SIAPA PUN PRESIDEN KITA NANTI…


wongalus

Sapa sapa wong kang gawe bécik, Nora wurung mbenjang manggih arja, Tékeng saturun-turune. Yen sira dadi agung, Amarintah marang wong cilik, Aja sédaya-daya, Mundhak ora tulus, Nggonmu dadi pangauban. Aja nacah, marentaha kang patitis, Nganggoa tépa-tépa.

(Barang siapa yang berbuat baik, Tiada urung kelak menemui bahagia, Sampai kepada keturunan-keturanannya, Jika kamu manjadi orang besar. Memerintah orang kecil, Jangan SEMENA-MENA dan wajib bersikap tulus. Kamu menjadi pelindung sehingga jangan sembarangan memperlakukan mereka, perintahlah yang tepat dengan perkiraan yang tepat).

Sepertinya nasihat Ki Ageng Sela itu lebih cocok untuk para Presiden yang nanti terpilih dalam Pilpres 2014. Siapapun sosok yang nanti jadi pemimpin negara, bagi saya pribadi nggak penting-penting amat. Saya menilai orang bukan pada sosoknya, bukan pada namanya, bukan pada prejengannya, bukan pada penampilanya, bukan pada citra-citranya, bukan pada kulitnya, bukan pada janji visi misinya, tapi pada KENYATAAN NANTI SETELAH TERPILIH DIA WAJIB BISA MENUNAIKAN HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA REPUBLIK INDONESIA UNTUK MENGAMALKAN PANCASILA SECARA MURNI DAN KONSEKUEN.

Saya tidak pernah menawar berapa nilai kebenaran dari Pancasila. Kalau yang lain barangkali hanya meyakini benar sekian puluh persen, maka saya berani bertaruh seratus persen! sebuah ideologi yang paling pas dan cocok untuk warga bangsa Indonesia.

Sejarah telah menguji Pancasila. Sebuah ideologi terbuka yang kenyal dan ampuh menghadapi ragam macam masalah bangsa. Jangan pernah ragu-ragu terhadap Pancasila: yang awalnya berasal dari “wisik” atau “ilham” yang diterima oleh para leluhur kita… Mr Muh Yamin, Ir Sukarno, 73 tokoh BPUPKI, 27 tokoh PPKI,….. mereka ini adalah sosok-sosok yang dipilih Allah SWT.

Simaklah para sedulur semua, mantra sakti bangsa Indonesia yang bernama PANCASILA itu:
1. KETUHANAN YANG MAHA ESA,
2. KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB,
3. PERSATUAN INDONESIA
4. KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN PERWAKILAN
5. KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA.

Betapa dahsyat energi yang terkandung di dalamnya. Setiap sila bermuatan beribu ratus kemuliaan yang tiada berhingga dimana sila pertama menjadi dasar pondasi yang kokoh sila kedua, sila kedua menjadi dasar pondasi yang kuat sila ketika dan seterusnya sehingga akhirnya terwujud suasana dimana setiap warga negara merasakan keadilan sosial, maknanya jelas kita semua sejahtera yang berkemakmuran lahir batin.

Tidak salah kiranya bila Pancasila tetap harus dijadikan dasar negara, dihayati dan diresapi serta terus menerus dijadikan dasar norma dan nilai, serta nafas setiap penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila adalah nafas kita! Maka jangan pernah meninggalkan nafas kita sendiri yang berakibat kita nanti kehilangan jati diri kita sebagai warga Indonesia.

Pengembangan setiap ilmu pengetahuan dan teknologi serta perkembangan peradaban yang akan dibentuk bersama di negeri ini, haruslah berada dalam koridor Pancasila sebagai ideologi terbuka. Monggo disimak isi Pancasila sebagaimana yang pernah dijadikan terjemahan wajib era Presiden Soeharto. Insya allah semuanya bertabur kemuliaan….

1. Ketuhanan Yang Maha Esa

(1) Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketaqwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
(2) Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
(3) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
(4) Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
(5) Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang
menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
(6) Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.
(7) Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab

(1) Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
(2) Mengakui persamaan derajad, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturrunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.
(3) Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
(4) Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
(5) Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
(6) Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
(7) Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
(8) Berani membela kebenaran dan keadilan.
(9) Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.
(10) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.

3. Persatuan Indonesia

(1) Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
(2) Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.
(3) Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
(4) Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.
(5) Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
(6) Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.
(7) Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.

4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan

(1) Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama.
(2) Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
(3) Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
(4) Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
(5) Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.
(6) Dengan i’tikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.
(7) Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
(8) Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
(9) Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.
(10) Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan.

5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

(1) Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
(2) Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.
(3) Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
(4) Menghormati hak orang lain.
(5) Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.
(6) Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain.
(7) Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah.
(8) Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum.
(9) Suka bekerja keras.
(10) Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.
(11) Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.

Tidak ada yang keliru bukan? Di setiap suku, agama, ras, antar golongan masyarakat, Pancasila bisa diterima dengan akal sehat. Orang di pedalaman Kalimantan atau Papua maupun orang yang ada di ibu kota membutuhkan Pancasila karena setiap orang harus hidup bermasyarakat…. Nah, sekali lagi kita bicara dalam konteks berbangsa bernegara, bermasyarakat, konteksnya itu… bukan dalam konteks keyakinan individual.

Jadi PANCASILA BUKAN AGAMA! Jangan disamakan dan tidak pada tempatnya untuk membanding-bandingkan. Agama urusannya pada domain keyakinan individual. Pancasila itu aturan-aturan bermasyarakat yang telah disepakati bersama oleh setiap orang di Indonesia untuk hidup secara damai dan aman tenang tentram namun sekaligus bertujuan mulia; mewujudkan negara bangsa Indonesia.

PRESIDEN KITA NANTI WAJIB MEWUJUDKAN PANCASILA SEBAGAI PANDANGAN HIDUP BANGSA. Ki Ageng Selo dalam SERAT PEPALI punya pesan begini….

Kawruhana pambengkasing kardi, Pakuning rat lélananging jagad, Pambekasing jagad kabeh, Amung budi rahayu, Sétya tuhu marang Hyang Widi. Warastra pira-pira, Kang hanggung ginunggung, Kasor dening tyas raharja. Harjaning rat punika pakuning bumi, Kabeh kapiyarsakna.

(Ketahuilah untuk Penyelesaian segala kewajiban, Poros Alam Jantan Dunia…… Pembebas Seluruh Dunia adalah yang berbudi rahayu, Setia kepada Yang Maha Kuasa. Senjatanya boleh ber-macam-macam dan bisa jadi di puji-puji banyak orang namun itu semua akan kalah oleh hati yang lurus karena ini adalah hukum keadilan alam yang merupakan pusat peredaran bumi, Dengarkanlah semua ini….)

wong kang makrifat séjati, Tingkah una-unine prasaja, Dadi panéngeran gédhene. Eséme kadi juruh, saujare manis trus ati, Iku iangaran dhomas. Wong bodho puniku, Ingkang jéro isi émas, Ingkang nduwe bale kencana puniki, Bola bali kinenca.

(Orang yang makrifat sejati, Tingkah dan ucapanya bersahaja, Menjadi tanda kebesarannya. Senyumnya bagaikan kental gula, Tiap ucapannya selalu manis terus hati. Itulah yang disebut dhomas. Kelihatannya bodoh namun jiwanya berisi emas, Yang memiliki tahta kencana …)

Aja watak sira sugih wani, Aja watak sok ngajak tujaran, Aja ngéndélkén kuwanen, Aja watak anguthuh, Ja ewanan lan aja jail, Aja ati canthula, Ala kang tinému. Sing sapa atine ala, Nora wurung bilahi pinanggih wuri, Wong ala nému ala.

(Jangan berwatak menyombongkan keberanian, Jangan berwatak sering suka bertengkar, Jangan menyandarkan diri pada keberanian, Jangan berwatak tak tahu malu, Jangan irihati dan jangan jahil, Jangan berhati lancang, Buruk yang didapat, Barang siapa berhati jahil, Tiada urung celaka akhirnya didapat, Orang jahat menemukan jahat.)

Aja sira méngeran busana, Aja ngéndélkén pintéré, Aja anggunggung laku. Ing wong urip dipun titeni, Akétareng basa, Katandha ing sému. Sému bécik, sému ala, Sayéktine ana tingkah solah muni, Katon amawa cahya.

(Jangan bertuhan kepada perhiasan, Jangan congkak akan kepintaranmu, Jangan menyanjung-nyanjung laku. Itu disaksikan oleh sesama-hidup, Terlihat dalam budi-bahasamu, Tertanda pada roman-muka. Separuh baik, Separuh jahat, Sebenarnya semuanya terlihat dalam tingkah-laku yang bercahaya).

Bumi, géni, banyu miwah angin, Pan srengenge, lintang lan rémbulan, Iku kabeh aneng kene. Ségara, jurang, gunung, Padhang péténg, padha sumandhing, Adoh kalawan pérak, Wus aneng sireku. Mulane ana wong agucap, Sapa bisa wong iku njaringi angin, Jaba jalma utama.

(Bumi, api, air serta angin, Matahari, bintang dan bulan, Itu semuanya ada disini. Laut, lembah dan gunung, Terang dan gelap ada disamping, Jauh dan dekat, Sudah ada dalam dirimu. Karena itu ada orang yang berkata : Siapa yang dapat menjala angin, kecuali manusia yang utama?)

Tama témén tumaném ing ati, Atinira tan nganggo was-was, Waspadha marang ciptane. Tan ana liyanipun, Muhung cipta harjaning ragi, Miwah harjaning wuntat. Ciptane nrus kalbu, Nuhoni ingkang wawénang. Wénangira kawula punika pasthi, Sumangga ring kadarman.

(Baik dan jujur tertanam dalam hati, Hatinya tak mengandung keraguan, Waspada terhadap ciptanya. Tak ada lainnya, Dalam ciptanya hanya kebahagiaan badan, Dan kebahagian di kemudian hari. Ciptanya meresap dalam kalbu, Meyakini kepada Yang Kuasa. Kekuasaan itu sesungguhnya pasti, Terserah kepada KEMURAHAN TUHAN.)

Demikian pandangan saya, mengikuti jalur para leluhur nusantara yang wasis dan waskita. Rahayu rahayu rahayu…
@kwa,2014

Iklan

17 Comments Add yours

  1. AWI SUROPATI berkata:

    kupasan luar biasa ….. mampu menyadarkan sesuatu yg terlupakan tentang PANCASILA …..

    tp ki ….. orang sekarang banyak yg tak perduli lagi menghayati pancasila…. yg penting kenyang …..

    trima ksih kupasannya …..
    jadi teringat P4 di sekolah ….. he… he….

  2. KWA berkata:

    MBAH AWI: Pancasila terasa sangat amat dilupakan orang. Apalagi saat kampanye sekarang ini… Tidak ada etika moral pancasila yang menganjurkan black campaign maupun negative campaign. Semoga rakyat kita yang jujur lugu polos di desa desa, di kampung kampung, di pelosok-pelosok senantiasa tetap tabah sabar dan kuat menjadi pagar moral terakhir negeri ini dari degradasi sebagaimana yang telah terbukti dalam sejarah. Rahayu ki…

  3. thorique berkata:

    SALAM SALIM
    BARAKALLAH NUSANTARA

  4. JAGADALUS berkata:

    Kupasan yang sangat singkat,jelas dan akurat mengigatkan orang-orang yang terlupa tentang pancasila

  5. masabi74@gmail.com berkata:

    Seorang murid sufi bertanya kepada Sang Guru, “Guru, apakah kita memilih pemimpin, kemudian seorang yang aku pilih itu menjadi pemimpin, lalu dalam sepak terjangnya kelak dengan kepemimpinanya itu apakah aku mendapati tanggung jawab dihadapan Allah?”
    Sang Guru menjawab, “Iya.”
    “Berarti kalau dia berbuat ikhlas dan baik atau sebaliknya, aku mendapat pahala atau juga dosa,” sahut sang murid yang semula puyeng dan memutuskan untuk golput sebagaimana selama ini.
    “Iya,” jawab Guru.
    “Lalu bagaimana aku harus memilih sementara aku ingin selamat dari kegelisahan kelak dihadapan Allah?” tanya murid.
    Sang Guru tersenyum tipis dihadapan muridnya itu, lalu kemudian ia menjawab dengan suara datar seperti biasanya.
    “Biarkan, Allah yang memilihkan untukmu. Bukankah Allah Sang Maha Memilih.”
    “Tawakal dan Istikharahlah, ini yang sebagian orang dzalim lupakan. Sombong dengan berbagai kekuatan akal dan pengetahuan yang mereka dapatkan,” sambung Sang Guru.
    Sang Muridpun terdiam merenungi ucapan gurunya, lalu kemudian diapun tersenyum mendapat pencerahan dari Sang Guru. Tetapi kemudian dia kembali menjadi sedikit gelisah, hingga tertangkap kegelisahan itu oleh gurunya.
    “Ada apa lagi?” tanya Sang Guru diantara kedawaman dzikrullahnya.
    “Kalau tidak segera mendapat petunjuk bagaimana guru?” jawab murid balik bertanya.
    “Berarti kamu belum ikhlas dalam kepasrahanmu kepada Allah, masih ada dalam dirimu kesombongan sehingga pilihan Allah tidak dapat kamu serap.”
    “Lalu bagaimana jika aku memilih tidak memilih?” tanya murid berkesan tidak mau ruwet dengan sesuatu pengharapan yang mengganggu riadloh dan istighotsahnya.
    “Itu berarti kamu lari dari hakikat penciptaan manusia dimuka bumi.” jawab Sang Guru.
    “Baiklah Guru, mohon doa restu saya akan kerjakan petunjuk guru.” jawab Sang Murid kemudian berpamitan mundur dari majelis yang seminggu sekali dia hadir bersama para ikhwanya.
    Ketika bersalaman dengan beberapa murid yang hendak pulang, seolah mendapatkan sesuatu yang harus dikatakan kepada para muridnya.
    “Jika petunjuk tidak segera kalian dapatkan. Perhatikan pula bagaimana Rasulullah SAW memilihkan sesuatu untuk ummatnya !”
    Sontak seluruh murid berhenti melangkah hendak keluar meninggalkan surau, seakan mendapat komando mereka menoleh melihat wajah Sang Guru untuk mendapatkan pencerahan baru.
    “Lepaskan segala kemampuan akal, dan pengetahuan kalian. Dahulukan yang kanan, dahulukan yang kanan dalam kebaikan. Itulah pesan dan pilihan yang Rasul Agung pilihkan untuk umatnya.” sambung Sang Guru.
    “Lah !, itu berarti Jokowi. Diakan ada di sebelah kanan gambarnya!” celetuk spontan salah seorang murid.
    “Ra weruh iku sopo, iku piye, iku ape opo, hilangkan pertimbangan akal, luruskan hati ikhlasmu mengikuti pilihan Rasul.” jawab Sang Guru kemudian memberi isyarat agar murid-muridnya segera pulang.
    Allahumma Sholli ala Sayidina Muhammad….

    (masabi: hal diatas bukan kampanye lo…, sekedar latihan aja agar kita selamat)

  6. Ning Asti berkata:

    Semoga yang menjadi presiden nanti bisa mengemban tugas dengan baik dan amanah.

  7. wong cilik berkata:

    Salam pitepangan dumateng KWA…salam rahayu

  8. Bujang Tunggara berkata:

    Asalamu’alakum Wr Wb.
    Ki Wong Alus dan Sesepuh KWA.

    Subhanallah…..
    Semoga Allah memberikan yg terbaik untuk Indonesia, kesederhannaan Indonesia menjadi bekal perbaikan mental rakyat Indonesia menjadi Pancasilais yg teguh….

    Terima kasih pedaran dan masukan Ki Womg Alus dan masab74@

    Salam Rahayu… Rahayu…
    Damai Semesta Alam dan Sejahtera Rakyat Indonesia…

  9. wong CILIK berkata:

    sebenarnya kita sbg wong cilik slalu nerimo …. siapapun presidennya …. dia lah yg terbaik menurut tuhan ….. tp yang berlebih2an itu mereka yg di atas …. sok tau …. sok pintar …. sok pembela rakyat … sok pejuang ….

    tp …. klu dipikir2 …. kasian jg mereka itu …. apa yg sebenarnya mereka harapkan hingga nampak kebingungan …. padahal wong ciliknya anteng2 aja…. NO REKEN …..

    smoga orang atas senantiasa dikasih petunjuk …..

  10. Adhy Saputra berkata:

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Bismillahirrahmaanirrahiim…

    SIAPAPUN NANTI YG TERPILIH MNJADI PEMIMPIN NEGERI INI…, SEMOGA MENELADANI SURI TAULADAN DARI KEPEMIMPINAN NABI MUHAMMAD SAW….

    Pemimpin adalah seseorang yang diberi kedudukan tertentu dan dan bertindak sesuai dengan kedudukannya tersebut. Pemimpin juga adalah seorang ahli dalam organisasi / masyarakat yang diharapkan menggunakan pengaruh dalam melaksana dan mencapai visi dan misi institusi / lembaga yang dipimpinnya. Dia adalah memimpin dan bukan menggunakan kedudukan untuk memimpin. Sedangkan kepemimpinan adalah suatu peranan dan proses mempengaruhi orang lain. Kepemimpinan Menurut Islam Kepemimpinan dalam Islam merupakan usaha menyeru manusia kepada amar makruf nahi mungkar, menyeru berbuat kebaikan dan melarang manusia berbuat keburukan.
    Rasulullah SAW telah memberikan gambaran yang sangat rinci bagaimana beliau bersikap sebagai seorang pemimpin; tidak pamer kemewahan dan tidak pula angkuh dengan jabatan yang beliau sandang. Sebaliknya Rasulullah SAW senantiasa menampilkan sikap keramahannya kepada umatnya, menyebarkan salam, menyantuni yang kecil, menghormati yang tua, peduli pada sesama dan selalu tunduk dan takut kepada Allah SWT. Dzat yang telah memberikan tugas dan tanggung jawab ke pundaknya. Meskipun Beliau telah wafat ribuan tahun yang lalu, tetapi pengaruhnya tetap abadi hingga sekarang, tidak lapuk dimakan zaman dan tidak lekang dimakan usia. Kepemimpinan adalah pengaruh. Makin kuat kepemimpinan seseorang, akan makin kuat pula pengaruhnya. Begitu pula dengan Rasulullah. Lalu, pemimpin seperti apakah Rasulullah saw. sehingga pengaruhnya bisa menembus relung hati kita? Siang malam kita merindukan berjumpa dengan Beliau sehingga rela berdesak-desakan di raudhah (sebuah ruang dekat mimbar Masjid Nabawi di Madinah) sekalipun. Jawaban dari semua itu ternyata, pertama, sebelum memimpin orang lain, Rasulullah saw. selalu mengawali dengan memimpin dirinya sendiri. Beliau pimpin matanya sehingga tidak melihat apa pun yang akan membusukkan hatinya. Rasulullah memimpin tutur katanya sehingga tidak pernah berbicara kecuali kata-kata benar, indah, dan padat akan makna. Rasulullah pun memimpin nafsunya, keinginannya, dan memimpin keluarganya dengan cara terbaik sehingga Beliau mampu memimpin umat dengan cara dan hasil yang terbaik pula. Sayang, kita sangat banyak menginginkan kedudukan, jabatan, dan kepemimpinan. Padahal, untuk memimpin diri sendiri saja kita sudah tidak sanggup. Itulah yang menyebabkan seorang pemimpin tersungkur menjadi hina.
    Kedua, Rasulullah saw. memperlihatkan kepemimpinannya tidak dengan banyak menyuruh atau melarang. Beliau memimpin dengan suri teladan yang baik. Pantaslah kalau keteladannya diabadikan dalam Alquran, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (Q.S. Alahzab: 21). Dalam kehidupannya, Rasulullah saw. senantiasa melakukan terlebih dahulu apa yang ia perintahkan kepada orang lain. Keteladanan ini sangat penting karena sehebat apa pun yang kita katakan tidak akan berharga kecuali kalau perbuatan kita seimbang dengan kata-kata. Rasulullah tidak menyuruh orang lain sebelum menyuruh dirinya sendiri. Rasulullah tidak melarang sebelum melarang dirinya.
    Sabda Rasulullah saw. “Sebaik-baik pemimpin kalian ialah yang kalian mencintainya dan dia mencintai kalian. Dia mendoakan kebaikan kalian dan kalian mendoakannya kebaikan. Sejelek-jelek pemimpin kalian ialah yang kalian membencinya dan ia membenci kalian. Kalian mengutuknya dan ia mengutuk kalian.” Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa berkhidmat dengan tulus dan menafkahkan jiwa raganya untuk kemaslahatan umat. Ia berkorban dengan mudah dan ringan karena merasa itulah kehormatan menjadi pemimpin, bukan mengorbankan orang lain.

    Smoga negeri tercinta ini menjadi negeri yg baldatun thayyibatun wa rabbun ghofur.., Amiiin..

  11. TOBONG berkata:

    Ass.wr.wb

    ki, saya minta tolong ijzahkan ilmu untuk seseorang yang dicintai (wanita) .
    agar terbuka pintu hatinya buat saya.
    Secara islam

    Wass.wr.wb

  12. nerah wiranata kusuma berkata:

    moga ada yang seperti satriao pininggit dan budak angon..hahah jayalah nusantara

  13. adim berkata:

    mbah yai …. jokowi jk ya … hehehe

  14. sonhaji berkata:

    akankah ada pemimpin adil bijak jaman sekarang ini

  15. A Hafid Ghazali berkata:

    Assalamu’alaikum wr wb mohon maaf yg sebesar2nya Ki Wong Alus sebenarnya ada yg janggal pada kata2 dlm sila2 pancasila saya sebutkan 1 saja yaitu sila pertama “Ketuhanan yang Maha Esa” sebenarnya yg Maha Esa itu Tuhan apa Ketuhanan?

  16. paradox berkata:

    Assalamualaikum Wr Wb …
    Ki Mohon Izin Mencobanya Qobiltu …

  17. Wong Bego berkata:

    Salam taklim Ki Alus ! saya juga mau berbagi Ki ! Sewaktu pemilihan saya dapat kabar dari atas angin malah sebelum kampanye dan sebelum calon ditetapkan . setelah itu calon yang muncul 2 orang yaitu Pak P + H R lawan Pak J W + J K < Ternyata berita atas angin benar beliau masuk ? kemudian diadakan PilPres ! Saya ngeyel dengan berita atas angin , saya piliih no 1 ( P S + H R ) …. E ..Ternyata pilihan saya kalah ????? Padahal sudah saya kerahkan keluarga dekat, masyarakat ??? Yang menang tetap yang ada di berita atas angin tadi ! Tadinya saya kurang puas dan setengah marah sama pini sepuh yang ngatur semua ini ??? Tapi sekarang saya sudah sadar dan tahu bahwa di balik semua ini ada hikmah dan sesuatu yang lebih besar bagii bangsa ini ? Namun demikian masih ada berita atas angin yang bekum berani saya sampaikan menyangkut kejadian yang akan datang terkait duduknya Presiden kita yang baru ! Demikian Ki Alus Yth , serta dulur2 semua ! saya yakin para pini sepuh disini juga sudah tahu berita atas angin tersebut, tapi karena itu bukan wilayah publik maka tetap disembunyikan ! Suwun…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s