N L P

PARANORMAL MENJADI SEMAR


IM000074Seorang paranormal pernah membuka rahasia kepada saya bagaimana pikirannya saat dia menyembuhkan seorang pasien. Yaitu membayangkan dirinya menjadi seorang SEMAR dan kemudian yakin bahwa dia bisa menyembuhkan pasien tersebut. Begitu sederhananya ternyata menjadi seorang dukun yang akhirnya mengantarkannya menjadi juru sembuh yang banyak membantu pasien menyembuhkan sakit yang dideritanya. Bagaimana gejala ini diterangkan secara ilmiah?

Saya termasuk orang yang suka mencoba hal baru dan cepat bosan dengan hal-hal lama. Ditambah dengan kegemaran membaca dan mencari-cari informasi melalui berbagai media baik internet, buku-buku atau sekedar informasi dari diskusi dengan rekan yang terlebih dulu mencoba, akhirnya membawa saya untuk berkenalan dengan sebuah teknologi mutakhir pemrograman otak.

Bermula saat tempat kerja kami menyelengarakan pelatihan pengembangan Sumber Daya Manusia dengan titik tekan pada peningkatan motivasi kerja. Tercatat dua kali kantor kami menyelenggarakan pelatihan dengan nara sumber praktisi hipnosis nasional, yaitu Yan Nurindra. Tidak hanya hipnosis, Yan Nurindra juga mengajarkan teknik-teknik REIKI, NLP, MEDITASI, PRANA SHAKTI, MAN POWER dan lain-lain secara tuntas, jelas dan mudah dipraktikkan. Sebelumnya, juga pernah diadakan banyak jenis pelatihan berbasis Otak Kanan (RIGHT BRAIN) dengan trainer Yayan Cahyana.

Dari sekian teman yang belajar tentang teknik-teknis isoteris tersebut, ada seorang teman yang terlebih dulu belajar hipnosis dan mengalami kemajuan pesat karena motivasi yang besar untuk belajar. Bahkan hingga kini dia dianggap sesepuh dan hampir setiap hari ada saja orang datang untuk ngangsu kawruh dan minta air putih yang telah dberinya MANTRA. Rekan saya yang hebat ini kebetulan berprofesi seorang Camat sehingga banyak warganya yang minta pertolongan tanpa bayaran alias gratis.

Bagi saya pribadi belajar ilmu-ilmu penyembuhan dan teknologi otak seperti itu saya rasakan juga ada faedahnya. Salah satu manfaatnya adalah saya semakin tahu, bagaimana cara kerja otak manusia, bahasa pemrograman otak, instruksi-instruksi spesifik yang harus dilaksanakan oleh bawah sadar, sehingga kita tidak ngawur dalam berpikir dan menanamkan sugesti dalam diri sendiri. Dalam khasanah dunia hipnosis hal-hal tersebut dipelajari dalam NEURO LINGUISTIC PROGRAMMING (NLP), atau bila diindonesiakan menjadi PEMROGRAMAN BAHASA OTAK.

Penggunaan nama NLP ini diawali oleh Richard Bandler dan John Grinder di pertengahan dekade 1970-an di Amerika, dan dikembangkan lebih lanjut oleh figur seperti Robert Dilts, Steve Andreas, Joseph O Connor, dan lain-lain. Saat ini di negeri kita, NLP juga telah menyebar dan menjadi salah satu cara yang sering dipergunakan dalam hubungan untuk memotivasi kinerja dan pengembangan kepribadian. Kendati sudah banyak orang coba untuk memahami NLP dan mengikuti berbagai program pelatihan, tidak sedikit yang malah kebingungan. Hal ini disebabkan karena yang dipelajari adalah beberapa aplikasi NLP yang tidak mengenalkan mereka pada dasar-dasar konsep NLP, yang membangun aplikasi tersebut. Tidak sedikit yang berpikir NLP itu hanyalah sebuah alat terapi. Atau ada juga yang berpikir NLP sebuah alat pelatihan saja.

Dalam buku NLP WORKBOOK, Joseph O Connor menggambarkan pemahaman NLP paling sederhana dengan sebuah cerita mengenai seorang anak yang bertanya kepada ibunya mengenai NLP. Anak ini bertanya kepada Ibunya “Mama, NLP itu apa sih?” Mamanya berpikir sejenak lalu berkata, “Kamu lihat kakek kamu lagi duduk di kursi goyangnya? Dia lagi sakit sekujur tubuhnya. Coba tanyakan bagaimana sakitnya” Anak ini pun segera berlari ke kakek dan menanyakan yang seperti yang diarahkan ibunya.

Dengan wajah penuh kesakitan, kakeknya menjelaskan, “Waduh, semua otot kakek sakit. Dari kaki sampai atas. Semuanya sakit!” Anak ini segera berlari kembali ke mamanya dan melaporkan kondisi menyedihkan kakeknya, lalu menagih janji penjelasan mengenai NLP. Mamanya tersenyum kemudian berkata, “Kakek kamu itu seorang pejuang perang yang tangguh. Pasukannya dulu pernah mengalahkan sebuah pasukan Belanda dalam sebuah pertempuran. Sekarang, coba kamu ke sana dan tanyakan ceritanya!” Anak itu berlari ke kakeknya dan menanyakan mengenai pengalaman kakeknya tersebut.

Sekonyong-konyong air muka kakeknya berubah, dan dengan bersemangat dia menjelaskan “Oh, itu luar biasa, cucuku. Mari kakek ceritakan, waktu itu …….dst…” Kakeknya menceritakan dengan sangat antusias. Anak ini kembali ke mamanya untuk menceritakan kondisi fisiologi kakeknya yang berubah total!

Mamanya lalu berkata, “Nah, anakku, itulah NLP. Dengan kata-kata atau pertanyaan yang tepat, kamu telah menolong kakek kamu melihat dan merasa lebih baik.” Itu sebuah penuturan dan gambaran NLP yang paling sederhana, tapi juga sangat efektif. Faktor Linguistic dalam NLP memainkan peranan yang luar biasa penting.

Dengan pikiran kita dipenuhi kata-kata dan gambar, yang kita serap, olah, lalu lepaskan, NLP menawarkan berbagai aplikasi untuk membantu efektifitas dari setiap proses tersebut. Kita lebih efektif dalam menerima input dari luar, lebih luas dalam mengartikannya, lalu lebih efektif dalam menterjemahkannya ke dalam komunikasi dan interaksi dengan diri sendiri dan orang lain. Jadi bisa dipakai dalam berbagai konteks, entah komunikasi sehari-hari, training, terapi, kepercayaan diri, dan lain-lain. Meletakkannya dalam perspektif lain, kita bisa lebih efektif dengan berpikiran lebih luas, memilih kata-kata dan gambar-gambar di pikiran kita yang lebih membantu kita untuk mencapai tujuan.

Salah satu hal yang membuat saya tertarik dengan NLP adalah bahwa di NLP tidak dipertetangkan mengenai kebenaran dan kesalahan. NLP tidak fokus pada bingkai masalah, tapi pada bingkai solusi. NLP fokus bukan pada kebenaran sebuah konsep, teori, atau belief sebagaimana bila saya belajar tentang filsafat, tapi pada kegunaannya. Hanya dengan prinsip sederhana ini, hidup jauh lebih efektif. Sebab kita lebih memikirkan bagaimana sesuatu itu berguna untuk membantu saya mencapai tujuan hidup, bukan menghabiskan waktu mempertanyakan kebenarannya. Saya tidak lagi menghabiskan waktu banyak untuk meributkan hal-hal dengan orang lain, dan fokus pada solusi setiap masalah, yang mana fokus pada kegunaan dari berbagai hal yang muncul dalam komunikasi. Ada yang pernah bertanya kepada saya, bahwa kalau kita hanya fokus pada kegunaan, kita akan takabur karena dalam mencapai tujuan kita tidak lagi peduli pada kebenaran? Waktu itu saya menjawabnya juga dengan sederhana, bahwa apabila kita ingin mencapai sebuah tujuan, di NLP dikenal juga unsur ekologi.

Steve Boyley dari Kanada, menggambarkan ini dengan sebuah konsep yakni WIN, WIN, WIN. Yakni dalam pencapaian tujuan, fokuskan tidak hanya kemenangan kita dan kemenangan orang yang terpengaruh secara langsung, tapi juga kemenangan banyak orang lain yang tidak terlibat langsung. NLP sangat menekankan pada outcome atau hasil yang ingin dicapai. Ini yang menurut Bandler membedakan NLP dengan psikologi terapan konvensional. NLP tidak menghabiskan waktu untuk menggali masalah, latar belakang, penyebab, kenapa, dan lain-lain. Kalau harus melihat ke belakang untuk menyelesaikan masalah, NLP hanya tertarik melihat ‘bagaimana’ masalah ini terjadi, yangmana fokus pada struktur masalahnya untuk bisa diintervensi.

Pada saat kita ingin fokus pada outcome, kita fokus pada semua sumber daya yang mungkin untuk membantu kita untuk menuju outcome. Dan pada akhirnya, dalam menuju outcome, NLP juga menganjurkan tingginya fleksibilitas kita, dan memperluas pilihan-pilihan kita. NLP percaya bahwa kita semua mempunyai PETA atau MODEL DUNIA yang berbeda. Tidak ada yang sama persis. Peta Pikiran atau Model Dunia ini tidak sama dengan REALITA. Karena itu di NLP dipercayai bahwa kita tidak bertindak dan berpikir berdasarkan realita, tetapi hanya berdasarkan pada persepsi kita pada realita.

Peta atau Model Dunia kita tergantung dari berbagai hal seperti proses filter di pikiran kita. Dimulai dari DELETION, DISTORTION, dan GENERALIZATION, dimana informasi diseleksi sesuai fokus kita, diartikan, dan digeneralisasi. Setelah itu di-filter lagi berdasarkan values kita, beliefs kita, memori kita, strategi kita, dan Meta Program (preferensi perilaku kita – yang oleh banyak orang dipersepsikan sebagai konsep kepribadian).

Proses ini yang kemudian menghasilkan Peta Pikiran atau Model Dunia kita secara unik. Dari proses di atas, semua orang berhak merasa dirinya benar menurut Peta Pikirannya. Hal ini dimungkinkan karena semua orang hidup dalam Model Dunia masing-masing. Di NLP dikenal apa yang disebut sebagai PRESUPPOSITION. Pengertian sederhana mengenai ini adalah prinsip atau belief. Ini menyangkut kerangka berpikir dan berperilaku. Sesuatu yang kita pergunakan sebagai dasar dari pikiran dan tindakan.

Dari tahun ke tahun, banyak presuposisi yang dikembangkan. Yang paling terkenal di NLP misalnya, THE MAP IS NOT THE TERRITORY yang berarti bahwa yang kita lihat, dengar, dan rasakan, tidak mewakili keadaan atau realita. THERE IS NO FAILURE, ONLY FEEDBACK misalnya, menekankan pada fleksibilitas sikap untuk menerima apa yang biasanya dianggap sebagai kegagalan, hanya sebagai masukan agar kita mengganti pendekatan kita di kemudian hari. NLP mempunyai berbagai tools yang berguna.

Semuanya bertujuan untuk membantu efektifitas kita. EYE ACCESSING CUE, misalnya adalah tool untuk membantu kita mengakses informasi di pikiran secara lebih cepat, dan juga alat bantu mengenali pola pikir partner bicara. Selama bertahun-tahun, berbagai tools NLP telah dikembangkan. Ada ‘PARTS INTEGRATION’, ‘FAST PHOBIA CURE’, ‘ANCHOR’, ‘PERCEPTUAL POSITION’, dan lain-lain. Semuanya bertujuan membantu efektifitas pikiran dan perilaku kita. Pada saat NLP diciptakan, Bandler dan Grinder banyak memodel tiga orang tokoh di bidang ‘perubahan pikiran’ melalui hypnosis, yakni Milton Erickson, Virginia Satir dan Fritz Perls.

Warna linguistik hypnosis dalam NLP memang kental di beberapa tools NLP, karena pengaruh ini. Milton Model, misalnya, yang menyediakan pilihan penggunaan pola linguistik yang dipakai oleh Erickson. Walau awalnya diciptakan dengan memodel hipnosis, kini hipnosis justru jauh lebih efektif apabila dilengkapi dengan tools NLP. Keduanya sekarang menjadi kesatuan yang harmonis. Setelah ‘bercerai’ dari kemitraan, Bandler dan Grinder mengembangkan NLP dengan peta masing-masing.

Berbagai pakar NLP juga kemudian mengembangkan NLP dan menyediakan pilihan-pilihan lebih luas. Bandler, misalnya, muncul dengan Design Human Engineer (DHE), Grinder dengan New Code, Michael Hall dengan Neuro-Semantics, lalu ada juga yang mengembangkan lebih jauh sampai mengkombinasikannya dengan Time Line Therapy (Tad James), dan lain-lain. Begitulah sekilas perkembangan NLP. Di dunia barat sana, penelitian dan pengembangan soal-soal otak, strategi sukses dengan cara-cara yang ilmiah memang sedemikian hebatnya. Bagaimana dengan negeri kita?

Pikiran saya pun akhirnya melayang ke teman-teman saya yang banyak berprofesi sebagai orang tua alias paranormal, atau dukun. Sebenarnya antara praktisi NLP dengan PARANORMAL tidak ada bedanya. Misalnya, saat kita pergi ke seorang paranormal maka biasanya dia memberikan semacam benda-benda jimat yang dianggap sakral. Benda itu bisa berupa keris, akik, rajah atau yang lain berikut ritual dan mantranya. Kemudian kita dipersyaratkan untuk menjalankan ritual tertentu dengan sepenuh hati (yakin).

Dengan kenyakinan yang total itu, kita siharapkan akan mendapatkan apa yang diinginkannya. Lepas apakah itu hal-hal yang klenik dan berdosa karena mencemari akidah kita atau tidak, dari sudut pandang NLP hal semacam itu bisa dijelaskan: mengapa pada akhirnya kesuksesan itu mendatangi kita. Ini bukan berarti NLP sama dengan ilmu perdukunan, tetapi NLP mempelajari bagaimana pikiran bekerja dan diprogram, bisa menjelaskan bagaimana seseorang bisa sukses melalui dukun.

NLP merupakan sebuah teknologi rekayasa pikiran yang mampu mengantarkan seseorang menjadi sukses. Ketika seseorang pergi ke dukun, sebenarnya ia telah menyerahkan dirinya secara mental, emosional dan bahkan spiritualnya (yang disebut keyakinan) kepada Dukun. Ia sangat yakin bahwa sang dukun dapat membantunya. Dalam kepasrahan total seperti itu apa pun yang diperintahkan oleh Mbah Dukun ia akan mematuhinya. Bahkan untuk memakan mayat orang lain sekali pun, ia lakukan.

Ketika Dukun memberikan sebuah jimat kepada seseorang misalnya, maka ia akan memuja dan memeliharanya dengan baik. Apa sesungguhnya jimat? Dari sudut pandang NLP, jimat adalah simbol, sebuah keinginan (cita-cita) yang oleh dukun divisualiasikan ke dalam bentuk benda. Dengan kata lain, jimat adalah simbol (benda) atau kata-kata (mantra) sebagai pemicu sukses. Dengan jimat yang keramatkan, pikiran orang bisa teringat terus terhadap cita-citanya.

Jimat tidak lain adalah TITIK PICU (TRIGGER) berkorbarnya semangat seseorang terhadap cita-citanya. Dalam dunia moderen, titik picu jelas tidak lagi berupa jimat dari Dukun, tetapi bisa berupa: gambar-gambar, tokoh-tokoh idola, visi hidup Anda ditulis tebal-tebal di kamar tidur, afirmasi dan simbol-simbol pemicu sukses lainnya seperti plat nomor mobil, nomor handphone yang berangka 09 dan sebagainya. Sebenarnya, yang hebat adalah bukan jimat itu sendiri, tetapi makna atau kandungan cita-cita yang terdapat dalam jimat itu adalah yang terpenting.

Bangsa Indonesia memiliki jimat yaitu SUMPAH PEMUDA dan PROKLAMASI KEMERDEKAAN sebagai jembatan yang diyakini mampu melepaskan diri dari belenggu penjajahan. Seorang teman mempunyai jimat sebuah akik yang tidak akan dilepas bila dalam keadaan bahaya dan sebelum cita-citanya tercapai. Seorang teman lagi mempunyai jimat “Berpuasa senin-kamis”.

Sesungguhnya, bukan keris, rajah, itu sendiri. Yang penting adalah Anda yang memberi makna, pemberi ruh, atau pemberi jiwa terhadap benda-benda itu. Kekuatan benda-benda itu, tergantung seberapa besar SEMANGAT yang Anda berikan. Demikian sedikit berbagi pengalaman dari saya, mohon maaf bila ada yang kurang berkenan.

Wong Alus

Categories: N L P | Tags: , , , , , , , , , | 16 Komentar

Buat website atau blog gratis di WordPress,com. The Adventure Journal Theme.