SEPOTONG FRAGMEN DARI SEBUAH MILAD (2)


OLEH KI JURU SULING

Dan Mereka Pun Berbagi

Cepuri, ba’da isya. Lapangan pendopo barat mendadak ramai. Proses hitung poin selesai. Para peserta terklasifikasi untuk konsultasi atau pengijazahan. Lokasi untuk kegiatan itu sudah ditentukan oleh panitia. Kegiatan ini digelar secara bergilir karena tenaga dan tempat untuk pengijazahan sangat terbatas. Kegiatan pengijazahan ini juga diselingi oleh pembagian door prize sebagaimana yang dijadwalkan.

Adapun ilmu atau doa yang diijazahkan cukup “seram” juga. Untuk poin paling rendah (200) doa yang diijazahkan salah satunya adalah ASR Madura Utara. Semakin tinggi poin yang didapat semakin tinggi pula energy doa yang diijazahkan.

Dilihat dari jumlah peserta pengijazahan beberapa jenis doa menjadi favorit peserta, tengok saja seperti Ngrogo Sukmo atau Harimau Kelud. Penerima ijazah berbaris berbanjar-banjar, berteriak sesuai dengan permintaan pengijazah. Peserta berperan aktif dan seperti tidak punya lelah setelah kegiatan siang panjang.

Sementara peserta yang belum gilirannya duduk tenang dipendopo.

Waktu merangkak menuju tengah malam. Pengijazahan selesai dan peserta berbaris menuju tepi pantai, wisata alam ghaib dan ini adalah Parang Kusumo, pantai kental mistis yang dipercaya gerbang istana Laut kidul.

Peserta duduk berbanjar tiga memanjang menghadap pantai. Pasir basah oleh hujan tadi sore. Barisan berjarak + 50 meter dari garis ombak  yang semakin naik. Pukul 00.30 acara dimulai, panitia melingkar mengelilingi peserta sementara Ki Erik Widodo Pati dan Ki Arya Sidoarjo memulai sebuah ritual doa.

“LA TUDRIKUHUL ABSORU WA HUWA YUDRIKUL ABSORO WA HUWAL LATIFUL KHOBIRU”

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui….

kami tunduk, takluk, bersimpuh, menyerah dan pasrah pada-Mu wahai Dzat pemilik segala Maha, pemilik segala Nama. Dzikir : Ya Khobir, Ya Khobir, Ya Khobir, Ya Khobir, Ya Khobir.

Buka mata. Tutup mata. Tetap berpegang pada dzikir. Menggenggam Asma-Nya. Menjejak Cahaya-Nya.

Buka mata. Tutup mata. Merasakan kesadaran yang membumbung tinggi kemudian menukik dan meghujam ceruk kelam dalam negeri antah berantah. Menjadi tamu “mereka” atau tamasya dengan mata batin yang runcing.

Buka mata. Tutup mata. Dzikir. Rasakan. Lihat.

Air laut merayap mendekati peserta. Sudah satu jam setengah kami bertamasya. Saatnya pulang dari alam sunya ruri ke kesadaran kamadatu. Buka mata, saudara-saudara dan ucapkan tasbih lengkap. Acara selesai.

Saat para peserta berjalan pelan menuju pendopo Cepuri, sesuatu terjadi. Seorang peserta perempuan terkapar kemudian meronta berkeras menuju tengah laut “kesana, kesana” sambil tangan menuding tengah samudera Hindia. Agak kerepotan juga mencegah tenaganya yang mendadak perkasa itu. Namun peristiwa ini tidak berlanjut lama, Pak Sujono turun tangan dan semua kembali normal.

Uap embun pagi mulai terhirup.

SENDRATARI CAH BAGUS

Balung pakel duh mbok gunung

 teja bengkok nginum warih

 sn puwung rabiya kadang

 dadi lok-ing wong sabumi

 rejasa kang mimba warna

 sun temah dadiya krami

Gatot Kaca bersyair nyaring. Dia jatuh cinta. Merayu Pergiwa di suatu taman anta berantah. Ia tidak peduli dengan suasana yang tengah terjadi. Beksan dan tetangkasannya boleh juga walaupun Gatot Kaca yang satu ini hanya pakai kaos oblong, celana pendek, bersandal jepit dan selembar kain selempang bahu.

