BANGKIT DARI KETERPURUKAN (Bagian 3)


Dua bagian tulisan sebelumnya tentang Prof Damardjati Supadjar mengangkat biografi sederhana serta Konsep Ketuhanannya (GERIMIS KENANGAN DARI PENCARI YANG TERLUPAKAN dan MEMAHAMI DAMARDJATI SUPADJAR). Artikel kali ini membahas tentang bagaimana agar Bangsa Indonesia bisa bangkit dari keterpurukan. Namun sebelumnya akan dijelaskan terlebih dulu peran Sri Sultan di dunia.

Menurut Pak Damar, Kenapa Yogyakarta disebut daerah istimewa karena peran kosmis dan universal Sultan sebagai Kalifatullah. “Gelar Sultan tak ada duanya di dunia. Gelar itu beresensi pada istimewanya hati, spiritualitas. Keistimewaan itu se-analog dengan hati. Kalau hati baik, perbuatan dan keistimewaan juga akan menjadi baik. Demikian pula bila laku atau jalannya hati-hati, hasilnya juga akan baik dan selamat”, ujarnya.

Menurut Pak Damar, keraton adalah lambang struktur manusia dengan segala konsep kesadaran sangkan paraning dumadi, sedulur papat lima pancer, kiblat papat lima pancer jalma limpat seprapat tamat. Makna Keraton menjadi sangat penting dan melekat di hati rakyat, karena Sultan dan Keraton masih memiliki atau memenuhi kualitas seperti yang tergambarkan dalam sanepo itu yang bersifat spiritual dan bermakna sangat mendalam.

Sanepo tersebut menyiratkan sebuah kearifan seorang pemimpin dan kesadaran illahi yang tinggi. Namun, lanjut Pak Damar, konsep keratuan Raja Jawa yang spiritual itu tidak dihayati secara sungguh-sungguh. “Kualitas kita ini masih sebatas raga. Maka, masih berjalan di tempat. Kesadaran kita masih kesadaran api, yang dengan demikian adalah kesadaran iblis di mana manusia tak pernah bisa sujud. Manusia itu terlena dengan aktifitas menjumlah dan menghitung, yang sebenarnya tidak akan pernah mencapai bilangan infinitum,”

Barangsiapa hendak njongko, njangkah, ujung jangka harus lebih tajam dari sebilah jarum. Padahal, terangnya, ketajaman jarum itu masih saja tumpul bila dilihat dengan mikroskop. Maka untuk bisa benar benar tajam, harus dengan hati, yakni ning nong. Artinya heningkan hati atau rasa. Dengan begitu, baru bisa mendapatkan bilangan nol. Tajam sejatinya tajam dan seimbang. “Barangsiapa bisa membagi bilangan nol, manusia baru akan bisa mbobot (mengandung) ruh, yakni janji Illahi. Karena itu, saya menekankan pentingnya sebuah revolusi spiritual, perang bratayudha. Perang besar antara raga dan jiwa.”

Inilah yang seharusnya dilakukan oleh kita semua agar bisa lahir di dunia secara baru. Buah dari mbobot dan meteng-nya ibu. Dua istilah yang dalam bahasa Jawa berarti hamil atau mengandung. “Mbobot dalam bahasa Jawa juga bisa diartikan sebagai bobot yang berarti berat atau beban. Misalnya ketika perawan suci Maria yang tak pernah bersentuhan dengan lelaki tiba-tiba hamil, sang malaikat memberitahu, bahwa Maria bukannya sedang mbobot dalam pengertian terbebani. Tapi, justru terangkat oleh kuasa ruh.

Ketika seorang ibu hamil, pengertiannya bukan karena dihamili. Tapi, sang ibu yang memang sedang mbobot ilmu amal suaminya. Harus dibuktikan Agar bangsa Indonesia bisa bangkit dari keterpurukan di berbagai bidang, Pak Damar memiliki pemahaman yang menarik. Yaitu para cendekiawan harus semakin gigih meneliti sebagai pertimbangan untuk membuat kebijakan.

“Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para pahlawan, yang darahnya memang mulia, dan dengan mengingat tinta atau kalam alim-ulama itu lebih mulia. Namun bila mulianya darah syuhada pahlawan itu sudah terbukti, lebih mulianya kalam alim-ulama masih harus dibuktikan. Kiranya tidak berlebihan, bila dikatakan Indonesia berjalan di tempat.

Agenda ‘pemindahan kekuasaan’ sebagaimana tersurat dalam teks proklamasi itu sedemikian dominan. Sehingga, agenda ‘dan lain-lain’ dalam teks proklamasi yang merujuk pada ranah budaya, spiritualitas, pendidikan, keadilan, kesejahteraan dan seterusnya, menjadi sekunder atau bahkan terabaikan. Padahal, semua itu terikat pada kualitas ‘kesaksamaan’ dan ‘dalam tempo sesingkat-singkatnya’.

Semua itu kata kuncinya adalah mutu, yang dalam filsafat Jawa harus berlaku bagi mereka yang sudah tua dan menimang putu atau cucu. Menurut Pak Damar, putu dalam bahasa Jawa juga disebut wayah, berkonotasi waktu. Kesemuanya itu tampak jelas pada kasus aktual di Jogjakarta, yakni wacana keistimewaan Jogjakarta yang terfokus pada kekuasaan kegubernuran.

Padahal, hakikat Keistimewaan Jogjakarta itu terutama terletak pada agenda ke-Khalifatullah-an (gelar Sultan Jogja), yang nilai raportnya istimewa (nilai A plus atau 10). Bila Indonesia berjalan di tempat, itu karena dunia juga berjalan di tempat. Dunia berjalan di tempat pada bahasa Tongkat Nabi Musa, Kalimullah, a.s. berupa ekonomi, politik dan teknologi. Padahal, setelah bahasa makluk yakni Tongkat Nabi Musa, segera disusul oleh bahasa Khalik, yakni bahasa Ruh, yang dipersonifikasikan oleh Kanjeng Nabi Isa, Ruhullah, a.s. Dunia jauh dari memahami bahasa Ruh tersebut.

Apa lagi, bahasa terpuji, penghubung makluk dan Khalik, akhlak, Ahmad-Hamid-Mahmud-Muhammad, sikap dan cara hidup Hamemayu Hayuningrat. Maka demi keistimewaan Qolbu tubuh organik ke-Indonesia-an, kita harus menjemput bola. Bukan menunggu datangnya Isa, Ruhullah dari langit. Tapi, membobot ulang firman yang mem-badan, Jiwa Kang Kajawi.

Dalam pandangan hidup Jawa, mbobot atau menimbang janji Kawula-Gusti itu jauh berbeda konotasinya dengan meteng, yang berkonotasi main main dengan weteng atau perut di kegelapan kesadaran peteng atau gelap, sehingga akibatnya meteng atau hamil. “Titik 0 (nol) sebagai lambang mbobot janji Kawulo-Gusti adalah inti Wuquf, yang bila paripurna segera akan diikuti oleh laku Waqaf. Justru laku waqaf itu dicontohkan oleh wanita yang mbobot, sedemikian rupa sehingga Surga itu terletak di telapak kaki ke-Ibu-an.

Indonesia yang ‘feminim’ menemukan landasan pada istilah ibu jari, ibukota, nomor induk, dan menemukan landasan formalnya pada term Ummul Kitab, yang disiplinnya disebut Ilmu Filsafat, induk segala ilmu,” katanya. Ketika filsafat lahir di Ionia Yunani, wacana mitologis terhapus oleh pencerahan akal budi. Sedemikian rupa, sehingga Atlas yang semula nama Dewa, berubah menjadi Peta.

Nah, bagaimana supaya dunia tidak berjalan di tempat dan seolah-olah hanya mengolah fakta atau membaca fakta yang di tingkat SD untuk faktor, di SLTP untuk fungsi, di SLTA dan di Perguruan Tinggi untuk olah peran, yang sebenarnya semua itu hanya peran objek penderita?

Tak lain, kata Pak Damar, “modernisme harus berganti menjadi olah peran sebagai subjek pelaku. Koreksi makmum atas kesalahan Imam, yakni ungkapan subhanallah bagi kaum pria, menjadi tepukan paha bagi wanita. Itulah Filsafat Nareswari. Bila orang laku njangka, maka ujung jangkanya harus tajam dan seimbang, yakni titik 0 (nol). Dengan demikian, luas lingkarannya tak terhingga. Setiap poin, pun menjadi syah sebagai pusat semesta. Biarkanlah rakyat tidak ke mana-mana dan tetap ada di mana-mana. Vox Dei akan terungkap melalui Vox Populi, dan berkembanglah tradisi penemuan, dan Ratu Adil bukan omong kosong atau tinggal wacana. Tapi, ada karena ditegakkan bersama” ujarnya. (HABIS)

Categories: DAMARDJATI SUPADJAR 3 | 10 Komentar

Navigasi pos

10 thoughts on “BANGKIT DARI KETERPURUKAN (Bagian 3)

  1. salam kenal wong alus
    barusan tadi juga habis nonton lintas batas ruang&waktu di RBTV termasuk acara yg paling saya sukai, buah pikiran beliau juga byk sekali yg nyambung dgn saya…salah satunya mengenai pembagian nol, dimana nol adalah ikhlas…bilangan berapapun kalau dibagi nol hasilnya tak terhingga..juga mengenai nusantara yg diproyeksikan sebagai tamansari dunia…ini sangat menarik…juga menegenai jihad akbar yg mengubah dari sadar naar ke sadar nuur ini sangat penting dipahami bagi yg getol2 teriak2 jihad2 sambil bawa pentungan, pedang dsb…tapi yg paling menarik adalah mengenai kiamat yg ternyata bukan hancur2an secara fisik tetapi cenderung ke pola fikir yg materialistik bertransformasi ke rohani/bathin…karena kiamat asal katanya dari qiyamuhu binafsihi atau jumeneng klawan pribadi…teruskan mas membahas mengenai pemikiran beliau Insya Allah saya akan selalu nimbrung urun rembug…
    wassalam

  2. Matur nuwun Kadang Mastono, penjelasan panjenengan semakin melengkapi pandangan Beliau tentang berbagai hal. Hidup memang untuk berbagi, tanpa berbagi hidup tiada arti. Menyendiri dalam rangka mengambil jarak terhadap obyek itu penting, namun lebih penting lagi adalah terjun untuk berjuang bersama menggapai pencerahan.

    Salam damai.

  3. qarrobin

    Subhanallah, terimakasih atas teman2 yang mau berbagi ilmu.

    Saya mendapat link tentang mbah damar dari @Refa disini
    http://qarrobin.wordpress.com/2009/08/01/night-of-power-beyond-einstein-and-heisenberg/#comment-120

  4. Frans

    Aduh, saya sampe mengernyitkan dahi baca artikel di bagian ke-3 ini. Bahasanya sangat dalam skali dan paparannya kayak “benang mbundhet”.

    Bahkan ada bagian2 yg perlu saya ulang2 bacanya biyar sedikit ngerti.
    Sukses slalu buat bapak dan semoga pak Damardjati tenang di alam sana, amen. Nuwun.

  5. wongalus

    @sdr Frans: Pak Damar masih hidup kok mas. Nwn.

  6. Irtosuharto

    Rahayu.
    Maaf kangmas wong alus, kenapa dalam tulisan panjenengan tidak atau belum termuat bahwa pak damarjati adalah juga ketua umum aliran kebatinan Hardo pusoro, paguyuban aliran kebatinan yang tertua di indonesia, yang berpusat di bagelen dan mungkin satu-satunya aliran kebatinan yang mengikrarkan “Bukan agama dan tidak akan menjadi agama “. nuwun

  7. anwar

    alhamdulillah berkat rahmat rahmat allah,kami siap membantu saudara yg menderita sakit tp belum mendapat kesebuhan,insyaallah kami siap membantu baik masalah medis maupun non medis
    1)guna guna atau santet
    2)masalah rejeki supaya lancar karena allah
    3)memisahkan pil atau wil
    4)pelet atau wibawa
    5)dll
    kami siap melayani saudara yg membutuhkan jasa kami
    silahkan konsultasi
    anwarmuhamad93@yahoo.co.id
    insyaallah kami siap bantu
    wslm

  8. raden arto

    rahasia cara mudah menyelesaikan hutang,bg pengusaha atau sedulur yg punya hutang menumpuk
    temukan rahasianya,
    radenarto@yahoo.co.id

  9. penyair goblok

    mantap

  10. Tulus Setiawan

    Salam Kenal…
    Saya sangat suka dengan artikel2 Mbah Damar…
    Kalau boleh tau di link mana saya bisa temukan kumpulan artikel & sanepo2 dari Mbah Damar…
    Maturnuwun….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: