu Inggris. Setelah surat tersebut selesai dibuat, Lancaster diperkenankan menghadap Sultan al-Mukammil.

Laksamana Keumalahayati juga berperan besar dalam menyelesaikan intrik kesultanan. Hal ini bermula dari peristiwa penting perihal suksesi kepemimpinan di Kesultanan Aceh Darussalam. Pada tahun 1603 M, Sultan al-Mukammil menempatkan anak lekaki tertuanya sebagai pendamping dirinya. Namun, rupanya putra tersebut berkhianat terhadap ayahnya dan mengangkat dirinya sebagai Sultan Aceh dengan gelar Sultan Ali Riayat Syah (1604-1607 M).

Pada masa awal kepemimpinannya, berbagai macam bencana menimpa Kesultanan Aceh Darussalam, seperti kemarau yang berkepanjangan, pertikaian berdarah antar saudara, dan ancaman dari pihak Portugis. Tidak ada keinginan kuat dari Sultan Ali Riayat Syah untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan serius. Maka banyak timbul rasa kekecewaan dari punggawa kesultanan, salah satu di antaranya adalah Darmawangsa Tun Pangkat, kemenakannya sendiri. Darmawangsa ditangkap dan dipenjara atas perintah Sultan.

Pada bulan Juni 1606, Portugis menyerang Kesultanan Aceh Darussalam yang dipimpin oleh Alfonso de Castro. Ketika itu Darmawangsa masih berada di penjara. Ia memohon kepada Sultan Ali Riayat Syah agar dirinya dapat dibebaskan dan dapat ikut bertempur melawan Portugis. Dengan didukung adanya pemintaan Laksamana Keumalahayati, Darmawangsa akhirnya dapat dibebaskan. Mereka berdua akhirnya berjuang bersama dan dapat menghancurkan pasukan Portugis.

Oleh karena Sultan Ali Riayat Syah dianggap banyak kalangan tidak cakap lagi memimpin kesultanan, maka Laksamana Keumalahayati melakukan manuver dengan cara menurunkan Sultan Ali Riayat Syah dari tahta kekuasaan. Darmawangsa akhirnya terpilih sebagai Sultan Aceh dengan gelar Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M). Pada masanya, Kesultanan Aceh Darussalam mencapai zaman keemasan.

2. Karya
Karya Laksamana Keumalahayati memang tidak berupa buku atau berbagai bentuk tulisan. Namun demikian, segala bentuk perjuangannya dalam melawan kolonialisme dapat juga dianggap sebagai karya-karya nyatanya. Di antara karya-karya dimaksud adalah sebagai berikut:
Ia pernah membangun Benteng Inong Balee dengan tinggi 100 meter dari permukaan laut. Tembok benteng menghadap ke laut dengan lebar 3 meter dengan lubang-lubang meriam yang moncongnya mengarah ke pintu teluk.

Ia pernah berhasil membunuh Cornelis de Houtman, salah seorang pemimpin kapal Belanda yang pertama kali tiba di Aceh.

3. Penghargaan
Sebagai bentuk penghargaan terhadap perjuangannya, sebuah serial bertajuk “Laksamana Keumalahayati” telah digarap dengan sutradara Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Adhyaksa Dault. Serial ini berisi 13 episode. Episode perdananya telah diputar di Blitz Megaplex (10 November 2007).

 MENGUAK pertalian Raja-raja Aceh Sejak Kerajaan Perlak Sebuah buku berjudul “Silsilah Raja-Raja Islam di Aceh dan Hubungannya dengan Raja-Raja Islam di Nusantara,” diterbitkan pelita Gading Hidup Jakarta, ditulis Pocut Haslinda Syahrul Muda Dalam, mencoba menguak pertalian raja-raja di Aceh sejak pra Islam.

dalam suatu forum di Balai Kartini, Jakarta, 16 Nopember 2008 silam. Malam harinya, di gedung yang sama dipentaskan “drama musikal” yang memuat informasi silsilah raja-raja Aceh tersebut serta peranan kaum perempuan Aceh sejak abad VIII dampai abad XXI. Pentas itu disutradari Dedi Lutan berdasarkan nasakah yang ditulis Pocut Haslinda Syahrul MD binti Teuku H Abdul Hamid Azwar, waris Tun Sri Lanang ke-8.

Sebetulnya masih ada tiga buku lain yang dihasilkan Pocut Haslinda dalam waktu bersamaan, yaitu “Perempuan Aceh dalam Lintas Sejarah Abad VIII-XXI, Tun Sri Lanang dan Terungkapnya Akar Sejarah Melayu, dan Dua Mata Bola di Balik Tirai Istana Melayu.”

Untuk menggenapi informasi “Silsilah Raja-Raja Aceh” dan ketiga bukunya itu, Pocut Haslinda, pernah menempuh pendidikan fashion dan model di Paris, Jerman, dan London (1965-1970) membaca lebih dari 1000 judul buku ditulis oleh penulis dalam dan luar negeri.

Buku “Silsilah Raja-Raja Aceh” itu secara sederhana mencoba menarik garis pertautan raja-raja Aceh sejak awal abad ke 8 pada masa Kerajaan Perlak, kemudian berkembang menjadi kerajaan-kerajaan lain di Aceh, termasuk persinggungan yang sangat penting dan fundamental dengan Kerajaan Isaq di Gayo, dan pertautan raja-raja Aceh dengan Perak, Johor, Deli-Serdang, Majapahit, Demak, Wali Songo dan sebagainya.

Kisah kedatangan satu delegasi dagang dari Persia di Blang Seupeung, pusat Kerajaan Jeumpa yang ketika itu masih menganut Hindu Purba. Salah seorang anggota rombongan bernama Maharaj Syahriar Salman, Pangeran Kerajaan Persia yang ditaklukkan pada zaman Khalifahtur Rasyidin. Salman adalah turunan dari Dinasti Sassanid Persia yang pernah berjaya antara 224 – 651 Masehi. Setelah penaklukkan, sebahagian keluarga kerjaan Persia ada yang pergi ke Asia Tenggara.

Kerajaan Jeumpa, ketika itu dikuasai Meurah Jeumpa. Maharaj Syahriar Salman kemudian menikah dengan putri istana Jeumpa bernama Mayang Seludang. Akibat dari perkawinan itu, Maharaj Syahriar Salman tidak lagi ikut rombongan niaga Persia melanjutkan pelayaran ke Selat Malaka. Pasangan ini memilih “hijrah” ke Perlak (sekarang Peureulak,red), sebuah kawasan kerajaan yang dipimpin Meurah Perlak.

Meurah Perlak tak punya keturunan dan memperlakukan “pengantin baru” itu sebagai anak. Ketika Meurah Perlak meninggal, kerajaan Perlak diserahkan kepada Maharaj Syahriar Salman, sebagai Meurah Perlak yang baru. Perkawinan Maharaj Syahriar Salman dan Putri Mayang Sekudang dianugerahi empat putra dan seroang putri; Syahir Nuwi, Syahir Dauli, Syahir Pauli, SyahirTanwi, dan Putri Tansyir Dewi.

Syahir Nuwi di kemudian hari menjadi Raja Perlak ( PEUREULAK ) yang baru menggantikan ayahandanya. Dia bergelar Meurah Syahir Nuwi. Syahir Dauli diangkat menjadi Meurah di Negeri Indra Purwa (sekarang Aceh Besar, red). Syahir Pauli menjadi Meurah di Negeri Sama indra (sekarang Pidie), dan si bungsu Syahir Tanwi kembali ke Jeumpa dan menjadi Meurah Jeumpa menggantikan kakeknya. Merekalah yang kelak dikenal sebagai “Kaom Imeum Tuha Peut” (penguasa yang empat). Dengan demikian, kawasan-kawasan sepanjang Selat Malaka dikuasai oleh keturunan Maharaj Syahriar Salman dari Dinasti Sassanid Persia dan Dinasti Meurah Jeumpa (sekarang Bireuen).

Sementara itu, Putri Tansyir Dewi, menikah dengan Sayid Maulana Ali al-Muktabar, anggota rombongan pendakwah yang tiba di Bandar Perlak dengan sebuah kapal di bawah Nakhoda Khalifah. Kapal itu memuat sekitar 100 pendakwah yang menyamar sebagai pedagang. Rombongan ini terdiri dari orang-orang Quraish, Palestina, Persia dan India. Rombongan pendakwah ini tiba pada tahun 173 H (800 M). Sebelum merapat di Perlak, rombongan ini terlebih dahulu singgah di India.

Syahir Nuwi yang menjadi penguasa Perlak menyatakan diri masuk Islam, dan menjadi Raja Perlak pertama yang memeluk Islam.Sejak itu, Islam berkembang di Perlak. Perkawinan Putri Tansyir Dewi dengan Sayid Maulana Ali al-Muktabar membuahkan seorang putra bernama Sayid Maulana Abdul Aziz Syah, yang kelak setelah dewasa dinobatkan sebagai Sultan Alaidin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah, sultan pertama Kerajaan Islam Perlak, bertepatan dengan 1 Muharram 225 Hijriah.

Sayid Maulana Ali al-Muktabar berfaham Syiah, merupakan putra dari Sayid Muhammad Diba‘i anak Imam Jakfar Asshadiq (Imam Syiah ke-6) anak dari Imam Muhammad Al Baqir (Imam Syiah ke-5), anak dari Syaidina Ali Muhammad Zainal Abidin, yakni satu-satunya putra Syaidina Husen, putra Syaidina Ali bin Abu Thalib dari perkawinan dengan Siti Fatimah, putri dari Muhammad Rasulullah saw. Lengkapnya silsilah itu adalah: Sultan Alaidin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah bin Sayid Maulana Ali-al Muktabar bin Sayid Muhammad Diba‘i bin Imam Ja‘far Asshadiq bin Imam Muhammad Al Baqir bin Syaidina Ali Muhammad Zainal Abidin Sayidina Husin Assyahid bin Sayidina Alin bin Abu Thalib (menikah dengan Siti Fatimah, putri Muhammad Rasulullah saw).

Keikutsertaan Sayid Maulana Ali al-Muktabar dalam rombongan pendakwah merupakan penugasan dari Khalifah Makmun bin Harun Al Rasyid (167-219 H/813-833 M) untuk menyebarkan Islam di Hindi, Asia Tenggara dan kawasan-kawasan lainnya. Khalifah Makmun sebelumnya berhasil meredam “pemberontakan” kaum Syiah di Mekkah yang dipimpin oleh Muhammad bin Ja‘far Ashhadiq.

Raja Isaq Gayo dan Turunannya
Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Syah Johan Berdaulan memiliki tiga putra; Meurah Makhdum Alaiddin Ibrahim Syah, kemudian menjadi Sultan ke-8; Maharaja Mahmud Syah yang kemudian menjadi Raja Salasari Islam I di Tanoh Data (Cot Girek); Meurah Makhdum Malik Isaq (Isak) mendirikan Negeri Isaq I.

Meurah Isaq memiliki putra bernama Meurah Malik Masir yang juga dikenal sebagai Meurah Mersa alias Tok (Tuk) Mersa, diangkat sebagai Raja Isaq II mernggantikan ayahandanya. Tok Mersa memiliki tujuh putra yakni: 1) Meurah Makhdum Ibrahim mendirikan Negeri Singkong. Cucu Meurah Makhdum ini bernama Malikussaleh di kemudian hari mendirikan Kerajaan Samudra Pasai. 2) Meurah Bacang mendirikan Kerajaan Bacang Barus. 3) Meurah Putih mendirikan Kerajaan Beuracan Merdu. 4) Meurah Itam mendirikan Kerajaan Kiran Samalanga. 5) Meurah Pupok mendirikan Kerajaan Daya Aceh Barat. 6) Merah Jernang mendirikan kerajaan Seunagan. 7) Meurah Mege (Meugo) menjadi Raja Isaq III.

Dari turununan Meurah Mege lahir Sultan Abidin Johansyah pendiri Kerajaan Aceh Darussalam (1203-1234) sampai Sultan Daud Sjah (1874-1939). Turunen Meurah Mege lain, Syekh Ali al Qaishar anak dari Hasyim Abdul Jalil hijrah ke Bugis dan menikah dengan putri bangsawan Bugis yang kelak cucu psangan ini bergelar Daeng. Di antara anak-cucunya, ada yang pulang ke Aceh bernama Daeng Mansur atau Tgk Di Reubee dan mempunyai seorang putra bernama Zainal Abidin dan seorang putri bernama Siti Sani yang dinikahi Sultan Iskandar Muda.

Di tanah Jawa, Turunan Tok Mersa bernama Puteri Jempa nikah dengan Raja Majapahit terakhir kemudian lahir Raden Fattah yang menjadi Raja Demak. Turunen Tok Mersa lain, yakni Fatahillah menyusul ke Jawa menikah dengan adik Sultan Demak. Fatahillah mendirikan kerajaan Cirebon dan anaknya mendirikan Kerajaan Banten. Fatahillah dikenal juga Sunan Gunung Jati menikah dengan Ratu Mas anak Raden Fattah, cucu Majapahit, keturunannya turun temurun menjadi raja dan pembangun Demak, Cirebon, Banten dan Walisongo.

Melihat pertautan raja-raja Aceh itu, jelasnya bagi kita bagaimana sebenarnya hubungan erat satu sama lain. Pada awalnya, mereka berangkat dari “indatu” ( NENEK MOYANG ) yang sama dari Perlak.  (budi/ Harian Serambi Indonesia). @@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 82 Komentar

(REVISI) ”ILMU AJI BISMILLAH PITU/TUJUH”


Noer Cholish

satria_lamong77@yahoo.com

Amalan khusus ini ijazah langsung dari Kyai Khairul Huda Arya Mandalla Pengasuh Ponpes “AL BARAKAH & Kajian NAHDLATUL JUHALAA’ “ GRESIK-Jatim

(Cucu Eyang Prabu Brawijaya V & Eyang Kanjeng Sunan Giri). Apabila dulur dan sahabat semua mau mengetahui secara lengkap fadhilah dan karomah dari Ilmu Bismillah Pitu atau ajian sapu jagad ini bisa bersilaturohim ke Beliau Ponpen AL BARAKAH, Kedungrukun, Kedungpring –Balongpanggang-Gresik. tapi bagi yang mau mengamalkan silahkan saja beliau melalui saya waktu sowan ke Ponpes Al Barakah tgl 10 Juli 2011 memberikan ijin kepada seluruh kaum Muslimin untuk mengamalkan Aji Bismillah Pitu ini dengan ikhlas, semoga amalan ini bermanfaat dunia sampai akherat, Amien. Bi’idznillah. Bagi yg kirim E-mail mohon maaf tdk bisa membalas ataupun telat membuka karena kesibukan kami.

