MENJELANG IDUL FITRI

MENJELANG IDUL FITRI


Adzan sayup-sayup terdengar di tengah padang gurun yang tandus itu. Bilal, sang budak negro berkulit legam melantunkan suara adzan yang membuat bulu kuduk siapapun yang mendengarnya berdiri. Merdu…orisinal… seakan mampu membawa pendengarnya menembus tujuh aras langit diatas sana.

Seribu empat ratusan tahun silam keluarga kecil itu berbuka dengan segelas air putih. Sebenarnya mereka memiliki tiga takar gandum mentah upah dari memintal bulu domba. Saat berbuka hari pertama, ketika keluarga sederhana itu berkumpul dengan dua putranya yang masih bocah, ketika secuil roti hendak dinikmati bersama, pintu rumah mereka diketuk orang.

“Aku saudara muslim kalian. Aku sangat lapar. Berilah aku makan seperti yang kalian makan. Semoga Allah memberi kalian hidangan di surga.” Begitu mendengar keluh kesah orang tiada dikenal ini, kepala rumah tangga itu membuka pintu dan semua roti jatah berbuka puasa keluarga diserahkannya. “kita berbuka dengan segelas air putih,” katanya.

isteri dan dua anaknya terdiam….

Hari kedua keluarga ini masih memiliki dua takar gandum. Dimasaknya satu takar untuk berbuka. Menunggu maghrib tiba, mereka sudah siap berbuka dengan secuil roti di meja. Tiba-tiba, pintu rumah diketuk. “Saya anak yatim yang lapar. Adakah makanan yanag bisa saya makan?” Untuk yang kedua kalinya laki-laki kepala rumah tangga itu menyerahkan begitu saja roti mereka.

isteri dan dua anaknya termangu….

Puasa hari ketiga dengan perut yang teramat lapar mereka hendak berbuka dengan sisa gandum yang dimilikinya. Dua anak laki-laki mereka yang turut berpuasa sejak hari pertama terlihat pucat dan lesu. Dua hari belum makan roti secuil pun, hanya air putih untuk berbuka.

“Aku tawanan perang yang baru dibebaskan. Berhari-hari aku belum makan,” tiba-tiba terdengar suara dari luar sambil mengetok pintu.

Kali ini justeru sang isteri yang bergerak mengulurkan bungkusan roti kepada sang tamu asing. “Kita tidak mempunyai sisa gandum lagi. Anak-anakku sudah sangat lapar. Ya Allah, selamatkanlah anak-anakku dari bencana kelaparan,” kata sang istri kepada suami sepeninggal tamu itu pergi.

Laki-laki kepala rumah tangga yang nekad itu adalah Sayyidina Ali Al Murtadlo. Istrinya adalah Sayyidatina Fatimah, putri Rasulullah. Dua bocah kecil berwajah pucat yang belum makan selama tiga hari itu adalah Hasan dan Husain.

Keesokan harinya Ali bersama Hasan dan Husain menemui Rasulullah SAW. Alangkah kaget Rasulullah menujumpai menantu dan kedua cucunya berwajah pucat dengan badan gemetar. Sayyidina Ali pun menceritakan bagaimana keadaan keluarganya selama tiga hari yang berbuka puasa tanpa makanan secuilpun.

Bergegas Rasulullah berangkat ke rumah putrinya yang dijumpai sedang munajat. Fatimah menyambut ayahnya dengan badan gemetaran. Mata Rasulullah berkaca-kaca dan pipi beliau basah oleh air mata. Dipeluknya Fatimah sambil bersabda, “Ya Allah, tolonglah Ahlul-Bait rasul-Mu yang hampir mati kelaparan.”

Saking dahsyatnya peristiwa ini, Al-Qur’an suci memotretnya secara jelas: “Mereka menunaikan nazar dan takut akan hari yang azab siksanya merata dimana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, serta orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan ridlo Allah. Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” =Al Insaan 7-9

kwa11Sejarah bondo nekat ‘bonek’ nya keluarga Sayyidina Ali dan Siti Fatimah menanggung derita lapar untuk melayani orang lain yang lebih lapar merupakan gambaran insan kamil: kemuliaan tertinggi derajat spiritualitas manusia yang telah selesai dengan urusan bundelan ego diri. Bundelan yang kerap nyrimpeti dan menyerimpung kaki manusia ketika dia dalam proses menemukan diri.

Kita terjebak bahwa gambaran diri ideal adalah dari cerita-cerita, dari televisi yang mengurai tentang tokoh-tokoh idola, dari buku-buku yang kita baca dan dari pidato para motivator atau pendakwah agama.

Sementara di saat yang sama ladang kesejatian diri yang hakiki tak pernah disiram, diri menjadi kering tandus karena tidak pernah disapa ……. Kita malas berpikir kenapa diri kita ini lemah? padahal kita tahu, sumber lemahnya diri karena jiwa tidak memperoleh suplai energi Allah.

Stamina hidup dan daya juang pun menjadi lunglai. Ibadah nggak pernah istiqomah. malas bergerak karena diri diliputi lemak-lemak informasi yang palsu. Tujuan hidup pun tak pernah sungguh-sungguh ketemu.

Bagaimana kita akan menemukan diri bila di dalam diri masih ada diri?…..

Kalau di dalam diri masih ada beban diri maka diri tak akan bisa terbang ke aras langit. Di dalam diri jangan ada diri. Kebanyakan orang, di dalam dirinya hanya ada ego dan eksistensinya. Dia tidak suwung ===kosong=== sehingga dalam diri hanya ada kehendak/iradah Allah.

Untuk itulah puasa Romadhon diperintahkan karena kita membutuhkan pelemahan diri secara terstruktur dan terprogram hingga sampai pada derajat taqwa, yaitu “kematian” diri dan hanya Allah yang hidup dalam diri —-mati sajroning urip.

Kenapa kita wajib sholat lima waktu? Sholat adalah upaya memi’rajkan diri, melepas kepalsuan, meneguhkan kembali bahwa kita adalah pelayan Dia dan untuk melayani sesama dengan berbagai masalahnya karena kita mutlak memerlukan pertolongan-Nya.

Sholat merupakan perjalanan spiritual menengok ke belakang untuk menerangi kegelapan tentang siapa diri kita. Terang yang dihasilkan dari lelaku spritual kembali ke belakang adalah tahu dari mana kita berasal dan kemana kita akan berakhir: kita sesungguhnya adalah pelayan Allah yang dilahirkan bersama peran dan fungsinya masing-masing.

Mereka yang shalatnya khusyuk ditandai dengan manfaatnya secara sosial. Sebab Allah di dalam diri senantiasa memayuni orang yang kehujanan, memberi makan orang yang lapar, memberi baju orang yang telanjang dan memberi petunjuk mereka yang buta.

Hakekat hidup yang sejati adalah menjadi pelayan dan hanya Allah Juragan kita. Kita tidak punya lagi tenaga untuk meng-akui, meng-ada, atau meng-eksis kan diri karena diri kita telah mati dalam diri-NYA. Kita menjadi hamba yang diperjalankan oleh-Nya.

Konsekuensinya: Kita akan dipekerjakan oleh persoalan banyak orang: kasus-kasus, bentrok, problem ekonomi orang kecil, masalah rumah tangga orang bergilir dari hari ke hari, melayani forum-forum, menjadi keranjang sampah berbagai buangan masalah orang

Keadaan orang yang sudah “mati” tidak akan terpesona oleh apapun. Dunia sudah diceraikan… Talak tiga sudah dijatuhkan. Ia akan tampil tanpa mempertahankan martabat dan harga dirinya dan tidak pula mengandalkan apa apa —harta benda tahta ilmu juga popularitas—. Nilai tauhidnya adalah bahwa ia telah mendapatkan Allah yang Maha Nomor Satu dan Rasulullah utusan NYA yang amat kasih pada umatnya.

Allahu Akbar,.. cakrawalanya menjadi sangat amat luas. Tidak ada lagi yang menakutkan dan mencemaskan para kekasih Allah. Mereka tegak dike-kini-an merespon sapaan demi sapaan dari Allah untuk rajin menempuh perjalanan pulang menggapai terang diri…..

Idul Fitri, kembali pulang ke kampung tempo doeloe bahkan sebelum kita lahir untuk kembali memulai dari yang awal. Untuk bergabung kembali dengan Huwa Al-Awwalu, Allah Yang Maha Awal. Belajar kembali mengeja Asma-Nya sebagaimana Allah mengajari Nabi Adam nama-nama.

Kita bertauhid kepada Allah dengan dua cara: manunggal kepada Sang Gusti Allah yang maha Esa dan manunggal dengan dinamika problematika hamba-hamba-Nya.

Berhadapan dengan sesama hamba, kita menebar Cinta untuk melakukan perubahan yang lebih baik disegala bidang kerja. Berhadapan dengan Allah di dalam hati yang selalu bersujud sunyi, kita haturkan doa umat kepada-Nya….

@@@

ilmu

Iklan
Categories: MENJELANG IDUL FITRI | 4 Komentar