METAFISIKA WAHDATUL WUJUD


PROBLEM seputar masalah YANG ADA merupakan problem yang berat. Artikel ini bersandar pada teori YANG ADA dari khasanah Metafisika Islam yaitu Mulla Sadra. Meskipun pendek, diharapkan agar bisa menjadi titik pijak untuk memahami metafisika KESATUAN TUHAN atau WAHDATUL WUJUD yang terkenal dengan tokoh-tokoh sufinya seperti Al Hallaj maupun Syeh Siti Jenar.

Dasar dari Filsafat adalah Metafisika. Metafisika dibagi menjadi METAFISIKA UMUM disebut dengan ONTOLOGI, dan METAFISIKA KHUSUS yang terdiri dari KOSMOLOGI, FILSAFAT MANUSIA atau ANTROPOLOGI METAFISIK dan FILSAFAT KETUHANAN atau TEODICEA.

Di antara tema-tema METAFISIKA UMUM yang paling banyak melahirkan kontroversi adalah problema YANG ADA. Sebab hakikatnya terasa ribet dan ruwet. Hal ini lantaran YANG ADA merupakan sesuatu yang repot bila didefinisikan, mengingat untuk mendefinisikan suatu objek, kita butuh sesuatu yang lain yang lebih jelas dari objek itu sendiri. Sementara YANG ADA itu adalah obyek sekaligus juga subyek karena kita ada didalam YANG ADA.

Menurut para filsuf, konsepsi YANG ADA sedemikian terangnya, sehingga ia persis menyerupai matahari. Dan karena sedemikian terangnya, ia tak mungkin bisa dilihat manusia. Demikianlah YANG ADA. Begitu jelasnya YANG ADA, maka ia tak mungkin bisa didefinisikan lewat genus dan diferensia, yang secara otomatis berarti harus lebih terang ketimbang YANG ADA itu sendiri.

Secara historis, tema YANG ADA menjadi tema fundamental metafisika yang didiskusikan oleh hampir seluruh filsuf klasik sejak Thales di era Yunani Kuno sampai Josiah Royce di era Modern. Namun harus digarisbawahi di sini bahwa mereka masih sekadar menempatkan problematika YANG ADA sebagai bagian dari tema-tema universalitas saja, sama seperti masalah-masalah universalitas yang lain seperti problematika substansi dan aksidensi, unitas dan pluralitas, dan sebagainya.

Sejak kehadiran Mulla sadra, lahirlah mazhab filsafat EKSISTENSIalisme dalam komunitas Muslim. Namun, EKSISTENSIalisme Sadra sangat berbeda dengan mazhab EKSISTENSIalisme seperti Kierkegaard, Jean Paul Sartre, atau Heidegger.

EKSISTENSIalisme Islam adalah sebuah mazhab filsafat metafisis yang murni. Tujuan utamanya adalah ingin mencari tahu dan bahkan ingin sampai kepada YANG ADA SEBAGAIMANA YANG ADA yang sebenarnya (the Ultimate Reality). Dengan demikian, nuansa metafisika YANG ADA dalam Islam lebih bersifat teistik bahkan sufistik; sementara aliran filsafat EKSISTENSIalisme barat sebagiannya condong pada ATEISME.

Untuk bisa memahami metafisika YANG ADA, ada baiknya kita batasi pembahasan hanya pada teori Mulla Sadra tentang YANG ADA. Konsep Sadra berdiri di atas tiga prinsip dasar yang sangat fundamental. Dengan memahami ketiga prinsip ini, diharapkan kita akan dengan mudah memahami teori-teori filsafatnya yang lain, baik yang berkaitan dengan kosmologi, epistimologi, dan bahkan teologinya. Ketiga prinsip tersebut adalah sebagai berikut: WAHDATUL WUJUD (KESATUAN YANG ADA), TASYKIKUL WUJUD dan ASALATUL WUJUD. Kita akan mengelaborasi ketiga prinsip ini secara sederhana.