Amalan Bismillah Pitu ini termasuk ilmu sapu jagad yang multi fungsi dan sangat banyak karomahnya, diantaranya :

  • Pesan pak kyai Huda ARM yg mengijazahkan Ilmu Bismillah 7 ini, hendaknya di amalkan istiqomah, ikhlas dan penuh keyakinan akan Rahmat dan Berkah dari Gusti ALLAH TA’ALA, amin.
  • Amalkan ilmu diatas sebanyak 500x atau kalau mampu 1.000x setiap malam selama 1 tahun penuh maka lihat apa yang terjadi, karomahnya ibarat sinar terangnya seperti sinar Matahari.
  • Amalkan secara istiqomah tiap ba’da sholat fardlu minimal 7x atau setelah sholat sunah hajad atau tahajjud tengah malam 100x. Harus ikhlas, sabar dalam toat dan sabar dalam ujian setelah itu pasrah sepenuh jiwa dan raga pada Tuhan kita Gusti  ALLOH  TA’ALA.
  • untuk pengobatan:

sediakan air hujan yg di tampung dengan bahan kaca, gelas, mangkok dll dari langit langsung atau tidak kena perantara genting/atap

  • baca al fatehah…………………………………………………………………..    70x
  • baca amalan Bismillah Pitu/Tujuh ……………………………………………. 7x
  • setiap mendapat 1 bacaan tiupkan ke air hujan tsb dan kalau sudah selesai bisa di minumkan sebagian dan di pakai campuran mandi pada yg sakit.
  • Untuk kesuksesan, keselamatan, kemudahan dalam setiap usaha, kharisma dan wibawa alam sertai perisai dari gangguan bangsa manusia dan goib yg berniat jahat dan merupakan obat yang ampuh bagi semua penyakit yang secara medis di vonis tidak obatnya dll.
  • Amalkan saja secara ajeg/istikomah tanpa mengarap apapun kecuali Rahmat dan Berkah dari Gusti  ALLAH TA’ALA maka hidup kita akan semakin mulya dunia akherat.
  • Amalan ini adalah amalan para solihin, semoga kita bisa menjaga ibadah kita.
  • Selamat Mengamalkan ilmu warisan para guru yang bijak. Apabila ada salah mohon di maafkan, terutama pada pemilik dan pewaris Amalan yang luar biasa ini. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi umat. wassalam.

 

oooo

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 148 Komentar

PESAN DARI TROWULAN


KI SABDALANGIT
sabdalangit@gmail.com

Tujuan utama ke Trowulan terutama untuk mundi dawuh perintah langsung dari Sri Narpati Brawijaya V yang di luar dugaan kami terima beberapa hari sebelum mengambil keputusan bulat untuk menghadiri undangan Mas Panji Trisula (Bustanus Salatin) salah seorang Ketua IPPNU Jatim periode th 2000, dalam acara “Sarasehan Bulan Purnama ; Memperingati Turunnya Wahyu Makutharama” yang diadakan di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto Prop Jawa Timur. Selain itu kami berserta rombongan ingin sekali mewujudkan rasa berbakti kepada para leluhur besar bumiputra perintis dan penopang kejayaan Nusantara di masa lalu, tidak dengan cara enaknya sendiri mulut sekedar komat-kamit saja dari rumah. Sikap berbakti akan lebih berharga jika diwujudkan dalam tindakan nyata dengan cara marak sowan mengunjungi petilasan pepunden untuk tujuan napak tilas serta atur pisungsung sembah bekti kepada para leluhur besar Nusantara. Tidak cukup berhenti di situ, lebih penting adalah mengambil pelajaran berharga yang selanjutnya diimplementasikan dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Jika peduli dan mau, kita sebagai generasi penerus bangsa sudah semestinya melakukan koreksi atas perjalanan sejarah bangsa besar ini di masa lalu pernah lepas kendali hingga kini berkembang kian salah kaprah. Tidak semata sebagai sebuah kesalahan kebijakan masa lalu, tetapi tingginya sikap toleransi  para pendahulu bangsa terutama terhadap anasir sistem kepercayaan (religi) yang berasal dari budaya asing. Toleransi tinggi para pendahulu bangsa berhubungan dengan tingginya pemahaman tentang apa sejatinya religi dan sistem kepercayaan. Toleransi menumbuhkan prasangka baik dan kelonggaran sikap terhadap unsur asing walau banyak perbedaan secara esensial. Namun hal itu justru dimanfaatkan oleh para jahil pembawa anasir asing sebagai suatu kesempatan untuk menjalankan misi jahiliahnya. Namun dalam perkembangannya, sistem sosial dan politik berkembang secara liar tidak seperti yang diharapkan oleh para leluhur besar perintis Nusantara. Bahkan hingga kini dampak buruknya kian dirasakan oleh generasi sekarang.

Apabila mau jujur dan para sejarawan bersama arkeolog mau meluruskan sejarah tentu akan ditemukan banyak kebohongan dalam “dongeng-dongeng” yang dikemas seolah bagaikan suatu kejujuran sejarah. Terutama cerita-cerita tentang masuknya para saudagar Gujarat, saudagar Mesir, saudagar Maroko dan Turki yang sangat tergiur oleh gemah ripahnya Nusantara. Kisah-kisah masuknya saudagar ke Bumi Nusantara selanjutnya dirombak berupa “dongeng-dongeng” yang mengimajinasikan tokoh sakti mandraguna yang perjalanan hidupnya penuh perjuangan menegakkan kebenaran tuhan. Sebagai salah satu trik kolonialisme, di dalamnya terdapat intrik-intrik politik dagang dan perebutan kekuasaan yang didukung melalui penciptaan dongeng-dongeng adu kesaktian antara para saudagar yang dicitrakan sebagai wakil tuhan versus penduduk asli pribumi yang dicitrakan sebagai musuh tuhan. Ya..semua itu masih dalam kerangka proyek pemenangan politik dagang para saudagar beserta pengikutnya. Mayoritas anak bangsa mungkin termasuk Anda para pembaca, mungkin merupakan anak turun dari para pendahulu bangsa yang menjadi korban atas pencitraan tendensius dan subyektif dari para saudagar bersama pendukungnya. Jika Anda tidak terima, lantas pembelaan macam mana yang bisa Anda lakukan ? Maka, luruskan sejarah bangsa besar ini, agar supaya yang benar tampak benar, yang salah terbongkar kedoknya. Sehingga dapat dijadikan pelajaran berharga bagi generasi penerus bangsa yang ingin mengerti kesejatian hidup ini apa sesungguhnya.

Dalam cara pandang sosio-ekonomis, jika Anda ingin memenangkan persaingan marketing, ada dua kiat jitu yang bisa ditempuh, pertama, susupkan barang dagangan ke dalam unsur budaya lokal calon konsumen. Kedua, kuasai, dominasi, dan setir pola pikir calon konsumen agar supaya mengikuti kemauan si marketing. Tentu Anda akan menjadi marketing yang sukses menangguk keuntungan besar.  Apalagi “kolonialisasi” dan dominasi terhadap pola pikir konsumen melalui berbagai doktrin di antaranya dengan mengatasnamakan tuhan. Ditambah advertensi berupa iming-iming pahala bagi siapa saja yang mau mengkonsumsi dagangannya. Wow..pasti akan laris manis apapun jenis dagangannya. Selanjutnya, Anda tinggal menyingkirkan pesaing-pesaing bisnis Anda, dengan cara politik adu domba, aktif menciptakan wacana friksi dan gap, serta sibuk menumbuhkan konflik-konflik antara elemen-elemen kekuatan para pesaing. Dalam hal ini kearifan lokal (local wisdom) dan kerajaan-kerajaan yang masih eksis memegang teguh budaya dan tradisi bumipertiwi dapat diperankan sebagai pesaing paling diperhitungkan. Ternyata, politik devide et impera-nya Belanda hanya sekedar meniru politik a la saudagar asing. Tengok saja periode sejarah sebelum masa kedatangan para saudagar, sejarah kerajaan Nusantara abad Sebelum Masehi (kerajaan pertama Kutai Lama) hingga akhir abad 12 masa Majapahit awal, perang atau konflik antara kerajaan sangat jarang terjadi. Namun semenjak abad 14 terjadi peningkatan intensitas konflik. Selain dengan cara tersebut, penjajahan paling efektif bisa ditempuh melalui cara “perkawinan silang” antara penjajah dengan pribumi, di mana peran suami lebih banyak diisi oleh laki-laki penjajah, sedangkan peran istri diisi oleh mayoritas perempuan pribumi. Hal ini bertujuan tentu saja untuk mengamankan kepentingan,aset dan meluaskan otoritas kaum penjajah yang menganut sistem patrilineal. Hebat bukan..sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui. Politik apa ini namanya? Sembari berkuasa masih pula berpesta kenikmatan. Siapa kiranya yang tak tergiur. Program dan rencana akan jauh lebih sukses bila saudagar sembari membawa-bawa dan mengklaim diri sebagai orang suci pembawa kebenaran tuhan. Sudah dagangannya laris, dapat belahan surgawi wanita-wanita pribumi, ditambah bonus pahala lagi. Lantas lahirlah bayi-bayi merah tak berdosa dan tak tahu apa-apa yang akan menghuni Nusantara sebagai generasi baru hasil politik macam itu. Mungkin saja di antara kita ini adalah termasuk bayi-bayi merah itu. Yang terpenting bukanlah menggugat siapa yang melahirkan diri kita. Tetapi apa yang telah kita perbuat terhadap kebohongan sejarah? Berani jujurkah generasi penerus bangsa ini? Ataukah kronologi sejarah dan jejak-jejak kaki sejarah bangsa ini akan tetap ditopang oleh pondasi sejarah palsu? Kain pel yang kotor, tak akan bisa membersihkan lantai kotor tuan !

Kata Bung Karno,”Jasmerah ! Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah (yang jujur obyektif). Di zaman modern dan serba terbuka ini, walau masih ada sebagian orang yang bernafsu untuk memelintir sejarah sesuai kepentingannya, sudah pasti..sejarah akan meluruskan dirinya sendiri. Sesuatu yang dianggap kebenaran mutlak di masa lalu, bisa saja terkoreksi oleh temuan-temuan baru. Sejarah palsu hanya bisa berbohong dalam kurun waktu yang tidak tak terbatas. Tidak selamanya bau bangkai dapat disimpan rapat-rapat. Kini, generasi muda musti menyingkap bau bangkai itu, atau menyiapkan “kain pel” yang benar-benar bersih. Generasi bangsa musti melakukan koreksi signifikan untuk misi utama menyelamatkan Nusantara dari ambang kehancuran total. Kurang apa lagi? Nusantara adalah singgasana, adalah rumah pribadi, surga yang nyata dan bukan imajiner bagi anak-anak negeri, bagi rakyat Indonesia. Dan kita semua, generasi penerus bangsa sebagai tuan rumahnya, tentu saja di rumah pribadi kita Nusantara. Namun saat ini lain kenyataannya, kita menjadi jongos di rumah sendiri, kita dipaksa mengabdi, membabukan diri kepada para “tamu” di rumah kita sendiri. Tamu mbagekake sing duwe omah. Kita tertindas di negeri sendiri, oleh penjajah yang berdaging berdarah sebagai WNI, tetapi berisi jiwa-jiwa yang tak ubahnya onggokan sampah kepentingan, tumpukan kebekuan pola pikir, dan jiwa yang berisi komitmen jahil yang loyal dan berporos kepada para penjajah dari negeri antah-berantah.  Banyak orang lebih suka napak tilas dan berziarah kepada leluhur luar negri nun jauh di sana yang sama sekali tak ada hubungan ras, bangsa, suku, apalagi kerabat sodara. Sekalipun menghabiskan beaya puluhan juta tetap dilakoninya dengan harapan surga, sebaliknya terhadap leluhurnya sendiri tidak berbakti, kuburannya terbengkalai penuh ilalang, kotor tidak pernah diopeni. Lantas di mana sang hatinurani?? Sementara harta warisannya sampai kini masih mereka nikmati, bahkan sebagian telah dijual untuk ngabekti kepada leluhur-leluhur asing nun jauh di luar negeri. Mau diakui ataupun dipungkiri, pasti kualat akan datang menghampiri, kualat yang datang dari sikap perilakunya sendiri. Jadilah wajah Nusantara yang seperti ini. Rupa-rupa musibah dan bencana datang silih berganti, menerpa anak negeri yang lupa diri, lebih suka memuaskan nafsu dan imajinasi. Potret negeri di mana generasi penerusnya durhaka kepada sang ibu pertiwi.

 Saat ini, tanggal 17 Juli, sebentar lagi Nusantara akan “bersih-bersih” diri. Goro-goro gung tan kena den pungkiri. Murih tinarbukaning gapura gamabudi. Jaya nusawantara den enteni. Kang kadapuk dadi pambuka, iya satria kang jumedul ing pulo Semar Badranaya, sisih wetan sangkan ira. Mula den eling den êmut, menawa ana Candra-ning Negoro. Iya iku satria kang piningit, datan aran ratu adil, nanging kang jumeneng dadi satria nagari Pambukaning Gapura.

 Kolonialisme “the Dajjal”

Bentuk kolonialisme yang melebihi model penjajahan terhadap daerah koloni, bilamana yang dijajah adalah kemerdekaan fikir dan pembunuhan atas kesadaran spiritual generasi penerus bangsa. Pola fikir dan kesadaran spiritual, adalah dua pilar yang membentuk karakter bangsa. Dan terbukti saat ini bangsa Indonesia telah kehilangan karakternya. Merupakan kenyataan tak dapat ditutup-tutupi lagi, lihatlah…kini telah lahir generasi dimana kesadaran spiritualnya tergembok rapat di dalam tempurung kebodohan. Malah dengar-dengar ada generasi akhir yang akan diberi nama “the dajjal” si makhluk bermata satu yang suka gentayangan untuk memutar balik fakta dengan cara berdagang kata-kata manis berbalut angin syurga. The dajjal lebih terasa sebagai kiasan yang menggambarkan suatu pemahaman dangkal bahwa kebenaran dan ketuhanan hanya boleh didefinisikan melalui satu “mata” saja.  Yakni satu persepsi, satu cara pandang, atau suatu ajaran yang telah dikemas menjadi institusi. Konsekuensinya, apapun persepsi tentang kebenaran, keyakinan, dan tentang tuhan di luar persepsi itu adalah sesat dan kopar kapir.  Penganut pola pikir semacam ini akan menjadi generasi anti-toleran dan fanatik, yakni generasi anti perbedaan pendapat. Tidak mau berbaik sangka dengan berfikiran positif-konstruktif terhadap segala perbedaan. Tentu saja realitas sosial semacam itu bertentangan dengan hukum alam. Dan siapapun, apapun, jika bertentangan dengan hukum alam, alamlah yang akan melebur.

The dajjal akan sibuk gentayangan sana-sini memutarbalikan fakta antara kebenaran dengan ilusi. Antara kebohongan dengan kejujuran. Menjadi tugas berat the dajjal untuk tetap mempertahankan kebohongan dan kepalsuan yang sudah berlangsung kurang lebih 1500 tahun lamanya. Apabila segala kepalsuan dan kebohongan itu terbongkar oleh temuan-temuan baru, dan oleh evolusi kesadaran manusia-manusia generasi baru, selanjutnya pola pikir masyarakat dunia akan segera berganti dengan paradigma pikir baru yang lebih realistis, membumi dan penuh nilai-nilai humanis. Saat itulah terjadi kiamat, bukan berarti kehancuran planet bumi bersama jagad semesta, melainkan  kebangkrutan total segala macam ajaran lama yang penuh ilusi.

Bagi yang mampu beradaptasi dengan kehendak alam, pada gilirannya kekuatan alam akan mendaur ulang menjadi generasi baru yang memiliki kesadaran kosmologis yang selaras, sinergis dan harmonis dengan hukum alam. Mereka akan lahir sebagai manusia sejati yang mengerti diri sejati, dan memahami apa sejatinya hidup ini. Sebaliknya yang menolak koreksi alam dan hukum dinamika zaman, akan semakin sulit menyadari bahwa dirinya telah dirundung sakit jiwa yang berkepanjangan.

