REPORTASE KUNJUNGAN KE MAKAM EYANG DJOJODIGDO, PATIH BLITAR, PEMILIK AJIAN PANCASONA


Beberapa hari yang lalu, saya ditemami para alumni Master KWA berkunjung ke Pesanggrahan Djojodigdan di Blitar yang di dalamnya terdapat makam Raden Ngabehi Bawadiman Djojodigdo, Patih Blitar masa kolonial 1877-1895. Beliau ini adalah pemilik ajian Pancasona sehingga makamnya harus digantung di atas tanah agar bisa wafat. Kebalikannya, beliau akan hidup kembali bila jasadnya menyentuh tanah.

img-20161104-wa0047Pesanggrahan yang terletak di Jl. Melati No 43 itu sudah sepi meski jarum jam baru menunjuk ke angka 9 malam. Satu dua mobil melintas di jalan depan pagarnya. Pintu pagar pesanggaran terkunci rapat. Saya mengetuk pintu pagar tiga kali, tidak ada tanda-tanda penunggunya keluar.

Seseorang penjual makanan di depan pesanggaran kita datangi untuk kita mintai tolong mengantarkan ke penunggu pesanggrahan (juru kunci). Sejurus kemudian, dia datang dari kegelapan bersama juru kunci; suami isteri yang sudah berusia 60 an.

20161104_224637Sehari-hari, pagar pesanggaran jarang terbuka lebar, Hanya terbuka sebagian untuk keluar masuk tamu yang datang. Di tengah pekarangan yang luas, terdapat satu rumah induk berarsitektur rumah jawa lama. Di dalamnya masih lengkap perabot meja kursi, foto-foto dan sebagainya. Masuk ke rumah itu, kita akan terasa kembali ke masa silam ketika Indonesia berada di era Hindia Belanda.

Pesanggrahan itu dulunya adalah Dalem Kepatihan atau rumah tempat tinggal Patih (Sekarang Wakil Bupati red.) Bangunan rumah itu hingga kini masih kokoh padahal didirikan pada tahun 1892 alias sudah berusia 124 tahun. Pengunjung dapat memasuki bagian dalam dari dalem kepatihan melalui pintu belakang, dengan didampingi oleh juru pelihara.

Di gedung ini, tersimpan berbagai perabot rumah tangga dari keluarga Patih Blitar, Djojodigdo seperti meja kursi, payung pusaka, ranjang, gentong penyimpan beras, genealogi, dan koleksi foto keluarga Eyang Djojodigdo.

kwa4Di antara foto-foto tersebut terdapat foto salah satu tokoh nasional R. A. Kartini. Djojodigdo merupakan mertua dari R. A. Kartini. Salah satu putera beliau yang bernama KRMAA. Singgih Djojo Adhiningrat menjadi Bupati Rembang. Beliau adalah suami dari R. A. Kartini, pahlawan nasional RI.

Puas berada di dalam gedung, kami lanjutkan dengan berjalan ke belakang untuk berziarah ke makam Djojodigdo, yang terletak di pojok belakang pekarangan pesanggahan. Di Blitar, makam ini dikenal dengan nama “makam gantung”

kwa3Makam Djojodigdo berada di antara makam-makam keluarga besarnya. Namun, bentuk makam beliau paling mencolok yaitu di atas pusara terletak sebuah cungkup berbentuk unik. Keberadaan cungkup inilah yang mungkin membuat makam ini disebut sebagai Makam Gantung.

Menurut penuturan penjaga, disebut makam gantung karena jasad Djojodigdo diletakkan dalam peti besi yang disangga dengan empat tiang sebelum diurug dengan tanah. Sedangkan pada bagian dalam cungkup atas makam itulah tersimpan busana kebesaran, pusaka-pusaka, dan ilmu Pancasona milik Djojodigdo.

Siapakan Eyang Djojodigdo?

djoRaden Ngabehi Bawadiman Djojodigdo lahir di Yogyakarta pada 29 Juli 1827, dengan gelar kebangsawanan R. Ng. (Raden Ngabehi). Pada usia 12 tahun beliau meninggalkan Yogyakarta menyusul paman beliau yang menjabat sebagai Bupati Ngrowo bernama RMT. Notowidjojo III.

Djojodigdo diangkat oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai Patih Blitar pada 8 September 1877 mendampingi Bupati Blitar, Raden Adipati Warso Koesoemo. Selama melaksanakan tugas, beliau dinyatakan cakap dan profesonal, sehingga memperoleh dua lencana GM dan ZM dari pemerintah Hindia Belanda. Pada 11 Maret 1909 beliau tutup usia dan dimakamkan pada area pemakaman keluarga di belakang dalem kepatihan.

kwa5Djojodigdo adalah masih keturunan dari Ki Ageng Panjawi. Kalo dirunut lagi ke atas maka beliau masih keturunan Raja Majapahit yang terakhir yakni Brawijaya V (Bhre Kertabhumi).

Ki Ageng Panjawi adalah tiga pendiri Mataram: Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Panjawi dan Ki Juru Martani dibantu Panembahan Senapati atau Sutawijaya dapat membunuh Ario Penangsang Bupati Jipang Panolan, Ki Panjawi mendapatkan tanah di Pati. Dan Djojodigdo adalah putra dari Raden Tumenggung Kartadiwirja (Adipati Gentan Kulon Progo).

Ng. Kartadiwirja adalah seorang pengikuti pasukan Pangeran Diponegoro sehingga setelah Diponegoro tertangkap, beliau meletakkan jabatannya sebagai Bupati Gentan Kulon Progo yang akhirnya digantikan oleh kakaknya Raden Rangga Bahu Pangarsa.

Kartadiwirja berpangkat Liutenant Der Infanteri van Het Oost Indische Leger (Letnan Infantri Angkatan Darat Hindia Timur) didapat dari Belanda. Konon berdasar cerita dari turun-temurun beliau ikut meletakkan senjata, ketika panglima perang Diponegoro, Sentot dapat dibujuk Belanda untuk menyerah. Sentot menyerah berturut-turut dengan Kyai Maja dan Pangeran Mangkubumi tahun 1829.

img-20161104-wa0064Tahun 1831/1832 bersama Sentot Prawirodirjo dan Kartadiwirja dikirim ke Bonjol Sumatera Barat untuk membantu Belanda memadamkan perang Padri. Tetapi di beberapa dokumen-dokumen resmi Belanda membuktikan kesalahan Sentot yang telah melakukan persekongkolan dengan Kaum Padri sehingga kemudian Sentot dan legiunnya dikembalikan ke Pulau Jawa.

Di Jawa, Sentot juga tidak berhasil menghilangkan kecurigaan Belanda terhadap dirinya, dan Belanda pun juga tidak ingin ia tetap berada di Jawa dan mengirimnya kembali ke Sumatera. Namun di tengah perjalanan, Sentot diturunkan dan ditahan di Bengkulu, lalu ditinggal sampai meninggal sebagai orang buangan. Sedangkan pasukannya dibubarkan kemudian direkrut kembali menjadi tentara Belanda. Kemungkinan R. Ng. Kartadiwirja tidak ikut kembali ke Sumatera saat itu. Kartadiwirja saat meninggal dimakamkan di makam Potrobangsan Magelang.

 Sejak Kecil Suka Tirakat

img-20161104-wa0068Sejak anak-anak, Djojodigdo sudah ditinggal wafat ayahnya dan usia 12 tahun, Djojodigdo sudah merantau ke Jawa Timur, beliau meninggalkan Yogyakarta menyusul paman beliau yang menjabat sebagai Bupati Ngrowo bernama RMT. Notowidjojo III.

Kontribusi Djojodigdo terhadap masyarakat Blitar erat kaitannya dengan perannya sebagai Patih Blitar — priyayi Jawa pada masa pemerintahan Hindia-Belanda. Sebagai Patih pada tahun 1877—1895, dia berkontribusi besar dalam mendampingi Adipati Blitar Warso Koesoemo mengelola puncak pemerintahan dan pembangunan Regentschap Blitar hingga membentuk kawasan Gemeente/Kota Blitar.

Kontribusi Djojodigdo terhadap masyarakat Regentschap Blitar (1877—1895) dapat dibuktikan dengan berbagai hasil peninggalan fisik dan infrastruktur di kawasan Kota Blitar.

Ajaran Filsafat

img-20161104-wa0059Djojodigdo memiliki ajaran priyayi Jawa yang disebut T- Pitu  untuk orang Jawa yaitu Toto (tahu aturan), Titi (teliti), Tatag (bertanggungjawab), Titis (tepat analisanya), Temen (jujur), Taberi (rajin), dan Telaten (sabar).

Ajaran itu ternyata bisa ditelusuri dari masa mudanya. Syahdan, sejak muda, Djojodigdo suka tirakat dan berguru ke orang yang punya ilmu. Salah satu gurunya adalah Eyang Djugo, (yang dimakamkan di gunung Kawi, Malang) yang memberinya ilmu berupa ajian Pancasona. Ajian Pancasona adalah ajian yang sering digunakan oleh orang zaman dahulu untuk memperkuat diri dan pertahanannya ketika berperang untuk melawan penjajah.

Dengan ajian pancasona, seseorang akan bisa terus hidup meski dibunuh dengan cara apapun. Dia hanya akan mati jika tubuhnya dipisah menyebrang sungai dan digantung agar tidak menyentuh tanah. Jika jasadnya menyentuh tanah, bagian-bagian tubuh tersebut dapat kembali bersatu, dan bisa hidup lagi.

kwa7Djojodigdo tidak bisa dikalahkan ketika berperang tanding. Tubuhnya yang terluka saat duel bisa dengan sekejap kembali pulih, tubuhnya yang terputus bisa kembali menyatu, bahkan saat ia mati, ia bisa hidup kembali.

Tentara-tentara Belanda sering kewalahan jika berperang secara fisik dengan jawara-jawara tanah air. Bukan hanya kulit mereka yang tak tembus peluru, tulang mereka juga sekeras baja.

Syahdan ketika Eyang Djojodigdo sudah merasa mempunyai ilmu cukup, beliau membentuk laskar kecil rakyat untuk melakukan perlawanan kepada Pasukan Belanda. Beberapa kali tertangkap dan ditembak tapi dia selamat. Maka untuk mengalahkan sang pemilik pancasona ini, ditempuhlah cara yang lebih cerdas.

Melalui Adipati, dibujuklah Djojodigdo untuk datang ke pendopo hingga dua kali dan ditawari posisi sebagai Patih, akhirnya Djojodigdo bersedia menerima tawaran Adipati Blitar yang merupakan kepanjangan tangan dari pemerintah Hindia Belanda.

Sebagai seorang keturunan darah biru dan pernah tinggal di keraton serta pernah ikut pamannya yakni RMT. Notowidjojo di Ngrowo, ketika diangkat menjadi patih di Kadipaten Blitar, Djojodigdo sudah tak asing lagi dengan pemerintahan. Maka sang patih pun mampu mengambil kebijakan yang sangat cakap. Hal inilah yang membuat salut sang Adipati Blitar. Karena kecakapan ini, kemudian sang Adipati memberinya sebidang tanah yang luas untuk gedung kepatihan di Jalan Melati nomor 43 Kota Blitar.

Sebagai manusia biasa, di usianya yang sudah sepuh Djojodigdo wafat pada tahun 1909. Yang menarik adalah kisah ketika menjelang wafat. Konon, tiga kali dikubur dan tiga kali itu pula mayatnya bangun lagi karena efek Ajian Pancasona.

Akhirnya didatangkanlah sang guru, Eyang Djugo dan keluarga disarankan agar membuat makam dengan cara digantung dan tidak menyentuh tanah. Jasadnya dimasukan ke dalam peti besi yang kuat beserta pusaka dan pakaiannya. Peti kemudian disangga dengan empat penyangga yang juga terbuat dari besi sebagaimana yang ada saat ini.

kwaMakam Eyang Djojodigdo menjadi saksi atas kisah perjuangan dan kepahlawanan bangsa kita merebut kebebasan yang sangat mahal harganya dan juga menjadi saksi atas kedahsyatan Ilmu Pancasona, salah satu ilmu di antara samudra ilmu Allah yang disebarkan kepada siapa saja yang dikehendaki-NYA.

@Kwa,2016

Categories: PATIH BLITAR PEMILIK AJIAN PANCASONA | 4 Komentar

Navigasi pos

4 thoughts on “REPORTASE KUNJUNGAN KE MAKAM EYANG DJOJODIGDO, PATIH BLITAR, PEMILIK AJIAN PANCASONA

  1. pertamax salam sungkem dumateng gus wildan
    serta jajaran guru kwa

  2. Mas joyo

    Keduaxxx

  3. bujang kelana

    Bisa di tuliskan dengan bahasa arabnya gak kang..trimakasih

  4. uarang lemur

    setau saya ilmu ajian pancasona ada tiga tingkatan:

    1. kalo menyentuh air pemilik ilmu pancasona bila anggota tubuhnya luka atau putus maka akan utuh lagi

    2. kalo menyentuh bumi/tanah pemilik ilmu pancasona bila anggota tubuhnya luka atau putus maka akan utuh kembali.

    3.kalo ada udara/hawa pemilik ilmu pancasona bila anggota tubuhnya luka atau putus maka akan kembali seperti sedia kala.

    untuk ajian level 1 & 2 zaman sekarang masih ada yang memiliki tapi untuk level 3 sudah jarang atau mungkin sudah punah, bisa umur sampe ratusan taun bahakan penampilan wajahnya seperti umur 17 tahunan, dulu guru saya pernah menemukan orang yang memilki aai pancasona level 3, pemilkiknya sudah jadi stengah iblis sangat2 susah untuk dibunuh …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: