REPORTASE BATU AMPAR


cropped-sam_7777.jpgAlhamdulillah acara RIYADHOH ASR BERSAMA –MELACAK JEJAK SEBUAH ASMAK—telah selesai dilaksanakan dengan sukses dan lancar. Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang mendukung acara ini, terkhusus kepada para peserta dari berbagai daerah.

Awalnya, keraguan menggelayut di benak kami sebelum acara dilaksanakan. Maklum saja, bulan ini adalah Ramadhan dan terasa berat melakukan perjalanan luar kota. Baik secara teknis maupun materi, acara riyadhoh bersama sungguh merupakan acara yang serius dan tidak main-main. Apakah bisa dan mampu kita mengumpulkan sekian peserta dan memberangkatkan mereka? Bagaimana menyelenggarakan buka bersama di kendaraan dan sahur bersama di tempat riyadhoh? Dan seterusnya…

Konon ragu-ragu adalah tanda bahwa kita masih normal. Ragu-ragu berarti seseorang itu berpikir dan berpikir menandakan seseorang itu berada. Semboyan Filsuf Rene Descartes, COGITO ERGO SUM agaknya cukup tepat menggambarkan bagaimana pikiran kami berproses dan akhirnya menemukan sebuah keyakinan yang jelas dan tegas: Kami harus berada di MADURA!

Dalam hitungan hari, kami bagi tugas. Forum wirid Kamis kami berdayakan. Mbah Wak kasan bagian transportasi, Mbah Duro Jainul bagian mensurvey tempat, Mbah Arya Kusuma Yudha bagian administrasi pendaftaran dan konsumsi, Eyang Sujono (alumni private) dilibatkan sebagai pemangku acara, Mbah Syaiful (alumni private) kita tunjuk sebagai koordinator. Alhamdulillah, salah seorang alumni pelatihan private Eyang Drg. Bachtarudin dari Padang, Sumatera barat berkenan hadir untuk membantu proses riyadhoh.

Hari H pun tiba: Sabtu, 5 Juli 2014 satu persatu peserta berkumpul di Markas KWA, Mushola Balai Diklat kab Sidoarjo, Jl Majapahit 5 Sidoarjo. Tepat Pukul 03.00 WIB roda bus kecil berangkat. Sengaja di acara ini kita membatasi jumlah peserta agar peserta nyaman dalam menjalankan riyadhoh bersama. Alhamdulillah, perjalanan lancar. Padahal biasanya sore hari jalan yang kami lewati yaitu pintu exit tol Surabaya menuju jembatan Suramadu macet parah. Namun sore ini sangat beda. Sangat terasa bahwa Tuhan Yang Maha Pengatur sudah merencanakan dan mengatur acara ini secara detail sehingga kami tidak kesulitan melaksanakannya.

Maghrib tiba, saatnya berbuka puasa. Bus berhenti di sebuah masjid di kawasan perbatasan kabupaten Bangkalan – Sampang. Kami sholat dan berbuka nasi kotak dan teh kemasan yang telah dipersiapkan oleh Mbah AG. Sebatang rokok kami sulut… nikmat rasanya…dan bus berangkat meneruskan perjalanan menuju tujuan.

Yang kami tuju adalah makam para waliyullah batu Ampar, Sampang – Madura. Terkhusus Syekh Buju Tumpeng, pengijasah Asmak Sunge Rajeh. Selain syekh Buju, yang paling ramai dikunjungi peziarah adalah makam Syeh Damanhuri, dan beberapa waliyullah yang lain. Biasanya para peziarah membaca tahlil dan berdoa tawasulan. Kompleks makam di Batu Ampar sangat inspiratif dan sakral, bahkan tak jarang saat berziarah disini, kita akan ditemui sosok gaib tertentu. Hal ini dialami juga oleh Gus Dur saat menjabat sebagai presiden RI.

KISAH GUS DUR DI BATU AMPAR
Suatu ketika Gus Dur berziarah ke “Batu Ampar” setelah dibisiki oleh seorang auliya dari Aceh, Abu Ulailah namanya. Padahal, di Madura ada tiga tempat makam auliya, yaitu makam KH Kholil di Demangan Bangkalan, makam “Batu Ampar” Pamekasan, dan makam Sayyid Yusuf di Pulau Talangu Sumenep.

“Beliau meminta saya ke sini, untuk mencari barokah agar keutuhan Indonesia terjamin,” katanya. Gus Dur menceritakan kepada Romli Damanhuri, putra Syekh Damanhuri, ia diperintah oleh KH Abdullah Siddiq dari Kediri untuk menghadap ruh Sunan Kalijogo. Tidak boleh ada orang lain yang ikut masuk ke makam. Saat itu, kata Gus Dur, ia mendengar ada suara dari dalam kuburan. Gus Dur mengaku, baru pertama kali ini dalam seumur hidupnya mengalami nasib berbicara dengan orang yang sudah tidak ada.

Kata Sunan Kalijogo “Cucuku Abdurrahman, kamu percaya atau tidak kepada Abdullah Siddiq yang membawa kamu itu adalah minal auliya’illah,”. “Kamu jangan khawatir menghadapi apapun, karena kammim fiatin kholiilatin gholabats fiatan khatsirotam biidznillaah. Biidznillaah ini yang penting. Pegangan kamu selanjutnya, setiap hari yang harus dibaca yaa ayyuhalladzina ‘amanu kulu kawwamuna bil kisti syuhada ‘alannas walau ala amfusikum,” kata Sunan Kalijogo kepada Gus Dur.

Setelah itu, Gus Dur disuruh oleh Sunan Kalijogo ziarah ke makam KH Hasyim Asy’ari di Tebu Ireng Jombang malam itu juga. Ia disuruh meminta surban pemberian Wali Songo kepada neneknya dulu, saat menjaga Indonesia sewaktu NU didirikan. “Saat di Kadilangu Demak, Sunan Kalijogo mengatakan, kalau kamu dapat yang sifatnya fisik (surban), ya sudah. Tapi kalau tidak, kamu bisa mengambil yang simbolik di rumah Abdullah Siddiq di Kediri,” paparnya.

Setelah sesampainya di Tebu Ireng, kata Gus Dur, ternyata bisikan itu benar. Sebab di sana, sorban tersebut tidak ada. Sebagai fidyah (tebusan, Red), akhirnya Gus Dur meminta adiknya Abdul Hakam bin Khaliq Hasyim untuk membaca surat Al Kahfi di makam KH Hasyim Asy’ari. Menurut cerita Gus Dur, beberapa waktu yang lalu, adiknya Khodijah binti Abdul Wahid ziarah ke makam KH Hasyim Asy’ari dan membaca surat Al Kahfi.

Selesai membaca, dia ketiduran. Dalam mimpinya, muncul KH Hasyim Asy’ari dan mengatakan “Alhamdulilah, sejak saya mati sampai sekarang, baru ada anak cucu saya yang membacakan surat Al Kahfi di sini,” kata Gus Dur. “Saya sendiri waktu mendengar hal itu menangis. Karena saking seringnya kita membaca tahlil, tapi tidak diikuti dengan membaca surat Al Kahfi. Ini peringatan keras dari beliau, bahwa kita harus berhati-hati dengan segala sikap kita,” lanjut Gus Dur.