 NAPAK TILAS dan PERISTIWA PENUH ARTI

Motivasi kehadiran rombongan kami dalam rangka ikut serta berkumpul bersama seluruh sedulur dari berbagai kalangan yang hadir di acara sakral Sarasehan Bulan Purnama dengan tema Memperingai Turunnya Wahyu Makutharama, yang dipandegani oleh Mas Panji Trisula (Bustanus Salatin).Terimakasih tak terhingga atas segala sambutan dan kehangatan paseduluran dari sedulur-sedulur yang hadir dalam acara tsb. Sungguh bagai oasis menyejukkan dahaga spiritual di tengah panasnya terpaan the desert storm “badai gurun” yang melanda Nusantara saat ini. Kami berharap apa yang telah dilakukannya menjadi amal kebaikan yang berkausalitas atas berlimpahnya berkah dari para leluhur besar Kerajaan Majapahit. Kebaikan-kebaikan yang dilakukan akan menjadi pagar gaib yang melindungi diri sendiri, menjadikan diri tak bisa dicelakai orang dan selalu menemukan keberuntungan dalam setiap langkahnya.

 Hujan Sebagai Pertanda Baik

Pukul 16.30 wib kendaraan terus melaju meninggalkan kota Jombang. Arah kendaraan menuju Kec.Trowulan Kab Mojokerto. Walau musim kemarau sedang berada dalam puncaknya, namun tiba-tiba turun hujan dengan derasnya. Seperti biasa, fenomena hujan deras seringkali mewarnai dalam tiap acara-acara sakral yang berhubungan dengan leluhur besar. Tidak hanya terjadi di Jawa, Sunda, Bali, Sumatera bahkan hingga di Kalimantan. Dalam tradisi Jawa, hujan yang tidak lazim terjadi itu sebagai pertanda diterimanya acara atau ritual yang akan kita laksanakan. Hujan pertanda baik biasanya terjadi beberapa saat sebelum acara dimulai, namun menjelang acara dimulai hujan akan reda kembali. Pukul 17.00 Wib (Jawa: pitulas, alias simbol bermakna “pitulungan lan kawelasan“) karena kami merasakan misteri daya tarik energi yang sangat kuat, akhirnya rombongan kami berempat memutuskan untuk berhenti tepatnya di Depot Arema di Jl Raya Jombang-Mojokerto, yang ternyata berjarak 2,100 meter dari Sitihinggil Trowulan. Sarasehan Bulan Purnama merupakan acara sakral dilaksanakan setiap siklus 210 hari. Sejenak rombongan kami menyeruput secangkir kopi, sementara itu terasa semakin kuat daya tarik energi. Pelacakan sumber energi menemukan datangnya energi itu berasal dari kolam raksasa Tambak Segaran. Kolam raksasa buatan manusia, sebagai situs peninggalan Majapahit yang telah berumur kurang lebih 800-900 tahun.

Pukul 17.30 wib hujan kembali reda. Dengan beberapa pertimbangan, kami memutuskan untuk kulonuwun terlebih dahulu kepada para leluhur yang berada di gerbang Siti Hinggil Trowulan dan kepada Panpel. Pada jam 19.00 wib atau jam 7 malam, dari Sasono Hinggil kami merapat ke Kolam Tambak Segaran yang berjarak hanya sekitar 1,7 km. Di lokasi kolam Tambak Segaran sudah menunggu dulur-dulur wetan ; Ki Camat Kec Taman (Ki Amig Bahrul Alam alias Ki Juru Taman), Ki Wongalus (KWA), Mas Kumitir (Alang-alang kumitir). Ditambah rombongan kami berempat, saya bersama istri, Mas Harimurti dari Jogja dan Mas Andreas dari Jakarta, sehingga jumlah rombongan kami ada 7 (pitulungan) orang. Kami mulai “neng” (meneng/jumeneng; berdiam raga dan konsentrasi untuk membangunkan kesadaran rasa sejati), dengan tujuan untuk meraih “ning” (wening/kebeningan atau ketajaman batin), sambil maneges kepada Jagadnata dan Para Leluhur Majapahit dengan harapan siapa tahu mendapat “nung” (kesinungan) berkah agung.

 Gerbang Metafisika

Beberapa menit hanya menyisakan kesunyian memagut yang membawa perasaan keheningan dan kedamaian begitu dalam. Membawa suasana hati yang tenteram. Kita bersihkan hati dari segala macam penghalang, bersihkan dari perasaan iri dan dengki. Kita netralkan dan beningkan pikiran dari segala prasangka buruk dan berbagai ilusi-halusinasi. Beberapa saat setelah kami menghaturkan sesaji menabur bunga sebagai pertanda “kulanuwun” dan salah satu upaya sembah bekti, attunment/penyelarasan, mensinergikan dengan getaran jagad semesta. Tak berapa lama kemudian gayung mulai bersambut. Segera tampak tanda kehadiran para abdidalem (pegawai kerajaan) Majapahit di masa lalu sebagai pertanda adanya sambutan “tuan rumah”. Saat itu belum juga tampak kehadiran leluhur Ratu Gung Binatara. Namun pada saat jarum jam menunjukkan pukul 20.10 wib (2010) kabut putih dan sangat tebal mendadak turun, kami melihat antara dimensi fisik dan metafisik sedang terjadi proses persisihan, seolah saling mendekatkan “jarak” di antaranya. Beberapa detik kemudian, terbukalah gerbang dimensi metafisik. Secara kasat mata, yang tampak sedikit berbeda dengan pemandangan sesungguhnya. Tujuh orang, semua melihat kabut putih begitu tebal, disertai hawa dingin, dan sedikit rintikan gerimis bagai percikan embun yang sangat menyejukkan. Di tengah kabut putih tebal itu, tepat di atas permukaan air tampak jelas muncul lingkaran bundar simetris berdiameter kurang lebih 20 meter. Bentuk dan warnanya sangat jelas karena saat itu bulan purnama sedang kuat memancarkan sinarnya. Di dalam lingkaran itu keadaannya sama sekali bersih dari kabut sehingga tampak lah warna bening kehitaman, tetapi jika dilihat dengan mata batin, segera tampak warna bening transparan membentuk lobang besar. Dalam waktu sekitar 20 menit, lingkaran tersebut berubah konfigurasi dari bentuk lingkaran, kemudian kedua sisi kiri-kanan perlahan berubah memanjang (mulur) membentuk alur panjang melengkung menjadi garis setengah lingkaran yang berdiameter lebih besar. Kedua ujung setengah lingkaran masing-masing menyentuh dinding kolam. Hingga tampak ada garis lengkungan (setengah lingkaran) besar seolah mengurung 7 orang rombongan kami. Bening, kehitaman, perlahan semakin mendekati posisi kami duduk bermeditasi, hingga berjarak sekitar 5 meter tepat di depan kami. Pada saat itu tampaklah titik cahaya putih terang berkilau di dasar air, yang dapat disaksikan sebagian besar anggota rombongan kami. Titik cahaya itu hanya sebesar lampu sein mobil, walaupun berada di dalam air ia memancarkan warna putih berkilau yang cukup terang. Benda misteri itu ternyata wujud Kalpika (cincin pusaka) milik Sri Narpati Brawijaya. Tepat pada pukul 20.40 wib, hanya dalam waktu kurang dari 2 menit, semua fenomena tersebut menjadi pudar dan lenyap dengan cepatnya. Lingkaran besar itu dengan cepatnya sirna kembali bagaikan tirai yang dibentangkan untuk menutup jendela. Pemandangan berganti dengan kabut putih tebal bagai layar terkembang menutupi permukaan air, sakral dan mistis seolah-olah “pagelaran wayang” akan segera dimulai. Saat itu di kejauhan terdengar sayup-sayup suara gending. Semoga suara gending itu merupakan isyarat pembuka mengiringi layar Nusantara yang mulai terkembang.

Misteri kolam mulai tersibak. Secara fisik berupa kolam raksasa dengan ukuran lebar sekitar 80 meter x 300 meter, namun secara metafisik merupakan Keraton Majapahit yang masih “eksis” hingga saat ini. Hanya bedanya, para penghuninya sudah melakukan proses  “metamorfosis”,  menjalani kehidupan sejati dengan tidak menggunakan jasad lagi. Mereka sekedar pindah dimensi saja. Mereka adalah generasi pendahulu kita yang sudah lahir ke dalam kehidupan sejati setelah sekian lama “sang janin” berada di dalam kandungan ibu pertiwi, di dalam rahim mercapada.

