ILMU HIKMAH DAN SUFI

URUTAN DARI ILMU HIKMAH DAN SUFI


Santosoiman Wahyu
santosoimanwahyu@yahoo.com

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Smg Allah SWT mencurahkan Rahmatnya buat kita semua. Salam hormat untuk para Sedulur dan Sesepuh KWA. Saya mencoba menjawab apa yang pernah saudara saya Mas Ampel tanyakan. Saya minta maaf sekali jika jawaban saya kurang berkenan di hati kerena terbatasnya pengetahuannya saya. Mohon sekiranya dimaafkan. Karena saya baru belajar Alif .

Bismillahir Rahmanir Rahim. Mas Ampel bertanya “urutan dari ilmu hikmah sampai sufi apa saja tingktan awal dan akhir?dan caranya mas?

Jawab: Mas Ampel saudaraku..Maaf saya coba jawab dengan keterbatasan saya karena sebenarnya di KWA ini banyak pengetahuannya yang lebih dari saya. Sekiranya salah mohon diluruskan. Sesungguhnya Sufi itu bukanlah tingkatan tetapi adalah seseorang yang mencoba berjalan mendekati Sang Maha Pencipta. Dia berjalan dengan bersungguh-sungguh dengan caranya dengan metodenya / Cara / Jalan/ Tarik/ Tarikat / Tariqoh.

Dan Ilmu Hikmah menurut islam itu bukan suatu urutan tapi karomah/ pemberian Allah SWT dari sisinya (LADUNI) : seperti seorang ahli Hikmah dalam Al-quran yang memindahkan singasana ratu Bilqis ke dalam kerajaan Nabi Sulaiman AS. QS Surat 27 : An-Naml ayat 40.

Jalan untuk mendekati Allah SWT berbagai macam yang biasa kita Klasifikasikan menjadi 3. tiga (3) ruang yang bertingkat dari bawah sampai ruang tingkat atas. . Tetapi sebelum naik Tangga kita tentu sudah mempunyai Kunci. Untuk membuka ruang dasarnya. Kunci tersebut adalah Dua Kalimat Syahadat. Ruang ini terdapat dalam kalbu kita. (Insya Allah sudah pernah saya bahas dalam Dzikir Teles dan Dzikir Garing). Kunci kedua adalah Istinja yang benar (Insya Allah akan saya terangkan nanti suatu saat)

Ruang pertama (Syariat / Syar’I / Islam)

Ruangan ini adalah ruang pertama dari Hati kita mengenal Islam secara syar’I secara benar menurut kaidah Al-quran dan Hadist. Segala sesuatu akan kita sandarkan dalam dalil Aqli dan Naqli. Ruang ini besar dalam hati kita sehingga bercampur baur dengan kebenaran dan lainnya. Emosi dan jiwa , akal dan nalar masih mendominasi. Kebenaran dilihat hanya dengan mata dan dalil yang kita artikan secara pribadi diri. Sehingga Sholat hanya gerakan tiada makna, kosong tanpa nyawa. Kita cenderung menyalahkan pada sesuatu yg menurut kita benar. Hati = Saya =Ego. Contoh : tidak puasa = dosa . kita tidak bertanya kenapa orang tsb tidak berpuasa, Sakitkah, uzur atau pekerja keras. Kalimat mendosakan seseorang banyak pada ruangan ini, salah dan benar kumpul. Bid’ah, haram dan halal. Biasa terucap. Karena karat banyak dalam ruang ini maka hati kita cenderung menjadi mahluk yg benar. Lupa pada kenapa kita diciptakan.

“Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Ku”
(QS. Adz-Dzariyat : 56).

Karena banyaknya karat maka kita harus sering membersihkannya caranya :
– Mulailah sholat jiwa dan raganya..sembahlah Allah dalam Sadar dan tidurmu
– Membaca Surah Alfatihah dengan benar ( Rahasia Al-Fatihah Insya Allah Nanti juga saya akan terangkan)
– Mulailah penuhi hatimu dengan Nur Ilahi, Dzikir
– Mulailah menata hati : tiada yg benar kecuali Allah Ta’ala
– Mulailah menjadi manusia apa adanya : ‘Laa Hawla wala quwwata illa billah’
– Hilangkan hakim dari diri kita karena Allahlah Hakim sesungguhnya
– Sabar dan Istiqomah senjata hati
– Seyum yang tulus senjata diri

Setelah langkah-langkah tersebut dijalankan Insya Allah pintu ke Ruangan ke dua (2) bisa kita lihat. Dan kita naiki.

- Ruangan Kedua (Hakikat)
Saya hanya mencoba menerangkan dengan keterbatas saya, karena saya pribadi belum masuk keruang ini masih ada dalam ruang Syariat. Mudah-mudahan ada yang bisa menerangkan ruangan ini secara detil saya sangat berterimakasih. Insya Allah saya coba :

Bismillahir Rahmanir Rahim Ruangan ini adalah kelanjutan dari ruangan pertama dan lebih kecil dari ruang ke satu. Kenapa, ?. karena jarang orang yang masuk keruangan ini, tapi banyak yg merasa sudah masuk ke ruangan ini. Mungkin karena tersesat dan atau disesatkan oleh Syetan, pihak ketiga, diri sendiri (Ego), Nafsu. Maka kita merasa sudah memasuki ruangan hakikat padahal mungkin di ruangan lain yang menyesatkan. Naudzubillah. Semoga Allah mengampuni kita semua.

Pada ruang hati kita yang kedua ini. Hanya yang bersih dan suci yang bisa masuk, ruangan ini diisi oleh rasa Tawadhu, Welas Asih, tidak mau mendahului Allah, rasa paling benar tidak ada, kalimat anda salah saya benar tidak ada, mulai mengerti arti dan rasa Laa Hawlaa Walaa Quwata ila billah. Mulai mengerti kenapa ada ayat Sajadah. Dan memahami Al Quran dan Hadist bukan dari bacaan tetapi dari Kalam. Mengerti Hakikat sebenarnya suatu perbuatan dan amalan. Mulai berkomunikasi dengan isyarat Allah. Dan melihat Allah dalam Ciptaan sesungguh-Nya.

Pada ruangan ini mulai kita mengetahui hamparan bumi terlihat lebih lapang, mudah semua urusan karena merasa tiada yg berarti semua urusan dan mulai mengerti ilmu Kalam. (Wallahu A’lam). Sehingga banyak yg tersesat di ruangan ini atau tidak mau beranjak dari ruangan ini atau karena senangnya dengan ruangan ini (karena mulai mengerti ilmunya Allah yg sangat luas) maka banyak yg bermain dan tergelincir keluar dari ruangan ini menuju keluar yaitu ruangan permainan. Sehingga ada istilah Majnun (menjadi gila) karena sulit atau bingung membedakan atau ke asyikan sendiri.

Ilmu hikmah berada pada ruangan ini. Karena sudah mendapat Kalam sehingga mengerti untuk apa suatu ayat di amalkan. Banyak yang mengamalkan amalan2 untuk mendapat karomah sehingga lupa pada ruangan ke 3 yaitu Makrifatullah. Padahal barang siapa yang sudah naik dan masuk ke Ruangan ke tiga Karomah itu hanyalah hiasan saja.

Cara-Cara Membersihkan Ruangan di Hati kita ini / Ruang Hakikat .
– Cara cara Ruangan Pertama tentu tetap dilaksanakan dan bahkan tambah dikuatkan, Sholat dan puasa malah makin Khusuk makin tawadhu.
– Mulai belajar menghilangkan saya dan menimbulkan Aku.
– Mulai melipat gandakan Ikhlas
– Cara tersendiri yang khusus yang hanya dia, Wali2 Allah dan Allah SWT yang Tahu. Yang hakikatnya sangat tipis sehingga Nabi Musa pun harus belajar pada Nabi Khidir. Batas Salah dan benar bukan di penglihatan Mata. Tapi di hati dan isyarat dari Allah SWT. Seperti Nabi Ibrahim AS. waktu mendapat perintah menyembelih Nabi Ismail AS. Isyarat masuk kedalam hati. Penglihatan bukan suatu hujah atau sandaran untuk keputusan. Insya Allah setelah tahapan ini maka atas izin Allah. Tersingkap Hijab pintu ke Tiga (3). Sehingga kita bisa naik ke tingkat ini. MAKRIFATULLAH.

Tahap 3. MAKRIFATULLAH
Berat sekali saya menerangkan tingkat ini karena makin tidak tahunya dan makin terbatasnya pengetahuan saya. Semoga Allah memafaatkan dan mengampuni saya karena mencoba dengan ilmu yang sedikit ini menuliskan MAKRIFATULLAH. (Allahhumaghfirlii / Ya Allah Ampuni saya) semata-mata saya menulis ini hanya bermaksud meng agungkan Engkau Ya Allah. Tiada maksud kesombangan apa pun karena Engkau lah semata-mata yang Berhak dengan Pakaian Kesombangan.

Bismillahir Rahmanir Rahim. Tingkat ini adalah tingkat tertinggi dari suatu bangunan Hati. Tingkat tertinggi seorang Mahluk dapat menemui sang Pencipta. Tanpa hijab atau penghalang apapun. Tingkatnya para Nabi, Wali-wali Allah. Tingkat tersembunyi. Bahkan jika ada yang tahu seorang Wali maka hanyalah Wali Allah juga. Karena mereka biasa bertemu dalam Alam Allah lainnya. (Wallahu A’lam). Jika orang umum tahu dia Wali maka biasanya dia akan pergi dan bersedih karena ke waliannya sudah diketahui oleh umum. Dia merasa ada yang salah dengan dirinya. Bahkan akan meminta di angkat nyawanya karena sedihnya.

Pada Tingkat ini orang biasa tiada pengetahuan untuk medakwakan suatu masalah. Ada Wali yang seperti orang gila, Ada wali yang berdagang kecil-kecilan, Ada wali yang jadi penguasa, bahkan ada wali yang kita lihat seperti Penjahat. (Nabi Khidir membunuh anak kecil) Nalar kita hanya sebatas pandangan mata dan Al Quran sebagai bacaan bukan sebagai Kalam.

Pada tingkat ini Karomah atau ke ajaiban adalah hadiah Allah yg mereka tidak pinta atau mereka cari. Karomah adalah semata-mata karena Allah ridho dengan para Wali. Sehingga ucapannya adalah ucapan Allah.

Contoh, Sunan Ampel karena sedih melihat masjidnya kotor setelah seorang pengurusnya yg biasa membersihkan masjid wafat (Mbah Sholeh), maka terucap kata. Bila Mbah Sholeh hidup tentu akan bersih masjid ini..Tiba-tba Mbah Sholeh ada dan sedang Nyapu kembali. Begitu berulang kali sampai sembilan kali sampai kanjeng Sunan Ampel meninggal baru tidak hidup lagi. Itulah maka di sebal timur masjid Agung Sunan Ampel bisa dilihat ada Sembilan makam dengan Nama Yang Sama. Bisa dilihat saat ini. Allahu Akbar..

Pada tingkat ini Amalan-amalannya adalah Hanya Allah yang Tahu. Sedangkan Nabi Muhammad adalah satu-satu diatas Wali. Beliau berada di luar ruang satu dua dan tiga, Beliau berada di Sisi Allah. Karena tidak diciptakannya alam ini kecuali untuk Mu ya Muhammad. Semua ada karena Nur Muhammad yang Allah ciptakan. Hanya Allah yang tahu kedudukan Baginda Nabi. (Ya Nabi Salamu Alaik)

Salah = benar = hitam = putih tiada salah tiada yang benar tiada yang hitam tiada yang putih yang ada hanya Allah.

Sholat=dzikir = ingat=Pasrah=tiada daya=Aku kosong=Allah Isi ..Kosong=Isi pada Kasus Syeh lemah Abang Aku = Allah. Keinginan ku = keinginan Allah.

Pada tahap ini Manusia sudah bukan dengan kata kata biasa mengapresiasikannya. Kasus murid Syeh Siti Jenar yang mencari mati untuk bertemu Allah. mudah tergelincir kita sebagai manusia biasa untuk memahaminya. Sehingga saling menyalahkan dan saling membenarkan. Diam yang utama diam = kosong = isi = Allah. Laa Hawla Wala Quwata ila billah. Hanya Allah yang maja benar.

Kesimpulannya : Laksanakan Sholat sebenar-benarnya sholat. sholat jiwa dan raga sehingga akan membuka jalan menuju Makrifatullah. Senyum dan Salam adlh Islam. Dan saya takut terjadi perselisihan yang menjauhkan kita dari Rahmat Allah SWT. Yang benar dari Allah dan yang salah pasti dari saya. Wassalamu’alaikum Wr. Wb. @@

Categories: ILMU HIKMAH DAN SUFI | 88 Komentar

Blog di WordPress.com. The Adventure Journal Theme.