Daily Archives: 28 Mei 2009

JAUH TAK TERGAPAI



“(You Want To) Make A Memory”

Hello again, it’s you and me
Kinda always like it used to be
Sippin’ wine, killing time
Trying to solve life’s mysteries.
How’s your life, it’s been a while
God it’s good to see you smile
I see you reaching for your keys
Looking for a reason not to leave.If you don’t know if you should stay
If you don’t say what’s on your mind
Baby just, breathe there’s no where else tonight we should be-
You wanna make a memory.

I dug up this old photograph
Look at all that hair we had
It’s bittersweet to hear you laugh
Your phone is ringing, I don’t wanna ask.

If you go now, I’ll understand
If you stay, hey, I got a plan
You wanna make a memory
You wanna steal a piece of time
You could sing a melody to me
And I could write a couple lines
You wanna make a memory.

If you don’t know if you should stay
And you don’t say what’s on your mind
Baby just, breathe there’s no where else tonight we should be-
You wanna make a memory
You wanna steal a piece of time
You could sing a melody to me
And I could write a couple lines
You wanna make a memory
You wanna make a memory

Lirik lagu Bon Jovi ini bagi saya sungguh menyentuh. Melayangkan angan pada Sang Kekasih Abadi Sepanjang Masa. Saya yakin Dia Sangat Dekat. Lebih dekat dari rasa dekat. Tapi terkadang Engkau terasa jauh dan tidak tergapai….

Kekasih, kenapa Engkau masih  ijinkan aku merindukan Mu?

Wong Alus

Categories: PUISI & PROSA | 1 Komentar

APA YANG SALAH DENGAN AL HALLAJ?


Saya sungguh lama berpikir tentang kenapa orang hebat dan zuhud seperti Al Hallaj harus tewas di tangan penguasa Islam? Bukankah Al Hallaj, adalah dia yang rindu akan perjumpaan dengan Tuhan sehingga ungkapan kerinduan itu tidak bisa dibenar salahkan? Sebagaimana orang yang jatuh cinta kemudian menulis puisi? Inilah sedikit pernyataan-Pernyataan Al-Hallaj :

Allah menghijab mereka dengan Nama, lantas mereka pun menjadi hidup. Seandainya Dia menampakkan Ilmu Qudrat pada mereka, mereka akan hangus. Seandainya hijab hakikat itu disingkapkan niscaya mereka mati semua.

Tuhanku, Engkau tahu kelemahanku jauh dari rasa bersyukur kepadaMu, karena itu bersykurlah pada DiriMu bukan dariku, karena itulah sesungguhnya Sukur, bukan yang lain.

Siapa yang mengandalkan amalnya ia akan tertutupi dari yang menerima amal. Siapa yang mengandalkan Allah yang menerima amal, maka ia akan tertutupi dari amal.

Asma-asma Allah Ta’ala dari segi pemahaman adalah Nama ansich, tapi dari segi kebenaran adalah hakikat.

Bisikan Allah adalah bisikan yang sama sekali tidak mengandung kontra.

Suatu ketika Al-Hallaj ditanya tentang al-Murid, “Ia adalah orang yang dilemparkan menuju kepada Allah, dan tidak akan berhenti naik sampai ketika ia sampai.”

Sama sekali tidak diperbolehkan orang yang mengenal Allah Yang Maha Tunggal atau mengingat Yang Maha Tunggal, lalu ia mengatakan, “Aku mengenal Al-Ahad” padahal ia masih melihat individu-individu lainnya.

Siapa yang dimabukkan oleh cahaya-cahaya Tauhid, ia akan tertupi dari ungkapan-ungkapan Tajrid (menyendiri bersama Allah). Bahkan, siapa yang dimabukkan oleh cahaya-cayaha Tajrid, ia akan bicara dengan hakikat Tauhid, karenakemabukan itulah yang bicara dengan segala hal yang tersembunyi.

Siapa yang menempuh kebenaran dengan cahaya Iman, maka ia seperti pencari matahari dengan cahaya bintang gemintang.

Ketika Allah mewujudkan jasad tanpa sebab, demikian pula Allah mewujudkan sifat jasad itu tanpa sebab, sebagaimana hamba tidak memiliki asal usul pekerjaannya, maka, hamba itu pun tidak memiliki pekerjaannya.

Sesungguhnya Allah Ta’ala, Maha Pemberi Berkah dan Maha Luhur, serta Maha Terpuji, adalah Dzat Yang Esa, Berdiri dengan DiriNya Sendiri, Sendiri dari yang lain dengan Sifat QidamNya, tersendiri dari yang lainNya dengan KetuhananNya, tidak dicampuri oleh apa pun dan tidak didampingi apa pun, tidak diliputi tempat, tidak pula di temukan waktu, tidak mampu difikirkan dan tidak bisa tercetus dalam imajinasi, tidak pula bisa dilihat pandangan, tidak bisa darusi kesenjangan.

Akulah Al-Haq, dan Al-Haq (Allah) Benar, Mengenakan DzatNya, di sana tak ada lagi perbedaan.

Ketika ditanya tentang Tauhid,ia menjawab, “Memisahkan yang baru dengan Yang Maha Dahulu, lalu berpaling dari yang baru dan menghadap kepada Yang Maha Dahulu, dan itulah hamparan Tauhid. Sedangkan substansinya.

SEJARAHNYA
Abad ketiga hijriyah merupakan abad yang paling monumental dalam sejarah teologi dan tasawuf. Lantaran, pada abad itu cahaya Sufi benar-benar bersinar terang. Para Sufi seperti Sari as-Saqathy, Al-Harits al-Muhasiby, Ma’ruf al-Karkhy, Abul Qasim al-Junaid al-Baghdady, Sahl bin Abdullah at-Tustary, Ibrahim al-Khawwash, Al-Husain bin Manshur al-Hallaj, Abu Bakr asy-Syibly dan ratusan Sufi lainya.

Di tengah pergolakan intelektual, filsafat, politik dan peradaban Islam ketika itu, tiba-tiba muncul sosok agung yang dinilai sangat kontroversial oleh kalangan fuqaha’, politisi dan kalangan Islam formal ketika itu. Bahkan sebagian kaum Sufi pun ada yang kontra. Yaitu sosok Al-Husain bin Mansur Al-Hallaj. Sosok yang kelak berpengaruh dalam peradaban teosofia Islam, sekaligus menjadi watak misterius dalam sejarah Tasawuf Islam.

Nama lengkapnya adalah al-Husain bin Mansur, populer dipanggil dengan Abul Mughits, berasal dari penduduk Baidha’ Persia, lalu berkembang dewasa di Wasith dan Irak. Menurut catatan As-Sulamy, Al-Hallaj pernah berguru pada Al-Junaid al-Baghdady, Abul Husain an-Nury, Amr al-Makky, Abu Bakr al-Fuwathy dan guru-guru lainnya. Walau pun ia ditolak oleh sejumlah Sufi, namun ia diterima oleh para Sufi besar lainnya seperti Abul Abbad bin Atha’, Abu Abdullah Muhammad Khafif, Abul Qasim Al-Junaid, Ibrahim Nashru Abadzy. Mereka memuji dan membenarkan Al-Hallaj, bahkan mereka banyak mengisahkan dan memasukkannya sebagai golongan ahli hakikat. Bahkan Muhammad bin Khafif berkomentar, “Al-Husain bin Manshur adalah seorang a’lim Rabbany.”

Pada akhir hayatnya yang dramatis, Al-Hallaj dibunuh oleh penguasa dzalim ketika itu, di dekat gerbang Ath-Thaq, pada hari Selasa di bulan Dzul Qa’dah tahun 309 H.

Kelak pada perkembangannya, teori-teori Tasawuf yang diungkapkan oleh Al-Hallaj, berkembang lebih jauh, seperti yang dilakukan oleh Ibnu Araby, Al-Jiily, Ibnu Athaillah as-Sakandary, bahkan gurunya sendiri Al-Junaid punya Risalah (semacam Surat-surat Sufi) yang pandangan utuhnya sangat mirip dengan Al-Hallaj. Sayang Risalah tersebut tidak terpublikasi luas, sehingga, misalnya mazhab Sufi Al-Junaid tidak difahami secara komprehensif pula. Menurut Prof Dr. KH Said Aqiel Sirraj, “Kalau orang membaca Rasailul Junaid, pasti orang akan faham tentang pandangan Al-Hallaj.”

Pandangan Al-Hallaj banyak dikafirkan oleh para Fuqaha’ yang biasanya hanya bicara soal halal dan haram. Sementara beberapa kalangan juga menilai, kesalahan Al-Hallaj, karena ia telah membuka rahasia Tuhan, yang seharusnya ditutupi. Kalimatnya yang sangat terkenal hingga saat ini, adalah “Ana al-Haq”, yang berarti, “Akulah Allah”.

Tentu, pandangan demikian menjadi heboh. Apalagi jika ungkapan tersebut dipahami secara sepintas belaka, atau bahkan tidak dipahami sama sekali.

Para teolog, khususnya Ibnu Taymiyah tentu mengkafirkan Al-Hallaj, dan termasuk juga mengkafirkan Ibnu Araby, dengan tuduhan keduanya adalah penganut Wahdatul Wujud atau pantheisme.

Padahal dalam seluruh pandangan Al-Hallaj tak satu pun kata atau kalimat yang menggunakan Wahdatul Wujud (kesatuan wujud antara hamba dengan Khaliq). Wahdatul Wujud atau yang disebut pantheisme hanyalah penafsiran keliru secara filosufis atas wacana-wacana Al-Hallaj. Bahkan yang lebih benar adalah Wahdatusy Syuhud (Kesatuan Penyaksian). Sebab yang manunggal itu adalah penyaksiannya, bukan DzatNya dengan dzat makhluk.Para pengkritik yang kontra Al-Hallaj, menurut Kiai Abdul Ghafur, Sufi kontemporer dewasa ini, melihat hakikat hanya dari luar saja. Sedangkan Al-Hallaj melihatnya dari dalam.

Sebagaimana Al-Ghazali melihat sebuah bangunan dari dalam dan dari luar, lalu menjelaskan isi dan bentuk bangunan itu kepada publik, sementara Ibnu Rusydi melihat bangunan hanya bentuk luarnya saja, dan menjelaskannya kepada publik pula. Tentu jauh berbeda kesimpulan Al-Ghazali dan Ibnu Rusydi.

Setidak-tidaknya ada tiga kelomp0k besar dari kalangan Ulama, baik fuqaha’ maupun Sufi terhadap pandangan-pandangan Al-Hallaj ini. Mereka ada yang langsung kontra dan mengkafirkan; ada pula yang secara moderat tidak berkomentar; dan ada yang langsung menerima dan mendukungnya. Menurut penelitian Dr. Abdul Qadir Mahmud, dalam bukunya Al-Falsafatush Shufiyah fil Islam, mengatakan:

Mereka yang mngkafirkannya, antara lain adalah para Fuqaha’ formalis, dan kalangan mazhab Dzahiriyah, seperti Ibnu dawud dan Ibnu Hazm. Sedangkan dari kalangan Syi’ah Imamiyah antara lain Ibnu Babaweih al-Qummy, ath-Thusy dan al-Hilly. Dari kalangan mazhab Maliki antara lain Ath-Tharthusy, Iyyadh, Ibnu Khaldun. Dari kalangan mazhab Hanbaly antara lain Inu Taymiyah. Dan kalangan Syafi’iyah antara lain Al-Juwainy dan ad-Dzahaby.

Sementara itu dari kalangan Mutakallimin yang mengkafirkan: Al-Jubba’i dan al-Qazwiny (Mu’tazilah); Nashiruddin ath-Thusy dan pengukutnya (Imamiyah); Al-Baqillany (Asy’ariyah); Ibnu Kamal dan al-Qaaly (Maturidiyah). Dari kalangan Sufi antara lain, Amr al-Makky dan kalangan Salaf, diantaranya juga para Sufi mutakhir, selain Ahmad ar-Rifai’y dan Abdul Karim al-Jily, keduanya tidak berkomentar.

Mereka yang mendukung pandangan Al-Hallaj, dari kalangan Fuqaha’ antara lain: At-Tusytary dan Al-Amily (Imamiyah); Ad-Dilnajawy (Malikiyah); Ibnu Maqil dan an-Nabulisy (Hambaliyah),; Al-Maqdisy, Al-Yafi’y, Asy-Sya’rany dan Al-Bahtimy (Syafi’iyah). Dari kalangan Mutakallimin, Ibnu Khafif, Al-Ghazaly dan Ar-Razy (kalangan Asy’ary) serta kalangan Mutakallim Salaf.

Dari kalangan Filsuf pendukungnya adalah Ibnu Thufail. Sedangkan dari kalangan Sufi antara lain asSuhrawardy al-Maqtul, Ibnu Atha’ as=Sulamy dan Al-Kalabadzy. Kelompok yang tidak berkomentar, dari kalangan Fuqaha’ antara lain: Ibnu Bahlul (Hambaliyah), Ibnu Suraij, Ibnu Hajar dan As-Suyuthy (Syafi’iyah). Dari kalangan Sufi antara lain, Al-Hushry, Al-Hujwiry, Abu Sa’id al-Harawy, Al-Jilany, Al-Baqly, Al-Aththar, Ibnu Araby, Jalaluddin ar-Ruumy, Ahmad Ar-Rifa’y, dan Al-Jiily.

Kontroversi Al-Hallaj, sebenarnya terletak dari sejumlah ungkapan-ungkapannya yang sangat rahasia dan dalam, yang tidak bisa ditangkap secara substansial oleh mereka, khususnya para Fuqaha’ (ahli syariat). Sehingga Al-Hallaj dituduh anti syari’at, lalu ia harus disalib. Padahal tujuan utama Al-Hallaj adalah bicara soal hakikat kehambaan dan Ketuhanan secara lebih transparan.

Tudingan bahwa Al-Hallaj penganut Wahdatul Wujud semata juga karena tidak memahami wahana puncak-puncak ruhani Al-Hallaj sebagaimana dialami oleh para Sufi. Banyak sekali wacana Tasawuf yang mirip dengan Al-Hallaj. Dan Al-Hallaj tidak pernah mengaku bahwa dirinya adalah Allah sebagaimana pengakuan Fir’aun dirinya adalah Tuhan. Dalam sejumlah wacananya, Al-Hallaj senantiasa menyatakan dirinya adalah seorang hamba yang hina dan fakir. Apa yang ditampakkan oleh Al-Hallaj adalah situasi dimana wahana ruhaninya menjadi dominan, sehingga kesadarannya hilang, sebagaimana mereka yang sedang jatuh cinta di puncaknya, atau mereka yang sedang terkejut dalam waktu yang lama.

Toh Al-Hallaj tetap berpijak pada pandangan Al-Fana’, Fana’ul Fana’ dan al-Baqa’, sebagaimana dalam wacana-wacana Sufi lainnya. Al-Hallaj juga tidak pernah mengajak ummat untuk melakukan tindakan Hulul. Sebab apa yang dikatakan semuanya merupakan Penyaksian kepada Allah atau sebagai etiuk murni dari seorang Sufi yang sangat dalam.

Sejarawan Al-Baghdady mengisahkan tragedi kematian dan peradilannya: “Ketika mereka hendak membunuh Al-Husain bin Mansur Al-Hallaj, para Fuqaha’ dan Ulama dihadirkan, sementara Al-Hallaj diseret di hadapan Sultan. Para dewan kepolisian juga dihadirkan di sisi barat, tepatnya di hari Selasa, bulan Dzul Qa’dah Minggu kedua, TAHUN 309. Ia dicambuk sekitar seribu kali cambukan, lalu kedua kakinya dipotong, menyusul kedua tangannya, lalu lehernya ditebas. Lalu tubuhnya dibakar dengan api.

Kepalanya yang dipenggal itu diangkat, ditunjukkan kepada publik dalam kerangkeng besi, sementara kedua tangan dan kakinya diletakkan di sisi kepalanya. Ketika Al-Hallaj mendekati saat-saat penyaliban, ia membisikkan kata-kata, “Wahai yang menolong kefanaan padaku…tolonglah diriku dalam kefanaan….Tuhanku, Engkau mengasihi orang yang menyakitiMu, maka bagaimana engkau tidak mengasihi orang yang lara dalam DiriMu…Cukuplah yang satu menunggalkan yang satu bagiNya….”. Lalu ia membaca sebuah ayat, “

Sebelum meninggal dengan hukuman tragis itu, Al-Hallaj mengalami hidup dari satu tahanan ke tahanan lainnya, akibat iri dan kedengkian para Fuqaha’ dan para Ulama yang merasa tersaingi oleh pengaruh Al-Hallaj yang mulai meluas. Bisa jadi penguasa sangat terpengaruh pula oleh bahaya massa Al-Hallaj. Kalau toh Al-Hallaj harus dihukum mati dengan disalib, sebagaimana pernah ia ramalkan sendiri, adalah karena ia harus menghadapi ketidakberdayaan kekuasaan. Tetapi sekali lagi, Al-Hallaj adalah penganut amaliyah Syariat yang sangat patuh, yang digambarkan, sebagai sosok yang hafidz Al-Qur’an, tekun sholat sepanjang malam, puasa sepanjang siang, dan melakukan ibadah haji berulang kali. Hukuman mati baginya, sama sekali tidak ada kaitannya dengan legitimasi bahwa dirinya salah dan benar.

Rasanya Tragedi Al-Hallaj menjadi hikmah yang luar biasa dalam perkembangan Tasawuf. Mereka akan mehamami substansi Al-Hallaj, manakala mereka juga menjalankan dan merasakan apa yang dialami oleh Al-Hallaj. Sekadar menvonis Al-Hallaj begini dan begitu, tanpa pernah menghayati substansi terdalam dalam praktek Sufistik, siapa pun akan selalu gagal memahaminya.

Ada ungkapan Sufi yang sangat arif bisa jadi renungan kita bersama untuk sekadar merasakan sedikit dari rasa Al-Hallaj. “Orang yang sedang tenggelam di lautan, tidak akan pernah bisa bicara, bercerita, berkata-kata, tentang tenggelam itu sendiri. Ketika ia sudah mentas dari tenggelam, dan sadar, baru ia bicara tentang kisah rahasia tenggelam tadi. Ketika ia bicara tentang tenggelam itu, posisinya bukan lagi sebagai amaliyah tenggelam, tetapi sekadar ilmu tentang tenggelam. Bedakan antara amal dan ilmu. Sebab banyak kesalah pahaman orang yang menghayati tenggelam, tidak dari amalnya, tetapi dari ilmunya. Maka muncullah kesalahpahaman dalam memahami tenggelam itu sendiri.”

Wong Alus

Categories: AL HALLAJ DIBUNUH | Tag: , , | 66 Komentar

PERAN ULAMA UNTUK KEBANGKITAN INDONESIA


Ini ide kecil saya tentang apa yang bisa diperankan oleh ulama bangsa kita agar Indonesia bisa bangkit dari krisis multidimensi yang mendera bangsa kita. Lebih kurangnya saya mohon maaf.

Saya ingin memulai uraian saya ini dengan sebuah ilustrasi sederhana… seorang ayah ditanya oleh anaknya tentang “dimana Tuhan itu berada?” Sang Ayah sadar bahwa pertanyaan itu tidak mungkin dijawab dengan pernyataan: “Tuhan itu ada di langit atau ada di surga, sebab keberadaan-Nya mengatasi ruang dan waktu.” Lalu ayah yang bijaksana ini menyuruh anak untuk mengambil sehelai kertas dan sebuah pensil, dan memintanya untuk menggambar sebuah rumah. Setelah selesai, sang ayah bertanya “Sekarang, kamu di mana?”

Si anak kemudian menggambarkan dirinya di kertas itu sambil berkata, “Ini pak, saya duduk di depan rumah sedang belajar naik sepeda.” Ayah lalu memberi komentar sambil bertanya: “Wah bagus benar gambarmu, tapi itu kan gambar kamu, dan bukan kamu yang sesungguhnya?. Kamu tidak mungkin tertampung dalam selembar kertas.

Secara analogis, sang ayah lalu menutup dialog dengan si anak dengan suatu pernyataan: “Allah itu Maha Besar, seluruh alam termasuk manusia itu adalah ciptaan-Nya, sehingga tidak mungkin menampung Dia.” Bahkan semua ini “digenggam dalam tangan-Nya”, atau seperti titik yang jumlahnya tidak terhingga pada suatu garis.

Ilustrasi ini bisa jadi bahan perenungan yang menarik sehingga sangat arif dan wajar bila dengan bertambahnya usia, kita akan mampu menjelaskan hal-hal kecil, termasuk soal-soal ketuhanan dengan pemikiran yang holistik, menyeluruh, tidak parsial atau tidak sepotong-sepotong. Sehingga kita semua akan mendapat hidayah, petunjuk dari Allah SWT karena kita gigih untuk terus mengoreksi diri terhadap pendapat, gagasan, ide, termasuk keyakinan kita. Karena bisa jadi pendapat yang kita yakini itu salah dan justeru menjadi illah-illah (Tuhan) baru. Padahal, Tuhan sudah berfirman: La illaha illallah, tiada illah selain Allah!