Rombongan kami segera beranjak kembali ke Sasono Hinggil Trowulan, di mana Mas Panji Trisula dan seluruh hadirin telah siap memulai mata acara. Tepat pada pukul 21.00 Wib (210) kami tiba di Pendopo Siti Hinggil. Saya semakin memahami apa yang disampaikan Mas Panji tentang siklus 210 hari. Sejak awal saya dihubungi Mas Panji saya meminta beliau memberi jadwal bicara pada pukul 21.00 wib dengan suatu alasan…entah! Saya hanya mengikuti getaran nurani saja dan kini semuanya sudah tejawab. Kata Mas Panji Trisula, acara sarasehan ini ternyata dilakukan dalam Siklus 210 hari sekali.mirip metamorfosa sel yang akan berkembang biak menjadi banyak kemudian menyebar benih di seluruh penjuru. Kajian Mikrobiologi siklus 210 harian dari Gede Junidwaja. Menurut beliau yang dulu punya bos bule dari USA seorang master biokimia lama tinggal di Bali dan sangat rajin melakukan riset mandiri. Menurut hipotesisnya ini terkait dengan telomere sel. Umur sel rata-rata 210 hari. “Sel di organ kita hari ini, akan berganti 210 hari lagi, jadi sel-sel buruk diubah paling  cepat 210 hari. Kuningan adalah nama wuku ke duabelas dalam tradisi Majapahitan. Jatuh setiap 210 hari sekali, tepat pada hari Raditya (Minggu) Wage. Dalam tradisi masyarakat  Hindu Bali pada wuku ini disebut hari suci Kuningan sebagai penutup serangkaian acara semenjak masuknya wuku Galungan (wuku ke sebelas) yang jatuh pada hari Raditya (Minggu) Pahing yang lalu”.

Namanya saja memperingati, mengenang, atau napak tilas. Angka 21 termasuk angka yang dikeramatkan oleh masyarakat Jawa, selain angka 7, 11, 17, 27. Kami pun akhirnya menemukan jawaban soal angka 21 pada saat menghadiri acara di Situs Kuno Trowulan. Termasuk sejak awal ingin sekali mengenakan kemeja warna merah dalam acara tersebut. Ternyata warna merah merupakan simbol sebagai warna identitas Majapahit, sebagaimana warna hijau sebagai identitas Mataram, dan warna kuning sebagai warna kebesaran Kerajaan Kutai.

Pukul 00.00 wib kami kembali ke kolam Tambak Segaran. Kali ini bersama para peserta acara Sarasehan Bulan Purnama, untuk tujuan atur sesaji tabur bunga, dan rombongan kami masih berharap dapat bertemu dengan para leluhur Majapahit atau pun yang lainnya. Pukul 00.00 wib para peserta mulai patrap semedi, untuk tujuan membawa kesadaran diri kita masing-masing berada dalam getaran theta, paling tidak mendekati getaran nol. Di mana bilangan nol sebagai keadaan tiada batas, bilangan tak terhingga, mau dibagi berapapun hasilnya tetap nol. Dalam kamus Jawa kita istilahkan sebagai keadaan batin Duwe Rasa, Ora Duwe Rasa Duwe (punya rasa, tidak punya rasa punya). Kita matikan kesadaran raga, untuk selanjutnya merubah kesadaran menjadi kesadaran sukma supaya kesadaran kita tidak lagi dicemari oleh ilusi dan halusinasi, termasuk imajinasi yang terlanjur tertanam kuat di dalam otak bawah sadar akibat doktrin sejak masa kanak-kanak. Kita berusaha membebaskan dan memerdekakan kesadaran spiritual kita, dengan cara membiarkan kesadaran ruh yang gantian berkuasa atas kesadaran raga.

Fenomena kembali muncul, suasana yang bening tak berkabut, tiba-tiba muncul kabut tebal dan putih, jelas-jelas bergerak cepat ke arah di mana kami duduk bersemedi di pinggir kolam sebelah timur. Terasa bagai butiran es saat kabut menerpa tubuh dan wajah kami. Serta merta kami mencoba maneges sembari menyerap energinya. Dahsyat sekali! Ada yang aneh, dan dapat disaksikan oleh sebagian rombongan kami, saat kabut itu tampak jelas sekali seperti teriris persis di tengah kolam. Sebelah kiri berkabut tebal sementara sebelah kanan bening tak ada kabut. Tidak ada degradasi kabut, tetapi berupa demarkasi membentuk garis lurus. Di balik itulah, tampak kehadiran Sri Narpati Brawijaya V berucap sesuatu. Tidak berlangsung lama kemudian memudar lagi. Selanjutnya kami pamit undur diri ke kembali ke Jogja.

 PERTEMUAN KETIGA

Senin Pahing surya kaping 18 tabuh 10.21 wib warsa 2011. Dada dan nafas tiba-tiba terasa sesak, terjadi desakan energi yang teramat sangat kuat. Hampir saja membuat tubuh terpental. Apa yang terjadi, sungguh suatu keberuntungan yang sangat besar. Kadya karoban segara madu. Denya sakdremo kawula titah alit, karawuhan tuwin pinaringan dawuh mring Srinarpati Gung Sang Prabu Brawijaya V. Tanpa diduga dikira sebelumnya, hadirlah leluhur agung Srinarpati Prabu Brawijaya V, beliau memanggil nama, menyebut nama, memberi kabar, memberi perintah. Bahwasannya maksud dan tujuan ritual Bulan Purnama diterima oleh para leluhur agung khususnya Majapahit, dan harapan kami terhadap perubahan di Nusantara mendapat pangestu. Mendapat sabda dari pandita ratu yang berarti idu geni, ucapannya akan terjadi. Ya..”kunci” Nusantara akan diberikan kepada seseorang yang mampu jumeneng Candraning-negara. Ing samangke sawuse siniram kanthi  tirtapraja. Sri Narpati berkata dalam bahasa Jawa Kuno, ini bukan pertemuan terakhir kali, melainkan awal, tunggu dawuh dan rawuhingsun untuk selanjutnya.

Mulai saat ini “segitiga ” kekuatan supra telah terbangun utuh. Kutai-Majapahit-Mataram. Yang berarti pula momentum perubahan Nusantara akan segera terjadi. Meskipun saat ini tengah berlangsung skenario besar oleh para leluhur agung Nusantara, akan tetapi tanpa adanya para generasi bangsa yang peduli untuk menjemputnya, skenario itu masih akan menunggu bangkitnya kesadaran prakawula muda bangsa untuk hamemayu hayuning bawana. Kini kesadaran spiritual dan genderang perdamaian semakin gencar ditabuh para kawula muda generasi penerus bangsa. Wolak-waliking jaman perlahan akan kembali ke arasnya semula, “becik ketitik, olo ketara“. Yang sering dituduh sesat, kapir kopar akan tampak sejatinya, yang merasa paling bener akan terbongkar kedoknya.

Kian tampak cemerlang kilauan intan permata

yang selama ini terendam oleh lumpur,

Emas akan kembali tampak sebagai emas,

yang tembaga akan kembali tampak aslinya sebagai tembaga,

besi-besi logam karatan

lebur oleh kekuatan bantala.

Wus katon suryo mencorong soko bang-bang wetan.

 Semua itu berada dalam skenario besar kekutan supra

terangkum dalam pola “triangle super power”.

Kekuatan supra telah membimbing dan menyadarkan generasi penerus bangsa.

Kepada yang terpilih dan pinilih untuk menemukan apa sejatinya hidup.

Seiring dengan ledakan medan magnet galaktika,

yang memaksa manusia macam mana,

untuk bermeditasi, mesu budi, dan mesu raga.

Supaya memahami kehidupan yang sejati.

Yang melawan kodrat, akan menderita sakit jiwa,

yang selaras akan merdeka lahir batinnya.

Lahirlah generasi baru Nusantara

Yang mengerti diri sejatinya.

Mampu mengembalikan Nusantara pada sejati-ning nuswantara. Membangun kembali karakter bangsa. Nusantara ya nusantara, bukanlah negara manca. Negeri ini akan kembali menjadi dirinya sendiri, bukan bangsa yang suka mengebiri kesadaran sejati. Bukan lagi menjadi bangsa pengekor, berwatak dan berfikiran kotor, bukan bangsa budak, bukan bangsa imitasi, yang selalu menganggap kerusakan moral sebagai bentuk cobaan, yang dikiranya bukti dirinya disayang ilahi.

Segitiga kekuatan supra itu, jika dibuka akan berubah bagaikan senjata trisula. Kini senjata trisula tengah dipersiapkan tangkainya, yakni generasi penerus putra raja Kutai Lama YM Sri Raja Kudungga yang bernama Sri Baduga Purnawarman, yang telah membabar bibit kerajaan-kerajaan di tlatah Pasundan. Pelan namun pasti, kini dulur-dulur sadayana ti tatar Parahyangan mulai menggeliat bangun dari tidur panjangnya, mundi dawuh melaksanakan tugasnya sebagai barudak angon, mengumpulkan ranting-ranting kering yang berserakan seolah tiada harganya. Kelak sang SP-RA akan berhasil membangun “senjata trisula” yang utuh berikut tangkainya. Sebagai lambang persatuan kembali keluarga besar Kutai Lama, dengan ke tiga puteranya yakni Mulawarman (trah raja-raja di Sumatera), Purnawarman (trah raja-raja di tatar Sunda), Aswawarman (trah Majapahit hingga Mataram sebagai generasi penerus Kutai Lama). Setelah Nusantara kembali pada diri sejatinya, bukan mustahil akan menjadi mercusuar dunia dalam bidang spiritual, kebudayaan, kesejahteraan dan kemakmurannya. Negeri yang adil makmur, gemah ripah loh jinawi, tata titi tentrem kerta raharja, kalis ing rubeda nir ing sambekala. Sebagai anugrah besar atas bangsa ini, atas jerih payah Anda semua generasi penerus bangsa yang tiada hentinya membangun karakter dan menggali jati diri Nusantara, setelah ratusan tahun lenyap dan membawanya terperosok ke dalam lumpur kesengsaraan dan penderitaan.

 Sudah Keterlaluan-kah ?

Keterlaluan bila kita tak bangga, Nusantara bukan lah bangsa primitif yang miskin situs budaya, atau sekedar mewarisi alat-alat peperangan dan kekerasan saja. Nusantara merupakan bangsa yang kaya ragam seni-budaya sebagai tolok ukur tingginya peradaban dan kesadaran spiritualnya. Walau kini Nusantara masih terus menukik, terjun bebas ke dasar jurang. Kita tunggu detik-detik suara dentuman setelah ia menyentuh dasar jurang. Barulah daya pantulnya akan membawa Nusantara untuk bangkit secara perlahan namun pasti. Kita semua generasi muda penerus bangsa, adalah sumber daya pantul itu. Tentu saja bagi  generasi yang telah merdeka kesadaran spiritulanya. Generasi yang sudah keluar dari tempurung kebodohan. Makasih mas Panji Trisula (Bustanus Salatin), panjenengan memiliki andil sangat besar dalam terlaksananya acara sakral dan penuh makna di Trowulan Mojokerto Jatim. Panjenengan menjadi salah satu jalma pinilih yang dilibatkan oleh para leluhur besar Nusantara dalam rangka save our country project. Juga seluruh hadirin yang terhormat, Anda semua telah lolos seleksi, berhasil melewati rintangan dan gangguan sehingga tidak gagal mengikuti acara di Trowulan. Termasuk seluruh sedulur dari elemen dan komunitas manapun juga yang mendukung berlangsungnya acara tersebut. Dari IPPNU, SI, GPS, Beceka, Lakutama, Majapahit Wilwtk, Mahavihara Majapahit, Swara Majapahit, Mojokertokab.co, Pemerintah Kab Mojokerto, dan terutama utk Indonesia Adil dan Makmur berbasis sosial demokrat, dan semua elemen yang lupa kami disebutkan di sini. Semua tak ada yang sia-sia. Kebaikan yang Anda lakukan akan kembali kepada diri sendiri, bahkan menjadi kebaikan lebih besar lagi, bagaikan hukum gema suara. Yang dapat menyelamatkan Nusantara bukanlah generasi jahil, bukan bangsa-bangsa lain dan bukan pula jiwa-jiwa berisi nafsu imperialism, tetapi generasi muda bangsa yang berjiwa Nusantara dan mengerti diri sejati.

Rahayu Sagung Dumadi

Sabdalangit

Categories: KI SABDALANGIT | 267 Komentar

HATI-HATI PENIPUAN!


KAMI MENDAPAT LAPORAN BAHWA SEORANG PEMOSTING AMALAN BERIKUT INI “KAYA DENGAN AYAT KURSI” DIDUGA ADALAH SALAH SEORANG ANGGOTA JARINGAN SINDIKAT PENIPUAN DAN TELAH MELAKUKAN KEJAHATAN PENIPUAN BERKALI-KALI. PENGAKUAN PARA KORBAN, MEREKA TELAH MENYETORKAN UANG HINGGA 20-25 JUTA RUPIAH. KORBAN SEKARANG SEDANG MELAPORKAN KE APARAT PENEGAK HUKUM TERKAIT KASUS PENIPUAN TERSEBUT.

TAK HENTI-HENTINYA KAMI MENGHIMBAU DALAM BERBAGAI KESEMPATAN AGAR SEDULUR SEMUA TIDAK MUDAH PERCAYA DAN TETAP MENGGUNAKAN AKAL SEHAT (BERSIKAP RASIONAL) BILA BERHUBUNGAN DENGAN ORANG LAIN KHUSUSNYA MEREKA YANG MENGAKU-AKU MEMILIKI KEAHLIAN ILMU-ILMU GOIB.

BLOG KAMPUS WONG ALUS (KWA) INI HADIR SEBAGAI PENGHANTAR AGAR SEDULUR SEMUA BISA MEMBANGUN SIKAP KRITIS, RASIONAL DAN CERDAS, TIDAK MUDAH PERCAYA  BEGITU SAJA TANPA DASAR LOGIKA DAN NALAR.  TERUSLAH BELAJAR  AGAR TAHU DAN MEMAHAMI HAKIKAT SESUNGGUHNYA TENTANG GOIB ITU SEPERTI APA.

PERLU DIKETAHUI BAHWA PEMBELAJARAN ILMU-ILMU GOIB YANG SESUNGGUHNYA TIDAKLAH PEMBELAJARAN ILMU TENTANG MIMPI AKAN REZEKI YANG BERLIMPAH,  BAYANGAN, GAMBARAN, IMAJINASI, MUKJIZAT, KAROMAH, ILUSI-ILUSI SEBAGAIMANA YANG SERING DIPERTONTONKAN DI PERTUNJUKAN-PERTUNJUKAN SULAP.

PERLU PULA DIMENGERTI BAHWA PEMBELAJARAN  ILMU-ILMU GOIB SANGAT RAWAN DIJADIKAN ALAT PENIPUAN PARA OKNUM YANG MENGAKU-NGAKU PARANORMAL PADAHAL SESUNGGUHNYA OKNUM YANG TIDAK BERTANGGUNGJAWAB DAN HADIR HANYA UNTUK MENGERUK KEUNTUNGAN PRIBADI SEMATA. TERIMA KASIH.

TTD
PENGURUS KWA

XXXXX

“KAYA DENGAN AYAT KURSI”

082177129323
hedarali53@ymail.com
اَلْسَلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُاللهِ وَبَرَكَاتُهْ

اَللهُ لآإلَهَ إلاٌ هُوَالْحَيُ الْقَيُومُ لاَ تَأ خذهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمُ لَهُ مافىِ الْسَمَوَتِ وَمَا فِى الْأَرْضِ مَنْ ذَاالٌذِى يَشْفَعُ عَنْدَهُ إلأ بِإِذْنِهِجيَعْلَمُ مَابَيْنَ أيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَيُحِيطُونَ بِشَىءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلآبِمَا شَآءَ وَسِعَ كُرْسِيُهُ السَمَوَتِ وَلْأَرْضَ يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَالْعَلِىُ الْعَظِيْمُ

Ayat Kursi sungguh luar biasa kemukjizatannya sehingga menjadikan ayat ini sebagai ayat pamungkas dari Al-Quran. Mukjizatnya ternyata lebih dari apa yang tidak pernah terbayang oleh benak kita maka dari itu Rasulullah saw tidak pernah lupa menzikirkan Ayat Kursi di dalam setiap keadaan. Ayat ini juga disebut sebagai Ayat Nabi karena seluruh 124.000 Nabi dan 313 Rasul selalu membacanya hingga akhir zaman.

Bila ada saudaraku yang merasa mencari rezeki sangat sulit dan ingin kaya dengan jalan yang diridhoi oleh Allah swt maka amalkanlah thoriqoh ini dengan ikhlas dan khusuk mudah-mudahan Allah membukakan apa yang belum pernah saudara lihat serta mendatangkan bala bantuan tanpa disangka-sangka.Lakukan sholat hajat 4 rakaat 1 salam selama 40 malam dilakukan setelah sholat isya.

Pada rakaat pertama sesudah Al-Fatihah bacalah Surat Al-Baqarah ayat 286 sebanyak 3x
Pada rakaat yang ke 2 sesudah Al-Fatihah membaca kembali Surat Al-Baqarah ayat 286 sebanyak 3x
Pada rakaat ke 3 sesudah Al-Fatihah bacalah Surat Aljazalah 15 x
Pada rakaat ke 4 sesudah Al-Fatihah bacalah Surat Al-Ikhlas 25 x

Sesudah salam bacalah Ayat Kursi 1.100 x dengan hati khusuk dan hening. Insya Allah apa yang saudara inginkan akan terwujud seketika dalam waktu sekejab. Mudah-mudaha bermanfaat bagi saudaraku semua…..

Mohon ma,af apabila tulisan kami salah mohon di koreksi Dan silahkan di amalkan bolo K.W.A @@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 227 Komentar

SAHADAT BANTEN


kiagengjembarjumantoro@yahoo.co.id

Assalamualaikum wr wb.
Rahayu untuk semuanya.
Segala puji bagi Allah Tuhan  seru sekalian alam.

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM…… LILLAHITA’ALAA……….. SAYA IJAZAHKAN SAHADAT BANTEN UNTUK DULUR- DULUR KWA.

“SAHADAT BANTEN”

BISMILLAHIRROHMANIRROHIMI
ASHADU KALIMAT NAPAS
SABADAN ABADANA
ASHADU KALIMAT TIPAL-TIPAL
INGSUN YAH TAMPE RAHMAT ILLALLAH
KANG TANPE  IMAN
LAILLAHAILLALLAH MUHAMMADARROSULULLAH

Dibaca ba’da magrib dan subuh 3x Atau 313x  atau 1000x selama 7 hari, setelah selesai riyadhoh Di baca ba’da shalat seikhlasnya, berfungsi pengharapan semoga Allah memberikan kemanjuran dlm hal niat dan hajat kita.

Sebelumnya tawasul sprti biasa (kpd Nabi Muhammad jg para wali). semoga bermanfaat utk kita smua amin.

Perlu dulur-dulur ketahui untuk mendapatkan ilmu ini perlu perjuangan yg luar biasa, kalau saya ceritakan di sini tidak akan cukup saya mengetik selama 24 jam.

Semoga bermanfaat bagi anda dan menjadi ladang amal ibadah bagi kita. Semoga sholawat dan salam tetap melimpah kepada junjungan kita Rosulullah SWA berserta keluarganya. Terima kasih.

Wassalamualaikum wr wb.

KIAGENG J J
(PADEPOKAN JUMANTORO)
081.381.139.135.

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA 2 | 210 Komentar

ASMA’ MAGHROBI I


By : Gus Noer
satria_lamong77@yahoo.com

Assalammu’alaikum wr.wb.

Puji Syukur Alhamdulillah kami senantiasa akan kami haturkan ke hadirat Gusti ALLOH TA’ALA Tuhan kami yg maha segalanya. Sholawat serta salam semoga tetap terlimpahkan untuk kanjeng Rosul  Muhammad  S.A.W. Sholallah ‘alaa sayyidina Muhammad.

Salam Ta’dziem penuh hormat sungkem pada semua sesepuh yg mengampuh blog ini, yang mengamati tanpa banyak coment padahal beliau-beliau ini cukup ahli dan lebih faham, maafkan kami al fakir arek yg masih hijau ini mencoba mengkabarkan dan berbagi sedikit pemahaman akan ilmu amalan, semoga ini menjadi wasilah kemulyaan bagi guru-guru kami, menjadi sodaqoh amal jariyah ilmu bagi al mujiz. Mohon maaf apabila ada salah tulis atau coment, salam hormat kami bagi semua sahabat, sedulur dan rekan semua. Salam penuh hormat dengan menundukkan kepala kami haturkan pada semua : Wongalus sebagai pengampuh blog dan semua sahabat.

Semoga amalan ini bermanfaat bagi semua pembaca yang mau mengamalkan dengan penuh Istikhomah, ikhlas dan pasrah dengan penuh kesabaran dan pengharapan serta keyakinan akan Ma’unah Gusti Alloh SWT yang maha pengasih lagi maha penyayang. Inilah Amalan ilmu yang di wariskan oleh sesepuh ulama’ ahli hikmah kepada kita semua, salah satunya yaitu  “ASMA’ MAGHROBI  I“  SBB :

“BISMILLAHIR ROHMANIR ROHIIM. ROBBI ADKHILNI MUDKHOLA SIDQIN WA AKHRIJNI MUKHROJA SIDQIN WAJ’AL LII MILLADUNKA SULTOONAN NASIIRO“ (QS.Al-Isra’ : 80)

Tata cara riadlonya :

1.

Harus di baca selama minimal 7 hari 7 malam atau kalau kuat dan tidak memberatkan 41 hari.

2.

Di baca ba’da Sholat Maghrib dan sholat subuh sebanyak 100x dan malamnya pas ritual amalan ini harus melaksanakan sholat malam sholat hajad maupun Tahajjud, amalan di baca 100x

3.

Akan lebih baik kalau di sertai puasa Bilaruh selama 7 hari

4.

Sebelum membaca Asma’ ini harus di dahului baca tawassul al fatehah sebanyak 313x kepada :

- fidyah al fatehah khususon Kanjeng Rosul…100 x
- fidyah al fatehah khususon Syech Abdul Qodir Al jaelani.100 x
- fidyah al fatehah khususon ke dua orang tua kita…100 x
- fidyah al fatehah khususon al mujiz…….13 x

5.

Untuk seterusnya cukup di baca sebanyak 7x atau semampunya saja ba’da sholat Maghrib dan sholat subuh.

6.

Kegunaan yang pasti sangat Multifungsi, yang lebih utama amalkan dengan penuh keikhlasan, istiqomah dan pasrah saja. Karena sifat amalan ini kalau di baca secara khusu’ menurut keterangan para ahli Hikmah akan sanggup menuntaskan segala hajad besar, bisa membantu segala urusan. Karakter amalan ini mendinginkan dan menentramkan hati dan fikiran menjadi lebih tenang. Dapat menolak bahaya & rekayasa orang yg berniat jahat dll. Bi’idznillah, InsyaALLAH. Mohon maaf apabila ada salah ketik dll  dan trims. Wassalam.  ۞

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA 2 | 124 Komentar

Blog pada WordPress.com. The Adventure Journal Theme.