>SILATURAHIM NASIONAL KWA 2010

DOKUMENTASI SILATURAHIM 05


BERIKUT SEBAGIAN DOKUMENTASI SILATURAHIM KELUARGA KAMPUS WONG ALUS, 17 SEPTEMBER 2010:

Kiriman :Saptadi Rahmanto
sapt06@yahoo.co.id

Mbah Gondrong X Tukang Pertamax (kiriman Mas Akik)

Lokasi Pertemuan Cepuri Parangkusumo

Sedulur KWA

Sedulur KWA

Ketua Pelaksana Silaturahim KWA (Benganwan BC)

Kesan dan pesan Silaturahim

Ki Sabdalangit memberi ucapan selamat kepada panitia silaturahim

@@@

Categories: >SILATURAHIM NASIONAL KWA 2010 | 60 Komentar

DOKUMENTASI SILATURAHIM 04


BERIKUT SEBAGIAN DOKUMENTASI SILATURAHIM KELUARGA KAMPUS WONG ALUS, 17 SEPTEMBER 2010:

Kiriman :

wongxoxo
wong.xoxo@yahoo.com
Wongxoxo
Trans
Diskusi dgn sesepuh
Ramah Tamah
Sedulur2 KWA
Sedulur2 KWA
@@@
Categories: >SILATURAHIM NASIONAL KWA 2010 | 40 Komentar

DOKUMENTASI SILATURAHIM 03


BERIKUT SEBAGIAN DOKUMENTASI SILATURAHIM KELUARGA KAMPUS WONG ALUS, 17 SEPTEMBER 2010:

Tokoh yang juga tidak boleh dilupakan dibalik suksesnya silaturahim K.W.A adalah Mbah Marijan. Pada H+2 beliau dan putranya datang jauh-jauh dari Merapi ke Wijilan (markas K.W.A Jogja) hanya untuk mengayubagyo acara gathering KWA di Parangkusumo. Menurut Waskito mbah Marijan: Wijilan/wijil=njedul/lahirnya kesadaran spiritual kawula muda bangsa. Generasi kang weruh sejatining urip.

Ki Sabdalangit (kanan) & Ki Camat

dari kiri: Ki Nurjati, Raden Wisanggeni, Bengawan Candhu, Hijrah01, dan Gus Santri


Ki Umar Jogja

pengijazahan dzikir makrifat ki ageng JJ.

tokoh dibalik suksesnya silaturahim KWA: mas wawansleman (berdiri) dan ki bengawan candhu (pakai batik) sdg koordinasi sebelum berangkat ke TKP.

@@@@@

Categories: >SILATURAHIM NASIONAL KWA 2010 | 128 Komentar

DOKUMENTASI SILATURAHIM 02


BERIKUT SEBAGIAN DOKUMENTASI SILATURAHIM KELUARGA KAMPUS WONG ALUS, 17 SEPTEMBER 2010:

Ki Ageng JJ

Mas Akik yang Mana Ya……..????

 

@@@@@

 

Categories: >SILATURAHIM NASIONAL KWA 2010 | 66 Komentar

DOKUMENTASI SILATURAHIM


BERIKUT SEBAGIAN DOKUMENTASI  SILATURAHIM KELUARGA KAMPUS WONG ALUS, 17 SEPTEMBER 2010:

Categories: >SILATURAHIM NASIONAL KWA 2010 | 58 Komentar

REPORTASE SILATURAHIM KAMPUS WONG ALUS


UPAYA MENJADI MANUSIA YANG LUMRAH DAN HARMONIS DENGAN ALAM SEMESTA

Selesai sudah hajatan akbar silaturahim keluarga besar kampus wong alus yang diselenggarakan pada 17 s/d 18 September 2010 kemarin. Sukses dan tercapai semua target penyelenggaraan acara tanpa kendala apapun.

Saya berangkat dari Sidoarjo menuju Yogyakarta untuk mengemban misi yang bisa dirangkum dalam kalimat sederhana: “menyambung paseduluran.” Merekatkan persahabatan dan persaudaraan di antara anak bangsa dari berbagai latar belakang asal, budaya, dan agama.

Berangkat pada 17 September 2010 dini hari, saya ikut rombongan kloter dari Sidoarjo yang dipimpin oleh Ki Camat Krian (dipanggil Ki Camat karena memang ia dipercaya memegang amanah untuk menjadi Camat dan memimpin wilayah Kecamatan Krian, Sidoarjo) dan Mas Kumitir (pemilik blog alang-alangkumitir). Sebelumnya, kita merencanakan berangkat siang atau sore mengingat para sedulur panitia sudah berdatangan secara bergelombang ke home base acara silaturahim ini yaitu di kediamannya Ki Sabdalangit di kawasan Plengkung Wijilan, dalam Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Namun, karena satu dan lain hal akhirnya keberangkatan ditunda menjadi pukul 01.00 IB.


Sebelum berangkat, saya sudah mendapat informasi kalau para sedulur dan sesepun panitia yang dari Jakarta sudah datang di antaranya Ki Nurjati dan lain-lain. Panitia lain yang sudah hadir di antaranya mas Bengawan Candhu (ketua panitia), ki Angon, mas Deadman, mas Than must the post, mas Wawan, mas Hijrah, Gus Santri dll.


Di dalam mobil, kami bercengkrama seperti biasa. Pembicaraan mengarah kepada substansi acara ini yaitu agar kita semua yang berangkat ke acara silaturahim ini dengan niat yang setulusnya. Tidak perlu ada keinginan yang macam-macam misalnya ingin berguru kesaktian apalagi mencoba ilmu yang sudah diamalkan. Ssebab adanya keinginan lain justeru yang muncul adalah ego dan ini biasanya menyesatkan sang “aku sejati” untuk menggapai kesempurnaan. Dalam hati saya berbisik, semoga sedulur semua yang nanti hadir di acara ini juga sama-sama meluruskan niatnya.


Ada kejadian kecil namun menjadi tanda bahwa saya harus meluruskan niat sebelum acara. Yaitu sms-sms yang ada di handphone saya, yang berisi amalan-amalan yang siap untuk diupload, terhapus gara-gara salah pencet. Seingat saya, sms itu adalah kiriman amalan-amalan yang bagus misalnya pengijazahan RDR pamungkas dari Ki Dagoel Badranaya dan lainnya. Inilah tanda-tanda bahwa sebelum silaturahim kita tidak boleh memegang atau menyimpan amalan-amalan yang berbahaya dan berpotensi mengganggu harmoni antara manusia dengan alam semesta.


Mobil melaju kencang dan bila biasanya Surabaya-Yogyakarta ditempuh selama 7-8 jam, rombongan kami masuk di kota Jogja sekitar pukul 05.30 WIB atau sekitar 4,5 jam perjalanan dengan lancar dan tanpa terjebak kemacetan sama sekali. Tiba di rumah ki Sabdalangit, kami disambut oleh para sedulur panitia yang sudah semalaman jagongan. Saya melihat wajah mereka yang sedikit kecapekan namun dada yang penuh semangat ingin mensukseskan acara silaturahim kedua ini. (Silaturahim pertama diselenggarakan di Sidoarjo, Jatim satu tahun sebelumnya).


Saat datang itu, tidak terlihat si empunya rumah, Ki Sabdalangit A.E Banyusegara. Kata rekan-rekan, Ki Sabda yang kita dapuk sebagai Ketua I Kampus Wong Alus ini masih istirahat setelah melayani para sedulur panitia untuk menyediakan konsumsi, penjemputan dan lain-lain. Yang juga tidak terlihat saat itu adalah Mas Bengawan Candhu, sang Ketua Panitia Silurahim. Mas Bengawan bersama para sesepuh dan sedulur yang lain ternyata menginap di rumah Ki Sabdo Sejati di kawasan Ringroad utara. Jadi selain Ki Sabdalangit, Ki Sabdo Sejati ini berkenan menyediakan tumpangan bagi sedulur panitia silaturahim. Terima kasih untuk panjenengan berdua…


Saat itu Ki Angon juga terlihat. Dengan senyum manis dan jiwa angon-nya, ternyata malam itu Ki Angon barusaja berkenan untuk berbagi-bagi ngelmu. Tentu saja kalau Ki Angon yang berbagi ilmu tentunya bukan ilmu yang sembarangan. Beliau sesepuh yang sudah kenyang makan asam garam soal-soal makrifatullah di jalur akademis. Gelar doktor beliau sabet di umur yang masih cukup belia di Universitas Islam Negeri Yogyakarta.


Di dekat Ki Angon, ada juga Gus Santri dari Blitar. Gus Santri adalah seorang pengasuh pondok pesantren yang kaya dengan kitab-kitab kuning yang sudah sangat langka. Di Blog ini, Gus Santri juga sudah mengijazahkan kitab yang menjadi dasar ilmu-ilmu hikmah. Untuk Gus Santri, tiada kata lain selain, lanjutkan pengijazahannya Gus.. kita semua menantinya.


Saat jarum jam menunjukkan pukul 08.30 WIB, di depan rumah kediaman Ki Sabda berhenti beberapa motor. Pengendaranya turun dan membuka helm. Wajah-wajah muda penuh semangat langsung menyapa kami. Mereka ini adalah rombongan yang dipimpin oleh Mas Bengawan Candhu.


Setelah kami berkenalan, koordinasi singkat langsung kita adakan dan akhirnya kita sepakati bahwa rombongan Mas Bengawan akan berangkat terlebih dulu ke Cepuri Pantai Parangkusumo, tempat acara silaturahim digelar untuk memasang spanduk, berkoordinasi dengan juru kunci dan petugas penginapan serta petugas keamanan. Sementara Ki Sabdalangit, ki Sabdo sejati, ki Camat, Mas Kumitir, Wak Gondrong, Mas Wawan dan saya tinggal sementara berziarah ke Makam Raja-Raja Mataram di Kotagede. Selanjutnya rombongan dipecah menjadi dua, saya dan Ki Sabda membawa sound system dan Ki Sabdo Sejati mengangkut snack yang sudah disediakan Ki Umar Jogja berjumlah 250 kotak lebih. Matur nuwun untuk Ki Umar…


17 September 2010 itu adalah hari Jumat pon bertepatan dengan wafatnya Panembahan Senopati. Saya sholat Jumat di masjid dekat rumah Ki Sabdalangit. Di sana saya memohon agar Tuhan Yang Maha Kuasa berkenan untuk membantu agar acara silaturahim ini sukses tanpa ada halangan sama sekali. Usai sholat Jumat, saat berjalan kaki ke rumah ki Sabda, hujan rintik-rintik mulai turun dan terus memayungi pada saat ziarah.


Ziarah ke Makam Raja-Raja Mataram di Kotagede kita laksanakan usai sholat Jumat mengikuti jadwal dibukanya makam oleh juru kunci. Kita merasa wajib melakukan ziarah ini. Kenapa? Mereka ini adalah para leluhur yang harus kita hormati dan terasa tidak sopan kiranya bila kita tidak mohon ijin pada mereka. Para leluhur inilah yang dulu sudah berkenan babat alas di tanah Jawa, menorehkan karya-karya gemilang sehingga kita bisa menikmati hasilnya sekarang ini. Para leluhur ini adalah orang tua kita, simbah-simbah/eyang-eyang kita, buyut-buyut kita dan seterusnya hingga manusia pertama di muka bumi.


Jasad atau tubuh mereka memang sudah tiada, namun ruh mereka tetap ada di dimensi bumi ini. Mereka ini senantiasa membimbing, njangkung dan njampangi kita semua yang menyadari keberadaan mereka. Sayang bila kita tidak menyadari apalagi menganggap mereka tidak ada, maka kita akhirnya juga tidak akan mampu mendengarkan petuah-petuah dan wejangan-wejangannya yang sangat bermanfaat untuk menjalani hidup ini.


Boleh dikatakan, ziarah yang dibimbing oleh Ki Sabdalangit inilah salah satu inti pembuka acara Silaturahim Keluarga Besar Kampus Wong Alus ini. Meskipun memang tidak kita umumkan secara resmi, bahkan kepada panitia sekalipun, namun dalam batin ini berkata: tanpa kita melakukan ziarah, acara tidak akan bisa terlaksana. Ziarah ini hakekatnya adalah sebuah langkah menyadari betapa kita ini harus mengadakan komunikasi dan konsultasi yang berarti penyelarasan/harmonisasi antara jagad wadag/jagad fisik dan jagad non fisik/jagad gaib.

Makam raja-raja Mataram di Imogiri kita pilih sebagai sebagai tempat ziarah karena di sinilah leluhur tanah Jawa kini berrumah. Salah satunya adalah Kanjeng Sinuwun Panembahan Senopati yang kita kenal sebagai “suami” Kanjeng Ratu Kidul. Selain dimaknai sebagai simbolisasi jagad cilik (mikromosmos) dan jagad gede (makrokosmos), sesungguhnya perkawinan ini benar-benar terjadi. Perkawinan antara dua penguasa, yang satu penguasa Mataram dan satu lagi adalah penguasa gaib dari entitas “bidadari”.

Ada kejadian unik. Salah satunya dialami mas Kumitir. Saat akan membawa masuk bunga ke makan utama para raja Mataram ternyata dia membawa tujuh keranjang bunga. Ini aneh sebab pada saar membeli masing-masing orang sudah kebagian jatah dua keranjang jadi total semuanya empat belas keranjang?


“Eeee…. saat akan mengambil bunga yang ditaruh di pos ganti baju Jawa, kok saya dapat tujuh keranjang… ya sudah saya yang kebagian paling banyak menabur bunga ke para leluhur ini” ujar Mas Kumitir.


Di makam ini, Ki Sabdalangit, Ki Kumitir, Ki Camat, dan saya sama-sama mendapat sasmita kalau nanti kita akan dibantu oleh para leluhur agar sukses. Bahkan Ki Sabda mengatakan bahwa Ki Ageng Mangir Wonoboyo, Gusti Mangkunegoro IV, Panembahan Senopati dan para leluhur lain berkenan hadir. Juga dihadiri oleh para abdidalem brayat dari tlatah Kidul. Kita juga mendapatkan sasmita bahwa siapapun pihak yang memiliki niat jahat dan akan mengganggu jalannya acara silaturahim maka niat jahat itu akan membalik mengenai dirinya sendiri. “Iki ngalam ngger, sopo wonge sing duwe niyat olo, yo kudu gelem narimo laku niyate dhewe”


Usai Ziarah ke Makam Raja-Raja Mataram di Kotagede, jam sudah menunjukkan pukul 14.30 WIB. Saya mengirimkan sms ke mas Bengawan Candhu yang sudah ada di pantai Parangkusumo untuk menempelkan spanduk dan boleh memulai acara. Karena memang etikanya demikian. Yaitu memohon ijin dulu kepada para leluhur kemudian baru memulai perhelatan dari yang sekecil-kecilnya.


Hujan memayungi perjalanan kami dari kota Jogja menuju pantai Parangkusumo. Pukul 16.30 WIB kami sampai di Cepuri dan cuaca hanya sedikit mendung dan sesaat kemudian malah terang benderang hingga akhir acara. Sampai di Cepuri, saya turun dari kendaraan dan terlebih dulu menyisir lokasi. Saya sedikit kaget, ternyata acara yang awalnya direncanakan di pendopo Cepuri malah diselenggarakan di halaman masjid Cepuri. Kenapa lokasinya digeser? Begitu tanya saya saat itu.


Ternyata perubahan lokasi itu menurut mas Bengawan Candhu dilakukan karena para sedulur dan sesepuh yang sudah hadir menghendaki acara dilangsungkan tepat waktu. Sebuah langkah bijaksana dan strategis mengingat di atas permukaan langkah itu adalah mengikuti niat sedulur yang kadung bersemangat mengikuti acara dan menepis anggapan bahwa acara ini tidak jadi dilaksanakan.


Saat memberikan kata sambutan, saya mengatakan mohon maaf atas keterlambatan itu. “Saya mohon maaf atas keterlambatan ini. Semua ini sudah ada yang mengaturnya. Bukan kesengajaan kami untuk terlambat, namun memang semata-mata diharuskan seperti ini oleh alam semesta. Kita menjalani laku dan dawuh saja. Tidak lebih..” kata saya membuka acara.


Saat itu, saya mengatakan bahwa tujuan acara silaturahim ini segaris dengan tujuan pembuatan blog Kampus Wong Alus yaitu sebagai SARANA MENAMBAH SAUDARA, sarana menambah sedulur, sarana menyambung silaturahim antar sesama yang merasa ingin nggayuh kasampurnaning urip, menggapai makna hidup yang sempurna dan sejati. Tujuannya memang itu, meskipun dalam acara silaturahim akan ada yang mengijazahkan amalan-amalan dari khasanah ilmu-ilmu hikmah dan sebagainya. Namun sesungguhnya pengijazahan amalan-amalan itu sebenarnya juga terangkum dan satu kesatuan dengan tujuan. Bukankah ilmu-ilmu HIKMAH sebenarnya adalah ilmu-ilmu tentang HAKEKAT? Hakekat kekuatan itu apa? Hakekat kesaktian itu apa? Dan sebagainya.. inilah ilmu hakekat.


Ki Sabdalangit dalam sambutannya mengatakan bahwa sangat diperlukan sebuah upaya mengajak semua elemen bangsa kita untuk hidup sinergis dan selaras dengan alam. Jagad cilik (mikrokosmos) manusia dan jagad gede (makrokosmos) alam semesta ini sebenarnya adalah satu kesatuan. Gejolak batiniah/rahsa jagad cilik akan mempengaruhi gejolak alam semesta. Tenang damai dan teraturnya batin akan membuat alam semesta juga tenang. Inilah yang harus disadari bersama, sehingga masing-masing pribadi diharapkan mampu menata batinnya masing-masing agar lingkungan sekitar kita damai dan bangsa ini menjadi bangsa yang damai, sejahtera lahir dan batin.


“Silaturahim keluarga Kampus Wong Alus ini bukan hanya momentum biasa. Melainkan dikehendaki para leluhur agar tercapai reformasi dan revolusi kesadaran spiritual yang sudah berabad-abad terkooptasi kesadaran-kesadaran palsu dan dogmatis karena kekuasaan ego yang tidak berasal dari diri yang sejati. Kesadaran palsu itulah dogma-dogma dan justeru menjadi berhala-berhala. Ia menjadi mitos yang mengungkung pola pikir dan kesadaran ruh kita. Kita menjadi bangsa yang terjajah secara mental dalam waktu yang lama dan mengimani sesuatu yang keliru. Inilah momentum kita semua menyadari hal ini, dan kemudian bersama-sama menegakkan akal sehat atau logos dalam spiritualitas,” kata Ki Sabdalangit.


Tak terasa, maghrib tiba. Peserta melaksanakan sholat Maghrib dan acara dilanjutkan bakda sholat Isya.

Pengijazahan dan Attunement
Acara silaturahim ini berlangsung sukses luar biasa. Ratusan orang mengikuti acara dengan hikmat hingga selesai. Sangat disayangkan bagi poro sedulur yang tidak bisa hadir karena jadwal acara terasa padat dan sangat bermakna.

Lokasi acara digeser dari sebelumnya, dari halaman masjid menjadi tempat terbuka di Cepuri Parangkusumo. Di alam terbuka hanya beralaskan rumput dan pasir pantai seperti ini, energi alam begitu mudah diakses oleh siapa saja.


Acara dimulai dengan Pengijazahan Dzikir Makrifat oleh Ki Ageng Jembar Jumantoro. KI Ageng membeberkan tata cara dan laku dzikir yang diijazahkannya. Disertai dengan hakekat amalan tersebut yang terasa begitu mendalam dan sangat sesuai bagi jiwa-jiwa yang butuh oase di tengah gersangnya peradaban sekarang ini.


Usai ki Ageng, acara dilanjut dengan pengijazahan Asma Singa Rajeh Kubro oleh Ki Nurjati. Sekitar tiga puluh menit, peserta mendapatkan ilmu hikmah tingkat tinggi ini. Ini amalan untuk pegangan bila sewaktu-waktu dibutuhkan. Pengijazahan langsung semacam ini tentu saja sangat ditunggu-tunggu oleh peserta yang jauh-jauh datang dari berbagai kota di Indonesia. Bahkan tidak sedikit yang datang dari luar negeri, seperti dari Malaysia, Saudi Arabia, Brunei dan lain-lain.


Bila sebelumnya pengijazahan di Kampus Wong Alus dilakukan secara online, maka kali ini pengijazahan benar-benar dilaksanakan secara tatap muka antara sesepuh dengan para sedulur.


Acara dilanjutkan dengan pembagian door prize dari Ki Abdul Jabbar dan Mas Dead Man berupa CD tata cara meditasi dan tradisi-tradisi esoterik tingkat tiinggi lainnya. Selain itu, Ki Umar Jogja juga memberikan door prize serta pengijazahan sorban untuk berbagai manfaat.


Jarum jam menunjukkan pukul 22.00 WIB, acara dilanjutkan dengan attunement usui reiki dan tradisi esoterik lainnya termasuk hipnosis oleh Ki Camat Krian. Juga dibedah, bagaimana proses kesadaran fisik (otak) bekerja, termasuk tata cara penurunan gelombang otak yang sangat berguna saat meditasi untuk mencapai titik hening. Peserta mendapatkan juga teknik-teknik self hipnosis dan dasar-dasar Neuro Lingusitik Programming (NLP) sebagai dasar pengetahuan hipnosis.


Meskipun tidak bisa secara keseluruhan diungkap soal ini, namun setidaknya peserta mendapatkan gambaran global bagaimana cara menurunkan gelombang otak hingga mampu melakukan pemrograman bawah sadar.

Revolusi kesadaran
Sesi terakhir diisi oleh Ki Sabda Langit. Setelah mendapatkan materi dan metode-metode olah kesadaran fisik secara global oleh Ki Camat, acara dilanjutkan oleh Ki Sabda. Ki Sabda melanjutkan tingkat-tingkat kesadaran manusia. “Bila kesadaran fisik manusia sudah berhenti di gelombang terendah, maka akan berganti dengan kesaaran ruh… inilah yang akan kita bahas” kata Ki Sabda.

Kesadaran ruh ini tampak saat seseorang meraga sukma/lolos sukma dan tradisi esoterik lainnya. Dalam meraga sukma, yang bekerja adalah kesadaran ruh. Sukma keluar dari fisik (tubuh) kita namun tetap terhubung dengan tali penghubung yaitu nyawa. Tali ini tidak boleh diputus saat meraga sukma karena kalau terputus maka yang pelakunya bisa meninggal dunia.


Terbangunnya kesadaran ruh akan mengubah juga tingkat persepsi kita tentang diri kita dan dunia di sekitar kita. Semakin tinggi persepsi, semakin besar kesadaran dan mengalami terbukanya pandangan dunia dari perspektif yang sama sekali baru.


Salah satu pengalaman yang paling umum seseorang yang berhasil melakukan revolusi membuka kesadaran ruh ini adalah perasaan “kesatuan” atau manunggal antara diri kita dengan Ingsun Sejati. Kesatuan sering dialami sebagai perasaan bahwa segala sesuatu adalah bagian dari keseluruhan, atau bahwa kita semua dari satu sumber yang sama dan berbagi semangat yang sama.


Persepsi biasa mengatakan bahwa dunia adalah suatu bentuk-bentuk kehidupan individu yang masing-masing mencari nasibnya sendiri. Padahal di balik fenomena yang seperti itu adalah sifat hakiki keberadaan atau NOUMENA, berupa Satu Kesadaran Ilahi. Kesadaran ini mengungkapkan dirinya dalam alam semesta dalam berbagai bentuk, masing-masing dengan kemauan untuk “menjadi.”


Namun pada kenyataannya setiap bentuk individu itu sebenarnya adalah ekspresi dari Yang Maha Satu. Dan jika kita membawa pengalaman ini ke dalam kehidupan sehari-hari kita, maka kita akan memiliki rasa hormat yang mendalam kepada setiap makhluk dan orang yang kita temui sepanjang jalan. Hidup kehidupan kita dengan cara ini pasti akan mengarah pada peningkatan energi, kebahagiaan, dan nasib baik bagi diri kita sendiri dan orang-orang di sekitar kita.


Dengan perasaan kemanunggalan ini pula kita akan mampu menapak kepada tingkat kesadaran yang melampaui pengalaman tentang apa yang baik dan yang buruk. Orang biasanya menerima hal-hal baik yang terjadi dalam hidup sebagai “baik” dan hal-hal buruk yang terjadi sebagai “buruk.” Melalui pengalaman manunggal tadi, pengetahuan dan wawasan kita akan naik ke derajat lebih tinggi.


Kita paham dam mengerti bahwa “buruk” sebenarnya diadakan untuk melayani tujuan yang sangat penting, bahwa itu ada untuk membantu kita dan dunia di sekitar kita untuk berevolusi. Dalam pengertian itu “buruk” sama baiknya dengan “baik!” Sebaliknya melalui pengalaman kesadaran spiritual kita mulai melihat bahwa banyak hal kita lihat sebagai “baik” mungkin tidak benar-benar baik.


Memiliki pengalaman spiritual seperti kesatuan membantu kita mengenali bahwa sumber proses berpikir kita, pikiran kita yang meskipun sebuah instrumen yang terbatas namun bisa menjadi peta untuk menggapai wilayah-wilayah ketuhahan. Ibarat jangka yang mampu menjangkah hal-hal yang sifatnya abstrak seperti soal-soal ketuhanan. Namun disinilah kita dituntut untuk arif, bahwa sejatinya di luar yang bisa kita nalar tidak perlu untuk disampaikan karena itu bukan wilayah “bahasa” mulut lagi namun bahasa rahsa sejati.


Sebisa-bisanya kita berpijak pada “rasio”, karena dengan ini akan membuka kesadaran spiritual pikiran kita yang tampaknya lemah dan terbatas, penuh dengan prasangka kita sendiri dan pembenaran. Maka dengan digunakannya nalar maka itu akan membuka keterbatasan kesadaran, perspektif, dan pengetahuan kita. Kita hindari dogmatisme yang sesungguhnya adalah berhala-berhala pikiran. Ini segaris dengan visi dan misi orang-orang suci di dunia, yaitu membebaskan manusia dari berhala dogmatisme.

Wisata alam gaib
Pantai Parangkusumo. Jarum jam menunjukkan pukul 00.00 WIB. Setelah mendapatkan pencerahan dan teknik-teknik harmonisasi diri kita dengan alam sekitar, maka sesi terakhir adalah wisata alam gaib. Acara ini adalah praktek meditasi yang sebelumnya dibedah secara teoritis. Peserta berjalan kaki sekitar 500 meter dari Cepuri ke bibir pantai yang gelap dan hanya disinari cahaya bulan.

Tiba di bibir pantai, ratusan peserta yang sejak awal acara mengikuti dengan hikmat dan serius duduk dalam posisi meditasi menghadap arah laut. Disana, peserta dibimbing untuk meditasi, mengosongkan pikiran dan niat-niat yang tidak serasi dengan alam. Niat yang tidak serasi misalnya matek aji jaya kawijayan, wirid, hizib, dan asma untuk mengusir dan bermusuhan dengan mahluk-makhluk gaib.


“Kita kosongkan niat-niat seperti itu. Kita nol-kan ego, keinginan dan persepsi-persepsi/gambaran-gambaran seperti apa makhluk dan kerajaan pantai selatan itu. Kita biarkan batin kita melihat apa adanya,” ujar Ki sabda.


Tiga puluh menit meditasi, peserta yang sebelumnya “suh luyut sirna kagenten ananing Gusti”… diminta membuka mata lebar-lebar. Bila sebelumnya melihat dengan batin, maka sekarang diminta melihat dengan mata terbuka apa yang sesungguhnya terjadi di laut selatan.


Lima belas menit kemudian, peserta mengakhiri ritual wisata alam gaib itu dan kemudian berkumpul melingkar untuk menceriterakan apa yang sudah mereka rasakan, dengarkan dan mereka lihat. Ibarat meraba gajah, bila kita meraba bagian kakinya maka kita bisanya menceriterakan kakinya seperti apa, bila kita meraba bagian mata maka kita menceriterakan mata gajah seperti apa dan seterusnya.

“Begitu juga melihat fenomena gaib. Namun bagi mereka yang sudah “sempurna” pengelihatan mata batinnya, maka apa yang dilihatpun juga terasa utuh dan menyeluruh,” ujar Ki Sabdalangit. Pengakuan peserta mereka melihat: Pintu gerbang kerajaan Pantai Selatan, kilatan-kilatan cahaya, kereta kencana yang berjalan di kejauhan, suara gending-gending, suara-suara perempuan, perempuan berpakaian prajurit keraton, bau harum dan sebagainya.

Semua tidak ada yang tidak mungkin. Semua serba mungkin bila DIA menghendaki. Selamat lahir kembali dengan semangat revolusi spiritual baru Indonesia! Menjadi manusia yang lumrah dan lumrahnya manusia. Bukan manusia yang diliputi dengan egoisme namun manusia yang mencair, selaras dan harmoni dengan alam semesta. Terima kasih. Salam paseduluran.

@@@@

Categories: >SILATURAHIM NASIONAL KWA 2010 | 214 Komentar

UNDANGAN TERBUKA


SEDULURKU SEMUA, KAMI MENGUNDANG ANDA DALAM ACARA….ACARA: SYAWALAN DAN SILATURAHIM PEMBACA BLOG ”KAMPUS WONG ALUS” (www.wongalus.wordpress.com)

TEMA : MENJADI MANUSIA INDONESIA SEJATI, YANG MEMILIKI SIPAT KANDEL, WINASIS SEBAGAI PRIBADI YANG TERWACA, WASKITA DAN PERMANA.

HARI/TANGGAL: JUMAT, 17 SEPTEMBER 2010

JAM: SORE PUKUL 15.00 WIB s/d SELESAI

TEMPAT: PANTAI PARANGKUSUMO, YOGYAKARTA

JUMLAH PESERTA YANG HADIR: -

SILATURAHIM INI GRATIS TIDAK DIPUNGUT BIAYA. PANITIA TIDAK MENYEDIAKAN FASILITAS APAPUN JUGA. MAKAN DAN MINUM DITANGGUNG PESERTA. BILA ADA YANG MEMBUTUHKAN PENGINAPAN MAKA SILAHKAN KEPADA PESERTA UNTUK MENCARI PENGINAPAN SENDIRI BANYAK BERADA DI SEKITAR PANTAI. KARENA ACARA DILAKUKAN DI TEMPAT TERBUKA (PANTAI) DIMOHON KEPADA MASING-MASING PESERTA UNTUK MEMPERSIAPKAN DIRI, SEPERTI JAKET/SARUNG/OBAT-OBATAN DLL.

SUBSTANSI TEMA SILATURAHIM: KI SABDA LANGIT (www.sabdalangit.wordpress.com)– KETUA I PANITIA SILATURAHIM KAMPUS WONG ALUS.

Berbagai penyakit kejiwaan akibat dominasi kekuasaan egoisme/lymbic telah menjangkiti seluruh sendi kehidupan. Tindakan yang sangat mendesak untuk segera dilakukan, adalah jati diri palsu harus segera dikoreksi dan diselamatkan dengan cara menselaraskan antara keseimbangan mikrokosmos dengan keseimbangan makrokosmos. Sebagaimana telah dikatakan oleh seorang filsuf Socrates 500 SM, serta terdapat dalam berbagai kitab suci, kita harus mengenali jati diri terlebih dahulu, barulah kita akan mengenali Tuhan. Maka jati diri ini harus digali dan dikenali lagi. Untuk sebuah gerakan penyadaran jati diri dalam konteks berbangsa dan bernegara, akan lebih efektif apabila dimulai oleh para pemimpin dengan menjalani lakuning urip secara pas dan pener.

Biarpun kekacauan multidimensi negeri saat ini tampak sudah sangat akut, namun hendaknya kita tetap optimis. Sebab masih ada satu celah dengan cara menghayati nilai-nilai luhur kearifan lokal. Hal ini bukan sekedar latah, karena nilai kearifan lokal adalah nilai yang merepresentasikan jati diri bangsa apa adanya, alamiah dan manusiawi. Dimulai dari diri kita masing-masing, kemudian meningkat dalam lingkup otoritas daerah, selanjutnya hingga ke pusat secara bottom up. Tentu saja untuk sebuah misi mulia itu masing-masing pribadi harus memerdekakan diri dari hegemoni insting primitif hewani terlebih dulu. Sebab untuk menjadi pamomong bagi banyak orang seyogyanya kita lebih dulu harus sukses ngemong diri sendiri.

Karena kegelisahan, kegundahan, sifat mudah panik, kalut, ela-elu, anut grubyuk, yang merambah dalam diri kita bukanlah disebabkan oleh orang lain atau faktor eksternal. Namun disebabkan oleh mekanisme ketidakseimbangan (disharmoni) dalam diri kita sendiri. Berawal dari terjadinya disharmoni, lalu terjadi disintegritas jati diri kita yang menghasilkan hormon dan adrenalin secara berlebihan. Kelebihan produksi hormon itu dapat mengganggu kestabilan dan kesehatan jiwa raga alias stress dan depress. Terjadilah imbal balik, di mana stres dan depresi, akan mengacaukan kesimbangam dalam diri yang berujung memperdalam terjadinya disintegritas jati diri. Di saat inilah manusia turun drajat menjadi binatang, jika tidak ya sepadan dengan manusia setengah gila.

Carut marut negeri ini berasal dari keadaan mental diri kita sendiri. Mental generasi penerus bangsa yang kehilangan jati dirinya. Tak kenal dan tak selaras lagi dengan karakter lingkungan sosial dan lingkungan alam sekitarnya. Hilangnya jati diri melahirkan tindakan-tindakan melawan kodrat alam. Hal itu meretas kegelisahan dan kebingungan, kepanikan dan kebuntuan dalam mengambil sikap hidup. Semuanya jadi serba salah kaprah & salah tingkah. Banyak hal-hal esensial menjadi serba terbalik maknanya. Inilah yang dimaksud dengan tanda-tanda wolak-waliking jaman seperti pernah diperingatkan oleh para pujangga masa lalu. Yang saat ini ternyata benar-benar terjadi.

Penebangan hutan secara liar, ekploitasi pertambangan alam yang tidak lagi peduli dengan kaidah alamiah dan manusiawiah, cut and fill kontur tanah yang tidak memperhatikan hukum-hukum geografis dan geologis, demi alasan pembangunan nasional sungai-sungai dirombak alur dan irama alamnya menjadi irama nafsu lymbic. Lembah-lembah hijau tempat serapan air dirubah menjadi resapan penghasil fulus dengan ijin “ilegal” mendirikan bangunan rumah disekitar bantaran dan lembah sungai.

Mata air digusur, hutannya dibabat habis, gunung-gunung sebagai tampungan air telah digempur diratakan. Akibat dari semua itu adalah banjir, kekeringan, salah mongso, iklim yang kacau, suhu yang berubah-ubah drastis, lempeng bumi terjadi rongga-rongga karena kadar air semakin berkurang, lempeng bumi terjadi pelapukan dan pergeseran lebih cepat. Akibat lebih lanjut adalah terjadi berbagai gempa bumi, kekurangan air tanah, kelembaban udara menurun drastis, mengakibatkan baksil dan bakteri berkembang biak, wabah penyakit dan hama tanaman menjadi sangat variatif dan sulit diatasi.

Itulah gambaran dalam dimensi luas hubungan antara manusia (jagad alit) dengan lingkungan alam (jagad besar) yang tidak lagi selaras, seiring dan sejalan. Untuk itu para pemimpin perlu segera mengupayakan usaha-usaha pemerdekaan diri bagi generasi penerus bangsa dari penjajahan lymbic section. Kembali kepada jati diri bangsa, menggapai kesadaran tinggi (highest consciousness) yang tidak terjajah oleh lymbic, yakni kesadaran rahsa sejati. Usaha itu harus diawali dengan membangun keseimbangan dalam diri kita pribadi. Dimulai dari pribadi-pribadi peduli yang tinggal di “wilayah TIMUR”. Sebagaimana terungkap dalam kitab kuno jongko-joyoboyo.

Sebagai pemimpin, apabila anda melakukan start lebih awal, anda bersama rakyat akan lebih dulu meraih dan merasakan anugrah agung yakni, indahnya kemuliaan, kehormatan dan kebahagiaan hidup yang sesungguhnya. Yang melibatkan kesejahteraan lahir dan batin. Namun anugrah agung itu tentunya tidaklah GRATIS, karena masyarakat bersama para pemimpin harus menebus anugrah agung dengan musibah dan penderitaan panjang. Semakin tabah menjalaninya, semakin besar pula “uang tebusan” yang anda kumpulkan. Berati semakin besar pula anugrah yang akan diperoleh.

Sementara itu gambaran kejiwaan negarawan sejati, mereka adalah pribadi-pribadi yang tidak hanya memiliki kesadaran theolgis, lebih dari itu memiliki kesadaran kosmik. Kesadaran yang selaras dan seimbang antara jagad kecil (mikrokosmos) dan jagad besar (makrokosmos), keselarasan antara rakyat dengan pemimpinnya (manunggaling kawula kalawan gusti), dan keselarasan jiwa manusia dengan nilai ketuhanan (manunggaling kawula Gusti atau roroning atunggil/dwi tunggal).

Pencapaian keadaan itu dapat dirasakan sebagai suasana yang tenang, damai, riang, bahagia. Saling memberi, saling menebarkan aura kasih-sayang. Terpancarlah nilai-nilai kebaikan dalam setiap sendi-sendi kehidupan. Kebaikan akan meretas kebaikan pula. Dalam diri pribadi, keadaan positif ini memicu produksi hormon-hormon melatonin & endorfin, yang bekerja untuk melipatgandakan ketenangan, ketrentaman dan kebahagiaan. Begitulah seterusnya. Hiup menjadi lebih tenang, tidak kelebihan hormon adrenalin yang akan membawa kepada sikap kagetan dan gumunan, raksioner dan frontal, gelisah, geram dan emosional.

Tipikal seorang negarawan sejati yakni merdeka dari pengaruh hegemoni lymbic. Saya sebut pula sebagai pemimpin yang nuruti kareping rahsa. Dalam terminologi falsafah Jawa disebut sebagai kodok kinemulan ing leng, atau wit ing sajroning wiji. Jiwa yang tuntun oleh sukma-sejati/roh kudus/ruh al kuds, dibimbing oleh rasa sejati/sirulah, disinari oleh cahyo sejati/nurullah, dan pada akhirnya menjadi jiwa raga yang dihidupkan oleh atma sejati/chayyu/kayun yakni energi yang menghidupkan.

Mereka itulah adalah sosok negarawan sejati. Pribadi yang tidak lagi terkooptasi oleh kelompok kepentingannya sendiri. Tidak mewakili dan mengatasnamakan kepentingan dan warna politik, golongan, dan kelompok tertentu. Negarawan mengatasi kepentingan seluruh warga bangsa, atau mengutamakan kepentingan umum. Perilaku dan perbuatan pribadi negarawan sejati tidaklah egois, sebaliknya bersikap altruis mempersembahkan hidupnya untuk kesejahteraan dan kemakmuran bangsanya di atas kepentingan-kepentingan lainnya (berkah bagi alam/rahmatan lil alamin).

Kursi kekuasaan bukan menjadi tujuan, melainkan sebagai sarana atau alat menciptakan kedamaian, ketentraman, dan kebahagiaan bersama. Biarpun tidak sedang menduduki jabatan, seorang yang berjiwa negarawan sejati memiliki tabiat perilaku yang konsisten. Arif dan bijaksana, mampu ngemong diri pribadi sebelum bertanggungjawab ngemong orang banyak sehingga tak ada bedanya saat sebelum dan sesudah menduduki tampuk kekuasaan. Kehidupan ini dijalani dengan sikap profan apa adanya, tidak mengada-ada, antara solah atau perilaku badan dengan bawa atau perilaku batin tidak berbenturan satu sama lain (munafik). Selalu eling akan sangkan paraning dumadi, dan waspada atas segala hal yang dapat menjadi penghalang kemuliaan dirinya. Seorang negarawan sejati berani sugih tanpa bondo, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake.

Menjalankan tanggungjawab kepemimpinannya dengan dasar rasa welas asih, welas tanpo alis, belas kasih kepada siapa saja tanpa pilih kasih, dan tanpa pamrih kecuali sebagai bentuk netepi titahing Gusti, mengikuti afngal atau sifat Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang tanpa pernah pilih kasih.Negarawan memanfaatkan kewenangannya sebagai alat atau sarana laku prihatin yakni dengan tapa ngrame. Laku tapa, tapaking hyang suksma. Menjadi pribadi kosmologis, perilakunya selaras, harmoni dan sinergi dengan kodrat alam. Kesadarannya bukan hanya kesadaran theologis dogmatis saja, namun sudah menggapai kesadaran kosmologis yang berada dalam wilayah kesadaran hakekat.

Pastilah berkah Tuhan akan selalu berlimpah ruah, sumrambah dateng tiyang kathah, mampu merubah segala musibah menjadi anugrah. Kalis ing rubeda, nir ing sambekala. Itulah konsep keadilan dan kemakmuran suatu negeri, akan datang bilamana pemimpinnya adalah sosok pribadi yang jumeneng satria pinandita sinisihan wahyu. Siapapun bisa melakukan asal memiliki kehendak (political will) dan bertekat bulat ibarat melakukan semedi di “alas ketangga” (keketeg ing hangga) yakni dengan tekat bulat meliputi jiwa dan raga.

Figur negarawan sejati, menjadikan dirinya seperti medan magnet positif yang akan menebarkan dan menarik segala hal yang positif, dan rumus ini berlaku pula sebaliknya. oleh sebab itu tidaklah sulit bagi negarawan sejati, bila selama masa kepemimpinannya akan menyebarkan benih-benih kemakmuran dan kesejahteraan masyarakatnya. Menjadikan rakyatnya merasa benar-benar menjadi tuan di istananya sendiri. Bagi negarawan sejati, apa yang diucap akan terwujud (sabda pandita ratu), dan apa yang diucapkan segera terlaksana (idu geni). Siapapun dapat menghayati dan membuktikan sendiri. Karena Negarawan sejati bukan hanya monopoli seorang presiden, raja, atau perdana menteri saja. Tetapi bisa dilakukan oleh siapapun orangnya ; gubernur, bupati, camat, lurah, ketua RW/RT. Setiap orang pada dasarnya adalah pemimpin, minimal menjadi pemimpin buat dirinya sendiri, dan keluarganya.

Kiranya tidaklah mengada-ada, apabila telah diisyaratkan oleh para leluhur kita di masa lampau, bahwa negeri ini akan mencapai kejayaannya kembali, menjadi negeri yang adil, makmur, gemah ripah loh jinawi, hanya pada saat mana dipimpin oleh figur Ratu Adil. Berarti pula memiliki kiasan sebagai pribadi-pribadi yang gandrung keadilan dan sistem ekonomi-politik yang adil. Dan siapapun anda bisa menjadi figur ratu adil apabila anda memiliki kemauan sungguh-sungguh yang anda tetapkan mulai hari ini.

Kita harus melakukan berbagai usaha untuk meredam kekuasaan lymbic/egoistik dalam diri kita. Banyak cara dapat ditempuh, misalnya dengan berolahraga dan berolah-batin, misalnya olah meditasi, semedi, mesu budi, maladihening hingga tradisi jazirah dengan cara berzikir, i’tikaf dsb. Semua tujuannya sama, menggali getaran nurani sebagai terminal getaran energi Tuhan Yang Maha Menghidupkan. Energi yang hidup abadi yang ada dalam diri kita. Lebih dekat dari urat leher. Itulah Tuhan yang bersembunyi di dalam hati kita. Persoalannya adalah ; bagaimana kita mampu untuk mengolah tasa menggapai kesadaran tinggi ? Untuk itu dalam silaturahim nanti kita akan mendapatkan penjelasan lengkap tentang jati diri, dan bagaimana mengolah rahsa nan sejati menjadi manusia indonesia sejati, yang memiliki sipat kandel, winasis sebagai pribadi yang terwaca, waskita dan permana. ****

SUSUNAN ACARA SILATURAHIM KAMPUS WONG ALUS
1) Pembukaan ( MC )
2) Do’a
3) Sambutan Ketua Panitia
4) Sambutan Ketua K.W.A
5) Sambutan Tuan Rumah
6) Acara ramah tamah dan perkenalan.
7) Acara umum yaitu penyelarasan dengan energi alam (attunement masal), pengijazahan Asma Rajeh Kubro , pengisian tenaga dalam Islami  dll.
8. Acara tambahan: WISATA ALAM GAIB KE KERAJAAN PANTAI SELATAN
9) Doa penutup

Categories: >SILATURAHIM NASIONAL KWA 2010 | 308 Komentar

Pengumuman Pemenang ROMPI MAHKOTA RASUL KHATIMUS


SETELAH DILAKUKAN SELEKSI KETAT YANG MEMAKAN WAKTU, MAKA DENGAN INI DIPUTUSKAN BAHWA YANG BERHAK UNTUK MENDAPATKAN ROMPI MAHKOTA RASUL KHATIMUS SULAIMAN  SEBAGAI DOOR PRIZE UNTUK MERAMAIKAN ACARA SILATURAHIM KAMPUS WONG ALUS ADALAH SAUDARA DENGAN NOMOR ANGGOTA K.W.A

0375 ATAS NAMA Ronggo pecuk DI KOTA malang

UNTUK SELANJUTNYA DIHARAPKAN SAUDARA RONGGO PECUK UNTUK  MENGIRIMKAN EMAIL ATAU NOMOR HANDPHONE TERBARU YANG BISA DIHUBUNGI KE ADMIN BLOG KAMPUS WONG ALUS: kiwongalus@gmail.com. Demikian pengumuman ini untuk diketahui oleh yang bersangkutan. Bagi para sedulur yang belum mendapatkannya, mohon maklum adanya. Salam paseduluran. @@@

Categories: >SILATURAHIM NASIONAL KWA 2010 | 98 Komentar

GARIS BESAR SILATURAHIM


ACARA: SYAWALAN DAN SILATURAHIM PEMBACA BLOG ”KAMPUS WONG ALUS” (www.wongalus.wordpress.com)

TEMA : MENJADI MANUSIA INDONESIA SEJATI, YANG MEMILIKI SIPAT KANDEL, WINASIS SEBAGAI PRIBADI YANG TERWACA, WASKITA DAN PERMANA.

HARI/TANGGAL: JUMAT, 17 SEPTEMBER 2010

JAM: SORE PUKUL 15.00 WIB s/d SELESAI

TEMPAT: PANTAI PARANGKUSUMO, YOGYAKARTA

JUMLAH PESERTA YANG HADIR:   -

SILATURAHIM INI GRATIS TIDAK DIPUNGUT BIAYA. PANITIA TIDAK MENYEDIAKAN FASILITAS APAPUN JUGA. MAKAN DAN MINUM DITANGGUNG PESERTA. BILA ADA YANG MEMBUTUHKAN PENGINAPAN MAKA SILAHKAN KEPADA PESERTA UNTUK MENCARI PENGINAPAN SENDIRI BANYAK BERADA DI SEKITAR PANTAI.
KARENA ACARA DILAKUKAN DI TEMPAT TERBUKA (PANTAI) DIMOHON KEPADA MASING-MASING PESERTA UNTUK MEMPERSIAPKAN DIRI, SEPERTI JAKET/SARUNG/OBAT-OBATAN DLL.

SUBSTANSI TEMA SILATURAHIM:  KI SABDA LANGIT (www.sabdalangit.wordpress.com)– KETUA I PANITIA SILATURAHIM KAMPUS WONG ALUS.

Berbagai penyakit kejiwaan akibat dominasi kekuasaan egoisme/lymbic telah menjangkiti seluruh sendi kehidupan. Tindakan yang sangat mendesak untuk segera dilakukan, adalah jati diri palsu harus segera dikoreksi dan diselamatkan dengan cara menselaraskan antara keseimbangan mikrokosmos dengan keseimbangan makrokosmos. Sebagaimana telah dikatakan oleh seorang filsuf Socrates 500 SM, serta terdapat dalam berbagai kitab suci, kita harus mengenali jati diri terlebih dahulu, barulah kita akan mengenali Tuhan. Maka jati diri ini harus digali dan dikenali lagi. Untuk sebuah gerakan penyadaran jati diri dalam konteks berbangsa dan bernegara, akan lebih efektif apabila dimulai oleh para pemimpin dengan menjalani lakuning urip secara pas dan pener.

Biarpun kekacauan multidimensi negeri saat ini tampak sudah sangat akut, namun hendaknya kita tetap optimis. Sebab masih ada satu celah dengan cara menghayati nilai-nilai luhur kearifan lokal. Hal ini bukan sekedar latah, karena nilai kearifan lokal adalah nilai yang merepresentasikan jati diri bangsa apa adanya, alamiah dan manusiawi. Dimulai dari diri kita masing-masing, kemudian meningkat dalam lingkup otoritas daerah, selanjutnya hingga ke pusat secara bottom up. Tentu saja untuk sebuah misi mulia itu masing-masing pribadi harus memerdekakan diri dari hegemoni insting primitif hewani terlebih dulu. Sebab untuk menjadi pamomong bagi banyak orang seyogyanya kita lebih dulu harus sukses ngemong diri sendiri.

Karena kegelisahan, kegundahan, sifat mudah panik, kalut, ela-elu, anut grubyuk, yang merambah dalam diri kita bukanlah disebabkan oleh orang lain atau faktor eksternal. Namun disebabkan oleh mekanisme ketidakseimbangan (disharmoni) dalam diri kita sendiri. Berawal dari terjadinya disharmoni, lalu terjadi disintegritas jati diri kita yang menghasilkan hormon dan adrenalin secara berlebihan. Kelebihan produksi hormon itu dapat mengganggu kestabilan dan kesehatan jiwa raga alias stress dan depress. Terjadilah imbal balik, di mana stres dan depresi, akan mengacaukan kesimbangam dalam diri yang berujung memperdalam terjadinya disintegritas jati diri. Di saat inilah manusia turun drajat menjadi binatang, jika tidak ya sepadan dengan manusia setengah gila.

Carut marut negeri ini berasal dari keadaan mental diri kita sendiri. Mental generasi penerus bangsa yang kehilangan jati dirinya. Tak kenal dan tak selaras lagi dengan karakter lingkungan sosial dan lingkungan alam sekitarnya. Hilangnya jati diri melahirkan tindakan-tindakan melawan kodrat alam. Hal itu meretas kegelisahan dan kebingungan, kepanikan dan kebuntuan dalam mengambil sikap hidup. Semuanya jadi serba salah kaprah & salah tingkah. Banyak hal-hal esensial menjadi serba terbalik maknanya. Inilah yang dimaksud dengan tanda-tanda wolak-waliking jaman seperti pernah diperingatkan oleh para pujangga masa lalu. Yang saat ini ternyata benar-benar terjadi.

Penebangan hutan secara liar, ekploitasi pertambangan alam yang tidak lagi peduli dengan kaidah alamiah dan manusiawiah, cut and fill kontur tanah yang tidak memperhatikan hukum-hukum geografis dan geologis, demi alasan pembangunan nasional sungai-sungai dirombak alur dan irama alamnya menjadi irama nafsu lymbic. Lembah-lembah hijau tempat serapan air dirubah menjadi resapan penghasil fulus dengan ijin “ilegal” mendirikan bangunan rumah disekitar bantaran dan lembah sungai.

Mata air digusur, hutannya dibabat habis, gunung-gunung sebagai tampungan air telah digempur diratakan. Akibat dari semua itu adalah banjir, kekeringan, salah mongso, iklim yang kacau, suhu yang berubah-ubah drastis, lempeng bumi terjadi rongga-rongga karena kadar air semakin berkurang, lempeng bumi terjadi pelapukan dan pergeseran lebih cepat. Akibat lebih lanjut adalah terjadi berbagai gempa bumi, kekurangan air tanah, kelembaban udara menurun drastis, mengakibatkan baksil dan bakteri berkembang biak, wabah penyakit dan hama tanaman menjadi sangat variatif dan sulit diatasi.

Itulah gambaran dalam dimensi luas hubungan antara manusia (jagad alit) dengan lingkungan alam (jagad besar) yang tidak lagi selaras, seiring dan sejalan. Untuk itu para pemimpin perlu segera mengupayakan usaha-usaha pemerdekaan diri bagi generasi penerus bangsa dari penjajahan lymbic section. Kembali kepada jati diri bangsa, menggapai kesadaran tinggi (highest consciousness) yang tidak terjajah oleh lymbic, yakni kesadaran rahsa sejati. Usaha itu harus diawali dengan membangun keseimbangan dalam diri kita pribadi. Dimulai dari pribadi-pribadi peduli yang tinggal di “wilayah TIMUR”. Sebagaimana terungkap dalam kitab kuno jongko-joyoboyo.

Sebagai pemimpin, apabila anda melakukan start lebih awal, anda bersama rakyat akan lebih dulu meraih dan merasakan anugrah agung yakni, indahnya kemuliaan, kehormatan dan kebahagiaan hidup yang sesungguhnya. Yang melibatkan kesejahteraan lahir dan batin. Namun anugrah agung itu tentunya tidaklah GRATIS, karena masyarakat bersama para pemimpin harus menebus anugrah agung dengan musibah dan penderitaan panjang. Semakin tabah menjalaninya, semakin besar pula “uang tebusan” yang anda kumpulkan. Berati semakin besar pula anugrah yang akan diperoleh.

Sementara itu gambaran kejiwaan negarawan sejati, mereka adalah pribadi-pribadi yang tidak hanya memiliki kesadaran theolgis, lebih dari itu memiliki kesadaran kosmik. Kesadaran yang selaras dan seimbang antara jagad kecil (mikrokosmos) dan jagad besar (makrokosmos), keselarasan antara rakyat dengan pemimpinnya (manunggaling kawula kalawan gusti), dan keselarasan jiwa manusia dengan nilai ketuhanan (manunggaling kawula Gusti atau roroning atunggil/dwi tunggal).

Pencapaian keadaan itu dapat dirasakan sebagai suasana yang tenang, damai, riang, bahagia. Saling memberi, saling menebarkan aura kasih-sayang. Terpancarlah nilai-nilai kebaikan dalam setiap sendi-sendi kehidupan. Kebaikan akan meretas kebaikan pula. Dalam diri pribadi, keadaan positif ini memicu produksi hormon-hormon melatonin & endorfin, yang bekerja untuk melipatgandakan ketenangan, ketrentaman dan kebahagiaan. Begitulah seterusnya. Hiup menjadi lebih tenang, tidak kelebihan hormon adrenalin yang akan membawa kepada sikap kagetan dan gumunan, raksioner dan frontal, gelisah, geram dan emosional.

Tipikal seorang negarawan sejati yakni merdeka dari pengaruh hegemoni lymbic. Saya sebut pula sebagai pemimpin yang nuruti kareping rahsa. Dalam terminologi falsafah Jawa disebut sebagai kodok kinemulan ing leng, atau wit ing sajroning wiji. Jiwa yang tuntun oleh sukma-sejati/roh kudus/ruh al kuds, dibimbing oleh rasa sejati/sirulah, disinari oleh cahyo sejati/nurullah, dan pada akhirnya menjadi jiwa raga yang dihidupkan oleh atma sejati/chayyu/kayun yakni energi yang menghidupkan.

Mereka itulah adalah sosok negarawan sejati. Pribadi yang tidak lagi terkooptasi oleh kelompok kepentingannya sendiri. Tidak mewakili dan mengatasnamakan kepentingan dan warna politik, golongan, dan kelompok tertentu. Negarawan mengatasi kepentingan seluruh warga bangsa, atau mengutamakan kepentingan umum. Perilaku dan perbuatan pribadi negarawan sejati tidaklah egois, sebaliknya bersikap altruis mempersembahkan hidupnya untuk kesejahteraan dan kemakmuran bangsanya di atas kepentingan-kepentingan lainnya (berkah bagi alam/rahmatan lil alamin).

Kursi kekuasaan bukan menjadi tujuan, melainkan sebagai sarana atau alat menciptakan kedamaian, ketentraman, dan kebahagiaan bersama. Biarpun tidak sedang menduduki jabatan, seorang yang berjiwa negarawan sejati memiliki tabiat perilaku yang konsisten. Arif dan bijaksana, mampu ngemong diri pribadi sebelum bertanggungjawab ngemong orang banyak sehingga tak ada bedanya saat sebelum dan sesudah menduduki tampuk kekuasaan. Kehidupan ini dijalani dengan sikap profan apa adanya, tidak mengada-ada, antara solah atau perilaku badan dengan bawa atau perilaku batin tidak berbenturan satu sama lain (munafik). Selalu eling akan sangkan paraning dumadi, dan waspada atas segala hal yang dapat menjadi penghalang kemuliaan dirinya. Seorang negarawan sejati berani sugih tanpa bondo, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake.

Menjalankan tanggungjawab kepemimpinannya dengan dasar rasa welas asih, welas tanpo alis, belas kasih kepada siapa saja tanpa pilih kasih, dan tanpa pamrih kecuali sebagai bentuk netepi titahing Gusti, mengikuti afngal atau sifat Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang tanpa pernah pilih kasih.Negarawan memanfaatkan kewenangannya sebagai alat atau sarana laku prihatin yakni dengan tapa ngrame. Laku tapa, tapaking hyang suksma. Menjadi pribadi kosmologis, perilakunya selaras, harmoni dan sinergi dengan kodrat alam. Kesadarannya bukan hanya kesadaran theologis dogmatis saja, namun sudah menggapai kesadaran kosmologis yang berada dalam wilayah kesadaran hakekat.

Pastilah berkah Tuhan akan selalu berlimpah ruah, sumrambah dateng tiyang kathah, mampu merubah segala musibah menjadi anugrah. Kalis ing rubeda, nir ing sambekala. Itulah konsep keadilan dan kemakmuran suatu negeri, akan datang bilamana pemimpinnya adalah sosok pribadi yang jumeneng satria pinandita sinisihan wahyu. Siapapun bisa melakukan asal memiliki kehendak (political will) dan bertekat bulat ibarat melakukan semedi di “alas ketangga” (keketeg ing hangga) yakni dengan tekat bulat meliputi jiwa dan raga.

Figur negarawan sejati, menjadikan dirinya seperti medan magnet positif yang akan menebarkan dan menarik segala hal yang positif, dan rumus ini berlaku pula sebaliknya. oleh sebab itu tidaklah sulit bagi negarawan sejati, bila selama masa kepemimpinannya akan menyebarkan benih-benih kemakmuran dan kesejahteraan masyarakatnya. Menjadikan rakyatnya merasa benar-benar menjadi tuan di istananya sendiri. Bagi negarawan sejati, apa yang diucap akan terwujud (sabda pandita ratu), dan apa yang diucapkan segera terlaksana (idu geni). Siapapun dapat menghayati dan membuktikan sendiri. Karena Negarawan sejati bukan hanya monopoli seorang presiden, raja, atau perdana menteri saja. Tetapi bisa dilakukan oleh siapapun orangnya ; gubernur, bupati, camat, lurah, ketua RW/RT. Setiap orang pada dasarnya adalah pemimpin, minimal menjadi pemimpin buat dirinya sendiri, dan keluarganya.

Kiranya tidaklah mengada-ada, apabila telah diisyaratkan oleh para leluhur kita di masa lampau, bahwa negeri ini akan mencapai kejayaannya kembali, menjadi negeri yang adil, makmur, gemah ripah loh jinawi, hanya pada saat mana dipimpin oleh figur Ratu Adil. Berarti pula memiliki kiasan sebagai pribadi-pribadi yang gandrung keadilan dan sistem ekonomi-politik yang adil. Dan siapapun anda bisa menjadi figur ratu adil apabila anda memiliki kemauan sungguh-sungguh yang anda tetapkan mulai hari ini.

Kita harus melakukan berbagai usaha untuk meredam kekuasaan lymbic/egoistik dalam diri kita. Banyak cara dapat ditempuh, misalnya dengan berolahraga dan berolah-batin, misalnya olah meditasi, semedi, mesu budi, maladihening hingga tradisi jazirah dengan cara berzikir, i’tikaf dsb. Semua tujuannya sama, menggali getaran nurani sebagai terminal getaran energi Tuhan Yang Maha Menghidupkan. Energi yang hidup abadi yang ada dalam diri kita. Lebih dekat dari urat leher. Itulah Tuhan yang bersembunyi di dalam hati kita. Persoalannya adalah ; bagaimana kita mampu untuk mengolah tasa menggapai kesadaran tinggi ? Untuk itu dalam silaturahim nanti kita akan mendapatkan penjelasan lengkap tentang jati diri, dan bagaimana mengolah rahsa nan sejati menjadi manusia indonesia sejati, yang memiliki sipat kandel, winasis sebagai pribadi yang terwaca, waskita dan permana. ****

SUSUNAN ACARA SILATURAHIM KAMPUS WONG ALUS

1) Pembukaan ( MC )
2) Baca Do’a (Alfatihah yg beragama Islam non islam menyesuaikan)
3) Sambutan Ketua Panitia
4) Sambutan Ketua K.W.A
5) Sambutan Tuan Rumah (KI SABDA LANGIT)
6) Acara ramah tamah dan perkenalan.
7) Acara umum yaitu penyelarasan dengan energi alam (attunement masal).
8) Acara tambahan: menyesuaikan kebutuhan, situasi dan kondisi
9) Doa penutup

TUKANG MASAK DAPUR SILATURAHIM…

1. BENGAWAN.CANDHU SEMARANG bintangparikesit@rocketmail.com
2. DEADMAN JAKARTA 02132345408 (renalt_bradley@yahoo.com)
3. WONGABANGAN JAKARTA 081399214971
4. HIJRAH SEMARANG 081228182273
5. ANDRA YOGYAKARTA 081226119538
6. SURYA MANGKULANGIT JAKARTA 02191161098
7. GUS SANTRI BLITAR 085732225200 (muhammadmubarok17@gmail.com)
9. KASTURI JATI MAGELANG 0817752477
10. CANTRIK PDS JAKARTA 085697349737
11. GARUDA 99 YOGYAKARTA 081802764393
12. BANG JALI YOGYAKARTA 085868330605
13. MAS HARIS SEMARANG 081325224129
14. KI ABDULJABAR CIKARANG 0878 8182 8888
15. TJAH–MUMET MAGELANG 08
16. GENIBIRU SIDOARJO 0888 5060 395
17. WAWAN SLEMAN 083869111282 ( handirawan@gmail.com,)
18. THANMUST THEPOS JAKARTA 08128671411 ( thanmustseko@gmail.com)
19. SURYA BUANA BEKASI 087888828968.
20. AMUS INDRAMAYU 085224083221
21. PENCARI GURU SEJATI SEMARANG 088215003820
22. TENO PUTRA SEMARANG 0249111778 (tenoputra@yahoo.Co.Id)
23. WONGSAE YOGYAKARTA 085879834498
24. MUKHLIS BOJONEGORO 085230822028 / 08561106666
25. SURYA SUMIRAT PATI 085225315589
26. SABDO SEJATI JAKARTA 0855 858 8118
27. AHMAD DHANI SEMARANG 085640409065
28. SIGERANDONG X 085290008765
29. KIAGENG JEMBAR JUMANTORO BANTEN 081381139135
30. BUNGSU KUDUS 085740657689(totok_panda@yahoo.com)

DAFTAR PERLENGKAPAN SEMENTARA ACARA SILATURAHMI KWA
1. Perizinan & perlengkapan : Team Jogja
2. sound system : KI SabdaLangit
3. Spanduk : Ki Jatiraga
4. Keamanan, Parkir dll : Ki Sabdalangit. Ki angon , Ki AbdulJabar
5. Door Prize : Dilakukan langsung oleh masing2 sesepuh yg mau memberikannya
6. Konsumsi : 100 Nasi Kotak dari Ki Umar Jogja, kekurangan konsumsi lain di musyawarahkan.
7. Tempat : Pantai Parangkusumo

Dana Kas sementara KAMPUS WONG ALUS untuk silaturahim:
Dana yang terkumpul hingga hari ini mencapai 1,1 juta berasal dari:

1. MAS BEN SYAM  (alfa.tp@gmail.com)
2. MAS BAMBANG, SIDOARJO
3. MAS SUWANDI
4. MAS HANES IR
5. MAS JOKO TEGAL

PANITA MEMBUKA KESEMPATAN SEDULUR SEMUA UNTUK MEMBERIKAN KONTRIBUSI DALAM BENTUK APAPUN DAN SILAHKAN DISERAHKAN KEPADA PANITIA PADA SAAT ACARA.

@@@

Categories: >SILATURAHIM NASIONAL KWA 2010 | 85 Komentar

TATA TERTIB HADIR DI ACARA SILATURAHIM


SEHUBUNGAN DENGAN AKAN DILAKSANAKAN SILATURAHIM KELUARGA BESAR KAMPUS WONG ALUS PADA 17 SEPTEMBER 2010 PUKUL 15.00 WIB DI PANTAI PARANGKUSUMO, MAKA PANITIA AKAN MENJELASKAN BEBERAPA HAL SEBAGAI BERIKUT:

1. UNDANGAN BERSIFAT TERBUKA (BOLEH DIIKUTI OLEH SIAPA SAJA, DARI MANA SAJA, TANPA MEMANDANG SUKU, AGAMA, RAS, GOLONGAN DLL). TIDAK MENDAFTAR JUGA TIDAK JADI SOAL ASALKAN DATANG DENGAN NIAT YANG BAIK.
2. UNDANGAN GRATIS TIDAK DIPUNGUT BIAYA SAMA SEKALI.
3. ACARA DILANGSUNGKAN DI PANTAI. PANITIA TIDAK MENYEDIAKAN KURSI, SEHINGGA ACARA DISELENGGARAKAN SECARA LESEHAN DI PASIR PANTAI.
4. PANITIA TIDAK MENYEDIAKAN MAKANAN, MINUMAN, UANG SAKU, AKOMODASI, KAMAR, ANGKUTAN DLL. BAGI SEDULUR YANG INGIN HADIR SECARA BERKELOMPOK DIPERSILAHKAN UNTUK MEMBENTUK PANITIA DI SETIAP KOTA/WILAYAH MASING-MASING.
5. TUJUAN ACARA INI ADALAH MURNI UNTUK MENYAMBUNG TALI SILATURAHIM. TUJUAN ACARA INI BUKAN UNTUK \PENGIJAZAHAN ILMU/AMALAN DLL. TIDAK ADA DEMO MAUPUN PRAKTEK ILMU YANG SUDAH ANDA PELAJARI DI BLOG KAMPUS WONG ALUS. INI PERLU KAMI TEKANKAN AGAR TIDAK MEMANCING RASA PERMUSUHAN DENGAN KELOMPOK MANAPUN.
6. BILA MEMANG ADA DOOR PRIZE/HADIAH-HADIAH YANG TELAH DISEDIAKAN OLEH PARA SESEPUH (SEPERTI ROMPI, CD, TASBIH, SURBAN DLL) MAKA HAL ITU TERSERAH KEPADA SESEPUH YANG BERSANGKUTAN. PANITIA TIDAK AKAN MENGKOORDINIR HADIAH-HADIAH INI KARENA BUKAN TUJUAN SILATURAHIM. KHUSUS MENGENAI ROMPI, PENGIJAZAHAN DILAKUKAN SECARA TERTUTUP DAN PENERIMA AKAN DITELEPON SECARA PRIBADI OLEH PENGIJAZAH.
7. PESERTA SILATURAHIM DIHARAPKAN MENJAGA ETIKA, TATA TERTIB, SOPAN SANTUN DAN ATURAN YANG TELAH ADA DI MASYARAKAT DI SEKITAR PANTAI PARANGKUSUMO. INGAT KITA ADALAH TAMU YANG HARUS MENGHORMATI TUAN RUMAH, WARGA YOGYAKARTA.
8. BILA AWALNYA KITA SEPAKAT MENGGUNAKAN BAJU WARNA HITAM DAN PAKAI IKAT KEPALA, MAKA UNTUK MENJAGA AGAR KEHADIRAN KITA TIDAK MENIMBULKAN KECURIGAAN BAHWA KITA SEDANG MELAKUKAN HAL-HAL NEGATIF MAKA KESEPAKATAN ITU DITIADAKAN. JADI PESERTA BEBAS BERPAKAIAN APA SAJA SEBAGAIMANA MASYARAKAT UMUM YANG LAIN.
9. KELUARGA BESAR KAMPUS WONG ALUS BUKANLAH KELOMPOK ATAU ORGANISASI EKSKLUSIF. BUKAN ORGANISASI BELA DIRI ATAU ORGANISASI KEAGAMAAN TERTENTU. SIKAP-SIKAP EKSKLUSIF, MERASA SOK BENAR SENDIRI, SOMBONG, AROGAN, PETENTANG-PETENTENG, EGOIS DLL PERLU DIJAUHI.
10. KELUARGA BESAR KAMPUS WONG ALUS WAJIB UNTUK RENDAH HATI, MENGHORMATI ORANG LAIN, SUKA MENOLONG ORANG LAIN BERDASARKAN ASAS MUSYAWARAH UNTUK MENCAPAI MUFAKAT. DAN DASAR IDEOLOGI KITA SAMA DENGAN IDEOLOGI BANGSA INDONESIA YAITU PANCASILA DAN UUD 1945.

Demikian pengumuman ini disampaikan untuk menjadi perhatian sedulur yang sudah berencana hadir di acara tersebut. Apabila ada kekurangan dalam pengumuman ini maka akan dilakukan penyempurnaan lagi sesuai dengan situasi dan kondisi aktual yang berkembang. Terima kasih. Salam paseduluran. @@@

Categories: >SILATURAHIM NASIONAL KWA 2010 | 72 Komentar

PETA PENUNJUK LOKASI SILATURAHIM K.W.A.


PADA TANGGAL 17 SEPTEMBER KELUARGA BESAR KAMPUS WONG ALUS (K.W.A) BERENCANA MENGADAKAN SILATURAHIM DENGAN LOKASI DI PANTAI PARANGKUSUMO, JOGJA. BERIKUT PETA PANDUAN KE LOKASI TERSEBUT YANG DIGAMBAR OLEH SAUDARA M. ABDUL KHAFIDZ (EMAIL dcakra32@yahoo.co.id).  TERIMA KASIH KAMI SAMPAIKAN KE BELIAU. SALAM PASEDULURAN.

Categories: >SILATURAHIM NASIONAL KWA 2010 | 50 Komentar

Create a free website or blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.