SPIRITUALITAS MAS KUMITIR

SETETES SENYAP


Biar nggak tegang dengan amalan-amalan yang berat di KWA, ada baiknya kita refreshings batiniah sesaat. Sukur-sukur ada hikmahnya. Selama ini, saya penasaran kenapa sesepuh Kimas Kumitir menamakan blognya dengan ALANG ALANG KUMITIR, EEE….malam senyap ini saya diberi informasi. Berikut emailnya:

Pramila winastan Kahywangan Alang-alang Kumitir karana dumunung munggwing telenging cipta, manthenging pangèsthi, wekasaning suwung, tan ana rasa pribadi, anané hamung ayem kang sarta tentrem.

Maka disebut Kahyangan Alang-alang Kumitir karena terletak di pusat keheningan cipta, di inti pemusatan hasrat, di batas-akhir kekosongan, (di sana) tiada rasa pribadi, yang hanya hening-damai serta tenteram.

Ana padhang dudu padhanging rahina, ana peteng dudu petenging wengi, kang ana amung alam tumlawung, ngalangut tanpa tepi, yèku tapaking Hywang Suksma, sinuk maya winahya ing asepi. sinimpen telenging kalbu, pambukaning warana, tarlen amung layap liyeping aluyup, pindha pesating supena, sumusuping rahsa jati, jatining manggih bagya mulya, tan ana sangsaya sinangsaya.

Ada cahaya bukan cahaya siang, ada gelap bukan gelapnya malam, yang ada hanya alam kebas-lepas, larut-hanyut tiada batas, itulah jejak Hyang Suksma, menembus yang semu diwahyukan dalam keheningan, tersimpan rapat di kedalaman kalbu, tempat terbukanya tabir, tiada beda dengan suasana antara lelap dan jaga, bagaikan kilasan mimpi, begitulah selinap-sadar dari rasa sejati, kesejatian menemu mulia-bahagia, tiada derita tiada saling aniaya.

@wongalus,2010

Categories: SPIRITUALITAS MAS KUMITIR | 306 Komentar

SPIRITUALITAS ABSURD MAS KUMITIR


Blog-blog bernuansa spiritualisme bermunculan di jagad maya. Salah satunya adalah blog alangalang kumitir yang dibidani oleh seorang anak muda yang gandrung terhadap sastra Jawa.

Mas Kumitir –demikian dia dipanggil oleh antar blogger– dikenal memiliki minat luas terhadap budaya, falsafah dan sastra Jawa.  Sebelum dia mengenal blog, dia lebih suka untuk menulis renungannya di kertas seadanya, bahkan di kertas rokok dan sobekan koran. Setelah kini ia punya blog, dia menumpahkan perenungannya di jagad maya tersebut dan hasilnya, banyak blogger yang terbantu dengan kehadiran alangalang kumitir.

Yang aneh, mas Kumitir termasuk buta kampus, sama sekali ia tidak terbiasa dengan karya-karya ilmiah, makalah maupun skripsi.  Ia lebih cenderung mengenal puisi, suluk dan kekidungan yang bentuk nya lebih bebas, tidak kaku dan kering.

Itu sebabnya, ia lebih suka untuk diam dan mendengarkan bila kebetulan ada diskusi tentang hal-hal yang berbau spiritual yang dihadirinya. Sambil sesekali memberi komentar. Itupun bila diminta oleh yang lain. Sebab, bahasa, menurut mas Kumitir,  sebenarnya mereduksi kekayaan realitas menjadi sekedar representasi belaka. “Bahasa itu hanya simbol dan simbol tidak mewakili apa yang sesungguhnya. Yang spiritual itu ya RASA. Bukan kata-kata dan bahasanya,” terang mas Kumitir.

Ia kini menetap di sebuah gubuk di tengah sawah yang sunyi berbaur dengan kodok dan kadal. Mungkin, kandang kambing di sampingnya lebih bersih. Tapi ia mencuri perhatian dunia budaya Jawa. Barangkali Mas Kumitir lebih cocok bila disebut sebagai pekerja budaya spiritual Jawa ketimbang hanya sebagai pengamat pasif saja.

Itu gara-gara ia rajin mengumpulkan serat, babad, suluk dari buku-buku bekas yang diperolehnya di berbagai kota dan kampus. Kadang ia juga sedikit mencoret-coret kertas untuk menulis laku dan perjalanan spiritualnya. Coretannya kadang berbentuk puisi sederhana tapi ”magis” dan menyentuh.

Hasil tulisan para pujangga jawa kuno itu diketik lagi, dan juga coretannya sendiri selanjutnya diupload diblog. Sejak pertengahan tahun 2008 mas Kumitir rutin mendokumentasi kegiatan spiritual yang pernah dilakoni. Sebelum kenal blog, dia lebih banyak menyimpan pengalamannya di ingatan saja.

Rekan-rekan dan kenalan yang kebetulan membuka blog tersebut rupanya iseng-iseng memberi komentar. ”Tadinya saya khawatir karena terkadang agak menyinggung perasaan Mas Kumitir. Namun ternyata dia menanggapinya dengan bijaksana,” tutur sang teman mengenang.

Isi blog mas kumitir banyak yang berbentuk macapat dan kekidungan. Alur logikanya melompat ke depan. Kadang memang seperti diluar akal sehat sepadan dengan hidup sehari-hari Mas Kumitir yang meskipun senang dengan kesederhanaan, namun mengesankan, nyeleneh dan unik. Yang mengesankan dari seorang Mas Kumitir adalah melakoni pencarian jati diri dan sangkan paraning dumadi secara total. Tidak ingin pikirannya terlena oleh urusan dunia yang fana ini, Mas Kumitir bahkan rela untuk memilih hidup yang merdeka.

Waktunya dihabiskan dengan berkelana di tempat tempat yang sunyi dan bila tidak sedang melakukan perjalanan ke luar kota, dia biasanya ada di gubuknya hingga larut malam. Di depan komputer yang mengalunkan gending-gending jawa, Mas Kumitir mengerutkan kening dan jari jemarinya mencakar-cakar tuts. Membuka blog dan mengupload artikel. Itulah ritualnya.

Mas Kumitir punya kebiasaan bersepeda gunung seorang diri. Bila sedang bersepeda, akunya, ia bisa menikmati hidup.  “Ternyata kita ini bukan siapa-siapa. Kita ini kecil dihadapan alam raya yang luasnya tidak kita ketahui,” ujarnya pemilik sepeda gunung warna hijau ini.

Namun, kita akhirnya terheran-heran karena kesukaannya untuk bersepeda itu ternyata menghasilkan karya yang bisa diakses orang banyak.

Ini gara-gara ternyata ada peminat atas karya-karyanya. Seorang pengelola website pernah menawatinya menjadi nara sumber rubrik budaya jawa. Apa komentar Mas Kumitir? “Biar rekan-rekan blog lain saja yang jadi narasumber. Saya tidak bisa berargumentasi dan berdebat,” ujarnya sambil menghisap kretek bercangklong.

Hidup memang harus dinikmati, dan setiap individu memiliki caranya masing-masing untuk memayu hayuning bawono. Begitu pula dengan Mas Kumitir yang lebih memilih untuk mengabdi dan melukis di kanvas jagad mayapada ini dengan caranya sendiri. “Kebenaran milik Gusti Kang Murbeng Jagad. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Dia. Apabila Dia berkehendak semuanya menjadi mungkin. Bisa-bisa hukum alam tidak berlaku,” ujarnya.

Malam semakin larut, jarum jam menunjuk ke angka 12.30 WIB. Saya mencoba membuka blog alang-alang kumitir. Ternyata ada salah satu karya yang baru saja diupload. Saya akhirnya membayangkan di kegelapan malam, remang-remang, disinari hanya cahaya bulan Mas Kumitir biasanya duduk sendirian di luar gubuknya. Tangan kanannya memegang bolpen, tangan kirinya menimang-nimang buku jawa lawas. Terlihat serius, ia menulis.

Mas Kumitir, selamat malam.

Wong Alus

Categories: SPIRITUALITAS MAS KUMITIR | 75 Komentar

Blog di WordPress.com. The Adventure Journal Theme.