Secara historis, teori WAHDATUL WUJUD pada mulanya adalah teori yang disusun Ibnu Arabi. Ia lebih bernuansa sufistik ketimbang filsafat. Banyak penafsiran telah diberikan tentang teori ini, dari yang sangat ekstrem sampai moderat. Mungkin yang paling ekstrem adalah Ibnu Sab’in yang menyatakan bahwa hanya TUHAN YANG EKSIS sementara selain Tuhan tak ada yang eksis. Ada lagi yang ekstrem yang menyatakan bahwa SELURUH YANG BERWUJUD SELAIN TUHAN HANYALAH TAJALLIYAT (MANIFESTASI) DARI ASMA’ DAN SIFAT-SIFAT TUHAN.

Namun Sadra melihat bahwa YANG ADA SEBAGAI YANG ADA meskipun SATU, namun ia memiliki intensitas yang membentang dari yang nama YANG ADA. Sifat YANG ADA-nya TUHAN MUTLAK, sementara yang ada lain hanya bersifat YANG ADA DALAM KEMUNGKINAN. Ia persis seperti matahari dan sinarnya. Matahari tentu berbeda dengan sinarnya. Namun dalam masa yang sama, sinar matahari tiada lain adalah matahari itu sendiri. YANG HARUS ADA berbeda dengan YANG MUNGKIN ADA.

Teori WAHDATUL WUJUD sebagai teori tentang YANG ADA menekankan pada KESATUAN YANG ADA yang hadir pada segala sesuatu. Tuhan MEMILIKI SIFAT YANG ADA, begitu juga dengan manusia, benda-benda mati. Apakah YANG ADA setiap satu dari mereka sifatnya berdiri sendiri (self-subsistence) atau justru ADA KARENA ADANYA YANG LAIN. Lalu kalau pilihannya adalah yang kedua, apa beda antara YANG ADA-NYA TUHAN dengan YANG ADA selainnya? Lalu bagaimana mungkin kita bisa membayangkan bahwa YANG ADA itu SATU, sementara di dunia YANG ADA kita menemukan entitas-entitas yang sepertinya berdiri sendiri. Lalu berapa jumlah YANG ADA?

Persoalan itu dalam metafisika dikenal dengan istilah problem antara YANG SATU DAN YANG BANYAK. Pertama, ada yang disebut dengan istilah composite existence dimana keberadaan entitas tersebut bergantung pada unsur-unsur pokoknya. Segala sesuatu yang termasuk dalam kategori ini maka YANG ADAnya pasti akan terbatas.

Kedua, the Simple Existent, di mana jenis YANG ADAnya tak pernah bergantung pada unsur-unsur. Karenanya ia tidak pernah terbatas. YANG ADA ini hanya milik TUHAN saja di mana YANG ADANYA merupakan WUJUD-Nya itu sendiri. Simplifikasi jenis YANG ADA TUHAN ini disebut Sadra dengan istilah basitul haqiqah kullu syaiy (bahwa YANG ADA yang bersifat sederhana adalah YANG ADA yang mencakup seluruh entitas yang disebut “sesuatu”.) Karenanya mengikut formula ini, YANG ADA manusia adalah bagian inheren dari YANG ADA TUHAN.

Prinsip WAHDATUL -WUJUD atau KESATUAN YANG ADA dalam filsafat Sadra ini yang melihat KESATUAN YANG ADA terbentang lebar pada segala apa yang disebut sebagai YANG ADA INDIVIDUAL sampai YANG MUNGKIN ADA yang beraneka ragam dan bervariasi, sehingga YANG ADA memiliki sistematisasi.

Menurut aliran filsafat ESENSIALISME, ESENSI tak mengalami perubahan. Yang berubah adalah instansi-instansi partikularnya. Ketika warna putih mengalami intensifikasi warna, itu berarti bahwa warna dahulu hilang dan lahir warna baru yang menggantikannya.

Sadra menolak teori ini. Mereka melihat bahwa suatu ESENSI tidak pernah mengalami perubahan. Suatu ESENSI bisa saja memiliki wilayah intensitas yang tak terbatas. Ketika warna putih mengalami intensifikasi, bukan hanya ke-putih-annya yang tetap, bahkan “putih”nya juga tetap. Jadi semua yang disebut ESENSI memiliki kapabilitas untuk menjadi “more or less”: semua manusia bisa jadi “lebih” atau “kurang” manusia dari manusia lain. “Manusia” dan “kemanusiaan” Muhammad saw lebih sempurna dari manusia dan kemanusiaan kita.

