Daily Archives: 18 April 2018

Futurologi: Era Revolusi Industri 4.0, Persiapan Indonesia, dan Revolusi Kemanusiaan


 

Tahun 1813 atau dua abad silam, tranformasi perdagangan terjadi dengan lahirnya mesin uap yang membuat kapal-kapal layar ditinggalkan. Revolusi itu menggilas penguasa perekonomian lama yang gagal beradaptasi dengan kemajuan teknologi dan gagap mengatasi perubahan hingga akhirnya terpaksa gulung tikar.

Situasi yang nyaris sama kembali muncul dengan digitaslisasi ekonomi dan sendi-sendi kehidupan lainnya atau dikenal dengan revolusi industri 4.0.  Fase ini mencakup terus berkembangnya kecerdasan buatan, penggunaan robot, teknologi pesawat tanpa awak (drone), mobil yang dapat berjalan otomatis, hingga perkembangan bioteknologi. Revolusi 4.0 merupakan penggabungan dunia digital (online) dengan lini produksi di industri. Semua proses produksi akan berjalan beriringan bersama internet sebagai penopang utama.

Tantangan revolusi industri 4.0 harus direspons secara cepat dan tepat oleh semua pihak khususnya para pemangku kepentingan. Bukan hanya sektor ekonomi dan industri, namun juga semua layanan publik harus bergerak ke sana, jika tidak ingin terjadi krisis digital karena sumber daya manusia (SDM) kita tidak siap mengantisipasi dan beradaptasi dengan kemajuan teknologi.

Revolusi industri generasi keempat ini ditandai dengan kemunculan superkomputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, editing genetik dan perkembangan neuroteknologi yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak. Hal inilah yang disampaikan oleh Klaus Schwab, Founder dan Executive Chairman of the World Economic Forum dalam bukunya The Fourth Industrial Revolution.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah dunia sebagaimana revolusi generasi pertama melahirkan sejarah ketika tenaga manusia dan hewan digantikan oleh kemunculan mesin. Salah satunya adalah kemunculan mesin uap pada abad ke-18. Revolusi ini dicatat oleh sejarah berhasil mengerek naik perekonomian secara dramatis di mana selama dua abad setelah Revolusi Industri terjadi peningkatan rata-rata pendapatan perkapita Negara-negara di dunia menjadi enam kali lipat.

Berikutnya, pada revolusi industri generasi kedua ditandai dengan kemunculan pembangkit tenaga listrik dan motor pembakaran dalam (combustion chamber). Penemuan ini memicu kemunculan pesawat telepon, mobil, pesawat terbang, dll yang mengubah wajah dunia secara signifikan. Kemudian, revolusi industri generasi ketiga ditandai dengan kemunculan teknologi digital dan internet.

Selanjutnya, pada revolusi industri generasi keempat, seperti yang telah disampaikan pada pembukaan tulisan ini, telah menemukan pola baru ketika disruptif teknologi (disruptive technology) hadir begitu cepat dan mengancam keberadaan perusahaan-perusahaan incumbent. Sejarah telah mencatat bahwa revolusi industri telah banyak menelan korban dengan matinya perusahaan-perusahaan raksasa.

Lebih dari itu, pada era industri generasi keempat ini, ukuran besar perusahaan tidak menjadi jaminan, namun kelincahan perusahaan menjadi kunci keberhasilan meraih prestasi dengan cepat. Hal ini ditunjukkan oleh Uber yang mengancam pemain-pemain besar pada industri transportasi di seluruh dunia atau Airbnb yang mengancam pemain-pemain utama di industri jasa pariwisata. Ini membuktikan bahwa yang cepat dapat memangsa yang lambat dan bukan yang besar memangsa yang kecil.

Oleh sebab itu, perusahaan harus peka dan melakukan instrospeksi diri sehingga mampu mendeteksi posisinya di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagai panduan untuk melakukan introspeksi diri, McKinsey&Company memaparkannya dalam laporan berjudul An Incumbent’s Guide to Digital Disruption yang memformulasikan empat tahapan posisi perusahaan di tengah era disruptif teknologi.

Tahap pertama, sinyal di tengah kebisingan (signals amidst the noise). Pada tahun 1990, Polygram dicatat sebagai salah satu perusahaan recording terbesar di dunia. Namun, pada 1998 perusahaan ini dijual ketika teknologi MP3 baru saja ditemukan sehingga pemilik masih merasakan puncak kejayaan Polygram pada saat itu dan memperoleh nilai (value) penjualan yang optimal.

Contoh lainnya adalah industri surat kabar tradisional yang mengejar oplah dan pemasukan dari pemasangan iklan. Kemunculan internet yang mengancam dimanfaatkan oleh Schibsted, salah satu perusahaan media asal Norwegia yang menggunakan internet untuk mengantisipasi ancaman sekaligus memanfaatkan peluang bisnis.

Perusahaan ini melakukan disruptif terhadap bisnis inti mereka melalui media internet yang akhirnya menjadi tulang punggung bisnis mereka pada kemudian hari. Pada tahap ini, perusahaan (incumbent) merespons perkembangan teknologi secara cepat dengan menggeser posisi nyaman dari bisnis inti yang mereka geluti mengikuti tren perkembangan teknologi, preferensi konsumen, regulasi dan pergeseran lingkungan bisnis.

Tahap kedua, perubahan lingkungan bisnis tampak lebih jelas (change takes hold). Pada tahap ini perubahan sudah tampak jelas baik secara teknologi maupun dari sisi ekonomis, namun dampaknya pada kinerja keuangan masih relatif tidak signifikan sehingga belum dapat disimpulkan apakah model bisnis baru akan lebih menguntungkan atau sebaliknya dalam jangka panjang. Namun, dampak yang belum signifikan ini ditanggapi secara serius oleh Netflix tahun 2011 ketika menganibal bisnis inti mereka yakni menggeser fokus bisnis dari penyewaan DVD menjadi streaming. Ini merupakan keputusan besar yang berhasil menjaga keberlangsungan perusahaan pada kemudian hari sehingga tidak mengikuti kebangkrutan pesaingnya, Blockbuster.

Tahap ketiga, transformasi yang tak terelakkan (the inevitable transformation). Pada tahap ini, model bisnis baru sudah teruji dan terbukti lebih baik dari model bisnis yang lama. Oleh sebab itu, perusahaan incumbent akan mengakselerasi transformasi menuju model bisnis baru. Namun demikian, transformasi pada tahap ini akan lebih berat mengingat perusahaan incumbent relatif sudah besar dan gemuk sehingga tidak selincah dan seadaptif perusahaan-perusahaan pendatang baru (startup company) yang hadir dengan model bisnis baru.

Oleh sebab itu, pada tahap ini perusahaan sudah tertekan pada sisi kinerja keuangan sehingga akan menekan budget bahkan mengurangi beberapa aktivitas bisnis dan fokus hanya pada inti bisnis perusahaan incumbent.

Tahap keempat, adaptasi pada keseimbangan baru (adapting to the new normal). Pada tahap ini, perusahaan incumbent sudah tidak memiliki pilihan lain selain menerima dan menyesuaikan pada keseimbangan baru karena fundamental industri telah berubah dan juga perusahaan incumbent tidak lagi menjadi pemain yang dominan. Perusahaan incumbent hanya dapat berupaya untuk tetap bertahan di tengah terpaan kompetisi.

Pada tahap inipun para pengambil keputusan di perusahaan incumbent perlu jeli dalam mengambil keputusan seperti halnya Kodak yang keluar lebih cepat dari industry fotografi sehingga tidak mengalami keterperosokan yang semakin dalam. Berangkat dari tahapan-tahapan ini seyogianya masing-masing perusahaan dapat melakukan deteksi dini posisi perusahaan sehingga dapat menetapkan langkah antisipasi yang tepat.

Tantangan terberat justru kepada para market leader di mana biasanya merasa superior dan merasa serangan disruptif hanya ditujukan kepada kompetitor minor yang kinerjanya tidak baik. Oleh sebab itu, perusahaan incumbent perlu terus bergerak cepat dan lincah mengikuti arah perubahan lingkungan bisnis dalam menyongsong era revolusi industri generasi keempat (Industry 4.0).

Reed Hasting, CEO Netflix pernah mengatakan bahwa jarang sekali ditemukan perusahaan mati karena bergerak terlalu cepat, namun sebaliknya yang seringkali ditemukan adalah perusahaan mati karena bergerak terlalu lambat.

Revolusi industry 4.0 ini ditandai pula dengan tren digital mengubah industri menjadi 7 bagian. Pertama menjadi sharing economy, saling interkoneksi satu sama lain dengan big data, sehingga bisa saling berbagi. Kemudian, disintermediasi, dekonstruksi rantai nilai, dan platform yang terintegrasi. Selain itu juga tren menuju revolusi industri 4.0 dan digital ekonomi.

Tren digital mengubah lanskap industri jasa keuangan dari industri petahana seperti perbankan, pasar modal, dan industri keuangan non bank menjadi sistem online, otomasi proses bisnis, transformasi organisasi, dan revisi value propositioning. Prinsip inovasi yang baik itu dilihat dari asas manfaat, asas keadilan, asas keterbukaan, asas keteraturan, anti pencucian uang, serta anti pendanaan teroris.

Di Indonesia, sebagai gambaran terjadi inklusi keuangan masih rendah dan distribusi layanan keuangan belum merata. Literasi keuangan juga rendah. Financing gap masih besar, di Pulau Jawa itu overbanked, sedangkan di Sumatera, Kalimantan dan Papua masih underbanked. Dari total populasi di Indonesia sebanyak 262 juta orang, sebanyak 132,7 juta merupakan pengguna internet dengan penetrasi mencapai 51%. Dari angka tersebut, yang aktif di sosial media sebanyak 106 juta orang dengan penetrasi 40%.

Persiapan Indonesia

Pemerintah berkomitmen membangun industri manufaktur yang berdaya saing global melalui percepatan implementasi Industri 4.0. Untuk itu, Making Indonesia 4.0 sebagai sebuah peta jalan dan strategi Indonesia memasuki era digital yang tengah berjalan saat ini, resmi diluncurkan. Presiden Joko Widodo pada acara Peluncuran Making Indonesia 4.0 Rabu (4/4)  menyampaikan optimismenya terhadap peluncuran Making Indonesia 4.0 yang akan berdampak positif terhadap Indonesia. Revolusi industri 4.0 dampaknya akan 3.000 kali lebih dahsyat dari revolusi industri pertama sekitar 200 tahun yang lalu.

Pada kesempatan tersebut, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyampaikan, industri nasional membutuhkan konektivitas serta interaksi melalui teknologi, informasi dan komunikasi yang terintegrasi dan dapat dimanfaatkan di seluruh rantai nilai manufaktur guna mencapai efisiensi dan peningkatan kualitas produk. Making Indonesia 4.0 memberikan arah yang jelas bagi pergerakan industri nasional di masa depan. Termasuk fokus pada pengembangan lima sektor manufaktur yang akan menjadi percontohan. Serta menjalankan 10 inisiatif nasional dalam upaya memperkuat struktur perindustrian Indonesia.

Penyusunan peta jalan ini telah melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari institusi pemerintah, asosiasi industri, pelaku usaha, penyedia teknologi, maupun lembaga riset dan pendidikan. Airlangga pun meyakini, melalui komitmen serta partisipasi aktif dari seluruh pihak tersebut, implementasi Industri 4.0 di Indonesia akan berjalan sukses dan sesuai sasaran. Implementasi Making Indonesia 4.0 yang sukses, diklaim akan mampu mendorong pertumbuhan PDB riil sebesar 1-2% per tahun, sehingga pertumbuhan PDB per tahun akan naik dari baseline sebesar 5% menjadi 6-7% pada periode tahun 2018-2030. Dari capaian tersebut, industri manufaktur akan berkontribusi sebesar 21-26%  terhadap PDB pada tahun 2030.

Selanjutnya, pertumbuhan PDB bakal digerakkan oleh kenaikan signifikan pada ekspor netto, di mana Indonesia diperkirakan mencapai 5-10% rasio ekspor netto terhadap PDB pada tahun 2030.  Selain itu, Making Indonesia 4.0 menjanjikan pembukaan lapangan pekerjaan sebanyak 7-19 juta orang, baik di sektor manufaktur maupun non-manufaktur pada tahun 2030 sebagai akibat dari permintaan ekspor yang lebih besar. Dalam mencapai target tersebut, industri nasional perlu banyak pembenahan terutama dalam aspek penguasaan teknologi yang menjadi kunci penentu daya saingnya.

Adapun lima teknologi utama yang menopang implementasi Industri 4.0, yaitu Internet of Things, Artificial Intelligence, Human Machine Interface, teknologi robotik dan sensor, serta teknologi 3D Printing. Untuk penerapan awal Industri 4.0, Indonesia akan berfokus pada lima sektor manufaktur, yaitu industri makanan dan minuman, industri tekstil dan pakaian, industri otomotif, industri kimia, serta industri elektonik.

Sektor ini dipilih setelah melalui evaluasi dampak ekonomi dan kriteria kelayakan implementasi yang mencakup ukuran PDB, perdagangan, potensi dampak terhadap industri lain, besaran investasi, dan kecepatan penetrasi pasar . Di samping itu,Making Indonesia 4.0 memuat 10 inisiatif nasional yang bersifat lintas sektoral untuk mempercepat perkembangan industri manufaktur di Indonesia. Kesepuluh inisiatif tersebut, mencakup perbaikan alur aliran barang dan material, membangun satu peta jalan zona industri yang komprehensif dan lintas industri, mengakomodasi standar-standar keberlanjutan, memberdayakan industri kecil dan menengah, serta membangun infrastruktur digital nasional.

Kemudian, menarik minat investasi asing, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pembangunan ekosistem inovasi, insentif untuk investasi teknologi, serta harmonisasi aturan dan kebijakan. Dengan adanya manfaat yang nyata, Indonesia berkomitmen untuk mengimplementasikan Making Indonesia 4.0 dan menjadikannya sebagai agenda nasional.

Revolusi Kemanusiaan Harus diperkuat

Ini tahun 2018 bung… era ketika semua telah berubah. Di era Revolusi Industri 4.0 ini, perlu kita tanamkan semangat kemanusiaan baru yang anti kekerasan dan antri penindasan. Barangsiapa yang masih suka menindas dan suka menggunakan cara-cara kekerasan untuk menyelesaikan masalah maka bersiapkan untuk terkubur. Zamanmu sudah usai bung! Ini sebuah zaman baru dimana generasinya semakin sadar diri bahwa kepemimpinan yang menjejak kemanusiaan akan lapuk dan terpuruk. Semangat zaman now adalah anti indoktrinasi dan ketokohan populer diganti dengan ketokohan diri. Ya, individu bisa memilih mana informasi yang cocok untuk dirinya sendiri. Zaman anti ideologi besar. Zaman Youtube, zaman Alan Walker!

Saat agama dikapitalisasi sebagai alat gebuk, telaah kembali ajaran Mahatma Gandhi jadi terasa sangat relevan dewasa ini. Sebab, bagi Gandhi kekerasan hanyalah ilusi yang alih-alih merampungkan persoalan, justru membuatnya kian keruh. Gagasan perdamaian Gandhi, yang mulanya terasa di Menara gading. Namun ayo didaratkan ke bumi dengan sangat rigid dan deskriptif.

Mohandas Karamchand Gandhi sendiri sudah mafhum dikenal khalayak sebagai guru spiritual dan aktivis politik asal India. Pria berperawakan mungil itu terlibat dalam upaya memerdekakan India dari cengkraman kolonial Inggris. Seperti pada suatu sidang, Gandhi yang kala itu menjadi pengacara muda minim pengalaman, terpaksa meninggalkan ruangan dan kliennya karena dilanda kegugupan. Bagian ini menjadi penanda jika penulis tak sekadar menyortir episode Gandhi yang penuh hingar bingar prestasi. Penulis ingin menunjukkan, Gandhi tetaplah manusia biasa yang punya kelemahan.

Ketika Gandhi sudah menemukan dirinya kembali, ia dihadapkan banyak persoalan semasa tinggal di Afrika. Ia ditendang keluar dari kereta karena menduduki gerbong kelas pertama, yang kala itu hanya disediakan untuk orang kulit putih. Puncak kesadaran sekaligus penyesalan Gandhi lahir di akhir pertengkaran dengan istrinya, Kasturbai. Saat itu, Gandhi yang baru menyelesaikan studinya di London telah menyatakan dirinya sepenuhnya beradab dan menyadari hak-hak legalnya.

Namun, istrinya adalah orang pertama yang ingin dibuatnya terkesan. Kepadanya Gandhi mulai menuntut hak-haknya sebagai suami. Sayang, Kasturbai merupakan perempuan teguh yang memiliki keinginannya sendiri. Konflik antara mereka pun tak terhindarkan hingga puncaknya adalah pengusiran Kasturbai yang tak tahan menghadapi kisruh rumah tangga. Gandhi pun menyesal dan mengutarakan maafnya kepada sang istri.

Sejak saat itu, perlahan tapi pasti Gandhi mengubah cara berpikirnya. Daripada memaksakan hak-haknya, ia bisa memilih memenuhi kewajibannya. Pikiran itu merupakan lompatan besar di kehidupan Gandhi. Prinsipnya bulat setelah itu, baginya, mengetahui adalah merasakan, merasakan adalah melakukan, melakukan adalah menjalani hidup. Dengan demikian, daripada memaksakan prinsipnya kepada istri, ia memilih untuk menunjukkan teladan dari dirinya sendiri. “Untuk mengubah orang lain, terlebih dahulu kamu harus mengubah dirimu.”

Suatu hari setelah lama meninggalkan Afrika Selatan, ia membalas sepucuk surat yang menyerukan para pemimpin dunia agar menyerukan hak asasi manusia. Ia berujar, “Berdasarkan pengalamanku, adalah lebih penting untuk memiliki piagam kewajiban asasi manusia.” Pernyataan itu diikuti dengan pencarian panjang untuk menemukan jalan perdamaian. Pencarian terbesar itu menuntunnya untuk mengambil sikap yang lebih radikal, yakni melepaskan semua unsur negatif dalam diri yang terwujud dalam sikapnya yang antikekerasan (nirkekerasan).

Dengan gerakan itu, ia berhasil menyebarkan pesan perdamaian hampir di seluruh India. Menjaga kewarasan publik dan tetap teguh tanpa ampun membela hak-haknya sebagai manusia. Nirkekerasan baginya adalah cara terbaik yang dapat mengubah tatanan sosial yang antagonis. Karena ia percaya, melakukan kebaikan dengan kekerasan adalah sia-sia, sebab kebaikan itu adalah semu, sedangkan kerusakan yang akan terjadi bersifat permanen.

Salah satu prinsip itu direproduksi lewat gerakan turun ke bawah langsung. Ia melakukan kampanye garam di India seraya menyebarkan gagasan ini. Pria itu melangkah cepat dalam tiap aksinya menyusuri jalan-jalan perkampungan India, hingga ke pantai untuk memproduksi garam bagi rakyat.

Maka di tahun 2018 ini, kita ambil semangat menghidupkan perdamaian anti kekerasan kembali dalam realitas masyarakat. Minimal menularkan kegelisahan  dan menjadikannya pengingat bersama, saat dunia terlampau gaduh dijejali aksi kekerasan berkedok agama dan pledoi harga diri. Disinilah, makna Allahu Akbar! Allah SWT tidak ridho pada manusia yang mengklaim dirinya superman dan superman pasti never return.

@2018

 

Iklan
Categories: Revolusi Industri 4.0 | Tinggalkan komentar