wongalus

“Mohon saya diterawang apakah amalan saya sudah merasuk ke badan?” diilhami secuil pertanyaan sedulur ini ijinkan saya berbagi…

Pertama tentang khodam amalan. Khodam dalam bahasa Jawanya sinonim dengan perewangan. Rewang asal katanya dari “rewang” atau “pembantu” dari jenis sesuatu yang “halus” dan tidak terlihat oleh mata. Tanpa bersikap sok tahu, sesungguhnya terlalu susah untuk membuktikan secara obyektif dan ilmiah dari jenis apa khodam itu. Yang jelas, khodam/perewangan itu fungsinya untuk membantu apa yang kita hajatkan untuk kepentingan hidup sehari-hari.

Kebanyakan ahli mistik tradisional maupun modern memanfaatkan khodam/perewangan. Kalau ada seorang “pasien” datang meminta bantuan, maka dia kemudian mencari tempat khusus. Ritual amalan khusus dijalankan, yaitu meminta bantuan khodam/perewangan untuk membantu melaksanakan hajat sesuai permintaan. Khodam dengan cara-cara misterius –yang hampir pasti sang juru sembuh juga tidak bisa melihat bagaimana pola dan cara kerja khodam itu– kemudian bergerak. Kalau misalnya dia diminta menyantet seseorang, maka dia pun kemudian menjalankan perintah. Khodam manut perintah karena dirinya telah dikuasai sang juru sembuh.

Cara mendapatkan khodam ada banyak variasinya, yaitu: (1). Mengamalkan sendiri beragam amalan yang diniatkan untuk mendapatkan khodam misalnya niat kita mengamalkan sebuah amalan itu untuk kesaktian, pesugihan, pemagaran, pengasihan dan lain sebagainya. Kemudian kita bertapa sendiri dll… (2). Khodam yang didapatkan dari warisan ilmu turun temurun dari kakek nenek, ayah ibu, paman maupun dari orang lain yang ikhlas memberikan khodam kepada kita. Cara lain mendapatkan khodam adalah dengan PENGIJAZAHAN dari orang lain kepada kita. (3). Membeli khodam dari seseorang yang ingin berjualan khodam. Cara terakhir ini marak terjadi di saat sekarang ini dan beragam cara lainnya.

Diukur dari sisi kacamata kebenaran pragmatis (bukan kebenaran koherensi, korespondensi dan kebenaran spiritual), anda mungkin “dibenarkan” memiliki banyak khodam karena bisa jadi membuat kaya-sejahtera dan bahkan bisa jadi bermanfaat untuk sesama….

Kesaktian seseorang yang memiliki khodam ini tergantung banyak hal. Salah satunya adalah konsistensi (bahasa agamanya istiqomah) kita untuk memelihara hubungan baik dengan khodam tersebut dengan berbagai sarana. Mewiridkan amalan pada saat-saat khusus, misalnya usai sholat lima waktu dll diyakini sebagai bentuk memelihara hubungan baik dengan khodam. Menjaga kekuatan batin dengan senantiasa berpuasa, bertapa, ngesti, dan sebagainya.

Khodam ini bertahan lama dan jadi teman abadi hidup di bumi asal perjanjiannya tetap terpelihara. Pelanggaran perjanjian adalah dengan melanggar pantangan. Jadi setelah khodam dipertemukan maka ada perjanjian pertemanan. Kita tidak boleh melanggar pantangan. Kalau pantangan dilanggar, maka khodam akan pergi. Ini berarti hubungan pertemanan telah terputus.

Saat kita menjelang ajal (yang datangnya tidak kita tahu), khodam ini akan berusaha untuk melawan kematian yang datang. Khodam membela nyawa kita dari campur tangan gaib pihak-pihak asing. Akibatnya, bisa jadi kita sulit untuk meninggal dunia. Dikeroyok orang satu peleton, menurut logika, kita akan kalah dan tewas. Namun kalau kita punya khodam, bisa jadi pukulan tendangan, tembakan, tusukan dan serangan bertubi-tubi musuh sama sekali tidak mendatangkan luka apapun di tubuh kita. Malah musuh-musuh itu sendiri yang bisa jadi kesakitan saat menganiaya diri kita. Kaki dan tangan mereka pegal-pegal dan bisa jadi lumpuh. Kita menang. Musuh kalah telak. Kita bangga sementara musuh ketakutan dan ngeri melihat diri KITA YANG TIBA-TIBA JADI SINGA..

Amalan adalah cara kita untuk sampai pada tujuan dan cara bisa bermacam-macam. Maka tetapkan dulu apakah tujuan anda mengamalkan sesuatu? Apa tujuan kita mengamalkan HIZIB/ASR/RDR/ AJIAN-AJIAN tersebut? Apakah anda ingin kesaktian, pesugihan, pemagaran, pengasihan secara sempurna sesuai keinginan??? Jika anda ingin itu semua, maka pastikan bahwa amalan anda benar-benar memiliki KHODAM dan berfungsi sempurna setelah anda mengamalkannya. Tanda-tanda ASR/RDR anda sempurna dan berkhodam adalah saat ASR/RDR anda tembakkan ke langit untuk memecah awan maka awan itu benar-benar pecah. Kalau anda gunakan ASR/RDR untuk kekebalan, maka kulit anda benar-benar kebal sayatan silet dan sebagainya. Untuk melakukan pengetesan tentu perlu didampingi ahlinya yaitu PENGIJAZAH ASLI yang BENAR BENAR MUMPUNI.

Kalau tujuan anda mengamalkan amalan untuk mencari RIDHO ALLAH, tentu lain lagi ceritanya. Bisa jadi anda mengamalkan HIZIB/ASR/RDR/AJIAN-AJIAN dll namun anda cukup memposisikan amalan anda itu hanya sekedar SARANA BERDOA. Anda tidak perlu bertanya apakah amalan anda sudah didatangi khodam atau tidak. Dan bila amalan diposisikan sebagai sarana BERDOA, maka ANDA TIDAK PERLU MEMAKSAKAN KEINGINAN AGAR SELALU TERPENUHI PERSIS SAMA DENGAN KEINGINAN ANDA.

Bila HIZIB/ASR/RDR/AJIAN-AJIAN Anda posisikan sebagai DOA, maka logikanya KITA PASRAH SAJA PADA-NYA, APAKAH doa kita diijabah/dikabulkan langsung Tuhan Yang Maha Kuasa atau DITUNDA maka anda harus ikhlas. Pada titik ini, kunci dikabulkannya wirid/doa bukan terletak pada pengulangan kata-katanya. Namun pada aspek implementasi wiridnya. Tidak perlu mengulang seribu kali doa untuk agar energi wiridnya muncul. Kita langsung saja praktek dengan mengimplementasi isi doa tersebut. Kalau kita ingin memakan buah mangga, kita tidak perlu mewiridkan sejuta kali kata “mangga”… pasti seperti ini tindakan naif. Cukup kita teriakkan satu kata MANGGGAAAA…… pada tukang jual mangga yang lewat di depan rumah lalu kita keluarkan isi dompet untuk membeli buah mangga. Mudah bukan? Sebagai manusia, kita dilengkapi tidak hanya mulut untuk wirid, tapi juga tangan dan kaki untuk bergerak dan memobilisasi diri sesuai dengan keinginan.

Memang, akan lebih sempurna bila kita kenal dan bersahabat akrab dengan KHODAM dan seluruh isi dunia ini. Upayakan agar tidak perlu kita memanfaatkan dirinya untuk mengubah kodrat dan iradat-NYA. Cukup kita jadikan teman baik dan pengetahuan agar kita semakin mensyukuri kebesaran-NYA.

Tapi hidup memang pilihan. Dan itu sepertinya betul….

APAKAH KITA BERHAK MENDIKTE DAN MENGATUR ALAM SEMESTA? APAKAH KITA BIARKAN SAJA ALAM SEMESTA BERJALAN DENGAN HUKUM-HUKUMNYA? ATAU KITA KENDALIKAN ALAM SEMESTA SESUAI DENGAN KEHENDAK KITA?

Anda juga bisa berpikiran positif bahwa Tuhan bukan pelayan toko dimana permintaan anda langsung dikabulkan-NYA. TUHAN MAHA TAHU kebutuhan kita untuk hidup lebih baik dan mulia dan TUHAN tidak selalu mengabulkan langsung permintaan kita. Saat kita dalam kondisi jatuh miskin dan berdoa agar hutang kita lunas, eee… malah ada tamu yang datang ke kita untuk meminta bantuan kita. Kita kemudian protes, TUHAN TIDAK MENDENGAR DAN MENGABULKAN PERMINTAAN KITA. Kita kemudian menyimpulkan bahwa amalan kita tidak berfungsi. Apakah demikian?

Secara tidak kita sadari, selama ini Tuhan telah kita posisikan sebagai “tempat” meminta, Tuhan kita jadikan “obyek” keluh kesah, Tuhan kita jadikan tempat negosiasi kepentingan-kepentingan hidup kita. Kita jarang memposisikan Tuhan sebagai Tuhan. Tuhan kita pahami, kita pikirkan, kita hayati dengan keterbatasan dan ketumpulan pengetahuan akal budi kita. Tuhan kita ukur dengan tolok ukur logika kita yang begitu sederhana. Padahal…. katanya ALLAHU AKBAR…. ALLAH LEBIH BESAR dari penilaian-penilaian kita terhadapnya…..

Paradigma kita soal dzat, afal dan asma’Nya tidak pernah benar-benar kita telaah secara serius. Akibatnya, bangunan akidah kita tambal sulam dan robek-robek. Maqom ruhani kita tidak pernah meningkat dari tingkat primordial menuju mondial…semesta yang benar-benar terbuka. Pemahaman kita terhadap soal-soal ketuhanan belum menunjukkan perkembangan yang berarti. Benar-benar dibutuhkan keseriusan olah diri agar hidup kita semakin halus dan terbuka. KEEP OUR MIND WIDELY OPEN TO NEW IDEAS AND EVIDENCE….

Belajar dari sejarah kebenaran risalah yang disampaikan para Rasul Allah SWT sepanjang masa…. mereka adalah anugerah berkualitas plus dari hasil pengolahan diri yang sedemikian rupa sehingga terlekat kualitas Rahmatan Lil Alamin yang berbeda-beda tugasnya… Adam, Nuh,… Ibrahim, … Musa yang Kalamullah— Isa yang Ruh-ul-Lah dan Muhammad Rasul-ul-Lah…. Mari kita ikuti dengan ikhlas jejak langkahnya pada jalan yang lurus, dengan sekuat tenaga mencontohnya dan meneruskan ajarannya untuk senantiasa mencerap syahadat tauhid La Ilaha Ilal-Lah, sambil setiap saat berharap ridho-NYA.

@wongalus,2010

Iklan