Ini adalah teori “MORE PERFECT AND LESS PERFECT” yang kemudian dimodifikasi oleh Sadra. Pertama, prinsip ambiguitas ini dirubahnya dari ambiguitas ESENSI menjadi ambiguitas dalam EKSISTENSI. Dengan kata lain, yang mengalami graditas bukan ESENSI, tapi justru EKSISTENSInya. Kedua, teori ambiguitas EKSISTENSI ini juga terjadi secara sistematis bukan sekadar ambiguitas. Itu berarti, EKSISTENSI adalah sama bagi seluruh EKSISTENSI, seperti EKSISTENSI Tuhan yang wajib dan makhluk yang mungkin, adalah sama apabila dilihat dari sisi predikat EKSISTENSInya.

Meskipun predikat EKSISTENSI di atas sama namun setiap EKSISTENSI tetap memiliki keunikannya tersendiri yang memisahkannya dari yang lain. Seluruh bentuk EKSISTENSI yang lebih tinggi pasti mengandung bentuk EKSISTENSI yang lebih rendah bahwa EKSISTENSI yang sederhana pasti mencakup secara inheren segala EKSISTENSI yang berada di level bawahnya.

Dengan dasar prinsip di atas KESATUAN YANG ADA terpelihara pada semua EKSISTENSI; namun keragamannya juga terpelihara. Ketika dua prinsip di atas tak terbantahkan secara common sense, maka lahirnya prinsip YANG ADA adalah sesuatu yang aksiomatis. YANG ADA berarti bahwa YANG ADA adalah prinsip dari segala wujud yang ada. Lawan darinya adalah prinsip bahwa YANG ADA sekadar asumsi akal. Perbedaan kedua prinsip ini secara historis telah lahir jauh sebelum munculnya Sadra, seperti yang dapat kita simak dari teori-teori Farabi, Ibnu Sina, bahkan Aristoteles.

Sesuatu memerlukan YANG ADA agar ia bisa eksis. Tanpa YANG ADA, suatu hal tidak akan pernah bisa berEKSISTENSI, suatu YANG ADA tidak akan bisa memperoleh partikularisasinya di dunia YANG ADA. Teori dualitas antara YANG ADA ini kemudian ditolak secara tegas oleh pekikir Islam lain, Suhrawardi. Menurut Suhrawardi, apa yang kita lihat sebagai EKSISTENSI di dunia YANG ADA adalah YANG ADA itu sendiri. Sebab, apabila kita terima teori itu, maka YANG ADA itu sendiri akan memerlukan YANG ADA lain yang bisa memberinya EKSISTENSI; demikianlah seterusnya sehingga ia tak akan berakhir atau mengalami regresi yang infinitum.

Lebih jauh ia mengatakan bahwa suatu YANG ADA yang konkrit tiada lain adalah sebuah fakta bahwa itu adalah YANG ADA itu sendiri. Sehingga kalimat YANG ADA tiada lain kecuali abstraksi akal semata-mata.

Sadra yang EKSISTENSIALIS dan yang berusaha maksimum untuk mensintesiskan kedua aliran ini menolak pendapat Suhrawardi. Baginya yang riil adalah YANG ADA, sementara ESENSI adalah abstraksi mental semata-mata. YANG ADA bukan hanya lebih prinsipiil atau sekadar fondasi bagi seluruh YANG ADA, namun ia adalah YANG ADA itu sendiri. Sebab sifat YANG ADA yang paling fundamental yakni SEDERHANA dan berkarakter MENYEBAR ke dalam seluruh celah-celah apa yang disebut sebagai EKSISTENSI.

Dan EKSISTENSI yang ada di hadapan kita tidak lebih pembatasan-pembatasan yang mempartikulasikan bentangan YANG ADA itu sendiri. Ketika kita melihat di dunia YANG ADA ini ADA, misalnya, kursi, meja, si Amir, kuda, dan sebagainya, maka entitas-entitas itu “membelah” dari bentangan YANG ADA.