Dengan bahasa sederhana., Dzat Tuhan itu berbeda dengan apa yang kita persepsikan, kita anggap, kita pikirkan. Kita semua hanya bisa memikirkan apa yang menjadi ciptaan-Nya, karya-Nya, jejak-Nya yang sangat jelas di depan mata ini. Ini semua adalah karya Allah SWT, termasuk tubuh, detak jantung, nafas, dan pikiran kita saat ini, detik ini. Semuanya ini karya Allah yang Maha Menciptakan… Allahu Akbar!!!
Pola pikir menyeluruh atau holistik ini akan kita pergunakan untuk menyoroti peran ulama dan umaro dalam pembangunan. Saya menganggap pola pikir yang demikian ini sangat penting agar kita tidak terjebak dalam kesempitan pandangan, sedemikian mudahnya kita menyalahkan atau mengkafirkan pihak yang satu untuk membenarkan pihak yang lain. Mencap pihak yang lain sebagai pihak yang sesat dan seterusnya. Padahal, jangan-jangan diri kita yang sesat? Sebab hanya Allah SWT yang memiliki kebenaran mutlak dan bebas dari kesalahan. Yang lain berkadar kebenaran relatif saja.

Penyangga Bumi

Ulama adalah songgo buwono, penyangga bumi, atau penentu maju tidaknya peradaban justeru karena dia dekat dengan Allah SWT. Peradaban yang semakin maju, modern, dan sekaligus sekuler memunculkan berbagai dampak yang tiada disangka-sangka. Salah satu yang paling esensial adalah penjungkirbalikan tata nilai. Nilai holistik kemanusiaan ketuhanan yang sebelumnya ‘wungkul’ di masa Rasulullah, Muhammad SAW, menjadi tercerai berai sehingga dengan mudah kita memisahkan urusan dunia dan urusan akhirat, urusan negara terpisah dengan urusan agama, termasuk urusan ulama dan urusan umaro (pemimpin negara/daerah/kawasan). Pada titik ini, peran agama terreduksi menjadi hanya mengurusi urusan akhirat saja.

Kapan berbagai urusan ini terpisah? Dalam Babad Tanah Jawa, yang terpengaruh dengan sinkretisme Hindu-Budha-Islam sudah dikenal berbagai kasta yang memisahkan antara golongan brahmana dan ksatria. Kehadiran sembilan wali di tanah Jawa, pada akhirnya harus berhadapan secara diametral dengan golongan penguasa di kerajaan-kerajaan. Pada jaman itu, ulama memiliki peran sebagai tempat bertanya, tempat mereguk ilmu-ilmu akhirat sekaligus sebagai tempat para calon raja mendapatkan restu yang nantinya bisa diangkat sebagai raja.

Raja (Umaro) mengatur urusan dunia, dan wali (ulama) memiliki urusan akhirat. Yang perlu dicatat bahwa pada masa wali songo ini, peran raja subordinat dengan para wali. Sedemikian hingga untuk urusan tertentu seperti suksesi kekuasaan, para keturunan raja ini harus meminta petunjuk dari para wali, untuk seterusnya oleh para wali diteruskan dengan berdoa kepada Allah SWT untuk meminta wangsit, petunjuk dan hidayah siapa yang cocok menjadi pemimpin.

Kini, semuanya berubah. Terpaan budaya global telah meluluhlantakkan budaya asli Jawa, budaya sukuisme, budaya kita sampai ke yang paling privat di rumah kita. Pada skala massif, peradaban juga berubah, tata nilai berubah, penghayatan kita pada ajaran agama juga berubah, kerajaan berubah menjadi negara dengan kehendaknya yang supersekuler. Kemana arah perubahan itu?

Hukum kedua termodinamika mengatakan bahwa perubahan itu mengarah pada kerusakan. Hukum ini tidak hanya berlaku pada benda, tetapi juga pada aras moral, peradaban kebudayaan. Ini juga sesuai dengan ajaran agama kita bahwa pada saatnya nanti pergelaran alam semesta ini akan digulung, itulah hari akhir. Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan benar. Dan sesungguhnya as-Sa‘ah (Hari Kiamat) itu pasti akan datang. (Q.s. al-Hijr: 85).

Berbagai perubahan di atas mengharuskan kita untuk beranggapan bahwa suka tidak suka kita juga dituntut untuk merevolusi paradigma kita terhadap fakta, faktor, peran dan fungsi ulama dan umaro. Sehingga masing-masing individu apapun dia berperan akan mampu memposisikan diri sebagai hamba Allah SWT yang ikhlas.
Pikir Dzikir

Setiap kita adalah pemimpin. Ya bagi diri sendiri, bagi keluarga, bahkan juga bagi dua, tiga, empat orang dan seterusnya. Hingga atas karunia Allah SWT, kita diamanati untuk menjadi pemimpin bagi umat atau pemimpin bagi sebuah wilayah. Sehingga sangat wajar bila harus mengemban amanah itu untuk memayu hayuning bawono, melukis kanvas kehidupan ini dengan indah sesuai dengan peran kita apakah itu sebagai ulama atau umaro.

Kita hidup di alam yang semua serba terspesialisasi, terstruktur secara jelas dan tegas. “Jangan coba-coba masuk bidang lain bila tidak ingin dicap sebagai orang yang tidak profesional” begitu kira-kira pesan jaman postmodern ini. Seorang negarawan atau politikus tidak selayaknya memimpin sebuah lembaga peradilan, karena melanggar prinsip trias politika. Seorang insinyur sipil tidak selayaknya menjadi pilot pesawat terbang karena hampir pasti pesawatnya akan jatuh.

Seterusnya hingga berlanjut pada pernyataan bahwa janganlah seorang ulama masuk ke medan politik dengan mengajak umat untuk mencoblos A,B, atau C karena memang itu bukan bidangnya. Biarlah urusan politik menjadi urusan politikus saja. Jangan takut kehilangan peran karena kaum ulama memiliki peran besar sebagai kekuatan penyangga moral-spiritual bangsa ini. Tugasnya adalah meneruskan risalah kenabian yang pembuktiannya akan nampak dalam perilakunya yang bisa diteladani (segi individual) dan kemanfaatannya untuk membangun moral spiritual masyarakat dan peradaban secara riil.

Bukankah ini tugas yang berat namun mulia yang diemban tidak hanya oleh kalangan ulama?? Marilah kita mulai dari sekarang, di sini, di tempat yang mulia ini kita berubah untuk kembali berbenah dan ndandani bangsa dan negara ini. Saya ingat ucapan Nurcholis Madjid yang mengatakan bahwa kita memulai perubahan menuju kebaikan bisa datang dari mana saja, dari titik mana saja, dari sudut dan bidang apa saja.

Dari legenda pada masa awal penataan kehidupan Islami di Jawa (Demak), kita ketahui bahwa binatang “orong-orong” yang mati bisa dihidupkan kembali setelah disambung oleh serpihan kayu jati oleh Sunan Kalijaga. Kita tentu tahu bahwa “orong-orong” itu mengacu ke orang-orang yang berkat tadzakkur akan menjalani hidup secara individual, karena dengan dzikir, kepala (Pikiran) dan dada (Rasa/Batin) menjadi tersambung kembali.

Strategi kehidupan Islami menurut Sunan Kalijaga ternyata tidak hanya berhenti pada tataran individual semata. Masyarakat Indonesia, Indonesia dan Krembung memerlukan qalbu dan jantung yang memompakan irama ritmik Islami. Kita menjadi paham bahwa fungsi Masjid disamping sebagai tempat sujud, juga sebagai tempat penegak risalah ilmu tauhid. Perangkat sosial politik pun mulai ditata oleh Pemerintah dengan konsep dwi tunggal ulama-umaro, yaitu kesatupaduan Sunan (Ulama) dan Sultan (Umaro).

Tugas masjid kini semakin menjadi jelas yaitu membimbing umat untuk tetap berpegang pada dalil La Khaula wa la quwwata illa billah, kita kuat bukan karena makan dan minum tapi kita kuat karena perkenaan-Nya.

Hubungan antara Pemerintah dan Masjid sebagai markas kaum ulama ialah seperti hubungan antara kepala dan dada, antara akal dan qalbu, pikir dan dzikir. Itulah suatu pola hubungan yang sejalan dengan harapan kita semua. Kedua-duanya harus saling bersinergi karena dengan akal dan qalbu itulah kita bisa hidup dengan muthmainah, dengan jiwa yang tenang yang merupakan ciri-ciri manusia yang masuk surga.

Semoga artikel di blog yang sedikit ini bermanfaat bagi kita semua. Terima kasih.

Wong Alus

Categories: PERAN ULAMA | Tag: , , , , | 7 Komentar