Dalam mimpi itu, KH Hasyim Asy’ari mengatakan, dia akan berada di surga dengan semua anak cucunya, kecuali satu orang. “Saya menangis mendengar cerita itu,” tambah Gus Dur lagi. Pada suatu ketika, Gus Dur dipanggil oleh KH Abdullah Siddiq. Dia menanyakan apa keinginan Gus Dur. Gus Dur mengaku cuma ingin satu, yaitu agar KH Hasyim Asy’ari bisa berkumpul dengan semua putranya di surga, tidak pandang bulu. Mendengar permintaan itu, KH Abdullah Siddiq masuk ke dalam untuk shalat. Setelah itu ia mengatakan, Insya-Allah permintaan itu bisa terpenuhi bila Gus Dur ziarah ke makam KH Hasyim Asy’ari di Tebu Ireng, tanpa mampir-mampir.

Saat itu, Gus Dur mengaku diberi air agar di siram di atas makam KH Hasyim Asy’ari. Setelah dibacakan surat Al Kahfi, dan air tersebut di siram di atas makam KH Hasyim Asy’ari. Pendamping Gus Dur, H Masnuh, mengatakan kepada Gus Dur kalau ia melihat KH Hasyim Asy’ari berdiri di samping Gus Dur sambil tanganannya memegangi pundak Gus Dur. “Dia mengatakan kalau KH Hasyim Asy’ari melihat kanan kiri dengan senyum-senyum gembira. Saat itu, sorbannya baru, gamisnya baru, sandalnya baru, sarungnya baru, sajadahnya baru, dan tasbihnya baru,” kata Gus Dur menutup pidatonya.

Sebelum meninggalkan makam “Batu Ampar”, Gus Dur menerima kenang-kenangan berupa keris pusaka KH Damanhuri yang disampaikan oleh putranya KH Romli Damanhuri. “Mudah-mudahan dengan kedatangan saya ke tempat ini, bisa mendapatkan berkah dan ridlo Allah untuk menjaga keutuhan bangsa Indonesia,” kata Gus Dur.

DI PEDALAMAN BLEGA….
Di batu ampar, kita tidak berlama-lama. Saya memohon doa agar Allah SWT mengijinkan kami mengamalkan salah satu ilmu doa asmak sunge rajeh yang awalnya dititipkan kepada Syekh Buju Tumpeng. Kita “kulo nuwun” alias mohon ijin — sebagai tata krama kami ….seorang murid yang belajar mengamalkan doa dari sang guru….

Kami meninggalkan Batu Ampar, rombongan bus meluncur menuju pedalaman Blega, sebuah kecamatan di Sampang. Tiba di desa, kami disambut penduduk setempat dengan sangat ramah. Beruntung salah seorang anggota wirid KWA, Mbah Duro Jainul berasal dari desa itu dan memiliki kerabat tokoh desa setempat. Kami dijamu makan sahur, ngopi, teh dan cemilan.

Kami bongkar muatan, alas meditasi, dan bahan-bahan untuk riyadhoh lainnya. Rombongan berjalan di kegelapan malam kawasan hutan pertambakan di pantai madura. Entah, malam itu terasa sangat sangat pekat. Beberapa senter terasa tak cukup untuk menerangi kaki-kaki kami melangkah menyusuri jalan setapak. Kanan kiri kami penuh jebakan yaitu tambak dengan kedalaman tak menentu.

Setengah jam perjalanan, sampailah rombongan di sebuah tempat terbuka. Bermodalkan cahaya bintang-bintang di langit, ijasahan ASR dan riyadhoh dilakukan. Tak lupa dijelaskan pula tata cara praktek asmak untuk berbagai hajat. Misalnya bagaimana menggunakan ASR untuk mengobati orang yang sakit baik medis maupun medis dengan berbagai media. Salah satu media itu adalah bara api dan peserta diminta untuk mempraktekkannya secara langsung. Setelah ijasahan dan riyadhoh, dilakukan pula deteksi power wirid dengan metode deteksi getaran tubuh.

Tak terasa, dini hari hampir habis. Sebelum adzan subuh terdengar kami mengakhiri acara dan bersantap sahur telah dipersiapkan di rumah famili Mbah Duro Jainul. Usai sholat subuh, roda bus berjalan pulang balik menuju markas KWA di Sidoarjo. Alhamdulillah, keseluruhan acara riyadhoh pun selesai dan insya allah kita akan agendakan lagi acara serupa di masa yang akan datang. Semoga Allah SWT meridhoi ini semua. Amin. Wassalamualaikum wr wb.

