TANGAN YANG TIDAK TERSENTUH API NERAKA


Alkisah, suatu ketika Nabi Muhammad berjumpa dengan Sa’ad bin Mu’adz Al-Anshari. Ketika itu Nabi Muhammad melihat tangan Sa’ad melepuh, kulitnya gosong kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari. “Kenapa tanganmu?,” tanya Nabi kepada Sa’ad.

pekerja-keras“Wahai Rasulullah,” jawab Sa’ad, “Tanganku seperti ini karena aku mengolah tanah dengan cangkul itu untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku”. Seketika itu Nabi mengambil tangan Sa’ad dan menciumnya seraya berkata, “Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh api neraka”.

Dalam kisah lain disebutkan bahwa ada seseorang yang berjalan melalui tempat Nabi Muhammad. Orang tersebut sedang bekerja dengan sangat giat dan tangkas. Para sahabat kemudian bertanya, “Wahai Rasulullah, andaikata bekerja semacam orang itu dapat digolongkan jihad fi sabilillah, maka alangkah baiknya.” Mendengar itu Nabi pun menjawab, “Kalau ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, itu adalah fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk menghidupi kedua orangtuanya yang sudah lanjut usia, itu adalah fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, itu juga fi sabilillah.” (HR. Ath-Thabrani).

Kerja adalah perintah suci Allah kepada manusia. Meskipun akhirat lebih kekal daripada dunia, namun Allah tidak memerintahkan hambanya meninggalkan kerja untuk kebutuhan duniawi. Kerja adalah melakukan sesuatu untuk mencari nafkah yang hakekatnya adalah manifestasi dari amal kebajikan.

thumb_kerja_kerasSebagai sebuah amal, maka NIAT dalam menjalankannya akan menentukan penilaian. Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad bersabda, “Sesungguhnya nilai amal itu ditentukan oleh niatnya.” Amal seseorang akan dinilai berdasar apa yang diniatkannya.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (untuk kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi.” (QS. Al-Qashash: 77).

Jadi  budaya kerja  yaitu nilai-nilai sosial atau suatu keseluruhan pola perilaku yang berkaitan dengan akal dan budi manusia dalam melakukan suatu pekerjaan. Jadi setiap individu yang bekerja harus memiliki budaya kerja yang baik. Budaya yang kerja yang baik sangat diperluukan agar menjadi pekerja yang berbudi pekerti dan mengerti nilai-nilai yang dijalaninya dan tidak membawa individu kepada penyimpangan. Jadi itulah perlunya kita memahami budaya kerja yang baik.

Budaya kerja masing-masing individu akan menentukan terbentuknya budaya dimana dia bekerja. Tentu saja hal ini juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti kepemimpinan  yang mengandung nilai-nilai agama karena selalu mendahulukan pembinaan terhadap akhlakul karimah, sejak tahap awal perlu dimantapkan sebagai manifestasi utama yang akan terekspresi dalam seremoni dan ritual yang substansinya adalah substansi agamawi  melalui budaya jujur, sabar, tidak mudah iri dan terpancing untuk melakukan hal-hal yang dimurkai agama.

Para pemimpin akan menentukan bahwa bila tahap pertama upaya menyesuaikan diri agar menghasilkan sukses dalam kerjasama yang harmonis.

 Dalam agama Islam, manusia ditentukan untuk : Berusaha   dengan  sebaik-baiknya agar tercapai suatu tujuan  yang halal. Kita mencoba berusaha untuk  menghasilkan prestasi terbaiknya, apalagi bila penerimaan hasil  dilakukan dengan adil dan objektif. Melakukan pekerjaan dengan ikhlas adalah ajaran utama dalam Islam. Usaha yang diupayakan hanya karena Allah semata. Bekerja  dengan  dilandasi keikhlasan, dapat mencegah dari stres atau jenis emosi lain yang merugikan.

Umat dituntut untuk minta tolong pada Allah dan mengakui keterbatasan dirinya. Allah lebih mencintai orang-orang yang selalu meminta daripada yang enggan meminta, karena seolah-olah manusia itu berkecukupan. Dan Allah  berfirman : “Berdoalah kepadaKu, niscaya akan keperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu akan masuk neraka jahanan dalam keadaan hina dina” (QS. 40:60). Rasullah SAW bersabda : “Sesungguhnya siapa saja yang tidak meminta kepada Allah, maka Allah akan marah kepadanya” (HR. At-Tarmizi dan Abu Hurairoh).

imagesApabila manusia rajin bekerja dan berupaya, ia akan menciptakan budaya kerja yang disiplin, berkemauan keras dan tidak cepat putus asa. Selanjutnya diimbangi dengan  terus menerus berdoa dan meminta tolong kepada Allah, agar usahanya membuahkan hasil. Sifat ini akan membawa manusia ke perilaku rendah hati, tidak takabur dan senantiasa menyadari baik kelemahan maupun kekuatannya.

Demikian saudaraku semua, Agama Islam mengajarkan manusia untuk giat dalam bekerja yang sesuai  syariat yaitu mengedepankan kejujuran, kedisiplinan dan keihklasan. Oleh sebab itu, marilah kita semua bekerja dengan giat  ikhlas serta kerja yang CERDAS (Smart Working) agar kita sukses dunia dan akhirat. Amin yra.

