wongalus

wongalusJAGONGAN ALIAS NGOBROL RINGAN ANTARA SAYA (WONGALUS) DENGAN SAHABAT SAYA, MAS KUMITIR, KETIKA DIAJAK OLEH SEORANG SESEPUH PADEPOKAN HERBAL KE SEBUAH CAFE DI MALL DI WILAYAH KOTA SURABAYA. TIDAK SEPERTI BIASANYA, KALI INI MAS KUMITIR MEMAKAI KOPYAH DAN TERLIHAT ISLAMI. GANTENG BERSERI.  

Wongalus: Kita ini kok sering mengalami hal seperti ini mas… kabur kanginan. Kita nggak punya rencana ke sini kan?, niat kita cuma menemani sesepuh tersebut.. eh kok akhirnya duduk di cafe ini, berjam-jam tanpa ada kepastian mau apa dan kenapa disini….

Mas Kumitir: Seperti hidup kita, tidak pernah berniat lahir tapi kita dilahirkan. Tidak punya keinginan menjadi laki-laki atau perempuan tapi kita diberi jenis kelamin laki-laki. Memang semua ini pemberian sehingga diterima saja apapun itu..

Wongalus: Wajib disyukuri kalau begitu ya.. Apapun pemberian, baik atau buruk tentu saja ada tujuan di baliknya yang perlu kita yakini dan imani. Tidak mungkin kita diciptakan tanpa ada tujuan. Insinyur saja menciptakan sesuatu pasti ada tujuannya.

Mas Kumitir: Benar. Masing-masing orang memiliki keyakinan yang tidak bisa didebat. Benar dan salah, baik atau buruk, indah dan tidak indah pada akhirnya ada dalam keyakinan di hati. Tolok ukurnya adalah hati nurani masing-masing karena hati nurani dalam maknanya yang batin sesungguhnya adalah kitab yang hidup.

Wongalus: Sepakat… untuk meraih keyakinan sampai benar-benar yakin, tentu membutuhkan proses yang panjang. Tidak sekali atau dua kali momentum saja dilatih namun sepanjang hayat keyakinan kita akan terus berproses. Keyakinan itu adalah sintesa dari tesa dan antitesa yang berlawanan. Sintesa akan menjadi tesa dan ada antitesa baru, hingga menjadi keyakinan baru lagi. Begitu seterusnya sampai akhir hayat, keyakinan akan terus berkembang…

Mas Kumitir: Makanya yang lebih pas sesungguhnya semua itu proses. Seorang biasa yang sangat sangat biasa seperti kita— wong cilik menthik lungguh dhingklik oklak aklik—atau kah para saudara kita yang memiliki maqom ustadz, kyai, aulia, wali dan nabi pun terus berproses sampai akhir hayat mereka. Ada perang suci, jihad akbar, di dalam dirinya, peperangan abadi antara baik atau buruk, benar atau salah, indah atau tidak indah, dan itu adalah perjuangan yang tiada pernah selesai, unfinished process

Wongalus: jadi pada hakekatnya semua ini adalah laku. Tidak ada orang yang tidak laku. Jadi tidak pas bila dikatakan laku itu hanya mereka yang bertapa di hutan atau di dalam gua. Saya, anda, dan juga semua sedulur pembaca KWA atau yang tidak sedang membaca, semua sedang bergulat dan bergelut dengan kehidupannya sehari-hari

Mas Kumitir: Inti, substansi, isi dari bertapa itu apa? Itulah yang harus diketahui. Sebenarnya laku bertapa itu kan memenej keinginan dan menyatukan antara ucapan, rasa batin dan tindakan agar benar-benar menjadi satu… Ngesti ke satu titik….pembulatan rasa… Simbol dari Bima (Werkudara) yang berperang dengan hawa-hawa nafsunya sehingga bertemu dengan diri sejatinya yang disimbolisasikan dengan meminum air perwitasari.

