Monthly Archives: Desember 2012

ILMU PELET SENTUHAN TANGAN VERSI BUGIS


undienzainuddin@yaho.com

BISMILLAH, ASSALAMUALAIKUM YA NUR HABIBAH, NABI ADAM TENDREKO BAGINDA ALI TEDDUKO, AENA BUAERA-BUAERA AENA ALI MAKKARAWA IFATIMAH NAKARAWA ,JIBERILU PATTURUNGI CINNANA IFATIMA LAO RIYA, BARAKKANA ALLAH TA’ALA.

Caranya ambil air ludah pd langit-2 mulut dgn ujung lidah ,lalu ujung lidah sentuhkan kejari tengah tangan kiri, selanjutnya sentuhkan ketarget langsung kekulitnya. @@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 159 Komentar

DUA SHOLAWAT MULTIFUNGSI


SHOLAWAT AZHIMIYYAH

ALLAAHUMMA INNII AS ‘ALUKA BI NUURI WAJHILLAAHIL ‘AZHIIM. WA QOOMAT BIHII ‘AWAALIMULLAHIL ‘AZHIIM. ANTUSHOLLIYA ‘ALAA MAWLAANAA MUHAMMADIN DZIL QODRIL ‘AZHIIM. WA ‘ALAA AALI NABIYYILLAHIL ‘AZHIIM. BIQODRI ‘AZHOMATI DZAATILLAHIL ‘AZHIIM. FII KULLI LAMHATIW WANAFASIN ‘ADADAMA FII ‘ILMILLAHIL ‘AZHIIM. SHOLAATAN DAA ‘IMATANM BIDAWAAMILLAAHIL ‘AZHIIM. TA’ZHIIMAL LIHAQQIKA YAA MAWLAANAA YAA MUHAMMAD YAA DZAL KHULUQIL ‘AZHIIM. WASALLIM ‘ALAYHI WA ‘ALAA AALIHII MITSLA DZAALIK. WAJMA’ BAYNII WABAYNAHUU KAMAA JAMA’TA BAYNAR RUUHI WANAFS, ZHOOHIROW WABAATHINAA, YAQHZHOTAW WAMANAAMAA. WAJ’ALHU YAA ROBBI RUUHAL LIDZAATII MIN JAMII’IL WUJUUHI FID DUNYAA QOBLAL AAKHIROTI YAA ‘AZHIIM.

Yaa Allah sesunggguhnya aku memohon kepadaMu dengan cahaya Wajah Allah Yang Agung. Yang memenuhi tiang-tiang Arasy Allah Yang Agung. Dan dengannya berdirilah alam-alam (ciptaan) Allah Yang Agung. Agar shalawat tersampaikan atas pelindung kami, Muhammad SAW, yang memiliki derajat yang Agung. Dan atas keluarga nabi Allah Yang Agung. Dengan ukuran Keagungan Zat Allah yang Agung. Disetiap kedipan dan nafas, sebanyak apa yang termaktub dalam Ilmu Allah Yang Agung. Shalawat yang sentosa dengan Kekekalan Allah Yang Agung. (sebagai) pengagungan terhadap Haq (kebenaran) engkau wahai Muhammad, yang memiliki akhlak (perangai) yang Agung. Dan salam atas beliau SAW serta keluarganya, semisal yang demikian itu . dan satukanlah aku dengan Beliau sebagaimana engkau satukan ruh dengan nafas, secara zhahir dan batin, dalam keadaan terjaga (sadar) atau tidur (mimpi). Dan jadikanlah beliau yaa Tuhanku, sebagai ruhani jiwaku, di setiap arah, didunia ini sebelum (datangnya) hari akhir, wahai Zat yang memiliki Keagungan.

 Ada sebuah peristiwa menakjubkan sehubungan dengan shalawat ini. Al-Arif billah Habib Abu Bakar bin Abdullah ‘Atthas memperoleh shalawat ini dari SAYYID AHMAD BIN IDRIS secara langsung . Beliau lalu menulis shalawat ini dan menyimpannya dalam tas pakaian. sewaktu berlayar dilaut , seorang darwis ahli sir batin dan kasyaf melihat cahaya keluar dari tas Habib Abu Bakar hingga ke langit. Ia lalu memberitahukan apa yang dilihatnya kepada Habib Au Bakar. habib abu Bakar berkata kepadanya, ” Tas ku ini hanya berisi pakaian dan shalawat”. habib Abu Bakar lalu menunjukan sholawat itu kepada si Darwisy.

Tarekat Al-Idrisiyyah dinisbahkan kepada nama Syekh Ahmad bin Idris al-Fasi al-Hasani (1173 – 1253 H / 1760 – 1837 M). Sebenarnya Tarekat ini berasal dari Tarekat Khidhiriyyah yang berasal dari Nabi Khidir As yang diberikan kepada Syekh Abdul Aziz bin Mas’ud ad-Dabbagh Ra. Setelah Syekh Ahmad bin Idris Ra. Tarekat ini mengalami perkembangan lebih jauh yang melahirkan berbagai jenis Tarekat lainnya, hal ini disebabkan karena beberapa murid Syekh Ahmad bin Idris membuat komunitas Tarekat yang dinisbahkan kepadanya dan mengembangkan ajarannya menjadi suatu sistem ajaran yang lebih spesifik. Oleh karenanya tidaklah heran jika Tarekat Idrisiyyah ini memiliki hubungan yang erat dengan nama-nama Tarekat lainnya, seperti Sanusiyyah, Mirghaniyyah, Rasyidiyyah, Khidhiriyyah, Syadziliyyah, Dandarawiyyah, Qadiriyyah. Bahkan Syekh Muhammad bin Ali Sanusi sebagai murid Syekh Ahmad bin Idris menguasai 40 Thariqat yang dikumpulkan dalam sebuah masterpiece-nya ‘Salsabil Mu’in fi Tharaa-iqul Arba’iin. Istilah 40 Thariqat dari kitab ini mengilhami istilah Thariqah Mu’tabarah (diakui) di Indonesia (yang berjumlah 40).

Syekh Ahmad bin Idris berguru kepada Syekh Abdul Wahab at-Tazi, yang merupakan murid Syekh Abdul Aziz az-Dabbagh, pengarang kitab Al-Ibriz. Awrad terkenal yang diajarkan oleh Syekh Ahmad bin Idris kepada murid-muridnya adalah berupa hizib-hizib, di antaranya adalah Hizib Sayfi yang diperolehnya dari Syekh al-Mujaidiri, yang didapatnya dari seorang Raja Jin, dari Sayidina Ali Karramallahu Wajhah. Selain itu Beliau diajarkan seluruh awrad Syadziliyyah dari Rasulullah Saw melalui perantara Nabi Khidir As. Namun yang masih eksis diamalkan oleh penganut Tarekat Idrisiyyah adalah Shalawat ‘Azhimiyyah, Istighfar Kabir dan Dzikir Makhshus.

Sanad Tarekat Al-Idrisiyyah terkenal sangat ringkas, karena menggunakan jalur Nabi Khidhir As hingga Nabi Muhammad Saw. Sedangkan jalur pengajaran syari’at Tarekat ini menggunakan jalur Syekh Abdul Qadir al-Jailani Qs. hingga kepada Sayidina Hasan Ra.

Tarekat Al-Idrisiyyah yang dikenal di Indonesia adalah Tarekat yang dibawa oleh Syekh al-Akbar Abdul Fattah pada tahun 1930, yang sebelumnya bernama Tarekat Sanusiyyah. Syekh al-Akbar Abdul Fattah menerimanya dari Syekh Ahmad Syarif as-Sanusi al-Khathabi al-Hasani di Jabal Abu Qubais, Mekah. Saat ini kepemimpinan Tarekat Al-Idrisiyyah diteruskan oleh Syekh Muhammad Fathurahman, MAg.

Tarekat ini menekankan aspek lahir dan batin dalam ajarannya. Penampilan lahiriyyah ditunjukkan oleh penggunaan atribut dalam berpakaian. Kaum laki-laki berjenggot, berghamis putih, bersurban, dan berselendang hijau. Sedangkan kaum wanitanya mengenakan cadar hitam. Jama’ahnya menjauhi perkara haram dan makruh seperti merokok. Adapun dalam aspek peribadatannya senantiasa mendawamkan salat berjama’ah termasuk salat sunnahnya. Sujud syukur setelah salat fardhu dikerjakan secara istiqamah.

Tarekat Al-Idrisiyyah lebih dikenal di Malaysia daripada di Indonesia, karena banyak berafiliasi dengan Tarekat lain (seperti TQN). Ada Tarekat Qadiriyyah Idrisiyyah atau Ahmadiyyah al-Idrisiyyah. Nama Ahmadiyyah diambil dari nama depan Syekh Ahmad bin Idris. Ketika masuk ke Indonesia, karena alasan politis nama Tarekat Sanusiyyah berganti dengan nama Idrisiyyah. Mengingat pergerakan Sanusiyyah saat itu telah dikenal oleh para penjajah Barat.

AWRAD DAN DZIKIR

Kebiasaan dzikir yang biasa dilakukan oleh jama’ah Al-Idrisiyyah adalah di setiap waktu ba’da Maghrib hingga Isya dan ba’da Shubuh hingga Isyraq. Pelaksanaan dzikir di Tarekat ini dilakukan dengan jahar (suara nyaring), diiringi lantunan shalawat (kadang-kadang dalam moment tertentu dengan musik). Kitab panduan Awrad dzikirnya bernama ‘Hadiqatur Riyahin’ yang merupakan khulashah (ringkasan) awrad pilihan (utama) dari berbagai amalan (awrad) Syekh Ahmad bin Idris dan Sadatut Thariqah lainnya. Awrad wajib harian seorang murid Idrisiyyah adalah:

Membaca Al-Quran satu Juz,
Membaca Itighfar Shagir 100 kali,
Membaca Dzikir Makhshush 300 kali: LAA ILAAHA ILLALLAAH MUHAMMADUR ROSULULLAH FII KULLI LAMHATIW WANAFASIN ‘ADADA MAA WASI’AHUU ‘ILMULLAH.
Membaca Sholawat Ummiyyah 100 kali,
Membaca Yaa Hayyu Yaa Qoyyuum 1000 kali,
Membaca Dzikir Mulkiyyah 100 kali: Laa Ilaaha illallaahu wahdahuu laa syariikalah, lahul mulku walahul hamdu yuhyii wayumiitu wahuwa ‘alaa kulli syay-in qodiir.
Memelihara Ketaqwaan.

Awrad tambahan untuk bertaqaarub kepada Allah adalah menunaikan salat tahajjud dan membaca Sholawat Azhimiiyyah sebanyak 70 kali sesudah ba’da Shubuh hingga terbit Fajar.

@@@

SHOLAWAT   SYEKH HABIB Muhammad Lutfhi bin Ali bin Hasyim bin Yahya Ba’Alawy

ALLAHUMMA SHALLI WA SALLIM ALAA SAYIDINA MUHAMMADIN NABIYIIL UMMIY WA ALAA ALIHI WA SHAHBIHI WASALIM BI ADADI SHALAWATULLAH WA ANBIYA’IHI WA RASULIHI WA MALAIKATIHI WA AWLIYA’IHI, WA YANFA’UNA BIHAA MIN BARAKATIHIM WA ANWARIHIM WA ASRARIHIM WA NAFAKHATIHIM WA ‘ALAA AWLADINA WA ABNAA’INA WA BANATINAA WA AHLI BAITINA WA AHBABINA WA LIMAN AHABUHUM WA LIMAN AHSANA ILAYNA FIIKA FII DUNYA WAL AKHIRAH BIRAHMATIKA YAA ARHAMAR RAHIMIN

Yaa Allah limpahkanlah shalawat dan salam kepada Baginda Sayidina Muhammad Nabi yang Ummi dan kepada seluruh keluarga dan sahabatnya, dengan shalawatnya Allah dan shalawatnya para Nabi, shalawatnya para Rasul dan Shalawatnya para malaikat serta shalawatnya para Awliya-Nya, yang memberikan kepada kita barakahnya, cahayanya, rahasianya, manfaatnya kepada kita, anak cucu keturunan kita, keluarga kita, ahli bait kita, kecintaan kita dan yang mencintai kita, dan orang-orang yang berbuat baik kepada kita karena Allah di dunia dan akhirat, dengan rahmat dari Mu, Wahai Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Diijazahkan dan dihadiahkan dari Syekh al-Allamah al-Arifbillah Al-Walid al-Habib Muhammad Lutfhi bin Ali bin Hasyim bin Yahya Ba’Alawy. Shalawat luar biasa yang mencakup seluruh shalawat-shalawat yang ada, yang manfaat serta barakahnya menyeluruh meliputi anak cucu keturunan dan keluarga kerabat kita. Boleh di baca sekali, atau tiga kali. Beliau menganjurkan untuk dibaca tujuh kali pagi dan sore/malam.

XXXXXXXXXXXXXXXX

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 49 Komentar

MEMBACA FIRMAN TUHAN


Oleh: Prof. Damardjati Supadjar

imagesRencana Allah terhadap makhluk yang namanya perempuan, bagi saya sangatlah mengagumkan. Satu ovum yang mereka miliki, ekuivalen dengan 300 juta sperma. Sebegitu banyak jumlah sperma suami berlomba-lomba, dan yang berhasil memasuki ovum hanya satu sebagai bakal-calon manusia generasi baru. Ini proses penyaringan alamiah yang selain berlangsung di rahim ibu juga terjadi juga di dalam ‘rahim alam’.

Untuk dapat lulus dalam penyaringan di tengah kehidupan modern, orang memerlukan pendidikan. Sayangnya, kebanyakan orang biasanya terpaku pada persekolahan semata yang dikira sebagai pendidikan. RUU atau Undang-undang Sisdiknas pun tak lebih dari pengaturan persekolahan. Padahal sejak zaman Skolastik kita sudah diajarkan bahwa untuk menjadi terpelajar tempatnya bukan hanya di ruang kelas yang namanya sekolah, melainkan juga di arena kehidupan.

Sistem pendidikan kita secara umum berkecenderungan menumbuhsuburkan konsumtivisme; para peserta didik berpotensi tergiring untuk hanya menjadi konsumen semata-mata. Dalam konteks ini yang sangat menonjol adalah sebagai konsumen ekonomi yang mengarah pada hedonisme (mengedepankan kesenangan sesaat) sebagai korban kapitalisme global.

Banyak kalangan, termasuk penulis, yang prihatin terhadap kemelut di dunia pendidikan kita. Berangkat dari keprihatinan itulah penulis dan kawan-kawan berkeinginan menawarkan konsep pendidikan sejati yang kongkrit dengan memprakarsai berdirinya semacam ‘pesantren kerja’ yang rutinitasnya berbeda dengan umumnya lembaga pendidikan yang sudah ada, yakni: siang bekerja, malam belajar atau mengaji. Para santri yang menjadi peserta didik tidak akan dipungut bayaran, melainkan justru dibayar dari hasil kegiatan produktif yang dilakukan bersama-sama.
Adapun sumber inspirasi pesantren kerja tersebut, termasuk pemberian nama lembaga yang menaunginya, antara lain kami dapatkan dari filosof besar Aristoteles.

Penjelasannya ilustratifnya sebagai berikut.
Ilmu filsafat lahir untuk menggantikan pemikiran mitologis menjadi pemikiran akal-budi rasional. Mitologi itu sendiri adalah sistem berpikir yang pseudo-saintifik, belum ilmiah, dan sifatnya problem setting tanpa problem solving. Sepanjang yang telah tercatat dalam sejarah, orang Barat-lah (tepatnya bangsa Yunani kuno) yang lebih dulu menemukan tahapan setelah mitologi, yakni filsafat, yang menekankan cara berpikir rasional itu. Sehubungan dengan hal ini ada dua narasumber yang tidak boleh tidak harus disebut, yaitu Plato dan Aristoteles.

Dalam mengajar murid-muridnya, Plato menggunakan sebuah taman yang disebut academy, jadi cara yang digunakan kurang-lebih serupa dengan yang sekarang kita kenal sebagai pendekatan klasikal. Sedangkan Aristoteles yang notabene adalah salah seorang murid Plato yang paling menonjol, setelah dia sendiri memiliki murid-murid, kegiatan mengajarnya tidak menetap di satu tempat, melainkan dilakukan sambil keliling-keliling di ‘lorong-lorong kehidupan’. Inilah yang belum dikenal baik oleh dunia, lebih-lebih oleh kalangan pendidikan di Indonesia.

Cara Aristoteles menerapkan pengajaran itu terlembaga dengan nama Liseum. Dari sinilah panulis bersama DR. Abdulhadi WM dan Iwan Nursyirwan bersepakat menamai lembaga yang kami bentuk dengan sebutan LISEUM, namun dengan kepanjangan khas Indonesia, yaitu Lembaga Ilmiah Seni Edukatif dan Usaha-usaha Mandiri.

Khusus untuk kegiatan usaha-usaha mandiri, kami bekerjasama dengan Yayasan Anak Bangsa Mandiri (YABM) pimpinan W. Pembayun. Tantangan yang kita hadapi dalam hal ini sangat riil, sangat di depan mata, dan sangat mendesak untuk segera ditanggulangi sebagai akibat pendidikan yang selama ini tidak mempersiapkan lulusan untuk mandiri, melainkan (sadar atau tidak) justru diarahkan untuk konsumtif hingga menjadi tergantung pada kapital yang mengglobal.

Adapun wujud pengajian yang diselenggarakan LISEUM terutama akan berupa kursus-kursus logika tingkat tinggi. Ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan mengingat banyaknya kesalahan pengertian terhadap berbagai masalah besar dan mendasar pada tingkat
‘hulu’, sehingga pada tingkat ‘hilir’nya pun pasti kacau-balau. Lebih jelasnya, banyak konsep kehidupan kita mengenai hal-hal pokok-penting yang belum pernah digarap secara tuntas, khususnya di bidang keagamaan.

Salah satu pengertian hulu yang mestinya segera dituntaskan di antaranya adalah konsep diri. Ketika Socrates menyerukan “Kenalilah dirimu sendiri” maka yang dimaksud bukanlah mikrokosmos (tubuhnya) melainkan makrokosmos (ruhnya). Di antara makrokosmos dan mikrokosmis terdapat sekat berupa alam, yang dalam bahasa Jawa disebut aling-aling, dan oleh Umar Khayam disebut ‘kelir tanpa batas’.
Sifat ruh itu mengatasi ruang dan waktu. Jadi kalau ada cerita film/sinetron yang menggambarkan seolah ada ruh masuk jailangkung itu jelas mengindikasikan ketidakmengertian tentang bahasa cahaya ilahiah. Ini sama kelirunya dengan doa yang kerap dilontarkan terhadap orang yang baru meninggal, “semoga arwahnya diterima di sisi Tuhan”; padahal ruh itu abadi di sisi Tuhan. Doa yang benar adalah: “semoga amal ibadahnya diterima di sisi Tuhan”, atau kalau mau lebih lengkap: ” dan dosa-dosanya diampuni”.

Bahkan, kalau Tuhan berfirman itu hendaknya jangan dibayangkan seperti orang bicara; tadinya diam, lalu bicara, untuk kemudian diam lagi. Kalau begitu pemahamannya, maka berarti firman Tuhan disekat oleh ruang dan waktu, sedangkan ruang dan waktu itu sendiri merupakan akibat dari ‘firman’ Tuhan.
Sebetulnya, dunia memang lamban sekali dalam memahami firman Allah; meski sudah dikirim nabi-nabi dan rasul, tetap saja dunia cenderung berjalan di tempat. Kenyataan ini paralel dengan nasib ilmu filsafat yang persis seperti ibunya nabi Musa. Sebagaimana dikisahkan dalam Alquran, untuk menyelamatkan bayi-Musa dari ‘kebijakan’ Firaun yang ingin membantai semua bayi laki-laki di Mesir waktu itu, maka terpaksa bayi-Musa dihanyutkan ke sungai Nil, sampai ditemukan dan dipelihara oleh istri Firaun. Kemudian, karena si bayi tidak mau menyusu, maka disayembarakan hingga muncul si ibu sebagai tukang meminumi susu, sehingga status si anak menjadi tuan bagi ibunya, karena anaknya telah jadi putra junjungannya.

Nah, ilmu filsafat adalah ‘ibu’ dari semua cabang ilmu lain, namun orang-orang yang bergiat di fakultas ekonomi atau teknologi, misalnya, justru menjadi ‘tuan-tuan’ pejabat yang kehidupannya ‘wah’. Kalau anda berkunjung ke kampus UGM, akan nyata terlihat perbedaan yang sangat mencolok; kampus fakultas ekonomi atau teknologi sangat mentereng seperti kantor Bank Dunia, sedangkan kampus fakultas filsafat lebih mirip SD Inpres. Fenomena ini mencuat karena dunia kita baru sampai pada tahapan yang serba kuantitatif atau sebut saja baru mengenal bahasa tongkat, bahasa terukur, tertakar, dan tertimbang. Sedangkan hal-hal yang sifatnya kualitatif masih sangat kurang dihargai, bahkan dapat dikatakan belum mengenal bahasa ruh.

Sorga-Neraka dan Pohon Keakuan
Kesalah mengertian pada tingkat hulu, antara lain juga terjadi pada para penghulu agama. Misalnya pemahaman tentang surga dan neraka yang menurut panulis perlu segera dikoreksi. Kalau kita ditanya apakah surga itu ada, jawabnya pasti ada, namun mestinya pemikiran kita tidak hanya berhenti sampai di situ saja. Seyogianya kita juga bertanya lebih lanjut, surga itu ada di mana? Jawabnya: di sisi Tuhan. Nah, yang ada di sisi Tuhan tentunya adalah sifat-sifat Tuhan yang secara keseluruhan meliputi sifat-sifat benar, indah, dan baik.
Sifat-sifat Tuhan itu sendiri terbatas atau tidak? Jawabnya pasti tak terbatas, sehingga –karena surga itu keberadaannya di sisi Tuhan yang tak terbatas, dan lawan dari ‘ada’ itu ‘tidak ada’ maka neraka itu tidak ada. Pernyataan penulis ini hendaknya dipahami secara utuh, sebab kalau hanya diambil sepotong-sepotong bisa fatal; salah-salah penulis dilempari batu oleh ‘ahlunnar’ yang fanatik, dogmatis, dan pikirannya tidak terbuka terhadap tafsir-tafsir yang berbeda dari yang selama ini dikembangkan oleh para penghulu agama yang mapan. Dalam masalah ini adalah sangat penting untuk diingatkan bahwa ketika mendalami Alquran (atau kitab suci lain) hendaknya kita tidak sekedar membaca huruf-huruf Arab, melainkan harus benar-benar ‘membaca firman Tuhan’.

Bagi orang yang ‘ahlunnar’, surga yang sedemikian indah dan baik bisa tergambar begitu jelek karena salah penglihatan; persis seperti salah lihatnya Betara Guru terhadap istrinya yang cantik-jelita, Dewi Uma. Dalam pewayangan dikisahkan, suatu ketika dalam sebuah perjalanan, Betara Guru minta Dewi Uma melayani hasrat biologisnya yang menggejolak. Karena Dewi Uma menolak, Betara Guru marah dan di matanya sang istri menjadi tampak sejelek Durga. Karena sudah terlanjur ‘in the mood’, maka sperma Betara Guru jatuh ke laut, dan jadilah Betara Kala. Celakanya, Betara Kala yang melihat Dewi Uma tetap cantik dan tidak tahu bahwa dia itu ibunya, kemudian memperistrinya.
Kisah Betara Guru berikut istri dan anaknya itu tentu harus dipahami sebagai sebuah simbolisme, bukan ditangkap secara harfiah. Dalam pandangan panulis, kisah tersebut merupakan peringatan akan rusaknya hukum sebab-akibat karena ‘salah penglihatan’.
Masih berkaitan dengan masalah surga, Allah berfirman kepada Adam: “Jangan kau dekati pohon ini, sebab kalau kau mendekati pohon itu engkau dzalim.” Ini sebuah peringatan, sebuah larangan yang mestinya menggugah kecerdasan spiritual kita. Pertanyaannya adalah: masa di surga ada larangan, masa di surga ada setan, masa di surga ada kedzaliman?

Yang terjadi adalah, Adam bukan hanya mendekati pohon itu, melainkan malah memakan buahnya. Penulis berani mengambil kesimpulan bahwa pohon larangan itu adalah pohon keakuan; begitu kita mengaku-aku, maka Tuhan jadi engkau. Padahal, atas dasar apa kita meng-engkau-kan-Nya? Tuhan itu pada hakekatnya tidak mungkin di-engkau-kan ataupun di-dia-kan.
Sedangkan buah yang dimakan Adam pun merupakan buah keakuan yang tak lain adalah ‘rasa milik’; begitu kita merasa memiliki sesuatu, maka kita diterkam oleh rasa kepemilikan kita, dan kita diperdaya oleh setan. Maka, sekali lagi kita harus bertanya, apa iya di surga ada setan? Keberadaan pohon dan buah keakuan itu dengan sendirinya tidak mungkin ada di sisi Allah, dan karena Adam diperdaya oleh setan, maka sebutan setan harus diartikan sebagai fungsi menjauhi Allah. Fungsi itu mengakibatkan Adam terpelanting ke dunia (dalam bahasa Chairil Anwar: aku ini binatang jalang, dari kumpulannya terbuang), dan Allah menambahkan firman, “Tunggu petunjuk dari sisi-KU”.

Manakala Allah berkenan memotret situasi dunia, kepada segenap makhluk di alam semesta kedirian-Nya ditawarkan. Semua takut menerimanya karena khawatir kalau sampai mengkhianati keakuan Illahiah; hanya Adamlah yang mengaku-aku sepihak, maka ‘aku mengaku-aku’ (dalam bahasa agama: semua sujud kepadaku).
Ketika Adam mengaku-aku itulah, semua sujud kepada Adam (kepadaku), kecuali iblis. Iblis itu artinya ‘yang ingkar’ atau dalam konteks sujud berarti yang tidak sujud. Kalau kita menggunakan logika inklusif seperti yang dikembangkan oleh Nurcholis Madjid, maka dapat dikatakan: “semua sujud kepadaku, kecuali aku”. Jadi iblis itu sebenarnya tak lain adalah aku atau kita selagi tidak mau bersujud.

Simpul Islam
Sebagai warga dari sebuah negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, bahkan tercatat sebagai negara dengan jumlah muslimin-muslimah terbesar di dunia, tentu layak jika kita memiliki cita-cita untuk membuat simpul Islam yang lebih bermutu daripada yang sudah dikembangkan bangsa Arab. Alasan yang lebih penting adalah, dulu dunia Arab berangkat dari alam pikiran jahiliyah, sedangkan kita tidak; sewaktu ajaran Islam datang ke Nusantara, nenek moyang kita sudah mengenal alam pikiran yang diwarnai berbagai kearifan dalam memandang dunia, salah satunya dalah konsep hamemayu hayuning bawono.

Untuk mewujudkan cita-cita itu, pada tingkat dunia dapat ditempuh melalui Forum Komunitas Muslim Sedunia yang berkedudukan di Wina, tentu oleh para tokoh kita yang telah dianggap mendunia. Sementara penulis dan kawan-kawan biarlah hanya menyapa lewat pesantren kerja sebagai konsep pendidikan yang penulis anggap lebih sejati. Yang penting suatu saat kelak Indonesia dapat menjadi ‘tamansari’nya dunia.

Tamansari adalah sebutan bagi pertamanan yang ada di setiap kerajaan. Lebih dari sekedar untuk memperindah pemandangan di lingkungan kraton, keberadaan tamansari sebenarnya memiliki makna spiritual. Itulah sebabnya di taman Surakarta terdapat tradisi memutari taman Sriwedari yang disebut ‘maleman sriwedari’ yang dilakukan setiap malam menjelang 21 Ramadhan untuk menyongsong Lailatul Qadar. Dalam pemahaman penulis, lailatul qadar itu tak lain adalah ilmu untuk mencapai nafsu muthmainah.

Dalam kisah wayang (sekali lagi harus ditangkap makna simbolisnya), yang berhasil mengitari Taman Sriwedari adalah tokoh Sumantri atas jasa-bantuan adiknya, Sukrosono. Atas keberhasilannya itu Sumantri kemudian diangkat menjadi Patih Maospati, sebagai simbol naiknya derajat kemuliaan orang yang mendapatkan Lailatul Qadar. Sedangkan dalam konteks kekinian, setidaknya dalam persepsi penulis, orang yang berpotensi ‘mengelilingi taman sriwedari’ adalah ‘santri plus’ yang mulia, dan ini pulalah yang pertama-tama memperkuat motivasi penulis mengembangkan pesantren kerja. Lewat kursus-kursus logika tingkat tinggi, antara lain diharapkan para pesertanya dapat memperoleh kearifan-kearifan yang mengantarkannya ke derajat nafsu muthmainah.

Hal itu penulis turunkan pula dari nasehat Bung Karno bahwa Allah menyatakan dirinya dalam dua gaya, yakni lewat nabi-nabi/rasul dan lewat alam semesta dengan segala hukum alamnya yang kita kenal sebagai sunnatullah. Pernyataan Illahi lewat nabi/rasul disebut teofani, karena sebetulnya diri mereka sudah dikembalikan kepada Allah; namanya nafsu muthmainah, karena hanya nafsu muthmainah-lah yang dapat mendengar sapaan Allah.

Selain nafsu muthmainah, ajaran Islam juga mengenalkan kita pada nafsu amarah dan nafsu lawwamah. Nafsu amarah itu penuh masalah, dan dalam Alquran Allah menggambarkan dengan sangat bagus lewat kisah tentang Zulaiha yang menggoda Yusuf. Nenek moyang kita sendiri dengan sangat arif jauh-jauh hari telah mengingatkan tentang pentingnya mengendalikan nafsu amarah dengan ungkapan “Sesal kemudian tak berguna”. Sedangkan mengenai nafsu lawwamah diungkapkan dalam penggal paribahasa “Sesal dahulu pendapatan”.

Kalau diibaratkan sebagai alat penerang, maka nafsu amarah adalah semacam lentera atau teplok (lampu semprong); fungsinya harus sangat dijaga karena kalau minyaknya kotor dapat menimbulkan jelaga (aib), dan kalau tidak hati-hati semprongnya mudah pecah (dan ini boleh ditafsirkan sebagai merusak diri sendiri). Terangnya lentera tentu tak sebanding dengan lampu listrik (nafsu lawwamah) yang sudah mengenal hakekat asal-usul atau “awal-akhir lahir-batin”. Terangnya lampu listrik itu pun tak bisa dibandingkan dengan matahari (nafsu muthmainah) yang dapat mengantarkan manusia ke tingkat makrifat. Jadi, nafsu muthmainah itu adalah satu-satunya diri yang mendengar sapaan Tuhan, dan itulah lambang orang yang mendapat ‘matahari abadi’.

Menurut penulis, bangsa Indonesia sebenarnya sejak awal memiliki bakat makrifat, buktinya hanya kita yang menamai sumber cahaya galaksi kita dengan sebutan ‘matahari’. Lalu, dalam keseharian ada pula istilah-istilah seperti mata-hati, mata-pisau, mata-anggaran, dan sebagainya.

Menyatu dengan Firman Tuhan
Dulu kala, ketika agama Hindu menyebar ke Nusantra, nenek moyang kita menyaring dengan saringan yang sangat lembut. Firman Tuhan yang ditonjolkan waktu itu adalah keindahannya; namanya Pradnya Paramitha yang dipersonifikasi dengan sosok Roro Jonggrang. Bagi Bandung Bondowoso, untuk memperistri Roro Jonggrang (ini hendaknya diberi tafsir sebagai simbol keinginan menyatu dengan firman Tuhan) harus membuat seribu patung (melipatgandakan dirinya seribu kali) untuk menyamakan gelombang atau frekuensi sapaan Tuhan.
Kesamaan ‘frekuensi’ itu hanya bisa dicapai jika ruh telah mendominasi raga, dan Bondowoso telah gagal (diibaratkan dengan kesiangan), sehingga tidak berhasil menangkap gelombang ruhani firman Tuhan. Ini berarti, untuk sampai kepada firman Tuhan, seseorang harus menjadi ‘Hindu-plus’.

Sambil lalu penulis ingin mengemukakan sebuah temuan kecil yang sangat bermanfaat. Anak saya yang masih TK, pada saat tidur dan saya gendong ternyata lebih berat dibanding ketika dalam keadaan sadar. Ini membuktikan bahwa ruh itu memang ada, dan hubungan gelombang kita dengan ruh sewaktu tidur terputus sementara. Hal yang sama pun berlaku pada mayat: orang yang baru meninggal juga beratnya lebih dibanding sewaktu hidup.

Setelah mengenal Hindu, nenek moyang kita juga mendalami agama Budha yang sudah membawa berita pencerahan, namun toh ‘ksatria’nya masih terkurung dalam sangkar, jadi belum membebaskan sepenuhnya. Candi Borobudur yang menjadi simbol termegah agama Budha, nama aslinya adalah Candi Seribu Ksatria Terkurung dalam Sangkar.
Di candi Borobudur, stupa-stupa yang ada di bagian bawah lubang cahayanya dibuat dengan melubangi batu utuh, sedangkan pada bagian atasnya terbuat dari dua batu utuh yang dipertemukan dan menghasilkan lubang cahaya alami. Hal ini merupakan maklumat dari nenek moyang tentang pentingnya sadar diri untuk mengalami pencerahan.

Oleh karena itu, adalah tugas umat Islam untuk menyempurnakan pencerahan itu. Sayangnya, ketika pertama kali Islam datang, yang lebih ditonjolkan justru masalah surga yang digambarkan secara terlalu realis dan sangat sensual; makan tinggal makan, minum tinggal minum, tidur tinggal tidur ditemani bidadari, bercinta tinggal bercinta, dan seterusnya. Sedangkan nenek moyang kita semula mendeskripsi surga sebagai tan keno kinoyongopo langgeng tan ono susah tan ono bungah (tak bisa digambarkan, langgeng, tak ada sedih tak ada gembira). Terlepas dari benar-salahnya penggambaran surga yang terkesan sensual itu, mestinya yang lebih disyiarkan adalah semangat penyempurnaan akhlak dengan mengembangkan nafsu muthmainah.

Selama ini terdapat fenomena yang dalam pandangan penulis sangat menyedihkan, yakni kecenderungan untuk hanya ‘mengais recehan’ dari keberadaan candi Borobudur. Ada pula niatan membuat miniatur tujuh keajaiban dunia, yang lagi-lagi motifnya hanya mengkomersilkan semata.

Demi kebaikan perikehidupan di Indonesia dan dunia pada umumnya, penulis memandang adalah sangat mendesak untuk menghimpun tokoh-tokoh agama Hindu, Budha, Kristen, ataupun Islam agar dapat saling bertukar pikiran untuk menemukan jalan bagi pencerahan umat manusia dengan bersama-sama menggapai ruh Tuhan. Bagi ajaran Islam, menurut penulis jalannya sudah sangat jelas, yakni dengan memahami dan menghayati Lailatul Qadar sebagai ilmu untuk mencapai nafsu muthmainah agar dapat menangkap sapaan Tuhan.
Masalah tersebut harus segera diselesaikan. Kalau tidak, kita tidak akan mampu secara berkualitas menyaring teknologi modern yang notabene merasuk ke dalam kehidupan kita melalui penjajahan. Ini merupakan peringatan, yang kalau tidak hati-hati maka lagi-lagi kita akan terjajah oleh ilmu dan mekanisme kemajuan kita sendiri.

Masalah itu sebetulnya telah dilihat oleh nenek moyang berupa sosok kanibalis yang bernama Dewatacengkar (dewa = cahaya, cengkar = kebalikannya); jadi dia adalah sosok dzalim yang makan sesama orang. Sosok ini berhadapan dengan Ajisaka, orang yang menegakkan nilai-nilai adiluhung dan abadi yang mengenakan udheng (ikat kepala). Udheng itu sendiri berasal kata mudheng yang berarti mengerti, paham, sadar; jadi barang siapa mengenakan udheng dapat disimbolkan sebagai orang yang mengerti.
Dikisahkan bahwa dalam peperangan Ajisaka mengibaskan udheng ke tubuh Dewatacengkar hingga berubah ke wujud aslinya sebagai Bajul (buaya) putih. Dalam konteks kekinian, kisah ini dapat ditafsir sebagai kritik atas kecenderungan kita yang gemar mencontoh orang kulit putih tapi hanya sampai pada kulitnya.
Sampai batas itu, karsa penulis dan teman-teman mendirikan pesantren kerja berikut kursus logika tingkat tinggi boleh dianggap sebagai bentuk sikap kritis terhadap dunia kampus. Masalahnya, justru para lulusan kampus itulah yang paling potensial menjadi ‘bajul putih’ itu.***

CV:
*) Prof.Damardjati Supadjar adalah Guru Besar Filsafat pada Fakultas Filsafat UGM dan Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga. bELIAU terlahir di Yogyakarta, 30 Maret 1940, ini juga dikenal sebagai aktifis budaya yang telah menulis sejumlah buku dan artikel ataupun makalah, penceramah di berbagai forum keagamaan dan PENASEHAT SPIRITUAL KRATON YOGYAKARTA.

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 28 Komentar

KETUHANAN YANG MAHA ESA DAN RUKUN IHSAN


===Ini dalah naskah pidato Prof. Dr. Damardjati Supadjar dalam acara Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada Diucapkan di depan Rapat Terbuka Majelis Guru Besar Universitas Gadjah Mada pada tanggal 31 Mei 2005 di Yogyakarta. Kami muat di blog KAMPUS WONG ALUS tanpa ijin dari Pak Damar, Mohon maaf ya Pak… Tujuan pemuatan ini yaitu agar Pembaca Blog yang budiman bisa mengambil pesan dari Pak Damar agar kita terus menumbuhkan semangat untuk terus MEMBACA dan MENUNTUT ILMU. Kepada Pak Damar, sebagai murid saya mohon maaf. Kalau bersalah, justeru sebuah kemuliaan dan kehormatan bila Pak Damar berkenan menghukum saya. Kepada pembaca blog KWA, salam karaharjan ===

PROLOG
Sebagaimana seluruh alam ini menyerukan Nama-Nya, maka marilah kita bersama mereka mengemukakan rasa syukur alhamdulillah sambil selalu ingat 5 hal sebelum 5 hal yang berikutnya, yakni: ingat (hal) muda sebelum tua; sehat sebelum sakit; lapang sebelum sempit; kaya sebelum miskin; hidup sebelum mati. Alhamdulillah, kita telah lalui masa muda kita untuk menabung ilmu amaliah, demi amal ilmiah. Sampai kini kita sehat wal afiat, lapang dada, masih bernafas lega, serta berkelapangan waktu berkesempatan menghadiri majelis yang terhormat ini. Walaupun kita belum kaya, namun tidak juga termasuk miskin, dan yang tidak terhingga ialah kesempatan menghayati kehidupan-Nya melalui kehidupan sementara kita di dunia, insya Allah.

Yen wus mudheng pratingkah puniki
Den awingit lawan den asasab
Andhap asor panganggone
Nanging ing batinipun
Ing sakedhap tan kena lali
Lahire sasabana
Kawruh patang dhapur
Padha anggepen sadaya
Kalimane kang siji iku permati
Kanggo ing kene-kana
(Serat Dewa Ruci)

(Yang terjemahannya dalam bahasa Indonesia kurang lebih sebagai berikut: Apabila telah memahami metode/laku ini, harap agar “sedikit bicara” dan tidak menampakkan diri, pakailah tabiat merendah. Tetapi secara batiniah, sekejap saja pun tidak boleh lalai; secara lahiriah tutupilah dengan ilmu empat macam, yang kesemuanya dipergunakan, kelimanya, yakni yang satu itu yang terlebih utama, baik untuk di “sini” atau pun di “sana”.)

Yang satu yang terlebih utama itulah yang akan dijadikan sentral perhatian kita bersama kali ini, dengan memilih tema atau pokok bahasan berjudul: KETUHANAN YANG MAHA ESA DAN RUKUN IHSAN. Atas kesempatan pemaparan itu, dan atas perhatian hadirin terhadapnya, disampaikan ucapan terimakasih.

When God made man the innermost heart of Godhead was put into man
(Reiser, 1966)

Ada hal yang menarik berkenaan dengan kata-kata Meister Ekhart yang tertera sebagai kutipan tersebut di atas. Ketika pembicara untuk pertama kalinya membacanya dalam buku Cosmic Humanism (Reiser, 1966) dan menjadikannya uraian pengawal serangkaian ceramah untuk tamu-tamu terhormat Hotel Aman Jiwa di dekat Candi Borobudur, maka seusai forum tanya jawab, pembicara dibawa oleh Panitia Penyelenggara ke suatu ruangan yakni perpustakaan yang khusus dipenuhi dengan buku karya Meister Ekhart, dan mereka berjanji untuk memberi pembicara beberapa copy dari karya-karya terpentingnya, termasuk: Meister Ekhart, from Whom God Hid Nothing (O’Neal, 1996).

Maksud mereka baik dan tulus, demi keluasan cakrawala kesadaran dan kedalaman maknawiyahnya, namun bagi pembicara terbersit rasa iba juga, jangan-jangan materi yang pembicara sampaikan dianggap seperti nguyahi segara (menggarami laut). Kesan seperti itu kini muncul juga pada forum yang sangat terhormat ini. Di hadapan para Guru Besar yang ilmunya sudah melaut pada lautan ilmu, posisi pembicaraan berfokus pada “mata air” yang jernih di hulu sebagai lambang kearifan lokal namun yang tetap bermuara pada Lautan Indonesia yang satu, yang sama.

Terlebih lagi ketika yang menjadi pokok pembicaraan adalah perihal Ketuhanan Yang Maha Esa, kearifan lokal tadi tidak saja bernuansa nasional, melainkan global, terutama berkenaan dengan momentum spiritualitas, mengenai “pencerahan”, mengingat manusia itu bukan hanya hidup pada dimensi tiga, melainkan pada semesta empat dimensional (Rucker, 1984). Patung Budha di puncak Borobudur, Datu-Garba, yakni patung Budha yang belum selesai, dibuat sedemikian rupa demi pesan kepada umat manusia bahwa “alam ini adalah semesta yang belum selesai” (Young, 1985).

Kenyataan memperlihatkan bahwa kalau orang membicarakan masalah Ketuhanan Yang Maha Esa, maka asosiasinya mengarah ke Aliran Kepercayaan terhadap Tuhan. Masalah Ketuhanan (YME) sesungguhnya adalah masalah kefilsafatan sepanjang masa yang menuntut Logika Lanjut di samping Logika Deduktif serta Induktif, sebagaimana dipaparkan dalam buku Tertium Organum (Ouspensky, 1951). Di dalam wacana keagamaan (Islam) bahkan masalah Ketuhanan (YME) itu memerlukan rukun tersendiri, “Logika” tersendiri, di samping “Logika” Agama dan /”Logika Ilmu Pengetahuan” (/Logika Himpunan). Keseluruhan pendekatan itu bukannya yang satu berbeda apalagi bertentangan dengan yang lainnya, melainkan justru sebagai kesatuan karena Semesta Realitas itu memang bertingkat, berkenaan dengan dimensi spasialnya, serta berproses, berkenaan dengan dimensi temporal sebagai Kesatuan AWAL AKHIR/LAHIR-BATIN.

Dipilihnya pokok bahasan Ketuhanan Yang Maha Esa itu bukan saja karena halnya tercantum sebagai Sila I Pancasila, sebagaimana yang dapat ditemukan pada Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, serta secara khusus tercantum pada pasal 29 Bab XI Undang-Undang Dasar 1945, melainkan bahkan karena kedekatannya dengan inti kehidupan, sebagaimana yang dibuktikan oleh Semesta Alam yang menyeru Nama-Nya: “Tuhan”, Seru sekalian Alam. Untuk dapat “mendengar” seruan Alam itu, yang dalam Bahasa Jawa dikenal sebagai Suaraning-a-Sepi, orang harus mencapai kepekaan optimal, demi mendengar Silent Musics (Johnston, 1979).

Seorang Maha Guru Fakultas Kehutanan berkenan mengemukakan kenyataan sangat menarik, perihal “Ketuhanan” dibalik Kehutanan: “Manakala pada suatu hutan tertentu dipasang sebuah EEG (= Electrical Encephalo Graph), dan masuk ke dalam hutan itu seorang blandhong penebang hutan sebagai pencuri, illegal logging, maka layar EEG tadi akan menampakkan encephalogram yang kacau balau. Sebaliknya kalau yang masuk ke dalam hutan itu si juru taman, yang penuh asih-asuh dan asah terhadap aneka ragam hayati, maka EEG-nya justru alfa-ritmik”(Anonim, 2004)

Masalah kepekaan itu juga yang menjadi terminologi sentral dalam al-Qur`an, sebagai kata di tengah-tengahnya, yang dicetak tebal atau diberi warna merah, perihal ke-LATIF-an (Q.S. 18: 19). Itulah pula inti ajaran KAWULA-GUSTI, bermula dari momentum: “Kawula, GUSTI”:

“Manakala seorang Ibu Guru Taman Kanak-Kanak memanggil salah seorang siswanya, maka yang bersangkutan pasti akan menjawab, “Kula, Bu”. Demikianlah kalau yang memanggil itu Gusti Sagung-Dumadi, maka panggilan-Nya tadi menjadikan sang hamba menjawab, “Kawula, Gusti”

Diri yang sangat peka, yang jumeneng, yang sadar kosmis atas perintah Allah SWT, yang tidak lagi dililit masalah, yakni diri yang amarah (Q.S. 12: 53), juga paska penyesalan diri, berkenaan dengan dimensi awal-akhir, yakni Diri lauwwamah (Q.S. 75) itu adalah DIRI yang TERCERAHKAN, yang terang-benderang batinnya melebihi seribu corona bulan, yang suka-cita sukmanya melebihi keindahan sejuta corolla bunga yang kembang itu ialah DIRI yang MUTHMAINNAH (Q.S. 89: 27-30).

“Diri yang tenang, yang mencapai keseimbangan awal-akhir/lahir-Batin, yang menerima perintah kembali (“mulih-pulih”) yang dipenuhi redha-Nya, yang Ngawula-Gusti, yang masuk ke Semesta tanpa Batas, surga di sisi-Nya.”

Momentum “pertemuan” hamba Allah SWT dengan Tuhannya itulah yang menjadi tema sentral RUKUN IHSAN. Sabda Nabi Muhammad SAW. dalam salah satu Hadis Qudsi-nya menjelaskan tentang fenomena itu sebagai berikut:

“Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat kepada-Nya;
apabila engkau tidak dapat melihat-Nya, dan engkau memang tidak dapat melihat-Nya,
maka sesungguhnya Ia melihat engkau.”
Demikian Kitabul Jihad/H.R. Bukhari Juz 3, hal. 226 / Kitabul Iman/Muslim Juz 1, hal. 106
(Shahih al-Utsaimin, 2002)

Surga yang di sisi Allah SWT itu adalah surga abadi tanpa batas, tanpa lawan. Apakah yang di sisi-Nya? Sifat-sifat-Nya, yang Kebenaran, Keindahan, dan Kebaikan-Nya tanpa banding, tanpa lawan. Di dalamnya semuanya teridentifikasi secara paripurna. Surga adalah bahasa Agama, yang oleh bahasa Filsafat dikembalikan kepada Principium Identitatis. Surga adalah keberadaan sejati, di sisi-Nya. Lawan surga adalah neraka, yang tentu saja oleh Filsafat dikembalikan kepada Principium Contradictionis.

Karena lawan surga itu neraka, sementara lawan ada itu tidak ada, maka perlu penjelasan, bagaimana mungkin yang tidak ada itu dianggap ada. Analoginya ialah anggapan yang salah tentang keberadaan gelap; gelap itu fenomena akibat dari terhalangnya terang dan bukannya gelap itu ada secara ontologis; mereka yang menganggap gelap itu ada, tentu senang pada hubungan gelap, sementara bagi yang terus terang dan terang terus, menghadapi fenomena kegelapan pasti akan menyalakan terang buatan yakni lampu.

Tidak ada kemungkinan ketiga (Principium Exclusi Tertii). Dalam hal ini Ilmu Filsafat
memang menyumbangkan hal-hal prinsipiil, yang terang dan wijang, yang Qur‘ani dan Furqoni (clearly & distinctly). Kegelapan penglihatan yang mengarah ke “mata gelap” itu sudah lama diindikasi oleh kakek/nenek-moyang kita melalui kisah Dewata Cengkar, lambang kezhaliman. Dewa/dewata itu lambang cahaya; cengkar/cengkah itu lawannya; itulah sosok zhalim, yang “mata gelap”. Ketika ia bertemu dengan lawannya, yakni AJI SAKA, dan yang belakangan ini akan dijadikannya objek penderita, maka AJI SAKA bersedia dengan syarat diberi kesempatan untuk menggelar udheng, agar mudheng hakikat dari sosok yang kanibalis itu.

Setelah udheng dibabar, dan Dewata Cengkar dikibaskannya, maka nampak wujud aslinya, yakni “Buaya Putih”, lambang mencontoh orang kulit putih, namun hanya sampai pada kulit luarnya (Supadjar, 1993). Kedangkalan pemahaman itu tidak hanya berkenaan dengan ilmu dan teknologi dari Barat, melainkan juga berhubungan dengan pemahaman hidup keagamaan kita. Tidak ada yang salah dengan agama di tangan nabi-nabi, alaihissalam untuk mereka semuanya yang memang maksum. Sebaliknya, tidak ada jaminan bahwa pemahaman kita atas agama kita itu bebas dari kesalahan. Halnya yang sama berlaku juga atas Filsafat, termasuk mengenai Filsafat Pancasila. Tidak ada yang salah dengan Pancasila; tetapi tidak ada jaminan bahwa pemahaman kita atas Pancasila itu bebas dari kesalahan.

Marilah kita uji diri kita sendiri mengenai hal-hal yang sangat dekat dengan hidup keseharian kita. Kalau kita ditanya seseorang dengan persoalan sehari-hari, misalnya, “Anda lahir dari mana ?”, maka kecenderungan jawabannya tentunya, “Dari rahim ibu”. Jawaban seperti itu bukannya salah, tetapi belum terbebas dari kesalahan, fallacy of misplaced concreteness (Bahm, 1970). Tanpa mengurangi hormat kita kepada sang Ibunda, rahim ibu kita itu adalah terminal, transformator; bukan generator; kita lahir dari BATIN. Tetapi baik kata lahir ataupun batin keduanya adalah bahasa Arab; untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam harus didapatkan dataran persemaian konseptualnya, sebagai kearifan lokal, namun dalam skala nuansa globalnya; lahir itu babar, gelar, gumelar; kebalikannya, yakni batin adalah geleng, golong, gelung, gumulung, gumeleng.

Mereka yang ahli laku: lenging cipta wus gumeleng, yang hakikatnya identik dengan mencapai titik pusat jagad raya, titik henti pengendali kosmologi, adalah mereka yang WUQUF di padang Arafah, di padang makrifat. Realitas/Wujud Semesta itu berstruktur (Lahir-Batin) serta berproses (Awal-Akhir). Maka ketika para pendiri Negara “membaca” Realitas itu berstruktur lima, dengan Sila Ketuhanan YME sebagai yang Batini, yang harus dilahirkan sebagai Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, tidak ada yang salah dengan hal itu. Yang nyata-nyata salah justru pada proses (awal-akhirnya). Bahwa Rakyat Indonesia telah dibiasakan melalui adat istiadat “membaca” huruf-huruf kehidupan, melalui urutan “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian”, sungguh sebagai makmum mendapatkan bahwa imam-nya salah urutan bacaannya, yakni bukannya yang seperti dipegang Rakyat, melainkan kebalikannya, ialah “Bersenang-senang dahulu menghabiskan uang hutangan, bersusah-susah generasi penerus membayarnya kemudian”.

Kesalahan dimensional atas konsekuensi awal-akhir, mencakup hukum sebab akibat itu telah sejak lama dideteksi, terbukti dengan kisah lahirnya Bathara Kala, sebagai kama salah tetes, yakni yang kejadiannya di luar sistem rahim alami. Ketika Bathara Guru melakukan perjalanan kosmis dan diikuti oleh “Bu Guru” yakni Dewi Uma, dan karena suasananya sore-sore yang romantis menjadikan kecantikan Dewi Uma nampak nyata dan menggoda, maka ketika permintaan sang suami ditolak oleh istrinya atas dasar alasan skala prioritas, yakni demi perjalanan dinas, kepentingan pribadi harus dikesampingkan. Maka marahlah Bathara Guru dan akibatnya wajah Dewi Uma menjadi jelek di mata Bathara Guru; itulah Bathari Durga. Sementara itu di mata Bathara Kala, Dewi Uma tetap cantik dan tidak tahu bahwa Dewi Uma itu “ibu”-nya; maka kejadian bahwa Kala “memperistri” “ibu”-nya, membuka tabir kesalahan hubungan fungsional Sebab-Akibat, yang kini menggejala sebagai Zaman Edan.

Berbagai upacara ruwatan yang memperlihatkan bahwa pola pikir masyarakat pada umumnya masih mitologis, yang menyamakan Indonesia sebagai anak “ontang-anting”, karena pontang-panting, gali lubang tutup lobang, biyayakan manakala mengenai biaya, tidak atau belum efektif, selama tidak menyentuh sumber malapetaka yakni Bathara Kala, lambang rahasia waktu. Di samping ruwatan “Caraka Balik”, meluruskan sistem hubungan sebab-akibat, juga dikenal sistem ruwatan yang lain, yakni dihancurkannya Kala akibat pukulan “sarung” gada inten, lambang ajaran Tauhid. Akibat sabetan gada Inten itu maka pecah dan hancur-leburlah Kala menjadi kala-bang (lambang terorisme), kala-menthel (lambang hedonisme), kala-jengking/kalasundep (lambang sensualisme), dan yang paling mengancam keseimbangan awal-akhir/lahir-batin itu ialah kala dalam arti senyatanya yakni laso yang menjerat, yakni hutang-piutang (Kamajaya, 1985).

Ketika Indonesia belum merdeka, maka Indonesia menjadi objek penderita keterjajahan yang penuh penderitaan; ternyata setelah merdeka, di sana-sini Indonesia juga masih menjadi objek penderita berbagai kemudahan yang menggoda, yakni gaya hidup konsumtif.
Menurut Filosof Sosial, yakni Yule Fineberg, kemerdekaan itu mengandung beberapa makna. Pertama adalah bebas dari hal-hal negatif untuk mencapai hal-hal positif, misalnya bebas dari keterbelakangan menuju ke kesempatan membangun dan mencapai kemajuan. Makna kedua ialah alih fungsional dari Objek Penderita menjadi Subjek Pelaku. Arti ketiga ialah otonomi: dari, oleh, serta untuk bersama; Semua untuk Satu, Satu Untuk Semua. Akhirnya makna yang keempat ialah adil, artinya kemerdekaan sesuatu pihak tidak boleh mengancam kemerdekaan pihak lainnya (Fineberg, 1960).

Salah satu forum pengajian/majelis taklim yang selalu pembicara ikuti pada masa studinya ialah Pengajian Istighfar di bawah asuhan Bapak Sunarto, (alm.), ayah Prof. Dr. Retno. Menurut beliau, alam semesta itu bergerak menurut sumbunya yang bagi manusia sumbu tadi tidak lain adalah NIAT-nya; kalau niatnya ikhlas maka sumbunya tegak lurus (Shalahuddin, 1980).

Sumbangan Ilmu Filsafat bagi hidup kemanusiaan, ialah di samping memperkenalkan prinsip-prinsip berpikir yang umum yang sudah dikemukakan di muka, yakni principium identitatis, principium contradictions, serta principium exclusi tertii, juga menyambung prinsip-prinsip Alasan Secukupnya (Principium ratiosufficientis) bahwa untuk terjadinya segala sesuatu itu diperlukan syarat-syarat setepatnya secukupnya, yakni principium/Ordo Essendi, principium/Ordo viendi/ principium/Ordo cognoscendi (hal-hal esensial serta hal-hal konsepsional). Adalah filsuf Arthur Schopenhauer yang menambahkan principum/Ordo Agendi, yakni NIAT sebagai prinsip keempat (Hamlyn, 1980).

Dicantumkannya Pancasila, termasuk sila I Ketuhanan Yang Maha Esa di dalam alinea keempat sebagai Ordo Agendi Bangsa/Negara Indonesia akan menghindarkan kita dari berbagai kesalahpahaman yang tidak perlu, akibat dari lalainya tata-pikir pada tingkat hulu konsepsional. Uraian singkat pada forum terhormat ini dimaksudkan sebagai sarana koreksi pada tingkat paling hulu, di pusat segala “jantung” kehidupan, yakni masalah Ketuhanan Yang Maha Esa, bukannya hanya dikaitkan dengan Aliran Kepercayaan terhadap Tuhan YME, melainkan justru dengan Rukun IHSAN.

Pembicaraan tentang Tuhan secara kefilsafatan termasuk ke dalam Metafisika Khusus, sebagai cabang Metafisika Umum, yakni Ontologi, yang memperbincangkan hal-ihwal “ada”. Adapun Metafisika Khusus lainnya adalah Kosmologi serta Filsafat Manusia (Kattsoff, 1992). Di dalam buku Elements of Metaphysics, diterangkan bahwa Ontologi/Metafisika Umum itu menyangkut struktur Realitas/Wujud itu (= hal-ihwal “ada” itu berstruktur; bertingkat (Taylor, 1946).

Realitas yang Berstruktur (Lahir-Batin) dan Berproses (Awal- Akhir) Pada umumnya, pada pusara makam seseorang tertera nama, tahun kelahiran, dan tahun kematian. Apakah dengan demikian itu mengisyaratkan bahwa hidup seseorang itu “sekedar” untuk menyekat waktu? Tentu saja tidak. Justru dalam kesementaraan itu terbuka kesempatan yang sama untuk membuat suatu simpul “Awal-Akhir”yang tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan, yaitu yang menjadi “Batin”-nya semesta Kelahiran.
Pada makam orang-orang tertentu, tercantum epitaph yakni katakata mutiara, yang kebenaran, keindahan, atau kebaikan di balik katakata itu melampaui batas ruang dan waktu masa kehidupannya, bahkan hidupnya merupakan personifikasi dari kata-kata mutiara. Beberapa contoh di bawah akan menjadi ilustrasi dari hal itu: Pada makam Immanuel Kant, tercantum ungkapannya:

Cellum stellatum supra me
Lex moralis intra me (Hammersma, 1984)

(Begitu cemerlang bintang di langit,
demikian (seharusnya) kesusilaan di dada manusia).

Sementara itu pada makam Issac Newton, yang dipandang sebagai Musa baru oleh masyarakat terpelajar Eropa, diusulkan untuk dipahatkan penghargaan itu berupa kata-kata sebagai berikut:

Nature and the Nature’s law
Lay hid in night; God said,
“Let Newton Be”, and All was Light.
(Prigogine, 1984)

Pada tanggal 10 April 2005 yang lalu, pembicara berkesempatan membaca secara langsung epitaph di makam maha-putra Indonesia, Perintis Kemerdekaan, yang dikagumi dunia, kakak kandung Ibu kita Kartini, yakni (alm.) Drs. RMP Sosrokartono, di Kompleks Makam Sedo-Mukti, Kudus. Di sebelah barat/arah kanan beliau tertera katakata sebagai berikut:

Trimah mawi Pasrah
Suwung Pamrih Tebih Ajrih
Langgeng: Tan ana susah
Tan ana bungah
Anteng Mantheng Sugeng Jeneng

Sementara di sebelah timur/arah kiri beliau tertulis:

Sugih tanpa Bandha
Digdaya tanpa Aji
Nglurug tanpa Bala
Menang tanpa Ngasoraken

Di dalam buku Gema Suara Drs. RMP Sosrokartono, diuraikan bahwa beliau benar-benar contoh laku Jumeneng-an (menegakkan/mendirikan Nama-Nya) sekaligus sangat paham atas ajaran Jawa, dalam arti Jiwa kang Kajawi, berkenaan dengan rahasia terminologi Jawa, antara
Bondho dan bondo
Theleng dan teleng
Pathi dan pati

Demikianlah maka bondho – harta benda/milik itu mengandung makna bondo (ikatan/jerat), sehingga bondo-yudo sesungguhnya perang besar itu perang terhadap ikatan atau jerat (Aksan, 1995). Akhir perjalanan atau pencarian itu tidak lain adalah wasanapada, yakni manakala orang telah tiba-padha-padha, yang dalam bahasa Filsafat Proses disebut Apotheosis (Whitehead, 1979).

Itulah Hari Akhir, bukannya dalam arti Hari H, Bulan B, Tahun T, Abad A, Millenium M yang tertentu, dan nun jauh di sana nanti, sebab penjumlahan, perkalian, pemangkatan, berapa pun juga tidak akan mencapai ketakterhinggaan infinitum. Jalan lurus, metode langsung, istiqamah, ialah sebagaimana yang dilambangkan oleh rumus-rumus matematika sederhana: Perkalian 0 menghasilkan 0; lambang tidur yang mutu, bebas pengaruh
waktu; Pangkat 0 menghasilkan angka 1; lambang sujud; Pembagian 0 lambang Nafi-Isbat, hasilnya infinitum.

Apakah rumus-rumus sederhana tetapi unik itu tinggal rumus semata, yakni tanpa hubungannya dengan Realitas kehidupan keseharian ataukah sebaliknya mengisyaratkan suatu “rahasia” penuh Rasa tertentu? Marilah kita berhenti sejenak untuk merenungkan hal-hal itu, demi Misteri Kemanusiaan (Suryodipuro, 1961).

Orang bangun dan orang tidur itu (kalau kita menggendong/mbopong anak yang bangun atau tidur) itu berat mana? Berat yang dalam keadaan tidur. Mengapa? Karena ketika tidur putuslah hubungannya dengan Ruh untuk sementara. Yang dimaksud dengan hubungan di sini adalah hubungan gelombang; raga tidak responsive, tidak cukup peka terhadap gelombang/getar Ruh, gelombang NUR, sehingga mulut terbuka dan tidak sadar.

Secara analogis, dapat dipahami bahwa orang mati lebih berat daripada orang hidup, buktinya tidak ada orang mati yang mengubur dirinya sendiri. Bagaimana dengan masalah tidur-meniduri? Mengapa seorang wanita/istri tidak keberatan ditiduri oleh seorang pria/suami? Karena misteri kejadiannya “kembali” ke tulang rusuk pria. Ia terangkat; itulah maknanya momentum Jumenengan di Siti Hinggil (tanah yang ditinggikan).

Sangat jelas, bahwa Pemimpin Sejati itu: wacananya melapangkan dada; tulang-punggungnya tegak namun tetap lentur (lambang berpegang pada hal-hal prinsipiil namun empan-empan dalam hal kemampuan aljabar differensial dan integral; tidak ada tempat bagi wacana dis-integral). Ingatan (kollektif/meminjam istilah Prof. Dr. Ir. Sujarwadi, M.Eng.) ditinggikan, sehingga luruslah konsekuensi awalakhir dari bacaan-Nya, bahwa “Beserta kesulitan itu kemudahan” yang oleh Rakyat sudah lama dihayati sebagaimana nampak pada peribahasa “berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian”.

Setelah itu semua baru menjadi tepat wacana Pembangunan, “Berprestasi ba’da prestasi”, namun kesemuanya tetap dalam rangka mengharapkan redha Allah, justru karena bekerja, membangun itu ibadah (Epifani). Dalam kaitan hal-hal seperti itulah relevannya ungkapan “shalat itu lebih baik daripada tidur”, artinya manakala orang mencapai kebaikannya tidur, sebagaimana Sayyidina Ali Ra. ketika tidur di tempat tidur Nabi Muhammad SAW, sebagai momentum pengantar hijrah, maka kebaikan demikian itu akan bertambah lebih baik, melalui perbuatan mendirikan shalat. Apalagi sujudnya Kepala Negara sebagai Kepala Makhluk “jadian” yang namanya “Negara” terhadap Rakyat, yang diperkenankan-Nya sebagai penyangga arasy, sehingga Suara-Nya nyaring terdengar di balik suara Rakyat (Vox Populi, Vox Dei).

Tidur yang mutu itu ialah seperti yang dilatihkan seseorang yang belajar meditasi:
The putting to sleep “normal self” which usually wakes,
and the awakening that “transcendental self” which usually sleep
(Underhill, 1960)

Kesadaran diri yang transcendental itulah yang dimaksud oleh istilah Kacawirangi, yang memungkinkan orang mengenal Jati Diri-nya yang di tangan Tuhan (Insan Kamil):

He is mirror which discloses
to every creatures its own greatness (Whitehead, 1926)

Selanjutnya di dalam buku Religion in the Making, Whitehead menjelaskan hubungan Manusia dengan Tuhannya itu sebagai berikut:

The consciousness which is individual in us,
is universal in Him. The love which is
partial is us, all-embracing in Him
(Whitehead, 1926)

Rudy Ruckers, penulis buku Infinity and the Mind, mengutip buku The World of the Unseen, karya Willink (1893), orang yang pertama kali menggunakan istilah “Ruang ber-Dimensi tak terhingga, Ruang kesadaran Ila-hiah”:

This emphasizes very strongly what has been said about the
Omniscience of God. For he, dwelling in the Highest Space
of all, not only has this perfect view of all the constituents
of our being but also is most infinitely near to every point
and particle of our whole constitution. So that in the most
strictly physical sense it is true that
IN HIM WE LIVE AND MOVE AND HAVE OUR BEING
(Rucker, 1984)

Pembagian 0, dalam arti bawah sadar yang tanpa isi yang dicontohkan oleh cermin yang sangat jernih, yang dalam terminologi Agama diistilahkan sebagai BATIN yang ikhlas, menjadikan Tuhan lebih dekat dari segala yang dekat, yang dalam istilah khusus Rukun IHSAN: “Melihat karena Allah”, “Mendengar karena Allah”, bahkan Allah menjadi “mata” untuk melihat, “telinga” untuk mendengar.

Ungkapan lain yang termasuk dalam Rukun Ihsan ialah misalnya “rumus” barang siapa mendekat kepada-Nya sehasta, Allah menyambut sedepa; barang siapa menuju kepada-Nya dengan berjalan, Allah menyambutnya dengan berlari”.

Sangkan Paraning Dumadi
Ajaran Sangkan Paraning Dumadi itu bukan sekedar mengenai kejadian demi kejadian, rentetan peristiwa dalam dimensi satuan waktu temporal, “dari mana” mau “kemana”, atau mempermasalahkan “Guru Bakal” – “Guru Dadi”, bakale (begitu unsurnya) – bakale (demikian nanti jadinya) melainkan berkenaan dengan The Contemplative Ascent Pursuiting of Wholeness (Nussbaum, 2001).

Salah satu pernyataan mengenai Alam Semesta menurut Filsafat Proses, ialah bahwa:

This Universe physically wasting
but Spiritually ascending.
(Whitehead, 1926)

Pada upacara tradisional pelepasan jenasah pada saat pemberangkatan, dilakukanlah sesuatu yang sebenarnya mengandung pesan yang mendalam namun berlalu demikian saja, yakni Upacara Tlusupan/Brobosan padahal semestinya disebut Upacara Sumurup
atau Sumurupa (Sangkan-Paraning-Dumadi):

Detik sumurup ke Menit
Menit sumurup ke Jam
Jam sumurup ke Hari
Hari sumurup ke Bulan
Bulan sumurup ke Tahun
Tahun sumurup ke Windu/Dekade
Windu sumurup ke Abad
Abad sumurup ke Millenium

Demikianlah semuanya itu bergerak/berputar mengelilingi sumbu Jagad Raya, Telenging Kahanan, Kelanggengan:

KALA AION
(Anteng-Mantheng: Sugeng Jeneng)

Itulah sebabnya maka dikemukakan Dalil I Wisikan Ananing Dzat: :”Sejatine Ora Ana Apa-apa”, kejaba Kang Kandha. Apakah “kang amurwa Kandha”/kang Amurwa Kala itu tidak termasuk tidak ada? Tidak, karena kalau “Kang Jumeneng” itu termasuk yang tidak ada, maka tentu tidak bisa menyatakan apa-apa, sebab tidak ada itu ada saja tidak, jadi tidak bisa menyatakan diri. (Mangunwidjojo, 1941).

Prof. Dr. R. Soeharso mengutip buku Jati-Murni pada simposium Nasional di Universitas Gadjah Mada pada tahun 1970:

Titik itu tidak ada, kecuali dalam rangka Garis
Garis itu tidak ada, kecuali dalam rangka Bidang
Bidang itu tidak ada, kecuali dalam rangka Ruang/Waktu
Ruang/Waktu itu tidak ada, kecuali dalam rangka
Firman Tuhan, Seru sekalian Alam
(Soedjonoredjo, 1927)

Jadi sungguh penting kembali ke hulu pengertian yang menyangkut mata air jernih perihal FIRMAN TUHAN; kalau orang salah paham pada tingkat hulunya, betapa kacaunya akibat pada tingkat hilirnya; lebih-lebih kalau kesalahpahaman itu justru oleh atau pada para penghulu Agama. Sementara itu perlu diingat bahwa alam ini adalah suatu model saja; di sisi-Nya tersedia model yang lebih baik, yang menurut terminologi Agama disebut Surga (inilah Principium Exemplaris).

Oleh karena itu Ajaran Sangkan-Paraning-Dumadi semestinya tidak dipahami sebagai The Continuity of Becoming, melainkan dalam rangka The Becoming of Continuity:

There is a becoming of continuity,
but no continuity of becoming
The actual occasions are there creatures
which become, and they constitute
a continuously extensive world. In other word,
extensiveness becomes, but becoming
is not itself extensive
(Whitehead, 1979)

Kalau ajaran Sangkan-Paraning-Dumadi itu dikaitkan dengan kalimat Allah, Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, yang berarti “Sesungguhnya kita ini milik Allah, dan kepada-Nya kita akan kembali”, maka itu berarti MULIH-PULIH, yang oleh Mangkunegara IV, dalam karyanya Wedhatama, disebut sebagai Mulih-Mulo-Mulaniro:

Sejatine kang mangkono
Wus kakenan nugrahaning Hyang Widhi
Bali alaming asuwung
Tan karem karamenyan
Ingkang sipat wisesa winisesa wus
MULIH MULA-MULANIRA
Mulane wong anom sami.

Baris terakhir, yakni MULANE WONG ANOM SAMI, di samping memberikan sasmita untuk pupuh berikutnya, yakni SINOM, juga mewakili inti Filsafat Proses tersebut, yakni Becoming of Continuity.

Itulah sebabnya maka Agama mengemukakan bahwa Surga itu diperuntukkan bagi Orang Muda, artinya semua kembali ke masa muda, dan itulah Pamoring Kawula-Gusti. Pamoring Kawula-Gusti Buku yang menggambarkan dengan amat jelas makna Proses, dalam arti The Becoming of Continuity (= Dumadining Sangkan-Paran) itu ialah buku Living Your Dying (Keleman, 1974):

This book is about dying, not about death
We are always dying abit, always giving
things up, always having things taken away.
Living is movement, another word for it is process.
Living your dying is the story of the movement of your life.
Dalam hubungan demikian itu orang perlu merenungkan kembali ungkapan lama, namun dengan konotasi maknawi yang tersembunyi, di sekitar kata-kata: “Tunggak jarak mrajak, Tunggak jati MATI”.

Kata dalam Bahasa Jawa “mati” sebenarnya tidak selalu, bahkan berbeda makna dengan kata “mati” dalam Bahasa Indonesia. “Mati” Bahasa Jawa itu bisa dikembalikan kepada akar kata ATI, lalu berubah menjadi: “Ng-ati-ati” (sebagai sifat) serta M-ATI sebagai proses, yang justru berarti Jumeneng, seperti pada kata P-ATI untuk Pangeran PATI, yang nantinya akan Jumeneng Ratu. Sementara kata dalam bahasa Jawa yang lain yang mengandung makna “mati” dalam bahasa Indonesia, ialah: layu, layon, pralaya, berikut kata bentukannya yakni lelayu.

Kata-kata yang seperti itu mengisyaratkan keadaan alum, tanpa cahaya. Bagi Stanley Keleman, seksualitas menduduki posisi sentral dalam rangka laku “Mati sajroning Urip” tadi:

Sexuality is almost a training for dying
-an intensification of the dying process
and a rehearsal of the dying event.

Mengenai momentum puncak, Keleman mengutip Wilhelm Reich, yang melukiskannya sebagai rasa menyatu dengan Semesta, tanpa hambatan, tanpa beban:

There may be a link between dying
and orgasm, dying and sexuality.

Filsafat Jawa mengungkapkannya dengan kata-kata MULAT SARIRA-SATUNGGAL (setubuh) demi SARI-RASA-TUNGGAL (senyawa). Istilah kunci demikian itu sangat identik dengan istilah SARIRA-SAJATI/ SARI-RASA-JATI.

Di depan sudah diuraikan bahwa: kita lahir dari BATIN. Pada saat kelahirannya, lahir kita amat lemah, namun BATIN kita sangat kuat, melalui kasih sayang Orang Tua kita; demikianlah maka ketika kita sudah tua, lahir kita kembali melemah, namun Batin kita Insya Allah sangat kuat, yakni kenangan orang-orang terhadap diri kita. Yang demikian itu juga seperti yang dikemukakan oleh Filsafat Organisme/Filsafat Proses: “This Universe physically wasting, but spiritually ascending” (Whitehead, 1926).

Hubungan antara Kawula dan Gusti itu adalah hubungan antara Lahir dan Batin, dan itu menyangkut sesuatu yang sangat memerlukan kepekaan, seperti yang diuraikan pada Serat Wewadining Rasa: Kalau orang atau anak-anak bertanya: Tuhan itu ada di mana? Maka keinginan tahu yang seperti itu wajar, tidak ada yang salah, kecuali rumusan pertanyaannya. Kalau pertanyaannya saja salah, maka demikian pula jawabannya. Mengapa salah? Karena Tuhan
dianggap bertempat. Tuhan itu tidak memerlukan tempat, bahkan menjadi tempat bergantung semuanya.

Awang-uwung yang tak terhingga luasnya berikut segala yang ada di dalamnya itu ada di mana?
Perbandingannya adalah seperti halaman-halaman buku, masing-masing lembar sebagai awang-uwung tanpa batas, terhadap bukunya sebagai suatu kesatuan. Lalu di manakah buku sebagai kesatuan terhadap tulisan atau gambaran dalam suatu lembar halaman di dalamnya. Lebih daripada itu di manakah kita yang membaca terhadap kandungan isi buku itu?.

Itulah pentingnya orang memiliki pemahaman yang tepat atas dimensi Lahir-BATIN: Ng-ALLAH (= menuju ke Allah) itu ke Batin (nya) semua yang ada, Semesta alam. Tuhan itu Telenging BATIN, yang menjadikan seluruh Alam ini menyeru Nama-Nya: “Tuhan”, seru sekalian Alam/”Kawula Gusti” (Soedjonoredjo, 1933)

Hubungan Lahir-Batin itu adalah juga antara Dunia dan Akhirat, antara Yang Berubah dan Yang Tetap:

In God’s nature permanence is primordial
and flux is derivative from the world.
In world’s nature flux is primordial and
Permanence is derivative from God. The
world’s nature is a primordial datum for
God; and God’s nature is primordial datum
for the world.
Creation achieves the reconciliation
Of permanence and flux when it has
reached its final term which is everlastingness -
The Apotheosis of the world
(Whitehead, 1979)

Di dalam Serat Wirid Hidayat Jati, terdapat uraian yang rinci mengenai hal “amor” bertingkat itu:

Patemoning jasad lan napas, ingaranan Suksma Wahya
Patemoning napas lan budi, ingaranan Suksma Dyatmika
Patemoning budi lan nafsu, ingaranan Suksma Lana
Patemoning napsu lan nyawa, ingaranan Suksma Mulya
20
Patemoning nyawa lan rahsa, ingaranan Suksma Jati
Patemoning rahsa lan cahya, ingaranan Suksma wasesa
Patemoning cahya lan Urip, ingaranan Suksma Kawekas

Bertemunya atau Pamor kesemuanya itu disebut Suksma Adi Luwih/Retno Inten Jumanten – lambang martabat wahidiyat meningkat menjadi Sastra Ludiro – lambang martabat wahdat, sempurnanya menjadi Sotya Ludiro – lambang martabat ahadiyat, waluyo menjadi MANIKMAYA, gumilang tanpa bayangan, NUKAT GAIB (Mangunwidjojo, 1941)

Yang dimaksud dengan peningkatan terminal cahaya atau pamor, itu berkenaan dengan sistem sambat-sebut paska Satriya-Pinandhita yang Makro-Mikro-Kosmologis (Jagad Dewa Batara, Ora Jagad Pramudita), yakni IWANG SUKSMA ADILUWIH, HONG BAWONO LANGGENG. Sistem Sambat-Sebut itu berhubungan dengan pola Subjek-Predikat: pada tingkat Ksatria (logika himpunan) maka S (subjek)

P, subjek-Nya melampaui predikat-Nya, sebagaimana ayat-ayat-Nya menjelaskannya: manakala lautan itu tinta, dan tinta itu kering lalu ditambah dan ditambah, sementara tangkai tetumbuhan sebagai pena patah dan disambung kembali, maka semesta kejadian sebagai tulisan, huruf-huruf besar fenomenal itu sama-sekali belum sama dengan “ilmu”-Nya di sisi-Nya.

Mereka yang mencapai demikian itu “melihat”, “mendengar” dengan/beserta Tuhan: They walked with God (Williams, 1957)

Take all your perception and all of mine, take everyone’s thoughts
and all the visions. In an infinite-dimensional space there is room to
fit them all together; Each is a piece of the infinite-dimensional ONE,
and this ONE ia REALITY.
(Rucker, 1984)

Mikro-Makro-Kosmologi
Pendapat bahwa firman Tuhan itu disekat waktu, seperti wacana verbal manusia, semula diam, berbicara, lalu diam, sudah semestinya dikoreksi justru karena adanya ruang dan waktu karena firman Tuhan. Menurut Filsafat Proses/Filsafat Organisme, Tuhan itu mempunyai dua sifat hakiki, yaitu primordial nature dan consequent nature. Manusia itu mikro-kosmologis, berkenaan dengan tubuh jasmaninya, sebagai akibat dari consequent nature Tuhan, sementara jiwanya/ruhnya makro kosmologis berkenaan dengan primordial nature-nya Tuhan. Di antara keduanya yang mikro dan yang makro, alam ini menjadi “sekat”, ALING-ALING.

Laku mawas diri, mulat sariro-satunggal/sari-rasa-tunggal itu ialah ngliling-Aling-Aling, memindah duri dari jalan umum sebagai cabang/ranting yang tanggal dari pohon iman yang bercabang 77 (Brotokesowo, 1960).

“Duri” itu adalah konsepsi diri kesepihakan, ke- Aku-an yang tak diakui-, apalagi disamakan; itulah “Aku” binatang jalang, dari kumpulannya terbuang, (syair terkenalnya Chairil Anwar).

Borobudur, yakni bangunan 1.000 ksatriya terkurung dalam sangkar, menurut “Babad Tanah Jawi”, adalah maklumat Pencerahan, namun yang belum membebaskan. Lubang lalu lintas cahaya untuk stupa, baik pada tingkatan yang lebih rendah, yakni lubang buatan “belah-telupat”, atau lubang cahaya pada tingkatan yang lebih tinggi, yakni lubang alami “bujur-sangkar”, pada puncaknya, yakni Datu Garba, justru di dalamnya terdapat patung Budha yang belum selesai.

Adalah tugas kita untuk menyempurnakan bentuk sang Budha, sekalian mencapai Pencerahan yang membebaskan. Istilah 1.000 ksatria identik dengan Kesadaran Ruhani, yang terang-benderangnya melebihi 1.000 corona bulan, yang mengakibatkan 1.000.000 corolla bunga kembang setaman. Itulah momentum Lailatul Qodar, ketika pendengaran dan penglihatan Muhammad identik dengan Nur Muhammad, ketika Sastra-Gendhing, kesaksian pendengaran dan penglihatan berkualitas IHSAN:

Sampurnaning sembah lawan puji
tan andulu mungguh ananing Hyang
tan dinulu ing anane
papan tulis wus lebur
sipating ro tan ana keri
mung mantep ananira
Apa kang den dulu
pan tan peran pinaranan
pranaweng Tyas tan kaworan bangsa pikir
yeku sampurneng tunggal
(Wedyodiningrat, 1952)

Bait Dhandhang Gula satu pada itu adalah bait Serat Centhini yang selalu dilantunkan secara resmi pada saat Jumenengan Pangeran Pati, putra mahkota, di keraton Dalem Surakarta Hadiningrat. Ki Sumidi Adisasmito, warga sepuh Paguyuban Mono-suko Sosrokartanan menyampaikan pesan beliau, bahwa Indonesia itu akan tegak kembali sumbu kepribadiannya, manakala Candi Borobudur sudah terbaca secara paripurna; artinya jangan kita hanya “menjual” Borobudur, mewarisi batunya, melainkan menjunjung tinggi isyarat di baliknya, perihal alam yang harus diselesaikan, sejiwa dengan pesan buku The Next Development in Man (White,1970) mengenai Cosmic Consciousness dan Unitive Live yang bagi kita tercakup dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Yang demikian itu memerlukan kesatuan pikir dan Zikir, Head and Heart Synthesis (Reiser,1966).

Ruang dan Waktu yang Merugi
Ruang dan waktu yang Sejati adalah Ruang dan Waktu Abadi, tanpa batas yakni Surga di sisi-Nya. Apa yang ada di sisi Tuhan? Sifatsifat Tuhan. Bagaimanakah sifat-sifat Tuhan itu?. Kebenaran, Keindahan, dan Kebaikan-Nya tanpa batas. Maka suasana Surgawi di sisi-Nya itu serba plus; tanpa sesuatu yang minus, yang negatif; semuanya menemukan identitas diri yang sejati. Maka ketika di Surga ada larangan untuk mendekati pohon tertentu, kiranya hal itu bisa diartikan untuk tidak mendekati sesuatu selain Allah, jadi tidak juga menjauhi-Nya. Langkah menjauhi Tuhan itu berarti “meng-Engkaukan-Nya. Kalau demikian pohon “larangan” itu pasti pohon ke-”aku”-an kesepihakan.
Adam ternyata tidak hanya mendekati pohon ke-”aku”-an itu. Ia bahkan memakan buahnya; buah pohon ke-Aku-an tidak lain ialah rasa milik. Dengan demikian Adam lalu tersekat oleh sesuatu yang menjauhi-Nya, sekat kegelapan, dhulum/dholim, dan terperdaya oleh Setan; lho masa di Surga ada Setan.

Kata Setan mengacu ke fungsi yang menjauhi-Nya, sehingga karenanya Adam lalu terusir dari surga, menjadi berada pada suasana yang tidak terbebas dari hal-hal negatif, yang kalau dilanjutkan akan mengarah ke keadaan penuh pertentangan bahkan sepenuhnya kontradiktif (Neraka). Sementara itu sebagai akibat dari hakikat konsekuensi/akibat dari Ke-beradaan-Nya, yang serba primordial, maka di Semesta Objektif ini, setepatnyalah kalau ke-AKU-an-Nya yang tanpa timbang, tanpa banding itu ditegakkan di dunia; maka amanat-Nya pun ditawarkan ke langit dan bumi, yang tentu saja tidak sesuatu pun berani memikul beban AMANAT itu kecuali Adam.

Untuk dapat mewakili Allah SWT itu, kepada Adam yang terdiri dari tanah, ditambahkan dua kualitas plus, yakni Ilmu Nama-nama Segala Benda, dan tiupan Ruh dari sisi-Nya. Karena-Nya maka kepada Adam diperoleh otoritas untuk disujudi oleh semua malaikat. Ketika Ilmu dan Ruh itu melengkapi Adam, maka semuanya pun sujud, kecuali Iblis, yang mengandung arti yang ingkar, yang tidak sujud. Ketika terbukti Iblis tidak sujud, maka Allah pun bertanya mengenai alasan pengingkarannya, yakni tidak sujud tadi. Iblis pun menjawab “Aku enggan sujud kepada Adam, karena Adam hanya terdiri dari tanah, sementara aku (iblis) “api”. Karena kesombongannya, iblis tertutup dari kualitas plus, yang melengkapi ketanah-an Adam, yakni Ilmu (= Nama segala benda) dan Ruh.

Kesalahan kedua yang tidak disadari Iblis ialah berhubung dengan pengidentifikasi kediriannya, yakni:

“Aku itu (terdiri dari) api.”
(Seharusnya: “Api” – itu “Aku”)

Setelah terbukti bahwa argumentasi iblis di sisi Allah itu cacat maka tidak pada tempatnya di sisi-Nya terdapat sesuatu yang cacat/salah, tidak benar, tidak indah, dan tidak baik. Maka terusirlah iblis dari SEMESTA-NYA (ruang dan waktu-Nya). Iblis pun mohon kepada-Nya agar pengusiran itu tertunda, demi ujian bagi ke-aku-an Adam, apakah ke-aku-an-nya sepihak dan identik dengan fungsi setan yang menjauhi-Nya, atau ke-aku-an ke-api-an, ke-iblis-an. Kalau demikian konstatasinya menjadi sebagai berikut: “Aku mengaku “aku”; semua sujud kepadaku, kecuali aku”.

Dalam hubungannya dengan hal itu yakni perihal “semesta yang surgawi, kisah di dunia Pesantren di bawah ini menarik untuk dijadikan bahan renungan. Seorang Kyai bermaksud regenerasi, bagi santri yang siap mengambil tongkat estafet kepemimpinan, dengan syarat harus bisa mengisi gudang perbendaharaan sepenuh-penuhnya. Maka segeralah tampil santri A, yang tanpa membuang-buang waktu mengirim pesan ke sebuah toko Serba Ada, untuk dikirim ke Pesantrennya sejumlah besar barang-barang keperluan sehari-hari dengan kualitas sebaik-baiknya dalam jumlah yang diperkirakan mampu mengisi sepenuhnya gudang perbendaharaan Pesantren tertentu itu. Setelah pesanan datang dan ditata secara rapi menurut ilmu tataruang yang modern, demi effeciensi dan efektivitas kerja, maka santri A tadi segera lapor ke Kyai, perihal siapnya permintaan Kyai. Kyai pun datang dan sekejap saja Kyai tahu bahwa santri A tadi belum memiliki pemahaman yang memadai atas hal: makna isi sepenuhnya/sepenuhnya isi makna. Di bawah kolong meja, tempat tidur di ruang antara, masih terbuka ruang bagi Setan dan atau Iblis untuk bersembunyi. Santri terjebak di paham Materialisme.

Kemudian tampil santri B, yang segera membersihkan gudang dari barang-barang yang terlampau makan tempat, lagi pula gagal memenuhi kriteria Kyai. Santri B pun segera memindah rekening Bank dan gudang pun diisi dengan uang kertas yang ditata miring, dan mengisi penuh gudang perbendaharaan, dengan argumentasi yang diperkirakan melampaui persyaratan Kyai. Ketika Kyai melakukan pemeriksaan tahulah Kyai bahwa Santri B terjebak ke paham Instrumentalisme, justru karena nilai uang itu instrumentalis, bukan intrinsik. Kalau Kyai membutuhkan beras untuk jamuan tamu Kyai, padahal di mana-mana tidak ada yang menjual beras, apakah tamunya bisa diminta makan/minum uang.

Akhirnya tampillah santri C, yang lulus karena setelah uang dipindahkan ke tempatnya yang praktis, yakni Bank, sehingga pesantren hanya memegang kertas berharga, maka setelah gudang bersih, oleh santri C tadi dinyalakan lampu penerang yang cahayanya memenuhi perbendaharaan tanpa tersisa ruang yang gelap. Ketika gudang bersih, itulah Nafi total, dan ketika penuh cahaya terang, itulah Isbatnya.

Iman-Islam-Ihsan
Hidup ini tertumpu pada sistem kepercayaan. Tidak seorang pun dari kita yang tahu kapan saat dilahirkan, demikian pula tidak seorang pun tahu siapa Ibunya, apalagi Bapaknya; kita percaya berita akte kelahiran. Kita juga percaya bahwa Ibu itu memang Ibu kita. Maka perintah Allah IQRA‘, sungguh sesuatu yang imperatif. Pernyataan “Kepada-Mu Ya Allah kami mengabdi itu terbukti berkenaan dengan momentum dalam kandungan Ibu; kita tidak mungkin mengelak pilihan-Nya, bahwa kitalah Wiji Pinilih dari antara ratusan juta bibit; alhamdulillah.

Kini kita telah babaran dari rahim Ibu sebagai terminal/transformator, dan kini kita tengah dibobot oleh Alam. Di sini kita seharusnya tolong-menolong. Gotong-royong, agar kita mbabar diri dari alam ke Alif-Lam-Mim, “Rahim” Allah. Maka pada bulan ke-4
dalam kandungan Ibu, ketika Allah SWT meniupkan Ruh dan mengambil perjanjian Kawula-Gusti, itu artinya bukannya bahwa hanya pada waktu itu Allah berurusan secara ruhani; seperti matahari itu terus terang dan terang terus, maka demikianlah halnya Allah dengan afngalullah-Nya. Hanya saja ketika janin sudah genap berusia 4 bulanlah, padanya ada kemampuan responsif atas “tiupan” Ruh tadi. Di dalam skema kefilsafatan Jawa, peristiwa janji Kawula-Gusti itu dilambangkan sebagai Curiga manjing warangka, yang tergambar indah pada lakon Bimo Suci atau Dewo Ruci. Sementara ketika dalam kandungan Alam (sistem Ruang-Waktu) kita mendapatkan kesadaran ruhani, yang oleh Iqbal disebut sebagai Eternal Now untuk meninggalkan dunia, sebelum meninggal dunia, Living Your Dying, digambarkan sangat menawan pada lakon Bimo Paksa yakni dengan filsafat Gusti-Kawula: payung kula, tameng kula (Sosrokartono).

“Membaca” adalah mengungkapkan yang Batin dari segala sesuatu yang Lahir. “Menulis” ialah melahirkan Yang Batin. Pendidikan ialah mengasuh hubungan batini di antara segala sesuatu, diliputi kasih sayang, dan mengasahnya demi Aji Wungkal Bener (batu pengasah kebenaran, keindahan, atau kebaikan) seperti yang dipaparkan oleh Fritjov Capra, pada karya terbarunya The Hidden Connection (2002)

Dengan hidup bersama, bekerjasama, tolong-menolong, gotongroyong dalam me-Nata nagara “sesuai dengan” huruf-huruf besar kehidupan”, bahwa Realitas itu bertingkat, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai Yang Batin yang harus dilahirkan sebagai Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Semuanya itu adalah warisan Budaya Bangsa yang sangat berharga, yang suasana kebatinannya harus tetap dijaga, dipelihara, seperti yang dipesankan oleh Prof. Dr. Mr. Soepomo. Tidak ada yang salah dengan Pancasila; namun tidak ada jaminan bahwa kita bebas dari salah pemahaman atasnya, pada tingkatan hulu pengertian, oleh para penyelenggara Negara.

Demikian pula mengenai kehidupan keagaman kita; tidak ada agama yang salah di tangan nabi-nabi; tetapi tidak ada jaminan bahwa kita bebas dari kesalahan dalam pemahaman kita, termasuk oleh para penghulu agama. Maka kita harus lapang dada, agar tulang punggung hidup kebersamaan kita makin kokoh namun tetap lentur, agar beban terasa ringan. Dengan kebersamaan beban yang terasa ringan akan meninggikan ingatan, sehingga luruslah bacaan kita; beserta kesulitan itu kemudahan. Rakyat kita sudah mewarisi tradisi tiada henti “Berakitrakit ke hulu, berenang-renang ke tepian”.

Bagaimana halnya dengan gaya hidup yang menzhalimi kepentingan kehidupan kebersamaan kita, yang nyata-nyata merajalela merompak rakyat, yakni gaya komsumtif: bersenang-senang dahulu menghabiskan uang pinjaman, bersusah-susah generasi penerus
membayarnya kemudian? Kesalahan urutan bacaan “imam” kehidupan bersama itu bisa makin parah, manakala “imam” mendahulukan lafal verbal di muka lafal operasional, sehingga oleh karenanya format shalat menjadi salah, yakni makmum mendahului imam, tontonan tidak makmum ke tuntutan, lahir tidak makmum ke BATIN, fakta tidak
makmum ke Nilai.

Sudah saatnya Agama kembali ke orientasi vertikalnya, dari Lex Natura ke Lek Divina, agar pintu Langit Semesta Terbuka, sesuai dengan rukun IHSAN, yakni “melihat”, “mendengar” karena Allah, sehingga dengan demikian membimbing kepala negara sebagai “Makhluk Jadian” setelah wudhu yang relevan dengan era global, yakni membebaskan kebersamaan dari ancaman residu sampah, dan selanjutnya tetap menjiwai Lex Humana, yakni menghukum yang bersalah, misalnya memotong “tangan kleptokrasi”.

Di tengah era Goro-goro sekarang ini, ketika hidup terasa dangkal (kali ilang kedunge), Pasar Tradisional dikandangi pasar global (pasar ilang kumandhange). Tontonan mengesampingkan tuntutan/perempuan kehilangan ke-empu-annya (wong wadon ilang wirange), sejalan dengan pesan Fritjov Capra, perihal Titik Balik/Turning-Point (Capra,1985) di panggung “pan-theon” Jawa, yakni panggung Songgo-Buwono Wayang Purna sangat menarik untuk disimak.

Pada puncak Goro-goro itu akan muncul
sosok yang kontroversial; bermuka raksasa,
bertangan manusia, bersenjata keris.
Namun setelah dialog dengan sang kesatriya,
toh Buto Cakil itu koreksi diri,
“Bener kowe, luput aku, satriya?”

Kini ketika Ca-kil (Calon Wakil) ada di mana-mana, apakah pihak-pihak kesatriya harus menunggu munculnya Butonya, yang kami-uwangen, mata-dhuwiten, yang berakhir dengan adegan Buto Mati Ngadeg, baru kemudian koreksi diri? Dengan memahami Ketuhanan Yang Maha Esa, dalam kaitannya dengan Rukun IHSAN, maka kita secara bersama bisa melakukan koreksi diri secara sistemik, yakni subhanallah, dan menjadikan
Negara Indonesia berkualitas IHSAN; insya Allah.

Dengan memperbincangkan Ketuhanan Yang Maha Esa, dalam rangka Rukun IHSAN, maka kita kembali ke Titik-Balik “Sangkan-Paraning-Dumadi”, sambil meningkatkan mutu maqom “Pamoring Kawula-Gusti”, relevan dengan Referensi Timur dan Barat, bahkan dengan Jiwa Agama “Awal-Akhir”, “lahir-BATIN”, mencakup pembicaraan pada kesadaran Lanjut, misalnya “Visi Baru tentang Realitas” (Capra, 1985), Kesadaran Dimensi ke-empat, serta Kemanunggalan Kehidupan (Whyte, 1970) dan diberlakukannya Alat Ketiga, Sistem Berpikir Ketiga, Tertium Organum (Ouspenskey, 1951).

Di bawah ini akan diuraikan pokok-pokok terpenting Bentuk Kesadaran keempat:

Penginderaan atas Ruang – : Pengalaman Ruang 4 dimensi;
dan Waktu pengalaman spasial atas Waktu
Psikologi : Kesadaran Diri; sensasi baru, emosi yang lebih kualitatif, perluasan konsep, pengetahuan langsung Kesadaran- Kosmis, simbolisme.
Logika : A itu A dan non-A; Tat Twam asi
Tertium Organum; Logika Kesatuan semesta
Matematika : Besaran bisa tidak sama dengan dirinya;
Bagian Bisa sama dengan Keseluruhan
Metageometri ; Matematika variabel
Tak Terhingga
Bentuk Aksi : Permulaan perbuatan sadar penuh
pemahaman penuh makna atas kosmos;
perbuatan mandiri atas dorongan dari
dalam
Moralitas : Kembalinya hukum ke dalam diri
sendiri.
Hati nurari baru;.ketaatan atas dasar
kesatuan bebas
Bentuk kesadaran : Ekstase; Kesadaran Kosmis
Bentuk Pengetahuan : Pengetahuan mistis, pengetahuan baru
tentang waktu, pengertian atas
ketakterhinggaan. Pengalaman atas
mayanya dunia fenomenal, pengetahuan
substansial di balik penampakan,
Terbukanya “DuniaAjaib”, koordinasi
secara lengkap: Agama Filsafat, Ilmu
dan Seni.

Bentuk Alam : Filsafat idealis, matematika
ketakterhinggaan, Tertium Organum,
agama mistis, kesatuan alam dalam
Tuhan, penghayatan atas semesta yang
hidup, kesatuan semua ilmu, ilmu
kegaiban, pemahaman atas darma
sebagai hukum relativitas.
Tingkat Kesadaran : Permulaan dari transisi, pengalaman
dan type ruang baru Manusia dengan
Kesadaran Kosmis, Kemenangan
Prinsip supra-personal, Automatisme
Sadar, Tercapainya KESATUAN
BATIN dan HARMONI, Jiwa sebagai
Pusat Kegiatan Bebas, Permulaan
Keabadian Personal
(Ouspensky,1951)

Tertium Organum sebagai alat ketiga, sistem berpikir ketiga, setelah Organon Aristotelian, dan Novum Organum dari Francis Bacon, yang pertama deduktif, yang kemudian induktif, namun sesungguhnya yang ketiga, yakni yang intuitif itu mendahului yang pertama dan kedua:

I have called this system of higher logic TERTIUM ORGANUM,
because for us it is the third canon-third instrumen of thought after
those of Aristotle and Bacon. The first was ORGANON, the second
NOVUM ORGANUM. But the third earlier than the first.
(page 236)

Akhirnya sampailah kita pada bagian penutup dari paparan yang menyita perhatian kita selama ini. Kita tidak sedang membicarakan Tuhan. Kita justru sedang memainkan nada-nada abadi. Neng-Ning-Nung-Nang, sambil memohon kepada-Nya, agar diri kita sepeka “filamen super” seperti yang dicontohkan oleh Malaikat Jibril, ‘alaihi salam yakni berhenti ke langit ke tujuh, ketika harus menemani Nabi Muhammad Saw. dalam rangka Isra’ Mi’raj. Itulah batas kata.

Ketika pada tahun 1990, selepas menemani Emha Ainun Najib pentas di Ujung Pandang dan pembicara langsung memenuhi Undangan para Pertapa (=Biku) se-Indonesia di Batu, Malang, pembicara mengambil prakarsa dialog dengan berkata bahwa para Budhis itu mengapa berhenti pada tahapan Nafi, ketika menggapai Nirwana, mengapa tidak berlanjut ke Isbat? Jawaban mereka sungguh menghentak: “Kami juga menyeberang ke sana; namun kami tidak mau terpasung oleh kata!” Yang kita lakukan justru meningkatkan panggraita, seperti yang diingatkan oleh Ki Soedjonoredjo, dalam karyanya Serat Kridho-Grahito:

Benere wong urip Eling marang Uripe
Lupute wong Urip Lali marang Uripe
Benere wong lali: Ngudi kawruh Kasuyatan
Lupute wong lali: Lumuh ngudi kawruh Kasuyatan
Wajibe wong urip: Rumeksa ing Uripe
Imane wong urip: Ora rumeksa ing Uripe
Asaling pangudi: Rumasa
Asaling lumuh: Tan Rumasa
DADI WAJIB PECAK PISAN :
WONG URIP KUDU RUMASA KAWULA

(Soedjonoredjo, 1994)

DAFTAR PUSTAKA
Aksan, 1995, Gema Suara Drs. RMP Sosrokartono, Yayasan Joyo-Boyo,
Surabaya.
Anonim, 2004, Tabloid Tamansari nomor Perdana, Yk
Bahm, A.J., 1970, Polarity, Dialectic and Organicity, C. Thomas Publ. Co.,
USA
Brotokesawo, 1960, Serat Bayanul Iman, KBK, Yk
Capra, F., 2002, The Hidden Conection, Fontana P.B., GB
Fineberg, Y., 1968, Social Philosophy, Unwim, Ltd., London
Johnston, W., 1974, Silent Musics, The Science of Meditation,WCS & Co
Ltd, USA
Kattsoff, L.O, 1992, Unsur-unsur Filsafat, terjemahan Drs Soejono S., Tiara
Wacana, Yk
Hamilyn, D.W., 1980, Schopenhauer. The Argument of the Philosopher,
Routledge & Kegan Paul, London
Hammersma, H., 1984, Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern, Gramedia, Jkt
Jamaah Shalahuddin (edt.), 1980, Menelan Cakrawala, Jamaah Shalahuddin
Yogyakarta
Kamajaya, 1985, Ruwatan, Lembaga Javanologi, Yk
Keleman, S., 1974, Living Your Dying, Randon House, USA
Manguwidjojo, M.Ng., 1941, Serat Wirid Hidayat Jati, TKS, Kediri
Mangkunegoro IV., 1937, Serat Wedhotomo, TKS, Kediri
Nasbaum, M.C., 2001, Upheavals of Thought, Cambridge University Press,
USA
O’Neil,D., 1996, Meister Ekhrat, From Whom God Hid Nothing, Shambala,
London
Ouspensky, P.D., 1951, Tertium Organum, Routledge & K.P., London
Prigogine, I., 1954, Order Out of Chaos, William C & Sons, GB
Reiser, O.L., 1966, Cosmic Humanism, Schenkman Publ Co, Cambridge,
USA
Rucker, R., 1984, The Fourth Dimension, H.M.,Co, Boston
Shalih al Utsaini, S.M. bin, 2001, Tarbiyah Imaniyah, Dar-el Hujjah, Jkt
Soedjonoredjo, R., 1927, Serat Jati Murti, TKS, Kediri
__________, 1933, Serat Wewadining Roso, TKS, Kediri
__________, 1994, Serat Kridho-Grahito, Pen Kridho-Martono, Yk
32
Supadjar, D., 1993, Nawang-Sari, Fajar Pustaka Baru, Yk
Suryodipuro, P., 1961, Alam Pikiran, Pen Sumur Bandung, Bandung
Taylor, A.E., 1946, Elements of Metaphysics, Methuen Co, Ltd, London
Underhill, E., 1960, Mysticism, Methuen & Co,Ltd, London
Wedyodiningrat, 1952, Himpunan Karangan, Jiwa Baru, Yk
Whitehead, A.N., 1926, Religion in the Making, Macmillan, Ltd., London
__________, 1979, Process and Reality, The Free Press, London
Whyte, L.L., 1970, The Next Development in Man, Unwim, Ltd, London
William, M., 1957, They Walked with God, Fawcett Publications, Inc, NY,
USA
Yosodipuro, R.Ng., 1929, Serat Dewo Ruci, TKS, Kediri
Young, L.B., 1985, The Unfinished Universe, Simons & Schuster, Inc, NY

@@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 10 Komentar

MENCAPAI AFINITAS DENGAN ARUS MISTIS ALA JALALUDDIN RUMI


Salib orang-orang Kristiani, dari ujung ke ujung

telah aku kaji. Dia tidak ada di salib itu.

Aku telah pergi ke kuil Hindu, ke pagoda tua.

Di tempat-tempat itu tidak ada tanda-tandanya.

Aku pergi ke dataran tinggi Herat dan Kandahar.

Aku melihat.

Dia tidak ada di dataran tinggi maupun rendah.

Dengan hati yang mantap, aku pergi ke puncak gunung Kaf.

Di sana hanya ada sarang burung ‘Anqa.

Aku pergi ke Ka’bah. Dia tidak ada di sana.

Aku bertanya kepada Ibnu Sina tentangnya:

Dia di luar jangkauan filosof  ini …

Aku melihat ke dalam kalbuku sendiri.

Di situlah tempatnya, Aku melihatnya.

Dia tidak di tempat lain …

 Kata ganti “dia” di sini maksudnya adalah realitas sejati. Sufi adalah abadi. Penggunaan kata-kata seperti “kemabukan” atau “anggur” maupun “hati” adalah penting, namun paling jauh hanya untuk mendekati realitas sejati itu dengan menggunakan suatu parodi. Sebagaimana Rumi menyatakannya: Sebelum kebun, tanaman dan buah anggur tercipta di dunia ini, Jiwa kami telah mabuk dengan anggur abadi.

Sufi mungkin terpaksa mempergunakan perumpamaan dari dunia yang dikenal pada jenjang awal penyampaian, tetapi Rumi mengikuti standar rumusan Sufi dengan sangat ketat. Tongkat penyangga harus dibuang jika si pasien sudah mampu berjalan sendiri. Nilai dari cara ekspresi Rumi bagi murid adalah fakta bahwa ia menjadikan hal ini jauh lebih jelas dari semua bahan yang tersedia di luar sekolah-sekolah Sufi. Jika Tarekat eksternal tertentu telah terbiasa mengondisikan para pengikutnya secara literal dengan menggunakan perangsang secara berulang-ulang, menandai waktu pada jenjang perkembangan tertentu, mempertahankan kebutuhan murid kepada “tongkat penyangga”, tentu saja ini bukan kesalahan Rumi

 Pengaruh Rumi, baik dalam gagasan maupun secara tekstual, cukup besar di Barat. Karena semua karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Barat pada tahun-tahun terakhir ini, maka dampaknya semakin besar. Tetapi jika ia, seperti Profesor Arberry menyebutnya, “benar-benar penyair mistis terbesar dalam sejarah manusia,” maka puisi-puisi sendiri yang di dalamnya begitu banyak memaparkan ajaran-ajarannya, hanya benar-benar bisa diapresiasi dalam bahasa Persia aslinya. Meskipun demikian, ajaran-ajaran dan metode-metode yang dipergunakan oleh Para Darwis Berputar dan madzhab-madzhab lainnya yang dipengaruhi Rumi, tidaklah terlalu sulit ditemukan, dengan syarat bahwa cara dalam meletakkan kebenaran-kebenaran esoterik tersebut bisa dipahami.

 Ada tiga dokumen dimana melalui ini karya Rumi bisa dikaji oleh dunia luar. Kitab Matsnawi-i-Manawi (Sajak-sajak Spiritual) merupakan karya utama Jalaluddin — terdiri dari enam kitab (bagian) puisi dan metafora yang bentuk aslinya memiliki kekuatan sedemikian rupa, sehingga pembacaannya bisa menghasilkan suatu kebahagiaan (spiritual) kompleks secara aneh bagi kesadaran pendengarnya.

 Karya ini diselesaikan dalam waktu empat puluh tiga tahun. Sebenarnya ia tidak bisa dikritik sebagai karya puisi, sebab mengandung gagasan, bentuk dan penyajian yang pelik dan khas. Mereka yang mencari bait konvensional semata di dalamnya, seperti dinyatakan Profesor Nicholson, harus membolak-balik karya tersebut secara cepat. Dan kemudian mereka akan kehilangan pengaruh dari apa yang sesungguhnya merupakan suatu bentuk seni khusus, yang diciptakan Rumi untuk menyampaikan makna-makna, yang oleh Rumi sendiri diakui tidak memiliki padanan sesungguhnya dalam pengalaman manusia biasa. Mengabaikan pencapaian luar biasa ini sama halnya dengan memilih-milih rasa (makanan) tanpa selai strawberry.

 Karena terlalu menekankan peranan puisi besar dalam lautan Matsnawi, terkadang Nicholson memperlihatkan suatu kesukaan terhadap syair formal.

 “Matsnawi,” katanya (Introduction, Selection from the Diwan of Shams of Tabriz, hlm. xxxix), “mengandung suatu kekayaan puisi yang mencerahkan. Tetapi para pembacanya harus menempuh jalan melalui apologi, dialog dan penafsiran-penafslran nash-nash Qur’ani, kepelikan-kepelikan metafisis dan petuah-petuah moral secara bersamaan sebelum mereka memiliki kesempatan menikmati suatu bagian dari kidung murni dan tinggi.”

 Bagi Sufi, jika bukan bagi siapa saja, kitab ini berbicara dari suatu dimensi yang berbeda, bahkan suatu dimensi yang bagaimanapun berada di dalam dirinya yang terdalam.

 Seperti semua karya Sufi, Matsnawi akan beragam pengaruhnya terhadap pendengarnya sesuai dengan kondisi-kondisi dimana karya ini dikaji. Kitab ini memuat lelucon, fabel, pembicaraan, rujukan kepada para mantan guru dan metode-metode yang bisa mengantarkan pada ekstase (ecstatogenic), suatu contoh fenomenal dari metode pencerai-beraian, dimana sebuah gambar disusun dengan multi-dampak untuk memasukkan pesan ke dalam pikiran Sufi.

 Pesan ini, Rumi maupun semua guru Sufi lainnya, secara parsial disusun sebagai jawaban terhadap lingkungan di mana ia bekerja. Ia menciptakan tarian dan gerakan-gerakan memutar di kalangan para muridnya. Menurut riwayat, hal ini disebabkan temperamen lamban dan malas dari orang yang diajarinya. Apa yang disebut sebagai variasi doktrin atau tindakan yang ditetapkan oleh berbagai guru Sufi sebenarnya tidak lain merupakan penerapan dari aturan ini.

 Dalam sistem pengajarannya, Rumi mempergunakan penjelasan dan latihan mental, pemikiran dan meditasi, kerja dan bermain, tindakan dan diam. Gerakan-gerakan “tubuh-pikiran” dari Para Darwis Berputar dibarengi dengan musik tiup untuk mengiringi gerakan-gerakan tersebut, merupakan hasil dari metode khusus yang dirancang untuk membawa seorang Salik mencapai afinitas dengan arus mistis, untuk ditransformasikan melalui cara ini. Segala sesuatu yang dipahami oleh orang yang belum tercerahkan (orang biasa) memiliki kegunaan dan makna dalam konteks khusus Sufisme yang mungkin tidak terlihat sampai hal itu dialami. “Doa,” ucap Rumi, “memiliki bentuk, suara dan realitas fisiknya. Segala sesuatu yang memiliki kata (nama), memiliki padanan fisiknya. Dan setiap pemikiran memiliki suatu (bentuk) tindakan.”

 Salah satu karakteristik yang benar-benar Sufistik dari Rumi adalah bahwa, sekalipun tentu ia akan memberikan pernyataan tegas yang paling tidak populer — bahwa orang biasa, apa pun pencapaian formalnya, tidak dewasa dalam mistisisme — ia juga memberikan kesempatan bagi hampir semua orang untuk mencapai kemajuan menuju penyempurnaan nasib manusia.

 Seperti para Sufi yang berada di dalam suatu atmosfir teologis, pertama kali Rumi menunjukkan para pendengar terhadap persoalan agama. Ia menekankan bahwa bentuk dimana didalamnya merupakan kebiasaan dalam beragama dan bersifat emosional yang dipahami oleh badan-badan (lembaga) terorganisir, tidaklah benar. Tabir Cahaya, yang merupakan penghalang yang diakibatkan oleh sikap pembenaran diri, adalah lebih berbahaya dibanding Tabir Kegelapan, yang dihasilkan didalam pikiran oleh kejahatan. Pemahaman hanya bisa dihasilkan dengan cinta, bukan dengan pelatihan melalui cara-cara terorganisir.

 Baginya (Rumi), para guru tertua dari agama-agama adalah benar. Para penerusnya, kecuali sebagian kecil, mengelola persoalan-persoalan itu sedemikian rupa sehingga secara menyeluruh menutup kemungkinan pencerahan. Sikap ini menuntut suatu pendekatan baru terhadap persoalan-persoalan agama. Rumi memahami seluruh persoalan tersebut di luar saluran normal. Ia tidak dipersiapkan untuk menyerahkan dogma pada studi dan dalil (argumen). “Agama sejati,” tuturnya, “adalah berbeda dari yang diduga orang. Oleh sebab itu, tidak ada nilainya untuk mengkaji dan menguji dogma.” “Di dunia ini,” ucapnya, “tidak ada padanan dari hal-hal yang disebut sebagai Arasy (Tuhan), Kitab, Malaikat, Hari Hisab. Perumpamaan digunakan, dan semua itu secara pasti sekadar suatu gagasan kasar tentang sesuatu yang lain.”

