PRAJA ANANTA RAYA

TERBAKARNYA PRAJA ANANTA RAYA


Praja Ananta Raya telah jadi abu. Hangus jadi arang dan puing-puing berserakan. Rumah utama berarsitektur Jawa yang berlokasi di Taman Tanjung Puri  Sidoarjo pada Jumat malam (20/4) tiba-tiba saja terkena sambaran petir dan terbakar hangus. Alat penangkal petir  yang terpasang tidak mampu meredam takdir dari Yang Kuasa. Sudah menjadi Kehendak-NYA, bila rumah kayu simbol tegaknya budaya Jawa di tengah arus modern itu kini tinggal nama.

Saya tertegun dan hanyut. Hati saya menangis….

Teringat awal pembangunan Taman Tanjung Puri sekitar Agustus 2014 lalu saya diminta Kepala Dinas Kebersihan, Ki Bahrul Amig, untuk mencarikan perabot etnis Jawa untuk mengisi rumah yang sudah selesai dibangun. Kebetulan saya memiliki teman seorang penjual barang-barang antik. Meja bundar dari keramik, kursi-kursi ajengan, tanduk rusa dan beberapa benda lain yang biasanya ada di rumah-rumah Jawa Kuno pun akhirnya kita datangkan. Lengkap sudah rasanya rumah itu disebut “Omah Jowo”. Atas sumbangan dari kolega-kolega  Ki Bahrul Amig, dilengkapilah secara bertahap dengan berbagai benda pusaka seperti keris dan lainnya.

“Ini untuk pengingat bahwa sampai saat ini masih ada usaha pelestarian budaya Jawa. Biar kita tidak lupa, dimana kita berada,” Kata Ki Bahrul Amig ketika ditanya mengapa dia punya ide membangun Taman Tanjung Puri –taman tumbuhan dan pepohonan beserta rumah jogjo, rumah panggung beserta pendoponya berarsitektur Jawa.

Seperti kisah Bandung Bondowoso yang membangun dalam waktu semalam, Tanjung Puri dibangun hanya dalam waktu empat bulan saja!. Dimulai bulan Juni 2014 akhirnya  Taman Tanjung Puri yang awalnya tempat pembuangan sampah disulap menjadi ruang terbuka hijau yang jadi ikon kota Sidoarjo. Ia diresmikan oleh Bupati Sidoarjo sekitar Oktober 2014. Masyarakat memanfaatkannya untuk banyak kebutuhan. Seperti menggelar kegiatan outdoor camping kemah, atau kegiatan anak-anak sekolah mengenal alam sekitarnya. Taman tanjung puri tidak pernah sepi pengunjung. Di hari Senin sampai Jumat, taman dipakai oleh sekolah-sekolah untuk menggelar beragam kegiatan.

Di hari Sabtu dan Minggu, masyarakat umum memanfaatkannya untuk menggelar kegiatan hiburan rekreatif. Seperti gantangan burung berkicau, flying fox, atau hanya sekedar jalan-jalan keluarga. Masyarakat di sekitar tanjung puri pun mendapat keuntungan. Dulu sebelum taman dibangun, lokasi itu adalah tempat pembuangan akhir sampah. Baunya menyengat dan pasti tidak membuat masyarakat betah di rumahnya. Setelah taman dibangun, masyarakat bisa berjualan kopi dan makanan kecil. Pemuda setempat juga mendapatkan uang dari parkir kendaraan para pengunjung.

Pada Milad KAMPUS WONG ALUS (KWA) ke-9  tahun 2018 kemarin, Taman Tanjung Puri kita gunakan sebagai tempat acara dengan pertimbangan bahwa tempat itu sangat kondusif. Serta tidak terlalu ramai dari pengunjung. Sehingga KWA bisa menggelar acara dengan tenang mulai pagi sampai tengah malam. Terlebih fasilitas untuk pengunjung pun sudah tercukupi seperti adanya pendopo, rumah utama (yang kini terbakar), rumah panggung untuk sekedar merebahkan badan. Serta fasilitas tambahan seperti mushola, taman bermain, dan toilet umum. Lengkap sudah.

Saat Milad rumah utama digunakan panitia untuk tempat koordinasi. Di depannya, digunakan untuk pameran keris dan bagi-bagi kaos serta menyimpan properti dari panitia. Rencananya kegiatan rutin cangkrukan Kamis malam juga kita adakan di Taman Tanjung Puri yaitu di pendopo –depan rumah terbakar tersebut.

Silahkan dilihat foto rumah utama ketika masih berdiri tegar di https://wongalus.wordpress.com/2018/04/15/serba-serbi-kemeriahan-milad/

Adalah Mas Kumitir — sesepuh KWA bernomor anggota KWA 000 —- yang punya ide dan konseptor pembangunan arsitektur bernuansa Jawa di beberapa bangunan di Sidoarjo termasuk salah satunya Taman Tanjung Puri.

Pada saat Milad, beliau berkenan hadir dan memberikan arahan kepada panitia agar memberikan sesajen kepada penunggu goib di taman tersebut. Mas Kumitir mengatakan kepada saya bahwa rumah induk (yang kini terbakar itu) adalah rumah yang sakral, wingit dan angker. Tidak banyak orang berani memasuki rumah tersebut. Pada tukang kebersihan sering mendengar seperti ada orang mandi di toilet. Padahal  tidak ada seorang pun di sana.

Berbekal masukan dan saran tersebut, maka saya pun memberikan sesajen di satu tempat dekat rumah Jawa tersebut. Kita hidup di Jawa, sudah sepantasnya kita mengikuti tradisi leluhur kita dulu. Memberikan penghormatan kepada apa yang leluhur lakukan. Mereka telah berjuang, mereka memberikan tuntunan hidup sesuai kebiasaan dan pola hubungan dengan alam agar senantiasa harmonis dan serasi. Tidak ada yang salah dengan local genius tersebut.

Mas Kumitir adalah penggiat dan pelestari budaya berbungkus agama. Tidak mungkin memberi nama PRAJA ANANTA RAYA bila tidak ada maksud. Namun ketika saya tanya kepadanya apa artinya kalimat itu, beliau seakan memberikan ruang kepada saya untuk mengartikannya. Saya pun mencoba untuk sedikit membuka maknanya yaitu Praja artinya kerajaan/Negara. Ananta berasal dari kata An Atta yang artinya tiadanya diri ‘aku’ ego. Raya artinya besar. Jadi maknanya adalah Negara akan menjadi besar bila para pemimpinnya menghilangkan ego, keakuannya untuk kepentingan yang lebih utama yaitu kemajuan Negara.

Kini,  rumah itu telah menjadi puing. Yang tersisa hanyalah kenangan bahwa kemarin kita sudah menjejakkan kaki di dalamnya untuk sekedar menghirup nafas dan aroma kebersahajaan ala Jawa dengan berbagai romantismenya.

Selamat jalan Praja Ananta Raya….

@KWA,2018

 

 

Categories: PRAJA ANANTA RAYA | 1 Komentar