@KWA,2014

Iklan
Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 14 Komentar

Navigasi pos

14 thoughts on “REPORTASE BATU AMPAR

  1. renanta

    Asalammualaikum
    salam salim buat seluruh sesepuh KWA ..
    Alhamdulillah..acara sukses besar dan semoga di ridhoi Allah swt.

    Buat para sesepuh KWA saya ingin bertannya dalam metode deteksi getaran tubuh kemarin masih bs saya rasakan…saat saya riyadhoh ASR tanggan sering gerak sendiri tp saya bs mengontrolnya,yg saya tannyakan apakah ini ada efec yg akan merugikan saya..?

    Tp alhamdulillah saya merasakan hal ini nyaman” saja bah kan saya lewat gerakan tanggan bs berkomunikasi dengan khadam yg katanya d berikan oleh Ki Wongalus sendiri dan dari ASR itu sendiri..bahkan dengan gerakan tangan oleh khodam tersebut saya bs d beri tahu sosok” ghaib(jin) yg ada d sekitar saya dan bahkan pusaka” yg ada d sekitar daerah saya.namun sayang meskipun kekuatannya besar tp belum bs saya berdayakan..

    Bagi saya yg awam ini..sungguh pengalaman yg luar biasa…Alhamdulillah saya panjatkan dan Terimakasih saya hanturkan kepada Guru dan panitia yg telah membimbing saya waktu itu.

    wasalammualaukum.

    Rendy,Kediri

  2. subandono

    Fotonya mana nich?? email sy : subandono_dono@yahoo.com

  3. Ahmad aly

    Assalamualaikum wr. wb

    Salam sejahtera…
    Subhanallah walhamdulillah walailahaillallah hu wallahhuakbar walahaw lawala quwataillabillah hilaliyil adzim…

    Sunguh menarik untuk di simak perjalanan dan cerita ki wongalus beserta sesepuh, menyentuh hati dan perasa’an saya…
    Saya turut mendo’akan agar perjalanan SPRITUAL KWA selalu mendapatkan ridho dari ALLAH S.W.T AMIN…
    Saya tunggu deh kisah-kisah selanjut nya…

    Wassalamualaikum wr. wb

  4. thorique

    SALAM SALIM

  5. DEWA

    td pgi gw mimpi diserang ribuan kelelawar dan lintah? arti nya apa y?

  6. @kang renddy, tidak ada efek samping apapun, kalaupun ada getaran atau tremor itu disebabkan oleh ketegangan otot yang akan hilang seiring dengan berjalannya waktu, @ kang sudono secepatnya foto akan saya kirim..matur nuwun

  7. @Kang mas Juru Suling..terimakasih penjelasannya..

  8. Tujuan baik ,hasil nya pun baik,.ingin ikut kapan2. Salam kwa,.

  9. Rooree

    Pengiinnnnn…..

  10. rizal

    Mohon diadakan kembali. Riyadho asrnya

  11. ngusung wedi sekrope dowo…
    kenek dipenek yen di encepno…
    ojo sedih Lan ojo kuciwo…
    isih enek dino liyane….

  12. SATRIA KATRO

    aku malah dh lupain ASR + RDR. aku lbh sering wirid asmaul husna dan kalimat thayibah.

  13. taqy m

    Sungguh luar biasa, alhamdulillah

  14. dewa

    knp gw dan org lain, kewajiban nya sama.. yaitu org lain hrs sholat, puasa dll. gw juga sama. tp ternyata hak hak gw dg org lain beda. org lain diberi jodoh, rejeki berlimpah, fisik sehat dan kuat dll. gw tidak diberi. aneh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: