MOMENTUM BYAR

MOMENTUM “BYAR”


satori

Kapan pencerahan spiritual itu datang? Datangnya pencerahan spiritual itu tidak disangka-sangka. Bisa saat kita naik sepeda motor, bisa saat naik angkot, bisa saat duduk melamun, bisa saat mandi, bisa saat tertidur nikmat, bisa di saat apapun…bahkan saat menginjak hak-hak orang lain!

Pencerahan spiritual adalah momentum singkat, padat, jelas, gamblang dan tanpa bisa direkayasa oleh otak kita. Justeru ketika kita sudah merencanakan agar Tuhan berkenan memberikan pencerahan spiritual, malah kita tidak mendapatkan apa-apa.

Cahaya itu datangnya sekelebat, lalu menguap dan menghilang dalam waktu cepat pula. Mengalami kejadian cepat ini, perlulah kita abadikan. Kita tulis, kita ingat-ingat, kita rekam memakai alat apapun agar jangan sampai terlewatkan. Kenapa? Eman, sayang bila sesuatu yang benar-benar petunjuk-Nya itu datang lantas kita abaikan begitu saja.

Membahas soal momentum BYAR atau PENCERAHAN ini saya ingat sebuah tradisi Buddisme Zen. Dalam Zen pencerahan disebut dengan SATORI. Satori didapatkan melalui pengalaman batin pribadi. Bahkan yang menarik, dalam tradisi Zen ada latihan untuk mencapai satori dan diajarkan dalam kuil. Yaitu menerjemahkan teka-teki yand ada disekitar kita.

Menurut pandangan tradisi Zen, pencerahan atau satori ini sama dengan mendapatkan KILATAN SURGA yaitu momentum saat batin kita mengalami kesadaran kosmik yaitu sebuah “Ledakan Besar” yang tidak disangka-sangka.

Ya, Saat yang ditunggu-tunggu itu datang tanpa permisi dan pergi tanpa pamit. Ia hadir sekilas, lantas kemudian pergi setelah kita menerimanya. Bila kita ingin perjalanan spiritual kita meraih kesempurnaan demi kesempurnaan, sudah pada tempatnya kita niteni saat momentum pencerahan spiritual itu datang. Sebab SETIAP MENDAPAT PENCERAHAN, ITU SAAT TUHAN MEMBERI PENGAJARAN-PENGAJARAN.

Niteni adalah bahasa Jawa yang artinya awas dan teliti dengan hal-hal kecil yang ada di dalam diri kita dan di luar diri kita. Konon kata leluhur, DALANE WASKITA SAKA NITENI. Artinya cara untuk menjadi orang yang Waskita adalah dengan cara awas dan teliti. Niteni apa? Ya karena kita biasa menggunakan indera mata dan telinga, maka kita mulai dulu dengan niteli hal-hal kecil yang bisa dilihat dan bisa didengar.

Bila ini dilakukan pun, kita sebenarnya sudah mendapatkan banyak kawruh atau pengetahuan. Dulu, orang berlayar hanya dengan niteni rasi bintang di langit. Petani dulu memulai bertanam dengan niteni perubahan fenomena alam. Misalnya, saat muncul suara serangga garengpung di malam hari maka orang niteni itu adalah saat memasuki musim pancaroba atau pergantian musim.

Lantas, bila perjalanan spiritual kita sudah memasuki wilayah kebatinan maka kita perlu niteni apa yang kita rasakan. Mulai niteni kapan kita sedih, kapan kita senang, kapan rasa sayang tumbuh, kapan rasa benci datang. Kapan tangis hati terenyuh, kapan ego berkobar-kobar. Ini tahap dimana tuhan menyapa kita dengan bahasa batin-Nya.

Selanjutnya, bila perjalanan spiritual dilanjutkan ke tahap yang lebih tinggi dimana kita sudah mampu mengendalikan berbagai rasa yang muncul tadi, maka kita akan memasuki wilayah percintaan dengan Tuhan. Inilah saat yang mendebarkan karena kita harus siap diuji dengan ujian yang tidak disangka-sangka.

Tiba-tiba Anda dituduh selingkuh, tiba-tiba Anda difitnah telah memperkosa isteri tetangga, tiba-tiba Anda dituduh membunuh orang lain, tiba-tiba Anda dituduh berbuat makar dan seterusnya. Anda harus diadili di pengadilan dan masuk penjara,  kita disingkirkan dari pergaulan masyarakat dan sebagainya.

Ingat bagimana AA Gym dituduh memperturutkan hawa nafsu karena menikah lagi? Ini fase dimana Tuhan memberi soal ujian pada kita. Tidak sekedar menyapa.

Setiap ujian ada hasilnya. Ujian disesuaikan dengan kemampuan kapasitas dan kompetensi sang siswa. Siswa yang dinyatakan lulus adalah siswa yang mampu menempuh ujian dengan nilai 100 s/d 70. Nilai di bawah itu dinyatakan tidak lulus dan diwajibkan mengulanginya. Ini tentu ujian yang berat dan gawat. Setelah lulus ujian berat tersebut, kita akan diuji lagi

Tahap selanjutnya adalah saat kita diuji komitmennya untuk berjuang untuk kemanfaatan sosial. Bagaimana kita mampu menegakkan yang kita anggap benar sesuai dengan iradat-Nya. Yang membikin repot, saat itu masyarakat juga bereaksi dengan reaksi yang hampir seragam: tuduhan  sesat, kafir dan musyrik, ngowah-owahi adat akan kita dapatkan. Aneh, memang sebab perintah itu diluar kendali Anda. Tiba-tiba Anda diperintah begitu saja tanpa alasan!!!

Saat itu, ujian Anda sama dengan para avatar tau para nabi. Mereka juga mengalami fase tuduhan-tuduhan sesat itu. Siapapun yang melalui jalan ini, akan mengalami hal yang sama. Saat itu kita bahkan dituduh gila karena sudah dianggap tidak mampu menjaga harkat dan martabat diri. Ini fase dimana nabi Musa disuruh berguru pada Khidir….. tanpa boleh menggunakan akal lagi.  Hanya ikut dan manut titahing Gusti.

Kemudian, apa yang terjadi setelah berbagai tahap ini dijalani? Anda telah menyelesaikan serangkaian pengajaran-pengajaran Tuhan. Semua kurikulum  telah Anda lahap habis. Semua SKS telah Anda telan, ujian demi ujian telah diselesaikan dan terakhir adalah ujian pendadaran pun telah Anda jalani.

Maka Anda berhak untuk diwisuda dan berbahagia telah dijadikan utusan-Nya, setara dengan para nabi atau avatar. Karena itulah saat terindah dalam hidup kita. Diwisuda di kampus saja senangnya minta ampun, apalagi diwisuda Tuhan Maha Penguasa Segala Yang Ada? Anda adalah tokoh pejuang kemanusiaan yang tidak akan mengalami kematian dan menjadi cahaya abadi sepanjang masa.

Yang terkasih Hamka, Munir dan lain-lain sudah sampai tahap ini….. Ini tahap akhir perjalanan spiritual yaitu saat penghayatan hidup sudah sampai pada “Kemarin dan esok adalah hari ini Bencana dan keberuntungan sama saja Langit di luar Langit di badan Bersatu dalam jiwa….” (Rendra)

Terakhir, pencerahan spiritual datang dari mana? Semua sumbernya tetap memancar dari Yang Satu. Namun bisa berwarna hitam, putih biru, ungu, kuning atau oranye.

wongalus

Categories: MOMENTUM BYAR | 14 Komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. The Adventure Journal Theme.