Kehidupan Berbangsa Yang Cerdas


“Menjadi cerdas artinya menghemat ribuan tindakan yang tidak perlu, menyedikitkan kesalahan; oleh karena itu mempercepat tercapainya keberhasilan.”

Keberhasilan yang sering disebut dengan istilah kesuksesan (penyerapan dari bahasa Inggris), merupakan tujuan setiap manusia. Padanan untuk istilah ini ialah kemantapan hidup yang terlihat dari terpenuhinya tujuan pribadi (baca: impian) dan dibarengi dengan kemapanan material. Orang yang sukses adalah mereka yang tidak lagi berurusan dengan: kesulitan mencari finansial, ketidakjelasan posisi dan peran di masyarakat, dan kebingungan mencari arah hidup. Dalam kesuksesan, selalu terdapat kisah-kisah perjuangan yang seringkali memilukan. Memang ada, satu dua manusia yang jalan menuju kesuksesannya seolah terbentang dengan sangat mulus. Tanpa perjuangan yang berdarah-darah. Namun, ini tentu tidak menarik. Kita lebih tertarik kepada, betapa kisah perjuangan menuju sukses diwarnai dengan luka demi luka; fisik maupun psikis.

Sebagai bangsa, Indonesia juga memiliki kisah yang monumental dalam pencapaian ke arah kesuksesan, bahkan kisah itu barangkali masih berjalan. Artinya, bangsa ini belum mencapai tujuannya. Dari kriteria standar kesuksesan, bangsa kita belum mantap secara finansial: masih banyak hutang, kemiskinan, pengangguran, dan sebagainya. Posisi dan perannya sebagai anggota masyarakat dunia juga agak kabur. Satu lagi yang teramat penting, yakni pertanyaan, mau kemana bangsa ini, itu belum terjawab.

Kehidupan Berbangsa Yang Cerdas

Dalam mencapai kesuksesan, kecerdasan adalah sesuatu yang teramat penting. Menjadi cerdas artinya menghemat ribuan tindakan yang tidak perlu, menyedikitkan kesalahan; oleh karena itu mempercepat tercapainya keberhasilan.

Kehidupan berbangsa yang cerdas adalah amanat konstitusi. Artinya sejak awal berdirinya, bangsa ini sudah meletakkan kecerdasan sebagai salah satu agenda yang penting dalam pencapaian kearah tujuan. Boleh jadi kehidupan yang cerdas adalah tujuan itu sendiri, akan tetapi, sesungguhnya hal itu bisa menjadi sarana ke arah tujuan yang lebih subtil: kesejahteraan.

Kesejahteraan sebagai bangsa ditandai dengan jati diri yang kokoh, kemakmuran material yang merata, dan kebahagian akan terpenuhinya makna dalam setiap gerak masyarakat.

Untuk mencapai kesejahteraan itulah, kecerdasan kehidupan berbangsa harus terus menerus diupayakan. Selanjutnya, apa yang menjadi parameter bangsa yang cerdas?

Kecerdasan ala Indonesia

Dalam susunan redaksional pembukaan UUD 1945, ada sebuah klausa, “… dengan berdasar kepada… “. Hal itu menunjukkan bahwa semua kalimat sebelumnya dibingkai dan berpijak pada kalimat sesudahnya (sebelum dan sesudah, “dengan berdasar kepada”). Sehingga, mencerdaskan kehidupan bangsa harus dibingkai dan berpijak kepada lima hal; yang kita sebut sebagai pancasila. Kriteria kecerdasan harus merujuk kepada lima sila yang menjadi pandangan hidup bangsa.

Adakah isyarat mengenai parameter kecerdasan dalam pancasila? Ada, yakni hikmat kebijaksanaan.

Hikmat Kebijaksanaan

Hikmat kebijaksanaan disebut sebagai pemimpin dalam kerakyatan, pengarah untuk memecahkan segala macam problem rakyat. Inilah kecerdasan yang dimaksud. Kriteria sekaligus parameter kehidupan berbangsa yang cerdas adalah terpenuhinya hikmat kebijaksanaan.

Hikmat kebijaksanaan adalah sebuah kemampuan sekaligus potensi dalam diri manusia untuk mengatasi beragam persoalan yang menghadang hidupnya dengan sempurna. Sempurna dalam arti ketepatan dalam segala sesuatunya. Hasil dari hikmat kebijaksanaan adalah solusi yang melebihi jenius. Terkadang aneh dan bersifat paralogis. Namun, ia seperti anak panah yang menancap tepat ke titik sasaran tanpa menyisakan secuil pun simpangan. Hikmat kebijaksanaan menancap tepat ke inti permasalahan, tanpa sedikitpun menyisakan ruang kegagalan apalagi menimbulkan masalah yang baru. Sehingga, mengupayakan kecerdasan, hanya berarti mengusahakan terwujudnya hikmat kebijaksanaan.

Pendidikan dalam Bingkai Hikmat Kebijaksanaan

Salah satu usaha yang cukup signifikan untuk mewujudkan hikmat kebijaksanaan adalah melalui pendidikan. Paradigma pendidikan harus diupayakan untuk membentuk pribadi-pribadi yang bijaksana yang dipenuhi kearifan. Pendidikan bukan dimaksudkan untuk melahirkan pribadi-pribadi yang pintar memanipulasi, materialistik, dan mengabaikan spiritualitas.

Dalam kurikulum pendidikan nasional, aspek yang amat dipentingkan ternyata kognisi (contoh paling nyata adalah UN). Berikutnya adalah aspek afeksi yang diterjemahkan menjadi moral normatif tanpa karakter. Kemudian, aspek psikomotor yang dimaknai sangat sempit hanya kepada kemampuan teknis yang sifatnya menjiplak tanpa kreatifitas. Tak ada kata-kata hikmat kebijaksanaan.

Siswa dibentuk untuk menjadi pribadi-pribadi normatif, dengan kedisiplinan khas kompeni. Sementara mereka dijejali dengan latihan-latihan memanipulasi lewat rumus-rumus matematika, ditanamkan menjadi manusia materialistik melalui fisika, kimia, dan biologi. Mereka juga diajarkan agama yang bersifat ritual tanpa sedikitpun menyentuh spiritualitas.

Dalam pembinaan ketrampilannya, siswa hanya dilatih untuk menjiplak teknik-teknik yang sudah ada dan pakem. Kreatifitas hanya sebatas apa yang ada di dalam bingkai teori-teori tertulis. Bahkan percobaan yang dilakukan berada dalam bentuk simulasi. Tidak satu pun dari pengajaran itu yang menyentuh realitas. Tidak ada satu pun yang mengajarkan kebersamaan dengan alam secara langsung. Hal itu berlaku dari TK sampai perguruan tinggi, bahkan sampai jenjang setelahnya. Pelajaran yang paling penting yakni membaca hanya dimaknai sebatas membaca huruf-huruf tertulis, tanpa sedikitpun mengajarkan bahwa alam, kehidupan, peristiwa, adalah lembar-lembar tulisan kebesaran Tuhan; yang juga penting untuk dibaca. Bahkan, mengukur dan menghitung hanya diajarkan sebatas bilangan satu-dua yang kuantitatif, tanpa sedikitpun melirik bahwa kehidupan dan terutama rasa jiwa memiliki ukuran dan hitungan yang tidak terbatas pada bilangan.

Persoalan bukan hanya sampai disitu. Siswa telah diajarkan tentang norma paling rendah sejak pertama kali masuk sekolah, yakni: ilmu harus dibayar dengan uang. Bahwa mereka harus membayar sekian puluh juta pada saat masuk, membayar hingga jutaan untuk membeli selembar kertas bernama ijazah. Kalau ditanyakan kepada mereka, tentang motivasi sekolah, mereka akan menjawab dengan enteng, bahwa mereka harus mendapatkan ijazah agar bisa melamar kerja, bekerja dengan gaji bulanan, hidup lebih baik yang diterjemahkan dengan kecukupan materi, singkatnya mereka telah belajar satu norma rendah yakni, uang adalah segalanya. Sangat pragmatis.

Ini semua harus dihentikan. Sebelum generasi muda kita terkubur dalam kubangan hidup yang hina dan rendah, kita sebagai orang tua harus secepatnya memegang erat tangan mereka. Paradigma pendidikan harus secepatnya kita rubah dalam bingkai hikmat kebijaksanaan. Melahirkan generasi yang tertanamkan dan memancarkan kearifan, itulah tujuannya.

Prinsip-prinsip Kearifan

Kearifan sebenarnya dekat dengan kehidupan bangsa Indonesia sejak masa Nusantara. Kearifan itu kini tersisa dalam tradisi-tradisi yang ada disetiap daerah. Dari mulai pola hidup, ritual kepercayaan, kuliner, sistem kekeluargaan dan gotong royong, pandangan dan falsafah yang terukir pada setiap bangunan, pakaian, dan asesoris, bahkan alat-alat rumah tangga, semuanya memancarkan kearifan. Jika dirumuskan, maka kita akan menemukan prinsip-prinsip kearifan seperti kesederhanaan, dialog yang intim dengan alam, spiritualitas, dan kebersamaan yang jauh dari keserakahan.

Sebenarnya masih banyak yang bisa kita gali dari kearifan yang tercermin dalam kepurbaan Nusantara. Tulisan ini ibarat pemantik, semoga bisa dikembangkan menjadi sebuah diskusi yang hangat, dan tentunya bisa sebagai permulaan sebuah gerakan kebudayaan. Yang jelas, prinsip-prinsip kearifan tersebut, jika diterjemahkan dalam sebuah konsep pendidikan, akan menjadi permulaan dalam mengubah iklim kedangkalan yang selama ini begitu menggurita. Pada akhirnya, mencerdaskan kehidupan bangsa–maknanya adalah membuat kearifan tumbuh subur di dalam dada setiap anak bangsa–yang merupakan sarana menuju kesejahteraan, hanya akan terlaksana jika kita tidak melupakan sejarah, asal-usul kita yang adiluhung.

Masa itu, masa kejayaan yang sungguh-sungguh dekat …

Muhammad Zainur Rakhman
hammadzn@gmail.com

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 51 Komentar

Navigasi tulisan

51 thoughts on “Kehidupan Berbangsa Yang Cerdas

  1. pertamax dah..

  2. Rihlah Rahmatullah

    Assalamu’alaykum salam silaturrahim n ukhuwah..

  3. Rihlah Rahmatullah

    Mantaps pnjelasannya Ki. Smg qt mnjd bangsa yg cerdas dan arif..

  4. dengan sumber wacana sejarah yang jelas dan lugas kemudian diolah dengan kemajuan era pikir serta masih dilandasi hati nur-ani yang luhur, dan jangan lupa niat ikhlas tanpa syarat,,,,,,,, kita rapatkan barisan, eling, Gusti ora sare…
    salam kenal,

  5. Mohd Genius

    no 7

  6. Kertapati

    nyimaaaaak…….

  7. Iday

    Nyimak juga…

  8. Palui

    Ten

  9. kironggohartono

    sbg seorang pendidik saya emg prihatin sekali. . .kami dan teman teman kami msh sangat kurang kesadaran dlm menerapkan pendidikan berkarakter yg sebatas program,teori. . .tp dgn segala keterbatasan kami selalu berusaha untk menumbuhkan,kesadaran spiritual ,karakter yg baik kpd anak didik km. . .mudah mudahan dgn kesadaran semua pihak dlm dunia pendidikan yg skrg ini,bs mengubah paradigma pendidikan yg lbh berkualitas. . Slm seduluran bwt bolo wong alus monggo dilanjut

  10. itulah budaya yang secara perlahan telah menjadi dogma….kewajiban,mau merubah budaya…..sementara kita menjalankan budaya…
    mengikuti pendapat orang banyak atau ikut pendapat orang yg sedikit…
    merubah takdir dengan apa ya….????????????????//

  11. pendidik yg prihatain bertindak tidak jelas….karena prihatin artinya tidak mampu!!! karena takut dipecat dan tidak dipakai lagi nanti anak bini gue makan apa???dan bisa sekolah tinggi kagak yaaa ??? hayo jangan bohong………hikhik

  12. loloy

    monggo…

  13. Sebagai informasi tambahan bahwa belakangan memang sangat minim peran daripada pengajar disekolah2..sebagai contoh seorang anak yg sekolah di TK/TPQ maka org tuanya lah yg harus mengajari membaca dll sebelum akhirnya dites gurunya pada waktu sekolah…padahal katanya guru dan dibayar mahal smakin mahal tiap tahunnya…apa boleh buat memang pada dasarnya pendidikan anak memang tanggung jawab org tua…tapi khan sdh di “pasrahkan” ke sekolah tempat ia belajar..seharusnya seorg anak disekolahkan dan sepulang sekolah anak tersebut dites orang tuanya utk menguji apakah guru disekolahnya benar2 memberi dia pendidikan…yg terjadi sekarang adalah kebalikannya ..anak 2 disuruh belajar sendiri dg org tuanya dan padawaktu masuk kelas di tes oleh gurunya ..dan guru tsb yg menentukan ..naik jilid ato tidak…khan aneh…jadi guru tinggal enteng aja istilahnya..si murid silakan belajar sendiri ..sekolah hanya formalitas belaka..

  14. Chikal Bakal

    ijin nyimaaaaaaaaak……………..

  15. Ki Ageng Jembar Bathu'e kinclong sekaleeeeeeeeeeee

    saya bangga menjadi bagian dari bangsa INDONESIA, karena bangsa kita ternyata adalah termasuk bangsa yang cerdas, bahkan super cerdas, buktinya adalah banyaknya sarjana-sarjana S1, S2, bahkan S3 bangsa kita yang tanpa susah payah belajar, ataupun melakukan penelitian apalagi menmbuat skripsi tahu-tahu dalam waktu yang relatif singkat mereka dah diwisuda jadi S1,S2,S3, di negara lain mana ada sarjana-sarjana yang cerdas seperti sarjana-sarjana bangsa kita, dan bangsa kita juga terkenal dalam hal mensiasati hal-hal yang supaya dibikin mudah, mudah membuat KTP,SIM,PASPOR, wessssss pokoknya urip nang Indonesia iku paling mudah bagi mereka-mereka yang cerdas,
    he..he..he….he…. bener nggak ya commentku?

  16. @ Ki Ageng Jembar Bathu’e kinclong sekaleeeeeeeeeee : itu kan masalah ketrampilan pakdhe….pokoke…josssssssssssssssssssssssssssss…. 😀

  17. Cerdas…dicecer ora tedas he…he….he

  18. Ki ageng ke gedhén

    semua tentu sepakat bahwa bangsa yang cerdas adalah bangsa yg tidak terlilit byk hutang..kemiskinan kian menjadi…korupsi cs merajarela serta bobroknya penegakan hukum dan lain sebagainya..huft !!

  19. Roy

    Masih hangat ditelinga kita (tapi entah telinga kalean) beberapa waktu yang lalu disaat seorang ketua DPR RI menjawab pertanyaan wartawan bahwa pembangunan gedung baru melukai hati rakyat…dengan pongahnya si ketua DPR menjawab “rakyat rakyat yg mana ? Rakyat itu tahunya hanya urusan perut…pokoknya kalo udah bisa makan ya uwis bin sudah….kalo ngurusi gedung baru pikirannya gak nyampe..” nah loe….wakil rakyat yg kalean pilih aja menganggap rakyatnya “tdk cerdas” tahunya isi perut doang …apa kalean pengunjung ini tidak malu ?! Atau apa mungkin kalean akan benar benar marah jika ada yg menganggap kalean tidak sakti blass…..getu

  20. Dany

    @roy..bener juga ente…sudah berulang kali para aparatur negara,pejabat serta penguasa melukai hati nurani kita..tapi mengapa masih adem2 saja yah….apa perlu di “mesir”kan ? sebagai contoh salah satu negara timur tengah yg kemaren sempat revolusi dan penguasanya telah dijungkalkan…itu bermula dari satu hal yg mungkin kita anggap sepele…tapi disana tidak ? Satu hal apa itu..? Bermula dari seorang pedagang lesehan yg digusur satpol pp (istilah kita)..sehingga pedagang tsb bunuh diri…tentu tewas lah…tapi aksi bunuh diri tsb yg memicu rasa solidaritas sesama sehingga menimbulkan pergerakan sampe terjadinya revolusi…dan mungkin berbuah manis bagi mereka…ini sangat kontras dg negara kita ..sudah jelas berulang kali para penguasa seenaknya…tapi kita masa bodoh deh….

  21. Arifyanto

    Sebaiknya kita berkaca pada relief borobudur kita ditingkat yang mana untuk mencapai….kesempurnaan, lihat para wakil rakyat ngurusin perutnya sendiri,tamak rakus,penipu,manipulasi, ini semua telah digambarkan di relief borobudur….mereka sudah tahu apa yang mereka lakukan itu salah tetapi karena makanan yang mereka makan barang haram uang rakyat lihat saja kehidupan mereka…panas akhirnya apa ?korupsi dan kolusi yang ada di benak mereka karena darah yang dilalui barang haram akan menuntun ke kejahatan

  22. Gatoloco

    satelit mata mata yg terakhir diluncurkan di ameriko dipersenjatai dg kamera super HD beresolusi 95 megapixel…dilengkapai setidaknya dg enam modus penglihatan..diantaranya modus malam…modus xray..modus tembus beton..dll menjadikan satelit tsb sangat fungsionable..dan tidak maen 2 …mungkin kalo sengaja digunakan mengacau nkri itu sangat mudah…sebagai contoh jika ingin fokus thd 1 org saja contohnya kepala negara…tidak sulit….tinggal direcord aja 24 jam sampe waktu tertentu…ingat presiden juga manusia yg mempunyai kebutuhan biologis…nah umpama pada saat penyampaian kebutuhan tsb ter record dan disebar ke dunia maya..apa ga hancur…tapi sebaliknya jika dipake utk hal yg positif spt mengawasi para pejabat yg terindikasi korup..mengejar teroris..dan pelaku kejahatan tentu sangat berguna…nah adakah dari sekian ratus juta penduduk indonesia yg cerdas utk membuatnya…dan tdk sakti semata ?

  23. Luckyman

    ironis dan menyedihkan skali terjadi di negara yg paling kaya raya sejagad ini.

  24. David

    Sebobrok itukah kondisi negeri kita tercinta ini ? mungkin kita terlena oleh kecerdasan palsu selama ini

  25. @ mas gatoloco Indonesia kgk kuatir ???? soalnya kan ada mas gatoloco yg scan nya bisa mengalahkan satelit juga ada ilmu pangalimunan dah pasti kagak kesenter ama tuh satelit dongo….huahuahauahu

  26. AREK ILANG..

    ijin nyimak..

  27. mohamad soleh

    assalamualaikum……yang salah itu tetep kita yang tua – tua….sebab anak – anak itu bukan hanya belajar tp juga melihat dan disamping itu orang – orang sekarang lebih cenderung banyak mempelajari ilmu – ilmu akademik daripada ilmu – ilmu rohani/agama……karena umumnya yang belajar ilmu rohani/agama hidupnya banyak yang miskin berbeda dgn yang belajar ilmu akademik……jadi sebenernya bagaimana…..kita semua salah terutama yang tua – tua ini…..bagaimana……..?

  28. @ muhamad soleh ente keblinger,lihat tuh ustad=ustad selebritis hidupnya berharta dan kagak miskin harta tetapi masih miskin,,,,,,,heheheheh
    yang salaj adalah para pemain HUKUM heheehee

  29. @ ki iembar bathuke kinclong apakah ente pernah hidup di selain Indonesia >>>>>????????

  30. jika enye melihat dan merasakab satu kemungkaran pada aparatur negara baik legislatif ,yudikatif,dan eksekutif, gunakan saja ilmu gelap ngampar tujukan pada mereka-mereka yg zolim,gampang to ????/t

  31. Ki Ageng Jembar Bathuke Kinclong sekaleeeeee

    DOSA & PAHALA : gini-gini ane pernah hidup mengembara di SINGAPORE 2 tahun, kemudian ke JEPANG 2 tahun, dan terakhir di TAIWAN 4 tahun….he..he..he.. dan sekarang dengan ilmu yang ane dapat, ane dapat pergi kemana saja dalam sekejap, dah nggak perlu ticket pesawat,pasport,dlll, pokoknya dah bisa menembus dimensi ruang dan waktu.
    hueeebat kan ….?

  32. mohamad soleh

    DOSA DAN PAHALA : he….he…ente bisa aja…
    Lanjuuuuuut………monggo….

  33. wwaaaaaaaaahhhhhhhhhhh mantabzzzzzzzz

  34. Palui

    Ki Ageng Jembar Bathuke Kinclong sekaleeeeee : Mirip filem TRANSPORTER aza
    wah mantap kalo semua orang indonesia JIKA MEMANG BENAR sperti koment diatas bisa bangkrut Maskapai penerbangan di Indonesia…pergi kemana mana ga pake tiket
    share dong photo photonya kepada kami udah pergi kemana aza? plus ilmunya sekalian

  35. Mikokimo

    ouw..

  36. Rihlah Rahmatullah

    Assalamu’alaykum tuk sedulur smua..absent pg..waahh mkin seruu buangeets silaturrahim d kwa ni..ngomong2 soal nyamuk..eh soal keadaan bangsa ni skrg, emg kdg lucu n mprihatinkn..di negeri ni hmpir dlm sgla bidang msih mggunakn warisan pnjajah n pola pikir jahiliyyah, pa lg d bidang hukum…’Membela yg Bayar’..d dunia pndidikn kn bgitu,,contahnya plaksanaan UN, trnyata membentuk ‘kebohongan kolektif’, dmn mrd ujian, guru pun ikut ‘ujian’…jg di negeri ni krg menghargai ilmuwan n orang2 ‘cerdas’, bangsa ni lbih mnghargai ‘selebritis n pr pnghibur lainnya ktimbang ilmuwan…hmm jd binging dwehh..

  37. Kijembar bathuke kinclong….ape ene ini si *AGUNG*….kalo ketempat ane dong…kite ngobrol biar cuma dua menit…heheheheh

  38. sangmaut

    Absen sore menjelang malam…..
    Assalammualaikum all…

  39. abah hikam

    ilmu gak ada habisnya

  40. arifin

    ijin menyimak artikelnya.salam persahabatan 100% bersaudara.

  41. @ ABAH HIKAM…….AH MASA……..TETEP AJA DIA BISA HABIS….CUMA LAUT DAN PEPOHONAN TOH PASTI BISA HABIS????????HEHEHEHEH ABAH-ABAH….LUCU JUGA KAMU YA….HIKHIKHIKH
    MAU BUKTI YAITU ADANYA IJAZAH ATAU TAMAT DEH…..

  42. kironggohartono

    salam persaudaraan. . .bwt semua sesepuh n bolo wong alus. . . .bukti era 70an sistem pendidikan yg trtutup n otoriter. . .kongres pssi kisruh krn tdk ada nya slg menghargai perbedaan,golek bnr e dwe,golek menang e dwe,golek btuh e dwe. . .mudah mudah an anak didik qt skrg bs memahami dan menghindari 3 sifat di atas. . . Semangat para guru di indonesia,jgn mengejar kesejahteraan tnp mempedulikan tgs pokok qt yaitu mendidik manusia berbudi luhur tahu benar tahu salah dan berpengetahuan yg luas dan kostruktif. . Monggo dilanjut

  43. kalo mau cari benarnta orang lain oasti jadi pemaun hukum dulu dong >>><<<

  44. kentir(yudhis)

    hmmm
    sangat good skale.it…………………………..
    i like

  45. gus santri

    heheheheehe…
    menyimak dan absen.
    Salim…

  46. huuuuuuuoooooooooiiiiiiiiiiiiiiiiiiapa udah kgk adalagi ya yang cerdas di……..pendidk formal Indo……………heheeheheheehh???????????????????????

  47. mana nih orang-orang cerdas??????????????

  48. TERNYATA HABIS ORANG CERDAS………….HEHEHEHEHEH……………………////?
    ??????????????????

  49. fatimah lasut

    “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfa’at bagi orang-orang yang beriman.”
    (Al Qur’an 051:55)

    “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati.”
    (Al Qur’an 002:159)

    “F A K T A”

    SIAPAPUN PRESIDEN DAN WAKILNYA – PANCASILA IDEOLOGINYA
    APAPUN AGAMA PRESIDEN DAN WAKILYNA – KUHP HUKUM-HUKUMNYA

    ISLAM DAN BERIMANKAH KITA DI HADAPAN ALLAH SWT?

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang seiman.

    Siapakah yang dinyatakan oleh Allah Swt orang-orang yang beriman, yang mereka itu diseru untuk mematuhi Allah dan rasul-Nya secara kaffah?

    – Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya; kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar beriman. (Q. Al Hujurat 15)

    Dan siapakah pula yang dinyatakan oleh Allah Swt orang-orang yang kafir?

    – Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. (Q. Al Baqarah 6)
    – Hai orang-orang yang beriman, ber-Dinnul Islam-lah kamu secara kaffah (secara keseluruhan), dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. Tetapi jika kamu menyimpang (dari Dinnul Islam) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q. Al Baqarah 208-209)

    – Pada hari ini, telah Aku sempurnakan Agamamu (Pedoman Hidup dan Kehidupanmu) untukmu. Telah Aku cukupkan nikmat-nikmat-Ku untukmu. Dan telah Aku ridhai (Aku setujui dan Aku restui) Islam sebagai Pedoman Hidup dan Kehidupanmu. (Q. Al Maidah 3)

    – Siapa saja yang mencari (apalagi yang memakai) pedoman hidup dan kehidupan selain Dinnul Islam, maka tidaklah akan diterima (tidak dinilai ibadah) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi. (Q. Ali Imran 85)

    Bagi seluruh umat manusia, tidak terkecuali bangsa Indonesia yang telah bersyahadat menyatakan diri mereka Islam dan beriman, tentu mengimani Kebenaran Ketetapan Allah Swt yang tersebut di atas. Jika tidak, tentu mereka bukan orang-orang yang beriman.

    Intinya adalah, tidak ada agama atau pedoman hidup dan kehidupan yang lain bagi mereka, selain Dinnul Islam dan Nabi Muhammad Rasulullah Saw adalah panutan, contoh dan tauladan bagi mereka di dalam menata dan mengatur semua aspek hidup dan kehidupan mereka, baik di kala mereka hidup sendiri-sendiri berpribadi, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa maupun bernegara.

    Berdinnul Islam secara kaffah dengan mematuhi segala perintah adalah Perintah Allah Swt yang wajib dipatuhi oleh seluruh umat Islam yang beriman, sebagaimana realisasinya yang benar telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Rasulullah Saw pada masanya.

    Rasulullah Saw berpribadi, Rasulullah Saw berkeluarga, Rasulullah Saw bermasyarakat, Rasulullah Saw berbangsa, dan Rasulullah Saw bernegara. Bahkan, Beliau adalah kepala negaranya. Semua aspek hidup dan kehidupan Beliau berserta umat Islam yang beriman, begitu juga yang belum beriman yang berada di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah pada saat itu, ditata dan diatur berazastunggalkan Dinnul Islam seutuhnya atau yang lazim disebut dengan “secara kaffah”.

    Nabi Muhammad Rasulullah Saw tidak pernah mengajak bangsa Arab, baik yang kafir maupun yang beriman, dengan seruan Beliau yang seperti ini, misalnya: “Wahai saudara-saudara sebangsa dan setanah air. Demi persatuan dan kesatuan bangsa Arab, marilah sama-sama kita rekayasa suatu ideologi yang baru, selain Dinnul Islam, kemudian kita lengkapi ideologi tersebut dengan hukum-hukum dan undang-undang serta peraturan-peraturan yang kita butuhkan. Kemudian, kita jadikan dan kita pergunakan ideologi kita tersebut berserta hukum-hukumnya sebagai satu-satunya azas pedoman hidup dan kehidupan kita berbangsa dan bernegara, baik bagi yang beriman maupun yang kafir, agar kita semua dapat selamat dan sejahtera di dunia dan akhirat”.

    Pernahkah Rasulullah Saw mencontohkan ber-Dinnul Islam seperti misal ajakan Beliau yang tersebut di atas?

    Bukankah misal ajakan Rasulullah Saw itu seperti kita beragama, berbangsa dan bernegara di Indonesia?

    Kalaulah kita, seluruh bangsa Indonesia yang telah bersyahadat menyatakan diri kita islam dan beriman, dan kita beriman sesuai dengan Ketetapan Allah Swt dan sesuai pula dengan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw, tentu kita tidak akan pernah berideologi yang lain, selain Dinnul Islam, Pancasila misalnya, di dalam kita menata dan mengatur semua aspek hidup dan kehidupan kita, baik di kala kita beragama, berbangsa maupun bernegara. Seluruh aktifitas hidup dan kehidupan kita, bahkan mati kita pun hingga cara penguburan mayat kita haruslah berazas-tunggalkan Al Qur’an dan Sunnah Rasul. Itulah Ketetapan Allah Swt bagi seluruh manusia yang mau digolongkan sebagai orang-orang yang beriman, yang imbalannya, adalah Jannah. Beriman dulu yang benar sesuai dengan Ajaran-Nya, barulah kemudian beramal saleh, yang harus juga sesuai dengan Bimbingan Allah Swt dan contoh serta tauladan yang telah diberikan oleh Rasulullah Saw. Maka barulah hidup dan kehidupan kita bernilai ibadah di sisi-Nya. Sebagaimana KetetapanNya atas penciptaan diri manusia.

    – Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada-Ku.
    (Q. Az-Zaariyaat 56)

    Apakah Hukum-Hukum Allah atau Syariat Islam memang tidak berlaku atas umat Islam Indonesia?

    Ataukah kita, Umat Islam Indonesia yang jumlahnya mayoritas di Indonesia ini, telah mendapatkan dispensasi atau keringanan dari Allah Swt untuk tidak berhukum dan berhakim kepada Hukum-Hukum Allah atau Syariat Islam tetapi kita masih dianggap beriman oleh Allah Swt di hadapan-Nya?

    Ataukah kita, umat islam Indonesia, yang tidak mau ber-Syariat Islam karena kita merasa berat mematuhinya, walaupun itu untuk kebaikan kita? Dan kalaupun kita mau ber-Syariat Islam, bagaimana mungkin kita dapat melaksanakannya karena kita masih tetap ber-Pancasila? Bukankah Pancasila juga mempunyai hukum-hukumnya sendiri yang harus dipatuhi oleh kita-kita yang ber-Pancasila? Sementara Allah Swt, yang kita imani dengan Dinnul Islam-Nya, juga mewajibkan kita, Umat Islam Indonesia, berhukum dan berhakim kepada Hukum-Hukum-Nya atau Syariat Islam. Bahkan, Dia mengkafirkan siapa saja manusianya yang tidak mau, dan juga yang menolak atau tidak setuju atas pelaksanaan Syariat Islam.

    Bagaimanakah kita berpedoman di dalam menata dan mengatur semua aspek hidup dan kehidupan kita sebagai orang-orang yang telah bersyahadat menyatakan diri kita Islam dan beriman di dalam berbangsa dan bernegara?

    Siapa yang harus kita patuhi? Tuhan kita, Allah Swt, dengan Syariat Islam-Nya, ataukah Pancasila kita Nan Sakti dengan hukum-hukum thaghutnya?

    Bukankah ini artinya kita berdualisme dalam berpedoman, alias beragama “suka-suka”? Kita beragama sesuai dengan selera kita. Mana yang cocok dengan selera kita, kita patuhi. Dan mana yang tidak sesuai dengan keinginan hawa nafsu kita, kita ingkari. Kita beriman akan sebagian isi Al Qur’an dan kufur akan sebagian yang lainnya. Seperti inikah Rasulullah Saw mengajarkan dan mencontohkan kepada kita ber-Dinnul Islam? Koq kita tidak bermalu mengklaim diri kita sebagai umat Beliau?

    Hukum-Hukum Allah atau Syariat Islam tidak berlaku di Negara Republik Indonesia, karena NKRI bukanlah Negara Islam. Padahal, kabarnya, mayoritas penduduknya beragama Islam (?). Apakah ada Allah Swt memerintahkan dan meridhoi kita, seluruh Umat Islam Indonesia, untuk mendirikan suatu negara yang berideologikan ideolgi manusia dan berhukum serta berhakim kepada hukum-hukum buatan manusia alias hukum-hukum thaghut?
    Sewaktu berjuang merebut kemerdekaan kita berteriak, “Allahu Akbar!” Tetapi, setelah merdeka, di mana kita letakan Ideologi dan Hukum-Hukum Allah? Koq malahan ideologi manusia dan hukum-hukum thaghutnya yang kita jadikan pedoman hidup dan kehidupan kita berbangsa dan bernegara? Dengan cara seperti inikah kita bersyukur kepada Allah Swt?

    Wahai saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang seiman.

    Ini adalah FAKTA cara kita beragama. Kita ber-Dinnul Islam dengan cara kita, berdualisme dalam berpedoman, bukan dengan cara Rasulullah Saw yang hanya ber-Dinnul Islam secara kaffah. Beliau tidak berideologikan yang lain, selain Dinnul Islam, dan begitu juga para sahabat serta umat Islam yang beriman lainnya pada saat itu.

    Dan yang sangat naïfnya bagi kita adalah, kita selalu berdo’a memohon dan mengharapkan syafa’at beliau di kemudian hari. Tetapi ironinya adalah, disuruh beriman sebagaimana Rasulullah Saw beriman sajapun kita tidak mau. Koq, bisa-bisanya kita mengharapkan syafa’at beliau dan menginginkan Surga Allah?

    Oh, alangkah rancunya kita ber-Dinnul Islam karena kita berdualisme dalam berpedoman. Kita buat tandingan bagi Ideologi Allah Swt, yaitu Ideologi Panca Sila. Dan kita anugerahkan Pancasila kita itu dengan ungkapan yang hebat, yaitu “Nan Sakti” atau Yang Sakti, walaupun kita tahu Pancasila kita Nan Sakti itu tidak bisa menciptakan apa-apa, walau sehelai rambutpun, karena memang Pancasila itu bukan apa-apa, kecuali ideologi manusia yang membawa pengikutnya ke jurang neraka.

    Tidakkah cukup Allah (Al Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya) menjadi pedoman hidup dan kehidupan bagi orang-orang yang beriman?

    Ini adalah suatu perbuatan syirik yang tidak akan pernah diampuni oleh Allah Swt, baik di dunia maupun di akhirat, kecuali kita bertaubat nasuha dengan meninggalkan Pancasila untuk selama-lamanya, dan kembali ke Dinnul Islam secara kaffah.

    Apakah orang-orang yang beriman seperti kita-kita ini yang dimaksud oleh Allah Swt sebagai pewaris surga? Surga itu milik siapa? Milik Allah Swt, atau milik Pancasila kita Nan Sakti? Atau memang ada Pancasila kita Nan Sakti memiliki Surga sehingga kita mau berhukum dan berhakim kepadanya? Ataukah kita yang memang tidak mempergunakan akal sehat kita? Tetapi yang jelas, kita mendahului hawa nafsu kita yang tidak terbimbing oleh Bimbingan Allah, yaitu Al Qur’an dan Sunnah Rasul, sehingga kita tidak saja beragama suka-suka, tetapi ternyata, kita juga berbangsa dan bernegara sesuka-suka kita. Ini adalah FAKTA yang ada di depan mata kita. Maukah kita kafir selamanya sampai ajal tiba menjemput kita?

    – Menetapkan Hukum itu hanyalah Hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi Keputusan yang paling baik. (Q. Al An’am 57)

    – Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Namun (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (Q. Al Ma’idah 50)

    – Siapa saja yang kafir sesudah beriman (karena tidak mau berhukum kepada Hukum-Hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi. (Q. Al Ma’idah 5)

    – Siapa saja yang memutuskan (suatu perkara) tidak menurut apa yang diturunkan Allah, berarti mereka adalah orang-orang kafir. (Q. Al Ma’idah 44)

    Saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang seiman.

    Orang-orang kafir atau masyarakat kafir, bangsa-bangsa kafir, negara-negara kafir, pemerintahan-pemerintahan kafir dan pemimpin-pemimpin kafir di seluruh penjuru bumi Allah ini tentu mereka semuanya tidak berhukum dan berhakim kepada Hukum-Hukum Allah atau Syariat Islam karena mereka memang kafir atau tidak beriman kepada Dinnul Islam. Mereka berhukum dan berhakim kepada hukum-hukum thaghut, yaitu hukum-hukum yang dibuat oleh mereka sendiri, sesuai dengan apa yang mereka kehendaki, yang mereka anggap benar dan adil. Mereka tidak diperintahkan oleh Allah Swt untuk menata dan mengatur semua aspek hidup dan kehidupan mereka dengan berhukum dan berhakim kepada Hukum-Hukum Allah atau Syariat Islam karena mereka memang tidak beriman kepada Dinnul Islam. Dan bagi mereka, Allah Swt telah menetapkan Ketetapan-Nya, yaitu Jahannam tempat kembali mereka. Itulah seburuk-buruknya tempat kembali.
    Hanya orang-orang yang beriman atau masyarakat yang beriman, bangsa-bangsa yang beriman, negara-negara yang beriman dan para pemimpin yang beriman yang tidak berideologikan yang lain, selain Dinnul Islam, yang mau dengan ikhlas karena iman, menata dan mengatur semua aspek hidup dan kehidupan mereka dengan berhukum dan berhakim kepada Hukum-Hukum Allah atau Syariat Islam sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw.

    Dan ber-Dinnul Islam secara kaffah dengan mematuhi segala Perintah, termasuk berhukum dan berhakim kepada Hukum-Hukum Allah atau Syariat Islam hanya dapat dilaksanakan di suatu Negara atau Pemerintahan yang berazas-tunggalkan Al Qur’an dan Sunnah Rasul, yaitu yang lazim disebut dengan Daulah Khilafah Islamiyah. Dan Daulah Khilafah Islamiyah tersebut tidaklah mungkin terbentuk dengan sendirinya atau orang-orang kafir yang mendirikannya kemudian dipersembahkan kepada Umat Islam Indonesia untuk mengelolanya. Ini adalah suatu hal yang mustahil. Tetapi sayang, sedikit sekali di antara kita yang memikirkannya. Padahal, Allah Swt telah mengisyaratkan dan Rasulullah telah mencontohkan kepada orang-orang yang beriman untuk memiliki suatu wadah pemerintahan yang berazas-tunggalkan Al Qur’an dan Sunnah Rasul.

    – Wahai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(Nya), dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Q. An Nisa’ 59)

    Bahkan di dalam tatanan Pemerintahan Islam sekalipun di mana ada orang-orang kafir atau non muslim yang di lindungi oleh Pemerintah atau Negara Islam, Allah Swt telah memperingatkan kita untuk berhati-hati di dalam memilih para pemimpin, jangan sampai Pemerintahan Islam tercemar dengan unsur-unsur kafirun dan munafikun.

    – Hai orang-orang yang beriman, jangan kamu jadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpinmu, sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Siapa saja di antara kamu memilih mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim. (Q. Al Ma-idah 51)

    – Janganlah orang-orang beriman menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin, melainkan orang-orang beriman. Siapa saja yang berbuat demikian, niscaya dia tidak akan memperoleh apa pun dari Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembalimu. (Q Ali Imran 28)

    – Wahai orang-orang yang beriman!
    Janganlah kamu jadikan bapak-bapakmu dan saudara-saudaramu menjadi pemimpin-pemimpinmu, jika mereka memilih kekafiran daripada keimanan. Siapa saja di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (Q. At-Taubah 23)

    Akankah kita beriman di kala kita berbangsa dan bernegara sesuai dengan Petunjuk dan Ketetapan Allah Swt seperti apa yang disampaikan di atas agar kita tidak tergolong orang-orang yang merugi di kemudian hari, ataukah kita harus selamanya beragama seperti nenek moyang kita beragama walaupun mereka tidak berada di atas Kebenaran Illahi?

    Oleh sebab itu, marilah kita semua, Bangsa Indonesia yang telah bersyahadat menyatakan diri kita Islam dan beriman, bertaubat nasuha dengan meninggalkan semua ideologi yang bukan Ideologi Allah, Pancasila misalnya, dan kembali ke jalan yang benar, yaitu Ideologi Allah – Dinnul Islam – Al Qur’an dan Sunnah Rasul agar kita semua dapat selamat di dunia dan akhirat.

    – Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menta’ati orang-orang yang kafir, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (menjadikan kamu kembali kafir), lalu jadilah kamu orang-orang yang merugi. (Q. Ali Imaran 149)

    – Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir. (Q. Ali Imran 32)

    – Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al Qur’an, benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali. (Q. Al Qasas 85)

    Wahai saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang seiman.

    Sebagai Bangsa Indonesia yang telah bersyahadat menyatakan diri kita Islam dan beriman, maka haruslah kita sadari dan kita insyafi bahwasanya:

    1. Pancasila bukanlah Agama Islam. Bahkan, bukan pula agama Bangsa Indonesia. Dan Agama Islam tentu bukan pula Pancasila karena Pancasila memang bukan Agama. Maka benarlah pernyataan para pancasilaist, “Pancasila bukan agama!”.

    2. Pancasila adalah ideologi manusia, sedangkan Dinnul Islam adalah Ideologi Tuhan Yang Maha Esa, yaitu Allah Swt, Tuhannya orang Islam yang benar-benar beriman, yang beriman sesuai dengan Petunjuk dan Ketetapan-Nya.

    3. Ber-Pancasila bukanlah berarti ber-Dinnul Islam ataupun beragama yang lain karena tidak ada satupun agama yang dianut oleh bangsa Indonesia yang berakidahkan Pancasila. Berdinnul islam bukanlah berarti berpancasila karena memang tidak ada sangkut pautnya diantara Dinnul Islam dengan Pancasila. Sungguh sangat nyata perbedaannya. Bagaikan siang dengan malam. Yang satu adalah Ideologi Allah Swt, Yang Haq, dan yang lain adalah ideologi manusia atau Yang Bathil. Al Qur’an adalah pembeda diantara yang Haq dan yang Bathil.

    4. Berpancasila berarti harus berhukum dan berhakim kepada hukum-hukum Pancasila, yaitu hukum-hukum yang dibuat oleh manusia. Diberlakukan atas seluruh bangsa Indonesia. Suka atau tidak suka, wajib dipatuhi oleh seluruh warganegara Republik Indonesia yang berazastunggalkan Pancasila. Kalau tidak dipatuhi, tentu ada sanksi atau hukumannya, baik pidana maupun perdata.

    5. Beragama Islam berarti harus pula berhukum dan berhakim kepada hukum-hukum Islam atau Syariat Islam, yaitu Hukum-Hukum yang Diciptakan dan Diwajibkan oleh Allah Swt atas seluruh umat manusia yang telah bersyahadat menyatakan diri mereka Islam dan beriman agar dapat diakui oleh Allah Swt, sesuai dengan Ketetapan-Nya, sebagai orang Islam yang benar-benar beriman. Dengan kata lain, bagi manusia yang telah bersyahadat menyatakan dirinya Islam dan beriman, dengan suka rela ataupun terpaksa, mereka harus berhukum dan berhakim kepada Hukum-Hukum Allah, karena kalau tidak, berarti mereka bukanlah orang-orang yang beriman. Dan fakta membuktikan, memang orang-orang yang tidak beriman alias orang-orng kafir yang tidak berhukum dan berhakim kepada Hukum-Hukum Allah atau Syariat Islam di dalam mereka menata dan mengatur semua aspek hidup dan kehidupan mereka di dunia ini.

    6. Allah Swt mengkafirkan siapa saja manusianya yang tidak mau beriman kepada Dinnul Islam, dan yang memutuskan suatu perkara tidak menurut apa yang telah diturunkan-Nya. Dia juga menjadikan kembali kafir di hadapan-Nya, siapa saja manusianya yang telah bersyahadat menyatakan dirinya Islam dan beriman, tetapi tidak mau menerima atau menolak Hukum-Hukum Allah atau Syariat Islam diberlakukan atas dirinya, atas keluarganya, atas masyarakatnya, atas bangsanya dan atas negaranya. Maka hapuslah amalannya, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi.

    7. Sesungguhnya Allah Swt telah memberi kebebasan kepada manusia untuk menentukan pilihannya, di antara keimanan dan kekafiran, agar tidak ada penyesalan di kemudian hari seperti apa yang telah menjadi Ketetapan-Nya berikut ini.

    – Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka siapa saja yang ingin (beriman) silahkan ia beriman dan siapa saja yang ingin (kafir) silahkan ia kafir. (Q. Al Kahf 29)

    8. Dan apabila kita mengikuti dan mematuhi dengan senang hati alias ridho kepada para pemimpin dan pembesar negeri yang kafir, yang memimpin tidak berazastunggalkan Al Qur’an dan Sunnah Rasul, maka kita akan menerima balasan seperti apa yang telah menjadi Ketetapan Allah Swt berikut ini.

    – Tidakkah kamu perhatikan orang-orang (para pemimpin) yang telah menukar nikmat Allah (Bimbingan Allah) dengan kekafiran (yang bukan Bimbingan Allah) dan menjatuhkan pengikutnya (rakyatnya) ke lembah kebinasaan? Yaitu neraka Jahanam; mereka masuk ke dalamnya; dan itulah seburuk-buruknya tempat kediaman.
    (Q. Ibrahim 28 – 29)

    – Orang-orang (para pemimpin) kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah (tandingan bagi Ideologi Allah) supaya mereka menyesatkan (rakyatnya) dari Ideologi-Nya. Katakanlah: “Bersenang-senanglah kamu karena sesungguhnya tempat kembalimu adalah neraka.” (Q. Ibrahim 30)
    – Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Tetapi mereka masih mau berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) kesesatan yang sejauh-jauhnya. ( Q. An Nisa’ 60)

    – Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah (patuh) kepada apa yang telah diturunkan Allah dan (patuh) kepada Rasul,” niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati)mu.
    (Q. An Nisa’ 61)

    – Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (Q. An Nisa’ 65)

    – Apakah kamu beriman (mendengar dan mematuhi) kepada sebahagian Al Kitab (Bimbingan Allah) dan kafir (mendengar dan mengangkangi) terhadap sebahagian yang lain? Maka tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian di antara kamu selain kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari Kiamat mereka dikembalikan kepada azab yang paling berat. (Q. Al Baqarah 85)

    – Sesungguhnya orang-orang yang ingkar kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membeda-bedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan, “Kami beriman kepada sebagian dan kami mengingkari sebagian (yang lain),” serta bermaksud mengambil jalan tengah (iman atau kafir), mereka itulah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya (dedongkot kafir). Kami telah menjadikan untuk orang-orang kafir seperti itu siksaan yang menghinakan. (Q. An Nisa’ 150-151)

    – Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. Maka orang-orang yang dzalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam. (Q. Al An’am 44 – 45)

    – Siapa saja yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.
    (Q. An Nahl 106-107)

    – Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari Kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukanlah orang-orang yang beriman.
    (Q. Al Baqarah 8)

    – Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada yang mendirikan masjid untuk menimbulkan bencana (pada orang-orang yang beriman), untuk kekafiran dan untuk memecah belah (persatuan dan kesatuan) di antara orang-orang yang beriman, serta untuk menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka dengan pasti bersumpah, “Kami hanya menghendaki kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa mereka itu pendusta (dalam sumpahnya).
    (Q. At Taubah 107)

    – Jangalah engkau melaksanakan sholat dalam masjid itu selama-lamanya. Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama adalah lebih pantas engkau melaksanakan sholat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang yang bersih (akidahnya).
    (Q. At Taubah 108)

    – Demi masa.
    Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasehati untuk menta’ati kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran. (Q. Al ‘Asr 1-3)

    – Dan ta’atilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.
    (Q. Ali Imran 132)
    Wahai saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang seiman.

    Jadi sudah jelaslah bagi kita, seluruh Umat Islam Indonesia, bahwasanya kalau ada di antara kita, siapa pun dia adanya dan apa pun status sosial dan profesinya, yang telah bersyahadat menyatakan dirinya Islam dan beriman, tetapi pada kenyataannya, dengan suka rela dan senang hati mengambil dan menjadikan Ideologi Pancasila berserta undang-undang dan hukum-hukumnya sebagai pedoman hidup dan kehidupannya, baik untuk dia berpribadi, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa maupun bernegara, maka dia sesungguhnya bukanlah tergolong orang-orang yang beriman di hadapan Allah Swt.

    – Katakanlah: “Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling merugi perbuatannya?”. Yaitu orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu adalah orang yang mengingkari ayat-ayat Tuhan mereka dan (tidak percaya) terhadap pertemuan dengan-Nya. Maka sia-sia amal mereka, dan Kami tidak memberikan penimbangan terhadap (amal) mereka pada hari Kiamat.

    – Berkatalah orang yang beriman,
    “Wahai kaumku!
    Ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar.

    Wahai kaumku!
    Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.

    Siapa saja mengerjakan perbuatan jahat, maka dia akan dibalas sebanding dengan kejahatan itu. Dan siapa saja mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan sedangkan dia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezeki di dalamnya tidak terhingga.

    Dan wahai kaumku!
    Bagaimanakah ini, aku menyerumu kepada keselamatan, tetapi kamu menyeruku ke neraka?

    (Mengapa) kamu menyeruku agar kafir kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu yang aku tidak mempunyai ilmu tentang itu, padahal aku menyerumu (beriman) kepada Yang Maha Perkasa, Maha Pengampun?

    Sudah pasti bahwa apa yang kamu serukan aku kepadanya bukanlah suatu seruan yang berguna baik di dunia maupun di akhirat. Dan sesungguhnya tempat kembali kita pasti kepada Allah, dan sesungguhnya orang-orang yang melampui batas, mereka itu akan menjadi penghuni neraka..

    Maka kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepadamu. Dan aku menyerahakn urusanku kepada Allah. Sungguh Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya”. (Q. Al-Mu’min 38 – 44)

    – Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu Ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan siapa saja mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata.
    (Q. Al-Ahzab 36)

    – Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.

    Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).

    Dan ikutilah sebaik-baiknya apa yang telah diturunkan kepadamu (Al Qur’an) dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu secara tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya”. (Q. Az-Zumar 53 – 55)

    Wahai saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang seiman.

    – Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami jelaskan kepada manusia dalam Kitab (Al Qur’an), mereka itu dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh mereka yang melaknat, kecuali mereka yang telah bertaubat, mengadakan perbaikan dan menjelaskan(nya), mereka itulah yang Aku terima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima Taubat, Maha Penyayang. (Q. Al Baqarah 159-160)

    – Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling dari padanya?
    (Q. As-Sajdah 22)
    PEMILU 2014 telah di depan mata
    Saat yang tepat untuk kita bertaubat nasuha
    Kalau kita memang masih beriman kepada-Nya
    Tentu kita tidak akan dapat menyertainya, karena Allah Swt melarangnya.

    Para pemimpin yang dipilih
    Dan semua rakyat yang memilih
    Semua mereka wajib berhukum dan berhakim kepada hukum-hukum Pancasila
    Itulah yang membuat kita menjadi kembali kafir di hadapan-Nya

    Membersihkan qalbu setiap hari
    Setelah bersih, dengan apa diisi?
    Apakah diisi dengan Pancasila Nan Sakti
    Ataukah diisi dengan Wahyu Illahi?

    Inilah fakta hidup dan kehidupan kita
    Bangsa Indonesia yang telah menyatakan diri kita Islam dan beriman
    Ternyata di hadapan Allah kita belum beriman
    Karena kita masih mau berideologi yang lain selain Dinnul Islam, yang membuat kita tidak berhukum dan berhakim kepada Syariat Islam

    Ini hanyalah sebuah peringatan
    Yang disari dari kitab suci Al Qur’an.

    Mau beriman, silahkan beriman
    Mau kafir, silahkan kafir
    Sudah jelas mana yang haq dan mana yang bathil
    Orang lain tidak menanggung dosa orang lain

    Maha Suci Allah Yang Mengkafirkan manusia yang tidak mau berhukum dan berhakim kepada hukum-hukum-Nya. Dan hukum-hukum-Nya hanya dapat dilaksanakan di Pemerintahan Islam, suatu pemerintahan yang berazastunggalkan Al Qur’an dan Sunnah Rasul. Dan Pemerintahan Islam tidak akan pernah ada sampai hari kiamat kalau umat islamnya tidak pernah mau mengadakannya.

    Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain Dia. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari padanya). (Q. Al A’raf 3)
    Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang mu’min laki-laki dan perempuan, kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar. (Q. Al Buruj 10)

    Dan siapa saja yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal dia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya. (Q. An Nisa’ 93)

    Sesungguhnya orang-orang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan. (Q. An Nisa’ 150-151)

    Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q. Al Baqarah 208-209)

    Apakah kamu beriman (mendengar dan mematuhi) kepada sebagian Al Kitab (Bimbingan Allah) dan kafir (mendengar dan mengangkangi) terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari Kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. (Q. Al Baqarah 85)

  50. panjang tetapi belum faham apa itu islam ???
    Islam adalah penjelasan-penjelasan aturan pengabdian bagi jin dan manusia untuk mencontoh Rosul yang di pilihNYa dan dipilih oleh jin manusia itu sendiri dimana aturan-aturan itu termuat dalam kitab-kitab yg ada didunia ini.
    Baik kitab yg dibuat langsung oleh Tuhan maupun kitab yg dibuat oleh manusia dan jin yg ingin menyesatkan sesamanya.
    Syahadat adalah pengakuan manusia dan jin untuk mengimani Tuhan dan Nabi/rosul yg di Imani olehnya,dari nabi Adam AS hingga MUhamad SAW.
    silahkan kalian memilihnya untuk di Imani atau di Ingkari,semua ada pertanggungjawabannya.
    Untuk mereka yang mengaku secara lahir dan bathin bahwa Muhamad sebagai nabi Rosulnya maka wajib baginya untuk mematuhi segala apa yang termuat dalam Kitab Alqur’an dan Hadis yg Shohih.
    jika dia mengaku tetapi tidak melaksanakannya maka dia dapat digolongkan sebagai kafir.
    Jika pengakuan sebagai umat Muhamad SAW, tetapi masih melakukan hal-hal yg dilarang secara nyata dalam Kitab Alqur’an,sesungguhnya mereka itulah yg murtad/kafir,tetapi jika mereka masih ingin diakui sebagai umat Muhamad SAW maka pemimpin mereka/Imamnya mereka wajib melaksanakan hukuman secara yg telah dicontohkan oleh nabi.
    tetapi mana mereka ustad-ustad yg telah memiliki umat banyak apakah mereka tahu tentang perilaku umatnya diluar saat pengajian ????
    dan mampukah ustad-ustad itu melakukan potong tangan dan merjam????
    atau mereka hanya menginginkan pertanggungjawaban nya dilaksanakan diakhirat saja.??????
    dan para ustad itu hanya mendapatkan uang saja dari pemeberian wejangan mereka (mengiri kaleee nih yeee heheheh) Insya ALLAH tidak.
    mereka yg telah tampil dan menyerukan ummat sudah wajib melakukan dan melaksanakan hukum secara penuh, sudahkah itu?????
    begitu juga kepada keluarga apakah mereka telah melaksanakan secara penuh kasih sayang yg sesuai dengan tuntunan Alqur’an dan hadis nabi????
    selanjutnya yang terpenting adalah pribadi kita sekarang ini merujuk kepada siapa Imam kita saat ini yg bertanggung jawab terhadap pelaksanaan hukum secara penuh??????
    apakah imam masjid atau pegawai KUA yg masih suka akan heheheheh
    ????????????
    untuk sekarang ini yg jelas dan pasti adalah kepada diri kita sendiri,benarkah kita telah Mengimani ALLAH dan setia Kepada Nabi dan Rosul KIta….??????????
    setialah ,setialah………hingga ajal menjemput tanpa ,amin-amin,amin

  51. rangga pratama

    salam kenal utk semuanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: