DEKONSTRUKSI: FACEBOOK ITU HALAL


Sabtu (23/5) pagi ini saya begitu kaget membaca berita di Koran sebuah surat kabar terkenal di Jawa Timur. Facebook, sebuah situs jejaring sosial yang lagi ngetrend di semua kalangan di tanah air tiba-tiba dinyatakan haram. Tidak tanggung-tanggung, pernyataan itu tidak disampaikan oleh Cak Rakmat, Cak Iwil dan Cak Ali yang terbiasa cangkrukan di pinggir alun-alun sambil melirik cewek-cewek berangkat kerja. Atau disampaikan oleh Ki Bejo Sinting yang biasanya ngoceh sambil telanjang di tengah bundaran Waru, di depan City of Tomorrow, Surabaya.

Tidak. Pernyataan itu resmi itu dikeluarkan oleh Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri Se Jawa Timur, Bahtsul Masail IX di Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi—At Lirboyo Kediri, 20-21 Mei yang lalu: dalam pernyataan resminya forum menyepakati bahwa hukum facebook dinyatakan HARAM. “Jika facebook digunakan untuk pendekatan dengan lawan jenis, hukumnya haram,” begitu kata Masruhan, perumus bahtsul masail yang diikuti 50 pondok pesantren se Jawa Timur tersebut.

Membaca berita ini, terus terang saya kaget, hampir-hampir emosi saya naik ke ubun ubun. Untunglah, sesaat kemudian Sang Kekasih, Tuhan Semesta Alam memberikan petunjuk agar saya tetap tenang dan mengharapkan agar saya menuliskan ketidaksetujuan saya terhadap pernyataan/fatwa tersebut di blog saja. Alhamdulillah, Matur Nuwun Gusti Ingkang Welas Asih…

Begini. Islam atau agama dan kepercayaan manapun yang itu sumbernya dari sumber yang sama, pastilah tidak menghendaki hubungan lintas jenis maupun sesama jenis secara tidak beraturan. Ada etika yang harus ditaati manakala hubungan antar manusia terjadi. Entah itu etika berkomunikasi, etika berpolitik, etika jual beli, dan etika-etika yang lain.

Siapa yang melanggar etika, akan ada dampak yang harus ditanggung. Siapa yang berada di jalur etika, akan aman. Ada sanksi bagi yang melanggar dan sanksi itu bisa tertulis maupun ungkapan verbal dan bisa jadi sebuah tindakan sosial. Tergantung kesepakatan yang dibikin secara sengaja atau tidak antar individu di sebuah komunitas. Etika akan terus menerus berkembang sesuai dengan kemajuan atau kemunduran peradaban. Sifatnya yang plastis dan mudah mulur mungkret tersebut menjadikan etika berada di taraf syariat saja. Perlu ditafsirkan terus disesuaikan dengan semangat dekade, centurion, atu millenium-nya.

Yang jadi masalah adalah bila satu komunitas tersebut kurang mampu membaca tanda-tanda jaman seperti komunitas para Pengasuh Pondok Pesantren Se Jawa Timur tersebut. Di jaman ini, di mana alat dan sarana komunikasi sudah sedemikian hebat, tidak diperlukan lagi cara membentengi diri seperti di era tahun 1960-an seperti era perang ideologi, apalagi dengan fatwa-fatwa seperti itu. Saya khawatir justeru yang mengeluarkan fakta itu nanti yang akan menjadi bahan cibiran dan tertawaan masyarakat. Dan setelah dinyatakan oleh Forum Bahtsul Masail bahwa Facebook itu haram, apakah nanti bisa efektif untuk meredam para pengakses internet agar menjauhi situs jejaring sosial itu? Saya sangat mencintai saudara-saudara yang kini menjadi pegiat pendidikan agama di Pondok-Pondok Pesantren sehingga pada kesempatan kali ini ijinkan untuk mengkritik dan memberikan masukan.

Saya pun tidak melihat adanya segi negatif penggunaan facebook yang berlebihan. Mana sih yang bisa menimbulkan dampak negatif dari facebook, friendster, plurk, atau situs jejaring sosial yang lain? Yang jelas, bahwa sebagai sarana komunikasi untuk saling mengenal antar manusia, jejaring sosial sungguh sangat bermanfaat dan justeru akan mempererat ikatan silaturahmi.  Jadi saya menyimpulkan bahwa FACEBOOK ITU HALAL.