Wongalus: Siapa sebenarnya werkudara? Dalam perwayangan disebutkan dia adalah adalah anaknya Pandhu Dewanata dan Dewi Kunthi yang nomer dua. Sebetulnya werkudara ini titisan dari Bathara Bayu. Dia merupakan salah satu dari pendawa lima. Memiliki jejuluk Bratasena, Bimasena, Haryasena, Bayusiwi, Jagal Abilawa, Kusumadilaga, Jayalaga. Merupakan kesatria Jodhipati atawa Tunggul Pamenang. Monggo dilanjut mas…

 Mas kumitir: Begitulah… bima memiliki tiga istri tiga yaitu Dewi Nagagini, Dewi Arimbi, dan Dewi Urangayu. Bersama Nagagini melahirkan Antareja, dengan Arimbi mendapatkan Gatotkaca, dengan Urangayu punya anak yaitu Antasena. Dia punya pusaka kuku pancanaka, gada rujakpala, dan gada lambitamuka.  Ajiannya adalah Bandung Bandawasa, Ungkal bener, Blabag Pangantol-antol, Bayu Bajra.

 Wongalus: Semua senjata, aji-ajian yang kamu sebutkan tadi sesungguhnya penuh simbol mas. Monggo dilanjutkan…

Mas kumitir: Bima lahir dalam wujud terbungkus seperti telur. Semua senjata tidak bisa untuk membukanya. Yang bisa membedah hanya Gajah Sena. Habis dibedah, Bratasena ini dinjak-injak oleh gajah ini. Tapi aneh bin ajaib malah sang bayi tambah besar. Lantas gajah ini ditusuknya pakai Kuku Pancanaka hingga tewas dalam sekejap mata dan nyawanya bersatu dengan Bima.

Wongalus: Kita semua mengetahui bahwa perwatakan Bima ini adalah penggambaran sifat yang perlu dimiliki setiap pejalan spiritual yaitu: yang apa adanya, opo anane, jujur, tidak banyak topeng. Nah, penggambarannya Bima ini tidak bisa tata krama secara halus, siapa saja disapanya dengan bahasa jawa kasar kecuali dengan Sang Hyang Wenang dan Dewa Ruci.

Mas kumitir: Walaupun begitu, dia punya sifat setia, loyal dan hormat kepada guru, berbakti kepada ibunya, dan selalu menepati janji. Watak setia kepada guru ditunjukkannya ketika dia diutus oleh guru Durna untuk mengambil air suci tirta mahening suci, atau tirta Perwitasari di tengah samudera. Karena kesetiaannya pada sang guru, semua halangan dan perang dijalaninya dengan teguh, dan mendapatkan anugerah bertemu dengan sang guru sejati, aku sejati yang wujudnya adalah dirinya sendiri namun kecil yang dikenal dengan sebutan Dewa Ruci…

Wongalus:  Kisah perwayangan menyebutkan tanda bakti kepada sang ibu ditunjukkan dengan mengalahkan Dursasana, darahnya untuk keramas rambut Ibu Dewi Kunthi. Hal ini karena karena Dewi Kunthi pernah diganggu Dursasana. Selain itu dia juga cinta pada saudaranya. Akan tetapi jika keluarganya yang salah dia juga akan menghukumnya, seperti Gatotkaca yang dihajar oleh bapaknya. Di perang Bharatayuda, Bima jadi jagonya para Pandawa. Dia bisa membunuh Dursasana, Sengkuni, dan Duryudana. Sesudah perang, Parikesit naik tahta, dia bersama Pandawa lainnya meninggal bersama-sama…Menarik sekali mempelajari Bima, bagaimana sejatinya perwatakan yang harus dimiliki seorang pejalan spiritual.

Mas kumitir: Ya, bukankah kita semua pada diri sendiri sesungguhnya tidak bisa berbohong dan apa adanya.  Kita bisa berbohong pada siapapun namun tidak bisa berbohong pada diri sendiri. Hanya ada KEJUJURAN bahwa hati nurani kita sebenarnya adalah tolok ukur. Kita bisa mengetahui benar dan salah, kita bisa mengetahui isi batin kita dan ke arah mana tujuan hidup sejati kita.

Wongalus: bagaimana bila hati nurani kita buram sehingga fungsi al furqan (pembeda) di dalam hati tersebut tidak berfungsi alias macet mas?

Mas kumitir: itulah fungsi dan manfaat dari laku bertapa dalam maknanya yang substansial. Kita berlatih mengendalikan diri, mengendalikan keinginan, mengendalikan hawa nafsu. Hawa nafsu itu ibarat kuda, kita perlu memegang tali kendali sehingga laju kuda akan sampai pada tujuan dengan selamat. Hati nurani yang terbiasa diasah dan dibersihkan akan lebih jernih dibanding yang tidak pernah diasah.

Wongalus: kendali kita adalah tiga senjata yaitu akal pikiran dan juga senjata kepasrahan serta senjata keikhlasan. Sekuat godaan apapun kalau manusia masih menggunakan akal sehat, ditambah kepasrahan dan keikhlasan maka insya allah dia masih bisa bertahan.

Mas kumitir: saya rasa akan lebih lebih berat bertapa di mall seperti sekarang ini daripada di hutan belantara atau di gua yang tidak ada godaan. Dalam TAPA NGRAME, godaan tidak hanya dari dalam diri tapi ada stimulus dari luar yang sangat kuat. Hidup bersama saudara-saudara yang punya haluan dan ragam macam kehendak dan keinginan. Bila kita punya niat menuju tujuan tertentu, bisa dengan mudah berbelok ke arah lain. Apalagi kita laki-laki, makhluk visual dan wanita adalah makhluk auditori dan kinestetik. Keinginan akan cepat muncul karena stimulus dari luar merangsek memenuhi aliran darah.

wongalus2Wongalus: Seperti Arjuna yang sedang bertapa di gunung Indrakila. Namun, sebelum Arjuna dijadikan perwakilan para dewa untuk mengalahkan raksasa penghancur surga yang bernama Niwatakewaca, dia harus diuji sebelumnya dengan berbagai godaan. Arjuna digoda oleh tujuh bidadari, di antara mereka adalah Tilotama dan Supraba. Mereka diperintahkan untuk menguji Arjuna dengan menggoda dan merayunya.

Mas kumitir: ya… tujuh bidadari perlambang tujuh hijab langit itu turun ke bumi dan menuju gua itu untuk menggoda Arjuna. Berbagai cara digunakan oleh para bidadari tetapi tidak ada satupun yang berhasil menggoda tapa sang Arjuna. Kemudian para bidadari kembali ke surga dan melapor pada Indra bahwa mereka gagal. Kegagalan para bidadari tersebut tidak menjadikan para dewa sedih, melainkan para dewa bahagia karena Arjuna memang adalah manusia terpilih. Kemudian Indra turun dari surga menuju tempat Arjuna. Indra menjenguk Arjuna dengan menyamar menjadi orang tua yang bijak. Orang tua itu disambut dengan penuh hormat oleh Arjuna. Mereka pun berbicara panjang lebar dan terpaparlah suatu uraian mengenai kekuasaan dan kenikmatan dalam makna sejati.

Wongalus: Yang saya ingat bahwa ketika itu Arjuna diwejang tentang kesejatian…. bahwa surga adalah kebahagiaan sejati…. sedangkan kekuasaan dan nikmat di dunia itu hanyalah semu, karena bersifat sementara. Arjuna yang sudah bertapa tentu sangat waskita dan memahami akan hal yang dipaparkan oleh penyamaran Indra itu, dan tujuan dia bertapa karena ingin memenuhi kewajibannya selaku ksatria serta membantu kakaknya, Yudhistira untuk merebut kembali kerajaannya demi kesejahteraan dunia.

Mas kumitir: Akhirnya….. Arjuna berhasil mengalahkan para raksasa kemudian diberi hadiah oleh Dewa Indra untuk menikmati surga beserta bidadari-bidadarinya. Namun, Arjuna memikirkan saudara-saudaranya yang berada di hutan pengasingan. Kemudian dia memohon kepada Indra untuk berangkat pergi menemui saudara-saudaranya para Pandawa. Kepergian Arjuna kembali ke tempat asalnya ditangisi oleh para bidadari-bidadari yang ditinggalkannya. Tapi tangisan mereka tidak membuat Arjuna lemah, dia tetap pada tekad dan niatnya melanjutkan hidupnya.. memenuhi DHARMA sebagai seorang ksatria.

Wongalus: Oke mas eyang, monggo disruput dulu kopinya… ntar keburu dingin….

Mas kumitir: monggo mbah….

@wongalus,2013

Iklan