Monthly Archives: Juli 2015

AMALAN MINTA PETUNJUK SETIAP SAAT


Tidak ada petunjuk yang lebih baik lagi selain petunjuk dari Allah. Oleh karena itu bagi kita yang sedang galau, merasa bingung dengan pilihan maka bersegeralah untuk meminta petunjuk kepada Allah.

Banyak cara untuk memohon petunjuk Allah, salah satunya adalah dengan sholat istikharah. Namun terkadang kita terkendala waktu untuk melaksanakan sholat istikharah karena kadang keputusan harus diambil dalam waktu singkat dan cepat

Cara berikut ini adalah cara lain meminta petunjuk Allah, yaitu berdoa langsung dengan satu doa singkat. Doanya silahkan dibuka Al Qurannya, sebagai berikut:

الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ
===(yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, (QS Asy Syu’ara ayat 78)===

Setelah berdoa, DIAM SESAAT DAN TARIK NAPAS DALAM DALAM dan HEMBUSKANLAH PERLAHAN dan ambilah keputusan. Insya allah keputusan yang kita ambil itu benar dan tidak salah. Selain itu yakinlah bahwa petunjuk yang diberikan Allah merupakan jalan yang terbaik bagi kita, baik kita menyukainya atau tidak. Kalau kita mengabaikan petunjuk tersebut maka siap-siap saja nantinya kita akan menyesalinya.

Banyak pengalaman orang biasanya merasa sudah melakukan pilihan yang tepat, biasanya tidak mau berdoa/ atau sholat istikharah meminta petunjuk Allah karena khawatir petunjuk yang di dapat tidak sesuai dengan keinginan. Seorang teman menceritakan juga pernah mengalami hal ini. Sebut saja Joni.

Ketika itu Joni melakukan sholat istikharah untuk memilih tempat tes cpns, formasi yang ada hanya 1 kursi dan 2 kursi.

Setelah Joni melakukan istikharah dia merasa sebaiknya memilih lokasi tes yang hanya menyediakan 1 kursi.

Tapi karena menghitung peluang dan sebagainya akhirnya Joni melaksanakan tes di lokasi yang menyediakan 2 kursi. Setelah pengumuman ternyata Joni tidak lulus padahal jika melihat nilainya sebenarnya lebih besar peluang lulus pada lokasi dengan 1 kursi.

Dengan kata lain seandainya Joni memilih lokasi test yang menyediakan 1 kursi tadi kemungkinan besar akan lulus.

Dari pengalaman tersebut Joni menyadari bahwa petunjuk Allah itu adalah yang terbaik.

Namun biasanya kita semua sering mengabaikan petunjuk Allah.

Sering juga saat memilih jodoh (isteri.suami), seseorang enggan melakukan sholat istikharah untuk mengetahui apakah calon pasangannya merupakan yang terbaik karena khawatir hasilnya malah sebaliknya.

Kita lebih mengutamakan rasa cinta kita tanpa mau melihat pertimbangan Allah. Selain itu kita juga enggan melakukan sholat istikharah dengan dalih petunjuk Allah tidak jelas.

Padahal sebenarnya Allah pasti memberikan petunjuk, namun kebodohan kitalah mengabaikan petunjuk yang datang dari NYA.

Oleh karenanya, mulai saat ini mintalah langsung pada Allah dan pasti petunjuk Allah datang segera. Semoga informasi ini bisa bermanfaat bagi kita semua dan semoga kita menjadi lebih mudah memaknai petunjuk yang diberikan Allah

KWA,2015

@@@

Categories: AMALAN MINTA PETUNJUK ALLAH TIAP SAAT | 28 Komentar

IJASAH ILMU PENGASIHAN NURBUWAT


by MAS KUMITIR

rose-2

sugeng riyadi sedulur semua.. apa kabar, lama tak sua dengan kami. pada kesempatan ini kami ingin berbagi salah satu ilmu khasanah budaya yang ada di nusantara. Berikut ilmu tersebut:… 

 

 

BISMILLAHIRROHMANIRROHIM

NDIK DURUNG ONO AWANG AWANG UWUNG UWUNG JAGADE DURUNG DURUNG DUMADI OPO SING AWOR ANGIN NURBUWAT SIRO LEBONONO GUO GARBANE SI …… (NAMA ORANG YANG DIPELET) … KETEMU TURU GUGAHEN, YEN WIS TANGI KERIKONO DLAMAKANE NJUR ATINE DIREMET-REMET REMPELUNE TEKO WELAS TEKO ASIHE MARANG SI JABANG BAYIKU OJO SIRO NULAK OPO SING DADI KEKAREPANKU DISEKSENI DINO PITU PASARAN LIMO DITOMPO ING DINO …..(HARI KETIKA MEMBACA).

IKI NUJUM RAPALE ILMU PENGASIHAN KANG WIS DIPUTUNG PORO WALI SONGO.

BOLEH PUASA SEMANTAPNYA SESUAI DINO (HARI)  ANGGORO KASIH.

@@@

Categories: IJASAH ILMU PENGASIHAN NURBUWAT | 42 Komentar

SELAMAT IEDUL FITRI 1436 HIJRIYAH


KEPADA SEDULUR-SEDULUR SESEPUH, KELUARGA, SANTRI-SANTRI, ALUMNI, ANGGOTA DAN SEMUA PEMBACA KWA…

KELUARGA BESAR KAMPUS WONG ALUS (KWA) MENGUCAPKAN SELAMAT MERAYAKAN HARI RAYA IEDUL FITRI 1436 

MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN.

MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

Taqabbalallahu minna waminkum wa ahalahullahu ‘alaik

SEMOGA SEMUA DOSA KITA DIHAPUS OLEH ALLAH SWT

DAN

HIDUP KITA MENJADI HIDUP YANG DIRIDHOI SERTA MEMBAWA MANFAAT UNTUK SEMUA — BERKAH BUAT KITA SEMUA—-.

AMIN YRA.  

hormat saya

ki wongalus

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 22 Komentar

MEMBACA PIKIRAN MANUSIA ANALISIS SISI NEGATIF PIKIRAN MANUSIA KAITANNYA DENGAN PENYAKIT TUBUH


Penulis: Mulyana dosen UIN Bandung pakar tasawuf psikoterapi

  1. Pendahuluan

Dalam tubuh manusia terdapat tiga kom-ponen yang sangat vital: Kepala, dada, dan perut. Jika tidak memiliki salah satu dari ketiga komponen ini, manusia tidak akan pernah hidup. Oleh karena itu, manusia tidak boleh mengabaikannya.

Tulisan ini akan meneliti komponen vital manusia berupa kepala. Dalam kepala terdapat otak manusia, yaitu otak kanan dan otak kiri. Kedua otak ini merupakan anugerah Tuhan bagi manusia untuk dipergunakan sebagai alat berpikir.

Orang Islam beruntung karena selama satu hari satu malam memiliki kewajiban melaku-kan shalat lima waktu. Setiap shalat diwajibkan membaca surat al-Fâtihah. Salah satu ayatnya berbunyi, “Berilah kepada kami hidayah yang lurus.” Ibn Qayyim (1292-1350), membagi hidayah tersebut kedalam tiga bagian: Hidayah akal, hidayah ilmu pengetahuan, dan hidayah agama. Oleh karena itu, untuk menjawab pertanyaan, “benarkah penyakit tubuh manusia ditimbulkan oleh pikiran manusia”,  kita harus membaca pikiran manusia atau akal manusia.

Tuhan memberi akal kepada manusia untuk membedakan dunia nyata yang saling berbenturan antara benar dan salah yang dihadapi manusia. Berdasarkan tinjauan filsafat, manusia berhadapan dengan dua hal: sehat dan sakit; hidup dan mati; senang dan sengsara. Seperti dua sisi mata uang yang berbeda, semuanya tidak akan terlepas dari kehidupan manusia.

Descartes (1596–1650), salah seorang pelopor Rasionalisme, berusaha menemukan suatu kebenaran yang tidak dapat diragukan lagi. Kebenaran itu, menurutnya, adalah dia tidak ragu bahwa dia ragu. Pernyataan tersebut terkenal dengan semboyannya cogito ergo sum (penulis ragu maka penulis ada). Ia yakin, kebenaran-kebenaran semacam itu  ada dan dikenal dengan cahaya yang terang dari akal budi.

Pernyataan Descartes di atas sebetulnya berkaitan dengan pencarian kebenaran dalam kajian filsafat ilmu. Menurut teori ini, ilmu dibangun atas dasar akal pikiran manusia. Lalu, bagaimana dengan kesehatan manusia? Jawabannya tidak jauh berbeda. Pikiran manusia sebagai sumber awal bagi kesehatan manusia, demikian juga sakitnya tubuh manusia berawal dari pikiran manusia sendiri. Pikiran yang mana? Tentu pikiran yang sehat yang dalam bentuk positive thinking atau husn al-zhannakan memancarkan kesehatan ke seluruh tubuh manusia. Sebaliknya, pikiran negatif akan memancarkan pula penyakit ke seluruh tubuh manusia.

Akal yang memiliki kemampuan berpikir dan alatnya, yaitu ‘otak insani’, adalah sesuatu yang diberi tugas kepemimpinan oleh Allah, yang harus mendominasi ‘otak hewani’ di dalam dirinya, serta yang dengannya jiwa dapat merealisasikan berbagai keinginan dan dorong-annya.

Di dalam otak manusia ada beberapa pusat yang dinamakan ’otak baru’ atau ’otak berpikir’, serta beberapa pusat yang dinamakan ’otak hewani’ yang menjadi sumber segala emosi serta berbagai gejala psikis dan fisik seperti perasaan marah, gembira, lezat, nikmat, tenang, dan sebagainya. Jadi, ada semacam daya kekuatan dalam pikiran kita sendiri dalam rangka membangun tubuh manusia sehat atau sakit.

Dalam pembahasan ini, peneliti ajukan rumusan masalah sebagai berikut; pertama, benarkah penyakit tubuh manusia dapat ditimbulkan akibat dari pikiran manusia itu sendiri? Apa saja gangguan pikiran yang mendorong manusia menjadi sakit pikiran, sakit jiwa. dan bahkan sakit fisik?

  1. Pembahasan
  2. Pikiran Negatif Sumber Penyakit Manusia

Sumber penyakit pertama disebabkan oleh pikiran negatif. Oleh karena itu, jangan coba-coba berpikir negatif terhadap segala sesuatu. Berpikir negatif mengarahkan manusia kepada ucapan, prilaku, dan perbuatan negatif pula. Pada akhirnya, manusia bermuara dalam kesengsaraan dengan bermacam-macam mas-alah yang dipikulnya. Semakin banyak beban yang dipikul, semakin bertambah pula penyakit dalam tubuh manusia. Di sini Anda akan merasakan bahwa pikiran benar-benar pencipta penyakit yang sangat luar biasa dalam diri manusia. Demikian juga sebaliknya, pikiran juga benar-benar pencipta kesehatan tubuh manusia yang utama.

Mulai sekarang konsentrasikan pikiran Anda terhadap hal-hal yang positif dan jauhkan dari hal-hal yang negatif. Kemudian, dalam pikiran Anda tersimpan hanya ada Allah sajalah yang memberikan segala kekuatan, kesehatan, dan kebahagiaan. Kesam-pingkan alat kebahagian semuyang dapat menipu dan menjerumuskan Anda.

Untuk membuat orang jatuh sakit, tidak mesti dengan memakai golok atau senjata tajam, atau senjata api, atau senjata lainnya. Sekarang, hanya cukup  memakai pikiran saja. Anda lakukan, misalnya, setiap hari ketika berjumpa dengan sahabat di kantor atau di tempat kerja, Anda katakan kepada sahabat Anda, cukup dengan kata-kata yang menye-nangkan, “Anda nampak, pagi ini kelihatan lebih ceria dari hari-hari kemarin”. Sahabat Anda akan menyahut dengan kata-kata, “oh…ya…”, dan akan mengucapkan, ”terima kasih atas perhatian Anda.”

Sahabat Anda tadi  akan berpikir bahwa “penulis dalam pandangan teman-teman dipandang memiliki kesehatan yang prima.” Nah, pikiran ini akan direspon oleh jiwanya dan akan terus merasakan bahwa ia adalah sehat. Pikiran ini tidak akan pernah berpikir bahwa dirinya adalah sakit, sekalipun ia salah seorang yang terkena suatu penyakit. Penga-laman seperti ini banyak dilakukan oleh orang-orang di alam semesta ini, yaitu mereka yang kaya akan pikiran positif, optimis dalam menghadapi kehidupan dan mereka yang banyak mendekatkan diri pada Allah Swt.

Banyak orang- yang memiliki pikiran positif terhadap segala hal, termasuk ketika meng-hadapi penyakit. Orang seperti ini hanya memiliki konsentrasi tingkat tinggi, bahwa dirinya adalah sehat, dan segalanya  diserahkan kepada Yang Maha Kuasa. Orang seperti ini  tidak banyak mengeluh, tidak sering memanja-kan penyakitnya, dan juga tidak diumbar kepada orang lain, supaya yang lain mengeta-hui bahwa dirinya sedang sakit dan ingin diperhatikan.

Demikian juga, Anda dapat lakukan hal seperti ini kepada orang tua Anda, kepada kekasih Anda, yaitu istri Anda. Cukup Anda katakan pada malam hari  atau setiap bangun pagi, dengan kata-kata yang dapat membuat pikiran istri Anda lebih nyaman, senang dan bahagia. Katakan, misalnya, “waduh nampak-nya istriku pagi hari ini ceria sekali dan cantik sekali.” Secara spontan, istri Anda akan menjawab, “Terimaksih, suamiku atas per-hatiannya.” Tidak lama kemudian, hampir dipastikan istri Anda akan segera ke kamar dan langsung bercermin, istri Anda akan berkata dalam hatinya, “Apa benar aku ini ceria dan nampak cantik seperti ungkapan suamiku?”

Pikiran akan membangun sebuah surgawi kebahagian dan kesenangan. Pikiran positif akan mampu membangun jiwa dan tubuh akan lebih sehat dan atau sebaliknya. Oleh karena itu, para resi memiliki pendapat sederhana dalam debat pikiran-tubuh. Mereka berkata, semuanya berasal dari pikiran. Pikiran akan memproyeksikan dunia, persis seperti yang dilakukan proyektor film. Tubuh merupakan bagian dari sebuah film, begitu pula segala sesuatu yang terjadi pada tubuh kita. Lalu, Apa yang Anda pikirkan, itulah Anda. Jika Anda ingin sehat jasmani dan rohani, berpikirlah secara positif.[6] Berusahalah menghindari pikiran-pikiran negatif.

Gangguan Pikiran

Ganguan pikiran disebut juga dengan ganguan mental. Mental masuk ke dalam kategori kesiapan pikiran seseorang atau ketidak-siapan dalam menghadapi sesuatu hal di luar dirinya yang pernah diindera. Gangguan terhadap kesehatan mental dapat pula dipengaruhi pikiran, misalnya anak-anak menjadi bodoh di sekolah, pemalas, pelupa, suka membolos, tidak dapat berkonsentrasi, dan sebagainya. Adapun pada orang dewasa merasa bahwa kecerdasannya telah merosot, kurang mampu melanjutkan sesuatu yang telah direncanakannya baik-baik, mudah dipenga-ruhi orang lain, menjadi pemalas, dan apatis.[7]

Mental berhubungan dengan pikiran, akal, dan ingatan atau proses yang berasosiasi dengan pikiran, akal, dan ingatan seperti mudah lupa, malas berpikir, tidak mampu berkonsentrasi, picik, tidak dapat mengambil suatu keputusan dengan baik dan benar, bahkan tidak memiliki kemampuan membeda-kan antara yang halal dan haram, bermanfaat dan mudharat, serta hak dan batil.[8]

Berikut ini beberapa gejala gangguan pikiran yang dialami manusia, mulai tingkatan anak kecil sampai tingkatan dewasa, bahkan manusia lanjut usia.

2.1. Pikiran Kosong

Pikiran kosong dapat menciptakan suatu penyakit yang sangat luar biasa. Pikiran kosong yang terjadi secara terus menerus akan menjadi sebuah lamunan dan  khayalan. Ini akan membangun suasana tubuh atau kondisi badan manusia secara fisik menjadi labil. Kelabilan ini dapat menciptakan kelemahan badan manusia secara fisik dan juga non fisik. Berikut dikemukakan beberapa kasus.

Kesurupan, menurut kepercayaan masya-rakat, diakibatkan oleh kerasukan Jin. Padahal, penyakit semacam ini merupakan salah satu bentuk pikiran kosong. Peneliti pernah mengadakan diagnosis kepada seorang ibu yang mengamuk kesurupan dan juga seseorang yang kasurupan. Setelah didiagnosis ternyata, pikir-anlah yang menjadikan mereka seperti itu.

Dalam keadaan pikiran kosong ini, pikiran positif seseorang terkalahkan oleh pikiran negatif,sehingga ia melamun dan akhirnya terjadi sesuatu yang benar-benar menakutkan.

Kasus lain, seorang remaja putri tergeletak di tengah-tengah suasana hura-hura yang diiringi dengan suara gemuruh petir. Ia meraung-raung seperti kemasukan setan dan berkata ngawur. Ia menjerit-jerit. Matanya melotot seperti orang marah, bahkan seperti orang yang sedang sakaratul maut. Menurut kepercayaan orang, gejala ini adalah apa yang disebut dengan kesurupan. Kasus  ini tidak berhenti pada seorang remaja putri saja, bahkan menjadi kesurupan masal.

Kenapa hal ini terjadi? Lagi-lagi, pikiran kosong  sangat efektif menciptakan kesurupan tadi. Temannya berpikir rasa kekhawtiran akan menimpa dirinya, yang lainnya pun demikian. Pikiran  ini membawa seseorang ke alam pikiran lain, sehingga terjadi kekosongan dalam pikiran masing. Di sini, sugesti sangat dominan dalam pikiran sehingga cepat tertular kepada yang lainnya, seperti terdapat aliran listrik yang dapat menyetrum kepada aliran lainnya. Begitu hebatnya, sugesti ini dapat menerpa kepada  orang-orang yang pikirannya kosong.

Ketakutan dan Kecemasan

Pikiran takut[10] atau ketakutan merupakan suatu fenomena yang biasa dialami manusia ketika menghadapi sesuatu yang sangat menakutkan. Ketakutan ini biasanya diciptakan oleh pikiran kita sendiri. Apalagi dalam hidup dan kehidupan ini manusia dihadapkan kedalam dua hal: Ketidak-berdayaan dan ketidak-pastian. Kedua hal ini cukup bagi manusia untuk menciptakan bagi dirinya berbagai macam ketakutan dan kecemasan.

Sumardi Suryabrata mengatakan bahwa dinamika kepribadian untuk sebagian besar dikuasai oleh keharusan untuk memuaskan kebutuhan dengan cara berhubungan dengan obyek-obyek di dunia luar. Lingkungan menyediakan makanan bagi orang yang lapar dan minuman bagi orang yang haus. Di samping itu, lingkungan juga berisikan daerah-daerah yang berbahaya dan tidak aman. Jadi, lingkungan dapat memberikan kepuasan maupun mengancam; atau dengan kata lain, lingkungan mempunyai kekuatan untuk mem-berikan kepuasan dan mereduksi tegangan maupun menimbulkan sakit dan meningkat-kan tegangan, dapat menyenangkan maupun menggangu.

Biasanya reaksi individu terhadap ancaman ketidaksenangan dan pengrusakan yang belum dihadapinya ialah menjadi cemas atau takut. Orang yang merasa terancam umumnya adalah orang penakut. Ketakutan yang berlebihan akan meningkat menjadi suatu kecemasan. Biasanya, kekhawatiran meningkat menjadi rasa takut, dan kemudian seseorang menjadi cemas. Kecemasan ini muncul ketika dihadap-kan ke dalam kondisi yang tidak terkendalikan, yaitu dua hal tadi, ketidak-berdayaan dan ketidak-pastian.

Kecemasan adalah fenomena yang paling banyak menyebar dan menggelisahkan. Sejak puluhan tahun, para ilmuwan sistem syaraf menemukan bahwa pikiran, perasaan, dan prilaku merupakan aktivitas kehidupan yang digerakan oleh aktivitas fisiologis sistem syaraf dan unsur-unsur kimiawi. Pada beberapa makhluk hidup yang dibekali sistem syaraf ditemukan pula beberapa pusat syaraf yang berpengaruh terhadap munculnya penyakit, ketakutan, kenikmatan, marah, gerak, dan bentuk-bentuk emosi lainnya. Pusat-pusat syaraf ini disebut dengan kumpulan otak hewani atau otak nabati. Dalam hal ini, penulis memiliki informasi dari orang-orang yang mengalami ketakutan dan kecemasan yang berujung kepada berbagai masalah penyakit.

Fenomena ketakutan ini akan segera hadir dalam pikiran ketika terjadi penggabungan masa lalu dengan kenyataan pikiran yang kacau

Di sini penulis tegaskan bahwa rasa takut timbul akibat merasa akan terjadi sesuatu yang buruk atau bahaya. Padahal, ”merasa akan terjadi” (antisipasi) berkaitan dengan kejadian-kejadian di masa mendatang yang mungkin atau tidak mungkin terjadi. Untuk kejadian yang yang sifatnya mungkin terjadi, kita sendiri atau orang lainlah yang menjadi penyebabnya. Seseorang yang mempunyai akal sehat tidak perlu takut pada kejadian-kejadian yang disebutkan tadi.

Beberapa Fenomena Ketakutan

3.1. Takut Miskin

Takut miskin biasanya dimiliki sebahagian orang kaya, tetapi kikir lantaran cinta dunia yang berlebihan. Oleh karena itu, ia  takut miskin. Secara psikologis, ia disebut manusia ekonomi.

Sumardi Suryabrata mengatakan bahwa orang yang termasuk kelompok ekonomi ini selalu kaya akan gagasan yang praktis, tetapi kurang memperhatikan bentuk tindakan yang dilakukannya. Sebab, perhatiannya tertuju pada hasil, bukan tindakannya itu. Manusia semacam ini akan menilai segala sesuatu hanya dari segi kegunaan dan nilai ekonominya. Dia bersikap egosentris. Kepentingan sendirilah yang diutamakan. Orang lain menarik perhatiannya selama berguna baginya. Penilai-annya terhadap orang lain didasarkan kepada kemampuan kerja dan prestasinya. Sikap jiwanya yang praktis itu memungkinkannya dapat mencapai banyak hal di dalam hidup-nya. Dia mengejar kekayaan. Dengannya dia akan mencapai apa yang diinginkannya.

Manusia ekonomi ini selalu merasakan ketakutan yang berlebihan, terhadap ketidak berdayaaan dan ketidak-pastian, lantaran harta kekayaannya takut hilang dari genggamannya. Oleh karena itu, tidak sedikit manusia ekonomi rentan terkena penyakit, penyakit pikiran dan terus berlanjut terhadap penyakit bathin dan penyakit tubuh. Misalkan seseorang yang kaya raya, siang dan malam selalu berpikir ketakutan hartanya takut di curi oleh orang lain, sehingga ia pada malam hari selalu berjaga dan kurang tidur. Ini adalah awal bencana bagi dirinya akibat berlebihan sayang terhadap harta dan takut kehilangan kekayaannya. Biasanya, orang seperti ini bersifat kikir dan tidak mau mengorbankan hartanya untuk agama dan kesejahteraan orang lain. Orang seperti ini, tidak mau mengeluar-kan zakat harta dan shodaqah, karena dalam pikirannya terdapat ketakutan dan kecemasan akan menimpa kemiskinan di kemudian hari.

Allah Swt. menginformasikan:

Mereka bakhil terhadapmu apabila datang ketakutan (bahaya). Kamu lihat mereka memandang kepadamu dengan mata yang terbalik- balik seperti orang yang pingsan karena akan mati; Dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka tidak beriman, maka Allah menghapus-kan (pahala) amalnya. Yang demikian itu mudah bagi Allah.

Orang kaya takut miskin. Mereka biasanya kurang memiliki rasa solidaritas dan kurang memiliki rasa sosial terhadap sesama. Orang kaya seperti ini dikategorikan orang yang mendustakan terhadap agama.

”Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Yaitu orang yang menghardik anak yatim dan tiada menganjurkan memberi makan orang miskin.”

Orang kaya yang takut miskin enggan memberi sesuatu kepada yatim dan miskin karena tidak terdapat sesuatu yang diharapkan-nya dari mereka. Anda dapat menjumpai sekian banyak orang yang memberi kepada mereka (orang kaya berderma kepada orang kaya) yang pada dasarnya tidak membutuhkan bantuan itu. Namun, pada saat yang sama, ia mengabaikan banyak lainnya yang justru sangat membutuhkannya dan akan sangat bergembira bila memperoleh bantuan walaupun sekecil apa pun. @@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 9 Komentar

NILAI-NILAI ISLAM DAN MODERNITAS


Penulis:
Moch Musoffa Ihsan, alumni Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta

PERGI ke negeri Barat mungkin bukan pilihan yang salah bagi Nidal. Di sana terbayang dalam benak Nidal sebuah negeri yang mendewakan kebebasan. Atas nama demokrasi, Barat memang telah memberi  keleluasaan bagi warganya untuk berekspresi diri betapa pun “miring”-nya sebuah profesi. Mungkin suatu fakta ganjil ketika Daily Planet, sebuah rumah bordil di Australia, telah listing resmi di bursa saham di Melbourne. Tak sekadar memiliki rumah pelacuran, dengan menjual saham itu bertujuan pula membuka proyek ambisius, yaitu “Sex Disneyland” di Sydney. Atau, kenyataan di negeri Barat lainnya yang memberi tempat bagi perkawinan bagi kaum homoseksual dan seperti di Belanda yang memberi payung hukum dan jaminan sosial terhadap pelacuran.

Dilema tiada bertepi

Dalam situasi apa pun, pelacuran selalu saja hadir, dari yang mengendap-endap hingga yang terang-terangan. Sulit dielak, pelacuran telah beringsut dan menggurita menjadi industri seks yang tak pernah sepi dari hiruk-pikuk konsumen sehingga keberadaannya menjelma bagai “benang ruwet”. Sebab, pelacuran selalu saja berimpitan dengan wilayah sosial, kekuasaan politik, dan ekonomi, bahkan lembaga keagamaan (baca: Tham Dam Truong, Sex, Money and Morality, Terj Ade Armando, LP3ES, 1992). Namun juga, pelacuran berkaitan dengan watak dan tabiat manusia yang seolah menjadikannya sebagai bagian dari hidup. Tak ayal, soal pelacuran sama saja dengan mengunyah masalah yang paling purba di muka bumi ini. Atau, seperti kata Helen Buckingham, Ketua Prostitution Laws Are Non-Sense, pelacuran adalah profesi wanita paling purba, tempat untuk pertama kalinya seorang wanita memperoleh penghasilan yang modalnya adalah tubuhnya sendiri.

Pelacuran adalah sebentuk wajah dari seksualitas manusia. Seksualitas sendiri tentunya sudah berjalan semenjak manusia ada, terutama untuk maksud- maksud reproduksi. Seiring dengan berjalannya waktu dan makin merumitnya kebudayaan, maka melebar pula jangkauan seksualitas. Demikian pula kehadiran pelacuran bersetangkup dengan tersimpuhnya impuls-impuls erotisme yang secara fitrah ada dalam diri manusia. Erotisme merupakan salah satu aspek dari kehidupan batin manusia, suatu aspek langsung dari pengalaman batin yang membedakan dengan seksualitas binatang. Watak dari erotisme adalah kemenyatuan gairah yang melampaui segala penghalang seperti tabu-tabu yang dikonstruksi secara sosial.

Menurut George Bataille (dalam Erotism, Death And Sensuality, City Light Books, San Francisco, 1986, hal 132-133), pelacuran adalah salah satu corak kehidupan sosial yang melanggar normalitas sosial. Di dalam pelacuran sesungguhnya aspek kesucian dan pantangan dalam hubungan seksual tetap berpadu dalam diri sang pelakunya, hanya saja ia menerabas batas. Lahirnya pelacuran yang semata karena kuatnya pertukaran komersial-Bataille menyebutnya dengan “Low Prostitution” (Ibid, hal 135)- disebabkan oleh faktor kemiskinan daripada penjelajahan terhadap tabu-tabu. Kemiskinan menjadi sebab-sebab lain yang membebaskan dari larangan sosial, tetapi bukan melanggar, hanya penampakan dari rasa ketakberdayaan secara sosial ekonomi. Dan, ini bertalian dengan dunia kerja dalam “iron cage” kapitalisme.

Secara sosiologis, suasana lalu lalang pelacuran acap kali menjerat pandang masyarakat yang berstandar ganda. Pelacuran dipandang sebagai kehinaan sehingga dimasukkan dalam patologi sosial. Di sisi lain-menyitir kata-kata Dr J Verkuyl-pelacuran diterima sebagai sesuatu yang tak terelakkan. Apakah itu pelacur yang berjulukan Hetaerae yang cerdas, anggun, dan terhormat di zaman Yunani Kuno, ataukah itu Meretrice yang hina dan dipaksa memakai wig, melata, dan bergelandang di pojok kota dalam masyarakat bawah Romawi.

Beragam pandangan orang terhadap kehidupan pelacuran mengental dalam dimensinya masing-masing, mengutuk atau bersimpati terhadap mereka yang melata dan menggelepar menangguk lembaran-lembaran rupiah dengan modal tubuh itu. Penilaian inilah yang akan melahirkan posisi sosial seorang penjaja seks. Tak urung-menyitir MAW Brouwer-masyarakat bisa terjebak pada sikap munafik. Ini yang dirasakan Nidal dalam pergulatan profesinya di Baghdad: “Laki-laki memang makhluk paling munafik di dunia. Mereka mencemooh, tetapi diam-diam mereka datang”.

Apa pun bentuk penilaian dan tindakan, kegiatan penjajaan seks sebagai komoditas akan tetap berlangsung terus. Secara post-factum, bisa dikatakan bahwa pelacuran yang dianggap sebagai “penyimpangan moral agama” sudah merupakan bagian integral dalam kehidupan manusia, berdampingan dengan jalan normalitas. Dalam kata-kata Thomas Aquinas yang mencuplik St Agustinus, pelacuran ibarat sebuah “selokan” di dalam sebuah istana. Mungkin, tanpa selokan sebuah istana indah nan megah, lambat laun akan mesum karena tidak ada jalan untuk membuang kotoran yang terdapat di dalamnya (Tjahyo Purnomo dan Ashadi Siregar, Dolly, Graffiti Press, 1985, hal 9).

Sementara itu, di Indonesia tidak ada satu pun pasal dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) yang secara tegas mengancam hukuman pidana kepada pelacur. Hanya ada tiga pasal yang memberikan ancaman pidana kepada siapa pun yang mata pencahariannya atau kebiasaannya dengan sengaja mengadakan atau memudahkan perbuatan cabul dengan orang lain (germo). Ini diancam dengan Pasal 296 KUHP. Kemudian, yang memperniagakan perempuan (termasuk laki-laki) yang belum dewasa disebut dalam Pasal 297 KUHP. Dan, yang terakhir adalah pelindung yang berperan sebagai perantara atau calo dalam mempertemukan pelacur dengan pelanggannya serta mengambil keuntungan dari pelacuran diancam dalam Pasal 506 KUHP (R Susilo, KUHP, Politeia, Bogor,1964). Dengan demikian, si pelacur sendiri tidak secara tegas diancam oleh hukum pidana karena memang “Prostitution itself is not crime”, seperti kata Dennise Winn.

Di tengah kenyataan yang menyemak belukar ini, kaum agamawan pun jelas- jelas tertimpuk oleh persoalan krusial sekaligus dilematis. Pelacuran menjadi hal yang problematis karena ia berada pada grey area, wilayah abu-abu yang remang. Di satu sisi, dalam stigma ajaran agama, pelacuran merupakan kemungkaran (munkarat wa al-jarimah). Sementara di sisi lain, pelacuran sulit diberantas, bahkan kian mewabah dengan segala hal yang melatarinya. Di sela-sela keruwetan itu kemudian muncul sikap keagamaan yang sering disebut dengan fundamentalisme agama. Fundamentalisme agama ini tidak selalu muncul dalam bentuk tunggal, tetapi beragam, baik dari strategi gerakan, maupun pemikiran dan ideologi yang dikembangkan, sehingga ada yang pragmatis, revolusioner, maupun asketis-isolatif. Mereka menawarkan resep untuk mengobati krisis sosial, politik, moral, dan budaya yang dialami oleh masyarakat modern. Munculnya sikap ini tampak kian menggejolak di berbagai negeri Muslim. Tak hanya di Irak, juga di negeri kita.

Pada dasarnya, fundamentalisme Islam bergelora melalui penggunaan bendera jihad untuk memperjuangkan agama. Suatu ideologi yang kerap kali mempunyai fungsi menggugah militansi dan radikalisasi umat. Selanjutnya, fundamentalisme ini diwujudkan dalam konteks pemberlakuan syariat Islam yang dianggap sebagai solusi alternatif terhadap krisis bangsa. Mereka hendak melaksanakan syariat Islam secara kafah dengan pendekatan tafsir literal atas Al Quran. Pelaksanaan syariat Islam ini termasuk hukum rajam bagi segala bentuk perzinahan.

Benturan peradaban

Apa yang pernah digegerkan oleh Huntington dengan “benturan peradaban” (clash of civilization) ternyata tak hanya menyangkut arena demokrasi. Dalam perkembangannya telah meluas pada soal-soal kemanusiaan yang lebih kompleks, seperti perceraian, aborsi, persamaan gender, hak-hak kaum gay dan lesbian, serta prostitusi. Di sinilah terjadi garis pemisah yang makin menebal antara Barat dan dunia Islam, yang intinya pada soal liberalisasi seksual. Dengan kata lain, nilai-nilai yang memisahkan keduanya lebih banyak berkait dengan eros daripada demos.

Model negara-bangsa dan globalisasi yang diciptakan oleh Barat dan telah merambah di berbagai bidang serta memberi pengaruh perilaku budaya terhadap masyarakat Muslim, telah menancapkan sudut pandang lain pada sebagian Muslim, yakni telah terjadi dominasi Barat atas Islam. Dalam ungkapan Ziauddin Sarder, kenyataan ini adalah cermin menguatnya “imperialisme epistemologis”.

Dalam perspektif inilah, lahirnya fundamentalisme Islam tak lepas dari bingkai pandangan yang terbentuk secara konfrontatif tersebut. Mengutip Prof Bassam Tibi (Ancaman Fundamentalisme, Rajutan Islam Politik Dan Kekacauan Dunia Baru, Tiara Wacana, 2000, hal 8), fundamentalisme Islam merupakan gejala ideologi yang muncul sebagai respons atas masalah-masalah globalisasi, fragmentasi, dan benturan peradaban.

Inilah gambaran betapa telah terjadi ketegangan dalam pergumulan umat Islam dengan modernitas, yakni Musykilah al-ashalah wa al-hadasah, berputar- putar pada persoalan keautentikan dan kemodernan. Modernisasi yang kemudian didukung oleh globalisasi adalah suatu paket besar dari Barat yang di dalamnya terdapat teknologi, ekonomi, agama, bahkan budaya. Ketegangan ini terlimpah antara desa lawan kota, buta huruf versus pendidikan, kepasrahan versus ambisi, kesalehan versus kemungkaran, dan sebagainya.

Penolakan kaum fundamentalis terhadap dominasi konsep Barat ini bukan semata karena ia merupakan solusi yang diimpor (al-hulul al-mustauradah), seperti dinyatakan oleh Yusuf Qardhawi (al-Hulul al-Mustauradah Waqaif Janat `Ala Ummatina, Beirut, 1995, hal 49 dan 307), tetapi juga karena lebih mencerminkan prototipe negara sekuler. Konsep ini, menurut mereka, bertentangan dengan doktrin Islam dan formalisasi syariat Islam.

Sebaliknya, mereka mengusung pandangan teosentris Islam yang tanpa batas dengan menolak ide tentang manusia sebagai jiwa yang bebas untuk menentukan diri sendiri. Sebab itu, mereka membutuhkan wilayah kekuasaan yang dibayangkan sebagai tempat implementasi hukum syariat. Akan tetapi, mereka menolak Daulah Qaumiyah (sistem negara-bangsa), serta menginginkan Daulah Islamiyah (negara Islam) sesuai dengan interpretasi mereka.

Karena itu, mereka terpincuk untuk melakukan purifikasi secara radikal dalam segala hal, termasuk terhadap apa yang disebut penyakit sosial. Dengan semangat jihad fi sabilillah, mereka mengibarkan bendera perang terhadap segala bentuk maksiat dengan tindakan radikal seperti mengobrak-abrik tempat-tempat hiburan atau malah membunuh pelacur, seperti kasus di Irak. Suatu tindakan yang dituding oleh sebagian Muslim lain sebagai antidemokrasi serta kepicikan (jumud) terhadap konsep rahmatan lil `alamin dalam Islam.

Dalam kasus di Indonesia, kita diingatkan, misalnya, ketika sejumlah LSM menuntut segera disusun UU tentang aborsi sebagai salah satu langkah melindungi hak-hak reproduksi perempuan, kemudian memicu protes sebagian masyarakat bahwa itu merupakan usaha melegalkan perilaku seks bebas. Ketika sebagian pihak mengusulkan perlunya lokalisasi pelacuran, sebagian masyarakat bereaksi bahwa itu merupakan usaha mengabsahkan pelacuran.

Beberapa waktu berselang, dalam kongresnya, Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) di antaranya menghasilkan keputusan yang idealistik, yaitu akan berupaya memperjuangkan secara konstitusi adanya tindakan hukum terhadap pelaku perzinahan. Tentunya, dalam iklim kebebasan berpendapat, hal ini sah- sah saja sebagai wujud dari keinginan hendak melakukan pengaturan sosial melalui pendekatan agama.

Akan tetapi, hal ini di samping merupakan perjuangan yang amat melelahkan, yang lebih substansial adalah perlunya menimbang berbagai faktor-faktor sosial, kultural, dan ekonomi, termasuk juga adanya perbedaan pendapat sendiri di kalangan umat Islam. Kalau kita merujuk pada para ulama kuno (salaf), betapa terlihat secara arif, mereka telah meletakkan dasar tindakan keagamaan seperti terungkap dalam nomenklatur Ushul Fikih: “Jalbul Mashalih Muqaddamun `Ala Dar’il Mafasid “, menarik kebaikan perlu diutamakan daripada menolak kejelekan.

Di samping itu, terlihat sering kali upaya gerakan islamisasi konstitusi terlampau bertumpu pada “semangat jihad” melalui cara pandang sempit dan militan, tanpa pembekalan pemikiran ijtihadi sehingga sering kali pula sulit membedakan secara clear and distinct antara hal-hal yang perlu dielaborasi (dzanni al-dilalah) dan yang dogma (qhat’I al-dilalah), atau yang dini (ajaran keagamaan) dan mana yang tarikhi atau tsaqafi (historis- kultural). Mereka hanya bersemboyan: “La hukma Illa Allah”, tidak ada hukum kecuali hukum dari Allah. Dan, diktum amar makruf nahi mungkar lebih ditafsirkan sebagai upaya mencari kebenaran dengan pedang. Suatu tindakan keagamaan yang mengingatkan kepada kelompok Khawarij yang muncul pada awal-awal pergolakan pemikiran Islam.

Pada praktiknya masih terlihat fragmentaris ketika formalisasi ajaran Islam dioperasikan. Klaim penerapan syariat Islam masih berkutat pada pemahaman masing- masing sehingga pada tingkat antarnegara yang saling mengklaim itu pun esensinya berbeda-beda ketika dibenturkan pada hal-hal yang aplikatif. Akhirnya, syariat Islam dilaksanakan secara simbolik oleh negara tertentu dan ini dipandang justru mempersempit ruang gerak syariat itu sendiri.

Belum lagi persoalan penyimpangan moral yang terjadi secara sembunyi-sembunyi yang dilakukan oleh warganya akibat pengekangan negara melalui rigiditas hukum agama, seperti perkosaan atau “pornografi malu-malu” yang intinya mengarah pada perilaku seks serampangan. Afganistan, pada masa Taliban yang menerapkan hukum Islam secara puritan dan rigid, ternyata menyisakan banyak kisah soal perkosaan sebagai akibat dari penindasan terhadap kaum wanita.

Alih-alih dapat meraih nilai universal syariat, formalisasi Islam justru menimbulkan pemahaman yang sempit. Misalnya, di Arab Saudi dalam hal pelarangan perempuan menyetir mobil atau pelarangan warga Afganistan mendengarkan musik pada zaman rezim Taliban. Akibatnya, menjadi pemandangan biasa jika satu negara terlalu ketat dalam menerapkan syariat Islam, sedangkan negara lain agak longgar walaupun sama- sama mengklaim sebagai negara Islam yang menerapkan syariat Islam.

Demikian pula dalam hal sulitnya menindak pelacuran. Agama tidak bisa langsung bertindak sebagai “lembaga inkuisisi” dengan menjatuhkan sanksi (`uqubat) terhadap pelacuran. Dalam fikih Islam sendiri terdapat ragam beda pendapat, misalnya dalam kasus pelacuran. Menurut Abu Hanifah, perbuatan seks dengan wanita bayaran tidak bisa dikenai hukum Hadd karena hukum transaksinya (al-Ijarah) masih samar (syubhat), sedangkan pelaksanaan hukum Hadd, seperti disabdakan nabi, harus bebas dari segala kesamaran, (Sirajuddin Abu Hafsh, Al-Ghurrah al-Munifah, Maktabah Imam Abu Hanifah, Beirut, 1988, hal 169-170, Cet II).

Pemikiran fikih ini tampak pula dari hasil penjelajahan hukum (istinbath) KH Sahal Mahfudz yang kini menjadi Ketua MUI. Khusus mengenai pelacuran, KH Sahal Mahfudz lebih menggunakan “paradigma jalan tengah”. Sempat terjadi polemik ketika KH Sahal Mahfudz mendukung sentralisasi lokasi pelacuran di Jawa Tengah yang diusulkannya untuk ditempatkan di Nusakambangan dan Karimunjawa. Menurut KH Sahal Mahfudz, pelacuran bagaimanapun tidak dapat dihapuskan, yang bisa dilakukan adalah meminimalisasi.

Dalam kata-kata KH Sahal Mahfudz, “Apabila pelacuran dipandang sebagai sebuah dosa, maka perluasan industri seks baik melalui turisme seks atau lainnya harus pula dipandang sebagai refleksi kegagalan untuk mempertahankan tindakan moral yang ideal. Sebab, apalah artinya ‘membenci dosa’, tapi mencintai ‘pelaku dosa’. Dengan demikian, penanganan industri seks harus dilihat dari berbagai aspek dan perlu melibatkan banyak pihak” (Sumanto al-Qurthubi, KH MA Sahal Mahfudz, Era Baru Fikih Indonesia, Cermin, Yogyakarta, 1999, hal 101-102).

Pada tataran teoretis bisa lebih dijelaskan bahwa dalam hukum Islam terdapat istilah hukum pokok (al-ahkam al-ashliyyah), yaitu inti-inti ajaran hukum yang terdapat dalam syariah dan hukum pendukung (al-ahkam al-muayyidah). Kasus hukum rajam bagi pelaku zina, umpamanya, bukanlah inti ajaran yang dikehendaki syariah. Yang inti adalah larangan perbuatan zina. Adapun hukum rajam adalah hukum pendukung dalam menegakkan larangan zina. Jadi, cukup hukum pokok saja yang diakomodir. Karena, seperti dinyatakan oleh Wahbah Zuhailli, hukum pendukung tidak selamanya bisa dilaksanakan di tempat dan waktu yang berbeda (al-Fiqh al-Islamy, Darul Fikr, Beirut, 1986, juz IV, hal 280). Maka, hukum rajam tersebut tidak harus dipaksakan keberlakuannya. Yang penting, tidak bertentangan dengan inti ajaran syariah, yang berarti win-win solution dalam rangka pemeliharaan agama dan kemaslahatan dunia (haratsah al-din wa siyasah al-dunya).

Hal ini membuktikan bahwa fikih dengan pluralisme pendapat (qaul) tidak bisa langsung dijadikan sebagai hukum positif negara. Artinya, fikih bukan sebagai “kebenaran ortodoksi”, tetapi lebih sebagai “pemaknaan sosial” dan “alat rekayasa sosial” sekaligus sebagai “etika sosial”. Dengan demikian, masalahnya adalah bagaimana meramu hukum Islam agar kehadirannya tidak bertentangan dengan modernitas, tetapi sejalan dengan semangat dan ruh wahyu sebagai sumber fikih.

 

Kalau dikaitkan dengan persoalan dosa dan iman, kita bisa menengok kembali pada teologi Islam yang pernah menjadikan persoalan tersebut sebagai perdebatan teologis yang seru. Perdebatan ini kemudian melahirkan sekte-sekte (firqah) yang masing-masing berpegang pada argumennya. Kelompok Khawarij menganggap bahwa seorang mukmin yang berbuat dosa besar berarti layak dikafirkan. Sementara itu, kelompok Sunni mendasarkan pandangan bahwa orang mukmin tersebut masih tetap dalam bingkai mukmin, bukan kafir. Sementara kelompok Murji’ah tidak memberikan sikap yang pasti: apakah mereka tetap mukmin atau kafir.

Mereka beralasan bahwa permasalahan tersebut merupakan wilayah otoritatif dan hak prerogatif Tuhan. Berarti, keputusannya menunggu nanti di akhirat yang akan dihakimi sendiri oleh Tuhan. Sekali lagi, ini membuktikan bahwa di dalam Islam tindakan pengafiran (takfir), lebih-lebih pengafiran secara akidah, tidak boleh dilakukan secara gegabah karena masih menjadi lapangan ijtihadi.

Kebaikan universal

Tegasnya, yang dibutuhkan saat ini dalam meretas apa yang kerap disebut sebagai “problem modernitas” adalah fikih sosial, bukan konstitusionalisasi hukum Islam yang dioperasikan secara paksa. Fungsi fikih sosial ini sangatlah progresif, di antaranya menjadi “counter discourse” terhadap hegemoni pola pemikiran lama yang konservatif. Sebab, konsep kunci seluruh pemikiran hukum dalam Islam adalah mashalih al-`ammah, kebaikan universal.

Dengan cara pandang dan wacana fikih sosial ini, maka penyikapan yang dilakukan secara radikal terhadap segala bentuk patologi sosial, termasuk pelacuran, tidak akan terjadi. Sebaliknya, akan mewujud penyikapan secara moderat (tawasuth), bijaksana (tawazun), dan selalu memberikan jalan pemecahan, tidak tergesa melakukan tindakan yang justru bisa membawa pada dampak destruktif yang berkesinambungan.

Maka, kalau dibesut dari apa yang dilakukan oleh kaum fundamentalisme, adalah terpancangnya kepelikan yang tersimpuh dalam operasionalisasi pelembagaan syariat Islam. Karena, yang dihadapi adalah masalah kemanusiaan yang semakin kompleks. Syariat Islam dalam doktrin dan praksisnya sesungguhnya selalu memperhatikan aspek-aspek esoteris, bukan semata eksoteris. Artinya, Islam amat peduli pada segi religiusitas manusia yang bersifat subtil dan lebih berkaitan dengan spiritualitas (ruhaniyyah). Hal ini seperti terungkap dalam sabda nabi bahwa Allah tidak melihat segi lahiriah manusia, melainkan hati atau segi batin manusia.

Secara aplikatif, Islam telah memberikan rumusan kemanusiaan, seperti yang tersurat dalam konsep al-kulliyah al-khamsah, yakni lima prinsip universal yang meliputi: menjaga kebebasan beragama (hifdz din); memelihara kelangsungan hidup (hifdz nafs); menjamin kelangsungan keturunan (hifdz nasl); melindungi kepemilikan harta benda (hifdz mal); dan menjamin kreativitas berpikir, kebebasan berekspresi, dan mengeluarkan pendapat (hifdz `aql).

Aktualisasi kelima prinsip ini bisa dikembangkan menjadi kerangka konsep HAM serta pelaksanaan pemerintahan yang demokratis. Karena itu, tidak ada alasan untuk membenturkan nilai-nilai Islam dengan HAM ataupun demokrasi. Melalui paradigma ini pula, syariat Islam justru tampak jelas memiliki sisi universalitas dan kosmopolitan, yakni merupakan pranata yang progresif untuk menciptakan kesalehan sosial dan mewujudkan visi peradaban Islam yang hanif.

Umat Islam haruslah tetap menjadi umat yang “berada di tengah” (ummatan wasathan) dalam ikhtiar membebaskan umat manusia dari keterbelengguan. Dan, pelacuran yang telah menjasad dalam kehidupan sosial tidak mesti didekati secara verbalistik dan radikal. Pelacuran lagi-lagi adalah persoalan kemanusiaan (ahwal al-syakhshiyah), yang membutuhkan cara-cara manusiawi dengan mendasarkan pada kesamaan martabat.

Dalam konsep dakwah Islam, sesungguhnya yang perlu dikedepankan adalah amar ma’ruf (mengajak pada kebaikan), bukannya lebih mengobarkan nahi munkar (melarang kemungkaran). Oleh sebab itu diperlukan pendekatan kausatif-sosiologis (akhaffu dhararain wa sadz dzari’ah) dengan melihat latar belakang pelaku pelacuran. Karena, sesungguhnya yang turut melestarikan pelacuran bukan semata kaum perempuan, tetapi juga kaum laki-laki, masyarakat, penguasa bahkan pemimpin agama sendiri. @@@

Categories: ISLAM DAN MODERNITAS | 2 Komentar

MENJELANG IDUL FITRI


Adzan sayup-sayup terdengar di tengah padang gurun yang tandus itu. Bilal, sang budak negro berkulit legam melantunkan suara adzan yang membuat bulu kuduk siapapun yang mendengarnya berdiri. Merdu…orisinal… seakan mampu membawa pendengarnya menembus tujuh aras langit diatas sana.

Seribu empat ratusan tahun silam keluarga kecil itu berbuka dengan segelas air putih. Sebenarnya mereka memiliki tiga takar gandum mentah upah dari memintal bulu domba. Saat berbuka hari pertama, ketika keluarga sederhana itu berkumpul dengan dua putranya yang masih bocah, ketika secuil roti hendak dinikmati bersama, pintu rumah mereka diketuk orang.

“Aku saudara muslim kalian. Aku sangat lapar. Berilah aku makan seperti yang kalian makan. Semoga Allah memberi kalian hidangan di surga.” Begitu mendengar keluh kesah orang tiada dikenal ini, kepala rumah tangga itu membuka pintu dan semua roti jatah berbuka puasa keluarga diserahkannya. “kita berbuka dengan segelas air putih,” katanya.

isteri dan dua anaknya terdiam….

Hari kedua keluarga ini masih memiliki dua takar gandum. Dimasaknya satu takar untuk berbuka. Menunggu maghrib tiba, mereka sudah siap berbuka dengan secuil roti di meja. Tiba-tiba, pintu rumah diketuk. “Saya anak yatim yang lapar. Adakah makanan yanag bisa saya makan?” Untuk yang kedua kalinya laki-laki kepala rumah tangga itu menyerahkan begitu saja roti mereka.

isteri dan dua anaknya termangu….

Puasa hari ketiga dengan perut yang teramat lapar mereka hendak berbuka dengan sisa gandum yang dimilikinya. Dua anak laki-laki mereka yang turut berpuasa sejak hari pertama terlihat pucat dan lesu. Dua hari belum makan roti secuil pun, hanya air putih untuk berbuka.

“Aku tawanan perang yang baru dibebaskan. Berhari-hari aku belum makan,” tiba-tiba terdengar suara dari luar sambil mengetok pintu.

Kali ini justeru sang isteri yang bergerak mengulurkan bungkusan roti kepada sang tamu asing. “Kita tidak mempunyai sisa gandum lagi. Anak-anakku sudah sangat lapar. Ya Allah, selamatkanlah anak-anakku dari bencana kelaparan,” kata sang istri kepada suami sepeninggal tamu itu pergi.

Laki-laki kepala rumah tangga yang nekad itu adalah Sayyidina Ali Al Murtadlo. Istrinya adalah Sayyidatina Fatimah, putri Rasulullah. Dua bocah kecil berwajah pucat yang belum makan selama tiga hari itu adalah Hasan dan Husain.

Keesokan harinya Ali bersama Hasan dan Husain menemui Rasulullah SAW. Alangkah kaget Rasulullah menujumpai menantu dan kedua cucunya berwajah pucat dengan badan gemetar. Sayyidina Ali pun menceritakan bagaimana keadaan keluarganya selama tiga hari yang berbuka puasa tanpa makanan secuilpun.

Bergegas Rasulullah berangkat ke rumah putrinya yang dijumpai sedang munajat. Fatimah menyambut ayahnya dengan badan gemetaran. Mata Rasulullah berkaca-kaca dan pipi beliau basah oleh air mata. Dipeluknya Fatimah sambil bersabda, “Ya Allah, tolonglah Ahlul-Bait rasul-Mu yang hampir mati kelaparan.”

Saking dahsyatnya peristiwa ini, Al-Qur’an suci memotretnya secara jelas: “Mereka menunaikan nazar dan takut akan hari yang azab siksanya merata dimana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, serta orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan ridlo Allah. Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” =Al Insaan 7-9

kwa11Sejarah bondo nekat ‘bonek’ nya keluarga Sayyidina Ali dan Siti Fatimah menanggung derita lapar untuk melayani orang lain yang lebih lapar merupakan gambaran insan kamil: kemuliaan tertinggi derajat spiritualitas manusia yang telah selesai dengan urusan bundelan ego diri. Bundelan yang kerap nyrimpeti dan menyerimpung kaki manusia ketika dia dalam proses menemukan diri.

Kita terjebak bahwa gambaran diri ideal adalah dari cerita-cerita, dari televisi yang mengurai tentang tokoh-tokoh idola, dari buku-buku yang kita baca dan dari pidato para motivator atau pendakwah agama.

Sementara di saat yang sama ladang kesejatian diri yang hakiki tak pernah disiram, diri menjadi kering tandus karena tidak pernah disapa ……. Kita malas berpikir kenapa diri kita ini lemah? padahal kita tahu, sumber lemahnya diri karena jiwa tidak memperoleh suplai energi Allah.

Stamina hidup dan daya juang pun menjadi lunglai. Ibadah nggak pernah istiqomah. malas bergerak karena diri diliputi lemak-lemak informasi yang palsu. Tujuan hidup pun tak pernah sungguh-sungguh ketemu.

Bagaimana kita akan menemukan diri bila di dalam diri masih ada diri?…..

Kalau di dalam diri masih ada beban diri maka diri tak akan bisa terbang ke aras langit. Di dalam diri jangan ada diri. Kebanyakan orang, di dalam dirinya hanya ada ego dan eksistensinya. Dia tidak suwung ===kosong=== sehingga dalam diri hanya ada kehendak/iradah Allah.

Untuk itulah puasa Romadhon diperintahkan karena kita membutuhkan pelemahan diri secara terstruktur dan terprogram hingga sampai pada derajat taqwa, yaitu “kematian” diri dan hanya Allah yang hidup dalam diri —-mati sajroning urip.

Kenapa kita wajib sholat lima waktu? Sholat adalah upaya memi’rajkan diri, melepas kepalsuan, meneguhkan kembali bahwa kita adalah pelayan Dia dan untuk melayani sesama dengan berbagai masalahnya karena kita mutlak memerlukan pertolongan-Nya.

Sholat merupakan perjalanan spiritual menengok ke belakang untuk menerangi kegelapan tentang siapa diri kita. Terang yang dihasilkan dari lelaku spritual kembali ke belakang adalah tahu dari mana kita berasal dan kemana kita akan berakhir: kita sesungguhnya adalah pelayan Allah yang dilahirkan bersama peran dan fungsinya masing-masing.

Mereka yang shalatnya khusyuk ditandai dengan manfaatnya secara sosial. Sebab Allah di dalam diri senantiasa memayuni orang yang kehujanan, memberi makan orang yang lapar, memberi baju orang yang telanjang dan memberi petunjuk mereka yang buta.

Hakekat hidup yang sejati adalah menjadi pelayan dan hanya Allah Juragan kita. Kita tidak punya lagi tenaga untuk meng-akui, meng-ada, atau meng-eksis kan diri karena diri kita telah mati dalam diri-NYA. Kita menjadi hamba yang diperjalankan oleh-Nya.

Konsekuensinya: Kita akan dipekerjakan oleh persoalan banyak orang: kasus-kasus, bentrok, problem ekonomi orang kecil, masalah rumah tangga orang bergilir dari hari ke hari, melayani forum-forum, menjadi keranjang sampah berbagai buangan masalah orang

Keadaan orang yang sudah “mati” tidak akan terpesona oleh apapun. Dunia sudah diceraikan… Talak tiga sudah dijatuhkan. Ia akan tampil tanpa mempertahankan martabat dan harga dirinya dan tidak pula mengandalkan apa apa —harta benda tahta ilmu juga popularitas—. Nilai tauhidnya adalah bahwa ia telah mendapatkan Allah yang Maha Nomor Satu dan Rasulullah utusan NYA yang amat kasih pada umatnya.

Allahu Akbar,.. cakrawalanya menjadi sangat amat luas. Tidak ada lagi yang menakutkan dan mencemaskan para kekasih Allah. Mereka tegak dike-kini-an merespon sapaan demi sapaan dari Allah untuk rajin menempuh perjalanan pulang menggapai terang diri…..

Idul Fitri, kembali pulang ke kampung tempo doeloe bahkan sebelum kita lahir untuk kembali memulai dari yang awal. Untuk bergabung kembali dengan Huwa Al-Awwalu, Allah Yang Maha Awal. Belajar kembali mengeja Asma-Nya sebagaimana Allah mengajari Nabi Adam nama-nama.

Kita bertauhid kepada Allah dengan dua cara: manunggal kepada Sang Gusti Allah yang maha Esa dan manunggal dengan dinamika problematika hamba-hamba-Nya.

Berhadapan dengan sesama hamba, kita menebar Cinta untuk melakukan perubahan yang lebih baik disegala bidang kerja. Berhadapan dengan Allah di dalam hati yang selalu bersujud sunyi, kita haturkan doa umat kepada-Nya….

@@@

ilmu

Categories: MENJELANG IDUL FITRI | 4 Komentar

MAHALNYA MALAM ITU, SAYANG BILA TERLEWATKAN…..


kwaSesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam qadr (kemuliaan) (1) Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (2) Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan (3) Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan (4) Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar (5). —QS. Al-Qadr 1 – 5.

Tidak terasa, sampailah kita di sepuluh hari terakhir Romadhon dulur… meski bersusah payah untuk menahan lapar dan haus di siang hari, tapi insya Allah puasa kita tidak sia-sia. Kita yakini hal itu. nah, ada satu hadits yang mengungkapkan keistimewaan sepuluh hari terakhir Romadhon salah satunya adalah: “Lailatul qadar itu pada malam 27 atau 29, sungguh malaikat yang turun pada saat itu ke bumi lebih banyak dari jumlah batu kerikil”.

Apa yang perlu kita lakukan di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan? Nah, tidak ada tuntunannya di akhir romadhon ini kita malah mengendurkan semangat puasa dan malah ada yang tidak berpuasa. Justeru kita repot sibuk persiapan ini itu menyambut hari raya. Tentu saja hal ini memprihatinkan.

Rasulullah SAW, sang nabi panutan kita, memiliki kebiasaan rutin saat Romadhon dan dia memberikan saran dan nasehat pada umat muslim yaitu: Pertama, menghidupkan malam di sini mengandung kemungkinan bahwa beliau menghidupkan seluruh malamnya atau kemungkinan pula beliau menghidupkan sebagian besar darinya. Aisyah ra berkata: “Tidak pernah aku melihat beliau (Nabi SAW) melakukan ibadah pada malam hari hingga pagi harinya dan berpuasa selama satu bulan penuh kecuali di bulan Ramadhan.” (HR. Muslim).

Amalan kedua ini menjelaskan bahwa Rasulullah SAW membangunkan keluarganya untuk mengerjakan shalat sunnah pada malam-malam sepuluh hari yang terakhir. Padahal, hal demikian tidak beliau lakukan di malam-malam yang lain.

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib: ia berkata: “Rasulullah SAW membangunkan keluarganya di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Turmudzi).

Ketiga, menjauhkan diri dari menggauli istri-istrinya. Diriwayatkan bahwa beliau tidak kembali ke tempat tidurnya sampai rampungnya bulan Ramadhan. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas disebutkan bahwa beliau melipat ranjangnya dan menjauhkan diri dari menggauli istri.

Keempat, mandi antara maghrib dan isyak. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Aisyah, ia berkata: “Di bulan Ramadhan, Rasulullah biasanya tidur dan bangun malam, namun jika telah masuk sepuluh hari terakhir, beliau mengencangkan ikat pinggang, menjauhi istri-istrinya, dan mandi di waktu antara Magrib dan Isya.”

Kelima, I’tikaf. Aisyah berkata: “Nabi SAW melakukan i’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sampai beliau meninggal. Kemudian, istri-istrinya yang melakukan i’tikaf sepeninggal beliau.” (HR. Bukhari-Muslim).
Tujuan nabi melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir ialah untuk menghentikan berbagai rutinitas kesibukannya, mengosongkan pikiran, mengasingkan diri demi bermunajat kepada Allah, berdzikir dan berdoa kepada-Nya.

Jika kita teliti perilaku hidup Rasul Saw. dan para Sahabat di bulan Ramadhan, kita menemukan berbagai keajaiban. Di antaranya ialah, saat memasuki 10 hari terakhir Ramadhan mereka habiskan waktunya di Masjid untuk melakukan I’tikaf. Apa yang mereka lakukan sangat kontras dengan apa yang terjadi pada umat Islam saat ini. 10 hari terakhir Ramadhan mereka habiskan di pasar, tempat kerja, di pabrik, kunjungan ke daerah dan sebagainya.

Perilaku masyarakat saat ini, 10 hari terakhir Ramadhan itu adalah kesempatan berbelanja untuk mempersiapkan keperluan lebaran dan pulang kampung, kendati mengakibatkan harga-harga semua barang naik dan melambung. Anehnya, mereka tetap semangat berbelanja. Sebab itu, mereka meninggalkan masjid-masjid di malam hari dan tumpah ruah ke tempat-tempat perbelanjaan sejak dari yang tradisional sampai ke mall-mall moderen.

Berbagakwa2i syahwat cinta dunia tidak berhasil dikendalikan, dan bahkan cenderung dimanjakan di bulan yang seharusnya dikendalikan. Pada waktu yang sama, semangat beramal ibadahpun tidak terbangun dengan baik sehingga kehilangan banyak momentum dan keistimewaan yang dijanjikan Allah dan Rasulnya.

Mari kita renungkan janji Allah yang bernama Lailatul Qadr yang nilainya lebih baik dari 1.000 bulan. Kalau masih belum tertarik juga, janji siapa lagi yang kita yakini? Jika kita tertarik kepada janji Allah mari kita kejar sekuat tenaga dan upaya di masjid pada 10 hari terakhir Ramadhan dengan cara beri’tikaf di dalamnya secara penuh seperti yang dicontohkan Rasul Saw.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Sesungguhnya Nabi Saw. I’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. (HR. Imam Bukhari). Imam Muslim meriwayatkan : Siapa yang shaum (melakukan puasa / manajemen syahwat) di bulan Ramadhan didasari iman (keyakinan penuh pada Allah) dan ihtisab (tujuannya hanya mencari ridha Allah), maka diampunkan dosanya yang lalu. Siapa yang Qiyam (beribadah) di malam lailatul qadr didasari iman (keyakinan penuh pada Allah) dan ihtisab (tujuannya hanya mencari ridha Allah), maka diampunkan dosanya yang lalu.

Jadi, tidak ada alasan kita untuk tidak bisa I’tikaf 10 hari terakhir Ramadhan, karena 10 hari itulah umur kita yang paling mahal nilainya. Ampunan semua dosa yang kita lakukan dan bernilai lebih baik dari 1.000 bulan atau sekitar 83 tahun.

Dalam sebuah hadits Rasulullah Muhammad beri’tikaf 10 hari terakhir Ramadhan. Pada tahun terakhir berjumpa Ramadhan, Beliau i’tikaf selama 20 hari.  Itulah jalan yang harus ditempuh sebagai bagian dari sistem Allah  untuk mendapatkan tingkat taqwa, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah yang berusaha dan berhasil meraih kebahagian dan kemenangan di dunia dan akhirat.

kwa5selamat berjuang, dulur….

selamat mendapatkan kemenangan….

@@@

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 10 Komentar

INTROSPEKSI DIRI


JANGAN PERCAYA DENGAN UANG GHAIB, semuanya BOHONG! saya orang beragama dan bisa terbilang taat, tapi terjebak dengan penarikan uang ghaib, karna terlibat hutang 1,5M. pegawai saya meyakinkan saya untuk datang ke abah UJUG. Rupiah demi rupiah saya keluarkan, saya ikuti dengan sabar dan dengan hati bersih. saya coba ikuti semua prosesnya. sampai berbulan – bulan dan menghabiskan dana hampir 100 juta! Orang yang saya datangi yaitu abah UJUG adalah orang tua, yang penampilannya polos dan lugu. sehingga saya selalu berpositif thinking padanya. Sekarang saya sedang urus hitung-hitungannya sama dia. semoga Allah mengampuni dosa saya dan keluarga saya, karna kebodohan saya. Dan semoga Allah mempermudah jalan saya mencari rizki yang barokah, amiin. Saya sempatkan memberi komentar di blog ini, untuk SEMUA saudaraku… Ikhtiar dengan dunia kita, lebih jelas barang nya dan insyaallah di ridhai Allah SWT.

Tulisan diatas ini adalah komentar salah seorang pembaca blog KWA, yang menguraikan apa yang pernah dialaminya terkait dengan upayanya membebaskan diri dari hutang dengan cara pencarian uang goib.  Dibantu oleh seseorang yang awalnya diyakini bisa membantu menarik uang goib menjadi nyata, akhirnya jelas: uang tidak kunjung diperoleh dan mengalami kerugian yang cukup besar.

Penarikan uang goib memang ada dan bisa dilakukan oleh seorang yang ahli. Beberapa orang yang saya kenal bisa melakukannya dengan mudah. Namun, semua itu memerlukan keahlian yang tidak semua orang bisa melakukannya. Ada yang sudah bertirakat sekian waktu, usaha keras untuk memiliki ilmu uang goib disertai dengan riyadhoh yang berat, namun semua akhirnya harus tunduk pada hukum Ilahi. Allah SWT belum mengijinkannya.

Seorang yang tidak memiliki pengetahuan tentang uang goib, bisa dengan mudah tertipu. Mungkin awalnya mencoba-coba karena tidak memiliki pengalaman terkait hal ini. Sekedar dari mulut ke mulut informasi tentang seorang yang (diduga) memiliki keahlian untuk melakukan penarikan uang goib dan karena dia terpaksa/kepepet akhirnya membuat keputusan untuk menyerahkan uang kepada seseorang yang awalnya dianggap bisa menarik uang goib. Sekali penyerahan mahar, dua kali kurang, tiga kali, empat kali dan seterusnya dengan dalin untuk ubo rampe dan lain sebagainya. Ujung-ujungnya baru sadar bahwa uang yang diserahkan ke seseorang yang konon untuk biaya proses penarikan uang goib itu  sudah menggunung.

Manusia memang cenderung keliru mengambil keputusan. Juga terbiasa terlambat untuk menyadari bahwa jalan yang ditempuh kakinya melenceng dari arah yang semestinya. Mari kita “Introspeksi/berkaca diri/merenungkan” kejadian-kejadian yang dialami karena hal itu menjadi pengalaman berharga buat kita semua.  Yang namanya ilmu rezeki dalam koridor ilmu hikmah itu bukanlah ilmu penarikan uang goib. Juga bukan ilmu uang balik –dimana uang yang kita belanjakan akan kembali utuh seperti sedia kala. Bukan itu!

Ilmu rezeki yang sejati adalah sebagaimana yang disabdakan Rasulullah: “Pergilah ke hutan, carilah kayu bakar dan juallah ke pasar. Itu lebih mulia daripada kamu jadi pengemis” 

Hamparan hikmah kita dapatkan ketika merenungkan hal ini. Kerja keras dengan menggunakan akal sehat serta doa dan kepasrahan adalah jawaban yang paling baik ketika seseorang dirundung masalah rezeki seret. Meskipun Rasulullah saat itu bisa mendoakan siapapun agar rezekinya lancar, namun ajaran sosial yang harus ditanamkan kepada setiap muslim adalah: bekerjalah secara wajar. Insya allah, rejeki kita juga akan senantiasa datang.

Nah, sayangnya.. manusia cenderung untuk pengen cepat memperoleh hasil dengan proses yang (kalau bisa) paling mudah. Hal ini wajar dan manusiawi. Apalagi kalau keadaan pikiran ruwet dan emosi sedang kalut.

PUASA ADALAH JAWABAN UNTUK MENGEMBALIKAN KONDISI PIKIRAN EMOSI AGAR KEMBALI NORMAL, AKAL BUDI KEMBALI SEHAT ATAS BIMBINGAN ALLAH SWT.  SEHINGGA KITA TERBIMBING SECARA LANGSUNG PADA SANG PEMILIK KEBENARAN ABSOLUT/KEBENARAN SEJATI.

terima kasih dan salam.

@wongalus,2015

Categories: INTROSPEKSI DIRI | 8 Komentar