KISAH PARA PAHLAWAN ACEH MENANG PERANG: CERDAS, ULET DAN TANGGUH


SINGA MARANTEE

Assalamu ‘alaikum wr, wb…..

Melalui artikel ini, saya SINGA MARANTEE ingin menguak sejarah yang hilang, menurut sejarah yang ditulis Belanda, Aceh adalah daerah yang tidak pernah di taklukkan, prajurit Aceh masa itu daya tahannya luar biasa, sebenarnya yang menjadi spiritnya adalah kalimah LAA ILAAHAILLALLAH dan hikayat PRANG SABI ( perang sabil / sabilillah ) yang dikarang oleh ABU KRUENG KALEE, setiap prajurit akan berangkat perang dibacakannlah syair hikayat prang sabi yang membuat darah pejuang Aceh mendidih, karena berperang mengahadapi KAPHE BEULANDA ( kafir belanda )., makanya spiritnya menguat krn jihad yang jaminannya SYURGA FIRDAUS.

 Adalah umum pada masa itu mereka memiliki ilmu panglimunan ( ilmu menghilang ) , ilmu itu sudah umum dimiliki prajurit Aceh masa itu, dan prajurit Aceh mempunyai pedang yang bisa memotong musuh dalam jarak 300- 500 Meter, ini dicatat dalam sejarah belanda, melalui Koran lokal pada masa Gubernur Abdullah Puteh menjabat sebelum tsunami, pemerintah Belanda pernah memulangkan sebilah pedang berkunci rantai ( PEUDEUNG MEUGUNCI ) dan sebilah SIWAH emas ( mirip rencong tapi bergagang lurus dan panjang )yang menurut cerita milik pejuang dari dataran tinggi Gayo ( milik panglima kumis tembaga gelarnya oleh belanda ).., beliau berjuang seorang diri, tidak pernah mau bergabung dengan kaum prajurit Aceh umumnya kala itu, pedang terkunci tersebut dalam pembutannya setelah ditempa dalam keadaan panas membara lalu disapukan pada ketiak sebagai sepuhan, bukan dalam air seperti membuat pisau atau parang apada umumnya, demikian salahsatu cerita dari pak Kaman / kamaruzzaman di tanah merah gayo, kab. Aceh utara, Nanggroe Aceh Darussalam…

 Untuk sekedsar melestarikan budaya kita, saya ingin tau apakah masih ada pedang semikian dan ahlinya saat ini…?? Ini sebagai rasa penasaran saya bagaimana cara bertempur orang tempoe doeloe menghadapi musuh dengan trik dan peralatan yang lebih canggih masa itu.

 

Sultan Iskandar Muda (1593-1636)

1. Riwayat Hidup
Snouck Hurgronje pernah menyatakan bahwa kisah tentang Sultan Iskandar Muda hanya dongeng belaka. Sayangnya, Horgronje hanya mendasari penelitiannya pada karya-karya klasik Melayu, seperti Bustan al-Salatin, Hikayat Aceh, dan Adat Aceh. Sejarah Aceh rupanya dipahami Horgronje secara keliru. Sebagai perbandingan, kita bisa membaca penelitian Denys Lombard, Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636) yang di samping menggunakan sumber-sumber Melayu setempat (Bustan al-Salatin, Hikayat aceh, dan Adat Aceh), juga menggunakan sumber-sumber Eropa dan Tionghoa. Di samping kedua sumber itu, Lombard juga menggunakan kesaksian para musafir Eropa yang sempat tinggal di Aceh pada saat itu, seperti Frederik de Houtman, John Davis, dan terutama Augustin de Beaulieu. Penelitian Lombard bisa dikatakan mampu menyajikan fakta sejarah sesuai aslinya, dan itu berarti ia justru membalikkan tesis Horgronje. Lombard membuktikan bahwa masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda merupakan masa kejayaan yang sangat gemilang.

Sultan Iskandar Muda merupakan raja paling berpengaruh pada Kerajaan Aceh. Ia lahir di Aceh pada tahun 1593. Nama kecilnya adalah Perkasa Alamo rang aceh menyebut PO TEUMEURHOM karena menurut orang tua-tua dulu dia adalahseorang pemuda sakti yang jago bela diri yang memenangkan pertarungan melalui sayembara untuk jadi Raja , po = asal kata dari pertanyaan masyarakat waktu itu waktu menyaksikan pertarungan..anak siapa..? atau seupo = siapa..?? TEUMEREUHOM = asal kata dari HOM = entah/ gak tau atau tidak dikenal... karena waktu itu Iskandar muda dating dgn menunggangi gajah putih, Dari pihak ibu, Sultan Iskandar Muda merupakan keturunan dari Raja Darul-Kamal, sedangkan dari pihak ayah ia merupakan keturunan Raja Makota Alam. Ibunya bernama Putri Raja Indra Bangsa, atau nama lainnya Paduka Syah Alam, yang merupakan anak dari Sultan Alauddin Riayat Syah, Sultan Aceh ke-10. Putri Raja Indra Bangsa menikah dengan Sultan Mansyur Syah, putra dari Sultan Abdul Jalil (yang merupakan putra dari Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahhar, Sultan Aceh ke-3). Jadi, sebenarnya ayah dan ibu dari Sultan Iskandar Muda merupakan sama-sama pewaris kerajaan. Sultan Iskandar Muda menikah dengan seorang putri dari Kesultanan Pahang, yang lebih dikenal dengan Putroe Phang. Dari hasil pernikahan ini, Sultan Iskandar Muda dikaruniai dua buah anak, yaitu Meurah Pupok dan Putri Safiah. Perjalanan Sultan Iskandar Muda ke Johor dan Melaka pada 1612 sempat berhenti di sebuah Tajung (pertemuan sungai Asahan dan Silau) untuk bertemu dengan Raja Simargolang. Sultan Iskandar Muda akhirnya menikahi salah seorang puteri Raja Simargolang yang kemudian dikaruniai seorang anak bernama Abdul Jalil (yang dinobatkan sebagai Sultan Asahan 1).

Sultan Iskandar Muda mulai menduduki tahta Kerajaan Aceh pada usia yang terbilang cukup muda (14 tahun). Ia berkuasa di Kerajaan Aceh antara 1607 hingga 1636, atau hanya selama 29 tahun. Kapan ia mulai memangku jabatan raja menjadi perdebatan di kalangan ahli sejarah. Namun, mengacu pada Bustan al-Salatin, ia dinyatakan sebagai sultan pada tanggal 6 Dzulhijah 1015 H atau sekitar awal April 1607. Masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda tersebut ini dikenal sebagai masa paling gemilang dalam sejarah Kerajaan Aceh Darussalam. Ia dikenal sangat piawai dalam membangun Kerajaan Aceh menjadi suatu kerajaan yang kuat, besar, dan tidak saja disegani oleh kerajaan-kerajaan lain di nusantara, namun juga oleh dunia luar. Pada masa kekuasaannya, Kerajaan Aceh termasuk dalam lima kerajaan terbesar di dunia.

Langkah utama yang ditempuh Sultan Iskandar Muda untuk memperkuat kerajaan adalah dengan membangun angkatan perang yang umumnya diisi dengan tentara-tentara muda. Sultan Iskandar Muda pernah menaklukan Deli, Johor, Bintan, Pahang, Kedah, dan Nias sejak tahun 1612 hingga 1625. Sultan Iskandar Muda juga sangat memperhatikan tatanan dan peraturan perekonomian kerajaan. Dalam wilayah kerajaan terdapat bandar transito (Kutaraja, kini lebih dikenal Banda Aceh) yang letaknya sangat strategis sehingga dapat menghubungkan roda perdagangan kerajaan dengan dunia luar, terutama negeri Barat. Dengan demikian, tentu perekonomian kerajaan sangat terbantu dan meningkat tajam.

Dalam bidang ekonomi, Sultan Iskandar Muda menerapakan sistem baitulmal. Ia juga pernah melakukan reformasi perdagangan dengan kebijakan menaikkan cukai eksport untuk memperbaiki nasib rakyatnya. Pada masanya, sempat dibangun juga saluran dari sungai menuju laut yang panjangnya mencapai sebelas kilometer. Pembangunan saluran tersebut dimaksudkan untuk pengairan sawah-sawah penduduk, termasuk juga sebagai pasokan air bagi kehidupan masyarakat dalam kerajaan.

Sultan Iskandar Muda dikenal memiliki hubungan yang sangat baik dengan Eropa. Konon, ia pernah menjalin komunikasi yang baik dengan Inggris, Belanda, Perancis, dan Ustmaniyah Turki. Sebagai contoh, pada abad ke-16 Sultan Iskandar Muda pernah menjalin komunikasi yang harmonis dengan Kerajaan Inggris yang pada saat itu dipegang oleh Ratu Elizabeth 1. Melalui utusannya, Sir James Lancester, Ratu Elizabeth 1 memulai isi surat yang disampaikan kepada Sultan Iskandar Muda dengan kalimat: “Kepada Saudara Hamba, Raja Aceh Darussalam”. Sultan kemudian menjawabnya dengan kalimat berikut: “I am the mighty ruler of the religions below the wind, who holds way over the land of Aceh and over the land of Sumatera and over all the lands tributary to Aceh, which stretch from the sunrise to the sunset (Hambalah sang penguasa perkasa negeri-negeri di bawah angin, yang terhimpun di atas tanah Aceh dan atas tanah Sumatera dan atas seluruh wilayah-wilayah yang tunduk kepada Aceh, yang terbentang dari ufuk matahari terbit hingga matahari terbenam)”.