Akhirnya, secara teologis, konsep YANG ADA dari Mulla Sadra di atas mengajak kita memahami makna the ULTIMATE REALITY di mana ADA-NYA TUHAN memiliki sifat partikular juga menyatu dalam maknanya yang sangat unik. Meskipun WAHDATUL WUJUD atau YANG ADA ITU MENYATU namun tidak terjebak pada teori PANTEISME, karena YANG ADA entitas-entitas selain-Nya juga tetap terpelihara. Itulah yang dimaksudkan firman Allah “AKU LEBIH DEKAT DENGANMU DARIPADA DIRIMU SENDIRI.”

Wong Alus

Categories: METAFISIKA WAHDATUL WUJUD | Tag: , , , , , | 16 Komentar

Navigasi pos

16 thoughts on “METAFISIKA WAHDATUL WUJUD

  1. Matur nuwun Ki..tulisan di atas menggugah telah kesadaran saya:

    Manusia yang berbalut nafsu (nuruti rahsaning karep) sesungguhnya masih menjadi YANG ADA INDIVIDUAL, belum menjadi MANUSIA ESENSIAL yang kekal abadi dan “tan owah gingsir”. Alias manusia jasad, alias bangkai gentayangan. Agara manusia menjadi sejatinya manusia yang hiduap dan bukan sekedar bangkai, maka harus beranjak dari YANG ADA INDIVIDUAL menjadi KESATUAN YANG ADA (wahdatul wujud). Namun demikian untuk menjadi wahdatul wujud tidak serta merta bagai membalikkan tangan, mengubah pola pikir (mind set) dan sekedar kenyang SYARIAT saja. Ada beberapa tahap yg harus dilalui manusia meraih jati diri sebagai KESATUAN YANG ADA (insan kamil mukamil).

    Untuk itu, ilmu pengetahuan pertama-tama menunjukkan kita kepada Tuhan, pertama dengan wacana, kemudian kedua dengan tindakan amaliah (perbuatan konkrit), yang kelak menyambungkan (WUSHUL) kita kepada Hyang Widhi. Wushul tersebut tidak akan pernah tergapai kecuali dengan ILMU dan ZUHUD di dunia, dalam setiap tindakan berpaling dari dunia lahir batin (NURUTI KAREPING RAHSA).

    Tuhan Yang Ada, inipun masih menyisakan pertanyaan lagi :
    Apakah benar tuhan itu satu. Jangan jangan bukan satu, JUGA TIDAKLAH BANYAK. Sebab satu dan banyak adalah keterbatasan. Sedangkan pengandaian Tuhan maha luas tiada terbatas, berati menimbulkan bias bahwa Tuhan tak bisa dihitung. Bukan satu maupun banyak.
    namun Tuhan tetaplah Yang ADA, namun apakah tidak bisa dihitung ?

    Dan kini aku hanya bisa membayangkan bahwa TUHAN itu bagaikan “benda jamak” yang tunggal namun tak bisa dihitung. Seperti menghitung jumlah air, cahaya, dan udara.
    Pripun menika Ki….setiap kali sudah akan paham eksistensi tuhan, saya malah semakin bingung…

    salam asih asah asuh

  2. kangBoed

    hidup ini adalah bukti dan saksi adanya TUHAN.. dalam setiap tarikan nafas keluar masuknya meliputi dari bangun tidut.. tidur.. sampai bangun.. itulah Buktinya HIDUP dan yang berjalan adalah ilmu… sehingga yang dalam setiap tarikan nafasnya ingat.. ingat akan DIA.. Sang Maha Hidup.. maka ia akan berjalan bukan dengan ia lagi karena setiap langkahnya sudah diliputi.. oleh ILMU yang HIDUP dari Sang Pemilik ILMU.. hmm.. maaf mas.. wong alus.. nyambung gak yaaaa.. sorry yaaa kalau OOT… :mrgreen:
    sehingga jadilah manusia manusia yang berbudi pekerti yang luhur.. hidup dalam kesadaran sejati.. memayu hayuni bawono..
    Salam Sayang
    Salam Taklim
    Salam Hormat

  3. Buat mas Kang Boed, terima kasih. Kehadiran panjenengan saja, sudah mampu membuat Tuhan tersenyum….. apalagi pernyataan panjenengan adalah puja puji untuk-Nya yang ngademke ati, ….. sekali lagi terima kasih.

