Daily Archives: 26 Oktober 2010

KEMURAHAN ALLAH


Disarikan dari karya al-Ghazali
Oleh Juru Angon

Ilmu Allah Swt itu sangat tak terbatas. Sedangkan tingkatan tertinggi adalah tingkatan para nabi yang kepadanya disingkapkan hakikat segala sesuatu tanpa mereka harus belajar dan berusaha untuk mendapatkannya. Mereka telah “dibukakan hatinya” oleh Allah Swt dalam waktu yang sangat singkat. Disebabkan karena anugerah ini lah, seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah Swt. “Dekat” dalam pengertian maknawi, hakikat dan sifat, bukan dalam pengertian tempat dan jarak.

Setiap orang yang “berjalan” menuju Allah Swt akan melalui berbagai tahapan atau tingkatan. Namun demikian, seorang salik (penempuh jalan tasawuf) hanya bisa mengetahui tingkatan yang sedang dan telah dilaluinya. Ia tidak bisa memahami secara pasti tingkatan yang ada di atasnya. Ia hanya meyakini tentang keberadaannya, seperti kita yang mempercayai dan meyakini kebenaran adanya nabi dan nubuwwah (kenabian), tetapi hanya nabi sendirilah yang mengetahui hakikat kenabiannya.
Begitu juga seorang janin atau bayi, ia tidak mengetahui apa yang akan terjadi – dan pengetahuan yang dimilikinya – pada masa balitanya, pada masa kanak-kanaknya dan pada masa dewasanya. Oleh karena itu, manusia biasa tidak akan bisa memahami dan mengetahui secara pasti apa yang diberikan Allah Swt kepada para wali-Nya, yang berupa rahasia dan rahmat-Nya. “Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Qs. Al-Fathir; 2).
Semua rahmat tersebut menunjukkan kemurahan dan kemuliaan Allah Swt, namun hanya hati yang siap menerima “hembusan” rahmat-Nya saja lah yang bisa mendapatkannya. Sabda Rasulullah Saw: “Sesungguhnya pada masa-masa tertentu dalam kehidupanmu, Allah Swt selalu “meniupkan” rahmat-Nya, maka bersiaplah untuk menerima hembusan itu.” Bersiap diri untuk menerima “hembusan” itu adalah dengan cara membersihkan hati dan mensucikannya dari berbagai kotoran yang diakibatkan oleh akhlaq yang tercela, sebagaimana akan dipaparkan nanti.
Tentang kemurahan Allah Swt tersebut, Nabi Muhammad Saw bersabda: “Setiap malam Allah Swt “turun” ke langit dunia dan berfirman: Adakah orang yang berdo’a, niscaya Aku kabulkan do’anya.”
Dalam hadits qudsi Allah Swt berfirman: “Sungguh orang-orang yang baik telah lama memendam kerinduan untuk bertemu dengan-Ku, tetapi Aku lebih merindukan bertemu dengan mereka.”
Dalam hadits qudsi yang lain, Allah Swt juga berfirman: “Barang siapa yang mendekat kepadaku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya satu hasta.”
Semua keterangan di tas menunjukkan bahwa cahaya ilmu Allah Swt tidak akan pernah terhalang dari hati, artinya, dengan kemurahan-Nya akan memberikan ilmu-Nya kepada hamba-Nya. Maha Suci Allah Swt dari sifat bakhil, yakni menyembunyikan ilmu-Nya.
Namun demikian, penyebab terhalangnya ilmu atau cahaya dari hati adalah karena faktor hati itu sendiri yang penuh dengan kekotoran dan karat. Hati itu ibarat sebuah gelas, jika ia telah penuh dengan air, maka tidak ada lagi tempat kosong untuk masuknya udara. Begitu juga dengan hati yang sibuk memikirkan selain Allah Swt, maka “ma’rifat” tentang keagungan Allah Swt tidak bisa masuk kepadanya.
Nabi Muhammad Saw memberikan isyarat tentang hali itu dengan bersabda: “Seandanya syaitan tidak mengitari/menutupi hati manusia, niscaya manusia bisa melihat “kerajaan” langit.”
Dari semua keterangan di atas, dapa disimpulkan bahwa keistimewaan manusia terletak pada ilmu dan hikmahnya. Ilmu yang tertinggi adalah ilmu tentang Allah Swt, sifat-sifat-Nya dan perbuatan-Nya. Dengan mengetahui ilmu itu, manusia menjadi sempurna. Dalam kesempurnaannya itu, manusia memperoleh kebahagiaannya “di sisi” Allah Swt yang Maha Agung dan Maha Sempurna. @@@

Categories: ARTIKEL KI JURU ANGON | 143 Komentar

KESATUAN DENGAN “AKU”


KI SUKMA RAHAYU

INI DIALOG SUFISTIK ANTARA KI AGENG JJ DENGAN KI SUKMA RAHAYU TENTANG BAGAIMANA SESUNGGUHNYA MENJALIN KEAKRABAN ANTARA MANUSIA DENGAN TUHAN.

TANYA: Ki Sukma Rahayu (Luciola Eberta Jovita): Salam Rahayu karaharjan katur mbak Sukma sekeluarga. ‘AKU’ sebuah kata yang slalu menjadi pertanyaan yg mendalam. Tetapi amatlah rumit dan tak terkira jawabnya. Saat ‘AKU’ meng’aku’ paling inilah Paling itulah dan paling paling yg lain. Pertanyaannya: siapakah ‘AKU’ yg telah berani beraninya meng’aku’ ? …

JAWAB Assalamualaikum Wr.wb. Selamat malam Para Sesepuh KWA yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu semoga Alloh Meridhoi Sesepuh,sedulur dan saudara/i semua. amien. Maap untuk Menjawab Pertanyaan Sesepuh Ki ageung JJ sebetulnya saya Pribadi bukan orang Pintar kyai,ustadz, dan masih perlu banyak Belajar dari Panjenengan,aplagi saya seorang mualaf tetapi insya Alloh saya jawab tetapi bukan berarti bisa tetapi semata Pemahaman yang saya Pahami.

Pertanyaannya: siapakah ‘AKU’ yg telah berani beraninya meng’aku’ ? … Maap kalimat tersebut bukan berati “AKU” telah beraninya meng”AKU” dalam artian saya berani mengaku. Ucapan tersebut pada umumnya di pakai orang sufi/haqeqat, dibalik tersurat ada tersirat yang memahaminya dalam arti tersirat hanyalah kalangan Sufi/arti haqeqat sendiri, disinilah pangkal utama Perselisihan dan timbulnya tuduhan orang-orang Ahli Syareat (ahli dzahir), dan untuk memahami ucapan mereka yang ganjil itu, seharusnya dengan kacamata mereka pula.

Namun Untuk saya pribadi beranggapan bahwa kalimat tersebut terlalu berani di ucapkan, dan amat membahayakan terhadap orang awam dan selain itu mengundang silih sengketa, namun demikian saya pribadi tetap berbaik sangka kepada ALLOH bahwa alasannya adalah:

1. Dalam Kesendiriannya kata2 tersebut di ucapkan kaum sufi/ahli haqeqat dalam keadaan Syatathoh tanpa terkendali oleh aqal (saking cinta dekatnya dg sang pencinta)
2. Kalimat tersebut di ucapkan adalah karena karunia Alloh SWT.
3. Bahwa para Pendaki yang sudah Meng”AKU” karena berpendapat dahuu dia sangka kalimat2 Alloh,aku, dan Doa itu seutuhnya miliknya sendiri, lahir dari lidahnya sendiri, dan atas dasar pengetahuan dan Kemampuannya sendiri, tidak diketahuinya ada suatu penekanan bagi org Khowas dari suatu hadis Qudsi : La ilaha Illa Alloh adalah Ucapanku (alloh) dan dia adalah bentengku, barang siapa yg masuk kepada bentengku, amanlah dari siksaku”

Setelah merenungkan itu semua, sadarlah bahwa kaum Ahli haqeqat bahwa yang di yaqini adalah salah. Mari kita simak dari kutipan Senossi- Almiraj Sufi & Islamic Study Centre Ditulis oleh Ali Mursyid FA-Almiraj Sufi ElSenossi & Pusat Studi Islam dari cairo Mesir yang saya terjemaahkan dari bahasa inggris ke indonesia.

Tujuan transformasi diri untuk menghapus semua tabir antara kita dan Allah. Final Tabir adalah” Aku “, arti keterpisahan membawa kita masing-masing. Untuk menghapus ini jauh dari mudah. Tanyakan kepada diri sendiri,” Bagaimana saya bisa mengambil “Aku” keluar dari aku? ”

The Sufis take as their starting point the Unity of Allah– ‘ La ilaha ill Allah ‘ – There is no god but One God; There is no reality but One Reality. Para sufi mengambil sebagai titik awal mereka Kesatuan Allah-”La ilaha sakit Allah – Tidak ada Tuhan selain Tuhan Yang Maha Esa; Tidak ada realitas, tetapi Satu Realitas. It is not that we have to acknowledge the Unity of Allah. Itu bukan bahwa kita harus mengakui Kesatuan Allah. He does not need our confirmation of His Oneness. Dia tidak membutuhkan konfirmasi kita Keesaan-Nya. This acknowledgement is for our own benefit. Pengakuan ini adalah untuk kepentingan kita sendiri. When one starts with Unity it is easy to integrate all the different “I’s” which have no function except to confuse and mislead us. Ketika seseorang mulai dengan Persatuan mudah untuk mengintegrasikan semua berbeda “I” yang memiliki fungsi apapun kecuali untuk membingungkan dan menyesatkan kita. For this reason the practices of the Sufis include the remembrance of Allah ( Dhikr ) and His Names, in various forms, to awaken the consciousness and activate the subtle centres of the heart. Untuk alasan ini praktik para sufi termasuk mengingat Allah (Dzikir) dan Nama-Nya, dalam berbagai bentuk, untuk membangkitkan kesadaran dan mengaktifkan pusat-pusat halus jantung.

In Sufism there are seven stages of consciousness. (Stages of the Self) When we progress through them we will reach the Ultimate Truth and the Ultimate Unity of Realization in Allah. Dalam tasawuf ada tujuh tahap kesadaran. (Tahapan Diri) Ketika kita kemajuan melalui mereka kita akan mencapai Kebenaran Ultimate dan Kesatuan Ultimate Realisasi pada Allah. It is hard; and at the same time it is easy. Sulit, dan pada saat yang sama mudah. If we are sincere and if we have great determination (himma ) and really wish to be with Allah then, as Allah says in the Holy Qur’an, He is closer to us than our jugular vein. Jika kita tulus dan jika kita memiliki tekad yang besar (himma) dan benar-benar ingin dengan Allah itu, sebagaimana Allah berfirman dalam Al Qur’an Suci, Ia lebih dekat kepada kita daripada urat nadi kita.

It has been said that there are 70,000 veils between the seeker and Allah, but there are no veils between Allah and the seeker. Telah dikatakan bahwa ada 70.000 cadar antara pencari dan Allah, tetapi tidak ada selubung antara Allah dan para pencari. The complications are from our side. Komplikasi yang berasal dari pihak kami. We have to put our lives in order and bring peace and knowledge and proper behaviour to our existence so that we may be able, gradually, to remove the veils of personality, conditioning and lower desires (and after that, the higher desires). Kita harus menyerahkan hidup kita dalam rangka dan membawa perdamaian dan pengetahuan dan perilaku yang tepat untuk keberadaan kita sehingga kita dapat, secara bertahap, untuk menghilangkan cadar kepribadian, penyejuk dan keinginan rendah (dan setelah itu, keinginan yang lebih tinggi).

“The Sufis are people who prefer Allah to everything and Allah prefers them to everything else.” “Para Sufi adalah orang yang lebih memilih Allah untuk segala sesuatu dan Allah lebih suka mereka untuk segala sesuatu yang lain.”

So the first step, as we mentioned, is the acknowledgment of the supremacy of Allah, and the acknowledgement which includes the acceptance of 124,000 Prophets and Messengers of Allah who have been sent to humanity and to all the creations in the universe, (those creations that we know of and those that have not been discovered yet). Jadi langkah pertama, sebagaimana telah disebutkan, adalah pengakuan supremasi Allah, dan pengakuan yang meliputi penerimaan 124.000 Nabi dan Rasul Allah yang telah dikirim ke kemanusiaan dan kepada semua ciptaan di alam semesta, (yang kreasi yang kami ketahui dan mereka yang belum ditemukan).

The last Prophet and Messenger of Allah is the Holy Prophet Muhammad ÷ . Nabi terakhir dan Rasul Allah adalah Nabi Muhammad ÷. If we acknowledge this then the second step is to worship, because there is no point in acknowledging Allah if we do not fulfill His commands. Jika kita mengakui ini maka langkah kedua adalah ibadah, karena tidak ada gunanya mengakui Allah jika kita tidak memenuhi perintah-Nya. As a Sufi poet said: “You disobey Allah and yet you claim His Love. That is indeed a very strange kind of love!” If you truly love Allah you will obey Him because the lover is in a state of total surrender to his Beloved. Sebagai seorang penyair sufi berkata: “Kamu tidak mentaati Allah dan belum Anda mengklaim Nya Cinta kasih. Itu memang sangat aneh semacam!” Jika Anda benar-benar mencintai Allah Anda akan mematuhi-Nya karena kekasih berada dalam keadaan menyerah total nya Kekasih . So – worship you must! What does is mean to worship? Jadi – ibadah Anda harus menyembah! Apa yang berarti untuk? Worship is not just the movements of the body. (Movement of the Prayer) .

It is the orientation of the heart so that the object of your love is the Supreme Being. Ibadah bukan hanya gerakan tubuh. (Gerakan Doa) . Ini adalah orientasi hati sehingga objek cinta Anda adalah Mahatinggi. It is a state of knowledge, because in the true sense you cannot worship something that you do not know. Ini adalah keadaan pengetahuan, karena dalam arti sebenarnya Anda tidak bisa menyembah sesuatu yang anda tidak tahu. So, the Sufis say: “Worship!” Jadi, para sufi mengatakan: “Ibadah!” Worship in the Arabic traditions is called ibadat . Ibadat should take us to ‘ubudiyya meaning slavehood. Ibadah dalam tradisi Arab disebut ibadat. Ibadat harus membawa kita ke ‘ubudiyya makna slavehood. You are slave to none but the One. Anda budak tidak ada tapi Satu.

If worship does not produce this result then it has not been done properly. The highest state of consciousness is to be completely and totally submitted to your Beloved, Allah, the Supreme Being and the Creator of all things and the sustainer of all things, because we all remember when we arrived to planet Earth, we arrived without any luggage, Ipods, computers, or any of the other gadgets that we depend on in our daily lives. Jika penyembahan tidak menghasilkan hasil ini maka belum dilakukan dengan benar. Keadaan tertinggi kesadaran harus benar-benar dan sepenuhnya diserahkan kepada Anda Kekasih, Allah, Yang Mahatinggi dan Pencipta segala sesuatu dan penopang segala sesuatu, karena kita semua ingat ketika kami tiba untuk planet Bumi, kami tiba tanpa, Ipods, komputer koper, atau salah satu gadget lain yang kita bergantung pada dalam kehidupan kita sehari-hari. We think that if we don’t have them, our lives will be disastrous. Kita berpikir bahwa jika kita tidak memilikinya, hidup kita akan menjadi bencana.

The Holy Prophet ÷ has said, “What I say is the Law, what I do is the Way and my inner state is Reality”. Nabi ÷ mengatakan, “Apa yang saya katakan adalah Hukum, apa yang saya lakukan adalah Jalan dan negara batin saya Realitas”. There are three stages of practice and understanding in Sufism: Ada tiga tahap praktek dan pemahaman tasawuf:

Islam (submission) Islam (penyerahan)
Iman (belief) Iman (kepercayaan)
Ihsan (perfection) or, you could say: Ihsan (kesempurnaan) atau, Anda bisa mengatakan:

Shariah (The Law) Syariah (Hukum)
Tariqah (The mystical Path) Thariqah (Jalan mistik)
Haqiqah (Reality) Haqiqah (Realitas)

Each is built upon the stages that go before.When we combine this knowledge based on the Holy Qur’an, we will come face to face with each of the seven stages of consciousness. Setiap dibangun di atas tahap yang masuk before.When kami menggabungkan pengetahuan ini berdasarkan Al-Qur’an Suci, kita akan berhadapan dengan masing-masing tujuh tahap kesadaran.

Islam (submission) Islam (penyerahan)
Iman (belief) Iman (kepercayaan)
Ihsan (perfection) Ihsan (kesempurnaan)
‘Ilm al Yaqin (knowledge of certainty) ‘Ilm al Yaqin (pengetahuan tentang kepastian)
‘Ain al Yaqin (the eye of certainty) ‘Ain al Yaqin (mata kepastian)
Haqq al Yaqin (the Reality of Certainty) Haqq al Yaqin (Realitas Kepastian)

The seventh stage is the Complete Self, known also as Hayat as-Sha’ur , the Life of the Senses. Tahap ketujuh adalah Diri Lengkap, dikenal juga sebagai Hayat as-Sha’ur, Kehidupan dari Sense.

To start this process, you must take the necessary steps. Untuk memulai proses ini, Anda harus mengambil langkah yang diperlukan. It is highly recommended to observe the month of fasting every year (the Holy month of Ramadhan) in order to experience something of hunger,to tame the animal self and to become conscsious of the suffering of the human being who has nothing to sustain them. The Murshid, or Teacher of a Sufi order or school to whom one attaches oneself, may recommend other fasts if they are required. Hal ini sangat dianjurkan untuk mengamati bulan puasa setiap tahun (bulan Suci Ramadhan) untuk mengalami sesuatu yang kelaparan, untuk menjinakkan hewan diri dan menjadi conscsious dari penderitaan manusia yang tidak memiliki apapun untuk mempertahankan mereka. Murshid, atau Guru tatanan sufi atau sekolah untuk yang satu menempel pada diri sendiri, dapat merekomendasikan puasa lainnya jika mereka diperlukan.

There is also zakat, or charity, which deals with material wealth. Ada juga zakat, atau amal, yang berkaitan dengan kekayaan materi. The Holy Prophet ÷ never kept anything more than what he needed for the day and he is our example to follow. Nabi ÷ pernah menyimpan sesuatu yang lebih dari apa yang dibutuhkan untuk hari itu dan dia adalah teladan kita untuk mengikuti. When we practise zakat , which requires a percentage of wealth to be given to the needy, then, according to the esoteric Teaching, we are learning detachment, generosity and many other qualities.

Ketika kita berlatih zakat, yang membutuhkan persentase kekayaan yang harus diberikan kepada yang membutuhkan, kemudian, menurut Pengajaran esoteris, kita belajar detasemen, kemurahan hati dan kualitas lainnya. We must know that the best gift one can give to others is a heart full of love and respect for all the creations of Allah. Kita harus tahu bahwa hadiah terbaik yang dapat memberikan kepada orang lain adalah hati yang penuh cinta dan hormat untuk semua ciptaan Allah.

Additionally there is the Hajj or pilgrimage. Selain itu ada haji atau ziarah. The Holy Prophet ÷ said: “Whoever dies without the intention to go on the Pilgrimage, may die on a different faith than that of the religion that I brought”. One must strive to perform pilgrimage to the House of Allah once in a lifetime. ÷ Nabi bersabda: “Barangsiapa mati tanpa niat untuk pergi Ziarah, bisa mati di iman berbeda dengan agama yang aku bawa” seumur hidup. Orang harus berusaha keras untuk menunaikan ibadah haji ke Rumah Allah sekali di. However, the real pilgrimage is to travel to one’s heart because it is the Real House of Allah.

Namun, ziarah sesungguhnya adalah melakukan perjalanan ke hati satu karena itu adalah Real Rumah Allah. Allah says in a Hadith Qudsi (Holy saying) “Neither My heavens nor My earth contain Me, but the heart of My true believer contains Me”. Allah berfirman dalam Hadis Qudsi (Suci berkata) “Baik saya langit bumi tidak saya mengandung Aku, tetapi hati orang percaya sejati saya berisi Me”. This ‘containment’ is of knowledge and realisation and illumination. Ini ‘penahanan’ adalah pengetahuan dan realisasi dan pencahayaan.

The Holy Prophet ÷ has said “die before you die” and he also said “whosoever knows himself, knows his Lord”. ÷ Nabi Suci telah mengatakan “mati sebelum kamu mati” dan ia juga mengatakan “barangsiapa yang tahu dirinya, tahu Tuhannya”. So the Sufis use all of these methods and more to transform the self. Jadi Sufi menggunakan semua metode ini dan lebih untuk mengubah diri. It is common knowledge that the ego-self cannot surrender to itself. Sudah menjadi rahasia umum bahwa diri-ego tidak dapat menyerah kepada dirinya sendiri. From the very beginning of our lives we are learning from our parents, our peers, schoolteachers, our university lecturers, and the masters of whatever trade we undertake. There is always someone at the beginning who must show us how to learn and Tasawwuf is no exception. S

ejak awal hidup kita kita belajar dari orang tua kita, rekan-rekan kita, guru, dosen universitas kami, dan para empu perdagangan apa pun yang kita lakukan. Selalu ada seseorang di awal yang harus menunjukkan kepada kita bagaimana untuk belajar dan Tasawwuf ada pengecualian. However, there is something unique to Islam and to Tasawwuf in particular, called bay’at , which was performed by the Holy Prophet ÷ and this practice still continues right to our time. Namun, ada sesuatu yang unik untuk Islam dan Tasawwuf khususnya, bay’at disebut, yang dilakukan oleh Nabi Suci ÷ dan praktek ini masih terus hak untuk waktu kita. In some parts of the world it is called mukaffaf – taking of the hand. That is, you must take the hand of the one nearest to you to link you to the chain which goes back to the First Teacher who brought this Teaching to us, the Holy Prophet Muhammad ÷ , who links us to Allah Himself.

Di beberapa bagian dunia itu disebut mukaffaf – dari. Tangan mengambil Artinya, Anda harus mengambil tangan dari orang terdekat Anda untuk link Anda ke rantai yang akan kembali ke Guru Pertama yang membawa ini Pengajaran kepada kami, Nabi Muhammad ÷, yang menghubungkan kita kepada Allah sendiri. It is like a very powerful magnetic circle. Hal ini seperti lingkaran magnet sangat kuat. The one who attaches himself becomes like a magnet, receiving the barakah, spiritual blessings , and participating in the Universal Remembrance of Allah, because this Teaching is for all of humanity. It is Universal. Orang yang melekat pada dirinya menjadi seperti magnet, menerima barakah, berkat rohani, dan berpartisipasi dalam Universal mengingat Allah, karena ini Pengajaran adalah untuk seluruh umat manusia. Ini adalah Universal. It is fresh and unadulterated and it gives you access to everything that your heart desires and unlocks the mysteries of everything you want to know, but were afraid to ask. Hal ini segar dan murni dan memberikan Anda akses ke segala sesuatu yang keinginan hati Anda dan membuka misteri semua yang anda ingin tahu, tapi takut untuk bertanya. I beseech my Beloved Allah to fill the hearts of those who seek the Truth and nothing but the Truth, with the Truth, so that they may become free, inward and outward.

Saya mohon saya Kekasih Allah untuk mengisi hati orang-orang yang mencari kebenaran dan hanya kebenaran, dengan kebenaran, sehingga mereka bisa menjadi bebas, ke dalam dan luar. The 21st Century, the end of the cycle is a wonderful time if the eye of the heart is open, but it is a dangerous time for those who are in a comatose state of forgetfulness. Their only worries and concerns deal iwth the material world, the enslavement to their work and their bodily needs and desires and the weekly rituals of pushing the tripod trolley through the supermarket, which has become our ‘home away from Home’. Abad 21, akhir siklus adalah waktu yang indah jika mata hati terbuka, tetapi merupakan waktu yang berbahaya bagi mereka yang berada dalam keadaan koma dari kelupaan. Kekhawatiran hanya mereka dan menangani masalah dengan dunia material, perbudakan untuk bekerja dan kebutuhan tubuh mereka dan keinginan dan ritual mingguan dari mendorong troli tripod melalui supermarket, yang telah menjadi ‘kami’ pulang pergi dari rumah.

Almiraj Sufi & Islamic Study Centre was established many years ago in Hobart, Tasmania, Australia. Almiraj sufi & Pusat Studi Islam didirikan beberapa tahun lalu di Hobart, Tasmania, Australia. It provides all those who want to know – and who really want to know – with a large range of books on Sufi traditions and their original sources and other traditions as well. Ini menyediakan semua orang yang ingin tahu – dan yang benar-benar ingin tahu – dengan berbagai macam buku tentang tradisi Sufi dan sumber asli mereka dan tradisi lainnya. So, I hope this introduction helps to give you some idea, but if you want more than the menu – the kitchen and the Cook are here on the Web. Jadi, saya berharap pengenalan ini membantu untuk memberikan ide beberapa, tapi jika Anda menginginkan lebih dari menu – dapur dan Cook di sini di Web. May your search bring you success in this life and the next. Anda cari Mei membawa Anda sukses dalam kehidupan ini dan berikutnya.

And may Allah fill our hearts and yours with Peace, Love and Knowledge and Guide us all to Him, by Him. Dan semoga Allah mengisi hati kita dan Anda dengan Peace, Love dan Pengetahuan dan Panduan kita semua kepada-Nya, oleh-Nya. Ameen. Ameen.

Sufism is but a name; when it is finished, only Allah remains. Sufisme hanyalah nama, ketika sudah selesai, hanya Allah tetap. Written by Murshid FA Ali ElSenossi- Almiraj Sufi & Islamic Study Centre Ditulis oleh Ali Mursyid FA-Almiraj Sufi ElSenossi & Pusat Studi Islam.

Maapkan kekurangan dan keterbatasan saya pribadi. @@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 65 Komentar

INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI ROJIUN


ASSALAMUALAIKUM. KELUARGA BESAR KAMPUS WONG ALUS MENGUCAPKAN IKUT PRIHATIN DAN TURUT BERBELASUNGKAWA ATAS MUSIBAH GEMPA BUMI DAN TSUNAMI DI KEPULAUAN MENTAWAI DAN MELETUSNYA GUNUNG MERAPI DI DIY/JATENG. MARI KITA SEJENAK MENGHENINGKAN CIPTA DAN BERDOA AGAR KITA SEMUA DIBERI KESELAMATAN DAN PERLINDUNGAN. WASSALAMUALAIKUM WR WB.

@@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 83 Komentar

EHIPASSIKO


MAS KUMITIR
alitahak@yahoo.com
berumah di http://alangalangkumitir.wordpress.com 

Artikel ini diilhami oleh komentar Ki DR Angon ketika dia menanggapi @laskar cinta: “pertanyaanmu sangat mendasar kawan…! Bila “Allah” hanya bisa dibabar dengan pendekatan huruf-huruf Arab, lalu bgm dg wong jawa yg sudah punya hanacaraka? Bolehkah “Allah” diberi nama oleh makhlukNya yg bukan Arab? kalau “Allah” hanya bisa dijelaskan dg bhs Arab, wah berarti Allah menjadi Tuhan yang primordial dan rasis dong…? monggo direnungkan…!”

“Tuhan” biasanya dipakai sebagai sebutan penganut monoteisme. Istilah Tuhan muncul dari perbedaan bahasa dan tradisi agama. Kedua-dua cabang ini menghasilkan perkembangan arti istilah “Tuhan””. Bangsa Arab menyebut Tuhan dengan Allah yang “memiliki “99 Asma. Bangsa Israel menyebut Yehowa atau Yahweh (istilah Ibrani tetragrammaton YHVH).

Nama ini tidak pernah dilafalkan karena dianggap sangat suci, maka cara pengucapan YHVH yang benar tidaklah diketahui. Biasanya yang dilafalkan adalah Adonai yang berarti Tuan. Sang Hyang Tritunggal maha suci yang artinya adalah Bapa, Putra, dan Roh Kudus, terutama dipakai dalam Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks. Konsep ini dipakai sejak Konsili Nicea pada tahun 325 M.

Dalam kepercayaan Hindu, khususnya konsep ketuhanan Adwaita Wedanta Tuhan merupakan pusat segala kehidupan di alam semesta yang disebut dengan Brahman. Brahman merupakan sesuatu yang tidak berawal namun juga tidak berakhir. Brahman merupakan pencipta sekaligus pelebur alam semesta. Brahman berada di mana-mana dan mengisi seluruh alam semesta. Brahman merupakan asal mula dari segala sesuatu yang ada di dunia. Segala sesuatu yang ada di alam semesta tunduk kepada Brahman tanpa kecuali. Dalam konsep tersebut, posisi para dewa disetarakan dengan malaikat dan enggan untuk dipuja sebagai Tuhan tersendiri, melainkan dipuji atas jasa-jasanya sebagai perantara Tuhan kepada umatnya.

Sementara dalam Agama Buddha, mereka tidak mempersonifikasikan Tuhan. Agama Buddha melihat konsep ketuhanan sebagai ‘Yang tak bersyarat, mutlak, tak terceritakan’, tidak bisa digambarkan dalam bentuk apapun. Tuhan dalam Agama Buddha adalah merupakan tujuan hidup yang bisa dicapai ketika manusia masih hidup di dunia ini. Konsep Ketuhanan dalam Agama Buddha adalah Nibbana.

Di dalam bahasa Melayu atau bahasa Indonesia, dua konsep atau nama yang berhubungan dengan ketuhanan, yaitu: Tuhan sendiri, dan Dewa. Penganut monoteisme biasanya menolak menggunakan kata Dewa di Indonesia, tetapi sebenarnya hal ini tidaklah berdasar. Sebab di Prasasti Trengganu, prasasti tertua di dalam bahasa Melayu yang ditulis menggunakan Huruf Arab (Huruf Jawi) menyebut Sang Dewata Mulia Raya. Bagaimanapun, pada masa kini, pengertian istilah Tuhan digunakan untuk merujuk Tuhan yang tunggal, sementara Dewa dianggap mengandung arti salah satu dari banyak Tuhan sehingga cenderung mengacu kepada politeisme.

Yang lebih ruwet lagi adalah konsep ketuhanan yang digagas para filsuf. Kita seperti terlempar ke rimba belantara dimana kita harus siap dengan senjata yaitu akal budi dan siap tersesat. Latihan untuk tersesat ini sungguh pengalaman yang sangat berharga. Sebagaimana diketahui, para filsuf ini mencari Tuhan umumya murni dengan kekuatan akal budi dan kalau pun toh perlu merujuk pada kitab suci, biasanya mereka lebih mengedepankan pada peran logika yang lurus. Dalam usahanya untuk mencari Tuhan, yang perlu dipahami adalah penemuan konsep tentang Tuhan. Konsep tentang Tuhan jelas berbeda dengan eksistensi dan substansi Tuhan (an sich).

Tuhan sebagai Yang Absolut artinya keberadaanya mutlak, bukannya relatif. Hal ini dapat dipahami, bahwa pernyataan semua kebenaran itu relatif itu tidak benar. Kalau semua itu relatif, bagaimana kita bisa mengetahui bahwa sesuatu itu relatif. Padahal yang relatif itu menjadi satu-satunya eksistensi realitas. Ibarat warna yang ada di seluruh jagat ini hanya putih, bagaimana kita bisa tahu putih padahal tidak ada pembanding selain putih.

Dengan demikian tidak bisa disangkal adanya kebenaran itu relatif, dan secara konsisten tidak bisa disangkal pula adanya kebenaran mutlak itu. Dengan kemutlakannya, ia tidak akan ada yang menyamai atau diperbandingkan dengan yang lain (distinct). Kalau tuhan dapat diperbandingkan tentu tidak mutlak lagi atau menjadi relatif. Karena tidak dapat diperbandingkan maka tuhan bersifat unik, dan hanya ada dia satu-satunya. Kalau ada yang lain, berarti dia tidak lagi distinct dan tidak lagi mutlak.

Munculnya beragam istilah ‘Tuhan” berawal dari adanya sebutan dalam agama yang menunjuk pada Dzat yang Adikodrati. (kalau disini disebut sebagai Dzat: mohon jangan diartikan dalam pengertian Fisika. Tuhan tidak perlu ditetapkan konsep massa jenis Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak perlu pula dideskripsikan apakah Tuhan itu bersifat zat padat, cair, dan gas berdasarkan wujudnya dan penerapannya.

Kita tidak perlu mengenali Tuhan di laboratorium untuk menguji massa jenis Tuhan, bagaimana terjadinya perubahan wujud zat Tuhan, bagaimana susunan dan gerak partikel pada berbagai wujud zat melalui penalaran. Membedakan kohesi dan adhesi berdasarkan pengamatan. Mengkaitkan peristiwa kapilaritas, meniskus cembung dan meniskus cekung dengan peristiwa alam yang relevan dan seterusnya dan sebagainya.

Apakah kita perlu juga mengetahui apakah massa jenis zat Tuhan adalah sesuatu yang menempati ruang dan memiliki massa? Bila setiap zat di dunia ini mempunyai bentuk dan berat, apakah Tuhan memilikinya. Kita biasa menggunakan istilah “berat” dan “ringan” untuk menyatakan massa suatu benda. Massa suatu benda adalah ukuran banyaknya zat yang terkandung di dalam benda itu. Ruang yang ditempati oleh suatu benda biasa disebut volume. Setiap benda mempunyai volume tertentu. Kerapatan suatu zat disebut massa jenis. Massa jenis merupakan ciri khas suatu zat.

Ketika Nietzsche, mengatakan “Tuhan Telah Mati” mohon itu jangan diartikan secara harafiah. Sang begawan pemikir dari Jerman ini merujuk tiada “Kebenaran Mutlak”; yang ada hanyalah “Kesalahan yang tak-terbantahkan”. Karenanya, dia berkata, “Tuhan telah mati”. “Kesalahan yang tak-terbantahkan” dengan “Kebenaran yang-tak terbantahkan” tidaklah memiliki perbedaan yang signifikan. Sekiranya pemikiran Nietszhe ini dimanfaatkan untuk melanjutkan proses pencairan Tuhan, maka Tuhan itu suatu eksistensi yang tak terbantahkan. Dengan demikian eksistensi absolut, mutlak dan tak terbantahkan itu sama saja.

Jadi, persoalan umat manusia dalam proses pencairan Tuhan tiada lain proses penentuan peletakan dirinya kepada (segala) sesuatu yang diterimanya sebagai ‘tak terbantahkan’, atau mutlak, atau absolut. Muhammad Imaduddin Abdulrahim Ph.D dalam buku Kuliah Tauhid mendefiniskan Tuhan sebagai segala sesuatu yang dianggap penting dan dipentingkan sehingga dirinya rela didominirnya (Buku:Kuliah Tauhid).

Dengan kemutlakannya, Tuhan tentunya tidak terikat oleh tempat dan waktu. Baginya tidak dipengaruhi yang dulu atau yang akan datang. Tuhan tidak memerlukan tempat, sehingga pertanyaan tentang dimana Tuhan hanya akan membatasi kekuasaannya. Maka baginya tidak ada kapan lahir atau kapan mati. Saya pada akhirnya percaya, manusia adalah substansi yang terbatas dan meski terbatas namun ia memiliki koneksitas pada Yang Tidak Terbatas dan Yang Tidak Terjangkau ini dengan satu sarana yaitu kesadaran.

Manusia barangkali membutuhkan Tuhan sebagai ekspresi kelemahan dirinya berhadapan dengan alam semesta, manusia yang lain dan juga berhadapan dengan sesuatu dimana dia harus ‘pasrah’ terhadap keterbatasan-keterbatasan hidupnya. Dan setiap ajaran kita tahu disesuaikan dengan kebutuhan setempat. Kebenaran memang sesungguhnya tidak akan pernah bisa digambarkan. Satu contoh, menceritakan rasa rambutan kepada orang lain yang belum pernah makan rambutan adalah kemustahilan. Oleh karena itu, rasa rambutan itu baru bisa dimengerti setelah dirasakan sendiri. Demikian pula untuyk mencapai pengetian tentang Tuhan.

Kita membutuhkan pengalaman sendiri atau dikenal dengan EHIPASSIKO. Pengalaman lebih kaya dan padat daripada pemahaman yang lahir dari cerita turun temurun, mitos maupun belajar di buku tentang Tuhan. Cara mengerti dan memahami kemudian mendekat pada Tuhan tidak bisa dikerdilkan dengan hanya melakukan pemahaman-pemahaman terhadap huruf-huruf, kalimat dan pengetahuan yang diperoleh dari buku-buku literatur saja. Seseorang yang ingin menghayati Tuhan yang sebenarnya Maha Dekat itu, maka ia harus menceburkan diri dengan melaksanakan perintah Tuhan untuk senantiasa menjalani laku tafakkur, tadzakkur dan tadabbur.

Kemudian langsung praktekkan: “Singkirkan duri dari jalan umum, bantu si yatim piatu dan berkorban total jiwa raga untuk kebenaran tanpa sok tahu. Bukankah sok tahu adalah jerat tersendiri? Saat kita mengatakan: SEMBAHLAH ALLAH SWT, maka pada saat itu juga kita tidak boleh menyembah siapapun juga, termasuk menyembah kyai, mursyid, guru dan maha guru, diri kita, otak kita, pengetahuan kita dan keyakinan kita sendiri.

*) Berikut contoh bagan amal perbuatan manusia. Kalau kita terpaku pada bagan, huruf, kalimat, konsep, paradigma bagaimana kita harus beramal maka kita akan terjebak pada kebingungan. Gunakan bagan, huruf, kalimat, konsep, paradigma tentang “Tuhan” dan tugas-tugas manusia di muka bumi hanya sebagai guide/pemandu saja dan langsung beramal saja…..

@@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 241 Komentar

SABAR


Satrio Mataram
ilmanplg@gmail.com

Kepada Ki Wong Alus yang saya hormati, dan kepada semua keluarga KWA yang saya cintai. Pada kesempatan ini saya ingin sekedar bercerita tentang kata “SABAR”. Saya terkadang kepingin seperti sesepuh dan sedulur di KWA, yang sering memberikan ilmu amalannya kepada anggota KWA dengan tulus dan ikhlas dengan hanya mengharap RidhoNYA, karena ilmu yang bermanfaat pahalanya tidak akan mati hingga akhir jaman….amin…amin. Kalau diri ini tidak punya apa-apa…..ilmu tak punya apalagi harta……kata orang jawa “bawang kotong”, mungkin hanya sedikit cerita untuk berbagi……tanpa mengharap apa-apa.

Cerita ini terjadi kira-kira 2 tahun yang lalu, saat itu istri saya hamil anak yang kedua. Pada saat akan melahirkan, istri saya mengalami kesulitan, 2 hari 2 malam di rumah sakit tanpa tidur menahan sakit, ….dan Dokter mengatakan ini harus operasi cesar, tetapi kami ingin anak saya lahir secara normal. setelah 2 hari akhirnya istri saya dapat melahirkan dengan normal dan anak saya seorang anak laki-laki, lengkap sudah kebahagian kami…sampai sampai istri saya pingsan tak tahan lagi menahan semua kebagahian dan penderitaan ini. Anak saya lahir pada pukul 10 malam.

Keesokan paginya, ketika saya ingin pulang untuk menanam ari ari anak saya, secara tidak sengaja terjatuh, sehingga kendilnya pecah….perasaan saya saat langsung tidak enak..akan terjadi apakah ini…..setelah saya kembali ke rumah sakit, saya dipanggil dokter dan diberitahu bahwa anak saya mengalami kelainan Paru – Paru, …dan harus di Inkubator, saya bertanya pada dokter, apakah ada obat untuk kesembuhan anak saya, dokter menjawab obatnya cuma “Sabar”……berkali kali saya bertanya…jawabanya…cuma “SABAR”…karena kasus seperti ini sembuh secara alami , kata dokter tersebut.

Karena saya kurang puas dengan jawaban dokter yang merawat anak saya, kemudian saya bertanya kepada beberapa dokter yang berpengalaman di rumah sakit terkenal di Yogyakarta, dan jawabanya sama ….”SABAR”..karena cuma itu obatnya…saya tidak mau putus asa, saya bertanya kepada beberapa “orang pintar dan termasuk ke “guru pembimbing saya” dan ternyata sama saja jawabanya….saya cuma disuruh ‘SABAR”,…

Setiap hari saya datang ke rumah sakit melihat anak saya terbaring lemah, hanya air mata yang menetes….saya bertanya “apakah semua ini karena dosa-dosa saya”, “apakah ini cobaan buat saya”…ini terjadi hingga 28 hari lamanya…uang tabungan saya puluhan juta habis…tapi saya juga masih punya hutang di rumah sakit puluhan juta lagi, tambah bingung hati ini….dan sabar…sabar…sabar cuma itu yang saya ingat ingat sepanjang hari…

Hingga suatu hari saya membaca buku yang lama tidak saya baca, di situ tertulis” Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu…” dan “…berpasrah dirilah kepada ALLAH dengan sebenar benarnya pasrah, pasti ALLAH akan menolongmu…..”

Sejak itu saya sholat malam dan berdoa sambil menangis, karena saya tidak pandai mengaji, dan tidak hapal doa doa arab, saya berdoa sebisa saya…..saya pasrahkan semua masalah saya pada ALLAH….karena saya tidak tahu harus bagaimana lagi.

Hingga suatu hari “pembimbing saya ” mengatakan bahwa bila suatu malam anak saya menangis tidak ada hentinya, berarti segera sembuh….dam tenyata benar, keesoka harinya seorang perawat bercerita bahwa semalam anak saya menagis sepanjang malam dan baru berhenti subuh. dan 3 hari kemudian anak saya bisa keluar dari rumah sakit, mengenai hutang saya yang tersisa …Alhamdulillah bisa dibantu kantor saya, lengkap sudah kebahagian saya….

Demikian Ki Wong ALus dan poro sedulur semua…cerita saya mengenai kata “SABAR”…bila ada kata kata yang tidak berkenan, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya….karena saya masih bodoh dan perlu bimbingan para sedulur semua…matur nuwun. Wasaallam. @@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 52 Komentar

PENGALAMAN MENEGANGKAN


Ustad Satyajendra
ustad_satya.jendra@yahoo.co.id

Assalamu’alaikum wr.wb. Salam takdzim sedulur kwa. Sya ucpkan terimakash atas jawabnya yg kmarin. saya akan menceritakan sebuah pengalaman lg yg sangat menegangkan buat saya. Saya tidak tahu pertama saya belajar ilmu itu susah banget. Setelah beberapa taun, saya d kasih tau oleh kakek sya, sya dulu wktu umur 9 thn..sebelum mninggalkan kluarga,sya di ksh tau bhwa kunci dr smua ilmu adalh,,

SHOLAT
tanpa sholat ilmu hikmah pun sulit di dapt, kadang aku brpkir, sya tdk pernah sholat, dan sy slalu melnggar perintahnya(ALLAH).di masjid sy brtmu kakek tua penunggu masjid,entah itu jin/manusia biasa,kakek itu brsorban,pake bju puth,sya merasa kaget dan tkut,krna setau sy warga dsa tdk ada yg seperti itu,sy brtanya..”kakek ini siapa?” kakek diam saja..lalu sya mengakui perbuatan sya,”kakek sesungguhnya saya telah brbuat kasar,brbohong,sombong,takabur,tdk pernah solat,inilah solat pertama sya, bgaimana bisa ALLAH menyukai saya?”.kakek pun ttep diam..sya tnya lg “kek..kalau memang kakek nabi/malaikat tolng katakanlah pada ALLAH bhwa aku minta ampunan?” kakek tetep diam..

Stelah itu sya menangs karna kakek diam dan tu tandanya ALLAH tdk akn memaafkan ku,tp selang 1 menit, KAKEK pun tersenyum dan brkata”YA ALLAH AMPUNILAH DIA” sy pun ikt trsenyum. KAKEK berkata lg”sesungguhnya allah YA ROKHMAN YA ROKHIM,WAL YA MUHAYMINU..janganlah engkau brsedih..karna sesungguhnya itu kelemahan yg nyata.

Sya brtnya,”wahai kakek,apa sya brhak mendapat ilmu hikmah untk fi dun ya wal akhiroh..beliau pun menjawb, “BERTAKWALAH LAHIR DAN BATIN”.. Setelah itu sy menangs lg, krna sesungguhnya sya bukanlah golongan orang yg brtakwa..kakek brkata”JIKA KAMU INGIN BERTEMU NABI MUHAMMAD,PASTI KAMU AKAN MENDAPAT SYAFA’ATNYA,,DAN APAPUN YG KAU HAJAT I AKAN DI KBULKAN OLEH ALLAH,DENGAN DO’A KANJENG NABI..”

Saya brtanya “bgaimana bisa sya brtmu kanjeng nabi?” beliau menjawab dg mudahnya dg senyumanya” HIDUPKANLAH SUNNAH NYA(kanjeng nabi muhammad) INSYA ALLAH TDK LAMBT KMU AKAN BRTMU BELIAU…” Sya brtanya ” apa itu benar2 kanjeng nabi?” beliau mjwb ” SESUNGGUHNYA MIMPI BERTEMU ADALAH MIMPI YANG HAQ, JIN DAN SEYTAN TDK AKAN DAPAT MERUBAH DIRINYA MJD NABI, DAN BARANG SIAPA BERTEMU NABI DI MIMPI DIA AKAN DI LINDUNGI ALLAH SAMPAI YAUMUL AKHIR..”

Tiba2 ada orang yg memegang pundakku, ktika sya tengkok kbelakang,,tdak ada orang,sya mau brtanya lg,ternyata kakek sdah tdk ada..stelah pertanyaan yg trus menerus sy tnyakan,sy pulng dan brtaubt pda allah,tdk lama kmudian selang 2 bln sy sudah brtaubt,setelah sy membca surah al fatihah,ayat kursi,3 qul. Sya kmudian tdur..dan d dalam tdur sya brtmu sesosok orang berjubh putìh,dan sy mendkati nya,kmudian dia brbalik bdan menatapku dg snyuman.

Dia memberi tahu ku tentang macam2 ilmu hkmah dan cra mengamalkanya,kmudian sya bngun dan brkata subhanallah.. Ternyata stelah sy tanyakn pda ustat,beliau trnyata nabi khidir A.S..smpai skarang ilmu hkmah itu mash sya ingat dan sy pergunakan dg baik… Demikian cerita yg fakta yg semoga para sdulor bsa mengambl hkmahnya.. Wassalamu’alaikum wr.wb. @@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 67 Komentar