 Dalam kumpulan ucapan dan ajarannya yang berjudul Fihi Ma Fihi (Di Dalamnya adalah Apa yang Ada di Dalamnya), yang digunakan sebagai buku-buku rujukan para Sufi, ia bahkan melangkah lebih jauh. “Manusia,” tuturnya, “melewati tiga jenjang. Pada jenjang pertama, ia menyembah apa saja –manusia, perempuan, uang, anak-anak, bumi/tanah dan batu. Kemudian, ketika sedikit lebih maju, ia menyembah Tuhan. Pada akhirnya, ia tidak berkata, ‘Aku menyembah Tuhan,’ maupun, ‘Aku tidak menyembah Tuhan.’ Ia telah melewati tahapan ketiga.”

 Untuk mendekati jalan Sufi, sang Salik harus menyadari bahwa dirinya, sebagian besar merupakan serangkaian dari apa yang saat ini disebut pengkondisian — gagasan-gagasan kaku dan prasangka, kadang-kadang respon otomatis yang telah terjadi melalui pelatihan orang lain. Manusia tidaklah sebebas yang diduga. Tahapan pertama bagi seseorang adalah untuk melepaskan diri dari pemikiran bahwa dirinya mengerti dan benar-benar mengerti. Tetapi manusia telah diajar, bahwa dirinya bisa memahami melalui proses yang sama, yaitu proses logika. Ajaran ini telah melemahkannya.

 “Jika engkau mengikuti cara-cara yang telah diajarkan kepadamu, yang mungkin telah engkau warisi, karena hanya ada alasan lain selain ini, maka engkau tidak logis.”

 Pemahaman agama, dan hal-hal yang telah diajarkan oleh para tokoh agama besar, merupakan bagian dari Sufisme. Sufisme menggunakan terminologi dari agama biasa, tetapi dengan cara khas yang selalu menyulut kemarahan dari penganut nominalnya. Secara umum, bagi Sufi, masing-masing guru keagamaan menyimbolkan, dalam ibadahnya dan terutama dalam kehidupannya, suatu aspek dari jalan yang totalitasnya adalah Sufisme. “Yesus ada dalam dirimu,” ucap Rumi; “carilah pertolongannya. Dan kemudian, jangan mencari dari dalam dirimu sendiri, dari Musamu, kebutuhan bagi seorang Fir’aun.”

 Maulana (secara harfiah bermakna “Guru Kita”) Jalaluddin Rumi, pendiri Tarekat Para Darwis Berputar, dalam karirnya menjadi bukti ungkapan Timur, “Para raksasa muncul dari Afghanistan dan mempengaruhi dunia.” Ia dilahirkan di Bactria, dari sebuah keluarga bangsawan pada awal abad ketiga belas. Ia tinggal dan mengajar di Iconum (Rum) di Asia Kecil, sebelum munculnya Kerajaan Utsmani, yang tahtanya menurut seruannya ia tolak. Karya-karyanya ditulis dalam bahasa Persia, dan dipandang tinggi oleh orang Persia karena kandungan puitis, kesusastraan dan mistiknya. Sehingga karya-karya ini disebut sebagai “al-Qur’an dalam bahasa Pehlevi (bahasa Persia)” — meskipun karya-karya ini bertentangan dengan kepercayaan bangsa Persia, sekte Syi’ah, yang dikritik atas eksklusivismenya.

 Di kalangan orang Muslim Arab, India dan Pakistan, Rumi dipandang sebagai salah seorang dari guru mistik tingkat pertama — meskipun ia menyatakan bahwa ajaran-ajaran al-Qur’an bersifat alegoris,dan ia memiliki tujuh makna yang berbeda. Jangkauan pengaruh Rumi sulit untuk bisa diperkirakan, meskipun hal ini terkadang bisa dilihat secara sekilas, pada kesusastraan dan pemikiran dari berbagai madzhab. Bahkan Doktor Johnson, yang terkenal karena pernyataannya yang tidak menyenangkan, mengatakan tentang Rumi, “Ia menjelaskan kepada Peziarah akan rahasia-rahasia dari jalan Kesatuan, dan menyingkap Misteri-misteri dari jalan Kebenaran Abadi.”

 Karyanya telah cukup dikenal dalam kurun waktu kurang dari seratus tahun setelah kematiannya pada 1273, karena Chaucer menggunakannya sebagai rujukan sebagian karyanya, bersama-sama dengan bahan dari ajaran-ajaran guru spiritual Rumi, Aththar sang Kimiawan (1150-1229/30). Dan berbagai rujukan terhadap bahan bahasa Arab yang bisa ditemukan pada Chaucer, bahkan suatu pengujian secara cepat memperlihatkan suatu pengaruh Sufi dari Madzhab Rumi dalam literatur. Penggunaan Chaucer terhadap ungkapan seperti, “Singa mungkin bisa mengambil pelajaran ketika seekor anjing dihukum …,” merupakan adaptasi semata yang terkait pada kata-kata, idhtrib al-kalba wa ya’khud addaba al-fahdu (“Pukullah anjing dan singa akan mengambil pelajaran!”), sebagai suatu ungkapan rahasia yang digunakan oleh Para Darwis Berputar. Penafsirannya bergantung pada suatu permainan pada kata-kata “anjing” dan “singa”. Meskipun ditulis demikian rupa, pengucapan kata kunci tersebut dipergunakan secara homofone. Sebagai ganti mengucapkan “anjing” (kalb), Sufi mengatakan “hati” (qalb), dan sebagai ganti kata “singa” (fahdu) adalah kata fahid (“kelalaian”). Ungkapan tersebut sekarang menjadi, “Pukullah hati (dengan latihan-latilian Sufi) dan kelalaian (fakultas-fakultas [jiwa]) akan bersikap (dengan benar).”

 Ini merupakan slogan yang memperkenalkan gerakan-gerakan “pemukulan hati” yang didorong oleh gerakan dan konsentrasi pada Mevlevi — “Para Darwis Berputar”.

 Hubungan antara Canterbury Tales (Cerita-cerita Canterbury) sebagai sebuah alegori perkembangan batin dan Parliament of the Birds dari Aththar merupakan persoalan menarik lamnya. Profesor Skeat mengingatkan kita bahwa, seperti Aththar, Chaucer memiliki tiga puluh pengikut. Tiga puluh Peziarah tersebut mencari burung mistik, dan nama burung itu adalah Simurgh. Nama ini masuk akal dalam bahasa Persia, sebab Simurgh bermakna “tiga puluh burung”.

 Akan tetapi dalam bahasa Inggris pengubahan (bentuk) semacam ini tidaklah mungkin. Jumlah peziarah tersebut, yang diperlukan dalam bahasa Persia sebab adanya persyaratan irama, dipertahankan Chaucer, menghilangkan makna ganda. The Pardoner’s Tale terdapat pada Aththar, cerita pohon pear ditemukan pada Kitab IV dari karya Sufinya Rumi, Matsnawi.

 Jalan-jalan keagamaan yang dirintis Sufi itu dinyatakan oleh Rumi ketika ia mengatakan bahwa jalan Yesus adalah perjuangan dengan kesunyian dan mengatasi nafsu. Jalan Muhammad adalah hidup di dalam masyarakat sebagai manusia biasa. “Pergilah dengan jalan Muhammad!” tuturnya, “tetapi jika engkau tidak mampu, maka pergilah dengan jalan Kristiani!” Di sini Rumi bukan berarti menyeru pendengarnya untuk memeluk salah satu dari agama ini. Ia sesungguhnya menunjukkan jalan-jalan di mana di dalamnya sang Salik bisa menemukan pencerahan melalui pemahaman. Sufi menghargai terhadap jalan-jalan yang dikandung, pada Yesus dan Muhammad.

 Demikian juga, ketika Sufi berbicara tentang Tuhan, ia tidak memaksudkan ketuhanan dalam pengertian sebagaimana dipahami oleh seorang yang telah dilatih oleh teolog. Tuhan (dalam pengertian teologis) ini diterima oleh sebagian orang, yakni orang yang saleh; ditolak oleh yang lain, yakni para atheis. Bahkan ia merupakan suatu penolakan, atau penerimaan terhadap sesuatu yang telah diberikan oleh kalangan skolastik dan kependetaan. Tuhan para Sufi tidak dilihat dalam kontroversi ini; sebab bagi Sufi, Tuhan merupakan persoalan pengalaman pribadi.

Semua ini tidak berarti bahwa seorang Sufi berusaha membuang pelatihan fakultas penalaran. Rumi menjelaskan bahwa akal adalah esensial, tetapi ia memiliki tempatnya tersendiri. “jika engkau ingin membuat baju, kunjungilah penjahit, maka akal akan mengatakan kepadamu penjahit mana yang dipilih. Akan tetapi, setelah itu akal harus menahan diri. Engkau harus memberikan kepercayaan penuh kepada penjahit bahwa akan menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan benar.” “Logika,” kata Rumi, “membawa seorang pasien ke dokter. Setelah itu, secara utuh ia berada di tangan sang dokter.”

 Tetapi seorang materialis yang terlatih baik, meskipun ia mengaku bahwa dirinya ingin mendengar apa yang bisa dikatakan seorang mistikus kepadanya, tidak bisa diberitahu semua kebenaran. Ia tidak akan mempercayainya. Kebenaran tidak didasarkan materialisime lebih daripada logika. Disinilah mistiskus bekerja dengan serangkaian ranah yang berbeda, sementara seorang materialis hanya pada satu ranah. Akibat dari hubungan mereka pastilah bahwa Sufi bahkan akan tampak tidak konsisten dalam pandangan materialis. Jika pada hari ini ia mengatakan sesuatu yang dikatakannya secara berbeda dengan hari kemarin, ia akan tampak sebagai pembohong. Paling tidak, situasi yang berada pada tujuan-tujuan yang berseberangan akan merusak setiap kesempatan untuk maju dengan sikap saling memahami.

 “Mereka yang tidak memahami suatu hal,” ucap Rumi, “akan mengatakan bahwa hal itu tidak berguna. Tangan dan alat adalah bagaikan batu dan baja. Pukullah batu dengan tanah. Apakah percikan api akan terjadi?” Salah satu alasan mengapa Sufi tidak mengajar secara umum adalah karena agamawan yang telah terkondisikan, atau seorang materialis, tidak akan memahaminya:

 Seekor burung rajawali raja bertengger di sebuah reruntuhan bangunan yang dihuni oleh burung-burung hantu. Mereka berpendapat bahwa rajawali itu datang untuk mengusir mereka dari rumahnya dan untuk ditempatinya sendiri. “Reruntuhan ini tampak mewah bagi kalian. Bagiku, tempat yang lebih baik adalah di tangan Raja,” tutur si rajawali. Sebagian burung hantu tersebut berteriak, “Jangan mempercayainya. Ia menggunakan tipuan untuk mengambil rumah kita!”

 Penggunaan dongeng dan ilustrasi seperti fabel di atas sangat luas di kalangan para Sufi, dan Rumi dikenal sebagai pakarnya.

 Pemikirannya yang sama seringkali disampaikan oleh Rumi dalam banyak bentuk, agar bisa dipahami pikiran. Para Sufi mengatakan bahwa suatu idea akan memasuki pikiran yang terkondisikan (tertabiri) hanya jika ia disusun begitu baik sehingga mampu melewati dinding kondisional. Kenyataan bahwa non-Sufi sangat sedikit memiliki kesamaan dengan Sufi itu berdasar pada yang ada dalam setiap diri manusia, dan yang tidak seluruhnya bisa dimatikan oleh bentuk pengondislan apa pun. Unsur-unsur inilah yang mendasari perkembangan Sufi. Salah satu unsur dasar dan permanen adalah unsur cinta. Cinta merupakan faktor yang akan membawa seseorang dan semua orang, pada pencerahan:

 “Panasnya ruang pembakaran mungkin terlalu berat bagimu untuk bisa mengambil manfaat dari pengaruh panasnya; sementara nyala api yang lebih lemah dari sebuah lampu bisa memberikan tingkatan panas yang engkau butuhkan.”

 Setiap orang, ketika mencapai jenjang tertentu karena kemampuan yang semata-mata bersifat personal, mengira bahwa ia bisa menemukan jalan menuju pencerahan melalui dirinya sendiri. Anggapan ini ditolak oleh para Sufi, sebab mereka mempertanyakan bagaimana seseorang bisa menemukan sesuatu sementara ia tidak tahu apa sebenarnya sesuatu tersebut. “Setiap orang menjadi pencari emas,” ucap Rumi, “tetapi orang awam tidak mengetahuinya ketika ia melihatnya. Jika Anda tidak bisa mengenalinya, bergabunglah dengan orang bijak.”

 Orang awam, karena mengira ia berada di jalan pencerahan, seringkali hanya melihat pantulannya. Sinar mungkin bisa dipantulkan ke dinding; dinding tersebut merupakan tempat bagi sinar. “Jangan tempelkan dirimu ke batu-bata dari dinding itu, tetapi carilah (cahaya) asli yang abadi!”

 “Air membutuhkan suatu perantara, sebuah tungku, antara tungku dan api itulah air dipanaskan dengan benar.”

 Bagaimana cara seorang Salik menemukan tugasnya dalam mencari jalan yang benar? Pertama, ia tidak boleh mengabaikan kerja dan harus tetap “hidup” di dunia. “Jangan menyerah dan berhenti kerja!” perintah Rumi. Sungguh, “Khazanah yang engkau cari berasal darinya.” Ini merupakan satu alasan mengapa semua Sufi harus memiliki sebuah kegiatan konstruktif Meskipun demikian, kerja bukan saja kerja biasa atau bahkan kreativitas yang bisa diterima secara sosial. Ia meliputi kerja-diri; alkimia menjadikan seseorang berkepribadian sempurna: “Wool di tangan seorang yang berpengetahuan, menjadi permadani. Tanah menjadi istana. Kehadiran manusia spiritual menciptakan perubahan serupa.”

 Pada awalnya seorang yang bijak merupakan pembimbing seorang murid. Segera setelah memungkinkan, guru ini melepaskan si murid, sebagai orang yang memperoleh hikmahnya sendiri, dan kemudian ia melanjutkan kerja-dirinya. Para guru palsu dalam Sufisme, sebagaimana di mana saja, tidaklah sedikit. Maka para Sufi dihadapkan pada situasi aneh, sebab sementara guru palsu bisa jadi tampak seperti asli (karena ia berusaha keras untuk berpenampilan seperti yang diinginkan muridnya), sedangkan Sufi sejati seringkali tidak seperti apa yang dikira oleh Salik yang belum terlatih dan belum bisa membedakan.

 Rumi mengingatkan, “Jangan menilai seorang Sufi sebagai seseorang yang bisa dilihat, sobat. Berapa lama, seperti seorang anak kecil, engkau hanya lebih menyukai kacang dan roti?”

 Guru palsu sangat memperhatikan penampilan, dan mengetahui bagaimana membuat seorang murid mengira bahwa ia adalah orang besar, bahwa ia memahaminya, bahwa dirinya memiliki rahasia-rahasia besar yang akan diungkap. Seorang Sufi memiliki banyak rahasia, tetapi ia harus menjadikan rahasia-rahasia tersebut berkembang dalam diri murid. Sufisme merupakan sesuatu yang diberikan kepadanya. Guru palsu akan menjaga para pengikutnya agar tidak menjauh dari dirinya untuk selamanya, tidak mengatakan kepada mereka, bahwa mereka tengah diberikan latihan yang harus berakhir secepat mungkin, sehingga mereka bisa merasakan perkembangan mereka sendiri dan melanjutkan hidup sebagai orang-orang yang tercerahkan.

 Rumi menyeru kepada para skolastik, teolog dan pengikut guru palsu, “Kapan kalian berhenti menyembah dan mencintai timbanya? Kapan kaki mulai mencari airnya?” Hal-hal lahiriah merupakan sesuatu yang biasanya dinilai oleh kebanyakan orang. “Ketahuilah perbedaan antara warna anggur dan warna gelasnya.”

 Sufi harus mengikuti semua rutinitas pengembangan-diri; sebaliknya semata-mata konsentrasi terhadap salah satunya akan menyebabkan ketimpangan, yang bisa membawa pada kerugian. Laju pengembangan setiap orang berbeda-beda. “Sebagian,” ucap Rumi, “memahami semuanya hanya dengan membaca sebuah baris (ajaran). Yang lain, yang benar-benar telah hadir pada suatu peristiwa, mengetahui semua tentang hal itu. Kemampuan pemahaman berkembang bersama kemajuan spiritual seseorang.”

 Meditasi-meditasi Rumi meliputi beberapa gagasan yang mencolok, yang dirancang untuk membawa Salik ke dalam suatu pemahaman tentang kenyataan bahwa secara temporer ia berada di luar hubungan dengan realitas utuh, meskipun kehidupan biasa tampak sebagai totalitas dari realitas itu sendiri. Apa yang kita lihat, apa yang kita rasakan dan alami dalam kehidupan wajar dan belum tercerahkan, menurut pemikiran Sufistik, hanyalah sebagian dari keseluruhan yang besar. Ada dimensi-dimensi yang hanya bisa dicapai melalui upaya keras. Seperti bagian gunung es yang tampak di permukaan, keseluruhan badan gunung itu ada di sana, meskipun tidak terlihat di bawah kondisi-kondisi wajar. Jika seperti gunung es realitas tersebut jauh lebih besar dari yang biasa diduga oleh pengamatan superfisial.

 Rumi mempergunakan berbagai analogi untuk menjelaskan hal ini. Salah satu paling mengejutkan adalah teorinya tentang tindakan. Katanya, ada sesuatu yang disebut sebagai tindakan komprehensif, dan juga ada tindakan individual. Kita terbiasa melihat, dalam indera dunia biasa, semata tindakan individu. Semisal, sejumlah orang sedang membuat sebuah tenda. Sebagian menjahit, yang lain mempersiapkan tali, sebagian lagi menenun. Mereka semua ikut ambil bagian dalam suatu tindakan komprehensif, meskipun masing-masing tampak sebagai tindakan individual. Jika kita berpikir tentang pembuatan tenda, hal itu adalah tindakan komprehensif dari keseluruhan kelompok, dimana itulah yang penting.

 Dalam arah-arah tertentu, para Sufi menyatakan, kehidupan harus dipandang sebagai keseluruhan, demikian juga secara individual. Hal ini sesuai dengan keseluruhan rencana, tindakan komprehensif dalam kehidupan, sangatlah mendasar bagi pencerahan.

 Sedikit demi sedikit, di saat pengalamannya meningkat, Sufi mulai membentuk kembali pemikirannya selaras dengan garis ini. Sebelum ia benar-benar memiliki pengalaman mistisisme, ia adalah seorang yang lugu, tidak terlibat, atau memiliki suatu idea yang secara menyeluruh khayali tentang sifat dasar pengalaman tersebut, terutama tentang Guru dan jalan (Tarekat). Rumi memberikan kepadanya meditasi-meditasi yang dirancang untuk mengatasi perkembangan berlebihan dari idea-idea tertentu yang mengalir deras di kalangan orang yang belum memperoleh pengajaran (Sufistik). Manusia mengharap diberi sebuah kunci emas. Tetapi sebagian lebih cepat berkembang dari yang lain. Seorang yang bepergian melewati kegelapan itu masih bisa disebut sedang bepergian. Sang murid akan belajar (sesuatu) ketika ia tidak mengetahui bahwa dirinya tengah belajar, dan sebagai hasilnya ia mungkin akan terlumuri (pengetahuan). Di musim dingin, Rumi mengingatkan, sebuah pohon tengah mengumpulkan makanan. Orang mungkin mengira bahwa pohon tersebut bermalas-malasan, sebab mereka tidak melihat sesuatu yang terjadi. Tetapi di musim semi mereka melihat untaian-untaian bunga. Sekarang, pikirnya, ia tengah bekerja. Ada waktunya untuk mengumpulkan dan ada waktunya untuk mengeluarkannya. Hal ini membawa subyek kembali pada ajaran: “Pencerahan harus datang sedikit demi sedikit — jika tidak, tak terbendung”.

 Sarana-sarana skolastisisme, yang digunakan sebagai latihan bagi para Sufi, digantikan oleh pelatihan esoterik, dan hal ini harus dilakukan sesuai dengan kapasitas murid. Alat-alat pandai besi, ucap Rumi, “di tangan tukang tambal sepatu adalah seperti benih yang ditabur ke dalam pasir. Dan alat-alat tukang tambal sepatu di tangan petani adalah seperti jerami yang ditawarkan kepada anjing, atau tulang yang diberikan pada keledai.”

Sikap terhadap konvensi-konvensi biasa dalam kehidupan mengalami suatu pengujian. Persoalan jeritan batin manusia dipandang, bukan seperti sebuah kebutuhan Freudian, tetapi sebagai sesuatu instrumen alamiah yang melekat pada pikiran untuk memungkinkannya mencapai kebenaran. Rumi mengajarkan bahwa manusia sebenarnya tidak mengetahui apa yang mereka inginkan. Jeritan batinnya dinyatakan dalam ratusan keinginan yang mereka duga sebagai kebutuhan mereka. Namun hal ini bukanlah hasrat mereka sesungguhnya, sebagaimana pengalaman memperlihatkan. Karena ketika tujuan-tujuan ini tercapai, jeritan tersebut tidak berhenti. Rumi pastilah melihat Freud sebagai seorang yang terobsesi oleh salah satu perwujudan sekunder dari jeritan besar tersebut; bukan sebagai seorang yang telah menemukan dasar jeritan itu.

 Demikian juga, orang-orang tampak jahat dalam pandangan seseorang  - tetapi bagi lainnya mereka mungkin terlihat baik. Hal ini disebabkan dalam satu pikiran terdapat idea ketidakpuasan, sementara pada lainnya terdapat pandangan kebaikan. “Ikan dan kail kedua-duanya sama-sama hadir.”

 Sufi mempelajari kekuatan pelepasan-diri, kemudian diikuti kekuatan mengalami apa yang ia pertimbangkan, tidak sekadar melihatnya. Untuk melakukan hal ini, ia diperintahkan gurunya untuk merenungkan peringatan Rumi, “Orang yang kenyang dan kelaparan tidak melihat hal yang sama ketika kedua-duanya melihat sepotong roti.”

 Jika seseorang sangat tidak terlatih sehingga ia dipengaruhi oleh kebiasaannya sendiri, ia tidak bisa berharap untuk bisa mempunyai banyak kemampuan. Rumi memusatkan pada kontrol pengembangan; kontrol melalui pengalaman, bukan semata-mata melalui teori tentang yang baik dan buruk, benar atau salah. Teori ini masuk dalam kategori kata-kata, “Kata-kata, dalam dirinya sendiri, tidaklah penting. Anda memperlakukan seorang tamu dengan baik, dan berbicara beberapa patah kata yang lembut kepadanya, karenanya ia bahagia. Tetapi jika Anda memperlakukan orang lain dengan menggunakan beberapa patah kata dengan kasar, ia akan merasa sakit. Bisakah beberapa patah kata tersebut bermakna kebahagiaan atau kesedihan? Ini merupakan faktor-faktor sekunder, dan bukan faktor sesungguhnya. Kata-kata mempengaruhi orang yang lemah.”

 Murid Sufi berkembang melalui berbagai latihan dalam melihat segala hal dengan cara pandang baru. Ia juga berbuat, bertindak dengan cara berbeda dalam suatu situasi tertentu daripada yang seharusnya ia lakukan. Ia memahami makna yang lebih mendalam karena anjuran-anjuran sebagai berikut, “Ambillah mutiaranya, bukan kulitnya! Engkau tidak akan menemukan sebuah mutiara di setiap kulit. Sesosok gunung jauh lebih besar dari sesosok batu mirah.” Apa yang tampak lazim bagi orang pada umumnya, mungkin berlalu di atas dasar sebuah kebijakan dan dipandang sebagai biasa, secara mendalam menjadi penuh makna bagi Sufi yang dalam intensitasnya menemukan hubungan dengan sesuatu yang disebutnya sebagai “yang lain” — faktor dasar yang sedang dicarinya. “Apa yang tampak sebuah batu bagi orang biasa,” lanjut Jalaluddin Rumi, “adalah mutiara bagi sang Alim.”

 Kini kehalusan pengalaman spiritual tampak sekilas bagi sang Salik. Jika ia seorang pekerja kreatif, ia memasuki jenjang itu ketika inspirasi kadangkala masuk ke dalam dirinya, tetapi tidak pada waktu yang lain. Jika ia rentan terhadap pengalaman ekstatik, akan menemukan bahwa perasaan penuh makna yang membahagiakan dalam keutuhan itu datang secara singkat sehingga ia tidak mampu mengendalikannya. Rahasia melindungi dirinya sendiri. “Pusatkan perhatian pada spiritualitas seperti yang engkau inginkan –ia akan membutakan dirimu jika engkau tidakmampu melihatnya. Tulislah hal ini, bicarakan dan ulaslah — ia akan gagal untuk memberikan manfaat kepadamu: ia akan terbang. Namun, jika rahasia itu menyentuh pusat pikiranmu, ia mungkin datang ke tanganmu, seperti seekor burung yang jinak. Layaknya burung merak, ia tidak akan hinggap di tempat yang tidak layak.”

 Hanya ketika telah melampaui jenjang perkembangan inilah, seorang Sufi bisa menyampaikan sesuatu tentang jalan itu kepada orang lain. Jika ia mencobanya sebelum melampaui jenjang tersebut, “Ia akan lenyap”.

 Di sini juga letak arti penting suatu keseimbangan halus antara (keadaan-keadaan) ekstrim yang sangat mendasar itu, atau keseluruhan upaya itu akan sia-sia. “Pikiran Anda sebagai jaring itu begitu halus,” tutur Rumi. Ia harus disesuaikan dengan tepat agar bisa menangkap sasarannya. Jika ada kesedihan, jaring itu terkoyak. Jika terkoyak, ia tidak berguna. Karena cinta yang terlalu besar, begitu pula karena penentangan yang terlalu besar, jaring itu terkoyak. “Jangan lakukan keduanya!”

 Lima indera batin mulai berfungsi jika kehidupan batin individu dibangkitkan. Makanan batiniah yang dibicarakan oleh Rumi itu mulai mempengaruhinya. Indera-indera batin bagaimanapun menyerupai indera-indera lahiriah, tetapi “perbandingan indera batin dengan indera lahiriah seperti emas dan tembaga”.

 Karena setiap individu mempunyai kemampuan yang berbeda, para Sufi pada jenjang ini mengembangkan dengan cara-cara tertentu. Adalah biasa bagi sejumlah fakultas batin dan berbagai kemampuan khusus untuk berkembang secara bersamaan dan harmonis. Berbagai perubahan kepekaan batin itu mungkin terjadi, tetapi perubahan itu sama sekali berbeda dengan perubahan batin dari orang-orang yang belum berkembang menuju kepribadian sejati. Kekasaran batin orang-orang awam ini digantikan oleh perubahan dan interaksi dari cita rasa yang lebih tinggi, dimana cita rasa yang lebih rendah dipandang sebagai refleksi semata.

 Konsepsi Sufi tentang hikmah dan kebodohan mengalami suatu perubahan. Rumi memahaminya sebagai berikut, “Jika seseorang benar-benar bijaksana dan tidak memiliki kebodohan, ia akan dihancurkan oleh kebijaksanaannya sendiri. Oleh karena itu, kebodohan bisa dihargai, sebab ia berarti bagi kelangsungan eksistensi. Kebodohan dalam perubahan ini merupakan kolaborator hikmah, sebagaimana malam dan siang saling melengkapi.”

 Bekerjanya hal-hal yang bertentangan secara bersamaan merupakan tema penting lain dalam Sufisme. Ketika pertentangan nyata bisa didamaikan, individualitas bukan saja utuh, ia juga bisa melampaui ikatan-ikatan manusia awam sebagaimana kita memahaminya. Individu itu, selama kita bisa menyatakannya sedekat mungkin, sangatlah kuat. Apa makna pernyataan ini dan bagaimana terjadinya adalah persoalan-persoalan dari pengalaman pribadi, di luar dunia penulisan semata. Rumi mengingatkan kita pada lain tempat, dalam ucapannya yang tertulis dengan kata-kata: “Kitab sang Sufi bukanlah huruf-huruf yang kelam, kitabnya seputih kalbu.”

 Sekarang sang Sufi mempunyai pandangan batin tertentu yang terkait dengan perkembangan suatu intuisi yang selalu benar. Perasaannya terhadap pengetahuan sedemikian rupa, sehingga dengan membaca sebuah kitab, ia bisa membedakan fakta dan fiksi, tujuan sejati penulisnya dari unsur-unsur lainnya. Kalangan yang secara khusus terancam oleh kemampuan ini adalah para peniru yang mengaku sebagai Sufi. Sementara orang yang mempunyai intuisi itu akan mempunyai kemampuan tembus pandang. Bahkan pengertiannya tentang keseimbangan memperlihatkan kepadanya betapa jauh si peniru itu dari tujuan Sufisme. Rumi mengulas fungsi ini dalam Matsnawi. Ajaran ini secara setia disampaikan pula oleh para guru Sufi ketika mereka menemukan bahwa murid telah mencapai jenjang ini: “Peniru itu seperti penyalur. Ia sendiri tidak minum, tetapi ia mungkin bisa memindahkan air kepada orang yang kehausan.”

 Karena telah mengalami kemajuan di jalan itu, Sufi menyadari betapa rumit dan berbahayanya jalan itu jika tidak dijalankan sesuai dengan metode yang telah dikembangkan selama berabad-abad. Dengan menggunakan fabel, Matsnawi mencatat jenjang dari pengalaman ini. Seekor singa memasuki sebuah kandang, memangsa seekor sapi yang tinggal di dalam kandang itu, lalu ia duduk ditempat si sapi. Kandang itu gelap, si pemilik sapi masuk dan mencari-cari sapinya. Tangannya meraba-raba tubuh singa itu. Si singa berkata dalam hati, “Jika ada cahaya, pastilah ia akan mati ketakutan. Ia menyentuhku hanya karena menduga bahwa aku adalah sapinya.” Jika fabel ini dibaca sebagai cerita biasa, penggambarannya yang singkat dan menarik ini mungkin dipahami sebagai sejenis orang bodoh yang terburu-buru masuk ke tempat di mana para malaikat sendiri takut merambahnya.

 Pemahaman terhadap makna sejati di balik berbagai peristiwa duniawi yang tidak bisa dijelaskan secara nalar itu merupakan konsekuensi lain dari perkembangan Sufi. Sebagai contoh, mengapa tahapan tertentu dalam studi mistis menuntut seseorang lebih lama dari lainnya, meskipun ia sebenarnya melaksanakan rutinitas yang sama? Rumi menggambarkan pengalaman dan satu dimensi khusus dalam kehidupan yang menutupi fungsi aktualitas secara utuh dan memberikan suatu pandangan yang tidak memuaskan kita dari keseluruhan itu. “Dua pengemis,” katanya, “mendatangi sebuah rumah. Salah satunya segera merasa puas setelah diberi sepotong roti. Ia pun pergi. Sementara pengemis kedua tetap menunggu bagiannya. Mengapa? Pengemis pertama itu tidak disukai, ia diberi roti basi dan hambar. Pengemis kedua diminta menunggu sampai sepotong roti segar selesai dimasak untuknya.” Cerita ini menggambarkan suatu tema yang terjadi berulangkali dalam ajaran Sufi, bahwa seringkali ada satu unsur dalam sebuah peristiwa yang tidak bisa diketahui. Akibatnya kita mendasarkan pendapat kita pada bahan yang tidak utuh. Adalah keajaiban kecil jika orang yang belum tercerahkan mengembangkan dan memberikan suatu “pandangan kilas” yang berlangsung dengan sendirinya.

 “Engkau dikuasai oleh dunia dimensi,” senandung Rumi dalam sebuah syairnya, “tetapi engkau berasal dari dunia non-dimensi. Tutuplah yang pertama dan bukalah yang kedua!”

 Seluruh kehidupan dan setiap ciptaan dipandang dalam suatu bentuk baru dan komprehensif Dengan menggunakan metafor Matsnawi, pekerja “tersembunyi di dalam ruang kerjanya”, bersembunyi dalam kerjanya untuk merenda jaring-jaring dirinya. Ruang kerjanya adalah tempat pandangannya. Di luar tempat ini adalah kegelapan.

 Posisi Sufi sebagai orang yang mempunyai pandangan batin lebih dalam tentang persoalan-persoalan dunia dan keseluruhan serta saling bertentangan, merupakan potensi kekuatan diri yang sangat besar. Tetapi ia hanya bisa melakukan hal ini dalam hubungannya dengan seluruh makhluk — pertama dengan sesama Sufi, kemudian dengan manusia secara umum dan akhirnya dengan semua makhluk. Kekuatan dan keberadaannya berkaitan dengan serangkaian hubungan baru. Orang-orang datang kepadanya dan ia menyadari bahwa bahkan mereka yang ingin mencemoohkan dirinya sangat mungkin datang untuk belajar sesuatu daripada sekadar menilai dirinya. Ia memandang sejumlah besar peristiwa sebagai suatu jenis pertanyaan dan jawaban. Suatu kunjungan kepada seorang yang Tercerahkan dipandangnya sebagai pendekatan, “Ajarilah aku!” Betapapun laparnya suatu pertanyaan, tetap saja sebuah pertanyaan. “Kirimkan makanan!” Mencegah diri untuk tidak makan merupakan jawaban, suatu jawaban negatif. Sebagaimana Rumi menyimpulkan bagian ini, jawaban untuk seseorang yang bodoh adalah diam.

 Ia mampu memberikan sebagian pengalaman mistiknya kepada orang-orang tertentu, sebagian muridnya dan orang yang dituntun oleh pengalaman masa lalu mereka untuk perkembangan semacam itu. Hal ini terkadang dilakukan melalui latihan-latihan konsentrasi dan prakteknya mungkin berkembang ke dalam pengalaman mistik yang sesungguhnya. Rumi berkata kepada para muridnya, “Pada mulanya pencerahan datang kepadamu dari orang-orang yang Tercerahkan. Ini adalah suatu tiruan. Namun ketika hal itu datang berulang kali, ini adalah pengalaman tentang kebenaran”. Selama tahap pencariannya, seorang Sufi mungkin sering terlihat tidak memperdulikan perasaan orang lain, atau berada di luar aktivitas masyarakat. Jika demikian, hal ini karena ia telah melihat karakter sejati dari suatu situasi, di balik situasi lahiriah yang hanya terlihat secara parsial bagi orang lain. Ia berbuat dengan cara sebaik mungkin, meskipun tidak selalu mengetahui mengapa ia mengatakan atau melakukan sesuatu.

 Dalam Fihi Ma Fihi, Rumi memberikan ilustrasi tentang situasi itu. Seorang pemabuk melihat seorang Raja lewat dengan menunggang kuda yang sangat mahal harganya. Ia mencemooh kuda itu. Sang Raja marah dan memanggilnya untuk menghadap kepadanya. Orang itu menjelaskan, “Saat itu seorang pemabuk sedang berdiri di atas atap. Aku sekarang bukan dia, sebab dia telah pergi.” Sang Raja puas dengan jawaban ini dan memberikan hadiah kepadanya. Pemabuk itu adalah sang Sufi dan orang yang sadar itu juga adalah dirinya. Dalam hubungannya dengan realitas sejati, sang Sufi telah bertindak dengan cara tertentu. Akibatnya ia diberi hadiah. Ia juga melaksanakan suatu fungsi ketika menjelaskan kepada Raja bahwa orang tidak selalu bertanggung jawab atas berbagai tindakannya. Ia juga telah memberikan kesempatan kepada Raja untuk melakukan perbuatan baik.

 Tidak ada anggur yang matang menjadi mentah kembali. Evolusi manusia tidak dapat dihentikan. Meskipun demikian evolusi ini bisa diarahkan dan dicampuradukkan oleh mereka yang tidak mengetahui apa sesungguhnya intuisi itu. Dengan demikian ajaran-ajaran Sufisme bisa diselewengkan dan seorang yang telah Tercerahkan juga bisa dihubungi jika ia membiarkan dirinya terlalu sering terlihat secara terbuka oleh orang kebanyakan. Sebab untuk mengajarkan masalah Sufistik kepada orang luar, seperti guru Sufi lainnya, Rumi selalu menyerukan: Ketika lentera batin permata masih menyala, Potonglah segera sumbu atasnya dan berilah minyak.

 Namun ia sepakat dengan para guru lainnya yang menolak untuk membicarakan mistik kepada setiap orang, “Panggillah kuda-kuda ke tempat yang tidak berumput, mereka pun akan mempertanyakannya.” tidak menjadi soal apa pertanyaannya itu.

 Para Sufi menentang kalangan intelektual murni dan para pemikir skolastik, karena mereka percaya bahwa pelatihan pikiran dengan cara obsesif dan satu jalur pemikiran semacam itu justru membahayakan pikiran. Demikian pula, mereka sangat menentang orang-orang yang mengira bahwa semua persoalan itu bersifat intuitif dan asketis. Padahal Rumi menekankan keseimbangan dari semua kemampuan itu.

 Kesatuan pikiran dan intuisi yang akan melahirkan pencerahan dan perkembangan yang dicari oleh para Sufi itu didasarkan pada Cinta — tema yang ditekankan oleh Rumi ini tidak bisa dipaparkan secara lebih baik kecuali melalui berbagai tulisannya sendiri, kecuali jika ia berada di dalam dinding-dinding aktual dari sebuah madzhab Sufi. Seperti intelektualisme yang bekerja dengan bahan-bahan yang nyata, Sufisme bekerja dengan bahan-bahan yang terlihat dan tidak. Jika ilmu dan skolastisisme selalu mempersempit cakupannya ke dalam bidang kajian yang semakin sempit, maka Sufisme tetap menggunakan setiap bukti kebenaran yang melandasinya, di mana pun hal itu bisa ditemukan.

 Kekuatan asimilasi dan kemampuan untuk membangkitkan simbolisme, cerita dan pemikiran dari dasar arus Sufistik ini telah menyebabkan para komentator (bahkan di Timur) merasa sangat kagum dan menjadikan masa lalu sebagai sesuatu yang baru. Mereka menelusuri asal-usul sebuah cerita di India, sebuah pemikiran di Yunani dan sebuah latihan spiritual di kalangan Shaman. Unsur-unsur ini dengan senang hati mereka himpun di meja, pada akhirnya untuk menyediakan amunisi dalam perjuangan dimana para lawannya adalah di antara mereka sendiri. Atmosfir unik dari madzhab-madzhab Sufi ditemukan dalam Matsnawi dan Fihi Ma Fihi. Tetapi dua karya ini oleh para eksternalis dianggap membingungkan, kacau dan ditulis secara longgar.

 Adalah benar bahwa kedua kitab ini sebagian merupakan pembimbing yang harus digunakan dalam hubungannya dengan ajaran dan praktek Sufi yang sesungguhnya — kerja, pemikiran, kehidupan dan seni. Namun bahkan seorang komentator yang menerima kenyataan atmosfir ini sebagai sengaja diciptakan dan yang mengulang penilaian Sufi dalam buku, memperlihatkan dirinya sendiri dalam hubungan personal menjadi agak kebingungan terhadap semua hal itu. Selain itu harus dikatakan bahwa ia memandang dirinya sebagai seorang Sufi, meskipun tidak diakui oleh metode Sufi mana pun. Di bawah pengaruh orang-orang semacam ini, studi Barat tentang Sufisme dan sekarang dalam periode kebangkitan yang luar biasa, telah menjadi sedikit lebih Sufistik, meskipun ia masih harus menempuh jalan panjang. “Sufi intelektual” merupakan kegemaran mutakhir di Barat.

 Sufisme tentu saja mempunyai terminologi teknis yang khas, dan puisi-puisi Rumi kaya akan jenis-jenis umum dan khusus dari istilah-istilah dasar itu. Sebagai contoh, ia menggambarkan dalam kitab ketiganya, Diwan asy-Syams at-Tabriz, beberapa konsep pikiran dan aktivitas yang diproyeksikan dalam suatu pertemuan rahasia para darwis. Diramu dengan puisi rapsodik (penuh semangat), ajaran-ajaran Sufi “dalam pemikiran dan tindakan” disampaikan melalui metode yang secara khusus dirancang proyeksinya:

 Bergabunglah dengan komunitas Sufi, jadilah seperti mereka, maka lihatlah kebahagiaan dari kehidupan sejati. Pergilah sepanjang jalan yang runtuh dan lihatlah orang-orangyang merana (para pemilik rumah yang runtuh). Minumlah anggur, agar engkau tidak mempunyai rasa malu. Tutuplah kedua mata lahirmu, sehingga engkau bisa melihat dengan mata batin. Bukalah kedua tanganmu, jika engkau mengharap pelukan. Hancurkan berhala bumi untuk melihat wajah banyak berhala. Mengapa seorang perempuan tua begitu senang menerima sebuah mahar — dan karena tiga potong roti, mengapa engkau menerima kewajiban militer?

 Sahabat kembali di malam hari; malam ini jangan minum tutuplah mulutmu dari makanan, hingga engkau memperoleh makanan mulut. Di Majelis sang Pembawa Cawan yang ramah, berputarlah — masuklah ke dalam lingkaran. Berapa lama engkau mengitarinya? Inilah tawarannya — tinggalkan satu kehidupan, raihlah keramahan Pengembala… Hentikan pikiran kecuali bagi pencipta pikiran — berpikir tentang “kehidupan” lebih baik dibandingkan berpikir tentang roti. Di keluasan bumi Tuhan, mengapa engkau tertidur di sebuah penjara? Abaikan pemikiran-pemikiran rumit — untuk melihat jawaban jawaban yang tersembunyi. Diamlah untuk meraih kalam abadi. Tinggalkan “kehidupan” dan “dunia” untuk menyaksikan “Kehidupan Dunia”.

 Meskipun aktualitas Sufi tidak bisa diuji kemurniannya oleh kriteria yang lebih terbatas dari pemikiran diskursif, puisi ini bisa dilihat sebagai suatu perakitan faktor-faktor utama dalam metode Rumi. Ia mendeskripsikan arti penting komunitas yang dicurahkan untuk memahami realitas, dimana realitas hanyalah sebagai suatu pengganti. Pengetahuan ini hadir melalui hubungan dengan orang lain, dengan terlibat dalam kegiatan kelompok, begitu pula dalam pemikiran dan kegiatan personal. Suatu yang mendasar hanya hadir jika pola-pola pemikiran tertentu telah direduksi dengan perspektif yang tepat. Sang Salik harus “membuka tangannya” untuk menerima sebuah pelukan, bukan mengharap sebuah pemberian sementara ia berdiri pasif menunggunya. “Perempuan tua yang lemah” adalah semua bentuk pengalaman duniawi sebagai pantulan dari suatu realitas terakhir yang hampir tidak mungkin dibandingkan dengan apa yang tampak sebagai kebenaran. Untuk “tiga potong roti” dalam kehidupan biasa, orang rela menjual potensialitasnya.

 Sahabat datang di malam hari datang, yaitu ketika segala sesuatu masih tinggal dan ketika seseorang tidak tenggelam oleh pemikiran otomatis. Makanan khas Sufi tidaklah sama dengan makanan biasa; tetapi ia merupakan bagian esensial dari kemanusiaan. Kemanusiaan berputar-putar di sekitar realitas dalam sebuah sistem yang tidak sejati. Ia harus memasuki lingkaran dan bukannya sekadar mengikuti garisnya. Hubungan kesadaran sejati dengan apa yang kita pandang sebagai kesadaran itu bagaikan hubungan dari seratus kehidupan dengan satu kehidupan. Beberapa karakteristik kehidupan sebagaimana kita ketahui — karakter pemangsa dan egoisme serta banyak lagi lainnya sebagai penghalang bagi kemajuan — harus dilenyapkan oleh faktor-faktor halus.

 Pemikiran non-diskursif adalah metode. Pemikiran harus diarahkan untuk seluruh kehidupan, bukan terhadap aspek-aspeknya semata. Manusia laksana seseorang yang mempunyai pilihan untuk menjelajahi bumi, tetapi ia tertidur di sebuah penjara. Berbagai kepelikan intelektualisme yang keliru itu menutupi kebenaran. Sikap diam merupakan awal pembicaraan sejati. Kehidupan batin di dunia dicapai dengan cara mengabaikan pemilahan “kehidupan” dan “dunia”.

 Ketika Rumi meninggal dunia pada tahun 1273, ia meninggalkan putranya, Bahauddin, untuk melanjutkan kepemimpinan Tarekat Mevlevi. Pada masa hidupnya ia dikelilingi oleh orang-orang dari setiap agama, dan pada waktu pemakamannya dihadiri oleh orang-orang dari segala jenis (kepercayaan).

 Seorang Kristen ditanya, mengapa ia menangis begitu pilu atas kematian seorang guru Muslim. Jawabannya memperlihatkan pandangan Sufi tentang pengulangan ajaran dan penyampaian aktivitas spiritual:

 “Kami menghargainya seperti Musa, Dawud, Yesus zaman ini. Kami semua adalah para pengikut dan muridnya.”

 Kehidupan Rumi memperlihatkan campuran dari ajaran warisan dan pencerahan pribadi yang menjadi pusat Sufisme. Keluarganya berasal dari keturunan Abu Bakar, sahabat Nabi saw., dan ayahnya masih ada hubungan dengan keluarga dengan Raja Khawarizmi Syah. Jalaluddin dilahirkan di Balkh, sebuah pusat ajaran kuno pada tahun 1207 dan dalam legenda Sufi dinyatakan bahwa, telah diramalkan oleh para mistikus Sufi, ia akan meraih masa depan gemilang. Raja Balkh di bawah pengaruh orang-orang skolastik, berbalik menentang para Sufi, terutama menentang kerabat ayah Rumi. Seorang guru Sufi ditenggelamkan di Sungai Oxus atas perintah Syah. Hukuman ini membayangi invasi orang-orang Mongol dimana Najmuddin al-Kubra, seorang pemimpin Sufi terbunuh di medan tempur. Najmuddin inilah pendiri Tarekat Kubrawiyah yang berkaitan erat dengan perkembangan Rumi.

 Penghancuran Asia Tengah oleh tentara-tentara Jengis Khan telah menyebabkan tercerai-berainya para Sufi Turkistan. Ayah Rumi mengungsi bersama putranya ke Nisyapur di mana mereka bertemu dengan guru besar lainnya dari aliran Sufi yang sama, sang penyair Aththar, yang secara “spiritual” menganugerahi putranya dengan barakah Sufi. Ia menghadiahi Rumi sebuah salinan kitabnya, Asrar-Namah (Book of Secrets). Kitab ini ditulis dalam bentuk puisi.

 Tradisi Sufi mengatakan bahwa karena potensi spiritual Jalaluddin muda telah dikenali oleh para guru di zamannya, maka perhatian mereka untuk melindungi dan mendidiknya menjadi motif bagi perjalanan kelompok pengungsi itu. Mereka meninggalkan Nisyapur dengan kata-kata kewalian Aththar yang terngiang dalam telinga mereka, “Anak ini akan memercikkan api kemuliaan dan keagungan suci bagi dunia. ” Kota itu tidak aman. Seperti Najmuddin, Aththar menunggu gilirannya menuju ke-syahid-an yang diterimanya dari tangan orang-orang Mongol tidak lama setelah itu.

 Kelompok Sufi dengan pemimpin mudanya itu sampai ke Baghdad di mana mereka mendengar penghancuran Balkh dan pembantaian penduduknya. Selama beberapa tahun mereka mengembara, menunaikan ibadah Haji ke Mekkah, kembali menuju utara ke Syria dan Asia Kecil, mengunjungi pusat-pusat Sufi.

 Asia Tengah terpecah-belah karena serangan orang-orang Mongol yang tiada henti-hentinya, dan setelah tegak kurang dari enam abad, peradaban Islam tampaknya menjelang keruntuhannya.

 Pada akhirnya ayah Rumi mendirikan pusat kegiatannya tak jauh dari Konia, yang terkait dengan nama St. Paul. Pada saat itu, kota itu berada di tangan penguasa Seljuk dan Raja Seljuk mengundang Jalaluddin untuk tinggal di sana. Ia menerima sebuah jabatan profesional dan melanjutkan mengajar putranya tentang rahasia-rahasia Sufi.

 Jalaluddin juga berhubungan dengan Guru Terbesar (asy-Syekh al Akbar), penyair dan seorang guru dari Spanyol, yaitu Ibnu Arabi yang pada waktu itu berada di Baghdad. Hubungan itu terjadi melalui Burhanuddin, salah seorang guru Rumi yang melakukan perjalanan ke kawasan Seljuk untuk menemui ayah Rumi yang baru saja meninggal. Karena menggantikannya sebagai pembimbing Rumi, ia membawanya ke Aleppo dan Damaskus.

 Ketika usianya mencapai empat puluh tahun, Rumi memulai pengajaran mistiknya secara semi-publik.2 Seorang darwis misterius, “Syamsuddin at-Tabrizi” mengilhaminya untuk menghasilkan sejumlah besar puisinya yang terbaik dan untuk meramu ajaran-ajarannya dengan cara dan bentuk yang dirancang untuk mempertahankan keseluruhan Tarekat Mevlevi. Karyanya telah diselesaikan dan darwis misterius itu lenyap setelah masa sekitar tiga tahun dan tidak ada lagi jejak tentang dirinya yang bisa dilaporkan.

 “Utusan dari dunia tak dikenal” ini oleh putra Rumi disepadankan dengan Khidr yang misterius, pembimbing dan pelindung para Sufi yang muncul kemudian berlalu dari kognisi normal setelah menyampaikan pesannya.

 Selama masa inilah Rumi menjadi seorang penyair. Baginya, meskipun ia diakui sebagai salah satu penyair terbesar Persia, puisi hanya suatu produk sekunder. Ia memandangnya tidak lebih dari suatu refleksi realitas batin yang besar dan merupakan kebenaran serta disebutnya sebagai refleksi dari Cinta. Cinta terbesar, tuturnya, adalah keheningan dan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Meskipun puisinya mempengaruhi pikiran manusia sedemikian kuat, sehingga hanya bisa disebut sebagai kekuatan magis, ia tidak pernah terbawa olehnya sampai pada tingkatan mengidentifikasikan puisi itu dengan wujud yang jauh lebih besar, dimana puisi hanyalah ekspresi yang lebih kecil. Pada saat yang sama, ia mengakuinya sebagai sesuatu yang bisa membangun jembatan antara apa “yang benar-benar ia rasakan” dengan apa yang bisa ia lakukan untuk orang lain.

 Dengan memakai metode Sufistik untuk mendapatkan perspektif tentang sesuatu, bahkan dengan resiko menghancurkan gagasan-gagasan yang paling mendasar, ia sendiri mengambil peranan kritik sastra. Orang-orang datang kepadanya dan ia mencintai mereka. Dalam rangka memberikan sesuatu kepada mereka agar bisa memahami, ia memberikan puisi kepada mereka. Tetapi puisi itu untuk mereka, bukan untuk dirinya, betapapun ia sebagai penyair besar — “Di atas segalanya, apakah peduliku dengan puisi?” Untuk menekankan pesan itu, dimana hanya seorang penyair dengan reputasi kontemporer terbesar yang berani melakukannya, ia menyatakan secara kategoris bahwa jika dibandingkan dengan realitas sejati, maka dirinya tidak punya waktu untuk menulis puisi. “Ini hanyalah nutrisi,” katanya, “yang bisa diterima pengunjungnya,” maka seperti tuan rumah yang baik, ia menyuguhkannya.

 Seorang Sufi tidak akan pernah membiarkan sesuatu berdiri sebagai penghalang antara apa yang ia ajarkan dengan mereka yang sedang mempelajarinya. Di sinilah penekanan Rumi terhadap peranan subsider puisi dalam hubungannya dengan pencarian sejati. Sebenarnya apa yang ingin disampaikannya berada di luar jangkauan puisi. Bagi orang yang pikirannya telah terkondisikan oleh kepercayaan bahwa tidak ada sesuatu pun yang lebih sublim dari ungkapan puitis, maka perasaan semacam ini mungkin bisa mengakibatkan keterkejutan hebat. Hanya aplikasi dampak inilah yang perlu bagi tujuan Sufi dalam membebaskan pikiran dari ikatan fenomena sekunder, “berhala-berhala”.

 Sebagai pewaris ayahandanya, Rumi sekarang memproyeksikan ajaran-ajaran mistisnya melalui kesenian. Musik, tarian dan puisi digunakan dalam berbagai pertemuan darwis. Pengubahan melalui berbagai latihan mental dan fisik ini dirancang untuk membuka pikiran menuju pengakuan potensialitasnya yang lebih besar, melalui tema harmoni. Pengembangan harmonis melalui sarana harmonis mungkin merupakan paparan dari apa yang dipraktekkan Rumi.

###

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 9 Komentar

MASUK KE JURANG KEFANAAN ALA DZUN NUN


Membaca huruf NUN ketika kita mengaji, ingatan kita melayang kepada sufi besar Dzun Nun Al Misry. Siapa dia sebenarnya?

====

Nama Dzun Nun mempunyai makna tersendiri, yaitu arti dari namanya adalah ”seseorang yang mempunyai huruf Nun dari mesir”. Huruf Nun ini mempunyai makna tersendiri, sebuah simbol spiritual power. Huruf Nun dimaknai sebagai relasi antara Tuhan dan hambanya, dimana huruf Nun ini mempunyai sebuah titik ditengah dan garis yang melingkarinya. Simbol tersebut dimaknai sebagai sebuah roda kehidupan yang mempunyai titik tujuan sebagai asal, awal dan titik sentral dari kehidupan.

Kaum sufi juga memaknai simbol ini sebagai simbol kesadaran dalam kehidupannya. Begitu pula dengan Dzun Nun Al Mishri, dia mengetahui dan sadar akan makna dari simbol yang dimilikinya apalagi sebagai nama dari dirinya sendiri. Yang kemudian makna dari namanya itu membawayanya serta mendorongnya untuk menjadi seorang sufi yang ikhlas dan tunduk kepada Allah. Dia sadar bahwasanya setiap kehidupannya akan berawal dan berujung kepada sebuah titik sentral, yaitu sebuah titik sentral pada huruf Nun tersebut, dan titik sentral itu dimaknai sebagai Allah SWT. Yang dimana titik sentral tersebut adalah yang awal dan yang akhir. Sebagaimana firman Allah SWT:

“Huwa al-Awwalu waal-Aakhiru waal-Dhaahiru wal-Baathinu wa-Huwa Bikulli Syay-in ‘Aliimun”

Artinya : Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. Al-Hadiid : 3 ).

Jadi bisa kita sebut bahwa makna ayat tersebut sangat erat hubungannya dengan huruf Nun yang menjadi sebuah simbol sebagai sentral dari kehidupan, dan titik sentral tersebut adalah sesuatu yang awal dan yang akhir.

Sang Wali yang Haus Hikmah

Nama lengkap Dzun Nun Al Mishri adalah Abu Al-Faid Tsauban bin Ibrahim, Ia dilahirkan di Ikhmin, dataran tinggi Mesir, Pada tahun 180 H/796 M. Dan wafat pada tahun 246 H/856 M dan makam kan dekat makam Amr bin Ash dan Uqbah bin Al Harun. Ia adalah seorang sufi besar dari Mesir, Seorang ahli kimia dan fisika dan dia juga seorang sufi yang pertama kali menganalisis ma’rifah secara konsepsional. Sufi agung yang memberikan kontribusi besar terhadap dunia pemahaman dan pengamalan hidup dan kehidupan secara mendalam antara makhluk dengan sang pencipta, makhluk dan sesama ini mempunyai nama lengkap al-Imam al-A’rif al-Sufy al-Wasil Abu al-Faidl Tsauban bin Ibrahim, dan terkenal dengan Dzunnun al-Misry. Kendati demikian besar nama yang disandangnya namun tidak ada catatan sejarah tentang kapan kelahirannya.

Perjalanan Menuju Mesir

Waliyullah yang bangga dan dibanggakan oleh Mesir ini berasal dari Nubay (satu suku di selatan Mesir) kemudian menetap di kota Akhmim (sebuah kota di propinsi Suhaj). Kota Akhmin ini rupanya bukan tempat tinggal terakhirnya. Sebagaimana lazimnya para sufi, ia selalu menjelajah bumi mensyiarkan agama Allah mencari jati diri, menggapai cinta dan ma’rifatulah yang hakiki.

Suatu ketika dalam perjalanan yang dilalui kekasih Allah ini, ia mendengar suara genderang berima rancak diiringi nyanyi-nyanyian dan siulan khas acara pesta. Karena ingin tahu apa yang terjadi ia bertanya pada orang di sampingnya: “ada apa ini?”. Orang tersebut menjawab : Itu sebuah pesta perkawinan. Mereka merayakannya dengan nyanyi-nyanyian dan tari-tarian yang diiringi musik “. Tidak jauh dari situ terdengar suara memilu seperti ratapan dan jeritan orang yang sedang dirundung duka. “Fenomena apa lagi ini ?” begitu pikir sang wali. Iapun bertanya pada orang tadi. Dengan santai orang tersebut menjawab : “Oh ya, itu jeritan orang yang salah satu anggota keluarganya meningal. Mereka biasa meratapinya dengan jeritan yang memekakkan telinga “. Di sana ada suka yang dimeriahkan dengan warna yang tiada tara. Di sini ada duka yang diratapi habis tak bersisa. Dengan suara lirih, ia mengadu : “Ya Allah aku tidak mampu mengatasi ini. Aku tidak sanggup berlama-lama tinggal di sini. Mereka diberi anugerah tidak pandai bersyukur. Di sisi lain mereka diberi cobaan tapi tidak bersabar “. Dan dengan hati yang pedih ia tinggalkan kota itu menuju ke Mesir (sekarang Kairo).

Banyak cara kalau Allah berkehendak menjadikan hambanya menjadi kekasihnya. Kadang berliku penuh ombak dan duri. Kadang lurus bak jalan bebas hambatan. Kadang melewati genangan lumpur dan limbah dosa. Tak dikecualikan apa yang terjadi pada Dzunnun al-Misri. Bukan wali yang mengajaknya ke dunia tasawuf. Bukan pula seorang alim yang mewejangnya mencebur ke alam hakikat. Tapi seekor burung lemah tiada daya.

Pengarang kitab al-Risalah al-Qusyairiyyah bercerita bahwa Salim al-Maghriby menghadap Dzunnun dan bertanya “Wahai Abu al-Faidl !” begitu ia memanggil demi menghormatinya “Apa yang menyebabkan Tuan bertaubat dan menyerahkan diri sepenuhnya pada Allah SWT ? “. “Sesuatu yang menakjubkan, dan aku kira kamu tidak akan mampu”. Begitu jawab al-Misri seperti sedang berteka-teki. Al-Maghriby semakin penasaran “Demi Dzat yang engkau sembah, ceritakan padaku” lalu Dzunnun berkata : “Suatu ketika aku hendak keluar dari Mesir menuju salah satu desa lalu aku tertidur di padang pasir. Ketika aku membuka mata, aku melihat ada seekor anak burung yang buta jatuh dari sangkarnya. Coba bayangkan, apa yang bisa dilakukan burung itu. Dia terpisah dari induk dan saudaranya. Dia buta tidak mungkin terbang apalagi mencari sebutir biji. Tiba-tiba bumi terbelah. Perlahan-lahan dari dalam muncul dua mangkuk, yang satu dari emas satunya lagi dari perak. Satu mangkum berisi biji-bijian Simsim, dan yang satunya lagi berisi air. Dari situ dia bisa makan dan minum dengan puas. Tiba-tiba ada kekuatan besar yang mendorongku untuk bertekad : “Cukup… aku sekarang bertaubat dan total menyerahkan diri pada Allah SWT. Akupun terus bersimpuh di depan pintu taubat-Nya, sampai Dia Yang Maha Asih berkenan menerimaku”.

Dzun Nun adalah seorang Mesir yang menjelajah luas untuk belajar sufisme dan dihukum karena ajarannya tentang sufisme. Dia dianggap sebagai salah satu “Wali yang Tersembunyi” dan Wali Qutb oleh para sufi sezamannya. Dia memiliki wawasan yang luas tentang misteri-misteri Ilahi dan doktrin Kesatuan. Beliau adalah guru sufi besar di zamannya. Berikut pembicaraan beliau tentang hakikat :

Pada perjalanan pertamaku, aku temukan sejenis ilmu yang dapat diterima baik oleh kaum pilihan maupun kaum awam. Saat perjalanan kedua, kuperoleh ilmu yang dapat diterima oleh kaum pilihan dan bukan untuk kaum awam. Pada perjalanan ketiga, ilmu yang tidak dapat diterima, baik oleh kaum pilihan maupun kaum awam, dan aku masih saja terdampar dan sendirian.

Ilmu pertama adalah pertobatan, yang baik kaum pilihan maupun kaum awam menerimanya. Kedua adalah kepercayaan kepada Allah dan keintiman dengan-Nya, yang hanya diterima oleh kaum pilihan. Dan ketiga adalah hakikat, yang berada di atas jangkauan manusia cerdas dan berakal, sehingga mereka menolaknya.

Ada tiga jenis ilmu, pertama, ilmu tentang Keesaan Tuhan dan ilmu ini dipahami oleh semua kaum beriman. Kedua, ilmu yang didapat dengan pembuktian dan penunjukan, dan ilmu ini milik orang-orang bijak dan mulia serta orang-orang pintar. Dan ketiga, ilmu Sifat-sifat Kesatuan, dan ini milik para wali, mereka yang merenungkan Wajah Tuhan dalam kalbu mereka, sehingga Tuhan menampakkan Diri di hadapan mereka dengan cara di mana Dia tidak terlihat oleh orang-orang lain di dunia ini.

Ciri kearifan falsafah Dzun Nun tercermin dalam ungkapannya: “Aku mengenal Allah dari Allah, dan aku mengetahui apa yang di samping Allah dari Rasulullah.” Dalam sebuah paparannya tentang kaum arif atau sufi sejati, Dzun Nun mengatakan:

Sang arif semakin rendah hati (tawadhu) setiap saat, dan setiap saat dia semakin dekat kepada Tuhannya. Kaum Arifin melihat tanpa pengetahuan, tanpa penglihatan, tanpa penggambaran, tanpa halangan dan tanpa tirai. Mereka bukan diri mereka sendiri, tetapi sepanjang keberadaannya mereka itu berada di dalam Tuhan. Gerak-gerik mereka disebabkan oleh Allah dan kata-kata mereka adalah kata-kata Tuhan yang diucapkan melalui lidah-lidah mereka, dan penglihatan mereka adalah penglihatan Tuhan, yang telah memasuki mata mereka. Demikianlah, Allah Yang Maha Tinggi berfirman: “Jika Aku mencintai hamba-Ku, maka Akulah telinganya yang dengannya dia mendengar, Akulah mata-Nya yang dengannya dia melihat dan Akulah lidahnya yang dengannya dia berbicara, dan Akulah tangannya yang dengannya dia memegang.”

Ajaran Dzun Nun telah mengilhami banyak Sufi. Bahkan makna nama Dzun Nun sendiri sering menjadi perhatian para sufi generasi kemudian. Nun (huruf yang menjadi pembuka surat al-Qalam: Nun wa al-qalam) juga berarti “ikan.” Dzun Nun adalah orang yang, seperti Nabi Yunus as,  “ditelan ikan,” atau masuk ke dalam kefanaan, dan setelah melewati pengalaman di dalam ikan itu dia merasakan bagai huruf nun: “Kemudian aku menjadi lengkung laksana huruf nun, hingga aku menjelma Dzun Nun sejati” demikian kata sufi-penyair Maulana Rumi dalah salah satu Diwannya. Dzun Nun wafat pada 245 H. dalam salah satu riwayat sebagaimana dituturkan al-Hujwiri, di malam kematiannya ada 70 orang bermimpi bertemu Rasulullah. Rasul berkata, “Aku datang menemui wali Allah, Dzun Nun.” Dan sesudah kematiannya, di keningnya tertera kata-kata: Ini adalah kekasih Allah, yang mati dalam mencintai Allah, dibunuh oleh Allah. Setiap kali orang menghapus tulisan tersebut, tulisan itu selalu muncul lagi. Dalam riwayat lain dikatakan bahwa saat jenazahnya diusung, muncul sekawanan burung berwarna hijau memayungi iringan jenazah Dzun Nun. Setelah melihat kejadian-kejadian aneh ini, orang-orang Mesir menyesali sikap mereka yang zalim terhadap Dzun Nun.

Dzun Nun mempunyai banyak pengikut yang kelak terkenal sebagai sufi besar. Ada dua muridnya yang sangat terkenal. Pertama adalah Yusuf ibn al-Husain (w. 304/916) dari Rayy, Persia, seorang sufi yang terkenal dengan keikhlasannya dan sering mengungkapkan pengalaman-pengalaman mistisnya – konon dia berkhotbah selama 50 tahun baik ada pendengarnya maupun tidak. Dan yang kedua adalah Syekh SAHL AL-TUSTARI, salah satu guru Syekh Mansur al-Hallaj.

Perjalanan Ruhaniah

Ketika si kaya tak juga kenyang dengan bertumpuknya harta. Ketika politisi tak jua puas dengan indahnya kursi. Maka kaum sufi pun selalu haus dengan kedekatan lebih dekat dengan Sang Kekasih sejati. Selalu ada kenyamanan yang berbeda. Selalu ada kebahagiaan yang tak sama.

Maka demikianlah, Dzunnun al-Misri tidak puas dengan hikmah yang ia dapatkan dari burung kecil tak berdaya itu. Baginya semuanya adalah media hikmah. Batu, tumbuhan, wejangan para wali, hardikan pendosa, jeritan kemiskinan, rintihan orang hina semua adalah hikmah.

Suatu malam, tatkala Dzunnun bersiap-siap menuju tempat untuk ber-munajat ia berpapasan dengan seorang laki-laki yang nampaknya baru saja mengarungi samudera kegundahan menuju ke tepi pantai kesesatan. Dalam senyap laki-laki itu berdoa “Ya Allah Engkau mengetahui bahwa aku tahu ber-istighfar dari dosa tapi tetap melakukannya adalah dicerca. Sungguh aku telah meninggalkan istighfar, sementara aku tahu kelapangan rahmatmu. Tuhanku… Engkaulah yang memberi keistimewaan pada hamba-hamba pilihan-Mu dengan kesucian ikhlas. Engkaulah Zat yang menjaga dan menyelamatkan hati para auliya’ dari datangnya kebimbangan. Engkaulah yang menentramkan para wali, Engkau berikan kepada mereka kecukupan dengan adanya seseorang yang bertawakkal. Engkau jaga mereka dalam pembaringan mereka, Engkau mengetahui rahasia hati mereka. Rahasiaku telah terkuak di hadapan-Mu. Aku di hadapan-Mu adalah orang lara tiada asa”. Dengan khusyu’ Dzunnun menyimak kata demi kata rintihan orang tersebut. Ketika dia kembali memasang telinga untuk mengambil hikmah di balik ratapan lelaki itu, suara itu perlahan menghilang sampai akhirnya hilang sama sekali di telan gulitanya sang malam namun menyisakan goresan yang mendalam di hati sang wali ini.

Di saat yang lain ia bercerita pernah mendengar seorang ahli hikmah di lereng gunung Muqottom. ” Aku harus menemuinya ” begitu ia bertekad kemudian. Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan iapun bisa menemukan kediaman lelaki misterius. Selama 40 hari mereka bersama, merenungi hidup dan kehidupan, memaknai ibadah yang berkualitas dan saling tukar pengetahuan. Suatu ketika Dzunnun bertanya : “Apakah keselamatan itu?”. Orang tersebut menjawab “Keselamatan ada dalam ketakwaan dan al-Muroqobah (mengevaluasi diri)”. “Selain itu ?”. pinta Dzunnun seperti kurang puas. “Menyingkirlah dari makhluk dan jangan merasa tentram bersama mereka!”. “Selain itu ?” pinta Dzunnun lagi. “Ketahuilah Allah mempunyai hamba-hamba yang mencintai-Nya. Maka Allah memberikan segelas minuman kecintaan. Mereka itu adalah orang-orang yang merasa dahaga ketika minum, dan merasa segar ketika sedang haus”. Lalu orang tersebut meninggalkan Dzunnun al-Misri dalam kedahagaan yang selalu mencari kesegaran cinta Ilahi.

Kealiman Dzun Nunal-Misri

Betapa indahnya ketika ilmu berhiaskan tasawuf. Betapa mahalnya ketika tasawuf berlandaskan ilmu. Dan betapa agungnya Dzunnun al-Misri yang dalam dirinya tertata apik kedalaman ilmu dan keindahan tasawuf. Nalar siapa yang mampu membanyah hujjahnya. Hati mana yang mampu berpaling dari untaian mutiara hikmahnya. Dialah orang Mesir pertama yang berbicara tentang urutan-urutan al-Ahwal dan al-Maqomaat para wali Allah.

Maslamah bin Qasim mengatakan “Dzunnun adalah seorang yang alim, zuhud wara’, mampu memberikan fatwa dalam berbagai disiplin ilmu. Beliau termasuk perawi Hadits”. Hal senada diungkapkan Al-Hafidz Abu Nu’aim dalam Hilyah-nya dan al-Dzahabi dalam Tarikh-nya bahwasannya Dzunnun telah meriwayatkan hadits dari Imam Malik, Imam Laits, Ibn Luha’iah, Fudhail ibn Iyadl, Ibn Uyainah, Muslim al-Khowwas dan lain-lain. Adapun orang yang meriwayatkan hadis dari beliau adalah al-Hasan bin Mus’ab al-Nakha’i, Ahmad bin Sobah al-Fayyumy, al-Tho’i dan lain-lain. Imam Abu Abdurrahman al-Sulamy menyebutkan dalam Tobaqoh-nya bahwa Dzunnun telah meriwayatkan hadis Nabi dari Ibn Umar yang berbunyi ” Dunia adalah penjara orang mu’min dan surga bagi orang kafir”.

Di samping lihai dalam ilmu-ilmu Syara’, sufi Mesir ini terkenal dengan ilmu lain yang tidak digoreskan dalam lembaran kertas, dan datangnya tanpa sebab. Ilmu itu adalah ilmu Ladunni yang oleh Allah hanya khusus diberikan pada kekasih-kekasih-Nya saja.

Karena demikian tinggi dan luasnya ilmu sang wali ini, suatu ketika ia memaparkan suatu masalah pada orang di sekitarnya dengan bahasa Isyarat dan Ahwal yang menawan. Seketika itu para ahli ilmu fiqih dan ilmu ‘dhahir’ timbul rasa iri dan dan tidak senang karena Dzunnun telah berani masuk dalam wilayah (ilmu fiqih) mereka. Lebih-lebih ternyata Dzunnun mempunyai kelebihan ilmu Robbany yang tidak mereka punyai. Tanpa pikir panjang mereka mengadukannya pada Khalifah al-Mutawakkil di Baghdad dengan tuduhan sebagai orang Zindiq yang memporak-porandakan syari’at. Dengan tangan dirantai sufi besar ini dipanggil oleh Khalifah bersama murid-muridnya. “Benarkah engkau ini zahidnya negeri Mesir?”. Tanya khalifah kemudian. “Begitulah mereka mengatakan”. Salah satu pegawai raja menyela : “Amir al-Mu’minin senang mendengarkan perkataan orang yang zuhud, kalau engkau memang zuhud ayo bicaralah”.

Dzunnun menundukkan muka sebentar lalu berkata “Wahai amiirul mukminin…. Sungguh Allah mempunyai hamba-hamba yang menyembahnya dengan cara yang rahasia, tulus hanya karena-Nya. Kemudian Allah memuliakan mereka dengan balasan rasa syukur yang tulus pula. Mereka adalah orang-orang yang buku catatan amal baiknya kosong tanpa diisi oleh malaikat. Ketika buku tadi sampai ke hadirat Allah SWT, Allah akan mengisinya dengan rahasia yang diberikan langsung pada mereka. Badan mereka adalah duniawi, tapi hati adalah samawi…….”.

Dzunnun meneruskan mauidzoh-nya sementara air mata Khalifah terus mengalir. Setelah selesai berceramah, hati Khalifah telah terpenuhi oleh rasa hormat yang mendalam terhadap Dzunnun. Dengan wibawa khalifah berkata pada orang-orang datang menghadiri mahkamah ini : “Kalau mereka ini orang-orang Zindiq maka tidak ada seorang muslim pun di muka bumi ini”. Sejak saat itu Khalifah al-Mutawaakil ketika disebutkan padanya orang yang Wara’ maka dia akan menangis dan berkata “Ketika disebut orang yang Wara’ maka marilah kita menyebut Dzunnun”.

Kesabaran Dzun Nun al-Misri

Dzun Nun al-Misri mempunyai seorang anak perempuan yang sangat saleh. Ketika putrinya masih sangat muda, dia bersama bapaknya ke laut dan menjala ikan. Dzun Nun masuk ke air, dan putrinya menunggu di bibir pantai. Setelah beberapa lama menebar jala, tak satupun ikan yang dapat, namun pada akhirnya, dia mendapatkan ikan besar yang tersangkut di jalanya. Ketika Dzun Nun siap memasukkan ikan hasil tangkapannya itu ke dalam wadah ikan, putrinya segera mengambil ikan itu dan melepaskannya kembali ke dalam air laut. Ikan itu berenang menjauh ke tengah laut.

Dzun Nun kaget dan bertanya pada putrinya, “Mengapa engkau membuang ikan hasil tangkapan kita?” “Aku menyaksikan ikan itu tengah menggerakan mulutnya. Aku lihat dia sedang berzikir dan menyebut nama Allah. Aku tidak mau memakan mahluk yang berzikir kepada Allah.” Jawab anaknya.

Putri Dzun Nun memegang tangan Bapaknya seraya berkata, “Bersabarlah, Bapak. Kita seharusnya berserah diri kepada Allah. Sesungguhnya Dia akan memberi rizki kepada kita”.

Mereka berdua kemudian shalat di tepi pantai dan tawakkal kepada Allah. Hingga sore hari. Akhirnya mereka pulang ke rumah. Setelah sholat isya’, tempat makan mereka penuh dengan makanan. Makanan itu dikirim oleh Allah untuk mereka. Setiap hari, selama lebih dari sebelas tahun. Sampai pada suatu hari ketika anaknya meninggal dunia, mendahului bapaknya, saat itu pula, makanan itu sudah tidak ada lagi di tempat makanan. Dia akhirnya sadar bahwa, kesabaran anaknya itu membuahkan kasih sayang Allah padanya. .

Kunci kesabaran di sini adalah berserah pada kuasa Allah, tak ada yang akan kelaparan dan mati di dunia secara sia-sia. Allah akan memberikan rizki pada semua manusia, bahkan dengan tawakkal, sabar dan berserah diri pada Allah, Dia tidak akan membiarkan Hambanya terlantar dan menderita.

Dalam suasana krisis seperti ini, harapan dan usaha perlu diseimbangkan. Sabar tidak membuat manusia malas-malasan dan hanya berserah diri, namun sabar adalah benteng untuk menahan diri menghabiskan isi bumi dengan serakah. Semua harus berusaha dan berupaya agar dapat melanjutkan hidup dan kuat terhadap apa yang terjadi.

Pujian para ulama’ terhadap Dzun-Nun

Tidak ada maksud paparan berikut ini supaya Dzunnun al-Misri menjadi lebih terpuji. Sebab apa yang dia harapkan dari pujian makhluk sendiri ketika Yang Maha Sempurna sudah memujinya. Apa artinya sanjungan berjuta manusia dibanding belaian kasih Yang Maha Penyayang ?. Dan hanya dengan harapan semoga semua menjadi hikmah dan manfaat bagi semua paparan berikut ini hadir.

Imam Qusyairy dalam kitab Risalah-nya mengatakan “Dzunnun adalah orang yang tinggi dalam ilmu ini (Tasawwuf) dan tidak ada bandingannya. Ia sempurna dalam Wara’, Haal, dan adab”. Tak kurang Abu Abdillah Ahmad bin Yahya al-Jalak mengatakan “Saya telah menemui 600 guru dan aku tidak menemukan seperti keempat orang ini : Dzunnun al-Misry, ayahku, Abu Turob, dan Abu Abid al-Basry”. Seperti berlomba memujinya sufi terbesar dan ternama Syaikh Muhiddin ibn Araby Sulton al-Arifin dalam hal ini mengatakan “Dzunnun telah menjadi Imam, bahkan Imam kita”.

Pujian dan penghormatan pada Dzunnun bukan hanya diungkapkan dengan kata-kata. Imam al-Munawi dalam Tobaqoh-nya bercerita : “Sahl al-Tustari (salah satu Imam tasawwuf yang besar) dalam beberapa tahun tidak duduk maupun berdiri bersandar pada mihrab. Ia juga seperti tidak berani berbicara. Suatu ketika ia menangis, bersandar dan bicara tentang makna-makna yang tinggi dan Isyaraat yang menakjubkan. Ketika ditanya tentang ini, ia menjawab “Dulu waktu Dzunnun al-Misri masih hidup, aku tidak berani berbicara tidak berani bersandar pada mihrab karena menghormati beliau. Sekarang beliau telah wafat, dan seseorang berkata padaku padaku : berbicaralah!! Engkau telah diberi izin”.

Cinta dan ma’rifat

Suatu ketika Dzunnun ditanya seseorang : “Dengan apa Tuan mengetahui Tuhan?”. “Aku mengetahui Tuhanku dengan Tuhanku “,jawab Dzunnun. “kalau tidak ada Tuhanku maka aku tidak akan tahu Tuhanku”. Lebih jauh tentang ma’rifat ia memaparkan : “Orang yang paling tahu akan Allah adalah yang paling bingung tentang-Nya”. “Ma’rifat bisa didapat dengan tiga cara: dengan melihat pada sesuatu bagaimana Dia mengaturnya, dengan melihat keputusan-keputusan-Nya, bagaimana Allah telah memastikannya. Dengan merenungkan makhluq, bagaimana Allah menjadikannya”.

Tentang cinta ia berkata : “Katakan pada orang yang memperlihatkan kecintaannya pada Allah, katakan supaya ia berhati-hati, jangan sampai merendah pada selain Allah!. Salah satu tanda orang yang cinta pada Allah adalah dia tidak punya kebutuhan pada selain Allah”. “Salah satu tanda orang yang cinta pada Allah adalah mengikuti kekasih Allah Nabi Muhammad SAW dalam akhlak, perbuatan, perintah dan sunnah-sunnahnya”. “Pangkal dari jalan (Islam) ini ada pada empat perkara: “cinta pada Yang Agung, benci kepada yang Fana, mengikuti pada Alquran yang diturunkan, dan takut akan tergelincir (dalam kesesatan)”.

Karomah Dzun Nunal-Misri

Imam al-Nabhani dalam kitabnya “Jami’ al-karamaat “ mengatakan: “Diceritakan dari Ahmad bin Muhammad al-Sulami: “Suatu ketika aku menghadap pada Dzunnun, lalu aku melihat di depan beliau ada mangkuk dari emas dan di sekitarnya ada kayu menyan dan minyak Ambar. Lalu beliau berkata padaku “engkau adalah orang yang biasa datang ke hadapan para raja ketika dalam keadaan bergembira”. Menjelang aku pamit beliau memberiku satu dirham. Dengan izin Allah uang yang hanya satu dirham itu bisa aku jadikan bekal sampai kota Balkh (kota di Iran).

Suatu hari Abu Ja’far ada di samping Dzunnun. Lalu mereka berbicara tentang ketundukan benda-benda pada wali-wali Allah. Dzunnun mengatakan “Termasuk ketundukan adalah ketika aku mengatakan pada ranjang tidur ini supaya berjalan di penjuru empat rumah lalu kembali pada tempat asalnya”. Maka ranjang itu berputar pada penjuru rumah dan kembali ke tempat asalnya.

Imam Abdul Wahhab al-Sya’roni mengatakan: “Suatu hari ada perempuan yang datang pada Dzunnun lalu berkata “Anakku telah dimangsa buaya”. Ketika melihat duka yang mendalam dari perempuan tadi, Dzunnun datang ke sungai Nil sambil berkata “Ya Allah… keluarkan buaya itu”. Lalu keluarlah buaya, Dzunnun membedah perutnya dan mengeluarkan bayi perempuan tadi, dalam keadaan hidup dan sehat. Kemudian perempuan tadi mengambilnya dan berkata “Maafkanlah aku, karena dulu ketika aku melihatmu selalu aku merendahkanmu. Sekarang aku bertaubat kepada Allah SWT”.

Pemuda Yang Berjalan Diatas Air

Diantara cerita yang diriwayatkan mengenai para kekasih Allah atau wali Allah adalah cerita yang diberitakan oleh Zin-Nun rahimahullah, katanya :

Sekali peristiwa, saya bercadang untuk pergi keseberang laut untuk mencari sustu barang yang saya perlukannya dari sana. Saya   pun menempah suatu tempat disebuah kapal. Bila tiba waktu itu aka berangkat , saya lihat penumpang penumpangnya yang menaikki terlalu banyak sekali bilanggannya, yang kebanyakannya dating dari tempat yang jauh , sehingga kapal itu penuh sesak dengan penumpang.

Saya terus mengamati amati wajah wajah penumpang itu, dan saya lihat diantaranya ada seorang pemuda yang sangat kacak rupanya , wajahnya bersinar cahaya, dan dia duduk ditempatnya dalam keadaan tenang sekali,tidk seperti penumpang penumpang lain, terus mundar mandir diatas kapal itu. Udara atas kapal itu agak panas, meski pun angina laut bertiupan, sekali panasnya dating dari sebab terlalu banyak penumpang yang berhimpit hempit diantara satu dengan yang lain.

Pada mulanya kapal itu belayar dengan lancer sekali, kerana baarang kali lautnya tenang tidak bergelombang, dan angit  pun tidak bertiup kencang, kecuali sekali sekala saja, dan kalau ada pun hanya ombak ombak kecil biasa dihadapinya.

Dalam keadaan yang begitu tenang diatas kapal itu, tiba tiba kami dikejutkan oleh suatu pemberitahuan umum yang mengatakan bahawa nakhoda kapal  itu   telah   kehilanggan suatu barang sangat berharga, dan hendaklah semua penumpamn penumpang kapal duduk ditempat masing masing, erana sustu pengeledahan akan di jalankan tidak lama lagi untuk mencari barang yang hilang itu.

Kinipenumpang penumpang kapal kecoh berbicara antara satu dengan yang lain mengenai barang yang hilang itu. Masing masing cuba mengeluarkan pendapat bagaimana barang itu boleh hilang. Saya sendiri merasa hairan bagaimana barang nakhada itu boleh hilang ? Apa kah dicuri orang ? atau pun barangkali keciciran kerana manusia diatas kapal itu terlalu banyak .

Sebentar  lagi nakhoda kapal mengumumkan:

‘semua penumpang hendaklah berada ditempatnya. Sekarang kami akan memulakan penggeledahan !’

Pengeledahan pun dimulakan oleh beberapa org pegawai kapal itu. Penumpang penumpang itu semuanya ribut , baik lelaki mau pun wanitnya. Mereka digeledah satu satu cukup parinya. Begitu pula tempat tidur mereka dibentangkan dan diraba, kalau kalau barang itu disembunyikan dicelah celahnya. Na,un barang itu masih belum diketemui lagi. Akhirnya sampailah giliran tempat si pemuda  tampan untuk digeledah. Pada mulanya pemuda itu duduk ditempatnya  dengan tenang sekali . tetapi oleh kerana dia orang yang terakhir  yang diperiksa , maka muka muka orang ramai seolah olah mengancam memerhatikannya. Mungkin ada orang yang mengatakan didalam hatinya, barangkali  pemuda inilah yang mencuri barang itu. Apabila pemuda itu dikasari  oleh pegawai pegawai kapal itu dalam pemeriksaanya lalu dia  melompat ketepiseraya memprotes: ‘ saya bukan pencuri, kenapa saya dilakukan begitu kasar?’ Lantaran pemuda itulah satu satunya  orang yang membantah, maka disangka pegawai pegawai kapal itu dial ah pencuri barang itu. Mereka mahu menangkapnya, maka pemuda itu pun meronta lalu menerjunkan diri kemuka laut.orang ramai menyerbu  kepinggir kapal hendak melihat pemuda yang terjun  kedalam laut itu. Yang menghairankan bahawa pemuda itu tidak tengelam, malah dia duduk dimuka laut itu, sebagaimana dia duduk diatas kerusa dan tidak tengelam. Pemuda itu lalu berkata dengan suara yang keras:

‘Ya Tuhanku ! Mereka sekaian menuduh ku sebagai pencuri ! Demi Zat Mu , wahai Tuan Pembela orang yang terinaya ! Perintahkan lah kiranya semua ikan ikan dilaut ini supaya timbul dan membawa dimulutnya permata permata yang berharga !’

Penumpang penumpang  terus merenungkan pandangannya kelaut  sekitar kapal itu  ingin melihat jika benar ikan ikan itu akan  timbul membaw  dimulut nya permata permata yang berharga ? saya juga ikut sama  memerhatikan permukaan air itu.

Memang benar , dengan kuasa Allah , permintaan pemuda itu dikabulkan Tuhan, timbul disekitar kapal itu beribu ribu ikan dan kelihatan dimulut mulutnya batu batu putih  dan merah  berkilauan cahayanya , hingga membuat mata mata yang memandangnya silau kerananya. Semua orang disitu bersorak menepuk tangan kepada pemuda itu.

Saya terus tercengang, tidak dapat berkata apa apa pun. Nakhoda kapal dan peawai pegawai kapal itu bingung, seolah olah dia tidak percaya apa yang dilihatnya.

‘Apakah kamu masih menuduh ku mencuri, padahal perbendaharaan  Allah ada ditangan ku, jika aku mahu  boleh aku ambil ?’ Pemuda itu kemudiannya memerintahkan ikan ikan itu supaya kembali ketempatnya, maka tengelamlah semuanyasemula ikan ikan tadi, dan orang orang diatas kapal it uterus besorak lagi.

Pemuda itu lalu berdiri diatas air itu, kemudian berjalan diatasnya secepat kilat sementara lisannya terus mengucapkan :        surah Al-fatihah: 4

‘Hanya kepada Mu lah  aku menyembah , dan hanya kepada Mu pula aku meminta bantuan.’’

Dia terus menjauhi kami, sehingga hilang dari pandangan kami. Saya sama sekali tidak menduga , bahawa pemuda ini kemungkinan sekali termasuk kedalam golongan ahli Allah, yang pernah diterangkan oleh Rasulullah s.a.w. dalam sabdanya yang berbunyi :

“akan tetap ada dalam umat ku sebanyak tiga puluh orang lelaki, hati hati mereka sepadan dengan hati Nabi Allah Ibrahim a.s. setiap mati seorang di antara mereka, diganti Allah seorang lain ditempatnya.”

Tukang emas lah yang tau harga emas

Seorang pemuda mendatangi Zun-Nun dan bertanya, “Guru, saya tak mengerti mengapa orang seperti Anda mesti berpakaian apa adanya, amat sangat sederhana. Bukankah di masa seperti ini berpakaian sebaik-baiknya amat perlu, bukan hanya untuk penampilan melainkan juga untuk banyak tujuan lain.”

Sang sufi hanya tersenyum. Ia lalu melepaskan cincin dari salah satu jarinya, lalu berkata, “Sobat muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lebih dahulu lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang sana. Bisakah kamu menjualnya seharga satu keping emas?”

Melihat cincin Zun-Nun yang kotor, pemuda tadi merasa ragu, “Satu keping emas? Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu.”

“Cobalah dulu, sobat muda. Siapa tahu kamu berhasil.”

Pemuda itu pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang kain, pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada yang lainnya. Ternyata, tak seorang pun berani membeli seharga satu keping emas. Mereka menawarnya hanya satu keping perak. Tentu saja, pemuda itu tak berani menjualnya dengan harga satu keping perak. Ia kembali ke padepokan Zun-Nun dan melapor, “Guru, tak seorang pun berani menawar lebih dari satu keping perak.”

Zun-Nun, sambil tetap tersenyum arif, berkata, “Sekarang pergilah kamu ke toko emas di belakang jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas di sana. Jangan buka harga, dengarkan saja bagaimana ia memberikan penilaian.”

Pemuda itu pun pergi ke toko emas yang dimaksud. Ia kembali kepada Zun-Nun dengan raut wajah yang lain. Ia kemudian melapor, “Guru, ternyata para pedagang di pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini. Pedagang emas menawarnya dengan harga seribu keping emas.

Rupanya nilai cincin ini seribu kali lebih tinggi daripada yang ditawar oleh para pedagang di pasar.”

Zun-Nun tersenyum simpul sambil berujar lirih, “Itulah jawaban atas pertanyaanmu tadi sobat muda. Seseorang tak bisa dinilai dari pakaiannya. Hanya “para pedagang sayur, ikan dan daging di pasar” yang menilai demikian. Namun tidak bagi “pedagang emas”.

“Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat dan dinilai jika kita mampu melihat ke kedalaman jiwa. Diperlukan kearifan untuk menjenguknya. Dan itu butuh proses, wahai sobat mudaku. Kita tak bisa menilainya hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita dengar dan lihat sekilas. Seringkali yang disangka emas ternyata loyang dan yang kita lihat sebagai loyang ternyata emas.”

‘Ingin’

Seorang yang berharap diterima sebagai murid berkata kepada pada Dhu al-Nun, “Saya ingin bergabung dalam Jalan Kebenaran melebihi apapun di dunia ini.”

Dan inilah yang dikatakan Dhu al-Nun kepadanya: “Kau boleh ikut serta dalam kafilah kami jika kau terima dua hal lebih dulu. Yang pertama, kau harus melakukan hal-hal yang tak ingin kau lakukan. Kedua, kau tidak akan diizinkan melakukan hal-hal yang ingin kau lakukan.

Ingin adalah apa yang berdiri di antara manusia dan Jalan Kebenaran.”

Kasih Tuhan Tak Berbatas

Suatu hari, Dzun nun hendak mencuci pakaian di tepi sungai Nil. Tiba-tiba ia melihat seekor kalajengking yang sangat besar. Binatang itu mendekati dirinya dan segera akan menyengatnya.

Dihinggapi rasa cemas, Dzunnun memohon perlindungan kepada Allah swt agar terhindar dari cengkeraman hewan itu. Ketika itu pula, kalajengking itu membelok dan berjalan cepat menyusuri tepian sungai.

Dzunnun pun mengikuti di belakangnya. Tidak lama setelah itu, si kalajengking terus berjalan mendatangi pohon yang rindang dan berdaun banyak. Di bawahnya, berbaring seorang pemuda yang sedang dalam keadaan mabuk. Si kalajengking datang mendekati pemuda itu. Dzunnun merasa khawatir kalau-kalau kalajengking itu akan membunuh pemuda mabuk itu.

Dzunnun semakin terkejut ketika melihat di dekat pemuda itu terdapat seekor ular besar yang hendak menyerang pemuda itu pula. Akan tetapi yang terjadi kemudian adalah di luar dugaan Dzunnun. Tiba-tiba kalajengking itu berkelahi melawan ular dan menyengat kepalanya. Ular itu pun tergeletak tak berkutik.

Sesudah itu, kalajengking kembali ke sungai meninggalkan pemuda mabuk di bawah pohon. Dzunnun duduk di sisi pemuda itu dan melantunkan syair, Wahai orang yang sedang terlelap, ketahuilah, Yang Maha Agung selalu menjaga dari setiap kekejian yang menimbulkan kesesatan. Mengapa si pemilik mata boleh sampai tertidur? Padahal mata itu dapat mendatangkan berbagai kenikmatan

Pemuda mabuk itu mendengar syair Dzunnun dan bangun dengan terperanjat kaget. Segera Dzunnun menceritakan kepadanya segala yang telah terjadi.

Setelah mendengar penjelasan Dzunnun, pemuda itu sadar. Betapa kasih sayang Allah sangat besar kepada hambanya. Bahkan kepada seorang pemabuk seperti dirinya, Allah masih memberikan perlindungan dan penjagaan-Nya

Demikianlah sekelumit kisah perjalanan hidup waliyullah, sufi besar Dzun Nun al-Misri yang wafat pada tahun 245 H. Semoga Allah meridlainya. Amin. ####

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 25 Komentar

AMALAN REZEKI LANCAR DAN HUTANG LUNAS


Ijazah doa dari Abah Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya dan Abu Sayid Muhammad bin Alwy al-Maliki

Doa ini dibaca setiap sehabis sholat 5 waktu, sebanyak tiga kali agar lebih segera terkabul. Ini doanya:

ALLAHUMMA INNI A’UDZUBIKA MINAL HAMMI WAL HAZAN, WA A’UDZUBIKA MINAL ‘AJZI WAL KASALI, WA A’UDZUBIKA MINAL JUBNI WAL BUKHLI, WA A’UDZUBIKA MIN GHLABATID DAYNI WA QAHRIR RIJAAL.

Artinya:
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesusahan dan kedukaan, aku berlindung kepada-Mu dari lemah dan malas, aku berlindung kepada-Mu dari takut (miskin) dan kikir, aku berlindung kepada-Mu dari banyaknya hutang dan paksaan orang-orang.

Lanjutkan dengan wirid setiap usai sholat sunnah 2 rakaat sebelum sholat fardhu subuh….

SUBHANALLAH WA BIHAMDI, SUBHANALLAH AL-AZHIM, ASTAGFIRULLAH 100X
Artinya:
Maha Suci Allah dengan segala puji-Nya, Maha Suci Allah Yang Maha Agung, aku memohon ampunan-Mu

Pegang dada sebelah kiri (jantung) dengan tangan kanan sambil membaca
YAA FATTAH YAA RAZZAQ 70X

Artinya: Yang Maha Pembuka, Yang Maha Pemberi Rezeki

Ijazah selesai terima kasih.

@@@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 222 Komentar

ROTIB AL ATHTHAS


===Sangat disayangkan bila untaian doa-doa mustajabah yang luar biasa dari Rotib Al Athtas ini terlewatkan dari wawasan kita. Selamat membaca dan semoga mendapatkan barokah++=== salam.

AUDZUBILLAHIMINASSYAITONIRROJIM

BISMILLAHIR-ROHMAANIR-RAHIIM. ALHAMDULILLAHI RABBIL ‘AALAMIINA HAMDAN YUWAFII NI’MAHU WAYUKAAFII MAZIDAHU, YAA RABBANA LAKAL HAMDU KAMAA YANBAGHI LIJALAALI WAJHIKA WALI’AZHIIMI SULTHAANIK, AL-FAATIHAH ILAA HADHRATI HABIIBINA WA SAYYIDINA MUHAMMAD SAW. WA MAN WALAHU, ILAA RUUHI SAYIDINA AL-HABIB UMAR BIN ABDURRAHMAN AL-ATHTHAS SHAAHIBU RATIB, WA SYAIKH ALI BIN ABDULLAH AL-BAROS WA USHULIHIM WA FURU’IHIM, INNA ALLAHA YATAGHASYSYAHUM BIR-RAHMATI WAL MAGHFIRATI AL-FAATIHAH…..

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, pujian yang dapat memenuhi tuntutan syukur atas nikmat-nikmat-Nya, Ya Robbana, bagi Mu lah segala pujian sebagaimana layaknya dengan kemuliaan wajah Mu dan kebesaran kekuasaan Mu. Al-Fatihah untuk kehadirat Tuanku, kekasih kami, dan pemberi syafa’at kami, pemimpin kami, Baginda Nabi Muhammad SAW dan keluarga, sahabat orang yang mengikutinya, dan ruhnya sayidina Al-Habib Umar bin Abdurrahman Al-Aththas penyusun ratib ini , dan syaikh Ali bin Abdullah Al-Baros serta asal usul dan keturunan mereka, sesungguhnya Allah akan menolong mereka dengan rahmat dan ampunan, Al-Fatihah……

LAU ANZALNAA HAADZAL QUR’AANA ‘ALAA JABALIN LARAITAHU KHAASYI’AN MUTASHADDI’AN MIN KHASY-YATILLAAHI WATILKAL AMTSAALU NADHRIBUHAA LINNAASI LA’ALLAHUM YATAKKAFARUUN. HUWALLAHUL LADZII LAA ILAAHA ILLAA HUWA ‘AALIMUL GHAIBI WASY-SYAHAADATI HUWAR RAHMAANUR RAHIIMU. HUWALLAAHUL LADZII LAA ILAAHA ILLAA HUWAL MALIKUL QUDDUUSUS SALAAMUL MU’MINUL MUHAIMINUL ‘AZIIZUL JABBARUL MUKABBIRU SUBHAANALLAAHI ‘AMMAA YUSYRIKUUNA. HUWALLAAHUL KHAALIQUL BAARI-UL MUSHAWWIRU LAHUL ASMAA-UL HUSNA YUSABBIHU LAHUU MAA FIS SAMAAWAATI WAL ARDHI WA HUWAL ‘AZIIZUL HAKIIM.

A’UUDZU BILLAHIS SAMII’IL ‘ALIIMI MINASYAITHAANIR RAJIIM (3X)
“Aku berlindung pada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari godaan syetan yang terkutuk” (3x)

A’UUDZU BIKALIMAATILLAHIT TAAMMAATI MIN SYARRI MAA KHALAQ (3X)
“Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna, dari kejahatan apa-apa yang diciptakan-Nya” 3x

BISMILLAAHIL LADZIY LAA YADHURRU MA’ASMIHII SYAI-UN FIL ARDHI WALAA FIS SAMAA’II WAHUWAS SAMII’UL ‘ALIIM. (3X)
“Dengan nama Allah yang tidak ada sesuatu pun dapat memberi mudharat, baik di bumi maupun di langit dan Dia- lah Tuhan yang maha mendengar lagi maha mengetahui” 3x

BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM WA LAHAWLAA WA LAQUWWATA ILLAA BILLAAHI ‘AALIYYIL ‘AZHIIM. (10X)
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tiada daya dan tiada kekuatan dari Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung”(10x)

BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM (3X)
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”(3x)

BISMILLAAHI TAHASHSHANNAA BILLAHI BISMILLAAHI TAWAKKALNA ‘ALAALLAH (3X)
“Dengan nama Allah aku berlindung dengan Allah. Dengan nama Allah aku berserah diri pada Allah”(3x)

BISMILLAHI AAMANNAABILLAAHI WA MAN YU’MIN BILLAAHI LAKHAUFUN ‘ALAYHI (3X)
“Dengan nama Allah aku beriman kepada Allah. Barangsiapa beriman kepada Allah maka tiada takut baginya”(3x)

SUBHANALLAHI ‘AZALLAHU SUBHANALLAHI JALLALLAAHU
“Maha suci Allah, Maha Mulia Allah, Maha suci Allah Maha Agung Allah”(3x)

SUBHAANALLAAHI WA BIHAMDIHII SUBHAANALLAAHIL ‘AZHIIM (3X)
“Maha Suci Allah dengan segala puji kepada-Nya dan Maha Suci Allah Yang Maha Agung.” (3x)

SUBHANANALLAAHI WALHAMDULILLAAHI WALAA ILAAHA ILLALLAAHA WALLAAHU AKBAR (4X)
“Maha Suci Allah, dan segala puji hanya khusus bagi Allah, dan tiada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali hanyalah Allah dan Allah Tuhan Yang Maha Besar.” (4x)

YAA LATHIIFAN BI KHALQIH, YAA ‘AALIMAN BI KHALQIH, YAA KHABIIRAN BI KHALQIH, ULTHUF BINA YA LATHIIFU, YA ‘ALIIMU, YA KHABIIR 3X
“Yang Maha Lembut terhadap makhluk-NYA, Yang Maha Mengetahui terhadap makhluk-NYA, Yang Maha Mengamati terhadap makhlukNYA, berlemah lembutlah kepada kami Yang Maha Lembut, Yang Maha Mengetahui, Yang Maha Mengamati” 3x

LAA ILAHA ILLAALLAHU (40/70/100X) MUHAMMADUR RASULULLAAH
“Tiada yang wajib disembah selain Allah (40/70/100x) Muhammad adalah rasul Allah”

HASBUNALLAAHU WA NI’MAL WAKIIL (7X)
Bagi kami cukup Allah sebagai pelindung kami dan Dia adalah sebaik-baiknya Penolong

ALLAHUMM SHALLI ‘ALAA MUHAMMADIN, ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAIHI WASSALLIM (11X)
“Wahai Tuhan kami, berilah shalawat/rahmat-Mu kepada Nabi Muhammad, Ya Tuhan Kami berilah shalawat/rahmat-Mu kepadanya dan kesejahteraan-Mu.” 11x

ASTAGHFIRULLAHI (11X)
“Aku mohon ampunan Allah” (11x)

TA’IBU ‘ILAALLAAHU (3X)
Semoga aku termasuk golongan orang yang taubat kepad Allah

YA ALLAH BIHA, YA ALLAH BIHA, YA ALLAHU BI HUSNIL KHATIMAH 3X
“Ya Allah dengan kalimahMU, Ya Allah dengan kalimahMU, Ya Allah karuniailah kami husnul khatimah (akhir hayat yang baik)” 3x

GHUFRAANAKA RABBANAA WA ILAIKAL MASHIIR.
LAA YUKALLIFULLAAHU NAFSAN ILLA WUS’AHAA LAHAA MAA KASABAT WA’ALAIHAA MAKTASABAT, RABBANA LAA TU-AAKHIDZNAA IN NASIINAA AU AKHTHA’NAA RABBANAA WALAA TAHMIL ‘ALAINAA ISHRAN KAMAA HAMALTAHUU ‘ALAL LADZIINA MIN QABLINAA RABBANAA WALAA TUHAMMILNAA MAA LAA THAAQATA LANAA BIH, WA’FU’ANNA WAGHFIRLANAA WARHAMNAA ANTA MAULAANAA FANSHURNAA ‘ALAL QAUMIL KAAFIRIIN.

“ampunilah kami Ya Tuhan kami dan kepadaMu-lah kami kembali.
Allah tidak membebani seseorang melainkan lebih dari kemampuannya. Ia mendapat pahala dari kebajikan yang diusahakannya dan ia mendapat siksa dari kejahatan yang dikerjakannya (mereka berdo’a) Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada oramg-orang sebelum kami, Ya Tuhan kami janganlah pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami.”

AL-FATIHAH ILAA HADHRATI RUUHI SAYYIDINA WA HABIIBINA WA SYAFI”INA WA MAULANA MUSTHAFA MUHAMMAD BIN ABDULLAH SAW WA AALIHI WA ASHAABIHI WA DZURRIYAATIHI WA AHLI BAITIHIIM AJMAA’IN. INNALLAAHA YUKLII DARAJAATIHIM FIL JANNAAH WA YAN FA’UNAA BIASRAARIHIM WA ANWAARIHIM WA ‘ULUUMIHIM WA SYAFA’ATIHIM WA BIHURMATIHIM FID DIIN WA DUNYAA WAL AKHIRAATI WAYAJ ’ALUUNAA MIN HIZBIHIM WA YARZUQUUNA MAHABBATAHUM WA YATAWAFFANAA ‘ALAA MILLATIHIM WA YAHSYARNAA FII ZUMRATIHIM. SYAILI-LLAAHI LAHUM AL-FATIHAH…..

“Kami membaca Al Fatihah dengan niat semoga pahalanya disampaikan Allah kepada hadirat penghulu kami, kecintaan kami dan pemberi syafaat kami, Rasullullah Muhammad bin Abdillah SAW, juga kepada keluarganya, sahabat – sahabatnya, istri – istri nya dan anak cucu nya, dengan harapan semoga Allah meninggikan derajat mereka di dalam surga, dan semoga Allah memberi manfaat kepada kami dengan Rahasia mereka, cahaya mereka dan ilmu mereka dalam urusan agama dan dunia, dan semoga Allah menjadikan kami termasuk golongan mereka, dan mengaruniai kami kecintaan terhadap mereka, serta mewafatkan kami atas agama mereka dan membangkitkan kami dalam barisan mereka. Al Fatihah semoga Allah memberikan pahala kepada kamu sekalian.”

AL-FATIHAH ILAA HADHRATI RUUHI SAYYIDINA AHMAD BIN ISA AL-MUHAJIR WA SAYIDINA AL-FAQIH AL-MUQADDAM MUHAMMAD BIN ALI BA’ALAWY WA SAYIIDIL AL-HABIB ABDURRAHMAN BIN MUHAMMAD AS-SEQAFF, WA USHUULIHIM WA FURUU’IHIM WA AHLI SILSILAATIHIM WAL AKHIDZIINA MINHUM WAL JAMI’I SADATINA ALII BA’ALAWY WA DZAWIIL HUQUUQI ‘ALAYHIM ‘AJMA’IIN. INNALLAAHA YAGHFIRULLAHUM WA YARHAMHUM WA YUKLII DARAJAATIHIM FIL JANNAAH WA YAN FA’UNAA BI BARAKATIHIM WA ASRAARIHIM WA ANWAARIHIM WA ‘ULUUMIHIM WA SYAFA’ATIHIM WA BIHURMATIHIM FID DIIN WA DUNYAA WAL AKHIRAATI. SYAILI-LLAAHI LAHUM AL-FATIHAH…..

“Kami membaca Al Fatihah dengan niat semoga pahalanya disampaikan kepada ruh Sayyidinal Imam al Mujahir Ilallah, Ahmad bin Isa, dan kepada ruh Al Fagihil Muqaddam bin Ali Ba Alawy juga kepada nenek moyang dan anak cucu keduanya, semua dengan harapan semoga Allah mengampuni mereka, menyayangi mereka serta meninggikan derajat mereka di dalam surga, dan semoga Allah memberi manfaat kepada kami dengan Asror mereka, cahaya mereka, dan ilmu mereka di dalam agama, dunia, dan akhirat, Al Fatihah”

KHUSHUSHAN AL-FATIHAH ILAA HADHRATI RUUHI SAYYIDINA WA HABIBINA WA BARAKATINA SHAHIBI RATIB QUTHBI ANFAS AL-HABIB UMAR BIN ABDURRAHMAN AL-ATHTHAS TSUMMA ILAA RUUHI SYAIKH ALI BIN ABDULLAH AL-BAROS, WA USHUULIHIM WA FURUU’IHIM WA AHLI SILSILAATIHIM WAL AKHIDZIINA MINHUM, INNALLAHA YAGHFIRULLAHUM WA YARHAMHUM WA YUKLII DARAAJATIHIM FIL JANNAAH WA YAN FA’UUNAA BI BARAKAATIHIM, WA ASRAARIHIM, WA ANWAARIHIM, WA ‘ULUMIHIM, WA NAFAKHATIHIM FII DIIN WA DUN-YAA WAL AKHIRAAT, SYAI-UN LILLAAHI LAHUM. AL-FATIHAH…..

“Kami membaca Al-Fatihah dengan niat semoga pahalanya disampaikan Allah kepada ruh penyusun ratib ini, sayyidina wa habiibina wali penolong, wali qutub yang utama, al-Habib Umar bin Abdurrahman Al-Aththas juga kepada ruh Syaikh Ali bin Abdullah Al-Baros, juga kepada nenek moyangnya, anak cucu mereka dan orang – orang yang mempunyai hak atas mereka semuanya, dengan harapan semoga Allah mengampuni mereka, menyayangi mereka dan meninggikan derajat mereka di surga, dan semoga Allah memberikan manfaat kepada kami dengan berkah mereka,Rahasia mereka, cahaya mereka, dan ilmu mereka juga semangat mereka di dalam agama, dunia dan akhirat, Al Fatihah.”

AL-FATIHAH ILLAA HADHRATI JAMI’IL AULIYA TA’ALA WA SHALIHIINA WAL IMMATIR-RASYIDIINA WAL ULAMA’I AMIILIIN, WA ILLAA HADHRATI WALIDIINA WA MASYAIKHINA WA MU’ALLIMIINA WA DZAWIIL HUQUUQI ‘ALAINAA AJMA’IN. TSUMMA ILLAA HADHRATI JAMII’IL MUKMINIINA WAL MUKMINAT WAL MUSLIMINA WAL MUSLIMAT AL-AHYAA’I WAL AMWAAT. INNALLAHA YAGHFIRULLAHUM WA YARHAMHUM WA YUKLII DARAAJATIHIM FIL JANNAAH WA YAN FA’UUNAA WA BARAKAATIHIM, WA ANWAARIHIM, WA ASRAARIHIM, WA ‘ULUUMIHIM FID DIIN WA DUNYAA WAL AKHIRAATI. SYAILI-LLAAHI LAHUM AL-FATIHAH…..

“Kami membaca Al Fatihah dengan niat semoga Allah menyampaikan pahalanya kepada arwah para aulia, orang – orang yang saleh dan pemimpin yang adil. Kemudian kepada arwah orang tua kami, guru – guru kami, mereka yang telah mengajar kepada kami, serta mereka yang mempunyai atas kami semuanya. Kemudian kepada arwah mukminin, mukminat, dan muslimin, muslimat, penduduk negeri ini, dengan harapan semoga Allah mengampuni mereka, menyayangi mereka dan meninggikan derajat mereka di dalam surga, dan semoga Allah memberikan manfaat kepada kami dari Rahasia mereka, cahaya mereka, dan ilmu mereka di dalam agama, dunia, dan akhirat, Al Fatihah.”

AL-FATIHAH BINIYYATIL QABUULI WA WUSHUULI WA HUSHULI TAMAMI KULLI SU’LIN WA MA’MUUL WA SHALAHISY-SYAANI ZHAHIRAAN WA BATHINAN FI DIIN WA DUNYA WAL AKHIRAT DAFI’ATAN LIKULLI SYARRIN JALIBATAN LIKULLI KHAIRIN LANA WALIDIINA WALI’AWLADINA WA ‘AHBAABINAA WA MASYAIKHINAA FID-DIINI MA’AL LUTHFI WAL ‘AAFIAH WA’ALAA NIYYATIN YUNAWWIRU QULUUBANA WA QUWWALIBANAA MA’AT TUQAA WAL HUDAA WAL’AFAAFA WAL MAUTI ‘ALAA DIINIL ISLAM WAL IIMAN BILAA MIHNATIN WA LAA IMTIHAANIN BI HAQQI SAYYIDINAA WALADI ‘ADNAAN WA LIKULLI NIYYATIN SHAALIHATIN WA ILLA HADHRATIL HABIIB MUSTHAFA MAULANA SAYIDINA MUHAMMAD SHALLALLAAHU ALAIHI WA AALIHII WA SHAHBIHI WA SALLAMA. AL-FATIHAH……

“Kami membaca Al Fatihah dengan niat semoga bacaan kami diterima dan sampai kepada Allah serta dapat mencapai semua yang dicita – citakan, mendapat perbaikan keadaan lahir dan batin dalam urusan agama, dunia dan akhirat, serta menolak semua kejahatan dan mendatangkan semua kebaikan, bagi kami, orang tua kami, orang – orang yang kami cintai, guru – guru kami dalam agama, disertai kelembutan dan kesejahteraan. Dan dengan niat semoga Allah menerangi kalbu dan sanubari kami dengan cahaya takwa, petunjuk dan penjauhan diri dari keinginan – keinginan hina, dan meninggal dunia dalam keadaan memeluk Islam dan iman, tanpa disertai bencana dan cobaan, berkat kemuliaan putra Adnan (Rasullullah) , mengumpulkan semua niat yang baik dan bertambah – tambah cinta kepada sayyidina Nabi Muhammad SAW wa shohbihi wa sallam, Al Fatihah.”

BISMILLAHIR-ROHMAANIR-RAHIIM.ALHAMDULILLAHIR-RABBIL-‘ALAAMIN.
AR-RAHMAANIR-RAHIIM (3X)
ALHAMDULILLAHI RABBIL ‘AALAMIINA HAMDAN YUWAFII NI’MAHU WAYUKAAFII MAZIDAHU, YAA RABBANA LAKAL HAMDU KAMAA YANBAGHI LIJALAALI WAJHIKA WALI’AZHIIMI SULTHAANIK
SUBHAANAKA LAA NUHSII TSANAA-AN ‘ALAIKA ANTA KAMA ATSNAITA’ALAA NAFSIKA FALAKAL HAMDU HATTA TARDLAA WA LAKAL HAMDU IDZAA RADLIITA WA LAKAL HAMDU BA’DAR RIDLAA.
ALLAHUMA SHALLI ‘ALAA SAYIDINA MUHAMMADIN FIL AWAALIN
ALLAHUMA SHALLI ‘ALAA SAYIDINA MUHAMMADIN FIL AAKHIRIN
ALLAHUMA SHALLI ‘ALAA SAYIDINA MUHAMMADIN FIN-NABIYYIN
ALLAHUMA SHALLI ‘ALAA SAYIDINA MUHAMMADIN FIL MURSALIIN
ALLAHUMA SHALLI ‘ALAA SAYIDINA MUHAMMADIN FIL MALA ILLA YAUMID-DIIN
ALLAHUMA SHALLI ‘ALAA SAYIDINA MUHAMMADIN FII KULLI WAQTIN WAHIIN
ALLAHUMA SHALLI ‘ALAA SAYIDINA MUHAMMADIN HATTA TARITSAL ARDLA WAMAN ‘ALAIHAA WA ANTA KHAIRUL WAARITSIINA.
ALLAAHUMMA INNAA NASTAHFIDHUKA WA NASTAUDI’UKA DIINANAA WA ANFUSANAA WA AHLANAA WA AULAADANA WA MASYAIKHINA WA AMWALAANA WA KULLA SYAI’IN A’THAITANAA.
ALLAHUMMAJ’ALNAA FII KANAFIKA WA AMAANIKA WA JIWAARIKA WA ‘IYAADZIKA MIN KULLI SYAITHAANIN MARIIDIN WA JABBARIN ‘ANIIDIN WA DZII’AININ WA DZII BAGHYIN WA MIN SYARRI KULLI DZII SYARRIN INNAKA ‘ALAA KULLI SYAI’IN QODIIR.
ALLAHUMMA JAMMILNAA BIL’AAFIYATI WAS SALAAMAATI WA HAQIQNAA BIT TAQWAA WAL ISTIQAMAATI WA A’IDZNAA MIN MUUJIBAATI NADAMATI FIL-HALI WAL MAALI INNAKA SAMII’UD DU’AAI.
ALLAHUMAGHFIRLANA WA LIWALIDIINA WA LI AWLADIINA WA MASYAIKHINA WA LII IKHWANINAA FID DIINI WA LI ASHABIINA WA ‘AHBAABINAA WA LIMAN AHABBANAA FIIKA WALIMAN AHSANA ILAINA WA MU’ALIMIINA FID-DIIN WA DZAWIIL HUQUUQI ‘ALAINAA AJMA’IN WA LIL JAMII’IL MUKMINIINA WAL MUKMINAT WAL MUSLIMINA WAL MUSLIMAT AL-AHYAA’I WAL AMWAAT INNAKA ALLA KULLI SYAI’IN QADIIR YAA RABBAL ‘ALAAMIIN.
WA SHALLI ALLAHUMMA BIJAMALIKA WA JALALIKA ‘ALAA SAYIDINA MUHAMMADIN WA ‘ALAA AALIHI WA SHAHBIHI AJMA’IN.
ALLAHUMMAR-ZUQNAA KAMAA LAL MUTABA’ATI LAHU ZHAHIRAN WA BATHINAN BIL ‘AFIYAATA WAL SALAMAH YAA ARHAMAR-RAHIIMIIN
SUBHAANAKA RABBIKA RABBIL ‘IZZATI ‘AMMA YASHIFUUNA WASALAMUN ‘ALAL MURSALIINA WAL HAMDULILLAHI RABBIL’AALAMIIN.

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, pujian yang dapat memenuhi tuntutan syukur atas nikmat – nikmat Nya.
Ya Robbana, bagi Mu lah segala pujian sebagaimana layaknya dengan kemuliaan wajah Mu dan kebesaran kekuasaan Mu. Maha Suci Engkau kami tidak mampu menghinggakan sanjungan kepada Mu, sebagaimana Engkau telah menyanjung diri Mu sendiri.Bagi Mu lah segala pujian hingga Engkau Ridho, bagi Mu lah segala pujian jika Engkau Ridha, dan bagi Mu lah segala pujian sesudah Engkau ridha.
Ya Allah limpahkanlah segala shalawat dan salam kepada penghulu kami Muhammad, di kalangan orang – orang permulaan; limpahkanlah shalawat dan salam kepada penghulu kami Muhammad dikalangan orang – orang kemudian ; limpahkanlah shalawat dan salam kepada penghulu kami Muhammad di setiap waktu dan saat ; limpahkanlah shalawat dan salam kepada penghulu kami Muhammad di kalangan malaikat hingga hari kiamat ; dan limpahkanlah shalawat dan salam kepada penghulu kami Muhammad hingga Engkau warisi bumi dan siapa – siapa yang ada di atasnya, sedang Engkau adalah sebaik – baik pemberi warisan.
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon perlindungan-MU dan kami titipkan kepadaMU agama, diri, keluarga, anak-anak, harta, dan segala sesuatu yang telah Kau berikan kepada kami.
Ya Allah jadikanlah kami selalu di bawah pengawasan, keamanan dan perlindungan-Mu dari godaan setan yang terkutuk, pengusa-pengusa yang keji, dari orang-orang yang berbuat aniaya dan dzalim dan dari segala sesuatu yang bersifat jahat. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas penentu segala sesuatu.
Ya Allah, tetapkanlah diri kami dengan kesehatan dan keselamatan, yakinlah diri kami dengan takwa dan istiqomah dan hindarkanlah kami dari penyebab-penyebab penyesalan, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar Segala doa.
Ya Allah ampunilah segala dosa kami semua, anak cucu keturunan kami, guru-guru kami, kedua orang tua kami, istri/suami kami kakek-nenek kami, keluarga kami, saudara-saudara kami, sanak kerabat kami, orang-orang dirumah kami, sahabat kami, orang-orang yang mencintai kami dan kecintaan kami karena Allah, orang-orang yang berbuat baik kepada kami, orang-orang yang mengajarkan agama kepada kami, orang-orang yang mempunyai hak atas kami, serta seluruh kaum muslimin muslimat wal mukminin mukminat.
Limpahkanlah shalawat ya Allah dengan keindahan dan keagunganMu atas junjungan kami Muhammad dan atas keluarganya dan semua sahabat-sahabatnya.
Ya Allah limpahkanlah/anugrahkan selalu kesempurnaan rezeki kepada kami untuk menjadi pengikutnya yang baik; lahir dan batin, dalam keadaan sejahtera dan selamat atas rahmat-Mu Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Dengan keutamaan ayat : Maha Suci Tuhanmu Tuhan Yang Maha Mulia dari apa yang disifatkan oleh orang orang kafir, dan sejahtera atas sekalian Rasul dan segala puji bagi Allah yang mempunyai alam semesta ini.”
@@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 26 Komentar

SHOLAWAT SULTHON


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ رَحْمَةِ الله
اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ فَضْلِ اللهِ
اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد بِعَدَدِ خَلْقِ اللهِ
اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ مَا فِى عِلْمِ اللهِ
اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ كَرَمِ اللهِ
اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ حُرُوْفِ كَلاَمِ اللهِ
اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ كَلِمَاتِ اللهِ
اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ قَطْرِ اْلاَمْطَارِ
اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ وَرَقِ اْلاَشْجَارِ
اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ رَمْلِ اْلقِفَارِ
اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ اْلحُبُوبِ وَ اْلثِمَارِ
اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ مَا اَظْلَمَ عَلَيْهِ اللَّيْلِ وَ اَشْرَقَ عَلَيْهِ النَّهَارِ
اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ مَنْ صَلَّ عَلَيْهِ
اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ مَنْ لَمْ يُصَلَّ عَلَيْهِ
اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ اَنْفَاسِ اْلخَلْقِ
اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ لُجُُوْمِ السَمَوَاتَََِ
اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد بِعَدَدِ كُلٍَّ شَىْءٍ فِى الدُّنْيَا وَاْلاَخِرَةِ
وَصَلَوَاتُ اللهِ وَ مَلاَءِكَتَهُ وَ اَنْبِيَاءِهِ وَ رُسُلِهِ وَ جَمِيْعِ خَلْقِهِ عَلَى سَيِّدِ اْلمُرْسَلِيْنَ وَ اِمَامِ اْلمُتَّقِيْنَ
وَ قَاءِدِ غُرِّ اْلمُحَجِّلِيْنَ وَ شَفِيْعِ اْلمُذْنِبِيْنَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ اصْحَابِهِ وَ اَزْوَاجِهِ
وَ ذُرِّيَتِهِ وَ اَهْلِ بَيْتِهِ وَ اْلاَءِمَّةِ اْلمَضِيِّيْنَ وَ اْلمَشَاءِخِ اْلمُتَقَدِّمِيْنَ وَ الشُّهَدَاءِ وَ الصَّالِحِيْنَ
وَ اَهْلِ طَاعَتِكَ اَجْمَعِيْنَ مِنْ اَهْلِ السَّمَوَاتِ وَ اْلاَرَضِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ
وَ يَا اَكْرَمَ اْلاَكْرَمِيْنَ وَ اْلحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ وَ صَلَّ اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ سَلِّمْ

 

Bismillahirrahmanirrahim.
ALLAHUMA SHOLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALAA ALII SAYYIDINA MUHAMMAD BI ‘ADAADI RAHMATILLAH.
ALLAHUMA SHOLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALAA ALII SAYYIDINA MUHAMMAD BI ‘ADAADI FADHLILLAH
ALLAHUMA SHOLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALAA ALII SAYYIDINA MUHAMMAD BI ‘ADAADI KHOLQILLAH.
ALLAHUMA SHOLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALAA ALII SAYYIDINA MUHAMMAD BI ‘ADAADI MAA FI ILMILLAH.
ALLAHUMA SHOLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALAA ALII SAYYIDINA MUHAMMAD BI ‘ADAADI KAROMILLAH.
ALLAHUMA SHOLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALAA ALII SAYYIDINA MUHAMMAD BI ‘ADAADI HURUFI KALAMILLAH.
ALLAHUMA SHOLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALAA ALII SAYYIDINA MUHAMMAD BI ‘ADAADI KALIMATILLAH.
ALLAHUMA SHOLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALAA ALII SAYYIDINA MUHAMMAD BI ‘ADAADI QOTHRIL AMTHOR.
ALLAHUMA SHOLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALAA ALII SAYYIDINA MUHAMMAD BI ‘ADAADI WAROQIL ASY,JAR.
ALLAHUMA SHOLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALAA ALII SAYYIDINA MUHAMMAD BI ‘ADAADI ROMLIL QIFAR.
ALLAHUMA SHOLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALAA ALII SAYYIDINA MUHAMMAD BI ‘ADAADI HUBUBI WA TSIMAR.
ALLAHUMA SHOLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALAA ALII SAYYIDINA MUHAMMAD BI ‘ADAADI MAA ADHLAMA ALAIHIL LAIL W ASYROQ ALAIHIN NAHAR.
ALLAHUMA SHOLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALAA ALII SAYYIDINA MUHAMMAD BI ‘ADAADI MAN SHOLA ALAIH
ALLAHUMA SHOLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALAA ALII SAYYIDINA MUHAMMAD BI ‘ADAADI MAN LAM YUSHOLLI ALAIH.
ALLAHUMA SHOLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALAA ALII SAYYIDINA MUHAMMAD BI ‘ADAADI ANFASIL KHOLQ.
ALLAHUMA SHOLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALAA ALII SAYYIDINA MUHAMMAD BI ‘ADAADI NUJUMIS SAMAAWAT.
ALLAHUMA SHOLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WA ALAA ALII SAYYIDINA MUHAMMAD BI ‘ADAADI KULLI SAIY,IN FID DUNY WAL AKHIRAH.
SHOLAWATULLAHI WA MALAIKATIHI WA ANBIYAIHI WA RUSULHI WA JAMI’I KHOLQIHI ALA SAYYISIL MURSALIM WA IMAMIL MUTTAQIN WA QOIDIL GHURIL MUHAJJALIN WA SYAFI’IL MUDZNIBIIN SAYYIIDINA MUHAMMADIN WA ALAA ALIHI WA SHAABIHI WA AZWAJIHI WA DZURRIYATIHI WA AHLI BAITIHI WAL A,IMMATIL MAADHIYYIN WA MASYAIKHIL MUTAQODDIMIN WA SHUHADA’I WAS SHOLIHIN WA AHLI THOATIKA AJMAIN MIN AHLI SAMAAWATI WAL ARDHIYN BI ROHMATIKA YA ARHAMARROHIMIN WA YAA AKROMAL AKROMIN WALHAMDULILLAHI ROBBIL ALAMAIN WA SHOLLA ALLAHU ALA SAYYIDINA MUHAMADIN WA ALAA ALAHIH WA SHOHBIHI WA SALLAM..

“Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah rahmatnya Allah.
Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah keutamaan dari Allah.
Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah ciptaan Allah.
Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah apa-apa yang ada dalam pengetahuan Allah.
Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah kemuliaan dari Allah.
Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah huruf Kalamullah (Kitab-Kitab Allah).
Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah kalimat Allah.
Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak tetesan air hujan.
Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah daun-daun pepohonan.
Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah butir pasir di gurun.
Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah biji-bijian dan buah-buahan.
Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah yang dinaungi kegelapan malam dan diterangi oleh benderang siang.
Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah orang yang telah bershalawat kepadanya.
Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah orang yang belum bershalawat kepadanya.
Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah napas-napas makhluk ciptaan.
Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah apa yang ada di seluruh langit.
Ya Allah limpahkanlah shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarganya sebanyak jumlah tiap-tiap sesuatu yang ada di dalam dunia dan akhirat.
Dan segenap shalawat dari Allah beserta para malaikat-Nya, dan para Nabi-Nya, dan para Rasul-Nya, dan seluruh ciptaan-Nya, semoga tercurah atas junjungan para Rasul, pemimpin orang-orang yang bertaqwa, pemuka para ahli surga, pemberi syafa’at orang-orang yang berdosa, Nabi Muhammad dan juga atas keluarganya, para sahabatnya, istri-istrinya, keturunannya, ahli baitnya, para pemimpin yang telah lampau, para guru yang terdahulu, para syuhada dan orang-orang soleh, dan yang senantiasa taat kepada Allah seluruhnya, dari penghuni bumi dan langit, dengan rahmat-Mu, wahai yang Maha Pengasih dan Penyayang, dan Engkau Yang Maha Mulia dari semua yang mulia, segala pujian bagi Allah Tuhan alam semesta. Dan shalawat serta salam atas Nabi Muhammad beserta keluarga dan sahabatnya.”

 

Ada seorang Sulthon (Raja) yang bernama Sulthon Mahmud Al Ghaznawi. Sepanjang hidupnya Raja ini selalu menyibukkan dirinya dengan membaca shalawat kepada nabi Muhammad SAW. Setiap selesai shalat subuh, sang raja membaca shalawat sebanyak 300.000 kali. Begitu asyiknya raja membaca shalawat sebanyak itu, seolah-olah beliau lupa akan tugasnya sebagai seorang raja, yang di pundaknya tertumpu berbagai tugas negara dan berbagai macam harapan rakyatnya yang bergantung padanya. Sehingga kalau pagi tiba, sudah banyak rakyatnya yang berkumpul di istana menunggu sang raja, untuk mengadukan persoalannya.
Namun sang raja yang ditunggu-tunggu tidak kunjung hadir. Sebab sang raja tidak akan keluar dari kamarnya, walau hari telah siang, jika belum menyelesaikan wirid shalawatnya. Setelah kejadian ini berlangsung agak lama, pada suatu malam beliau bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW.
Di dalam mimpinya, Rasulullah SAW bertanya, “Mengapa kamu berlama-lama di dalam kamar? Sedangkan rakyatmu selalu menunggu kehadiranmu untuk mengadukan berbagai persoalan mereka.” Raja menjawab, “Saya duduk berlama-lama begitu, tak lain karena saya membaca shalawat kepadamu sebanyak 300.000 kali, dan saya berjanji tidak akan keluar kamar sebelum bacaan shalawat saya selesai.”
Rasulullah SAW lalu berkata, “Kalau begitu kasihan orang-orang yang punya keperluan dan orang-orang lemah yang memerlukan perhatianmu. Sekarang aku akan ajarkan kepadamu shalawat yang apabila kamu baca sekali saja, maka nilai pahalanya sama dengan bacaan 100.000 kali shalawat. Jadi kalau kamu baca tiga kali, pahalanya sama dengan 300.000 kali shalawat yang kamu baca.” Rasulullah SAW lalu membacakan lafazh shalawat yang kemudian dikenal dengan nama shalawat sulthon.
Akhirnya, raja Mahmud lalu mengikuti anjuran Rasulullah SAW tersebut, yaitu membaca shalawat tadi sebanyak “TIGA KALI”.
Dengan cara demikian,shalawat dapat beliau baca dan urusan negara dapat dijalankan dengan sempurna.
Setelah beberapa waktu mengamalkan shalawat itu, raja kembali bermimpi bertemu Rasulullah SAW. Kemudian Rasulullah SAW bertanya kepadanya, “Apa yang kamu lakukan, sehingga malaikat kewalahan menuliskan pahala amalmu?” Raja menjawab, “Saya tidak mengamalkan sesuatu, kecuali mengamalkan shalawat yang anda ajarkan kepada saya itu.”

semoga ada manfaatnya.

============================

G2K
xpujanggamaya@gmail.com

 

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 64 Komentar

===MENJADI MAGNET PENARIK BENDA-BENDA PUSAKA (KERIS, AKIK, UANG KUNO DAN LAIN-LAIN.)====


Dari banyaknya amalan penarikan benda goib yang ada diblog KWA, ada satu cara yang terselip di antara sekian ribu artikel, yang menurut saya cukup mudah dipraktekkan yaitu cara berikut ini. (mohon maaf, siapa yang dulu pernah punya amalan ini)

AUDZUBILLAHIMINASSYAITONIRROJIM

BISMILLAHIRROHMANIRROHIM 21 X Tahan nafas

ASTAGHFIRULLOHALADZIM 7 X Tahan nafas

ASYHADUANLA ILAHA ILALLAH WAASYHADU ANNA MUHAMMADARRASULULLAH 7 X Tahan nafas

ALLAHUMMA SHOLLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD WAALA ALI SAYYIDINA MUHAMMAD 7 X Tahan nafas

LAHAWLA WALA QUUWATA ILA BILLAHILALIYYIL ADHIM 7 X Tahan nafas

ALLAHU AKBAR 21X Tahan nafas

Baca Kunci amalan ini.

BISMILLAHIRROHMANIRROHIIM. KAF HA YA ‘AIN SHOD.HA MIM ‘AIN SIN QOF.QUWMITU WA QUWMITU 3 X Tahan nafas

Telapak kedua tangan arahkan lurus ke depan dan tarik kearah tubuh kita sambil mengucap ALLOHU AKBAR sebanyak mungkin sampai pusaka ada didepan kita.

NB: Dalam prakteknya, akan lebih mudah menarik benda goib bila kita mencari tempat-tempat yang jarang dikunjungi orang, seperti sungai, kamar yg jarang dimasuki orang atau tempat gelap. Biasanya kita tidak tahu secara pasti dimana benda goib itu berada sehingga perlu dicoba di beberapa tempat. Kalau tempat itu ada benda pusakanya, akan ketarik dengan amalan ini. Dalam beberapa kasus benda itu seperti dilemparkan ke arah kita meskipun tidak sampai kena tubuh. Pada kasus yang lain benda itu tiba-tiba tertangkap tangan kita. Bila nafas tidak kuat, segera bernafas lalu tahan lagi begitu seterusnya. Monggo dicoba atau dilatih sampai bisa menguasai ilmu ini. Ada baiknya energi magnet di tubuh eterik diperkuat dengan melakukan puasa-puasa dan laku tirakat. Ini juga untuk menghindari diri dari hal-hal yang tidak diinginkan. Silahkan dipilih yang menurut anda paling bagus. Bila anda sudah pernah sekali saja berhasil melakukan penarikan, maka di lain waktu penarikan akan lebih mudah. Beda bila belum pernah sama sekali. Nuwun. @@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 585 Komentar

ROTIB AL KUBRO


Disusun oleh Habib Thaha bin Hasan bin Yahya Ba’Alawy

Bismillaahirrahmaanirrahiim. Al-Fatihah…

Huwallaahul-ladzii laa ilaaha illaa huwa `alimul ghaybi wasy-syahadati huwar rahmaanur rahiim.
Huwallaahul-ladzii laa ilaaha illaa huwal malikul qudduusus salaamul mu’minul muhayminul `aziizul jabbarul mutakabbir, subhaanalaahi `amma yusyrikuun.
Huwallahul khaliqu bari-ul mushawwiru lahul-asmaul-husna, yu sabbihuu lahu maa fis samaawaati wal ardhi wa huwal `azizul hakiim.

Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuum La ta’khudzuhu sinatun walaa nawm. Lahu maa fis-samawati wama fil-ardh. Man dzalladzii yasyfa’u `indahu illaa bi-idznih. Ya’lamu maa bayna aydihim wama khalfahum wala yu hiithuuna bisyay-in min ‘ilmihi illaa bima syaa-a. Wasi`a kursiyyuhus samaawaati wal ardha walaa yauuduhu hifzhuhumaa wahuwal –‘aliyyul `azhiim.

Sabbahaa lillaahi maa fis-samaawaati wamaa fil ardhi wahuwal `aziizul hakiim.

Lahu mulkus samaawaati wal ardhi, yuhyii wa yumiitu wa huwa `ala kulli syay-in qadiir.

Huwal awwalu wal aakhiru wazh-zhaahiru wal baathinu wahuwa bikulli syay-in ‘aliim.

Huwalladzii khalaqas samaawaati wal ardha fii sittati ayyaamin tsummastawaa ‘alal `arsy. Ya `lamu maa yaliju fil ardhi wamaa yakhruju minhaa wamaa yanzilu minas samaa’i wamaa ya`ruju fihaa wa huwa ma`akum aynamaa kuntum wallaahu bima ta’maluuna bashiir.

Lahu mulkus samaawaati wal ardhi wa ilallaahi wa turja`ul umuur.

Yuulijul layla fin-nahaari wa yuulijun nahaara fil layli wa huwa `aliimun bidzaatish-shuduur.

Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillaahilladzii khalaqas samaawaati wal ardha wa ja’alazh-zhulumaati wan nuur. Tsummal-ladziina kafaruu birabbihim ya`diluun. Huwalladzii khalaqakum min thiinin tsumma qadlaa ajalan, wa ajalun musamma `indahu tsumma antum tamtaruun.

Wa huwallaahu fis samaawaati wa fiil ardhi ya’lamu sirrakum wa jahrakum wa ya’lamu maa taksibuun.

Laqad jaa-akum rasuulun min anfusikum ‘aziizun `alaihi maa `anittum hariishun `alaykum bil mu’miniina rauufun rahiim.

Fa’in tawallaw faqul hasbiyallaahu laa ilaaha illaa huwa ‘alayhi tawakkaltu wahuwa rabbul `arsyil ‘azhiim.

Allahumma innii ash-bahtu wa amsaytu usyhiduka wa usyhidu hamalata ‘arsyika wa malaaikatika wa jami`i khalqika annaka antallahu laa ilaaha illaa anta wahdaka laa syariikalaka wa anna sayyidanaa Muhammadan shallallaahu `alayhi wa sallama `abduka wa rasuuluka.

Allahu nuurus samaawaati wal ardhi matsalu nuurihi kamisykaatin fihaa mishbaah, al-mishbahu fii zujaajah, azzujaajatu ka-annahaa kawkabun durriyyun yuuqadu min syajaratin mubaarakatin zaytuunatin laa syarqiyyatin walaa gharbiyyah. Yakaadu zaytuhaa yudhi-’u walaw lam tamsas-hu naar. Nuurun ‘alaa nuur, yandillaahu li nuurihi man yasyaa-u, wa yadhribullaahul amtsaala linnaasi wallaahu bikulli syay-in ‘aliim.

Subhanallaahi wal hamdulillaahi walaa ilaaha illallaahu wallahu akbar. (3 x)

Subhanallaahi wa bihamdihi subhanallaahil `azhiim. (3 x)

Bismillahirrahmanirrahim.
Alam nasyrah laka shadrak. Wawadha`naa `anka wizrak.
Alladzii anqadha zhahraka.
Wa rafa`naa laka dzikrak.
Fainna ma’al `usri yusran inna ma’al `usri yusra.
Fa idzaa faraghta fanshab wa ilaa rabbika farghab.

Radhiina billaahi rabban wabil islaami dinaa wabi sayyidinaa Muhammadin shallalaahu ‘alaihi wasallama nabiyyan wa rasuula..(3 x)

Allahumma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa aali sayyidina Muhammad. Kamaa shalayta ‘alaa sayyidina Ibraahim wa sayyidina Ibraahim, wabárik ’alaa sayyidinaa
Muhammad wa ‘alaa aali sayyidinaa Muhammad kamaa barakta ‘alaa sayyidinaa Ibraahim wa sayyidinaa Ibraahim fil `aalamina innaka hamidun majid.

Allahumma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammadin `abdika wa nabiyyika wa rasuulikan nabiyyil ummiyyi wa `alaa alihi wa shahbihi wa sallim. (3 x)

Allahumma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammadin, Allahumma shalli `alayhi wa sallim. (3 x)

Allahumma shalli ‘alaa sayyidina Muhammadin `abdika wa nabiyyika wa rasulikan nabiyyil ummiyyi wa alihi wa shahbihi wa baarik wa sallim ‘adada maa `alimta wa zinata maa `alimta wa mil-a maa `alimta. (3 x)

Allahumma innii as-aluka bika an tu
shalliya ‘alaa sayyidina Muhammadin wa ‘alaa saaril anbiyaai wal mursalin wa ‘alaa alihim wa shahbihim ajma’in wa an taghfira li fiimaa madhaa wa tahfazhani fimaa baqiy. (3 x)

Laailaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minazh-zhaalimiin.

Fastajabnaa lahu wanajjaynaahu minal ghammi, wa kadzaalika nunjil mu’miniin.

Walaw annahum idz zhalamuu anfusahum ja-uuka fastaghfarullaaha wastaghfara lahumur rasuulu lawajadullaaha tawwaaban rahiima.

Rabbaana laa tuzigh qulubanaa ba’da idz hadaytanaa wahab lanaa min ladunka rahmatan innaka antal wahhaab.

Rabbanaghfirlii wa liwaalidayya walil mu’miniina yawma yaquumul hisaab.

Rabbanaghfir lanaa wa li ikhwaani nalladziina sabaquuna bil iimaani walaa taj’al fii quluubinaa ghillan lilladziina aamanu rabbanaa innaka ra’uufur rahiim.

Ghufraanaka rabbanaa wa ilaykal mashiir. Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus`aha lahaa maa kasabat wa ‘alayhaa maktasabat rabbanaa laa tuaakhidznaa in nasiinaa aw akhtha’naa rabbanaa walaa tahmil `alaynaa ishran kamaa hamaltahu `alalladziina min qablinaa rabbanaa walaa tuhammilnaa maa laa thaaqata lanaa bihi wa`fu `annaa waghfir lanaa warhamnaa anta mawlaanaa fanshurnaa `alal qawmil kaafiriin.

Allahummaghfirlii wa liwaalidayya wa lil mu’miniina wal mu’minaat wal muslimiina wal muslimaat al-ahyaai minhum wal amwaat. (3 x)

Allaahummaghfir ummata sayyidinaa Muhammad shallallaahu `alayhi wa aalihi wa sallam.
Allaahummarham ummata sayyidinaa Muhammad shallallahu `alayhi wa aalihi wa sallam
Allaahuma ashlih ummata sayyidinaa Muhammad shallallahu `alayhi wa aalihi wa sallam.
Allaahumastur ummata sayyidinaa Muhammad shallallahu `alayhi wa aalihi wa sallam,
Allaahummajbur ummata sayyidinaa Muhammad shallallahu ‘alayhi wa aalihi wa sallam.  (3 x)

Fain tawalaw faqul hasbiyallaahu la ilaha illaa huwa `alayhi tawakkaltu wa huwa rabbul ‘arsyil `azhiim. (7 x)

Hasbunallaah wa ni`mal wakil. (7 x)

Laa hawla walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil `azhiim. (3 x)

Yaa hayyu yaa qayyuum bika astaghitsu laa ilaaha illaa anta. (3 x)

Yaa lathiif. (129 x)

Yaa ‘alliyyu yaa kabiiru yaa ‘aliimu yaa qadiiru yaa samii`u yaa bashiir ya lathiifu ya khabiir…(3 x)

Allaahumma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa aali sayyidinaa Muhammadin wa bihaqqi sayyidinaa Muhammadin wa aali sayyidinaa Muhammadin an takfiyanaa syarra maa nakhaafu wa nahdzar. (3 x)

Yaa hafiizhu yaa nashiiru yaa wakiilu yaa Allaah. (3 x)

A’uuduzu bikalimaatillaahit tammaati min syarri maa khalaq. (3 x)

Bismillaahilladzii laa yadhurru ma’asmihi syay-un fil ardhi walaa fis samaai wahuwas sami`ul ‘aliim. (3 x)

Hasbiyallaahu lidiinii, hasbiyallaahu limaa ahammanii, hasbiyallaahu liman baghaa `alayya, hasbiyallaahu liman hasadanii, hasbiyallaahu liman kaadanii bisuuin hasbiyallaahu `indal mawt, hasbiyallaahu `indal mas-alati fil qabri, hasbiyallaahu `indal mas-alati fil mizaan, hasbiyallaahu `indal hisaab, hasbiyallaahu Indash-shiraath, hasbiyallaahu laa ilaha illaa anta huwa ‘alayhi tawakkaltu wa ilayhi uniib.

Yaa dzal jalaali wal ikraam amitnaa ‘alaa diinil Islam. (7 x)

Allaahumma laa tukhzinii yawma yub`atsuun yawma laa yanfa`u maalun wala banuun illaa man atallaaha biqalbin saliim. (3 x)

Allaahumma innaa nas-aluka ridhaaka wal jannah wa na’uudzu bika min sakhathika wan naar. (3 x)

Yaa ‘alimas-sirri minnaa laa tahtikis sitra aannaa wa ‘aafina wa `fu ‘annaa wa kun lanaa haytsu kunnaa. (3 x)

Yaa Allaah bihaa yaa Allaah bihaa yaa Allaahu bihusnil khaatimah. (3 x)

Allaahummaf’al bii wa bihim ‘aajilan wa aajilan fid dini wad dunyaa wal aakhirah, maa antalahu ahlun walaa taf’al binaa yaa mawlaanaa maa nahnu lahu ahlun innaka ghafuurun haliimun jawwaadun kariimun rauufun rahiim. (3 x)

Yaa lathiifan bikhalqihi yaa ‘aaliiman bikhalqihi yaa khabiiran bikhalqihi ulthuf binaa yaa lathiif yaa ‘aliim yaa khabiir. (3 x)

Laa ilaaha illallaah almalikul haqqul mubiin. (10 x, 25 x, 50 x, atau 100 x)
Muhammadur Rasuulullah shadiqul wa’dil aamiin.

Shallallaahu ‘alayhi wa sallama fii kulli lamhatin wa nafasin ‘adada maa wasi’a ‘ilmullaah.

Allaahumma shalli ‘alaa sayyidinaa Mu
hammadin alladzii mala-at qalbuhu min jalaalika wa ‘aynuhu min jamaalika fa-ashbaha farhan wa suruuran muayyadan manshuuran wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallim tasliiman katsiiran. Walhamdulillaahi ‘alaa dzaalik.

Allaahumma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammadin bahri anwaarika wa ma’dini asraarika wa lisaani hujjatika wa ‘uruusyi mamlakatika wa imaama hadhratika wa thiraazi mulkika wa khazaa-ini rahmatika wa thariiqi syarrii’atika al-mutaladzdzi-dzi bitawhiidika insaani `aynil wujuud was-sababi fi kulli mawjuud, ayni a’yaani khalqika al-mutaqaddimi min nuuri dhiyaa-ika shalaatan taduumu bidawaamika wa tabqaa bibaqaaika, la muntahaa lahaa duuna ‘ilmika shalatan turdhiika wa turdhiihi wa tardhaa bihaa ‘annaa yaa rabbal ‘aalamiin.

Allaahumma shalli `alaa sayyidinaa Muhammadin shalaatan takuunu laka bihaa ridhan walihaqqihi adaa-a. (3 x)

Allaahumma shalli ’alaa sayyidina Muhammadin shalaatan tahabu lanaa minhu akmalal imdaadi wa fawqal muraad fii darid dunyaa wafii daaril ma’aad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallim wa baarik biqadri azhamati dzaatika ‘adada maa ‘alimta wa zinata maa ‘alimta wa mil-a maa `alimta. (1 x, 3 x, atau 10 x)

Allahumma shalli `alaa sayyidinaa Muhammadin annabiyyil ummiyyil habiibil ‘aalil qadril ‘azhiimil jaah wa `alaa aalihi wa shahbihi wa barik wasallim. (10 x atau 100 x)

Allaahumma shalli ‘alaa man sammaytahu dzaakiran habiiban wa mudzakiran sayyidinaa Muhammadin rasuulillaah.

Allaahumma shalli `alaa man sammaytahu ahmad wa Muhammadan wa sayyidan sayyidinaa Muhammadin rasuulillaah.

Allaahumma shalli ‘alaa man sammaytahu shaabiran nabiyyan wa murakkiban sayyidinaa Muhammadin rasuulillaah.

Allaahumma shalli `alaa man sammaytahu ghaaliban wa rahiiman wa haliiman sayyidinaa Muhammadin rasuulillaah.

Allaahumma shalli ‘alaa man sammaytahu `aaqiban kariiman wa hakiiman sayyidinaa Muhammadin rasuulillaah.

Allaahumma shalli `alaa man sammaytahu `adlan jawwaadan wa muzzammilan sayyidina Muhammadin rasuulillaah.

Allaahumma shalli ‘alaa man sammaytahu qaasiman mahdiyyan wa haadiyan sayyidinaa Muhammadin rasuulillaah.

Allaahumma shalli `alaa man sammaytahu syakuuran wa hariishan wa muddats-tsiran sayyidinaa Muhammadin rasuulillaah.

Allaahumma shalli ‘alaa man sammaytahu qaaiman hafiyyan wa `abdallaah sayyidinaa Muhammadin rasuulillaah.

Allaahumma shalli ‘alaa man sammaytahu syaahidan wa bashiiran wa mahdiyan sayyidinaa Muhammadin rasuulillaah.

Allaahumma shalli `alaa man sammaytahu baahiyan nuuran wa makkiyyan sayyidinaa Muhammadin rasuulillaah.

Allaahumma shalli `alaa man sammaytahu syaakiran wa waliyyan wa nadiiran sayyidinaa Muhammadin rasuulillaah.

Allaahumma shalli ‘alaa man sammaytahu thaahiran shafiyyan wa mukhtaaran sayyidinaa Muhammadin rasuulillaah.

Allaahumma shalli `alaa man sammaytahu burhaanan shahiihan wa syariifan sayyidinaa Muhammadin rasuulillaah.

Allaahumma shalli ‘alaa man sammaytahu musliman rauufan wa rahiiman sayyidinaa Muhammadin rasuulillaah.

Allaahumma shalli ‘alaa man sammaytahu mu’minan ‘aliiman wa madaaniyyan sayyidinaa Muhammadin rasuulillaah.

Allahumma shalli ‘alaa man sammaytahu qayyiman mahmudan wa haamidan sayyidinaa Muhammadin rasuulillaah.

Allaahumma shalli ‘alaa man sammaytahu mish-baahan aamiran wa naahiyan sayyidinaa Muhammadin rasuulillaah.

Wa shallallaahu ‘alayhi wa aalihi wa shahbihi wa azwaajihi wa dzurriyyaatihi wa ahli baytihi wa radhiyallaahu ‘an kulli shahaabati ajma’iin.

Bismillahirrahmanirrahim
Qul Huwallaahu ahad. Allaahush shamad. Lam yalid walam yuulad walam yakun lahu kufuwan ahad.(3x)

Bismillahirrahmanirrahim
Qul a’uudzu birabbil falaq. Min syarri maa khalaq. Wamin syarri ghaassiqin idzaa waqab. Wamin syarrin naffaatsaati fil ‘uqad. Wamin syarri haasidin idzaa hasad.

Bismillahirrahmanirrahim
Qul a’uudzu birabbinnaas, malikin naas, ilaahinnaas, min syarril waswaasil khannaas. Alladzii yuwaswisu fii shuduurrinnaas minal jinnati wannaas.

Al-faatihah ilaa ruuhi habiibinaa wa syafi’ina rasuulillah Muhammadibni Abdillaah shallallaahu ‘alayhi wa sallama wa aalihi wa ash-haabihi wa dzurriyyaatihi annallaaha yu’li darajaatihim fil jannati wa yanfa’unaa bi asraarihim wa anwaarihim wa ‘uluumihi fid dini wad dunyaa wal aakhirah. Wayaj’alunaa min hizbihim wa yarzuqanaa mahabatahum wayatawaffaanaa ‘alaa millatihim wa yahsyurunaa fii zumratihim Al-faatihah.

Al-faatihah ilaa ruuhi sayyidina al-faqih al-muqaddami muhammad ibni Ali Baa Alawii, wa ushuulihi wa furuu`ihim wadzawil huquuqi ‘alayhim ajmaa’in. Annallaaha yaghfiru lahum wayarhamuhum wa yu’li darajaatihim fil jannati wa yan fa’unaa bi asraarihim wa anwaarihim wa ‘uluumihim fid diini wad dunyaa wal aakhirah Al-faatihah.

Al-faatihah ilaa sayyidinal habiib shaahibir raatib sulthaanil awliyaa Al-Habib Thaha bin Hasan bin Yahyaa wa ushuulihi wa furuu’ihim wa dzawil huquuqi ‘alayhim ajma’iin. Annallaaha yaghfiru lahum wayarhamuhum wa yu’li darajaatihim fil jannati wa yanfa’unaa bi asraarihim wa anwarihim wa ‘uluumihim fid diini wad dunyaa wal aakhirah. Al-faatihah.

Tsumma ilaa arwaahil awliyaa wash-shaalihin wal aimmati war raasyidiin tsumma ilaa arwaahi waalidiina wa masyaayikhina wa mu’allimiina wadzawil huquuqi `alayhim ajma’iin. Annallaaha yaghfiru lahum wayarhamuhum wa yu’li darajaatihim fil jannati wa yanfa’unaa bi asraarihim wa anwaarihim wa ‘uluumiim fid diini wad dunyaa wal aakhirah. Al-faatihah.

Al-faatihah biniyyatil qabuul wal wushuul wa hushuuli tamaami kulli suul wa ma’muul washalahisy sya’ni zhaahiran wa baathinan fid dini wad dunyaa wal aakhirati daafi’atan likulli syarrin jaalibatan likulli khayrin lanaa waliwaalidinaa wa li awladinaa wa li ahbaabinaa wa masyaayikhina fid dini ma’al luthfi wal ‘aafiyati wa niyyati annallaaha yunawwiru quluubanaa wa qawaalibanaa ma’at tuqa wal hudaa wal ‘afaafa wal mawta ‘alaa diinil Islaami bilaa mihnatin walamtihaanin bijaahi sayyidi waladi Adnaan, jaami’atan likulli niyyatin shaalihatin wa ziyaadatin wa mahabbatin fii syarafil habiibi Muhammadin shallallaahu ‘alayhiwa sallama wa‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam. Al-faatihah.

@@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 35 Komentar

TRADISI REBO WEKASAN


Tradisi perlu dihargai dan dihormati. Ia merupakan bagian dari Budaya dari masyarakat setempat yang menandai sebuah momentum tertentu. Tradisi biasanya menjadi pengingat bahwa manusia ini harus bersikap reflektif, merenungkan kejadian-kejadian yang telah dilakukan agar ada upaya perbaikan. Budaya akan menjadikan manusia lebih manusiawi dengan kepadatan eksistensinya. Budaya beda dengan agama. Namun keduanya memiliki titik singgung. Kalau budaya itu aras nya ke hubungan vertical, hubungan sesama manusia, namun Agama arasnya lebih ke horizontal, hubungan manusia kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Salah satu budaya dan tradisi yang sangat popular di kalangan Nahdliyyin (NU) adalah tradisi Rabu Wekasan. Kalangan NU meyakini kalau Rabu Wekasan adalah Rabu terakhir pada bulan Safar yang mana di hari itu terjadi ribuan bencana di dunia ini.

Wekasan, pungkasan, atau panungtung dalam Bahasa Sunda artinya terakhir. Yakni, peristiwa dihancurkannya orang-orang yang ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya. Rabu Wekasan erat kaitannya dengan beberapa peristiwa atau sejarah umat terdahulu yang bisa terjadi pada umat saat ini. Boleh dikata Rabu Wekasan merupakan hari “sial atau naas” yang merupakan penamaan yang salah satunya merujuk kepada Q.S. Fushilat: 15-16, dan Q.S. Alqamar: 19.

Sebagian ulama yang arif ahli mukasyafah menyatakan pada Rabu terakhir bulan Safar diturunkan sekitar 320.000 bencana. Hari itu merupakan hari yang paling sulit dibandingkan hari-hari lain di tahun itu sehingga kita melaksanakan amalan terutama sedekah untuk menolak bencana. Sedekah bisa berbagai berbentuk misalnya kenduri, dan lain sebagainya.

Amalan-amalan yang dilakukan saat Rabu Wekasan, di antaranya membanyak berdoa, salawat, dan salat sunah. Juga dianjurkan membaca Alquran khususnya Q.S. Yasin atau surat-surat lainnya agar terhindari dari bencana.

Seorang `ulama besar, Imam Abdul Hamiid Quds, mufti dan imam Masjidil Haram Makkah pada awal abad 20 dalam bukunya “Kanzun Najah was-Suraar fi Fadail al-Azmina wasy-Syuhaar” menjelaskan bahwa banyak Auliya Allah yang mempunyai Pengetahuan Spiritual telah menandai bahwa setiap tahun, 320 ribu penderitaan (Baliyyat) jatuh ke bumi pada hari Rabu terakhir di bulan Safar. Hari ini dianggap sebagai hari yang sangat berat dibandingkan hari-hari lain sepanjang tahun. Beberapa ulama mengatakan bahwa ayat Alquran, “Yawma Nahsin Mustamir” yakni “Hari berlanjutnya pertanda buruk” merujuk pada hari ini.

Untuk melindungi dari kutukan yang jatuh ke bumi pada hari tersebut tepatnya Rabu terakhir di bulan Safar kita dianjurkan untuk melakukan Sholat 4 rakaat (Nawafil, sunnah).

Caranya sbb:
Setiap rakaat setelah al-Fatihah
dibaca surat al-Kawtsar 17 kali lalu
surat al-Ikhlash 5 kali,
surat al-Falaq dan
surat an-Naas masing-masing sekali.

Setelah salat dianjurkan untuk memanjatkan doa memohon perlindungan dari segala kutukan dan bencana yang jatuh ke bumi pada hari tersebut. Doanya adalah sebagai berikut:

BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIIM, ALLAAHUMMA YA SYADIDAL QUWA, WA YA SYADIDAL MIHAL, YA AZIIZ, YA MAN ZALLAT LI IZZATIKA JAMII’A KHALIQIKA, IKFINI MIN SYARRI JAMII’I KHALIQIKA, YA MUHISINU, YA MUJMILU, YA MUTAFADH-DHILU, YA MUN’IMU, YA MUKRIMU, YA MAN LA ILAHA ILLA ANTA ARHAMNI BI RAHMATIKA YA ARHAMA AR-RAHIMIIN, ALLAHUMA BI SIRRIL HASANI WA AKHIIHI, WA JADDIHI WA ABIIHI, WA UMMIHI WA BANIIHI, IKFINI SYARRA HAAZAL YAWMI WA MA YANZILU FIIH, YA KAAFI AL-MUHIMMAAT, YA DAAFI AL-BALIYYAT, FASA YAKFIIKA HUMULLAAHU WA HUWA SAMII’UL ALIIM, WA HASBUNA ALLAH WA NI’MAL WAKIIL WA LA HAWLA WALA QUWWATA ILLA BILLA HIL ALI’YYIL AZHIIM. WA SHALLALLAHU ALA SAYYIDINA MUHAMMADIN WA ‘ALA AALIHI WA SHAHBIHI WA SALLAM. AMIIN.

Demikian semoga membawa secuil manfaat. Salam paseduluran. @@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 43 Komentar

ROTIB ISTIGOSAH


Diijazahkan oleh Abah al-Arfibillah Mawlana al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya Ba’Alawy, Selasa 13 juli 2010, Jakarta. Duren Sawit jalan Madrasah II no.11, dan diijazahkan kembali di Gambir Rabu 14 Juli 2010 untuk di ijazahkan kembali. Disusun al-Arifbillah al-Habib Luthfi bin Ali bin Yahya.

Tawasul

Bismillaahir-rohmaanir-rohiim.

Al-Faatihah kami haturkan kepada junjungan Nabi Besar Sayyidina Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam serta keluarganya, shohabatnya, para istri anak cucunya, para penganutnya dan para pecintanya, dengan niat semoga apa yang di cita-citakan dalam menuju baldatun thoyyibatun warobbun ghofuur dikabulkan oleh Alloh, serta negara dan bangsa ini dijaga oleh Alloh keutuhannya, kesatuan, persatuan dan semakin kuat kokoh stabilitas nasional dan ditumbuhkan hati kami semakin kuat dalam merasa memiliki handarbeni Republik ini, serta kasih sayang diantara satu sama lain dan saling asah asih asuh serta memperkokoh tali persaudaraan, al-faatihah ……

Bismillaahir-rohmaanir-rohiim.

Al-Faatihah kami haturkan kepada Nabi Besar Sayyidina Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam serta para Nabi, para Rosul, para Malaikat, para Wali, para ‘Ulama, para Sholihin, dengan niat semoga Alloh ta’ala memberi berkah kepada bangsa kita, berkah dalam ekonomi dan perekonomiannya, perdagangannya, pertaniannya, panennya, dijauhkan dari bentuk segala kerugian dan penyebab kerusakan moral, akhlaq, ekonomi dan dijauhkan dari segala kefakiran yang menyebabkan tipisnya iman, ideologi, serta nasionalisme cinta bangsa dan tanah air, al-faatihah …………

Bismillaahir-rohmaanir-rohiim.

Al-Faatihah kami haturkan kepada Nabi Besar Sayyidina Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam serta para Syuhada’, para Wali, para ‘Ulama, yang ada di negara ini semoga Alloh ta’ala menjauhkan dari segala bentuk perpecahan dari skup yang kecil sampai yang besar yang menjauhkan turunnya rohmah, barokah dan pertolongan, al-faatihah …

Bismillaahir-rohmaanir-rohiim.

Al-Faatihah kami haturkan kepada Baginda Nabi Besar Sayyidina Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam serta kepada orang tua kami, guru kami, keluarga kami, dan para mu’minin mu’minat, muslimin muslimat, dan para leluhur bangsa kami, semoga Alloh ta’ala menyelamatkan bangsa kami dari segala penyakit lahiriyyah bathiniyyah, bala’ yang keluar dari bumi dan turun dari langit, dan dari segala cobaan, fitnah, pengadu domba, provokasi, dan segala sebab yang merugikan di dunianya dan akhiratnya, dan dari murka yang maha kuasa. Ya Alloh jadikanlah bangsaku ini menjadi hambamu yang sholeh-sholeh serta pada akhirnya kami menjadi hambamu yang berakhlaq, beradab, serta selalu dijaga oleh taufiq dan hidayah-Mu yang sehingga tidak menjadi hambamu yang memalukan para sesepuhnya dihadapanmu dan berilah para pemimpin kami dari ‘Ulama ‘Umaro’ diberi kekuatan lahiriyyah maupun bathiniyyah dalam memimpin bangsa kami sehingga menjadi baldatun thoyyibatun warobbun ghofuur, al-faatihah

Al-Fatihah ilaa hadhrati ruuhi Rasulullaah SAW wa aalihi wa ashaabihi  wa dzurriyaatihi wa ahli baitihiim ajmaa’in, Wa ilaa hadhrati arwaahi jamii’il anbiyaa wal mursaliin wa arwaahi khulafair rasyidiin Sayidina Abu Bakar, wa Umar, wa Utsman, wa Ali radhiallaahu anhum. Wa ilaa hadhrati arwaahi jami’il Syuhada wa shalihiina wa wa sidiqqina wa ashaabina Rasulullah SAW wa tabi’iina wa tabii’in tabii’ina ila yaumid-diin ajma’in. Wa ilaa arwaahi wali jami’il Auliyaa’ta’alla wa Auliyaa’il muqarabiin wa ulama’il amiliin wa ulama’il rasyiidiin wa tho’ifati sufiiyah muhaqqiiqin wa jami’il ibadikash shaalihin wa fuqoro’in wa mufasiriin wa muhadistin wa ahli shalawat ilaa hadhrati nabiyyil karim SAW wa ahli dzikrii taqaruban illaallah wa ahli tauhid wa jami’il Imamil mujtahid wa illaa hadhrati jami’il Auliyaika min ahli ardhi wa ahli samaa’wati al-ahyaa’ wal ma-maati khusushan ahli sadaah fii masyariqil ardhi ilaa maghaaribiha wamin yamiiniha ilaa syimaaliha wa ardhi wa sama’waat. Wa ilaa hadhrati jami’il malaikatil muqarabiin, wa malaikatil ruuhaniyun, khusushan Syaikhina Sayyidi Syekh Mawlana al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya, wa ilaa hadhratii jami’il mu’miniina wal mu’minaati wal musliimiina wal musliimati al-ahyaa’i wal mamaati. Syai’ulillahi lahum Al-Fatihah……..

Selesai membaca tawasul Fatihah maka membaca Ratib Istighatsah sbb:

1.       Al – Fatihah bi niyyati ridho illah, al-Fatihah…

2.       QS. Al-Baqarah 1-5

Bismillaahirrahmaanirrahiim. Alif-laam-miim. Dzalikal kitaabu laa raiba fiihi hudallil muttaqiin. Alladziina yu’minuuna bil-ghaibi wayuqimunash shalaata wa mimmaa razaqnaahum yunfiquuna. Wal-laziina yu’minuuna bimaa unzila ilaika wa maa unzila min qablika wa bil aakhirati hum yuqiinuun. Ulaa-ika ‘alaa hudam mirrabihim wa ulaa-ika humul muflihuun.

“Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

“(1).Alif laam miim (2).Kitab(Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya petunjuk bagi mereka yang bertakwa (3).(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian rizki yang Kami anugrahkan kepada mereka (4).dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat (5). Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan merekalah orang-orang yang beruntung.”

3. QS. Al-Baqarah 163

Wa ilaa hukum ilaahuw waahid laa ilaaha illaa huwar-rahmaanur-rahiim.

“(163). Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang“

4. QS.al-Baqarah 255 (ayat Kursi)

Allaahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum, lahuu maa fis samaawaati wamaa fil ardhi, man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa bi ‘idznihi,  ya’lamu maa baina aidiihim wamaa khalfahum walaa yuhiithuuna bisyai-im min ‘ilmihi illaa bi maa syaa-a, wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardho, wa laa ya-uduhu hif-zhuhumaa wa huwal ‘alliyyil ‘azhiim

“(255). Allah, tiada Tuhan melainkan Dia, yang hidup kekal lagi terus menerus, tidak pernah mengantuk dan tidak pernah tidur.KepunyaanNya segala apa yg ada di langit dan di bumi.siapakah yg dapat memberi syafaat disisi Allah tanpa izinNya? Allah mengetahui apa-apa yg ada di hadapan mereka dan yg di belakang mereka. Sedang mereka tidak dapat meliputi sesuatu pun dari ilmu Allah melainkan apa yg Allah kehendaki, Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

5. QS.al-Baqarah 284-286

Lillaahi maa fissamaawaati wa maa fil ardhli, wa in tubduu maa anfusikum au takhfuuhu yuhasibkum bihillaahu, fayaghfiru liman yasyaa-u wa yu’adzdzibu man yasyaa-u wallaahu ‘alaa kulli syai’in qadiirun.

Aamanar rasuulu bimaa unzila ilaihi mirrabbihii wal mu’minuuna kullun aamana billaahi wa malaaikatihii wakutubihii warusulihii laa nufarriqu baina ahadin mir rusulihii wa qaaluu sami’naa wa atha’naa ghufraanaka rabbanaa wa ilaikal mashiir.

Laa yukallifullaahu nafsan illa wus’ahaa lahaa maa kasabat wa’alaihaa maktasabat, rabbana laa tu-aakhidznaa in nasiinaa au akhtha’naa rabbanaa walaa tahmil ‘alainaa ishran kamaa hamaltahuu ‘alal ladziina min qablinaa rabbanaa walaa tuhammilnaa maa laa thaaqata lanaa bih, wa’fu’anna waghfirlanaa warhamnaa anta maulaanaa fanshurnaa ‘alal qaumil kaafiriin. 

“(284).Kepunyaan Allah segala apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Jika kamu melahirkan apa yang ada di hati kamu atau kamu menyembunyikannya niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan lamu tentang perbuatan itu. Maka Allah mengampuni siapa saja yang dikehendaki-NYA dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (285) Rasul (SAW) telah beriman kepada Al Qur’an yg telah diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman, semuanya beriman kepada Allah, malaikat2Nya, kitab2Nya, rasul2Nya, (mereka mengatakan) kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun dari rasul-rasulNya, dan mereka mengatakan “ kami dengar dan kami taat” (mereka berdo’a) ampunilah kami Ya Tuhan kami dan kepadaMu-lah kami kembali.”. “(286).Allah tidak membebani seseorang melainkan lebih dari kemampuannya. Ia mendapat pahala dari kebajikan yang diusahakannya dan ia mendapat siksa dari kejahatan yang dikerjakannya (mereka berdo’a) Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada oramg-orang sebelum kami, Ya Tuhan kami janganlah pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami.Engkau penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”

6.      Laa ilaaha ilallahu wahdahu laa syarikallaahu lahul mulku walahul hamdu yuhyii wa yumiitu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qadiir (3x)

“Tiada Tuhan yang sebenarnya berhak disembah, kecuali hanya Allah Yang Tunggal, tiada sekutu bagi-Nya, Dialah yang memiliki kerajaan ini dan memiliki segala puji. Dialah yang menghidupkan dan yang mematikan, dan Dialah yang sangat berkuasa atas segala sesuatu.” 3x

7.      Subhananallaahi walhamdulillaahi wa laa ilaaha illallaaha wallaahu akbar (3x)

“Maha Suci Allah, dan segala puji hanya khusus bagi Allah, dan tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali hanyalah Allah dan Allah Tuhan Yang Maha Besar.” 3x

8.      Subhaanallaahi wa bihamdihii subhaanallaahil ‘azhiim (3x)

“Maha Suci Allah dengan segala puji kepada-Nya dan Maha Suci Allah Yang Maha Agung.” 3x

9.    Laa hawla wala quwwata ilaa billaahil ‘aliyil’adzhiim (3x)

“Tiada daya kekuatan tanpa daya upaya dari Allah”

10.  Allahumaghfir ummati Sayidina Muhammadin Shalallahu ‘Alaihi was Salam

Allahumarham ummati Sayidina Muhammadin Shalallahu ‘Alaihi was Salam

Allahumashlih ummati Sayidina Muhammadin Shalallahu ‘Alaihi was Salam

Allahumastur ummati Sayidina Muhammadin Shalallahu ‘Alaihi was Salam

Allahumajbur ummati Sayidina Muhammadin Shalallahu ‘Alaihi was Salam (3x)

Yaa Allah! Ampunilah seluruh umat Baginda Nabi Muhammad SAW

Yaa Allah! Rahmatilah seluruh umat Baginda Nabi Muhammad SAW

Yaa Allah! Rukunkanlah seluruh umat Baginda Nabi Muhammad SAW

Yaa Allah! Sembunyikanlah kekurangan ‘aib seluruh umat Baginda Nabi Muhammad SAW

Yaa Allah! Peliharalah seluruh umat Baginda Nabi Muhammad SAW

11.  Allahumaghfirlii waliwalidayyaa wal mukminina wal mukminat wal muslimina wal muslimat al-ahya’i wal amwaat (3x)

“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa orang tua kami, dosa orang-orang yang beragama Islam, laki-laki dan perempuan, dan orang mukmin, laki-laki dan perempuan  yang masih hidup maupun yang telah mati .”

12.  Allahumma bariklanaa wa iyyahum fii umrinaa waa fii rizqinaa wa awladinaa wa fii tijaaratinaa wa fii ma’isyatinaa wa fii mazra’atinaa wa hasadinaa (3x)

“Yaa Allah berkahilah kami semuanya dalam umur kami, rezeki kami, anak keturunan kami, perdagangan, usaha pekerjaan kami, urusan kami dan kebajikan kami”

13.  Allahumma salimnaa wal muslimiina wal muslimat wal mukminiina wal mukminaat min kulli fitnatin wa maakrin fii ‘ayiijihaat min bilad al-Muslimin ‘aammat wa ahlahaa wa man fiihaa aynamaa kaanuu min masyaariqil ‘ardhi wa maghaaribihaa min yamiinihaa ilaa syimalihaa wa najjinaa wa iyyahum min syarril hayaati wa syarril wafaati yaa waliiyyal hasanaati wa yaa qaadhiiyal haajaati (3x)

“Yaa Allah selamatkanlah kami, dan seluruh kaum muslimin dan mukmin, baik laki-laki maupun perempuan, dari maka-tipu muslihat, di dalam negara kami dan seluruh negari muslimin, beserta para warga penduduknya, semuanya tanpa terkecuali, baik yang berada di ujung timur maupun barat, yang di laut maupun di udara, limpahkanlah keselamatan perlindungan kepada semuanya dari seluruh keburukan-kejahatan di dalam hidup, maupun keburukan/kejahatan dalam wafat kami, Wahai Dzat Pemilik Kebaikan dan Maha Pengabul Pemenuhan kebutuhan hamba-Nya.

14.  Allahumma tukhzinii yauma yub’atsuuna yaumala yanfuu maalun wa laa banuuna illa min ‘ataallahu biqalbin saliim (3x)

“Yaa Allah, jangan sedihkan aku pada saat semua makhluk dibangunkan pada hari kiamat, pada saat anak dan harta tak berguna lagi kecuali mereka yang datang dengan hati yang selamat

15.  Allahumma shalli wa sallim ‘alaa sayidinaa Muhammadin wa ‘alaa aali sayidinaa muhammadin qad-dhaqat hiilatii ‘adriknii (3x)

“Yaa Allah limpahkanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad dan para keluarganya serta keturunan junjungan kami Muhammad, sedikit sekali upayaku (kemampuanku) maka engkau adalah perantara kami, peganglah dan tolonglah kami. (Yaa Rasulullah SAW)

16.  Yaa Lathiif (129x)

“Wahai Yang Maha Lembut “

17.  Yaa Hafiizh yaa Nashiir yaa Wakiil ya Allah (3x)

“Wahai Yang Maha Pemelihara, Wahai Yang Maha Penolong, Wahai Yang Maha Penanggung , Wahai Allah”

18.  Yaa haadii yaa ‘Aliim yaa Khabiir yaa Mubiin (3x)

“Wahai Yang Maha Pemberi Petunjuk, Wahai Yang Maha Mengetahui, Wahai Yang Maha Mengamati, Wahai Yang Maha Menerangkan.”

19.  A’udzu bikalimaatillaahiit-taamaati min syari maa khalaq (3x)

“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya.”

20.  Bismillaahil ladziy laa yadhurru ma’asmihii syai-un fil ardhi walaa fis samaa’ii wahuwas samii’ul ‘aliim. (3x)

“(Aku menjalani hidup pada siang atau malam ini) Dengan nama Allah yang tidak ada sesuatu pun dapat memberi mudharat/bencana, baik di bumi maupun di langit dan Dia- lah Tuhan yang maha mendengar lagi maha mengetahui” 3x

21.   Yaa Lathiifan bi khalqih, Yaa ‘Aaliman bi khalqih,  Yaa Khabiiran bi khalqih, ulthuf bina ya Lathiifu, ya ‘Aliimu, ya Khabiir  3x

“Yang Maha Lembut terhadap makhluk-NYA, Yang Maha Mengetahui terhadap makhluk-NYA, Yang Maha Mengamati terhadap makhlukNYA, berlemah lembutlah kepada kami Yang Maha Lembut, Yang Maha Mengetahui, Yang Maha Mengamati” 3x

22.   Yaa Lathifan lam yazal, ulthul bina fiimaa nazal, innaka lathiifun lam tazal ulthuf binaa wal muslimiin  3x

“Wahai Yang Maha Lembut, janganlah Engkau menurunkan (bencana) kepada kami berlemah lembutlah kepada kami dengan apa yang Engkau turunkan itu (bencana), karena sesungguhnya Engkau senantiasa Maha Lemah Lembut (untuk tidak menurunkan bencana itu), Berlemah lembutlah kepada kami dan juga kaum muslimin” 3x

23. Ya muhaimin ya salam salimni wal muslimin binnabii khoiril anam wa bi umil mukminin3x

24.  “Yaa amaanal khaifin, aminnaa mimmaa nakhaaf            

Yaa amaanal khaifin, sallimnaa mimmaa nakhaf

Yaa amaanal khaifin, najjinaa mimmaa nakhaf “ 3x

“Yang mengamankan orang yang takut, karunialah kami rasa aman dari rasa takut

Yang mengamankan orang yang takut, selamatkanlah kami dari segala yang kami takuti

Yang mengamankan orang yang takut, hindarkanlah kami dari segala yang kami takuti”

25.   –Doa-

Allahumma shalli wa sallim alaa Sayidina Muhammadin Nabiyiil Ummiy wa alaa alihi wa shahbihi wasalim bi adadi shalawatullah wa anbiya’ihi wa rasulihi wa malaikatihi wa awliya’ihi, wa yanfa’una bihaa min barakatihim wa anwarihim wa asrarihim wa nafakhatihim wa ‘alaa awladina wa abnaa’ina wa banatinaa wa ahli baitina wa ahbabina wa liman ahabuhum wa liman ahsana ilayna fiika fii dunya wal akhirah birahmatika yaa arhamar rahimin

Yaa Allah limpahkanlah shalawat dan salam kepada Baginda Sayidina Muhammad Nabi yang Ummi dan kepada seluruh keluarga dan sahabatnya, dengan shalawatnya Allah dan shalawatnya para Nabi, shalawatnya para Rasul dan Shalawatnya para malaikat serta shalawatnya para Awliya-Nya, yang memberikan kepada kita barakahnya, cahayanya, rahasianya, manfaatnya kepada kita, anak cucu keturunan kita, keluarga kita, ahli bait kita, kecintaan kita dan yang mencintai kita, dan orang-orang yang berbuat baik kepada kita karena Allah di dunia dan akhirat, dengan rahmat dari Mu, Wahai Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. @@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 35 Komentar

BENARKAN ILMU HIKMAH CONDONG PADA KEMUSYRIKAN?


Ini sebuah email yang mampir ke email rdrkwa@gmail, email redaksi KWA dari seorang sedulur perihal ilmu hikmah. Silahkan disimak.

TANYA
Assalamu’alaikum wr wb. Ki Wongalus, saya pernah mendengar dari seorang penceramah bahwa mengamalkan ijazahan sebuah asmak/hizib dari seorang guru termasuk ijazahan yang ada di blog KWA ini ternyata condong pada kemusyrikan. Banyak orang bilang, ilmu yang saya pelajari tersebut termasuk ilmu hikmah. Saya mohon berkenan memberikan penjelasan. Wassalamu’alaikum wr wb.
(Adi, Jakarta)

JAWAB.
Wa’alaikumsalam wr wb. Setiap manusia diperintahkan taat kepada Allah dan Rasulullah Muhammad SAW. Dengan taat kepada Allah dan Rasul-Nya, jelas kita akan memperoleh pahala yang bisa menjadi lantaran memperoleh rahmat Allah, yang antara lain berupa surga. Artinya, jika kita ber’itikad atau meyakini bahwa yang memasukkan kita ke surga adalah rahmat Allah yang kita peroleh dengan beramal soleh, ya boleh-boleh saja. Namun jika kita meyakini bahwa yang memasukkan kita ke surga adalah pahala dan amal shaleh kita itu termasuk syirik.

Begitu juga dengan rangkaian doa dalam ilmu hikmah, seperti hizib atau asma yang disusun oleh para ulama yang biasanya diawali lafadz  “Allahumma, Ya Allah…” jika kita meyakini bahwa doa-doa ilmu hikmah hanyalah sarana untuk memohon kepada Allah SWT sebagai satu-satunya Dzat yang bisa memberi dan menolong, tentu tidak ada masalah. Namun jika kita meyakini bahwa doa itulah yang mendatangkan kekayaan atau membuat selamat, perbuatan kita tersebut termasuk syirik.

Kita perlu berhati-hati, tidak mudah mengatakan perbuatan ini syirik, perbuatan itu musyrik. Karena syirik itu letaknya di hati, yang tidak diketahui oleh orang tersebut dan hanya Allah SWT yang tahu.

Tidak usah jauh-jauh tentang ilmu hikmah, meyakini bahwa seseorang meninggal dunia karena terkena penyakitpun sudah syirik. Sebab, kematian apapun penyebabnya, adalah ketetapan Allah Ta’ala atas setiap mahluk-Nya yang bernyawa. Jika Allah menghendaki seseorang mati, baik ada penyakit maupun tidak, pasti orang itu akan mati. Maka jika ada yang meyakini bahwa penyakit bisa membawa kematian, atau kesehatan bisa memperpanjang usia, itu juga bisa digolongkan sebagai syirik.

Kepada saudara Adi, saya sarankan bila memang asmak/hizib/awrad dalam ilmu hikmah yang anda amalkan bisa menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah dan Rasul-Nya serta dengan efeknya bisa turut membela agama dan sesama muslim, silahkan teruskan. Yang penting jaga i’tiqad baik-baik agar tidak tersusupi kemusyrikan.

Untuk menuju kepada Allah SWT, kita memerlukan TAUHID yang murni. Berikut beberapa ”Penjara” dimana seseorang harus bisa membebaskan diri ketika harus berhadapan dengan Allah SWT.

Yang pertama membebaskan diri daripada penjara alam jasad: Penjara alam jasad adalah hawa nafsu. Di dalam penjara ini tersedia banyak hidangan yang lezat-lezat, seperti kekuasaan, kemuliaan, puji-pujian, tamak, loba, dengki, khianat dan sebagainya. Jika mau bebas daripada penjara ini perlulah menjauhkan diri daripada perkara yang tidak baik itu, perkara-perkara itu menjadi penghalang.

Penjara kedua adalah dunia: Penjara ini mengandung berbagai keindahan dan keseronokan yang menjanjikan keabadian yang palsu kepada salik. Penjara ini menghidangkan berbagai jenis nikmat yang seronok dan menggairahkan. Dengan lain kata inilah yang dikatakan penjara syahwat. Jikalau salik lalai dan panjang angan-angan, maka nampaknya tidak ada kemungkinan salik itu dapat bebas daripada penjara ini.

Penjara ketiga adalah akhirat. Nampaknya hidangan-hidangan yang disediakan dalam penjara ini lebih enak daripada penjara dunia, di sini hidangannya adalah pahala, syurga dan bidadari yang cantik lagi menggoda. Rantai yang membelenggu dalam penjara ini adalah kehendak dan keinginan diri sendiri. Menganggap diri sendirilah yang melakukan segala sesuatu sama ada baik atau buruk….Bagaimanapun, kendaraan yang dapat membebaskan salik daripada penjara ini adalah ilmu, yaitu salik tidak memandang kepada perbuatannya tetapi adalah anugerah daripada Alloh SWT.

Penjara keempat adalah alam malaikat. Inilah penjara alam wujud yang terakhir. Hidangan yang terdapat dalam penjara ini adalah mendapatkan keramatan keampuhan dan kemuliaan di sisi Mahluk. Rantai yang membelenggu salik dalam penjara alam malaikat ini adalah sisa-sisa kehendak diri sendiri dan kesadaran tentang diri sendiri, Yaitu segala yang dilakukan adalah atas daya diri sendiri bukan karunia dari Alloh SWT.Untuk keluar dari penjara ini perlulah menghapuskan segala kehendak, keinginan, cita-cita dan angan-angan dengan menyadari bahwa salik adalah kosong, yang ada hanyalah Alloh semata-mata.

Penjara kelima adalah ilmu Allah SWT. Ilmu Allah SWT bukanlah alam namun tidak keluar dari alam, sebagaimana empat penjara yang sebelumnya, yang mana penjara-penjara tersebut adalah alam ciptaan Penciptanya. Ilmu Alloh adalah sesuatu yang bersangkutan dengan hal-hal keILAHIYAHAan itu sendiri.Hidangan yang terdapat dalam penjara ilmu ini adalah rahasia-rahasia yang ghoib-ghaib tentang hukum-hukum Alloh SWT. Dalam hal ilmu Allah ini, salik dapat melihat pengaturan Allah yang menggerakkan alam dan semua kejadian yang berlaku di dalamnya. Ilmu Allah sangat luas dan tidak Ada persamaanNya.Salik yang asyik dengan ilmu Allah akan terpenjara di dalamnya buat selama-lamanya.

Penjara keenam adalah makrifatullah. Ini adalah penjara yang paling kuat dan sangat sulit untuk di lepas maka kita perlu berhati-hati, ilmu Allah dan makrifatullah bukanlah alam, tetapi HAQ yang berkaitan dengan hal-hal keilahian-Nya sendiri, hidangan yang terdapat di sini adalah hakikat-hakikat alam semesta akan tampak nyata jauh dekat sama, hal-hal yang rahasia-rahasia berkaitan keilahian itu janganlah di sampaikan ke orang yang belum sampai ke pemahaman tersebut.

Salah satu upaya untuk membebaskan diri dari Penjara di atas maka ada cara/jalan menuju Allah SWT yang disebut tarikat/tarikat. Tarikat adalah teman kembar dari syariat. Semua tarikat yang mu’tabarah ada gurunya masing-masing dan mempunyai sumber yang sama, yaitu Baginda Nabi SAW, melalui jalur beberapa sahabat, diantaranya Sayyidina Abu Bakar Ash Shiddiq RA, Umar Bin Khattab RA, Ali Bin Abi Thalib RA, Anas RA, Salman Al Farisi RA.

Rasulullah SAW mengajarkan agar kita suka berdzikir dan bermacam-macam cara berdzikir dilakukan sejak sahabat Rasulullah SAW sesuai dengan kemampuan mereka. Misalkan ada yang mampu berdzikir dalam hitungan puluhan, maka disediakan pintunya. sedangkan bagi yang mampu hingga hitungan ribuan, juga disediakan pintunya. Tapi semua dzikir itu berdasarkan ayat: ala bidzikrillahi tatmainul qulub yang artinya berdzikir itu akan menenangkan hati, dan firman Allah SWT yang memerintahkan kita untuk memperbanyak dzikir. Sementara inti dari dzikir-dzikir tersebut sama yaitu supaya tidak lupa/lalai kepada Allah SWT dan mendekat sedekat dekatnya kepada Ilahi.

Inti dari semua tarikat tersebut adalah dzikir kesaksian yaitu LAA ILAAHA ILALLAH MUHAMMADUR RASULULLAH dan dzikir sirrnya yaitu ALLAH, ALLAH, ALLAH atau HU, HU, HU,(Dia, Dia, Dia) serta dzikir lain yang terkait dengan mentauhidkan Allah SWT.

Dzikir dalam tarikat tersebut sejatinya bukan bacaan untuk mencari pahala, tetapi meraih buahnya, yaitu selalu mengingat Allah SWT. Buah ini akan mewarnai kehidupan individu atau pribadi yang menjalankan tarikat tersebut. Perumpamaan ini bukan berarti membandingkan kalimah Laa Ilahailallah dengan dunia, melainkan untuk memahami, seseorang yang mempunyai cincin yang dihiasi batu permata yang tiada ternilai harganya, maka cincin itu akan dijaganya baik-baik. Ketika hendak makan saja, cincin itu disimpannya dikantong khusus agar tidak kotor atau terjatuh.

Itu baru batu. Lalu bagaimana dengan kalimah LAA ILAHAILALLAH MUHAMMMADUR RASULULLAH, yang nilainya tidak bisa kita takar seperti cincin bertahtakan batu permata tersebut? Kalimat tahlil ini mesti mengiringi dan mewarnai saat kita makan. Maksudnya, nasi yang kita makan sekedar sebagai sarana mencari kenyang, sementara yang memberikan rasa kenyang hanyalah Allah SWT. Jadi kita akan selalu ingat bahwa tiada dzat yang yang wajib disembah kecuali Allah SWT. Dan kita juga akan selalu ingat akan perintah dan larangan-Nya.

Kita akan selalu merasa didengar dan dilihat oleh Allah SWT. Dan bila sudah demikian mungkinkah kita akan banyak melakukan hal yang tidak disukai Allah SWT dan RasulNya? Tentu saja tidak. Ketika kita menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya pun kita kembalikan kepada Allah SWT. sehingga muncullah keikhlasan dalam setiap perilaku kita. Inilah tarikat. Jadi bukan hanya untuk mencari pahala, atau pendekatan diri kepada Allah SWT diwaktu mengamalkan. Akan tetapi mampukah kita membawa buah dari kalimah tahlil ini dalam kehidupan sehari-hari.

Keistimewaan kalimah tahlil dalam setiap tarikat itu berbeda-beda. seperti keistimewaan tumbuh-tumbuhan yang diciptakan Allah SWT. Misalnya daun kumis kucing berkhasiat bagi orang yang kena penyakit kencing manis. Ada juga daun delima, atau daun keci beling dan sebagainya. Tumbuhan itu di beri kelebihan masing-masing oleh Allah SWT.

Begitu juga dengan kalimat tahlil dalam setiap tarikat. Kalimah ini bak lautan yang tak bertepi. Walau keistimewaanya dibagi-bagi kepada Tarikat Syadzaliyah, Qadiriyah, Maulawiyah dan sebagainya tak kan pernah habis. Justru kita akan melihat keagungan ilmu Allah SWT yang ditunjukan kepada kita. Karena itu yang penting bagi kita adalah bagaimana kita belajar salah satu tarikat yang sekiranya mampu diamalkan dan menjalankan ajarannya secara istiqamah.

Tarikat-Tarikat yang dipegang oleh para Awliya seperti Syekh Abdul Qadir Al Jilani, Syekh Abu Hlani, Syekh Abu Hasan Asy Syadzili, Sayiid Ahmad Ar Rifa’i, Syaikh Ahmad Al Badawi, Syekh Ibrahim Ad Dasuki dan tokoh-tokoh ulama yang lain tidak mungkin akan menyesatkan dengan ajarannya. Sebab, dipundak mereka ini terdapat amanah Rasulullah SAW. Bukankah mereka itu waratsatul anbiya? Karena itu pula kita yakin, para ulama itu yang takutnya hanya kepada Allah SWT tidak akan menyesatkan kita. Jadi jelaslah bahwa tarikat yang bersumber dari para awliya tersebut tidak akan lepas dari Al Qur’an dan sunnah Nabi SAW. Wallahua’lam ulasan yang serba terbatas ini semoga ada manfaatnya.

@@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 75 Komentar

Buat website atau blog gratis di WordPress,com. The Adventure Journal Theme.