SIAPA PUN PRESIDEN KITA

SIAPA PUN PRESIDEN KITA NANTI…


wongalus

Sapa sapa wong kang gawe bécik, Nora wurung mbenjang manggih arja, Tékeng saturun-turune. Yen sira dadi agung, Amarintah marang wong cilik, Aja sédaya-daya, Mundhak ora tulus, Nggonmu dadi pangauban. Aja nacah, marentaha kang patitis, Nganggoa tépa-tépa.

(Barang siapa yang berbuat baik, Tiada urung kelak menemui bahagia, Sampai kepada keturunan-keturanannya, Jika kamu manjadi orang besar. Memerintah orang kecil, Jangan SEMENA-MENA dan wajib bersikap tulus. Kamu menjadi pelindung sehingga jangan sembarangan memperlakukan mereka, perintahlah yang tepat dengan perkiraan yang tepat).

Sepertinya nasihat Ki Ageng Sela itu lebih cocok untuk para Presiden yang nanti terpilih dalam Pilpres 2014. Siapapun sosok yang nanti jadi pemimpin negara, bagi saya pribadi nggak penting-penting amat. Saya menilai orang bukan pada sosoknya, bukan pada namanya, bukan pada prejengannya, bukan pada penampilanya, bukan pada citra-citranya, bukan pada kulitnya, bukan pada janji visi misinya, tapi pada KENYATAAN NANTI SETELAH TERPILIH DIA WAJIB BISA MENUNAIKAN HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA REPUBLIK INDONESIA UNTUK MENGAMALKAN PANCASILA SECARA MURNI DAN KONSEKUEN.

Saya tidak pernah menawar berapa nilai kebenaran dari Pancasila. Kalau yang lain barangkali hanya meyakini benar sekian puluh persen, maka saya berani bertaruh seratus persen! sebuah ideologi yang paling pas dan cocok untuk warga bangsa Indonesia.

Sejarah telah menguji Pancasila. Sebuah ideologi terbuka yang kenyal dan ampuh menghadapi ragam macam masalah bangsa. Jangan pernah ragu-ragu terhadap Pancasila: yang awalnya berasal dari “wisik” atau “ilham” yang diterima oleh para leluhur kita… Mr Muh Yamin, Ir Sukarno, 73 tokoh BPUPKI, 27 tokoh PPKI,….. mereka ini adalah sosok-sosok yang dipilih Allah SWT.

Simaklah para sedulur semua, mantra sakti bangsa Indonesia yang bernama PANCASILA itu:
1. KETUHANAN YANG MAHA ESA,
2. KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB,
3. PERSATUAN INDONESIA
4. KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN PERWAKILAN
5. KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA.

Betapa dahsyat energi yang terkandung di dalamnya. Setiap sila bermuatan beribu ratus kemuliaan yang tiada berhingga dimana sila pertama menjadi dasar pondasi yang kokoh sila kedua, sila kedua menjadi dasar pondasi yang kuat sila ketika dan seterusnya sehingga akhirnya terwujud suasana dimana setiap warga negara merasakan keadilan sosial, maknanya jelas kita semua sejahtera yang berkemakmuran lahir batin.

Tidak salah kiranya bila Pancasila tetap harus dijadikan dasar negara, dihayati dan diresapi serta terus menerus dijadikan dasar norma dan nilai, serta nafas setiap penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila adalah nafas kita! Maka jangan pernah meninggalkan nafas kita sendiri yang berakibat kita nanti kehilangan jati diri kita sebagai warga Indonesia.

Pengembangan setiap ilmu pengetahuan dan teknologi serta perkembangan peradaban yang akan dibentuk bersama di negeri ini, haruslah berada dalam koridor Pancasila sebagai ideologi terbuka. Monggo disimak isi Pancasila sebagaimana yang pernah dijadikan terjemahan wajib era Presiden Soeharto. Insya allah semuanya bertabur kemuliaan….

1. Ketuhanan Yang Maha Esa

(1) Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketaqwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
(2) Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
(3) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
(4) Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
(5) Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang
menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
(6) Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.
(7) Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab

(1) Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
(2) Mengakui persamaan derajad, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturrunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.
(3) Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
(4) Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
(5) Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
(6) Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
(7) Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
(8) Berani membela kebenaran dan keadilan.
(9) Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.
(10) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.

3. Persatuan Indonesia

(1) Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
(2) Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.
(3) Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
(4) Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.
(5) Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
(6) Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.
(7) Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.

4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan

(1) Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama.
(2) Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
(3) Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
(4) Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
(5) Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.
(6) Dengan i’tikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.
(7) Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
(8) Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
(9) Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.
(10) Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan.

5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

(1) Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
(2) Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.
(3) Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
(4) Menghormati hak orang lain.
(5) Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.
(6) Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain.
(7) Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah.
(8) Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum.
(9) Suka bekerja keras.
(10) Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.
(11) Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.

Tidak ada yang keliru bukan? Di setiap suku, agama, ras, antar golongan masyarakat, Pancasila bisa diterima dengan akal sehat. Orang di pedalaman Kalimantan atau Papua maupun orang yang ada di ibu kota membutuhkan Pancasila karena setiap orang harus hidup bermasyarakat…. Nah, sekali lagi kita bicara dalam konteks berbangsa bernegara, bermasyarakat, konteksnya itu… bukan dalam konteks keyakinan individual.

Jadi PANCASILA BUKAN AGAMA! Jangan disamakan dan tidak pada tempatnya untuk membanding-bandingkan. Agama urusannya pada domain keyakinan individual. Pancasila itu aturan-aturan bermasyarakat yang telah disepakati bersama oleh setiap orang di Indonesia untuk hidup secara damai dan aman tenang tentram namun sekaligus bertujuan mulia; mewujudkan negara bangsa Indonesia.

PRESIDEN KITA NANTI WAJIB MEWUJUDKAN PANCASILA SEBAGAI PANDANGAN HIDUP BANGSA. Ki Ageng Selo dalam SERAT PEPALI punya pesan begini….

Kawruhana pambengkasing kardi, Pakuning rat lélananging jagad, Pambekasing jagad kabeh, Amung budi rahayu, Sétya tuhu marang Hyang Widi. Warastra pira-pira, Kang hanggung ginunggung, Kasor dening tyas raharja. Harjaning rat punika pakuning bumi, Kabeh kapiyarsakna.

(Ketahuilah untuk Penyelesaian segala kewajiban, Poros Alam Jantan Dunia…… Pembebas Seluruh Dunia adalah yang berbudi rahayu, Setia kepada Yang Maha Kuasa. Senjatanya boleh ber-macam-macam dan bisa jadi di puji-puji banyak orang namun itu semua akan kalah oleh hati yang lurus karena ini adalah hukum keadilan alam yang merupakan pusat peredaran bumi, Dengarkanlah semua ini….)

wong kang makrifat séjati, Tingkah una-unine prasaja, Dadi panéngeran gédhene. Eséme kadi juruh, saujare manis trus ati, Iku iangaran dhomas. Wong bodho puniku, Ingkang jéro isi émas, Ingkang nduwe bale kencana puniki, Bola bali kinenca.

(Orang yang makrifat sejati, Tingkah dan ucapanya bersahaja, Menjadi tanda kebesarannya. Senyumnya bagaikan kental gula, Tiap ucapannya selalu manis terus hati. Itulah yang disebut dhomas. Kelihatannya bodoh namun jiwanya berisi emas, Yang memiliki tahta kencana …)

Aja watak sira sugih wani, Aja watak sok ngajak tujaran, Aja ngéndélkén kuwanen, Aja watak anguthuh, Ja ewanan lan aja jail, Aja ati canthula, Ala kang tinému. Sing sapa atine ala, Nora wurung bilahi pinanggih wuri, Wong ala nému ala.

(Jangan berwatak menyombongkan keberanian, Jangan berwatak sering suka bertengkar, Jangan menyandarkan diri pada keberanian, Jangan berwatak tak tahu malu, Jangan irihati dan jangan jahil, Jangan berhati lancang, Buruk yang didapat, Barang siapa berhati jahil, Tiada urung celaka akhirnya didapat, Orang jahat menemukan jahat.)

Aja sira méngeran busana, Aja ngéndélkén pintéré, Aja anggunggung laku. Ing wong urip dipun titeni, Akétareng basa, Katandha ing sému. Sému bécik, sému ala, Sayéktine ana tingkah solah muni, Katon amawa cahya.

(Jangan bertuhan kepada perhiasan, Jangan congkak akan kepintaranmu, Jangan menyanjung-nyanjung laku. Itu disaksikan oleh sesama-hidup, Terlihat dalam budi-bahasamu, Tertanda pada roman-muka. Separuh baik, Separuh jahat, Sebenarnya semuanya terlihat dalam tingkah-laku yang bercahaya).

Bumi, géni, banyu miwah angin, Pan srengenge, lintang lan rémbulan, Iku kabeh aneng kene. Ségara, jurang, gunung, Padhang péténg, padha sumandhing, Adoh kalawan pérak, Wus aneng sireku. Mulane ana wong agucap, Sapa bisa wong iku njaringi angin, Jaba jalma utama.

(Bumi, api, air serta angin, Matahari, bintang dan bulan, Itu semuanya ada disini. Laut, lembah dan gunung, Terang dan gelap ada disamping, Jauh dan dekat, Sudah ada dalam dirimu. Karena itu ada orang yang berkata : Siapa yang dapat menjala angin, kecuali manusia yang utama?)

Tama témén tumaném ing ati, Atinira tan nganggo was-was, Waspadha marang ciptane. Tan ana liyanipun, Muhung cipta harjaning ragi, Miwah harjaning wuntat. Ciptane nrus kalbu, Nuhoni ingkang wawénang. Wénangira kawula punika pasthi, Sumangga ring kadarman.

(Baik dan jujur tertanam dalam hati, Hatinya tak mengandung keraguan, Waspada terhadap ciptanya. Tak ada lainnya, Dalam ciptanya hanya kebahagiaan badan, Dan kebahagian di kemudian hari. Ciptanya meresap dalam kalbu, Meyakini kepada Yang Kuasa. Kekuasaan itu sesungguhnya pasti, Terserah kepada KEMURAHAN TUHAN.)

Demikian pandangan saya, mengikuti jalur para leluhur nusantara yang wasis dan waskita. Rahayu rahayu rahayu…
@kwa,2014

Iklan
Categories: SIAPA PUN PRESIDEN KITA | 17 Komentar