KISAH PARA EMPU PEMBUAT KERIS

KISAH PARA EMPU PEMBUAT KERIS


wempu-keris1BANYAK kisah aneh tentang perilaku empu ketika membuat keris. Empu wanita Ni Sombro, misalnya, suka membuat keris dengan mengambang di permukaan laut. Dia konon mampu membuat keris dengan hanya dipejet-pejet memakai tangan.

keris-sombro-pejetan-pajajaranSetelah jadi, keris dicoblos pakai jari kelingking agar terjadi lubang demi memudahkan untuk merenteng keris buatannya, sebelum kembali ke daratan. Karena itu, keris buatan Ni Sombro dipastikan ada lubangnya. Juga ada bekas pejetan tangan.

Di zaman modern sekarang pun, masih ada Empu yang mengawali pembuatan keris dengan cara menjilat bahan keris dari besi yang  masih panas membara. Suatu ketika Bupati Wonogiri H Begug Poernomosidi SH memesan keris pada empu Mas Ngabehi (MNg) Daliman Solo, besi yang merah membara ketika dibakar di tungku (baselen), serta merta diambilnya dan dijilat pakai lidahnya. Ini dilakukan untuk mengawali pembuatan pamor keris dapur sengkelat yang dia pesan.

Tahukah Anda bagaimana keris Kanjeng Kiai (KK) Jenang Kunto dibuat di zaman kerajaan Mataram ? Saat itu, Raja Mataram memerintahkan semua penduduknya setor masing-masing sebuah jarum ke keraton. Ini untuk sensus penduduk guna mengetahui jumlah warga di Mataram.

Dengan meminta jasa empu Ki Supo Enom (Ki Nom), jarum sebanyak jumlah warga di negeri Mataram itu, kemudian dibuat keris. Jadilah sebilah keris yang diberi nama KK Jenang Kunto.

Lain lagi cara yang dilakukan Raja Surakarta Paku Buwana (PB) IV. Dia memerintahkan semua bedug di tanah Jawa dikumpulkan. Setelah terkumpul, paku bedugnya dipakai untuk bahan membuat keris KK Pakumpulan yang dibuat oleh Empu Brojoguna. Sedangkan kulit bedug dibuat wayang kulit dan diberi nama KK Jimat.

EMPU ERA SEKARANG

mpu-kerisDi dunia tosan aji, Pauzan Pusposukadgo bukanlah nama asing. Saat ini, dialah satu-satunya empu (pembuat keris) paling senior dan masih aktif di Indonesia. Usianya sudah 72 tahun. Namun semangatnya untuk melestarikan keris sebagai salah satu warisan budaya dunia tetap menyala. Tosan aji adalah sebutan untuk senjata tradisional yang terbuat dari besi dengan cara ditempa, seperti tombak dan keris.

Sebelum membuat keris Pauzan menggelar ritual selamatan untuk menandai aksinya menghidupnya kembali besalen (tempat pembuatan keris) milik budayawan Jawa almarhum Panembahan Hardjonagoro (Go Tik Swan). Besalen yang berada di komplek tempat tinggal sang panembahan di kawasan Kratonan, Solo, Jawa Tengah, itu terakhir digunakan untuk membuat keris tahun 1992. Pauzan sendiri dalam 10 tahun terakhir sempat berhenti membuat keris karena sakit.

Besalen ini nantinya tidak hanya untuk membuat keris, tapi juga sebagai tempat bertanya bagi mereka yang ingin tahu tentang tosan aji, terutama keris,” kata Pauzan.

Bagi Pauzan, menghidupkan kembali  besalen ini juga sebagai cara untuk bernostalgia karena dia  pernah lama belajar pada panembahan (Go Tik Swan). “Tahun 1980-an saya nyantrik (magang) di besalen ini. Dia mengajari saya banyak hal tentang tosan aji,” ujar suami dari Sukasmi ini.

Lahir di Desa Grinting, Boyolali, tahun 1941, dari keluar petani yang miskin, Pauzan  hanya mengenyam pendidikan sampai kelas II Sekolah Teknik (setingkat SMP). Setelah droup out, ia bekerja di bengkel sebelum akhirnya menjadi sopir bus malam jurusan Solo-Jakarta. Ketertarikannya terhadap keris berawal ketika seorang temannya memamerkan keris yang baru diperoleh dari orang tuanya.

“Sampai sekarang saya tidak ingat dapur-nya apa, pamor-nya apa, dan tangguh-nya dari mana. Tapi saya ingat keris teman saya itu sangat indah. Sejak itu saya mulai  keranjingan (tergila-gila) dengan keris,” kata Pauzan yang tinggal di Kampung Yosoroto. Solo.

Tahun 1974, Pauzan masuk menjadi anggota Boworoso Tosan Aji Surakarta, sebuah perkumpulan bagi penggemar tosan aji. Dari tempat inilah Pauzan mulai belajar mengenal keris. Selama  8 tahun ia mempelajari bagian-bagian keris, falsafah, dan sejarah keris sambil sesekali belajar menempa besi dan membuat pamor pada Go Tik Swan. Hingga akhirnya pada tahun 1982 ia belajar membuat keris sendiri. Ia bongkar halaman rumahnya yang tak begitu luas untuk dijadikan besalen.

Pauzan menuturkan karena tidak memiliki cukup untuk membeli besi dan bahan membuat keris lainnya, ia sering membeli keris rongsokan di Pasar Antik Triwindu. Keris-keris yang dibeli dengan harga murah itu kemudian diperbaiki di besalen-nya, dan kemudian dijual kembali dengan harga tinggi.

“Hasil jual beli itu kemudian saya pakai modal untuk menghidupkan besalen,” kata dia.

Ketekunan, banyak bertanya, dan di bawah bimbingan langsung Mpu Go Tik Swan, keris karya Pauzan akhirnya berhasil  menarik perhatian para penggemar keris. Tahun 1984, ia berhasil membuat pamor kreasi baru,  Poleng Wengkon, yang ditorehkan pada keris dapur Gumbeng. Pamor adalah motif yang muncul pada bilah keris karena lipatan besi yang berbeda, biasanya logam putih dan hitam atau nikel.

“Pamor itu hasil desain Dietrich Drescher, pecinta keris asal Jerman. Pamor itu kemudian saya torehkan pada bilah keris,” kata empu yang pernah diangkat menjadi mantra pande ((kepala besalen) oleh Paku Buwono XII  di Keraton Kasunanan Surakarta.

Keris karyanya ini langsung menarik perhatian Menko Polkam ketika itu, Jenderal Soerono yang kemudian memberi nama keris itu Kyai Surengkarya.  Tujuh keris dengan pamor serupa juga dipesan oleh beberapa pecinta keris dari Amerika Serikat, Malaysia, Jepang, Australia, dan Belanda.

Selain Poleng Wengkon, Pauzan juga melahirkan pamor-pamor baru, antara lain  kalpataru, daun pepaya, dan tetes banyu (tetes air). “Dietrich Drescher banyak mendorong  sekaligus menginspirasi saya untuk menciptakan pamor pamor baru,” kata Pauzan.

Empu Kreasi Baru

pameran-kerisKarya-karya Pauzan selalu ditunggu para penggemar keris. Selama periode tahun 1983 hingga 1990, Pauzan menggelar pameran karya-karya tosan aji, antara lain di ASKI (sekarang Institut Seni Indonesia Surakarta), Sasana Mulya (Solo), Monumen Pers (Solo), Pusat Keris Jakarta, dan Taman Mini Indonesia Indah. Sebagai empu, Pauzan semakin bersinar ketika karya-karya dipamerkan di Brunai Darusalam.  Karena kepiawaiannya, Pauzan  juga menjadi dosen luar biasa untuk mata kuliah praktek pembuatan keris di Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI, sekarang ISI) Surakarta.

Ia selama ini dikenal sebagai empu dengan karya-karya keris kreasi baru. Pada awak-awal sebagai mpu, ia lebih banyak mutrani –meniru keris-keris kuno seperti naga sasra sabuk inten, kyai sengkelat, dan sebagainya.  Setelah masa-masa meniru selesai, ia mulai menciptakan kreasi baru.

“Keris itu bukan benda mistis. Keris itu karya seni yang luar biasa warisan leluhur kita. Sekarang ketertarikan orang terhadap keris sudah  bergeser dari sesuatu yang mistis ke aspek estetika,” kata empu yang pernah menerima beberapa penghargaan di bidang budaya dari pemerintah ini.

Pria ini telah membuat ratusan keris. Ia juga melahirkan puluhan empu muda dari besalen-nya. Namun ia tetap sederhana. Ia sangat terbuka untuk mengajarkan ilmu perkerisan kepada kalangan muda yang ingin belajar darinya. Meski karya-karya kerisnya telah mendapat pengakuan dunia, namun Pauzan menolak disebut sebagai empu.

“Saya bukan empu, tapi pengrajin keris,” kata pria yang mendapat gelar Mas Ngabehi Pusposukadgo dari Keraton Kaunanan Surakarta ini.

Menurut Pauzan, untuk menjadi empu seseorang harus memiliki kemampuan spiritual yang tinggi. Seorang empu harus menjalani laku tapa dan ritual kejawen lain. Lagi pula, lanjut Pauzan, gelar empu itu hanya untuk para pembuat keris kraton pada zaman dulu. Bagi dia yang penting adalah melakukan tugas yang juga diwariskan para leluhur kepada generasi berikutnya, yaitu melestarikan budaya.

“Saya gembira karena mulai banyak perajin perajin muda dengan karya yang hebat. ISI (Institut Seni Indonesia) Surakarta memiliki peran besar dalam melahirkan perajin perajin muda. Apalagi di sana sudah ada program studi tosan aji,” ujar Pauzan.

Meningkatnya minat terhadap pembuatan keris ini, lata Pauzan, terutama setelah Unesco  mengukuhkan keris merupakan warisan budaya lisan dan tak benda karya kemanusiaan dari Indonesia.

“Di Indonesia, tradisi membuat keris dan tombak masih berlanjut seperti halnya membuat wayang dan batik. Secara terus menerus selama ratusan tahun tradisi itu masih dilakukan oleh masyarakat kita, bahkan sampai sekarang” kata dia.

Pauzan menyebut tradisi pembuatan keris sudah dilakukan  sejak  masa kerajaan Buda (125-1125), kerajaan Hindu ( 1250-1500), Mataram Islam (1460 M – 1613 ) hingga masa pasca kemerdekaan  (1945 hingg sekarang).

Dari perjalanan panjang itu, lanjut Pauzan, telah lahir empu-empu hebat seperti Empu Gandring  pada masa kerajaan Singasari. Lalu zaman Mataram melahirkan Mpu Warih Anom, Mpu Madrim, Mpu Tundung, Mpu Setrobanyu, hingga Mpu Brojosentiko, Mpu Brojoguno, dan Mpu Japan.

“Mereka empu empu yang luar biasa. Sayang, banyak karya mereka yang hilang karena dijual ke luar negeri,’” kata Pauzan.

Pada masa sekarang ini, menurut Pauzan, keris seharusnya tidak lagi dianggap  sebagai benda yang mistis.  Keris adalah karya seni, sehingga harus dilihat sebagai benda seni. Dengan cara pandang seperti itu, kata dia, maka akan semakin banyak kalangan muda yang  akan belajar mengenal, mencintai dan kemudian melestarikan keris sebagai warisan budaya bangsa.

“Keris itu semuanya indah. Mulai proses pembuatan, kemudian munculnya pamor, sampai akhirnya dibuatkan warangka (sarung keris) dan gagang (pegangan). Saya rela  mengajar tanpa bayaran bagi mereka yang ingin belajar membuat keris, terutama dari kalangan muda, agar keris abadi,” ujar Pauzan.

Sumber: Suara Merdeka

Categories: KISAH PARA EMPU PEMBUAT KERIS | 4 Komentar