INNALILLAHI WAINNA ILAIHI ROJIUN. telah berpulang ke Rahmat ALLAH SWT, KYAI HAJI ABDULLAH FAQIH, Ketua Majlis Masayikh Pondok Langitan Widang Tuban Jatim, Selasa 28 Februari 2012, Petang JAM 19.OO WIB. 

================================

“GERAKKAN TANGANMU, MAKA AKAN AKU TURUNKAN REJEKI KEPADAMU,”

Di meja saya, terpampang potret beliau. Foto itu saya dapatkan ketika tahun 1999 saya ditugasi kantor redaksi yang berlokasi di Graha Pena Surabaya untuk meliput satu kasus yang terjadi di Tuban. Tak urung saat itu saya mampir untuk sowan ke Pondok Pesantren yang namanya sudah melegenda di seantero tanah air itu. Di situlah saya mendapatkan foto KH Abdullah Faqih, sosok yang disebut publik sebagai salah satu “kyai khos” dari sekian banyak Kyai Khos tanah Jawa.

Meski tidak sempat bertemu dengan Kyai Abdullah Faqih, namun saya sempat ditemui oleh seorang putra beliau di rumahnya. Ia sempat menceritakan sosok dan figur sang ayah kelahiran tahun 1932 yang pada hari Selasa petang 28 Februari 2012 ini dipanggil kehadirat Allah SWT tersebut. Menurut sang putra, tradisi kesederhanaan ulama sangat meresap ke dalam diri Kyai Abdullah Faqih. Ia tak segan mengurusi sawah dan kebunnya. Terkadang pula terlihat dirinya ngurusi toko dan urusan lainnya. “Setiap orang harus bekerja, sekaligus buat contoh santri dan masyarakat sekitar. Kalau seluruh waktunya hanya dihabiskan untuk mengajar dan mengajar saja, nanti dikira masyarakat seorang kyai itu sudah tak mengurusi urusan-urusan duniawiyah lagi. Gerakkan tanganmu maka aku (Allah SWT) akan turunkan rezeki kepadamu” kata KH Abdullah Faqih menyitir hadits Qudsi pada suatu ketika.

Terkait dengan kondisi bangsa saat ini, melalui putranya itu, Kyai Abdullah Faqih terbiasa mewasiatkan agar setiap orang di negeri ini segera melakukan taubat nasuha baik secara pribadi maupun secara berjamaah. “Tidak perlu ribut dan beramai-ramai. Lakukanlah berzikir sendiri-sendiri dengan memperbanyak bacaan istighfar,” ujar KH Abdullah Faqih sebagaimana yang dijelaskan sang putra. Menurut KH Abdullah Faqih, jika setiap orang mau mengakui dosa-dosanya dengan memperbanyak beristighfar, insya Allah negeri ini akan aman sentosa. Seperti yang tertera dalam al-Qur’an, bahwa Allah tidak akan menimpakan azab bagi suatu kaum, selama kaum tersebut mau melakukan istigfar,” ujar sang putra mengingat pesan-pesan almarhum.

Setiap bencana, dalam pemahaman Kyai Faqih ada dua maksud; sebagai peringatan atau untuk peningkatan derajat. Sementara musibah beruntun yang menimpa bangsa ini, kita perlu merenungkan apakah untuk meningkatkan kualitas bangsa ataukah karena banyaknya dosa-dosa yang dilakukan. “Kalau melihat lahiriahnya, bangsa Indonesia itu sudah terlalu kebanyakan maksiat,” kata sang putra. Kesederhanaan kyai Abdullah Faqih sangat lekat hingga akhir hayatnya. Meskipun tak sedikit tokoh penting di negeri ini sowan kepadanya, namun dirinya merasa cukup. Ia tinggal di sebuah rumah berdinding papan, serta lantai rumah dari tegel biasa dan meja kursi yang seadanya yang berada di tengah Ponpes Langitan.

Dikisahkan putra tersebut, sejak kecil Ketua Majlis Masayikh Pondok Langitan ini dihabiskan di lingkungan Pondok Langitan bersama saudara-saudaranya untuk belajar ke ayahandanya Kyai Abdul Hadi. “Kamu cukup mengaji saja. Sebab kalau sekolah, kamu mesti akan pula meninggalkan pondok. Padahal jika pesantren itu sudah ditumbuhi ilalang, akan sulit sekali merawatnya. Ia akan menjadi sepi santri dan ditumbuhi semak belukar,” kisahnya menirukan ucapan Kyai Abdul Hadi sang kakek. Simbah buyut yang tak lain pendiri Ponpes Langitan memiliki kewaskitaan bahwa yang bisa untuk meneruskan tongkat estafet mengasuh pondok adalah kyai Abdullah Faqih. Oleh karenanya, kyai Abdullah faqih diberi amanah agar belajar mengaji dan tidak perlu sekolah.

Di usianya yang relatif muda, 15 tahun ia sudah bisa menguasai kitab kuning. Di saat itulah Kyai Faqih mulai mengajar para santri. Saat itu sebenarnya masih ingin nyantri di pondok lain, tetapi sang ayah Kyai Abdul Hadi tetap melarang lantaran ilmunya dirasa belum cukup. Pada tahun 1950-an, Kyai Abdullah Faqih nyantri ke pondok pesantren Lasem Jawa Tengah pada Mbah Kyai Maksum yang tak lain ayaha Kyai Ali maksum Krapyak Yogyakarta. Ia juga berguru kepada Syeckh Masduqi yang lama tinggal di Mekkah, Kyai Baidlowi ayah dari kyai Hamid Baidlowi dan juga ngaji kepada Kyai Mansur. Selama dua tahun setengah Kyai Faqih menjalani kehidupan di Pondok Lasem. Setelah pulang ke rumah halaman, dirinya justru merasa tak kerasan. Itulah yang mendorongnya untuk berangkat nyantri ke Pondok Senori Tuban. Di sini dirinya diasuh langsung oleh Kyai Abu Fadhol yang telah banyak mengarang kitab kuning.

Selepas dari Tuban, Kyai Abdullah Faqih pulang dan mendirikan madrasah formal bersama pamannya Kyai Ahmad Marzuki. Bagi santri yang tamat madrasah enam tahun ini, mereka harus menguasai kitab kuning dan hafal Alfiyah. Melihat lulusannya yang cukup menggembirakan, lalu didirikanlah lanjutannya berupa sekolah Mu’allimin 3 tahun. Meskipun publik masyarakat menilai Kyai Abdullah Faqih termasuk kyai khos yang ilmu agamanya sangat mumpuni, namun dirinya masih merasa haus ilmu dan masih ingin nyantri kembali ke pondok lain. Namun lantaran kesibukan di pondok terpaksa harus mengurungkan niatan tersebut. Lebih-lebih setelah Kyai Marzuki pergi ke tanah suci di tahun tahun 1953, sehingga Kyai Faqih menggantikan sepenuhnya tugas-tugas beliau. Untuk menuruti keinginannya itu, setiap tahunnya dirinya selalu pergi ngaji bulanan dengan cara sowan ke beberapa Kyai Sepuh lain. Dalam mengelola pondok pesantren, Kyai Faqih senantiasa berpegang pada wejangan kyai-kyai sepuh yang telah turut membimbingnya. Seperti wejangan dari Mbah Kyai Maksum agar orang itu jangan sampai nggak mengajar. Sementara dari kakeknya Kyai Khozin, selalu menekankan agar dalam mengajar suatu kitab itu jangan sampai tidak selesai.

Jumlah yang ngaji anak berapa pun harus tetap diajarnya secara sungguh-sungguh. Ayahandanya sendiri pernah mencontohkan bagaimana memegang amanat tersebut. Pada zaman agresi Belanda, santri pondok Langitan pernah bubar sama sekali. Tak satupun santri yang berani tetap tinggal di sana. Dalam kondisi semacam itu, Kyai Abdul Hadi tetap melanjutkan ngajinya. Tak pernah sama sekali meliburkan pengajian yang ada. Padahal waktu itu yang ngaji cuma Kyai Abdullah Faqih bersama dengan sepupunya. Dan kalau malam terpaksa memakai lampu oblek, karena situasi peperangan yang mencekam. Itulah tekad Abdullah Faqih untuk memperjuangkan agama. Untuk menghidupkan agama itu, nggak ada lain kecuali ilmu agama. Tidak bisa agama itu dikembangkan melalui jalan selain ilmu.

“Motor nggak bisa jalan kalau tak diisi bensin terlebih dahulu. Nah, jika ada motor yang bisa jalan padahal nggak ada bensinnya, berarti motor tersebut didorong,” ujar KH Abdullah Faqih sebagaimana yang dituturkan sang putra. AL FATIHAH TERKIRIMKAN UNTUK MU, GURU KITA SEMUA…..

@Wongalus, 2012

Iklan