Author Archives: wongalus

ILMU PUTER GILING SUKMA


Puter Giling Sukma adalah salah satu jenis ilmu pelet pengasihan untuk menarik kembali anggota keluarga, suami atau isteri dan kekasih yang pergi meninggalkan kita dan enggan pulang. Ilmu ini merupakan salah satu warisan budaya mistik di nusantara yang masih dipercaya dan masih eksis di tengah masyarakat.

Suatu ketika, ada seorang perempuan asal Jakarta sebut saja Rena, ditinggal Dicky, kekasihnya pergi begitu saja tanpa alasan yang jelas. Tentu Rena merasa hidupnya tiada arti. Semangat hidup menurun drastis dan kesehatannya melemah. Yang bisa dilakukan adalah termenung di kamar seorang diri. Kamar dikunci rapat-rapat dan hanya isak tangisannya  yang sesekali terdengar. Rena membutuhkan pertolongan tapi sayang tidak anggota keluarga yang mampu mengembalikan kondisi kejiwaan dan fisiknya seperti sedia kala.

Pada suatu hari datanglah Nilam. Sahabat akrab Rena ini berhasil membujuk agar mau datang dan ke seorang paranormal, sebut saja Ki Lemah. Problem Rena yaitu menghilangnya sang kekasih kemudian dicarikan solusi oleh Ki Lemah dengan menggunakan aji Puter Giling Sukma.

Ilmu pelet Puter Giling didapat oleh Ki Lemah dari gurunya yang kini telah meninggal. Untuk memiliki ilmu tersebut, Sang Guru memerintahkan Ki Lemah agar nglakoni puasa mutih dan berada di atas pohon sawo selama sehari semalam. Selama sehari itu, dia tidak boleh tertidur karena bila tertidur pasti akan jatuh dan akan menggagalkan uji lakunya. Singkatnya, ilmu yang didambakan pun akhirnya bisa benar-benar dimiliki Ki Lemah.  Banyak yang sudah klien yang menggunakan jasa pelet ampuh tersebut, salah satunya yang kini ada di hadapan Ki Lemah; Rena. Seorang mahasiswi perguruan tinggi swasta semester delapan.

Ritual matek ajian pelet Puter Giling pun dilaksanakan. Mula-mula, Ki Lemah pergi ke kamar mandi belakang rumahnya. Di dalam kamar mandi tepatnya di atas gentong (tempat air dari tanah) yang berisi air dia membaca mantra sambil melihat air isi dalam gentong dan sambil memegang benda milik Dicky yaitu sebuah jam tangan merk Seiko yang diberikan kepada Rena:

Bismillahirrohmanirrohim

Sun matek ajiku puter giling sukma

tak jaluk guru kuasamu jabang bayine ……  ( Nama kekasih Rena)

Sukmamu linglung koyo peksi muter

Muliho  sangkan paran asalmu yoiku jabang bayine…… (Rena)

Soko kersaning gusti

Putergiling-gumiling pitung bumi pitung langit

agulung-gulung padang terawangan

katon teka lenging Qodrat Allah

 Allahu Akbar 3x

Usai matek aji, Ki Lemah kembali ke ruang tamu dan mengatakan kepada Rena bahwa Dicky akan datang ke rumah Rena paling lambat hari Jumat minggu depan. Usai transaksi, Rena yang didampingi Nilam pulang ke rumahnya dengan hati berdebar-debar menunggu kedatangan sang kekasih pujaan hati.

Apa yang terjadi pada Dicky yang sedang berada di Palembang saat Ki Lemah matek Aji Puter Giling? Yang dirasakan pria ganteng yang sudah tiga bulan meninggalkan Rena dan sudah memiliki gebetan baru ini adalah muncul rasa kangen kepada Rena. Rasa kangen yang luar biasa disertai dengan terbayang-bayang wajah Rena setiap saat.

Dicky mencoba untuk rasional dan cuek dengan perasaan aneh yang tiba-tiba datang ini.  Sebagai lelaki dia merasa kuat untuk menindas perasaannya, apalagi dia termasuk pria yang mudah gonta ganti pasangan tanpa keterlibatan perasaan. Rasa rindu kepada seorang perempuan baginya merupakan pantangan. Namun anehnya, kali ini dia merasakan rindu. Semakin dia menolak, semakin rasa kangen ini terasa menghimpit dada. Hingga tubuh fisiknya menderita sakit panas dingin. Tulang tulangnya terasa pegel linu. Akhirnya, tidak tahan dengan kangen yang membakar jiwanya Dicky terbang ke Jakarta dan kembali ke rumah Rena, tepat pada hari Jumat.

Inilah cara kerja ilmu pelet Puter Giling Sukma yaitu “memaksa” perasaan si terpelet agar mengingat-ingat kembali masa silam, membuka memori catatan-catatan lama yang sudah terlupa dan memunculkan rasa kangen, sebuah ilmu yang bisa menarik orang-orang terkasih yang menghilang agar kembali pulang. Berapa uang yang dikeluarkan Rena sebagai balas jasa kepada Ki Lemah, pemilik ilmu Puter Giling tersebut? “Sssttt…jangan keras-keras, cuma 500 ribu,” ujar Rena yang kini bisa tersenyum karena sudah berhasil ‘jalan bareng’ Dicky lagi.

Kejadian dua tahun lalu itu masih terekam di ingatan. Terlintas wajah cantik Rena yang kemerahan. Terbayang pula gurat-gurat di wajah Ki Lemah yang kini semakin renta dimakan usia.

@wongalus,2009

Categories: ILMU PUTER GILING SUKMA | 83 Komentar

HAKIKAT RUWATAN


Demi waktu, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran (QS 103; 3)

Kenapa orang Jawa menggelar acara ruwatan dan apa falsafah di balik upacara ruwatan yang bagi sebagian kalangan dianggap berbau klenik dan ditafsirkan negatif itu? Marilah kita bersama-sama menelusuri hakikat di balik tradisi ruwatan. Awalnya, kita perlu tahu siapa saja yang harus diruwat karena mengandung unsur negatif/kesalahan/bencana. Menurut kepustakaan “Pakem Ruwatan Murwa Kala” yang bersumber dari Serat Centhini (Sri Paku Buwana V) orang yang harus diruwat ada 60 jenis yaitu:

1. ONTANG-ANTING, yaitu anak tunggal laki-laki atau perempuan.

2. UGER-UGER LAWANG, yaitu dua orang anak yang kedua-duanya laki-laki dengan catatan tidak anak yang meninggal.

3. SENDHANG KAPIT PANCURAN, yaitu 3 orang anak, yang sulung dan yang bungsu laki-laki sedang anak yang ke 2 perempuan.

4. PANCURAN KAPIT SENDHANG, yaitu 3 orang anak, yang sulung dan yang bungsu perempuan sedang anak yang ke 2 laki-laki.

5. ANAK BUNGKUS, yaitu anak yang ketika lahirnya masih terbungkus oleh selaput pembungkus bayi (placenta).

6. ANAK KEMBAR, yaitu dua orang kembar putra atau kembar putri atau kembar “dampit” yaitu seorang laki-laki dan seorang perempuan (yang lahir pada saat bersamaan).

7. KEMBANG SEPASANG, yaitu sepasang bunga yaitu dua orang anak yang kedua-duanya perempuan.

8. KENDHANA-KENDHINI, yaitu dua orang anak sekandung terdiri dari seorang laki-laki dan seorang perempuan.

9. SARAMBA, yaitu 4 orang anak yang semuanya laki-laki.

10. SRIMPI, yaitu 4 orang anak yang semuanya perempuan.

11. MANCALAPUTRA atau Pandawa, yaitu 5 orang anak yang semuanya laki-laki.

12. MANCALAPUTRI, yaitu 5 orang anak yang semuanya perempuan.

13. PIPILAN, yaitu 5 orang anak yang terdiri dari 4 orang anak perempuan dan 1 orang anak laki-laki.

14. PADANGAN, yaitu 5 orang anak yang terdiri dari 4 orang laki-laki dan 1 orang anak perempuan.

15. JULUNG PUJUD, yaitu anak yang lahir saat matahari terbenam.

16. JULUNG WANGI, yaitu anak yang lahir bersamaan dengan terbitnya matahari.

17. JULUNG SUNGSANG, yaitu anak yang lahir tepat jam 12 siang.

18. TIBA UNGKER, yaitu anak yang lahir, kemudian meninggal.

19. JEMPINA, yaitu anak yang baru berumur 7 bulan dalam kandungan sudah lahir.

20. TIBA SAMPIR, yaitu anak yang lahir berkalung usus.

21. MARGANA, yaitu anak yang lahir dalam perjalanan.

22. WAHANA, yaitu anak yang lahir dihalaman atau pekarangan rumah.

23. SIWAH ATAU SALEWAH, yaitu anak yang dilahirkan dengan memiliki kulit dua macam warna, misalnya hitam dan putih.

24. BULE, yaitu anak yang dilahirkan berkulit dan berambut putih “bule”

25. Kresna, yaitu anak yang dilahirkan memiliki kulit hitam.

26. WALIKA, yaitu anak yang dilahirkan berwujud bajang atau kerdil.

27. WUNGKUK, yaitu anak yang dilahirkan dengan punggung bengkok.

28. DENGKAK, yaitu anak yang dilahirkan dengan punggung menonjol, seperti punggung onta.

29. WUJIL, yaitu anak yang lahir dengan badan cebol atau pendek.

30. LAWANG MENGA, yaitu anak yang dilahirkan bersamaan keluarnya “Candikala” yaitu ketika warna langit merah kekuning-kuningan.

31. MADE, yaitu anak yang lahir tanpa alas (tikar).

32. Orang yang ketika menanak nasi, merobohkan “Dandhang” (tempat menanak nasi).

33. Memecahkan “Pipisan” dan mematahkan “Gandik” (alat landasan dan batu penggiling untuk menghaluskan ramu-ramuan obat tradisional).

34. Orang yang bertempat tinggal di dalam rumah yang tak ada “tutup keyongnya”.

35. Orang tidur di atas kasur tanpa sprei (penutup kasur).

36. Orang yang membuat pepajangan atau dekorasi tanpa samir atau daun pisang.

37. Orang yang memiliki lumbung atau gudang tempat penyimpanan padi dan kopra tanpa diberi alas dan atap.

38. Orang yang menempatkan barang di suatu tempat (dandhang – misalnya) tanpa ada tutupnya.

39. Orang yang membuat kutu masih hidup.

40. Orang yang berdiri ditengah-tengah pintu.

41. Orang yang duduk didepan (ambang) pintu.

42. Orang yang selalu bertopang dagu.

43. Orang yang gemar membakar kulit bawang.

44. Orang yang mengadu suatu wadah/tempat (misalnya dandhang diadu dengan dandhang).

45. Orang yang senang membakar rambut.

46. Orang yang senang membakar tikar dengan bambu (galar).

47. Orang yang senang membakar kayu pohon “kelor”.

48. Orang yang senang membakar tulang.

49. Orang yang senang menyapu sampah tanpa dibuang atau dibakar sekaligus.

50. Orang yang suka membuang garam.

51. Orang yang senang membuang sampah lewat jendela.

52. Orang yang senang membuang sampah atau kotoran dibawah (dikolong) tempat tidur.

53. Orang yang tidur pada waktu matahari terbit.

54. Orang yang tidur pada waktu matahari terbenam (wayah surup).

55. Orang yang memanjat pohon disiang hari bolong atau jam 12 siang (wayah bedhug).

56. Orang yang tidur diwaktu siang hari bolong jam 12 siang.

57. Orang yang menanak nasi, kemuadian ditinggal pergi ketetangga.

58. Orang yang suka mengaku hak orang lain.

59. Orang yang suka meninggalkan beras di dalam “lesung” (tempat penumbuk nasi).

60. Orang yang lengah, sehingga merobohkan jemuran “wijen” (biji-bijian).

Mereka adalah jenis-jenis orang yang di dalam kisah perwayangan disarankan oleh Batara Guru agar dijadikan santapan atau makanan Batara Kala. Dalam Pustaka Raja Purwa karya Ranggawarsito bahkan disebutkan ada 136 macam Sukerta. Menurut kepercayaan Jawa, orang-orang yang tergolong di dalam kriteria tersebut dapat menghindarkan diri dari malapetaka (disimbolkan menjadi makanan Betara Kala) jika ia mengadakan acara ruwatan dengan menggelar wayang dengan lakon Murwakala, Baratayuda, Sudamala, atau Kunjarakarna. Selain Ruwatan Sukerta, terdapat juga “Ruwat Sengkala atau Sang Kala” yang artinya menjadi mangsa “kala” atau “waktu.”

Sebagaimana diketahui dalam kitab Suci bahwa siapa yang tidak bisa memanfaatkan waktu dengan beramal sholeh maka dia termasuk orang-orang yang merugi. Demi waktu, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran (QS 103; 3)

Apalagi bila jalan kehidupan orang tersebut terbelenggu materi yang akhirnya nyrimpeti “laku”. Dia akan merasa penuh kesulitan karena tidak bisa sejalan harmonis dengan dengan alur hukum alam (ruang dan waktu). Kesalahan-kesalahan perbuatan atau tingkah laku dia sendiri atau orang lain (leluhur masa lalu) jelas memiliki akibat di masa sekarang. Saya menduga, para leluhur kita di Jawa telah ‘niteni’ siapa saja orang-orang yang hidupnya diliputi dengan kesulitan =karena susah memenej dan mengkoordinasi dirinya sehingga muncul kesulitan atau bencana. Yaitu 60 jenis orang yang telah disebutkan di atas, sehingga upacara ruwatan adalah momentum untuk ngelingke (mengingatkan) mereka agar kembali ke jalan yang lurus.

Kenapa dalam ruwatan digelar wayang? Kok tidak ndangdutan, disko, tari tayub/ledhek atau kesenian yang lain? Wayang adalah pertunjukan yang sarat dengan tuntunan ajaran filsafat hidup. Berbeda dengan seni-seni lain yang mudah diapresiasi/ dinikmati dan murni hiburan/entertainment, penonton pergelaran wayang membutuhkan perenungan yang sangat mendalam karena di dalamnya bermuatan ajaran-ajaran hidup bijaksana. Wayang adalah perpaduan berbagai sebagai seni pertunjukan yang merangkum bermacam-macam unsur lambang simbolis, bahasa gerak, suara, warna dan rupa.

Di dalam unsur simbolis ini tercermin pengalaman religius atau perjalanan spiritual sebagaimana yang diperankan tokoh-tokoh wayang tersebut. Pertunjukan wayang idealnya diwariskan secara turun temurun agar menjadi tetenger eksistensi budaya Jawa. Wayang adalah sarana efektif penyampaian ajaran filsafat hidup yang menuntun bagaimana harus bertingkah laku secara bijaksana antar individu maupun individu di dalam masyarakat dan hubungan dengan Gusti. Individu juga diajarkan mengenali hakikat diri sejati dan perjalanan-perjalanan yang harus dilakoninya sebagai kewajiban hidup.

Benarkah mereka yang telah diruwat akan berbebas dari dosa dan kesalahan? Jawaban anak kecil barangkali ya. Namun saat kesadaran kita telah beranjak dewasa, maka tidak mungkin hanya dengan ucapara ruwatan bisa menebus kesalahan dan kesucian orang. Tentu saja, ajaran Jawa yang dianggap klenik semacam ini harus diluruskan sesuai dengan hakikatnya. Hakikat dari upacara (syariat) harus diteruskan untuk mengenali upasana dan upadinya. (hakikatnya sebagai pembelajaran agar terjadi penyadaran).

Selain itu, upacara adalah sebuah tindakan simbolis yang merupakan relasi penghubung antara komunikasi human kosmis dan komunikasi lahir batin dengan Gusti Kang Akaryo Jagad. Tindakan simbolis dalam upacara nerupakan bagian yang sangat penting dan tidak mungkin dibuang begitu saja, karena manusia harus bertindak dan berbuat yang melambangkan sebuah hubungan khusus dengan Tuhan.

Substansi lakon Murwakala pada tradisi ruwatan adalah pembebasan. Pembebasan manusia dari “mangsa” Batara Kala (kala=waktu). Tokoh Batara Kala adalah anak Batara Guru yang lahir karena nafsu yang tidak bisa dikendalikannya atas diri Dewi Uma, yang kemudian spermanya jatuh ketengah laut dan menjelma menjadi raksasa: “Kama salah kendang gumulung”. Ketika Batara Kala menghadap sang ayah Batara Guru untuk meminta makan, oleh Batara Guru diberitahukan agar memakan manusia yang berdosa atau sukerta.

Dalam ruwatan, selain digelar wayang kulit dengan lakon Murwakala diperlukan sesajen beraneka makanan yang merupakan simbol yang harus ditafsirkan. Sarana sesajen ini juga sebagai cara pembelajaran. Berbeda dengan menggunakan buku-buku, penyampaian ajaran hidup yang memakai cara “sesajen” ini pasti mudah diingat dalam waktu lama dan antar generasi.

Menurut Ki Soedarsono sesajen dalam ruwatan adalah:

1. Tuwuhan, yang terdiri dari pisang raja setudun, yang sudah matang dan baik, yang ditebang dengan batangnya disertai cengkir gading (kelapa muda), pohon tebu dengan daunnya, daun beringin, daun elo, daun dadap serep, daun apa-apa, daun alang-alang, daun meja, daun kara, dan daun kluwih yang semuanya itu diikat berdiri pada tiang pintu depan sekaligus juga berfungsi sebagai hiasan/pajangan dan permohonan.

2. Dua kembang mayang yang telah dihias diletakkan dibelakang kelir (layar) kanan kiri, bunga setaman dalam bokor di tempat di muka dalang, yang akan digunakan untuk memandikan Batara Kala, orang yang diruwat dan lain-lainnya.

3. Api (batu arang) di dalam anglo, kipas beserta kemenyan (ratus wangi) yang akan dipergunakan Ki Dalang selama pertunjukan. Kain mori putih kurang lebih panjangnya 3 meter, direntangkan dibawah debog (batang pisang) panggungan dari muka layar (kelir) sampai di belakang layar dan ditaburi bunga mawar dimuka kelir sebagai alas duduk Ki Dalang, sedangkan di belakang layar sebagai tempat duduk orang yang diruwat dengan memakai selimut kain mori putih.

4. Gawangan kelir bagian atas (kayu bambu yang merentang diatas layar) dihias dengan kain batik yang baru 5 (lima) buah, diantaranya kain sindur, kain bango tulak dan dilengkapi dengan padi segedeng (4 ikat pada sebelah menyebelah).

5. Nasi golong dengan perlengkapannya, goreng-gorengan, pindang kluwih, pecel ayam, sayur menir, dsb. Nasi wuduk dilengkapi dengan ikan lembaran, lalaban, mentimun, cabe besar merah dan hijau brambang, dan kedele hitam. Nasi kuning dengan perlengkapan telur ayam yang didadar tiga biji. Srundeng asmaradana.

6. Jenang (bubur) yaitu: jenang merah, putih, jenang kaleh, jenang baro-baro (aneka bubur).

7. Jajan pasar (buah-buahan yang bermacam-macam) seperti : pisang raja, jambu, salak, sirih yang diberi uang, gula jawa, kelapa, makanan kecil berupa blingo yang diberi warna merah, kemenyan bunga, air yang ditempatkan pada cupu, jarum dan benang hitam-putih, kaca kecil, kendi yang berisi air, empluk (periuk yang berisi kacang hijau, kedele, kluwak, kemiri, ikan asin, telur ayam dan uang satu sen).

8. Benang lawe, minyak kelapa dipergunakan untuk lampu blencong, sebab walaupun siang tetap memakai lampu blencong. Yang berupa hewan seperti burung dara satu pasang ayam jawa sepasang, bebek sepasang.

Berupa sesajen antara lain:

1. Rujak ditempatkan pada bumbung, rujak edan (rujak dari pisang klutuk ang dicampur dengan air tanpa garam), bambu gading lima ros. Kesemuanya itu diletakan ditampah yang berisi nasi tumpeng, dengan lauk pauknya seperti kuluban panggang telur ayam yang direbus, sambel gepeng, ikan sungai/laut dimasak anpa garam dan ditempatkan di belakang layar tepat pada muka Kyai Dalang.

2. Sajen buangan yang “ditunjukkan” kepada dahyang (makhluk halus penghuni suatu tempat) yang berupa takir besar atau kroso yang berisi nasi tumpeng kecil dengan lauk-pauk, jajan pasar (berupa buah-buahan mentah serta uang satu sen). Sajen itu diletakkan di tempat dahyang.

3. Sumur atau sendang diambil airnya dan dimasuki kelapa. Kamar mandi yang untuk mandi orang yang diruwat diletakkan kelapa utuh. Selesai upacara ruwat bambu gading yang berjumlah lima ros ditanam pada kempat ujung rumah disertai empluk (tempayan kecil) yang berisi kacang hijau, kedelai hitam, ikan asin, kluwak, kemiri, telur ayam dan uang dan berdoa mohon tercapai apa yang diharapkan. @@

@wongalus,2009

Categories: HAKIKAT RUWATAN | 5 Komentar

AJIAN WARINGIN SUNGSANG


Ajian Waringin Sungsang ini merupakan salah satu “puncak ilmu” kejadukan/ kanoman/ kanuragan yang dimiliki oleh para pendekar digdaya masa lalu.

Ajian Waringin Sungsang memiliki efek yang sangat mematikan. Siapa yang diserang ajian ini akan terserap energi kesaktiannya dan mengalami lumpuh hingga akhirnya roboh tidak berdaya. Dan dengan memiliki ajian ini muncul energi pertahanan kekuatan tubuh yang sangat hebat. Maka, para pendekar yang memiliki Ajian Waringin Sungsang ini bisa dipastikan akan disegani kawan sesama pendekar maupun musuh.

Ajian Waringin Sungsang diciptakan oleh Sunan Kalijaga. Dia juga menciptakan banyak ilmu kedigdayaan lain seperti aji lembu sekilan dan lainnya. Kenapa Sunan Kalijaga menciptakan ilmu kedigdayaan yang begitu banyak?

Salah satu alasan logisnya yaitu pada masa itu banyak kejahatan dari golongan pendekar yang beraliran ilmu hitam dan banyaknya ahli sihir yang mempraktekkan ilmu-ilmu sihir yang menggunakan kekuatan buruk. Mereka berkuasa dan ditakuti oleh masyarakat awam.

Untuk menaklukkan kalangan pendekar berilmu hitam dan meyakinkan kepada masyarakat umum bahwa sumber kekuatan ilmu kanuragan tetap dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Ini terlihat dari rapal-rapal ilmu kedigdayaan ciptaan Sunan Kalijaga selalu bernuansa religius dan menyertakan “nama” Tuhan.

Ajian Waringin Sungsang memiliki falsafah yang mendalam. Waringin Sungsang berarti pohon beringin yang terbalik dimana akarnya berada di atas, seperti pohon kalpataru. Pohon waringin sungsang ini bermakna sumber kehidupan segala yang ada, sumber kebahagiaan, keagungan, serta sumber asal mula kejadian. Maka pohon ini juga disebut pohon purwaning dumadi atau pohon sangkan paran.

Di dalam waringin sungsang, juga terdapat ular yang melilit pohon tersebut. Ini melambangkan jasmani dan rohani yang telah menyatu dalam perilaku. Maka, seorang pendekar pemilik ilmu waringin sungsang ini adalah orang yang sudah manunggal atau menyatu kehendak lahir dan kehendak batinnya. Ilmu ini hanya dimiliki oleh para pendekar sepuh atau ‘tua’ sehingga tidak digunakan sembarangan karena efeknya yang melumpuhkan.

Pohon berasal dari kayu atau kayon, berasal dari bahasa Arab ‘khayyu’ yang artinya hidup. Dalam ilmu kalam ‘khayyu’ hanya merupakan sifat sejatinya Tuhan. Di dalam Al Quran dinyatakan; “Allahu la illaha illa huwal hayyu qayyum” yang artinya Tidak ada Tuhan melainkan Dia, yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluknya. (QS, 2, 255).

Karena begitu tingginya falsafah yang terkandung dalam ajian Waringin Sungsang ini, maka hanya kepada para pendekar yang sudah “menyelesaikan” urusan diri sendirilah ilmu ajian ini boleh diwariskan.

Ajian Waringin Sungsang  dirapalkan sebagai berikut:

Sun amatek ajiku Waringin Sungsang
wayahipun tumuruna, ngaubi awak mami, tur tinuting bala, pinacak suji kembar, pipitu jajar maripit, asri yen siyang, angker kalane wengi.
Duk samana akempal kumpuling rasa, netraku dadi dingin, netra ningsun emas, puputihe mutyara, ireng-ireng wesi manik, ceploking netra, waliker uda ratih.
Idep ingsun kekencang bang ruruwitan, alisku sarpa mandi, kiwa tengen pisan, cupakku surya kembar, kedepku pan kilat tatit, kang munggeng sirah, wesi kekenten adi.
Rambut kawat sinomku pamor anglayap, batuk sela cendani, kupingku salaka, pilingan ingsun gangsa, irungku wesi duaji, pasu kulewang, pipiku wesi kuning.
Watu item lungguhe ing janggut ingwang, untuku rajeg wesi, lidah wesi abang, aran wesi mangangkang, iduku tawa sakalir, lambeku iya, sela matangkep kalih.
Guluku-ningsun paron wesi galigiran, jaja wesi sadacin, pundak wesi akas, walikat wesi ambal, salangku wesi walulin, bauku denda, sikutku pukul wesi.
Asta criga epek-epek ingsun cakra, cakar wok jempol kalih, panuduh trisula, panunggulku musala, mamanisku supit wesi, jentikku iya, ingaran pasopati.
Bebokongku sela ageng kumalasa, akawet wesi gilig, ebol-ingsun karah, luput denda kang tinja, balubukan entut mami, uyuhku wedang, dakarku purasani.
Jembut kawat gantungaku wesi mentah, walakang wesi gapit, pupu kalataka, sungsum ingsun gagala, ototku gungane wesi, ing dalamkan, ingaran kaos wesi.
Sampun pepak sarira-ningsun sadaya, samya pangawak wesi, pan ratuning braja, manjing aneng sarira, tan ana braja ndatengi, dadya wiyana, ayu sarira mami.
Ana kidung sun-angidung bale anyar, tanpa galar asepi, ninis samun samar, patining wuluh kembang, siwur burut tanpa kancing, kayu trisula, gagarannya calimprit.
Sumur bandung sisirah talaga mancar, tibeng jaja ajail, dinding endas parah, ulur-ulur liweran, tatambang jaringing maling, dadal dadnya, gagulung ing gagapit.
Naga raja pangawasan manik kembang, kembang gubel abaji, tajem neng kandutan, udune sarwi nungsang, kurangsangan angutipil, angajak-ajak.”

@wongalus,2009

Categories: AJIAN WARINGIN SUNGSANG | 88 Komentar

SUMPAH BUDAYA 2009


garuda-pancasila

Globalisasi di ranah ide, gagasan, ilmu pengetahuan yang diiringi dengan teknologi berkembang amat pesat. Lebih cepat dari kemampuan manusia untuk merenungkan apa hakikat semuanya untuk kemanfaatan hidup. Orang tidak lagi disibukkan dengan pertanyaan untuk apa kita memiliki ilmu, pengetahuan dan teknologi. Namun lebih menekankan pada fungsi-fungsi kemanfaatan/pragmatisnya semata. Semua pada akhirnya mengikuti arus globalisasi secara latah dan masa bodoh dengan hakikat progress/kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahwa hakikat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah untuk penyempurnaan proses hidup manusia menuju kesatuan dan keserasian lahir batin, jiwa dan raga.

Budaya Populer adalah budaya yang berada di pusaran arus global. Sayangnya, perkembangan budaya global justeru mematikan budaya-budaya nasional dan budaya lokal yang ada. Budaya lokal secara substansial tidak mengalami kemajuan yang berarti kecuali hanya untuk sarana komoditas ekonomi dan turisme saja. Budaya yang merupakan hasil manusia untuk mengolah daya cipta, rasa dan karsa berdasarkan atas kehendak dan keinginan masing-masing individu dalam sebuah wilayah tidak mampu lagi dianggap sebagai sebuah kearifan.

Individu yang berada di ruang-ruang budaya pun menjadi tumpul oleh arus pragmatis budaya global yang mungkin dipandang lebih menarik, mudah, cepat dan efisien. Para pengambil kebijakan tidak lagi memiliki semangat yang menyala untuk nguri-uri kebudayaan lokalnya. Apalagi bila semua pihak tidak mendukung lahirnya kreativitas-kreativitas baru berkebudayaan dan berkesenian.

Ini adalah situasi di mana kita mengalami sebuah Degradasi Budaya bahkan kehancuran sistematis budaya lokal. Bhinneka Tunggal Ika sebagai semangat berbudaya dalam rangka kebersatuan berbagai budaya lokal untuk maju dalam frame bangsa dan negara pun hanya sebagai slogan yang kini semakin dilupakan.

Tumbuh berkembang serta kemajuan sebuah budaya ditentukan pada bagaimana kita semua merespon dan menjawab tantangan-tantangan budaya global. Respon dan jawabannya adalah agar kita kembali kreatif, inovatif dan menciptakan wilayah-wilayah perjuangan budaya yang mampu menjadi alternatif budaya global yang terbukti tidak memiliki “ruh” kemanusiaan yang utuh.

Justeru pada budaya lokal, kita menemukan kembali “ruh” kemanusiaan itu. Ruh yang akan menyinari individu agar bisa bergerak secara harmonis antara individu dengan individu yang lain, antara individu dengan alam semesta, bahkan antara individu dengan dirinya sendiri sehingga nantinya individu tersebut akan menemukan diri sejati yang merupakan wakil Tuhan di alam semesta.

Siapa yang harus memulai untuk melakukan penyadaran adanya degradasi budaya ini? Sebuah fakta sejarah terjadi pada 28 Oktober 1928 saat para pemuda mengikrarkan Sumpah Pemuda. Intisari dan hakikat dari Sumpah Pemuda adalah kesadaran bahwa semua elemen bangsa harusnya memiliki kehendak, keinginan, cita-cita yang sama untuk mewujudkan sebuah kesatuan wahana dan ruang kreativitas dan kebebasan ekspresi yang berbeda-beda.

Jembatan untuk memasuki wahana persatuan dan kesatuan tersebut adalah tanah air, bangsa dan bahasa. Setiap babakan sejarah, pemuda selalu menjadi motor penggerak perubahan zaman. Sejarah telah menegaskan tentang kepeloporan pemuda di era kolonial hingga era perjuangan kemerdekaan bahkan di era reformasi. Perjuangan pemuda selalu dihadapkan pada tantangan hambatan dan kesulitan, bahkan darah dan airmata menjadi taruhan.

Di era masa lalu, gerakan kepemudaan lebih berorientasi pada bidang politik. Kini tantangan kaum muda masa kini justeru lebih banyak berupa rongrongan budaya global yang sangat berpengaruh pada pola pikir dan gaya hidup mereka sehingga harusnya gerakan kepemudaan kini lebih diorientasikan pada bidang budaya local (local wisdom).

Pemuda harus memiliki semangat untuk bersatu, lepas dari penindasan dan penguasaan budaya global. Kita berharap agar bangsa Indonesia bisa menghidupkan kembali budaya-budaya lokal yang ada sehingga nanti terwujud bangsa yang maju berkembang tanpa kehilangan jati dirinya. Kita buka mata dan hati kita, lihatlah bangsa India, Cina, Jepang, Thailand, dan Korea telah membuktikan sendiri. Bangsa yang meninggalkan pola hidup taklid hanya ikut-ikutan, ela-elu. Kini telah tumbuh menjadi macam Asia, dihormati dan segani masyarakat dunia, bangkit meraih kejayaan dengan berlandaskan loyalitasnya terhadap nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom) yang terdapat dalam tradisi dan budayanya. Bangsa yang tahu karakter diri sejatinya, sangat tahu tindakan apa yang harus dilakukannya.

Sumpah Pemuda merupakan momentum yang berhasil menyatukan pemuda se-Indonesia dalam satu ikatan kebangsaan, perasaan senasib, sepenanggungan yang diderita oleh pemuda khususnya, telah memberikan kesadaran kritis terhadap situasi yang dihadapinya yaitu adanya sebagai tantangan bersama telah membangkitkan kesadaran kolektif pemuda untuk melawan penindasan budaya global. Diperlukan gerakan massif untuk menghidupkan kembali budaya-budaya lokal (baca; kearifan lokal) di tanah air secara terus menerus sebagai bentuk nyata dari perjuangan kaum muda.

Perjuangan kaum muda di bidang budaya diharapkan akan membawa perubahan sosial yang mendalam bagi masyarakat, terutama di bidang pendidikan. Dari pendidikan ini muncullah pejuang-pejuang muda yang kaya akan ide dan konsep untuk melawan budaya global.

Untuk mewujudkan ide tersebut maka dengan ini kami menyerukan kapada SEMUA PEMUDA DI TANAH AIR untuk bersatu dalam gerakan SUMPAH BUDAYA 2009:

1. MENGHIDUPKAN KEMBALI BUDAYA DAERAH SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN BUDAYA NUSANTARA

2. MENJADIKAN BUDAYA DAERAH SEBAGAI DASAR PIJAKAN IDE-IDE KREATIF PEMBANGUNAN

3. MENGEMBANGKAN KEARIFAN BUDAYA DAERAH SEBAGAI NILAI-NILAI PEMBANGUNAN NASIONAL

4. MENGEMBANGKAN NILAI-NILAI MORAL, MENTAL DAN AJARAN HIDUP BERMASYARAKAT YANG ADA DI BUDAYA DAERAH DALAM RANGKA MENDUKUNG PERKEMBANGAN BUDAYA NUSANTARA.

5. MENGURANGI PENGARUH NEGATIF BUDAYA GLOBAL DENGAN MENGEMBANGKAN BUDAYA NUSANTARA

MOTTO :THINK LOCALLY ACT GLOBALLY !!

SUMPAH BUDAYA:

BERBUDAYA SATU, BUDAYA NUSANTARA

BERJATI DIRI SATU, JATI DIRI BANGSA INDONESIA

KASIH SAYANG SATU, SATU KASIH SAYANG LINTAS AGAMA

Indonesia, 28 Oktober 2009

Tertanda:

1. KI WONG ALUS (www.wongalus.wordpress.com)

2. KI ALANG ALANG KUMITIR (www.alangalangkumitir.wordpress.com)

3. KI SABDA LANGIT (www.sabdalangit.wordpress.com)

4. KI AGUNG HUPUDHIO

5.  (SILAHKAN MENGISI SENDIRI REKAN-REKAN YANG INGIN MENERUSKAN PERJUANGAN BUDAYA INI DAN BEBAS DISEBARKAN TANPA IJIN, TERIMA KASIH).

Categories: SUMPAH BUDAYA 2009 | 14 Komentar

ARS EROTICA JAVANESE WOMAN


karon

Ada banyak tipe perempuan. Salah satunya bertipe SURYA SUMURUP yaitu perempuan yang memiliki dua lapis bibir yang berwarna merah jambu. Sorot matanya kebiru-biruan. Ada sinom (rambut yang tumbuh di dahi) yang menggumpal. Kedua alisnya nanggal sepisan (laksana bulan sabit). Perempuan seperti ini konon menjadi idaman kaum lelaki karena memiliki kesetiaan tak diragukan lagi. Ia tipe perempuan yang serasi dalam bermain asmara, sehingga dapat mencapai derajat marlupa (orgasme) bersama-sama.


Tipe perempuan lainnya di antaranya adalah:…


BULAN DADARI yaiku sing raine sumringah rada bunder, awake sedengan alise kandel, rambute ireng lemes, merit kencete.PISANG SULUH, awak imut, kulit kuning, pasuryane ketok ana otot semburat ijo, sinom ketel, mata amba rada belo, mranani ati saben pria sing nyawang, tindak tanduke merak ati, gawe welas asih.

SEMONGGO WARU iku sing awake lencir, kulite ireng manis, bangekane merit, payudarane montok dan mata rada amba, atine rada nyengit nek rambute kriting basane pinter nyimpen rahasia seneng dijak selingkuh.

LINTANG KARAINAN iku sing awak imut, rambut ireng kandel, kulit sawo mateng, alis kandel, montok lan bangkekan merit, bisa nyimpen wadi, atine alus gampang tersinggung tapi gampang tresna.

DURGASARI, awak ipel-ipel nanging dempal, kulit sawo matang, rambut tipis, bangkekan sedengan, sikil kandel, dlamakan njebebeh (ketoke cah panekan merga sering munggah gunung), susu gede montok, nek omong ceplas-ceplos, tandang gawene sak kepenake, nanging jujur apa anane.

SUBONDRIO: awak rada langsing lan lencir, kulit kuning bangkekan cilik, rambut kandel, sabar, setia, gak gampang kena goda.

RAKSASA DURGA, badan dempal, kulit ireng, rambute kriting, susu gede sikile cilik mlakune oyag-ayig.

MRICA PECAH, badan ramping/singset,kulit kuning rada putih,rambut biasa dan awak rada montok, bisa nyimpan rahasia.

MACAN KETAWAN, raine sumringah, mata mblalak, badan rada gedhe, kulit bang-bang awak, adate keras, tabah ngadhepi goda,seneng nulung lan bisa sabar.

CIRI WANITA YANG COCOK DIJADIKAN ISTERI:

Bentuk sirahe bunder. Wajah bunder kaya wulan purnama. Jidate rata lan serasi. Matanya rada amba/njahit, tapi enak disawang. Sorotan mripate cumleret tajem, arang-arang kedep lan gak seneng lirak-lirik. Alise rada lurus dan idepe rapi. Irunge lurus lan rada mbangir garis sisi kiwa tengen irung katon jelas.

Ambane tutuk (cangkem) sederhana. Lambene mingkem rapet untune gak ketok. Nanging ketok sumringah. Lambene rata gak ketok cembung. Kupinge kandel lan apik.

Janggute menarik dan daging nang janggut ketok kandel. Driji-drijine lancip, tapi kukune kandel. Tapak tangankandel. Tapi bagian tengah alus kaya sutera.

Bentuk tapak kaki dan drijine apik, tapi drijine kandel tebal tapi lembut dan kaku nenawa lagi midak lemah. Kuku kandel. Badannya amba lan daging punggunya kandel (mentek). Balung-balunge rangka sederhana utawa alus, kulitnya ya alus lan lemes, tapi singset. Nek ngguyu awake ora melok obah-obah, utawa ajrut-ajrutan.

Lungguhe teratur rapi. Nek lungguh timpuh, sikile rapet lan rapi. Nek lungguh anteng ora pencilakan. Nek mlaku lembeyane kaya blarak sempal maksude gak nganti mbukak ketek lan awake gak melok lenggak-lenggok.

Benarkah analisis  yang tertera di Serat Centhini ini ya? Ya, daya tarik perempuan dan daya tarik erotiknya tidak akan pernah habis dibicarakan. Bagi kaum pria akan ngobrol soal seks secara lebih bebas daripada kaum wanita yang lebih suka bisik-bisik. Seks merupakan naluri instingtif manusia yang paling dasar. Tak heran kalau banyak upaya dilakukan untuk mempelajari, menganalisis, menyusun manual (panduan), atau mengungkapkannya lewat karya sastra maupun karya tulis lainnya sejak dahulu kala.

Beberapa karya kuno yang pernah ada di dunia di antaranya Ars Amatoria (The Art of Love) karya penyair Romawi, Publius Ovidius Naso (43 SM – 17 M) atau Kama Sutra karya Vatsyayana dari India, yang ditaksir hidup di zaman Gupta (sekitar abad ke 1 – 6 M). Keduanya adalah kitab klasik petunjuk untuk menikmati seks. Sementara di Jawa pada awal abad ke-19 ditulis karya sastra yang hebat yaitu Serat Centhini (nama resminya Suluk Tembangraras). Serat ini digubah pada sekitar 1815 oleh tiga orang pujangga istana Kraton Surakarta, yaitu Yasadipura 11, Ranggasutrasna, dan R. Ng. Sastradipura (Haji Ahmad ilhar) atas perintah K.G.P.A.A. Amengkunegara II atau Sinuhun Paku Buwana V.

Otto Sukatno CR dalam bukunya Seks Para Pangeran: Tradisi dan Ritualisasi Hedonisme Jawa  memaparkan satu bab dalam Serat Centhini yang terdiri atas 722 tembang antara lain memang bicara soal seks. Dalam Serat Centhini, masalah seksual diungkap secara verbal dan terbuka, tanpa tedeng aling-aling.

Dalam Centhini II (Pupuh Asmaradana) diuraikan dengan gamblang soal OLAH ASMARA yang berhubungan dengan lokasi genital yang sensitif dalam kaitannya dengan permainan seks. Misalnya, cara membuka atau mempercepat orgasme bagi perempuan, serta mencegah agar lelaki tidak cepat ejakulasi.

Lalu dalam Centhini IV (Pupuh Balabak) diuraikan secara blak-blakan bagaimana PRATINGKAHING CUMBANA (gaya persetubuhan) serta sifat-sifat perempuan dan bagaimana cara membangkitkan nafsu asmaranya. Perempuan tidak selamanya bersikap lugu, pasif dalam masalah seks sebagaimana stereotipe pandangan Jawa yang selama ini kita terima. Mereka juga memiliki kebebasan yang sama dalam mengungkapkan pengalaman seksualnya. Padahal mereka selalu digambarkan pasrah, nrima kepada lelaki.

Hal itu tampak dalam Centhini V (Dhandhanggula). Di ruang belakang di rumah pengantin perempuan pada malam menjelang hari H perkawinan antara Syekh Amongraga dan Nike Tembangraras, para perempuan tua-muda sedang duduk-duduk sambil ngobrol. Ada yang membicarakan pengalamannya dinikahi lelaki berkali-kali, pengalaman malam pertama, serta masalah-masalah seksual lainnya yang membuat mereka tertawa cekikikan.

Salah satu percakapan itu misalnya seperti ini, “Nyai Tengah menjawab sambil bertanya, Benar dugaanku, Ni Daya, dia memang sangat kesulitan, napasnya tersengal. Saya batuk saja, eh lepas Mak bul mudah sekali lepasnya. Tak pernah kukuh di tempatnya. Susahnya sangat terasa, karena meski besar seakan mati.”

Soal katuranggan juga banyak diungkapkan dalam Serat Centhini. Dalam kaitannya dengan perempuan, katuranggan dapat diartikan sebagai watak, sifat, atau tanda-tanda berdasarkan penampakan lahiriahnya. Dalam budaya katuranggan, terdapat beberapa ciri perempuan yang menjadi idealitas lelaki untuk dijadikan istri. Tipe-tipe perempuan demikian, di antaranya disebut guntur madu, merica pecah, tasik madu, sri tumurun, puspa megar, surya surup, menjangan ketawan, amurwa tarung, atau mutyara.

Sebagai gambaran, perempuan bertipe surya sumurup itu perempuan yang memiliki dua lapis bibir yang berwarna merah jambu. Sorot matanya kebiru-biruan. Ada sino m (rambut yang tumbuh di dahi) yang menggumpal. Kedua alisnya nanggal sepisan (laksana bulan sabit). Perempuan seperti ini menjadi idaman kaum lelaki karena memiliki kesetiaan tak diragukan lagi. Lebih dari itu ia tipe perempuan yang serasi dalam bermain asmara, sehingga dapat mencapai derajat marlupa (orgasme) bersama-sama.

Sementara itu dalam Kitab Primbon Lumanakim Adammakna terungkap ciri perempuan yang menggairahkan secara seksual antara lain, bertubuh kecil, wajahnya merah bersemu biru manis, rambut hitam panjang, sinom menggumpal. Atau, bertubuh kecil, pandangan dan wajahnya nguwung (agak melengkung), kulit kuning bersemu hijau, sinom menggumpal. Atau, bertubuh tinggi langsing, badan mbambang (padat berisi), roman mukanya galak, dan rambutnya panjang.

Etika Bersenggama
Menurut Ki Kumitir, etika bersenggama diungkap secara jelas dalam “NITISAKE WIJINING DUMADI”. Setidaknya saat bersenggama ada empat perkara yang harus diperhatikan yaitu “eneng, ening, awas, eling.”

1. Eneng, iya iku wektu karon-sih atine kudu eneng (menep), dene paedahe bisa suwe wetuning rahsa, lan gawe kandeling wiji,. Amarga ati kang menep mau bisa ngenthelake wiji (jiwa), kentheling jiwa bisa mahanani kandeling wiji, ing wusana dadining anak ing tembe bisa dawa umure.

(Saat bersenggama hati harus tenang ‘menep’. Manfaatnya agar rahsa yang tersatukan itu bisa beproses lama dan membuat Jiwa kuat sehingga nanti anak yang akan dilahirkan bisa panjang umur.)

2. Ening, iya iku atine kudu ening, dene paedahe bisa nikmat rasane lan manfaat. Amarga kaweningan mau bisa gawe weninging wiji (tetep trimurti), wiji kang tetep trimurti mau ing wiji ala apa becik, dene panengerane wujud cahya kaya kawasa.

(Hati harus hening, agar tercapai kenikmatan dan manfaat. Keheningan bisa membuat Jiwa juga jernih)

3. Awas, iya iku kudu mulat kedep-liringing rabine, wektu karon-sih, kendho apa mempeng, utawa ngulatake tumitising wiji ala apa becik, dene panengerane wujud cahya kaya kang wis kapratelakake ing dhuwur.

(Mengawasi pasangannya saat bersenggama, apakah santai atau serius. Ini juga berpengaruh pada jiwa apakah itu baik atau buruk)

4. Eling, iya iku aja mikir liya-liyane, kajaba eling yen wektu iku lagi nitisake wiji, mula yen rabine semu kendho ing karon-sih, wajib eling, manawa durung binuka bakuning rasa, tumuli duweya osik sumedya mbuka kadatoning rahsa, supaya rabine mau gumregut rasane, lan maneh yen nyumurupi cahyaning wiji ala kang bakal tumitis, banjur enggal-enggal bisa nglebur sarana laku nusupake utawa mutahake menyang ing jaba. Dene manawa uninga wiji becik kang bakal tumitis, iya banjur bisa mrenahake ing papan samestine.

(Tidak berpikir macam-macam, konsetrasi sedang berhubungan jiwa raga. Ini akan membuka kerajaan rasa dan memberikan cahaya terang pada jiwa yang akan dilahirkan…)

***

Categories: WANITA MENGGAIRAHKAN | 4 Komentar

NGUDI KAWRUH KASUNYATAN


Ajaran hidup menuju kesempurnaan hidup lahir batin harus terus dijalani untuk mencari kemudian menemukan pengetahuan sejati tentang kenyataan mutlak (NGUDI KAWRUH KASUNYATAN). KAWRUH KASUNYATAN itu kemudian hendaknya dihayati dalam satu kesatuan sistem pemahaman sehingga pemahaman kita tidak bercerai berai…

Apakah hakikat menuntut ilmu? Apakah hanya bermakna membolak balik dan ‘menthelengi’ buku-buku, membaca kitab-kitab (baik garing maupun teles), merenungkan fakta demi fakta yang kita alami saja? Kalau jawabannya “iya” berarti kita pikiran kita masih seperti pikirannya anak-anak.

Pikiran yang lebih maju dan lebih lengkap pasti tidak seperti itu. Harusnya kita melanjutkan pemahaman-pemahaman mitologis yang terpelihara di dalam gudang data pengetahuan di kepala kita dengan cara lebih kritis lagi.

Setelah kita membaca atau merenung harus diteruskan dengan mengolah diri. Bila membaca bersifat pasif: menerima bahan-bahan ajaran, maka mengolah diri bersifat aktif: membuktikan apakah ajaran yang disampaikan para cerdik cendekia itu memang mengandung kebenaran-kebenaran atau justeru mengandung kesalahan. Berarti seorang pencari ilmu harus berani untuk ‘nglakoni’ atau ‘memulai perjalanan laku.’

Di JAwa ada istilah GURU BAKAL dan GURU DADI. Bila GURU BAKAL menunjuk pada pelajaran-pelajaran, buku-buku, ceramah-ceramah atau data-data mentah. Maka GURU DADI-nya adalah MULATSARA DIRI (mengolah diri).

Sudah banyak dipaparkan bagaimana ajaran cara mengolah diri agar kita mampu untuk menjalani hidup ‘sangkan paraning dumadi’ mulai dari bayi, masa kanak-kanak, dewasa, masa tua. Bahkan saat menuju ajal datang pun ada ajarannya. Bahkan sudah terlalu banyak kita dijejali oleh berbagai ajaran hidup menuju kesempurnaan, tinggal apakah kita siap untuk ‘Mulatsara Diri’.

Ajaran hidup menuju kesempurnaan hidup lahir batin harus terus dijalani untuk mencari kemudian menemukan pengetahuan sejati tentang kenyataan mutlak (NGUDI KAWRUH KASUNYATAN). KAWRUH KASUNYATAN itu kemudian hendaknya dihayati dalam satu kesatuan sistem pemahaman sehingga pemahaman kita tidak bercerai berai. Kita hendaknya bisa menyusun fakta demi fakta yang kita alami dalam hidup dengan hati-hati. Ini memerlukan KEHALUSAN PERASAAN, INTENSITAS KEMAUAN dan TINGKATAN-TINGKATAN OLAH RASA.

Dalam SERAT MADU RASA karangan Ki Soedjonoredjo, ada dua tingkat olah rasa.

Tingkat pertama, MADU BASA yang meliputi sopan santun, tata cara, adat istiadat. Intinya adalah bagaimana kita menyusun pengetahuan-pengetahuan lahir atau tata ‘bahasa’ agar mendapatkan ‘kemanisan madu’

Tingkat kedua, MADU RASA yang meliputi tepa sarira, tepa palupi, unggah ungguh, eguh-tangguh, tuju-panuju, empan-papan, kala-mangsa, duga-prayuga, lambe-ati. Kemanisan rasa yang dialami pada tingkat kedua ini lebih mendalam, lebih asyik dan berlangsung dalam waktu yang lebih lama dari tingkatan kedua dan sangat-sangat menyenangkan.

Menurut Ki Soedjonoredjo, ada 13 macam ‘kesenangan’ untuk NGUDI KAWRUH yaitu:

1. Dalam hal mencari keterangan, tanda-tanda atau urusan, kesenangan yang diperolehnya sepanjang jalan seperti kesenangan agen ‘telik sandi’ yang yang mencari ‘SISIK MELIK’.
2. Terpeliharanya DAYA RASA seperti petani yang memelihara tanaman dengan penuh kegembiraan namun belum menemukan hasilnya, yaitu WATAK.
3. Dalam hal melatih PANCA INDERA, kesenangan yang kita peroleh seperti kesenangan joki saat melatih kuda atau seperti pawang melatih gajah, atau kesenangan guru mendidik anak didiknya.
4. MENABUNG DAYA GAIB; kesenangan yang diperolehnya seperti menabung uang, atau pada waktu ditemukannya pedoman-pedoman tertentu sama seperti tukang kayu memperoleh tatah, bur, jangka, penggaris.
5. MENGURAI DAN MENYUSUN DAYA BATIN. Apabila diperoleh rasa dan daya baru, rasa baru itu diolah lagi dan diperhalus lagi. Misalnya untaian ratna. Kesenangan seperti itu sama sekali tidak terhingga, kecuali oleh yang sudah mengalami.
6. MEMBAGI, MENGATUR, MENYUSUN PIKIRAN DAN DISELARASKAN DENGAN RASA dan bisa menghasilkan karya yang indah.
7. MENJUMBUHKAN RASA YANG BERMACAM-MACAM, diatur menurut urutan tingkatan, diselaraskan sehingga tercapai rasa yang indah. Seperti juru masak yang ahli meracik masakan. “Rasa kang sumingit ana layang kikidungan anggitane para linuwih apa dene kang ana ing candi, wayang, gamelan, pakem lan liya-liyane, kabeh wujud gugubahan utawa oncen-oncen (anyar) kang banget endahe. Rasa kang digubah pada maujud ana ing kaalusan, dadi rerenggan sajroning gaib, kang ora kena kinaya ngapa endahe”
8. Orang yang sedang NGELMU dengan penuh ketekunan akan merasakan dan memperhatikan kemajuan yang dicapai, selalu MENDAPAT PETUNJUK DARI PRIBADINYA SENDIRI. Kesenangannya seperti anak sekolah, rasa dan budinya seperti guru, alam semesta ini sebagai pelajaran. “Kabeh pada aweh pitutur marang kang ahli sasmita: kaya-kaya sarupaning kang tumuwuh pada muni dewe-dewe, sarta unine laras kaya gending kang banget kepenake”
9. Penuntut ngelmu akan gemar berbuat baik kepada sesama. Tumbuh niatnya seperti itu dari kehendak yang luhur dan niat itu akan memperbesar DAYA KELUHURAN. Hasilnya langsung akan mengenai diri pribadinya juga; yaitu lenyapnya penyakit watak dan tumbuhnya perasaan dan budi yang luhur.
10. Penuntut ngelmu mempunyai kesenangan seperti pengadu ayam, jangkrik, permainan. Sebab setiap hari selalu menghayati PERANGNYA ANASIR-ANASIR BAIK BURUK. Apabila yang buruk dikalahkan yang baik, kepuasannya melebihi pengadu ayam sebab ia memperoleh ganjaran berupa: DAYA HALUS. Sedangkan pemain ayam asuan hanya memperoleh uang.
11. Penuntut ngelmu yang gentur/gigih mempelajari RAHASIA KEHIDUPAN juga memiliki kesenangan yang sama dengan kesenangan raja yang berperang menaklukkan negara lain. Yaitu bila kekuatan “setan” dikalahkan oleh unsur ILAHIAH pada pribadi kita.
12. Orang yang ngelmu pelajaran kebijaksanaan hidup juga mempunyai kepuasan dan rasa bebas seperti orang yang berhasil melenyapkan KLILIP atau kotoran di pelupuk mata, atau belenggu yang mengganggu perjalanan hidup. Dia terbebas dari ikatan KECANDUAN DUNIA dan RASA BEBAS DARI KEKANGAN. Seperti anak yang tidak lagi menangis karena disapih.
13. Ahli ngelmu mengerti dengan jelas bahwa berbuat baik sangat besar manfaatnya untuk dijalankan. Misalnya kita kehilagan 2 sen dan dapat ganti 100 rupiah, menanam satu biji kelapa dapat hasil banyak dan terus-terusan bagi orang yang AHLI RASA. Mengerti saja sudah senang seperti memperoleh keuntungan yang besar, sebab kenyataannya tidak banyak orang yang menghayati kalimat-kalimat ‘mandes’ hingga ke lubuk hati: “KANG AKEH MUNG KUMAMBANG DIANGGO KEMBANG LAMBE, ORA BISA YAKIN SAJRONING ATI. APA MANEH PANGERTI BAB RASA TRESNA MARANG DAT, DADI WOT MARANG SEGARA RAHMAT. MANUNGSA KANG BISA NGREGANI MARANG PANGERTI KANG SAMAR IKU NGRASA NEMU KANUGRAHAN GEDE, SUKA SUKURE NGUNGKULI KANG NEMU EMAS”

@wongalus, 2009

Categories: NGUDI KAWRUH KASUNYATAN | 7 Komentar

TUNGGAL RASA KAWULA GUSTI


UNSUR PEMBENTUK DIRI MANUSIA

Sajatine Ingsun Dat kang amurba amisesa,
kang kuwasa anitahake sawiji-wiji,
dadi padha sanalika,
sampurna saka ing kodrating-Sun,
ing kono wus kanyatahan Pratandhaning apngaling-Sun,
minangka bubukaning iradating-Sun,
kang dhingin Ingsun anitahake kayu,
aran sajaratul yakin,
tumuwuh ing sajroning ngalam
ngadam-makdum ajali abadi,
nuli cahya aran Nur Muhammad,
nuli kaca aran miratul kayai,
nuli nyawa aran roh ilapi,
nuli dammar aran kandil,
nuli sosotya aran darrah,
nuli dhinding jalal aran kijab,
kang minangka warananing kalarating-Sun

(Sesungguhnya Aku Dzat yang Maha Pencipta dan Maha Kuasa,
yang berkuasa menciptakan sesuatu, terjadi dalam seketika,
sempurna lantaran kodratku, sebagai pertanda perbuatan-Ku,
merupakan kenyataan kehendak-Ku, Mula-mula Aku menciptakan
hayyu bernama sajaratul yakin, tumbuh dalam alam makdum yang azali abadi, setelah itu cahaya bernama Nur Muhammad, kemudian kaca bernama miratul kayai, selanjutnya nyawa bernama roh idlafi, lampu bernama kandil, lalu permata bernama dharrah, kemudian dinding jalal bernama hijab, yang menjadi penutup kehadirat-Ku.)

Dalam Serat Wirid Hidayat Jati karya Ranggawarsita tersebut, termuat urutan kejadian Dzat dan Sifat dan Af’al (perbuatan) Tuhan. Yang dimaksud dengan AKU atau INGSUN dalam serat itu tidak lain adalah diri Dzat yang Mutlak. AKU sang Diri Sejati itu mulanya “tersembunyi” atau dumunung di Nukat Ghaib. Nukat artinya Wiji sedangkan Ghaib artinya samar. AKU atau INGSUN kemudian berniat menyatakan diri sebagai PENCIPTA SEGALA SESUATU.

“Niat Ingsun….” begitu doa orang Jawa biasa diucapkan adalah meniru apa yang disampaikan Tuhan untuk memulai proses-proses penciptaan. Akhirnya dimulailah ketujuh pangkat penjelmaan Dzat (tujuh martabat) yang disimbolisasikan ke dalam khasanah Jawa dengan Pohon Dunia, Cahaya, Cermin, Wajawa (roh Idhafi), Dian (kandil), permata (dharrah), dinding jalal (penjelmaan insan kamil).

Keberadaan Dzat Tuhan itu ibarat CERMIN YANG AMAT JERNIH atau KACAWIRANGI. Yaitu DIRI yang diliputi kekosongan yang berisi TYAS CIPTA HENING. Cermin itu tidak ada bandingannya, tidak punya rupa, warna, kosong tidak ada apa-apanya. Namun adalah kesalahan bahwa kekosongan Dzat Tuhan adalah TIDAK ADA, sebab CERMIN itu TETAP ADA.

Ki Soedjonoredjo penulis buku Wewadining Rasa mengatakan kesalahan anggapan bahwa TUHAN ITU TIDAK ADA, sebagai berikut: “Mbok menawa ana sawenehing manungso kang kliru ora percaya marang anane kang murbeng alam. Dadi ananing dhirine lan anane kang gumelar gumandhul karang kabeh, kaanggep gumandul marang suwung kang mangkono iku umpamakna nganggep suwung marang warna rupaning kaca benggela, satemah kaca benggala dipadhakake karo kothongan kang pancen suwung babar pisan. Apa iku bener?”

Wujud cermin sejati atau kacawirangi adalah “wangwung”, tidak ada apa-apa. Pantas bila orang lalu menganggapnya tidak ada sebab cermin itu terlihat begitu jernih, seperti tidak adanya rupa apapun. Tapi cermin itu tetap ada. CERMIN SEJATI ITU SATU TAPI TIDAK TERHINGGA JENIS DAN BILANGANNYA.

Orang yang hubungan MIKROKOSMOS dan MAKROKOSMOS nya masih kacau cenderung menganggap cermin itu tidak ada. Padahal, Hakikat Cermin adalah daya tunggal getar kodrat yang harmonis. Semua yang tunggal daya juga tunggal rasa. Misalnya daya tunggal yang disebut pengelihatan, itu tidak sama dengan dengan pendengaran. Daya tunggal-daya tunggal yang tiada batas jenis dan bilangannya itu dibingkai oleh keadaan sejati.

Di dalam buku Dewa Ruci (Yasadipura) terdapat inti ajaran mengenai “cermin” tersebut di atas sebagai berikut: “Badan njaba wujud kita iki, badan njero mungguwing jroing kaca, ananging dudu pangilon, pangilon jroning kalbu yeku wujud kita pribadi, cumithak jro panyipta, ngeremken pandudu, luwih gedhe barkahira, lamun janma wus gambuh ing badan batin, sasat srisa bathara”

Kisah Dewaruci ini adalah inti Sangkan Paraning Dumadi, sekaligus sebagai pengungkapan ajaran Kawulo Gusti sampai kepada jarak yang sedekat-dekatnya yang dikenal sebagai PAMORING KAWULO GUSTI atau JUMBUHING KAWULO GUSTI. Ajaran tentang sangkan paraning dumadi yang dilaksanakan sebagai pedoman hidup praktis sehari-hari, sebagaimana yang terungkap dalam buku Jati Murti itu merupakan ajaran yang mudah dipahami. Sisi praktisnya terungkap dalam pernyataan yang sering disampaikan oleh Ki Damardjati Supadjar:

“Ora perlu kabotan tresna marang daden-daden, tresnaa marang sing dadi. Nanging aja gething marang daden-daden, sebab ing kono ana sing dadi”

Pernyataan ini, kata Ki Damardjati, menjelaskan hubungan antara KEJADIAN dan YANG MENJADIKAN, atau YANG DIRASA dengan YANG MERASA. Yang menghubungkan keduanya adalah RASA. Alam semesta ini adalah yang dirasakan, bukan rasa atau yang merasakan. Yang digunakan untuk merasa ialah rasa bukan yang dirasakan atau yang merasakan. Jadi, kenyataan sejati itu bukan yang dirasakan atau bukan yang dipergunakan untuk merasa, melainkan yang merasa. Yang dirasa disebut MAKROKOSMOS, yang dipakai merasa disebut MIKROKOSMOS. Yang merasa disebut KENYATAAN SEJATI.

Di dalam hubungan ini, ada tiga kemungkinan pengalaman yaitu LUPA, INGAT dan INGATAN SEMPURNA. Lupa = larut ke yang dirasakan, tidak memperhatikan rasanya, apalagi yang merasa. Ingat = waspada tentang rasa, tidak larut ke yang dirasakan. Ingatan sempurna = waspada terhadap yang merasa, tidak larut ke rasanya apalagi yang dirasakan.

Dalam filsafat ketuhanan Jawa, hubungan Manusia dan Tuhan (Kawulo-Gusti) memiliki makna sangat mendalam. Manusia harus merasakan benar-benar bahwa dirinya adalah hamba-Nya atau KUMAWULA yang artinya dirinya merupakan cermin yang sejati, sehingga Tuhan dan bayangan-Nya sungguh-sungguh tidak terhalang oleh kotoran sedikitpun. Hal ini ditandai oleh koreksi terus menerus atas diri “aku” manusia sehingga mencapai kualitas PRAMANA.

Diungkapkan oleh Ki Damardjati, ketika rasa perasaan belum jernih, adalah rasa perasaan itu yang dianggap PRIBADI oleh si rasa perasaan. Artinya si rasa perasaan mengaku aku supaya dianggap: AKU. Jadi rasa perasaan manusia itu ternyata memang tidak bisa melihat yang meliputinya. Jadi dalam perbuatan MERASA, bahkan menghalang halangi. Karenanya, dapatnya manusia melihat terhadap yang meliputinya, tidak ada jalan lain kecuali TIDAK dengan MERASA, yaitu RASA PERASAAN KEMBALI KEPADA YANG MELIPUTI (Pribadi/Rasa Sejati). Apabila sudah tidak terhalang daya rasa perasaan, maka hanya PRIBADI yang ADA, disitulah baru mengetahui terhadapi DIA, yaitu yang MEMILIKI RASA PERASAAN, bukan RASA PERASAAN YANG DIPUNYAI.

Sultan Agung menerangkan perbedaan antara Kawulo Gusti dengan perantaraan 16 terminologi yang memperjelas hubungan antara Gusti (YANG DISEMBAH) dan Kawulo (YANG MENYEMBAH) sebagai berikut: Dzat-sifat, Rasa-pangrasa, Cipta-ripta, Yang disembah-yang menyembah, Kodrat-iradat, Qadim-baru, Sastra-gendhing, Yang Bercermin-bayangannya, Suara-gema, Lautan-ikan, Pradangga-gendhingnya, Papan Tulis-tulisannya, Manikmaya-Hyang Guru, Dalang-wayang, Busur-anak panah, Wisnu-kresna.

Dalam konteks pencapaian pribadi manusia tertinggi atau “pamungkasing dumadi” atau “sampurnaning patrap” adalah LULUHING DIRI PRIBADI, LULUHING RAOS AKU. Itulah pamungkasing dumadi, di situ lenyap tabir kenyataan yang sebenarnya.

Manusia yang sempurna dengan demikian adalah manusia yang luluhnya “aku” yang “diengkaukan” (krodomongso) digantikan dengan “aku” yang tidak mungkin diengkaukan (dudu kowe).

Hubungan antara Kawulo-Gusti ini, akan ditutup dengan pernyataan Ranggawarsita: “Sakamantyan denira angudi, widadaning ingkang saniskara, karana tan kena mleset, surasaning kang ngelmu, nora kena madayeng jangji, jangjine mung sapisan, purihen den kumpul, gusti kalawan kawula, supadine dinadak bisa umanjing, satu munggwing rimbagan” (Upaya untuk mencapai pemahaman haruslah terus menerus sepanjang hidup, agar tercapai keselamatan lahir-batin, yaitu KESESUAIAN HUKUM TUHAN, sebagai suatu janji, bahwa MANUSIA ITU WUJUD PERTEMUAN KAWULA GUSTI, artinya WAKIL TUHAN, sedemikian rupa seperti cincin permata).

Sebagai Wakil Tuhan di alam semesta, manusia telah diberi berbagai perangkat lunak sehingga dia bisa berhubungan secara langsung dan berkomunikasi dengan Tuhan sebagai GURU PALING SEJATI MANUSIA. Dalam Wirid Hidayat Jati dipaparkan ada tujuh unsur pokok penyusun diri manusia itu:

1. Hayyu (hidup) = disebut ATMA, terletak di luar DZAT
2. Nur (cahaya) = disebut PRANAWA terletak di luar Hayyu
3. Sir (Rahsa) = disebut PRAMANA terletak di luar Nur
4. Roh (Nyawa) = disebut Suksma, terletak diluar Rahsa
5. Nafs (Angkara) = letaknya di luar suksma
6. Akal (budi) =letaknya diluar nafsu
7. Jasad (badan) = letaknya di luar budi.

Keterangan: Ada keterpaduan antara unsur di atas yaitu:
• Suksma wahya = patemoning jasad lan napas
• Suksma dyatmika = patemoning napas lan budi
• Suksma lana = patemoning budi lan napsu
• Suksma mulya = patemoning napsu lan nyawa
• Suksma sajati =patemoning nyawa lan rahsa
• Suksma wasesa = patemoning rahsa lan cahya
• Suksma kawekas = patemoning cahya lan urip

Penutup:
Terdapat kesulitan memahami hakekat hubungan antara Kawulo-Gusti dalam jagad filsafat ketuhanan Jawa bila kita hanya membaca dengan kemampuan akal budi. Dalam ajaran Jawa, kita diajari untuk melakukan praktik mistik dengan kepercayaan yang benar-benar penuh sehingga terwujud harmoni dan kesatuan dengan tujuan kosmos. Ini akan membuahkan kondisi-kondisi fisik dan metafisik yang bermanfaat bagi kita semua. Tuhan bersemayam di unsur terdalam pada diri manusia sehingga “Kenalilah diri sendiri, maka kau akan mengenal Tuhanmu.”

@wongalus, 2009

Categories: TUNGGAL RASA KAWULA-GUSTI | 26 Komentar

AMALAN AJI BAYU BAJRA


“Pamuji rahayu.., monggo Ki dipun lanjut ilmunipun … kulo suwun upami mboten awrat penggalih, dipun wedar ngilmu aji maruta…, supaya saya kalu bepergian jauh ndak usah naik kendaraan Ki.. ngirit ongkos hehehe…maklum bensin mahal, aftur juga mahal…,naik piet onthel ga tekan tekan je….hehehe..kesuwen. nyuwun jembaring penggalih pangapunten.matur sembah nuwun. salam sihkatresnan, Rahayu… (Ki Hadi Wirojati, 24 October 2009).

Terima kasih saya sampaikan kepada Ki Hadi Wirojati atas komentarnya di blog ini. Sebagai rasa hormat saya kepada Beliau sekaligus untuk nguri-uri kebudayaan lokal yang kaya dimensi dan penuh dengan kearifan, maka pada kesempatan ini akan dibeber soal ilmu aji bayu bajra yang serupa dengan aji maruta.

Sekitar tahun 80-an di kawasan selatan gunung Semeru, perbatasan Kabupaten Lumajang-Malang, Jatim di hutan lindung yang lebat masih banyak menjumpai orang-orang yang memiliki ilmu Aji Bayu Bajra. Mereka pating gleber seperti burung. Hinggap (Menclok) dari pohon yang satu ke pohon yang lain. Persis seperti di film-film silat. Yang membedakan adalah saat kita dekati, mereka akan menjauh dan sama sekali tidak ingin identitasnya diungkap.

Suatu ketika dalam sebuah maneges, saya menjumpai seseorang pemilik ajian bayu bajra di wilayah itu. Duduk bersila di sebuah batu besar di tengah sungai mengalir gemericik. Saya mencoba menyapanya dengan salam. Dia tidak menjawab. Baru ketika saya mencoba untuk menggunakan bahasa tubuh yang artinya bahwa saya ingin bercakap-cakap dengannya, maka dia akhirnya memberi isyarat. Jari telunjuknya ditempatkan di depan mulut. Matanya memandang santun dan lembut mata saya. Sebuah sorotan yang sejuk namun tegas dan berdaya.

Batin saya langsung membaca ini orang waskita yang tidak sembarangan: dia sedang maneges kepada Gusti. Belum sempat saya meneruskan komunikasi dengan bahasa tubuh yang lain, dia langsung meloncat ke sebuah pohon yang rimbun dan meneruskan melompat ke pohon yang lain. Hingga akhirnya hanya gerakan-gerakan dedaunannya saja yang terlihat. Orang waskita itu pun menghilang.

Saya hanya berujar: Selamat jalan, hamba Gusti Allah yang waskita ….

Orang yang bisa terbang atau meloncat dari dahan yang satu ke dahan yang lain ini bagi para leluhur tanah Jawa adalah soal yang mudah. Gaya hidup keseharian para leluhur yang dekat bahkan menyatu dengan alam membuat mereka mampu menemukan ilmu-ilmu/ajian-ajian yang beraneka rupa. Hobi para leluhur yang gentur olah rasa/batin, menggunakan ilmu titen untuk membaca fenomena alam dan gemar mempersatukan diri dengan semua jenis kekuatan (fisik dan metafisik) membuat mereka digdaya.

Para leluhur tidak perlu membeli handphone dan SMS untuk menghubungi para sedulurnya. Mereka juga tidak bisa menggunakan email atau facebook untuk saling curhat. Dari keterpisahan jarak dan waktu, mereka menggunakan kemampuan intuisi untuk saling berkomunikasi (orang sekarang menyebut telepati). Namun, bila dirasa sangat urgen untuk bertemu dengan sedulurnya, mereka akan berjalan kaki atau menggunakan kuda sebagai alat transportasi. Segelintir leluhur lain yang waskita akan menggunakan ajian Sapu Jagad dan Bayu Bajra untuk bepergian jarak jauh.

Aji Bayu Bajra mensyaratkan agar penggunanya sudah memiliki kedewasaan mental spiritual. Ia haruslah orang yang sudah “berumur” dan tidak ingin menonjolkan diri lagi di depan publik. Dia sepi ing pamrih rame ing gawe. Tubuh fisiknya bisa seringan kapas karena dia tidak lagi diliputi nafsu keduniawian sedikitpun sehingga yang ada dalam hidupnya hanyalah menunggu titah-Nya saja. Jiwa yang masih “berat” condong ke dunia, mustahil memiliki ilmu ini dengan seempurna.

Para pemilik ilmu ajian ini adalah orang yang sangat pendiam. ‘Tapa meneng’ dan hanya boleh berbicara bila sangat terpaksa. Satu dua kalimat pun harus diucapkan dengan bijaksana. Yakni untuk menyampaikan ajaran-ajaran kebajikan yang menjadi tanggungjawab besarnya di dunia. Laku prihatin dan hidupnya harus bisa diteladani oleh orang yang pernah melihat dia walau hanya sekelebat.

Matra untuk matek ajian Bayu Bajra diingatnya di luar kepala. Itu mencerminkan jiwanya yang bebas seperti burung….

“Putune Bayu Bajra yo aku
Sing nduwe angkoso, Nduwe langit
Nduwe awang-awang
Aku mabur koyo manuk
Kemlebat koyo alap-alap
Mabur koyo bidho kang ora nate kesel
Mabur……burrr!!!!!!!!!!!
Maburku luwih banter tinimbang angen-angen..”

Itulah mantra yang dibaca oleh hamba Gusti Allah yang pernah saya jumpai di kawasan selatan gunung Semeru yang kini entah ada di mana.

@wongalus,2009

Categories: AMALAN AJIAN BAYU BAJRA | 52 Komentar

AMALAN PENYERAP ENERGI POCONGAN


Orang yang meninggal namun ruhnya belum mampu menembus alam kelanggengan (alam barzakh) secara otomatis akan masuk ke alam gaib yang paling rendah. Yaitu alam yang dihuni gendruwo, jin, peri, tuyul, buto ijo, kolor ijo, kuntilanak. Ini adalah alam yang khusus diperuntukkan bagi makhluk halus yang tidak memiliki tubuh/raga tapi memiliki hasrat dan nafsu keduniawian/ nafsu untuk “memiliki”.

Badan astral si arwah yang belum masuk ke alam kelanggengan tersebut pada saat-saat khusus bisa dilihat oleh manusia. Di Jawa, orang-orang menyebutnya dengan pocongan atau hantu wedon. Ini tentu saja hal yang sangat tidak diharapkan. Sebab idealnya, arwah orang yang meninggal dunia langsung masuk ke alam barzakh yang lebih suci dari alam gaib terendah. Di alam kelanggengan, tidak ada lagi nafsu keduniawian.

Arwah tersebut menunggu hadirnya orang yang bisa menjadi ‘lantaran’ dia bisa masuk ke alam barzakh. Yaitu orang yang paham, bagaimana agar si arwah bisa menembus dimensi barzakh yang lebih halus dan tenang, damai dan mulia. Tanpa adanya orang yang membantu, maka dia akan terus berupaya dengan berbagai cara untuk mencari perhatian. Salah satunya adalah menakut-nakuti orang agar ada orang yang winasis mau untuk membantunya membuat upacara “wisuda” pelepasan; bisa masuk ke alam barzakh.

Di alam gaib terendah, arwah itu sejatinya menangis dalam kesedihan yang amat sangat. Mereka sangat tersiksa. Yang lebih repot lagi, masih ada saja orang jahat ber-ILMU HITAM yang memanfaatkan badan astral si arwah ngelambrang yang jadi hantu wedon/pocongan ini untuk keperluan mereka.

Maka waspadai bila ada orang duduk di makam orang yang sudah meninggal beberapa hari, terutama orang yang meninggal malam Jumat Kliwon. Mereka menanti kukus, asap atau hawa yang ke luar dari tanah yang sudah bersenyawa dengan mayat. Mereka akan menyedot si arwah agar ikut dengannya karena tarikan mantra yang mereka punyai. Mereka akan membaca mantra yang bunyi intinya sebagai berikut:

Niat ingsun njaluk kekuatanira
supaya cumondhok mring pribadiningsun
Asipat kandel tumraping urip,
asipat madhep tumraping pepeteng.
Sopo nyimpang keliwatan,
Sopo nyanding tan sumingkir
Sopo sing tak cedhaki, atine ajur koyo wedhak
Nyawiji… nyawiji…. Dumugi mring sihing Allah
Tumeka mring sejatining urip linuwih

Setelah diucapkan dengan penghayatan, laku dan kekuatan batin, maka arwah akan ikut menjadi “penjaga gaib” mereka. Si orang yang mengamalkan ilmu Menyerap Energi Pocongan ini akan memiliki “kelebihan” yaitu akan ditakuti orang lain. Orang lain akan gentar dan ciut nyali bila menatap matanya secara langsung sebab di arwah pocong/hantu wedon ini akan menggetarkan hati memunculkan rasa takut di hatinya. Bila ada lawan jenis, maka dia akan ‘kantil’ dan luluh hati serta akan mengikuti pemilik amalan ini bila dikehendaki.

Namun, ilmu ini jelas tidak akan mempan digunakan untuk mereka yang memiliki olah rasa/olah batin yang kuat. Ilmu hitam yang punya karakter buruk, adigang adigung adiguna akan mudah ditaklukkan dengan moral etika/perilaku yang baik dan andap asor yang lahir dari jiwa yang bersih dari nafsu angkara murka.

@wongalus, 2009

Categories: AMALAN PENYERAP POCONGAN | 16 Komentar

KITAB GARING KITAB TELES


Kata “kitab garing” popular bagi mereka yang suka untuk belajar olah batin. Dalam hidup ini hendaknya kita tidak hanya belajar tentang “kitab garing” yaitu membaca dan memahami apa yang tertulis di dalam buku-buku saja. Namun hendaknya kita utamakan membaca serta menghayati apa yang ada di alam semesta dan mengenal di dalam diri manusia yang dilanjutkan dengan melaksanakan di dalam perilaku. Ini disebut “kitab teles.”

Marilah kita perdalam soal kitab ini. Di dalam ajaran agama Islam, beriman kepada kitab-kitab-Nya menduduki ranking ketiga. Ranking pertama adalah beriman kepada Allah dan ranking kedua adalah beriman kepada malaikat-Nya. Setelah itu baru beriman kepada kitab-kitabnya, dan ranking keempat adalah beriman kepada rasul-rasul-Nya, ranking kelima adalah beriman kepada Hari Akhir dan ranking terakhir keenam adalah beriman kepada takdir. Meskipun disini dikatakan ranking, namun tidak berarti ranking pertama lebih hebat dan harus didahulukan dari ranking selanjutnya. Semuanya harus diimani secara total dengan penghayatan dan perilaku yang selanjut-lanjutnya mulai ranking satu hingga terakhir karena itu sejatinya satu kesatuan.

Iman juga tidak hanya diartikan PERCAYA alias YAKIN terhadap keberadaan sesuatu. Ini tentu saja penghayatan anak kecil yang dangkal dan masih belum sempurna. Hakikat iman adalah WUJUD PENGAKUAN baik yang diucapkan maupun yang diyakini di dalam hati dan kemudian dilanjutkan dengan PERILAKU sehari-hari. Maka, iman dalam arti yang demikian adalah arti iman yang ‘HIDUP’ bukan iman yang ‘MATI’.

Keimanan yang sempurna oleh karena itu tidak hanya diucapkan di mulut saja. Kalau hanya diucapkan di mulut, para maling uang rakyat, para maling kebijakan moneter, para maling perkara pengadilan pun juga bisa melakukannya. Namun, hakikat keimanan yang sempurna pasti berbeda. IMAN SEMPURNA akan diraih ketika TELAH MENDARAH DAGING dalam PERBUATAN sehari-hari. Bisa jadi dia tidak mengucapkannya di mulut karena enggan dikatakan riya’/sombong. Namun hakikat keimanan terletak pada bagaimana kelakuan sehari-harinya. Apakah mencerminkan dengan RUKUN IMAN atau tidak. Oleh karena itu dalam kita beragama jelas membutuhkan kebijaksanaan. Kebijaksanaan akan menerangi pemahaman-pemahaman konseptual yang selama ini telah kita miliki dan kita susun sebagai pandangan hidup.

Kembali ke tema awal yaitu tentang beriman kepada kitab-kitab-Nya. Sejak taman kanak-kanak, yang kita ketahui adalah Tuhan telah menurunkan kitab-kitab-Nya pada para rasul. Pemahaman ala anak TK ini pun masih dipermiskin lagi dengan memaknai kitab-kitab-Nya sebagai barang/benda yang berbentuk buku yang diturunkan kepada para nabi yang hidup di timur tengah. Ini jelas sebuah pemiskinan makna kitab yang sesungguhnya yang tidak pantas dilakukan oleh orang-orang yang beriman dan beramal sholeh.

Iman terhadap kitab-kitab-Nya jelas sebuah keharusan. Yaitu mengimani semua jenis kitab yang ada di alam semesta yang semuanya bersumber dari Yang Maha Esa. Kalau kita memperdalam lagi.. maka apa ada tulisan yang tidak merupakan kitab-kitab yang berisi sabda-sabda Tuhan di alam semesta ini? Itu sebab dikatakan bahwa semua pergelaran alam ini disebut PAPAN TANPO TULIS/SASTRA JENDRA. Jadi kita tidak boleh hanya mengimani kertas-kertas dan mensucikan teks-teks yang dibuat di pabrik-pabrik kertas. Pemberhalaan teks yang merupakan KITAB GARING tidak boleh dilakukan oleh mereka yang mengaku orang beriman. Ini sama saja dengan kita menyembah patung, uang, jabatan, kekuasaan.

Marilah kita mengkaji apa hakikat KITAB TELES itu sesuai yang tertera di dalam Al Quran, surah al-Ankabut 49: “Sebenarnya, Alquran adalah AYAT-AYAT YANG NYATA DI DALAM DADA orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang dzalim.”

Dari ayat ini, orang yang beriman diharuskan ber-Iqra tentang KITAB DI DADA. Kitab ini bukan hanya teks yang semata-mata dihafal saja namun dipahami maknanya dan diimplementasikan dalam sikap hidup dan bertindak. Inilah yang oleh kaum kebatinan jawa disebut dengan KITAB TELES. Memang, merunut ayat di atas hakikat Al Quran hanya bisa dibaca oleh orang-orang yang diberi ilmu oleh-Nya. Diberi ilmu tidak sama dengan orang yang berilmu. Bila berilmu didapat dari proses belajar, maka diberi ilmu didapat dari proses pasrah total, sumeleh, sumarah kemudian DIA memberi kita hidayah berupa ILMU.

Memahami KITAB TELES yang berupa AYAT-AYAT YANG NYATA DI DALAM DADA, apa ini artinya? Artinya kita wajib untuk membaca pergelaran alam semesta/MAKROKOSMOS yang ada di dalam diri manusia. Manusia terdiri dari berbagai unsur penyusun yang bersifat FISIK dan METAFISIK. Yang Fisik yaitu tubuh biologis kita, dan yang Metafisik yaitu tubuh eterik, CIPTA, KARSA dan RASA. Di dalam unsur yang METAFISIK itu ada catatan amal perbuatan BAIK DAN BURUK. Cara membaca kitab di dalam dada ini tidak lain kita perlu belajar tentang olah kebatinan/olah rasa/dimensi dalam/tasawuf/inner world/praktik mistik agar tersingkap tirai yang menyelubungi ketidaktahuan kita.

Apakah mendalami olah rasa/dimensi dalam/mistik/ kebatinan ini berlebih-lebihan dan sesat, bahkan klenik? Jelas tuduhan itu salah alamat, bahkan setiap individu harus mempelajarinya. Di agama manapun, praktik olah rasa ini pasti ada. Di Islam pun ada ilmu mistiknya yang disebut ilmu tasawuf selain ilmu fiqih, ilmu kalam, ilmu mantiq, ekonomi Islam, nahwu sharaf dan lain-lain… Ilmu tasawuf akan menerangi jiwa manusia agar selalu awas( untuk selalu mendengar dan membaca ayat-ayat-NYA), eling (mengingat dan berdzikir pada-Nya) dan waspada (dalam perbuatan/tindakan).

Inti olah kebatinan tingkat lanjut adalah mengenal “MATI SAJRONING URIP dan URIP SAJRONING LAMPUS.” Ini adalah jalan MISTIK agar kita bisa merasakan kematian pada saat tubuh fisik kita masih hidup dan merasakan KEHIDUPAN pada saat tubuh kita telah mengalami KEMATIAN. Di dalam dua alam baik alam dunia maupun alam kelanggengan/alam kubur dan dua keadaan baik tubuh kita HIDUP atau tubuh kita sudah MATI, sebenarnya KESADARAN KITA TETAP HIDUP. Kesadaran yang merupakan pancaran diri sejati (dalam bahasa agama diebut RUH) ini tetap hidup kekal dan abadi. Tidak mengenal hilang dan lenyap. Maka, yang perlu dilakukan adalah bagaimana agar seseorang bisa memilih jalan kematian yang tidak sesat. Bila sesat dan tidak sempurna, maka ruh manusia akan ngelambrang ke alam gaib yang paling rendah. Memasuki alamnya setan, gendruwo, peri, wewe gombel, tuyul, buto ijo… benar-benar kasihan.

Sekarang, tinggal apakah kita beriman atau tidak terhadap kitab- kitab-Nya. Bila kita percaya, maka ada baiknya kita meneruskan laku dengan membaca KITAB TELES di dalam dada. Kita perlu membuktikan apakah diri sejati memang tidak tersentuh kematian. Sebab bila kita telusuri sejarah rukun iman sebagai berikut. Beriman kepada Allah adalah beriman kepada Dzat yang baka dan abadi, yang tidak tersentuh kematian dan tetap hidup sampai kapanpun. Dia tidak bisa ditakar dengan ukuran benda hidup atau mati, yang menciptakan tempat dan waktu.

Selanjutnya, manusia adalah wujud kehendak-Nya, wujud penjelmaan Tuhan Yang Maha Abadi. Bahkan dalam ajaran Jawa perumpamaan eksistensi Tuhan dan manusia itu seperti gula dan rasa manisnya. Lir gula lan manise ta kaki Murti smara batareng sujalma Jalma iku kabyangtane Allah kang maha agung Dira lepasira ki bayi Ya lahir ya batine Padha khaknya iku Ing jro khak jaba ya padha Dadi nora lain lahir lawan batin Iku padha kewala (Seperti gula dan rasa manisnya Hakikat Tuhan ada dalam diri manusia Manusia itu perwujudan Allah yang Maha Agung Perwujudannya lahir dan batinnya sama-sama benar batinnya benar lahirnya juga tiada perbedaan lahir dan batin itu sama)

— Kanjeng Kyai Suryajaya, Kitab Pusaka Kraton Yogyakarta, 1774.

@ wongalus, 2009

Categories: KITAB GARING KITAB TELES | 25 Komentar

AMALAN PATIGENI


Niat ingsun patigeni
Asirep rapet maring geni lan sinar
Aku bali maring pepeteng
Kadyo purwaning dumadi mring alam luwung
Sajroning guwo garbaning sang ibu
Sedulur papat limo pancer
Tumekaning sang jabang bayine
kakang kawah adi ari-ari,
kiblat papat limo pancer
Nyawiji mring ngarsane Gusti
Niatku patigeni

Rapal di atas adalah rapal untuk memulai laku patigeni. Patigeni adalah laku untuk mendapatkan petunjuk dan hidayah dari Allah SWT sebagaimana yang dijalani oleh para leluhur di tanah Jawa, dan dijalani langsung oleh Sunan Kalijaga.

Kenapa harus patigeni? Dalam hidup kita, terkadang kita merenungkan apakah perjalanan hidup yang kita jalani ini sudah sesuai dengan karep/kehendak-Nya. Atau justeru sebaliknya, kita merasa bahwa selama ini kita menjalani hidup atas dasar kehendak kita sendiri. Kita seperti terlempar ke dunia tanpa pegangan hidup yang pasti.

Agama yang telah kita anut semenjak kecil pun terasa hampa karena hanya dipahami dari segi syariat, aturan, hukum yang terasa kehilangan “jiwa” atau “ruh” agama. Agama (dalam pemahaman kita yang sempit) kadang juga kita rasakan tidak mampu menyediakan jawaban-jawaban bagi masalah hidup sehari-hari yang semakin kompleks. Mental kita sudah tidak bersih lagi. Jalur ruhani kita sudah tidak terhubung dengan jalur ruhani alam semesta. Hidup kita terasa mengambang dan sesak oleh nafsu dan angkara murka.

Untuk mengembalikan jati diri kita sebagai makhluk yang religius, selaras dan serasi dengan dunia batin dan dunia lahir, atau alam semesta metafisik dan fisik sehingga nanti kita mendapatkan anugerah dari Tuhan berupa rasa dekat, rasa tenang, tenteram, sumeleh dan sumarah, polos, jujur, apa adanya serta bebas dari belenggu problem yang menghimpit maka para leluhur menyarankan agar kita melakoni PATIGENI. Yaitu laku/amalan tidak menggunakan “geni” atau api selama tiga hari.

Laku PATIGENI memiliki falsafah yang sangat mendalam. Yaitu mematikan unsur API di dalam tubuh metafisik/psikis/badan astral dan fisik kita. Unsur API adalah unsur Iblis yang membawa manusia pada nafsu-nafsu negatif seperti AMARAH, BENCI, IRI, DENGKI, INGIN MEMILIKI DAN MENGUASAI, MENGALAHKAN, MENAKLUKKAN, bahkan MEMBUNUH. Unsur API yang tidak bisa dikendalikan oleh manusia akan mengakibatkan dia masuk ke dalam NAAR (NERAKA).

Laku patigeni lebih terasa khusyuk dan meditatif kalau kita lakukan di tempat-tempat yang sunyi dan sepi. Misalnya di dalam gua yang benar-benar gelap tidak ada cahaya yang masuk. Atau di dalam kamar yang sangat gelap hingga tidak ada cahaya yang menerobos ke dalamnya. Sebelum melakukan patigeni, kita diminta untuk mandi hingga bersih dan memakai pakaian yang bersih. Akan lebih baik bila kita mandi dengan air kembang setaman dan ditambah dengan wewangian yang semerbak. Niat juga ditata untuk melakukan pembersihan diri.

Selanjutnya, mulai untuk memasuki kamar atau gua yang telah dipilih sebelumnya. Seluruh lampu/cahaya yang masih ada dimatikan. Kita berada di dalam gelap seperti di alam suwung dan tidak melakukan aktivitas apapun selama tiga hari tiga malam. Tidak makan dan tidak minum. Posisi badan duduk semedi, kalau capek bisa bersandar atau dalam posisi berbaring.

Selanjutnya bacalah rapal yang ada di awal kalimat tadi…..

Fokus pikiran hanya tertuju pada Tuhan Yang Maha Esa. Mengamati jalan masuk dan keluarnya nafas. Saat menarik nafas katakan Hu dalam hati.. saat mengeluarkan nafas mengatakan Allah.

Tiga hari tiga malam, misalnya dimulai pada jam 00.00 WIB dan tiga hari kemudian tepat pukul 00.00 WIB laku itu dihentikan. Selama itu, kita hanya manembah kepada Gusti Allah. Tidak berkomunikasi dengan siapapun kecuali dengan DIRI SEJATI yang terletak di dalam lapisan diri yang paling dalam. Di sanalah nanti kita nanti akan merasakan PANCARAN DIRI TUHAN KE DALAM DIRI MANUSIA.

Apabila dilakukan dengan ikhlas, pasrah dan sumeleh tidak mengharapkan atau mentargetkan apa-apa, maka kita akan benar-benar merasakan seluruh diri kita adalah bagian dari eksistensi Gusti Allah. Petunjuk-Nya yang jelas akan kita dapatkan sehingga kita mampu selalu BERKOMUNIKASI dengan-Nya dimanapun kita berada.

Inilah MODAL TERBESAR hidup manusia, yaitu YAKIN YANG SEYAKIN YAKINNYA BAHWA DIRI KITA SELALU MENDAPATKAN PEMBELAJARAN DARI GURU SEJATI (TUHAN) SECARA LANGSUNG. Dan setelah laku patigeni selesai, kita akan merasakan momentum saat kita terlahir kembali ke dunia ini. Suci seperti bayi yang baru saja dilahirkan dari rahim ibu ke rahim alam semesta.

@.wongalus.2009.

Categories: AMALAN PATIGENI | 55 Komentar

CARA MEMPERLUAS DUNIA


Dunia setiap orang berbeda-beda. Ada yang “luas” namun ada pula yang “sempit”. Semuanya tergantung pilihan.

Kita sering melewatkan kata “dunia” ini, seakan kita sudah tahu artinya secara benar. Biasanya kita mengartikan “dunia” dengan bumi dan planet, dan jagad raya seisinya. Namun benarkan makna dunia memang seperti itu?

Mengartikan dunia yang seperti itu konon terlalu sempit dan dangkal. Dunia tidak bisa disamakan dengan benda-benda fisik atau tempat beradanya benda-benda fisik. Dunia juga bukan lawan dari akhirat, sebagaimana biasa dipahami oleh kaum agamawan. Kalau dunia dipahami seperti itu, maka akan terjadi kekacauan bila nanti kita diharapkan pada masalah-masalah ketuhanan yang metafisik.

Sering kita mengamati betapa ada seseorang yang merasa bahwa dunia ini sangat luas. Namun ada juga seseorang yang merasa bahwa dunia ini terlalu sempit. Merenungkan hasil pengamatan itu, tidak salah bila dikatakan bahwa sesungguhnya dunia setiap orang itu berbeda-beda “luas dan ukurannya.”

Jadi, dunia bukanlah sebuah hal yang obyektif yang keluasannya bisa diukur dengan meteran. Dunia adalah sesuatu yang sangat subyektif. “Besar kecilnya” dunia, “indah buruknya” dunia semua tergantung pada masing-masing orang. Ada seorang bos kenalan saya yang setiap hari glebar-gleber ke luar negeri. Dari Jepang, langsung ke Italia. Dari Italia menuju Amerika mampir dulu di Inggris. Perjalanan keliling dunia dilakukan dalam hitungan jam. Suatu hari dia mengatakan kepada saya; “ndonyo saiki sempit,” ujarnya dengan mimik serius.

Bagi Cheng Hoo, Colombus, Marco Polo, dan lain-lain dunia mungkin dianggap sebuah wilayah yang sangat luas dan menggairahkan. Sedemikian luasnya hingga dia merasa perlu membuktikan kebenaran keyakinan tersebut. Juga bagi saya yang belum pernah sekalipun ke luar negeri, dunia adalah luas. Karena saya belum kemana-mana, jadi ya merasa bahwa dunia adalah wilayah yang belum sepenuhnya berhasil saya petakan di ingatan. Jadi bagi saya, dunia adalah sebuah wilayah yang belum dikenal (terra in cognita)

Meskipun pemahaman masing-masing orang tentang istilah dunia itu tidak simetris dan sama, namun kebanyakan kita meyakini bahwa dunia adalah sesuatu yang lebih bersifat psikologis dan filosofis dibanding yang fisis. Hampir semua sepakat bahwa setiap manusia memiliki cara pandang terhadap makna dunia yang berbeda-beda. Dan mengartikan makna dunia dalam frame sebuah cara pandang tentu saja lebih memberikan arti dan nilai yang lebih daripada sekedar mengartikan dunia sebagai “bumi dan seisinya”.

Dalam khasanah ilmu pengetahuan, makna dunia ternyata juga kebanyakan merujuk sebagai cara pandang. Orang jerman mengartikan pandangan dunia dengan istilah weltanschauung: (welt : dunia dan anschauung : persepsi), berarti persepsi tentang dunia. Di Italia digunakan istilah “konsepsi tentang dunia”, di Perancis kata “weltanschauung” dipinjam dan diartikan dengan “pandangan metafisis tentang dunia dan konsepsi kehidupan”, di Rusia disebut “mirovozzrenie” berarti pandangan dunia.

Dan semua setuju bahwa kata “worldview” harus diikat oleh predikat kultural, religius, ataupun saintifik. Jadilah, misalnya istilah Christian Worldview, Medieval Worldview, Scientific Worldview, Modern worldview dan the Worldview of Islam. Semua mempunyai cara pandang dunia yang ekslusif. Tapi semua orang tahu disitu bahwa dunia adalah sebuah cara pandang yang sifatnya subyektif.

Banyak lapisan makna didalam pandangan dunia (worldview). Membahas “worldview” seperti berlayar kelautan tak bertepi (journey into landless-sea) kata Nietsche. Meskipun begitu di Barat, dunia tetap hanya dibatasi sejauh jangkauan panca indera. Luasnya worldview bagi Kant, Hegel dan juga Goethe, hanya sebatas dunia inderawi (mundus sensibilis).Tapi bagi Shaykh Atif al-Zayn bukan luasnya yang penting, tapi darimana ia bermula, maka worldview adalah tempat bermula. Disitu dapat diketahui spektrum makna worldview. Sedangkan worldview bagi kaum waskita dan winasis pasti tidak sesempit luasnya lautan dalam planet bumi, tapi seluas skala wujud.

Nah, pandangan dunia yang mana sekarang yang kita pilih? Apakah mengartikan dunia dalam sebuah tempat yang sempit, ataukah cara pandang yang skala luasnya meliputi yang berwujud/ berada? Bila kita mengartikan dunia dalam arti yang pertama maka kita perlu bersiap untuk memasuki sebuah tempat yang sumpek dan pengap. Namun mengartikan dunia dalam arti yang kedua akan memberikan sebuah keluasan dan kelonggaran.

Dalam hidup di “dunia” ini akan lebih bijaksana kita merangkum pandangan dunia dengan cara menggunakan RASA SEJATI. Rasa sejati adalah alat epistemologis paling hakiki yang dimiliki manusia untuk memetakan sangkan paraning dumadi ini. Maka, manusia tidak bisa hanya menggunakan panca indera dan akal untuk memetakan kehidupannya dan bila ini yang terjadi maka manusia akan tercebur dalam ruang psikologis yang sempit. Dengan menggunakan RASA SEJATI YANG MELINGKUPI DIRI SEJATI MAKA SKALA UKURAN “DUNIA” MENJADI BEGITU LUAS TIDAK TERUKUR.

Bagaimana memperluas dunia? Di atas telah dijelaskan bahwa dengan menggunakan rasa sejati, maka dunia terasa begitu indah dan luas. Kita memandang manusia sebagai sahabat, bukan musuh. Kita memandang alam semesta sebagai satu kesatuan wujud ruh yang satu sehingga tidak ada kata lain selain harus menjaga, melindungi, menyayangi. Menyakiti satu unsur ruh, hakikatnya sama dengan menyakiti diri sendiri.

Ada cara yang paling mudah untuk semakin memperluas “ukuran” dunia rasa sejati ini. Yaitu dengan beramal. Beramal adalah mendermakan tenaga, doa, harta benda, uang, makanan minuman. Kepada siapapun, apakah itu kepada teman, sahabat, kerabat, saudara, tetangga, sedulur, atau bahkan orang yang tidak dikenal maka dermakanlah apa yang kita punya. Di sinilah kita juga dituntut untuk memiliki pemahaman bahwa arti MEMILIKI BUKAN TERLETAK PADA SEBERAPA BANYAK KITA MENGUMPULKAN SESUATU, NAMUN TERLETAK PADA SEBERAPA BANYAK KITA MEMBERI.

Derma atau amal akan memperbanyak sahabat dan saudara. Yang awalnya membenci dan memusuhi kita pun akhirnya bisa melembut dan menjadikan kita teman. Betapa nikmat hidup ini bila kemana pun kita bepergian akan berjumpa dengan sahabat, rekan atau saudara. Maka, dunia kita terasa begitu luas dan nyaman.

Ini tentu saja berbeda bila kemana-mana kita menganggap orang lain sebagai “musuh”, “penjahat”, “maling” yang akan menggerogoti harta benda kita. Orang yang seperti ini dunianya sangat sempit dan akhirnya kelak jika sudah meninggal, bumi pun enggan menerima jasadnya. Akhirnya kita bisa menyimpulkan. Bahwa ukuran dunia bagi Hitler dan Budha pasti berbeda. Berbeda pula luasnya antara dunia Muhammad SAW dengan dunia Westerling.  Bagaimana dengan  luasnya dunia Anda ????***

@wongalus. 2009

Categories: CARA MEMPERLUAS DUNIA | 11 Komentar

MENCARI GURU SEJATI (2)


pelatihan5Dengan Guru Sejati, kita mampu membaca secara mendalam dan menyeluruh apa hakikat segala sesuatu termasuk bencana alam.

Hari Kedua, Jumat Malam: Saya bertemu dengan Ki Sabda Langit di Gedung Hotel Orchids Garden, Batu Malang. Jam menunjuk pukul 19.00 Wib. Sejak pagi saya bersama dia berkoordinasi tentang persiapan-persiapan yang diperlukan untuk perhelatan pelatihan yang akan dibuka oleh Bupati Sidoarjo. Malam yang mendebarkan itu pun datang. Acara pelatihan Pengembangan Motivasi Spiritual dibuka dengan sambutan Drs. H. Win Hendrarso M.Si. Sambutan Bupati menggarisbawahi pentingnya manajemen stress dan pentingnya hidup dalam keseimbangan jasmani dan ruhani.

Selanjutnya, pelatihan dimulai dengan diputarkannya kaset sebuah serat kidung “Serat Wedhatama” dari Ki Narto Sabdo. Bulu kuduk saya berdiri mendengarkan suara magis yang dilantunkan. Bisik-bisik dengan Ki Sabda Langit, dia mengatakan bahwa saat itu Kanjeng Ratu Kidul juga hadir di tempat itu. Menurut Ki Sabda Langit, akal manusia sangat terbatas untuk memasuki pemahaman tentang hakikat segala yang ada. Manusia dikuasai oleh nafsu jasadnya sehingga susah untuk mengenali diri sejatinya. Kini, seseorang kebanyakan beribadah, namun belum mampu menembus hakikat ibadah tersebut. Pemahaman agamanya masih sebatas syariat. Oleh sebab itu, kita haruslah meneruskan proses syariat itu agar mencapai taraf hakikat dan bisa mencicipi makrifat.

Ki Sabda melanjutkan ada empat tingkat ibadah manusia untuk manembah dengan Gusti Allah SWT. Yang pertama adalah SEMBAH RAGA yaitu tapaning badan jasad kita. Yang kedua SEMBAH CIPTA, di Islam dinamai Tarekat, sembahnya hati yang luhur. Yang ketiga SEMBAH JIWA. di Islam dinamai Hakekat. Kalau sudah bisa melaksanakan sembah cipta baru bisa melaksanakan sembah jiwa. Artinya: rasakan dengan menggunakan rasa “kasukman” yang bisa ditemui dalam eneng, ening dan eling tadi. Tandanya adalah semua sembah, panembah batin yang tulus tidak tercampuri oleh rasa lahir sama sekali. Yang keempat adalah SEMBAH RASA, di Islam dinamai Makrifat. Sembah rasa itu adalah mengalami Rasa Sejati. Rasa sejati adalah apa yang dirasakan diri sejati dan diri sejati yang merupakan wahana Tuhan bersemayam di dalam diri manusia. Maka, pada tingkat makrifat ini, segala perilaku kita akan dituntun oleh Guru Sejati.

Hari Ketiga, Sabtu pagi: Saya mengontak Ki Sabda Langit agar bersiap senam pagi dilanjutkan dengan latihan meditasi olah pernafasan tenaga dalam dan meditasi samadhi. Bertempat di alam terbuka, sebelah kolam renang lobby Hotel Orchids Garden, Batu Malang. Awalnya, peserta diajak berjalan mengelilingi hotel. Selanjutnya peserta berkumpul dan dilakukan peregangan otot sambil menarik nafas dari hidung dan mengeluarkannya melalui mulut. Untuk meditasi samadhi, peserta bersila dalam posisi meditasi. Tangan berada di atas pangkuan menengadah ke atas dengan jempol disatukan dengan jari telunjuk. Selanjutnya tarik nafas dan mengeluarkan melalui mulut. “Konsentrasi pada satu hal saja. Misalnya pada Tuhan, saat menarik nafas kita bilang hu… saat mengeluarkan nafas, kita bilang Allah.. Inlah sholat Daim.” Ujar Ki Sabda.

Peregangan, meditasi olah pernafasan tenaga dalam dan meditasi samadhi dilaksanakan sekitar satu jam. Peserta merasakan banyak manfaat mengikuti sesi pagi ini. Banyak yang mengaku awalnya sakit dan capek-capek justeru menjadi bugar setelah mengikuti meditasi pernafasan tahap awal ini. Acara selanjutnya adalah pemberian materi. Dipaparkan Ki Sabda bahwa ada beberapa tahap sebelum pikiran benar-benar bisa merasakan titik yang paling hening tempat kesadaran diri sejati berada. Dimulai saat gelombang otak kita memasuki fase gelombang gamma, alta, teta, delta… dan akhirnya aktivitas biolistrik di otak benar-benar bergelombang paling rendah. Saat di gelombang terendah itulah “kita ini seperti tidur namun kita sebenarnya sadar penuh. Kita bisa mendengar dengkuran sendiri. Kita bisa melihat diri sejati kita yang sama persis dengan kita.” Ujar Ki sabda.

Masih banyak materi pelatihan yang menarik namun tidak bisa dipaparkan di kesempatan kali ini. Seperti, kunci agar doa bisa dikabulkan Tuhan. “Kita berdoa tidak seperti kita pesan makanan di restoran fastfood. Pesan langsung diantar. Ini doa yang sok tahu, sebab apa kita tahu bahwa keinginan kita ini lebih bagus dari keinginan Tuhan pada kita. Kita perlu pahami bahwa Tuhan bekerja dengan cara-cara yang misterius…” Acara disela dengan coffre break, sambil menunggu peserta yang ada di luar, peserta mendapatkan terapi pengobatan tenaga dalam dari K Sabda Langit. Banyak peserta mendapatkan penanganan langsung dari sang master. Sementara Nyai Untari melayani konsultasi nasib, peruntungan dan lain-lain. Nyai Untari sejak kecil memiliki bakat khusus dan talenta. “Saya ini tergolong indigo sejak anak-anak. Sejak kecil bisa melihat makhluk halus, dan peruntuntan nasib seseorang. Ini kemampuan dari Tuhan jadi harus saya syukuri agar bermanfaat untuk orang lain,” ungkap Nyai Untari. Acara dilanjutkan.

Ki Sabda mengatakan bahwa kita harusnya memperbanyak rasa sukur pada Gusti yang Maha Welas Asih. “Perbanyaklah bersyukur. Apa kita bisa menghitung pemberian Tuhan perdetik saja yang begitu banyak… Otak kita, udara, nafas, denyut nadi, tubuh semuanya bekerja normal. Belum lagi keluarga, saudara, teman yang sehat, silaturahim dan lain-lain… Perdetik ini… coba hitung berapa banyak pemberian-Nya?” Ki Sabda mengingatkan untuk mencapai keluhuran hidup dan kejayaan pasti ada tebusannya. Tidak ada yang gratis di dunia ini. “Laku prihatin harus dilakukan agar kita bisa mencapai kejayaan. Kini bangsa kita sedang krisis di segala bidang. Bencana ada dimana-mana. Inilah hakikat bencana, yaitu momentum laku prihatin yang nanti pasti ada tebusannya. Yaitu kejayaan bangsa,” ujar Ki Sabda Langit optimis.

Akhirnya, Sabtu siang pukul 12.00 WIB acara diakhiri. Peserta dan panitia sudah mendapatkan banyak ilmu dari dua trainer yang waskita dari Yogyakarta ini. Kami pun berpamitan. Saya pulang ke Sidoarjo bersama rombongan keluarga besar Pemkab Sioarjo dan Ki Sabda Langit-Nyai Untari pamit pulang ke Yogya melewati Kediri. Terima kasih Ki dan Nyai, selamat jalan dan dari panjenengan berdua kami mendapatkan input yang berharga untuk mengenali diri sejati yang merupakan guru sejati masing-masing. pelatihan8 pelatihan3

pelatihan1

pelatihan4

@.Wong Alus. 2009

Categories: MENCARI GURU SEJATI 2 | 22 Komentar

SILATURAHIM KWA 2009 (1)


mas kumitir & sabda langitTiga hari tiga malam, kami bertemu untuk sebuah tugas berat. Tugas yang dituntun oleh guru sejati itu bermaksud untuk berbagi pengalaman apa yang kami alami dalam olah rasa pangrasa, yang mungkin berbeda dengan yang dialami para sedulur yang lain. Tujuannya: mengembalikan kejayaan nusantara yang kini dilanda krisis budaya, moralitas, mental dan spiritual. Inilah laporan tiga hari bersama KI SABDA LANGIT.

Hari Pertama, Kamis Sore: Saya bertemu dengan Ki Sabda Langit di Balai Diklat Pemkab Sidoarjo pukul 16.00 Wib. Ini adalah pertemuan kedua kali setelah sebelumnya saya bertemu di Yogyakarta sehari sebelum lebaran. Ini adalah pertemuan reuni kedua kali setelah sekian lama terputus oleh jarak dan waktu. Sekilas flashback: Dulu, kami berjumpa untuk pertama kali pada tahun 1990 di Kampus Universitas Gadjah Mada. Kami sama-sama menuntut Ilmu Filsafat di universitas ndeso itu. Inlah masa-masa dimana kami berproses bersama untuk mencari tahu, apa hakikat hidup yang sebenarnya. Karena ilmu filsadat adalah ilmu yang mengandalkan olah akal/rasio maka kami pun mencoba untuk menjawab hakikat hidup dengan akal. Ditempa oleh lingkungan kampus yang begitu idealis, kami menjadi pribadi-pribadi yang punya niat kuat untuk terus mencari hakikat hidup. Tidak lekas percaya pada mitos, kepercayaan, ajaran yang tidak bisa dibuktikan dengan pengalaman. Bagi kami, ajaran apapun tidak ada yang sakral dan magis. Semuanya ajaran harus dibongkar dan dibaca ulang kembali. Tuhan harus dicari dengan akal. Hati nurani untuk sementara disisihkan/dikalahkan. Tidak jarang, kami para mahasiswa dituduh kafir dan sesat karena ideology terbuka ini. Bagi kami, tuduhan dan cercaan adalah cambuk bagi kami untuk membuktikan diri bahwa meskipun Tuhan kami “tiadakan” untuk sementara waktu tapi kami yakin bahwa Tuhan akan memberi petunjuk pada orang-orang yang sesat. Saya dan Ki Sabda Langit adalah salah satu dari beberapa teman Mahasiswa Filsafat yang dipilihkan untuk mendapatkan bimbingan studi dari Prof Dr Damardjati Supadjar. Pikiran-pikiran Pak Damardjati yang begitu inspiratif ternyata menaburkan benih-benih kreativitas untuk menemukan Tuhan dengan cara yang berbeda-beda. Ini sesuai dengan sifat Tuhan yang Maha Terbuka, Maha Kreatif dan Maha Bisa Ditemukan dengan Cara Apapun Juga. Apakah itu Bejo yang menganut Hindu, apakah itu Nuraji yang beragama Katolik, apakah itu Ahmad yang beragama Islam, atau Kamdali yang tidak mengenal agama…semuanya berhak untuk bertemu dengan Tuhan. Semuanya tidak ada yang kebetulan. Ada blue print rencana-rencana-Nya yang kadang awalnya kami tidak tahu hakikatnya. Namun hakikat itu akhirnya ditemukan setelah kejadian.

Pertemuan sore ini dengan Ki Sabdalangit juga merupakan pertemuan yang tidak kebetulan. Suatu ketika, di suatu malam saya mendapatkan “pencerahan” bahwa sumber semua malapetaka adalah lupa pada sangkan paraning dumadi. Bahwa semua sumber keberadaan manusia ini sejatinya adalah YANG MAHA SATU. Yang Maha Satu (disebut banyak sebutan: Tuhan, Gusti Alah, Allah SWT, Yahweh, Hyang Widi dll) memberi pengajaran bahwa manusia akan mendapatkan malapetaka (bencana alam dll) bila melupakan hukum sebab akibat/hukum karma/sunatullah. Maka, diperlukan sebuah pencerahan bersama agar manusia kembali awas, eling lan waspada dan mampu membaca bahasa alam yang merupakan sastra jendra/kitab suci yang sesungguhnya/papan tanpo tulis ini.

Setelah kontemplasi dan meditasi yang tidak sebentar pilihan saya jatuh pada Ki Sabda Langit jadi narasumber Pelatihan Motivasi Spiritual untuk pejabat eselon di Kabupaten Sidoarjo. Sebagaimana diketahui bersama, Sidoarjo adalah daerah yang sedang kena “musibah” bencana lumpur Lapindo yang belum mampet hingga saat ini. Tujuh desa hilang dari peta, dan masih banyak wilayah di Kecamatan Porong yang kena dampak lumpur. Tidak terhitung kerugian masyarakat. Tidak hanya Sidoarjo, namun juga Jawa Timur dan Indonesia akibat adanya lumpur yang merupakan “keajaiban dunia” ini.

Dipilihnya Ki Sabda bukan tanpa alasan. Alasan saya: beliau sangat berkompeten untuk berbagi kawruh tentang pencerahan spiritual lintas agama dan pemahamannya yang universal membantu untuk memberikan penjelasan tentang spiritualitas tanpa terkotak-kotak dalam pandangan yang sempit. Dia tidak hanya berteori namun nglakoni dengan pengalaman pribadi. Latar belakang hidupnya yang kental dengan budaya Jawa akan turut serta menyebarluaskan perlunya kembali nguri-uri kabudayal lokal yang penuh kearifan (local genius).

Kami pun kontak-kontakan dan kami sepakati bahwa sebelum pelatihan yang digelar 16-17 Oktober 2009 tersebut, akan diadakan sekaligus SARESEHAN MENGGALI BUDAYA LOKAL” bertema REFLEKSI BENCANA ALAM SEBAGAI PERINGATAN MANUSIA AGAR KEMBALI KE JATI DIRI YANG MENGHARGAI KEARIFAN BUDAYA NUSANTARA pada tanggal 15 Oktober.

Diklat Pemkab Sidoarjo, 15 Oktober 2009. Pukul 19.00. Gedung Balai Diklat tempat saresehan masih sepi. Hanya terlihat ramai di salah satu ruangan dosen. Di situ, tampak Ki Sabdalangit, Nyai Untari (Isteri), Mas Kumitir dan Ki Camat bercengkrama sambil menunggu datangnya peserta saresehan. Awalnya, saya ragu apakah saresehan informal ini jadi terselenggara atau tidak. Maklum saja, tidak ada konformasi kehadiran resmi sebegaimana biasanya disyaratkan oleh panitia sebelum digelarnya sebuah perhelatan. Sehingga saat saya ditanya Ki Sabda, berapa peserta yang hadir saya tidak bisa menjawab. “Lha nggak tahu ki, tidak ada yang konformasi kehadiran kecuali hanya dua orang menulis di komentar blog wongalus dan menyatakan akan hadir,” jawab saya sekenanya. Maka, acara ini benar-benar diselenggarakan secara “gaib.” Betapa tidak, acara terselenggara tanpa ada panitia. Saya hanya meminta Pak Jaini dan Bu Jaini (penjaga Diklat) untuk membikinkan minuman teh hangat, merebus kacang dan singkong, serta membelikan dus aqua gelas. Sementara Ki Sabda membawa makanan khas Yogya: Bakpia Pathok dan beberapa makanan lain.

Mas Kumitir hanya tersenyum-senyum saat yang terlihat hadir hanya satu orang. Namun, saya tetap tenang. “Nggak jadi saresehan juga nggak masalah kok, Tuhan pasti punya rencana yang lain,”. Begitu pikir saya yang mencoba sumeleh dengan apa yang telah kita upayakan. Namun, saya malah punya ide lain bila acara ini tidak dihadiri manusia. Yaitu akan mengundang wong-wong alus di Sidoarjo untuk mendengarkan arahan Ki Sabda. “Kalau manusia sudah enggan diajak belajar olah rasa bersama, maka biarlah para makhluk halus/gaib saja yang belajar. Biarlah nantinya mereka lebih pintar dari manusia… hehe” Kata saya dalam hati setengah berkelakar. Ternyata dugaan keliru. Satu persatu peserta datang dari berbagai daerah. Mulai Lumajang, Probolinggo, Malang, Surabaya dan kota-kota lain di Jawa Timur. Mereka sengaja datang jauh-jauh dari berbagai kota untuk ngangsu kawruh bersama. Sayangnya, karena acara saresehan ini tidak ada panitianya, maka saya tidak sempat menyediakan buku tamu. Jadi mohon maaf! Nah, estimasi yang hadir saresehan sampai selesai akhirnya berjumlah sekitar empat puluh orang. Para peserta inilah yang punya niat dan tekad yang kuat untuk membaca fenomena alam dengan kebeningan hati nurani.

Bagi saya pribadi, tidak jadi soal berapapun jumlah peserta. Yang jelas saya percaya pasti Tuhan tidak akan tinggal diam. Dia akan mengutus manusia (berapapun jumlahnya) untuk belajar memahami misteri bencana alam dengan sudut pandang rasa pangrasa.

Dimoderatori oleh Ki Camat Krian Kab Sidoarjo, H.M Bahrul Amig, S.Sos, MM acara dibuka dengan salam. Ki Camat yang terkenal karena karya-karya kreatif, brilian dan menggunakan rasa pangrasa untuk membuat kebijakan publik semasa bertugas ini menyampaikan bahwa apapun yang lahir dari nurani yang tulus dan bersih akan dirasakan sebagai karya yang baik, tidak membuat residu (sampah) sebagaimana alam semesta yang berdiri di atas prinsip keikhlasan. Namun sebaliknya, residu hadir ketika hadir manusia yang tidak ikhlas. “Sumber kerusakan bumi adalah perbuatan manusia yang punya kecenderungan mengeksploitasi alam sak karepe dhewe” ujar Ki Camat.

Mendengarkan hal ini, Mas Kumitir (nama Aslinya Ali Aqsa) yang duduk di sebelah Ki Sabda Langit mengangguk-angguk tanda setuju. Mas Kumitir memang orang yang pendiam, banyak senyum, ramah bersahabat dan ringan tangan. Di balik wajahnya yang ganteng dan meditatif, sejatinya dia manusia terpilih karena kemampuannya untuk bersabar dalam ujian yang tidak tanggung-tanggung. Dia adalah seorang yang sampai sekarang memiliki guru pembimbing dari leluhur yang sudah ada di alam kelanggengan. Mas Kumitir terbiasa untuk mendapatkan petunjuk dari leluhur dengan cara yang bagi kalangan kebanyakan dianggap tidak masuk akal; melalui telepon dan SMS. Kadang nomor telpon si penelpon/pengirim SMS itu pun aneh dua, tiga, atau Cuma empat digit. Bahkan tak jarang nomor penelponnya 0 (nol). Perintah kepada Mas Kumitir pun kadang membuat jidat berkerut. Misalnya, diminta mengosongkan dompet tanpa uang sepersenpun untuk diberikan pada pengemis dan seterusnya. Atau pernah suatu ketika diminta bepergian dari kota ke kota tanpa tujuan yang jelas. Sang Pembimbing ini sudah menemani Mas Kumitir selama belasan tahun lalu. Itu sebabnya, dia sampai sekarang termasuk manusia yang dipandang mampu mengemban amanah sebagai jembatan penghubung alam nyata dengan alam ghaib. Aneh tapi nyata bagi kebanyakan orang. Namun bagi Ki Sabda dan sedikit para waskita/winasis apa yang dilakoni Mas Kumitir adalah sebuah tugas mulia. “Waktu yang akan membuktikan…” ujar Ki Sabda.

Nara sumber Ki Sabda Langit mulai dengan paparannya. Bencana alam terjadi di mana-mana. Bencana ini bukan sebagai cobaan bagi manusia. Namun teguran agar kita kembali harmoni dengan alam berdasarkan atas hukum alam/hukum sebab akibat. Manusia harus mampu membaca kehendak alam dan kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan hanya bisa dibaca dengan mata batin yang bersih dari hawa nafsu yang mengotori manusia. Manusia yang hanya mengandalkan akal saja untuk menganalisa fenomena alam tidak akan mampu membaca kehendak alam. “Lumpur Lapindo sudah seharusnya terjadi. Akibat manusia yang mengabaikan hukum sebab akibat. Sebabnya, manusia tidak lagi menghargai alam. Awalnya terjadinya kenapa lumpur lapindo meluber adalah karena manusia tidak mengetahui dan menghargai keberadaan alam gaib. Di atas bumi ada mahluk gaib, di bawah bumi juga ada.

Suatu ketika, mata bor di sumur Banjar Panji 1 (pusat semburan Lumpur Lapindo) mengenai tubuh mahluk gaib perempuan (orang jawa menyebut makhluk ini naga perempuan). Makhluk gaib, naga laki-laki marah dan kemudian merusak lobang sumur pengeboran selama tiga bulan. Berbagai upaya penutupan pusat semburan dengan mengandalkan ilmu pengetahuan rasional terbukti gagal total,” ujar Ki Sabda.

Ki Sabda melanjutkan, bahwa bila saat itu pengambil kebijakan publik menggunakan rasa pangrasa maka penanganan secepatnya bisa menghentikan semburan lumpur. Namun apa yang terjadi? Pengambil kebijakan masih belum mampu membaca fenomena ini dengan kebeningan jiwa. “Jogjakarta dulu adalah kawasan semburan lumpur juga. Para pendahulu menggunakan rasa pangrasa untuk menutup lobang semburan ini dengan logam yang berbentuk gong. Jenis logam yang digunakan sebagai penutup adalah logam yang bisa bersenyawa dengan lumpur” jelasnya. Namun, bila upaya ini dilakukan sekarang pasti sudah sangat terlambat. Lumpur sudah menyembur tiga tahun lamanya. Artinya, hukum alam adalah hukum sebab akibat dan tidak bisa diulang lagi. (BERSAMBUNG)

kumitir, sabda

sarasehan1

sarasehan4

sarasehan5

sarasehan8

ki camat & ajid@wongalus, 2009

Categories: >>PERPUSTAKAAN UTAMA | 38 Komentar

AMALAN BERTEMU BUTO IJO


Jenis makhluk halus ini biasa dimintai bantuan oleh para dukun dan paranormal untuk mempercepat mendatangkan uang dan kekayaan materi dengan hebat.

Saat kita bernegosiasi bisnis, mereka akan menggedor hati lawan bisnis untuk menyerahkan pada kita. Saat kita berjualan rumah, mobil dst mereka akan membantu kita mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Saat kita berjualan, maka pembeli akan dirayu buto ijo untuk membeli di di tempat kita. Tidak ke tempat penjual lain. Buto ijo bisa Anda temukan di bank-bank. Buto ijo adalah satpam gaib yang setia menunggui lembaga keuangan agar terbebas dari pencurian tuyul.

Namun sayangnya sebagaimana yang terjadi saat kita bermufakat dan meminta sesuatu dengan jenis makhluk halus apapun maka mereka akan minta tumbal atau imbalan baik yang ringan maupun yang berat. Begitu juga dengan buto ijo, apabila kita sudah meminta bantuan maka mereka akan meminta imbalan baik berupa sesajen atau nyawa. Ya, di alam gaib pun tidak ada sesuatu yang gratis. Mereka akan bertransaksi dengan kita. Persis dunia bisnis era sekarang.

Saya sama sekali tidak menyarankan Anda untuk berhubungan dengan Buto Ijo karena kebanyakan mereka memiliki watak yang brangasan, ngawur dan tidak terkontrol. Tapi bila Anda sekedar ingin membuktikan apa dan bagaimana kehidupan mereka dan cara mencari informasi langsung dengan bercakap-cakap dengannya, atau ingin membuktikan bahwa dunia gaib itu benar-benar ada untuk mendukung kepercayaan pada Gusti Allah SWT, maka amalannya sebagai berikut:

Sesajen yang perlu disiapkan: kembang setaman, menyan arab, dupa cina (sebelas biji) dinyalakan sambil baca mantra berulang-ulang sampai buto ijo datang, ayam kampung (tujuh ekor), air putih di kendi, wewangian lain, madat yang mahal. Semuanya diletakkan di nampan anyaman bambu tradisional dan diletakkan di tempat beradanya buto ijo.  Mantra yang biasa saya baca:

Aku si Wong Alus, aku teko ngger
Lengkap karo kakang kawah adi ari-ariku
Keblat papat limo pancerku yo iku aku
Tumekaning si jabang bayi
Buto Ijo kancaku sing bagus
tak jaluk mreneyo
Iku aku si wong alus
Ono sing perlu tak omongke
Marang awakmu.
Tak tunggu saiki tekoo mrene…

Sesaat kemudian menunggu, buto ijo akan datang dan memakan sesajen yang kita siapkan. Lalu, setelah kenyang mereka akan siap ngobrol atau melayani apapun permintaan kita.

Ini hanya sekedar informasi saja. Bila ingin memanfaatkan jasa Buto Ijo, yang perlu dipertimbangkan untung ruginya bagi kehidupan kita, dunia akhirat. Terima kasih.

@ wongalus. 2009

Categories: AMALAN KETEMU BUTO IJO | 46 Komentar

ILMU SEJATI


Ilmu sejati menerangkan bahwa manusia benar-benar abadi tidak bisa mati, kebal segala macam bahaya apapun dan bahagia tidak pernah duka, kaya tidak pernah miskin. Ilmu sejati adalah ilmu mengenali diri sejati. Inilah kunci ilmu kesaktian yang sesungguhnya.

Falsafah hidup yang ideal tidak hanya menjadi pedoman hidup di dunia fisik ini saja, melainkan harus masuk ke kehidupan yang sejati yang metafisik. Bila diminta memilih dunia: fisik atau metafisik, maka jatuhkan pilihan pada yang terakhir saja. Sebab dunia fisik akan lenyap seiring dengan dimasukkannya jasad ke dalam kubur, sementara dunia metafisik kita akan langgeng abadi sepanjang masa.

Tujuan hidup manusia adalah mengisi hidup dengan diri yang sejati. Dunia adalah persinggahan sementara diri sejati sebelum menempuh perjalanan-perjalanan lain yang sangat panjang. Sayangnya, di persinggahannya yang sementara ini kebanyakan justeru diisi oleh diri-diri palsu. Maka hidup di dunia yang menekankan pada diri-diri palsu, harus bersiaplah untuk terseok dan tersungkur kapan saja.

Pada diri yang palsu, keakuan atau ego SANGAT DOMINAN dalam mengambil keputusan-keputusan. Saat kita dihadapkan pada pilihan, memilih isteri yang cantik atau memilih isteri yang moralnya baik, maka kita langsung menjatuhkan pilihan pada isteri cantik. Saat kita dihadapkan pada pilihan mengambil uang negara (korupsi) sehingga cepat kaya atau hidup miskin namun tenang, kita langsung menjatuhkan pilihan pada jadi koruptor. Kita saat itu sadar, resiko jadi koruptor adalah masuk penjara. Namun kesadaran kita hanya mucul dari lapisan jiwa terluar saja. Belum muncul dari lapisan jiwa yang terdalam dimana DIRI SEJATI berada.

Keputusan yang muncul akibat tidak mendengarkan suara diri sejati yang tergencet oleh akal sehat dan nafsu ego, adalah penyesalan. Kenapa menyesal? Sebab akibatnya fatal. Seluruh wujud kita akan mengalami akibat yang mengerikan. Akibat fatal ini bagi setiap orang berbeda-beda tergantung pada peristiwa apa diri palsu itu mendominasi kita.

Pada suatu ketika, kita dihadapkan pada pilihan menyalip atau tidak ketika ada truk gandeng melaju perlahan sehingga menghalangi laju kendaraan kita. Pikiran sadar mengatakan JANGAN, karena berbahaya menyalip. Apalagi jalur kendaraan hanya ada dua. Namun, nafsu ego mengatakan TERUSKAN menyalip agar cepat sampai tujuan. Pilihan akhirnya dijatuhkan dengan cepat oleh gerakan refleks bawah sadar…. brakkkkk…. kendaraan kita dihantam kendaraan lain dari jalur berlawanan.

Menuruti diri palsu ego kadang memuaskan (untuk sementara waktu), namun kepuasan itu sifatnya hanya sementara. Akan lahir berkembang keinginan demi keinginan lain yang harus dipuaskan. Itulah watak diri palsu: senang sesaat, tidak pernah puas… Memuaskan keinginan nafsu ego, maka perkembangan spiritual dan mental berada pada posisi stagnan, mandeg. Bahkan mengalami kemunduran.

Hal ini berbeda ketika kita banyak menuruti DIRI SEJATI. Diri yang sejati akan membuat perkembangan spiritual kita bergerak aktif dan dinamis. Bila ulat mampu bermetamorfisis menjadi kupu yang indah, maka diri sejati akan bermetamorfosis menjadi diri yang MOKSA. Diri yang manunggal dengan iradat-Nya. Duh, alangkah indahnya manusia yang sampai pada tahap ini?….

Kita perlu sadar bahwa di dalam terkadang pilihan alternatif yang tersedia tidak banyak. Mungkin ada dua, tiga, lima. Mungkin pula kadang hanya ada satu bahkan tidak ada alternatif sama sekali. Perlu dipahami, bahwa sesungguhnya ada tidaknya alternatif itu tergantung pada sumber mana yang kita akses: diri palsu ego atau diri sejati? Pada diri palsu ego, alternatifnya hanya sekedar apa yang teralami dengan indera saja. Kenikmatan, kesuksesan, kejayaan jasad/fisik adalah hukum alam dari hasil akhir proses menuruti diri palsu.

Belajar dari sejarah kepemimpinan, tidak ada satupun pemimpin sebuah komunitas bangsa yang lahir dari diri palsu akan mampu bertahan abadi melintasi jaman. Kejayaan dan kelanggengan nilai-nilai yang ditebar pemimpin bobrok akan membawa kehancuran dan degradasi nilai-nilai kemanusiaan. Baca riwayat Hitler, bagaimana sang diktator ini harus mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri secara tragis. Dan contoh-contoh lain yang lebih mengerikan lagi.

Pada suatu ketika, manusia akan mengalami penyesalan. Kenapa menyesal? Penyesalan adalah pemberontakan dari diri sejati yang sudah begitu lama dikubur dan dimatikan. Namun, ia tidak benar-benar bisa tewas. Diri sejati akan tetap hidup. Ia menyuarakan kehendak untuk kembali ke jalan yang benar. Tidak sesat dan sasar. Sayangnya, di dalam hidup kita lebih suka mendustai bahkan menolak hadirnya suara dari dalam diri sejati.

DIRI SEJATI bisa dirasakan pada TITIK PALING HENING MEDITASI, SEMEDHI, MALADIHENING. Pada DIRI SEJATI munculnya KESAKTIAN merupakan hal yang sangat biasa. SEGALA DIMENSI GAIB DAN METAFISIK TERBUKA TERANG BENDERANG.

Namun, pada hakikatnya diri sejati tidak boleh hanya dirasakan da disadari belaka. Sebalinya, jadikan seluruh kemanusiaan kita ini dengan totalitas DIRI SEJATI YANG MENYINARI BERPERILAKU SEPANJANG HIDUP MANUSIA. Yaitu bila perjalanan (tarekat) mengolah rasa sudah sampai ke pendakian tertinggi perjalanan spiritual. Mencapai makrifat yang merupakan wujud diri sejati inilah yang harusnya menjadi tujuan hidup kita.

Salah satu ajaran mistik Jawa yang membabar soal menjadi diri sejati terkandung dalam serat Dewaruci. Serat Dewaruci merupakan karya sastra suluk yang secara keseluruhan bernilai mistis. Nilai-nilai yang termuat dalam alur cerita Sang Bima mencari diri sejati disimbolkan dengan pencarian “Air Perwitasari.” oleh Bima. Yaitu air yang membuat abadi bagi peminumnya.

Serat ini menceriterakan upaya bagaimana manusia dalam kehidupannya dapat mencapai diri sejati. Yitu diri yang mampu menciptakan keasrian, ketentraman dan kelestarian dunia. Salah satu moralitas ajarannya yaitu memayu hayuning bawana dan memayu hayuningrat. Suradira jayaningrat lebur dening pangastuti: sifat pengasih akan meleburkan segala kejahatan.

Serat Dewa Ruci membeberkan konsep ngelmu “MANUNGGALING KAWULA GUSTI, PAMORING KAWULA GUSTI, JUMBUHING KAWULA GUSTI, WARANGKA MANJING CURIGA CURIGA MANJING WARANGKA.” Yaitu diri sejato yang tidak lagi mengalami suka duka. Ia akan berseri bagaikan bulan purnama menyinari bumi, membuat dunia menjadi indah. Di dunia ia menjadi wakil Tuhan (wakiling Gusti), menjalankan kewajiban-kewajiban-Nya dan memberi inspirasi kepada manusia yang lain.

Ia mampu mendengar, merasa, dan melihat apa yang tidak dapat dikerjakan oleh manusia yang masih diselubungi oleh kebendaan, syahwat, dan segala kesibukan dunia yang fana. Tindakan diri manusia semata-mata menjadi laku karena Tuhan

Bima telah mencapai tahap makrifat, di antaranya ia merasakan: keadaan dirinya dengan Tuhannya bagaikan air dengan ombak, nikmat dan bermanfaat, segala yang dimaksud olehnya tercapai, hidup dan mati tidak ada bedanya, serta berseri bagaikan sinar bulan purnama menyinari bumi.

Wujud diri sejati meliputi segala yang ada di dunia, yang hidup tidak ada yang menghidupi, yang tidak terikat oleh waktu, yaitu Yang Ada telah berada pada Bima, telah menunggal menjadi satu. Jika telah manunggal penglihatan dan pendengaran Bima menjadi penglihatan dan pendengaran-Nya.  Badan lahir dan badan batin Suksma telah ada pada Bima, hamba dengan Tuhan bagaikan api dengan asapnya, bagaikan air dengan ombak, bagaikan minyak di atas air susu.

Setelah manunggal dengan Gusti, dia tidak merasakan rasa khawatir, tidak berniat makan dan tidur, tidak merasakan lapar dan mengantuk, tidak merasakan kesulitan, hanya nikmat yang memberi berkah karena segala yang dimaksud dapat tercapai. Hal ini menyebabkan Bima ingin manunggal terus. Ia telah memperoleh kebahagiaan nikmat rahmat yang terkandung pada kejadian dunia dan akhirat. Sinar Ilahi yang melahirkan kenikmatan jasmani dan kebahagian rohani telah ada pada Bima. Itulah surga.

Pada tahap ini, apa yang diniatkan diri sejati akan terwujud. KUN FAYAKUN. Bahkan, hukum alam taklum dalam hukum Ilahi. Keajaiban itu terjadi sewaktu hamba dalam kendali Ilahi.

Hidup dan mati tidak ada bedanya karena dalam hidup di dunia hendaklah manusia dapat mengendalikan atau mematikan nafsu yang tidak baik dalam dalam kematian manusia akan kembali menjadi satu dengan Tuhannya. Mati merupakan perpindahan rohani dari sangkar kecil menuju kepada kebebasan yang luas, kembali kepada-Nya. Dalam kematian raga nafsu yang tidak sempurna dan yang menutupi kesempurnaan akan rusak. Yang tinggal hanyalah Suksma. Ia kemudian bebas merdeka sesuai kehendaknya kembali manunggal kepada Yang Kekal.

Setelah mengetahui, menghayati, dan mengalami manunggal sempurna antara diri sejati dengan SANG DIRI SEJATI karena mendapatkan wejangan Dewaruci, hatinya terang seperti kuncup bunga yang mekar. Dewaruci kemudian muksa. Bima kembali kepada alam dunia semula.. Sebab, bagaimana pun kita masih manusia yang punya jasad/ tubuh. Nafsu jasad/kebutuhan biologis tidak dihilangkan namun dimenej dengan sebaik-baiknya untuk dituntun dengan diri sejati. @@@

Categories: ILMU SEJATI | 24 Komentar

EMPAT PENDEKAR GAIB SUNAN KALIJAGA


Siang dan malam keempat pendekar gaib ini setia menunggu kita. Saat genting dan bahaya, dia menyeret kita ke tempat yang aman. Saudara penjaga gaib ini bukan jin bukan pula gendruwo.

Semakin lama belajar ajaran-ajaran leluhur Jawa, kita akan semakin terkagum-kagum pada para nenek moyang. Ilmu yang mereka ajarkan tidak bertentangan dengan agama, bahkan sesuai dan memperkaya pemahaman agama yang kita anut.

Sayangnya banyak yang masih memandang sebelah mata ajaran para leluhur Jawa ini. Bahkan ada yang menuduhnya sebagai syirik, khurofat dan takhayul. Para penuduh ini mungkin lupa, bahwa ajaran Jawa disampaikan secara sederhana agar mudah dipahami orang Jawa. Memang, para leluhur kita kadang tidak fasih melafalkan kata-kata Arab. Para leluhur ini juga orang yang masih gagap iptek. Namun, jangan salah sangka dulu.

Dari segi kebijaksanaan, ngelmu batin dan olah rasa para nenek moyang kita dulu bisa diandalkan. Mereka adalah para waskita yang mampu membangun candi Borobudur, Prambanan dan mampu membuat sebuah bangunan dengan ketepatan geometris dan geologis. Tidak kalah oleh nenek moyang bangsa Mesir yang mampu membangun piramida, atau nenek moyang suku Inca, bangsa Peru yang bisa membangun Manchu Picchu.

Saat agama Islam masuk ke nusantara, sementara di Jawa saat itu sudah berkembang agama Hindu, Budha dan berbagai kepercayaan animisme, dinamisme, politeisme. Islam melebur secara pelan dan damai, berasimilasi serta berosmosis tanpa pertumpahan darah. Islam agama damai dan tidak memaksa. Orang Jawa bersifat pasrah, sumeleh, sumarah, ikhlas dan mengandalkan rasa pangrasa. Jadi? Klop sudah!

Bagi orang Jawa, masuknya Agama Islam yang kaya dengan aspek kebatinan (tasawuf) sangatlah tepat. Orang Jawa pun tidak kebingungan dengan ajaran-ajaran mistik yang ada di dalamnya. Namun orang Jawa berhasil menyederhanakan ajaran-ajaran mistik ini dengan terminologi dan kalimat-kalimat sederhana dan mudah dimengerti. Harap maklum saja, orang Jawa dulu mayoritas hidup di pedesaan yang sederhana dan tidak banyak berwacana ilmiah.

Salah satu ajaran Kejawen yang membahas tentang adanya malaikat pendamping hidup manusia adalah SEDULUR PAPAT LIMO PANCER. Pancer adalah tonggak hidup manusia yaitu dirinya sendiri. Diri kita dikelilingi oleh empat makhluk gaib yang tidak kasat mata (metafisik). Mereka adalah saudara yang setia menemani hidup kita. Mulai dilahirkan di dunia hingga kita nanti meninggal dunia menuju alam barzakh (alam kelanggengan).

Sebelum hadirnya agama Islam, orang Jawa tidak memahami konsep malaikat. Maka mereka menyebut malaikat penjaga manusia dengan sedulur papat. Konsep “sedulur papat” ini oleh orang Jawa ditamsilkan melalui sebuah pengamatan/niteni.

Mulai saat janin tumbuh di perut ibu, janin dilindungi di dalam rahim oleh ketuban. Selanjutnya adalah ari-ari, darah dan pusar. Itulah saudara manusia sejak awal dia hidup dan selanjutnya “empat saudara” ini kemudian dikubur. Namun orang Jawa Percaya bahwa “empat saudara” ini tetap menemani diri manusia hingga ke liang lahat.

Karena Air Ketuban adalah yang pertama kali keluar saat ibu melahirkan, orang Jawa menyebutnya SAUDARA TUA. Saudara ini melindungi jasad fisik dari bahaya. Maka ia adalah SANG PELINDUNG FISIK.

Selanjutnya yang lebih MUDA adalah ari-ari, tembuni atau plasenta. Pembungkus janin dalam rahim. Ia melingkupi tindakan janin dalam rahim yang kemudian mengantarkan kita ke tujuan. Maka ia adalah SANG PENGANTAR.

Saudara kita selanjutnya adalah DARAH. Darah ini membantu janin kecil untuk tumbuh berkembang menjadi bayi lengkap. Darah adalah SARANA DAN WAHANA IRADAT-NYA pada manusia. Darah bisa disebut nyawa bagi janin. Maka, darah disebut dengan PEMBANTU SETIA MANUSIA MENEMUKAN JATI DIRINYA SEBAGAI HAMBA TUHAN, CERMIN TUHAN (Imago Dei).

Saudara gaib kita terakhir adalah pusar. Menurut pemahaman Kejawen, pusar adalah NABI. Pusar secara biologis adalah tali yang menghubungkan perut bayi dalam rahim dan ari-ari. Pusar mendistribusikan makanan yang dikonsumsi ibu ke bayi. Pusar dengan demikian MENDISTRIBUSIKAN WAHYU “IBU” MANUSIA yaitu Gusti Allah SWT kepada diri kita.

Keempat saudara gaib ini sesungguhnya adalah EMPAT MALAIKAT PENJAGA manusia. Yang berada di kanan-kiri, depan-belakang kita. Maka, tidak salah bila Anda menyapa dan bersahabat akrab dengan mereka. Secara gaib, Tuhan mmeberikan pengajaran tidak langsung kepada hati kita. Namun melalui mereka pengajaran itu disampaikan.

Keempat penjaga (malaikat) itu adalah:

JIBRIL (Penerus informasi Tuhan untuk kita),
IZRAFIL (Pembaca Buku Rencana Tuhan untuk kita),
MIKAIL (Pembagi Rezeki untuk kita) dan
IZRAIL (Penunggu berakhirnya nyawa untuk kita).

Keempat malaikat itu oleh orang Jawa dianggap sebagai SEDULUR karib hidup manusia. Bila kita paham bahwa perjalanan hidup untuk bertemu dengan Tuhan hakikatnya adalah perjalanan menuju “ke dalam” bukan “ke luar”. Perjalanan menembus langit ketujuh hakikatnya adalah perjalanan “diri palsu” menuju “diri sejati” dan menemukan SANG AKU SEJATI, YAITU DIRI PRIBADI/ TUHAN.

Untuk menemukan SANG AKU SEJATI (limo pancer) itulah kita ditemani oleh EMPAT SAUDARA GAIB/MALAIKAT PENUNGGU (sedulur papat). Lantas dimana mereka sekarang? Mereka sekarang sedang mengawasi Anda. Berdzikir mengagungkan asma-Nya. Kita bisa menjadikan mereka sedulur paling akrab bila paham bagaimana cara berkomunikasi dengan mereka. Caranya? Pejamkan mata, matikan seluruh aktivitas listrik di otak kiri dan kanan dan hidupkan sang AKU SEJATI yang ada di dalam diri Anda. Ya, hanya diri sendirilah yang mampu untuk berkomunikasi dengan para sedulur gaib nan setia ini.

Bagaimana tidak setia, bila kemanapun kita berada disitu keempatnya berada. Bila kita berjalan, mereka terbang. Bila jasad kita tidur, mereka akan tetap melek ngobrol dengan ruh kita. Maka, saat bangun tidur di siang hari pikiran kita akan merasa fresh sebab ruh kita akan kembali menjejerkan diri kita dengan iradat-Nya. Sayang, saat waktu beranjak siang polusi nafsu/ego lebih dominan sehingga kebeningan akal pikiran semakin tenggelam.

Bagaimana agar hidup kita selalu ingat oleh kehadiran sedulur papat ini yang setia menjaga kita? Sunan Kalijaga memiliki kidung bagus:

Ana kidung akadang premati
Among tuwuh ing kuwasanira
Nganakaken saciptane
Kakang kawah puniku
Kang rumeksa ing awak mami
Anekakaken sedya
Pan kuwasanipun adhi ari-ari ika
Kang mayungi ing laku kuwasaneki
Anekaken pangarah

Ponang getih ing rahina wengi
Angrowangi Allah kang kuwasa
Andadekaken karsane
Puser kuwasanipun
Nguyu uyu sambawa mami
Nuruti ing panedha
Kuwasanireku
Jangkep kadang ingsun papat
Kalimane pancer wus dadi sawiji
Nunggal sawujudingwang

(Ada nyanyian tentang saudara kita yang merawat dengan hati-hati. Memelihara berdasarkan kekuasaannya. Apa yang dicipta terwujud. Ketuban itu menjaga badan saya. Menyampaikan kehendak dengan kuasanya. Adik ari-ari tersebut memayungi perilaku berdasar arahannya.

Darah siang malam membantu Allah Yang Kuasa. Mewujudkan kehendak-Nya. Pusar kekuasaannya memberi perhatian dengan kesungguhan untuk saya. Memenuhi permintaan saya. Maka, lengkaplah empat saudara itu. Kelimanya seagai pusat sudah jadi satu. Manunggal dalam perwujudan saya saat ini)

@.wongalus.2009

Categories: SEDULUR PAPAT LIMO PANCER | 82 Komentar

TATA CARA NGELMU SANGKAN PARAN


“Ingsun tojalining Dzat Kang Maha Suci, Kang murba amasesa, Kang kuwasa Angandika Kun Fayakun mandi sakucapingsun, dadi saksiptaningsun, katurutan sakarsaningsun, kasembadan saksedyaningsun karana saka Kodratingsun. Ingsun Dzating manungsa sejati, saiki eling besuk ya eling. Saningmaya araning Muhamad , Sirkumaya araningsun, Sir Dzat dadi sak sirku, yaiku sejatining manungsa, urip tan kena ing pati,langgeng tan keno owah gingsir ing kahanan jati, ing donya tumeka jagad langgeng. Ingsun mertobat lan nalangsa marang Dzat ingsun dewe, regede badaningsun, gorohe atiningsun, laline uripingsun, salahe panggaweningsun, ing salawas lawase dosaningsun kabeh sampurna saka kodratingsun.”

“Ilmu iku kalakone kanthi laku”: ilmu itu terlaksana karena dilakukan di dalam perbuatan yang nyata. Dalam konteks khasanah falsafah Jawa, kata “ngelmu” menunjuk pada ajaran hidup menuju kesempurnaan diri pribadi. Ajaran itu teori dan teori tidak akan membawa manfaat apa-apa bila tidak dipkraktekkan dalam hidup sehari-hari.

Di dalam sebuah ajaran ada perintah dan larangannya. Tujuan perintah larangan adalah untuk mendisiplinkan diri agar diri yang sebelumnya “liar” menjadi “jinak”, diri yang sebelumnya memperturutkan keinginan “diri”/ego/keakuan menjadi diri yang bisa menurut dengan diri-Nya/Ego-Nya.

Kenapa diri ini harus manut dengan keinginan atau kehendak-Nya? Ada sebuah analogi yang gampang dicerna. Misalnya, sebuah mobil BMW diciptakan dan diproduksi oleh pabrik BMW di Jerman. Pabrik sudah mengeluarkan petunjuk penggunaan, aturan perintah dan larangan.

Pabrik tidak asl bikin petunjuk penggunaan. Sang insinyurnya sudah memiliki prediksi agar mesin dan bodi mobil itu awet, maka oli harus dignti saat mobil sudah mencapai sekian kilometer. Insinyur juga memiliki prediksi bahwa usia efektif mobil tersebut sekian tahun. Hingga mencapai batas usia tertentu, maka mobil akan digolongkan istimewa dan menjadi barang antik.

Begitu pula manusia. Manusia diciptakan oleh Tuhan dan Sang Insinyur Manusia ini sudah mengeluarkan buku panduan lengkap, tata cara hidup dan berkelakuan agar dipedomani sebagai arahan hidup mulai o tahun hingga semilyar tahun mendatang.

Beda dengan benda yang “ada”nya begitu sederhana. “Adanya” manusia ini sungguh luar biasa. Manusia diberikan kebijaksanaan untuk menentukan masa depannya sendiri sebelum dia dilahirkan di dunia. Manusia diberi kekuasaan-Nya untuk merancang sendiri dia nantinya akan jadi apa, akan kemana, apa tujuan hidupnya. Ya, karena Tuhan Maha Pemurah, maka manusia dijinkan menjadi insinyur yang bebas merancang dirinya sendiri.

Ruh yang merupakan “manusia sejati” dan “sejatinya manusia” itu, sebelum ada di dunia telah merancang dirinya sendiri dengan menulis di buku kitabnya masing-masing. Tuhan hanya memberikan kata “ACC” dan membubuhkan “stempel” saja. Tuhan pun menekankan bahwa yang berlaku nanti di bumi adalah hukum sebab akibat. Hukum karma, sunatullah atau disebut juga dengan hukum alam.

Jadi, salah bila dikatakan bahwa adanya sial, bencana, bahaya, ketidaksuksesan hidup itu karena Tuhan. Tuhan tidak cawe-cawe sama sekali. Itu murni urusan manusia yang tidak paham dan malah mungkin melanggar pantangan hukum sebab akibat.

Keberhasilan dan kesuksesan adalah akibat dari sebuah sebab. Sebab keberhasilan/kesuksesan adalah kerja keras. Untuk bekerja keras butuh motivasi kerja yang tinggi dan niat yang teguh. Tubuh/Raga yang rajin bergerak mencari rezeki yang halal, asalnya adalah jiwa/batin yang tenang, nyaman dan bahagia.

Kembali ke tema awal. Apa saja tata cara ngelmu sangkan paran? Di dalam khasanah Kejawen, dalam buku “Cipta Brata Manunggal” karangan Ki Brotokesawa disebutkan laku yang perlu dijalani:

1. Sabar, tawakal, tekun, dan nrimo

2. Jaga kebersihan lahir batin

3. Olah raga

4. Olah nafas

5. Berpakaian yang pantas dan bersih.

7. Olah cipta, banyak membaca dan menggali ilmu pengetahuan

8. Bekerja rajin

9. Sore hari belajar untuk tambahan pengetahuan

10. Makan teratur dan higienis.

11. Minum air putih dingin pagi, siang, malam

13. Istirahat selama 6 atau 8 jam sehari semalam.

14. Perasaan dan pikiran terarah.

16. Tidak terlalu banyak bicara. Tidak bicara kotor dan berbicara seperlunya. Bila akan tidur hendaklah instropeksi diri sambil berdoa sebagaimana yang tertera di kalimat pembuka.

Dalam buku “Cipta Brata Manunggal” juga dipaparkan proses tingkat-tingkat manembah/sembah kepada Gusti. Berikut tingkatan itu:

A. SEMBAH RAGA yaitu tapaning badan jasad kita. Tubuh, jasad bergerak atas perintah batin. Batin diperintah oleh dua unsur, baik (nur Ilhiah) dan buruk (nar Iblis). Agar tubuh disiplin, terarah dan terkendali maka perlu dilatih. Tingkatnya adalah syariat. Tubuh tetap melakukan disiplin ibadah.

B. SEMBAHING CIPTA, di Islam dinamai Tarekat, sembahnya hati yang luhur. Untuk mencapai hati luhur perlu kesadaran nalar (logika). Diperlukan olah nalar yang bagus sesuai dengan prinsip-prinsip logika. Tujuan sembah cipta adalah  mengerti akan “kasunyatan”. Ilmu pengetahuan harus dikuasai agar memiliki perbandingan baik dan buruk. Kebijaksanaan akan lahir bila kita mampu menekan dan mengendalikan hawa nafsu. Memahami Ilmu Ketuhanan diperlukan syarat berupa cipta yang bersih dari hawa nafsu dan olah nalar yang mumpuni. Ilmu Ketuhanan adalah ilmu yang “sangat halus” yang bisa ditangkap dengan kegigihan memperhalus batin dan mentaati prinsip-prinsip berpikir yang lurus.

Tujuan dari sembah cipta itu mengendalikan dua macam sifat: angkara( yang menimbulkan watak adigang, adigung, adiguna, kumingsun dsb.) dan watak keinginan mengusai akan kepunyaan orang lain (kemelikan-jw). Cipta yang bersih yaitu kalau sudah bisa mengendalikan angkara murka, Tandanya bila cipta sudah “manembah”, yaitu waspada terhadap bisikan jiwa.

Jadi sembah itu intinya melatih cara kerja cipta, dengan cara Tata, Titi, Ngati ati, Telaten, dan Atul. Atul adalah pembiasaan diri agar mendarah daging menjadi kebiasaan dan watak yang akhirnya terbiasa mengetahui sejatinya penglihatan (sejatine tingal) yaitu Pramana, bisa dikatakan sampai kepada jalan sejati, yaitu penglihatan pramana (tingal pramana).

Tanda sudah sempurna sembah cipta adalah berda di dalam kondisi kejiwaan sepi dari pamrih apapun.  Seperti tidak ingat apapun itu pertanda sudah sampai batas, yaitu batas antara tipuan dan kenyataan (kacidran lan kasunyatan – jw), jadi sudah ganti jaman, dari jaman tipuan menjadi jaman kenyataan.

Rasa badan ketiga (saka penggorohan maring kasunyatan Rasaning badan tetelu), wadag astral dan mental tadi seketika tidak bekerja. Disitulah lupa, tetapi masih dikuati oleh kesadaran jiwa (elinging jiwa), dan waktu itu menjadi eneng, ening, dan eling.  Artinya eneng: diamnya raga, Ening : heningnya cipta, Eling: ingatnya budi rasa yang sejati.

C. SEMBAH JIWA. di Islam dinamai Hakekat. Kalau sudah bisa melaksanakan sembah cipta baru bisa melaksanakan sembah jiwa. Artinya: rasakan dengan menggunakan rasa “kasukman” yang bisa ditemui dalam eneng, ening dan eling tadi. Tandanya adalah semua sembah, panembah batin yang tulus tidak tercampuri oleh rasa lahir sama sekali.

Bila sudah melihat cahaya yang terang tanpa bisa dibayangkan tetapi tidak silau, pertanda telah sampai kepada kekuasaan “kasunyatan”(kesejatian), yang juga disebut Nur Muhamad, yaitu tiada lain Cahaya Pramana sendiri, karena dinamai pramana karena cahayanya yang saling bertautan dengan rasa sejati dan budi, disitu rasa jati dan budi akan berkuasa(jumeneng), sudah sampai kepada kebijaksanaan. Artinya kebijaksanaan merasa sampai mengerti yang melakukan semadi tadi, saling berkaitan tak terpisahkan dengan cahaya yang terang benderang yang tidak bisa dibayangkan.

D. SEMBAH RASA, di Islam dinamai Makrifat. Sembah rasa itu adalah mengalami Rasa Sejati. Inilah rasa manusia yang paling halus, tempat semua rasa dan perasaan dan bisa merasakan perlunya menjadi manusia  yang berbudi luhur dan menyadari bahwa dia adalah pribadi yang merupakan Wakil-Nya. Bahkan pada tahap akhir pemahaman makrifat, dia akan “menjadi” Tuhan itu sendiri (Gusti amor ing Kawulo). Rasa hidup adalah rasa Tuhan, rasa Ada, ya diri pribadi, bersatu tanpa batas dengan rasa semua ciptaan Nya. Tanda bila sudah mencapai kasunyatan, sudah hilang ilah-ilah yang lain hingga sampai mencapai TAUHID MURNI.  @@@

@.wongalus.2009

Categories: TATA CARA NGELMU SANGKAN PARAN | 17 Komentar

AMALAN MENEMBUS ALAM KELANGGENGAN


Ini amalan untuk menembus alam gaib secara cepat dan bertemu dengan roh orang yang telah meningal di alam kelanggengan

Sholat sunnah 13 rokaat sekaligus. Lanjutkan dengan mengambil/menggunakan benda-benda milik orang yang telah meninggal (baju, cincin, topi dll) dan baca doa ini dengan hati dan batin yang penuh kesungguhan mengharapkan uluran tangan-Nya.

“Duh Gusti, kulo nyuwun bertemu dan silaturahim kaliyan ruh pak/bu/mbak/mbah…….. (nama orang yang telah meninggal) ingkang manfaat kagem  kulo dunia akhirat”

Selesai berdoa, lanjutkan dengan tidur dan Insya Allah Anda akan cepat menemui orang tersebut di alam kelanggengan. Sapa dia dengan rendah hati, ramah dan santun dan doakan dia agar ruhnya selalu aman sentausa dalam genggaman “tangan” Allah SWT.

@.wongalus.2009

Categories: AMALAN MENEMBUS ALAM KELANGGENGAN | 32 Komentar

AMALAN SEMAR MESEM


Ini amalan untuk meluluhkan hati seseorang yang membenci kita, misalnya bos/atasan/kekasih pujaan hati.

Amalannya:  Sholat sunnah 5 rokaat sekaligus. Lanjutkan dengan melihat foto orang yang akan dituju dan baca doa ini dengan hati dan batin yang penuh kesungguhan mengharapkan uluran tangan-Nya.

“Duh Gusti, kulo nyuwun silaturahim raket kaliyan …….. (nama orang yang akan dituju) ingkang manfaat kagem sukses kulo dunia akhirat”

Selesai berdoa, lanjutkan dengan menemui orang tersebut. Sapa dia dengan rendah hati, ramah dan santun. Insya Allah, hatinya akan luluh dan penuh belas kasih pada Anda atas ijin Allah SWT.

@.wongalus.2009

Categories: AMALAN SEMAR MESEM | 216 Komentar

AMALAN BANYAK REZEKI


Sholat sunnah 7 rakaat sekaligus. Lanjutkan dengan mengambil segenggam tanah di depan rumah dan baca doa ini dengan hati dan batin yang penuh kesungguhan mengharapkan uluran tangan-Nya.

“Duh Gusti, kulo nyuwun rezeki ingkang manfaat kagem keluarga kulo lan kaliyan sesami”

Selesai berdoa, lanjutkan dengan menyebarkan tanah tersebut ke depan pagar/pintu rumah. Insya Allah, doa panjenengan semua akan diijabahi Allah SWT.  Ingat, jangan lupa beramal sebanyak-banyaknya juga.

@wongalus, 2009

Categories: AMALAN BANYAK REZEKI | 95 Komentar

AJARAN MISTIS DALAM SULUK PESISIRAN


sulukAsal kata “suluk” yaitu kata Arab “salaka thoriq” yang berarti menempuh jalan (tasawuf) atau tarikat. Ilmunya sering disebut ilmu suluk . Namun di Jawa, “suluk”  diartikan sebuah ajaran mistik yang diungkapkan dalam bentuk tembang/lagu sedangkan bila diungkapkan dalam bentuk prosa, umumnya dinamakan wirid.

Suluk Pesisiran adalah sebuah buku terjemahan suluk-suluk klasik Jawa yang ditulis dalam bentuk puisi oleh Emha Ainun Nadjib. Kumpulan suluk itu merupakan terjemahan naskah suluk cirebonan berkode LOr 7375. Lor singkatan dari Codese Leidse Orientalis, yakni istilah bagi kumpulan naskah yang berasal dari belahan dunia timur yang masih tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden, Belanda.

Naskah asli Suluk Cirebonan ditulis dalam hurup arab pegon dan huruf Jawa dengan pengarang “anonim”. Naskah suluk cirebonan itu adalah sedikit naskah Islam klasik yang berhasil “dibawa” pulang ke negeri kita setelah sekian lama “tercuri” di Universitas Leiden, Belanda.

Menurut seorang peneliti Islam Klasik Mufti Ali, PhD., hanya 7 % dari 2 juta naskah Islam klasik dalam bahasa Arab maupun Persia yang terdapat di Timur Tengah, Turki, India, dan di beberapa negara yang sudah diedit dan dipublikasikan. 93 % sisanya masih menumpuk di rak-rak penyimpanan naskah.

Naskah islam Klasik itu telah menjadi komoditas yang punya nilai jual tinggi untuk diperjualbelikan. Puluhan juta Euro uang ditransfer dari beberapa perpustakaan di beberapa negeri Teluk, seperti Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab yang kaya minyak, ke beberapa Toko Buku Antik yang menjual naskah-naskah Islam klasik di Belanda.

Berbagai naskah Arab Islam klasik yang unik dan sangat tua, berpindah tangan dari satu kolektor kepada kolektor lain. Karena concern terhadap naskah yang sedemikian tinggi tersebut maka wajar sejumlah perpustakaan dan Museum di Eropa memiliki koleksi naskah yang sangat kaya. Perpustakaan Universitas Leiden saja memiliki lebih dari 50 ribu koleksi naskah Islam klasik yang diakuisisi dalam jangka waktu lebih dari 400 tahun.

Perpustakaan Nasional Jerman di Berlin menyimpan lebih dari 80 ribu naskah Islam klasik. Puluhan ribu naskah Islam klasik lainnya disimpan di beberapa perpustakaan di Prancis, Rusia, Spanyol, Italia, dll. Karena ‘kekayaan’ ini, ribuan peneliti (sejarah) Islam datang dari berbagai negara ke Eropa untuk membaca dan meneliti serta memiliki reproduksi naskah.

Demikian sedikit uraian mengeni naskah Islam Klasik yang menjadi pembuka artikel ini. Berikut beberapa Suluk dalam buku “Suluk Pesisiran” yang mengajarkan ajaran-ajaran mistis yang bernilai sangat tinggi. Termasuk apa dan bagaimana sesungguhnya makrifat itu.

SULUK SELOBRANGTI

Selobrangti terbangun karena kaget

Oleh burung yang bergembira ria

Tegak tubuhnya, memesona pandangan matanya

Seperti telah begitu terlatih hidupnya

Burung itu seolah menegurnya

Menegur birahinya

Kepada Allah yang Agung

Sehingga seperti pendeta raja yang berkelana

Dan tatkala sampai di hutan ia kekang nafsunya

Nyi Selobrangti turun perlahan-lahan

Akan mengambil air sembahyang

Shalat ashar hendak ditegakkan

Nyi Centini mengikuti

Telah diambilnya air pamujan

Mengikutinya bersembahyang

Siap memuja, sajadah dihamparkan

Berdiri dengan bersidekap tangan

Tawajjuh, yang lain disingkirkan

Yang lain tak diperhatikan

Hati terpusat kesatu tujuan

Sempurna berdirinya

Menghadap kiblat

Tatakrama sempurna

Kepada amar dihadapkan hatinya

Menyadari puji-puja

Semoga sembahnya diterima

Tepat sudah niatnya Dipusatkan maksud dan tujuannya

Bersamaan dengan takbirnya

Hanya huruf 8 yang tampak olehnya

Pikiran berhenti pada Nama

Dan Allah yang perkasa

Dekat dengan yang disembah

Sembahnya telah mi’raj tanpa terlihat

Tanpa tertabiri oleh keinginan menyembah

Seucapan rindu nantinya

Akan sebanyak puji yang terbilang-bilang

Itu sebagi sembahnya

Sembah hamba

Tujuan yang sebenarnya

Menyebut diri

Pada dirinya sendiri

Itulah sembah yang menikmatkan

Seperti angin bertiup sepoi

Dalam menyembah dan memuji

Itulah yang disebut tubadil

Adapun maknanya

Ialah sembah berhenti,diganti

Karena tertimpa oleh kasih

Sembah hamba menjadi hilang

Seperti awan dan matahari

Ibaratnya

Ia sama dengan matahari

Namun dalam tidurnya

Awan tak menjadi matahari

Demikianlah sembah utama

Setelah Selobrangti mengucapkan

Bacaan takbir

Mukanyapun dihadapkan

Kepada Mahabesar Tuhan

Yang membuat langit dan bumi

Kemudian sesudahnya

Fatihah wajib dibaca

Ialah yang dimulai dengan menyebut nama

Yang kasih di dunia, kasih kepada mukmin

Kelak di akhirat

Al hamdu segala puji

Dipanjatkan kepada Tuhan

Allah semesta alam

Yang kasih kepada orang mukmin

Yang memberi surga

Ialah Raja

Raja di hari kiamat

Yang disembah dan dimintai tolong

Yang Mahaagung dan senantiasa Santun

Tunjukkan jalan kebenaran

Tuntun ke tempat yang terang

Seperti jalanan

Hamba yang patuh

Orang saleh dan para wali

Dan para Nabi

Jangan Seperti

Langkah orang yang kau benci

Orang yang sesat dan kau murkai

Hendaklah paduka Allah terima ini

Bacaan Fatihah mudah dilakukan

Selobrangti lantas membaca ayat-ayat

Itu sunnat

Kemudian ia be ruku’,wajib

Kemudian Selobrangti duduk

Menenangkan badan

Sambil memenuhi

Menyerah pada perintah Tuhan

Ikhlas dan diberi ampunan

Dan akhirnya ia angkat kepala

Selobrangti tegak dan mengangkat kepala

Hendaklah Allah mendengar

Hatur hamba

Sujud tanpa henti

Pasrah raga untuk mengenali dunia

Yang tujuh macamnya

Dan sungguh-sungguh merendahkan

Anggota badan yang utama

Direndahkan seperti air turun ke dunia

Memasuki samudera

Mengangkat kepala,kemudian duduk

Tenang duduknya

Ikhlas segala tingkah lakunya

Percaya kepada Tuhan

Yang adil dan penuh ampunan

Kemudian sujud yang kedua

Kemudian berdiri,rakaat yang pertama

Lengkap,menuju rakaat kedua

Dengan sunnat dimulainya

Ketahuilah perbuatan sunnah af’al

Yakni tahiyyat awal

Bahwa perbuatan sunnat

Tiga macamnya

Kalau terlupa, sujud sahwi gantinya

Hal ini termuat dalam surat

Hendaklah diketahui denga cermat

Bahwa duduk tahiyyat dan shalawat

Itu yang disebut af’al sejati

Sehingga lengkaplah tiga perkara tadi

Dengan nama-Nya engkau memulai

Rakaat yang semula

Dua rakaat banyaknya

Adapun shalat ashar

Empat rakaat maka jadilah

Empat rakaat, kemudian

Tahiyyat wajib

Rukun enam wajib yaitu

Duduk di antara tahiyyat dan tertib

Salam disertai niat

Selobrangti mengakhiri shalat

Salam memungkasinya

Salam itu wajib kedudukannya.

Adapun bangun pada malamnya

Sunnah,dan sesudah salam akhir

Yakni seusai sembahyang

Memuji dengan lirih

Membaca tasbih,berdo’a

Pengucapan perlahan-lahan

Namun hati penuh gelombang

Itulah sembah utama

Nabi terpilih berkata

Ketahuilah jangan memuji dengan suara

Yang keras bunyinya

Demikianlah tuntunan Rasul duta

Jangan engkau keras-keras memuja

Sedang Allah

Telah mendengarnya

Tuhan mendengar hati bersuara

Bukan lahiriah, Ia mendengar dan mengetahui

Tak pilih kasih, tak jatuh hati

Nyi Centini juga melakukan takbir

Namun hatinya tertutup oleh panca indera

Tampak segala gerak-geriknya

Diikuti oleh hatinya

Niat diulang-ulang

Sedang dalam niat

Dalam ucapan

Mesti bersama dengan takbir

Ihramnya jauh mendahului hatinya

Ia baru shalat ditengah-tengahnya

Sebagian orang melakukan shalat

Tak mengerti sempurnanya sembah

Tak tahu liku-likunya

Salah ucapannya

Sunnah wajib tak dibedakannya

Tak mau bertanya

Batin orang bodoh adanya

Menghadap ke masalah dunia

Tak tahu ditolak sembahnya

Terhalang puja-pujinya

Adapun bagaimana mengelola birahi

Selobrangti menyirnakan keinginan

Yang peluang tumbuhnya tak diberi

Hutan belantara dimasuki

Centini si pembantu mengikuti

Dari belakang selalu mengikuti

Menghilangkan rasa cinta dunia

Mematikan badan sebelum mati

Kepada Allah percaya sekali

Dengan menatap batu di tepian jurang

Nyi Selobrangti bertapa

Di dalam gua istirahatnya

Malam tak tidur

Siang tak makan

Keras berusaha

Memerangi nafsunya

Lupa akan badan dan jiwa

Menjadi lesu raganya

Seperti mayat disiksa

Dengan sungguh-sungguh memusatkan pandang

Pucuk hidung yang kelihatan

Napasnya ditahan

Tak mengetahui keluar masuknya

Tak terasa lagi zikirnya

Tak berhenti pujinya

Hening pikirannya

Empat alam dikuasai

Segala arah menyatu

Itu yang namanya laku

Yang pertama alam nasut

Yakni alam manusia

Syariat tata kramanya

Kedua alam malakut

Yang tinggal hanya satu keinginan yang tak bergeming

Tak menoleh kepada yang lain-lain

Yang ketiga alam jabarut

Itu alamnya ruh utama

Tak lepas dari puja

Yang keempat alam lahut namanya

Orang mati bersemayam padanya

Sudah tak ada tatakrama

Yang dibicarakanpun tak ada

Jiwa, badan, sembah dan puja

Hilang,tatakrama

Tak ada yang dibincangkan

Yang di dalamnya tak dua

Melainkan yang berkuasa juga yang ada

Lesu raganya,gairah tak ada

Seperti mayat bentuk dan warnanya

Tinggal denyut jantung saja

Nyi Centini memandangnya

Hingga amat sedih hatinya

Tuannya mati raga

Tak ada lagi geraknya

Tinggal denyut jantungnya saja

Maka ia sembahlah tuannya

Sambil menangis amat kerasnya

Terbangun Nyi Selobrangti

Mendengar tangis Centini

Terjaga dari tapa

Tersadar karena mendengar suara

Tangis yang terus menerus mendera

Segera ia beri pertolongan

Centini yang hilang kesadaran

Tangannya menjulur menggapai pembantunya

Dan berkata

Pelan dan berbisik kata-katanya

Halus lembut meluncur dari mulutnya

Demikianlah betapa lesu letih ia

Maka halus tuturnya

Jangan menangis wahai Centini

Tak ada gunanya dilakukan

Tak ada gunanya dibicarakan

Inilah memang tujuan sejak permulaan

Nyi Centini memohon kepada tuannya

Agar bersedia pulang ke rumah saja

SULUK PAESAN WAJIB

Maskumambang

1

Cermin wajib dalam melangkah bersama

Dengan kedewasaanmu

Hendaknya pikirkanlah Ia

Yang dipertuhan dan Mahamulia

2

Dipertuhan dengan kata hati

Mempercayai

Tuhan qadim hakiki

Yang wajib ditaati

3

Ditaati dengan hati yang jernih

Penglihatan yang sempurna

Arah tak mendua

Memusat kepada allah yang Maha Kuasa

SULUK GEDHONG

Menyembah untuk melihat

Dengan cara memandang yang khas

Menyembah seperti berkaca dalam cermin

Berjuang menemukan rupa yang hakiki

Karena yang diperlihatkan oleh kaca

Tidaklah sejati

Ketika engkau menyembah memuji

Tajamkan penglihatan

Kepada yang menggerakan sembahyang

Yakni Allah sejati

Kau sembah Ia dengan pasti

Tidak setengah hati

Menatap ini dan menatap itu

Sampai pula segala sesuatu

Tak ada yang kosong olehNya

Ia meliputi dan memenuhi apa saja

Bahkan ZatNya tampak

Bagi setiap mata yang waspada

Lainnya tiada, kecuali yang terlihat

Apabila sudah arif makrifat

Namun jika rabun oleh segala rupa

Yang tampak itu hakiki disangkanya

Lantaran tak tahu ajaran yang benar

Bingung yang terlihat dan terdengar

Tak bingung kalau tahu yang sejati

Bagi yang ingin melihatnya

Sirnakan segala rupa

Yakni dinding yang menutupi batin mata

Kalau sudah tercapai ia

Itulah makrifat namanya

Menempuh jalan, mencari

WajahNya yang kelihatan

Demikian engkau tahu menemukan Tuhan

Demikian engkau menempuh jalan

Yang sejak sediakala disediakan

Kalau dipandang tiada. Ia tiada

Maka jangan ragukan tempatNya

Kalau dipandang tiada, Ia tiada selamanya

Dari awal hingga akhir

Tak ada yang mengerti

Karena itulah dicari

Kalau dipandang ada, Ia ada, anakku

Hendaklah engkau waspada menatapNya

Lantaran tak ada lagi selain Ia

Tinggal bagai sepi

Satu wujud Abadi

SULUK SYEH MADEKUR

….

Orang yang tiba di gelombang Cinta

Gagap hendak menjelaskannya

Kalau merasa sebagai hamba

Wujud menjadi dua

Kalau merasa sebagai Tuhan

Ia tersekutukan

SULUK GEDHONG

Mijil

1

Sesungguhnya tidaklah ada yang tahu

Bahwa umpamanya Ia bersemayam di gedung itu

Tapi diketahuiNya ia yang tahu

Serta bagaimana segala mahluk berperilaku

Sungguh sebelum terjadi

Ia telah mengerti

2

Ketahuilah Sebelum segalanya terjadi

Ketika jagad kosong tanpa isi

Bahkan sebelum awang-uwung itu sendiri

Yang ada hanya Tuhan Sang Maha Widi

Hanya Ia pula yang mengetahui

Zat Mahaluhur dan Suci

3

Maka dibikinNya semua mahkluk ini

Agar ada yang mengenali

Diciptakannya jagat semesta

Dengan hanya satu sabda

Segalanya mengada seketika :

“Kun”

4

Sempurna tak ada kekurangan

Karena Tuhan yang menciptakan

Ia berkuasa karena DiriNya sendiri

Tanpa kesalahan sama sekali

Demikianlah tatkala semua terjadi

Bertahap menjadi dan menjadi

5

Maka bersabdalah Ia

Kenapa segenap alam yang dijadikanNya nyata

“Sungguh tak Kujadikan Jin dan manusia

Kecuali untuk satu:

Menyembah kepadaKu”

6

Menyembah untuk melihat

Dengan cara memandang yang khas

Menyembah seperti berkaca dalam cermin

Berjuang menemukan rupa yang hakiki

Karena yang diperlihatkan oleh kaca

Tidaklah sejati

9

Ketika engkau menyembah memuji

Tajamkan penglihatan

Kepada yang menggerakan sembahyang

Yakni Allah sejati

Kau sembah Ia dengan pasti

Tidak setengah hati

10

Menatap ini dan menatap itu

Sampai pula segala sesuatu

Tak ada yang kosong olehNya

Ia meliputi dan memenuhi apa saja

Bahkan ZatNya tampak

Bagi setiap mata yang waspada

11

Lainnya tiada, kecuali yang terlihat

Apabila sudah arif makrifat

Namun jika rabun oleh segala rupa

Yang tampak itu hakiki disangkanya

Lantaran tak tahu ajaran yang benar

Bingung yang terlihat dan terdengar

12

Tak bingung kalau tahu yang sejati

Bagi yang ingin melihatnya

Sirnakan segala rupa

Yakni dinding yang menutupi batin mata

Kalau sudah tercapai ia

Itulah makrifat namanya

13

Menempuh jalan, mencari

WajahNya yang kelihatan

Demikian engkau tahu menemukan Tuhan

Demikian engkau menempuh jalan

Yang sejak sediakala disediakan

14

Kalau dipandang tiada. Ia tiada

Maka jangan ragukan tempatNya

Kalau dipandang tiada, Ia tiada selamanya

Dari awal hingga akhir

Tak ada yang mengerti

Karena itulah dicari

15

Kalau dipandang ada, Ia ada, anakku

Hendaklah engkau waspada menatapNya

Lantaran tak ada lagi selain Ia

Tinggal bagai sepi

Satu wujud Abadi

@wongalus, 2009

Categories: SULUK PESISIRAN | 4 Komentar

AJARAN KEPEMIMPINAN PANCASETYA


Tidak hanya presiden, para menteri, pejabat eselon maupun bos atau manajer perusahaan saja yang disebut pemimpin. Setiap individu hakikatnya adalah pemimpin. Maka, dia perlu memegang ajaran kepemimpinan ini.

Ajaran kepemimpinan Jawa itu terdiri dari lima hal yang merupakan nilai-nilai yang paling prinsip. Kelima ajaran itu adalah:

1. SETYA BUDAYA
2. SETYA WACANA
3. SETYA SEMAYA
4. SETYA LAKSANA
5. SETYA MITRA

SETYA BUDAYA: Seorang pemimpin harus menghargai adat istiadat dan budaya masyarakat setempat. Dia harus mau untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial setempat. Pemimpin harus mengetahui hakikat budaya. Budaya adalah sebuah proses manusia untuk hidup yang lebih bijaksana, adil, selamat dan sejahtera. Proses itu tidak mengenal titik henti, sehingga pemimpin yang baik harus terus beradaptasi dan berasimilasi dengan budaya dimana dia memimpin.

SETYA WACANA: Seorang pemimpin harus mampu memegang teguh ucapannya. Bersatunya kata atau ucapan dan perbuatan nyata harus selaras. Tidak munafik dan membohongi masyarakat. Dia harus pandai berdiplomasi dan mengerti perkembangan situasi sosial, politik, ilmu pengetahuan dan wacana-wacana lain sehingga dia mampu memimpin dengan cerdas.

SETYA SEMAYA: Seorang pemimpin harus bisa melaksanakan janjinya semasa belum jadi pemimpin/kampanye. Janji adalah hutang yang harus dibayar setelah dia menjadi pemimpin. Janji memang diperlukan agar masyarakat berpikir optimis dan punya harapan untuk hidup yang lebih baik, namun janji harus dilaksanakan.

SETYA LAKSANA: Seorang pemimpin harus bertanggungjawab terhadap tugas yang diembannya. Tugas adalah kewajiban, bukan hak. Sehingga menunaikan kewajiban merupakan prinsip seorang pemimpin. Pemimpin harus bertanggungjawab kepada masyarakat, namun juga kepada Tuhan. Tanggungjawab iu tidak hanya di dunia, namun juga di akhirat maka tanggungjawabnya akan dipertanyakan. Tugas apapun yang diembankan oleh masyarakat harus dilaksanakan dengan ikhlas.

SETYA MITRA: Seorang pemimpin harus mampu membangun jaringan persahabatan dan perkawanan. Dia harus memiliki watak setia kawan yang setinggi-tingginya. Tidak boleh berkhianat kepada kawan. Tidak boleh culas dan egois. Seorang pemimpin perlu membangun sebuah kehidupan sosial yang kondusif dan membawa kemanfaatan bersama-sama. Kemanfaatan tidak boleh hanya bisa dirasakan oleh kelompok/kaumnya melainkan harus bisa dirasakan oleh semua golongan.

@. Wongalus, 2009

Categories: AJARAN KEPEMIMPINAN PANCASETYA | 19 Komentar

PENGOBATAN ALTERNATIF ALA SUNAN KALIJAGA


Pengobatan menggunakan kekuatan batin sudah demikian banyak dikenal di nusantara ini sejak lama. Berbagai teknik dan metode sudah dikenal di era kerajaan-kerajaan Sriwijaya, Maapahit, Mataram.

Era sekarang, kita mengenal juga banyak pengobatan alternatif modern, ditambah menggunakan ramuan herbal dan lain-lain. Ini jelas merupakan kekayaan budaya spiritual yang harus dilestarikan dan dikembangkan. Teknik dan metodenya yang beragam membantu masyarakat untuk memilih pengobatan alternatif yang sesuai dengan keinginannya.

Salah satu metode pengobatan kuno dengan pengerahan daya batin adalah sebagaimana yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga. Yaitu menyampaikan doa pada Tuhan Yang Maha Kuasa dengan keyakinan penuh bahwa doanya akan diijabahi oleh-Nya dengan diiringi sikap pasrah total dan ikhlas.

Doa yang diajarkan Sunan Kalijaga itu berbahasa Jawa. Doa yang disampaikan dengan bahasa Jawa, akan lebih meresap ke dalam hati sanubari masyarakat sehingga diharapkan sang pendoanya memahami makna dan tujuan doa tersebut.

Sebelum doa disampaikan, maka didahului oleh amalan PUASA MUTIH selama tiga atau tujuh hari. Puasa mutih yaitu puasa seperti biasa kita melaksanakan puasa Ramadhan. Namun pada saat berbuka, kita hanya memakan nasi dan air putih saja.

Tujuan puasa mutih ini adalah agar tubuh, pikiran, rasa pangrasa kita semakin manunggal untuk menggerakkan daya batin sehingga mampu untuk menggerakkan cinta kasih-Nya dan memberi ijabah pada doa yang akan disampaikan.

Setelah puasa mutih tiga atau tujuh hari dilaksanakan maka pemohon membaca doa sebagaimana berikut ini:

Ana kidung rumeksa ing wengi

Teguh hayu luputa ing lara

Luputa bilahi kabeh

Jim setan datan purun

Paneluh tan ana wani

Wiwah panggawe ala

Gunanung wong luput

Geni atemahan tirta

Maling adoh tan ana ngarah ing mami

Guna duduk pan sirna

Sakehing lara pan samya bali

Sakeh ngama pan sami miruda

Welas asih pandulune

Sakehing braja luput

Kadi kapuk tibaning wesi

Sakehing wisa tawa

Sato galak tutut

Kayu aeng lemah sangar

Songing landhak guwaning

Wong lemah miring

Myang pakiponing merak

Pangupakaning warak sakalir

Nadyan arca myang seraga asat

Temahan rahayu kabeh

Apan sarira ayu

Ingideran kang widadari

Rineksa malaekat

Lan sagung pra rasul

Pinayungan ing Hyang Suksma

Ati Adam utekku

Baginda Esis Pangucapku

ya Musa Napasku

Nabi Isa linuwih

Nabi Yakub pamiyarsaningwang

Dawud suwaraku mangke

Nabi Ibrahim nyawaku

Nabi Sleman kasekten mami

Nabi Yusup rupeng wang

Edris ing rambutku

Baginda Ngali kuliting wang

Abubakar getih daging

Ngumar singgih

Balung baginda Ngusman

Sumsumingsun Patimah linuwih

Siti Aminah bayuning angga

Ayup ing ususku mangke

Nabi Nuh ing jejantung

Nabi Yunus ing otot mami

Netraku ya Muhammad

Pamuluku Rasul Pinayungan Adam Kawa

Sampun pepak sakathahe para nabi

Dadya sarira tunggal

Inilah pengobatan alternatif untuk segala penyakit menggunakan teknik berpuasa dilanjutkan dengan berdoa. Pengobatan ala Sunan Kalijaga ini tidak bertentangan dengan akidah Tauhid bahkan bila diresapi dengan penghayatan yang mendalam, akan menambah iman kita pada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Kita yakin penyembuh semua penyakit adalah Dia sehingga kita sampaikan doa setulus-tulusnya padaNya agar mengijabahi permohonan kita

@ wongalus, 2009.

Categories: DOA SUNAN KALIJAGA | 28 Komentar

MENJADI GUSTI ALLAH


Menuju derajat “takwa” yang hakiki perlu perjuangan yang berat. Nglakoni tahap demi tahap dengan sabar, awas, eling dan waspada agar “ngelmu” kita semakin sempurna.

Adalah sebuah keharusan bila kita ingin peningkatan kualitas spiritual kita, maka kita dianjurkan untuk mengarahkan orientasi dari “luar” menuju ke “dalam”, kemudian mengarah lagi ke “luar” dan terakhir ke “dalam” lagi. Berikut keempat tahap itu:

I.

Sebagaimana perjalanan para nabi dalam sejarah, Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad SAW dan seterusnya…atau nabi Budha. Lahir, anak-anak dan beranjak remaja dia mengamati lingkungan sekitarnya. Tarafnya adalah olah indera dan raga, latihan kepekaan dan penajaman indera mata, telinga, perabaan kulit, menyerap dan menghembuskan nafas dan mulut untuk merasakan sesuatu. Berbagai pengalaman luar dirasakan oleh indera. Mata melihat bagaimana perjalanan kehidupan manusia: Lahir, remaja, dewasa, sakit, tua, mati…. Ini adalah tahap pemusatan ke luar… ke benda-benda / obyek-obyek khusus  SAMANTA BHAVANA.

II.

Tahap selanjutnya, mengarahkan pemusatan perhatian atau orientasi hidup ke “dalam”. Mulailah kita merenungkan hubungan sebab akibat, kenapa ada orang hidup..kenapa ada orang mati.. kenapa manusia dihidupkan, apa hakikat hidup… Apa penyebab semua yang hidup? Bila ada Sang Pencipta, kenapa dia menciptakan kita? …. Konsentrasi diarahkan ke pergerakan akal yang diliputi oleh batin/rasa pangrasa. Akal menemukan hakikat, rasa melanjutkan dengan penghayatan. Tuhan ditemukan melalui logika, dilanjutkan dengan mengakui dan mengimani keberadaannya. Terjadi evolusi pada setiap fase.

Ruhani manusia terus bermetamorfosis; dari orientasi jasad fisik, kemudian beralih konsentrasi ke batin. Dia mengolah batinnya, kejadian demi kejadian yang dialami dalam pengalaman nyata berhasil diambil kesimpulan bahwa SEMUA YANG ADA INI ADA HIKMAHNYA. Hikmah apa? Hikmah untuk memaknai perjalanan hidup ini dengan benar, lurus dan terbukanya pintu kebenaran. Shiratal mustaqim yakni jalan yang lurus. Jalan apa? Jalan kehendak, akal, nafsu menuju iradat Gusti. Jalan yang mengarah lurus itulah yang benar. Tanda-tanda orang yang sudah mencapai tahap benar ini adalah terbuka terhadap semua pandangan yang berbeda. Mampu meresapi semua keyakinan yang dianggap benar oleh setiap orang, dan kemudian mampu mengambil sari kebenaran tersebut. Dia telah mendapatkan PANDANGAN TERANG… VIPASSANA BHAVANA.

Inilah tahap IQRA sang Muhammad SAW, atau saat nabi Budha mendapatkan Pencerahan di bawah Pohon Bodhi. Mereka ditemui Ruhul Quddus, Malaikat Jibril. Gerak batin kita padu, serasi dan selaras dengan gerak batin-Nya. Mampu membaca keinginan Tuhan dalam hidupnya setiap hari. Batin kita tidak hanya mengingat-Nya dalam setiap tarikan/hembusan nafas dan detak nadi. Namun juga batin kita berkomunikasi intensif berbicara, berbincang-bincang, berdiskusi dengan batin-Nya. Seperti orang berkasih-kasihan. Keduanya saling menakar, mempertimbangkan dan menilai masing-masing.

III.

Tahap selanjutnya perjalanan spiritual yang lebih tinggi lagi adalah meditasi ke semua titik. Mengarahkan konsentrasi indera, batin dalam perbuatan nyata. Tapa ngrame. Beramal sosial. Menyempurnakan penciptaan Tuhan. Memayu hayuning bawono untuk Memayu Hayuningrat. Pada tahap ini, semua sudah terang benderang di depan semua inderanya, di dalam batinnya. Ibadah sosial ini dilakukan tanpa pamrih apa-apa, kecuali netepi titahing Gusti. Apa saja titah gusti pada kawolo/hamba akan dilaksanakan tanpa malas. Bila tidak dilaksanakan, dia akan terkena hukuman. Pengajaran Tuhan disampaikan secara langsung tanpa utusan gaib lagi. Ini tahap saat Nabi berjuang untuk memberi kabar Tuhan, berdakwah terang-terangan ke segenap sedulur papat/semua arah penjuru bumi. Menyebarkan kasih sayang-Nya. Tuhan mewartakan apa saja, sang hamba berkewajiban melanjutkan sabda-Nya.

Dia sudah berderajat para nabi dengan pencapaian ruhani yang sangat tinggi. Namun dia sadar tetap manusia biasa yang masih punya jasad. Kesadaran bahwa kita tetap manusia harus dimiliki. Syariat agama tidak boleh ditinggalkan. Semua nabi telah mencapai derajat ketiga ini. Dia sudah ada di langit ketujuh, langit diri pribadi tertinggi…

IV.

Tahap selanjutnya meditasi adalah mengarahkan diri ke “dalam” lagi. Manusia sudah tinggal aku sejati/ruhnya saja. Ngracut, mencair dan menguap bersama Gusti. Ia sudah mukso. Menjadi cahaya bersama-Nya. Hidupnya abadi. Tidak mengenal kematian. Kematian sudah bisa ditentukan kapan dan dimana. Manusia bisa melihat apa yang akan terjadi. Rentangan kejadian yang ada di alam semesta dilihatnya dengan diam. Semua gerakan batin yang menggelora ada di kekuasaannya. Sang diri pribadi mampu membaca buku “agenda” yang dibuat bersama antara ruh kawulo dengan Gustinya lagi.

Bila selama ini dia hanya bisa meraba-raba, sekarang dia sudah dengan sangat gamblang membaca agenda tersebut. Komunikasi dengan Gusti sudah tidak ada. Kenapa? Bukankah komunikasi butuh dua kehendak yang berbeda? Sementara di tahap akhir ini, dua kehendak itu sudah menjadi satu kehendak saja. Pada tahap ini, Kawulo sudah manunggal/jumbuh dengan Gustinya. Manunggal apanya? Semuanya. Ya iradatnya, ya sifat-sifat-Nya, ya asma-Nya, ya af’Alnya/perbuatannya.

Dia adalah Sumber dari Segala Sumber Cahaya Kebenaran itu sendiri. Apapun yang diinginkannya, adalah Kun Fayakun. Dia mengalami suwung… fana…..dalam kesatuan-Nya…. inilah hakikat takwa: yaitu “benar-benar” menjadi Gusti Allah… Ini hanya dicapai oleh pribadi yang telah tersinari oleh Nur Muhammad, diri pribadi yang memancarkan nilai-nilai terpuji. Sudah tidak ada langit lagi yang harus didaki, bahkan langit dan bumi sudah manunggal dalam satu titik lagi.

@2009. wongalus

Categories: MENJADI GUSTI ALLAH | 13 Komentar

WUJUD ALLAH MENURUT SEMBILAN WALI


Makrifatullah sebagai pengenalan tertinggi kawulo/hamba pada gusti telah dialami oleh para wali penyebar agama Islam di Nusantara. Mereka adalah suri tauladan pencapaian pendakian spiritual bagi kita, pencari jalan Ilahi. Apa dan bagaimana makrifat dari para wali  dan bagaimana wujud Tuhan yang sebenarnya?

Makrifat adalah sebuah situasi mental dan kondisi kejiwaan yang  dialami oleh siapapun yang menginginkan adanya perjumpaan dengan Tuhan Semesta Alam. Salah satu momen makrifat yang paling fenomenal dalam sejarah para nabi adalah apa yang dialami Nabi Musa As saat ekstase/ fana/jatuh tersungkur di bukit Sinai saat “menatap” wajah-Nya setelah gunung yang ada di depannya hancur karena tidak sanggup ditempati pancaran cahaya-Nya.

Makrifat bisa diraih dengan perjuangan dan laku yang berat.Dalam khasanah tasawuf, kita akan diajari bagaimana laku yang berat tersebut harus dijalankan untuk menyingkirkan dan menerobos hijab menuju langit. Hijab adalah tirai selubung penutup batin kita sehingga kita tidak mampu menggapai wujud-Nya.

Hijab di dalam perbendaharaan kaum sufi bisa dikategorikan menjadi sepuluh besar. Hijab ini berasal dari empat unsur, yaitu unsur jiwa, dunia, hawa nafsu, dan setan:

Hijab ta’thil, yaitu meniadakan asma’ dan sifat Allah.

Hijab berupa kemusyrikan, yaitu manembah kepada selain Allah.

Hijab bid’ah qauliyah yang tidak ada pijakannya dalam agama).

Hijab bid’ah ‘amaliah atau perbuatan yang menyimpang dari kebenaran iman dan ikhsan

Hijab batiniyah: takabur, ujub, riya, hasad, bangga diri, sombong dan iri dengki dan lain-lain.

Hijab lahiriyah: Perbuatan Ibadah yang tidak diniatkan untuk berjumpa dengan-Nya.

Hijab dosa kecil. Melakukan perbuatan dosa-dosa kecil namun banyak.

Hijab mubah. Melakukan perbuatan mubah namun tidak dianggap sebagai sebuah dosa.

Hijab lalai dari misi penciptaan dan iradat Allah.

Hijab penempuh jalan spiritual yang bersusah-payah, tetapi namun tidak sampai tujuan.

“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-bena tehijab dari (melihat) Rabb mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka”
(Al-Muthaffifin: 15-16)

Setelah semua hijab terbuka dan seseorang pejalan spiritual sudah sampai ke langit ketujuh di dalam diri sejatinya, maka seseorang akan kebingungan dan berada di alam “suwung”/ ora ono opo-opo. Semua pendamping kini telah meninggalkannya termasuk diri, malaikat dan para rasul. Dia kemudian dibimbing oleh Tuhan sendiri untuk berjumpa dengan  Dzat-Nya.

Apa yang terjadi sesudah kita bermakrifatullah? Tidak ada kata yang mampu menjelaskan situasi dan kondisi fana tersebut. Namun, kita bisa mendapatkan penjelasan dari para wali saat mengalami fana tersebut. Bagaimana wujud Allah SWT?

Sunan Kalijaga: “Allah itu adalah seumpama memainkan wayang.”

Syekh Majagung: “Allah itu bukan disana atau disitu, tetapi ini.”

Syekh Maghribi: “Allah itu meliputi segala sesuatu.”

Syekh Bentong: “Allah itu itu bukan disana sini, ya inilah.”

Sunan Bonang: , “Allah itu tidak berwarna, tidak berupa, tidak berarah, tidak bertempat, tidak berbahasa, tidak bersuara, wajib adanya, mustahil tidak adanya.”

Sunan Kudus: “Jangan suka terlanjur bahasa menurut pendapat hamba adapun Allah itu tidak bersekutu dengan sesama.”

Sunan Giri berpendapat, “Allah itu adalah jauhnya tanpa batas, dekatnya tanpa rabaan.”

Syekh Siti Jenar: “Allah itu adalah keadaanku. Sesungguhnya aku inilah haq Allah pun tiada wujud dua, nanti Allah sekarang Allah, tetap dzahir batin Allah”

Sunan Gunung Jati:  “Allah itu adalah yang berwujud haq”

***

@. wongalus, 2009

Categories: WUJUD ALLAH MENURUT PARA WALI | 82 Komentar

MAKRIFAT SUNAN KALIJAGA


Jeng Sunan Kalijaga ngling
Amdehar ing pangawikan
Den waspada ing mangkene
Sampun nganggo kumalamat
Den awas ing pangeran
Kadya paran awasipun
Pangeran pan ora rupa

Nora arah nora warni
Tan ana ing wujudira
Tanpa mangsa tanpa enggon
Sajatine nora nana
Lamun ora anaa
Dadi jagadipun suwung
Nora nana wujudira


(Sunan Kalijaga berkata, memaparkan pengetahuannya.
Hendaknya waspada pada yang berikut ini.
Janganlah ragu-ragu. Lihatlah Tuhan secara jelas.
Tapi, bagaimana melihat-Nya.
Karena Tuhan itu tidak memiliki rupa.

Tuhan tidak berarah dan tidak berwarna.
Tidak ada wujud-Nya. Tidak terikat oleh waktu dan tempat.
Sebenarnya Ada-Nya itu tiada.
Seandainya Dia tidak ada,
maka alam raya ini kosong dan tidak ada wujudnya.)

–Serat Siti Jenar, Tan Khoen Swie Kediri 1922

Pendakian spiritual itu mulai dari mana? Mulai dari syariat dulu, kemudian menuju tarikat, hakikat dan akhirnya sampai pada makrifat? Atau Makrifat (mengenal Tuhan) dulu, kemudian penghayatan hakikat, kemudian menjalankan tarikat dan melaksanakan syariat? Menurut saya, pendakian spiritual bisa dari mana-mana. Kita tidak perlu kebingungan terhadap mana yang harus terlebih dulu kita jalani. Semuanya boleh sebagai titik pijak untuk memulai perjalanan.
Ada banyak teman yang memulai perjalanan spiritual dengan “tidak percaya” terhadap adanya Tuhan. Lalu belajar tentang ilmu ketuhanan, dan setelah kedewasaan intelektualnya mengalami kemapanan dan kemudian dia yakin adanya Tuhan dan kemudian menjalankan syariat. Yang demikian ini hebat.

Ada yang memulai dengan menjalankan syariat agama. Sebab dari kecil dia berada di dalam lingkungan yang taat beragama. Oleh orang tuanya, dia dididik untuk menjalankan syariat agama secara leterluks. Kemudian seiring perjalanan usianya, dia mulai mencari tahu dengan banyak belajar tentang agama, yang telah dijalaninya selama ini. Himngga kemudian pengetahuan dan perenungannya sampai pada hakikat. Kemudian dia menjalani laku suluk/tasawuf dan akhirnya mendapatkan pencerahan Makrifat. Yang demikian ini luar biasa.

Ada pula yang tidak mulai apa-apa. Ya tidak menjalankan syariat agama, ya tidak berusaha mencari tahu tentang Tuhan. Dia skeptis dan agnostik terhadap berbagai wacara agama serta kerokhanian. Dia seakan puas dengan apa yang ada pada dirinya. Otaknya tidak digunakan untuk berpikir tentang Tuhan. Namun, di tengah hidupnya dia dipaksa untuk menerima banyak hal yang tidak mauk akal hingga suatu ketika kesadarannya mengalami “BYAR”. Tiba-tiba dia sadar apa yang telah dijalaninya selama ini. Dia pun menemukan Tuhan di dalam hidupnya. Sukur alhamdulillah.

Suatu saat dalam hidupnya, Tuhan pasti akan datang membawa cahaya-Nya yang suci. Dia akan menerangi diri pribadi kita sehingga yang sebelumnya hanya mampu melihat fakta-fakta dengan inderanya, maka setelah pencerahan Tuhan itu datang maka dia mampu untuk melihat hubungan antar fakta dan akhirnya menemukan kesimpulan bahwa hanya ada satu Tuhan yang wajib disembah oleh manusia.

Tuhan itu bukan benda-benda. Tuhan ya Tuhan. Adanya berbeda dengan apa yang pernah diketahui oleh manusia. Yang pernah diketahui oleh manusia berasal dari pengalaman inderanya. Nah, wujud Tuhan ini tidak ada di dalam gudang memori manusia. Sehingga mengatakan Tuhan seperti A, B, C pasti jelas bukan Tuhan. Tuhan sebagaimana yang dibayangkan oleh manusia, tentu berbeda dengan Tuhan sebagaimana wujud-Nya yang asli. Anggapan tentang Tuhan beda dengan Tuhan yang sebenarnya. Sama seperti anggapan saya tentang mobil Mercy, tidak sama dengan mobil Mercy yang sebenarnya. Sebab saya buta tentang mobil, apalagi tidak pernah memiliki mercy sebelumnya sehingga penggambaran saya tentang Mercy berbeda dengan Mercy yang sebenarnya.

Dikatakan oleh Sunan Kalijaga, sebenarnya wujud Tuhan sangat jelas… sangat sangat jelas! Nah, kejelasan ini pasti tidak dimaknai sebagaimana kejelasan benda-benda. Benda bisa dilihat oleh indera. Namun wujud Tuhan? Disinilah kita akan semakin beranjak arif bahwa Tuhan yang tidak bisa digambarkan oleh kata-kata manusia itu harusnya tidak dilihat dengan indera. Namun oleh “sesuatu” yang adanya jauh berada di dalam diri manusia. Yaitu batin yang intuitif yang disebut dengan guru sejati. Guru sejatilah yang mampu mengantarkan kita untuk melihat dengan jelas diri pribadi. (sukma sejati) Diri sejati adalah tempat bersemayam Tuhan dalam diri manusia. Di situlah Tuhan duduk di atas arasy.

Sukma sejati atau Diri Sejati berasal dari Cahaya Yang Terpuji yaitu dari NUR MUHAMMAD. Nur Muhammad hanya ada SATU. Dan NUR MUHAMMAD inlah yang selalu mendapatkan PANCARAN ILAHI. Semua yang ada ini pada mulanya satu, termasuk manusia. Asal cahaya itu satu. Pancarannya ke segenap arah inilah yang menyebabkan terjadinya “aku” yang jumlahnya banyak. Meski sekarang kita melihat YANG BANYAK namun itu semua adalah perwujudan dari satu CAHAYA.

Melatih kepekaan batin yang intuitif oleh karenanya sangat penting. Berbagai macam cara dilakukan oleh peradaban manusia untuk menemukan Tuhan di dalam diri manusia. Misalnya dengan berkhalwat, atau mengadakan perjalanan spiritual ke tempat-tempat yang sepi untuk kemudian berdzikir hingga dia merasakan kefanaan.

Dalam kesendiriannya, sang pejalan spiritual akan menemui banyak ilusi/bayangan yang mempesona batin. Namun dia tidak boleh menggap bayangan itulah kenyataan Tuhan. Perjalanan diteruskan hingga pendakian memasuki godaan besar. Dia ditawari berbagai macam kemuliaan dunia. Egonya yang masih melekat pada harta, benda, tahta dan wanita ditantang agar dituruti namun dengan imbalan dia harus menghentikan perjalanannya. Ini tahap berbahaya menuju final.

Bila perjalanan diteruskan lagi, dia akan sampai pada kesendirian dan kesenyapan, Tiba-tiba semua yang nggandoli egonya terlepas begitu saja. Dia tidak butuh apa-apa lagi. Di tahap ini, semua pendamping perjalanan yang selama ini menemaninya satu persatu otomatis terlepas. Pengiring batin terlepas, Malaikat lepas karena tidak sanggup menemani lagi, semua saudara gaib melepaskan dirinya. Ya, dia polos seorang diri menuju Tuhan. Dia kini sudah dituntun oleh Tuhan sendiri untuk melihat Sang Penuntun, yaitu AKU. Ya, manusia sudah bisa melihat AKU SEJATI-NYA tanpa was-was tanpa samar-samar lagi. AKU SEJATI itu begitu terang benderang.

Inilah saat mind/pikiran/budi/rasa sudah tidak lagi digunakan. Atau disebut dengan NO MIND. Dia sampai tahap SUWUNG atau FANA. Kata tidak lagi mampu untuk membahasakan apa fana itu. Sebab kata sangatlah terbatas untuk menggambarkan sesuatu. Apalagi ini menunjuk pada kata yang bukan kata benda, bukan kata sifat, bukan kata keterangan, bukan kata kerja, bukan apa-apa…. ya paling gampang kita sebut saja SUWUNG alias MBUH ORA WERUH. Sebab kita tidak membutuhkan berbagai alat indera dan batin lagi. Kita hanya pasrah, sumeleh, sumarah saja pada Iradat GUSTI. **

(wongalus)

Categories: MAKRIFAT SUNAN KALIJAGA | 71 Komentar

ILMU SEJATI MENURUT SYEKH SITI JENAR


“Sajati jatining ngelmu
Lungguhe cipta pribadi
Pustining pangestinira
Gineleng dadya sawiji,
Wijaning ngelmu dyatmika
Neng kahanan ening-ening”

Hakikat ilmu yang sejati
Letaknya pada cipta pribadi
Maksud dan tujuannya,
Disatukan adanya,
Lahirnya ilmu unggul,
Dalam keadaan hening seheningnya

— “Serat Siti Jenar”

Dalam paradigma filsafat ilmu, definisi dari ilmu adalah pengetahuan yang telah diproses sedemikian rupa menggunakan metode, sistematisasi, memiliki obyek forma/sudut tinjau (point of view) dll. Metode ilmu berbeda-beda. Tergantung pada obyek material/materi yang diteliti. Namun, ilmu dalam pemahaman kalangan spiritualis biasanya dipahami lebih kompleks dari itu. Ilmu tidak hanya pengetahuan yang telah diproses dengan metode, sietematisasi, obyek dll… melainkan lebih luas. Meliputi wilayah ilmu sebagai teori dan juga praktik sebagai sarana untuk manembah ke diri pribadi yang merupakan pengejawantahan DIRI-NYA Gusti Inkang Akaryo Jagad.

SYEKH SITI JENAR juga menghayati ilmu seperti pemahaman ini. Terwujudnya ilmu/ngelmu karena ada usaha dan aspek tindakan nyata dari teori. (Ngelmu iku kalakone kanthi laku) Untuk mendapatkan ngelmu, Siti Jenar mensyaratkan adanya perjuangan yang berat, sungguh-sungguh, teliti dan sabar. Bahkan ada syarat khusus yaitu pelaku ngelmu tersebut harus meper hawa nafsunya. Ilmu yang dicari oleh Siti Jenar adalah ilmu sejati, yaitu ilmu yang harus dihayati dan memberikan kemanfaatan hidup di dunia dan diakhirat. Jadi ilmu harus memiliki dimensi pragmatis/kemanfaatan/kegunaan yang besar.

Teori itu penting namun lebih penting lagi adalah mampu mempraktikkan ilmu tersebut untuk kemanfaatan sesame makhluk Tuhan. Ibarat insinyur, teori membangun gedung itu penting. Namun yang lebih penting adalah bagaimana insinyur tersebut mampu mengaplikasikan teori tersebut untuk membangun gedung. Syekh Siti Jenar membimbing orang untuk mampu mengetahui ilmu dari Gusti Yang Maha Tunggal dengan mengetahui kenyataan ini adalah sebuah perwujudan kodrat-Nya. Siapa yang mampu memiliki ilmu ini? Tidak lain pribadi yang tahu, paham dan mempraktekkan kodrat, iradat dan ilmunya.

Ilmu yang sebenarnya/ilmu sejati menurut Siti Jenar berada di dalam cipta pribadi. Ide dan kreasi yang lahir dari dalam diri sendiri. Yang adanya di dalam diri yang paling dalam. Biasanya, kita mengetahui sesuatu itu berasal dari luar, melalui indera/pengalaman indera dan melalui pengajaran-pengajaran dari orang lain/guru/dosen. Namun, kata Siti Jenar, ilmu sejati yang memberi pengajaran adalah DIRI SEJATI. Diri Sejati itu berada di dalam lapisan diri yang paling dalam. Maka, pengetahuan tentang ilmu sejati, menurut Siti Jenar, hanya bisa ditemukan melalui ketajaman batin yang sumbernya dari hening dan sepinya diri. Sebab ilmu sejati memang adanya di kedalaman kesadaran manusia yang paling dalam.

Untuk mendapatkan ilmu sejati, manusia harus sepi ing pamrih rame ing gawe. Bebas dari nafsu dan ego pribadi apapun juga. Batin benar-benar menyatu dalam irama keheningan samadi. Hati dan pikiran tertuju pada fokus: Hu Allah! Itu saja, sehingga tidak ada konflik batin karena semuanya hakikatnya SATU. Susah-senang, baik-buruk, benar-salah, hitam-putih semuanya sumbernya satu dan tidak saling mengalahkan. Semuanya bisa diresapi dalam diamnya pribadi kita untuk selalu menyatu dengan pribadi-Nya. Sedulur papat limo pancer: Empat saudara yaitu ketuban, ari-ari, tali pusat dan darah yang menyertai kelahiran bayi ke alam dunia. Keempat saudara itu secara simbolik akan mati dan bersifat sementara, tinggal Pancernya—Ruh—Pribadi yang hidup. Pancer yang berupa ruh itulah DIRI PRIBADI MANUSIA.

Manusia sejati, menurut Siti Jenar, harus mengetahui GURU SEJATI-nya. Guru Sejati itu semacam intuisi/indera keenam hasil olahan dari RASA yang sangat dalam. Guru sejati adalah RUH yang memperkuat Sukma Sejati/sang pribadi dalam hidup ini. Sementara Sukma Sejati adalah tempat atau wadah bagi dunungnya SANG PRIBADI. Ilmu-ilmu tentang yang demikian itulah oleh Siti Jenar dikatakan sebagai ILMU SEJATI. ***

(wong alus)

Categories: ILMU SEJATI SITI JENAR | 115 Komentar

DOA NURBUWAT


NURBUWAT

“Bismillaahir rohmaanir rohiim. Allahumma dhisshulthanil adziim. Wa dzil mannil qadim wa dzil wajhil kariim wa waliyyil kalimaatit tammaati wad da’awaati mustajaabati ‘aaqilil hasani wal husaini min anfusil haqqi ‘ainil qudrati wannaazhirinna wa ‘ainil insi wal jinni wa in yakadul ladzinna kafaruu la yuzliquunaka bi-abshaarihim lamma sami’udz dzikra wa yaquuluuna innahu lamajnuun wa maa huwa illa dzikrul lil ‘aalamiin wa mustajaabu luqmanil hakiimi wa waritsa sulaimaanu daawuda ‘alaihis salaamu al waduudu dzul ‘arsyil majiid thawwil ‘umrii wa shahhih ajsadii waqdli haajatii waktsir amwaalii wa aulaadii wa habbib linnaasi ajma’in. Watabaa ‘adil ‘adaa wata kullahaa min banii aadama ‘alaihis salaamu man kaana hayya wa yahiqqal baathilu innal baathila kaana zahuuqaa. Wa nunazzilu minal qur’aani maa huwa syifaa-uw wa rahmatul lil mu’miniina. Subhaana rabbika rabbil ‘izzati ‘ammmaa yashifuuna wa salaamun ‘alal murshaliina wal hamdu lillahi rabbil ‘aalamiin.”

*********

(“Ya Allah robb yang memiliki kekuatan yang agung, yang memiliki kemauan yang abadi dan yang memiliki wajah yang mulia dan sebagai pelindung kalimat-kalimat-nya serta pengabul do’a-do’a, kecerdasan hasan dan husein dari jiwa yang benar, pelindung indra mereka yang melihat serta indra jin dan manusia. Dan ketika orang-orang kafir akan menggelincirkan kamu dengan penglihatan sihir mereka tatkala mereka mendengar peringatan lalu mereka berkata-kata, sesungguhnya ia adalah gila. Tiadalah itu semua melainkan sebagai peringatan bagi seluruh alam. Allah yang mengabulkan do’a luqmanul hakim dan mewariskan sulaiman bin daud a.s. Ya allah robb yang maha penuh kasih, ya allah, ya allah, ya allah robb yang memiliki singgasana yang agung, yang dapat berbuat apa yang diinginkan, maka panjangkanlah umurku dan sehatkanlah tubuhku, perkenankanlah hajatku, limpahkanlah hartaku dan anak-anakku, dan berikanlah rasa cinta semua manusia kepadaku, jauhkanlah permusuhan dan pertentangan dari diriku dari semua anak cucu adam a.s. Allah yang hidup dan perkataan itu benar atas orang-orang kafir. Dan katakanlah telah datang yang haq dan telah sirnalah yang bathil karena sesungguhnya yang bathil itu pasti akan sirna. Dan kami telah menurunkan al-qur’an itu sebagai penyembuh dan rahmat untuk orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang dhalim itu tidaklah mendapat sesuatu di dunia ini melainkan kerugian.”)

@ 2009, Wong Alus

Categories: DOA NURBUWAT | 168 Komentar

KEARIFAN BUDAYA MEMBACA BENCANA


Peristiwa alam yang memakan korban manusia disebut bencana, sedangkan peristiwa alam yang tidak berakibat pada manusia bukan merupakan bencana. Budaya masyarakat kita ternyata sudah memiliki cara membaca bencana. Perlu dipadukan dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Kitab Alqur’an surat QS Al Hadid, 22-24 menyatakan sebagai berikut: “TIADA SUATU PUN BENCANA YANG MENIMPA DI BUMI INI ATAU PADA DIRIMU SENDIRI, MELAINKAN SUDAH ADA “KITAB” (CATATAN/BLUE PRINT) SEBELUM KAMI (TUHAN) MEWUJUDKANNYA. SUNGGUH BAGI ALLAH, YANG DEMIKIAN ITU MUDAH”

Apa yang kita pahami dari ayat ini? Saya memahaminya sebagai berikut: Bahwa yang disebut musibah, bencana atau penderitaan semuanya sudah ada cetak biru sebelum semua yang ada ini diciptakan. Tidak ubahnya seorang arsitek yang membuat gambar bangunan sebelum bangunan itu dibangun.

Bedanya: CETAK BIRU BENCANA ITU YANG MEMBUAT MANUSIA SENDIRI. TUHAN yang Maha Kuasa memberikan IRADAT-NYA kepada kita. Dan Dia tidak merugikan manusia sekecil apapun. Ruh manusia sebelum diadakan di dunia ini, berdiskusi dan bernegosiasi dengan Tuhan. Manusia mendapatkan hak prerogratif untuk hidup berdasarkan hukum alam. Inilah saat cetak biru itu dibuat. Cetak biru itu menentukan masa kini dan masa depan manusia.

Kita sekarang ini adalah wujud cetak biru kita di masa lalu. Masa depan adalah wujud cetak biru kita di masa kini. Semuanya sudah tergambar dalam kitab “hukum alam”. Ini berarti kita telah menyetujui bahwa akan terjadi bencana alam bila kita melakukan perbuatan A, B, atau C. Jadi kita tidak selayaknya sedih atau senang bila ada BENCANA ALAM.

Kenapa? Sebab itu adalah HASIL PERBUATAN KITA SENDIRI. Maka, hendaknya kita membuat kebajikan dan amal sholeh sekarang agar masa depan kita akan menjadi baik. Ayat kedua menyatakan alasan-alasan logisnya: “HAL INI DIMAKSUDKAN AGAR KALIAN SEMUA TIDAK BERDUKA CITA TERHADAP APA YANG LUPUT DARI USAHAMU, DAN TIDAK TERLALU GEMBIRA TERHADAP APA YANG KAMU DAPATKAN (DI DALAM HIDUP INI). ALLAH TIDAK MENCINTAI ORANG YANG SOMBONG DAN MEMBANGGAKAN DIRI” “MEREKA ADALAH ORANG-ORANG YANG BAKHIL DAN MENYURUH ORANG LAIN BERBUAT BAKHIL. BARANGSIAPA YANG BERALING DARI KEBENARAN, KETAHUILAH ALLAH ITU MAHA KAYA DAN MAHA TERPUJI”

Tuhan pasti tidak merugikan manusia. Tidak pula memaksa manusia itu menerima perjanjiannya. Dia tawarkan dengan sukarela. Apa yang kita terima dalam hidup sekarang ini, merupakan hasil dari pilihan kita sendiri. Kita diberi kesempatan untuk berkarya buat kehidupan di masa yang akan datang. Soal bencana alam sebagai akibat dari perbuatan manusia tersebut ada alasan ilmiahnya. Sesaat, kita barangkali tidak bisa menghubungkan kejadian bencana alam dengan polah tingkah manusia. Padahal dua hal ini sangat erat hubungannya.

Penjelasannya seperti ini: Bencana alam geologi pada umumnya berukuran besar. Bencana alam terbagi menjadi bencana yang disebabkan murni oleh alam, bencana karena ulah manusia, dan terakhir adalah bencana campuran keduanya. Bencana alam geologi terjadi karena dinamisme kerak bumi yang dalam keberadaannya kurang lebih 5 miliar tahun telah secara terus menerus melepaskan energi panas dalam berbagai bentuk. Pelepasan energi ini tidak lebih karena proses pendinginan bumi sehingga kondisinya memungkinkan untuk dihuni oleh makhluk bumi.

Namun manusialah yang  berkontribusi dalam pemanasan global. Hal ini mengakibatkan bencana alam. Dalam lintasan sejarah, bencana alam geologi sangat akrab dengan budaya manusia. Sebagai contoh, pusat kerajaan Mataram yang harus pindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur karena letusan gunung Merapi. Contoh lainnya adalah kota Pompeii, sebuah kota zaman Romawi kuno yang hancur karena letusan gunung vesuvius.

Sudah sejak lama Gunung berapi juga dipahami sebagai sumber kekuatan, contoh nyatanya adalah Keraton di Yogyakarta, Tugu, dan Gunung Merapi yang berada dalam satu garis lurus. Secara kebetulan atau tidak, Gedung Sate yang notabene dibangun oleh Belanda, Tugu Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat dan Gunung Tangkuban Parahu juga berada dalam satu garis lurus.

Gempa bumi yang beberapa saat lalu menimpa saudara-saudara kita di Sumatra Barat adalah contoh bagaimana sebenarnya gempa tidak pandang bulu. Menimpa masyarakat tanpa memandang kasta, agama, ras suku bangsa apapun. Bahkan, yang paling banyak menjadi korban biasanya justeru masyarakat yang secara ekonomi dikategorikan miskin. Ini juga terjadi di Yogyakarta dan bahkan di Kobe Jepang tahun 1955. Kenapa kaum miskin?.

Ini terjadi karena kaum miskin kebanyakan tinggal di wilayah padat dimana fasilitas jalan di sana dan menuju ke sana kurang layak sehingga bantuan tidak segera datang, karena akses yang kurang ideal. Rumah-rumah warga miskin cenderung berada di sekitar gunung, pesisir atau sungai dan terbangun di atas tanah lempung (silt) atau di wilayah reklamasi. Fondasi di daerah seperti itu tidaklah tahan gempa. Hal ini jauh berbeda jika dibandingkan dengan wilayah hunian kelompok elite, dimana terdapat fasilitas jalan yang bagus dan memadai, rumah-rumah merka berdiri di dataran yang kuat dan sebagainya.

KEARIFAN BUDAYA

Budaya masyarakat biasanya menyesuaikan dengan alam. Budaya adalah kearifan lokal yang bisa dijadikan cara atau alat untuk menyelamatkan diri dari bencana alam. Misalnya bencana tsunani di Aceh 2004. Di Simelue, Aceh kenapa korban yang jatuh di daerah tersebut relatif kecil jika dibandingkan dengan wilayah lain, yaitu hanya sekitar 44 jiwa?

Sebab para orangtua di daerah tersebut telah mengetahui apa yang mereka anggap sebagai pertanda. Jika laut surut tidak seperti biasanya secara mendadak, kemudian banyak ikan yang menggelepar di garis pantai, maka akan terjadi bencana. Para tetua di sana kemudian memerintahkan agar penduduk Simeleu untuk mengungsi ke tempat yang lebih tinggi..

Budaya berkaitan dengan alam. Bahkan dalam banyak peradaban, dikenal ilmu perbintangan dan penanggalan berdasarkan fenomena alam. Misalnya, masyarakat Sunda yang mempunyai kalender Kala Sunda dan masyarakat Jawa memiliki Kalender Pranata Mangsa. Kalender-kalender tersebut tidak hanya sebagai penanda waktu seperti kalender sekarang, namun lebih dari itu, terdapat makna dalam waktu-waktu tertentu.

Dalam Saka Sunda dikenal Kasa pada sekitar Januari, dimana angin bertiup dari barat dan diperkirakan racun terbang tertiup angin. Ciri-cirinya adalah: hujan terus menerus, sumber-sumber air menjadi besar, sungai-sungai banjir. Pohon-pohon yang masih berbuah adalah: Durian, Kepundung, Salak, Nangka Belanda, Lengkeng dan Gandaria. Pada masa ini burung-burung akan sulit mencari makan, makanya akan terjadi migrasi. Untuk petani, kegiatan yang harus dilakukan adalh memperbaiki pematang sawah yang hancur akibat banjir.

Namun berbagai kalender yang disusun oleh para leluhur itu, agaknya kini sudah kurang cocok diterapkan lagi. Ulah tingkah manusia modern yang gemar mengeksploitasi alam habis-habisan membuat pergerakan alam susah untuk dibaca. Kalender itu meskipun kini kurang cocok, namun tidak serta merta harus ditinggalkan.

Kearifan lokal perlu diuji secara empirik dan dikembangkan sehingga menjadi masukan besar bagi pengetahuan, khususnya penanggulangan bencana alam. Sementara itu, manusia yang merupakan “makrokosmos” (lebih besar dari pada alam karena besar/kecilnya alam secara metafisis batiniah ditentukan oleh diri manusia) terap harus berkaca diri: dialah sumber bencana yang sesungguhnya.

(wong alus)

Categories: BENCANA ULAH MANUSIA | 17 Komentar

KESURUPAN


Kesurupan berasal dari kata “Surup” yang artinya sore hari menjelang maghrib. Pada saat surup-surup inilah makhluk halus dengan mudah memasuki dimensi fisis.

Orang Jawa dulu biasanya memberi nasehat kepada anak-anaknya agar tidak keluar rumah menjelang mahgrib tiba. Sebab pada saat itu, para hantu ke luar rumah untuk berjalan-jalan. Bila mereka menemui anak-anak kecil, maka akibatnya anak tersebut akan mengalami kesurupan. Nasehat dan anjuran para sepuh Jawa ini tidak ada yang salah.

Setidaknya, ada aspek positifnya bila diterapkan pada masa sekarang. Yaitu pada saat maghrib, anak-anak diajari untuk tertib. Menghentikan aktivitas bermain dan kemudian diajarkan untuk ngaji, sholat atau beribadah lain. Anak-anak diajari untuk menghargai waktu sehingga mereka kelak akan memaknai waktu sebagai karunia Tuhan yang harus diisi sebaik-baiknya.

Kedua, anak-anak diajari untuk “waskita” atau memiliki kecerdasan kosmis untuk memandang segala sesuatu secara holistik, ya aspek fisik ya aspek metafisiknya. Kelak bila mereka sudah memasuki usia dewasa, akal mereka akan berpikir kenapa orang tua melarang bermain di waktu surup. Pembelajaran kewaskitaan di dunia pendidikan kini sudah tergerus oleh pemonorsatuan aspek kognitif/akal saja. Sementara pembelajaran yang menekankan pada optimalisasi aspek mental dan spiritual tercecer bahkan tidak lagi mendapat prioritas.

Budaya, mitos dan spiritual sesungguhnya adalah tiga aspek yang sangat penting untuk menyampaikan sebuah ajaran. Di dunia pendidikan, budaya harus dikembangkan karena setiap individu harus hidup di lingkungan sosial kemasyarakatan yang sudah ada tata nilai dan keyakinan bersama. Mitos adalah sarana agar ajaran-ajaran spiritual yang luhur tersebut tersampaikan dan mengendap di otak untuk jangka waktu yang panjang. Dengan paradigma BUDAYA, MITOS, dan SPIRITUAL inilah Kampus Wongalus ingin mengadakan perubahan pola pikir dan mindset kita bersama.

Mitos ini bisa disamakan saat kita mendongeng untuk anak-anak kita menjelang tidur. Dengan dongeng-dongeng, anak akan mudah menerima nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Padahal, dongeng itu kadang tidak masuk akal. Ini tidak jadi soal. Sebab kemanfaatan sebuah dongeng terletak bukan pada masuk akal atau tidak. Namun pada nilai-nilai yang dibawanya. Kelak, bila sudah dewasa mereka akan mudah memilah yang masuk akan dan tidak dengan sendirinya.

Fenomena kesurupan yang banyak terjadi di sekolah-sekolah, hakikatnya adalah pengingat pada pengambil kebijakan di dunia pendidikan agar tidak menomorsatukan aspek kognitif saja. Kurikulum pendidikan yang terlalu otak kiri sentris harus ditata kembali. Sehingga pengembangan otak kanan/ aspek emosional dan batiniah yang akan memberi kekayaan ngelmu kebijaksanaan kembali mendapatkan tempat. Apakah Bapak-bapak yang kini jadi Menteri Pendidikan, Dirjen, Para Pejabat Eselon di Departemen Pendidikan Nasional tidak ingat lagi ya… bahwa pendidikan itu obyeknya jelas manusia dan manusia adalah makhluk yang memiliki dimensi cipta, rasa dan karsa?…

Kesurupan adalah sebuah keadaan dimana makhluk halus memasuki jasad fisik seseorang. Makhluk itu akan menguasai pikiran, ucapan dan tindakannya sehingga orang akan hilang kesadarannya. Mahluk yang halus itu ada di mana-mana dan dia siap untuk memasuki tubuh siapa saja yang kesadarannya sedang “blank”.

Apa kesadaran “blank” itu? Yaitu fase dimana gelombang otak seseorang memasuki fase alfa teta. Anak-anak yang masih suka berkhayal paling mudah kena kesurupan/kerasukan/kerauhan. Bila orang dewasa masih suka berkhayal maka boleh jadi dia juga mudah kena kerasukan. Anak indigo yang gelombang otaknya sangat rendah juga sering mengalami kesurupan. Ada apa sesungguhnya di gelombang otak rendah ini kok kita mudah berhubungan dengan makhluk halus? Sebab makhluk halus itu gelombang fisiknya juga rendah dan tertangkap oleh kesadaran kita yang sedang memasuki alam yang ada di gelombang rendah pula.

Ini berbeda dengan meditasi untuk menurunkan gelombang otak hingga mencapai titik hening. Dalam meditasi, diri sejati kita tetap akan menjaga agar tidak ada energi halus dari luar diri yang akan masuk dan menguasai kesadaran kita. Bila orang kesurupan berarti kesadarannya nol persen, maka kesadaran orang meditasi adalah seratus persen. Ini sebab kenapa orang meditasi tidak pernah kesurupan. Kecuali bila memang dikehendaki. Lho kok gitu? Ya, sebab ada pula jenis meditasi yang memang menginginkan agar kesadarannya dimasuki oleh makhluk halus. Jadi memang disengaja demikian.

Jenis meditasi ini bisa kita temui pada teknik perdukunan yang menggunakan teknik perewangan, yaitu seorang medium yang melakukan meditasi dan kemudian mengalami “kesurupan” disengaja. Biasanya, orang-orang dewasa memanfaatkan kesurupan disengaja ini untuk mencari nomor lotre, mencari barang hilang, mencari penjahat (digunakan oleh aparat kepolisian) dan lain-lain.

Sebelum hadirnya agama-agama di nusantara, kepercayaan asli nenek moyang kita dulu ya seperti ini. Yaitu kepercayaan adanya banyak yang adikodrati yang menguasai benda-benda, pohon, gunung, bebatuan dan lain-lainnya. Kini mereka yang masih memiliki keyakinan seperti ini dalam khasanah ilmu antropologi disebut dengan Shamanisme. Keyakinan animisme, dinamisme dan shamanisme ini tidak bisa dipisahkan secara tegas. Sebab, pada praktiknya hampir sama meskipun beda obyek sesembahannya.

Untuk membuka jalur komunikasi yang adikodrati, manusia memerlukan seseorang yang pandai untuk mengalami kesurupan yang disengaja tadi. Oleh masyarakat, orang pandai (wong pinter/wong tuwo) ini kemudian dijadikan pemimpin ritual. Dia dihormati, diajeni, dituakan, ditakuti karena memiliki kelebihan dan dianggap sebagai utusan dari dunia adikodrati. Ucapannya ditaati dan tindak tanduknya dijadikan contoh kebaikan.

Untuk melalukan komunikasi dengan dunia metafisis tadi, si wong pinter yang pemuka adat ini biasanya melalukan ritual. Hakekatnya sama dengan para penganut agama dalam masyarakat modern. Ritual itu adalah cara melakukan kontak (menghubungkan) antara yang adikodrati dan manusia. Setidaknya ada syarat yang harus ada dalam sebuah upacara ritual: doa/mantra, korban sesembahan, harapan/permintaan.

Upacara ritual digunakan untuk memberikan sebuah persembahan kepada yang supranatural dengan mantra-mantra khusus untuk meminta mereka melakukan berbagai aktivitas. Jadi selain bermakna filosofis, upacara ritual juga bermakna mistis. Misalnya penyembuhan, mendatangkan keberuntungan, banyak rezeki, keselamatan dan sebagainya. Sang dukun kemudian “kerasukan.” Bisa juga orang lain sebagai medium yang bersedia badannya dimasuki para makhluk gaib itu. Upacara ritual biasanya juga diadakan untuk membimbing arwah orang yang sudah meninggal menuju alam barzakh/alam kelanggengan.

Terkait dengan teknik kesurupan yang disengaja tadi, ada baiknya kita mengambil rujukan tradisi shamanisme purba yang ada di banyak peradaban kumo. Kenapa? Sebab itulah awal mula tradisi kesurupan yang disengaja.

Kata “shaman” diambil dari bahasa Tungusik yang digunakan oleh suku bangsa Tungusik di wilayah Siberia dan Asia Tengah. Istilah shaman sendiri mulai dipakai secara luas oleh kalangan antropolog sejak diterbitkannya karya Mircea Eliade yang berjudul “Shamanism; Archaic Techniques of Ectasy” (Shamanisme; Teknik Kuno Mencapai Ekstasi). Eliade menyebut shamanisme sebagai teknik ekstasi yang tidak serupa dengan bentuk ilmu hitam, sihir atau bahkan pengalaman ekstasi keagamaan.

Shamanisme telah berusia lebih dari 40 ribu tahun. Kata shaman disamakan dengan “dukun”, “tabib”, “psychopomp”, mistik, dan puitis. Apa yang membedakan shaman dengan para pemimpin spiritual jaman sekarang adalah kemampuannya untuk melakukan teknik trance (kerasukan).

Pada saat tak sadarkan diri, jiwa si dukun akan pergi dari tubuhnya dan menuju alam lain dengan panduan arwah lain. Ia dapat melakukan penyembuhan dalam banyak tingkatan; secara fisik, psikologi, dan spiritual. Dalam konsepnya, jiwa seseorang dianggap sebagai tempat tinggal nafas kehidupan dan raga. Setiap sakit fisik sudah pasti disebabkan sakitnya jiwa. Penyakit pikiran menyebabkan penderitaan diri, kekacauan dan ketidaksadaran diri.

Ada banyak sekali jumlah sembahan yang diyakini masyarakat dulu seperti para dewa, roh-roh dan setan. Dewa tertinggi menjadi raja para dewa yang menguasai alam lain di langit dan gunung. Kepercayaan shamanisme juga meyakini makhluk halus/roh-roh yang mendiami hutan, gua keramat, batu-batuan, rumah-rumah dan desa, juga hantu-hantu orang yang meninggal secara tidak wajar. Roh-roh ini dipercaya mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi atau memberi keberuntungan bagi manusia.

Maka, dalam keyakinan shamanisme, kehidupan manusia ini banyak diikuti oleh cawe-cawe para mahkluk gaib untuk membantu hidup manusia. Dan si dukun shaman dianggap orang orang yang berpengaruh dan dijadikan tempat berkonsultasi untuk suatu keperluan. Mulai sakit fisik hingga meramal nasib. Mulai awal tahun 1970-an, ritual-ritual khususnya di Jawa mulai ditinggalkan secara bertahap. Masyarakat modern saat ini menganggap shamanisme hanya sebagai takhayul dan meskipun dianggap takhayul, toh masih banyak yang diam-diam menggunakan jasa para dukun untuk memenuhi kebutuhan dunia mereka.

Untuk meminta petunjuk supranatural setidaknya kita mengenal dua cara kesurupan yang disengaja. Yaitu dengan tari-tarian atau gerakan ritmis tertentu sehingga kesadaran penarinya turun, kondisi jiwa saking “asyiknya” dan kemudian memasuki fase “trance”. Pada pada saat itu, sebenarnya sang penari akan mengalami kesakitan fisik dan jiwa.

Pengalaman ini diyakini adalah upaya penerimaan dan penyatuan secara penuh dengan arwah leluhur sehingga saat sadar nantinya kesehatannya akan semakin baik. Jenis kedua, dukun yang mengalami kerasukan mampu melakukan peramalan melalui tuntunan suara gaib dari dua jenis makhluk. Yaitu dari bisikan mistis makhluk halus maupun dari ruh orang-orang yang sudah meninggal.

BERBAHAYA

Hal utama yang membahayakan terjadi saat proses kesurupan. Bila jiwa kita bersedia untuk dijadikan medium makhluk halus maka jiwa akan mudah mengalami penderitaan yang dicirikan dengan hilangnya nafsu makan, insomnia, serta halusinasi visual dan pendengaran. Untuk menyembuhkan sakit ini diperlukan ritual yang melibatkan dukun yang lain.

Proses kesurupan juga terjadi pada seseorang yang terkena guna-guna atau santet. Yang sering ditemui adalah korban tidak mau makan dan mengalami penurunan kesehatan tubuh. Di jenis yang lain kadang-kadang diikuti sakit psikis, kegoncangan mental. Tubuh mereka akan melemah dan kejang-kejang dalam beberapa kasus diikuti buang air darah. Ia juga akan mengalami sakit jiwa dan halusinasi dengan pikiran yang sangat lelah karena mengalami kontak dengan alam gaib. Makhluk halus yang merasuki korban bahkan dapat bertahan dalam waktu lama, rata-rata 8 tahun dan bahkan puluhan tahun.

Dalam beberapa kasus, korban yang berpenyakit jiwa ini menjadi sangat ekstrim, lari dari rumah dan berkeliaran di mana-mana. Keluarga korban dan para tetangga pun lama-lama jenuh untuk merawat. Bahkan mereka kadang tega untuk memasung korban karena membahayakan akibat perilakunya yang cenderung agresif. Para tetangga pun akhirnya menjauhi keluarga korban yang dianggap tidak mampu merawat korban dengan baik.

Gejala ini tidak dapat disembuhkan dengan pengobatan modern karena akan memperparah sakit jiwanya. Sakit ini harus disembuhkan dengan mengadakan upacara gaib untuk mengembalikan jiwa si korban yang telah keluar dari tubuh dan berkelana entah kemana. Tragis memang…

Maka, bila kita sudah memiliki “agama” sebagai “ageman” atau “pakaian” atau “jalan” yang diyakini sudah lurus, maka alangkah idealnya bila kita juga melaksanakan berbagai ritual di dalamnya. Memasuki dimensi batiniah agama (tasawuf/sufistik), juga menyaratkan kita agar tetap eling dan waspada lho.

Ada kalanya dogma yang dipahami secara keliru akan justeru memasukkan kita dalam kondisi kesurupan. Ini biasa terjadi saat pedzikir diperintahkan oleh sang guru dzikir yang dipercaya sebagai orang suci. Dzikir yang tidak dituntun oleh akal budi hakikatnya juga sama dengan praktik shamanisme. Inginnya mencapai kesadaran/kecerdasan spiritual dan mendapatkan makrifat, namun yang terjadi malah kegilaan. Semoga kita selalu awas, eling dan waspada dengan hal ini.

wongalus

Categories: KESURUPAN | 5 Komentar

MAK EROT: PAHLAWAN PARA PRIA


Sudah diberi yang normal, tetap pengen yang abnormal. Itulah watak dasar nafsu dan keinginan manusia yang tidak puas dengan apa yang dimiliki. Soal kelamin juga. Sudah ukurannya panjang, pengen yang lebih panjang dan besar lagi. Dasar lelaki!

MAK EROT

FOTO: SAEPULOH, PEWARIS ILMU MAK EROT

“Saya ya untuk kawin lagi, pengen ngeseks terus. Nggak cukup bila cuma satu perempuan,” ujar Wak Jo, penjual sepeda di pasar tradisional. Wak Jo adalah pasien Mak Erot yang akhirnya memutuskan menikah lagi setelah membesarkan sang burung.

Pria 45 tahun ini menceriterakan pengalaman seksnya yang membahagiakan setelah si burung miliknya semakin mantap kepada nara sumber saya. “Tiga empat jam ngeseks nggak terasa loyo. Isteri saya yang keteteran… Saya kasihan bila dia sendiri yang ngadepi saya. Mending saya kawin lagi. Sekarang sudah lumayan ada dua musuh tanding (perempuan yang melayani hasrat seks, maksudnya).

Wah..wah… mungkin enak kali ya, hidup seperti Wak Jo. Enteng dan bisa melampiaskan hasrat seksual sesuai keinginan/karep.

Ya, tidak ada nama yang lebih kondang untuk urusan pembesaran alat vital pria ini dibandingkan Mak Erot. Di pinggir-pinggir jalan berbagai papan yang menyebut namanya dipajang. Tidak sedikit yang mengaku sebagai pewaris ilmu metafisis klinis khusus untuk pria tersebut.

Teknik pengobatan alternatif yang dipakai Mak Erot secara sederhana bisa dijelaskan sebagai berikut:  Pertama, pasien yang datang untuk mengungkapkan keinginannya membesarkan alat vital. Mak Erot menyetujui dan kemudian  menawarkan berapa besar ukuran yang diinginkan pasien dengan bambu. Misalnya, ada bambu ada yang berukuran 2,5 cm x 23 cm, ada pula bambu yang berukuran 3 cm x 26 cm dan seterusnya.

Bila pasien sudah menentukan pilihan besarnya kelamin yang diinginkan, maka mulai dilakukan prosesi ritual. Bambu tersebut dimasuki lontong (makanan empuk dari nasi) dan kemudian pasien diminta untuk lontong yang sudah diberi jampi-jampi dan mantra pembesar alat vital yang hanya dimiliki Mak Erot.

Pasien tidak boleh berhubungan seks dan menggunakan alat vitalnya selama tiga hari. Dan setelah tiga hari tersebut, maka si burung akan membesar seperti yang diharapkan pasien. Di hari keempat, pasien sudah boleh test drive kemampuan burungnya untuk bertempur habis habisan.

Nah, apa ada upaya medis kedokteran bisa melakukan pembesaran si burung yang tanpa operasi? Di dunia medis manapun, teknik pengobatan ala Mak Erot ini tidak ditemukan. Kecuali di dunia gaib.

Tentu saja Mak Erot menggunakan kemampuan supranatural. Jampi-jampi dan mantra diolah untuk menyedot energi dari luar diri pasien yaitu energi dari makhluk lain. Ingin membuktikan kehebatan kesaktian ilmu Mak Erot?

Yang jelas, banyak pasien yang sudah terbantu oleh ilmu bikinan Mak Erot. Dari komentar di media dan dengar-dengar dari cerita teman di warung kopi, sudah banyak yang membuktikan keampuhannya. Bahkan, si pasien yang burungnya sudah membesar ini akan kuat dan tahan lama berhubungan seks dengan isterinya.

Siapa sebenarnya Mak Erot? Wanita ini aslinya warga Cigadog, Desa Caringin, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Konon, hingga meninggal pada tahun 2008 kemaren usianya lebih dari 130 tahun lalu. Dia adalah anak dari pasangan Boi dan Layi.

Pengobatan tradisional pembesaran dan pemanjangan alat vital sudah dilakukan Mak Erot sejak zaman penjajahan Jepang. Saat itu, jasanya juga dipakai oleh para serdadu Jepang yang doyan perempuan.

Berbeda dengan pengobatan lain, pengobatan ala Mak Erot adalah murni tradisional, yaitu melalui terapi mantra dan doa. Pengobatannya diklaim tidak mengakibatkan efek samping.

Maraknya pengobatan yang mengatasnamakan Mak Erot membuat keluarga Mak Erot tergugah untuk menggarisbawahi bahwa hanya ada satu Mak Erot dengan satu pewaris tunggal kemampuannya, yaitu H Saepulloh.

Salah satu pemikiran Mak Erot soal pentingnya membuat alat vital pria menjadi sehat adalah karena seks merupakan kebutuhan yang tidak bisa digantikan, kebutuhan sebagai manusia yang secara kodrati memiliki pasangan hidup.

Walau banyak orang yang malu mengaku pernah berobat atau bahkan yang mengolok-olok, pengobatan Mak Erot secara faktual banyak yang sudah membuktikan keampuhannya. Jasanya juga dipakai beragam kalangan mulai warga biasa, pejabat negara hingga kaum selebritis.

Bagaimana dengan meninggalnya pahlawan bagi para pria ini? Anda tidak perlu cemas bila sekarang Mak Erot sudah dipanggil Tuhan Yang Maha Esa. Sebab, ilmunya telah diwariskan kepada H Saepulloh. Dia inilah adalah pewaris tunggal Mak Erot yang dipercaya mampu mendapatkan daya linuwih Mak Erot.

Terlepas boleh- tidak boleh, halal – haram…Jujur saja, siapa ingin  “jimat” nya berubah sekuat besi, sebesar bambu dan selincah emprit?

wongalus

Categories: MAK EROT | 43 Komentar

CARA MEMBUAT RAJAH


Menurut Kamus, Rajah adalah (1) suratan (gambaran, tanda) yang dipakai sebagai azimat (untuk penolak penyakit dan sebagainya ); (2) garis pada tapak tangan; guratan tangan; retak tangan; (3) coreng-coreng (cacahan) pada tubuh yang dibuat dengan benda tajam; tato dengan tujuan menghimpun daya metafisis tertentu.

Dari definisi rajah yang singkat tersebut, bisa dipaparkan bahwa rajah merupakan gambar-gambar/tulisan yang memiliki simbol tertentu. Simbol adalah tanda-tanda khusus yang hanya dibaca oleh mereka yang memiliki kepentingan. Misalnya, rambu-rambu lalu lintas. Kucing, semut atau anjing tidak perlu takut duduk untuk memarkir tubuhnya apabila ada rambu dilarang parkir di pinggir jalan. Hanya manusia yang mengendarai mobil/motor saja yang wajib mentaati rambu tersebut.

Begitu pula rajah. Rajah adalah simbol yang hanya bisa “dibaca” dan diterjemahkan oleh makhluk halus. Maka, manusia jenius sekaliber Albert Einstein pun pasti garuk-garuk kepala bila diminta untuk membaca rajah yang dibuat oleh kaum paranormal kita. Sebab bentuknya aneh, unik dan lebih banyak tidak masuk akalnya dibanding dengan masuk akal. Kadang ada yang berbentuk sesuatu, namun ada yang bentuknya tidak berbentuk alias abstrak. Pokoknya, susah dianalisis dengan akal sehat. Apalagi ditambah tidak adanya ilmu yang bisa dipakai untuk pisau analisa. Sepanjang pengetahuan saya, belum ada di perguruan tinggi manapun yang membuka studi khusus soal cara membuat rajah ini.

Sejarah peradaban manusia mulai peradaban mesir kuno hingga postmodern sekarang ini masih membuktikan bahwa rajah masih tetap eksis dipakai di masyarakat. Bahkan di dinding-dinding gua manusia purba, para arkeolog juga menemukan banyaknya gambar-gambar mistis. Namun, di dalam gambar-gambar mistis manusia purba biasanya malah lebih mudah diterjemahkan artinya dibanding rajah.

Rajah dibuat oleh sekelompok manusia yang memiliki kelebihan setelah menjalani laku khusus dan situasi khusus. Biasanya, yang membuat adalah kalangan spiritualis yang bisa berkomunikasi dengan makhluk-makhluk halus karena kalangan ini mampu untuk membuat tanda-tanda gambar dengan tujuan mengajak makhluk-makhluk gaib mengikuti keinginan pembuat rajah. Sehingga ada banyak ragam dan jenis rajah yang dikenal di negeri kita sebanyak jumlah pembuatnya.

Cara membuat rajah sangat sederhana. Setelah bermeditasi sejenak dan koneksi dengan mahluk-mahluk halus terjalin untuk berkomunikasi dengan makhluk bikinan Tuhan tersebut. Selanjutnya, tangan si pembuat rajah mencoret-coret di media kertas/kain/logam atau media lain. Ada juga yang digoreskan di tubuh yang disebut dengan tatto. Jadi tatto dibuat tidak hanya bernilai estetis, namun juga ada maknanya. Tatto yang dibuat oleh seorang paranormal dengan tujuan khusus tentu saja berbeda dengan tatto yang dibuat hanya untuk kepentingan keindahan tubuh. Sama nama, beda tujuan.

Membuat rajah oleh sebab itu tidak sulit. Cukup disediakan bulpen bertinta hitam atau biru. Tinta tersebut digoreskan di berbagai media sesuai dengan keperluan. Misalnya, bila ada seorang yang merasa stress karena banyak persoalan hidup, rajah cukup ditulis di pinggir piring. Piring kemudian dikasih air putih dan air putihnya diminum.

Rajah bisa ditulis di kain atau kertas dan dibungkus dengan kain atau bisa juga dibuka/ditempel di tempat-tempat tertentu. Rajah ini biasanya digunakan bagi mereka yang membutuhkan agar rumah/pekarangan/tempat kerja bebas dari gangguan makhluk halus. Biasanya gedung gedung bank juga diberi rajah agar uang yang disimpan tidak dicuri oleh makhluk halus tuyul. Bisa juga diukir atau disayatkan pada jimat-jimat.

Rajah kadang ditambah dengan Kata dalam berbagai bahasa. Bahasa Arab bisa, Bahasa Inggris bisa, Bahasa Jawa, Bahasa Batak, Bahasa Melayu. Bahkan bahasa jin juga mungkin dibuat kalau paranormalnya bisa. Rajah yang baik itu sederhana, komunikatif dan ampuh. Komunikatif artinya mudah dipahami oleh makhluk halus dan ampuh artinya mampu menyedot perhatian makhluk halus kemudian mengikuti perintah pembuatnya. Rajah yang tidak komunikatif dan tidak ampuh akan diabaikan atau diacuhkan oleh makhuk halus. Berikut ini contoh rajah :

RAJAH AGAR TUYUL TIDAK BERANI MENCURI

RAJAH TUYUL TIDAK MENCURI

RAJAH AGAR MAKHLUK HALUS TIDAK MENGGANGGU RUMAH

RAJAH JIN TIDAK MASUK RUMAH

RAJAH KEWIBAWAAN

RAJAH KEWIBAWAAN

RAJAH KEKUATAN DARI SERANGAN GAIB

RAJAH SERANGAN GAIB

RAJAH PEMIKAT LAWAN JENIS

RAJAH PEMIKAT LAWAN JENIS

Categories: MEMBUAT RAJAH | 86 Komentar

MOMENTUM “BYAR”


satori

Kapan pencerahan spiritual itu datang? Datangnya pencerahan spiritual itu tidak disangka-sangka. Bisa saat kita naik sepeda motor, bisa saat naik angkot, bisa saat duduk melamun, bisa saat mandi, bisa saat tertidur nikmat, bisa di saat apapun…bahkan saat menginjak hak-hak orang lain!

Pencerahan spiritual adalah momentum singkat, padat, jelas, gamblang dan tanpa bisa direkayasa oleh otak kita. Justeru ketika kita sudah merencanakan agar Tuhan berkenan memberikan pencerahan spiritual, malah kita tidak mendapatkan apa-apa.

Cahaya itu datangnya sekelebat, lalu menguap dan menghilang dalam waktu cepat pula. Mengalami kejadian cepat ini, perlulah kita abadikan. Kita tulis, kita ingat-ingat, kita rekam memakai alat apapun agar jangan sampai terlewatkan. Kenapa? Eman, sayang bila sesuatu yang benar-benar petunjuk-Nya itu datang lantas kita abaikan begitu saja.

Membahas soal momentum BYAR atau PENCERAHAN ini saya ingat sebuah tradisi Buddisme Zen. Dalam Zen pencerahan disebut dengan SATORI. Satori didapatkan melalui pengalaman batin pribadi. Bahkan yang menarik, dalam tradisi Zen ada latihan untuk mencapai satori dan diajarkan dalam kuil. Yaitu menerjemahkan teka-teki yand ada disekitar kita.

Menurut pandangan tradisi Zen, pencerahan atau satori ini sama dengan mendapatkan KILATAN SURGA yaitu momentum saat batin kita mengalami kesadaran kosmik yaitu sebuah “Ledakan Besar” yang tidak disangka-sangka.

Ya, Saat yang ditunggu-tunggu itu datang tanpa permisi dan pergi tanpa pamit. Ia hadir sekilas, lantas kemudian pergi setelah kita menerimanya. Bila kita ingin perjalanan spiritual kita meraih kesempurnaan demi kesempurnaan, sudah pada tempatnya kita niteni saat momentum pencerahan spiritual itu datang. Sebab SETIAP MENDAPAT PENCERAHAN, ITU SAAT TUHAN MEMBERI PENGAJARAN-PENGAJARAN.

Niteni adalah bahasa Jawa yang artinya awas dan teliti dengan hal-hal kecil yang ada di dalam diri kita dan di luar diri kita. Konon kata leluhur, DALANE WASKITA SAKA NITENI. Artinya cara untuk menjadi orang yang Waskita adalah dengan cara awas dan teliti. Niteni apa? Ya karena kita biasa menggunakan indera mata dan telinga, maka kita mulai dulu dengan niteli hal-hal kecil yang bisa dilihat dan bisa didengar.

Bila ini dilakukan pun, kita sebenarnya sudah mendapatkan banyak kawruh atau pengetahuan. Dulu, orang berlayar hanya dengan niteni rasi bintang di langit. Petani dulu memulai bertanam dengan niteni perubahan fenomena alam. Misalnya, saat muncul suara serangga garengpung di malam hari maka orang niteni itu adalah saat memasuki musim pancaroba atau pergantian musim.

Lantas, bila perjalanan spiritual kita sudah memasuki wilayah kebatinan maka kita perlu niteni apa yang kita rasakan. Mulai niteni kapan kita sedih, kapan kita senang, kapan rasa sayang tumbuh, kapan rasa benci datang. Kapan tangis hati terenyuh, kapan ego berkobar-kobar. Ini tahap dimana tuhan menyapa kita dengan bahasa batin-Nya.

Selanjutnya, bila perjalanan spiritual dilanjutkan ke tahap yang lebih tinggi dimana kita sudah mampu mengendalikan berbagai rasa yang muncul tadi, maka kita akan memasuki wilayah percintaan dengan Tuhan. Inilah saat yang mendebarkan karena kita harus siap diuji dengan ujian yang tidak disangka-sangka.

Tiba-tiba Anda dituduh selingkuh, tiba-tiba Anda difitnah telah memperkosa isteri tetangga, tiba-tiba Anda dituduh membunuh orang lain, tiba-tiba Anda dituduh berbuat makar dan seterusnya. Anda harus diadili di pengadilan dan masuk penjara,  kita disingkirkan dari pergaulan masyarakat dan sebagainya.

Ingat bagimana AA Gym dituduh memperturutkan hawa nafsu karena menikah lagi? Ini fase dimana Tuhan memberi soal ujian pada kita. Tidak sekedar menyapa.

Setiap ujian ada hasilnya. Ujian disesuaikan dengan kemampuan kapasitas dan kompetensi sang siswa. Siswa yang dinyatakan lulus adalah siswa yang mampu menempuh ujian dengan nilai 100 s/d 70. Nilai di bawah itu dinyatakan tidak lulus dan diwajibkan mengulanginya. Ini tentu ujian yang berat dan gawat. Setelah lulus ujian berat tersebut, kita akan diuji lagi

Tahap selanjutnya adalah saat kita diuji komitmennya untuk berjuang untuk kemanfaatan sosial. Bagaimana kita mampu menegakkan yang kita anggap benar sesuai dengan iradat-Nya. Yang membikin repot, saat itu masyarakat juga bereaksi dengan reaksi yang hampir seragam: tuduhan  sesat, kafir dan musyrik, ngowah-owahi adat akan kita dapatkan. Aneh, memang sebab perintah itu diluar kendali Anda. Tiba-tiba Anda diperintah begitu saja tanpa alasan!!!

Saat itu, ujian Anda sama dengan para avatar tau para nabi. Mereka juga mengalami fase tuduhan-tuduhan sesat itu. Siapapun yang melalui jalan ini, akan mengalami hal yang sama. Saat itu kita bahkan dituduh gila karena sudah dianggap tidak mampu menjaga harkat dan martabat diri. Ini fase dimana nabi Musa disuruh berguru pada Khidir….. tanpa boleh menggunakan akal lagi.  Hanya ikut dan manut titahing Gusti.

Kemudian, apa yang terjadi setelah berbagai tahap ini dijalani? Anda telah menyelesaikan serangkaian pengajaran-pengajaran Tuhan. Semua kurikulum  telah Anda lahap habis. Semua SKS telah Anda telan, ujian demi ujian telah diselesaikan dan terakhir adalah ujian pendadaran pun telah Anda jalani.

Maka Anda berhak untuk diwisuda dan berbahagia telah dijadikan utusan-Nya, setara dengan para nabi atau avatar. Karena itulah saat terindah dalam hidup kita. Diwisuda di kampus saja senangnya minta ampun, apalagi diwisuda Tuhan Maha Penguasa Segala Yang Ada? Anda adalah tokoh pejuang kemanusiaan yang tidak akan mengalami kematian dan menjadi cahaya abadi sepanjang masa.

Yang terkasih Hamka, Munir dan lain-lain sudah sampai tahap ini….. Ini tahap akhir perjalanan spiritual yaitu saat penghayatan hidup sudah sampai pada “Kemarin dan esok adalah hari ini Bencana dan keberuntungan sama saja Langit di luar Langit di badan Bersatu dalam jiwa….” (Rendra)

Terakhir, pencerahan spiritual datang dari mana? Semua sumbernya tetap memancar dari Yang Satu. Namun bisa berwarna hitam, putih biru, ungu, kuning atau oranye.

wongalus

Categories: MOMENTUM BYAR | 15 Komentar

MANUSIA ITU MAKROKOSMOS


cool-brain

Kita biasa menyebut makrokosmos-mikrokosmos untuk menunjukkan pada jagad gede atau alam semesta dan mikrokosmos atau jagad cilik yang mengacu pada manusia. Namun saat pemahaman kita sudah mengatasi yang fisik maka itu harus dibalik. Manusialah yang harusnya disebut jagad gede.

Kosmos artinya teratur. Kebalikannya adalah chaos yang artinya kacau, tidak teratur. Suatu ketika lahir cabang ilmu filsafat yang disebut kosmologi. Ilmu kosmologi menyoroti tentang yang ada yang teratur alam, atau menyelidiki alam semesta dari sisi hakekatnya. Ilmu ini masuk ke dalam wilayah kajian ontologi/metafisika, yaitu dasar filsafat yang mengkaji pada yang ada sebagai yang ada. Yang ada dikaji seumum-umumnya.

Nah, kosmologi ini mengkaji yang ada khusus dari alam semesta. Ada juga pengkajian ada khusus dari manusia sebagai makhluk kosmos yang disebut filsafat manusia atau disebut antropologi metafisik. Kedua ini masih bernaung di bawah induk ilmu ontologi dan ontologi adalah dasar filsafat. Dan Filsafat adalah ibu segala ilmu pengetahuan.

Kenapa manusia justeru disebut makluk makrokosmos? Kenapa manusia tidak disebut mikrokosmos sebagaimana pemahaman yang dianut banyak pemikir?

Pertama, manusia adalah kunci memahami jagad/dunia/alam semesta ini. Manusia adalah penakar dan pemberi nilai-nilai terhadap segala yang ada. Manusia adalah makhluk yang dusah ditakdirkan tuhan menjadi rahmatan lil alamin. Rahmat dan pengayom bagi seluruh alam. Manusia lah yang mampu untuk mengukur besar kecilnya kosmosnya alam semesta. Manusia bisa memberi arti sekecil-kecilnya terhadap alam semesta hingga ada di genggaman tangannya, namun juga manusia bisa memberi arti sebesar-besarnnya terhadap alam semesta.

Kedua, ukuran besarnya alam secara fisik memang lebih besar dari manusia. Namun pemahaman ini harusnya tidak dijadikan patokan ukuran yang sungguh-sungguh benar, khususnya bila kita ingin melakukan perjalanan ruhani yang lebih tinggi. Secara metafisis, harusnya alam semesta lebih kecil daripada kosmos-nya manusia. Pemahaman idealistik ini lebih memberi manfaat praktis untuk memperbaiki dunia yang sudah sedemikian rusak.
Ketiga, manusia bukan bagian kecil dari dunia yang bisa kita lihat dengan mata dan bisa kita dengar dengan telinga ini. Justeru dunialah yang merupakan bagian kecil dari manusia. Sebab manusia bisa mengulur dan mengkerutkan ukuran dunia fisik ini hanya bahkan sebesar pasir! Kok bisa? Bisa… pejamkan mata segelap-gelapnya untuk beberapa lama. Terserah apa menyebut apa untuk aktivitas ini, bisa disebut meditasi, tadabbur, semedi…dst… Anda akan menemukan dunia yang lebih besar dari dunia fisik ini.

Ukuran besar kecilnya dunia di dalam diri manusia sangat tergantung pada seberapa hebat kita mampu menyelami angkasa metafisis dalam dirinya sendiri. Jadi ukurannya sangat relatif. Di dalam angkasa metafisis, galaksi-galaksi jumlahnya tidak terukur… pokoknya habis sudah akal kita untuk membahas dunia metafisis yang ada di kedalaman rasa/batin manusia. Sifat besar kecilnya dunia metafisis ini sangat kualitatif. Tuhan Yang Maha Batin lebih lagi, mengatasi besaran alam metafisis ini sebagai tempatnya bersemayam.

Hebatnya lagi setiap hal yang kita temukan di angkasa metafisis belum tentu kita jumpai di alam fisis. Kedamaian, keselarasan, kemakmuran, keadilan, surga-neraka, baik-buruk, benar-salah, indah-buruk ada di dunia metafisis ini. Semuanya menjadi alasan bahwa hendaknya manusia lebih mengorientasikan diri KE DALAM DIRI-NYA, dibanding mengorientasikan diri KE LUAR DIRINYA.

Yang aneh, karena manusia adalah JAGAD GEDE/MAKROKOSMOS, kenapa justeru lebih memilih untuk berkonsentrasi penuh bahkan menghabiskan usianya untuk hidup di JAGAD CILIK/MIKROKOSMOS? Manusia terjebak untuk hidup di dunia yang sempit, palsu dan sangat sementara/fana. Menghamba pada kebutuhan fisik di dunia fisik sama saja dengan mengekalkan kebutuhan tubuh yang sesaat lagi menjadi bangkai yang busuk. Menomorsatukan dunia fisik dan kepentingan-kepentingan dunia fisik sama saja dengan memakmurkan kiamat. Sebab dunia ini tidak kekal dan akan tergulung habis bersama dengan kiamat.

Manusia tidak mampu mengangkasa ke langit hakekat. Apalagi sampai ke makrifatullah. Ia berputar-putar di jagad cilik/semesta fisik untuk mencukupi syariat saja. Syariat yang sudah ada pun berusaha untuk direkayasa sedemikian rupa sehingga akan terasa lebih mudah lagi untuk dijalani. Jumlah bilangan Sholat ditawar dari puluhan waktu, menjadi lima waktu dan itu pun terlupakan.

Bila Jagad Besar manusia telah dilupakan. Bila aspek batiniah tidak pernah diperdalam. Bila semesta metafisik ditinggalkan diganti dengan semesta fisik, maka bersiaplah untuk mengalami kematian. Hidup yang ribet dan ruwet oleh problema yang tidak pernah selesai dibahas. Bersiaplah pula untuk mengalami sakit kejiwaan akut, meloncak dari stres ke stres berikutnya.
Sebaliknya, bila hidup ini diorientasikan ke Semesta Metafisik, maka bersiaplah menuju hidup di dalam keabadian. Bersyukurlah mereka yang menjadikan semesta metafisik Yang Maha Luas ini sebagai tempat untuk hidup, berkarya dan bermesraan dengan Sang Pencinta.

Mulai sekarang tata kembali kosmos dalam dirimu. Perubahan sekecil apapun di hati/ rasa/qalbu…, owah gingsirnya batin kita hakikatnya adalah perubahan yang sangat besar karena perubahan itu terjadi di aras makromosmos. Mari kita lirik keindahan dan keluasan alam makrokosmos di dalam diri kita, mencebur dan kemudian hidup abadi di dalam genggaman-Nya.

Di alam metafisik jagad besar diri manusia, “aku tidak ada… yang ada itu bukan aku” (sejatine ora ono opo-opo, sing ono kui dudu)….

***

 

 

 

Categories: MANUSIA ITU MAKROKOSMOS | 15 Komentar

BUDAYA, MITOS DAN SPIRITUAL


Diskusi adalah salah satu aktivitas yang saya sukai. Dari diskusi, saya merasa mendapatkan banyak informasi baru mengenai berbagai hal dan biasanya bila fokus diskusi itu menarik, saya akan menyimpannya di gudang data memori saya untuk jangka waktu yang lama.

Sebagaimana diskusi yang berlangsung pada pagi hari tadi, Selasa, 29 September 2009. Saat baru masuk ruangan kantor, tiba-tiba bel handphone saya bersuara nyaring.

“Om, nggak ngopi ta?” Wah, ini ajakan yang dulu biasa saya dengar saat-saat pagi setelah kami masuk kantor pada pukul tujuh. Hampir setiap hari kami ngopi untuk menambah kebugaran tubuh sebelum memulai aktivitas kerja. Namun, karena berbagai fokus yang menyita perhatian ritual kami untuk ngopi bareng ini pun terlupakan. Jadi ajakan pagi ini pun adalah ajakan yang istimewa. Apalagi yang mengajak pun sahabat karib yang begitu istimewa. Nama samarannya di blog adalah “Mas Kumitir.”

Diskusi dengan mas Kumitir bagi saya pribadi adalah wahana untuk tukar kawruh. Kenapa tukar kawruh? Ya, antara saya dan Mas Kumitir—dan juga para pembaca—, sama-sama merasa seorang pejalan spiritual yang cubluk alias bodoh sehingga butuh interaksi dan komunikasi. Sekaligus untuk mempertanyakan pada diri masing-masing, sampai sejauh mana perjalanan yang telah ditempuh oleh masing-masing pribadi.

Mas Kumitir adalah pengasuh blog http://www.alangalngkumitir,wordpress.com. Awalnya, gagasan awal pendirian blog ini adalah dari kami berdua saat batin membutuhkan wahana menumpahkan gagasan, ide dan wacana. Sekaligus pengalaman dan pemahaman yang telah kita capai.

Kebetulan, saya mengenal dunia blog lebih awal dari dia, dan pengalaman teknis ini saya manfaatkan untuk sign in dan menata ruangan wadah blog. (Belakangan, saya malah kalah canggih dari dia soal mengutak atik wordpress ini hehe). Kerjasama pun kita teken (hehehe… kayak direktur saja). Mas Kumitir yang mengisi blog, dan saya yang kebagian menjawab pertanyaan-pertanyaan dari pembaca.

Terus terang awalnya, saya sedikit ragu apakah blog tersebut bisa eksis. Sebab yang kami sajikan adalah karya-karya leluhur Jawa atau berbagai wacana budaya Jawa yang terasa mulai luntur diminati oleh masyarakat. Dalam proses perjalanannya, tidak jarang Mas Kumitir putus asa karena saking sulitnya mendapatkan buku-buku untuk diketik ulang dan disuguhkan di blog tersebut.

Namun, keluhan mas Kumitir biasanya saya tanggapi dengan dingin. Sebab, saya tidak bisa berbuat banyak karena memang bukan kodrat saya untuk browsing atau surfing, berkelana ke situs-situs luar negeri yang kebetulan menyimpan karya-karya Jawa Kuno.

Apalagi saat itu, mas Kumitir belum begitu gigih untuk nyambangi pasar-pasar buku bekas loakan dan menjalin relasi dengan kantung-kantung budaya Jawa seperti sekarang sehingga kesulitan untuk mencari bahan sajian praktis menghadang. Namun, sukurlah… waktu ternyata membuktikan bahwa blog tersebut mampu untuk bertahan dan hingga kini usianya tercatat sudah satu tahun lebih dengan pembaca mencapai 700 ribu orang lebih. Data di statistik kunjungan pembaca, rata-rata perhari blog sederhana tersebut dikunjungi sekitar 2.500 hingga 3.500 pengunjung.

Saya yang kemudian tidak terlibat lagi dengan blog alangalangkumitir sangat berbahagia melihat kemajuan blog tersebut. Itu membuktikan bahwa dedikasi dan konsistensi Mas Kumitir untuk merawat dan menjaga bayi “alangalangkumitir” tidak diragukan lagi. Nah, kembali ke diskusi pagi tadi.

Diskusi lebih tepatnya disebut “Cangkruk” (bahasa Suroboyoan yang berarti duduk santai sambil menikmati makanan dan biasanya orang yang nyangkruk itu juga ngopi dan merokok) itu berlangsung informal di sebuah warung makan sekitar 25 meter dari kantor tersebut, ada “oleh-oleh” yang saya bawa pulang malam ini.

Oleh-oleh itu ingin saya sampaikan saat ini yaitu tentang tiga hal yang menjadi inti untuk memahami Serat Centini. Serat Centini sebagaimana sudah banyak diketahui adalah babon atau induknya kitab-kitab Jawa yang berisi banyak hal. Serat Centini yang sudah dibukukan edisi lengkapnya ada sekitar 12 buku yang diterbitkan Yayasan Centini. Tiga hal itu adalah BUDAYA, MITOS DAN SPIRITUAL.

Budaya adalah pernik-pernik manusia Jawa untuk memayu hayuning bawono disesuaikan dengan kebiasaan dan adat istiadat masyarakat setempat. Mitos adalah cerita/kisah-kisah yang dibikin untuk mempermudah seseorang dalam memahami isi yang ingin disampaikan, sementara Spiritual adalah substansi penghayatan hidup manusia berhadapan dengan Gustinya.

Setiap kebenaran yang disampaikan kepada umat/masyarakat luas juga sesungguhnya harus memiliki tiga hal itu agar bisa diserap dengan baik dan bijaksana. Tidak menimbulkan kebingungan dan kesulitan pemahaman yang nantinya justeru menyesatkan.

Budaya, misalnya. Setiap ajaran apapun harus kontekstual dengan lingkungan, adat istiadat dan kebiasaan yang berlaku di masyarakat. Ajaran yang disampaikan dengan tidak menghormati adat-istiadat masyarakat berarti ajaran yang kurang bijaksana. Bukankah sifat kebenaran adalah mampu untuk berasimilasi dan berosmosis dengan kebenaran yang lain? Itu sebabnya, penyebaran agama Islam di Jawa oleh wali sembilan dilaksanakan dengan sangat kreatif dan menyatu dengan budaya masyarakat Jawa.

Masyarakat Jawa yang sebelumnya sudah memeluk Budha dan Hindu pun akhirnya menerima dengan tangan terbuka kehadiran agama Islam. Tidak ada pertentangan antar agama di Jawa hingga kini membuktikan bahwa budaya Jawa yang mengutamakan olah rasa/batin adalah lahan yang sangat toleran sebagai tempat bersemainya agama dan keyakinan luar manapun juga.

Sementara MITOS juga sangat penting untuk menyampaikan kebenaran. Bila direnungkan, kenapa mitos tetap berkembang di masyarakat hingga sekarang? Saya memiliki ilustrasi yang sederhana untuk menjawab hal ini.

Saat kita membaca buku teks yang penuh dengan teori-teori, misalnya buku pelajaran Fisika, Matematika atau Kimia maka jidat kita langsung berkerut. Aktivitas otak kiri kita begitu meninggi dan sangat serius sehingga rasa lelah cepat datang. Daya konsentrasi tidak bertahan lama. Hal ini berbeda misalnya bila buku teks teori-teori itu dikemas dalam bentuk cerita yang enak dibaca dan mudah dipahami.

Otak kanan akan bereaksi karena ada sentuhan emosional atau rasa sehingga karena dua belah hemisfer (otak) kiri dan kanan akan bekerja seimbang sehingga teori-teori yang berat akan terasa ringan. Bila pelajaran fisika, matematika, atau kimia yang eksak-obyektif terasa berat disampaikan bila tanpa cerita-cerita apalagi bila yang disampaikan itu adalah ajaran-ajaran hidup dan kebenaran yang abstrak dan tidak eksak? Nah, disinilah mitos kemudian berperan.

Sepengetahuan kami, tidak ada satu pun ajaran agama yang tidak memiliki muatan mitos dalam arti “cerita” atau “kisah” di dalam ajarannya. Mitos bahkan terkadang lebih mendominasi aspek mental dari agama. Padahal, ajaran agama sebenarnya dipenuhi hal-hal yang sangat berat. Di situ ada ilmu hermeneutika/tafsir, ilmu kalam, ilmu mantiq/logika, hukum/syariat/fiqih, aqidah, filsafat, ilmu bahasa dan seterusnya.

Peradaban-perdaban dunia pun menciptakan mitosnya sendiri-sendiri. Mulai peradaban kuno di Mesir, Persia, India, Yunani hingga peradaban kita sekarang yang didominasi peradaban modern yang barat sentris ketimbang timur sentris, mitos memegang peranan yang penting untuk menyampaikan ajaran-ajaran spiritual.

Nah, ada kalanya mitos itu diciptakan begitu serius, namun ada kalanya dibuat dengan lebih santai. Misalnya, mitos yang diciptakan santai adalah mitos bahwa di setiap pohon yang ada mata airnya ditunggui makhluk halus. Ini mitos untuk menyampaikan ajaran bahwa menghargai lingkungan hidup mutlak diperlukan untuk kelestarian sumber air. Apalagi fungsi pohon adalah tempat pelindung air agar bumi tidak terlalu panas dan menguapkan air ke angkasa.

Para nenek moyang kita bukan orang bodoh. Kita lah yang terkadang secara sekilas beranggapan bahwa mereka terbelakang, tidak mengenal ilmu pengetahuan dan teknik modern. Apabila tuduhan belakangan ini dialamatkan kepada mereka, jawaban pastinya adalah “Ya pasti begitu”.. Mereka tidak mengenal blog, facebook, internet, komputer dan atribut-atribut teknis lain.

Namun, mereka lebih arif dan luas dalam memahami segala sesuatu. Itu artinya mereka lebih cerdas dari kita yang secara apriori beranggapan bahwa mitos adalah sesuatu yang tidak perlu dan bahkan secara frontal menuduh sebagai musyrik, bidah, khurofat, takhayul terhadap sebuah mitos.

Kenapa tuduhan ini terjadi? Baiklah kita akan merunut akar masalah keyakinan kenapa mitos dipandang rendah dari sudut pandang perkembangan ilmu pengetahuan. Kita ketahui bersama bahwa sejarah kelahiran ilmu pengetahuan modern dimulai dari filsafat Yunani.

Para filsuf Yunani awal ini merenung bahwa akal manusia harus dipakai untuk menemukan kebenaran. Para filsuf awal, seperti Thales, Anaximenes, Anaximander, dan seterusnya… memulai perenungan filsafatnya untuk mencari “arche” atau asas terdalam segala sesuatu. Akal tiba-tiba sangat dihargai sebagai cahaya baru menemukan kebenaran. Bila sebelumnya Yunani dipenuhi oleh mitos-mitos, maka kehadiran para filsuf ini lebih menggunakan logos/akal.

Mitos versus logos yang akhirnya dimenangkan oleh logos. Mitos kemudian dijauhkan dari wacana ilmu pengetahuan modern saat ini. Termasuk yang menyingkirkan peran mitos adalah berkembangnya penafsiran terhadap agama secara “modern.”

Padahal, akhirnya agama yang dipahami melulu dengan rasio atau akal justeru memiskinkan hakekat agama itu sendiri. Agama tidak lebih dipahami sebagai benda, yang bisa dianalisa, dipotret, dipotong-potong oleh pisau bedah ilmu dan kemudian hanya diletakkan di laboratorium-laboratorium universitas. Agama dalam pengertian seperti ini tidak akan berkembang sebagai jalan dan petunjuk hidup manusia yang bercahaya terang benderang yang menerangi eksistensi manusia. Agama pun mengalami reduksi makna besar-besaran.

Manusia modern, seperti saya dan banyak orang lain kini mengaku punya agama. Buktinya ada di Kartu Tanda Penduduk. Pengakuan ini apakah serta merta menjadikan kita memeluk agama? Apakah memeluk agama hanya dibuktikan dengan banyaknya kita menjalankan syariat atau hanya memakai dan menyukai idiom-idiom budaya Arab saja? Sementara para koruptor dan maling sistemik perbankan, politik yang penuh kepalsuan yang semakin memelihara kebusukan, ketidakberdayaan, kemiskinan, ketidakadilan masih kita yang mengaku punya agama ini membiarkan kejadian itu di depan mata?

Hmmm…. yang membuat kita semakin parah, bahwa kita yakin bahwa manusia adalah mikrokosmos di tengah makrokosmos. Sehingga kita merasa kecil di tengah alam semesta.

Pemahaman ini terbalik bung!

Harusnya, manusialah yang makrokosmos, si JAGAD GEDE di alam semesta yang JAGAD CILIK. Manusialah yang memaknai dan memberi besaran dan luasnya alam semesta ini. Sehingga manusia lebih besar secara makrifat dari alam semesta. Jadi manusialah yang harusnya berkuasa, bukan alam semesta…

Maka, perubahan sekecil apapun di hati kita hakikatnya adalah perubahan besar karena perubahan itu terjadi pada kita si makromosmos/ jagad gede itu. Logika terbalik ini, bukankah ilmu makrifat Bima masuk ke telinga Dewa Ruci? “Maka, bila kita tidak mampu melaksanakan perubahan struktural dan fungsional perabadan kita ke arah yang lebih baik dan justeru melanggengkan status quo, jangan mengaku sudah punya agama…”

Ya, saya telah melupakan bahwa agama adalah proses perjalanan laku atau perbuatan manusia yang sejatinya sudah dari sononya sudah berhakikat makhluk spiritual. Dan inilah hasil diskusi kecil pagi hari tadi dan saya akan menyimpannya di gudang data memori otak untuk jangka waktu yang lama….

(Wongalus)

Categories: MITOS | 12 Komentar

BERLATIH ILMU NGRAGA SUKMA


tari

Ini ilmu para leluhur Jawa yang sangat luar biasa. Dengan ilmu ini, diri kita bisa lepas bebas kemana yang kita inginkan. Kita bisa berjalan-jalan ke Mekkah untuk melaksanakan naik haji, kita bisa juga berjalan-jalan ke India untuk menyapa para yogi, atau berjalan-jalan ke Tibet untuk bertemu Dalai Lama.

Para leluhur orang Jawa sadar benar bahwa manusia memiliki potensi tersembunyi yang bila dioptimalkan akan mendatangkan manfaat bagi hidupnya. Mereka sadar, manusia sudah memiliki kelengkapan software untuk hidup dalam berbagai dimensi baik fisik maupun metafisik. Para leluhur dulu tidak hanya membaca “kitab garing” yang berbentuk kitab-kitab kuno yang ditulis di kertas atau yang dipahat di batu-batuan atau di daun-daun lontar.

Salah satu bukti kehebatan para leluhur ini adalah tersebarnya Candi-candi. Candi adalah bangunan dari batu kali yang dibuat dengan ketepatan ukuran geometri yang tiada banding jaman itu. Masing-masing batu disusun dengan presisi yang tinggi sehingga tidak ada yang penceng sambungannya. Selain kehebatan fisik, pada candi kita bisa belajar filsafat hidup yang dahsyat hasil olah rasa/olah batin yang gentur mencari ilmu sangkan paraning dumadi demi kesempurnaan hidup.

Tanpa ilmu matematika, ilmu fisika, ilmu arsitektur dan ilmu sastra, ilmu sejarah, ilmu kebatinan, mustahil mereka mampu membuat bangunan yang begitu tinggi nilai historisnya itu. Borobudur, Prambanan, Boko, Cetho, Panataran, Dieng, Gedong Songo dan masih banyak lagi candi yang tersebar di seantero nusantara. Mereka adalah bukti fisik yang tidak bisa dibantah.

Selain itu, banyaknya kitab-kitab kuno membuktikan bahwa tradisi berilmu pengetahuan juga tumbuh subur di Jawa. Serat Purwakanda, Serat Pulo Kencana, Serat Panji Asmara Bangun, Serat Nagri Ngurawan, Serat Tawang Gantungan, Serat Niti Praja, Serat Waskithaning Nala, Serat Paniti Sastra, Serat Pamrayoga Utama, Serat Nirata Praketa, Serat Kridhamaya, Serat Niti Sruti, Serat Arjuna Wiwaha, Serat Tripama, dan masih banyak lagi serat lain adalah bukti yang cetho welo-welo.

Dari sekian banyak bab di dalam khasanah ilmu kebatinan, ada satu ilmu yang sangat menarik dan menjadi bukti keunggulan olah rasa/batin dan olah spiritual tingkat tinggi para leluhur Jawa. Ilmu ini disebut dengan NGRAGA SUKMA. Entah siapa pencipta ilmu ini. Yang jelas, ilmu ini sudah umum dimiliki oleh para waskita dan winasis untuk berbagai kemanfaatan dalam mengarungi perjalanan hidup mencapai kesempurnaan yang penuh misteri ini.

NGRAGA SUKMA adalah ilmu yang mampu mengeluarkan sukma dari tubuh. Dengan NGRAGA SUKMA, seseorang yang sedang duduk di sebuah rumah di Jakarta, akan mampu menampakkan diri di sebuah tempat yang jauh sekalipun seperti Washington DC Amerika Serikat. Belakangan di era Modern, orang Barat menyebut fenomena ini dengan OUT OF BODY EXPERIENCE (OBE) atau pengalaman keluar tubuh fisik. Di Barat, fenomena OBE ini bahkan dijadikan latihan terbuka dan banyak orang yang akhirnya mampu sampai ke tahap OBE ini.

Seorang teman dekat saya sudah sangat terbiasa untuk mempraktikkan ilmu Ngraga Sukma ini hingga dia bisa berjalan-jalan ke tempat yang lain. Suatu hari, dia duduk di dekat saya sambil merem leyeh-leyeh dan saat terbangun dia pun mengatakan telah berkunjung ke Cina. Dia mampu menceriterakan seara detail apa yang baru saja dialaminya, termasuk bertemu dengan orang-orang dan kemudian kembali ke tempat kami semula. Inilah Ngraga Sukma.

Bagaimana ilmu Ngraga Sukma ini dijelaskan secara ilmiah? Mari kita bedah satu persatu wacana JIWA MANUSIA.

1. JIWA AMARAH

Dalam ilmu kebatinan Jawa, kita mengenal adanya nafas/nafs/ambekan. Nafas ini merupakan bagian inti dari Jiwa dan nafas terkait dengan batin kita. Semua mahluk hidup perlu respirasi atau bernafas yaitu menghiup oksigen dan diekspor ke paru-paru/insang. Oksigen dibutuhkan oleh setiap sel tubuh yang ingin hidup. Tanpa oksigen, sel tubuh akan lemas dan mati. Oksigen dibutuhkan untuk proses pembakaran, sehingga sel di dalam tubuh mendapat energi baru.

Pengendali jalannya nafas adalah JIWA AMARAH/NAFS AL AMARAH. (bukan marah dalam arti nesu, mangkel, atau marah..ini hanya nama). Jiwa Amarah bertugas untuk mengoperasikan jalannya nafas manusia mulai bangun tidur hingga tidur lagi. Bila jiwa ini berhenti maka manusia akan mengalami kematian. Selama belum putus meskipun nafasnya sudaha berhenti maka manusia masih tetap hidup. Nah, ada satu lagi yang perlu kita ketahui saat membicarakan JIWA AMARAH ini adalaha yang kita kenal dengan PRANA/PREMANA yang berkaitan dengan DAYA HIDUP. PRANA ibarat ARUS LISTRIK sementara JIWA AMARAH ibarat kawat.

2. JIWA LAWWAMAH
Berada di dalam tubuh manusia yang lebih dalam dan halus dari JIWA AMARAH dan jiwa lawwamah ini berada di alam eterik. Jiwa lawwamah bisa keluar masuk tubuh baik saat sadar maupun saat tertidur tanpa ada hambatan apapun. Saat kita tidur, kita bermimpi bertemu dengan seseorang maka jiwa lawwamah kitalah yang tertemu dengan orang tersebut. Namun bila kita tiba-tiba terjaga, maka dengan cepat pula jiwa masuk lagi ke tubuh.

Kita sering bermimpi mengembara ke sebuah tempat yang belum pernah kita datangi sebelumnya, ini berarti jiwa kita berjalan-jalan mengembara ke tempat yang asing. Ya, jiwa kita tidak terikat ruang dimanapun dan kapanpun. Itu sebabnya, bila kita bermimpi bertemu dengan para Nabi, itu berarti kita memng sungguh-sungguh bertemu dengan para nabi pula. Bagaimana dengan waktu? Nah, jiwa kita tetap terikat waktu saat mimpi tersebut.

Sistem kerjanya jiwa Lawwamah adalah ibarat tape recorder yang merekam kejadian di depan kita secar otomatis dan digerakkan oleh alam bawah sadar (subconscious mind). Yang perlu diperhatikan adalah pada Jiwa inilah daerah operasi niat jahat manusia. Watak Iblis pada diri manusia juga tumbuh subur pada jiwa ini.

Bila kita berlatih untuk berkomunikasi dengan ruh orang meninggal dan saat itu kita bertemu dengan wujud fisik orang meninggal tersebut, maka kita sebenarnya sedang bertemu dengan jiwa Lawwamah-nya. Jiwa ini masih terikat dengan keberadaan fisik bumi kita. Bagaikan embun, jiwa ini melayang-layang di dekat permukaan tanah. Oleh karena itu bila orang meninggal, maka jiwa ini harus disempurnakan.

DALAM PROSESI KEMATIAN YANG SEMPURNA, SEMUA JIWA HARUS BISA MENEMBUS ALAM BARZAKH/ALAM KELANGGENGAN. ADANYA JIWA YANG MASIH MEMILIKI KEMELEKATAN DENGAN BUMI KARENA SUATU PERKARA, MAKA JIWA MANUSIA MASIH BERPUTAR-PUTAR DI BUMI. ORANG-ORANG MENYEBUTNYA HANTU, PADAHAL ITU ADALAH JIWA ORANG YANG MENINGGAL YANG BELUM SEMPURNA.

Nah, ilmu Ngraga Sukma bekerja di tingkat JIWA LAWWAMAH ini. Bagaimana membangkitkan kemampuan Ngraga Sukma hingga jiwa lawwamah mampu keluar dari tubuh? Caranya adalah latihan. Ada tiga tahap latihan:

LATIHAN PERTAMA : PERCOBAAN
Belajarlah untuk mengalami tidur dengan merencanakan mimpi apa yang sekiranya Anda pandang menarik. Banyak cara, salah satunya merekam banyak kejadian sebelum tidur dan mengucapkan NIAT UNTUK BERTEMU SI A, ATAU NIAT BERKELANA KE SEBUAH TEMPAT…
Latihan berulang-ulang hingga benar-benar mampu mengarahkan mimpi. Jiwa Lawwamah yang sudah terlatih bisa diajak kemanapun yang diinginkan. Rapalnya baca sebagai berikut:

MELAYANG AKU
JIWAKU YANG BERADA DI TANGANMU, GUSTI
MENGEMBARA MENEMBUS RUANGMU
AKU INGIN KE ….. (sebutkan tempat yang ingin dituju)
BERTEMU DENGAN ………. (sebutkan nama orang yang ingin ditemui)
ATAS IJINMU!!!

LATIHAN KEDUA: PENGUJIAN
Ujilah apa yang Anda alami. Bertanyalah via telpon terhadap mimpi apa yang sudah Anda alami kepada si A. Bila sudah terlatih, apa yang ada dalam mimpi akan persis sama dengan kenyataan.

LATIHAN KETIGA: PEMBUKTIAN
Ujilah berkali kali apa yang Anda alami. Bila sudah terlatih, Anda bisa menggunakan ketrampilan untuk melakukan Ngraga Sukma ini tidak hanya saat bermimpi namun saat Anda terjaga sesuai dengan kehendak hati. Tentu saja harus dibimbing dengan kebijaksanaan. Sebab kemampuan ini meskipun hasil latihan namun pasti merupakan kesempatan yang diberikan Tuhan Yang Satu.

3. JIWA MULHAMAH
Jiwa yang berada lebih dalam dan halus dari JIWA LAWWAMAH. Jiwa Mulhammah adalah alat sensor metafisik yang sangat bagus untuk menerima petunjuk-petunjuk dari Tuhan. Jiwa Mulhamah ada di alam astral, suatu lapisan alam yang lebih halus dari pada alam eterik. Pada saat tertidur, jiwa Lawwamah dan Mulhamah ini bisa keluar secara otomatis tersamaan dan akibatnya mimpi pun jadi campur aduk dan kacau. Sebab masing-masing ditangkap dengan pikiran sadar dalam bentuk kesan yang berbeda. Saat tertidur, mimpi yang kita alami kadang tiak nyambung dan berbeda tema/topik. Ini akibat bercampur aduknya dua jiwa.

BILA JIWA LAWWAMAH CENDERUNG KEPADA MASA KINI, MAKA JIWA MULHAMAH LEBIH CENDERUNG UNTUK MENGENANG MASA LALU.

Ini dikarenakan Jiwa Mulhamah merupaka gudang ingatan kita seluruh kejadian tanpa dibatasi waktu. Jiwa ini juga merupakan tempat yang subur bagi jiwa yang haus nilai-nilai spiritualitas. Pikiran sadar merupakan operasi jiwa ini dan jiwa ini adalah tempat pertimbangan baik buruk benar salah. Dalam hubungannya dengan dunia fisik, jiwa ini erat kaitannya dengan “Qalbu” dan erat kaitannya dengan pengendalian emosi.

DALAM PROSESI KEMATIAN YANG SEMPURNA, SEMUA JIWA HARUS BISA MENEMBUS ALAM BARZAKH/ALAM KELANGGENGAN. JIWA MULHAMAH YANG ADA DI ALAM ASTRAL PUN HARUS DISEMPURNAKAN KARENA JIKA BELUM DISEMPURNAKAN, MAKA DORONGAN UNTUK HADIR KEMBALI KE BUMI MASIH TINGGI.

4. JIWA MUTHMAINAH
Tenang seperti teratai adalah sifat JIWA MUTHMAINAH. Keberadaannya murni di alam mental, alam transisi antara dunia astral dan spiritual. Jiwa ini sudah terbebaskan dari ruang dan waktu. Mampu menembus langit manapun hingga bertemu dengan kebenaran tertinggi yang mampu dicapai oleh manusia. Jiwa ini mampu berkelana baik ke masa lalu dan ke masa depan. Bila menembus ke masa depan, maka orang bisa melihat apa yang akan terjadi di masa depan. Kemampuan ini disebut juga dengan CLAIRVOYANCE yaitu melihat obyek di luar jangkauan mata fisik dan juga mampu CLAIRAUDENCE yaitu mendengar suara di luar jangkauan telinga.

Kemampuan ini ada yang memang bakat sejak lahir dan ada pula yang optimal karena dilatih. Waktu bagi jiwa Muthmainah adalah kesatuan masa lalu, masa kini, dan masa depan dan mampu menembus berbagai alam gaib dimensi bumi bahkan hingga alam malakut. MSKIPUN JIWA INI BERADA DI ALAM KETENANGAN DAN KEDAMAIAN MEDITATIF NAMUN IA TETAP NAFS YANG MASIH PUNYA KEINGINAN SEHINGGA MASIH PUNYA CELAH UNTUK KEMBALI KE BUMI. SEHINGGA SAAT ORANG MENINGGAL PUN JIWA MUTHMAINAH INI HARUS SEMPURNA.

(wongalus)

Categories: ILMU NGRAGA SUKMA | Tag: , , , | 102 Komentar