SILATURAHIM KWA 2009 (1)


mas kumitir & sabda langitTiga hari tiga malam, kami bertemu untuk sebuah tugas berat. Tugas yang dituntun oleh guru sejati itu bermaksud untuk berbagi pengalaman apa yang kami alami dalam olah rasa pangrasa, yang mungkin berbeda dengan yang dialami para sedulur yang lain. Tujuannya: mengembalikan kejayaan nusantara yang kini dilanda krisis budaya, moralitas, mental dan spiritual. Inilah laporan tiga hari bersama KI SABDA LANGIT.

Hari Pertama, Kamis Sore: Saya bertemu dengan Ki Sabda Langit di Balai Diklat Pemkab Sidoarjo pukul 16.00 Wib. Ini adalah pertemuan kedua kali setelah sebelumnya saya bertemu di Yogyakarta sehari sebelum lebaran. Ini adalah pertemuan reuni kedua kali setelah sekian lama terputus oleh jarak dan waktu. Sekilas flashback: Dulu, kami berjumpa untuk pertama kali pada tahun 1990 di Kampus Universitas Gadjah Mada. Kami sama-sama menuntut Ilmu Filsafat di universitas ndeso itu. Inlah masa-masa dimana kami berproses bersama untuk mencari tahu, apa hakikat hidup yang sebenarnya. Karena ilmu filsadat adalah ilmu yang mengandalkan olah akal/rasio maka kami pun mencoba untuk menjawab hakikat hidup dengan akal. Ditempa oleh lingkungan kampus yang begitu idealis, kami menjadi pribadi-pribadi yang punya niat kuat untuk terus mencari hakikat hidup. Tidak lekas percaya pada mitos, kepercayaan, ajaran yang tidak bisa dibuktikan dengan pengalaman. Bagi kami, ajaran apapun tidak ada yang sakral dan magis. Semuanya ajaran harus dibongkar dan dibaca ulang kembali. Tuhan harus dicari dengan akal. Hati nurani untuk sementara disisihkan/dikalahkan. Tidak jarang, kami para mahasiswa dituduh kafir dan sesat karena ideology terbuka ini. Bagi kami, tuduhan dan cercaan adalah cambuk bagi kami untuk membuktikan diri bahwa meskipun Tuhan kami “tiadakan” untuk sementara waktu tapi kami yakin bahwa Tuhan akan memberi petunjuk pada orang-orang yang sesat. Saya dan Ki Sabda Langit adalah salah satu dari beberapa teman Mahasiswa Filsafat yang dipilihkan untuk mendapatkan bimbingan studi dari Prof Dr Damardjati Supadjar. Pikiran-pikiran Pak Damardjati yang begitu inspiratif ternyata menaburkan benih-benih kreativitas untuk menemukan Tuhan dengan cara yang berbeda-beda. Ini sesuai dengan sifat Tuhan yang Maha Terbuka, Maha Kreatif dan Maha Bisa Ditemukan dengan Cara Apapun Juga. Apakah itu Bejo yang menganut Hindu, apakah itu Nuraji yang beragama Katolik, apakah itu Ahmad yang beragama Islam, atau Kamdali yang tidak mengenal agama…semuanya berhak untuk bertemu dengan Tuhan. Semuanya tidak ada yang kebetulan. Ada blue print rencana-rencana-Nya yang kadang awalnya kami tidak tahu hakikatnya. Namun hakikat itu akhirnya ditemukan setelah kejadian.

Pertemuan sore ini dengan Ki Sabdalangit juga merupakan pertemuan yang tidak kebetulan. Suatu ketika, di suatu malam saya mendapatkan “pencerahan” bahwa sumber semua malapetaka adalah lupa pada sangkan paraning dumadi. Bahwa semua sumber keberadaan manusia ini sejatinya adalah YANG MAHA SATU. Yang Maha Satu (disebut banyak sebutan: Tuhan, Gusti Alah, Allah SWT, Yahweh, Hyang Widi dll) memberi pengajaran bahwa manusia akan mendapatkan malapetaka (bencana alam dll) bila melupakan hukum sebab akibat/hukum karma/sunatullah. Maka, diperlukan sebuah pencerahan bersama agar manusia kembali awas, eling lan waspada dan mampu membaca bahasa alam yang merupakan sastra jendra/kitab suci yang sesungguhnya/papan tanpo tulis ini.

Setelah kontemplasi dan meditasi yang tidak sebentar pilihan saya jatuh pada Ki Sabda Langit jadi narasumber Pelatihan Motivasi Spiritual untuk pejabat eselon di Kabupaten Sidoarjo. Sebagaimana diketahui bersama, Sidoarjo adalah daerah yang sedang kena “musibah” bencana lumpur Lapindo yang belum mampet hingga saat ini. Tujuh desa hilang dari peta, dan masih banyak wilayah di Kecamatan Porong yang kena dampak lumpur. Tidak terhitung kerugian masyarakat. Tidak hanya Sidoarjo, namun juga Jawa Timur dan Indonesia akibat adanya lumpur yang merupakan “keajaiban dunia” ini.

Dipilihnya Ki Sabda bukan tanpa alasan. Alasan saya: beliau sangat berkompeten untuk berbagi kawruh tentang pencerahan spiritual lintas agama dan pemahamannya yang universal membantu untuk memberikan penjelasan tentang spiritualitas tanpa terkotak-kotak dalam pandangan yang sempit. Dia tidak hanya berteori namun nglakoni dengan pengalaman pribadi. Latar belakang hidupnya yang kental dengan budaya Jawa akan turut serta menyebarluaskan perlunya kembali nguri-uri kabudayal lokal yang penuh kearifan (local genius).

Kami pun kontak-kontakan dan kami sepakati bahwa sebelum pelatihan yang digelar 16-17 Oktober 2009 tersebut, akan diadakan sekaligus SARESEHAN MENGGALI BUDAYA LOKAL” bertema REFLEKSI BENCANA ALAM SEBAGAI PERINGATAN MANUSIA AGAR KEMBALI KE JATI DIRI YANG MENGHARGAI KEARIFAN BUDAYA NUSANTARA pada tanggal 15 Oktober.

Diklat Pemkab Sidoarjo, 15 Oktober 2009. Pukul 19.00. Gedung Balai Diklat tempat saresehan masih sepi. Hanya terlihat ramai di salah satu ruangan dosen. Di situ, tampak Ki Sabdalangit, Nyai Untari (Isteri), Mas Kumitir dan Ki Camat bercengkrama sambil menunggu datangnya peserta saresehan. Awalnya, saya ragu apakah saresehan informal ini jadi terselenggara atau tidak. Maklum saja, tidak ada konformasi kehadiran resmi sebegaimana biasanya disyaratkan oleh panitia sebelum digelarnya sebuah perhelatan. Sehingga saat saya ditanya Ki Sabda, berapa peserta yang hadir saya tidak bisa menjawab. “Lha nggak tahu ki, tidak ada yang konformasi kehadiran kecuali hanya dua orang menulis di komentar blog wongalus dan menyatakan akan hadir,” jawab saya sekenanya. Maka, acara ini benar-benar diselenggarakan secara “gaib.” Betapa tidak, acara terselenggara tanpa ada panitia. Saya hanya meminta Pak Jaini dan Bu Jaini (penjaga Diklat) untuk membikinkan minuman teh hangat, merebus kacang dan singkong, serta membelikan dus aqua gelas. Sementara Ki Sabda membawa makanan khas Yogya: Bakpia Pathok dan beberapa makanan lain.

Mas Kumitir hanya tersenyum-senyum saat yang terlihat hadir hanya satu orang. Namun, saya tetap tenang. “Nggak jadi saresehan juga nggak masalah kok, Tuhan pasti punya rencana yang lain,”. Begitu pikir saya yang mencoba sumeleh dengan apa yang telah kita upayakan. Namun, saya malah punya ide lain bila acara ini tidak dihadiri manusia. Yaitu akan mengundang wong-wong alus di Sidoarjo untuk mendengarkan arahan Ki Sabda. “Kalau manusia sudah enggan diajak belajar olah rasa bersama, maka biarlah para makhluk halus/gaib saja yang belajar. Biarlah nantinya mereka lebih pintar dari manusia… hehe” Kata saya dalam hati setengah berkelakar. Ternyata dugaan keliru. Satu persatu peserta datang dari berbagai daerah. Mulai Lumajang, Probolinggo, Malang, Surabaya dan kota-kota lain di Jawa Timur. Mereka sengaja datang jauh-jauh dari berbagai kota untuk ngangsu kawruh bersama. Sayangnya, karena acara saresehan ini tidak ada panitianya, maka saya tidak sempat menyediakan buku tamu. Jadi mohon maaf! Nah, estimasi yang hadir saresehan sampai selesai akhirnya berjumlah sekitar empat puluh orang. Para peserta inilah yang punya niat dan tekad yang kuat untuk membaca fenomena alam dengan kebeningan hati nurani.

Bagi saya pribadi, tidak jadi soal berapapun jumlah peserta. Yang jelas saya percaya pasti Tuhan tidak akan tinggal diam. Dia akan mengutus manusia (berapapun jumlahnya) untuk belajar memahami misteri bencana alam dengan sudut pandang rasa pangrasa.

Dimoderatori oleh Ki Camat Krian Kab Sidoarjo, H.M Bahrul Amig, S.Sos, MM acara dibuka dengan salam. Ki Camat yang terkenal karena karya-karya kreatif, brilian dan menggunakan rasa pangrasa untuk membuat kebijakan publik semasa bertugas ini menyampaikan bahwa apapun yang lahir dari nurani yang tulus dan bersih akan dirasakan sebagai karya yang baik, tidak membuat residu (sampah) sebagaimana alam semesta yang berdiri di atas prinsip keikhlasan. Namun sebaliknya, residu hadir ketika hadir manusia yang tidak ikhlas. “Sumber kerusakan bumi adalah perbuatan manusia yang punya kecenderungan mengeksploitasi alam sak karepe dhewe” ujar Ki Camat.

Mendengarkan hal ini, Mas Kumitir (nama Aslinya Ali Aqsa) yang duduk di sebelah Ki Sabda Langit mengangguk-angguk tanda setuju. Mas Kumitir memang orang yang pendiam, banyak senyum, ramah bersahabat dan ringan tangan. Di balik wajahnya yang ganteng dan meditatif, sejatinya dia manusia terpilih karena kemampuannya untuk bersabar dalam ujian yang tidak tanggung-tanggung. Dia adalah seorang yang sampai sekarang memiliki guru pembimbing dari leluhur yang sudah ada di alam kelanggengan. Mas Kumitir terbiasa untuk mendapatkan petunjuk dari leluhur dengan cara yang bagi kalangan kebanyakan dianggap tidak masuk akal; melalui telepon dan SMS. Kadang nomor telpon si penelpon/pengirim SMS itu pun aneh dua, tiga, atau Cuma empat digit. Bahkan tak jarang nomor penelponnya 0 (nol). Perintah kepada Mas Kumitir pun kadang membuat jidat berkerut. Misalnya, diminta mengosongkan dompet tanpa uang sepersenpun untuk diberikan pada pengemis dan seterusnya. Atau pernah suatu ketika diminta bepergian dari kota ke kota tanpa tujuan yang jelas. Sang Pembimbing ini sudah menemani Mas Kumitir selama belasan tahun lalu. Itu sebabnya, dia sampai sekarang termasuk manusia yang dipandang mampu mengemban amanah sebagai jembatan penghubung alam nyata dengan alam ghaib. Aneh tapi nyata bagi kebanyakan orang. Namun bagi Ki Sabda dan sedikit para waskita/winasis apa yang dilakoni Mas Kumitir adalah sebuah tugas mulia. “Waktu yang akan membuktikan…” ujar Ki Sabda.

Nara sumber Ki Sabda Langit mulai dengan paparannya. Bencana alam terjadi di mana-mana. Bencana ini bukan sebagai cobaan bagi manusia. Namun teguran agar kita kembali harmoni dengan alam berdasarkan atas hukum alam/hukum sebab akibat. Manusia harus mampu membaca kehendak alam dan kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan hanya bisa dibaca dengan mata batin yang bersih dari hawa nafsu yang mengotori manusia. Manusia yang hanya mengandalkan akal saja untuk menganalisa fenomena alam tidak akan mampu membaca kehendak alam. “Lumpur Lapindo sudah seharusnya terjadi. Akibat manusia yang mengabaikan hukum sebab akibat. Sebabnya, manusia tidak lagi menghargai alam. Awalnya terjadinya kenapa lumpur lapindo meluber adalah karena manusia tidak mengetahui dan menghargai keberadaan alam gaib. Di atas bumi ada mahluk gaib, di bawah bumi juga ada.

Suatu ketika, mata bor di sumur Banjar Panji 1 (pusat semburan Lumpur Lapindo) mengenai tubuh mahluk gaib perempuan (orang jawa menyebut makhluk ini naga perempuan). Makhluk gaib, naga laki-laki marah dan kemudian merusak lobang sumur pengeboran selama tiga bulan. Berbagai upaya penutupan pusat semburan dengan mengandalkan ilmu pengetahuan rasional terbukti gagal total,” ujar Ki Sabda.

Ki Sabda melanjutkan, bahwa bila saat itu pengambil kebijakan publik menggunakan rasa pangrasa maka penanganan secepatnya bisa menghentikan semburan lumpur. Namun apa yang terjadi? Pengambil kebijakan masih belum mampu membaca fenomena ini dengan kebeningan jiwa. “Jogjakarta dulu adalah kawasan semburan lumpur juga. Para pendahulu menggunakan rasa pangrasa untuk menutup lobang semburan ini dengan logam yang berbentuk gong. Jenis logam yang digunakan sebagai penutup adalah logam yang bisa bersenyawa dengan lumpur” jelasnya. Namun, bila upaya ini dilakukan sekarang pasti sudah sangat terlambat. Lumpur sudah menyembur tiga tahun lamanya. Artinya, hukum alam adalah hukum sebab akibat dan tidak bisa diulang lagi. (BERSAMBUNG)

kumitir, sabda

sarasehan1

sarasehan4

sarasehan5

sarasehan8

ki camat & ajid@wongalus, 2009

Iklan
Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 38 Komentar

Navigasi pos

38 thoughts on “SILATURAHIM KWA 2009 (1)

  1. Manstaaaaaaaaaaaaaaaaaabbbss ditunggu sambungannya
    salam sayang selalu

  2. wah top merkotop mantap surantap ki….!!

    saya sungguh mengapresiasi upaya ki alus, kisabda, ki kumitir dkk dlm rangka mengembalikan jati diri bangsa melalui olah pangrasa, inilah bedanya pemimpin sekarang yg cenderung menggunakan akal logika mengesampingkan rahsa dgn pemimpin masa lalu yg menggunakan keduanya secara proporsional, jujur saja olah pangrasa saya hanya masih sebatas teori tapi prakteknya nol, sedangkan kaki kaki diatas sudah mempraktekkan teorinya, untuk itu saya harus meguru ke panjenengan, ki sabda, ki kumitir dll……maju terus ki, dgn ini saya semakin optimis SP akan muncul di 2010 dan semoga kita2 ini menjadi bagian dari SP atau yg sudah berkesadaran rohani, sedangkan sosoknya hanya simbol belaka……….sekali lagi maju terus ki dan doa saya menyertai panjenengan semua………..

    nuwun

  3. Sebelumnya mohon maaf kepada Ki Wong Alus Ki Sabdalangit Ki Kumitir dan semuanya…Sebenernya ingin sekali kami datang dalam acara tersebut walaupun hanya sebagai penggembira saja…saya mencoba geser-geser waktu kegiatan namun apa daya akhirnya “mbegegek” juga…Sepindah malih mohon maaf yang sebesar2nya serta selamat atas terselenggaranya sarasehan tersebut…

    RAHAYU INGKANG SAMI PINANGGIH
    Nuwun

  4. wongalus

    yth Kang Boed, Ki Mastono, Ki Sumego, matur sembah nuwun sedaya apresiasinya. Mohon maaf bila laporan saresehannya begitu sederhana, sebenarnya buanyak hal yang ada di memory kepala, namun ya itu tadi.. keterbatasan tenaga akhirnya cuma sedikit yang bisa ditulis. Tapi semoga ada manfaatnya, meski kecil sekecil semut. Nuwun sedulur..monggo dilanjut.

  5. Bambang

    Saya warga baru KI, dari sekian foto mana Ki Jatidirimu coba buka sedikit lah Ki di Facebook juga dak kutemukan potomu apa kau benar-benar wong alus jadi tidak bisa dijepret dengan kamera atau jepretan yang lain.Teman-temanmu kau telanjangi kewaskitaannya tapi kenapa justru kau malah sembunyi Ki? Nabi aja setelah nrima wahyu di gua hiro declare bahkan diamini oleh pendeta Yahudi ayolah Wong Alus menjelmalah didunia kasat Mata

  6. Yth Mas Bambang… ya memang wongalus nggak ada dalam dokumentasi. Lha kalau semuanya perlu difoto dan didokumentasikan, lantas siapa yang memotret dan menulis mas? Biarlah saya jadi panjenengan semua yang bisanya hanya menyaksikan dan mencatat peristiwa-peristiwa dalam hidup kita. Ibarat di pengadilan, biarlah saya jadi saksi saja. Mungkin inilah “Maqam” saya mas. Jadi jelas beda peran dengan para lakon hidup, apalagi dengan nabi (jauh banget analoginya mas…). Dan terakhir, saya beda dengan rekan-rekan yang terdokumentasikan sebab kewaskitaan saya adalah “tidak waskita”. Nuwun mas Bambang, monggo dilanjut.. Salam sih katresnan.

  7. Sungguh menyesal sekali saya tidak bisa ikut dalam acara.
    Yang penting rasa pangrasa kita sudah jumbuh dalam mengembalikan kejayaan Nusantara.
    Nuwun ki kami di Semarang mendapat wigati dari Kanjeng Ibu Ratu bahwasanya bencana masih akan terjadi, tepung gelang se Indonesia. Karena ini adalah saatnya manusia digaru dan diluku.
    Teman saya dari kalangan Nasrani mendapat dawuh sebagai berikut : aku menanam padi namun meski sudah kurawat, masih tumbuh ilalang disela-selanya, apa yang harus kulakukan selain membiarkannya hingga saatnya panen, padi & ilalang akan bisa dipisahkan.
    Dari kalangan kejawen melihat ada anak bajang membawa sada lanang hendak ngasatke segara
    Dari kalangan Islam mendapat dawuh :kang sejatine kahanan sira iku sayekti minangka pratanda seksi kang nyata ing Kahananingsun, kitab suci agemaning Muhammad, perang suci gegamaning Muhammad

    namun yang pasti meski semua harus terjadi satu hal yang pasti Jawa bakal bali menyang jawane.
    Semoga maksudnya manusia Indonesia akan mencapai pencerahan hidupnya keluar dari krisis moral, mental dan budaya menuju kejayaan Nusantara.

    maaf Ki hanya ingin sekedar berbagi dari sesama anak negeri yang peduli

  8. abu amili

    Selaaameeet. ki sukses atas terselenggaranya saresahannya,berkat kerja keras dan tekad/karep yg luhur dan ikhlas dari pajenengan dan ki sabda langit,dkk sabat semua, dan bermanfaat kedepan kejayaan bumi nusabtara ini. Salam alus, dan sejati.

  9. Bagus Samiaji

    MAntab gan,,, ditunggu oleh-oleh lanjutannya. Semoga kedepan Allah berkenan memberikan pemimipin negeri ini, dengan orang-orang yang sudah mencapai derajat faham (njowo), dan memiliki olah roso yang mumpuni, sehingga tanggap sasmito ing gaib,,

    Monggo mas dilanjut!!!!

  10. Ngabehi

    Nderek bingah raosing manah kula, sumerep para kadang nunggil tekad saget makempal awit saking pambudidayanipun Ki Wong Alus dalah sak rencang. Mugya sedaya wau andadosaken prantandha konduripun kaki sabdapalon-nayagenggon dateng nusa jawi. Ing pangajab mugi nusantara enggalo wangsul suburipun, tentremipun, kuncaranipun, lsp.

    Hyang surya sumunar sampun
    sakeng wetan tandha enjing
    Sigra madhangi bantala
    Setan egrang samya wedi
    Uga sakabeh memala
    Murca musna ical sami

  11. wangwung

    Salam hormat..
    Setelah mengikuti sarasehan yg di Sidoarjo, perasaan ini menjadi haru biru melihat pakerti mulia yang ditunjukkan poro kadang sepuh..Seperti Ki Sabda langit, Ki Wong Alus, Mas Kumitir dll.. Baru beberapa hari berpisah sdh muncul kerinduan utk bisa kembali bertemu…Semoga apa yang kita gayuh bersama utk kemulyaan NKRI segera terwujut.. Amin.

  12. nyuwun sewu.. kinten2 badhe makempal malih teng jogja kapan nggih mas?
    meniko kawula badhe nderek ngangsu kaweruh

  13. Yth Para Kadang Sutresna: Ki Tomy A, Mas Abu Amili, Mas Bagus S., Ki Ngabehi, Mas Wangwung, Mas Suket.. mboten wonten kata ingkang pas kecuali matur nuwun yang sebanyak-banyaknya atas doa restu dan tali rasa yang tersambung dari kulon, tengah hingga tlatah wetan (Jatim) hingga acara dadakan tersebut berlangsung sukses tidak kurang suatu apa. Bahkan hingga selesainya acara sekitar jam 22.00 WIB peserta tidak langsung pulang dan masih ingin jagongan lebih lama lagi hingga pukul 01.30 wib. Namun, karena tenaga sudah terkuras habis akhirnya ditutup secara otomatis. Matur nuwun. Rahayu…

  14. matur sembah nuwun Kangmas Wongalus atas laporannya yang cukup jelas.Kami bisa membayangkan betapa “gayeng”nya pertemuan itu.Dengan duduk sama rendah berdiri sama tinggi beralaskan karpet dan melihat beberapa gambar yang terpasang-rasanya “getun” tak bisa datang [jagong undangan manten ke Trenggalek}.Mohon maaf atas ketidak hadiran,dan saluut atas prakarsanya yang sangat sukses.

    salam rahayu.

  15. ari__

    Salam,

    Selamat atas terselenggaranya Sarasehan / Silaturahminya. kami hanya bs bahagia walau hanya dari mendengar kabar suksesnya pertemuan para sesepuh & sahabat semua.

    Semoga akan menjadikan tali silaturahim yg lbh baik. Amiin

    W.salam & Salam rahayu

  16. bilung

    Ki, apakah ada dokumentasi lain selain foto? Video misalnya. sayang lho Ki, kalau acara sebagus itu tidak didokumentasi dalam bentuk video. Lain kali saya akan nyumbang kalo mau didokumentasi pakai video. Matur nuwun.

  17. Bayu BS

    Acara yang menarik sayang saya tidak bisa datang,….. terima kasih atas laporan pandangan mata dan foto fotonya,….. semoga ada sarehan lanjutan di lain tempat , syukur2 di jawa tengah 🙂
    matur nuwun

  18. wongalus

    Yth Yang Kung, mboten punapa nek mboten sageb hadir. Gusti kan gadhah rencana lain yang kita belum mampu menangkap hakikatnya. Namun, Dia pasti punya rencana terbaik untuk kita semua.

    Yth Mas Ari, nuwun mas.

    Yth Mas Bilung, acara yang dadakan dan ndak ada panitianya ya akhirnya berlangsung tanpa rekaman video. Matur nuwun tawaran panjenengan, semoga lain waktu kita bisa bersama.

    Yth Mas Bayu, semoga kapan2 bisa saresehan di Jawa Tengah. Namun, biasanya kita tidak merencanakan karena pertemuan yang demikian kan sudah “diatur” oleh Nya… jadi let it flow/mengalir saja titah dan kehendak-Nya. Nuwun mas.

  19. Dalbo

    bravo.brother..bravo… keep going, the Show must go on
    salam sejahtera

  20. Joko surono

    waduh mas…saya penasaran ap bener ad semua itu,ad yg bisa membuktikan..

  21. Yth Mas Joko Surono, apa yang kita sampaikan berdasarkan pengalaman batin dari hasil olah rasa. Kalau soal yang gaib-gaib yang tertulis di sini perlu “dibuktikan” sebagaimana kita membuktikan adanya tahu atau tempe ya tidak mungkin. Pembuktian sesuatu yang gaib sama dengan pembuktian adanya Tuhan, Malaikat, Takdir, Surga atau Neraka.. yang pasti tidak menggunakan mata, telinga dan tangan. Terima kasih dan salam sejahtera.

  22. Bisa dijelaskan secara rinci identitas pribadi yth. guru-guru diatas via email?

    Sy di joga 1992-sd-2004, juga sering mendengarkan filsftnya pak Dhamarjati (msih sehatkah ?), membaca buku sufisme jawa (simuh),

    cuma lum sempat tirakat aja tuk cari “ngelmu” ….

    semoga bisa koresponden di waktu lain…

  23. Yth mas guruiler: Email ki sabda sbb sabdalangit@gmail.com.nwn

  24. tengku ahmad bin tengku abdullah

    mas bisa gak saya mau belajar ilmu kebatinan. ya saya udah lama belajar dari guru2 saya cuma yang saya gak bisa terawangan

  25. tengku ahmad bin tengku abdullah

    Alhamdulillah saya pernah coba obat orang yang sakit tangan tiba malam pasti tangan dia sakit ya setelah saya buatin air yang dibaca 3 kul Alhamdulillah lansung sembuh. cuma masalahnya mas kenapa sih saya masih belum bisa terawangan udah bebrapa tahun saya cuba masih belum bisa. harap mas dapat ajar saya kaedah lain.

  26. wongalus

    @tengku ahmad: silahkan. Ini tempat belajar bersama, tukar pendapat tentang ilmu-ilmu kebatinan. terima kasih.

  27. wongalus

    @tengku ahmad: Kemampuan terawangan perlu latihan yang cukup. Silahkan baca modul di halaman boulevard. terima kasih.

  28. anggit erbede

    Yth. Ki Wongalus …. sudah adakah sambungan/lanjutan laporan sarasehan Sidoarjo ? Selak ora kanten Ki…
    Sayang seribu sayang…, saya mengenal blog ini beberapa hari setelah adanya sarasehan Sidoarjo. Seandainya sdh sedari awal tahu….pasti sy berusaha ikut hadir sebagai penggembira. Monggo dilanjut Ki… terima kasih.

  29. wongalus

    @sdr anggit: kapan-kapan bila waktunya mendukung dan sudah ada “dawuh”, kita gelar lagi silaturahim kumpul sedulur semua yang ada di blog ini. terima kasih.

  30. Bayu pamungkas

    Mantab.

  31. srundenggosong

    Ki Wongalus
    nderek nyemak njih. matur sembah nuwun.

  32. wawansleman

    kalau waktu itu nara sumber nambah satu lagi yaitu kang purwadi nganjuk, wah lebih gayeng lagi nanti.

  33. wahyu

    sebenare ak pingin ketemu dg Wong alus, Mas Kumitir, Ki Sabdo Langit, tp mana mungkin ak hanya wong cilik yg ga punya kawruh apa2 alias kosong blong en nol

  34. ass.bpk ki sabdo alngit.dimana saya bias bertemu dg bp.agar saya bisa mempelajari ilmu dari bp

  35. Ki Wong Alus, Kira2 kapan di adakan lagi acara saresehan kayak gini terus terang saya ingin berjumpa dengan sedhulur2 niki.suwun…..

  36. agung soedewo

    waduh ketinggalan berita kalau ada lagi dan masih bisa terjangkau saya usahakan datang

  37. YOGA

    ASKUM

  38. platAG

    Ndeprok mburi dewe..
    Salam salim @ll Sesepuh..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: