HATI IKHLAS ADALAH KEKUATAN TAK TERKALAHKAN


Ki Ageng Mantyasih
hammadzn@gmail.com

Bebukaning Atur

Sudah sejak lama, sebelum posting “Padepokan Mantyasih”  terpublikasi di situs Kampus Wong Alus, saya mengunjungi diam-diam, menelaah artikel demi artikel, amalan demi amalan, dan setiap ada yang baru dari site ini, senantiasa menjadi prioritas tersendiri untuk saya lihat tatkala saya berselancar di dunia maya. Seingat saya, pertemuan saya dengan KWA, terjadi secara tidak sengaja, tatkala saya sedang senang-senangnya membaca situsnya Alang-alang Kumitir, yang ternyata setali (mungkin sedarah) dengan site KWA. Agak kaget juga, ketika ternyata, nama Ki Kumitir adalah anggota zero (0000) sebelum nama Ki Wongalus. Tidak pernah terpikir sebelumnya, bahwa kiriman tulisan saya, “Padepokan Mantyasih” akan langsung dimuat oleh Ki Mas Muhammad Wildan. Jujur saja, saya merasa minder, KWA bagi saya adalah tempat para romo Begawan, para resi, dan spiritualis yang mumpuni, yang pasti dengan mudah akan mengenali saya secara batin (terawang). Sungguh tergetar, membaca genealogi KWA, betapa agung untaian nasab yang Allah tetapkan dan Allah karuniakan kepada Ki Mas Muhammad Wildan—saya membatin, pastinya beliau adalah manusia pilihan yang Allah siapkan untuk sebuah maksud yang saya sendiri belum berani menerkanya lebih jauh.

Allah menggerakkan hati saya untuk mengirim tulisan tersebut, dan secara tak sungguh-sungguh menyematkan sebutan Ki Ageng Mantyasih, disamping nama saya sebenarnya, Muhammad Zainur Rakhman; yang ternyata dicantumkan oleh Ki Wongalus. Saya menganggap hal itu sebagai pertanda „pangestu. dari beliau. Akhirnya menyusullah tulisan-tulisan saya berikutnya, Oase Waqi.ah, Dhuha Waqi.ah, Ashlu Syajarah dan Syarh Nadham Zainiyah. Yang membuat saya merasa sangat terhormat, adalah ketika Nadham Zainiyah, disematkan menjadi tajuk Pertemuan Tahunan KWA, kalau tidak salah, di Candi Mendut. Saya membatin, bahwa ini jelas undangan secara tidak langsung. Akan tetapi, kelemahan diri saya lah, selain memang saat itu, istri kurang berkenan, untuk saya berangkat ke pertemuan tersebut, sehingga saya pun urungkan hadir, sembari membatin, ah siapalah saya ini.

Melalui bebukaning atur ini, saya ingin menegaskan, bahwa saya, yang orang sering sebut Ki Ageng Mantyasih, hanyalah manusia biasa, tidak memiliki ilmu hikmah apapun, apalagi kesaktian dan sebagainya. Saya hanya bisa nulis. Kalau pun ada bimbingan dan tulisan saya yang bermanfaat, itu semua semata karunia dari Allah, lebih karena kualitas pribadi Njenengan semua, dari pada diri saya yang sejatinya penuh kekotoran hawa. Saya malu, isin, grogi, dan bergetar tatkala Njenengan sering telepon saya, mengadukan masalah-masalah Njenengan. Mudah-mudahan itu kabar baik dari Allah yang dipercepat, dan biarlah Allah yang mengetahui kedudukan saya disisiNya.

Ada banyak manfaat dari situs KWA ini, dan dengan terwadahinya para spiritualis dan penggerak budaya dalam sebuah komunitas, saya yakin dan saya berdoa, mudah-mudahan menjadi sesuatu yang positif bagi kebangkitan nusantara dalam abad-abad berikutnya. Akhirnya, saya berpesan kepada setiap pecinta KWA, dan para pencari kesejatian pada umumnya, bahwa untuk belajar kepada siapa pun dan dalam hal apapun, syarat utamanya adalah, „prasangka yang baik.. Hanya itu. Seseorang itu hanya akan ngunduh wohing pakarti, mendapatkan buah dari perilakunya, kalau Njenengan berkehendak baik, berprasangka baik, tidak akan ada balasan selain kebaikan pula. Kalau kebetulan tersandung atau tertipu, ya mesti bersabar, karena itu pun pasti balasan dari perbuatan kita yang terdahulu. Tidak usah menyalahkan siapa-siapa. Nah, marilah kita petik buah-buahan dari kebun KWA ini, dengan penuh suka cita; dan salam sepenuh kehangatan kasih, dari Padepokan Mantyasih, semoga peseduluran kita mendapat berkah dari Allah ar Rahman, fid diini, fid dunya wal akhirat. Rahayu!

Catatan Misteri Nabi Khidlir AS

 “Ilaa Hadlrati kiram, Balyan Ibn Malkan, Nabiyullah Khidlir Alaihi Salam, al Fatihah …”

 Adalah beliau, termasuk hamba-hamba Allah yang ditangguhkan. Allah memilihnya untuk mandi di telaga kehidupan, dan meminum airnya. Melalui beliau, konon, seseorang secara resmi dilantik menjadi seorang wali. Seperti kisah Imam Abul Hasan Qs, yang ditemui oleh beliau pada saat sholat jum’at, dan tiba-tiba beliau menceritakan pengalaman ruhani yang baru saja dialami Imam Asy Syadzily Qs, yang mendapat uang dari alam ghaib dan membagi-bagikannya kepada faqir miskin.

Saat saya kecil, saya gemar sekali bersalaman di masjid, dan meraba ibu jari tangan setiap orang, yang kalau jempol itu tidak memiliki tulang, maka katanya itulah Nabi Khidlir, AS. Kebetulan ada. Dan saya hanya membatin, tersenyum, beliau pun membalas tersenyum, dan tidak ada yang beliau sampaikan. Belakangan eh, ternyata, orang itu salah satu dari penduduk desa saya yang memang kebetulan ibu jarinya tidak memiliki tulang.

Kerinduan saya untuk bertemu Khidlir AS, belum bisa terpuaskan. Barangkali takkan pernah. Pernah saya mengunjungi sebuah makam berkuncup yang menyendiri di tepi sungai Logawa. Disana tertulis, Makam Ki Ageng Mbilung. Ada seseorang pelaku rialat di makam tersebut mengatakan, bahwa sebenarnya Ki Ageng Mbilung itu nama jawa, yang sebenarnya adalah Nabi Khidlir. Saya hanya mengangguk, tanpa membenarkan maupun menyalahkan. Akhirnya, dalam hati saya hanya bisa berpasrah kepada Allah, biarlah Allah yang menentukkan. Jika memang saya pantas dipertemukan dengan beliau, pasti lah tidak aka nada yang bisa menghalangi karunia tersebut. Namun, meski saya sudah berusaha dengan segala macam laku, jika saya memang belum pantas, maka takkan pernah ada yang menemui saya.

Yang jelas, ditemui maupun tidak, tidak ada kerugian bagi saya. Allah tidak menyuruh kita untuk berusaha mencarinya. Allah hanya memberikan kita tugas pengabdian yang penuh ketekunan, memperdalam keikhlasan, dan memurnikan tauhid kita dari segala macam belenggu. Jika memang ada tugas setelah itu, pastinya itu akan diberikan pada saat kita siap menerimanya. Entah itu melalui perantara Nabi Khidlir AS, atau hamba Allah yang lain, pastinya setelah kita dipandang sanggup untuk melaksanakan suatu maksud. Tidak ada pertemuan yang tanpa maksud, tidak ada maksud tanpa tuntutan sebuah tanggung jawab.

Jika kita hanya ingin ‘keren’, dengan pertemuan semacam itu, takutnya hal itu malah akan semakin menguatkan keakuan kita, dan memperkeruh kemurnian tauhid kita. Bukan kedekatan kepada Allah yang didapatkan, malah kita akan semakin jauh dari Nya.

Ada kisah yang menarik berkaitan dengan Nabi Khidlir AS, diriwayatkan bahwa beliau pernah selama empat puluh hari belajar fiqh kepada Imam Abu Hanifah R.A. Setiap ba’da Shubuh. Dalam renungan saya, ini sungguh sesuatu yang perlu mendapat perhatian. Bahwa seorang yang makrifat dan hakikatnya telah sempurna pun, tetap membutuhkan belajar syariat kepada ulama ahli fiqh. Pengertian ini kemudian saya talikan dengan sabda Nabi SAW, bahwa, andai Musa AS, hidup di zamanku (Nabi SAW), maka pasti ia mengikuti syariat Nabi SAW. Kemudian, sabda Nabi SAW, bahwa ulama’ lah yang menjadi pewaris para Nabi, bukan para wali atau orang-orang yang ahli ‘irfan. Bahkan kedudukan ulama-ulama dalam Islam disetarakan dengan kedudukan Nabi-Nabi bani Israel. Jika demikian, masihkah kita memandang sebelah mata kepada ilmu fiqh? Kepada ulama ahli fiqh? Dimana Khidlir AS (yang kita begitu rindu bertemu dengannya) pun masih membutuhkan ilmu dari Imam Abu Hanifah? Apakah kita akan menganggap sepele kitab-kitab seperti safinah, sulam taufiq, yang tidak menjanjikan keajaiban apapun, kecuali sekedar sah dan tidak sah, dan kita begitu tergetar memegang Mambaul Ushulil Hikmah, dan Khazinatul Asrar? Saya teringat dengan kisah teman saya yang mondok di Ploso, disana katanya tidak boleh mengamalkan amalan hikmah, santri harus fokus mengaji kitab dan menghafal bayt-bayt nadhom. Istiqomah dalam sebuah amalan lebih baik dari seribu karomah, maka istiqomah yang dimaksud adalah istiqomah dalam ngaji. Saya pun terngiang-ngiang ungkapan Abuya Dimyati Banten, yang dengan kerendahan hati mengatakan, “Thariqah saya mah, Ngaji”, (jalan thariqat beliau hanyalah ngaji dan ngaji). Saya juga pernah mendapat kisah tentang seseorang yang memiliki ilmu hikmah tenaga dalam tinggi, ternyata tidak kuat (terpental) menghadapi seorang penghafal matan alfiyah.

Bagi saya, ada kekuatan maha dahsyat yang tidak bisa dilawan dengan kekuatan hikmah apapun, baik itu dari khodam atau apapun. Kekuatan itu adalah hati yang dipenuhi keikhlasan. Karena dalam hati seperti itulah, Allah ‘Azza Wa Jalla, pemilik semua kekuatan, bertahta dengan kokohnya. Siapa berani melawan Allah? Siapa yang berani melawan orang yang hatinya hanya ada Allah? Semoga kita tidak tertipu dengan mengejar sesuatu yang bukan kewajiban kita, sementara kewajiban kita sendiri kita lupakan. Wallahul Musta’an.

 Catatan Memburu Khodam Sakti

 Membahas khodam bagi saya seperti meraba di kegelapan. Saya sendiri tidak pernah tahu seperti apa wujudnya, dan bagaimana mereka berinteraksi dengan manusia. Ya, karena memang kebetulan saya bukan orang sakti. Hanya dari beberapa bacaan, yang saya tahu bahwa setiap manusia memiliki khodam nya masing-masing. Memang istilah khodam, menjadi demikian angker kedengarannya. Terbayang bahwa, yang namanya khodam itu makhluk yang melayani manusia dengan syarat atau imbalan tertentu, yang jika tidak dipenuhi syaratnya, maka bisa ngamuk dan mencelakakan si empunya. Terbayang juga, bahwa nantinya, si empunya khodam akan mengalami kesulitan tatkala sakaratul maut, untuk lepasnya ruh, gara-gara si khodam itu. Jika seperti itu, ngeri rasanya memiliki khodam. Apalagi jika kita berpikir secara gengsi-gengsian, agaknya kesaktian yang dimiliki seseorang karena punya khodam, seperti kesaktian pinjaman, tipu muslihat, artinya yang sebenarnya sakti itu khodamnya, bukan kita. Nah, berpikir seperti itu, lantas timbul keinginan mencari kesaktian yang sejati, yang tanpa khodam, dan tidak berefek bencana, tuntutan ini itu, maupun kesulitan menghadapi sakaratul maut. Jika kita renungkan, sebenarnya manusia itu ya ingin apa-apanya serba mudah, dengan hasil spektakuler, dan tidak ada efek samping.

Saya teringat, dulu saat kecil, di mushola saya, teman-teman pernah lagi hobi-hobinya janturan. Yakni memasukkan indang tertentu, entah macan, kera, kijang, dan sebagainya, lalu ada yang bertugas menyembuhkan. Semakin sulit disembuhkan, semakin asyik permainan itu. Saya sendiri menjauh dari teman-teman, karena merasa itu tidak pas dengan keyaqinan saya. Entah dari mana mereka mendapatkan cara-cara semacam itu, bahkan katanya pake tawasul segala. Mereka berlomba mencari dan mendapatkan indang yang kuat, yang menangan. Ada yang cerita ke makam ini, ke tepi sungai itu, dan lain-lain. Trend semacam itu ternyata meluas, bahkan sampai teman-teman SMP saya, dulu juga hobi pamer indang di sekolah. Saya yang sering disebut kyai oleh teman-teman, juga menjadi referensi, meski sebenarnya saya tidak tahu apa-apa. Ada yang katanya indang miliknya kepengin ikut saya, karena saya rajin sholat. Saya, pokoke wis mbuh, ngga urusan, yang penting saya ngga minta diikuti indang. Mereka merasa keren, jika memiliki indang.

Belakangan, murid-murid halaqoh saya juga cerita, katanya di pondok diajari semacam itu. Gara-gara nya ada seorang santri yang diganggu oleh dukun atau apa gitu, dan tidak bisa ngatasi, maka sama Abah Kyai, disuruhlah seorang ustadz yang jago khodam, untuk membangkitkan khodam masing-masing santri dan melatih cara untuk mengendalikannya. Saya hanya tertegun dan ketika ditanya, apa saya bisa mengajari mereka, saya pun menggeleng.

Manusia selalu berikhtiar untuk mengatasi segala macam problema hidup, dan mencari jalan aman agar kehidupannya bisa terhormat dan sentosa. Kesaktian, barangkali merupakan salah satu yang paling banyak dicari manusia, untuk mewujudkan kehormatan dirinya. Eksistensi selalu menarik untuk dibahas. Dalam kasus apapun, latar belakang untuk menjadi seorang yang eksis selalu ada. Seperti saya ini, memakai nama Ki Ageng, biar kelihatan eksis, to? Orang menulis pun pada dasarnya untuk memberitahu keberadaan dirinya, bahwa ‘aku ada’, dan aku memiliki sesuatu untuk diberikan. Problem eksistensial merupakan problem akut yang menjalari kehidupan manusia dari sejak zaman pra sejarah, bercocok tanam, hingga industri, kemudian yang terbaru adalah zaman media telekomunikasi. Soal perang dan penjajahan, apalagi kalau bukan problem eksistensial? Kapitalisme global, hegemoni, wah apa pula itu, dan seabreg isu-isu internasional, tak pernah lepas dari problem eksistensi. Hal ini, karena manusia menyadari bahwa hidupnya berada di tepi jurang ketiadaan (kematian), maka ia harus memutuskan, bahwa dalam pentas yang singkat itu, ia harus menjadi lakon tanpa tanding, terhormat, dan unggul.

Inilah kenapa, perlunya Allah menekankan iman kepada kehidupan akherat. Dengan meyakini bahwa ada kehidupan setelah kematian, dan mempercayai bahwa dalam kehidupan itu keadilan akan ditegakkan seadil-adilnya, maka manusia diharapkan tidak terlalu ‘bertingkah’, mempertontonkan kecemasan yang mewujud dalam segala macam tindakan ingin mengungguli yang lainnya. Betapa seseorang yang mencari kesaktian itu sebenarnya adalah orang yang cemas bahwa hidupnya banyak terancam. Saya harus sakti, agar jika ada yang mengganggu saya, akan saya kalahkan dengan mudah. Klausa, “agar jika ada yang mengganggu” bukankah bentuk ungkapan kecemasan? Klausa itu bisa diganti yang lain, apa misalnya, “agar bisa menegakkan keadilan, agar bisa menolong yang teraniaya, agar bisa membela kebenaran”, kebenaran kok dibela? Coba ditelisik. Bayangan bahwa dunia dipenuhi ketidakadilan, dipenuhi penganiayaan, dipenuhi keburukan, sedemikian parah menghantui kita. Itulah yang tanpa kita sadari, merupakan kecemasan-kecemasan yang ujungnya bisa menjadi depresi. Ada memang, orang-orang yang selalu melihat sisi gelap dunia, namun saya lebih yaqin, bahwa masih banyak manusia yang mampu melihat terangnya sang surya.

Kecemasan, jika kita memandangnya lebih jauh, pangkalnya adalah ketakutan terhadap kematian. Dan itu tidak disadari. Ketidaksadaran itu setali dengan semakin bertumbuhnya kecintaan kita terhadap dunia. Jika sudah demikian, hendaknya kita melihat lebih dalam tentang makna dan arti menjadi manusia, makna dan arti menjadi hamba. Hamba pasti punya majikan, dan majikan pasti akan selalu melindungi si hamba, selama si hamba patuh dan salalu ta’dhim kepada sang majikan.

Saya kembali teringat, kaidah emas dalam suluk, “tidak ada jalan tercepat menuju Allah selain jalan khidmat”. Khidmat atau melayani dengan penuh ketulusan adalah suluk jalan terabas, yang bisa diterapkan di dalam apapun. Mencuci mobil, menyapu halaman, membalik sandal Abah Kyai, hal-hal kecil itulah yang seharusnya menjadi sumber kesaktian kita. Mari, rame-rame, daripada susah-susah memburu khodam, lebih baik jadikan diri kita khodam bagi keluarga, khodam bagi masyarakat, dan khodam bagi sebanyak-banyak manusia. Ini ceritaku, apa ceritamu, Dam?

 Catatan Tentang Ilmu Pelet Paling Mujarab

 Pelet, pengasihan, dan semacamnya, sampai sekarang masih saya anggap sebuah kekejian, paling tidak semacam tindakan pengecut yang jauh dari terhormat. Apapun cara dan medianya. Ini lebih kepada pertimbangan perasaan daripada pertimbangan hukum syara’. Soal hukum, saya tidak ingin berdebat lebih jauh, apalagi lebih dalam. Namun, rasa-rasanya, pelet, pengasihan, dan semacamnya, bagi saya adalah penghinaan terhadap keagungan cinta. Jujur, saya seorang pemuja cinta. Ah, tidak ada yang lebih indah dari penyatuan sepasang insan yang saling jatuh cinta. Getaran-getaran cinta bagi saya merupakan zikir yang sungguh asyik.

Saat hati begitu terliput oleh cinta, semuanya menjadi baik, rasa sakit berganti nikmat, rasa susah berganti senang. Semua orang tidak ada yang jahat, semuanya dimaafkan, ketika hati begitu terliput oleh cinta. Pernikahan sepasang kekasih yang saling mencintai adalah peristiwa agung nan bersejarah. Allah menyebutnya dengan “perjanjian yang berat”. Karena bukan aku yang dicintai dan kau yang mencintai, melainkan Dia yang mencintai DiriNya sendiri, lewat aku dan kau.

Kok, tiba-tiba dirusak oleh pelet, pengasihan, dan semacamnya, sungguh tidak beradab, dan sangat tidak sopan.

Kenapa tidak kita biarkan seseorang mencintai kita apa adanya, dan kita mencintainya dengan tulus. Oh, ini pasti soal kedewasaan dalam memahami cinta. Pelet, pengasihan, dan semacamnya, berasal dari kaidah bahwa cinta harus berbalas, baik suka rela maupun terpaksa. Ini kaidah cinta yang usang dan kekanak-kanakan. Orang-orang yang menggunakan kaidah ini, mereka pasti tidak memiliki cinta sebagaimana ‘cinta’, tidak ada ketulusan cinta, dan mereka tak mengerti apa itu cinta dan bagaimana caranya mencintai. Telak bukan?

Mencintai adalah proses yang seutuhnya keluar, terus menerus, tanpa ada proses pengembalian. Karena cinta adalah cahaya, maka tugasnya hanya memancar, bukan mengumpulkan. Cinta hanyalah memberi, tak pernah mengharap kembali, apalagi memiliki. Engkau mencintai karena engkau berharap orang yang kau cintai memberimu cinta, betapa itu penuh syarat? Betapa itu mirip jual beli, bukan cinta! Kenalilah cara Allah mencintai hamba-hambaNya, belajarlah untuk mencintai sebagaimana caraNya mencintai kita.

Jika sudah seperti itu, masih butuhkah pelet, pengasihan, dan semacamnya? Pengasihan terampuh, adalah cinta yang ikhlas. Justru, tatkala engkau membiarkan, ia akan mendekat, dan semakin dekat. Inilah asal mula kaidah, “semakin dikejar, semakin jauh ia berlari, semakin keras usahamu, semakin kuat daya tolaknya, namun ketika hatimu ikhlas dan melepasnya, ia tiba-tiba lengket ke peraduan.” Saya sudah membuktikan, dan saya tantang Njenengan untuk membuktikan kaidah itu. Rahayu!

Khatimah

 Demikian, barangkali semua itu merupakan celotehan saya yang tidak berilmu. Tidak ada maksud apapun, melainkan sekedar berbagi unek-unek, mengajak untuk melihat ke kedalaman jagad batin kita, untuk kesejatian yang benar-benar sejati. Lepas dari itu semua, lakukanlah apa yang merasa harus Njenengan lakukan, tidak perlu merisaukan kata-kata saya jika Njenengan tidak yaqin akan kebenarannya, akan tetapi sedikit saya hanya berpesan, “Jangan pernah menghindar atau melawan dari bisikan nurani dan akal sehat, karena dari situlah titik awal pemberangkatan kamanungsan kita melintasi kasunyatan dalam nggayuh kasampurnan.”

Untuk siapapun yang Allah persiapkan memimpin bangsa Indonesia yang Spiritual, Jaya, dan Sejahtera, ataupun bagi mereka yang hanya sekedar ingin memimpin dirinya sendiri, saya persembahkan rapal aji kasatrian berikut ini:

 “Ingsun amatek ajiku, si aji kasatrian, aji sejati, sejatining aji. Aji jati satria, hamengku buwana, satria rahsa, satria budhi, satria mijil, yun prakerti. Yo satria mukti, yo satria wahyu, ya iku ingsun, satria kang mandhita, jati-jatining satria.”

 @@@@@@@@

Iklan

72 Comments Add yours

  1. SABRANGLOR berkata:

    Mohon ket ttg ajia nya….

  2. kisambergledek berkata:

    Hadi3x

  3. kisambergledek berkata:

    Wah pada kemana nich.

  4. kisambergledek berkata:

    Izin buka lapak kopi sambil nyimak mbah.!!

  5. kisambergledek berkata:

    KOPI KOPIIII.!!!
    Mantaaaaaaafff.

  6. kisambergledek berkata:

    Salam buat semuanya yg setia slalu,salam tetap semangat.

  7. garengpung berkata:

    hadir..nyimak..sekalian badhe nderek nyruput kopinipun mbah gledek..

    @kisambergledek… Sugeng siang..Rahayu..

  8. Permata Biru berkata:

    setuju sama artikel ini……..sejiwa ama saya tapi gak mau mantranya……..
    kanjeng Rosul ( allohumma sholi wassalim wabarik alaih ) mahluk paling mulia, masih diludahin masih dilempar kotoran onta, kotoran manusia, disambit pakai batu, diinjak kepalanya, ditinju pipinya patah giginya, di fitnah, diembargo ( isolasi ), di intimidasi, dicaci maki, saking laparnya perutnya diganjal pakai batu, saking gak punya makanan kurma setengah mateng + air putih yang sering masuk keperut beliau. rasanya semua penderitaan manusia pernah beliau alami.apakah hal tersebut mempengaruhi kemulian beliau ? tidak sama sekali. dan yang jadi pegangan utama beliau hukum Syariat ( fiqih ). karena hukum syariat akan membuat orang berahlak mulia. bagaimana dengan Ahlak kita ???

  9. Bambang Permadi berkata:

    Wa’alaikum Salam.

  10. santri alit berkata:

    Qobiltu

  11. Ki Ageng JJ berkata:

    rahayu 3x utk semuanya

  12. adi mamelsix berkata:

    ijin menyimak sekalian absen sore:)

  13. Ki Ageng JJ berkata:

    Salamun Qoulamir RobbiRrohiim…Hakekat insan adalah QOLBUNYA…Pantas Rasulullah Muhammad SAW berpesan pada kita bhw baik buruk insan tergantung kualitas QOLBUNYA maka WAJIB kita untuk menjaganya..membersihkan..merawatnya karena qolbu kita naik dan turun…Krn pengaruh nafsu kita…Hanya dg ALLAH kita bisa stabilkan menjadi QOLBU ISTIMEWA…dikala turun ada ALLAH dikala naik ada ALLAH…itulah sebagian dari makna SABAR dan SYUKUR…Selalu berfikir POSITIF…Selalu prasangka POSITIF…www.kiageng.co.cc

  14. Ki Ageng JJ berkata:

    alamun Qoulamir RobbiRrohiim…Hakekat insan adalah QOLBUNYA…Pantas Rasulullah Muhammad SAW berpesan pada kita bhw baik buruk insan tergantung kualitas QOLBUNYA maka WAJIB kita untuk menjaganya..membersihkan..merawatnya karena qolbu kita naik dan turun…Krn pengaruh nafsu kita…Hanya dg ALLAH kita bisa stabilkan menjadi QOLBU ISTIMEWA…dikala turun ada ALLAH dikala naik ada ALLAH…itulah sebagian dari makna SABAR dan SYUKUR…Selalu berfikir POSITIF…Selalu prasangka POSITIF…

    http://www.kiageng.co.cc

  15. Lintang sumirat berkata:

    Hadir…langsung nyruput kopi buatan @ki samber gledek…sruput…heem padang jagate…wuenak tenan kopine ki…

  16. Lintang sumirat berkata:

    Wis kadung tak ombe kopine malah ra enek wonge iki.@ki samber gledek…ki..!nak ndi wonge iki…

  17. wong bingung berkata:

    sungguh qolbu orang yang mencinta itu itu penuh.
    cinta hanyalah air mata, membuat hati gelisah pikiran bingung,
    cinta membuat orang seperti gila,
    ruh tak sanggup menanggung cinta.
    cinta adalah pengharapan yang tak kunjung selesai.
    cinta yang tampak dimata adalah semu.
    kematianlah jalan cinta

  18. ismaelsalim berkata:

    salamsalim,saya nrima persembahan kiageng .makaseh

  19. Joko berkata:

    Wah jd malu pd diri sendiri waktu baca artikel ini.

  20. agungs3dayu berkata:

    salam salim ki Alus
    ki Ageng mentyasih
    ki Sambergledek
    all sesepuh lainya
    ijin menyimak ngih…….

  21. ucup berkata:

    mantaafff…matur nuwun ilmunya Ki..

  22. imn22 berkata:

    Mantaappp dahh.”
    Salam Perseduluran untuk semuanya.”

  23. salamjagat berkata:

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Untaian pesan dan maknanya jelas, dari penjelasan tersebut. terlihat bagaimana tingkat kematangan hati. tetapi saya ga sependapat tentang rapal aji kasatrian, karena bertentangan dengan ulasan diatasnya. mhon ma’af atas kelancangan saya. karena judulnya tentang hati, maka yg menjawab juga hati saya.
    Terimakasih.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

  24. Abu Yahya berkata:

    mantap ulasannya

  25. assalamualaikum wr wb.
    nderek sinau mas
    smoga bermanfaat dunia akhirat
    wassalamualaikum

  26. herry surya berkata:

    Mbrebess mili moco tulisane….
    Makasih Ki….

  27. ainur berkata:

    Assalamu’alaikum wr wb
    Hadir nyimak.
    Ingin sakti ? Ini Senjatanya :
    1. Pelihara Lisan 2. Perbaiki Perbuatan
    Wassalamu’alaikum wr wb

  28. Ki Ageng Mantyasih berkata:

    Salam sungkem sedulur sedoyo,

    Ki Alus, Ki Samber Gledek, Ki Ageng JJ, dan Bolo Alus Sedaya.

    Maturnuwun atas komen-komennya.

    Mbabar sedikit rapal aji kasatriannya,

    Rapal pada lahirnya adalah untuk disebut dan dibaca berulang-ulang, pembacaan berulang akan mengendap ke dalam hati memengaruhi batin. Selain itu, secara makna, rapal sebenarnya mengandung ringkasan ajaran, pepeling, pesan, untuk di amalkan dalam laku perbuatan, semacam kode yang setiap unsurnya memuat rahasia-rahasia di dalamnya. Bisa dibuat mistik, bisa dianggap bait sajak, bisa dilihat sebagai rumus, dan bisa dimaknai doa, bisa juga dianggap biasa saja, tergantung kecenderungan masing-masing manusia.

    ingsun adalah sebutan untuk diri yang paling ‘diri’, amatek artinya sungguh-sungguh meniatkan, sepenuh jiwa, dengan seluruh totalitas batin, aji artinya pamor, potensi, karunia bawaan yang pada setiap manusia; kasatrian adalah watak mulia prototipe insan kamil yang memuat kejujuran, keberanian, keadilan, kepedulian, kesungguhan, ketulusan, ketekunan, dan perjuangan. Inilah pamor dan potensi utama manusia, aji yang sejati, sejatinya tuah. Pamor untuk menjadi satria, yang memimpin dirinya sendiri, yang memangku buwana, artinya memelihara kedamaian, berbuat ahsan di muka bumi, satria budhi, yang batinnya tercerahkan, satria rahsa, yang mampu melihat keterhubungan segala sesuatu sebagai keseluruhan yang tunggal, satria mijil, yang bertauhid dalam kemurnian, yun prakerti, kehendak segala macam perilakunya, yo satria mukti, yakni satria yang beruntung, mulia, yo satria wahyu, yakni satria yang berpegang kepada petunjuk Tuhan di dalam kitab teles maupun kitab garing, yakni ingsun diri yang benar-benar ‘diri’, satria kang mandhita, yang juga paripurna dalam watak pandhita yakni kearifan, kebijaksanaan, kerendahan hati, awas, waskitha, mampu melihat jauh ke depan artinya memperkirakan dengan kaidah sebab akibat, jati-jatining satria, itulah sebenar-benarnya satria.

    Mohon maaf, jika kurang berkenan. Sungguh senang rasanya, jika ada sesepuh yang mau untuk menambahi dan memperkaya babaran tersebut yang sungguh sangat terbatas.

    Sungkem paseduluran,

    Nuwun.

    mantyasih.

    http://www.mantyasihcenter.blogspot.com

  29. SABRANGLOR berkata:

    Trimakasih ki Ageng,di tunggu posting nya..

  30. SABRANGLOR berkata:

    ASMA SUNGE RAJAH VERSI JAWI Berhubungan dengan keikhlasan saya pernah mendapat ASR versi jawa dari guru saya,asma ini lebih menuju pada keyakinan dan keikhlasan dalam menjalankan RUKUN IMAN,yang mana apabila kita menghadapi masalah dengan sabar dan ikhlas ,kemudian kita mengadukan semua masalah kepada yg MAHA PENCIPTA ,insya ALLAH mendapat jalan keluar,dulu waktu mbabar mantra nya harus diluar rumah,dengan janji apabila berbuat maksiat zina maka badan luluh sepert air ,inilah mantra nya “AJAL JATI TURUTING IMAN IH RESANING ATI “

  31. Erbede berkata:

    Rahayu kagem Ki Ageng Mantyasih, Ki Alus, Ki Ageng JJ lan para sedherek boloalus sedaya.
    Mohon pencerahan ttg tatalaku dan cara merapal Aji Kasatriyan. Matur nuwun. erbede009@gmail.com

  32. eko berkata:

    postingan yang bagus sekali ki, terimaksih. semua uneg2 dihati terwakili sudah.

  33. manggoloyudo limo berkata:

    1 minggu tidak masuk kampus.. Ternyata udah bnyk dosen yg kasih pelajaran,wah ketinggalan ini..
    Langsung ndeprok glar tiker..nyimak pelajaran.. Salam karaharjan
    Salam Kwangen

  34. Wah, pembahasannya singkat, padat, jelas, dan to the point. Ijin mengamalkan doanya ya pak. Maturnuwun. 🙂

  35. Abinya Arsya berkata:

    test…
    mantrabz

  36. Pangeran brumbung berkata:

    Ikut nyimak…
    Jadi ingat pada pesan kitab Al-hikam…
    “KEKERAMATAN TIDAK MENJAMIN KESEMPURNAAN”
    monggo di lanjut lagi….

  37. R.Wijaya berkata:

    salam semua saya mau komen eh udach mau jum’at nanti sajalah he he he

  38. Mbah.POLLENG berkata:

    Kabeh meniko bener. Ning uripe uwong niku pemanggihan kaleh lelakone dwe dwe. Ingkang mawarni warni.

  39. Ki Arsali berkata:

    bener artikelna inget cek aki kula, bekel hirup jalma di dunya mah “jujur jeng bener” abdi sepakat ki ajeng……..salam takzim…

  40. aki-aki keren berkata:

    Izin nyimak dan keikhalasannya,untuk belajar atau mengamalkan apa yang ada di bolg ini. Trims. fatihah sent.

  41. aNz_ghestRo berkata:

    Assalamualaikum
    Indah tiada tara
    Tak ada bahasa
    Tak ada siapa
    Tak ada logika
    Yg ada hanya Rasa
    Ya Rasa Rasa dan Rasa
    Sudah bukan lagi
    Apa Kenapa dan Bagaimana
    Hanya kerinduan ku pada-NYA

    Wahai Dzat yg MAHA suci
    Kami Mohon Satukan Kami
    Dengan Utusan MU Yg Engkau Ridhoi

    Tiada sesuatu yg abadi
    Selain mengIKHLASkan diri pada-MU Yaa Ilahi Rabbi
    Segalanya Berasal dari Dzat-MU yang Maha Suci
    Dan kpd Dzat-MU lah jiwa kami kembali.

    Tapi apalah daya aku yg msh larut dalam Nafsu yg membara
    dan hina terbelenggu penyakit hati

    Dialah Tuhan yg MAHA SEGALA
    Aku hamba yg Hina

    Semoga Tuhan Mengampuniku
    Di Alam yg sementara ini
    Hanya Rahmat-Mu yg suci
    Yang Aku Ingini

    Rahayu Rahayu Rahayu
    Ni’matullah Rahmatullah

    wassalam

  42. edy h lubis berkata:

    i love you brader hu’allah…..hu’allah ….hu’ ya..allah…..,,,,,,,,,,,

  43. Tk Jengkol berkata:

    ….
    ….
    “…Jati jatining.. ” = kok arane podo karo Jati Rogo

  44. zuriat berkata:

    salam `alaina ya ibadillah

    yarabbi bi ikhlasi kholis qulubana minasyirka walishyani haqqan tahalashod

    mantap …………………………
    mantap………………………..
    mantap……………………….

  45. Gus Nur berkata:

    Assalammu’alaykum… salam rahayu pd smua, Subhanalloh semga hati ini yg merupakan singgasana Sang Maha Agung tetap di penuhi…Allah…Allah…Allah.. salam rahayu. nuwun. wassalam

  46. Banyubodas berkata:

    Asalamualaaikum wwb, slamat pagi poro dulur slamat beraktipitas.

  47. DeadMan KSIH berkata:

    aslm. izin nyimak….. mantapz….

  48. lombokeaster berkata:

    terima kasih ki

  49. cong kenik berkata:

    Absen siang …………sambil nyimak

  50. cong kenik berkata:

    beeeh….. pada kemana ……… nyimak terus

  51. bas pamungkas berkata:

    biar telat yang penting dapat…..alhamdulillah.nembah nuwun buat semuanya

  52. rifki berkata:

    gan ijin copy artiklnya wong alus solnya ini berguna gann

  53. rihlahrahmatullah berkata:

    Assalaamu’alaykum wa rohmatullaah..salam FULL KWAngeen kepada sedulur semuanya..semoga kita bisa FULL IKHLAS dalam beribadah, dalam berbuat kebaikan, dalam beramal dan dalam menjalani kehidupan ini yakni termasuk “Ibaadallahil mukhlashiin…aamieen. Maaf dan Nuwwuun

  54. kk berkata:

    assalamu’alaykum wr wb

    kulonuwun mbah,nderek nyimak njeh, maturnuwun.

  55. bagusatrio berkata:

    artikel nya kiageng sgt bagus.,…salam takdzim

  56. abahmano18 berkata:

    assalamualaikam wr wb
    ijn nyimak sambil meneko
    salam rahayu sentosa

  57. hamba berkata:

    assalamu’alaikum wr.wb mohon izn mngamalkan i pda yg mpunya ilmunya

  58. Rifky Winbastian berkata:

    salam silaturahmi..pembahasan yg menarik bagi saya, dan sangat mengena dihati. entah mengapa saya tertarik untuk membaca dan lansung bereaksi. salam kenal ki ageng, terima kasih dan ….semoga semesta selalu damai adanya. merdeka!

  59. agateszjovi berkata:

    Membaca artikel di atas membuat saya berfikir ulang tentang Ilmu.
    Namun, tetap saja hasrat diri tak bs dikalahkan.
    Nafsu adalah Raja, Akal adalah Prasangka, dan Hati adalah Istana. ^^

  60. Wong pegagan berkata:

    @Ki Ageng Maantyasih :
    Aki sangat beruntung diberikan ilmu yang tinggi, sehingga bisa membahas hal2 yang menurut kami yang bodoh ini sangat berguna…..
    Tetapi terkadang kita memang karena ketidak tahuan terhadap sesuatu makanya asal comot, pak turut, saya cuma baca sekilas….tentang pelet/pengasihan…
    Secara fakta sayapun sangat setuju dengan ente, karena belum pernah membuktikan dan terbukti ilmu pelet tersebut..hihihi…padahal udah banyk koleksi….tapi ki ada satu hal, terkait itu mo syirik dan melanggar syariah biasanya orang itu perllu bukti yang nyata makanya banyk yang nyoba ini dan itu termasuk saya….yang bodoh ini….
    Satu lagi, saya setuju klo kita dengan pasrah/nrimo atau ikhlas se ikhlas2nya, maka tidak ada yang bisa mengalahkannya??tapi tidak semua ORANG yang bisa seperti aki yang bisa ikhlas seikhlas2nya….karena klo kayak kami yang masih dhoif dan bodoh ini, mau ikhlas pada saat mo digigit anjing, kita ikkhlas??waahhhhhhhh…….mo dipukul orang kita cuma ikhlas?????????waduh????
    Saya pernah denger nabi mengatakan ikhlas boleh setelah berusaha???karena pelet salah satu usaha??ASAL doa peletnya minta ame Tuhan bukan ame khodam (yang ntuh aye setuju pendapat aki)…..tapi pelet itu tidak beradab dan tidak sopan itu tergantung dari pengguna??dan yang bertanggung jawab si pengguna??hihii
    udah akh…semakin banyk ngomong semakin kagak ngerti gw….
    ok ki, senang berkenalan dengan aki…terimakasih share nya…met puasa….
    klo aki ada pencerahan buat ane…kirimi email ke ini mashill.palembang05@gmail.com…..ya ki ditunggu….wassalam

  61. ahmad berkata:

    qobiltu mohon izin untuk mengamalkanya

  62. mas choliq berkata:

    qobiltu mohon izin untuk mengamalkanya

  63. sujiwo edan berkata:

    mf buat sedulur wong sabrang lor..kynya it bkn asr versi jawa..tapi asma benggolan…sy jg prndah dpt ilmu tsb dri abah kyai ahmad jazuli di lenteng sumenep..beliu skarang dah almarhum…tp trs terang ilmu tsb telah hilang…utk saudara2 sesepuh kwa..mhn d tgu ilmu hikmah yg membahas ilmu insan kabir..yg mana khasiatnya di atas asr..maupun lanang sejati..dan buat w sabrang lor mhn di beberkan asma tsb tata lakunya..biar klo ada saudara2 kita yg lain bs mengamalkannya..

  64. deling jati berkata:

    matur kesuhun ki, tulisannya mantap bagus banget. mohon do’anya ki……..amiin

  65. lanange jagad berkata:

    hadir

  66. zizo syafii berkata:

    subhanalloh………

  67. afizan rahmat berkata:

    Assalamualaikum.
    KI AGENG

    Mohon izin mengamalkannya.

    AL-FATIHAH

  68. cah_ndeso berkata:

    matur nuwun sudah tak amalkan dan hasilnya.. maknyus…mudah2an bermanfaat amin..

  69. edwin silitonga berkata:

    Mohon sedulur sekalian bisa memberitahu blog apa saja yg bisa semakin membulatkan tekad hati untuk noto roso. Saya lgi sdg dlm proses, masih butuh byk bimbingan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s