Pada masa pemerintahannya, terdapat sejumlah ulama besar. Di antaranya adalah Syiah Kuala sebagai mufti besar di Kerajaan Aceh pada masa Sultan Iskandar Muda. Hubungan keduanya adalah sebagai penguasa dan ulama yang saling mengisi proses perjalanan roda pemerintahan. Hubungan tersebut diibaratkan: Adat bak Peutu Mereuhum, syarak bak Syiah di Kuala (adat di bawah kekuasaan Sultan Iskandar Muda, kehidupan beragama di bawah keputusan Tuan Syiah Kuala). Sultan Iskandar Muda juga sangat mempercayai ulama lain yang sangat terkenal pada saat itu, yaitu Syeikh Hamzah Fanshuri dan Syeikh Syamsuddin as-Sumatrani. Kedua ulama ini juga banyak mempengaruhi kebijakan Sultan. Kedua merupakan sastrawan terbesar dalam sejarah nusantara.

Sultan Iskandar Muda meninggal di Aceh pada tanggal 27 Desember 1636, dalam usia yang terbilang masih cukup muda, yaitu 43 tahun. Oleh karena sudah tidak ada anak laki-lakinya yang masih hidup, maka tahta kekuasaanya kemudian dipegang oleh menantunya, Sultan Iskandar Tani (1636-1641). Setelah Sultan Iskandar Tani wafat tahta kerajaan kemudian dipegang janda Iskandar Tani, yaitu Sultanah Tajul Alam Syafiatudin Syah atau Puteri Safiah (1641-1675), yang juga merupakan puteri dari Sultan Iskandar Muda.

2. Pemikiran
Sultan Iskandar Muda merupakan pahlawan nasional yang telah banyak berjasa dalam proses pembentukan karakter yang sangat kuat bagi nusantara dan Indonesia. Selama menjadi raja, Sultan Iskandar Muda menunjukkan sikap anti-kolonialismenya. Ia bahkan sangat tegas terhadap kerajaan-kerajaan yang membangun hubungan atau kerjasama dengan Portugis, sebagai salah satu penjajah pada saat itu. Sultan Iskandar Muda mempunyai karakter yang sangat tegas dalam menghalau segala bentuk dominasi kolonialisme. Sebagai contoh, kurun waktu 1573-1627 Sultan Iskandar Muda pernah melancarkan jihad perang melawan Portugis sebanyak 16 kali, maski semuanya gagal karena kuatnya benteng pertahanan musuh. Kekalahan tersebut menyebabkan jumlah penduduk turun drastis, sehingga Sultan Iskandar Muda mengambil kebijakan untuk menarik seluruh pendudukan di daerah-daerah taklukannya, seperti di Sumatera Barat, Kedah, Pahang, Johor dan Melaka, Perak, serta Deli, untuk migrasi ke daerah Aceh inti.

Pada saat berkuasa, Sultan Iskandar Muda membagi aturan hukum dan tata negara ke dalam empat bidang yang kemudian dijabarkan secara praktis sesuai dengan tatanan kebudayaan masyarakat Aceh. Pertama, bidang hukum yang diserahkan kepada syaikhul Islam atau Qadhi Malikul Adil. Hukum merupakan asas tentang jaminan terciptanya keamanan dan perdamaian. Dengan adanya hukum diharapkan bahwa peraturan formal ini dapat menjamin dan melindungi segala kepentingan rakyat. Kedua, bidang adat-istiadat yang diserahkan kepada kebijaksanaan sultan dan penasehat. Bidang ini merupakan perangkat undang-undang yang berperan besar dalam mengatur tata negara tentang martabat hulu balang dan pembesar kerajaan. Ketiga, bidang resam yang merupakan urusan panglima. Resam adalah peraturan yang telah menjadi adat istiadat (kebiasaan) dan diimpelentasikan melalui perangkat hukum dan adat. Artinya, setiap peraturan yang tidak diketahui kemudian ditentukan melalui resam yang dilakukan secara gotong-royong. Keempat, bidang qanun yang merupakan kebijakan Maharani Putro Phang sebagai permaisuri Sultan Iskandar Muda. Aspek ini telah berlaku sejak berdirinya Kerajaan Aceh.

Sultan Iskandar Muda dikenal sebagai raja yang sangat tegas dalam menerapkan syariat Islam. Ia bahkan pernah melakukan rajam terhadap puteranya sendiri, yang bernama Meurah Pupok karena melakukan perzinaan dengan istri seorang perwira. Sultan Iskandar Muda juga pernah mengeluarkan kebijakan tentang pengharaman riba. Tidak aneh jika kini Nagroe Aceh Darussalam menerapkan syariat Islam karena memang jejak penerapannya sudah ada sejak zaman dahulu kala. Sultan Iskandar Muda juga sangat menyukai tasawuf.

Sultan Iskandar Muda pernah berwasiat agar mengamalkan delapan perkara, di antaranya adalah sebagai berikut. Pertama, ia berwasiat kepada para wazir, hulubalang, pegawai, dan rakyat agar selalu ingat kepada Allah dan memenuhi janji yang telah diucapkan. Kedua, jangan sampai para raja menghina alim ulama dan ahli bijaksana. Ketiga, jangan sampai para raja percaya terhadap apa yang datang dari pihak musuh. Keempat, para raja diharapkan membeli banyak senjata. Pembelian senjata dimaksudkan untuk meningkatkan kekuatan dan pertahanan kerajaan dari kemungkinan serangan musuh setiap saat. Kelima, hendaknya para raja mempunyai sifat pemurah (turun tangan). Para raja dituntut untuk dapat memperhatikan nasib rakyatnya. Keenam, hendaknya para raja menjalankan hukum berdasarkan al-Qur‘an dan sunnah Rasul. Di samping kedua sumber tersebut, sumber hukum lain yang harus dipegang adalah qiyas dan ijma‘, baru kemudian berpegangan pada hukum kerajaan, adat, resam, dan qanun. Wasiat-wasiat tersebut mengindikasikan bahwa Sultan Iskandar Muda merupakan pemimpin yang saleh, bijaksana, serta memperhatikan kepentingan agama, rakyat, dan kerajaan.

Hamka melihat kepribadian Sultan Iskandar Muda sebagai pemimpin yang saleh dan berpegangan teguh pada prinsip dan syariat Islam. Tentang kepribadian kepemimpinannya, Antony Reid melihat bahwa Sultan Iskandar Muda sangat berhasil menjalankan kekuasaan yang otoriter, sentralistis, dan selalu bersifat ekspansionis. Karakter Sultan Iskandar tersebut memang banyak dipengaruhi oleh sifat kakeknya. Kejayaan dan kegemilangan Kerajaan Aceh pada saat itu memang tidak luput dari karakter kekuasaan monarkhi karena model kerajaan berbeda dengan konsep kenegaraan modern yang sudah demokratis.

3. Karya
Surat Sultan Iskandar Muda kepada Raja Inggris King James 1 pada tahun 1615 merupakan salah satu karyanya yang sungguh mengagumkan. Surat (manuskrip) tersebut berbahasa Melayu, dipenuhi dengan hiasan yang sangat indah berupa motif-motif kembang, tingginya mencapai satu meter, dan konon katanya surat itu termasuk surat terbesar sepanjang sejarah. Surat tersebut ditulis sebagai bentuk keinginan kuat untuk menunjukkan kepada dunia internasional betapa pentingnya Kerajaan Aceh sebagai kekuatan utama di dunia.

Masa kejayaan Sultan Iskandar Muda, di samping kebijakan reformatifnya, juga ditandai dengan luasnya cakupan kekuasaannya. Pada masanya, wilayah Kerajaan Aceh telah mencapai pesisir barat Minangkabau dan Perak.

Teuku Umar (1854 – 1899)

1. Riwayat Hidup
Aceh merupakan salah satu wilayah yang memiliki peran sangat besar terhadap perjuangan dan kemerdekaan bangsa Indonesia dari tangan penjajah. Di tanah ini, banyak muncul pahlawan-pahlawan nasional yang sangat berjasa, tidak hanya untuk rakyat Aceh saja tapi juga untuk rakyat Indonesia pada umumnya. Salah satu pahlawan tersebut adalah Teuku Umar. Ia dilahirkan pada tahun 1854 (tanggal dan bulannya tidak tercatat) di Meulaboh, Aceh Barat, Indonesia. Ia merupakan salah seorang pahlawan nasional yang pernah memimpin perang gerilya di Aceh sejak tahun 1873 hingga tahun 1899.

Kakek Teuku Umar adalah keturunan Minangkabau, yaitu Datuk Makdum Sati yang pernah berjasa terhadap Sultan Aceh. Datuk Makdum Sati mempunyai dua orang putra, yaitu Nantan Setia dan Achmad Mahmud. Teuku Achmad Mahmud merupakan bapak Teuku Umar.
Ketika perang aceh meletus pada 1873 Teuku Umar ikut serta berjuang bersama pejuang-pejuang Aceh lainnya, padahal umurnya baru menginjak19 tahun. Mulanya ia berjuang di kampungnya sendiri yang kemudian dilanjukan ke Aceh Barat. Pada umur ini, Teuku Umar juga sudah diangkat sebagai keuchik (kepala desa) di daerah Daya Meulaboh.

Kepribadiaan Teuku Umar sejak kecil dikenal sebagai anak yang cerdas, pemberani, dan kadang suka berkelahi dengan teman-teman sebayanya. Ia juga memiliki sifat yang keras dan pantang menyerah dalam menghadapi segala persoalan. Teuku Umar tidak pernah mendapakan pendidikan formal. Meski demikian, ia mampu menjadi seorang pemimpin yang kuat, cerdas, dan pemberani. Pernikahan Teuku Umar tidak sekali dilakukan. Ketika umurnya sudah menginjak usia 20 tahun, Teuku Umar menikah dengan Nyak Sofiah, anak Uleebalang Glumpang. Untuk meningkatkan derajat dirinya, Teuku Umar kemudian menikah lagi dengan Nyak Malighai, puteri dari Panglima Sagi XXV Mukim. Sejak saat itu, ia mulai menggunakan gelar Teuku. Pada tahun 1880, Teuku Umar menikahi janda Cut Nyak Dien, puteri pamannya. Sebenarnya Cut Nyak Dien sudah mempunyai suami (Teuku Ibrahim Lamnga) tapi telah meninggal dunia pada Juni 1978 dalam peperangan melawan Belanda di Gle Tarun. Setelah itu, Cut Nyak Dien bertemu dan jatuh cinta dengan Teuku Umar. Keduanya kemudian berjuang bersama melancarkan serangan terhadap pos-pos Belanda di Krueng. Hasil perkawinan keduanya adalah anak perempuan bernama Cut Gambang yang lahir di tempat pengungsian karena orang tuanya tengah berjuang dalam medan tempur.

Belanda sempat berdamai dengan pasukan Teuku Umar pada tahun 1883. Satu tahun kemudian (tahun 1884) pecah kembali perang di antara keduanya. Pada tahun 1893, Teuku Umar kemudian mencari strategi bagaimana dirinya dapat memperoleh senjata dari pihak musuh (Belanda). Akhirnya, Teuku Umar berpura-pura menjadi antek (kaki tangan) Belanda. Istrinya, Cut Nyak Dien pernah sempat bingung, malu, dan marah atas keputusan suaminya itu. Gubernur Van Teijn pada saat itu juga bermaksud memanfaatkan Teuku Umar sebagai cara untuk merebut hati rakyat Aceh. Teuku Umar kemudian masuk dinas militer. Atas keterlibatan tersebut, pada 1 Januari 1894, Teuku Umar sempat dianugerahi gelar Johan Pahlawan dan diizinkan untuk membentuk legium pasukan sendiri yang berjumlah 250 tentara dengan senjata lengkap.

Saat bergabung dengan Belanda, Teuku Umar sebenarnya pernah menundukkan pos-pos pertahanan Aceh. Peperangan tersebut dilakukan Teuku Umar secara pura-pura. Sebab, sebelumnya Teuku Umar telah memberitahukan terlebih dahulu kepada para pejuang Aceh. Sebagai kompensasi atas keberhasilannya itu, pemintaan Teuku Umar untuk menambah 17 orang panglima dan 120 orang prajurit, termasuk seorang Pangleot sebagai tangan kanannya akhirnya dikabulkan oleh Gubernur Deykerhorf yang menggantikan Gubernur Ban Teijn.
Pada tanggal 30 Maret 1896, Teuku Umar kemudian keluar dari dinas militer Belanda dengan membawa pasukannya beserta 800 pucuk senjata, 25.000 butir peluru, 500 kg amunisi, dan uang 18.000 dollar. Dengan kekuatan yang semakin bertambah, Teuku Umar bersama 15 orang berbalik kembali membela rakyat Aceh. Siasat dan strategi perang yang amat lihai tersebut dimaksudkan untuk mengelabuhi kekuatan Belanda pada saat itu yang amat kuat dan sangat sukar ditaklukkan. Pada saat itu, perjuangan Teuku Umar mendapat dukungan dari Teuku Panglima Polem Muhammad Daud yang bersama 400 orang ikut menghadapi serangan Belanda. Dalam pertempuran tersebut, sebanyak 25 orang tewas dan 190 orang luka-luka di pihak Belanda.

Gubernur Deykerhorf merasa tersakiti dengan siasat yang dilakukan Teuku Umar. Van Heutsz diperintahkan agar mengerahkan pasukan secara besar-besaran untuk menangkap Teuku Umar. Serangan secara mendadak ke daerah Melaboh menyebabkan Teuku Umar tertembak dan gugur dalam medan perang, yaitu di Kampung Mugo, pedalaman Meulaboh pada tanggal10 Februari 1899.

2. Pemikiran
Sejak kecil, Teuku Umar sebenarnya memiliki pemikiran yang kerap sulit dipahami oleh teman-temannya. Ketika beranjak dewasa pun pemikirannya juga masih sulit dipahami. Sebagaimana telah diulas di atas bahwa taktik Teuku Umar yang berpura-pura menjadi antek Belanda adalah sebagai bentuk “kerumitan” pemikiran dalam dirinya. Beragam tafsir muncul dalam memahami pemikiran Teuku Umar tentang taktik kepura-puraan tersebut. Meski demikian, yang pasti bahwa taktik dan strategi tersebut dinilai sangat jitu dalam menghadapi gempuran kolonial Belanda yang memiliki pasukan serta senjata sangat lengkap. Teuku Umar memandang bahwa “cara yang negatif” boleh-boleh saja dilakukan asalkan untuk mencapai “tujuan yang positif”. Jika dirunut pada konteks pemikiran kontemporer, pemikiran seperti itu kedengarannya lebih dekat dengan komunisme yang juga menghalalkan segala cara. Semangat perjuangan Teuku Umar dalam menghadapi kolonialisme Belanda yang pada akhirnya mendorong pemikiran semacam itu.

3. Karya
Karya Teuku Umar dapat berupa keberhasilan dirinya dalam menghadapi musuh. Sebagai contoh, pada tanggal 14 Juni 1886, Teuku Umar pernah menyerang kapal Hok Centon, milik Belanda. Kapal tersebut berhasil dikuasai pasukan Teuku Umar. Nahkoda kapalnya, Hans (asal Denmark) tewas dan kapal diserahkan kepada Belanda dengan meminta tebusan sebesar 25.000 ringgit. Keberanian tersebut sangat dikagumi oleh rakyat Aceh. Karya yang lain adalah berupa keberhasilan Teuku Umar ketika mendapatkan banyak senjata sebagai hasil dari pengkhianatan dirinya terhadap Belanda.

4. Penghargaan
Berdasarkan SK Presiden No. 087/TK/1973 tanggal 6 November 1973, Teuku Umar dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Nama Teuku Umar juga diabadikan sebagai nama jalan di sejumlah daerah di tanah air, salah satunya yang terkenal adalah terletak di Menteng, Jakarta Pusat. Selain itu, namanya juga diabadikan sebagai nama sebuah lapangan di Meulaboh, Aceh Barat.

Laksamana Keumalahayati (1585-1604)

1. Riwayat Hidup
Laksamana Keumalahayati merupakan wanita pertama di dunia yang pernah menjadi seorang laksamana. Ia lahir pada masa kejayaan Aceh, tepatnya pada akhir abad ke-XV. Berdasarkan bukti sejarah (manuskrip) yang tersimpan di University Kebangsaan Malaysia dan berangka tahun 1254 H atau sekitar tahun 1875 M, Keumalahayati berasal dari keluarga bangsawan Aceh. Belum ditemukan catatan sejarah secara pasti yang menyebutkan kapan tahun kelahiran dan tahun kematiannya. Diperkirakan, masa hidupnya sekitar akhir abad XV dan awal abad XVI.

Laksamana Keumalahayati adalah putri dari Laksamana Mahmud Syah. Kakeknya bernama Laksamana Muhammad Said Syah, putra dari Sultan Salahuddin Syah yang memerintah Kesultanan Aceh Darussalam sekitar tahun 1530-1539 M. Sultan Salahuddin Syah merupakan putra dari Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513-1530 M) yang merupakan pendiri Kesultanan Aceh Darussalam.

Jika dilihat dari silsilah tersebut, maka dapat dikatakan bahwa Laksamana Keumalahayati merupakan keturunan darah biru atau keluarga bangsawan keraton. Ayah dan kakeknya pernah menjadi laksamana angkatan laut. Jiwa bahari yang dimiliki ayah dan kakeknya tersebut kelak berpengaruh besar terhadap kepribadiannya. Meski sebagai seorang wanita, ia tetap ingin menjadi seorang pelaut yang gagah berani seperti ayah dan kakeknya tersebut.

a. Riwayat Pendidikan
Ketika menginjak usia remaja, Laksamana Keumalahayati mendapatkan kebebasan untuk memilih pendidikan yang diinginkannya. Ketika itu Kesultanan Aceh Darussalam memiliki Akademi Militer yang bernama Mahad Baitul Makdis, yang terdiri dari jurusan Angkatan Darat dan Angkatan Laut. Setelah menempuh pendidikan agamanya di Meunasah (surau ), Rangkang ( balai pengajian ), dan Dayah ( zawiyyah / pesantren ), oleh karena ia ingin mengikuti karir ayahnya sebagai laksamana, maka ia mendaftarkan diri dalam penerimaan taruna di Akademi Militer Mahad Baitul Makdis. Ia diterima di akademi ini dan dapat menempuh pendidikan militernya dengan sangat baik. Bahkan, ia berprestasi dengan hasil yang sangat memuaskan.

Sebagai siswa yang berprestasi, Laksamana Keumalahayati berhak memiliki jurusan yang diinginkannya. Ia memilih jurusan Angkatan Laut. Ketika menempuh pendidikan di akademi ini ia pernah berkenalan dengan seorang calon perwira laut yang lebih senior (data tentang namanya belum diketahui). Perkenalan tersebut berlanjut hingga benih-benih kasih sayang terbangun di antara mereka. Mereka berdua akhirnya bersepakat untuk saling memadu kasih dan menyatukan diri ke dalam cinta. Setelah tamat dari Akademi Militer Mahad Baitul Makdis, keduanya melangsungkan pernikahan.

