ENGKAU YANGA SOROT PANCARAN WAJAHMU TIDAK MAMPU KUUNGKAPKAN DENGAN KATA-KATA


wongalus

Alhamdulillahirobbilalamin. Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan semua kebutuhan kita untuk hidup semua mahluk yang ada di muka bumi ini. Alamn semesta yang merupakan paket puja-puji yang memang sudah seharusnya mengarahkan semua mahluk ini untuk tunduk patuh kepada iradat NYA. Kepatuhan alamiah, kepatuhan yang tumbuh dari dalam hati dengan seikhlas-ikhlasnya tanpa ada paksaan. Bukan kepatuhan yang dipaksakan dari luar namun kepatuhan yang bersemi di dalam hati sanubari.

Pagi ini 3 Februari 2015, saya kembali menulis untuk blog KWA disertai dengan hati yang berbunga-bunga.  Tidak bisa diperbandingkan, misalnya bila saya mendapatkan sesuatu benda baru yang mahal dan mewah. Tidak bisa disandingkan dengan misalnya bila saya berada  di satu tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Entahlah, kebahagiaan hati yang memang susah digambar dengan kata-kata.

Bermula dari rasa capek yang luar biasa setelah dua hari menyelenggarakan pelatihan private di Trowulan Mojokerto yang diikuti saudara kita yang mulia dari Singapura. Saya tertidur pulas di hari Senin 2 Feberuari sejak pukul  5 sore hari. Tidak seperti biasanya, menjelang magrib terbangun untuk mandi dan menunaikan sholat. Nah kali ini, tubuh saya tidak bergerak. Telinga dan mata saya tidak merespon apapun suara dari luar.  Barangkali mirip orang mati. Padahal saat itu saya ada janji  sekitar pukul 19.00 WIB mau bertemu dengan seseorang.  Rasa capek luar biasa membuat  saya tidak berdaya  untuk sekedar bangun dan membatalkan janji  tersebut.

Usia saya saat ini 43 tahun lebih sekian bulan jadi sudah menjelang 44 tahun. Nah barangkali karena usia yang sudah tidak muda ini membuat tubuh saya berangsur menurun derajat kegesitannya.  Maka, saya hanya bisa menikmati pemberian-pemberian Allah tanpa berkeinginan untuk merubah apa pun. Cukup menikmati usia, menikmati perjuangan hidup selama muda, menikmati aliran kehendak semesta alam. Entah kemana alirannya…

Jam 21.30 WIB malam tiba-tiba saya terbangun. Rasa nikmat luar biasa pada tubuh saya. Terasa ringan dan enteng seakan sudah melepaskan beban berat. Capek berangsur-angsur menguap. Alhamdulillah. Saat itu saya baru menyadari bahwa saya belum melaksanakan ritual wajib tiap jam 18.00 wib sore: sholat magrib dan ngaji Al Quran. Bahkan belum mandi atau makan malam dan berbagai kebiasaan rutin lain di hari itu. Pintu rumah depan pun belum terkunci. Tapi hati saya tenang dan tidak merasa kebingungan. Saya duduk di kursi… meminta isteri membikinkan teh hangat dan mengambil sepuntung rokok.

Setelah sholat, makan malam, dan tak lupa membalas whatssap  untuk meminta maaf bahwa saya mengingkari janji.  Saya mengirimkan sebersit pesan padanya… “Matahari akan tetap menjadi matahari. Tidak akan menjadi bumi dan bulan. Matahari  akan tetap berputar apapun keadaanya. Saya meminta maaf tidak bisa bertemu engkau malam ini.”

Selanjutnya, diperkenankanlah saya menikmati waktu oleh Allah SWT mengikuti sebuah perjalanan yang luar biasa. Tiba-tiba rasa kantuk kembali menyergap. Mata yang sebelumnya terang meredup dan dalam hitungan sepersekian menit, saya pun kembali terlelap. Tertidur total mulai jam 22.00 sd jam 05.00 WIB atau selama tujuh jam nonstop. Nah berbeda dengan tidur-tidur saya selama hidup… dalam tidur saya kali ini, Allah menganugerahkan sesuatu yang sangat istimewa. Sepotong mimpi bertemu dengan  kekasih sejati saya: Rasulullah SAW.

Perjumpaan atau pertemuan melalui apapun, apakah itu melalui perjumpaan langsung atau tidak langsung, melalui mimpi atau melalui sarana apapun tetap saja hakekatnya merupakan sebuah pertemuan. Sebagaimana Allah SWT menurunkan wahyu-NYA,  berfirman kepada para nabi utusannya melalui sarana apapun, melalui mimpi atau yang lainnya. Terserah Allah… Kehendak Allah tidak perlu dibatasi oleh apapun dan Allah Maha Bebas.  (*)

Saat itu saya berdiri di depan Rasulullah SAW yang sedang berpelukan dengan seorang yang lebih tua usianya. (Seperti seorang raja, seperti paman Rasulullah sendiri).

Wajah Rasulullah bercambang kumis yang dicukur rata, rambutnya sebahu, wajah yang seumur hidup pasti akan saya ingat: teduh tenang. Pakaiannya jubah warna biru dan merah. Rambut Rasulullah yang hitam legam dielus orang itu tanda keakraban dan akhirnya mereka berdua melepaskan pelukannya sambil berkata-kata.

Orang yang lebih tua dari Rasululllah ini juga orang punya derajat. Dia mengenakan jubah kebesarannya yang warnanya juga sama, merah dan hijau. Matanya berwibawa. Sehingga dia tidak minder berdiri dihadapan Rasulullah.

Saat berpekukan, gerakan tubuh kedua pria ini sangat sopan dan lembut. Kelembutan yang dibalut ketegasan dan keakraban manusiawi. Kedua matanya saling melihat dan bertatapan. Salah satunya mengatakan sesuatu dan satunya mengangguk tanda setuju. Setelah berkata-kata maka keduanya melepaskan pelukannya. Saya mendengar apa perkataan keduanya. Sekitar tiga meter dari kedua pria tersebut berdiri seorang wanita berpakaian warna merah berpadu dengan warna biru.

(Percakapan Rasulullah dengan paman beliau ini bisa jadi merupakan Sirullah/percakapan yang dirahasiakan Allah sehingga mohon maaf, kami tidak mengungkapkannya)

Di hadapan Rasulullah SAW, saya terdiam. Mulut saya tidak mampu bergerak. Takjub syukur bisa menikmati pancaran aura pesona Rasulullah, sang kekasih Allah SWT  ini. Sejenak menatap wajah Rasulullah saat itu, saya memejamkan mata. Menyimpan kenangan ini agar tidak terlupakan seumur hidup. Agar menjadi momen paling istimewa untuk menegakkan kebenaran risalah tauhid sejak Nabi Adam AS hingga nabi Muhammad SAW.

Yang bisa saya sampaikan saat mimpi bertemu Rasulullah SAW adalah sebuah pesan, agar kita semua menetapkan keyakinan kebenaran akan risalah tauhid sepanjang masa: LAA ILAHA ILALLAH MUHAMMADAR RASULULLAH. Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah Rasul Allah. Kita pegang keyakinan ini sekuat kuatnya. Jangan pernah bergeser kepada keyakinan lainnya. Insya allah dalam hidup apapun yang terjadi, susah dan senang, bahagia dan duka, kaya miskin, kita akan selamat meniti jalan hingga akhirat. Jangan pernah berubah lagi. Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Wassalamualaikum wr wb.

@Kwa2015

(*) Manusialah yang kerap membatasi pikirannya sendiri terhadap Dzat yang Maka Kuasa dan Maha segala-galanya ini. Dikur-ukurnya kebenaran Allah, Kebenaran absolute dan mutlak di luar dirinya dibatasi oleh ukuran-ukuran manusia. Dipertanyakannya apa jenis kelamin malaikat. Dipertanyakannya berapa luas alam semesta. Dipertanyakannya kekuasaan Allah dan seterusnya.  Manusia memang dikodratkan suka untuk mengkaim sesuatu sesuai dengan batasan-batasan dirinya sendiri.  Mata, telinga dan akalnya dibatasi oleh semesta ukuran matematika. Pada akhirnya hidupnya pun dibatasi. Tuhan Yang Maha Segalanya, Allah SWT pun dikira-kira sendiri sesuai dengan semesta  bentukan dan keyakinannya yang kerdil. Astaghfirullahahadzim.

Categories: MIMPI BERTEMU RASULULLAH | 24 Komentar

Navigasi pos

24 thoughts on “ENGKAU YANGA SOROT PANCARAN WAJAHMU TIDAK MAMPU KUUNGKAPKAN DENGAN KATA-KATA

  1. al jadab

    pertamax

  2. al jadab

    bismillah bi’idznillah,

  3. al jadab

    mhn mf kiwa ats prtnyan sy yg sgt gblok ni,
    ko bgtu ykinx jennengan (kiwa) kl yg d dlm mmpi it bnr2 Rasulullah??
    skali lg sy mhn mf yg sbsar2 ny ki.. alftehah sent

  4. KANJENG SUNAN

    allahul kafi robbunal kafi kosodnal kafi
    wajadanal kafi likullil kafi kafanal kafi
    wa ni’mal kafi alhamdlillah …

  5. Assalamu’alaikum
    Subhanallah, ini pengalaman yg dinginkan semua orang mu’min, kapan aku jg bs ikut merasakan, do’akan ya Ki Wongalus..

  6. dani

    assalamualaikum wr.wb
    salam rahayu buat para sesepuh wabil khusus ki wong alus
    salam pseduluran buat warga kwa
    subhanalloh pengalaman yg indah
    semoga kita semua kebagian berkah ny amiiin….

  7. Hmmm. Maha Agung Gusti Allah. Matur suwon gusti, sedulurku sampun panjenggan paringi palilah ingkang agung…. Mugi mas Wildan tansah kinayoman dening Gusti Allah Amiiin

  8. Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad….
    Jadi iri… barokallah Ki Alus

  9. Aki Rotan

    Oallahhhh mbh guru wa…begitu besar Rahman Dan Rohim NYA sampai sampai panjenengan diberikan Sirr oleh NYA berupa pertemuan yg indah nan agung…

    Tapi kenapa SIRR antara DIA dg Panjenengan kok malah dibuka utk umum ???

    Hihihi namanya juga sirr yah tetap sirr yg baca belum tentu paham malah timbul PRO KONTRA yg berkepanjangan…..

    Mohon di hiden/sembunyikan….didelete

  10. Tukang Qobiltu

    Subhanalloh…
    Sholallohu alaMuhammad…

  11. bagas_ushodo

    alhamdulilah,,, semoga sedulur semua termasuk saya d perkenankan jua bertemu sang baginda Rosul sebelum tutup usia aminnnn allohuma amin

  12. thorique

    SUBHANALLAH , ALHAMDULILLAHIROBILALAMIN, SALAM SALIM

  13. DELING JATI terharu sanget

    salam poro dulur
    salam poro sepuh khususon ki alus yang telah menikmati hari2 bahagianya bersama baginda Rosulullah saw…….semoga kita semua sebagai santrinya akan mendapat syafa’at dan keberkahannya…amiin.

    @ akar rotan….
    pangapuntene…. saya kurang sependapat dengan penjenengan….tentang makna “sirrullah”. makna sirr itu tersembunyi atau rahasia, bukan berarti di-simpan untuk pribadi dan di bawa sampai mati…..sungguh ini tidak memaknai makna tarbiyatul islam. sampaikanlah ya….ayyuhal muttaqiin tentang sirrullah….agar kami2 yang kotor ini bisa mendapatkan pancaran cahayanya dan bisa mengikuti dan melanjutkan amanah2nya…….sungguh indah pengalaman ki alus telah meraih sirrNya.
    hamba yang kotor ini pun merasakan kebahagiannya…subhanalloh
    Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammadin nabiyyil ummiyyi wa’ala alihi wasohbihi wassalim ajma’in
    salam…….

  14. Wong Bego

    Alhamdulillah Gus Wildan sudah bertemu beliau baginda Rosululloh dalam mimpi yang penuh makna ! Sementara saya dulu pernah juga bermimpi bertemu beliau Mohammad Rosululloh ? sayang saya tak mampu melihat wajah beliau ? ( penuh cahaya gilang gemilang ) lalu beliau barsabda carilah ayat ini ( ayat tulusan arab ) yang sampai sekarang saya cari belum ketemu ? sekali lagi saya ucapkan selamat berbahagia ya Gus ! Sembah sungkem dari saya !……

  15. Arman Wiro

    Ya Allah pertemukan Hamba dgn Rasulullah semasa saya hidup walau dalam mimpi seperti yang dialami Ki Habib Wildan, . Aamiin Ya Robb, .”
    Allahumma Shalli Wasallim Alaihi, .

    Alfatihah, ,.”

  16. Assalamualaikum.

    Turut Alhamdulillahirobbil alamin.
    Teriring Sholawat dan Alfatih.

  17. diko

    Alhamdulillah wa Syukurillah…sungguh suatu kenikmatan yang tidak dapat dibandingkan

  18. Alim

    menjawab pertanyaan sedulurku al jadab

    hadis riwayat Muslim dan Abû Dâwûd melalui jalur Abû Hurairah ra. Berikut teks hadis tersebut:
    “Siapa yang melihatku saat mimpi, maka ia akan melihatku dalam keadaan sadar atau seakan-akan ia telah melihatku. Dan syetan tidak bisa menyerupai diriku.”

    salam salim semuanya…

  19. Arief Sudarmadji

    Assalamu’alaikum wr wb

    saya manusia yg selalu diliputi rasa penasaran terhadap SANG PENCIPTA…
    siang malamku selalu dihinggapi rasa gelisah…
    Saya adalah manusia yg bimbang,seperti kapas yg terombang ambing oleh angin…
    Saya adalah manusia bodoh yg tak pernah dapat menemukan arah kesejatian …
    Saya adalah makhluk ciptaan Tuhan yg tak tahu diri dan tak mengerti asal usulku sendiri…
    Selalu…selalu…dan selalu hadir “sesuatu” yg entah apa itu dalam jiwa ini,dialah yg membuat gelisah setiap waktuku,dialah yg selalu menggelitikku dikala sepiku,dikala sunyiku…sepertinya dia membisikanku,seperti ingin mengajakku kesuatu arah,namun aku masih tak mengerti…
    Yg aku rasa, sebuah dorongan yg menuntunku…tp aku aku bodoh dan tak paham apa apa…
    Dalam keramaian pun,dia selalu hadir mengajakku merenung…
    Apa yg ada didalam hati ini???
    Apa yg hidup didalam raga ini???
    Dan apa yg membuatnya berkeinginan???
    Kemana gerak?
    Kemana awas?
    Kemana denyut?
    Kemana nafas?
    Kemana semuanya terlepas?
    Apa rasa gundah ini?
    Aku bingung…
    Aku bodoh…
    Dan aku tersesat dalam keingintahuan ini,tanpa tahu kepada siapa aku pantas bertanya…
    Aku hanya takut semua rasa ini membuatku salah arah dan tersesat…

    Salam damai semesta alam.

  20. nerah wiranata kusuma

    subhanalloh habib wildan mengalami mimpi yang sangat luar biasa.hehehe, bertemu dengan baginda rosululloh yang sangaaaaaaaat qita cintai, moga2 suatu saat kita berjumpa dengan beliau baik di akhirat nanti atau melalui mimpi… dari tulisan dan cerita yang ki wa buat mungkin itu benar apa adanya!…tapi saya juga pernah mimpi bertemu dengan rosululloh saw! setelah mendapatkan wejangan dari seorang pendekar & ulama yang mumpuni ternyata itu setan/iblis yang nyaru jadi nabi, masyaAlloh, yang ingin menyesatkan saya agar saya merasa mulia di hadapan semua org kareana sya pernah bertemu dengan baginda rosululloh.

    menurut kyai+ pendekar guru saya, ciri2 kalo kita mimpi bertemu rosul tapi sebenarnya iblis yang merasuk ke mimpi kita:
    1. kalo berhadap2an dengan beliau, wujudnya menunduk tidak mau memperlihatkan wajah aslinya ( soalnya iblis/jin/syetan tidak bisa/mampu menyerupai rosul.
    2. kalo di lihat dan menampakan mukanya lihat bola matanya apakah normal, kalo normal berati itu asli rouslulloh kalo warna bola matanya hitam ato putih semua berati itu iblis yang ngaku2
    3. kalo dalam mimpi tersebut beliau berkata2 liat gerak bibirnya (bhs sunda kucam kicem) kalo kita hanya mendengar saja tapi tidak terlihat rosul menggerakan bibirnya itu berarti iblis yang nyaru.
    4. lihat kakinya apakah beliau napak/nginjak tanah ato melayang! kalo melayang berati itu ibli yang nyaru jadi rosul…..

    wallohua’lam..mungkin sesepuh2 semua ada yang bisa membeberkan ciri2 iblis ngaku2 nabi dalam mimpi kita, mohon di share…iblis kan penyesat sejati

  21. DELING JATI berbagi

    salam poro dulur
    salam ki alus
    salam ki arya kusuma dewa
    salam ki jati raga
    salam ki alief sadewa
    salam rindu ki begawan candhu
    salam khusus buat@ nerah…….dan @gurunya
    salam rahayu KWA

    ada pesan dari almarhum kiyai sepuh cirebon ( beliau lebih akrab dipanggil “kang ayip-mu jagasatru) tentang memahami sebuah hadits….sampaaikanlah dan amalkanlah hadits itu sesuai dengan redaksinya saja ( tentunya makna ini bisa difahami oleh masyarakat awam dan kaum intelektual) untuk menghindari tafsir yang bermacam2 yang cenderung bisa menciderai makna yang sesungguhnya hadits tersebut….jadilah pribadi muslim yang mumpuni…….
    mumpuni dalam bidang aqidah, syari’ah dan akhlaq……….ilmu hikmah nomer wolulekuuur.

    nyuwun agungge pun pangapunten…saya hanya menyampaikan pesan saja dari beliau….pesan ini disampaikan oleh beliau pada pengajian mingguan terakhir sebelum wafatnya beliau…..semoga nur ilmu aqidah, syari’ah , akhlaq dan hikmahnya bisa memberkahi kita semua amiin.

    HADITS MIMPI BERTEMU NABI SAW. (رؤية النبي)

    A. Hadis Mimpi Bertemu Nabi saw. (Ru’yah al-Nabi)

    -حَدَّثَنَا أَبُو الرَّبِيعِ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الْعَتَكِىُّ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ – يَعْنِى ابْنَ زَيْدٍ – حَدَّثَنَا أَيُّوبُ وَهِشَامٌ عَنْ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ رَآنِى فِى الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِى فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَتَمَثَّلُ بِى ». رواه مسلم و الترمذي و ابن ماجه. [1] وفى رواية الدارمي : (لا يتمثل مثلي)[2]
    -حدثنا محمد بن رمح . أنبأنا الليث بن سعد عن أبي الزبير عن جابر عن رسول الله صلى الله عليه و سلم أنه : قال ( من رآني في المنام فقد رآني . إنه لا ينبغي للشيطان أن يتمثل في صورتي ) رواه مسلم و ابن ماجه[3]
    -حدثنا عبدان أخبرنا عبد الله عن يونس عن الزهري حدثني أبو سلمة أن أبا هريرة قال : سمعت النبي صلى الله عليه و سلم يقول ( من رآني في المنام فسيراني في اليقظة ولا يتمثل الشيطان بي ) رواه البخاري[4]
    -حدثنا علي بن محمد . حدثنا وكيع عن سفيان عن أبي إسحاق عن أبي الأحوص عن عبد الله عن النبي صلى الله عليه و سلم : قال ( من رآني في المنام فقد رآني في اليقظة فإن الشيطان لا يتمثل على صورتي ) رواه ابن ماجه[5]
    -حَدَّثَنِى أَبُو الطَّاهِرِ وَحَرْمَلَةُ قَالاَ أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِى يُونُسُ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ حَدَّثَنِى أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ )مَنْ رَآنِى فِى الْمَنَامِ فَسَيَرَانِى فِى الْيَقَظَةِ أَوْ لَكَأَنَّمَا رَآنِى فِى الْيَقَظَةِ لاَ يَتَمَثَّلُ الشَّيْطَانُ بِى( رواه مسلم و أبو داود[6].
    وفى رواية احمد : ( أَوْ فَكَأَنَّمَا)[7]
    -حدثنا محمد بن يحيى . حدثنا سليمان بن عبد الرحمن الدمشقي . حدثنا سعدان بن يحيى بن صالح اللخمي . حدثنا صدقة بن أبي عمران عن عون بن أبي جحيفة عن أبيه عن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال ( من رآني في المنام فكأنما رآني في اليقظة . إن الشيطان لا بستطيع أن يتمثل بي ) رواه ابن ماجه[8]
    -أخبرنا أبو محمد بن المصفى ثنا محمد بن حرب عن الزبيدي عن الزهري عن أبي سلمة عن أبي قتادة قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : )من رآني في المنام فقد رأى الحق( رواه الدارمي[9] وفي رواية البخاري و مسلم : (من رآني فقد رأى الحق([10]
    B. Penjelasan

    مَنْ رَآنِى فِى الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِى فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَتَمَثَّلُ بِى
    Menurut al-Baqillani, makna
    “melihatku” (Rasulullah) dalam hadis di atas adalah benar adanya, bukan mimpi kosong, juga bukan penyerupaan-penyerupaan dari syetan.[11]
    Menurut Imam al-Ghazali, makna sabda Nabi فَقَدْ رَآنِى maksudnya bukan berarti seseorang akan melihat jasadnya atau badannya, melainkan seseorang akan melihat perumpamaan dari makna yang terkandung dalam mimpi tersebut.[12]
    Namun, banyak kaum sufi yang berkeyakinan bahwa seseorang dapat bertemu Nabi secara langsung, meskipun Nabi Muhammad saw. telah wafat empat belas abad yang silam. Keyakinan kaum sufi yang seperti ini berdasarkan hadis riwayat al-Bukhari dari Abû Hurairah:

    من رآني في المنام فسيراني في اليقظة ولا يتمثل الشيطان بي

    “Siapa yang melihatku saat mimpi, maka ia akan melihatku dalam keadaan sadar. Dan syetan tidak dapat menyerupai diriku.”
    Menurut penafsiran kaum sufi, hadis di atas jelas sekali menunjukkan bahwa Nabi Muhammad saw. masih hidup dan bisa ditemui secara langsung oleh kaum sufi. Apalagi jika didahului mimpi bertemu dengan Nabi Muhammad saw., maka bisa dipastikan orang yang mimpi tersebut akan mengalami pertemuan langsung dengan Nabi Muhammad saw. Munculnya penafsiran ini, menurut kaum sufi karena dalam hadis terdapat kata يقظة yang berarti “bertemu secara langsung”. Oleh karena itu, banyak kaum sufi yang mengklaim pernah bertemu dengan Nabi Muhammad saw. secara langsung dan mendapatkan wirid-wirid tertentu, kitab, ilmu, bahkan diantara mereka ada yang menyatakan bahwa seluruh ucapannya bersumber dari mulut Nabi Muhammad saw. Para sufi yang mengklaim pernah bertemu dengan Nabi Muhammad saw. antara lain adalah al-Tijânî, Abû Hasan al-Syâdzilî, Ibnu ‘Arabi, Muhammad al-Suhaimi, dan lain-lain.[13]
    Untuk dapat menafsirkan hadis riwayat al-Bukhari di atas, perlu diperhatikan apakah ada hadis-hadis lain yang membicarakan tema yang sama. Jika ternyata ditemukan adanya riwayat lain, maka tidak boleh mengabaikan riwayat-riwayat tersebut. Karena seperti halnya ayat al-Qur’an antara yang satu dengan yang lain bisa saling menafsirkan, dalam hadis Nabi pun berlaku kaidah demikian, yakni antara satu riwayat dengan riwayat lainnya dapat saling menafsirkan.[14]
    Untuk menjawab pertanyaan bisakah seseorang bertemu langsung dengan Nabi Muhammad saw., ada riwayat lain yang perlu diteliti dan merupakan kunci untuk memahami hadis mimpi bertemu Nabi Muhammad saw., yaitu sebuah hadis riwayat Muslim dan Abû Dâwûd melalui jalur Abû Hurairah ra. Berikut teks hadis tersebut:

    مَنْ رَآنِى فِى الْمَنَامِ فَسَيَرَانِى فِى الْيَقَظَةِ أَوْ لَكَأَنَّمَا رَآنِى فِى الْيَقَظَةِ لاَ يَتَمَثَّلُ الشَّيْطَانُ بِى

    “Siapa yang melihatku saat mimpi, maka ia akan melihatku dalam keadaan sadar atau seakan-akan ia telah melihatku. Dan syetan tidak bisa menyerupai diriku.”
    Baik riwayat al-Bukhari maupun riwayat Muslim dan Abû Dâwûd, keduanya sama-sama melalui jalur Abû Hurairah. Namun riwayat al-Bukhari nampaknya mempunyai arti yang umum. Riwayat seperti ini membutuhkan riwayat lain untuk menafsirkannya. Tanpa didukung riwayat lain yang semakna, maka akan sulit untuk menafsirkannya. Bahkan bisa keliru menafsirkannya dan merusak makna yang sebenarnya dari hadis tersebut.
    Sementara riwayat Muslim dan Abû Dâwûd nampaknya mempunyai arti yang lebih khusus. Maka tepat sekali jika riwayat Muslim dan Abû Dâwûd tersebut dijadikan sebagai penafsir dari riwayat al-Bukhari. Dengan demikian, makna hadis

    مَنْ رَآنِى فِى الْمَنَامِ فَسَيَرَانِى فِى الْيَقَظَةِ

    (Siapa yang bermimpi melihatku, maka ia akan melihatku secara nyata), tidak seperti pemahaman kaum sufi selama ini yakni benar-benar bertemu langsung dengan Nabi Muhammad saw., tapi hanya merupakan sebuah pengandaian saja. Kata kunci untuk menafsirkan hadis tersebut adalah lafazh لَكَأَنَّمَا yang berarti suatu pangandaian. Jika kedua riwayat tersebut digabungkan, maka hadis itu bermakna Siapa yang bermimpi melihatku, maka seakan-akan ia telah bertemu langsung denganku.
    Untuk mengetahui penafsiran hadis tersebut secara luas, di sini akan dikemukakan beberapa pendapat ulama ahli hadis. Menurut al-Nawawi, maksud lafazh فسيراني في اليقظة mengandung tiga pengertian, yaitu:

    1. Bagi orang-orang yang sezaman dengan Nabi Muhammad saw. namun tidak sempat berhijrah, lalu orang tersebut bermimpi melihat Nabi Muhammad saw. maka Allah akan memberikan taufiq-Nya kepada mereka sehingga bisa bertemu Nabi Muhammad saw.;
    2. Akan bertemu Nabi Muhammad saw. di akhirat sebagai pembenaran mimpinya, karena di akhirat setiap umat Nabi Muhammad saw. baik yang pernah bertemu maupun belu, akan mengalami pertemuan langsung dengan beliau;
    3. Melihat Nabi di akhirat secara dekat dan mendapat syafa’atnya.[15]
    Menurut Ibnu Hajar al-‘Asqalânî, penafsiran terhadap hadis mimpi bertemu Nabi yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dibagi menjadi enam pendapat, yaitu:
    1. Hadis tersebut harus dipahami secara perumpamaan (tasybîh), karena diperkuat dengan riwayat lain yang redaksi lafazhnya menunjukkan arti perumpamaan (لَكَأَنَّمَا).
    2. Orang yang mimpi bertemu Nabi akan melihat kebenaran, baik secara nyata maupun hanya ta’bir saja.
    3. Hadis tersebut dikhususkan kepada orang-orang yang sezaman dengan Nabi Muhammad saw. dan bagi orang yang beriman kepada Nabi yang belum sempat melihatnya.
    4. Bahwa orang mimpi tersebut akan melihat Nabi, seperti ketika bercermin, namun hal tersebut sangat mustahil.
    5. Maknanya bahwa ia akan melihat Nabi Muhammad saw. pada hari kiamat dan tidak dikhususkan bagi mereka yang telah mimpi bertemu dengan Nabi saja.
    6. Orang yang mimpi melihat Nabi, ia akan melihatnya secara nyata. Namun pendapat ini masih diperdebatkan.[16]
    Sementara itu menurut Yûsuf al-Qardhawi, pengertian hadis mimpi bertemu Nabi dengan berbagai riwayatnya menunjukkan bahwa Allah memuliakan Nabi-Nya dan memuliakan umat-Nya dengan mencegah syetan untuk menampakkan dirinya dalam sosok Nabi Muhammad saw. di dalam mimpi. Tujuannya agar syetan tidak mempunyai peluang untuk berdusta dengan lisan Nabi-Nya dan tidak bisa menyesatkan umat manusia. MeskipunAllah telah memberikan kesanggupan kepada syetan untuk merubah dirinya dalam sosok apa saja yang diinginkannya, tapi untuk menjelma seperti sosok Nabi Muhammad saw. syetan tidak sanggup melakukannnya. Oleh karena itu, siapa saja yang melihat Nabi Muhammad saw. dalam mimpinya, maka orang tersebut sungguh-sungguh telah melihat Nabi Muhammad saw. dengan benar atau ia telah melihat kebenaran, sebagaimana dijelaskan dalam hadis. Dan mimpi melihat Nabi Muhammad saw. tidaklah dikategorikan sebagai mimpi yang kosong dari makna, dan juga bukan dari godaan syetan.[17]
    Berdasarkan penafsiran para ulama di atas, dapat disimpulkan bahwa pendapat yang mengatakan bahwa seseorang dapat bertemu secara langsung dengan Nabi Muhammad saw. bukan berasal dari hadis yang shahih, tetapi merupakan penafsiran kaum sufi. Banyaknya kaum sufi yang mengklaim pernah bertemu dengan Nabi Muhammad saw. seakan-akan dapat dijadikan dalil kebenaran penafsiran tersebut. Sedangkan untuk membuktikan kebenaran mimpi bertemu dengan Nabi, langkah yang harus ditempuh adalah dengan menanyakan kepada orang yang bermimpi tentang sifat Nabi yang ditemuinya itu. Jika cocok dengan sifat yang telah diterangkan dalam riwayat-riwayat, maka orang tersebut benar-benar telah melihat Nabi dalam mimpinya. Sebaliknya, jika tidak sesuai maka orang tersebut telah bermimpi. Hal seperti inilah yang dilakukan oleh ahli tafsir mimpi, Ibnu Sirin, sebagaimana dituturkan oleh Ibnu Hajar al-‘Asqalâni:

    إذا قص عليه رجل أنه رأى النبي صلى الله عليه و سلم قال صف لي الذي رأيته فان [18]وصف له صفة لا يعرفها قال لم تره

    “Jika seseorang berkata kepada Ibnu Sirrin bahwa ia telah mimpi melihat Nabi Muhammad saw., maka ia akan bertanya kepadanya: ‘Jelaskanlah sifat orang yang kamu lihat (mimpikan) itu kepadaku’. Maka jika orang yang bermimpi tersebut mengisahkan kepadanya denga sifat yang tidak diketahui oleh Ibnu Sirin, maka Ibnu Sirin berkata: ‘Kamu tidak melihat Nabi Muhammad saw. dalam mimpimu’.”

    DAFTAR PUSTAKA
    • Abû Dâwûd Sulaimân bin al-Asy’ats al-sijistâni. Sunan Abî Dâwûd. Beirut: Dâr al-Kitâb al-‘Arabî, t.th.
    • Ahmad bin Hanbal. Musnad Ahmad bin Hanbal. Kairo: Mu’assasah Qurthubah, t.th.
    • Al-‘Asqalâni, Ahmad bin ‘Alî bin Hajar. Fath al-Bârî Syarh Shahîh al-Bukhâri.Beirut: Dâr al-Ma’rifah, 1379 H.
    • Al-Bukhârî, Muhammad bin Isma’il Abû ‘Abdillah. Shahîh al-Bukhârî. Beirut: Dâr Ibnu Katsîr, 1407 H/ 1987 M.
    • Al-Dârimî, ‘Abdurrahmân Abû Muhammad. Sunan al-Dârimî. Beirut: Dâr al-Kitâb al-‘Arabi, 1407 H.
    • Ibnu Mâjah al-Qazwînî, Abû ‘Abdillah Muhammad bin Yazîd. Sunan Ibnu Mâjah. Beirut: Dâr al-Fikr, t.th.
    • Ibrahim, Ahmad Syauqi. Misteri Tidur: Menyingkap Keajaiban di balik Kematian Kecil. Terj. Faishal Hakim Halimi. Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2007.
    • Muslim bin al-Hajjâj al-Naisaburi. Sahîh Muslim. Beirut: Dâr al-Jîl, 1374 H.
    • Al-Nawâwi, Abû Zakariyyâ Yahyâ bin Syaraf. Shahîh Muslim bi Syarh al-Nawâwî.Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâtsal-‘Arabi, 1392 H.
    • Al-Qardhawi, Yûsuf. Sikap Islam terhadap Ilham, Kasyf, Mimpi, Jimat Perdukunan, dan Jampi. Terj. Hermansyah. Jakarta: Bina Tsaqafah, 1997.
    • Sya’roni, Usman. Otentisitas Hadis Menurut Ahli Hadis dan Kaum Sufi. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2008.
    • Al-Tirmidzi, Muhammad bin ‘Îsâ. Sunan al-Tirmidzi. Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-‘Arabi, t.th.

    [1] Muslim bin al-Hajjâj al-Naisaburi, Sahîh Muslim (Beirut: Dâr al-Jîl, 1374 H), Juz 7, Kitab al-Ru’yâ, Bab 2-Qaul al-Nabi Man Ra’ânî fi al-Manâm faqad Ra’anî, hadis no. 6056, h. 54. Hadis ini juga terdapat dalam Muhammad bin ‘Îsâ al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi, (Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâts al-‘Arabi, t.th), Juz 4, Kitab al-Ru’yâ, Bab 4-Mâ Jâ’a fî Qaul al-Nabî Shallallâh ‘alaihi wa Sallam:Man Ra’ânî fi al-Manâm faqad Ra’anî, Hadis no. 2276, h. 535; Abû ‘Abdillah Muhammad bin Yazîd bin Mâjah al-Qazwînî, Sunan Ibnu Mâjah (Beirut: Dâr al-Fikr, t.th), Juz 2, Kitab Ta’bîr al-Ru’yâ, Bab 2- Ru’yah al-Nabi Shallallâh ‘alaihi wa Sallam fî al-Manâm, Hadis no. 3901, 3903, 3905, h. 1284-1285.
    [2] ‘Abdurrahmân Abû Muhammad al-Dârimî, Sunan al-Dârimî (Beirut: Dâr al-Kitâb al-‘Arabi, 1407 H), Juz 2, Bâb fî Ru’yah al-Nabi fî al-Manâm, no. Hadis 2139, h. 166.
    [3] Muslim, Sahîh Muslim, no. Hadis 6060; Muhammad bin Yazîd Abû ‘Abdillah al-Qazwînî, Sunan Ibnu Mâjah, no. Hadis 3902.
    [4] Muhammad bin Isma’il Abû ‘Abdillah al-Bukhârî, Shahîh al-Bukhârî (Beirut: Dâr Ibnu Katsîr, 1407 H/ 1987 M), Juz 6, Kitab al-Ta’bîr, Bab 10-Man Ra’a al-Nabi Shallallallah ‘alaihi wa sallam fî al-Manâm, no.hadis 6592, h. 2567.
    [5] Muhammad bin Yazîd Abû ‘Abdillah al-Qazwînî, Sunan Ibnu Mâjah, no. hadis 3900.
    [6] Muslim, Sahîh Muslim, no. Hadis 6057. Hadis ini terdapat juga dalam Abû Dâwûd Sulaimân bin al-Asy’ats al-sijistâni, Sunan Abî Dâwûd (Beirut: Dâr al-Kitâb al-‘Arabî, t.th), Juz 4, Kitab al-Adab, Bab 96- Mâ Jâ’a fî al-Ru’yâ, no. hadis 5025, h. 464.
    [7] Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal (Kairo: Mu’assasah Qurthubah, t.th), Juz 5, Hadis Abî Qatâdah r.a., h. 306.
    [8] Muhammad bin Yazîd Abû ‘Abdillah al-Qazwînî, Sunan Ibnu Mâjah, no. hadis 3904.
    [9] Al-Dârimî, Sunan al-Dârimî, no. hadis 2140.
    [10] Al-Bukhârî, Shahîh al-Bukhârî, no. Hadis 6595; Muslim, Sahîh Muslim, no. Hadis 6058.
    [11] Ahmad Syauqi Ibrahim, Misteri Tidur: Menyingkap Keajaiban di balik Kematian Kecil. Terj. Faishal Hakim Halimi (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2007), h. 183.
    [12] Ibid., h. 187.
    [13] Untuk lebih jelasnya lihat Usman Sya’roni, Otentisitas Hadis Menurut Ahli Hadis dan Kaum Sufi (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2008), h. 69-86.
    [14] Ibid., h. 118.
    [15] Abû Zakariyyâ Yahyâ bin Syaraf al-Nawâwi, Shahîh Muslim bi Syarh al-Nawâwî(Beirut: Dâr Ihyâ’ al-Turâtsal-‘Arabi, 1392 H), Juz 15, h. 26.
    [16] Ahmad bin ‘Alî bin Hajar al-‘Asqalâni, Fath al-Bârî Syarh Shahîh al-Bukhâri (Beirut: Dâr al-Ma’rifah, 1379 H), Juz 12, h. 385.
    [17] Yûsuf al-Qardhawi, Sikap Islam terhadap Ilham, Kasyf, Mimpi, Jimat Perdukunan, dan Jampi. Terj. Hermansyah (Jakarta: Bina Tsaqafah, 1997), h. 173-174.
    [18] Ibnu Hajar al-‘Asqalâni, Fath al-Bârî Syarh Shahîh al-Bukhâri, Juz 12, h. 384.

  22. nerah wiranata kusuma

    salam balik to kang deling jati..haturnhun kang atas pencerahanya

  23. nerah wiranata kusuma

    saya 2 kali mimpi ketemu nabi yang pertama wujudnya menundukan kepala tanpa melihat wajahnya serta mengaku nabi muhammadz dan yang kedua menyatakan dirinya nabi muhammad cuman kedengaran doang tanpa menggerakan bibirnya..haturnuhun! saya banyak dosa begini masa bisa ketemu nabi..gkgkgkgkgk

  24. badrie

    Subhanallah..
    sent alfatihah untuk gust wildan dan para dulur dulur KWA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: