MODERNITAS

IRONI MANUSIA MODERN: BUNUH DIRI


Bertrand Russell, filsuf Inggris: kemajuan-kemajuan material di era modern ternyata tidak dibarengi oleh kemajuan dibidang moral-spiritual. Peradaban modern ditandai oleh terputusnya rantai kemajuan material dan kemajuan moral-spiritual. Apakah agama mampu menjadi obat? Berikut refleksi sederhana.

college-depressionErich Fromm, psikolog mengungkapkan hal yang sama. ”Manusia modern menghadapi suatu ironi. Mereka berjaya dalam menggapai capaian-capaian material, namun kehidupan mereka dipenuhi keresahan jiwa. Orang-orang modern banyak yang sangat rentan terhadap stress, depresi, merasa teralienasi (meski mereka hidup bersama orang lain) mengalami berbagai penyakit kejiwaan, hingga memutuskan untuk bunuh diri.”

Erich Fromm memberi contoh fakta yang menjadi problem manusia modern di Eropa dan Amerika, yaitu tingginya angka bunuh diri di kalangan lansia di negara yang berjaya dibidang ekonomi. Meski mereka hidup di panti werdha (settlement) yang memadai bersama orang-orang yang seusia serta mendapat berbagai jaminan sosial, banyak di antara mereka yang memutuskan untuk bunuh diri. Kebutuhan utama manusia yaitu menyembah Tuhan Yang Maha Esa, belum dipenuhi oleh peradaban Barat (dalam hal ini adalah oleh settlement yang ada di Amerika).

Problem kejiwaan manusia sebagaimana digambarkan di atas hampir terjadi di seluruh muka bumi, termasuk di Indonesia. Stress, depresi, merasa teralienasi, berbagai penyakit psikologis, agresivitas, kekerasan, pembunuhan, penjarahan, menjadi kosa kata yang sangat akrab, di samping karena kita lihat sendiri fenomenanya di depan mata kita, juga karena kita mengalaminya sendiri.

Apakah agama mampu menjadi obat penyakit kejiwaan manusia modern? Konon, keimanan kepada Tuhan merupakan kekuatan luar biasa yang membekali manusia yang religius dengan kekuatan ruhaniah yang menopangnya dalam menanggung beban hidup, menghindarkannya dari keresahan yang menimpa banyak manusia modern yang didominasi oleh kehidupan materi dan persaingan keras guna meraih pendapatan materi, tapi pada saat yang sama ia membutuhkan hidangan ruhaniah.

Peran keimanan dalam mengatasi berbagai problem manusia jauh-jauh hari telah diperkenalkan oleh psikolog-psikolog Barat. William James berujar, ”Tidak ragu lagi bahwa terapi yag terbaik bagi keresahan adalah keimanan kepada Tuhan. Keimanan kepada Tuhan merupakan kekuatan yang tidak boleh tidak harus dipenuhi untuk menopang seseorang dalam hidup ini”. Lebih lanjut ia berkata : “Antara Tuhan dengan kita ada hubungan yang tidak terputus. Apabila kita menundukkan diri di bawah pengarahan-Nya, maka semua cita-cita dan harapan kita akan tercapai”.

Orang-orang yang religius memiliki kepribadian yang lebih kuat dan terhindar dari berbagai penyakit jiwa. Henry Link, psikolog Amerika, menyatakan bahwa berdasarkan pengalamannya yang lama dalam menerapkan percobaan-percobaan kejiwaan atas kaum buruh dalam proses pemilihan dan pengarahan profesi, ia mendapatkan bahwa pribadi-pribadi yang religius dan sering mendatangai tempat ibadah memiliki kepribadian yang lebih kuat dan baik ketimbang pribadi-pribadi yang tidak beragama atau tidak menjalankan sama sekali suatu macam ibadah. Sementara itu A.A. Brill, juga psikolog, berkata : “Individu yang benar-benar religius tidak akan pernah menderita sakit jiwa”.

Berbagai bukti empiris di Barat dan di Timur menunjukkan bahwa keberagamaan, keimanan, dan spiritualitas mengembangkan kepribadian seseorang dan sekaligus menurunkan problem-problem psikologis yang dialaminya. Carl G. Jung, setelah sekian lama dalam terapi psikologi berkata : “Selama tiga puluh tahun yang lalu, pribadi-pribadi dari berbagai bangsa di dunia telah mengadakan konseling denganku dan aku pun telah menyebuhkan banyak pasien. Tidak kudapatkan seorang pasien pun di antara para pasien yang telah berada pada penggal kedua umur mereka (lebih dari tiga puluh tahun) yang problem esensialnya bukan wawasan agama tentang kehidupan. Dapat kukatakan mereka telah menjadi mangsa penyakit. Sebab mereka telah kehilangan setiap agama-agama yang ada pada setiap masa. Sungguh tidak ada seorang pun di antara mereka yang menjadi sembuh, kecuali setelah ia kembali kepada wawasan agama tentang kehidupan.

Pada dasarnya agama Islam mengenal tiga tahap terapi, yaitu PEMBERSIHAN DIRI (pengosongan diri atau sterilisasi dari sifat buruk dan hawa nafsu), pengembangan diri (pengisian sifat-sifat, cara berpikir, dan kebiasaan baik), dan penyempurnaan diri (tercapainya secara optimal upaya pengabdian kepada Allah dan kasih sayang dengan sesama). Hal ini searah dengan apa yang kita kenal dalam dunia Tasawuf, yaitu takhali, tahalli, dan tajali. Untuk melewati setiap tahap terapi di atas ada banyak teknik yang sebaiknya dilakukan. Pada dasarnya di antara berbagai teknik psikoterapi Islami itu dapat dilakukan penggolongan pendekatan, yaitu pendekatan kognitif-behavioral dan pendekatan psiko-spiritual. Pendekatan kognitif-behavioral menekankan penggunaan kesadaran atau akal pikir manusia untuk membantu penyelesaian problem. Pendekatan psiko-spiritual dilakukan dengan maksud untuk mendekatkan diri dengan Allah Azza wa jalla, yang merupakan sumber ampunan, ide, ketenangan dan sebagainya.

Dalam Tahap Pembersihan Diri, secara khusus memiliki tujuan untuk dapat mengenali, menguasai dan membersihkan diri dari sifat-sifat, cara berpikir, atau kebiasaan buruk yang sudah melekat dalam diri seseorang. Setidaknya ada beberapa teknik yang digunakan untuk membersihkan diri, yaitu (a) teknik pengenalan diri yang terdiri atas talqin, introspeksi dan pemantauan diri, (b) teknik pengembangan kontrol diri yang meliputi teknik “puasa” dan teknik paradoks, (c) teknik pembersihan diri yang meliputi teknik dzikir, teknik puasa, teknik membaca Al-Qur’an.

Sementara pada TAHAP PENGEMBANGAN DIRI, Setelah diri dibebaskan dari berbagai kekurangan, penyakit hati, dan sebagainya, manusia perlu dibawa kepada situasi baru, yaitu pengembangan diri. Tujuannya adalah menumbuhkan sifat-sifat terpuji dalam diri seseorang. Teknik yang dapat digunakan adalah teknik internalisasi asmaul husna, teknik teladan rasul dan teknik pengembangan hubungan baik dengan sesama manusia.

Teknik Internalisasi Sifat-sifat Baik. Dalam hal ini seseorang mempelajai sifat-sifat baik yang patut dimiliki manusia. Sifat-sifat baik itu dapat diambil dari ajaran agama atau ajaran moral yang lain. Namun, sifat baik yang tidak diragukan relativitasnya dapat diambil dari asmaul husna. Allah memiliki sejumlah 99 nama baik (asmaul husna) seperti pengasih (ar-rohman), penyayang (ar-rahiim), pengampun (al-ghaffar), pemberi petunjuk (al-rasyid), dan seterusnya. Individu diminta untuk menghayati dan memasukkan nilai-nilai yang terkandung dalam asmaul husna, misalnya menumbuhkan rasa kasih sayang dan pengampunan terhadap sesama. Dalam tasawuf, cara yang ditempuh adalah mengulang-ulang nama tadi dengan jumlah bilangan tertentu.

Teknik Peneladanan. Teknik ini dilakukan dengan meneladani seseorang yang dianggap memiliki standar nilai dan perilaku yang tingggi. Dalam Islam yang merupakan teladan yang terbaik adalah Rasulullah yang merupakan Al-Qur’an yang hidup. Kalau seseorang mengharapkan dirinya memiliki jiwa dan perilaku yang baik sebagaimana diidealkan Al-Qur’an, maka yang dapat dia lakukan adalah meneladani bagaimana Al-Qur’an itu dalam diri manusia. Maka teladanilah Rasul. Rasul adalah suri tauladan sebagaimana Al-Qur’an.

Jika pada tahap pengembangan banyak memfokuskan pada upaya memulai hubungan dengan sesama manusia dan melakukan hubungan dengan Allah dalam dataran syariah, maka dalam TAHAP PENYEMPURNAAN DIRI adalah tahap peningkatan hubungan dengan Allah Azza wa jala dan hubungan dengan sesama. Hubungan yang semula hanya sebatas dalam kegiatan ritual, ditingkatkan menjadi hubungan yang penuh “keakraban”. Kualitas semacam ini akan menghasilkan berbagai pengalaman keagamaan dalam diri seseorang. Hubungan yang semula untuk memperoleh keuntungan pribadi dan orang lain, dilanjutkan dengan hubungan yang bervisi, menghasilkan kebaikan dan pengembangan pribadi bagi orang lain. Hubungan tersebut merupakan manifestasi usaha menjalankan fungsi kekhalifahan, yaitu berupaya untuk menghadirkan rahmatan lil ‘alamin (kebaikan di seluruh bumi) bagi seluruh umat manusia.

Wong Alus

Categories: MODERNITAS | Tags: , , , , , , | 1 Komentar

Blog di WordPress.com. The Adventure Journal Theme.