Setelah menamatkan studinya di Akademi Militer Mahad Baitul Makdis, Laksamana Keumalahayati berkonsentrasi pada dunia pergerakan dan perjuangan. Ia diangkat oleh Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil (1589-1604 M) sebagai Komandan Protokol Istana Darud-Dunia di Kesultanan Aceh Darussalam. Jabatan tersebut merupakan kepercayaan sultan terhadap dirinya, sehingga ia perlu menguasai banyak pengetahuan tentang etika dan keprotokolan.

b. Riwayat Perjuangan
Kisah perjuangan Laksamana Keumalahayati dimulai dari sebuah perang di perairan Selat Malaka, yaitu antara armada pasukan Portugis dengan Kesultanan Aceh Darussalam yang dipimpin oleh Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil dan dibantu oleh dua orang laksamana. Pertempuran sengit terjadi di Teluk Haru dan dimenangkan oleh armada Aceh, meski harus kehilangan dua laksamananya dan ribuan prajuritnya yang tewas di medan perang. Salah satu laksamana yang tewas tersebut adalah suami Laksamana Keumalahayati sendiri yang menjabat sebagai Komandan Protokol Istana Darud-Dunia. Setelah suaminya meninggal dunia dalam peperangan tersebut, ia berjanji akan menuntut balas dan bertekad meneruskan perjuangan suaminya meski secara sendirian.

Untuk memenuhi tujuannya tersebut, Laksamana Keumalahayati meminta kepada Sultan al-Mukammil untuk membentuk armada Aceh yang semua prajuritnya adalah wanita-wanita janda karena suami mereka gugur dalam Perang Teluk Haru. Permintaan Keumalahayati akhirnya dikabulkan. Ia diserahi tugas memimpin Armada Inong Balee dan diangkat sebagai laksamananya. Ia merupakan wanita Aceh pertama yang berpangkat laksamana (admiral) di Kesultanan Aceh Darussalam. Armada ini awalnya hanya berkekuatan 1000 orang, namun kemudian diperkuat lagi menjadi 2000 orang. Teluk Lamreh Krueng Raya dijadikan sebagai pangkalan militernya. Di sekitar teluk ini, ia membangun Benteng Inong Balee yang letaknya di perbukitan.

Setelah memangku jabatan sebagai laksamana, Keumlahayati mengkoordinir pasukannya di laut, mengawasi berbagai pelabuhan-pelabuhan yang berada di bawah penguasaan syahbandar, dan mengawasi kapal-kapal jenis galey milik Kesultanan Aceh Darussalam. Seorang nahkoda kapal Belanda yang berkebangsaan Inggris, John Davis, mengungkapkan fakta bahwa pada masa kepemimpinan militer Laksanana Keumalahayati, Kesultanan Aceh Darussalam memiliki perlengkapan armada laut yang di antaranya terdiri dari 100 buah kapal (galey) dengan kapasitas penumpang 400-500 orang.

Kisah perjuangan Laksamana Keumalahayati tidak berhenti di sini. Ia pernah terlibat dalam pertempuran melawan kolonialisme Belanda. Ceritanya, pada tanggal 22 Juni 1586, Cornelis de Houtman memimpin pelayaran pertamanya bersama empat buah kapal Belanda dan berlabuh di Pelabuhan Banten. Setelah kembali ke Belanda, pada pelayaran yang kedua, ia memimpin armada dagang Belanda yang juga dilengkapi dengan kapal perang. Hal itu dilakukan untuk menghadapi kontak senjata dengan Kesultanan Aceh Darussalam pada tanggal 21 Juni 1599. Dua buah kapal Belanda bernama de Leeuw dan de Leeuwin yang dipimpin oleh dua orang bersaudara, Cornelis de Houtman dan Frederick de Houtman, berlabuh di ibukota Kesultanan Aceh Darussalam. Pada awalnya, kedatangan rombongan tersebut mendapat perlakuan yang baik dari pihak kesultanan karena adanya kepentingan hubungan perdagangan.

Namun, dalam perkembangan selanjutnya Sultan al-Mukammil tidak senang dengan kehadiran rombongan tersebut dan memerintahkan untuk menyerang orang-orang Belanda yang masih ada di kapal-kapalnya. Ada dugaan bahwa sikap Sultan tersebut banyak dipengaruhi oleh hasutan seseorang berkebangsaan Portugis yang kebetulan menjadi penerjemahnya. Serangan tersebut dipimpin sendiri oleh Laksamana Keumalahayati. Alhasil, Cornelis de Houtman dan beberapa anak buahnya terbunuh, sedangkan Frederick de Houtman tertangkap dan dimasukkan ke dalam penjara (selama 2 tahun). Keberhasilan Laksamana Keumalahayati merupakan sebuah prestasi yang sungguh luar biasa.

Keumalahayati ternyata bukan hanya sebagai seorang Laksamana dan Panglima Angkatan Laut Kesultanan Aceh Darussalam, namun ia juga pernah menjabat sebagai Komandan Pasukan Wanita Pengawal Istana. Jabatan ini merupakan tugas kesultanan dalam bidang diplomasi dan ia bertindak sebagai juru runding dalam urusan-urusan luar negeri. Ia sendiri telah menunjukkan bakatnya dan menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Ia memiliki sifat dan karakter yang tegas sekaligus berani dalam menghadapi berbagai momen perundingan, baik dengan Belanda maupun Inggris. Meski begitu, sebagai diplomat yang cerdas, ia dapat bersikap ramah dan luwes dalam melakukan berbagai perundingan.

Pada tanggal 21 November 1600, rombongan bangsa Belanda yang dipimpin Paulus van Caerden datang ke Kesultanan Aceh Darussalam. Sebelum memasuki pelabuhan, rombongan ini menenggelamkan sebuah kapal dagang Aceh dengan terlebih dahulu memindahkan segala muatan lada yang ada di dalamnya ke kapal mereka. Setelah itu datang lagi rombongan bangsa Belanda kedua yang dipimpin oleh Laksamana Yacob van Neck. Mereka mendarat di Pelabuhan Aceh pada tanggal 31 Juni 1601. Mereka memperkenalkan diri sebagai bangsa Belanda yang datang ke Aceh untuk membeli lada. Setelah mengetahui bahwa yang datang adalah bangsa Belanda, Laksamana Keumalahayati langsung memerintahkan anak buahnya untuk menahan mereka. Tindakan tersebut mendapat persetujuan Sultan al-Mukammil karena sebagai ganti rugi atas tindakan rombongan Belanda sebelumnya.

Pada tanggal 23 Agustus 1601, tiba rombongan bangsa Belanda ketiga yang dipimpin oleh Komisaris Gerard de Roy dan Laksamana Laurens Bicker dengan empat buah kapal (Zeelandia, Middelborg, Langhe Bracke, dan Sonne) di Pelabuhan Aceh. Kedatangan mereka memang telah disengaja dan atas perintah Pangeran Maurits. Kedua pimpinan rombongan mendapat perintah untuk memberikan sepucuk surat dan beberapa hadiah kepada Sultan al-Mukammil. Sebelum surat diberikan, sebenarnya telah terjadi perundingan antara Laksamana Keumalahayati dengan dua pimpinan rombongan Belanda. Isi perundingan tersebut adalah terwujudnya perdamaian antara Belanda dan Kesultanan Aceh, dibebaskannya Frederick de Houtman, dan sebagai imbalannya Belanda harus membayar segala kerugian atas dibajaknya kapal Aceh oleh Paulus van Caerden (akhirnya Belanda mau membayar kerugian sebesar 50.000 golden).

Setelah itu hubungan antara Belanda dan Kesultanan Aceh berlangsung cukup baik. Kehadiran bangsa Belanda dapat diterima secara baik di istana kesultanan dan mereka diperbolehkan berdagang di Aceh. Sebagai lanjutan dari hubungan baik antara Belanda dan Kesultanan Aceh, maka diutuslah tiga orang untuk menghadap Pangeran Maurits dan Majelis Wakil Rakyat Belanda. Ketiga orang itu adalah Abdoel Hamid, Sri Muhammad (salah seorang perwira armada laut di bawah Laksamana Keumalahayati), dan Mir Hasan (bangsawan kesultanan). Meski sedang dilanda perang melawan kolonialisme Spanyol, pihak Belanda menyambut utusan Aceh tersebut dengan upacara kenegaraan.

Peran diplomatik Laksamana Keumalahayati masih berlanjut. Hal ini bermula dari keinginan Inggris untuk menjalin hubungan dagang dengan Kesultanan Aceh Darussalam. Ratu Elizabeth I (1558-1603 M) mengirim utusan untuk membawa sepucuk suratnya kepada Sultan Aceh al-Mukammil. Rombongan yang dipimpin oleh James Lancaster, seorang perwira dari Angkatan Laut Inggris ini, tiba di Pelabuhan Aceh pada tanggal 6 Juni 1602. Sebelum bertemu dengan Sultan al-Mukammil, Lancaster mengadakan perundingan dengan Laksamana Keumalahayati. Dalam perundingan itu, Lancaster menyampaikan keinginan Inggris untuk menjalin kerjasama dengan Kesultanan Aceh Darussalam. Ia juga berpesan agar Laksamana Keumalahayati memusuhi Portugis dan berbaik hati dengan Inggris. Laksamana Keumalahayati meminta agar keinginan tersebut dibuat secara tertulis dan diatasnamakan Ratu Inggris. Setelah surat tersebut selesai dibuat, Lancaster diperkenankan menghadap Sultan al-Mukammil.

Laksamana Keumalahayati juga berperan besar dalam menyelesaikan intrik kesultanan. Hal ini bermula dari peristiwa penting perihal suksesi kepemimpinan di Kesultanan Aceh Darussalam. Pada tahun 1603 M, Sultan al-Mukammil menempatkan anak lekaki tertuanya sebagai pendamping dirinya. Namun, rupanya putra tersebut berkhianat terhadap ayahnya dan mengangkat dirinya sebagai Sultan Aceh dengan gelar Sultan Ali Riayat Syah (1604-1607 M).

Pada masa awal kepemimpinannya, berbagai macam bencana menimpa Kesultanan Aceh Darussalam, seperti kemarau yang berkepanjangan, pertikaian berdarah antar saudara, dan ancaman dari pihak Portugis. Tidak ada keinginan kuat dari Sultan Ali Riayat Syah untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan serius. Maka banyak timbul rasa kekecewaan dari punggawa kesultanan, salah satu di antaranya adalah Darmawangsa Tun Pangkat, kemenakannya sendiri. Darmawangsa ditangkap dan dipenjara atas perintah Sultan.

Pada bulan Juni 1606, Portugis menyerang Kesultanan Aceh Darussalam yang dipimpin oleh Alfonso de Castro. Ketika itu Darmawangsa masih berada di penjara. Ia memohon kepada Sultan Ali Riayat Syah agar dirinya dapat dibebaskan dan dapat ikut bertempur melawan Portugis. Dengan didukung adanya pemintaan Laksamana Keumalahayati, Darmawangsa akhirnya dapat dibebaskan. Mereka berdua akhirnya berjuang bersama dan dapat menghancurkan pasukan Portugis.

Oleh karena Sultan Ali Riayat Syah dianggap banyak kalangan tidak cakap lagi memimpin kesultanan, maka Laksamana Keumalahayati melakukan manuver dengan cara menurunkan Sultan Ali Riayat Syah dari tahta kekuasaan. Darmawangsa akhirnya terpilih sebagai Sultan Aceh dengan gelar Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M). Pada masanya, Kesultanan Aceh Darussalam mencapai zaman keemasan.

2. Karya
Karya Laksamana Keumalahayati memang tidak berupa buku atau berbagai bentuk tulisan. Namun demikian, segala bentuk perjuangannya dalam melawan kolonialisme dapat juga dianggap sebagai karya-karya nyatanya. Di antara karya-karya dimaksud adalah sebagai berikut:
Ia pernah membangun Benteng Inong Balee dengan tinggi 100 meter dari permukaan laut. Tembok benteng menghadap ke laut dengan lebar 3 meter dengan lubang-lubang meriam yang moncongnya mengarah ke pintu teluk.

Ia pernah berhasil membunuh Cornelis de Houtman, salah seorang pemimpin kapal Belanda yang pertama kali tiba di Aceh.

3. Penghargaan
Sebagai bentuk penghargaan terhadap perjuangannya, sebuah serial bertajuk “Laksamana Keumalahayati” telah digarap dengan sutradara Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Adhyaksa Dault. Serial ini berisi 13 episode. Episode perdananya telah diputar di Blitz Megaplex (10 November 2007).

 MENGUAK pertalian Raja-raja Aceh Sejak Kerajaan Perlak Sebuah buku berjudul “Silsilah Raja-Raja Islam di Aceh dan Hubungannya dengan Raja-Raja Islam di Nusantara,” diterbitkan pelita Gading Hidup Jakarta, ditulis Pocut Haslinda Syahrul Muda Dalam, mencoba menguak pertalian raja-raja di Aceh sejak pra Islam.

dalam suatu forum di Balai Kartini, Jakarta, 16 Nopember 2008 silam. Malam harinya, di gedung yang sama dipentaskan “drama musikal” yang memuat informasi silsilah raja-raja Aceh tersebut serta peranan kaum perempuan Aceh sejak abad VIII dampai abad XXI. Pentas itu disutradari Dedi Lutan berdasarkan nasakah yang ditulis Pocut Haslinda Syahrul MD binti Teuku H Abdul Hamid Azwar, waris Tun Sri Lanang ke-8.

Sebetulnya masih ada tiga buku lain yang dihasilkan Pocut Haslinda dalam waktu bersamaan, yaitu “Perempuan Aceh dalam Lintas Sejarah Abad VIII-XXI, Tun Sri Lanang dan Terungkapnya Akar Sejarah Melayu, dan Dua Mata Bola di Balik Tirai Istana Melayu.”

Untuk menggenapi informasi “Silsilah Raja-Raja Aceh” dan ketiga bukunya itu, Pocut Haslinda, pernah menempuh pendidikan fashion dan model di Paris, Jerman, dan London (1965-1970) membaca lebih dari 1000 judul buku ditulis oleh penulis dalam dan luar negeri.

Buku “Silsilah Raja-Raja Aceh” itu secara sederhana mencoba menarik garis pertautan raja-raja Aceh sejak awal abad ke 8 pada masa Kerajaan Perlak, kemudian berkembang menjadi kerajaan-kerajaan lain di Aceh, termasuk persinggungan yang sangat penting dan fundamental dengan Kerajaan Isaq di Gayo, dan pertautan raja-raja Aceh dengan Perak, Johor, Deli-Serdang, Majapahit, Demak, Wali Songo dan sebagainya.

Kisah kedatangan satu delegasi dagang dari Persia di Blang Seupeung, pusat Kerajaan Jeumpa yang ketika itu masih menganut Hindu Purba. Salah seorang anggota rombongan bernama Maharaj Syahriar Salman, Pangeran Kerajaan Persia yang ditaklukkan pada zaman Khalifahtur Rasyidin. Salman adalah turunan dari Dinasti Sassanid Persia yang pernah berjaya antara 224 – 651 Masehi. Setelah penaklukkan, sebahagian keluarga kerjaan Persia ada yang pergi ke Asia Tenggara.

Kerajaan Jeumpa, ketika itu dikuasai Meurah Jeumpa. Maharaj Syahriar Salman kemudian menikah dengan putri istana Jeumpa bernama Mayang Seludang. Akibat dari perkawinan itu, Maharaj Syahriar Salman tidak lagi ikut rombongan niaga Persia melanjutkan pelayaran ke Selat Malaka. Pasangan ini memilih “hijrah” ke Perlak (sekarang Peureulak,red), sebuah kawasan kerajaan yang dipimpin Meurah Perlak.

Meurah Perlak tak punya keturunan dan memperlakukan “pengantin baru” itu sebagai anak. Ketika Meurah Perlak meninggal, kerajaan Perlak diserahkan kepada Maharaj Syahriar Salman, sebagai Meurah Perlak yang baru. Perkawinan Maharaj Syahriar Salman dan Putri Mayang Sekudang dianugerahi empat putra dan seroang putri; Syahir Nuwi, Syahir Dauli, Syahir Pauli, SyahirTanwi, dan Putri Tansyir Dewi.

Syahir Nuwi di kemudian hari menjadi Raja Perlak ( PEUREULAK ) yang baru menggantikan ayahandanya. Dia bergelar Meurah Syahir Nuwi. Syahir Dauli diangkat menjadi Meurah di Negeri Indra Purwa (sekarang Aceh Besar, red). Syahir Pauli menjadi Meurah di Negeri Sama indra (sekarang Pidie), dan si bungsu Syahir Tanwi kembali ke Jeumpa dan menjadi Meurah Jeumpa menggantikan kakeknya. Merekalah yang kelak dikenal sebagai “Kaom Imeum Tuha Peut” (penguasa yang empat). Dengan demikian, kawasan-kawasan sepanjang Selat Malaka dikuasai oleh keturunan Maharaj Syahriar Salman dari Dinasti Sassanid Persia dan Dinasti Meurah Jeumpa (sekarang Bireuen).

Sementara itu, Putri Tansyir Dewi, menikah dengan Sayid Maulana Ali al-Muktabar, anggota rombongan pendakwah yang tiba di Bandar Perlak dengan sebuah kapal di bawah Nakhoda Khalifah. Kapal itu memuat sekitar 100 pendakwah yang menyamar sebagai pedagang. Rombongan ini terdiri dari orang-orang Quraish, Palestina, Persia dan India. Rombongan pendakwah ini tiba pada tahun 173 H (800 M). Sebelum merapat di Perlak, rombongan ini terlebih dahulu singgah di India.

Syahir Nuwi yang menjadi penguasa Perlak menyatakan diri masuk Islam, dan menjadi Raja Perlak pertama yang memeluk Islam.Sejak itu, Islam berkembang di Perlak. Perkawinan Putri Tansyir Dewi dengan Sayid Maulana Ali al-Muktabar membuahkan seorang putra bernama Sayid Maulana Abdul Aziz Syah, yang kelak setelah dewasa dinobatkan sebagai Sultan Alaidin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah, sultan pertama Kerajaan Islam Perlak, bertepatan dengan 1 Muharram 225 Hijriah.

Sayid Maulana Ali al-Muktabar berfaham Syiah, merupakan putra dari Sayid Muhammad Diba‘i anak Imam Jakfar Asshadiq (Imam Syiah ke-6) anak dari Imam Muhammad Al Baqir (Imam Syiah ke-5), anak dari Syaidina Ali Muhammad Zainal Abidin, yakni satu-satunya putra Syaidina Husen, putra Syaidina Ali bin Abu Thalib dari perkawinan dengan Siti Fatimah, putri dari Muhammad Rasulullah saw. Lengkapnya silsilah itu adalah: Sultan Alaidin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah bin Sayid Maulana Ali-al Muktabar bin Sayid Muhammad Diba‘i bin Imam Ja‘far Asshadiq bin Imam Muhammad Al Baqir bin Syaidina Ali Muhammad Zainal Abidin Sayidina Husin Assyahid bin Sayidina Alin bin Abu Thalib (menikah dengan Siti Fatimah, putri Muhammad Rasulullah saw).

Keikutsertaan Sayid Maulana Ali al-Muktabar dalam rombongan pendakwah merupakan penugasan dari Khalifah Makmun bin Harun Al Rasyid (167-219 H/813-833 M) untuk menyebarkan Islam di Hindi, Asia Tenggara dan kawasan-kawasan lainnya. Khalifah Makmun sebelumnya berhasil meredam “pemberontakan” kaum Syiah di Mekkah yang dipimpin oleh Muhammad bin Ja‘far Ashhadiq.

Raja Isaq Gayo dan Turunannya
Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Syah Johan Berdaulan memiliki tiga putra; Meurah Makhdum Alaiddin Ibrahim Syah, kemudian menjadi Sultan ke-8; Maharaja Mahmud Syah yang kemudian menjadi Raja Salasari Islam I di Tanoh Data (Cot Girek); Meurah Makhdum Malik Isaq (Isak) mendirikan Negeri Isaq I.

Meurah Isaq memiliki putra bernama Meurah Malik Masir yang juga dikenal sebagai Meurah Mersa alias Tok (Tuk) Mersa, diangkat sebagai Raja Isaq II mernggantikan ayahandanya. Tok Mersa memiliki tujuh putra yakni: 1) Meurah Makhdum Ibrahim mendirikan Negeri Singkong. Cucu Meurah Makhdum ini bernama Malikussaleh di kemudian hari mendirikan Kerajaan Samudra Pasai. 2) Meurah Bacang mendirikan Kerajaan Bacang Barus. 3) Meurah Putih mendirikan Kerajaan Beuracan Merdu. 4) Meurah Itam mendirikan Kerajaan Kiran Samalanga. 5) Meurah Pupok mendirikan Kerajaan Daya Aceh Barat. 6) Merah Jernang mendirikan kerajaan Seunagan. 7) Meurah Mege (Meugo) menjadi Raja Isaq III.

Dari turununan Meurah Mege lahir Sultan Abidin Johansyah pendiri Kerajaan Aceh Darussalam (1203-1234) sampai Sultan Daud Sjah (1874-1939). Turunen Meurah Mege lain, Syekh Ali al Qaishar anak dari Hasyim Abdul Jalil hijrah ke Bugis dan menikah dengan putri bangsawan Bugis yang kelak cucu psangan ini bergelar Daeng. Di antara anak-cucunya, ada yang pulang ke Aceh bernama Daeng Mansur atau Tgk Di Reubee dan mempunyai seorang putra bernama Zainal Abidin dan seorang putri bernama Siti Sani yang dinikahi Sultan Iskandar Muda.

Di tanah Jawa, Turunan Tok Mersa bernama Puteri Jempa nikah dengan Raja Majapahit terakhir kemudian lahir Raden Fattah yang menjadi Raja Demak. Turunen Tok Mersa lain, yakni Fatahillah menyusul ke Jawa menikah dengan adik Sultan Demak. Fatahillah mendirikan kerajaan Cirebon dan anaknya mendirikan Kerajaan Banten. Fatahillah dikenal juga Sunan Gunung Jati menikah dengan Ratu Mas anak Raden Fattah, cucu Majapahit, keturunannya turun temurun menjadi raja dan pembangun Demak, Cirebon, Banten dan Walisongo.

Melihat pertautan raja-raja Aceh itu, jelasnya bagi kita bagaimana sebenarnya hubungan erat satu sama lain. Pada awalnya, mereka berangkat dari “indatu” ( NENEK MOYANG ) yang sama dari Perlak.  (budi/ Harian Serambi Indonesia). @@@

About these ads
Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 83 Komentar

Navigasi pos

83 thoughts on “KISAH PARA PAHLAWAN ACEH MENANG PERANG: CERDAS, ULET DAN TANGGUH

  1. Laskar Cinta

    Aceh tdk tersentuh oleh belanda..?yes okay,e ya tp.!!
    Kenapa cut nya’din ko sampai di asingkan ke sumedang dan sampai wafat dam di makamkan yg sekarang di sbt Gunung Puyuh..!!!wkwkwkwkwkwkwkwkw

  2. Laskar Cinta

    Makam beleau ada di puncak gunung puyuh sumedang dan di keramatkan oleh penduduk sekita,,

  3. Laskar Cinta

    Dan sayanknya di gunung puyuh hanya orang2 tertentu saja,,jiah kacian deh bg masarakat sekitarnya,,wkwkwkwkwk

  4. Laskar Cinta

    Petramak dl deh.

  5. Laskar Cinta

    Premum jg ni..

  6. Laskar Cinta

    Salar

  7. Laskar Cinta

    Om makruf
    Wong gersik ko blm hadir gan..?

  8. Laskar Cinta

    Mlongo dl gan..

  9. ABCent ciang 10 gede

  10. Laskar Cinta

    Cìhuyy di kelas sendirian ni,tak locat2 dl aah mumpung pak gurunya lg turuuu,wkwkwkwkwkwk

  11. Laskar Cinta

    Clink,,clonk,

  12. salim @laskar cinta

  13. Laskar Cinta

    Makan sambel ko pedes ya.!

  14. putat slawe

    Askum

  15. Laskar Cinta

    Uttama
    Salim jg om,!

  16. Laskar Cinta

    Cendol

  17. Laskar Cinta

    Es campur

  18. Laskar Cinta

    Kangen ma om wildan ni,,
    Biasanya kan sk borong cendol sgala..

  19. Ki Mas Danqow

    Assalamu’alaikum…
    Semarak siang semuaaa…

    Berarti ACEH sama SUMEDANG ada JODOHnya tuh dgn adanya cut nyak dien.

    Bukannya tubagus, ratu, cut, teuku, gus dll masih keturunan azhomatkhan jg..

    Nuwun,

  20. SINGA MARANTEE

    Assalamua ‘alaikum all sedulurku yg dirahmati Allah swt…

  21. SINGA MARANTEE

    @ Admin….

    kok foto2di arikelnya kok byk yg gak ada ya..?? bahkan terlalu byk di edit..????

  22. Pak oga

    Wah..Om Singa merinti pasti bohong atau mungkin kebanyakan nonton film kartun ya om.
    Masak besi panas di jepit ke tekiak.
    Dan mana ada pedang bisa motong jarak 500 m.
    Sd Para ni om singa

  23. The Great’s History Of Aceh…Sukses buat Kimas Singa Marantee !!

  24. SINGA MARANTEE

    @ LC…
    Aceh tdk tersentuh oleh belanda..?yes okay,e ya tp.!!
    Kenapa cut nya’din ko sampai di asingkan ke sumedang dan sampai wafat dam di makamkan yg sekarang di sbt Gunung Puyuh..!!!wkwkwkwkwkwkwkwkw

    @ Cut Nyak dhien ditangkapbelanda dlm pengasingannya didalam rimba Aceh , ditangkapnya Cut Nyak dhien dalam keadaan uzur dan rabun, adalah hal biasa dalam peperangan tempoe doeloe,tokoh2pejuang kita di tangkap dan di asingkan oleh belanda utk memutuskan rantai perjuangan antara pemimpin dgn rakyat yg dipimpinnya, lalu kenapa tdkbisa ditaklukkan daerah Aceh..>>?????? krn perjuangannya tdkselalu tergantung pad satu pimpinan besar…,istilahnyaPATAH TUMBUH HILANG BERGANTI..,perjuangan bahkan bisa dilakukan sendiri-sendiri, seperti yg ditulis oleh belanda, penulis belanda yg bekas personil marsose di aceh adalah ZENGRAFT…., Perang sendiri-sendiri oleh rakyat seperti AMAT LEUPON dilapangan Lhoksukonyg memacul Meneer belanda dgn pacul dari belakang saat hendak kesawah…peristiwa seperti ini disebut dgn ATJEH MOORDEN ( ORANG ACEH GILA) , Logikanya adalah org nekat…

  25. SINGA MARANTEE

    ATJEH MOORDEN adalah ungkapan org belanda terhadap pejuang atjeh dulu…

  26. SINGA MARANTEE

    tolong dong ada yg tau info pedang seperti artikel di atas…..????

  27. SINGA MARANTEE

    @ pak oga…

    saya sdh menduga sampeyan datang…, tu kan cerita…??? bener gaknya wallahu ‘alam.., tapiada ditulis di dokumen belanda di laiden, sampeyan kesana deh,tanya sama yg punya buku.., ane aja gak tau tuh, menurut cerita org tua katanya…

  28. @singa marantee: Kiriman artikel anda yang ada dikompres winrar dan didalamnya ada file berformat .docx. Sayangnya foto-foto naskah tersebut diinsertkan begitu saja. Tentu ini hal ini menyulitkan kami dan tidak bisa ditempel di html wordpress. Harusnya foto-foto tersebut berekstensi jpg atau gif dan terpisah dari artikel berformat docx. Untuk editing naskah, redaksi berhak melakukan proses editing tanpa mengubah substansi yang ingin disampaikan agar naskah tidak terlalu panjang. Kami hanya mengedit judul agar menarik dan sesuai dengan kaidah jurnalistik blog. Demikian penjelasan saya.

  29. SINGA MARANTEE

    @ lc..
    Dan sayanknya di gunung puyuh hanya orang2 tertentu saja,,jiah kacian deh bg masarakat sekitarnya,,wkwkwkwkwk

    maksudnya…???

  30. SINGA MARANTEE

    @ KANG MAS WONG ALUS…

    SIIPPP….MKSH BYK….

  31. SINGA MARANTEE

    @KI MAS DANQOW…

    ya mas…umumnya ulamakita kebanyakan berasal dari hadharamaut yaman..

    —–Bukannya tubagus, ratu, cut, teuku, gus dll masih keturunan azhomatkhan jg..
    azhomatkhan itu opo yo mas…????

  32. Pak oga

    Om singa kalau belanda raja nya ngibulin
    jangan di percaya.
    Kalau di percaya pasti jd tukang ngibulin jg.

  33. SINGA MARANTEE

    @ pak oga…

    Lha untuk itulah tulisan ini saya buat…??? krn penasaran.., sampeyan punya info apa mengenai hal ini…???

  34. Pak oga

    Saya punya info ada singa lg birahi,
    rintihan nya sampe kesini om xixixi..

  35. Pak oga

    pangeran suka menung,
    orang nya pasti suka menghayal yg jorok.
    Kalau wong alus,orang nya pasti sejenis dedemit

  36. Permono Shidiq

    Semoga arwah para leluhur nusantara diterima dan diberi kedudukan yg tinggi disisiNya..amiin alfatihah sent….
    @km singa marante…terima kasih telah mengingatkan kami terhadap sejarah agung perjuangan…melawan kemungkaran…betapa berat perjuangan jaman dahulu…kini tinggal merawat dan mengembangkan…sejarah yang lebih gemilang…minimal sejarah kita sendiri spy bs meraih hidup lebih mulia

  37. Ada yang mau mulai jadi provokator ya ???

  38. Pak oga

    Om pangeran suka menung.Hajar ajah om yg jd provokator.
    Gimana kabar nya om masih suka menghayal yg jorok2,
    ada baik nya di kurangi om biar badan nya gemuk..

  39. Bengawan.Candhu

    @pak oga…bkn mbela kangmas singa marantee. Tp ini hanya tukar cerita. Djaman para empu ada keris yg finishingnya dgn cara besi yg msh membara diatasnya dlelehi pamor cair,kmdn dibuat pamor dgn cara dpijat pake jari tangan,itu yg dsebut keris pamor pejetan. Ato di tempelin bibir,jd bilah panas tsbt dgeget dgn bibir,itu yg dsebut pamor akep. Sy punya omyang sombro pijetan,bhkn bekas pusaran cap jempol empu dpermukaan keris trlihat jelas skl. Dr crt tsbt,sgt mgkn skl cerita org jaman dahulu mengempit besi membara dketiak. Tp tntnya empu pilihan. Smg brkenan. Trmksh.

  40. Pak oga

    Om begawan candu pasti br ngisap sabu ya,masak besi panas di penyet2 dg jari emang tempe apa,
    jangan di percaya yg gituan om,jangan mau di kibulin

  41. Pak oga

    Liat tu singa merinti keseringan di kibulin, jd nya selalu merinti.
    Om singa..Om singa kasian loe.
    Lgan jg mau ajah di kibulin.

  42. numpang Lewat,sekalian QOBILTU,,,

  43. tapak berlian

    emang top para syuhada tempo dulu..kalo sekarang susah nemuinnya ya mas marante

  44. Assalamu’alaykum..salam ta’dim wa takrim tuk semuanya…salam kenal dan ta’dhim kagem Ki mas Singa Marantee…artikel yang bagus n bermanfaat,,menambah khazanah n wawasan…memotivasi untuk meneruskan perjuangan mereka…

  45. Budi j

    Ass wr wb
    Cerita yang menarik ki@Singa m
    jadi inget pelajaran PSPB tempo doeloe.
    Kata guru saya di SMP pemberontakan di Aceh berhasil dipadamkan oleh kumpeni atas petunjuk dan nasihat dari DR snouck H.
    Apa betul demikian kang mas?

  46. Nawiazky

    wew jadi belajar Sejarahhh….. mantap dari sejarah maka kita dapat mengetahui pelajaran di masa yang datang…
    hanya bangsa besar sajalah yang menghargai dan menghormati para pahlawannya..
    mantap Tgk SIngga Marantee

    @laskar cinta said: “Aceh tdk tersentuh oleh belanda..?yes okay,e ya tp.!!
    Kenapa cut nya’din ko sampai di asingkan ke sumedang dan sampai wafat dam di makamkan yg sekarang di sbt Gunung Puyuh..!!!wkwkwkwkwkwkwkwkw”

    Sebenarnya juga bukan btidak tersntuh Belanda, jelas salah lah…… sepanjang yang saya ketahui sampai dengan masuknya Jepang, Aceh tidak bisa dikuasai oleh Belanda 100%, memang Kesultanan Aceh menyerah tahun 1904, tetapi ternyata kepemimpinan sesungguhnya rakyat grass root adalah bukan ditangan umara/bangsawan kerajaan (uleebalang yg gelanya Teuku) namun sebenarnya adalah ditangan Ulama (Teungku) yg merupakan ruh Jihad kala itu, …. hal ini lah yang diliihat oleh Snouck Hurgronje yg menyamar sebagai mualaf dan ulama (sempat lama di Mekkah) yang menyarankan untuk memisahkan adat dan agama dengan teori separatie nya.

    Cut Nya Dien memang diasingkan, hampir semua tokoh PERJUANGAN (saya ngga setuju dengan istilah Pemberontakan mengutip tulisan dulur Ki Budi) hampir semuanya diasingkan baik yang dari Makasar, SUmatera maupun Tanah Jawa…. karena yang ditakuiti bukanlah fisiknya (bayangkan Cut Nyak dien saat itu sudah wanita Jompo dan rabun pula) namun pemikiran, semangat dan kharismatisnya serta keistiqomahannya atas prinsip yg dipegangnya …. yg merupakan roda dan ruh penggerak perjuangan…

    Sampai kedatangan Jepang, tidak ada pemerintahan sipil yang dapat berjalan di Aceh…. masih pemerintahan militer…. sehingga kadang ada pendapat yang menyatakan bahwa Aceh adalah termasuk daerah yang belum ‘dikuasai’ Penjajah Belanda..

    Salam,

  47. Laskar Cinta

    Singa marante
    Ulasan yg mantap om,,sy bangga memiliki saudara seperti panjenengan om,,cerdas,tangkas dan mengena sasaran,,siip deh.gan om,,cerdas,tangkas dan mengena sasaran,,siip deh.

  48. Laskar Cinta

    Singa Marente
    Kacian deh lo,!!!
    Maksud sy adalah.
    Apabila ada warga sekitar gunung puyuh yg meninggal itu tdk di perkenankan di makamkan di dlm gunung puyuh dan apalagi berdekatan dgn eyang CUT NYA’DIN,,dan situ yg hanya utk makam2 keturunan dan yg ada kaitan keluarga dgn eyang Cut Nya’din,,gt om maksut sy,,td dgn bgt masyarakat jg sdh memahami dan menghormatin beliau,,cihuyyyy
    Kabuuuuuuuuuuuurrrrrrr
    Acut di jewer ki wongalus,,wkwkwkwkwkwkwkwkkk

  49. MBAH JATI

    postingan yang bagus

  50. SINGA MARANTEE

    @ LC….

    Mungkin itu sikap pmerintah setempat dalam melestarikan sejarah.., jadi wajar kuburan umum dipisahkan dgnsitus sejarah, dimana-mana jg gt.

  51. SINGA MARANTEE

    @ Om budi j

    wa ‘alaikum slam wr, wb.., ya bkn dipadamkan tepatnya mas, perlawanan rakyat tetap lanjut, cuma perlawanannya semakin sengit krn pengejarannya sampai kehutan rimba raya di pimpin oleh van heutz…
    kalau sekarang di TNI ya pasukan raider..

  52. SINGA MARANTEE

    @ wa ‘alaikum salam mas rihlah rahmatullah.., salam takzim jg dr saya sambil menjura hormat..

  53. SINGA MARANTEE

    @ om tapak berlian..

    Ho-oh.,om…. entah masih ada atau gak ya semangat pejuang tempoe doeloe pada diri kita, tentu jaman sekarng berjuang dlm bentuk lain, utk pembangunan, sepakat dgn nawiazky , bangsa yg besar adalah yg menghargai jasa para pahlawannya.

    kalau pun ada yg ahli kayak cerita di atas, susah banget nyarinya, entah dimana…???

  54. Alex W.D.

    Met malam…….

    aq ikut hadir sembari ngenteh manis.

    Salam kerahayuan……

  55. madni

    ass wr wb, kiban haba singa merante, padim no hp droneh. long di kota langsa.

  56. Budi j

    Ass wr wb
    O enjih mas@Nawiazaky,
    Ralat, perjuangan#Pemberontakan.terimakasih.
    Mas@Singa M,terimakasih.Ass wr wb
    O enjih mas@Nawiazaky,
    Ralat, perjuangan#Pemberontakan.terimakasih.
    Mas@Singa M,terimakasih.

  57. SINGA MARANTEE

    @ madni

    Haba get rakan long, kiban droeneuh disinan..?? pakon tanyoe toe2 disinoe hana meusaho..?? krn hana ta turi awak droeteuh mandum disinoe..saleum

    0852 2427 6763

  58. Ki Mas Danqow

    Assalamu’alaikum…
    Semarak pagi semuaaaa…

    @Singa Marante : keturunan azhomat khan adl keturunan nasab dari Rosulalloh saw yakni dari Syekh Abdul Malik, ketika berdakwah sampai ke india beliau dinikahkan dgn putri bangsawan india shg mendapatkan gelar KHAN, krn syekh abdul malik dzurriyah Rosul disebut AZHOM (bermakna habaib/ syarif) shg beliau dikenal SYEKH ABDUL MALIK AZHOMAT KHAN. Keturunan beliau menyebar termasuk walisongo di pulau jawa, para tengku di aceh, dikalimantan, sulawesi dan keseluruh pelosok dunia yang mayoritas keturunan beliau menjabat umaro dan ulama.

    @LC : Masyarakat sekitar tdk boleh dimakamkan digunung puyuh dikarenakan pesan dari para raja2 sumedang dahulu, karena yg Saya tau mulai dr wil. Cirebon s.d ke Banten Ujung Kulon hampir semua masyarakat dengan para raja2 dan keturunannya terpisah dlm pemakamannya apalagi bila masyarakatnya non islam tdk diperbolehkan dimakamkan di TPU islam. Ini sdh menjadi adat istiadat yg keramat bila melanggar ada akibatnya.

    Nuwun,

  59. Pak oga

    Singa merinti kemana ya.
    Pasti lg birahi.
    Ayo om ngibul nya di terusin.
    Gimana kelanjutan cerita pedang nya.

  60. Bengawan.Candhu

    @Pak oga….mhn maaf br merespon sanggahan panjenengan,mo tak jwb kmrn2 tp mmg pas aktivitas sy lg tgg,plg ke ke kost sdh jam10mlm,fikiran sdh tdk fresh. tp intinya begini,buat sy tdk mslh panjenengan prcy ataupun tdk menerima. tp yg jls msl besi aji tangguh pajajaran ato tangguh majapahit ato yg dibuat pd jaman itu para ahli metalurgipun blm menemukan suatu argumen atapun wacana yg sesuai buat menyampaikn alasan yg lbh ilmiah dlm menerjemahkan metode pembuatan pembentukan pamor pejetan,pamor mrambut,pamor akep. sy pribadipun lemah,krn blm prnh meilihat ini scr pribadi ato lgsg akan hal ini. ini hanya skedar catatan via karya sastra ato lontar sj yg smntr ini mjd acuan para pemerhati ahli tosan aji,metode ini smntr msh dipercayai dulu sbg metode yg memadai mskpn mgkn tdk100%. sy tdk brmksd panjenengan buat berkata sepakat ato tdk sepakatpun buat sy tdk mslh. alangkah senangnya klo msl panjenengan berkenan menyumbangkan argumen yg msk akal dan lbh bs dilogika. mhn dibantu mas,klo mmg wacana dr panjenengan memadai pst akan mjd referensi bagi kami2 yg msh ingin lbh byk tau dan bljr. trmksh.

  61. Pak oga

    Xixixi..
    Om begawan candu yg suka ngisap sabu,tidak di paksa pun saya tetap tak akan percaya.
    Info2 yg om dapat itu,rekaan para pengibul yg pada umum nya meraka pelaku bisnis barang semacam itu.
    Kesimpulan nya para pemerhati tosan aji ini mengarang cerita yg ane2 untk menarik para pembelih agar dagangan mereka laku dg harga mahal.
    Kita sebagai generasi muda jgan muda percaya dg hal2 yg berbau tahyul

  62. ogal2 lan

    @pak oga ha ha ha ha, yg ini sy sgt demen sma pak oga.,! yg orang2 begini sgt langka. alias susah di cari. mengkritik orang, supaya orang lain maju, tapi ingat,,,! org yg di kritik akan maju. org yg mengkritik tidak akan maju, he he he he he he he he, kaeh malam m m m m m m m,

  63. @ pAK OGA..

    Gak ada paksaan buat prcya..siapun blh prcy atau tdk, trgatug pgetahuan dan pemahaman pribadi msg2…, artikel saya infonya konkrit, baik itu dari buku2, maupun wawancara langsung, masalah ada atau tdknya , benar atau tdknya saya jg tdk tahu, apakah anda fikir saya langsung mempercayai..???

    Soal SIWAH dan pedang milik pejuang dulu itu yg dikembalikan dari mesium belanda, itu benar adanya, cendramata itu dikembalikan pada Gubernur abdullah puteh , dan diserahkan pada pengoleksi benda antik yaitu bapak Harun keuchik leumik di banda aceh yg mempunyai mesium mini pribadi dirumahnya., bendanya ada berupa pedang dan siwah,… itu kan kepercayaan..??? saya sendiri sprti bengawan candu blm prnah menyaksikan… hanya ingin tahu..apakah emang benar demikian..??? kan gk tau koment dr org selain anda..???

  64. @ ogal2 lan…

    teurimeng geunaseh yg that lambong keu rakan long..beutoi..tayue eeehhh..malaaaaam mantong..hahahaaaaaa…

  65. salam..bagus mas cerita nya

  66. Thanmust thepos

    @To All Bolo Wong Alus :
    Assalamu’alaikum Wr Wb.
    Satu hari lagi NAFAS ini menjadi Tasbih,
    Satu hari lagi TIDUR ini menjadi Ibadah,
    Satu hari lagi DO’A – Do’A ini menjadi ijabah,
    Satu hari lagi PAHALA ini dilipat gandakan,
    Tapi………..
    Itu semua tak kan terjadi sebelum kita semua saling memaafkan.
    “MARHABAN YA SYAHRI RAMADHAN”
    Mohon MAAF Lahir & Bathin.
    Wassalamu’alaikum wr wb.

    Atas nama KWA Jakarta
    thanmust thepos.

  67. Adon

    Pak oga@
    hahaha sy sneng orng ky anda

    ogal2 lan@
    sipp….ada bnr ny jg omngan situ hahaha

    singa marente@
    artikel anda bagus kok,nambah wawasan, jd….. Jgn kapok ya., prbedaan psti trjadi kok dan memang harus trjadi…..,

    ki wong alus@
    biasa neh ki lg pd belajar sbr ky sya

    thanmust thepos@
    mohon maaf lhr btin jg ya ki…..

    All@
    salam salim wat smua saudaraku d manapun….. Tlah dtng wkt ny wat qt tuk mulai serius bribadah dan beragama lillahi taala…..

  68. wong lasem

    ngintip dulu langsung kabuuuuuuuuurrrr

  69. walangseto

    salam kenal singga marante…kpan kapan main ke banda aceh kita ziarah ke makam syiah kuala..

  70. Bhima_sena

    top

  71. tirta agni

    mantaf

  72. satria madukara

    absen

  73. SINGA MARANTEE

    @ Wa ‘alaikum slam walangseto…
    boleh..tuh, emang jenengan tinggal di Aceh..cocok tuh…

  74. SINGA MARANTEE

    @ all..

    menurut salah seorang anggota kwa yg mumpuni dari jabar yg merupakan pemerhati sejarah, pedang yg saya maksudkan adalah pedang mkrifat yg pernah dimiliki oleh Tgk nan panjang rambut dan tgk cut ali di kecamatan bakongan dan trumon aceh selatan..

    entah pedang yg dimaksud berupa hizib atau amalan atau pedang dalam bentuk sebenarnya, wallahu ‘alam, semoga sedulur mau berbagi info bagi yg tau..

  75. Pak oga

    Wewewe..
    Om singa merinti bulan puasa tetap birahi.
    Masi ajah bekutak kutik dg pedang qiqi..
    Uda di bilangin mana ada pedang kayak itu,
    ente di kibulin, dan mana ada jg pedang bermakrifat.

    Wadu para ini.
    Begini ni kalau otak di ajak birahi terus,yg di pikir cuma pedang, pedang bisa terbang biar bisa ngentot dr jarak jauh.
    Om singa…Om singa..

  76. SINGA MARANTEE

    @ oga…

    Orang-orang tua di Aceh jg mengakui adanya pedang tersebut..emang ente lebih tau dari saya yg di Aceh…??? ente aja org yg gk ada kerjaan ..dasar abege..

  77. OGAL2 LAN

    E,,,,,,,,,HEM, APA KABAR PAK OGA,
    MENURUT SAYA,YG DI CERITAKAN SING MERANTE’ BETUL, TAPI WAKTU ZAMAN DULU, DAN PAK OGA BETUL JUGA. KARENA TIDAK ADA LAGI MASA SEKARANG.

  78. Azmirandaputri

    Siiiiiiiiiiiip,,,,,,,,,,,kreeeeeeenn,,toh bahan na dari mana tyuu…………………

  79. Assalamu alaikum,

    permisi, saya tertarik ama penjabaran “Laksamana Malahayati”. mungkin agak telat sih, tp setelah saya liat2 beritanya di internet, menpora release filmnya ya? ada info tentang filmnya kah? saya mau download atau klo perlu saya beli, saya bersama team berniat membuat sebuah game yg berdasarkan atas cerita rakyat.

    terima kasih.

    wassalam.
    Firman.

  80. Umbu Sumba

    Assalamualaikum….
    Insyaallah semua yang di ceritakan saya pikir benar adanya karena saya juga banyak mendapat nasehat&cerita dari orang tua tentang sejarah aceh jaman dulu…

    @ Pak Oga : anda melakukan perbuatan yang sia-sia…terima kasih

    SALEUM SABOH HATEE…

  81. asalamualaikum……….
    cerita ini sangat efektif ……..

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

%d blogger menyukai ini: