Pada suatu perayaan Agustusan menyambut hari ulang tahun kemerdekaan, kami mendapat tugas untuk menjadi bagian dari tim gerak jalan di kantor. Kami diberi seperangkat seragam training. Kemudian diantar memakai kendaraan menuju tempat tertentu dan dari tempat tersebut masih harus berjalan kaki menuju titik start pemberangkatan. Cukup lama tim kami harus menunggu diberangkatkan oleh Kepala Daerah.

Di depan dan belakang kami, ratusan tim lain dari banyak instansi serta sekolah se-Kabupaten berkumpul di titik yang sama. Titik ini adalah sebuah jalan di perumahan yang agak lebar dan karena saking banyaknya tim yang ikut acara gerak jalan Agustusan tersebut, maka kami menunggu berjam-jam. Tibalah giliran tim kami diberangkatkan.. dengan teriakan kecil dari Kepala Daerah, “Satu… Dua… Tiga…” disertai tepukan tangan dari para pejabat di podium, bendera yang ada di tangan Kepala Daerah diangkat ke atas. Resmilah, kaki tim kami berayun berirama seperti pasukan defile bersenjata.

Di tengah perjalan, saya (wongalus) melihat sosok berambut gimbal tanpa pakaian dan hanya mengenakan celana pendek kumal sedang duduk di pinggir jalan di depan sebuah area makanan cepat saji Amerika. Banyak tas-tas plastik yang tidak lagi bersih yang berada di kanan kirinya. Entah apa isi di dalamnya. Barangkali, benda-benda yang menurutnya berharga. Lalat-lalat hinggap di tubuhnya yang belepotan debu bercampur keringat. Cukup berbau dan dimohon untuk tidak mendekat bila tidak ingin muntah. Yang menarik dari wong edan alias si Gila: ada satu tongkat disandarkan di pagar dan ujungnya diikatkan sebuah bendera merah putih lusuh dan lemas tidak berkibar. Di tengah seriusnya tim gerak jalan kami menyanyi-nyanyi lagu perjuangan, saya pun iseng berteriak begitu melihat “si gila” tersebut. MERDEKA BUNG!!!

Ia tidak bergeming. Ia tidak perduli. Ia tidak merespon teriakan saya. Ia tetap duduk seperti tidak ada apa-apa. Tatap matanya tetap kosong meskipun ragam pesona tim-tim gerak jalan melintas di hadapannya. Seorang teman tersenyum dan berkata… “Eh, ngapain anda berteriak ke dia? Dia itu yang sebenarnya sudah bebas. Kita ini hanya bisa berteriak teriak merdeka tapi kenyataannya tidak mendeka. Kita hanya bisa berteori tentang kemerdekaan dan tentang kebebasan. Berteori tentu hanya sekedar ada di kepala, belum menjalani dan melakoninya.”

Perkataan teman itu tadi memancing perenungan saya. Benar juga.. Kita ini jago kalau ngomong soal merdeka, berandai-andai, berteori namun belum bahkan bisa jadi tidak mau menjalani atau melakoni apa yang kita omongkan tersebut. Apalagi saya, jagonya munafik. Bisa ngomong, terbiasa menasehati orang lain.. tapi kalau menasehati diri sendiri huh minta ampun sulitnya. Dosa kita lakukan tanpa penyesalan. Kita tumpuk-tumpuk kesalahan tanpa merasa bahwa kesalahan itu kemudian menjadi gunungan kesalahan dan setiap saat siap menimbun diri kita. Pantas.. doa kita tidak diijabah lha wong kita termasuk orang orang yang tidak bebas karena tertimbun lemak kemunafikan.

Beda dengan si gila. Ia sudah berada di aras laku dan kesadaran yang berbeda. Mungkin juga berada di alam yang lain. Dan ia memilih diam. Tidak banyak omong dan senantiasa sibuk dengan dirinya sendiri. Ia tidak peduli, apa kata dunia tentang dirinya. Pokoknya ia bergerak ke sana dan kemari, mencari cari sesuatu. Kadang ia memungut sesuatu namun kebanyakan terasa bahwa yang dicarinya tidak pernah ditemukan. Kadang kalau waktunya lapar, ia mencari-cari di tempat sampah sisa-sisa makanan dan disantap tanpa khawatir dirinya akan sakit. Dan memang, atas Kuasa Tuhan si gila jarang kena sakit dan dengan demikian tidak perlu berlama-lama di rumah sakit. Ia berjalan, berjalan dan berjalan lagi menghabiskan hari yang tidak pernah selesai.

Namun di siang terik itu bisa jadi ia merenung tentang kemerdekaan… Kata siapa merdeka itu enak? Bukankah orang merdeka adalah bebas dari belenggu pengkondisian pihak lain serta bebas untuk memilih beberapa atau banyak alternatif yang ada dihadapannya. Dan memilih pilihan adalah tidak enak. Sebab disana tetap ada kemungkinan beresiko yaitu menjatuhkan pilihan yang salah dan keliru yang ujung-ujungnya adalah kesengsaraan diri. Kalau menjatuhkan pilihan yang benar, toh itu benar yang relatif dan tergantung sudut pandang. Benar menurut saya belum tentu benar menurut anda. Jadi pada posisi dan titik di mana kita menilai, itu yang mempengaruhi apakah pandangan kita bisa jadi benar dan bisa jadi keliru. Selain itu, cara memandang juga sangat berpengaruh. Cara pandang ini sangat penting sebab kalau kita punya beragam cara, maka itu akan lebih baik dibandingkan dengan hanya satu macam cara memandang. Itulah sebabnya, juga banyak orang yang ingin dirinya terbelenggu karena dengan belenggu dia merasa nyaman dan tidak perlu bertanggung jawab atas pilihan-pilihan yang diambilnya. Cukup manut dan ikut saja pada mereka yang berani bertanggung jawab dan dia bisa nyaman menikmati hidup.

Sejatinya apakah ada di dunia ini orang yang sungguh-sungguh bebas dari pengkondisian? Lahir kita sudah terkondisi. Jenis kelamin dan dari orang tua siapa dilahirkan kita juga tidak punya pilihan. Pilihan-pilihan alternatif di depan kita juga biasanya sangat amat terbatas kalau boleh dibilang tidak ada. Hanya segelintir orang di negeri ini yang banyak pilihan, tentu saja pilihan berkaitan dengan kemampuan finansial. Semakin banyak uang, semakin banyak pula pilihan. Semakin sedikit uang, semakin segelintir pilihan. Dan yang tidak punya uang, tidak ada pilihan.

Tapi itu semua hanyalah teori, dan itu masalahnya. Orang gila terus merenung: Kebanyakan mikir membuat pilihan hidup terasa sempit. Orang dihantui oleh sesuatu keadaan yang tidak nyaman. Saat keinginan tercapai, ada lagi keinginan lain yang lebih besar. Saat keinginan besar tergapai, lahir kemudian keinginan raksasa lain yang ingin segera dituntaskan. Keinginan demi keinginan susul menyusul, salip menyalip di tikungan. Mana yang lebih dulu dituntaskan, mana yang harus ditinggal di belakang. Ada benarnya meski tidak semuanya dikatakan bahwa keinginan itu elan vital, sumber hidup, namun sekaligus sumber derita. Tinggal pilih yang mana. Kalau pilih sumber hidup mana keinginan harus dikelola sebaik-baiknya, kalau pilih sumber derita mana keinginan harus dipupus dan kalau bisa ditiadakan. Caranya adalah latihan mematikan raga, menganggap bahwa keinginan ragawi itu hal yang hina dan tidak pantas dituruti agar jiwa bisa bersih suci dan ringan melanglang ke langit. Kalau keinginan ragawi dituruti, maka diri akan terbebani dan melekat ke benda-benda. Diri akan terbelenggu dan tidak akan bisa menikmati kebebasan atau kemerdekaan sejati.

Si Gila terus merenung: Apakah kemerdekaan sejati bisa dicapai dengan cara memeluk satu agama tertentu? Iman, ritus dogma mitos yang irasional senantiasa ada disemua agama dan semua keyakinan di dunia. Bahkan tidak punya agama dan mereka yang mengklaim sebagai rasional pun terjebak di dalam irasionalitas. Bukankah percaya pada dewa-dewa rasio juga merupakan satu penghambaan dan ujungnya adalah kecewa karena rasio tidak pernah menuntaskan tujuan akhirnya? Mana yang harus dipilih manusia modern sekarang ini? Pilih beribadah, bertakziah, tahanuts, semedi atau ke mall, cafe, ngerumpi, ngegosip, fesbukan, ngeblog, twitteran..renang, jalan-jalan atau menenggelamkan diri dalam kesibukan kantor serta menghabiskan waktu di dalam kemacetan dan dengan demikian bisa menguras umur dengan cepat. Buat apa mengirit-irit umur.. toh akhirnya umur akan tetap habis bukan? Apa ada manusia di dunia ini yang bisa hidup abadi.. Kalau masih makan nasi atau roti, minum kopi, teh dan es campur rasa-rasanya umur pasti bisa habis.

Si Gila melanjutkan kegilaannya dengan sebuah pertanyaan: kenapa manusia itu sejatinya tidak pernah bisa menggapai kemerdekaan hakiki? Dasar gila, ia menjawab dengan cepat.. Sebab manusia itu diciptakan. Ya, sampai kapanpun kalau manusia itu masih diciptakan oleh Tuhan maka jangan harap manusia bisa merdeka. Manusia bisa mendeka jika dan hanya jika bisa menjadi Tuhan dengan Kekuasaan yang tiada terbatas. Hanya Tuhan yang Maha Merdeka dan Maha Bebas. Tapi apakah manusia bisa menjadi Tuhan yang demikian itu? Oalah..boro boro menjadi Tuhan, menjadi manusia saja sulitnya minta ampun koq. Harus bisa hidup, harus bisa makan, harus punya teman dan harus bersandang, harus punya panggonan alias rumah dan harus punya cita-cita dan harapan. Dan yang tidak boleh dilupakan adalah manusia tidak boleh bunuh diri. Memenuhi kebutuhan itu semua tentu sekarang ini semakin sulit. Jauh lebih mudah menjadi rumput, tikus atau semut karena dimanapun semesta manusia begitu terbuka terhadap kemungkinan.

Akhirnya, tidak banyak informasi yang bisa digali dari perenungan si gila. Tapi minimal dari dia tadi saya belajar tentang ketenangannya diteriaki bahkan diumpat, diolok-olok, dicaci maki, dihina, dijadikan kambing hitam, dijadikan wahana disumpahserapahi orang dengan diam tidak banyak omong menghadapinya. Dari si gila saya dapat belajar bagaimana menjalani kemerdekaan serta harapan meraih kemerdekaan yang sejati… Meskipun itu hanya utopia yang dari hari ke hari semakin kecil kemungkinannya bisa dialami.

Sidoarjo, 7 September 2011

wongalus

Iklan