APA SIH TUJUAN BELAJAR ILMU?

APA SIH TUJUAN BELAJAR ILMU ITU?


Pada kesempatan kali ini, kita akan mempelajari apa sebenarnya hakekat mencari ilmu (ngelmu) tersebut, sehingga bisa jadi pengingat dan kalau bisa jadi bahan penyadaran kita semua. Sengaja saya kutip dari khasanah budaya Jawa yang kita tahu cukup mendalam falsafahnya.

Kita mulai dengan sebuah mocopat “Sekar Mocopat Tanpa Tandhing Ajinira sinawung ing Pocung” dari buku Warisan, Geguritan Macapat, karyan Suwardi, weton Balai Pustaka, 1983 disitu diungkapkan sebagai berikut:

THOLE KUNCUNG,
LAMUN SIRA NGUDI NGELMU,
JA PISAN SEMBRANA,
AWIT NGELMU MIGUNANI,
TANPA IKI URIPMU BAKAL REKASA.

Saat seseorang mencari ilmu yang pertama kali perlu diperhatikan adalah memahami pentingnya ilmu. Kenapa harus tahu ilmu? Sebab tanpa ilmu, hidup ini akan terasa susah dan hampa yang berakibat nanti kita akan sengsara. Sehingga kita tidak boleh “sembrana” atau kurang berhati-hati. Beda dengan orang yang punya ilmu, dia akan lebih waspada karena tahu sebab akibat dari piiran, niat, dan tingkah lakunya.

WIT WONG SEPUH,
INGKANG WUS BODHO KEBACUT,
ANANE MUNG PASRAH,
ORA BISA ANGGETUNI,
MARGA NGERTI GETUN MBURI TANPA GUNA.

Kalau usia sudah memasuki tua yang sudah terlanjur menjadi “bodoh” adanya hanya pasrah dan tidak bisa meratapi nasibnya di kemudian hari. Sebab bila meratapi nasib maka hal tersebut tidak ada gunanya.

ANAK PUTU,
ORA KENA MELU-MELU,
DADI WONG KLUYURAN,
AWIT MARAKAKE LALI,
GAWEYANMU KUDU RAMPUNG SABEN DINA.

Nah, sebagai generasi muda kita tidak boleh ikut-ikutan kebiasaan yang kurang bagus tersebut. Apalagi jadi orang yang tidak punya visi dan misi hidup atau jadi orang “keluyuran” karena hal tersebut mengakibatkan lupa pada pekerjaan yang harus diselesaikan setiap hari.

DISINAU,
AWAK AJA NGANTI NGELU,
AMRIH KABEH LANCAR,
MULA KUDU NGATI-ATI,
SABEN DINA ULAH RAGA DIMEN KUWAT.

Maka, belajarlah jangan sampai bingung supaya semuanya jadi lancar. Maka harus berhati-hatilah agar setiap hari tubuh dan raga kita bisa kita olah dengan sebaik-baiknya. Agar menjadi kuat dan sehat.

LAMUN ESUK,
AJA PISAH WEGAH WUNGU,
BANYU ANENG NJANGAN,
IKI PITUDUH SAYEKTI,
IKU LAMUN DIPUN UDI APIK TENAN.

Setiap pagi, jangan malas bangun pagi. Sebab embun pagi adalah sebuah petunjuk yang nyata sebab hawa pagi itu sangat bagus untuk dicari.

PANCEN KUDU,
SOLAH TINGKAH INGKANG CAKUT,
JANGKAHMU SIH AMBA,
GOLEK MULYA JAMAN MANGKIN,
ISIH AKEH IDHAM-IDHAMAN INGKANG MULYA.

Begitulah. Bahwa langkahmu masih panjang untuk mencari kemuliaan di jaman sekarang yang masih dicita-citakan yaitu yang mulia.

YEKTI KOJUR,
UWONG BODHO KAYA AKU,
SASAT LAWE KLASA,
AJI GODHONG JATI AKING,
EMAN-EMAN YEN URIP DITINGGAL JAMAN.

Orang yang bodoh bakal mengalami nasib buruk seperti tikar yang rusak dan perlu dibuang, masih bermanfaat daun jati yang kering. Maka sayang bila hidup ini kita ketinggalan jaman.

RUMANGSAMU,
APA JAMAN ORA MAJU,
IKI KUDU TANGGAP,
NGELMU PERLU KANGGO URIP,
PAWITAN KANG TANPA TANDHING AJINIRA.

Anggapanmu, apakah jaman itu berjalan di tempat? Kita harus tanggap bahwa ilmu itu perlu untuk hidup. Modal yang tiada bandingannya.
Dari penjelasan tersebut, kita akan memahami pentingnya ilmu. Ilmu berbeda dengan ngelmu. Kalau ilmu adalah pasif dan sebuah “benda” maka Ngelmu bersifat aktif. Artinya kita sudah meresapi, memanfaatkan dan memproses ilmu dalam tingkah laku sehari-hari. Inilah hakekat NGELMU.
Apa saja hambatan orang yang sedang ngelmu? Mari kita telusuri bait-baik Suluk Wragul Sunan Bonang. Seorang yang sedang mencari Ilmu itu seperti pemburu….

WRAGUL 28
PEMBURU TAK HENTI BERKELANA
IBARAT BURUNG BANGAU BERTAPA DI RAWA
TIADA LAIN NIATNYA
KECUALI MENCARI IKAN DI AIR
DIMAKANNYA SIANG MALAM
SEPERTI BANGAU BOTAK
SEPERTI KAMBING PRUCUL
MAKA ORANG YANG MENJALANI LAKU
JANGAN CEPAT MELANGKAH DULU
BERTANYALAH KEPADA YANG TAHU

Inilah pentingnya kita berguru laku kepada seseorang yang lebih tahu agar tidak tersesat. Kepada siapa kita berguru? Di Jawa kita mengenal adanya guru bakal, guru dadi dan guru laku. Mereka inilah yang seharusnya menuntun patrap-patrapnya ilmu? Apalah arti doa dan amalan bila tidak diresapi makna dan hakekatnya sehingga nanti baru kita melangkah ke tahap NGELMU, atau aplikasi dari pemahaman akan makna dan hakekat tersebut. Sebuah ilmu bisa “kontak” dengan sumber-sumber energi dalam hidup bila ada guru/mursyid. Dan guru inilah yang mengijazahi sebuah ilmu. Pengijazahan maksudnya adalah memberikan secara ikhlas ilmu yang sudah dia kuasai dan jalani. Pengijazah yang belum menguasai dan menjalani “ilmu” dan hanya sekedar tahu maka ilmu tersebut tidak bisa dijalankan.

WRAGUL 29
HARUSLAH LAHIR BATIN KALAU MEMUJI
YANG DIUCAPKAN MUSTI DIMENGERTI
YANG DILIHAT HENDAKNYA DIPAHAMI
JUGA SEGALA YANG DIDENGAR
BETAPA SUKAR ORANG MEMUJI
MAKA SEBAIKNYA CARILAH GURU
YAKNI ORANG YANG LEBIH TAHU
YAKNI AHLI IBADAH
DAN MEMUJILAH HINGGA MERASUKI HATI
BEGITULAH ORANG MELAKUKAN SEMBAH PUJI

Ilmu itu adalah rangkaian paket puja dan puji untuk-NYA. Ilmu adalah penafsiran tentang sebuah fenomena yang tergelar di alam semesta ini. Ilmu menafsirkan rahasia-rahasia alam mulai alam sahir dan alam kabir. Dalam mengajani ngelmu, maka kita harus mengerti dengan sungguh-sungguh dan apa yang dilihat dan didengar hendaknya benar-benar dipahami. Jangan hanya ikut gelombang keinginan orang lain tanpa paham maksudnya. Apa langkah yang harus dilakukan bila kita belum paham? Ya apa boleh buat, kita harus mencari sosok guru.

WRAGUL 30
KALAU TAK TAHU APA YANG DISEMBAH
HILANGLAH APA YANG DISEMBAH
KARENA SESUNGGUHNYA TAK ADA TIRAI ITU
TATAPLAH GUNUNG
DAN BUNGA DALAM KESEPIAN
IKAN TANPA MATA
WAHYU SEJATI
PANDANGLAH ARJUNA
KALAU BERTAPA TAK TERGODA
OLEH APA SAJA

Dalam menjalani ngelmu kita akan menemui banyak godaan dan hambatan. Godaan dan hambatan itu bukan kita yang menciptakan, tapi memang sudah ada secara alamiah ketika seseorang berniat mencari dan mendapatkan ilmu.

WRAGUL 31
ADA TIGA MACAM PEPUJI
PERTAMA MELIHAT YANG DISEMBAH
KEDUA MELIHAT RUPANYA
KETIGA TAK MELIHAT
KEPADA SESUATU, NAMUN
MENGHADAP YANG DISEMBAH
IBARAT MENCARI
DALANG TOPENG YANG SEDANG MELAKUKAN PERTUNJUKAN
TAK BEDA SEGALA YANG DIMILIKI
BERPADU SATU RAGAWI RUHANI

Sebenarnya, semua ilmu apapun muaranya kepada ilmu-ilmu ketuhanan dan ketauhidan. Sehingga dalam ilmu kita akan mememukan tiga hal. Pertama mengetahui apa yang kita cari yaitu sesuatu yang kita sembah. Kedua, merasakan kehadirannya dan ketiga kita sudah tidak lagi melihat lagi sesuatu tersebut karena sejatinya sesuatu itu sebenarnya ada di dalam diri diri kita sendiri. Kita sudah manunggal dengan sesuatu yang kita sembah tersebut.

WRAGUL 36
DALANG DAPAT BERTUKAR RUPA
BANYAK ORANG JATUH CINTA
MENYAKSIKAN TINGKAH WAYANGNYA
TERLIHAT SEGALA TINGKAH LAKUNYA
SEMUA SALING JATUH CINTA
BETAPA MENDALAM KEINGINAN
MENATAP SANG DALANG
NAMUN DICARI TAK KETEMU
MESKIPUN DENGAN SUSAH DAN RINDU

Ketika ilmu sudah menyatu dalam diri, maka kita akan menemukan hakekat ilmu yang sejati. Orang yang berilmu tinggi, maka dia akan merasa semakin tidak tahu apa-apa. Yang dirasakannya adalah kerinduan pada “Sang Dalang” atau Yang Maha Menciptakan semua yang ada ini. Perlu diingat bahwa “Sang Dalang” itu tetap susah dicari meskipun dengan kerinduan yang mendalam.
Kami ingin mengakhiri paparan malam ini dengan sebuah pesan bahwa “Kebijaksanaan adalah tetesan kesaktian yang tidak menimbulkan luka” artinya buat apa kita belajar ilmu, memiliki ilmu bila hanya untuk mencari musuh atau untuk menyakiti sesama?

@Mas Kumitir & Wongalus, 2010

Categories: APA SIH TUJUAN BELAJAR ILMU? | 91 Komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. The Adventure Journal Theme.