Saya malah beruntung di era sekarang internet bisa merambah dengan cepat hingga perdesaan. Internet adalah komunikasi dua arah, hal ini berbeda dengan televisi dan radio yang hanya satu arah. Satu pihak mendiktekan ke pihak yang lain. Televisi oleh karenanya justeru tidak lebih mendidik daripada internet. Di internet, setiap pengakses masih ada upaya untuk browsing dan surfing, mencari sesuai kebutuhan informasi. Di layar televisi yang hanya ada sekitar sepuluh stasiun tersebut, kita tidak bisa menolak dan mengelak oleh kehadiran iklan-iklan yang menghipnotis. Anda dan saya hanya bisa pasif menerima tanpa mampu untuk membalas ataui memberikan input. Benar-benar sebuah pembodohan bagi bangsa yang masih berusia muda ini. Bila cara berpikir kita hitam-putih, saya lebih cenderung mengatakan bahwa TELEVISI OLEH SEBAB ITU SANGAT LEBIH HARAM DARIPADA FACEBOOK.

Internet adalah mimbar yang paling demokratis dan mampu melewati bangsa dan negara yang lain tanpa batas. Mampu mencari teman tanpa harus bingung diisibukkan oleh latarbelakang pekerjaan, status sosial, pakaian, kaya miskin, dan lain-lain. SI SANTRI BISA MENDEKONSTRUKSI DAN MENGGURI USTADZ-NYA YANG GAGAP TEKNOLOGI, SANG KYAI JUGA BISA BELAJAR TENTANG TEKNOLOGI INFORMASI; BROWSING CHATTING, BER-FACEBOOK RIA. BUKANKAH INTERNET ADALAH PERPUSTAKAN TERBESAR DAN TERLENGKAP DI PLANET BUMI dan bukankah Islam adalah agama yang anti kasta?

Konon, dilarangnya facebook disebabkan karena situs ini bisa disalahgunakan untuk membicarakan hal-hal yang intim, tidak senonoh dan anti agama. Hmm..Begitu sempitkah pikiran kita, yang menganggap bahwa alat itu lebih berbahaya daripada penggunanya? Celurit itu berbahaya bila dipegang untuk anak usia dua tahun, tapi bagi petani tebu justeru mendatangkan manfat yang luar biasa lho. Justeru berkomunikasi melalui dunia maya itu lebih baik daripada kumpul kebo atau pacaran secara sembunyi-sembunyi. Di dunia maya, bukankah eksistensi manusia hanya bisa dibayangkan saja yang juga berarti sebuah permainan simulasi pikiran belaka? Di Facebook, bukankan setiap obrolan akan diketahui oleh para pengakses lain sehingga terbuka kontrol publik secara otomatis?

Yang harusnya dilakukan oleh kaum agamawan tidak terkecuali yang sekarang menjadi pengasuh di pondok-pondok pesantren, atau di sekolah-sekolah biarawan jaman sekarang adalah mentransfer contoh kepada para anak didiknya agar memiliki mental yang kuat, hati nurani yang jernih serta pikiran yang cemerlang. Mental yang mampu dengan sendirinya untuk memfilter mana yang benar dan mana yang salah secara otodidak dan otomatis. Pikiran yang bersemangat untuk mencari kebijaksanaan hingga liang lahat. Inilah sejatinya fungsi lembaga-lembaga pendidikan berbasis agama di Indonesia.

Saat ini, lembaga pendidikan termasuk yang berbasis agama hanya menyibukkan dirinya dengan bagaimana agar anak didiknya melahap sebanyak-banyaknya materi pendidikan yang kesemuanya hanya untuk menuruti target yang telah ditetapkan pemerintah. Ini diperparah lagi dengan komersialisasi di dunia pendidikan sehingga para pengasuh lembaga pendidikan tidak terkecuali yang berbasis keagamaan cenderung untuk mengutamakan pencapaian laba sebesar-besarnya saja.

Otak hanya dijejali pengetahuan untuk peningkatan kognitif dan kemampuan menganalisa, namun tidak dilatih untuk menyerap dan merangkum berbagai mata pelajaran itu menjadi sebuah kesimpulan penghayatan hidup yang selanjut-lanjutnya. Untuk kemudian anak didik memiliki kesiapan dan kemandirian untuk mencari jati dirinya masing-masing yang sesuai dengan budaya, sejarah dan semangat nasionalisme keindonesiaan yang luar biasa. Pendidikan yang hanya berorientasi pada penyiapan Sumber Daya Manusia agar mampu menemukan lapangan kerja yang sesuai berarti tidak memahami akar filosofis kenapa pendidikan itu ada. Ini adalah tradisi kaum sofis di era Yunani Kuno yang hanya menjual ilmu dengan kepandaian bersilat lidah namun mengabaikan aspek moralitas dan religiusitas manusia.

Inilah makna PENDIDIKAN AGAMA. Agama diciptakan untuk manusia agar dia menemukan jalan hidupnya ke arah yang benar. Menerobos langit dan menyelami rahasia samudera. Menjadikan manusi lebih manusiawi memandang sesama, lebih membinatang dalam memandang binatang, dan membertuhankan Tuhan Seru Sekalian Alam secara proporsional. Tidak hanya diajari syariat, namun juga aspek-aspek mental yang lain sehingga akhirnya mampu menemukan RUH AGAMA yaitu RUH KEHIDUPAN itu sendiri.

Ngapunten bila ada yang kurang berkenan.

Wong alus

Categories: FATWA HALAL HARAM | Tag: , , , , , | 35 Komentar

Navigasi pos

35 thoughts on “DEKONSTRUKSI: FACEBOOK ITU HALAL

  1. Nora

    Assalamualakum
    huuuuuuuuuuuuuuuf…subhanallah..sampai takut, kan klw haram emang harus ditinggalkan.
    kan niatnya bukan untuk yang macem – macem,

  2. wongalus

    Terima kasih buat sdri Nora. Mungkin ini adalah tanda-tanda jaman, yaitu banyaknya kaum agaman yang tidak lantip dan waspada untuk membaca tanda-tanda jaman. Mereka, barangkali, lebih sibuk untuk mengurus partai politik sehingga sesuatu yang positif justeru dianggap haram dan menyesatkan. Salam damai.

  3. mas8nur

    Salam kenal mas/ pak…………
    seneng ketemu dengan ahli filsafat yg yakin Allah ada 100 %
    ngomong masalah facebook haram, aku malah kasihan sama yg membuat fatwa….kok ya kelihatan gapteknya……….semoga aja nggak berlarut-larut.

  4. Salam kenal juga kagem panjenenganipun mas Mas8nur, terima kasih sudah singgah di gubuk sederhana meniko. Begitulah, para ustadz, kyai dan ulama itu adalah saudara kita juga sehingga kewajiban kita untuk saling asah asih asuh. Mengingatkan bila salah dan memberikan rasa hormat karena mereka sudah mengalirkan ilmu-ilmu agama kepada anak-anak kita.

    Salam sih katresnan
    wong alus

  5. Wah waah..benar Ki… saat ini ada gejala mutakhir di mana orang lebih gemar bersikap “BURUK MUKA CERMIN DIBELAH”. Gebyah Uyah, Cethek akal, cepat ambil kesimpulan, KAGETAN, GUMUNAN. Apalagi kelakuan semacam itu didukung dengan “legitimasi paksa” dengan alat bernama FATWA. Tidak main-main; Fatwa !!! Yang berarti UCAPAN manusia yang MEWAKILI “KALIMAT” TUHAN. Luar biasa ! Saya jadi berfikir, jangan-jangan tanda-tanda kiamat yg disebutkan dalam kitab suci itu, HANYA berlaku untuk agama Islam saja.
    Karena agama manapun jika tidak berjalan sesuai peradaban manusia (kontekstual) akan menjadi monumen sejarah yg untouchable. Dan lama-kelamaan akan ditinggalkan oleh umatnya sendiri. Saya pikir bukan saja binatang yg mengalami evolusi, manusia dengan seperangkat nilainya pun mengalami evolusi, termasuk di sini agama mengalami suatu evolusi dengan proses yang berlangsung antara 1500 – 2000 tahun. Lebih cepat dari evolusi makhluk hidup. Sebab agama bersinggungan dengan peradaban dan pola pikir manusia. Sebagai salah satu bukti bahwa “Das ding an sich” merupakan proses yg dinamis. “aku berfikir maka aku ada”, dan “berfikir” nya kita dari waktu kewaktu selalu berproses dalam perubahan dan dinamika kehidupan yg tiada berhenti sampai ajal tiba.

    salam asih asah asuh

  6. Sugeng pepanggihan.

    facebook halal…..kalau haram rasanya kok tidak pas ya..
    Jaman sudah semakin terbuka dan maju,kita harus berpikir cerdas dan jangan berpikir negatif.Sedikit2 haram,ini ndak boleh….itu ndak boleh…ada fatwa.Kalau terus begini “apa kata dunia “bangsa indonesia gaptek & masih kolot.

    yang penting iman dan kepribadian masing-masing agar selalu “eling lan waspada ”

    salam karaharjan.

  7. Kadang kulo Ki Sabda, nggih pancen mekaten meniko kahanan Indonesia. Termasuk kaum agamawan yang masih punya pikiran ala abad tengah. Monggo dipun rubah mulai dari diri sendiri kemawon.

    Kagem Yang Kung, matur nuwun. Kalau Facebook haram, yang untung saya karena tidak jadi pelanggannnya…Hehe….. ngapunten guyon kebablasan.

    Salam karaharjan juga.

  8. indra

    saya setuju dengan panjenengan, saya merasa prihatin kepada yg mengeluarkan fatwa tsb. menurut saya terlalu dini memfonis FB itu haram, apa sudah dikaji mendalam, karena hal itu akan berdampak pada orang-orang yg kurang tahu (gaptek) khususnya didaerah pedesaan. suatu conto begini saya punya pengalaman, didaerah saya struktur sosionya adalah pedesaan tingkat pddkan rendah, fanatise islam/kyai tinggi, mereka membaca bahwa FB itu haram, FB mereka pikir internet, internet adalah yang di warnet, jadi warnet itu haram. berarti warnet harus ditutup…hhmmm ????

  9. mbah jarwo

    Matur nuwun masukan dari wong alus yang telah menjlentrehkan fatwa haram facebook dari berbagai sudut pandang. Kita semua berharap bisa memetik kesimpulan dari pandangan tersebut sehingga tidak terjebak dengan pandangan sempit yang justru mengungkung pengetahuan kita.
    Maju terus….pantang mundur……hidup wong Alus. Kapan main kerumahku lagi?

  10. Yth mas Indra… begitulah bila kita menganalisis halal haram dengan sudut pandang agama secara sempit. Gejala yang semoga saja akan hilang seiring dengan kedewasaan berpikir saudara-saudara kita di Pondok Pesantren. Semoga Tuhan memberikan mereka hidayah untuk terus belajar dari peradaban modern yang berkembang sangat pesat.

    Yth Mbah Jarwo, matur nuwun sanget sampun diparingi wedal kagem pinaggih malih kalian kulo, sedek tunggal simbah “NDEK” ing tlatah Ngayogyakarto Hadiningrat. Salam kagem keluarga di Ibukota Kerajaan Mojopahit.

  11. Assalamu’alaykum,,,

    Numpang mampir,, memang inilah mas, krisis yg dialami manusia modern saat ini. Bahkan akan sangat ngenes jika kita tahu bagaimana remaja sekarang. Mereka banyak tidak tahu jalan. Bahkan kelas 2 sma, ditanya, siapa sih ayah Rasulullah Muhamad Shollallahu ‘Alayhi Wassalam. Nah apalagi hukum-hukum. Itupun mereka tidak tahu. Ketika ditanyakan kepada kita, siapa yang harus bertanggung jawab terhadap semua ini. Kita pun jadi bingung sendiri.

    Semoga kita lebih menggugah kesadaran mereka melalui media ini.

    Terima kasih,,

  12. kang aslach

    salam kenal mas,
    meskipun dipelintir oleh media sedemikian rupa shg jd heboh (kan prinsip berita adalah “anjing nggigit org biasa tp kl anjing gigit mns” itu baru berita), tp prinsipnya kulo korek gambar kucing (ndrek wontn wingking) dateng pamatur panjenengan. Keputusan itu teramat tergesa-gesa krn jangan2 info nya dr wilayah mindset yg ndak pas.
    Yang pasti sy msh punya prinsip JANGAN DENDAM SEJARAH.
    Nggih to Pkde wil
    wassalam
    (saking rencange pkde jarwo sing cilik ireng tur ngentutan)

  13. wongalus

    Yth Mas Rahmat, salam tetepangan juga. Terima kasih mas atas kunjunggannya di gubuk ini. Ada yang salah dengan generasi sekarang mas: Yaitu kurang mengolah diri, dan dimanja situasi. Penderitaan itu ternyata penting juga ya, agar kita mau dan mampu untuk mengubah situasi. Ini rumus Tuhan: berakit-rakit ke hulu, berenang renang ke tepian, bersakit sakit dahulu bersenang senang kemudian.

    Yth Kang Aslach, lama tak berjumpa. Apa kabar? Panjenengan adalah sufi modern, contoh laku dan lampah untuk hidup jejeg dengan sangkan paraning dumadi. Smoga kita semua selalu diberkahi-Nya dengan kekuatan untuk selalu mengoreksi kesalahan dengan semangat saling asah asih dan asuh. Salam kagem keluarga di rumah.

  14. eRandy RahmanO

    assalamualikum…
    pripun kabaripun panjenegan…
    berbicara mengenai Halal-Haram seperti berbicara Gendheng lan Waras…
    Siapa sebenarnya yang Waras dan siapa yg mau dikatakan Gendheng?
    sebenarnya apa arti haram dan halal itu??siapa yang berkata halal dan haram?
    untuk kepentingan apa halal dan haram itu dikeluarkan?
    ini semua harus kita kritisi terlebih dahulu sebelum kita meyakini dan kita masukkan dalam mind set kita…
    karena bila kita telah salah pada awalnya maka itu akan menjadikan kita “salah” dalam melihat dunia sekitar kita, seperti contoh memunculkan fanatisme tertentu.
    Jadi ketika kita berjalan menuju suatu tempat yang kita tuju dn hanya terfokus ketempat tujuan tanpa melihat sekitar apakah kita dapat melihat lubang di depan kita, ustadz kita dari kejauhan atau mungkin bertemu orang tua kita?

  15. Adi Is

    Itukan haram ukuran mereka. Para ustadz nggak usah ngarang sendirilah kaidah agama Islam. Tanyakan kepada Raja Arab Saudi mengenai kaidah halal / haram. Agama Islam lahir dan tetap terpelihara di negeri arab, dan kalau para ustadz tidak mengakui, yah menurut saya anda anda adalah nabi diluar agama Islam yang dari Arab.

    Maaf kalau ada yang tersinggung dan tidak berkenan.

  16. Adi Is

    Tapi yah percuma kita kasih komen apapun disini, wong mereka sudah alergi komputer, mungkin menjamah komputer mereka merasa haram

  17. anangsa

    setelah mengeluarkan fatwa haram FB, para ustad kemudian turun dan kembali ke santri2nya.
    santri: pak ustad jd fb itu haram dan harus kita jauhi ?
    ustad : ya…harus kita jauhi mendekatipun jangan..! haram hukumnya.
    santri : memangnya kenapa ustad ?
    ustad : sebab KATANYA fb baik sedikit maupun banyak adalah haram
    santri : …????? memangnya menurut ustad fb itu apa ?
    ustad : pokoknya haram titik !(sambil ngeloyor pergi)
    (hi..hi…ternyata wak ngustad nggak ngerti facebook!)

  18. pakpuh di Bogor

    Assalamu ‘alaikum Ki …
    Nderek tetepangan dateng panjenenganipun ki Wong Alus, nuwun sewu nggih ……
    Baru sekarang saya bisa mendapatkan situs Jawa, karena baru sekarang saya mengenal yang namanya internet. Setelah berulang kali saya menelusuri situs ki Wong Alus, Alang-alang kumitir dlsb. saya merasa lebih “njawani” dang ingat akan piwulang poro leluhur. Mudah2an saja apa yang ki Wong Alus dan ki Wong Alus yang lain meng-uri2 “kejawen” bisa membuka mata hati sebagian orang yang merasa dirinya sudah mumpuni dalam segala hal dilingkungannya atau kelompoknya yng. bisa memberi fatwa yng. tidak bisa diterima akal sehat dijaman IPTEK ini. Itulah akibatnya kalau menjalani kehidupan ini hanya mengandalkan otak kanan (IPS), sedang otak kirinya (IPA)-nya tidak dipakai. Hanya mementingkan dirinya/golongannya/kelompoknya saja. Sedangkan kita menjalani kehidupan ini harus terus maju dan maju sesuai dengan jamannya. Apa kita mau dibawa kejaman jahiliyah lagi ??? Nuwun sewu nggih …… ki …
    Sekali lagi saya salut dengan apa yng. telah Ki laksanakan ini dan terima kasih atas kesempatan ini.
    Satuhu.

  19. wongalus

    Yth Pak Puh: salam tetepangan ugi, pak. Mugi ndadosaken langgengipun paseduluran. pamuji rahayu

  20. gus santri

    Ass.. Salam silaturrahmi buat Wong Alus dan semua,ngapunten singkat saja karena hanya memakai hp. Pandangan jenengan sedoyo salah besar terhadap pesantren. Kebanyakan kiai dan santri adalah melek teknologi,bukan gaptek. Fatwa adalah panjang perjalanannya dan panjang penjelasannya. Dan apa yang disampaikan Wong Alus sudah dibahas dalam penjabarannya. Jd fatwa tetap fleksibel. Hape kulo 081556555866. Monggo silaturrahmi..

  21. gus santri

    ketika forum musyawarah pesantren memilih pendapat haramnya face book. Itu artinya mereka berpendapat itulah yg paling menyelamatkan bg banyak orang awam. Maka mereka merekomendasikan hal itu. Karena dlm kenyataanya, banyak remaja yg menjadikan FB sebagai pelampiasan nafsunya mengejar lawan jenis yg hanya just fun. Bahkan tdk sedikit yg sampai terjadi pertemuan dan berlanjut zina. Kalau utk tujuan spt itu bukankah tdk ada manfaat sm sekali? Bukankah itu justru menjerumuskan generasi bangsa? Sementara pengguna FB kebanyakan remaja yg blm sedewasa Wong Alus dan para pini sepuh di sini.↲Sebetulnya hukum asal FB adalah halal atau boleh ditinjau dr segi teknologinya. Tetapi dr segi tujuan negatif yg mengarah ke dosa tsb maka berubah mjd haram. Jadi haramnya bukan haram asal/asli. Kalau penggunanya orang sebaik Wong Alus dan para pini sepuh di sini FB adalah halal 100 persen spt penggunaan internet dll. Salam tetepangan kagem sedoyo..

  22. gus santri

    Cara berpikir Wong Alus sudah dewasa. Maka sudah bisa memilih yg terbaik. Kalau ibarat sekolah beliau sdh kuliah. Bukankah beliau rektor di kampus wong alus. Alangkah bijaknya bila beliau memberikan pelajaran TOEFL hanya pada kuliah! Bukan kepada anak SMP apalagi SD. Alangkah pasnya bila guru memberi pelajaran membaca kpd anak TK, karena itulah yg lebih mereka butuhkan. Tanpa berniat sombong, kebanyakan pemuda kita minim pengetahuan agama. Jangankan faham alqur’an, membaca fasih saja bnyk yg tdk bisa. Dan alhamdulillah pesantren berusaha mengajarkan itu dg mati2an di tengah arus zaman yg semakin deras. Saya kira kalau kita ingin jelas akan suatu komunitas. Berbaurlah dg mereka menjadi bagian dr mereka! hingga bisa merasakan nilai2 mereka sesungguhnya. Tdk bisa kita menilai orang lain setepat ALLAH dan orangnya sendiri.

  23. Budi

    Kl saya setuju fb itu haram karena 60 remaj pemakainya untuk cari knln dan trs menuju perzinahan kadang 2 semboyane arek 2saiki pacrn kl nggak merasakan apa enaknya iki meh kabeh remaja putri do ilang perawane iku gor2 fb ,

  24. ada pro kontra pesbuk di kharamne,,mung aku ijih ngeyel OL ning pesbuk,,soale ngumpulne sedulurku seng pating kececeran alias nyambung tali silaturahmi,,nek soal pendapat kang @Budi,,aku ra melu-melu,,hehehe
    –nuwun lho kangmas–

  25. Budi

    Aku wong deso saso 2 sing disik penggehane angon sapi ,ndelok cr menyikapinya kok nggak suka amat dr fatwa haram tersebut padahal 60 % dr fb dr klngan anak remj ,kl di kmps wng als aku percaya isi bgs semua,tp mbok ya ,o biasa aja cr menyikapinya.opo masane wong pesantren gae ftw hrm mereka pakai tenden si di kitab 2 kuning ,merekalah bibit ulama 2 ,ibarat kl suatu perkr lebih banyak madhorotnya ,iku hukume harm ,.sepurane sing akeh buat wong alus dn semuanya

  26. Santri Bodoh

    @gus santri, kang budi
    Saya setuju pendapat njenengan berdua, suatu fatwa harus dilihat dulu asal usulnya sampai keluar fatwa itu. Jangan kita membabi buta membela sesuatu tampa kita tahu akar masalahnya. Internet tdk sama dgn Fb. Banyak pondok skrg punya web.alumni santri punya blog.
    @kangmas wong alus
    Saya ingin tanya kalimat njenengan “dan membertuhankan Tuhan Seru Sekalian Alam secara proporsional”. Apakah dihadapan Tuhan kita punya hak tawar menawar atau gimana ?? jika proporsional menurut saya cukup saya eling saja, apa bener pandangan proporsional saya itu ??
    Mongo dilanjut…..

  27. Batu Kapal

    Intrnet itu bagaikan dua mata pisau dipake buat masakan ya baik tapi kalo di pake bunuh orang ya dosa….gitu pula kalau intrnet buat buka situs”porno ya bisa haram tapi klw di pakai buka situs yg berbau agama ya halal…jadi halal haram tergantung di pake untuk apa….

  28. ilaw65

    ass poro sufi,nderek urun rembug njih,stuju dgn wali batu kapal,tergantung difngsikn u/apa,jk u/- y dosa,jk u/+ y ga.

  29. ilaw65

    ass pr sufi,mnurut sy kyk’y lbh pas jk mslh ini mslh dosa dan phlaa,spt pndpt wali batu kapal diatas,jd ga prl fatwa2an

  30. gretongan

    hmmm…, , mending slamet dewe^ wae yo,, drpd pusing mikirin halal harom,, mf jd guyon, lantaran jaman wis ahir,hhee

  31. ??? (dak melu kabeh) 🙂

  32. mahesa djenar

    assalamualaikum sedulor wong alus sedoyo …hormat saya aturaken
    saya berfikir internet atau facebook atau apa saja lah itu halal” saja tergantung si pemakai sampai ke mana mempergunakannya.
    alhamdulillah dgn internet apalagi setelah membaca sebagian besar blok dri KWAngen saya entah tidak paham di pengaruhi oleh apa yang pasti setelah membaca blok ini keimanan saya sedikit demi sedikit kembali mengingat siapa yang mencipatakan seluruh alam ini(allah S.W.T)
    alhamdulillah terima kasih kepada KWA yg bersedia membeberkan ke esa an allah lewat internet yang katanya haram,
    semoga blok KWA selalu bermanfaat bagi saya khususnya dan khalayak hikmah pada umumnya
    amiennnnnnnnnnnn,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,……………………………..

  33. hehe…mungkin yang bilang haram belum pernah tau kayak apa itu internet dan FB kali yak? hehe

  34. WonG_CirebonTimuR

    Ngapunten BUYUTtt justru menurut saya IniLah tanda ISLAM itu tidak 1/esa. Wong sgitu para alim ulama udah mngadakan rapat,ne wong rapat/musyawarah iku dr kata masukan brbagai asumsi. N q yakin para kyi/ustad sudah mnimbng baik2 kpetusan itu.!! Makanya Liat baca status orang2 di FB dgn seksama Boss,G sdikit dr mreka brhujung prCINTAAn,prCERAIan N keMAKSIATan. Conth..coba anda cermati status FB,G sdikit yg brdoa di FB,mau mandi di kasih tau di branda,apakah smcm nu pants?? Krn apa,pas diliat agamanya Islam bos. Pa lg ne ada yg Upload foto,G sdikit dr prempuan/cw pada ngumbar auratny bos. Maka dr tu mnrt saya bener uga para kyi/ustad mnglwarkan fatwah haramnya.!! Wasslam

  35. setansesat

    opo toh kuwi halal, opo toh kuwi haram ? segala sesuatu yang di haramkan oleh Allah dan Rasulnya maka hukumnya haram sampe kapanpun, segala sesuatu yang di Halalkan oleh Allah dan Rasulnya maka Halal sampai kapanpun, nah FB ada di mana diantara keduanya ?
    sejenak kita melihat perjalanan Guru kita Muhammad al Mustafa SAW, beliau tidak serta mengcounter attack prilaku jahiliyah dengan dikotomi halal-haram
    – Sholat, krn smua orang jahiliah ketika sholat menghadap berhala yg ada di seputar ka’bah, Gusti kanjeng Nabi mengcounternya melakukan sholat dengan menghadap Palistina sampe ada perintah yang lain.
    -Khamar, Gusti Kanjeng Nabi tidak serta memakai dikotomi halal-haram sampe beberapa tahun dr kenabian beliau.
    – kelahiran anak laki/perempuan, mempunyai istri lbh dr satu dan masih banyak lagi yang lainya.
    sekarang kita ke Indonesia,
    Kanjeng Sunan (yach saya tau beliau bukan Nabi jd tdk bs dibuat contoh yg valid tp setidaknya sepak terjang beliau sangat bisa kita rasakan oleh leluhur2 kita sampai dengan kita sekarang ini)
    apakah Kanjeng Sunan tidak tau hadits yang Masyhur dan shohih “barangsiapa yg berprilaku seperti suatu kaum maka dia adalah golongan dr kaum itu”
    Haqqul yaqin kanjeng sunan mengerti banget dengan hadits itu, tp knapa Kanjeng sunan malah berprilaku seperti orang Hindu ? dengan wayangan krn ga ada hadits Rasul yg bercerita tentang Mahabarata krn cerita itu asli made in india, selametan, qurban dg kerbau, grebeg maulud, suroan dlsb
    Rupanya Kanjeng Sunan paham betul dengan Syi’ar ala guru beliau yakni Kanjeng Nabi, Kanjeng Sunan tidak memakai dikotomi halal – Haram, dan kanjeng sunan sadar bahwa dirinya bukan Nabi ataupun Rasul yang akan menurunkan hujjah halal dan haram….maka Kanjeng Sunan memakai cara Rasul yg laen yaitu Mauidhotul khasan, artinya Kanjeng sunan melawan budaya jahiliyah dengan budaya yang sama tapi sudah dimasukin ruh-ruh islam ( banyak yang tau cerita ini jd ga perlu panjang lebar, ntar malah ngalahin TS nya heheheh).
    kembali kepada masalah FB, nah FB ini masalah budaya ato masalah syari’at yg maghdloh ???? klo maslah syar’i, saya sendiri yg pernah ada di pesantren tdk pernah menemukan dalil yg mengatakan hal tersebut (maklum nyatri cuma 15 thn jd ora tutuk ilmune), tp klo FB ini adalah hasil dr kebudayaan, mari kita meghadapinya dengan kebudayaan juga bukan dengan fatwa karena sehebat apapun fatwa selama bkn dr Allah dan Rasul msh bisa di lawan dg fatwa yang lain dan itu sah-sah saja (seperti awal puasa dan akhir puasa yg ga selesai2 sampe sekarang itu lho kang ), mari kita berFB dg cara islamiy, lha FB itu seperti Mall klo kita ke mall hanya ngeliatin paha si amoy tentu saja Haram mu’akad, bisa haram dong datang ke Mall.
    sekali lagi tulisan ini bukan serta merta mengatakan FB halal ato haram tapi mari kita berIslam dengan cara islamiy…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: