PUISI & PROSA

DALAM HENING DI MALAM SEPI


Nangis rasanya membaca puisi ini. Kita sekarang bisa hidup enak merdeka, karena Tuhan memerintahkan para pejuang kemerdekaan kita dulu mengangkat senjata. Hingga tewas menggelepar ditembus peluru musuh!!!

Duh Gusti, ampuni mereka dan angkat mereka ke tempat tertinggi di sisi-Mu dan berilah kami semua semangat yang sama untuk membela ibu pertiwi yang sekarang sekarat dibalut penyakit jiwa.

chai

KARAWANG-BEKASI ~
CHAIRIL ANWAR

KAMI YANG KINI TERBARING ANTARA KRAWANG-BEKASI
TIDAK BISA TERIAK “MERDEKA” DAN ANGKAT SENJATA LAGI.
TAPI SIAPAKAH YANG TIDAK LAGI MENDENGAR DERU KAMI,
TERBAYANG KAMI MAJU DAN MENDEGAP HATI ?

KAMI BICARA PADAMU DALAM HENING DI MALAM SEPI
JIKA DADA RASA HAMPA DAN JAM DINDING YANG BERDETAK
KAMI MATI MUDA. YANG TINGGAL TULANG DILIPUTI DEBU.
KENANG, KENANGLAH KAMI.

KAMI SUDAH COBA APA YANG KAMI BISA
TAPI KERJA BELUM SELESAI,
BELUM BISA MEMPERHITUNGKAN ARTI 4-5 RIBU NYAWA

KAMI CUMA TULANG-TULANG BERSERAKAN
TAPI ADALAH KEPUNYAANMU
KAULAH LAGI YANG TENTUKAN NILAI TULANG-TULANG BERSERAKAN

ATAU JIWA KAMI MELAYANG UNTUK KEMERDEKAAN
KEMENANGAN DAN HARAPAN
ATAU TIDAK UNTUK APA-APA,
KAMI TIDAK TAHU, KAMI TIDAK LAGI BISA BERKATA
KAULAH SEKARANG YANG BERKATA

KAMI BICARA PADAMU DALAM HENING DI MALAM SEPI
JIKA ADA RASA HAMPA DAN JAM DINDING YANG BERDETAK

KENANG, KENANGLAH KAMI
TERUSKAN, TERUSKAN JIWA KAMI
MENJAGA BUNG KARNO
MENJAGA BUNG HATTA
MENJAGA BUNG SJAHRIR

KAMI SEKARANG MAYAT
BERIKAN KAMI ARTI
BERJAGALAH TERUS DI GARIS BATAS PERNYATAAN DAN IMPIAN

KENANG, KENANGLAH KAMI
YANG TINGGAL TULANG-TULANG DILIPUTI DEBU
BERIBU KAMI TERBARING ANTARA KRAWANG-BEKASI

Chairil Anwar (1948)
Brawidjaja, Jilid 7, No 16, 1957

Categories: PUISI & PROSA | 11 Komentar

TIGA BELAS AYAT


AYAT NOL

Kecerdikan adalah salah satu kemampuan dasar yang dimiliki oleh makhluk hidup untuk mempertahankan diri menghadapi berbagai macam rintangan dan tantangan yang membahayakan dirinya. Baik binatang maupun manusia, memiliki kecerdikan ini.

Kecerdikan berpusat dari gerakan tidak sadar, yang telah berpola sekian lama sehingga menimbulkan refleks yang sekonyong-konyong demi mempertahankan diri. Tanpa perlu dipikir lagi. Yang akhirnya menjadi semacam kemampuan yang melekat pada makhluk hidup. Otak tanpa perlu lagi menganalisanya terlalu lama untuk memunculkan “tenaga dalam” yang tersembunyi ini.

Karena asal muasal kecerdikan adalah gerakan, maka kita perlu lebih lanjut menelaah apa dan bagaimana setiap gerakan dari makhluk hidup ini. Ditinjau dari asal muasal katanya, “gerakan” berasal dari kata “gerak” yang artinya berubahan letak, posisi, dan letak dari A ke B, A ke C, C ke D, dan seterusnya.

Setiap gerakan dimulai dari keinginan, maksud atau kehendak baik yang disadari maupun yang tidak disaradi. Gerak merupakan respons atas gejala (fenomena) yang muncul saat “indera” makhluk hidup menangkan sesuatu. Misalnya, saat kita melihat cahaya yang datang terlalu silau, maka mata kita kemudian menutupnya secara spontan.

Karena kehebatanku menguasai ilmu kecerdikan inilah akhirnya mengantarkan aku pada satu profesi: PERAMPOK.

AYAT SATU

“Milikilah cinta abadiku, ciptakanlah selalu damai di hatimu dan hiduplah dalam bara api semangat untuk pulang menemuiku” itulah selarik pesan yang disampaikan dari bibir merah Rose sebelum aku pergi. Hanya pesan itu yang sungguh-sungguh kumiliki. Sebuah pesan singkat yang menjadi kristal bersinar yang terus tersimpan dalam ruang rahasia jiwaku yang terdalam.

Namaku Iblis dan profesiku perampok. Dan Rose adalah isteriku. Dadanya montok, pinggulnya kecil, pantatnya padat berisi, periang dan suka senam. Wajahnya ayu, posturnya anggun. Dialah ibu muda, usianya 28 tahun yang kerap menjadi incaran mata para pria.

Anakku memangilku ayah. Orang-orang memangilku bajingan. Tapi apa salahnya menjadi bajingan. Toh dunia dan sejarah ini ada karena para bajingan yang besar dan yang kroco ikut andil dalam mengoyak sesuatu yang di anggap benar.

Benar, tho? Coba anda bayang kan dunia ini tanpa para bajingan, penjahat atau bromocorah, apa masih bisa di sebut dunia. Lagi pula tanpa sesuatu yang jahat tidak akan mungkin lahir sesuatu yang dianggap baik, patut atau teladan. Di sini sebenarnya kebenaran itu ada, bahwa kejahatan adalah tidak lebih dari obyek penderita bagi kebaikan. Artinya semakin parah kejahatan itu, semakin bersinar mahluk yang dianggap kebenaran.

Tanpa kejahatan apakah surga dan neraka akan ada? Coba pikir itu. Dan apakah mereka orang-orang suci itu, yang suka menudingkan telunjuk di antara mata kami, akan ada jika kami tidak ada?

Dan perut adalah maharaja yang paling berkuasa. Segala suara yang di gaungkannya membuat manusia kelimpungan. Ia mencari dan menggali, mengaduk gunung dan laut agar sang maharaja tidak bersuara. Setiap manusia punya satu maharaja yang harus ia penuhi kebutuhannya. Sebab ia bukan malaikat yang mempersetankan perut dan kelamin. Akhirnya apa aku salah jika aku menjadi perampok demi maharaja ku.

AYAT DUA

Sebuah tembakan dari polisi mengenai kepalaku. Desing peluru tajam dari senapan laras panjang itu meluncur dengan kecepatan tinggi meledakkan otaknya. Darah menyembur membasahi wajah.

Aku mati sebagai seorang pejuang (bagi keluarga), tapi juga sebagai seorang pengedar narkoba (bagi warga kota ) pada hari Selasa, tanggal 7 bulan 7 tahun 2007, pukul 01.29 WIB. Terpampang jelas tanggal kematianku di nisan yang kini berlumut hijau dan hampir tidak terbaca lagi.  Menyemak lukar kuburku di tengah ilalang bukit yang terlupa. Mungkin, hanya pencari rumput yang sambil lalu berjalan mencari makanan buat domba-dombanya yang kadang melihat kuburanku.

Itupun hanya dilihat dengan sekilas saja, sebab di makamku sudah tidak ada lagi hal yang menarik. Sebaliknya, barangkali menyeramkan dengan aroma mistis magis yang diciptakan oleh benak mereka sendiri.

AYAT TIGA

Dengan kematianku ini, pupus pula harapan untuk kembali ke halaman rumahku yang rindang oleh dedaunan pohon. Pepohonan yang dulu aku tanam bersama isteriku kala santai menikmati senja dan pagi di hari-hari libur. Aku menikah pada tanggal 7 bulan 7 tahun 1997 atau tujuh tahun setelah kami berpacaran. Pacaranku tergolong lama karena kami sama-sama saling menikmati indahnya masa muda.

AYAT EMPAT

Untuk kembali ke kehidupanku bersama orang-orang yang aku kasihi; isteri dan anak lelakiku satu-satunya dengan kondisi begini jelas mustahil. Aku hanya bisa melihat wajah lucu anakku saat bermain dengan teman sepermainannya. Isteriku yang menikmati persetubuhan dengan lelaki yang ternyata adalah musuhku, seorang perwira polisi yang dulu menembak mati diriku.

AYAT LIMA

Cintaku tetap hidup hingga kini. Cintaku jelas tidak mampu memiliki dan dimiliki. Cintaku hanya memberi dan tidak menerima. Memancar ke segenap arah hidup manusia namun aku tidak mampu berbuat apapun.

AYAT ENAM

Aku bangkit lagi dari kematianku setelah aku menemukan mantra bagaimana caranya aku yang kini hanya berwujud ruh masuk ke badan jasmani seseorang. Mantra ini aku temukan dalam tulisan setelah anakku membaca skripsi sarjanaku dan aku ikut membacanya.  “Semua mengada berasal dari ide, dan ide berasal dari kehendak.” Dengan mantera itu, aku menggedor langit, bernegosiasi dengan Tuhan.

Tuhan mengijinkan aku bertemu dengan isteri dan anakku kembali tapi dengan syarat bila aku nanti masih dibakar nafsu keduniawian maka aku tidak akan masuk sorga yang dijanjikanNya. Perjanjian lainnya; aku boleh kembali ke dunia namun pada ruang dan waktu yang ditentukan Tuhan sendiri yaitu di era masa lalu, tepatnya di era pergolakan revolusi Indonesia

AYAT TUJUH

Badan yang aku pakai untuk masuk ke dunia normal adalah seorang biksu Budha saat dia bermeditasi di sebuah tempat sunyi di dalam hutan. Aku ucapkan salam ke ruh-nya lalu aku diberbolehkan untuk memakai tubuhnya.

Hari itu Senin, tanggal 7 bulan 7 tahun 1947 Aku lantas keluar dari hutan dengan berpakaian ala Biksu Budha. Di tengah perjalanan, aku bertemu gerombolan penyamun. Hampir saja aku terbunuh kembali bila aku tidak segera melarikan diri masuk ke sebuah gua yang ternyata masih ada bekas tentara Jepang berbadan kurus kehilangan masa depan.

AYAT DELAPAN

Sebuah perjumpaan yang mengharukan sekaligus menyakitkan. Aku (Iblis) bertemu kembali dengan isteriku (Rose) dalam keadaan aku sudah tua renta. Bayangkan usiaku saat usiaku menginjak 85 tahun! Sementara isteriku berusia 28 tahun….Saat aku menjadi pengemis yang papa di depan rumah keluarga perwira Polisi itu…

AYAT SEMBILAN

Hatiku bergolak memberontak, cemburu ingin lagi menikmati masa-masa indah yang sudah terampas. Aku lempari rumah polisi itu dengan recehan dan tiba-tiba nafasku tersengal, jatuh dan mati. Tuhan mengirimku kembali ke alam baka untuk menunggu neraka menyala. Inikah keadilan terakhir bagi seorang pencari?

AYAT SEPULUH

Kita hidup ini sebenarnya telah membawa bangkai, tubuh kita yang dianggap sempurna sebenarnya barang najis apalagi sorga dan neraka hanyalah rekaan angan manusia. Padahal itu semua salah, salah dan salah.

AYAT SEBELAS

Aku bukanlah siapa-siapa. Derita dan akhirnya merana adalah perjumpaan hidup yang akrab bagiku. Namun tak ada yang tak berakhir jika semuanya sudah saatnya. Kini tubuh ini mulai menuju pelabuhannya… cinta bahagia, wangi aroma cinta terasa makin dekat. Kawan nikmatilah apa yang kini ingin kau rasakan.

AYAT DUA BELAS

Ibarat Mencintai Perempuan, walaupun itu sudah terikat dalam suatu perkawinan atau tidak itu sah-sah saja. Karena cinta kasih itu murni adanya tidak terikat budaya, dogma atau hukum karena cinta dan karena kasih sudah terbawa sebelum menjadi manusia dan masih dalam wujud sperma dan sel telur. 

AYAT TIGA BELAS

Tuhan yang azali identik dengan gelap. Lihatlah Tuhan di dalam sebuah tutupan mata sederhana. Kini, aku sudah tidak kebingungan lagi kemana harus menemukan Engkau ya Tuhan. Karena sesungguhnya Dirimu tidak perlu dicari, engkau ada dalam diriku. Dan diriku ini adalah Engkau. Tidak perlu aku melacak ke sebuah perenungan yang mendaki, tidak perlu ditemukan dalam sebuah keriaan ibadah yang memagut. Karena Engkau Maha dan Sungguh Dekat.

Wong Alus

Categories: PUISI & PROSA | 19 Komentar

JUMAT SUWUNG (2)


JW Marriot
Ritz Carlton

darah/ air mata

Jumat:
tujuh belas
bulan tujuh
jam tujuh


ikhlaslah

sujudlah

Ikhlaslah

sujudlah

Inalillahi  wainna ilaihi rojiun

(karena Manusia,
tak bisa memilih
kapan tangisnya meledak
menembus tujuh langit hijab)

Categories: PUISI & PROSA | 9 Komentar

SUWUNG MAWAR DI UJUNG SENJA


Mawar
warnanya merah
Daunya hijau segar
Baunya wangi
Ada durinya,

Duhai indah sang bunga
Ingin kupetik
Kuberi pada pujaan hati
Malam ini,
sekuntum saja

Semoga dia,
mampu merasa indahnya
Bukan hanya indah merahnya,
Hijau daunnya
Atau durinya yang menusuk
Tapi KEINDAHAN nya
Hakikat Dzat nya…

Mawar tetap mawar
Apapun tafsir tentang mawar
Apapun nama dan sifat mawar
Tak akan mengubah kemawarannya
Tak akan mengubah apa-nya
Tak akan…

Mawar mewartakan apa?
Keindahannya dari mana berasal?
Dari materinya kah?
Dari bentuknya kah?

Sesungguhnya,
mawar mewartakan keberadaanKU,
Adakah keindahan mawar
bila tidak ada AKU?

AKU adalah pusat pandang
AKU adalah titik gingsir kasih
Semua yang indah terpancar dari indah-KU

IndahKU ada dalam sunyi,
Namun tidak pernah layu

di ujung senja
sekalipun..


(w.a, 15-07-09)

mawar

Categories: PUISI & PROSA | 5 Komentar

PUISI KEMATIAN


images

IBU ITU

Seorang tetangga mati sore kemarin
Pagi tadi dikuburkan
Dia ibu beranak satu
Anaknya itu teman anakku

Ibu itu buruh pabrik PT MMUJ
dibunuh karena tidak mampu membayar hutang
Jumlahnya hanya 500 ribu

Dia tewas di tangan teman kerjanya:
–Dipukul besi, dimasukkan tong sampah
Di pabrik tempat kerjanya—
anaknya menangis,
bapaknya menangis

Akal sehat, kau nyungsep dimana?
Nurani, melenyap kemana kau?

Bumi, kekasihku..
Angkasa, sahabatku..
Angin, jiwaku
Duh Gusti, segalaku!

Perih rasaku, malam ini

Gebang, 17 Juni 2009

WONG ALUS

Categories: PUISI & PROSA | 15 Komentar

JAUH TAK TERGAPAI



“(You Want To) Make A Memory”

Hello again, it’s you and me
Kinda always like it used to be
Sippin’ wine, killing time
Trying to solve life’s mysteries.
How’s your life, it’s been a while
God it’s good to see you smile
I see you reaching for your keys
Looking for a reason not to leave.If you don’t know if you should stay
If you don’t say what’s on your mind
Baby just, breathe there’s no where else tonight we should be-
You wanna make a memory.

I dug up this old photograph
Look at all that hair we had
It’s bittersweet to hear you laugh
Your phone is ringing, I don’t wanna ask.

If you go now, I’ll understand
If you stay, hey, I got a plan
You wanna make a memory
You wanna steal a piece of time
You could sing a melody to me
And I could write a couple lines
You wanna make a memory.

If you don’t know if you should stay
And you don’t say what’s on your mind
Baby just, breathe there’s no where else tonight we should be-
You wanna make a memory
You wanna steal a piece of time
You could sing a melody to me
And I could write a couple lines
You wanna make a memory
You wanna make a memory

Lirik lagu Bon Jovi ini bagi saya sungguh menyentuh. Melayangkan angan pada Sang Kekasih Abadi Sepanjang Masa. Saya yakin Dia Sangat Dekat. Lebih dekat dari rasa dekat. Tapi terkadang Engkau terasa jauh dan tidak tergapai….

Kekasih, kenapa Engkau masih  ijinkan aku merindukan Mu?

Wong Alus

Categories: PUISI & PROSA | 1 Komentar

SEBELAS TAHUN REFORMASI


Mengenang gerakan reformasi, saya teringat Nabi Musa. Saat Musa menentang kesewenang – wenangan Fir’aun, mengadakan sebuah gerakan pembangkangan melawan kekuasaan. Banyak airmata yang tumpah, banyak darah tercecer. Memang untuk menghancurkan peradaban, harus melalui penyakit – penyakit akut yang menggerogoti peradaban tersebut laiknya rayap.

Penyakit itu akan terus melukai dan secara kontinu dan menjadi kanker bagi kehidupan peradaban itu. Pada akhirnya peradaban tersebut jatuh tersungkur. maka itulah yang harus dibuat pada masa itu. Kesewenangan, kezhaliman harus terus digerogoti. Kita perlu menjadi penyakit – penyakit bagi peradaban barbar ini. Sekecil apapun sakit yang kita buat, maka ada kontribusi perih yang bisa kita sumbangan, maka jadilah orang yang gelisah ini, jadilah penyakit bagi peradaban zhalim…

Pada 12 Mei 1998, empat mahasiswa Universitas Trisakti tewas tertembak di kampusnya saat demonstrasi. Mereka adalah Hafidhin Royan (mahasiswa Teknik Sipil), Hendriawan (Ekonomi), Elang Mulia Lesmana (Arsitektur) dan Hery Hartanto (Teknik Mesin). Kejadian itu memicu kemarahan warga. Sehari setelah itu, kerusuhan besar melanda Jakarta dan kota-kota lain.

Seolah ada kekuatan gelap yang merayap dan mengendalikan, ribuan orang menjadi begitu beringas dan angkara murka pun merajalela. Mereka menjarah dan membakar pertokoan atau pusat perbelanjaan. Juga mobil dan sepeda motor di jalan raya. Banyak orang tewas terpanggang. Aparat keamanan menghilang. Api dan asap dimana-mana.

Akhirnya, situasi chaos ini terus berkembang… dolar mengalami lonjakan tajam… Gelombang ketidakpuasan berkembang dan Soeharto memutuskan turun dari jabatannya.

Kini, sebelas tahun reformasi di Indonesia. Ketidakadilan kembali menggerogoti bangsa kita. Seluruh elemen bangsa pasti tidak suka dengan peradaban yang carut marut begini. Tuhan, KAU kembali menjadi tempat untuk mengaduh dan mengeluh…… Dasar manusia, ingatnya bila membutuhkan saja.

Wong Alus

Categories: PUISI & PROSA | 5 Komentar

TANGAN TANGAN SETAN MANUSIA


Porong, 2009. Trilyunan kata-kata berjumpalitan ke sana kemari. Gerakannya erotis mirip sperma yang siap muntah; liar, beringas tapi misterius. Kata-kata menari riang tapi sekonyong-konyong mengeluarkan jurus yang mematikan. Wush,… kata-kata melayang pelan di angkasa, lalu turun dengan cepatnya membabat sudut sudut bumi, blaaarrrr!!!! meledaklah ia di kampung-kampung disertai kabut pekat.

Kenapa kata-kata kini berubah absurd menakutkan seperti itu? Inilah yang terpikir di benak warga kampung Jatirongko. Padahal, dulu kata-kata adalah sosok yang santun jinak bahkan sering berubah menjadi petuah, pitutur, dan menjadi oase yang menyejukkan kegelisahan.

Di saat warga bergerombol diselimuti tanda tanya kenapa kata-kata tidak lagi bersahabat seperti dulu, naiklah Sarip, penjual bakso keliling di atas sebuah truk trailer yang kehabisan bensin. Rombong baksonya ditinggal begitu saja di pinggir jalan.

Bak ahli bahasa, dia menceriterakan muasal kata-kata turun ke bumi dan menjadi sahabat karib manusia. Konon, menurut Sarip, dari segi historis kata-kata mulanya tidak ada. Dia ada karena masyarakat membutuhkan sebagai saran komunikasi yang ampuh.

“Dulu, manusia purba masih hidup individualis di hutan-hutan yang sunyi. Mereka tidak butuh bersosialisasi dengan kata-kata. Hanya ada bahasa isyarat, bahasa tubuh, bahasa perasaan, bahasa telepati. Seperti hewan, manusia purba hidup di taraf yang paling dasar. Tidak butuh aktualisasi diri, tidak perlu barang mewah untuk mendongkrak harga diri, tidak perlu juga spiritualitas yang ritmis magis,” papar Sarip dengan mimik serius.

Akibat dari belum adanya kata-kata kotor, imbuh Sarip, bumi masih tenang. Tuhan belum murka oleh tangan-tangan setan manusia. Tidak ada rekayasa. Semuanya dibiarkan alamiah. “Bagaimana mau merekayasa? Lha wong manusia purba masih belum menyadari keberbedaannya dengan alam,”

Di sela paparan Sarip yang sok filosofis seperti itu, mendadak sebuah mobil jip warna putih, berroda besar berhenti tepat di depan trailer. Keluarlah seorang pria parlente. Ganda Riya namanya. Pria paruh baya yang sehari-hari berprofesi sebagai lurah ini sudah sejak lama memendam kebencian dengan Sarip yang sok tahu, keminter dan suka menggurui.

Sebetulnya, sang lurah tidak sedang mood untuk memberi komentar terhadap aksi panggung Sarip. Namun, melihat gelagat yang mencurigakan Ganda Riya memastikan Sarip sedang memprovokasi warga dengan kata-katanya. Maka rem mobilnya segera diinjak dan serta merta dia naik trailer.

“Penjual bakso sukanya membual, he…Rip, kamu ini munafik. Piawai berkata-kata tapi susah melaksanakan kata-katamu sendiri” setengah teriak Ganda Riya berujar.

Disergap dengan tuduhan sepihak yang menohok, Sarip kaget. Tanpa dinyana muncullah satori *)-nya yang heroik untuk membela diri.

“Aku tidak sedang bermunafik, saudara lurah. Coba lihat mana yang bijaksana, memberikan penjelasan yang rasional seperi diriku atau membodohi warga dengan janji-janji mulukmu. Mana bisa warga yang sudah melek informasi ini dibodohi dengan janji akan diberikan ganti uang, alih alih ganti untung mereka malah buntung! “ Sarip balik menyerang.

Warga mulai bingung dengan silang sengkarutnya kata-kata dari dua orang berbeda kasta ini. Apalagi sekarang Sarip dan Ganda Riya mulai memakai bahasa tubuh untuk melengkapi ekspresi mereka. Sarip mengacung-acungkan alat pemukul dari pring*) yang biasa digunakannya untuk membunyikan kentongan kecil yang dibelah sehingga berbunyi tik tok tik tok.

Lain lagi dengan Ganda Riya. Dengan gerakan lincah dan spontan dia menggerakkan jari-jarinya sambil mengempit rokok yang lupa dinyalakan. Sementara tangan lainnya masih menggenggam korek api. Di satu jari manisnya, terselip cincin emas lima gram bertahtakan berlian hasil pemberian isteri simpanannya yang kini sudah membuahkan satu momongan.

Semakin lama, debat kusir itu semakin panas. Kata-kata yang meluncur dari mulut mereka semakin garang bergairah. Mulailah umpat mengumpat, mata mendelik hingga bola mata yang nyaris berloncatan keluar dari contongnya. Ludah dua orang dewasa ini saling mengguyur lawan bicaranya. Baunya menyengat, busuk minta ampun.

Lalat dari sampah di sudut kampung sebelah mulai ikut nimbrung, semakin lama semakin banyak. Satu lalat mengontak satu batalion lalat. Dua lalat yang lain mengajak sekaligus empat batalion lalat. Pendeknya, siang terik itu langit kampung Jatirongko akhirnya dihiasi milyaran batalion lalat dari seluruh penjuru kota, akibat dari dua mulut busuk beradu pintar itu.

Tiba-tiba, bumi bergetar, kata-kata yang lebih besar muntah dari perut bumi….

Warga Jatirongko panik dan bingung oleh kejadian tidak terduga. Debat Sarip versus Ganda Riya terhenti sejenak. Bagaimana bisa kata-kata meluber ke ruang tamu, ruang keluarga, kamar mandi, kamar untuk bersenggama? Dengan gerakan tanpa rencana, warga mengambil apa saja untuk menyumbat luapan kata-kata yang busuk disertai lalat ini. Cangkul untuk membuat tanggul kecil dari tanah di depan pintu, sekop untuk memperdalam got agar bisa mengalirkan kata-kata secara lancar. Malah ada seorang ibu yang panik tiba-tiba keluar rumah dengan membawa sutil*).

Musibah apa lagi ini? Apakah Tuhan sudah bosan untuk memberi pelajaran dengan cara-cara yang lebih manusiawi dan beradab? Begitu kata Karmo Sengkala, seorang ulama terkenal dari kampung seberang sungai yang biasa manggung di forum-forum ceramah agama dan termasuk rajin menyambangi pemirsa di layar kaca televisi. Sambil mendaras doa, Karmo mengajak warga untuk kembali kepada jalan yang lurus.

Renungan Karmo tidak sedikitpun menyurutkan keberanian kata-kata untuk terus menyerang dengan caranya yang membabi buta. Tanpa kenal ampun, kata-kata melumat apa saja yang ada di dekatnya. Unik tapi membunuh.

Ratusan orang kelimpungan melihat harta benda yang bertahun-tahun akrab menemani itu kini menjadi rusak. Banyak yang stress dan akhirnya gila. Penguasa tanggap, mereka yang gila dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Bagi yang tingkatnya setengah gila masih diperkenankan untuk berkata-kata, asal tidak mengganggu stabilitas keamanan. Bagi yang masih waras, penguasa tinggal memantau saja. Penguasa sengaja membiarkan mulut mereka berbusa dengan kata-kata nylekitnya, toh lama kelamaan akan capek juga dengan sendirinya.

Luberan kata-kata semakin luas, bahkan kini mengancam kampung-kampung sebelah. Setidaknya menurut perhitungan tim nasional penanggulangan kata-kata —tim bentukan penguasa pusat ini— ada delapan kampung yang nantinya akan dihapus dari peta. Itu pun masih perhitungan kasar. Bisa jadi perhitungan itu berubah sesuai selera kata-kata untuk membesarkan jangkauannya.

Yang paling parah adalah Jatirongko, kampung tempat Sarip dilahirkan, dibesarkan dan tempatnya mencari penghasilan. Rumah Sarip ada di sisi paling selatan kampung yang kini mendadak menjadi tempat wisata baru tersebut.

Memandang rumahnya ditelan kata-kata dan lama kelamaan hanya terlihat gentengnya, Sarip tercenung. Tapi rupanya ia tegar, tidak ikut-ikutan meratap. Namun tiba-tiba, matanya berkaca-kaca.

Dia mengingat ruangan-ruangan di dalam rumahnya. Untuk mencapai dapur rumah dia biasanya harus sedikit memiringkan tubuh bila kebetulan ada sang isteri lewat. Tak lupa, Sarip sengaja menggoda isteri dengan mencubit pantatnya yang bahenol.

Selain itu, di kamar yang sangat jelas diingat Sarip adalah bentuknya yang kotak dengan ornamen lubang yang di bagian atas dilengkapi relief-relief bergaya etnik. Di kamar ukuran 3 x 3 meter itulah dia biasanya tidur dengan isteri dan anaknya yang belum genap enam tahun.

Tidak seperti warga desa lain yang kebingungan menyelamatkan rumah, keluarga dan harta bendanya dari bencana, pria tanpa kumis ini malah lupa keberadaan isteri dan seorang anak laki-lakinya sekarang.

Malah kini debat kusir Sarip versus Ganda Riya kembali diteruskan. Dan tiba pada suatu pernyataan panjang dari Sarip yang akhirnya menyadarkan sang lurah. Pernyataan itu lengkapnya begini;

Kini, Anda dan saya sudah menyaksikan betapa dahsyatnya kata-kata. Kata-kata tidak sekedar gambaran kenyataan. Tapi kata-kata sudah menjelma menjadi kenyataan. Itulah hebatnya. Sadarlah kawan, kata-kata adalah kehendak untuk mengada namun juga meniadakannya.”

Akibat dari adanya kata-kata yang bijak, simpul Sarip, bumi menjadi indah berpelangi, bermandikan cahaya kebenaran, damai nan tenteram. Kebalikannya, kata-kata dari banyak mulut busuk telah menjadikan ruang di bumi ini dipenuhi kotoran, laut diluberi tumpahan minyak, langit sesak oleh persik satelit yang mati.

Porong, 2037. Trilyunan kata-kata yang muntah itu akhirnya membeku. Benar-benar membeku. Kata-kata melunak jinak. Mereka kembali ke gorong-gorong, kembali ke got, ke comberan dan ke sawah.

Semua rumah dan pepohonan sudah rata dengan tanah. Habis tiada sisa. Siang itu, angin kering menerpa bumi, menerbangkan debu-debu. Terlihat pula sesobek koran lawas dengan headline “Kota Sidoarjo Lenyap Ditelan Bumi, 380 Kampung Rata dengan Kata-Kata” diterbangkan angin. Entah menuju kemana…

Di sudut-sudut kampung yang lain, kondisinya sama. Semuanya makhluk hidup menghilang termasuk manusia. Termasuk Sarip dan Ganda Riya, yang telah melumer oleh kata-katanya yang berbusa, kata-kata yang meniadakan keberadaannya. ***

Sidoarjo, 1 Mei 2009

Wong Alus

Catatan:

*) Satori adalah pencerahan ala Zen Budhisme. Munculnya Satori tidak terduga, seperti sekelebat cahaya yang hadir kapan saja dan dimana saja seseorang berada.

*) Pring: bambu (bahasa Jawa)

*) Sutil: alat untuk menggoreng. Terbuat dari besi yang dibentuk sedemikian rupa menyerupai sekop kecil.

Categories: PUISI & PROSA | Tinggalkan komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. The Adventure Journal Theme.