    Ehm Ki sabda, nek panjenengan bingung nopo maneh kulo??? Ternyata, dari hal yang paling sederhana dan terkesan sangat gampang yaitu soal YANG ADA ini pun kita termehek-mehek untuk mengetahui hakikatnya. Apalagi soal soal besar seperti soal pemilihan presiden, konspirasi pembunuhan di KPK, etika beragama, konflik sosial dan seterusnya-dan seterusnya, saya dan barangkali semuanya juga merasakan hal yang sama: KETIDAKTAHUAN.

    Tapi karena KETIDAKTAHUAN-LAH akhirnya kita menjadi RAGU-RAGU dan kemudian BERTANYA, dan kemudian yang terjadi adalah menyimpulkan JAWABAN atas makna selanjut-lanjutnya. JAWABAN akan terus berproses seiring dengan penghayatan kita akan pergelaran alam yang misterius ini.

    Baiklah, pertama bahwa YANG ADA INDIVIDUAL sejatinya berada pada taraf ego murni dan berkesadaran rendah. Dia belum mentransendensikan diri ke dalam aras yang lebih luas. Dia belum mampu mengangkat diri dari naluri, insting dan nafsu untuk membela diri. Dia masih pasif, imanen dan belum bisa dikatakan sebagai PENGADA. Sebab PENGADA selalu aktif untuk mencari jawaban, menyempurnakan kehidupan dan akhirnya mendapatkan KESIMPULAN. Yang termasuk dalam taraf PENGADA ini hanya manusia yang berderajat INSAN KAMIL: sadar nilai, sadar hakekat, dan sadar bahwa ego itu sesungguhnya akan menghantarkannya untuk menjadi iblis. Binatang, pohon, malaikat, dan seonggok batu nilainya nilainya sama. Makhluk atau YANG ADA INDIVIDUAL yang manut.

    Kebanyakan manusia belum jadi PENGADA yang sesungguhnya. Dia masih sebatas jadi YANG ADA. Pasif, reaksioner dan absurd. Apalagi sampai ke taraf WAHDATUL WUJUD. Lebur ke AKU-NYA TUHAN. Jauh sekali…. Tangga untuk menuju ke sana, sebagaimana yang panjenengan sampaikan: Ilmu dan Amal. Zuhd, Wara, Qauf dan lain-lain adalah nilai-nilai pegangan dalam mengAMAL kan apa yang kita ketahui. Memindahkan duri dari jalan umum, tidak merokok di depan ibu hamil, mengentaskan kemiskinan.

    Terakhir mengenai Jumlah YANG MAHA PENGADA, pertanyaan ini sesungguhnya khas pertanyaan AKAL BUDI karena telah berusaha mensintesakan data inderawi dan sumbangan dari kategori-kategori. Akal budi menghubungkan konsep sehingga menjadi pernyataan-pernyataan dan kemudian kesimpulan. Kesimpulan bahwa Tuhan hanya satu, atau banyak saya kira tidak perlu disimpulkan lagi. Apalagi bila kita akhirnya sadar bahwa Tuhan seperti bilangan yang tidak berhingga banyaknya. Yang karena saking banyaknya sehingga kita tidak mampu mengadakan pembatasan lagi. Tuhan kok dibatasi dengan aksidensia jumlah.

    Ki Sabda, pripun meniko?

    Sehingga pada titik tertentu saya harus menghentikan aktivitas metafisis ini dan menjadi bilangan nol dengan hanya PERCAYA TANPA DASAR. Ya, hanya percaya saja bahwa Tuhan Hanya Satu, tanpa dasar rasio yang mendukung. Terkadang saya ngedem pikiran saya sendiri dengan merevolusi cara BERPIKIR. Kenapa aku harus mengarahkan PENGETAHUAN pada OBYEK? Apakah LAYAK Tuhan dijadikan OBYEK? Bila Tuhan bukan obyek dan DIA ADA DALAM DIRINYA SENDIRI, lantas bagaimana DIA BISA DIKENALI manusia? Sehingga jelas tanpa adanya aku obyek-obyek itu tetap diamati oleh AKU-NYA TUHAN. Biarlah TUHAN saja yang mengarahkan diri-NYA untuk KITA. Bukankah selama ini DIA adalah YANG MAHA PENGERTIAN dan manusia hanyalah berkubang dalam lumpur ketololan untuk menjadikannya OBYEK pelarian manusia, menjadikan TUHAN sebagai keranjang sampah masalah manusia?

    Ngapunten, atas jawaban yang tidak memuaskan ini. Saya yang harusnya bertanya…

    Salam asah asih dan asuh

  4. wah tulisannya dalam sekali dan filsafat tingkat tinggi, kalau saya boleh menambahkan , jika kita masih menjadikan Tuhan sebagai obyek sesembahan kita, maka kita akan sulit memahami yg maha ada, tuhan itu memang satu tapi kekuasaannya meliputi semuanya, semestinya tuhan adalah subyek sesembahan kita bukan obyek, kita ini sebenarnya hanya ilusi atau tidak ada, yg ada hanya yg berkata, siapa yg berkata? ingkang jumeneng klawan pribadi, kalau kita menjadikan tuhan sebagai obyek, maka kita telah meng engkau kan tuhan, tapi pada tahap2 awal kita menyembah tuhan memang menjadikan tuhan sebagai obyek, tapi bila sudah sampai pada tahap makrifat maka menjadi berbalik, kita hanya obyek kuasa tuhan, dalam hal ini diri kita sudah kalenggahan tuhan, maka orang itu menjadi khalifatullah sejati

  5. MAS M4STONO, penjelasan panjenengan semakin melengkapi dan meneruskan logika bahwa Tuhan tidak layak dijadikan obyek. Namun, juga terlalu takabur kalau dikatakan bahwa aku adalah Tuhan karena nanti bisa jadi Fir’aun. Bila dikatakan ANA AL HAQ, kami rasa ini adalah bahasa qalbu saja, bukan bahasa logika karena nanti bisa jadi tidak masuk akal.

    Sebagai contoh bila kita mengandalkan LOGIKA untuk menakar Tuhan….Wacana metafisik yang saya pahami -paling tidak- hanya ada dua konsep yang bisa terjadi: Kesatuan Wujud (the Unity of Being) dan Degradasi atau Pancaran. Kesatuan itu adalah teori Wahdatul Wujud dari Ibn Arabi dan Hussein Ibn Mansyur Al-Hallaj, termasuk juga Alhikmah Mutha’aliyyah dari Mulla Sadra. Kemudian degradasi atau pancaran adalah teori Isyraqi dari Suhrawardi dan “Idealisme” Plato.

    Oleh karena itu dalam pemahaman epistemologi kesatuan, yang saya pahami; kanan-kiri, baik-buruk, makhluk-Tuhan adalah sebuah keterpisahan. Makhluk disebut makhluk karena terpisah dari Tuhan. Demikian juga Tuhan disebut Tuhan karena keterpisahan dari makhluk.

    Sedangkan pemahaman epistemologi degradasi atau pancaran adalah sebuah kekurangan atau ketiadaan. Makhluk disebut makhluk karena ketiadaan atau kekurangan Tuhan, demikian juga Tuhan disebut Tuhan karena ketiadaan/kekurangan makhluk?

    Makhluk pun disebut makhluk karena keterpisahan/ketiadaan/kekurangan dari ketuhanan. Sebaliknya Tuhan disebut Tuhan karena keterpisahan/kekurangan/ketiadaan ke-makhlukan-an.
    Jadi Tuhan dan makhluk bukanlah sesuatu yang dikotomi (saling bertentangan), melainkan lebih pada adanya unsur yang kurang/tiada. Apakah demikian?

    Ngapunten bila logika saya semakin parah sehingga butuh berbagi kebingungan..

    Salam karaharjan

  6. Maha Suci Allah yang menciptakan sesuatu dan Dia lah segala sesuatu tadi.Sesungguhnya penampakanNya tiada lain Dia juga, yang tampil adalah Dia juga.Wujud Dia dalam kesendirian.Selain Allah batil………Butuh perjalanan laku,mengenali keanehan diri untuk direnungi,diteliti,ditafakuri………..

  7. salamat aw

    ketika perenungan sampai pada puncaknya tentang Tuhan, maka Dia tidak lagi sebagai objek untuk disembah tapi juga sebagai subjek. katakanlah yang mencari adalah yang dicari. seluruh alam ini hakekatnya adalah wujud-Nya, maka Ia ada dimana-mana. seluruh alam ciptaan-Nya adalah hal baru, dari tidak ada/kosong menjadi ada/isi karena kehendak-Nya. hal ini sudah dirumuskan secara logika matematis dengan adanya himpunan kosong sebagai jiwa setiap bilangan yang dapat dianalogikan bahwa setiap ciptaan yang ada berasal dari yang kosong. mau seperti apa wujud ciptaan-Nya tergantung pada kehendak-Nya. dalam teori fisika tentang asal mula alam raya ini juga dirumuskan bahwa asal mula alam ini diawali oleh ledakan maha dahsyat/big bang dari suatu benda yang sangat padat dengan volume kosong, tentu saja benda yang semacam itu tidak ada. pemahaman ini menunjukkan bahwa Tuhan maha segalanya dan itu sudah dikenal dalam islam dengan asmaul husna. Tuhan sudah pasti ada, kita paham bahwa ada dan tidak ada adalah suatu keadaan, maka sebelum yang tidak ada itu ada tentu hanya Dia yang ada. sbg manusia kita harus bersyukur krn dibekali Dia akal pikir. mohon diluruskan bila perenungan ini tidak pada tempatnya.

  8. Kangdudung

    Ass.. sedulur kabeh,
    Penjelasan kisanak semua sungguh luar biasa, saya nggak bisa berkata apa2, karena memang bahasannya adalah sesuatu yang berada diluar kata2. Penjabaran apapun ttg yang ada akhirnya hanyalah reduksi terhadap yang ada sebenarnya.
    Saya hanya bisa menanmbahkan, bahwa Yang Wujud sebenarnya hanya satu, yang Maujud-lah yang banyak. Yang Maujud banyaknya sesuai dengan gradasi kedekatannnya ke sumber Yang Ada.
    Maujudnya lampu, setrika, kulkas, tv dan lainnya hanyalah gradasi lebih rendah dari maujudnya listrik yang ada di rumah. Maujudnya listrik dirumah2 merupakan gradasi lebih rendah dari maujudnya listrik yang ada di PLN. Maujudnya listrik di gardu2 PLN hanyalah gradasi lebih rendah dari energi listrik yang ada di pusat pembangkit listrik. Maujudnya energi listrik yang ada di pembangkit listrik gradasi lebih rendah dari Wujud gerakan Air yang esensinya berbeda dengan listrik. Jadi yang Ada sebenarnya Air, sementara listrik hanyalah hanyalah maujudat dari Air.
    Mudah2an nyambung…..
    Wassalam….

  9. Yth Kang Dudung. Hatur tengkyu sebanyak-banyaknya. Tambahan Anda semakin melengkapi pemahaman tentang metafisika kesatuan ini. Nuwun kang, ditunggu pencerahannya untuk kita yang awam ini. Salam.

  10. wong surou

    Aslmwlkm,mejuah2 kt kerina. M’f kang wongalus.yg ada itu diumpamakan seperti matahari dg sinarnya,artinya tdk ada yg smpi kpd matahari itu klu bkn matahari itu sendiri.

  11. gendero jowo

    maaf ki wong alus.yg pernah saya tahu klo tuhan itu kang purbo amesiso wicaksono yg bahasa kerennya ” sak karepmu ”.

  12. Makasih atas pencerahannya

  13. Hmmm…. seperti ikan yang mencari sumber air , ndak bakal ketemu

  14. JAMA’AH KALIMAH RAHASIA KAYA MENDADAK

  15. santri kuburan

    nyimak

  16. nyimak gan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: