APA YANG SALAH DENGAN AL HALLAJ?


Saya sungguh lama berpikir tentang kenapa orang hebat dan zuhud seperti Al Hallaj harus tewas di tangan penguasa Islam? Bukankah Al Hallaj, adalah dia yang rindu akan perjumpaan dengan Tuhan sehingga ungkapan kerinduan itu tidak bisa dibenar salahkan? Sebagaimana orang yang jatuh cinta kemudian menulis puisi? Inilah sedikit pernyataan-Pernyataan Al-Hallaj :

Allah menghijab mereka dengan Nama, lantas mereka pun menjadi hidup. Seandainya Dia menampakkan Ilmu Qudrat pada mereka, mereka akan hangus. Seandainya hijab hakikat itu disingkapkan niscaya mereka mati semua.

Tuhanku, Engkau tahu kelemahanku jauh dari rasa bersyukur kepadaMu, karena itu bersykurlah pada DiriMu bukan dariku, karena itulah sesungguhnya Sukur, bukan yang lain.

Siapa yang mengandalkan amalnya ia akan tertutupi dari yang menerima amal. Siapa yang mengandalkan Allah yang menerima amal, maka ia akan tertutupi dari amal.

Asma-asma Allah Ta’ala dari segi pemahaman adalah Nama ansich, tapi dari segi kebenaran adalah hakikat.

Bisikan Allah adalah bisikan yang sama sekali tidak mengandung kontra.

Suatu ketika Al-Hallaj ditanya tentang al-Murid, “Ia adalah orang yang dilemparkan menuju kepada Allah, dan tidak akan berhenti naik sampai ketika ia sampai.”

Sama sekali tidak diperbolehkan orang yang mengenal Allah Yang Maha Tunggal atau mengingat Yang Maha Tunggal, lalu ia mengatakan, “Aku mengenal Al-Ahad” padahal ia masih melihat individu-individu lainnya.

Siapa yang dimabukkan oleh cahaya-cahaya Tauhid, ia akan tertupi dari ungkapan-ungkapan Tajrid (menyendiri bersama Allah). Bahkan, siapa yang dimabukkan oleh cahaya-cayaha Tajrid, ia akan bicara dengan hakikat Tauhid, karenakemabukan itulah yang bicara dengan segala hal yang tersembunyi.

Siapa yang menempuh kebenaran dengan cahaya Iman, maka ia seperti pencari matahari dengan cahaya bintang gemintang.

Ketika Allah mewujudkan jasad tanpa sebab, demikian pula Allah mewujudkan sifat jasad itu tanpa sebab, sebagaimana hamba tidak memiliki asal usul pekerjaannya, maka, hamba itu pun tidak memiliki pekerjaannya.

Sesungguhnya Allah Ta’ala, Maha Pemberi Berkah dan Maha Luhur, serta Maha Terpuji, adalah Dzat Yang Esa, Berdiri dengan DiriNya Sendiri, Sendiri dari yang lain dengan Sifat QidamNya, tersendiri dari yang lainNya dengan KetuhananNya, tidak dicampuri oleh apa pun dan tidak didampingi apa pun, tidak diliputi tempat, tidak pula di temukan waktu, tidak mampu difikirkan dan tidak bisa tercetus dalam imajinasi, tidak pula bisa dilihat pandangan, tidak bisa darusi kesenjangan.

Akulah Al-Haq, dan Al-Haq (Allah) Benar, Mengenakan DzatNya, di sana tak ada lagi perbedaan.

Ketika ditanya tentang Tauhid,ia menjawab, “Memisahkan yang baru dengan Yang Maha Dahulu, lalu berpaling dari yang baru dan menghadap kepada Yang Maha Dahulu, dan itulah hamparan Tauhid. Sedangkan substansinya.

SEJARAHNYA
Abad ketiga hijriyah merupakan abad yang paling monumental dalam sejarah teologi dan tasawuf. Lantaran, pada abad itu cahaya Sufi benar-benar bersinar terang. Para Sufi seperti Sari as-Saqathy, Al-Harits al-Muhasiby, Ma’ruf al-Karkhy, Abul Qasim al-Junaid al-Baghdady, Sahl bin Abdullah at-Tustary, Ibrahim al-Khawwash, Al-Husain bin Manshur al-Hallaj, Abu Bakr asy-Syibly dan ratusan Sufi lainya.

Di tengah pergolakan intelektual, filsafat, politik dan peradaban Islam ketika itu, tiba-tiba muncul sosok agung yang dinilai sangat kontroversial oleh kalangan fuqaha’, politisi dan kalangan Islam formal ketika itu. Bahkan sebagian kaum Sufi pun ada yang kontra. Yaitu sosok Al-Husain bin Mansur Al-Hallaj. Sosok yang kelak berpengaruh dalam peradaban teosofia Islam, sekaligus menjadi watak misterius dalam sejarah Tasawuf Islam.

Nama lengkapnya adalah al-Husain bin Mansur, populer dipanggil dengan Abul Mughits, berasal dari penduduk Baidha’ Persia, lalu berkembang dewasa di Wasith dan Irak. Menurut catatan As-Sulamy, Al-Hallaj pernah berguru pada Al-Junaid al-Baghdady, Abul Husain an-Nury, Amr al-Makky, Abu Bakr al-Fuwathy dan guru-guru lainnya. Walau pun ia ditolak oleh sejumlah Sufi, namun ia diterima oleh para Sufi besar lainnya seperti Abul Abbad bin Atha’, Abu Abdullah Muhammad Khafif, Abul Qasim Al-Junaid, Ibrahim Nashru Abadzy. Mereka memuji dan membenarkan Al-Hallaj, bahkan mereka banyak mengisahkan dan memasukkannya sebagai golongan ahli hakikat. Bahkan Muhammad bin Khafif berkomentar, “Al-Husain bin Manshur adalah seorang a’lim Rabbany.”

Pada akhir hayatnya yang dramatis, Al-Hallaj dibunuh oleh penguasa dzalim ketika itu, di dekat gerbang Ath-Thaq, pada hari Selasa di bulan Dzul Qa’dah tahun 309 H.

Kelak pada perkembangannya, teori-teori Tasawuf yang diungkapkan oleh Al-Hallaj, berkembang lebih jauh, seperti yang dilakukan oleh Ibnu Araby, Al-Jiily, Ibnu Athaillah as-Sakandary, bahkan gurunya sendiri Al-Junaid punya Risalah (semacam Surat-surat Sufi) yang pandangan utuhnya sangat mirip dengan Al-Hallaj. Sayang Risalah tersebut tidak terpublikasi luas, sehingga, misalnya mazhab Sufi Al-Junaid tidak difahami secara komprehensif pula. Menurut Prof Dr. KH Said Aqiel Sirraj, “Kalau orang membaca Rasailul Junaid, pasti orang akan faham tentang pandangan Al-Hallaj.”

Pandangan Al-Hallaj banyak dikafirkan oleh para Fuqaha’ yang biasanya hanya bicara soal halal dan haram. Sementara beberapa kalangan juga menilai, kesalahan Al-Hallaj, karena ia telah membuka rahasia Tuhan, yang seharusnya ditutupi. Kalimatnya yang sangat terkenal hingga saat ini, adalah “Ana al-Haq”, yang berarti, “Akulah Allah”.

Tentu, pandangan demikian menjadi heboh. Apalagi jika ungkapan tersebut dipahami secara sepintas belaka, atau bahkan tidak dipahami sama sekali.

Para teolog, khususnya Ibnu Taymiyah tentu mengkafirkan Al-Hallaj, dan termasuk juga mengkafirkan Ibnu Araby, dengan tuduhan keduanya adalah penganut Wahdatul Wujud atau pantheisme.

Padahal dalam seluruh pandangan Al-Hallaj tak satu pun kata atau kalimat yang menggunakan Wahdatul Wujud (kesatuan wujud antara hamba dengan Khaliq). Wahdatul Wujud atau yang disebut pantheisme hanyalah penafsiran keliru secara filosufis atas wacana-wacana Al-Hallaj. Bahkan yang lebih benar adalah Wahdatusy Syuhud (Kesatuan Penyaksian). Sebab yang manunggal itu adalah penyaksiannya, bukan DzatNya dengan dzat makhluk.Para pengkritik yang kontra Al-Hallaj, menurut Kiai Abdul Ghafur, Sufi kontemporer dewasa ini, melihat hakikat hanya dari luar saja. Sedangkan Al-Hallaj melihatnya dari dalam.

Sebagaimana Al-Ghazali melihat sebuah bangunan dari dalam dan dari luar, lalu menjelaskan isi dan bentuk bangunan itu kepada publik, sementara Ibnu Rusydi melihat bangunan hanya bentuk luarnya saja, dan menjelaskannya kepada publik pula. Tentu jauh berbeda kesimpulan Al-Ghazali dan Ibnu Rusydi.

Setidak-tidaknya ada tiga kelomp0k besar dari kalangan Ulama, baik fuqaha’ maupun Sufi terhadap pandangan-pandangan Al-Hallaj ini. Mereka ada yang langsung kontra dan mengkafirkan; ada pula yang secara moderat tidak berkomentar; dan ada yang langsung menerima dan mendukungnya. Menurut penelitian Dr. Abdul Qadir Mahmud, dalam bukunya Al-Falsafatush Shufiyah fil Islam, mengatakan:

Mereka yang mngkafirkannya, antara lain adalah para Fuqaha’ formalis, dan kalangan mazhab Dzahiriyah, seperti Ibnu dawud dan Ibnu Hazm. Sedangkan dari kalangan Syi’ah Imamiyah antara lain Ibnu Babaweih al-Qummy, ath-Thusy dan al-Hilly. Dari kalangan mazhab Maliki antara lain Ath-Tharthusy, Iyyadh, Ibnu Khaldun. Dari kalangan mazhab Hanbaly antara lain Inu Taymiyah. Dan kalangan Syafi’iyah antara lain Al-Juwainy dan ad-Dzahaby.

Sementara itu dari kalangan Mutakallimin yang mengkafirkan: Al-Jubba’i dan al-Qazwiny (Mu’tazilah); Nashiruddin ath-Thusy dan pengukutnya (Imamiyah); Al-Baqillany (Asy’ariyah); Ibnu Kamal dan al-Qaaly (Maturidiyah). Dari kalangan Sufi antara lain, Amr al-Makky dan kalangan Salaf, diantaranya juga para Sufi mutakhir, selain Ahmad ar-Rifai’y dan Abdul Karim al-Jily, keduanya tidak berkomentar.

Mereka yang mendukung pandangan Al-Hallaj, dari kalangan Fuqaha’ antara lain: At-Tusytary dan Al-Amily (Imamiyah); Ad-Dilnajawy (Malikiyah); Ibnu Maqil dan an-Nabulisy (Hambaliyah),; Al-Maqdisy, Al-Yafi’y, Asy-Sya’rany dan Al-Bahtimy (Syafi’iyah). Dari kalangan Mutakallimin, Ibnu Khafif, Al-Ghazaly dan Ar-Razy (kalangan Asy’ary) serta kalangan Mutakallim Salaf.

Dari kalangan Filsuf pendukungnya adalah Ibnu Thufail. Sedangkan dari kalangan Sufi antara lain asSuhrawardy al-Maqtul, Ibnu Atha’ as=Sulamy dan Al-Kalabadzy. Kelompok yang tidak berkomentar, dari kalangan Fuqaha’ antara lain: Ibnu Bahlul (Hambaliyah), Ibnu Suraij, Ibnu Hajar dan As-Suyuthy (Syafi’iyah). Dari kalangan Sufi antara lain, Al-Hushry, Al-Hujwiry, Abu Sa’id al-Harawy, Al-Jilany, Al-Baqly, Al-Aththar, Ibnu Araby, Jalaluddin ar-Ruumy, Ahmad Ar-Rifa’y, dan Al-Jiily.

Kontroversi Al-Hallaj, sebenarnya terletak dari sejumlah ungkapan-ungkapannya yang sangat rahasia dan dalam, yang tidak bisa ditangkap secara substansial oleh mereka, khususnya para Fuqaha’ (ahli syariat). Sehingga Al-Hallaj dituduh anti syari’at, lalu ia harus disalib. Padahal tujuan utama Al-Hallaj adalah bicara soal hakikat kehambaan dan Ketuhanan secara lebih transparan.

Tudingan bahwa Al-Hallaj penganut Wahdatul Wujud semata juga karena tidak memahami wahana puncak-puncak ruhani Al-Hallaj sebagaimana dialami oleh para Sufi. Banyak sekali wacana Tasawuf yang mirip dengan Al-Hallaj. Dan Al-Hallaj tidak pernah mengaku bahwa dirinya adalah Allah sebagaimana pengakuan Fir’aun dirinya adalah Tuhan. Dalam sejumlah wacananya, Al-Hallaj senantiasa menyatakan dirinya adalah seorang hamba yang hina dan fakir. Apa yang ditampakkan oleh Al-Hallaj adalah situasi dimana wahana ruhaninya menjadi dominan, sehingga kesadarannya hilang, sebagaimana mereka yang sedang jatuh cinta di puncaknya, atau mereka yang sedang terkejut dalam waktu yang lama.

Toh Al-Hallaj tetap berpijak pada pandangan Al-Fana’, Fana’ul Fana’ dan al-Baqa’, sebagaimana dalam wacana-wacana Sufi lainnya. Al-Hallaj juga tidak pernah mengajak ummat untuk melakukan tindakan Hulul. Sebab apa yang dikatakan semuanya merupakan Penyaksian kepada Allah atau sebagai etiuk murni dari seorang Sufi yang sangat dalam.

Sejarawan Al-Baghdady mengisahkan tragedi kematian dan peradilannya: “Ketika mereka hendak membunuh Al-Husain bin Mansur Al-Hallaj, para Fuqaha’ dan Ulama dihadirkan, sementara Al-Hallaj diseret di hadapan Sultan. Para dewan kepolisian juga dihadirkan di sisi barat, tepatnya di hari Selasa, bulan Dzul Qa’dah Minggu kedua, TAHUN 309. Ia dicambuk sekitar seribu kali cambukan, lalu kedua kakinya dipotong, menyusul kedua tangannya, lalu lehernya ditebas. Lalu tubuhnya dibakar dengan api.

Kepalanya yang dipenggal itu diangkat, ditunjukkan kepada publik dalam kerangkeng besi, sementara kedua tangan dan kakinya diletakkan di sisi kepalanya. Ketika Al-Hallaj mendekati saat-saat penyaliban, ia membisikkan kata-kata, “Wahai yang menolong kefanaan padaku…tolonglah diriku dalam kefanaan….Tuhanku, Engkau mengasihi orang yang menyakitiMu, maka bagaimana engkau tidak mengasihi orang yang lara dalam DiriMu…Cukuplah yang satu menunggalkan yang satu bagiNya….”. Lalu ia membaca sebuah ayat, “

Sebelum meninggal dengan hukuman tragis itu, Al-Hallaj mengalami hidup dari satu tahanan ke tahanan lainnya, akibat iri dan kedengkian para Fuqaha’ dan para Ulama yang merasa tersaingi oleh pengaruh Al-Hallaj yang mulai meluas. Bisa jadi penguasa sangat terpengaruh pula oleh bahaya massa Al-Hallaj. Kalau toh Al-Hallaj harus dihukum mati dengan disalib, sebagaimana pernah ia ramalkan sendiri, adalah karena ia harus menghadapi ketidakberdayaan kekuasaan. Tetapi sekali lagi, Al-Hallaj adalah penganut amaliyah Syariat yang sangat patuh, yang digambarkan, sebagai sosok yang hafidz Al-Qur’an, tekun sholat sepanjang malam, puasa sepanjang siang, dan melakukan ibadah haji berulang kali. Hukuman mati baginya, sama sekali tidak ada kaitannya dengan legitimasi bahwa dirinya salah dan benar.

Rasanya Tragedi Al-Hallaj menjadi hikmah yang luar biasa dalam perkembangan Tasawuf. Mereka akan mehamami substansi Al-Hallaj, manakala mereka juga menjalankan dan merasakan apa yang dialami oleh Al-Hallaj. Sekadar menvonis Al-Hallaj begini dan begitu, tanpa pernah menghayati substansi terdalam dalam praktek Sufistik, siapa pun akan selalu gagal memahaminya.

Ada ungkapan Sufi yang sangat arif bisa jadi renungan kita bersama untuk sekadar merasakan sedikit dari rasa Al-Hallaj. “Orang yang sedang tenggelam di lautan, tidak akan pernah bisa bicara, bercerita, berkata-kata, tentang tenggelam itu sendiri. Ketika ia sudah mentas dari tenggelam, dan sadar, baru ia bicara tentang kisah rahasia tenggelam tadi. Ketika ia bicara tentang tenggelam itu, posisinya bukan lagi sebagai amaliyah tenggelam, tetapi sekadar ilmu tentang tenggelam. Bedakan antara amal dan ilmu. Sebab banyak kesalah pahaman orang yang menghayati tenggelam, tidak dari amalnya, tetapi dari ilmunya. Maka muncullah kesalahpahaman dalam memahami tenggelam itu sendiri.”

Wong Alus

About these ads
Categories: AL HALLAJ DIBUNUH | Tags: , , | 55 Komentar

Navigasi tulisan

55 gagasan untuk “APA YANG SALAH DENGAN AL HALLAJ?

  1. KangBoed

    Hai aku.. dimana akuuu..
    Hening sepi tiada jawaban…
    Hai diriku dimana kamu
    Satu suara… Hilang.. Lenyap.. tiada..

    Terus kamu siapa..
    AKU… yayaya… AKU… ALLAH…
    Terhenyak dan tersadar aku saat itu juga
    Ternyata aku masih terduduk dipojok lantai

    Salam Sayang
    Salam Taklim
    Salam Hormat

  2. menurutku al hallaj ndak salah yg salah pemahaman orang2 disekitarnya
    . seperti kita mengaji, kalau kita membaca ayat Allah maka seolah-olah lidah kita “dipinjam” oleh Allah…kalau al halaj bilang ana al haq atau akulah kebenaran maka al halaj sudah tidak ada…yg ada…Allah…tapi kalau dipahami secara sempit akan dicap kafir dsb….dalam hal ini al halaj menjadi kepanjangan kuasa Allah….sama seperti bupati menjadi kepanjangan kekuasaan pemerintah….tapi pemerintah bukan bupati

  3. Yth Kang Boed.. saya memahami pernyataan makrifat panjenengan sbb: AKU-NYA ALLAH ada dalam diri-Nya sendiri. Aku yang mengaku ALLAH jelas sudah kebablasan. Begitu ya?

    Yth Kadang M4stono, saya sepakat dengan panjenengan. Yang tersesat sesungguhnya yang memberi label kafir dan kemudian menganggap darah Al Hallaj halal untuk diminum…. Inilah yang dipakai oleh kaum yang hanya berpijak pada fakta-fakta syariat tanpa menggunakan rasa yang selembut-lembutnya, rasa yang sekasih-kasihnya terhadap kerinduan Al Hallaj terhadap Tuhannya. Orang yang sedang dimabuk cinta pada-Nya koq akhirnya dibunuh ya???

    Matur nuwun poro Kadang sedoyo. Salam sayang sejati…

  4. kangBoed

    waaaaaah… ampun paralun… hanya melukiskan bagaimana kondisinya Al Hallaaaaj… yang sebenarnya bahasa yang susah di cerna dengan bahasa fikir… padahal itu adalah tingkat penyangkalan diri sang salik.. ketika dia benar benar lenyap… benar benar tiada kedirian lagi… lebih lemah dalam ketiada berdayaannya… maka jika seorang manunggaling dan mengaku ngaku… berkoar koar kemana mana bahwa aku adalah ALLAH… patut dipertanyakan… karena kesombongan harus sudah sirna dan musnaaaaaaaaah… maka muncullah AKU Sejati.. yayaya… mohon maaf kang Mas Wong Alus sayang… kadang di dalam Zauq… timbullah perjalanan yang kadang tiada tertahankan… ampun paralun… tiada niat saya sedikitpun utnuk mengikrarkan sesuatu… padahal itu dua bait penutup puisi “hilang lenyap”..
    Salam Sayang
    Salam Kangen
    Salam Rindu.. untuk mu.. :mrgreen:

  5. wongalus

    OO… gitu ya Kang Boed, Si Kekasih Allah…. wah wah…. kalau begitu saya yang ampun paralun sudah menafsirkan secara serampangan bahasa puisi nan lembut bak lelembut yang disampaikan kang Mas kulo Boed.. hehehe…. Wah, semakin bodoh saja saya ini berhadapan denganmu, mas… Salam rindu juga sedalam-dalamnya!

  6. KangBoed

    hehehe.. Kang Mas Wong Alus.. jangan begitu mas.. teteeeep saya hanya si bodo mas.. mencoba berbagi rasa.. keceriaan.. dan kasih sayang… sambil selalu belajar dari para sesepuh seperti Kang Mas Wong Alus, Kang Mas Sabda Langit.. dan mas Pengembara Jiwa.. sambil terus berusaha mengisi botol untuk bekal perjalanan dan pengembaraan yang belum dilakukan.. sekiranya.. saya nyuwun dihapunten yaaa masku sayaaaaaaaaaaaaaaaaang…
    Salam Sayang..
    Salam Rindu untukmu.. :lol: :mrgreen: :lol:

  7. Dalam khazanah keilmuan yang saya dengar, ada soal etika dalam penyampaian sesuatu hal kepada khalayak ramai. Dan ini juga dipegang oleh Islam. Jangan menyebarkan sesuatu yang dapat mengakibatkan masyarakat (khususnya orang awam) menjadi bingung dan menimbulkan fitnah. Karena ajaran tadi yang tertangkap dalam pemikiran, adalah pengingkaran terhadap apa yang disampaikan dalam Surat Al-Ikhlas.

    Bahasan manunggaling kawula-gusti semacam ini, menyebabkan gangguan keimanan publik. Dan tentu kebanyakan orang akan memahami secara picik istilah AKU YO KOWE, KOWE YO AKU. ORA ANA KAHANAN LORO.

    Wali Songo sendiri saat menghukum Syekh Siti Jenar (kata orang duplikasinya Al Hallaj), mengatakan bahwa dia MUKMIN INDA’ALLAH, KAFIR INDA’NNAS.

  8. wongalus

    Mas Celetukan Segar Yth:
    Analisa panjenengan tepat… Itulah yang akhirnya benar-benar terjadi. PENGUASA dan lebih cenderung memakai logika sederhana sbb: daripada mengganggu keamanan dan ketertiban sekaligus merongrong kekuasaan, maka langkah yang paling mudah adalah memasukkan ajaran Al hallaj maupun Syekh Siti Jenar ke salam stigma: HARAM dan DARAHNYA HALAL.

    Terkait dengan ajaran manunggaling kawulo gusti yang dianggap pengingkaran terhadap al Ikhlas, menurut saya, sangat tergantung pada sudut pandangnya mas.

    Secara etis, al hallaj dan siti jenar juga dinilai kurang bisa empan papan. Ajaran tauhid –dipahami secara syariat– bisa tercederai dengan konsep manunggaling kawulo gusti yang tinggi ini. Namun dari sudut tinjau sufistik/makrifatullah tentu saja ajaran ini sangat mendalam dan bahkan menjadi ujung pencapaian spiritual seorang sufi. Mereka yang berada di aras spiritual seperti ini, bahasa terasa tidak mampu mewakili realitas yang sesungguhnya sehingga terkadang logika common sense tidak mampu untuk memahami…

    Pendapat saya ini juga hanya satu sudut pandang. Bagaimana dengan pandangan yang lain dan benarkan pendapat saya ini? Mohon sharringnya…

    Salam segar

  9. Apa yang salah,,,,,,,????ini hanya penafsiran kita yg berbeda.Cobalah segala sesuatu direnungkan dengan wening tanpa prasangka.
    “Ya Bapa yang adil,memang dunia tidak mengenal Engkau,tetapi Aku mengenal Engkau,dan mereka ini tahu,bahwa bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku,dan Aku telah memberitahukan namaMu kepada mereka dan Aku memberitahukannya,supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada didalam mereka dan Aku didalam mereka.”

    mugi Gusti tansah paring eling dumateng kita sedaya.
    salam rahayu.

  10. wongalus

    Yth Yang Kung….
    Pendapat yang berasal dari lubuk hati yang terdalam dipastikan akan berada pada strata kebenaran yang tinggi. Sebagaimana komentar dari eyang saya yang sudah banyak makan asam garam pengalaman ini. Beda penafsiran adalah pelangi di cakrawala pengetahuan. matur nuwun Yang Kung, mugi tansah paring eling juga.

    Salam dari lubuk hati terdalam…

  11. Salam kenal Mas Wongalus…

    Bagaimana menurut Njenengan tetang sosok Ibnu Taimiyah? apakah ada yang salah mengenai beliau.

    Mohon izin taut boleh kan Mas…

    Salam Damai penuh Cinta Kasih

  12. Monggo kang mas Sumego dipun taut, kulo mangke nggih mentautkan blog panjenengan sami. Terkait bab Ibn Taimiyah, nek wonten wekdal monngo dipun kupas bareng kemawon.

    Mugi tansah pinaringan kawicaksanan. salam.

  13. Matursembah Nuwun Njih…
    Walah isin Mas…blog kulo isine namung morang maring sambat copas benten kalih Blog-e Njenengan seratane tharik-tharik katon Pintere

    Salam “Kawicaksanan kang sami pinanggih”

  14. bagus sekali tulisan anda. bolehkah tulisan ini dijadikan referensi untuk tulisan saya ?? bls d email saya…saya sedang mencari terjemahan tawasin al hallaj. sampean punya tidak ?

    e-mail saya zaza_bigboas@yahoo.com

  15. AJISAKA

    yang salah proses berpikir org pada zamannya terlalu emosional sehingga jd ngikutin berpikir yang aneh.

  16. Yth Mas Sumego, panjenengan meniko saget kemawon. lha wong artikel mung kagem wewacan kemawon kok mas. nuwun nggih. Ngapunten mbok bilih lepat atur kulo.

    Yth mas zaairul haq, monggo mas…

    Yth mas Ajisaka, setiap peristiwa ada asbabun nuzul-nya– sebab adanya sebuah peristiwa. Barangkali bila dilihat dari kacamata saya, dibunuhnya Al hallaj adalah sebuah kesalahan. Tapi mungkin bila dilihat dengan kacamata meraka yang membunuh, bisa jadi benar. Benar salah, setidaknya bisa dilihat dari aspek koherensi, korenspondensi dan pragmatik-nya. Termasuk juga aspek keberadilan Yang Absolut dengan kebeningan rasa.. untuk yang terakhir ini, marilah kita semua saling memberi masukan agar tetap obyektif dan rasional. Matur nuwun, mas.

    rahayu..

  17. kang, saya suka al-hallaj.

  18. Azzie Iskandar

    al-hallaj, Djaelani, Masyitoh = anugrah orang2 zaman skrg, alhamdulillah

  19. ketika Rasullullah mi’raj ke langit.. menyatu dengan Allah…. dia tidak tenggelam dalam ke-Maha-an Nya dan menghilangkan ke-fana-an nya. Rasullullah, KHatamun Anbiya.. kembali ke bumi, kembali ke-fana- nya…

  20. MUHAMMAD IRFAN FAUZI

    yang salah bukan orang lain maupun al hallaj, tapi yang ssalah adalah kesalahan itu sendiri. jangan biarkan waktu mengubah kebenaran menjadi kesalahan, benci dan dendam serta perdebatan tiada guna. MANUSIA TIDAK BERHAK MENILAI ORANG LAIN UNTUK MENYATAKAN SALAH, KARENA ESENSI PENILAIAN ADALAH TENTANG HATI DAN HATI MAKHLUK YANG TAHU HANYA ALLOH SWT TUHAN NU SAJATI. JADI YANG MENILAI SALAH DAN BENAR TENTANG PERILAKU SESEORANG EDAN, TAPI UNTUK MENILAI SALAH DAN BENAR DALAM HAL INSTING MANUSIA BIASA ITU PENILAIAN UNTUK HEWANI.

  21. MUHAMMAD IRFAN FAUZI

    TIDAK RUGI BAGI AL HALLAJ DIA MATI KARENA DENGAN CARA YANG BAIK ATAU BURUK, YANG PENTING MUNGKIN BAGI AL HALLAJ DENGAN KEMATIAN BISA BERADU KASIH DENGAN DZAT MAHA SUCI NU SAJATI

  22. RADEN_ PHOTEL AL_TUBHANIN

    SESEORANG YANG MENGAKU TUHAN ADALAH TURUNAN DAZAL INGAT “LA ILA HA ILALLAH” AND MUHAMHAD DARASULULLAN” APAPUN KALIMAH, KATA-KATA UCAPAN, YANG MENGAKATAN SESEORANG ADALAH MAHA BENAR, KEBERARAN ALLAH, ITU SUDAH TERJADI PADA SAHABAT SAYA YAITU ISA AS, BUKAN BELIU YANG MENGAKU TUHAN MELAINKAN UMMATNYA MENGAKUKAN TUHAN MAKA DISALIBKAN DAN DIANGKAT KESORGA KARENA KESALAHAN UMATNYA, JADI SIAPAPUN ORANGNYA, SIAPAPUN KETURUNANNYA, ENTAH KETURUNAN NABI SEKALIPUN MEREKA ITU BUKAN TUHAN, BUKAN KEBENARAN, BUKAN ALLAH, TETAPI MEREKA HANYALAN PEMBERI PETUNJUK KEPADA JALAN YANG BENAR, KARENA MEREKA RASULULLAH SEDANGKAN SAYA KITA KAMU ADALAH SALAH SEORANG DARI RASUL-RASUL” BACA SURAT YASIN, “HAI FULAN BIN/BINTI FULAN SESUNGGUHNYA KAMU ADALAH SALAH SEORANG DARI RASUL-RASUL” SEMUA AGAMA SAMA SALAH SEMUA AGAMA BEDA KARENA TUHANYA BEDA-BEDA, APANYA YANG SAMA, SESUATU YANG SAMA PASTI TIDAK BEDA, CONTOHNYA CARA BERIBADAH, BEDA ANTARA NASRANI DENGAN ISLAM, ISLAM DENGAN HINDU, HINDU DENGAN BUDHA, BUDHA DENGAN NASRANI, MANA YANG DIANGGAP SAMA ? TUHANNYYA WALAHUALAM BISAWAB, KARENA SESUATU YANG DIMULAI DARI YANG SALAH PASTI AKAN BERAKHIR DENGAN KESALAHAN/FATAL ATAU TIDAK BENAR, TETAPI SESUATU DIMULAI DARI BENAR PASTI AKAN MENGHASILKAN KEBENARAN.SAYALAH PONHON ANGGUR YANG BENAR SAYALAH TERANG(NUR) DAN GARAM DUNIA, KEBENARAN ITU KATA TEMAN SAYA, ISA A.S. DISINI SAYA BUKAN BERARTI ISANYA, TETAPI BELIUM MENYAMPAIKAN WAHYU DARI TUHANNYA DAN TUHANKU, BEGITU JUGA MUHAMMAD, BELIU MENYAMPAIKAN FIRMAN DARI TUHANNYA DAN TUHANKU, APAKAH MUHAMMAD ITU TUHAN, APAKAH ISA ITU TUHAN ? MEREKA HANYALAH PENYAMPAI WAHYU DARI TUHANYA DAN TUHANKU KEPADA SIAP YANG INGIN MENGIKTUI JALANYA YANG DIRIDHAI, TRUS ALHALAJ ? SAMA SAJA HUKUM TUHAN TIDAK PANDANG BULU,

  23. faisal

    gus wong, firaun kebablasen dalam melihat akunya dia lupa bahwa didalam akunya ada DiriNya sementara alhalaj terlalu melihat diriNya sementara dia melupakan Aku, gusti kang akaryo jagad pernah ngendiko ‘aku tiupkan sebagian ruhku’ jelas dunia seisinya tidak akan mampu menampungNya karna dunia adlh makhluk . gus wong… ilustrasi yang panjenengan gambarkan ketika seorang anak bertanya tentang posisi Gusti Allah pada bapaknya kemudian anak itu disuruh menggambar sangatlah pas bagi saya menggambarkan betapa gusti allah tidak bisa tertampung pada sesuatu yang baru, a lkhalaj berstatemen ana alkhaq karna beliau tidak memakai konsep tawazun dimana kita musti menempatkan diri kita sebagai makhluk dan menempatkan gusti Allah sebagai Robb… sehingga kita berposisi di level masing2.
    gus wong…. Masing-masing kita diciptakan-Nya dengan dirancang untuk memiliki sekian kombinasi ‘kadar’ keunggulan pada sisi tertentu dan kelemahan pada sisi lainnya, demi kesesuaian untuk melaksanakan sebuah tugas, demi melaksanakan sebuah misi.
    Menemukan ‘misi hidup’ adalah menemukan qadr diri kita sendiri sehingga kita memahami untuk

    (fungsi) apa kita diciptak
    an. Kita menemukan
    qudrah Allah yang ada dalam diri kita sendiri. Inilah maksudnya ‘mengenal diri’ dalam hadits “man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa rabbahu.”.
    “Siapa yang mengenal jiwa (nafs)-nya, akan mengenal Rabb-nya.”
    Tentu saja, dengan mengenal jiwa (nafs) otomatis juga mengenal Rabb, karena pengetahuan tentang fungsi dan kesejatian diri kita hanya bisa turun langsung dari sisi Gusti Allah ta’ala dan bukan dikira-kira oleh kita sendiri. Turunnya pengetahuan sejati (‘ilm) tentang ini bukan kepada jasad maupun kepada otak di jasad kita ini; melainkan hanya kepada jiwa (nafs), diri kita yang sesungguhnya. Dalam jiwa (nafs) kitalah tersimpan pengetahuan tentang diri dan pengetahuan tentang Gusti Allah, karena nafs-lah yang dahulu mempersaksikan Allah dan berbicara dengan-Nya, sebagaimana diabadikan oleh Al-Qur’an di surat Al-A’raaf [7] : 172;
    demikian gus wong pendapat dari si faqir yang butuh penerangan dari sesepuh semuanya dan bukan persoalan apakah alkhalaj benar atau salah tapi memang begitulah qodok qodar alkhalaj… kita sebagai generasi setelahnya bisa menambil pelajaran darinya. ihdinassirotol mustakim….Amin

  24. al-hallaj adalah hidup dan hidup adalah al-hallaj.

  25. kulo nderek hamemayu hayuning bawono

    Jalaluddin Rumi berkata “Beliau Attar (Syaikh Fariduddin Attar, penulis kitab Musyawarah Burung Mantiq At Their) adalah Jiwa itu sendiri”…

  26. kulo nderek hamemayu hayuning bawono

    Syaikhul Islam lebih lanjut menuturkan: “Ia (Al Husain ibn Manshuur Al Hallaj, 244-309 H) memang seorang Imam, hanya saja ia tidak menjaga aturan syariat. Ia tidak keliru sedikitpun kecuali hanya karena masalah ini. Namun meskipun dituduh demikian, nyatanya beliau melakukan sholat sebanyak 1000 rekaat sehari semalam. Bahkan pada hari beliau di eksekusi, ia melaksanakan sholat sebanyak 500 rekaat” ([dari Kitab Nafahat al Uns min Hadharat Al Quds (Hembusan Kasih dari Hadirat Yang Maha Suci), terjemahan, Pancaran Ilahi Kaum Sufi)

  27. sanggupkah kita hancur terpenggal-penggal untuk cinta kita pada Allah ? Ya itu satu diantara kisah misteri Illahi…………..Benarkah dia yang dihukum …? kalau kita kaitkan dengan kisah Isa Almasih………..salam………….salam…….salam………..lanjutkan wong alus……………….

  28. >Coldfire99

    Salam semua…
    sebelum mengomentari sosok al-halaj, ada baiknya kita lihat wujud dari siapa dan apa itu manusia… manusia dalah mahluk yg perlu makan dgn makanan yg special.. yaitu..:
    makan itu bagus untuk kelangsungan hidup… tapi.. bukan makan yang berlebihan, karena justru akan merusak badan itu sendiri..
    manusia terdiri 3 unsur utama dalam haq-nya untuk diberi makanan…
    1.fisik butuh makanan fisik melalui “mulut” harus yang bergizi dan teratur tdk boleh berlebihan.
    2.otak/fikiran butuh makanan ilmu pengetahuan melalui “belajar”… juga ada aturan2 dan tahapan2 tdk bisa berlebihan langsung sekaligus belajar nonstop 24/7… belajar semuanya sekaligus…
    3.Ruh/ruhani/jiwa, butuh makanan spiritual lewat mulut yaitu “hati jiwa kita”… juga tdk bisa berlebihan, maka akan kacau… mabuk jiwa tanpa kendali… bisa dianggap gila.. dunia tidak perduli hanya dia dengan tuhannya saja, anak – istri – tetangga -saudara2 sekitar tidak diperdulikan karena sudah terlalu mabuk cintanya dengan tuhannya.. itu juga tidak sesuai ajaran Islam yg dibawa Muhammad SAW karena manusia umat muhammad SAW ini bertanggung jawab dengan tuhannya, dengan manusia sekitarnya dan dengan lingkungan alam dan mahluk sekitarnya…
    dan sedangkan bagi kita yg yakin, dan dikatakan ALLAH SWT dlm Qur’an.. “sesungguhnya pada diri Muhammad itu adalah sebagai “sebaik-baik Suritauladan”.. hal ini berarti konsep terbaik menurut ALLAH SWT dalam Qur’an ya bagai mana konsep hidup Muhammad SAW sang Kekasih ALLAH SWT sang cahaya kehidupan dalam menjalani aktivitasnya sehari2 24/7… yaa bagi kita yg yakin ..

    mungkin pada poin ketiga tersebut, orang2 tasawuf yg berlebihan dikatakan sesat oleh ulama dizamannya, karena para ulama terdahulu sudah menganggap al-halajspt demikian..
    sebagai salah1 contoh, jika dikatakan bahwa al-halaj melakukan shalat 500 sampai 1000 rakaaat dalam sehari semalam, bagaimana dia bertanggung jawab kepada anak2nya, istrinya, saudara2nya, orangtuanya dan alam sekitarnya.. maka sudah “tidak Rahmatan lil Alamin” lagi jatuhnya…
    padaha rasuluLLAH MuhammadSAW diutus untuk menyempurnakan akhlak kepada seluruh alam (nyata dan ghaib) dan sebagai ajaran Rahmatan lil ‘alamiin…

    Semoga sedulur2 sekalian memahami dan hal ini bermanfaat bagi saya dan spembaca sekalian…

    salam rahayu

  29. >Coldfire99

    sambungan…
    A’udzubiLLAHiminasyaiton nirroziim… “Tidak diciptaka jin dan manusia kecuali untuk beribadah”… jadi hidup adalah ibadah dan ber ibadah dalam berkehidupan.. yg bagaimana???
    yaitu yang diajarkan dan dicontohkan sang “kekasih terkasih ALLAH SWT dialah Muhammad SAW nur kehidupan seluruh alam… karena beliau diajarkan dan di gembleng langsung oleh ALLAH SWT dengan didampingi malaikatnya para malaikat yaitu Jibril AS.. sehingga segalah aspek kehidupan sehari2 dr tidur sampai tidur lagi adalah ajaran yg insyaALLAH terbaik bagi seluruh umat “akhir zaman” ini…
    Hidup adalah ibadah dan beribadah dalam berkehidupan yang terejawantahkan dalam kehidupan sehari2 seperti makan yg beribadah itu bagaimana, berbisnis yg beribadah itu bagaimana.. berjalan, berbicara, bersosial, berpolitik, bernafas dan seluruh ber-ber yg ada pada kehidupan ini sehingga bernilai “Ibadah”… yang bagai mana..??? tentu yang sesuai atau tidak menyalahi koridor2 ajaran yg dibawa oleh Muhammad SAW tadi…

    sekali lg maaf semoga kata2 ini bermanfaat bagi saya sndiri dan juga bagi sedulur sekalian dimana pun berada..

    salam rahayu…

  30. Subhanallah.. Tulisan yang sungguh ‘menggetarkan’ hati. Sungguh, tidak ada yang salah dengan Al Hallaj, kecuali kalimat-kalimat rahasia kasyful mahjub–ungkapan kekaguman ilahiyyah karena terbukanya ‘hijab’, atau tajalli–yang kemudian dianggap ‘ekstrim’ dan ‘murtad’, sehingga beliau diadili dan dihukum mati secara tragis. Kalimat-kalimat rahasia, seperti: ‘Ana’l Haq’ (pada Al hallaj) dan ‘Ana’llah (pada Syech Siti Jenar), dianggap ‘sangat berbahaya’ dan ‘murtad’, yang kemudian berimbas pada hukuman mati Sang Guru Sejati itu..

    Para ‘alim ‘ulama (khususnya para ahli tarekat dan sufi), menafsirkan bahwa kalimat-kalimat ‘rahasia’ seperti: Ana’l Haq itu maksudnya adalah Ana sirr al Haq, dan Ana’llah maksudnya Ana sirr Allah. Jika saat itu, dipahami seperti pemahaman para ‘alim ‘ulam kita saat ini, maka baik Al Hallaj maupun Syech Siti Jenar, sungguh tak layak beliau mendapat hukuman mati.. Tapi, yah, itulah sejarah masa lalu, kadang kekuasaan pengetahuan yang terbatas, mampu menghakimi kebenaran pengetahuan yang lebih luas, melampaui keterbatasan pengetahuan sang hakim..

    Jadi, kalau ditanya lagi: Apa yang salah dengan Al Hallaj? Atau, apa yang salah dengan Syech Siti Jenar? Maka, jawaban kita simple aja: Yang Salah adalah perbedaan ‘persepsi’ atau perbedaan pengetahuan dan pengalaman antara pihak yang ‘menghakimi’ dan pihak yang ‘dihakimi’. Dan itulah ‘cermin retak’ dari sejarah..

    Yang memprihatinkan kita semua, justru yang terjadi akhir2 ini, yang sering dicap dgn ‘label’: aliran sesat! Kasusnya macam2, ada yang mengaku ‘Nabi’, mengaku Imam Mahdi, bahkan ada yang mengaku Tuhan! Kalau boleh saya mengingatkan saudara2ku, sedulur2ku di kampus wong alus ini, janganlah pernah ‘tergoda’ untuk menjadi nabi, wali, guru ghaib, guru sejati, atau bahkan ‘tergila-gila’ untuk menjadi Allah! Karena, setinggi apapun perjalanan ruhani kita (aku sejati), bahkan sampai ‘hilang’ sekian ratus tahun pun, kita takkan pernah menjadi apa2, kecuali hanya menjadi hamba2Nya! Cukuplah (ridho aja) Dia menjadi ‘rahasia’ kita, dan kita ‘menjadi’ rahasiaNya.. Cukuplah kita ‘terpelihara’ olehNya, dan kita terus-menerus (istiqamah) memelihara ke-Maha-Tahu-an-Nya.. Cukuplah, Lillah, fillah, Billah, Bi’idznillah.. Dan jangan ‘tergoda’ untuk lebih dari itu..

    Salam hormat lan katresnan saya untuk kiai wongalus, kiai kumitir, poro kadhang pini sepuh, sumonggo dilanjut ‘pencerahan’ panjenengan.. Insya-Allah, berkah dan manfaat buat semua umat..

    Alhamdulillah.. Rahayu.. Hayyu Ma Hayyu..

    @wongilang @JKT

  31. al hallaj, miss u… syaikh siti jenar, jangan tinggalin ane doonk.. yai wongalus, combong banget cieh?

  32. Kita tdk bz sbegitu sj mnyalah2kan al hallaj,,syaikh sitijenar atwpun yg laen..Qt tdk ptut jd hkim/pemvonis..
    Qt jg tdk bz mmbenar2kan krn qt bknlah Tuhan yg maha tau sglx!
    Daki di wujud sj qt slit untuk mmbersihkanx..Iya kan?
    Mohon mf sodara2q jk hamba salah ngomong maklum krn hamba hanyalah tanah brwujud yg pnuh dgn kotoran sft prilaku n kkurangan..
    Slm knl smua..Dan mf bribu2 mf…!

  33. aeiou

    Siapa saja yang menganggap dirinya tuhan (setuhan) patut belajar lagi?
    Maksud ‘setuhan’ kamus saya – SETUBUH TUHAN.

  34. abi.zubair

    ustad, ana mau tanya nih,
    apakah kita lebih patut mengikuti rasullullah atau ulama sufi yang kita sendiri tidak punya ilmu tentang diri beliau

    kedua,
    apakah mempelajari ilmu macam2 dari situs ini tidak syirik
    soalnya banyak sekali ilmu yang kadang dipikir pikir kita bakal gak punya masalah lagi jika menguasai berbagai ilmu ini, semua jadi mudah sementara kalau kita baca kisah nabi beliau serba susah, terbatas, bahkan dikejar2 musuh, nah apakah nabi tidak lebih hebat dari ilmu ilmu yang ustad suguhkan?

    bagaiman kita membedakan ilmu laduni ini dengan ilmu sihir?

    trimakasih

  35. WINARNO

    Daripada bingung ya ikut Rosullullah, utk mengenal Rosullullah juga ada ilmunya
    Siapa bilang orang sakti nggak punya masalah, buktinya Rahwana/Dasamuka di
    buat pusing karena negaranya di acak2 monyet.

  36. mazren

    itulah sebabnya antara syari’at dan ma’rifat tak pernah bisa jalan berdampingan..dalam kehidupan sehari-hari kadang kita harus bersyari’at,kadang juga harus berma’rifat..ada 3 jalan yang harus di tempuh manusia untuk mencapai tingkat ma’rifat,yaitu syari’at tarikat dan hakikat..umpamanya kita mau ke kalimantan maka syari’at ibarat perahu,tarikat ibarat lautan,hakikat adalah tujuan..dan yang di maksud ma’rifat adalah puncak dari ilmu..syari’at itu aturan,tarikat itu yang kita hadapi sehari-hari,hakikat itu akhir yang kita hadapi,sedang ma’rifat adalah rangkuman dari ketiganya atau penyatuan syari’at tarikat dan hakikat

  37. atok bujang

    senyum

  38. gini aja biar mudah ya……jika memang benar engkau TUHAN maka Engkau tidak akan Mengalami PROSES kematian……….walaupun engkau dikeroyok oleh……………seluruh makhluk yg ada…..hikhikhi
    AAAAAAAAAAAuuuuuuuuuuuuummmmmmmmmmmm

  39. Raiso popo

    islam hanya diperintahkan Taqwa……….itu aja

  40. salam

    Tidak ada yang salah baik zohir maupun bathin, jika semua pihak ditempatkan pada posisi masing-masing. Sedangkan proses kematian Hallaj dengan cara dipenggal adalah merupakan syariat kematian yang dikehendaki oleh Yang Maha Mematikan. Agar menjadi pelajaran. Akan aneh bagi yang merasa aneh, karena adanya keterbatasan dan kelemahan. happy jurney, c U nex life.

  41. minta izin untuk menyimak dan memahami
    semoga manfaat
    maturnuwun mbah

  42. ARek Wonokromo

    marifat tanpa syariat bagaikan kita minum tanpa menggunakan tangan dan gelas (tarikat). maksudnya….. tentu tidak ada kesinambungan antara keinginan dan harapan dengan memakasakan karena ingin mengetahui rasa. manusia punya tangan dan air punya wadah tentu itu yang bakal menemukan rasa. makanya org yang hanya berkata maarifat tanpa mengawali dengan syariat….. adalah org yg tidak berterimakasih pada kanjeng nabi kita Muhammad Saw, jangan marifat fatnpa syariat bagai langit tanpa bintang.
    Lebih indah bila kita bertafakur dan ithikaf bagaimana kita mengkhiri hidup dengan kemusliman dan keislaman sejati. tentunya kita hrs lebih banyak berdiam namun hati berkumandang tentang keindahan kebesaran Dzat dengan hembusan nafas yang selalu menunjukkan keindahan Dzat yg meniupkan ruh.
    zahir dan daim seiring sekata dan tak pernah terpisah meski usia dunia berakhir……. kita tdk perlu ribut mana yg benar dan salah…. karena tugas Al hallaj telah selesai dan sir tetaplah sir. dan menjadi sir karena keterbatasan umat yg berbeda. semoga hati yg rindu akan Dzat dan tak pernah sirnah ini menjadi saksi begitu indahnya perbedaan dalam Islam yang warna warni. Seperti Allah menciptakan manusia yg berbeda wajah dan suara…. dan Ruh tetaplah satu kesatuan yg tak terpisah dengan yang memiliki semuar ruh yang ada di bumi ini. Maha Suci Allah

  43. ARek Wonokromo

    bukan sir kalau kita membahas dengan beda pandangan berhenti menafsirkan…… yang jelas jalanku adalah jalanNya meski banya berbeda semoga bukan mudhorat dalam perbedaam karena jahir dr garis dan jari tangan kita sama….. Itulah Iman yg membedakan drajat kita sesama mahluk meski demikian Iman dengan menemukan Maarifat adalah keindahan sejati yg kita temukan dam islam yg sebenarnya………Jasadku….. Umurku……hidupku,

    matur nuwon sedulur kulo sedoyo.

  44. nderek nyimak wonten mriki

  45. nawang wulan

    nuwun nggih, kang wong alus…

    gimana cara masuk ke langit kesatu ya???? membayangkan seandainya kita bisa rame2 langsung kesana,,saling berkomunikasi, musyawarah…..alangkah indahnya batin ini….

  46. andi

    inggih leres kakang cinta memang membutuhkan pengorbanan

  47. amaludin

    Orang jaman sekarang tak mengerti tauhid lagi karena bapak Tauhidnya seperti Al Hallaj dan Siti Jenar dibunuh dengan keji. Akhirnya pengetahuan mereka tak terwariskan lagi. Jadilah negara “Islam 90%” ini seperti hidup tanpa agama, korupsi merajalela, penduduknya saling makan. Kasihan deh kita-kita

  48. hasan alholidi nataprdja

    siip.. saya suka sejarah dan saya sangat bersukur ternyata alloh maha agung.. sugie pangeran.. dunyo si rame.. dan menurut ku tetep semua kembali ke af’al… buat alloh bisa saja yg salah di masukkan ke surga dan yg benar di masukan kenaraka.. tapi di liat dari knyataannya mustahil hal itu terjadi..
    salam hormat dan salam silaturahmi

  49. muhammad zhulkiefli

    ijin menyimak ya dan memahami

  50. muhammad zhulkiefli

    Bang dodi sedang menyelam.
    Didalam air ketemu tulang.
    Jikalau tubuh sudah ditanam.
    Kemana diri akan menghilang

  51. Firman

    Ass. Maaf saya kritik sedikit. Ini al halaj ilmunya berbeda jauh dengan ilmunya siti jenar. Al halaj masih di tipu bayangan-Nya sedangkan siti jenar tidak rahasianya ada di al qur’an. Hanya saja siti jenar cepat menyimpulkan saja, makanya ketika di ingatkan ia pulang.

  52. ahmad azka

    Assalamu’alaikum..

    izin share para sesepuh wong alus, semoga ini bisa menjad secercah cahaya…

    Bissmillah….

    Masih ada saja muncul perbedaan dalam memandang pada sosok yang sudah jelas salah jalan ini. Di antara yang menjadi penyebabnya, adalah kedangkalan ilmu atau kekeliruan standar yang dipakai untuk menilainya. Oleh karena itu, muncul pertanyaan tentang jati diri al Hallaj, yaitu Husain bin Manshur, yang diarahkan kepada Ibnu Taimiyah rahimahullah. Apakah Husain bin Manshur ini seorang yang jujur? Ataukah ia seorang zindiq? Apakah ia seorang wali Allah, ataukah seorang yang bergelut dengan khurafat, sebagaimana para dukun? Apakah dibunuhnya dia di hadapan para ulama disebabkan kekufurannya, ataukah dibunuh dengan tanpa bukti kesalahan?

    Syaikhul islam rahimahullah menjelaskan penyebab kekeliruan penilaian ini, yaitu: “Orang-orang yang tidak mempunyai pegangan, sulit untuk membedakan kejadian mana yang hak dan batil. Jika seorang belum tersinari hatinya dengan keimanan dan ittiba’ al haq (mengikuti kebenaran), ia tidak bisa membedakan antara jalan orang-orang yang benar dengan orang-orang batil, seperti rancunya pandangan orang-orang terhadap Musailamah (al Kadzdzab), dari Yamamah dan pendusta-pendusta lainnya yang mengaku sebagai para nabi, padahal mereka, tiada lain hanyalah pendusta.”

    Awal Kehidupan Al Hallaj

    Al Hallaj, tumbuh di kota Wasith. Namun ada pendapat lainnya, yaitu di daerah Tustar. Kota Baghdad pun pernah ia masuki. Dia juga kerap sekali menuju Mekkah dan menetap di Masjidil Haram. Kebiasaan yang sering ia lakukan di sana, senang menyusahkan fisiknya. Misalnya: mencari tempat duduk tanpa naungan, di tengah masjid, saat musim dingin maupun musim panas. Secara sengaja, ia juga pernah duduk di bebatuan saat panas sangat terik.

    Al Hallaj sempat juga berguru pada beberapa tokoh sufi. Guru-guru tersebut, misalnya: al Junaid bin Muhammad, Amr bin ‘Utsman al Makki dan Abul Husain an Nuri. Akan tetapi, kalangan kaum sufi menampik “keanggotaan” al Hallaj menjadi bagian mereka.

    Pada awalnya, ia tampak sebagai ahli ibadah dan berakhlak baik. Akan tetapi, tanpa didasari bekal ilmu. Tindak-tanduknya tidak dibangun di atas ketakwaan kepada Allah dan keridhaan-Nya. Dia pernah bertolak ke negeri India untuk mendalami berbagai macam ilmu sihir. Bahkan kemudian, ia abadikan ilmu sihirnya tersebut dalam sebuah tulisan yang disebarluaskan. Oleh karena itu, Ibnu Katsir berkata, bahwa ia lebih banyak merusak ketimbang melakukan perbaikan.

    Selanjutnya, ia dirasuki ‘aqidah hulul dan ittihad (keyakinan tentang bersatunya Allah dengan makhluk-Nya). Sehingga ia pun termasuk dalam golongan orang-orang yang sesat dan menyimpang.

    Banyak negeri telah ia telusuri. Dan keadaannya pun berubah total. Meski sudah jelas kesesatannya, masih saja ia mengklaim sebagai da’I di jalan Allah, dengan bekal ilmu sihir yang ia pelajari.

    Karamah Palsu

    Suatu ketika, ia pernah memerintahkan murid-muridnya untuk pergi ke sebuah padang untuk menyembunyikan buah-buahan dan manisan. Setelah itu, ia mengundang orang-orang yang gila dunia ke tempat yang berdekatan dengan tempat disembunyikannya buah-buahan tersebut.

    Al Hallaj menawarkan kepada mereka: “Apa yang kalian inginkan untuk aku suguhkan bagi kalian di padang ini?”

    Orang-orang pun menyebutkan buah-buahan dan manisan.

    Maka al Hallaj segera menjawab: “Tunggu sebentar,” kemudian ia bergegas ke tempat yang telah dipersiapkan dan sekembalinya, ia membawa barang-barang yang telah ia sembunyikan atau sebagiannya. Maka orang-orang itu mengira jika buah-buahan dan manisan itu merupakan karamahnya.

    Al Hallaj termasuk tokoh dari orang-orang yang menekuni “kedigdayaan setan” dan “kekuatan palsu” itu.

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Semakin jauh seseorang dari Allah dan Rasul-Nya serta jalan kaum mukminin, maka ia semakin dekat dengan setan. Mampu terbang di angin, padahal setanlah yang membawanya. Digdaya menghadapi banyak manusia, akan tetapi, setannyalah yang beraksi. Dapat menyuguhkan makanan dan minuman, padahal setannyalah yang melakukannya. Orang-orang jahil mengira, jika itu merupakan karamah wali Allah yang bertakwa. Padahal bersumber dari tukang sihir, dukun dan orang-orang yang sepaham dengan mereka.”

    Sebagian Kekufuran Al Hallaj

    Ibnu Hauqal menuliskan, al Hallaj muncul dari Persia. Dia mendalami ibadah dan thariqat sufi. Fase demi fase ia alami, sampai akhirnya ia berpandangan: “Siapa saja yang membina raganya dalam ketaatan kepada Allah, menyibukkan hatinya dengan amalan-amalan, bersabar dari kenikmatan-kenikmatan, menahan diri dari syahwat, maka ia akan melaju ke tingkat kesucian, hingga dirinya akan lepas dari unsur kemanusiaannya. Bila ia telah suci, maka ruh Allah yang dulu masuk ke Isa akan menyatu pada dirinya, hingga ia pun menjadi manusia yang ditaati, mampu berkata kepada sesuatu, ‘jadilah’, maka terjadilah (kun fayakun).”

    Al Hallaj menempuh cara ini untuk mengajak manusia agar mengikutinya. Dan ia pun berhasil memikat hati sejumlah orang dari kalangan umara, wuzara (pegawai), raja-raja, orang kuat dan orang umum.

    ‘Amr bin ‘Ustman al Makki telah menyatakan bahwa al Hallaj seorang kafir. Ia menceritakan: “Aku pernah bersamanya. Ia pun mendengar seseorang sedang membaca Al Qur’an, maka ia berkomentar, ‘aku bias mengarang (tulisan) seperti Al Qur’an’ , atau perkataan yang mirip dengan ini.”

    Dia juga pernah menuliskan sebuah surat, yang ia awali dengan Minar-Rahmanir-Rahim, ila Fulan ibni Fulan (Dari Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang untuk Fulan bin Fulan).

    Orang-orang pun berkata: “Sebelumnya engkau mengaku sebagai nabi. Sekarang engkau mengaku sebagai tuhan?”

    Namun al Hallaj menjawab: “Tidak demikian. Akan tetapi, itulah bentuk penyatuan yang kami lakukan. Bukankah penulisnya adalah Allah? Bukankah saya dan tangan ini hanya alat belaka?”

    Hari-Hari Terakhir Kebinasaan Al Hallaj

    Pemerintah pada masa itu, yang menjadi menteri adalah Hamid bin al ‘Abbas. Beliau mendengar berita, kalau al Hallaj telah menyesatkan sejumlah orang dari kalangan pegawai kesultanan. Kabar yang tersiar, ia sanggup menghidupkan orang-orang yang sudah mati, jin menjadi pelayannya dan menyediakan apa saja yang diinginkan al Hallaj. Bahkan seseorang yang bernama Muhammad bin ‘Ali al Qana-i al Katib menyembahnya. Orang ini pun ditangkap di rumahnya dan mengaku termasuk pengikut al Hallaj. Di dalam rumahnya, dijumpai tulisan-tulisan al Hallaj yang dibuat dengan kemasan yang mewah, ditemukan pula barang-barang al Hallaj, termasuk juga kotorannya.

    Selanjutnya, Hamid bin al ‘Abbas meminta Khalifah al Muqtadir Billah rahimahullah untuk menangani kasus ini. Dan akhirnya Khalifah memberikan mandate kepada Hamid untuk menuntaskannya. Maka dipanggillah para pengikut al Hallaj.

    Dalam proses interogasi, terungkaplah pengakuan para pengikutnya ini, jika al Hallaj mengaku sebagai tuhan bersama Allah dan sanggup menghidupkan orang mati. Namun al Hallaj menampik tuduhan tersebut. Dia membela diri, kalau masih bertauhid, menyembah Allah, mengerjakan shalat. Lisannya bahkan selalu beristighfar. Saat itu, ia dalam keadaan dibelenggu dengan rantai dan mengenakan baju besi. Di dua kakinya terdapat tiga belas rantai. Sedangkan baju besinya sampai ke lutut, dan rantai pun menutupi lututnya.

    Ulama pun dikumpulkan. Mereka sepakat jika al Hallaj telah melakukan kekufuran dan perbuatan zindiq. Dia seorang tukang sihir dan pendusta.

    Di antara pengikutnya, terdapat dua orang yang bertaubat, yaitu Abu Ali Harun bin ‘Abdul ‘Aziz al Auraji dan ad-Dabbas. Dua orang ini menceritakan rusaknya keyakinan al Hallaj, dan dakwahnya yang menyesatkan manusia, berupa kedustaan, perbuatan fujur (maksiat), tipuan-tipuan dan praktek sihirnya. Istri dari anaknya, Sulaiman juga memberikan kesaksian, jika al Hallaj pernah mencoba memperkosanya saat ia tertidur. Akan tetapi, ia cepat terjaga, sehingga al Hallaj berkilah dengan berkata: “bangunlah untuk shalat.”

    Di sebuah majlis terakhir yang diadakan, datanglah Qadhi Abu ‘Umar Muhammad bin Yusuf. Al Hallaj dihadapkan kepadanya. Sebuah kitab karya al Hallaj, yang diambil dari salah satu rumah pengikutnya, terdapat pernyataannya: “Siapa saja yang terlewatkan ibadah haji, hendaknya ia membangun rumah dan melakukan thawaf di sekelilingnya, sebagaimana Ka’bah, disertai bersedekah untuk 30 anak yatim dengan sedekah. Sungguh perbuatan ini telah mewakili kewajiban haji.”

    Orang-orang bertanya tentang pendapatnya ini: “Dari mana engkau memperoleh pernyataan ini?”

    Al Hallaj menjawab: “Dari Hasanul Bashri dalam Kitabush-Shalah,” maka Qadhi Abu ‘Umar menampiknya: “Engkau berdusta, wahai zindiq! Aku telah membaca kitab itu dan (pernyataan yang kau sampaikan) tidak ada di sana.”

    Maka menteri meminta para saksi untuk mendengarkan pernyataan tersebut. Mereka pun sepakat tentang kufurnya perkataan al Hallaj, hingga kemudian sepakat menjatuhkan hukuman mati baginya.

    Selanjutnya, Hamid sebagai menteri, meminta pernyataan Qadhi Abu Umar dan para ulama yang hadir saat itu, bahwa al Hallaj telah kafir. Lembaran pernyataan ini dikirimkan ke al Muqtadir Billah.

    Al Muqtadir Billah rahimahullah kemudian menyerahkan eksekusinya kepada kepala syurthah (kepolisian) Muhammad bin ‘Abdish-Shamad agar mencambuknya seribu kali. Jika belum mati juga, maka dipenggal lehernya. Eksekusi itu dilaksanakan hari Selasa tanggal 24 Dzul Qa’dah 309 H.

    Menjelang eksekusi hukuman mati, al Hallaj mengalami kegelisahan. Dia pun memperlihatkan penyesalan dengan bertaubat dan berpegang dengan Sunnah, namun tidak diterima. Sekiranya ia dibiarkan hidup, tentu banyak orang jahil yang terpedaya lagi dengannya. Pasalnya, ia memiliki khaza’balat buhtaniyah (dongeng-dongeng dusta) dan ahwal syaithaniyah (keajaiban sihir). Sehingga hanya orang-orang yang terpukau dengan kejadian-kejadian aneh yang mengagungkan al Hallaj.

    Hembusan Khurofat Pasca Kematiannya

    Pada detik-detik kematiannya, tidak terlihat sedikitpun karamah. Apa yang didengung-dengungkan, bahwa tetesan darahnya membentuk lafazh Allah, atau sungai Tigris berhenti mengalir, atau sebaliknya, air tampak pasang dan kejadian aneh lainnya, itu hanyalah kedustaan semata.

    syaikhul islam rahimahullah memberi sanggahan dengan pernyataannya: “Cerita-cerita ini tidak menjadi buah bibir, kecuali pada orang-orang yang jahil atau munafik. Para zindiq dan musuh Islam telah melakukan rekayasa, supaya tersebar opini bahwa syari’at Muhammad bin ‘Abdullah telah membunuh salah satu wali Alah, manakala orang-orang mendengar cerita-cerita ini.

    Padahal telah terbunuh banyak nabi, para pengikut dekatnya, para sahabat nabi kita, kalangan tabi’in dan orang-orang shalih lainnya yang tidak terukur jumlahnya, dan mereka meninggal oleh pedang-pedang kaum fujjar (orang-orang jahat), kuffar dan zhalim dan lainnya, akan tetapi tidak ada tetesan darah mereka yang membentuk nama Allah. Selain itu, darah hukumnya najis, maka tidak boleh dipakai untuk menulis nama Allah. Apakah al Hallaj lebih baik dari mereka itu? Apakah darah al Hallaj lebih suci dari darah mereka?”

    Setelah kematiannya, ditetapkan larangan menjual atau membeli kitab-kitab karangan al Hallaj.

    Begitulah akhir kehidupan al Hallaj sang pendusta. Orang ini dibunuh karena kekufurannya, dan telah terbukti melalui pengakuannya sendiri serta berdasar kesaksian orang lain. Vonis mati dijatuhkan berdasarkan kesepakatan para ulama kaum Muslimin. Bila ada yang menilai vonis matinya tidak berdasarkan kebenaran, kalau ia bukan seorang munafik yang mulhid, maka ia seorang jahil dhall (tak berilmu lagi sesat).

    Penyebab al Hallaj dihukum mati, karena banyaknya kekufuran yang ada pada dirinya. Sebagian saja sudah cukup untuk menyeretnya dihukum mati, apalagi bila disebutkan secara keseluruhan. Dia bukan termasuk dari kalangan orang-orang bertakwa.

    Adapun para fuqaha, sudah dikutip lebih dari seorang ulama dan imam mengenai ijma’ (kesepakatan) mereka atas hukuman mati bagi al Hallaj. Dia terbunuh dalam keadaan kafir, seorang pendusta, penipu dan tukang sihir.

    inti keyaqinan aqidah tersebut adalah pada wihdatul wujud/hulul/ittihad

    Dalam tinjauan al-Hafiszh as-Suyuthi, keyakinan hulûl, ittihâd atau wahdah al-wujûd secara hitoris awal mulanya berasal dari kaum Nasrani. Mereka meyakini bahwa Tuhan menyatu dengan nabi Isa, dalam pendapat mereka yang lain menyatu dengan nabi Isa dan ibunya; Maryam sekaligus. Hulûl dan wahdah al-wujûd ini sama sekali bukan berasal dari ajaran Islam. Bila kemudian ada beberapa orang yang mengaku sufi meyakini dua akidah tersebut atau salah satunya, jelas ia seorang sufi gadungan. Para ulama, baik ulama Salaf maupun Khalaf dan kaum sufi sejati dan hingga sekarang telah sepakat dan terus memerangi dua akidah tersebut. (as-Suyuthi, al-Hâwî…, j. 2, h. 130, Pembahasan lebih luas tentang keyakinan kaum Nasrani dalam teori hulûl dan Ittihâd lihat as-Syahrastani, al-Milal Wa al-Nihal, h. 178-183).

    Al-Imâm al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi menilai bahwa seorang yang berkeyakinan hulûl atau wahdah al-wujûd jauh lebih buruk dari pada keyakinan kaum Nasrani. Karena bila dalam keyakinan Nasrani Tuhan meyatu dengan nabi Isa atau dengan Maryam sekaligus (yang mereka sebut dengan doktrin trinitas), maka dalam keyakinan hulûl dan wahdah al-wujûd Tuhan menyatu dengan manusia-manusia tertentu, atau menyatu dengan setiap komponen dari alam ini.

    Demikian pula dalam penilaian Imam al-Ghazali, jauh sebelum as-Suyuthi, beliau sudah membahas secara gamblang kesesasatan dua akidah ini. Dalam pandangan beliau, teori yang diyakini kaum Nasrani bahwa al-lâhût (Tuhan) menyatu dengan al-nâsût (makhluk), yang kemudian diadopsi oleh faham hulûl dan ittihâd adalah kesesatan dan kekufuran (as-Suyuthi, al-Hâwî…, j. 2, h. 130). Di antara karya al-Ghazali yang cukup komprehensif dalam penjelasan kesesatan faham hulûl dan ittihâd adalah al-Munqidz Min adl-Dlalâl dan al-Maqshad al-Asnâ Fî Syarh Asmâ’ Allah al-Husnâ. Dalam dua buku ini beliau telah menyerang habis faham-faham kaum sufi gadungan. Termasuk juga dalam karya fenomenalnya, Ihyâ ‘Ulumiddîn.

    Imam al-Haramain dalam kitab al-Irsyâd juga menjelaskan bahwa keyakinan ittihâd berasal dari kaum Nasrani. Kaum Nasrani berpendapat bahwa ittihâd hanya terjadi hanya pada nabi Isa, tidak pada nabi-nabi yang lain. Kemudian tentang teori hulûl dan ittihâd ini kaum Nasrani sendiri berbeda pendapat, sebagain dari mereka menyatakan bahwa yang menyatu dengan tubuh nabi Isa adalah sifat-sifat ketuhanan. Pendapat lainnya mengatakan bahwa dzat tuhan menyatu yaitu dengan melebur pada tubuh nabi Isa laksana air yang bercampur dengan susu. Selain ini ada pendapat-pendapat mereka lainnya. Semua pendapat mereka tersebut secara garis besar memiliki pemahaman yang sama, yaitu pengertian kesatuan (hulûl dan ittihâd). Dan semua faham-faham tersebut diyakini secara pasti oleh para ulama Islam sebagai kesesatan. (as-Suyuthi, al-Hâwî…, j. 2, h. 130, mengutip dari Imam al-Haramain dalam al-Irsyâd).

    Dalam tinjauan Imam al-Ghazali, dasar keyakinan hulûl dan ittihâd adalah sesuatu yang tidak logis. Kesatuan antara Tuhan dengan hamba-Nya, dengan cara apapun adalah sesuatu yang mustahil, baik kesatuan antara dzat dengan dzat, maupun kesatuan antara dzat dengan sifat. Dalam pembahasan tentang sifat-sifat Allah, al-Ghazali menyatakan memang ada beberapa nama pada hak Allah yang secara lafazh juga dipergunakan pada makhluk. Namun hal ini hanya keserupaan dalam lafazhnya saja, adapun secara makna jelas berbeda. Sifat al-Hayât (hidup), misalkan, walaupun dinisbatkan kepada Allah dan juga kepada manusia, namun makna masing-masing sifat tersebut berbeda. Sifat hayat pada hak Allah bukan dengan ruh, tubuh, darah, daging, makanan, minuman dan lainnya. Sifat hayat Allah tidak seperti sifat hayat pada manusia.

    Imam al-Ghazali menuliskan bahwa manusia diperintah untuk berusaha meningkatkan sifat-sifat yang ada pada dirinya supaya mencapai kesempurnaan. Namun demikian bukan berarti bila ia telah sempurna maka akan memiliki sifat-sifat seperti sifat-sifat Allah. Hal ini sangat mustahil dengan melihat kepada beberapa alasan berikut;

    Pertama; Mustahil sifat-sifat Allah yang Qadîm (tidak bermula) berpindah kepada dzat manusia yang hâdits (Baru), sebagaimana halnya mustahil seorang hamba menjadi Tuhan karena perbedaan sifat-sifat dia dengan Tuhan-nya.

    Kedua; Sebagaimana halnya bahwa sifat-sifat Allah mustahil berpindah kepada hamba-Nya, demikian pula mustahil dzat Allah menyatu dengan dzat hamba-hamba-Nya. Dengan demikian maka pengertian bahwa seorang manusia telah sampai pada sifat-sifat sempurna adalah dalam pengertian kesempurnaan sifat-sifat manusia itu sendiri. Bukan dalam pengertian bahwa manusia tersebut memiliki sifat-sifat Allah atau bahwa dzat Allah menyatu dengan manusia tersebut (hulûl dan ittihâd) .

    Dari pernyataan para ulama sufi di atas tentang akidah hulûl dan wahdah al-wujûd dapat kita tarik kesimpulan bahwa kedua akidah ini sama sekali bukan merupakan dasar akidah kaum sufi.

    Penutup:
    Sama sesatnya dengan orang-orang berkayakinan hulul atau wahdah al-wujud adalah orang-orang yang berkeyakinan bahwa Allah bertempat di langit atau bertempat di atas arsy, karena bila demikian maka berarti Dia berada pada makhluk-Nya sendiri, Au’dzu Billah.
    Hindari dan waspadai keyakinan Wahhabi yang mengatakan Allah bertempat di langit, pada saat yang sama mereka juga mengatakan di arsy, di dua tempat heh!!! Yang mengherankan: Mereka yakin bahwa arsy dan langit makhluk Allah, tapi mereka mengatakan bahwa Allah bertempat pada keduanya, di mana akal mereka!!!!!! Hasbunallah…….
    Ingat,
    Akidah Rasulullah, salaf saleh, dan mayoritas ummat Islam; kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah: ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN TANPA ARAH

    Maraji’:

    - Al Bidayah wan-Nihayah, Ibnu Katsir, Takhrij Ahmad bin Sya’ban Ahmad, Muhammad bin ‘Adi, dan Abdul Halim, Cetakan I Tahun 1422 H / 2003 M.

    - Jami’ur-Rasail, Syaikhul islam, Tahqiq Muhammad Rasyad Salim, dengan judul Risalah Fil Jawabi ‘An Sualin ‘Anil Hallaji: Hal Kana Shidiqqiqan An Zindiqan, hlm 187-199.

    - Taqdisul Asykhasi fil-Fikrish-Shufi, Muhammad Ahmad Luh, Darul-Ibnil-Qayyim dan Dar Ibni ‘Affan, Cetakan I Tahun 1423 H / 2002 M.

  53. daeng ca'di

    sebuah kebenaran namun pada zaman itu masyarakat belum mampu menterjemahkannya..dialah kekasihnya.alfatiha kmi kirimkan

  54. sure

    ALLAHUL MUSTA’AN…….

  55. SANGKELAT 13

    tulisan sdr. ahmad azka hanya kutipan dari tulisan ulama wahabi. membaca sejarah hanya dari sebelah hati tanpa mau menelaah tulisan sejarah lainnya. sementara ahmad azka belum hidup di masa itu. bgm ahmad azka bisa menghujjah beliau kafir dan pendusta. keberanian yg luar biasa dari sdr ahmad azka memastikan seseorang duduk di neraka.. hanya Allah yg bisa memastikan atau ahmad azka jg bisa ??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

%d bloggers like this: