ASHABUL KAHFI


Di BADGE KWA ada tulisan yang berisi tentang nama-nama pemuda Ashabul Kahfi beserta anjingnya. Dirancang khusus oleh IMAM BESAR THARIQAH NAQSABANDIAH,  AULIA MAULANA SYEKH NAZIM ADIL AL HAQONI, maksud penulisan nama itu tiada lain untuk mengenang para pemuda penuh karomah yang diselamatkan Allah setelah melarikan diri dari ancaman raja yang menuhankan dirinya. Bagaimana kisah lengkapnya?

 kwa2Di Perpustakaan Nasional RI tersimpan lebih kurang 900 buah koleksi naskah Arab. Dalam naskah-naskah tersebut memuat berbagai kandungan isi, di antaranya: al-Qur´an, hadis, tauhid dan Tasawuf, fiqh (hukum), biografi, riwayat kenabian, ilmu pengetahuan, ilmu nahwu/sharaf, dan ilmu balaghah (sastra). Dari sejumlah naskah Arab tersebut, terdapat dua buah naskah berjudul “Qissah Ashab al-Kahfi” (Kisah Penghuni Gua) dengan nomor koleksi W 287.

Dalam al-Qur´an, kisah “Qissah Ashab al-Kahfi” terdapat dalam surat al-Kahfi. Berdasarkan penelusuran terhadap berbagai catalog naskah Arab, naskah ini merupakan naskah tunggal, karena hanya satu-satunya yang tersimpan di Perpustakaan Nasional RI.

Qissah Ashab al-Kahfi” ini beraksara Arab, bahasa Arab, bentuk prosa, 14 halaman. Judul Luar teks : Hâdzâ Qishshah Ashhab al-Kahfi wamâ jarâ lahum min al-Ajâib Judul dalam Teks : Akhbar al-Kahfi (hlm. 14). Ukuran sampul : 16 x 19,5 cm., Ukuran teks : 11 x 13 cm., Teks naskah tanpa garis bingkai, setiap halaman terdiri atas 13 baris, tulisan cukup baik dan jelas, ditulis dengan tinta hitam, di atas kertas Eropa yang sudah berwarna kecoklatan. Cap air garis berantai. Naskah dijilid dengan karton tebal, berlapis kertas marmer berwarna coklat, dan ditulis tanpa kolofon.

Syahdan, pada zaman kerasulan Nabi Musa as., ada seorang raja yang berkuasa di kota Tharthus atau Apsus bernama Dakyanus. Raja tersebut mengaku dirinya sebagai tuhan. Semua rakyatnya harus menyembah kepadanya. Akan tetapi ada enam orang pemuda yang beriman kepada Allah, mereka itu bernama: Tamlikha, Maksalina, Nurkasina, Albus, Kasthamina dan Kabsyatathu´an.

Karena tidak mau menuhankan raja Dakyanus, akhirnya dimasukkan ke dalam penjara; kemudian mereka mendapatkan pertolongan dari malaikat Jibril dan Mikail, sehingga bisa keluar dari penjara, kemudian melarikan diri dari raja.

Setelah perjalanan yang cukup jauh, sampailah mereka di suatu gunung, kemudian naik ke atasnya; tiba-tiba terlihat sebuah gua, kemudian masuklah mereka ke dalamnya. Setelah berada di dalam gua, Allah Ta´ala menjadikan mereka semua mengantuk kemudian tertidur; sedangkan raja Dakyanus bersama bala tentaranya mencari dan mengejar keenam pemuda tadi. Akhirnya bala tentara Dakyanus menemukan jejak keenam pemuda yang berada di gua. Akan tetapi bala tentara Dakyanus tidak mampu menuju gua karena di pintu gua dihadang oleh seekor anjing bernama KITHMIR dengan menampakkan kemarahannya, seakan-akan hendak memburu dan menerkam setiap orang yang berani mendekati pintu gua tersebut.   Namun orang yang dicari sedang tertidur di dalam gua selama 309 tahun.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra., ia ditanya tentang ayat Qur´an sebagaimana firman Allah Ta´ala: “Amhasibta anna ashhâba l-kahfi wa r-ragîmi kânû min âyâtinâ ´ajaban”. (artinya) Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami goa dan (yang mempunyai) raqim/anjing itu mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan. Sahabat bertanya: Ayat apa yang ada di dalam al-Qur´an al-Azhim? Jawabnya: Ayat al-Kahfi.

Pada zaman dahulu ada kota bernama “Tharsus” atau dengan nama lain “Afsus”. Mereka mempunyai raja bernama Dakyanus. Yang punya cerita berkata: Dakyanus itu mendakwakan dirinya sebagai tuhan selain Allah Azza Wajalla. Di dalam kekuasaannya itu terdapat enam orang pemuda yang sudah bersahabat, yaitu: 1. TAMLIKHA, 2. MAKSALINA, 3.NURKASINA,  4.  ALBUS,  5. KASTHAMINA, dan 6. KABSYATUTHA´AN. (di riwayat lain namanya berbeda yaitu:  Maxalmena, Martinus, Kastunus, Bairunus, Danimus, Yathbunus dan Thamlika)

Mereka itulah sebagai penghalangnya. Dan pada masa itu mereka berpegang kepada suhuf nabi Musa ´Alaihi s-Salam.  Pada suatu hari, di akhir malam Tamlikha memandang ke langit sambil memperhatikan bintang-bintang kemudian teman-temannya pun bangun dari tidurnya;  Lalu Tamlikha berkata kepada mereka: “Hai temantemanku! Siapa Tuhan kalian? Dan apa yang kalian sembah?” Mereka menjawab : “Kami menyembah raja Dakyanus.”

Tamlikha : “Apakah langit dan bintang-bintang ini Dakyanus yang membuatnya?” Mereka menjawab: “Tidak.” Tamlikha: “Bumi ini Dakyanuskah yang menghamparkannya?” Mereka menjawab: “Tidak.” Tamlikha: “Laut ini Dakyanuskah yang mengalirkan airnya?” Mereka menjawab: “Tidak.” Tamlikha: “Mengapa kalian menyembah raja Dakyanus; bukannya yang menciptakan alam ini semua?” Mereka menjawab: “Kalau begitu kami akan menyembah yang Maha Kuasa. Dan tentunya pasti ada Tuhan yang terlebih dahulu dari Dakyanus; yaitu Tuhannya Musa serta para nabi sebelumnya.”

Mereka menjawab : “Apa yang kau katakan, itulah pendapat yang benar; namun kami takut kepada harta dan diri kami atas perbuatan zalim raja ini.” Sebaiknya kita menyembah Tuhan yang menciptakan langit di waktu malam, dan melayani raja Dakyanus di siang hari.

Setelah mereka cukup lama menyembah Allah Ta´ala. Pada suatu hari, setelah malam gelap gulita, mereka melepaskan pakaian wol dan sutranya, kemudian memakai baju yang ditenun. Dan sepanjang malam mereka ruku´ dan sujud kepada Allah Ta´ala. Lalu Iblis laknatullah mengetahui perbuatan mereka dan memperhatikan ibadah mereka yaitu telah meninggalkan menyembah berhala. Kemudian iblis menghadap tuan raja Dakyanus; ia tunduk dan sujud di hadapan raja.

Raja berkata : “Hai orang tua! angkatlah kepalamu! hajatmu akan terlaksana.” Iblis: “Hai tuan raja, kedatanganku sebagai penasihat.” Raja: “Apa nasihatmu?” Iblis: “Bahwa Tamlikha dan kawan-kawannya makan rezkimu, tapi mereka menyembah selain kamu.” Raja: “Bawalah mereka ke hadapanku!”

Setelah Tamlikha dan teman-temannya datang menghadap raja; Raja berkata : “Apakah yang kalian sembah?”Mereka : “Kami menyembah yang apabila kami lapar Dialah  yang memberi makan. Apabila kami haus, Dialah yang member minum. Apabila kami tidak berpakaian, Dialah yang memberi pakaian. Apabila kami sakit, Dialah yang menyembuhkannya.”

Raja berkata : “Kalian benar, sayalah yang member makan, memberi minum, member pakaian, dan yang menyembuhkan.” Maka Tamlikha dan teman-temannya berpaling meninggalkan raja dengan rasa gembira. Kemudian pada hari kedua iblis mendatangi raja kembali, lalu sujud di hadapannya; Raja : “Hai orang tua, angkatlah kepalamu! Engkaukah yang berkata kepadaku kemarin; bahwa Tamlikha dengan teman-temannya makan rezki dariku, tetapi mereka menyembah selainku?”

Iblis : “Ya! Bahwa mereka menyembah Tuhan di langit yang namanya Allah. Bila Tuan Raja ingin mengetahui apa yang mereka kerjakan, silakan Tuan Raja bersumpah kepada mereka, bila mereka nanti datang kepadamu, apa sesungguhnya yang mereka sembah.” Setelah Tamlikha dan teman-temannya datang menghadap raja; Raja berkata : “Sekarang aku sudah tahu pasti, bahwa kalian menyembah Tuhan yang mempunyai langit, selain aku. Akan tetapi aku sekarang ingin bersumpah atas penghianatan kalian kepada diriku. Kabarkanlah kepadaku (Tuhan yang kalian sembah). Siapa Dia? Dari apa dia dibuat? Dari emaskah atau dari perak?”

Ketika itu pula Tamlikha bangun dan berkata:  Tamlikha : “Hai Tuan Raja! Langit ini Tuankah yang meninggikannya?” Raja : “Tidak.” Tamlikha : “Bumi ini Tuankah yang menghamparkannya?” Raja : “Tidak.” Tamlikha : “Binatang-binatang buas Tuankah yang menjadikannya?” Raja : “Tidak.” Tamlikha : “Karena itu kami tidak mau menyembah engkau hai Tuan raja, selain Allah Yang Maha Kuasa. Dialah yang meninggikan langit serta mengangkatnya, yang menghamparkan bumi serta meratakannya, yang mengadakan gunung serta meneguhkannya, Tuan raja dan yang lainnya lemah.”

Maka dengan kata-kata Tamlikha ini, Tuan Raja menjadi marah. Ia menyuruh pembantunya untuk membelenggu kedua tangan sampai lehernya (Tamlikha dkk.) serta diikat pula kedua kaki mereka, lalu dimasukkan ke dalam penjara.  Abu Abbas radliallahu ´anhu berkata: Adalah Raja Dakyanus pada setiap tahun mengadakan ied (hari raya). Dalam pelaksanaan ied itu, ia keluar dari kota kerajaan bersama seluruh penduduk selama enam hari.

Ketika saatnya tiba, seluruh penduduk kota ikut keluar semua, seorangpun tidak ada yang tinggal di kota, kecuali orang yang tidak sanggup keluar karena lemah, seperti yang yang sudah lanjut usia. Lalu semua pintu kota dikunci. Namun Tamlikha bersama teman-temannya berada di dalam penjara. Setelah Tuan Raja keluar, Tamlikha berdiri menghadap ke arah dua orang penjaga penjara yang rupanya sangat tampan, di tangannya memegang cambuk yang terbuat dari perak dan senjata dari emas. Kemudian salah seorang berkata: “Kenalkah kamu kepada saya?”

Tamlikha : “Tidak.”  Kedua orang : “Aku Jibril, yang satu Mikail. Jika kalian ingin keluar, silahkan melalui dinding ini.” Kemudian Tamlikha menceritakan hal itu kepada teman-temannya. Lalu mereka mendatangi kedua penjaga penjara tadi. Tamlikha berkata : “Hai penjaga penjara! Ketahuilah, sesungguhnya jika kami semua dibunuh, tentu penduduk kota ini banyak yang tidak tega, karena kami ini dari suku bangsa pilihan dan termasuk pembesar kerajaan, kamipun tidak akan selamanya dipenjara; sungguh dia sudah tahu kedudukan serta kemuliaan kami, maka mau tidak mau kami akan kembali lagi kepadanya (raja).

Sekarang bagaimana halmu kepada kami?” Penjaga penjara : “Apa mau kalian? Lakukanlah!” Tamlikha cs. : “Kami ingin supaya keluar dari penjara ini, supaya kami dapat masuk ke rumah kami, makan dan minum bersama keluarga kami, serta bersenang-senang dan tidur di tempat tidur bersama isteri kami dalam minggu ini sampai waktu kembalinya Tuan Raja ke kota kerajaan. Bila Tuan raja akan kembali ke kerajaan, kami kembali lagi dengan segera kepadamu.”

Penjaga penjara : “Aku dengar dan aku turuti.” Kemudian penjaga penjara itu melepaskan ikatan dan belenggu kepada mereka dan membebaskah mereka berjalan keluar, akan tetapi dengan syarat supaya mereka kembali lagi ke penjara sebelum kembalinya Tuan Raja ke dalam kota kerajaan.

Empunya cerita berkata: Kemudian mereka keluar dari penjara dan masing-masing pulang ke rumahnya. Lalu Tamlikha memanggil seorang laki-laki pembuat cambuk serta memerintahkan agar dapat membuatkan cambuk yang akan diberikan bagi setiap temannya dua buah cambuk yang terbuat dari perak dan senjata dari emas. Kemudian pembuat cambuk membuatkan apa yang diminta mereka, lalu ia menerima upahnya.

Setelah itu Tamlikha memberikan kepada setiap temannya dua buah cambuk, lalu mereka lewat di permukaan bumi bagaikan burung terbang (yang amat cepat) dengan gagah perkasa, sehingga mereka semakin menjauh dari kota dan jauh dari keramaian manusia kira-kira 3 farsakh (1 farsakh=  8 km.).

Ibnu Abbas berkata: Orang yang pertama kali menggunakan senjata adalah Tamlikha dengan teman-temannya. Tamlikha berkata kepada teman-temannya:  “Sekarang mari kita keluar dan naik ke gunung ini; lalu apa yang akan kita lakukan dengan pakaian sutra kita ini? Sementara mereka (orang-orang kota) sama dengan kita.”

Ketika mereka memandang ke bawah gunung, tiba-tiba terlihat seorang penggembala yang sedang menggembala kambing, lalu mereka menghampirinya dan berkata: “Hai penggembala! ambillah pakaian (sutra) kami, dan berikanlah pakaianmu kepada kami.” Penggembala terus memandang mereka karena keheranan atas ketampanan dan kegantengan mereka, serta lembutnya pembicaraan mereka.

Penggembala berkata : “Apakah kalian dalam keadaan goncang? Kalau begitu berpalinglah dari saya.” Tamlikha cs. : “Kami takut kepada Allah.” Penggembala : “Beri tahulah halmu kepadaku.” Tamlikha : “Hai penggembala! sungguh kami adalah orang yang melarikan diri dari Tuan Raja di kota ini untuk menuju kepada Allah yang telah menciptakan langit dan bumi.” Empunya cerita berkata: [hlm. 6] Saat itu penggembala menundukkan kepalanya di atas kedua kaki Tamlikha sambil mencium kedua kakinya itu, lalu berkata: “Hai rombongan pemuda! Aku adalah penggembala kambing di kampung ini, dan aku mendapatkan upah dari pemiliknya; bersabarlah kalian, sampai aku mengembalikan kambing-kambing ini kepada pemiliknya dan aku akan datang kembali kepada kalian.”

Kemudian penggembala tadi pergi untuk mengembalikan kambing tersebut kepada tuannya; setelah itu ia kembali lagi dengan segera; sedangkan Tamlikha dkk. menanti sampai penggembala kambing. Kemudian mereka meninggalkan tempat itu bersama penggembala. Mereka berkata : “Akan pergi kemana kamu wahai penggembala?” Penggembala : “Saya ikut melarikan diri bersama kalian menuju kepada Tuhanmu.” Ibnu Abbas berkata: Lalu mereka semua meninggalkan tempat itu, sedangkan penggembala membawa anjing, dan anjing itu pun ikut bersama mereka dan tidak mau berpisah.

Lalu mereka (teman-teman Tamlikha) menoleh kepada anjing sambil berkata: “Hai penggembala! Kami ini adalah orang yang melarikan diri dari Raja Dakyanus; oleh karena itu kembalikan saja anjing ini, agar seorangpun tidak ada yang tahu.” Penggembala “Ketahuilah! bahwa anjing ini apabila aku sujud menghadap Tuhanku iapun ikut sujud; dengan demikian aku malu kepadanya kalau aku mengusirnya. Lalu Tamlikha mengambil keputusan agar anjing tersebut diusir saja dan disambitnya dengan batu. Dengan hal itu secara tiba-tiba Allah Ta´ala menjadikan anjing itu berbicara dengan ucapannya: “Lâ ilâha illallâh Muhammadur rasûhullâh”.

Hai rombongan pemuda! Janganlah kalian mengusir aku, sungguh, aku kenal Allah sebelum kalian mengenal-Nya, tidak mengapa aku mengikuti kalian.” Dengan perkataan anjing tersebut keimanan mereka kepada Allah semakin bertambah. Firman Allah Ta´ala: “Wazidnaahum hudan” Artinya: Kami tambahkan kepada mereka petunjuk, atas perkataan anjing tadi. Kemudian mereka pergi bersama-sama anjing sehingga sampailah di suatu tempat padang rumput yang hijau, lalu mereka mendekati ke sebuah pohon besar, di bawahnya terdapat mata air yang mengalir dari sumbernya bagaikan suatu taman. Kemudian mereka duduk di sisi mata air tersebut sambil makan dan minum; kebetulan penggembala tadi membawa sebuah geribah (tempat air), lalu geribah tadi dipenuhi dengan air, kemudian mereka naik [hlm. 7] ke atas gunung, saat itu mereka berada pada waktu tengah hari dan sangat terik sengatan sinarnya, saat itulah mereka mendapatkan suatu rintangan yang amat berat; tiba-tiba terlihat di sana sebuah goa.

Di antara salah seorang berkata: “Siang ini sangat panas sengatan sinar matahari; bagaimana kalau kita masuk saja ke dalam goa itu?! Agar kita terhindar dari sengatan sinar matahari.” Di antara mereka menjawab: “Itulah pendapat yang benar”. Kemudian mereka semua masuk ke dalam goa; lalu Allah Ta´ala menjadikan mereka semua mengantuk dan tertidur.

Adapun Dakyanus telah kembali ke kota kerajaan, ia mendengar berita bahwa Tamlikha dkk. telah keluar dari penjara. Dengan demikian ia sangat marah dan memerintahkan kepada hulubalang untuk menangkapnya. Maka berangkatlah para hulubalang dan mengejar Tamlikha dkk. dan merekapun mendapati jejak Tamlikha dkk., mereka terus menelusuri sehingga sampai ke suatu tempat mata air yang pada waktu itu mereka duduk-duduk di sisinya sambil makan-makan. Mereka mendapati juga bekas makanan yang dimakan oleh Tamlikha bersama teman-temannya di bawah pohon itu.

Mereka (hulubalang) berkata: “Hai Tuan Raja! mungkin mereka lari saat ini juga; buktinya, inilah bekas-bekas (makanan yang mereka makan).” Tuan Raja : “Ikutilah terus jejak mereka!” Dalam peristiwa itu rajapun ikut mengejar bersama para Hulubalangnya; jumlah mereka lebih kurang tujuh puluh orang laki-laki yang gagah berani. Dan mereka berdiri di tengah jalan dengan pedang terhunus. Ketika mereka hampir sampai di dekat goa, Tuan Raja berkata kepada sebagian menterinya: “Kalau Tamlikha dengan teman-temannya berhenti di gunung ini, pasti mereka berada di dalam goa ini.”

Menteri berkata : “Hai Tuan Raja! sungguh kami dapati serombongan pemuda berjalan menuju goa ini dengan rasa ketakutan.” Lalu mereka semua mendatangi pintu goa; dengan tiba-tiba anjing mereka (Tamlikha dkk.) mengujurkan kedua lengannya di muka pintu goa. Maka Allah menampakkan kehebatan anjing itu di hati Raja Dakyanus dan para menterinya. Kemudian anjing itu kembali di sisi Tamlikha dkk., sehingga datanglah rasa takut di hati mereka (tentara Raja Dakyanus). Lalu mereka melemparkan dirinya ke punggung kudanya masing-masing dan berbalik arah melarikan diri karena ketakutan dengan anjing tadi [hlm. 8] sehingga sampailah mereka pada suatu tempat mata air, lalu Allah ta´ala timpakan pada lidah mereka menjadi bisu; akhirnya seorangpun tidak ada yang dapat berbicara di antara sesama temannya.

Raja berkata kepada mereka yang sudah sampai di pintu goa: “Apakah yang menghalangi kalian untuk masuk ke dalam goa?” Mereka menjawab : “Di sana ada anjing besar yang sedang menoleh dan menakutkan kami, sehingga tidak ada jalan lain bagi kami untuk menangkap mereka.”

Maka sebagian menteri-menterinya mendatangi pintu goa, tiba-tiba hati mereka berubah menjadi takut kepada anjing. Dan mereka melihat kepada Tamlikha bersama teman-temannya, dilihatnya mereka sedang tidur. Namun para menteri itu tidak sanggup mendatangi mereka karena rasa takut kepada anjing; dan mereka melihat baju wol yang dikenakan Tamlikha. Sebagian menteri berkata: “Hai Tuan Raja! bila Tuan mau menyiksa dan memenjarahkan mereka, tidak ada lagi siksaan yang lebih berat dari yang sebelumnya, dan jangan diberikan kepada makanan yang enak serta tempat tidur yang empuk, dan biarkan mereka memilih sengsara.” Empunya cerita berkata: Mereka berpaling pulang ke kota meninggalkan Tamlikha dkk. dengan sia-sia, dan usaha mereka gagal.

Ibnu Abbs ra. berkata: Dakyanus hidup dalam usia 170 tahun. Setelah ia mati, penggantinya adalah anaknya dalam usia 120. Setelah putra Dakyanus meninggal, Allah ta´ala mangutus Isa ´alaihis salam; kemudian mereka mengimaninya. Nabi Isa itu berkuasa selama Tamlikha bersama teman-temannya masih berada di dalam goa. Sesungguhnya mereka berada di dalam goa selama 309 tahun; dan Allah ta´ala mewakilkan kepada mereka kebesaran/kekuasaan yang mereka terima. “Dzaatal yamiini wa dzaatasy syimaali wa kalbuhum baasithun dziraa´aihi bil washiid” Artinya: “Dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengujurkan kedua lengannya di muka pintu goa.”

Setelah mereka tertidur di dalam goa selama 309 tahun, di antara mereka berkata: “Kam labitstum qaaluu labitsnaa yauman au ba´dla yaumin” Artinya: “Sudah berapa lamakah kamu berada di sini? Mereka menjawab: Kami berada (di sini) sehari atau setengah hari.”

Qasthamina berkata: [hlm. 9] Kita masuk ke goa ketika matahari masih kurang tiga jengkal. Penggembala berkata: “Bersabarlah kalian, sampai aku melihat ke (luar) goa, karena aku mempunyai tanda-tanda; ketahuilah dengan tanda-tanda ini, kita berada di sini hanya beberapa jam pada hari ini juga.” Empunya riwayat berkata: Maka penggembala melihat ke arah itu, lalu ia melihat keadaan siang hari tidak lebih dan tidak kurang ketika mereka masuk ke goa. Lalu mereka menghadap Tamlikha dan berkata: “Sungguh kami sudah lapar, dan aku ini mempunyai uang; sebaiknya salah seorang di antara kita berangkat membeli roti dengan uang ini untuk kita makan bersama.”

Tamlikha berkata : “Siapa yang sanggup pergi ke kota? sedangkan kita takut kalau ada orang yang mengetahui keberadaan kita, tentu ia menangkap kita dan dihadapkan kepada raja. Tapi sudahlah, aku sendiri saja yang keluar, nanti aku bawakan sesuatu untuk kalian makan.”

Empunya riwayat berkata: Maka Tamlikha keluar dari goa, sampailah ia di suatu tempat bekas mata air dan padang rumput; namun tidak didapati bekas keduanya itu. Saat itu ia merasa heran dan berkata di dalam hatinya: “Sebenarnya di sini ada pohon, ada mata air yang mengalir, serta padang rumput yang hijau.” Lalu ia mempelajari bekas-bekas itu; “Ini aneh sekali…”

Maka dengan cepat Tamlikha kembali kepada teman-temannya dan memberitahukan mereka hal-hal yang terjadi. Lalu mereka semua merasa heran atas kejadian itu. Mereka berkata : “Pergilah atas hajatmu dahulu, dan berhati-hatilah dari Tuan Raja serta penduduk kota, jangan sampai mereka mengetahui; setelah itu kembalilah segera karena kami sudah

sangat lapar.”

Empunya riwayat berkata: Maka Tamlikha pergi ke kota, tiba-tiba ia bertemu penggembala kambing, lalu ia bertanya kepadanya: “Tahukah anda tentang Raja Dakyanus? Beliau sudah kembali atau belum dari berhari raya (ied)?” Penggembala : “Apa itu Dakyanus?” Tamlikha: “Raja di kota ini!”

Penggembala : “Yang berkuasa sekarang adalah Isa binti Maryam. Sedangkan nama yang kau sebut tadi aku tidak mengenalnya dan aku tidak pernah mendengarnya, kecuali dari kamu.”

Empunya riwayat berkata: [hlm. 10] Maka Tamlikha pergi meninggalkan penggembala tadi, kemudian ia bertemu dengan dua orang laki-laki; Tamlikha bertanya: “Apakah kalian sudah mendengar berita tentang Raja Dakyanus? beliau sudah kembali atau belum dari berhari raya?!” Mereka menjawab : “Siapa Raja Dakyanus yang kau katakan tadi itu? Kamu mimpi atau sadar?” Tamlikha : “Sungguh aku tidak mimpi.”

Kedua laki-laki : “Umurmu sebaya dengan kami, namun kami tidak pernah mendengar nama yang kamu sebutkan tadi, kecuali dari kamu.”

Tamlikha : “Kalau kamu mimpi sadarlah! Dan kalau kamu mabuk cepat sembuhlah! Siapa

kalian? Masa kalian tidak kenal Raja Dakyanus?” Kedua laki-laki : “Pergilah kepada pekerjaanmu, Allah bersamamu dan akan menunjuki kamu ke jalan yang benar.” Maka Tamlikha pergi meninggalkan laki-laki tadi, kemudian sampailah di gerbang kota; tiba-tiba terlihat olehnya tulisan yang berbunyi: “Laa Ilaaha Illallah ´Isa ruuhullah wa nabiyyuhu wa rasuuluhu wa mablagha risaalatuhu”.

Empunya riwayat berkata: Dengan kejadian itu Tamlikha menjadi heran. Kemudian ia masuk ke kota dan mendatangi warung roti, lalu ia mengeluarkan uang yang tertulis dengan nama dan gambar Raja Dakyanus serta mahkota berada di atas kepalanya, dan mahkota di atas keningnya tertulis “Raja Dakyanus”. Ketika uang itu berada di tangan tukang roti, tukang roti lama sekali menatap kepadanya. Kemudian Tamlikha keluar dari

warung, lalu dipanggil kembali oleh tukang roti: “Hai pemuda! Dari mana kau dapati uang ini? Sungguh uang ini adalah uang kuno; kalau kamu masih punya simpanan keluarkan saja dan serahkan kepada raja, kemudian kamu minta ganti yang sesuai agar menjadi halal.”

Tamlikha : “Uang ini adalah uang kerajaan Dakyanus, aku keluar meninggalkan Raja Dakyanus dari kota ini tadi sore, tukang roti serta para pedagang lainnya berjual beli menggunakan uang ini.” Empunya riwayat berkata: Maka tukang roti mengambil uang tadi dari tangan Tamlikha, lalu ia pergi bersama Tamlikha menghadap raja dan menceritakan tentang uang tadi. Raja : “Dari mana uang ini? Simpanan uangku tidak ada yang serupa dengan uang ini, [hlm. 11] dan aku tidak pernah memerintah untuk mencetaknya.” Tamlikha : “Tuan Raja! aku keluar dari kota ini tadi sore, dan aku pergi meninggalkan Tuan Raja Dakyanus.” Raja : “Hai pemuda! Kalau betul kamu keluar dari kota ini tadi sore, apakah kamu kenal salah seorang dari keluargamu? Tamlikha : “Ya! Aku kenal isteriku, keluargaku, tetanggaku dan rumahku.” Raja : “Berangkatlah kamu kepada mereka, lihatlah keluargamu, tetanggamu dan rumahmu!”

Empunya riwayat berkata: Kemudian berangkatlah Tuan Raja, para hakim, dan penduduk kota; mereka berjalan di belakang Tamlikha. Semua berjalan melalui jalan raya dan jalan sempit untuk menyelidiki kebenarannya. Namun tidak ada seorangpun dari mereka yang mengenalnya, dan mereka semua tidak ada yang tahu jalan menuju rumahnya. Maka Tamlikha mengeluh di dalam hatinya, kemudian ia mengangkat matanya ke langit dan melontarkan pandangannya sambil berkata: “Hai Tuhan yang menciptakan langit dan bumi! tunjukanlah aku jalan menuju rumahku!” Lalu Allah ta´ala berwahyu kepada Jibril ´alaihis salam supaya turun kepada hamba-Ku Tamlikha dengan sifat (wajah) tetangganya.

Ibnu Abbas berkata: Maka Jibril turun dan berhenti di sisi Tamlikha, kemudian ia hampiri dan dipeluknya, lalu ia menunjuki jalan menuju rumahnya. Tamlikha berkata : “Hai Tuan Raja! Inilah rumahku.”  Maka Tuan Raja memanggil penguni rumah serta para tetangganya. Tuan Raja berkata kepada mereka: “Kenalkah kalian kepada pemuda ini?” Mereka : “Tidak, demi Allah, kami tidak mengenalnya, dan kami belum pernah melihatnya kecuali sekarang ini.”

Raja : “Siapakah penghuni rumah ini? Dan dimana orangnya?” Mereka : “Penghuni rumah ini seorang laki-laki yang sudah tua, dan usianya sudah 120 tahun.” Raja : “Hadapkan orang tua tersebut kepadaku!”  Maka datanglah orang tua itu dan menghadap Tuan Raja. Raja : “Hai orang tua! Pemuda ini mengaku bahwa rumah ini miliknya, bukan milikmu.” Orang tua: “Cukuplah pertanyaanmu sampai di sini. [him. 12] Hai pemuda! Tidakkah kamu lihat, aku ini sudah tua, tulangku sudah rapuh, badanku sudah kurus, tulang belulangku sudah bongkok, alisku sudah turun, lantaran sudah lanjut usiaku. Sungguh rumahku ini diwariskan dari ayahku, dan ayahku dari kakekku sampai hari ini. Apakah pemuda ini mau menyingkirkan aku; lantas kau mengakui rumah ini? Kau masih kecil; mengapa kau tidak malu atas pengakuanmu itu tanpa  ada keterangan yang nyata, tanpa saksi dan bukti?”

Raja : “Hai pemuda! Dengarkah kamu yang diucapkan orang tua ini? Demi Allah, urusanmu ini aneh sekali. Di kota ini seorangpun tidak ada yang mengenal kamu. Aku tidak tahu apa yang akan kau lakukan di kota ini.”  Tamlikha : “Tuan Raja! Aku mempunyai tanda-tanda di dalam rumah ini. Dan betul ini adalah rumahku. Demi Tuhan yang menciptakan langit dan bumi.”

Raja : “Apakah tanda-tandamu itu?”  Tamlikha : “Di dalam rumah ini ada dua buah tiang yang terukir di tengah majlis, tiang yang satu dipenuhi dengan uang emas, dan yang lain dipenuhi dengan mata uang semacam ini, yaitu uang Raja Dakyanus.” Empunya cerita berkata: Ketika Tuan Raja mendengar perkataan Tamlikha tadi, lalu ia masuk ke dalam rumah bersama penduduk kota dan mendatangi kedua buah tiang yang terukir sebagaimana yang diucapkan Tamlikha. Raja : “Hai orang tua! Pemuda ini lebih tahu dari

kamu, dan dialah yang lebih berhak atas rumah ini.”

Maka saat itu juga orang tua masuk ke dalam rumah dan mengambil peti yang terbuat dari perak, di atas peti itu ada kunci terbuat dari emas, lalu dibukanya peti itu kemudian dikeluarkan dari dalamnya sebuah kain berwarna merah, dari dalam kain itu diambil sebuah surat dan dibentangkannya; ternyata surat itu berisi peringatan (yang berbunyi) “Sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dan yang menjadikan makhluk semuanya, Maha Bijaksana Lagi Maha Adil”. Kemudian orang tua itu menatap Tamlikha sambil membaca surat, lalu ia menangis.

Raja bertanya : “Apa yang kau tangisi hai orang tua?” Orang tua : “Aku menangisi apa yang ada di dalam surat ini.” [hlm. 13] Empunya riwayat berkata: Maka orang tua itu menoleh kepada Tamlikha sambil berkata: “Hai kesayanganku, Siapa namamu?” Tamlikha : “Nama saya Tamlikha.” Dengan demikian orang tua itu mencium kedua tangan dan kaki Tamlikha.

Raja : “Mengapa begini hai orang tua?” Orang tua : “Ini adalah kakekku.” Demikianlah cerita di dalam sejarah pemuda ini keluar dari kota selama 309 tahun. Ia meninggalkan isterinya yang sedang mengandung anak. Di kota ini ada seorang raja bernama Dakyanus. Dia adalah termasuk orang yang hidup pada zaman dahulu (zaman Nabi Musa) Dia mengaku dirinya sebagai Tuhan selain Allah ta´ala. Maka pemuda ini melarikan diri bersama-sama temannya dari Raja Dakyanus. Empunya riwayat berkata: Dengan kejadian semacam ini, Tuan Raja serta penduduk kota datang mencium kedua tangan dan kaki Tamlikha, kemudian mengucapkan selamat kepadanya serta akan menjamin kehidupannya.

Raja berkata : “Mari kita pergi kepada teman-temanmu (Tamlikha), kami ingin melihat wajah mereka.” Maka Tuan Raja, para hakim dan penduduk kota keluar menuju goa tersebut. Tamlikha berkata : “Berhentilah di tempat ini, saya akan masuk menemui teman-temanku dan aku beritahu kejadian ini kepada mereka; karena mereka menyangka bahwa zaman ini adalah masih zaman Raja Dakyanus; sudah barang tentu mereka takut

kepadanya.”

Kemudian raja dan kaumnya berhenti semua, sampai Tamlikha masuk menemui teman-temannya. Tamlikha berkata kepada mereka: “Hai saudaraku! Tahukah kalian, sudah berapa lama kita di sini?” Mereka menjawab : “Kita berada di tempat ini satu hari atau setengah hari.” Tamlikha : “Bahkan kalian di sini 309 tahun. Dan sekarang semua penduduk kota mengimani Nabi Isa binti Maryam ´alaihis salam. Dan pada hari ini mereka semua termasuk orang yang baik, shaleh dan beragama yang tetap.”

Mereka berkata : “Bangunlah kalian! mari kita berdoa: “Hai Tuhan kami, kembalikanlah kami ke masing-masing tempat tidur kami, karena kami tidak perlu hidup lagi”. Ibnu Abbas berkata: Maka Allah ta´ala memanggil mereka, lalu dicabutnya arwah mereka semua. Empunya riwayat berkata: Ketika Tamlikha berjalan perlahan-lahan  menuju Tuan Raja dan pengikutnya, Tuan Rajapun serta pengikutnya mendatangi goa tersebut. Tiba-tiba nampak bagi mereka di pintu goa itu suatu kehebatan dengan izin Allah ta´ala, sehingga seorangpun di antara mereka tidak ada yang sanggup memasukinya. Mereka hanya dapat memberikan salam dengan ujung jarinya saja. Kemudian mereka semua pulang ke kota dalam keadaan terheran-heran atas qadrat Allah ta´ala.

Selesailah sampai di sini kabar “Ahlul Kahfi” Rahimahullahu ta´ala ´ala t-tamam, wal hamdu Lillahi Rabbil ´Alamin, washallallahu ´ala sayyidina Muhammadin wa alihi wa shahbihi wa sallam tasliman katsiran thayyiban mubarakan. Amiin.

@2015,kwa

Iklan

8 pemikiran pada “ASHABUL KAHFI

  1. mohon pencerahan poro sesepuh kwa, saya punya badge kwa, pada suatu hari saya buang air kecil dan badge saya bawa ketika buang air,,bagaimana dg badge kwa saya,,mohon pencerahan matur nuwun

  2. masyaAlloh ceritanya sangat menyentuh hati,,, kisah ashabul kahfi ini akan menambah keimanan kita kepada Alloh,,, betapa besarnya keimanan mereka kapada Alloh sehingga mereka memilih meninggalkan tempat tinggal mereka yang dikuasai oleh raja yang dzolim untuk mendekatkan diri kepada Alloh,,,, masyaAlloh,, Allohu akbar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s