@Wongalus,2015

Iklan

APAKAH MASALAH HIDUPMU SUDAH ADA SOLUSINYA?


RIYADHOH SAPU JAGAD AKHIR TAHUN 2015 BERSAMA KWA: Bakti sosial gratis terbuka untuk umum

DSCN0636Dunia kita adalah dunia yang dibangun dan dibingkai oleh kekuatan otak kiri (logika) yang berakibat pada kecenderungan orang dalam setiap gerak hidupnya lebih mengandalkan logika dan perhitungan rasional. Padahal kenyataan hidup yang dihadapi, begitu banyak fenomena kehidupan tidak mampu dicerna ataupun dikendalikan oleh logika.

Akibat lebih jauh seringnya terjadi MASALAH HIDUP YANG BERANEKA RAGAM akibat konflik internal individu maupun konflik eksternal antar individu karena hanya mengandalkan suatu argumentasi yang diperoleh dari pemberdayaan logika belaka. Tidak banyak di antara kita yang menyadari bahwa fenomena hidup adalah adanya daya tarik menarik antara kekuatan rasional (AKAL) dan irasional (EMOSI) untuk MEMECAHKAN MASALAH / PROBLEM SOLVING.

Acara RIYADHOH SAPU JAGAD AKHIR TAHUN 2915 BERSAMA KWA ini mengarahkan, mengingatkan, menyadarkan adanya kekuatan OTAK KANAN sebagai penyeimbang kekuatan otak kiri sehingga hidup kita akan lebih berkualitas.

Materi:

  1. Ruwatan dengan metode aktivasi simpul-simpul energy
  2. Konsultasi-konsultasi semua masalah hidup (rejeki, mahabbah/pengasihan, pembuka aura/keselamatan-keamanan, kekuatan)
  3. Pengobatan alternatif bagi sedulur yang sakit medis dan non medis menggunakan ENERGI DOA dan bekam/hijamah
  4. Pengisian POWER benda-benda menggunakan ENERGI DOA

cropped-cropped-panitia1.jpgPengisi acara: KI WONGALUS dan Para Alumni pelatihan yang tergabung dalam GURU-GRAND MASTER KWA (pengumuman ini juga sebagai undangan terbuka untuk para alumni program Guru KWA)

Tempat:  Cepuri – Pantai Parangkusumo, Yogyakarta

Jam: pagi 09.00 wib sd selesai

Hari/tanggal: Sabtu  26 Desember 2015

Sifat: Terbuka untuk umum dan gratis/tanpa mahar

Penanda titik kumpul adalah SPANDUK KAMPUS WONG ALUS.

Silahkan hadir untuk menikmati perjumpaan penuh akrab dan insya allah pertemuan kita kali ini adalah KELAHIRAN KEMBALI DIRI kita masing-masing yang penuh rahmat dan barokah. Amin.

Salam takzim sedulur semua,

@wongalus,2015

AMALAN PARA WALI AUTAD: SHOLAWAT AL HIMAYAH


===Ya Allah limpahkan sholawat kepada Nabi Muhammad, nabi yang ummi, dan keluarganya serta para sahabatnya kesejahteraannya dengan Sholawat ini Engkau Mengampuni dosa-dosa kami, dosa orang tua kami, dosa orang-orang yang beragama Islam, laki-laki dan perempuan, dan orang mukmin, laki-laki dan perempuan  yang masih hidup maupun yang telah mati dan memperbaiki kepada ulama dan umat serta pemimpin dan rakyat, dan satukanlah hati-hati mereka, dan  menjauhi segala keburukan diantara mereka  dan dari segala yang kami takuti dan kami khawatirkan.===

ALLAHUMMA SHOLLI ALAA SAYIDINAA MUHAMMADIN NABIYYIL UMMI WA ‘ALAA ALIHI WA SHAHBIHI WA SALIM SHALATAN WA AN TAGHFIRALII BIHA WALIWALIDAYYAA WAL MU’MININA WAL MU’MINAT WAL MUSLIMINA WAL MUSLIMAT AL-AHYA’I MINHUM WAL AMWAAT AYNAMAKANU FII JAMI’IL JIHAD WAL BILAD, WA ASHLIH BIHAA AL IMAMA WAL UMMATA WAR RA’IYA WAR RA’IYYATA WA ALLIF BAYNA QULUBIHIM WADFA’ SYARRA BADHIHIM ‘AN BADH WA MIM MA NAKHAFU WA NAHDZAR.

Sholawat ini merupakan amalannya para Wali Abdal, Autad dan Aqthab. Sholawat ini mempunyai banyak faedah, manfaat dan khasiatnya serta keajaiban yang tidak bisa dihitung dan tak terbatas. Diantara keuntungan itu adalah Allah SWT akan melimpahkan  maghfirah-ampunan  dan memperbaiki, melindungi, mendapatkan perlindungan, keamanan, penjagaan dari segala fitnah serta kesulitan yang keluar dari dalam bumi maupun turun dari langit, perlindungan dari segala keburukan seperti penyakit dan akibat dari perbuatan buruk yang mengenai fisik dan jiwa, juga mendapatkan keselamatan dari segala urusan lahir dan batin di dalam urusan agama, dunia dan akhirat. Boleh dibaca kapan saja, sebanyak sekali, tiga kali atau tujuh kali, boleh setiap sehabis sholat, setiap pagi dan malam, atau setiap hari. ***

DOA PAGI YANG ISTIMEWA UNTUK KELAPANGAN, KEDALAMAN DAN KELUASAN HIDUP


kwa hutYa Allah, sebagaimana Engkau bersikap lemah lembut dalam keagungan-Mu melebihi segala yang lemah lembut, dan Engkau Maha Tinggi degan kegungan-Mu atas segala yang agung, dan Engkau Maha Mengetahui apa yang ada di dalam buni-Mu sebagaimana Engkau mengetahui apa yang ada di atas ‘arsy-Mu, dan bisikan hati di sisi-Mu sama seperti ucapan terang-terangan, dan ucapan terang-terangan sama di sisi-Mu dengan bisikan hati, dan tunduklah segala sesuatu kepada keagungan-Mu, dan merendahlah segala yang memiliki kekuasaan kepada kekuasaan-Mu, dan jadilah perkara dunia dan akhirat berada di tangan-Mu, jadikanlah bagiku dari segala keluh-kesah yang menimpaku pada sore / pagi hari kelapangan dan jalan keluar darinya. Ya Allah, sesungguhnya kemaafan-Mu atas dosa-dosaku, dan penghapusan-Mu atas semua kesalahanku, dan penutupan-Mu atas perbuatan burukku, kesemuanya itu mendorongku untuk memohon kepada-Mu apa-apa yang aku tak pantas menerimanya dari apa-apa yang aku teledor padanya, aku memohon kepada-Mu dalam keadaan aman, dan aku meminta kepada-Mu denga keadaan rasa senang hati, sedangkan Engkau adalah selalu berbuat baik kepadaku, dan aku selalu berbuat jahat terhadap diriku sendiri dalam masalah yang menyangkut hubungan aku dengan Engkau, Engkau selalu membuatku menyayangi-Mu dengan senantiasa memberi nikmat-Mu kepadaku meskipun Engkau tidak membutuhkan aku, dan aku selalu membuat-Mu murka dengan bermaksiat kepada-Mu, akan tetapi kepercayaanku kepada-Mu membawaku untuk berani (memohon) kepada-Mu, maka jenguklah aku dengan karunia dan kebaikan-Mu kepadaku, dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat, lagi Maha Penyayang.

َاللَّهُمَّ كَمَا لَطَفْتَ فِيْ عَظَمَتِكَ دُوْنَ اللُّطَفَاءِ، وَعَلَوْتَ بِعَظَمَتِكَ عَلَى الْعُظَمَاءِ، وَعَلِمْتَ مَا تَحْتَ أَرْضِكَ كَعِلْمِكَ بِمَا فَوْقَ عَرْشِكَ، وَكَانَتْ وَسَاوِسُ الصُّدُوْرِ كَالْعَلاَنِيَةِ عِنْدَكَ، وَعَلاَنِيَةُ الْقَوْلِ كَالسِّرِّ فِيْ عِلْمِكَ، وَانْقَادَ كُلُّ شَيْءٍ لِعَظَمَتِكَ وَخَضَعَ كُلُّ ذِيْ سُلْطَانٍ لِسُلْطَانِكَ، وَصَارَ أَمْرُ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ بِيَدِكَ، اِجْعَلْ لِيْ مِنْ كُلِّ هَمٍّ أَمْسَيْتُ / أَصْبَحْتُ[3] فِيْهِ فَرَجًا وَمَخْرَجًا. اَللَّهُمَّ إِنَّ عَفْوَكَ عَنْ ذُنُوْبِيْ، وَتَجَاوُزَكَ عَنْ خَطِيْئَتِيْ، وَسَتْرَكَ عَلَى قَبِيْحِ عَمَلِيْ، أَطْمَعَنِيْ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لاَ أَسْتَوْجِبُهُ مِمَّا قَصَّرْتُ فِيْهِ، أَدْعُوْكَ آمِنًا، وَأَسْأَلُكَ مُسْتَأْنِسًا، وَإِنَّكَ الْمُحْسِنُ إِلَيَّ وَأَنَا الْمُسِيْءُ إِلَى نَفْسِيْ فِيْمَا بَيْنِيْ وَبَيْنَكَ، تَتَوَدَّدُ إِلَيَّ بِنِعْمَتِكَ مَعَ غِنَاكَ عَنِّيْ، وَأَتَبَغَّضُ إِلَيْكَ بِالْمَعَاصِيْ مَعَ فَقْرِيْ إِلَيْكَ، وَلَكِنِ الثِّقَةُ بِكَ حَمَلَتْنِيْ عَلَى الْجَرَاءَةِ عَلَيْكَ، فَعُدْ بِفَضْلِكَ وَإِحْسَانِكَ عَلَيَّ وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.
DOA INI ADALAH DOA NABI KHIDIR AS yang mana siapa yang membaca doa tersebut pagi dan sore maka akan gugurlah dosa-dosanya, dan beroleh kebahagiaannya, dihapuskanlah segala kesalahannya, dikabulkan doanya, diluaskan rezqinya, terkabul segala cita-citanya, ditolong atas segala musuhnya, dan ditulis di sisi Allah sebagai seorang Shiddiq –yang kuat keimanannya, dan tidaklah ia mati kecuali dalam keadaan syahid.
 
Sumber: Ihya’ ‘ulumudin Imam AlGhozali.
@@@
 

DOKUMENTASI BAKSOS KWA KAMIS 12 NOVEMBER 2015


IMG_0380IMG_0397

IMG_0403IMG_0437IMG_0463IMG_0457IMG_0440IMG_0401IMG_0415IMG_0468IMG_0427IMG_04247ab7d09c-7343-4474-8242-6a077b11f0c5IMG_0389IMG_0451IMG_0442 Alhamdulillah bakti sosial KWA telah selesai dilaksanakan pada kamis malam 12 November 2015, kemarin. Beragam acara  menarik dilaksanakan sesuai dengan agenda yaitu pengisian power benda pusaka, pengobatan medis/non medis, pembukaan aura mahabbah.

Disampaikan oleh ki wongalus, bahwa Bakti Sosial kembali rutin dilaksanakan setiap hari kamis malam, mulai pukul 20.00 wib sampai selesai bertempat di markas KWA, Mushola Balai Diklat Jl majapahit 5 Sidoarjo.

Pada kesempatan baksos itu sebagai wujud ucapan terima kasih kepada partisipasi panitia , Ki Wongalus memberikan 12 MEDALI KWA yang telah diasmak.

Kepada panitia, peserta baksos dan semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu, pengurus keluarga besar KWA mengucapkan terima kasih. Wassalamualaikum wr wb.

@kwa,2015IMG_0393
MEDALI KWA 2

DOA BAGI PEGAWAI/KARYAWAN AGAR NAIK PANGKAT DAN NAIK JABATAN


Amalan berikut ini untuk anda pegawai/karyawan agar pekerjaan anda tidak sia-sia. Berupa mendapatkan penghargaan dari perusahaan/instansi dimana anda bekerja. Sehingga dengan penghargaan itu anda akan mendapatkan promosi/kenaikan jabatan dari yang sekarang.

Amalan batiniah berupa doa berikut ini monggo diamalkan:

YAA AYYUHAA AL-INSAANU INNAKA KAADIHUN ILAA RABBIKA KADHAN FAMULAAQIIHI   
(Al-Insyiqaaq Ayat : 6)

11 x usai sholat fardhu lima waktu selama 3 hari atau 7 hari atau semampunya. Dimulai dari Sholat subuh.

@CATATAN: Akan lebih bagus kalau sebelum mengamalkan amalan tersebut, terlebih dulu sholat hajat 2 rokaat.

Bekerjalah sesuai dengan syariat/sesuai dengan aturan yang ada di perusahaan. Tekun dan sabar serta pandai-pandailah untuk mengendalikan emosi. Bekerja serius dan hindari menjadi orang yang terkesan ambisius dan hanya mencari nama semata. Jadikan pekerjaan anda sebagai sarana IBADAH dalam arti yang luas. Insya allah keberuntungan menjadi milik Anda. Terima kasih.

@kwa,2015

BAKTI SOSIAL KWA UNTUK MASYARAKAT UMUM


Assalamualaikum wr wb. KWA kembali menggelar acara BAKTI SOSIAL, berupa:

  1. Pengobatan gratis untuk MASYARAKAT UMUM penyakit medis/non medis dengan metode pengobatan BEKAM.
  2. Buka AURA MAHABBAH/pengasihan. Syarat peserta membawa sendiri-sendiri bunga setaman secukupnya.
  3. Hypnoterapi untuk pengobatan penyakit MENTAL/STRESS/ Galau dll.
  4. Pengisian benda-benda pusaka (keris, sabuk, akik dll) dengan ENERGI AL HIKMAH . Silahkan membawa benda-benda pusaka pribadi anda masing-masing.
  5. DOA BERSAMA UNTUK SEGALA HAJAT.

BAKSOS akan diadakan pada hari KAMIS 12 NOVEMBER 2015, mulai pukul 19.30 WIB sd 23.00 WIB bertempat di MARKAS KWA, Mushola Balai Diklat Sidoarjo, Jl Majapahit 5 Sidoarjo.

Baksos TIDAK DIPUNGUT BIAYA / GRATIS. Peserta hanya cukup mengisi daftar hadir saja.

@PANITIA MENYEDIAKAN BENDA-BENDA BERMAHAR (Sabuk merah KWA, AZHIMAH LELANANGING JAGAD, UANG MAGNET KWA)

Demikian pengumuman dari kami. Terima kasih. Wassalamualaikum wb wb.

PANITIA.

KHASANAH ISLAM: HADRAMAUT YANG PANAS MEMBAKAR


Saya sudah lupa, siapa penulis artikel yang dikirimkan ke redaksi KWA beberapa tahun yang lalu. Artikel ini kami share dengan tujuan agar memperkaya pengetahuan kita terhadap khasanah Islam di jazirah timur tengah. (redaksi)

 

Kata Hadramaut menurut prasasti penduduk asli Hadramaut adalah “panas membakar”, sesuai dengan pendapat Moler dalam bukunya Hadramaut, mengatakan bahwa Hadramaut sebenarnya berarti negeri yang panas membakar. Sebuah legenda yang dipercayai masyarakat Hadramaut bahwa negeri ini diberi nama Hadramaut karena dalam negeri tersebut terdapat sebuah pohon yang disebut al-Liban semacam pohon yang baunya menurut kepercayaan mereka sangat mematikan. Oleh karena itu, setiap orang yang datang (hadar) dan menciumnya akan mati (maut).

Makam Nabi Hud berada di Hadramaut. Nabi Hud merupakan salah satu nabi yang berbangsa Arab selain Nabi Saleh, Nabi Ismail dan Nabi Muhammad SAW. Nabi Hud diutus kepada kaum ‘Ad yang merupakan generasi keempat dari Nabi Nuh, yakni keturunan Aus bin Aran bin Sam bin Nuh. Mereka tinggal di Ahqaf yakni jalur pasir yang panjang berbelok-belok di Arab Selatan, dari Oman di Teluk Persia hingga Hadramaut dan Yaman di Pantai Selatan Laut Merah. Dahulu Hadramaut dikenal dengan Wadi Ahqaf, Sayidina Ali bin Abi Thalib berkata bahwa al-Ahqaf adalah al-Khatib al-Ahmar.

Makam Nabi Hud  ada di Hadramaut bagian Timur dan pada tanggal 11 Sya’ban banyak dikunjungi orang untuk berziarah ke makam tersebut dengan membaca tiga kali surah Yasin dan doa nisfu Sya’ban. Ziarah nabi Hud pertama kali dilakukan oleh al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali dan setelah beliau wafat, ziarah tersebut dilakukan oleh anak keturunannya.

Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad semasa hidupnya menganjurkan kaum muslimin untuk berziarah ke sana, bahkan beliau mewanti-wanti, “Barangsiapa berziarah ke (makam) Nabi Hud dan di sana ia menyelenggarakan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, ia akan mengalami tahun yang baik dan indah.” Menurut sebagian ulama kasyaf, makam Nabi Hud merupakan tempat penobatan para waliyullah.

Setibanya di syi’ib Nabi Hud (lembah antara dua bukit tempat pusara nabi Hud), Imam al-Haddad bertemu dengan beberapa orang sayyid dan waliyullah, sehingga pertemuan itu menjadi majlis pertukaran ilmu dan pandangan. Dalam bahasa Ibrani asal nama Hadramaut adalah ‘Hazar Maweth’ yang berdasarkan etimologi, rakyat mengaggapnya berhubungan dengan gagasan “hadirnya kematian” yaitu berkaitan dengan hadirnya Nabi Saleh as ke negeri itu, yang tidak lama kemudian meninggal dunia.

Di Hadramaut, tepatnya di lembah yang terletak antara Syibam dan Tarim dengan Saiyun di antaranya terdapat lebih dari sepertiga penduduk Hadramaut. Dari sini pula kebanyakan orang Arab di Indonesia. Di antara penduduk Hadramaut terdapat kaum Alawiyin yang lebih dikenal dengan golongan Sayid. Golongan Sayid sangat besar jumlah anggotanya di Hadramaut terutama di kota Tarim dan Saiyun, mereka membentuk kebangsawanan beragama yang sangat dihormati, sehingga secara moral sangat berpengaruh pada penduduk. Mereka terbagi dalam keluarga-keluarga (qabilah), dan banyak di antaranya yang mempunyai pemimpin turun temurun yang bergelar munsib.

Munsib merupakan perluasan dari tugas ‘Naqib’ yang mulai digunakan pada zaman Imam Ahmad al-Muhajir sampai zaman Syekh Abu Bakar bin Salim. Seorang ‘naqib’ adalah mereka yang terpilih dari anggota keluarga yang paling tua dan alim.

Dari waktu ke waktu tugas ‘naqib’ semakin berat, hal itu disebabkan banyak keluarga dan mereka menyebar ke berbagai negeri yang memerlukan perjalanan berhari-hari untuk bertemu ‘naqib’ jika mereka hendak bertemu untuk menyelesaikan masalah yang timbul. Untuk meringankan tugas ‘naqib’ tersebut, maka terbentuklah ‘munsib’. Para munsib berdiam di lingkungan keluarga yang paling besar atau di tempat asal keluarganya. Jabatan munsib diterima secara turun menurun, dan di antara tugasnya selalu berusaha mendamaikan suku-suku yang bersengketa, menjamu tamu yang datang berkunjung, menolong orang-orang lemah, memberi petunjuk dan bantuan kepada mereka yang memerlukan.

Sebagaian besar munsib Alawiyin muncul pada abad sebelas dan abad ke dua belas hijriyah, diantaranya keluarga bin Yahya mempunyai munsib di al-Goraf, keluarga al-Muhdar di al-Khoraibah, keluarga al-Jufri di dzi-Asbah, keluarga al-Habsyi di khala’ Rasyid, keluarga bin Ismail di Taribah, keluarga al-Aidrus di al-Hazm, Baur, Salilah, Sibbi dan ar-Ramlah, keluarga Syekh Abu Bakar di Inat, keluarga al-Attas di al-Huraidah, keluarga al-Haddad di al-Hawi dan keluarga Aqil bin Salim di al-Qaryah.

Keluarga golongan sayid.

Keluarga golongan Sayid yang berada di Hadramaut adalah:
Aal-Ibrahim Al-Ustadz al-A’zhom Asadullah fi Ardih
Aal-Ismail Aal-Bin Ismail Al-A’yun
Aal-Albar Aal-Battah Aal-Albahar
Aal-Barakat Aal-Barum Aal-Basri
Aal-Babathinah Aal-Albaiti Aal-Babarik
Aal-Albaidh Al-Turobi Aal-Bajahdab
Jadid Al-Jaziroh Aal-Aljufri
Jamalullail Aal-Bin Jindan Al-Jannah
Aal-Junaid Aal-Aljunaid Achdhor Aal-Aljailani
Aal-Hamid Aal-Alhamid Aal-Alhabsyi
Aal-Alhaddad Aal-Bahasan Aal-Bahusein
Hamdun Hamidan Aal-Alhiyyid
Aal-Khirid Aal-Balahsyasy Aal-Khomur
Aal-Khaneiman Aal-Khuun Aal-Maula Khailah
Aal-Dahum Maula al-Dawilah Aal-Aldzahb
Aal-Aldzi’bu Aal-Baraqbah Aal-Ruchailah
Aal-Alrusy Aal-Alrausyan Aal-Alzahir
Aal-Alsaqqaf Al-Sakran Aal-Bin Semith
Aal-Bin Semithan Aal-Bin Sahal Aal-Assiri
Aal-Alsyatri Aal-Syabsabah Aal-Alsyili
Aal-Basyamilah Aal-Syanbal Aal-Syihabuddin
Al-Syahid Aal-Basyaiban Al-Syaibah
Aal-Syaikh Abi Bakar Aal-Bin Syaichon Shahib al-Hamra’
Shahib al-Huthoh Shahib al-Syubaikah Shahib al-Syi’ib
Shahib al-Amaim Shahib Qasam Shahib Mirbath
Shahib Maryamah Al-Shodiq Aal-Alshofi Alsaqqaf
Aal-Alshofi al-Jufri Aal-Basuroh Aal-Alshulaibiyah
Aal-Dhu’ayyif Aal-Thoha Aal-Al thohir
Aal-Ba’abud Al-Adeni Aal-Al atthas
Aal-Azhamat Khan Aal-Aqil Aal-Ba’aqil
Aal-Ba’alawi Aal-Ali lala Aal-Ba’umar
Aal-Auhaj Aal-Aydrus Aal-Aidid
Al-Ghozali Aal-Alghozali Aal-Alghusn
Aal-Alghumri Aal-Balghoits Aal-Alghaidhi
Aal-Fad’aq Aal-Bafaraj Al-Fardhi
Aal-Abu Futaim Al-Faqih al-Muqaddam Aal-Bafaqih
Aal-Faqih Aal-Bilfaqih Al-Qari’
Al-Qadhi Aal-Qadri Aal-Quthban
Aal-Alkaf Kuraikurah Aal-Kadad
Aal-Karisyah Aal-Mahjub Al-Muhdhar
Aal-Almuhdhar Aal-Mudhir Aal-Mudaihij
Abu Maryam Al-Musawa Aal-Almusawa
Aal-Almasilah Aal-Almasyhur Aal-Masyhur Marzaq
Aal-Musyayakh Aal-Muzhahhir Al-Maghrum
Aal-Almaqdi Al-Muqlaf Aal-Muqaibil
Aal-Maknun Aal-Almunawwar Al-Nahwi
Aal-Alnadhir Al-Nuqa’i Aal-Abu Numai
Al-Wara’ Aal-Alwahath Aal-Hadun
Aal-Alhadi Aal-Baharun Aal-Bin Harun
Aal-Hasyim Aal-Bahasyim Aal-Bin Hasyim
Aal-Alhaddar Aal-Alhinduan Aal-Huud
Aal-Bin Yahya

Keluarga Alawiyin di atas adalah keturunan dari Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali al-Uraidhi, sedangkan yang bukan dari keturunan Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali al-Uraidhi, adalah:
Aal-Hasni Aal-Barakwan Aal-Anggawi
Aal-Jailani Aal-Maqrabi Aal-Bin Syuaib
Aal-Musa al-Kadzim Aal-Mahdali Aal-Balakhi
Aal-Qadiri Aal-Rifai Aal-Qudsi

Sedangkan yang tidak berada di Indonesia kurang lebih berjumlah 40 qabilah, diantaranya qabilah Abu Numai al-Hasni yaitu leluhur Almarhum Raja Husein (Yordania) dan sepupunya Almarhum Raja Faisal (mantan raja Iraq) dan qabilah al-Idrissi, yaitu leluhur mantan raja-raja di Tunisia dan Libya.

Akhlaq dan kebiasaan kaum Alawiyin.

Kaum Alawiyin tetap dalam kebiasaan mereka menuntut ilmu agama, hidup zuhud di dunia (tidak bergelimang dalam kesenangan duniawi) dan mereka juga menghindar dari popularitas (syuhrah). Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad berkata: ” Syuhrah bukan adat kebiasaan kami, kaum Alawiyin … ” selanjutnya beliau berkata: ” kedudukan kami para sayid Alawiyin tidak dikenal orang. Jadi tidak seperti yang ada pada beberapa wali selain mereka (kaum Alawiyin), yang umumnya mempunyai sifat-sifat berlainan dengan sifat-sifat tersebut. Sifat tersebut merupakan soal besar dalam bertaqarrub kepada Allah dan dalam memelihara keselamatan agama (kejernihan iman).”

Imam al-Haddad berkata pula: ” Dalam setiap zaman selalu ada wali-wali dari kaum Alawiyin, ada yang dzahir (dikenal) dan ada yang khamil (tidak dikenal). Yang dikenal tidak perlu banyak, cukup hanya seorang saja dari mereka, sedangkan yang lainnya biarlah tidak dikenal. Dari satu keluarga dan dari satu negeri tidak perlu ada dua atau tiga orang wali yang dikenal. Soal al-sitru (menutup diri) berdasarkan dua hal: pertama, seorang wali menutup dirinya sendiri hingga ia sendiri tidak tahu bahwa dirinya adalah wali. Kedua, wali yang menutup dirinya dari orang lain, yakni hanya dirinya sendiri yang mengetahui bahwa dirinya wali, tetapi ia menutup (merahasiakan) hal itu kepada orang lain. Orang lain tidak mengetahui sama sekali bahwa ia adalah wali.

Sehubungan dengan tidak tampaknya para wali, Habib Abdullah al-Haddad menulis syair: “Apakah mereka semua telah mati, apakah mereka semua telah musnah, ataukah mereka bersembunyi, karena semakin besarnya fitnah.”

Tidak tampaknya para wali merupakan hikmah Allah, begitu pula tampaknya para wali. Tampak atau tidak tampak, para wali bermanfaat bagi manusia. Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi ditanya: “Apakah manfaat dari ketidak tampakan para wali ?”. Beliau menjawab: “Tidak tampaknya para wali bermanfaat bagi masyarakat dan juga bagi wali itu sendiri. Sebab, sang wali dapat beristirahat dari manusia dan manusia tidak beradab buruk kepadanya. Mungkin kau meyakini kewalian seseorang, tetapi setelah melihatnya kau lalu berprasangka buruk. Seorang yang saleh bukanlah orang yang mengetahui kebenaran melalui kaum sholihin. Akan tetapi orang saleh adalah orang yang mengenal kaum sholihin melalui kebenaran.”
Sayid Ahmad bin Toha berkata kepada Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi, “Aku tidak tahu bagaimana para salaf kita mendapatkan wilayah (kasyaf), padahal usia mereka masih sangat muda. Adapun kita, kita telah menghabiskan sebagian besar umur kita, namun tidak pernah merasakan walau sedikitpun. Aku tidak mengetahui yang menyebabkan itu ?”.

Habib Ali lalu menjawab:”Ketaatan dari orang yang makannya haram, seperti bangunan didirikan di atas gelombang. Karena ini dan juga karena berbagai sebab lain yang sangat banyak. Tidak ada yang lebih berbahaya bagi seseorang daripada bergaul dengan orang-orang jahat. Majlis kita saat ini menyenangkan dan membangkitkan semangatmu. Ruh-ruh mengembara di tempat ini sambil menikmati berbagai makanan hingga ruh-ruh itu menjadi kuat. Namun, sepuluh majlis lain kemudian mengotori hatimu dan merusak apa yang telah kau dapatkan. Engkau membangun, tapi seribu orang lain merusaknya. Apa manfaatnya membangun jika kemudian dirusak lagi ? kau ingin meningkat ke atas tapi orang lain menyeretmu ke bawah.”

Menurut ulama ahlul kasyaf , wali quthub adalah pemegang pimpinan tertinggi dari para wali. Ia hanya satu orang dalam setiap zaman. Quthub biasa pula disebut Ghauts (penolong), dan termasuk orang yang paling dekat dengan Tuhan. Selain itu, ia dipandang sebagi pemegang jabatan khalifah lahir dan bathin. Wali quthub memimpin pertemuan para wali secara teratur, yang para anggotanya hadir tanpa ada hambatan ruang dan waktu. Mereka datang dari setiap penjuru dunia dalam sekejap mata, menembus gunung, hutan dan gurun.

Wali quthub dikelilingi oleh dua orang imam sebagai wazirnya. Di samping itu, ada pula empat orang autad (pilar-pilar) yang bertugas sebagai penjaga empat penjuru bumi. Masing-masing dari empat orang autad itu berdomisili di arah Timur, Barat, Utara dan Selatan dari Ka’bah. Selain itu, terdapat pula tiga orang nuqaba’, tujuh abrar, empat puluh wali abdal, tiga ratus akhyar dan empat ribu wali yang tersembunyi. Para wali adalah pengatur alam semesta, setiap malam autad mengelilingi seluruh alam semesta dan seandainya ada suatu tempat yang terlewatkan dari mata mereka, keesokkan harinya akan tampak ketidaksempurnaan di tempat itu dan mereka harus memberitahukan hal ini kepada wali quthub, agar ia dapat memperhatikan tempat yang tidak sempurna tadi dan dengan kewaliannya ketidaksempurnaan tadi akan hilang.

Seorang wali quthub, al-Muqaddam al-Tsani, Syaikh Abdurahman al-Saqqaf beliau terkenal di mana-mana, ia meniru cara hidup para leluhurnya (aslaf), baik dalam usahanya menutup diri agar tidak dikenal orang lain maupun dalam hal-hal yang lain. Dialah yang menurunkan beberapa Imam besar seperti Syaikh Umar Muhdhar, Syaikh Abu Bakar al-Sakran dan anaknya Syaikh Ali bin Abu Bakar al-Sakran, Syaikh Abdullah bin Abu Bakar yang diberi julukan al-‘Aidrus.

Syaikh Abdurahman al-Saqqaf selalu berta’abbud di sebuah syi’ib pada setiap pertiga terakhir setiap malam. Setiap malam ia membaca Alquran hingga dua kali tamat dan setiap siang hari ia membacanya juga hingga dua kali tamat. Makin lama kesanggupannya tambah meningkat hingga dapat membaca Alquran empat kali tamat di siang hari dan empat kali tamat di malam hari. Ia hampir tak pernah tidur. Menjawab pertanyaan mengenai itu ia berkata, “Bagaimana orang dapat tidur jika miring ke kanan melihat surga dan jika miring ke kiri melihat neraka ?”. Selama satu bulan beliau beruzlah di syi’ib tempat pusara Nabi Hud, selama sebulan itu ia tidak makan kecuali segenggam (roti) terigu.

Demikianlah cara mereka bermujahadah dan juga cara mereka ber-istihlak ( mem-fana’-kan diri ) di jalan Allah SWT. Semuanya itu adalah mengenai hubungan mereka dengan Allah. Adapun mengenai amal perbuatan yang mereka lakukan dengan sesama manusia, para sayyid kaum ‘Alawiyin itu tidak menghitung-hitung resiko pengorbanan jiwa maupun harta dalam menunaikan tugas berdakwah menyebarluaskan agama Islam. @@@

MASA SEKARANG ALLAH


RABBANAA INNAKA TA’LAMU MAA NUKHFII WAMAA NU’LINU WAMAA YAKHFAA ‘ALAA ALLAAHI MIN SYAY-IN FII AL-ARDHI WALAA FII ALSSAMAA-I

Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. (Ibrahim Ayat : 38)

Menafsirkan ayat itu, sesungguhnya apa yang kita simpan di dalam hati, apa yang kita simpan di dalam lemari rahasia hidup kita, apa yang kita sembunyikan dari orang lain, tetap saja terbuka dihadapan ALLAH SWT YANG MAHA TAHU.

Allah SWT Maha Tahu karena Pengelihatan dan Pendengaran-Nya menembus semua batas. Allah SWT tidak ada yang membatasi dan tidak mungkin bisa dibatasi oleh apapun juga. Ruang dan waktu ada di dalam genggaman kekuasaan-NYA.

ALLAH SWT juga tidak dibatasi oleh masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang.  Allah lah pemilik waktu, oleh sebab itu ketika kita merasakan bahwa masa lalu sudah pernah ada, masa sekarang ini kita jalani dan masa depan belum terjadi maka bagi Allah SWT itu semua tidak berlaku. Bisa jadi waktu Allah itu sekarang saja, tidak ada masa lalu dan masa depan. Terserah pada Allah Yang Maha Berkehendak.

Itu sebabnya waktu Ilahi itu terkesan irasional dan tidak beraturan. Hanya terkesan dalam pandangan manusia biasa, namun pandangan manusia yang sudah mampu berada di maqom khusus, maka waktu Ilahi itu sesungguhnya adalah bentuk dan wujud dari kekekalan NYA.

Muhammad SAW dalam momentum isra’mikraj sudah menyaksikan akhirat melihat adanya neraka dan Surga juga adanya orang-orang di dalamnya. Nabi melompat ke masa depan, setelah pergelaran alam semesta ini berakhir.

Maka, manusia sekarang ini, saya, anda dan semua orang yang saat ini menyadari tulisan ini adalah orde masa lalu dan masa silam dari ALLAH SWT yang Maha aktual, yang tidak pernah ketinggalan kekiniannya, apalagi ketinggalan mode dan zaman.

Kita hakikatnya sudah tidak ada, kita sudah sirna, kita sudah dimakamkan dalam lauh al mahfudz, rekaman yang ada di database kehidupan setiap makhluk.

Kesombongan kita, keserakakan kita, kelupaan kita pada jati diri, kenistaan pilihan hidup kita dan kekotoran/polusi akibat tindakan kita sehari-hari itu sudah selesai. YA ALLAH,…. Masih adakah waktu buat kita untuk memperbaiki diri?

@kwa, 2015