Oleh: Wong Alus

“Namaku Ojat asalku Banten” demikian jawaban pria ganteng saat saya menanyakan nama dan asalnya. Tubuhnya cenderung agak pendek namun kekar, rambutnya dibiarkan tergerai. Di usianya yang menginjak 20 itu, Ojat memiliki keahlian yang sangat jarang dimiliki yang lain: ahli pengobatan alternatif kedokteran bedah dalam dan luar.

Suatu ketika di RSU Karyadi Semarang berkumpul para dokter bedah senior meminta Ojat mempertunjukkan bagaimana dia mempraktekkan keahliannya. Seorang pasien korban kecelakaan mengalami patah tulang didatangkan di ruang operasi. Pasien meraung-raung kesakitan suaranya memekakkan telinga para dokter di ruang bedah.

Ojat meminta segelas air putih. Duduk diam posisi meditasi kurang dari satu menit dan kemudian dia berdiri dan meniup segelas air tersebut dan meminta pasien meminumnya. Tiba-tiba raungan keras pasien berhenti. Rupanya dia tidak lagi kesakitan. Si pasien yang kebetulan perokok tersebut diminta menyulut rokok. “Santai saja pak. Ini operasi ringan kok. Tulang bapak akan saya sambung,” kata Ojat mencoba memberi sugesti agar Pasien tenang dan tidak panik. Ojat menjelaskan bahwa fungsi air minum tadi itu mirip dengan obat bius. Bedanya obat bius ala Ojat hanya segelas air putih yang sudah diberi doa.

Para dokter bedah saat itu berada dalam posisi sebagai pengamat saja. Mereka membiarkan si Ojat melaksanakan operasi beresiko tinggi menggunakan alat seadanya. Hanya sebilah pisau. “Pisau untuk membedah bisa pisau apa saja, pisau dapur pun boleh” kata Ojat dengan mimik riang khas anak muda.

Pasien yang sejak tadi posisi duduk selonjor diajak Ojat mengobrol. Sementara tangannya cekatan menyayat daging kaki pasien, tulangnya yang patah kemudian diluruskannya dan simsalabim…. tulang yang patah tersambung tidak kurang dari lima menit. Selanjutnya daging diletakkan kembali ke asalnya. Sobekan kulit yang terbuka di kaki pasien kemudian diletakkan kembali dan bekas sayatan pisau kemudian diolesi dengan air liurnya. Tiga menit kemudian bekas sayatan pisau di kulit sudah menghilang. Operasi itu pun selesai.

Para dokter bedah berpengalaman itu berdecak kagum. Tanpa menggunakan alat-alat bedah canggih, tanpa menggunakan obat bius, tanpa menggunakan pen (logam penyambung antar tulang), tanpa menjahit kulit, Ojat dengan sangat terampil melaksanakan operasi yang tergolong cukup beresiko itu dengan hasil memuaskan. Hingga kini, sudah ratusan bahkan mungkin ribuan orang yang dengan beragam luka baik luar dan dalam yang sudah ditangani Ojat.

“Itulah kuasa Allah SWT,” ujar Ojat sambil membuka telapak tangannya ke atas.

Asli orang desa
Ojat membuka sedikit jati dirinya. “Saya berasal dari desa paling terpencil di Banten berbatasan dengan Sukabumi. Kalau jalan kaki dari desa terakhir butuh waktu sekitar lima jam. Tidak ada kendaraan apapun termasuk sepeda motor,” papar Ojat saat ditemui di Klinik Herbal Gratis Dhandang Gulo miliki Ki Camat Krian, Sabtu kemaren untuk silaturahim.

Ojat menjelaskan, pakaian “adat” yang dikenakan di desanya berwarna hitam-hitam mirip pakaian silat. Sejak kecil penduduk di sana terbiasa hidup sederhana khas orang desa. Makanan dan minuman semuanya serba alami. Tidak ada yang dimasak. Rata-rata makanan yang disantap makanan mentah. “Nasi tidak yang putih, tapi kuning,” ujar Ojat.

Ilmu kedokteran bedah yang dimiliki Ojat adalah warisan dari sang kakek. Kakek ini memang seornang juru sembuh tradisionil yang juga dituakan di adat setempat. Namun dari anak-anak kakek langsung ini yang tidak ada yang betul-betul ahli pengobatan bedah. “Hanya saya dari sekian banyak cucunya yang mewarisi keahlian kakek,” jelas Ojat.

Sejak kecil, Ojat sangat dekat dengan sang Kakek. Namun Kakek ini tidak secara langsung menjadikan Ojat itu murid sebagaimana layaknya mahasiswa kedokteran yang diberi pengajaran-pengajaran dan kurikulum pendidikan kedokteran secara sistematis. “Kakek saya biasanya menemui saya melalui mimpi. Saya diminta melakukan operasi bedah juga awalnya melalui mimpi,” terang Ojat.

Selain melalui mimpi, Ojat juga diperintahkan untuk puasa. Puasa yang dijalani Ojat bukan Senin dan Kamis saja, melainkan puasa setiap hari dalam kurun waktu tertentu. Mulainya Puasa pada Maghrib hingga Maghrib lagi. Selama puasa mengurangi tidur dan melaksanakan wirid-wirid atau doa-doa. “Inti doa adalah memohon agar Allah SWT memberikan apa yang kita minta. Kita juga harus menuruti perintah-perintah-Nya dan mengendalikan hawa nafsu,” tutur Ojat yang biasa menghentikan antrean pasien berobat bila adzan berbunyi dan kemudian melaksanakan sholat tersebut.

“Doa dan wirid boleh apa saja,” kata Ojat. Yang jelas harus ikhlas dan istiqomah. Percuma jumlahnya banyak tapi tidak ikhlas. Yang bagus lagi pasti jumlahnya banyak dan ikhlas sehingga Allah SWT berkenan mengabulkan permintaan kita. Khusus soal doa ini, Ojat memberikan tips: berdoalah secara khusyuk dan yakin bahda doamu didengarnya dan yakinlah bahwa doamu akan diijabah atau dikabulkan. Jangan sedikitpun ragu Allah SWT akan menolak doamu.

Selain yakin, Ojat menjelaskan bahwa kunci terkabulnya doa adalah kesucian hati dengan menjaga agar tubuh, pikiran dan hati senantiasa bersih. “Pantangan seorang juru sembuh adalah bermain wanita, mabuk-mabukan, mencuri, dan membunuh… sekali kita melakukannya maka bisa jadi Allah SWT akan mencabut ilmu kita,” papar Ojat.

Ojat menambahkan: Satu lagi yang tidak boleh dilakukan seorang juru sembuh seperti dirinya adalah berbohong. “Harus jujur. Artinya apa yang ada di dalam hati harus sama dengan perkataan di mulut. Kalau hati kita baik, maka apa yang kita ucapkan juga baik dan bisa diterima orang lain dengan baik pula. Jangan jadi pembohong dan munafik,” ungkap Ojat.

Menurut Ojat, satu lagi yang menjadi prinsip pegangan orang Islam: berdoalah hanya kepada Allah SWT. Jangan berdoa meminta kepada yang selain Allah SWT. Seorang Islam harus melaksanakan rukun Islam yaitu bersyahadat. “Bagus dan boleh mengirim alfatihah kepada para wali atau leluhur kita dulu, namun jangan melupakan bahwa yang mengabulkan doa doa kita itu adalah Allah SWT dan atas ijin DIA semua ini bisa kun fayakun,” jelasnya.

Itulah beberapa aspek mental dan batiniah yang diperlukan agar seseorang dipercaya oleh Tuhan mampu mengemban amanah ilmu yang seperti Ojat miliki.

Ojat mengakui ilmunya ini memang jarang dimiliki orang. Dirinya juga tidak tahu dan tidak pernah meminta menjadi ahli bedah seperti sekarang. “Saya tidak pernah merencanakan menjadi juru bedah. Tapi karena sudah menjadi seperti ini ya saya jalani dengan senang hati” tuturnya.

Seorang yang punya ilmu, kata Ojat, juga bukan untuk bersenang-senang, melainkan justeru untuk memberikan manfaat dan menolong orang lain yang membutuhkan. Tuhan akan membalas kebaikan dengan kebaikan dan membalas kejahatan dengan kejahatan seperti yang diniatkan. Maka, ditempat praktik Ojat yang berpindah-pindah dari desa ke desa, dari propinsi ke propinsi yang lainnya dia tidak meminta mahar atau bayaran dari praktek yang dilakukannya. Padahal coba kita bayangkan, berapa juta uang yang harus dikeluarkan untuk sebuah operasi pembedahan? Bisa belasan bahkan mungkin puluhan atau ratusan juta rupiah untuk sekali operasi.

Namun, Ojat tidak melarang bila ada pasien maupun keluarganya yang memberi tanda ucapan terima kasih sekedarnya. “Saya tidak menolak bila ada yang ngasih saya uang entah itu seratus ribu, lima puluh ribu atau berapapun sesuai ikhlasnya dia. Rata-rata yang berobat ke saya orang miskin yang tidak mampu dan untuk itulah mungkin Allah SWT menugaskan saya untuk membantu mereka,” bisik Ojat yang setiap hari buka praktik mulai pukul 07.00 wib hingga pukul 15.00 wib ini.

Orang Berilmu Harus Rendah Hati
Di Banten, menurut Ojat, banyak orang menguasai Ilmu Debus. Tangan dipotong dan disambungkan ke tangan orang lain. Kaki dipotong dan disambungkan ke kaki orang lain dan atraksi-atraksi lain. Tubuh ditusuk dan diporong kemudian dikembalikan lagi seperti semula tanpa terluka sedikit pun. Orang bisa menjadi terkenal dan dikenal jadi seorang Pendekar alias Jawara.

Menurut Ojat, Ilmu Debus atau ilmu-ilmu yang bertujuan untuk dipertontonkan ke orang lain tergolong sangat mudah dan semua orang bisa melakukannya. Tingkat selanjutnya adalah ilmu-ilmu gaib misalnya santet, tenung, amalan-amalan pengasihan, kerejekian, terawangan dan lainnya.

Tingkat tersulit untuk menguasai sebuah ilmu gaib adalah ilmu pengobatan bedah. Ini gabungan antara ilmu gaib dengan ilmu pengetahuan medis. Menyambung urat-urat kalau salah pasti fatal. “Makanya saya katakan tersulit dan membutuhkan keahlian sangat khusus” papar Ojat.

Selain itu, menguasai pengobatan bedah membutuhkan laku tirakat yang tidak sembarang orang mampu untuk mencapainya. Kedisiplinan tinggi untuk tidak melanggar pantangan menjadi kunci bagaimana agar amalan ini bisa dimiliki. Selain tentu saja ada “wadah” atau “bakat” alam yang bisa berasal dari keturunan leluhur atau belajar dari guru yang memang menguasainya. “Orang berbakat pasti lebih bagus mengerjakan sesuatu daripada yang tidak punya bakat meskipun mungkin juga bisa” imbuh Ojat.

Ojat berpesan, semakin tinggi ilmunya orang maka harus semakin rendah hati. Orang tidak berilmu rata-rata sombong, egois dan asal bicara. Orang berilmu bicaranya hati-hati dan tidak menyakiti hati orang lain. Justeru kalau bicara bisa membuat hati tenang, menghibur orang susah dan mengajak kepada jalan kebaikan.

Pesan untuk Ojat: lanjutkan perjuanganmu memberi kemanfaatan pada orang yang membutuhkan. Semoga ridho Ilahi senantiasa tercurah padamu. Amin.

@wongalus,2010

Iklan