MOKSA

BALI, MOKSALAH KEMBALI


OM, OM OM BHUR BHUWAH SWAH,
TAT SAWITUR WARENYAM,
BHARGO DEWASYA DHIMAHI,
DHIYO YO NAH PRACHODAYAT

Ya Hyang Widhi yang menguasai ketiga dunia ini,
Yang Maha Suci dan Sumber Segala Kehidupan, Sumber Segala Cahaya, Limpahkan pada Budi Nurani kami Penerangan Sinar Cahaya-Mu Yang Maha Suci.

bedugul

Damai dan hening, bebas dari hiruk pikuk polusi duniawi saat meditasi di Pulau Dewata kali ini. Perjalanan melintasi lautan yang membiru, yang kadang tenang membisu kadang pula berdebur sangar memekik garang menghempaskan karang-karang ego sampai luluh dalam tangis penuh kesadaran: Betapa kecilnya kita di tengah alam dan sesama ciptaan Sang Hyang Widi.

Betapa rindu kita akan belai kasih mesra Tuhan. Betapa banyak kasih-Nya yang terlewatkan sia-sia dalam pergumulan hidup kita sehari-hari, sebanyak riak gelombang yang tiada pernah berhenti detik demi detik, dalam ada maupun ketiadaan yang kita alami. Terus mengalir dalam irama pandangan maupun di luar pandangan kita.

Berhentilah sesaat di pura. Pura adalah penanda arah para perjalan spiritual. Terletak di hampir semua pelosok pulau yang dipangku alam yang hijau asri dalam masa penghujan, dan kering menyengat di musim kemarau. Namun demikian, tidaklah sedemikian terasa bedanya dalam naungan kesejukan yang kita rasakan dalam pelukan wibawa dari waktu ke waktu.

Bersujudlah memuja Sang Hyang Widi dan mintalah ampunan. Dia akan memberi petunjuk nyata berupa cermin hidup: tentang kegalauan ambisi, nafsu, emosi, dan hiruk-pikuknya keinginan hidup kita. Perhatikan tingkah yang diperagakan oleh monyet yang kita temui. Tepat seperti itulah ulah kita dalam pandangan Yang Maha Penimbang. Semakin banyak tingkah monyet yang menyesakkan dada, berarti semakin banyak pula yang harus kita sadari, dan kita benahi dalam hidup kita ini. Betapa marahnya murka Tuhan melihat ulah kita, seandainya beliau tidak lagi Maha Pengampun. Berserah dirilah ke hadapan Tuhan, hai manusia sombong!

Pohon-pohon yang rindang dengan akar-akar menjulur, burung-burung yang bersarang nyaman, klarap, bajing berloncatan, kera yang menyusui anaknya adalah fakta. Manusia yang masih percaya bahwa di sebuah pohon itu ada penunggu dan penjaga menjadi sebab kenapa di sana orang tidak gampang menebang dan memangkasnya. Setiap pojok ruang dan wilayah ada makhluk halus yang tidak perlu dimusuhi namun dijadikan teman akrab. Manusia tidak semena-mena melanggar karma, menginjak bumi dengan serakah akan menjadikan bumi tetap hijau dan hutan terjaga, menjadi paru-paru dunia. Seandainya Seluruh Indonesia seperti Bali, alangkah indahnya.

Benar, tidak seluruh petak di Bali ideal. Ada banyak titik yang kini sudah tidak lagi memegang prinsip-prinsip yin-yang tersebut. Meskipun masih ditutupi oleh kain hitam dan putih, namun aroma komersialisasi dan kapitalisasi budaya, adat dan eksotisme alamnya, gaya hidup hedonistik yang serta materialistik tidak terelakkan. Kehadiran mall, ruang-ruang wisata yang tidak berakar dari jati diri Bali akan mengganggu harmoni alam bali yang religius dan magis. Bali, oleh karenanya harus berjuang agar bisa mengembalikan ruh leluhur serta nenek moyang aslinya.

Kenapa manusia Bali bisa harmoni dengan alam, sementara di belahan tanah perdikan nusantara yang lain tidak? Marilah kita berkontemplasi sejenak. Inilah manusia yang sentral sebab sumber kerusakan alam. Manusia yang memahami, menghayati, meresapi dan melaksanakan ajaran Sangkan Paran pasti menjadi sumber kemakmuran. Bukan sebaliknya, menjadi sumber bencana.

Manusia Bali percaya bahwa ada tiga keyakinan yang perlu dihayati untuk mencapai tujuan hidup yang disebut JAGADHITA dan MOKSA. Tiga keyakinan tersebut adalah: TATTWA (FILSAFAT), SUSILA (ETIKA), dan UPACARA-YADNYA

Tattwa bermula dari pencarian kebenaran yang hakiki perjalanan hidup manusia. Tattwa diserap sepenuhnya oleh pikiran manusia melalui beberapa cara dan pendekatan yang disebut PRAMANA. Ada tiga cara pokok yang disebut TRI PRAMANA. Tri Pramana ini, menyebabkan akal budi dan pengertian manusia dapat menerima kebenaran hakiki sehingga berkembang menjadi keyakinan dan kepercayaan baik nyata maupun abstrak yang meliputi:

AGAMA PRAMANA adalah suatu ukuran atau cara yang dipakai untuk mengetahui dan meyakini sesuatu dengan mempercayai ucapan-ucapan kitab suci, karena sering mendengar petuah- petuah dan ceritera para guru, Resi atau orang- orang suci lainnya.

Ceritera- ceritera itu dipercayai dan diyakini karena kesucian batin dan keluhuran budi dari para Maha Resi itu. Apa yang diucapkan atau diceriterakannya menjadi pengetahuan bagi pendengarnya. Misalnya: Guru ilmu pengetahuan alam berceritera bahwa di angkasa luar banyak planet- planet, sebagaimana juga bumi berbentuk bulat dan berputar. Setiap murid percaya kepada apa yang diceriterakan gurunya, oleh karena itu tentang planet dan bumi bulat serta berputar menjadi pengetahuan yang diyakini kebenarannya, walaupun murid- murid tidak pernah membuktikannya.

Demikianlah manusia Bali meyakini Sang Hyang Widhi Wasa berdasarkan kepercayaan kepada ajaran Weda, melalui penjelasan- penjelasan dari para Maha Resi atau guru- guru agama, karena sebagai kitab suci manusia Bali memang mengajarkan tentang Tuhan itu demikian.

ANUMANA PRAMANA
Anumana Pramana adalah cara atau ukuran untuk mengetahui dan meyakini sesuatu dengan menggunakan perhitungan logis berdasarkan tanda- tanda atau gejala- gejala yang dapat diamati. Dari tanda- tanda atau gejala- gejala itu ditarik suatu kesimpulan tentang obyek yang diamati tadi. Cara menarik kesimpulan adalah dengan dalil sebagai berikut: YATRA YATRA DHUMAH, TATRA TATRA WAHNIH: Di mana ada asap di sana pasti ada api.

Contoh lain: Apabila kita memperhatikan sistem tata surya yang harmonis, di mana bumi yang berputar pada sumbunya mengedari matahari, begitu pula bulan beredar mengelilingi matahari pada garis edarnya, tidak pernah bertabrakan, begitu teratur abadi. Kita lalu menjadi kagum dan berpikir bahwa keteraturan itu tentu ada yang mengatur, the force of nature yaitu Sang Hyang Widhi Wasa.

PRATYAKSA PRAMANA
Pratyaksa Pramana adalah cara untuk mengetahui dan meyakini sesuatu dengan cara mengamati langsung terhadap sesuatu obyek, sehingga tidak ada yang perlu diragukan tentang sesuatu itu selain hanya harus meyakini. Misalnya menyaksikan atau melihat dengan mata kepala sendiri, kita jadi tahu dan yakin terhadap suatu benda atau kejadian yang kita amati. Untuk dapat mengetahui serta merasakan adanya Sang Hyang Widhi Wasa dengan pengamatan langsung haruslah didasarkan atas kesucian batin yang tinggi dan kepekaan intuisi yang mekar dengan pelaksanaan yoga samadhi yang sempurna.

Pandangan hidup masyarakat Bali mendidik umatnya untuk yakin akan adanya kemahaagungan Sang Hyang Widhi Wasa. Tuhan merupakan sumber segala yang ada di alam ini baik yang tampak nyata maupun yang abstrak (sekala – niskala). Tuhan berada di mana-mana dan mengatasi segala keadaan, ada tanpa diadakan atau ada karena mengadakan dirinya sendiri (Wibhu Sakti), Maha Pencipta (Krya Sakti), dan maha mengetahui segala- galanya (Jnana Sakti). Brahman adalah Maha Esa, oleh karena itu manusia Bali berkeyakinan Monotheisme.

Dalam menguasai alam semesta Tuhan Yang Maha Esa dikenal dalam berbagai manifestasi sesuai fungsi dan kemahakuasaan- Nya yang disebut DEWA. Dewa berasal dari kata Sanskerta DIW yang artinya Sinar). Di dalam Reg Weda termaktub sbb: EKAM SAT WIPRA BAHUDA WADANTI, AGNIM YAMAM MATARISWANAM yang artinya Tuhan itu hanya satu adanya, namun disebut para Resi dengan berbagai nama seperti: AGNI, YAMA, MATARISWAN.

Di dalam Upanishad disebutkan EKAM EWA ADWITYAM BRAHMAN Tuhan itu hanya satu tidak ada duanya. Narayana Upanishad. NARAYANAD NA DWITYO ‘ASTI KASCIT. Narayana tidak ada dua- Nya yang hamba hormati.

Banyak gelar yang biasa dipakai manusia Bali kepada Tuhan Yang Maha Esa, misalnya: SANG HYANG PARAMESWARA (RAJA TERMULIA), PARAMA WISESA (MAHA KUASA), JAGAD KARANA (PENCIPTA ALAM) dan lain- lainnya. SEBAGAI PENCIPTA Ia bergelar BRAHMA, sebagai PEMELIHARA dan PELINDUNG disebut WISNU dan dalam fungsi atau kekuasaan- Nya MENGEMBALIKAN SEGALA ISI ALAM INI KEPADA SUMBER ASALNYA (PRALINA) Ia bergelar SIWA.

Dalam ketiga perwujudan inilah TUHAN YANG SATU disebut TRI MURTI.

SIFAT – SIFAT TUHAN
sifat- sifat Tuhan disebut Asta Sakti atau Astaiswarya yang artinya delapan sifat kemahakuasaan Tuhan.
1. HANA ANIMA NGARANYA/ Kesaktian Tuhan yang disebut Anima. “Anu” yang berarti “atom”. Anima dari Astaiswarya, ialah sifat yang halus bagaikan kehalusan atom yang dimiliki oleh Sang Hyang Widhi Wasa.
2. HANA LAGHIMA NGARANYA/Kesaktian Tuhan yang disebut Laghima. Laghima berasal dari kata “Laghu” yang artinya ringan. Laghima berarti sifat- Nya yang amat ringan lebih ringan dari ether.
3. HANA MAHIMA NGARANYA/Kesaktian Tuhan yang disebut Mahima. Mahima berasal dari kata “Maha” yang berarti Maha Besar, di sini berarti Sang Hyang Widhi Wasa meliputi semua tempat. Tidak ada tempat yang kosong (hampa) bagi- Nya, semua ruang angkasa dipenuhi.
4. HANA PRAPTI NGARANYA/Kesaktian Tuhan yang disebut Prapti. Prapti berasal dari “Prapta” yang artinya tercapai. Prapti berarti segala tempat tercapai oleh- Nya, ke mana Ia hendak pergi di sana Ia telah ada.
5. HANA PRAKAMYA NGARANYA/Kesaktian Tuhan yang disebut Prakamya/ Prakamya berasal dari kata “Pra Kama” berarti segala kehendak- Nya selalu terlaksana atau terjadi.
6. HANA ISITWA NGARANYA/Kesaktian Tuhan yang disebut Isitwa/ Isitwa berasal dari kata “Isa” yang berarti raja, Isitwa berarti merajai segala- galanya, dalam segala hal paling utama.
7. HANA WASITWA NGARANYA/Kesaktian Tuhan yang disebut Wasitwa. Wasitwa berasal dari kata “Wasa” yang berarti menguasai dan mengatasi. Wasitwa artinya paling berkuasa.
8. HANA YATRAKAMAWASAYITWA NGARANYA/ Kesaktian Tuhan yang disebut Yatrakamawasayitwa Yatrakamawasayitwa berarti tidak ada yang dapat menentang kehendak dan kodrat- Nya.

Kedelapan sifat keagungan Sang Hyang Widhi Wasa ini, disimbulkan dengan singgasana teratai (padmasana) yang berdaun bunga delapan helai (astadala). Singgasana teratai adalah lambang kemahakuasaan- Nya dan daun bunga teratai sejumlah delapan helai itu adalah lambang delapan sifat agung/ kemahakuasaan (Astaiswarya) yang menguasai dan mengatur alam semesta dan makhluk semua.

ATMAN
ATMAN adalah merupakan percikan- percikan kecil (halus) dari BRAHMAN/ Sang Hyang Widhi Wasa yang berada di dalam setiap makhluk hidup. Atman di dalam badan manusia disebut: JIWATMAN yaitu yang menghidupkan manusia. Hubungan atman dengan badan ini ibarat bola lampu dengan listrik. Bola lampu tidak akan menyala tanpa listrik, demikian pula badan jasmani takkan hidup tanpa atman.

ATMAN itu menghidupkan sarwa prani (makhluk di alam semesta ini). Indra manusia tak dapat bekerja bila tak ada atman. Misalnya telinga tak dapat mendengar bila tak ada atman, mata tak dapat melihat bila tak ada atman, kulit tak dapat merasakan bila tak ada atman. Atman itu berasal dari Sang Hyang Widhi Wasa, bagaikan matahari dengan sinarnya. Sang Hyang Widhi Wasa sebagai matahari dan atma- atma sebagai sinar- Nya yang terpencar memasuki dalam hidup semua makhluk.

Di dalam kitab Bhagavad-Gita terdapat penjelasan tentang sifat- sifat atma. Secara singkat sifat- sifat atma itu sebagai berikut:

Achedya=tak terlukai oleh senjata
Adahya=tak terbakar oleh api
Akledya=tak terkeringkan oleh angin
Acesyah=tak terbasahkan oleh air
Nitya=abadi
Sarwagatah=di mana- mana ada
Sthanu=tak berpindah- pindah
Acala= tak bergerak
Sanatana=selalu sama
Awyakta=tak dilahirkan
Acintya=tak terpikirkan
Awikara=tak berubah dan sempurna tidak laki- laki ataupun perempuan.

Atma itu mengatasi segala elemen materi, kekal abadi, dan tidak terpikirkan. Oleh karenanya atma itu tidak dapat menjadi subyek maupun obyek dan tindakan atau pekerjaan. Dengan perkataan lain atma itu tidak terkena oleh akibat perubahan- perubahan yang dialami pikiran, hidup, dan badan jasmani. Semua bentuk ini bisa berubah, datang, dan pergi, tetapi atma itu tetap langgeng untuk selamanya.

KARMAPHALA
Karmaphala terdiri dari dua kata yaitu KARMA dan PHALA, berasal dari bahasa Sanskerta. “Karma” artinya perbuatan dan “Phala” artinya buah, hasil, atau pahala. Jadi Karmaphala artinya hasil dari perbuatan seseorang.

Kita percaya bahwa perbuatan yang baik (subha karma) membawa hasil yang baik dan perbuatan yang buruk (asubha karma) membawa hasil yang buruk. Jadi seseorang yang berbuat baik pasti baik pula yang akan diterimanya, demikian pula sebaliknya yang berbuat buruk, buruk pula yang akan diterimanya. Karmaphala memberi keyakinan kepada kita untuk mengarahkan segala tingkah laku kita agar selalu berdasarkan etika dan cara yang baik guna mencapai cita- cita yang luhur dan selalu menghindari jalan dan tujuan yang buruk.

Phala dari karma itu ada tiga macam yaitu:
1. SANCITA KARMAPHALA/Phala dari perbuatan dalam kehidupan terdahulu yang belum habis dinikmati dan masih merupakan benih yang menentukan kehidupan kita sekarang.
2. PRARABDA KARMAPHALA/Phala dari perbuatan kita pada kehidupan ini tanpa ada sisanya lagi.
3. KRIYAMANA KARMAPHALA/Phala perbuatan yang tidak dapat dinikmati pada saat berbuat sehingga harus diterima pada kehidupan yang akan datang.

Dengan pengertian tiga macam Karmaphala itu maka jelaslah, cepat atau lambat, dalam kehidupan sekarang atau nanti, segala pahala dari perbuatan itu pasti diterima karena sudah merupakan hukum. Karmaphala mengantarkan roh (atma) masuk Surga atau masuk neraka. Bila dalam hidupnya selalu berkarma baik maka pahala yang didapat adalah Surga, sebaliknya bila hidupnya itu selalu berkarma buruk maka hukuman nerakalah yang diterimanya. Dalam pustaka- pustaka dan ceritera- ceritera keagamaan dijelaskan bahwa Surga artinya alam atas, alam suksma, alam kebahagiaan, alam yang serba indah dan serba mengenakkan. Neraka adalah alam hukuman, tempat roh atau atma mendapat siksaan sebagai hasil dan perbuatan buruk selama masa hidupnya. Selesai menikmati Surga atau neraka, roh atau atma akan mendapatkan kesempatan mengalami penjelmaan kembali sebagai karya penebusan dalam usaha menuju Moksa.

SURGA DAN NERAKA.
Segala baik buruk kegiatan (SUBHA KARMA ATAU ASUBHA KARMA) akan membawa akibat tidak saja di dalam hidup sekarang ini tetapi juga di akhirat (Surga dan neraka). Setelah ATMA (roh) dengan SUKSMA SARIRA (badan astral) terpisah dari STULA SARIRA (badan wadag) dan membawa akibat pula dalam penjelmaan yang akan datang (PUNARBHAWA), maka atma bersama dengan suksma sariranya bersenyawa lagi dengan stula sarira. Sang Hyang Widhi Wasa menghukumnya dengan hukum yang bersendikan Dharma. Dan Dia akan merahmati atma seseorang yang berjasa dan yang melakukan amal kebajikan yang suci (subha karma) dan Diapun akan mengampuni atma seseorang yang pernah berbuat dosa, bila ia tobat dan tawakal serta tidak akan melakukan dosa lagi.

Tuhan Yang Maha Tahu bergelar YAMADIPATI (PELINDUNG AGUNG HUKUM KEADILAN) yang selalu menjatuhi hukuman kepada atma yang tiada henti- hentinya melakukan kejahatan atau dosa dan memasukkannya ke dalam neraka. Di sini atma itu menerima hasil perbuatannya berupa neraka. Adapun penjelmaan atma semacam ini adalah sangat nista dan derajatnya pun semakin merosot, jika ia selalu berbuat jahat.

PUNARBHAWA / SAMSARA
Kata punarbhawa terdiri dari dua kata Sanskerta yaitu punar (lagi) dan bhawa (menjelma). Jadi Punarbhawa ialah keyakinan terhadap kelahiran yang berulang-ulang yang disebut juga penitisan atau samsara. Dalam Pustaka suci Weda tersebut dinyatakan bahwa penjelmaan jiwatman berulang- ulang di dunia ini atau di dunia yang lebih tinggi disebut samsara. Kelahirannya yang berulang- ulang ini membawa akibat suka dan duka. Punarbhawa atau samsara terjadi oleh karena jiwatman masih dipengaruhi oleh WISAYA dan AWIDYA sehingga kematiannya akan diikuti oleh kelahiran kembali.

Dalam Bhagavad-Gita Sang Krisna berkata: Wahai Arjuna, kamu dan Aku telah lahir berulang- ulang sebelum ini, hanya Aku yang tahu sedangkan kamu tidak, kelahiran sudah tentu akan diikuti oleh kematian dan kematian akan diikuti oleh kelahiran. Segala perbuatan ini menyebabkan adanya bekas (wasana) pada jiwatma. Bekas- bekas perbuatan (karma wasana) itu ada bermacam- macam, jika yang melekat bekas- bekas keduniawian maka jiwatman akan lebih cenderung dan gampang ditarik oleh hal- hal keduniawian sehingga jiwatman itu lahir kembali.

MOKSA
Tujuan hidup manusia Bali, ialah mendapatkan kebahagiaan lahir dan batin (moksartham jagadhita). KEBAHAGIAAN BATIN YANG TERTINGGI IALAH BERSATUNYA ATMAN DENGAN BRAHMAN YANG DISEBUT MOKSA. Moksa atau mukti atau nirwana berarti kebebasan, kemerdekaan atau terlepas dari ikatan karma, kelahiran, kematian, dan belenggu maya/ penderitaan hidup keduniawian. Moksa adalah tujuan terakhir bagi manusia Bali.

Dengan menghayati dan mengamalkan ajaran hidup dalam kehidupan sehari- hari secara baik dan benar, misalnya dengan menjalankan sembahyang batin dengan menetapkan CIPTA (DHARANA), memusatkan CIPTA (DHYANA) dan mengheningkan CIPTA (SEMADHI), manusia berangsur- angsur akan dapat mencapai tujuan hidupnya yang tertinggi ialah bebas dari segala ikatan keduniawian, untuk mencapai bersatunya Atman dengan Brahman.

Kebebasan yang sulit dicapai bila banyak makhluk akan lahir dan mati serta hidup kembali tanpa kemauannya sendiri. Akan tetapi masih ada satu yang tak tampak dan kekal, tiada binasa dikala semua makhluk binasa. Nah, yang tak tampak dan kekal itulah harus menjadi tujuan utama supaya tidak lagi mengalami penjelmaan ke dunia, tetapi mencapai tempat Brahman yang tertinggi.

Jika kita selalu ingat kepada Brahman, berbuat demi Brahman maka tak usah disangsikan lagi kita akan kembali kepada Brahman. Untuk mencapai ini orang harus selalu berusaha, berbuat baik sesuai dengan pandangan hidupnya yang menjelaskan bagaimana caranya orang melaksanakan pelepasan dirinya dari ikatan maya agar akhirnya Atman dapat bersatu dengan Brahman. Penderitaan dapat dihilangkan dan dunia ini tidak dianggap sebagai hukuman, tetapi sebaliknya sebagai penolong sesama manusia sebagai AWATARA atau AVATAR.

OM SANTI, SANTI, SANTI OM
Semoga damai dihati, damai didunia, damai selalu.

wong alus

Categories: MOKSA | Tags: , , , | 17 Komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. The Adventure Journal Theme.