PULANG KE BATIN


Setiap kali pulang ke rumah orang tua di lereng Gunung Lawu, perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur saya biasanya menyempatkan diri untuk mendaki sebuah perbukitan kecil dan menyempatkan diri duduk di atas sebuah gua. Membebaskan batin untuk mengangkasa bersama semilir angin yang berhembus sepoi-sepoi…

Tempat orang tua saya berdomisili ini adalah sebuah desa terpencil di utara Gunung Lawu. Namanya Desa Kuniran, Kecamatan Sine yang berada di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Inilah desa paling akhir di ujung Kabupaten yang berbatasan dengan Kabupaten Sragen, Jawa Tengah itu.

Untuk memasuki wilayah Desa Kuniran, Kecamatan Sine, ada beberapa alternatif jalan. Ada yang harus melewati Kecamatan Jogorogo yang relatif berkelok-kelok, ada yang landai yaitu yang melalui kawasan Tunjungan dekat Sragen, ada pula yang melalui Kecamatan Mantingan. Bisa pula melewati Alas Ketangga lantas terus ke selatan. Alas ini terkenal bagi kalangan mistikus untuk mencari sandi-sandi rohani. Bagi kalangan mistikus, Alas Ketangga adalah “Ibu” sementara Alas Purwo di Banyuwangi adalah “ayah”. Konon, bila ingin melengkapi laku spiritual, bergurulah ke “ayah dan ibu” ini, maka sang anak yaitu Anda akan “lengkap” ngelmu-nya.

Bagi saya pribadi, tidak terlalu ribet untuk percaya dengan kepercayaan mistik yang demikian itu. Untunglah, Tuhan memberikan saya kebodohan untuk memahami bahasa-bahasa sandi yang demikian sehingga tidak terlalu kebingungan untuk menjalani laku yang mereka percaya. Barangkali pula, Tuhan akan menunjukkan cara dan jalan yang lain untuk memahami ngelmu kasunyatan versi saya. Saya yakin, Tuhan Maha Memberi Petunjuk setiap saya mengarahkan rasa dan menggeluti dunia batin-Nya yang Maha Tidak Terjangkau.

Salah satu jalan yang ditunjukkan-Nya adalah jalan pulang ke rumah orang tua. Biasanya saya pergunakan kesempatan yang langka tersebut untuk mengembalikan dan membersihkan diri dari segala macam polusi mental yang keruh akibat terlalu banyak bersinggungan dengan dunia fisik. Semesta fisik, material, benda bila terlalu banyak berada di dalam pikiran memang akan cenderung membuat pikiran dan batin kita keruh. Pikiran dan batin tidak mampu untuk melihat dan merasakan kehadiran hal-hal yang gaib, mistik, supranatual, adikodrati dan transendental. Itulah sebabnya, saya merasa perlu untuk mengosongkan mental, batin dan pikiran agar mampu mengakses energi Tuhan yang Maha Hebat.

Perjalanan dari Surabaya menuju Ngawi saya simbolkan perjalanan ruhani dari yang dangkal menuju yang tinggi. Surabaya berada di dataran rendah lambat laun meninggi pelan-pelan, berproses setapak demi setapak menggapai kedamaian semedi. Hingga akhirnya menuju lereng Lawu yang berada di sekitar 2000 meter di atas permukaan laut.

Saat melewati kota-kota, saya mengibaratkan sebagai sebuah titik-titik perjalanan ruhani yang harus disinggahi. Terkadang harus istirahat hanya untuk menghela nafas, menunggu tarikan ruhani yang menyedot energi kebenaran yang ada di mana-mana. Lantas kemudian, saya harus bergegas-gegas untuk sebuah pengalaman spiritual baru. Perjalanan baru yang harus saya tempuh, saya berusaha atasi dengan sabar ikhlas, nrimo dan SUMARAH. Terkadang pula, saya harus jatuh tersungkur karena sebuah sebab dimana saya harus menanggung kebodohan akibat pola pikir, mindset dan keliru untuk berolah rasa. Namun kemudian bangkit lagi dengan cara baru memandang kasunyatan ini.

Perjalanan dari yang lahir menuju yang batin adalah sebuah proses yang unik. Bukan harus mengalahkan yang lahir demi kemenangan yang batin, namun perjuangan yangh batin untuk menguasai yang lahir agar tidak ngawur dan membabi buta cakil. Kecenderungan yang lahir ini bergerak sembarangan karena tarikan yang lahir juga luar biasa besar. Benda-benda di bumi ini memiliki kekuatan magnetik untuk menarik dan menyedot benda-benda lain. Benda akan bersinggungan kemudian lengket dan susah untuk dipisahkan. Bila tubuh jasmani yang benda ini berdekatan dengan benda tubuh jasmani yang lain maka pasti akan terjadi saling tarik menarik yang kuat. Begitu pula bila tubuh jasmani yang hanya benda ini berdekatan dengan benda lain seperti cincin indah, kendaraan mewah dan mahal, atau tubuh jasmani lain yang indah maka dipastikan terjadi ketertarikan dan akhirnya lengket susah terpisah.

Bila ini terjadi dalam waktu sekian lama dan titik orientasi kesadaran kita tidak beranjak dari semesta tarik menarik seperti ini, saya beranggapan hidup kita sia-sia. Sebab harusnya kesadaran kita terangkat semakin tinggi, bahkan harus mentransendensikan yang lahir oleh yang batin. Oleh karenanya, usaha untuk memfokuskan dan lebih menomorsatukan yang batin daripada yang lahir adalah sebuah perjuangan berat yang harus diperjuangkan oleh manusia. Bukankah manusia adalah titik tengah antara yang lahir dan batin? Malaikat, jin, dan beragam variannya, kejujuran, kebijaksanaan, keikhlasan adalah serba batin. Hewan, tumbuhan, batu-batu mulia, mobil, mall, logam mulia, uang, eknonomi, politik, DPR, Presiden, Jabatan, Kekuasaan, Korupsi semuanya serba lahir.

Tuhan adalah Dzat yang awal dan akhir, yang lahir dan yang batin. Sama seperti manusia. Itu sebabnya manusia berderajat tertinggi karena hanya dialah yang mampu “Menyamai Peran Tuhan”, ditunjuk menjadi WAKIL, HAMBA, PELAYAN, KEKASIH-NYA. Luar biasanya manusia tidak terletak pada akalnya-ciptanya (Ilmu Pengetahuan), namun juga rasa (spiritualitas, agama, kepercayaan), juga Karsa (kelakuan untuk menjalani perannya). Karena posisisnya yang sangat strategis itulah manusia harusnya terus memfokuskan diri tanpa sedetikpun melupakan TUHAN. Kita harus mengorientasikan hidup kita untuk selalu NGESTI TUNGGAL.

Banyak orang pintar namun kurang bermoral, banyak orang bermoral namun kurang pintar. Banyak orang pintar, bermoral namun kurang bijaksana. Justeru terkadang kebijaksanaan lahir dari orang yang tidak pintar namun bermoral. Sesungguhnya, kebijaksanaan lahir dari sebuah keutuhan bangunan kemanusiaan yang harusnya terus dicari karena kebijaksanaan tidak pernah mengenal titik henti. Kebijaksanaan akan terus berproses dan terus menjadi (BECOMING) tidak bisa hanya berada di satu titik eksistensi (BEING) saja namun lebih ke memudar (PERISHING) dan menyatu kembali dalam wujud yang berlainan. Untuk menggambarkan apa dan bagaimana luas cakupan Kebijaksanaan ada baiknya saya mengutip sebuah ilustrasi sederhana. Ilustrasi hanya ilustrasi yang hanya sekedar cara untuk memahami bahwa kebijaksanaan lebih luas dari ilmu pengetahuan.

Pada suatu saat ada dua orang murid, yang satu bernama Yan Juan, murid yang paling pandai, yang satunya lagi tidak disebutkan namanya, katanya murid yang paling tidak pandai. Dua-duanya berguru kepada Kong Cu atau Konfusius yang oleh umat Konghucu disebut sebagai Nabi Kong Cu. Kisahnya begini, Yan Juan, si murid pandai, dengan murid satunya lagi sedang bercakap-cakap. Murid yang tidak pandai menantang murid yang pandai. “Mari kita berlomba?” “Apa Maksudnya?” “Saya mengajukan pertanyaan, 8 kali 3 berapa?” Yan Juan menjawab, “24.” “Salah, yang betul 23.” “24 dong.” “Salah, kamu katanya pandai, ternyata jawabannya 24, yang betul 23.”

Berdebat di situ. Yang tidak pandai menantang, mari kita datang ke guru. “Kalau saya yang salah, jawabanmu yang benar 24, saya akan memotong leher saya sendiri. Kalau kamu yang benar ternyata jawabannya 24, topimu kamu lepas.” Topi melambangkan kecendekiawanan, kepandaian seseorang waktu itu. Yan Juan tidak ingin seperti itu, karena khawatir dan cemas, kalau ada apa-apa dengan temannya itu.

Singkat kata, karena tidak mencapai titik temu, datanglah ke Nabi Kong Cu. Sampai di tempat itu Kong Cu berkata, “ada apa?” Dijelaskanlah oleh dua-duanya tentang lomba itu. Dengan berdebar-debar dua-duanya menunggu jawaban Kong Cu. “Yang benar berapa, Guru? 8 kali 3 itu berapa?” “Yang benar ya 23.” Mendengar itu Yan Juan, murid yang paling pandai kecewa sekali, marah, bahkan menuduh sang guru telah berbohong. Akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan tempat itu dan mengancam akan keluar dari perguruan itu dan tidak ingin menjadi muridnya.

Sang Guru Kong Cu tersenyum, “Silakan. Cuma begini Yan Juan, kamu akan jalan barangkali ada hujan lebat, hujan besar, jangan deket-deket dengan pohon yang besar, atau berlindung karena pohon itu akan tumbang.” Keluar dia dari situ. beberapa saat hujan lebat, badai angin kencang. Ketika mendekati pohon, ingat kembali pesan Kong Cu, dengan cepat dia meninggalkan pohon itu dan betul saja dalam hitungan detik pohon tumbang menghancurkan semua yang ada di sekitarnya.

Dia terhenyak, dia mengatakan Kong Cu bukan orang sembarangan. Ia kembali, kepada Kong Cu memohon maaf atas kekasarannya dan kemudian barangkali ada nasihat. Yan Juan dengarkan, “Kalau saya ditanya 8 kali 3 yang benar ya 24, tetapi bayangkan kalau saya mengatakan 24 waktu itu, kamu akan menyesal seumur hidup, kamu akan merasa berdosa, karena ada seorang temanmu yang nyawanya hilang karena kamu.” 8 kali 3 atau 24 dalam konteks ini adalah kebenaran kecil, kebenaran matematis. Kebenaran besarnya adalah berapa nyawa orang yang harus diselamatkan.

Kisah di atas bisa diambil hikmah bahwa ilmu pengetahuan memang benar mampu membuka cakrawala kenyataan secara eksak, pasti dan tidak terbantahkan. Semua orang tahu itu. Tetapi, ilmu pengetahuan tidak mampu untuk menangkap hakikat pergelaran alam semesta yang begitu kompleks ini. Kebenaran kecil adalah kebenaran rasio, akal dan matematis. Kebenaran besar adalah bagaimana kita mampu mengolah akal, rasa, hati nurani, dan budi pekerti kita untuk berperilaku yang baik dan sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan untuk menggapai kebenaran dan kebijaksanaan Tuhan.

Akhirnya, sampailah saya di rumah orang tua di lereng Gunung Lawu. Setelah duduk bersimpuh di hadapan orang tua, bercengkrama sambil meminum teh hangat dan menyedot rokok menikmati masa lalu, saya mendaki sebuah perbukitan kecil di dekat rumah. Di atas sebuah gua, batin mengangkasa bersama semilir angin yang berhembus sepoi, bergerak terbang, sayapnya mengepak menuju entah ke mana …

wongalus

Iklan

34 Comments Add yours

  1. lor Muria berkata:

    🙂 Subhanallah 🙂

  2. lor Muria berkata:

    Begitu kerasan saya di Pondok ini, banyak sekali yang membuat hati ini tergetar, getaran halus membuka Hijab hati yang terselimuti Rasa Ego dan Nafsu serta Rasa memiliki yang sebenarnya TIDAK PERNAH memiliki.
    Terima kasih KI WongAlus…
    Salam Sihkatresnan 🙂
    nuwun

  3. abu amili berkata:

    Naik,,,,,,,2X ke puncak Gunung…..tinggiiii…..2X sekali, kiri kanan kulihat saja banyaak pohon cemaraaa aa…….titik kehendak Tuhan,turuun gunung sangatlH LICIN, klau kurang hatiii 2X bisaaaa…2X tarikan bumi ..daasyaat 2X sekali…..akhirnya sampai juga dipucak gunung…Amiin.

    Lanjut ki….. trima kasihatas pencerahannya,…salam alus kasih dan sejati

  4. wongalus berkata:

    Yth Ki Lor Muria, mboten mekaten ki kahananipun. Meniko mung nglindur kemawon kok. Nuwun.

    Yth Mas Abu Amili, nuwun nggih mas.

    Rahayu.. mugi tansah pinaringan berkah hidayah petunjuk saking kersaning Gusti.

  5. refa berkata:

    enak tho…mantap tho…

    Pendalaman yang baik sekali. Hikmah dan pelajaran bisa datang dari manapun, termasuk dari daratan Cina. Ini yang saya suka. Jadi kerasan lho madhang di sini… mantap, uenak tur wareg!

    Salam hormat.

  6. m4stono berkata:

    heheheh…ki alus ini wong nggunung to….itu kisahnya kok agak2 mirip dengan kisah khidir as dengan nabi musa as, dimana kebijaksaan adalh kebenaran yg sifatnya luas tidak hanya matematis dan logika semata…

    nuwun

  7. SABDå berkata:

    Salam Kasugengan lan Karaharjan Ki
    Setiap kali saya berkunjung ke rumah yg sejuk ini pasti saya mendapatkan ilmu yg sangat bermanfaat. Pendalaman materi dan immateri yg sangat mendalam. Bahwa kehidupan ini merupakan gerak yang IMMANEN. Tuhan itu permanen dan sekaligus immanen. Seperti yg tampak di dunia yg lahir dan yg batin. Tulisan panjenengan mempertegas bahwa “KITAB SUCI” ASLI sebagaimana yang telah tergelar di JAGAD RAYA INI, sebagai SASTRA JENDRA. Berguna utk hamemayu hayuning bawana (rabbul alamin). Tuhan telah menabur sumber-sumber kebenaran yang berserakan di seluruh ruang dan setiap jengkal bumi, tidak terbatas pada wilayah, bangsa, suku, ras, budaya tertentu saja. Sayang sekali, jumlah manusia yg seperti panjenengan teramat sedikit. Kebanyakan masih terkotak secara PRIMITIF oleh suku, budaya, ajaran, agama, bangsa tertentu saja. Semooga tulisan ini dapat membuka pintu gerbang menuju kesadaran yg Maha Luas Tiada batas.

    salam asih asah asuh

  8. qarrobin berkata:

    Subhanallah

    robin yang masih awam soal beginian, makasih pencerahannya.
    Dulu juga pernah baca tuh cerita di gramed kalo ga salah

    salam salam

  9. wongalus berkata:

    Yth Mas Refa, panjenengan suka madhang (makan) sehingga akan menjadi padhang (terang). Dari sini, saya bisa merasakan getaran terangnya jiwa panjenengan yang memancar untuk berbagi kebijaksanaan. terima kasih.

    Yth Ki M4stono, benar ki. Perilaku Khidir susah dipahami Musa. Khidir pikirannya futurologis, Musa pikirannya logis. Hanya musa yang mampu ekstase dan diperkenankan Tuhan untuk menyaksikan wajah-Nya. Yaitu momentum ekstase yaitu luluhnya logika ilmu pengetahuan ke arah kebijaksanaan bahwa alat untuk memahami-Nya hanya rasa sejati yang ada di dasar samudra batin. Khidir tidak perlu ekstase menyaksikan Dzat-Nya karena memang sudah dari sononya menggunakan rasa sejatinya untuk selalu berkomunikasi dengan Gusti Kang Akaryo Semut, Laler, Manungso, lan Ndonyo seisinya ini. Nuwun Ki.

    Yth Ki Sabda, matur nuwun ki. Getaran wewarah Panjenengan pasti akan menggema di lubuk batin setiap yang membaca. Sehalus apapun panjenengan meninggalkan kata, adalah sandi yang harus ditafsirkan karena mengandung muatan rohani yang sangat dalam. Beruntung, saya berkawan dengan panjenengan dan para sedulur semua sebagai wahana rasa yang saling berkaca dan membaca pagelaran alam yang kadang bergerak tidak terduga karena iradat-Nya. Rahayu ki.

    Yth Mas Qarrobin, bila paparan sederhana ini bisa menjadi pencerahan saya malah bingung. Niatnya saya hanya bercerita, bila ada manfaatnya pasti menjadi lain ceritanya. KIta bersyukur di Indonesia masih ada para ilmuwan seperti Anda yang mau untuk menceburkan diri mencari kebenaran rumus Tuhan yang tergelar ini dengan wahana ilmu pengetahuan, bukan hanya kitab suci yang tertulis saja. Semoga Tuhan memberi kekuatan pada Anda untuk terus berkarya. Terima kasih.

  10. hadi wirojati berkata:

    pamuji rahayu…

    rasanya kalu sudah baca postingan panjenengan Ki.. saya juga ingin sekali pulang ke bathin… rasanya begitu trenyuh… sudah 4 windu saya ndak tilik desa.. ingin mengulas trenyuhnya suasana yang begitu menyentuh hati… dilereng gunung…, mendaki bukit… menyusuri sungai… bercengkrama dengan orang tua.alam pedesaan., sungkem dan mendengarkan wejangan serta petuahnya.. ditemani semilir angin.. suara jangkrik.. dan pelita thintir…, lenguhan ternak…, wangi tetanduran yang menebar aroma alam.., duuhhh.. begja panjenengan Ki .. sampun merasakan ketentraman yang sesungguhnya…, dengan pengalaman bathin yang semakin mendalam.., matur sembah nuwun Ki.. mugya tansah karaharjan sedayanipun.
    salam sihkatresnan
    rahayu…

  11. YANKY DK berkata:

    home sweet home. kembali ke alam. kembali ke rumah. kembali ke batin.

  12. wongalus berkata:

    Yth Ki Hadi Wirojati, lha disempatkan sejenak pulang ke batin tho ki. Kembali ke jati diri kita sewaktu kecil. Nuwun ki. rahayu.

    Yth Mas Yanky DK, salam kenal mas. Semoga semakin kreatif berkarya.

  13. refa berkata:

    BTW… sering nyruput ilmu di sini tapi blognya lupa di link …. he..he.. dasar pikun…
    Ki @wongalus, ijin ya blog njenengan tak pasang di link blog-ku…
    (nek iki mekso mestine…kudu oleh!)

    Maturnuwun.

  14. wongalus berkata:

    Yth Mas Refa, saged kemawon panjenengan meniko. Apa ada dari kita yang tidak pikun tho, mas? Semua kok sepertinya kita semua masih pikun. Berputar-putar dalam semesta materi yang tidak berujung pangkal. Masih belum cerdas untuk memahami iradat-Nya yang sesungguhnya terang benderang. Semoga kelak kita semua diselamatkan oleh DIA karena kepikunan kita semua. Monggo di link mas, sy juga permisi me-link blog panjenengan yang sugih info. Nuwun. Rahayu..

  15. dipo berkata:

    Wong alus
    Terus terang kalu orang indonesia ini sifatnya kan gampang katut dengan apa yg dilakukan orang lain termasuk budayanya juga mudah terombang ambing saya tidak habis mengerti mengapa bangsa ini kok seperti ini. padahal kalau tidak seperti ini tentu saja indonesia sudah lebih hebat daripada negara tetangga. sampai sekarang bangsa lain sangat iri dengan keberadaan indonesia yg kaya dan dibikinlah spt ini supaya bangsa kita tidak maju-2 alias jalan ditempat.
    Seumpama banyak para pelaku spiritual yg kebenaranya teruji itu bisa memimpin dan muncul memberitakan kebenaran spiritualnya di banyak media mungkin orang kita banyak yg tertarik untuk berolah roso , apakah sekarang perlu digalakan situs spiritual Indonesia dengan gencar , ini budaya spiritual klas tinggi yg perlu diajarkan kepada banyak bangsa … bukan kita nimba dari luar …. mantapkan….

  16. wongalus berkata:

    Yth Mas Dipo, entah bagaimana muasalnya kok akhirnya bangsa kita yang kaya dengan budaya spiritual yang adiluhung ini akhirnya menjadi tercerai berai. Bangsa ini lambat laun kehilangan jati diri spiritual seiring dengan semakin hebatnya pengaruh popular culture menggasak semua sendi kehidupan batiniah hingga ke tataran paling privat indovidualitas kita. Sangat memprihatinkan memang, namun saya yakin bila masing-masing individu telah mampu menata diri maka bumi pertiwi ini akan kembali jaya seperti dulu. Dalam khasanah kebatinan, bila mikrokosmisnya (jagad cilik/batin) terkendali akan mengakibatkan makrokosmisnya (jagad gede/gumelaring jagad) terkendali juga. Sebaliknya bila mikrokosmisnya amburadul, maka makrokosmisnya juga hancur.
    Semoga kita mampu mewujudkan niat ini. Salam.

  17. azzie iskandar berkata:

    alhamdulillah

  18. wongalus berkata:

    Terima kasih atas koment2-nya dan salam kenal penuh persahabatan, mas. Meski singkat, namun kepadatannya merangkum seluruh penghayatan panjenengan yang sangat bagus terhadap sangkan paraning dumadi.
    wass

  19. Bagus Samiaji berkata:

    Salam Rahayu Kagem Wong Alus,,,,,,,

    Sebuah kajian yang arif dan imajinatif,, menyejukkan dan syarat dengan tuntunan.

    Membaca setiap uraian disini selalu dilambari dengan wisdom-wisdom lokal yang menuntun kepada kearifan,,,

    Trimakasih Wong Alus telah menyediakan lahan tuntunan kebajikan yang menyejukkan.

    dan satu lagi, kalau boleh saya mendaftarkan diri sebagai tetangga,, karena saya juga berasal dari daerah Sine. Saya lahir di Kauman Sine. Saya juga alumni SMA Sine angkatan II.

  20. wongalus berkata:

    Yth Mas Bagus Samiaji, ternyata tetangga dengan saya ya…salam kenal. dan kapan-kapan kita maneges di gua gunung andhong mas… Salam. rahayu.

  21. Bagus Samiaji berkata:

    Yth Ki Wong Alus,,,,

    Satu tempat lagi yang saya pernah kunjungi yaitu Makam Kiageng Gendingan, senang sekali bila satu saat bisa terlaksana, saya bisa belajar banyak kepada Wong Alus,,,,

    trimakasih.

  22. tengku ahmad berkata:

    salam buat ki wong alus sekeluarga dan semua teman2 yg berada di blok ini moga di beri hidayah dan petunjukNYA. AAMIN YA ROBBAL ‘ALAMIN. Ki bagus sekali KI tulisan nya. Setiap kali sy masuk ke blok ini, sy rasa hati bertambah tenang. Buat renungan teman2 semua, kenapa bangsa indonesia jadi seperti sekarang ini bukanlah salah sesiapa tapi udah kehendak YANG MAHA ESA. Ada hikmah disebalik semua kejadian, ya tinggal kita yang mengkoreksinya. ( Maaf teman2 sy bukan orang indonesia tapi sy merasa dekat dengan budaya indonesia, lebih2 lagi dengan olah raga batin kalian semua ) Sy merasakan bahwa kita dari 1 rumpun bangsa yg sama cuma terpisah oleh lautan dan ke egoan kita. Mungkin udah masanya kita bersatu membangun bangsa kita yg dulunya 1 menjadi bangsa yg di segani dimata dunia. Ayoh bngkitkan kesedaran kita bersama untuk memajukan bangsa kita bersama. Sembahsalam buat KI Wongalus, Ki Mastono dan Ki Sabda Langit. Maaf kiranya paparn sy ini salah di mata teman2 sekelian.

  23. tengku ahmad berkata:

    salam buat ki wong alus sekeluarga dan semua teman2 yg berada di blok ini moga di beri hidayah dan petunjukNYA. AAMIN YA ROBBAL ‘ALAMIN. Ki bagus sekali KI tulisan nya. Setiap kali sy masuk ke blok ini, sy rasa hati bertambah tenang. Buat renungan teman2 semua, kenapa bangsa indonesia jadi seperti sekarang ini bukanlah salah sesiapa tapi udah kehendak YANG MAHA ESA. Ada hikmah disebalik semua kejadian, ya tinggal kita yang mengkoreksinya. ( Maaf teman2 sy bukan orang indonesia tapi sy merasa dekat dengan budaya indonesia, lebih2 lagi dengan olah raga batin kalian semua ) Sy merasakan bahwa kita dari 1 rumpun bangsa yg sama cuma terpisah oleh lautan dan ke egoan kita. Mungkin udah masanya kita bersatu membangun bangsa kita yg dulunya 1 menjadi bangsa yg di segani dimata dunia. Ayoh bngkitkan kesedaran kita bersama untuk memajukan bangsa kita bersama. Sembahsalam buat KI Wongalus, Ki Mastono dan Ki Sabda Langit. Maaf kiranya paparn sy ini salah di mata teman2 sekelian.

  24. wongalus berkata:

    @sdr Tengku Ahmad: Terima kasih sudah berkenan silaturahim. Semoga kita semua tetap diberi kesadaran bahwa sebenarnya kita semua sama, sama-sama makhluk-NYA. yang membedakan hanya ketaqwaan kita pada-NYA. Salam damai.

  25. mariasunarto berkata:

    MONGGO DIPERKENANKAN NGE LINK BLOG INI KE BLOG KULO .AREK MALANG AGAK KASAR ,NYUWUN PANGAPUNTEN.

  26. harry berkata:

    alhamdulillah, saya diberi kesempatan untuk sampai di kampus ini.
    berawal dari keresahan hidup, sampai akhirnya saya mendapat banyak pencerahan
    hidup ini ternyata hanya sebuah mikrokosmos kecil, masih ada mikrokosmos yang jauh lebih luas untuk di’resah’kan
    menyadarkan saya bahwa selama ini saya terjebak dalam semesta tarik menarik dunia
    terima kasih ki wong alus dan para sesepuh lainnya, semoga saya bisa diterima disini
    salam damai

  27. RG.Sudarjo sastro suwignyo berkata:

    Assalamualaikum Ki Alus, pendalaman bathin yg begitu indah dan mengena.Saya sangat merindukan suasananya daerah itu,ada gunung warak,gunung lir-liran,bukit-bukit nan hijau,sawah-sawah menguning begitu indahnya.Kuniran adalah desa yg menakjubkan.Sewaktu saya masih disana Lurahnya Pak Sarminto.Demikian berwibawa beliau juga seorang pendekar juga seorang bayangkhara negara.Disana juga saya berguru mencari ilmu baik kanuragan dan ilmu bathin sehingga bisa menjadikan bekal saya merantau di ibukota.Puluhan tahun memori itu masih mengenang.Sampaikan salam saya untuk keluarga Kuniran.Mungkin mereka semua lupa dgn saya.Keluarga mas Entok,Mas Nari,Mas Nocik,Mas Supar, Mas Mukarno dll.Semoga kita bisa ketemu saat mudik ya Ki?Terima kasih pencerahanya, banyak menyadarkan diri untuk selalu merasa begitu bersyukurnya dengan semua nikmatNya.Semoga Ki alus dan keluarga tansah karaharjan.
    Salam penuh persahabatan dan paseduluran untuk semua saudara kampus tercinta

  28. wongalus berkata:

    Kimas RG.Sudarjo Sastro Suwignyo: insya allah kita akan bertemu kelak. Desa KUniran adalah desa klangenan yang bisa mengingatkan kita semasa kecil. Bermain di air pancuran dan sholat berjamaah di Jannatul Khoifien. Kebetulan kakek (alm) adalah imam masjid disitu. Namanya Simbah Iskandar/Sukandar yang rumahnya dekat masjid. beliau salah satu pejuang hisbollah yang gigih memmertahankan akidah dari serangan eks partai komunis madiun. Dari beliau juga, kami bisa belajar bagaimana istiqomah memegang keyakinan. Sementara Mas Entok yang panjenengan sebutkan adalah salah satu anggota keluarga kami.
    Terima kasih untuk Ki RG.Sudarjo Sastro Suwignyo. Mungkin kita pernah berjumpa meski belum saling mengenal. Salam Karaharjan.

  29. R.Gatot Sudarjo S.S berkata:

    Insya Alloh Ki? Jika Gusti Kang Akaryo Jagad royo,paring palilah kita bisa bertemu saling asah, asih, lan,asuh.Oooo Aki cucunya mbah Kandar to? saya tahu penjenengan kalau begitu tapi belum tentu penjenengan tahu saya.Lawong saya dari dusun kecil dekat perkebunan karet Ki? Tapi kehidupan saya banyak saya habiskan dikampung halaman Romo saya di dalem beteng keraton Solo.Yang asli Sine Ibu saya Ki? Ibu saya masih turunan dari Eyang Bergolo ,Dsn Wajong di Gunung Lawu.Sejak Sd kls 1 sampai Smp saya banyak nggangsu kawruh di Sine.Termasuk belajar olah kanuragan( sampai setiap seminggu 2 kali kadang lebih,kadang jam satu dinihari baru pulang menempuh kegelapan malam dgn jarak puluham kilo demi bekal dimasa kini dan yg akan datang)
    Maka dari itu saya selalu terkesan bila mengingat tlatah Kecamatan Sine,khususon Kuniran.Semoga Air pancuran itu masih terus mengalirkan air jernihnya ya ki dan masjidnya selalu ramai untuk ibadah.
    Semoga Tetap Lestari.Salam Karaharjan.

  30. dan berkata:

    bapakq juga dr wajong.tiap ziarah diri q slalu bertanya.makam siapa ini (eyang bergolo pati) yg ada disamping makam keluargaku.

  31. amar berkata:

    salam kenal..

  32. garengpung berkata:

    Salam salim Sungkem Ki WongAlus ugi Sesepuh Sedoyo…
    Nderek sinau.. artikel meniko ngengetaken rikolo taksih timur wonten ing karang padesan ayem tentrem.. Nuwun.

  33. Teguh Wibowo berkata:

    panjenengan asli kuniran, sine, ngawi tho ki wongalus,…
    istri saya dari tulakan, sine, ngawi,
    salam kagem warga kuniran… utaminipun mas No Cik
    menawi Panjenengane mas No Cik tanglet sinten kulo, Kulo adine Gatot warga Cempaka Putih yang di Klaten, matur nuwun

  34. ciptoning berkata:

    nuwun sewu kulo badhe tanglet bab sinten meniko eyang bergolo pati, wigati sanget tumprap kulo, matur nuwun. sakderengipun
    ciptoning, semarang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s