Pergiwa juga tak kalah tengil. Dengan berpakaian seadanya duduk bersimpuh tidak bergeming mendengar tembang itu.  Terkadang ia tersenyum kecil mencibir. Gatot Kaca yang sedang kasmaran berat tidak peduli dengan sikap pergiwa-nya. Ia tetap saja menari dan menembang. Menembang dan menari. Kain selempangnya seperti sampur mobat-mabit.

Terus terang saya menikmati tontonan dadakan itu. Teriakan Ki Arya tidak saya dengar. Ditengah gumpalan energi yang terkumpar dari doa dan pusaka dan mantera itu “sendratari” dari dua orang yang “dianugerahi” ini lumayan menghibur. Kiranya bukan saya saja yang tersihir. Wajah-wajah yang hadir di pendopo  timur itu mufakat tanpa musyawarah mentelengi kiprah mereka berdua. Masing-masing punya persepsi dalam menyikapi pertunjukan ini.

Lagu yang bercerita tentang rayuan Gatot Koco pada Pergiwa ini memang tidak muncul dari peserta. Benar, Para pembaca, penari yang saya maksud ini adalah Cah bagus dengan sejawat perempuannya. Cah Bagus sedang meng-nggandrung-nya. Mondar-mandir dengan langkah tertata. Menjauh mendekat. Perputar bergelung dengan tatapan sinis sebagian penonton. Kemudian Gatot Kaca meminjamkan sandal jepitnya pada Pergiwa dan menarik tangannya.

Penonton terkesiap tegang. Wah, Gatot Kaca mau berbuat yang bukan-bukan pada Pergiwa.

Ketika birahi Gatot kaca sudah diubun-ubun para penonton pada meneriaki mereka. Pergiwa pergi kearah timur membawa rasa malu. Gatot Kaca yang merasa kehilangan Pergiwa-nya ribut dengan seorang ibu penonton. Si ibu mengancamnya akan menjepretnya dengan karet gelang jika pagelaran dadakan ini dilanjutkan. Gatot kaca merasa Ngeri juga. Daripada kena jepret karet gelang dia beranjak mencari Pergiwa. Pagelaran bubar tanpa tancep kayon.

Pangapunten, mohon maaf, tidak ada maksud saya untuk mengistimewakan mereka berdua dalam hal ini. Peristiwa ini tidak ada kaitannya dengan konteks kegiatan milad dan kesibukan panitia yang menghitung poin di pendopo barat tetapi ini adalah peristiwa yang sempat mampir dalam ingatan saya. Jika ada sebagian pembaca tidak berkenan silahkan hapus tulisan ini.

Cinta atau nafsu yang mengkabut pada Cah Bagus? Sementara dalam kasus ini demarkasinya adalah tingkat kewarasan pikiran seseorang yang kadang Cuma selisih serambut dengan kegilaan. Ah, bukan keahlian saya menjawab itu, hanya ada bisikan lirih dalam nurani saya: Tuhan yang Maha Adil memberi juga rasa itu pada semua mahluk, termasuk pada Cah Bagus tokoh yang sudah diceritakan diatas.

CINTA DALAM SEKARUNG BERAS

(KISAH MESRA KANG SIGIT DAN YUK NGADIYEM)

Simbol kemesraan bisa apa saja, bunga, puisi ataupun beras. Namun cara menyampaikan kemesraan harus dipelajari karena itu juga bentuk keintiman sendiri. Masih dalam wilayah kegiatan milad, ijinkan saya mengangkat cerita kemesraan dua anak manusia lantaran beras.

Kang Sigit dan Yuk Ngadiyem adalah dua sosok yang berbeda asal yang di disatukan tuhan dalam sebuah kejadian. Ibarat pepatah Kang Sigit dari Sidoarjo dan Yuk Ngadiyem dari Jogja bertemu di karung beras. Karena sekarung beras itu juga status mereka berbeda, yang satu menjadi penderita dan lainnya menjadi obyek penderita kawan-kawannya.

Peristiwa ini terjadi setelah kami dari Panti Asuhan Miftahul Jannah.

Seandainya saya ada kesempatan interview dengan Yuk Ngadiyem, bisa jadi inilah penuturannya:

“ Kalau melihat condong matahari saya tahu ini sekitar jam 10 pagi. Saat-saat seperti ini kegiatan saya adalah nginang (mengunyah sirih) sambil duduk bale bambu di depan rumah. Di dekat pertigaan beberapa orang bergerombol di dekat sebuah mobil. Saya tidak tahu pasti siapa mereka dan apa yang dikerjakan.

Dua orang memasuki pekarangan saya. Salah satunya menggendong sekarung beras sementara lainnya tidak membawa apa-apa. Saya waspada, wong tidak satupun dari mereka yang saya kenal, kog beraninya mereka menginjak pekarangan saya. Sesampai didepan saya, orang yang membawa beras mengatakan bahwa beras sekarung ini milik saya, buat saya. Saya kaget dapat beras itu. Nah, Belum sembuh kaget saya dan “huugghh”beras ini ditaruh dipangkuan saya. Ampun gusti….ini orang apa tidak lihat saya ini usianya berapa kog naruh beras tidak kira-kira. Apa sangkanya saya ini seusia dia yang masih kuat mengangkat beras berapapun beratnya. Nafas saya sampai tersengal-sengal.

Ini anak-anak kampung mana punya kelakuan seperti itu. Umpama waktu itu saya lepas sendi atau kursi saya patah, apa saya tidak jatuh ditimpa beras. Apa mereka mau tanggung jawab, terutama itu yang meletakkan beras itu!

Seandainya didekat saya ada bambu pikulan ingin saya ambil pikulan itu. Bukan, bukan untuk angkat beras tapi buat ketok kepala mereka semua.”

Saudara-saudaraku, itulah peristiwa beras yang diperankan Kang Sigit dan Yuk Ngadiyem. Kejadian ini tidak bisa dilupakan oleh pemberi atau penerima beras, juga oleh kami, para saksi peristiwa itu.

Sepanjang jalan kami membicarakan masalah itu. Konferensi dadakan dengan tema TRAGEDI PAK SIGIT DAN NENEK NGADIYEM digelar tanpa moderator tanpa undangan.  Kesimpulan paten: Pak Sigit adalah tersangka, titik! Namanya juga konfrensi insidentil, walaupun kesimpulan sudah jelas masih ramai juga oleh analisa, Geremengan, gugatan, hujatan hingga saran agar si tersangka membaca istighfar dalam perjalanan pulang dari Jogja sampai Sidoarjo.

Dan gugatan tetap meluncur seperti tanggul jebol. Ki Anya mengusulkan pada foto tersangka di blok hitam pada mata. Wak Kasan berpendapat agar sedulur Jogja aktif monitoring kondisi kesehatan Nenek Ngadiyem. Mas Takiyan Jogja usul agar pulang melewati jalan tikus saja demi keselamatan Pak Sigit.

Pak Sigit bergumam “habis dah,”.

Tancep kayon

Jangan coba-coba cari sakti disini, kata Ki Wong Alus pada saya pada suatu ketika. Karena kita tidak punya itu. Kesaktian hanya milik Tuhan dan diserahkan pada manusia yang dikehendaki-Nya. Manusia yang bisa mempertanggungjawabkan kekuatan itu pada sesama mahluk dan kepada-Nya. Kesaktian lebih gampang menelikung kita pada kesombongan dan riya’. Karenanya keangkuhan hanya membuat jiwa kita sungsang.  Itu gerbang dari kehancuran. Karena kekuatan yang berjalan tanpa kontrol akan cenderung binasa dan membinasakan.

Kita tidak punya satu apapun, bahkan sehelai rambut. Sujud adalah pengakuan itu, ketika sejajarnya kepala dengan tapak kaki. Organ yang kita anggap mulia dan kita anggap hina sama rendahnya. Kita yang mahluk compang camping ini hanya punya hak bernafas dan ibadah, itupun atas kehendak-Nya. Segalanya akan dimintai tanggung jawab, termasuk penggunaan nafas kita.

Ki Wong Alus melanjutkan, Tuhan menyediakan ribuan jalan untuk umat yang ingin mendekati-Nya. Dan yang kita lakukan tidak lebih meniti salah satu jalan itu untuk kembali pada upaya menata ulang ibadah kita. Belajar menjadi manusia yang berbakti pada-Nya dan berguna bagi mahluk-mahluk-Nya. Karena kita adalah mahluk yang sudah dibai’at untuk belajar sampai terpisahnya sukma dengan raga. Setiap detik kita menjejak El-Maut.

Sekali lagi, tahapan kita baru belajar. Ilmu Tuhan sangat luas untuk dipelajari, terbumbung pada debu, terkobar pada api, terjejak pada tanah, terhembus pada angin, termenung pada gunung, tersinar pada cahaya, terkelam pada gelap, pada lancip ombak samudera, daun yang melayang, patahan ranting.

Sang Guru Yang Maha Bijaksana telah menggariskan cara belajar tanpa pernah sekalipun ayat-ayat-Nya menyalahkan manusia. Kesalahan adalah sesuatu yang telah melekat pada manusia seumur hidup. Dan Sang Guru telah membuat pula koridor untuk memperbaiki kesalahan itu. Marilah kita berderap dalam khusuk belajar dan meminta ampun.

Belajar untuk menjadi benar tanpa berupaya mencari cacat pihak lain. Karena tak elok jika kita menyalahkan orang lain. Benar atau salah biarlah ditentukan oleh Hakim Yang Maha Adil.

Percakapan berakhir. Ki Wong Alus menuju Cepuri. Cakrawala dan samudera dan garis ombak menantang untuk menggerus aus takaburnya manusia. Menjolok mata agar ingat akan bagian tubuh yang bernama tapak kaki.

Dan Parang Kusumo masih menyatu dalam debur ombak abadi.

Tanah Jenggala, 29 April 2014

Ki Juru Suling

Iklan

12 pemikiran pada “SEPOTONG FRAGMEN DARI SEBUAH MILAD (2)

  1. wah kapan ya saya bisa diajar ki suling? ki suling ilmunya dahsyat, bisa saya rasakan di tiap jengkal kata yang disampaikan. nuwun

  2. o ya.. ki suling itu saya ingat persis saat acara milad kemarin.. yaitu nomor tiga dari kiri di foto banner blog kwa. salam salim ki………rahayu rahayu rahayu

  3. jadi kepincut nich dgn acaranya, moga 2 milad tahun depan sy bisa ikutan..hahaha, aminn..alfatihah send to para sesepuh kawa

  4. Di saat saya selesai Uluk Salam ada Seuntai Bunga Melati tepat di depan 7 Dupa yg saya tancapkan.

  5. mantap milad kwa ke 5
    salam salim poro sepuh,
    mhn mf sebelumnya, sy usul setiap acara milad/acara lain, pengizasahan umum peserta yg dtng dari berbagai daerah, patut di hargai kehadirannya dlm partisipasi milad , , , peserta pastilah penginginkan amalan/pengizasahan gratis (inilah magnetis kwa), , , hrpn sy sistem point bs di hapus di genti donor darah/sukarela dan kurve kebersihan lingkungan, , ,
    selanjutnya pengizasahan umum , , , tutor & prktek , , , dilakukan scr terjadwal di umumkn kpd peserta , , ,
    jdi peserta & panitia lbh enak, enjoy, akrab & saling bersilahturohmi
    bagaimanapun juga kwa bnr2 spektakuler , , ,
    salam rahayu

  6. Coba terawang deh,stiap mengamalkan sesuatu ko. Jarang berhasil,…ada apa ya di diri saya ? ? ? …amalan baca !, milad ke5 ikut !.ijasahan ikut!…makasih sebelumnya..

  7. Ping balik: SEPOTONG FRAGMEN DARI SEBUAH MILAD (2) - UratMaluUratMalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s